282 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Kandung kemih orang dewasa yang sehat biasanya dapat menyimpan hingga
1000 ml urin selama dua hingga lima jam (Johns Hopkins Medicine, 2022).
Gambar 16.5: Anatomi Kandung Kemih
16.2.4 Uretra
Uretra adalah tabung kecil yang bertanggung jawab untuk mengangkut urin
dari kandung kemih ke lubang eksternal di perineum yaitu meatus. Pria
memiliki uretra yang lebih panjang dibandingkan wanita. Selain urin, uretra
laki-laki mengangkut air mani, yaitu cairan yang mengandung spermatozoa
dan sekresi kelenjar seks.
Menurut Jones (2019), klasifikasi terbaru, uretra pria secara anatomis dapat
dibagi menjadi tiga bagian (proksimal ke distal):
1. Uretra prostat:
Ini adalah bagian terluas dan paling dapat melebar dari uretra.
Dimulai sebagai kelanjutan dari leher kandung kemih dan melewati
kelenjar prostat. Menerima saluran ejakulasi (mengandung
spermatozoa dari testis dan cairan mani dari kelenjar vesikula
seminalis) dan saluran prostat (mengandung cairan alkali).
2. Uretra membranosa:
Bab 16 Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan 283
Ini adalah bagian uretra yang paling sempit dan paling tidak dapat
melebar. Melewati dasar panggul dan kantong perineum dalam.
Dikelilingi oleh sfingter uretra eksterna – yang menyediakan kontrol
volunter untuk berkemih.
3. Uretra penis (bulbus):
Melewati bulbus dan corpus spongiosum penis, berakhir di orifisium
uretra eksterna (meatus). Menerima kelenjar bulbourethral di
proksimal. Di glans (kepala) penis, uretra melebar untuk membentuk
fossa navicular.
284 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Bab 17
Perkembangan Sel-Sel Darah
dan Sistem Limpatik
17.1 Pendahuluan
Darah merupakan komponen dasar dalam kehidupan manusia. Volume pada
manusia tergantung pada ukuran dan berat badan, tetapi rata-rata orang dewasa
memiliki hampir 5 liter darah yang bersirkulasi. Wanita cenderung memiliki
volume darah yang lebih rendah daripada pria. Namun, volume darah wanita
meningkat sekitar 50% selama kehamilan. Volume darah mengacu pada
jumlah total cairan yang beredar di dalam arteri, kapiler, vena, venula, dan
bilik jantung setiap saat. Komponen yang menambah volume darah termasuk
sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), trombosit, dan plasma.
Plasma menyumbang sekitar 60% dari total volume darah sementara eritrosit
membentuk sekitar 40% bersama dengan leukosit dan trombosit.
Darah bersirkulasi terus menerus dalam pembuluh darah, didorong oleh
kontraksi kuat dari jantung. Fungsi utamanya adalah memberi nutrisi dan
oksigen ke sel yang dibawa dari paru-paru, yang diperlukan untuk
kelangsungan hidup manusia. Selanjutnya, darah mengambil dan membawa
limbah seluler, seperti karbon dioksida, dan dikeluarkan dari tubuh saat darah
286 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
mengalir kembali ke paru-paru. Komponen dasar darah terdiri dari sel dan
cairan.
Cairan terdiri dari protein, asam amino, karbohidrat, lipid, dan makromolekul
lainnya. Proses pembentukan darah melibatkan sistem hematopoietic yang
merupakan proses pergantian sel darah yang terjadi sepanjang kehidupan.
Hematopoietik Stem Cell (HSC) adalah progenitor untuk semua sel yang
muncul dalam darah. Elemen seluler yang terbentuk dari stem cell / sel punca
lain eritrosit, leukosit, dan trombosit. Leukosit normal di sirkulasi perifer yaitu
antara neutrofil, monosit, eosinofil, basofil, dan limfosit.
Karena HSC juga membentuk sel-sel sistem limfoid, studi hematologi juga
termasuk kelenjar getah bening dan jaringan limfoid. Penyakitnya hematologi
timbul dalam sumsum tulang, kelenjar getah bening, atau kompartemen
intravaskular. Termasuk sel endotel yang melapisi pembuluh darah dan protein
dalam plasma darah. Pada Bab ini akan membahas mengenai proses
pembentukan sel darah, fungsinya, serta perkembangan sel darah dan limpatik.
17.2 Komposisi dan Fungsi Darah
Fungsi Darah
Fungsi darah dibagi menjadi tiga yaitu: transportasi, pertahanan, dan regulasi
(Mader, 2005)
1. Transportasi
Darah mengalir dari jantung ke berbagai organ, di mana pertukaran
dengan jaringan terjadi di dinding pembuluh darah kapiler yang tipis.
Darah mengambil oksigen dari paru-paru dan nutrisi dari saluran
pencernaan dan mengangkutnya ke jaringan. Darah mengangkut
limbah seluler, termasuk karbon dioksida, menjauh dari jaringan
untuk disekresikan ke paru-paru dan ginjal.
Kita akan melihat bahwa pertukaran kapiler menjaga komposisi
cairan jaringan dalam batas normal. Berbagai organ dan jaringan
mengeluarkan hormon ke dalam darah, dan darah mengangkutnya ke
organ dan jaringan lain, di mana mereka berfungsi sebagai sinyal
yang memengaruhi metabolisme sel (Mader, 2005).
Bab 17 Perkembangan Sel-Sel Darah dan Sistem Limpatik 287
Nutrisi yang berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral
yang diperlukan oleh sel akan ditranspor oleh darah dari
gastrointestinal atau organ yang menyimpan cadangan makanan
selanjutnya akan dimetabolisme di dalam sel untuk dibentuk energi
atau sintesis senyawa baru. Konsentrasi nutrisi di dalam plasma darah
diatur keberadaannya dalam konsentrasi normal seperti glukosa dan
kalsium. Glukosa darah diatur oleh insulin yaitu hormon yang
dilepaskan dari kelenjar pankreas ketika keberadaannya tinggi di
dalam darah (Kara, 2011).
2. Pertahanan
Darah mengandung komponen untuk pertahanan tubuh dalam
melawan invasi patogen, agen infeksius, seperti bakteri dan virus. Sel
darah putih seperti makarofag mampu menelan dan menghancurkan
patogen, dan sel limposit B mengeluarkan antibodi ke dalam darah.
Selain itu darah terlibat dalam proses hemostatis mencegah
kehilangan darah ketika terjadi cedera dengan membentuk gumpalan.
Pembekuan darah melibatkan trombosit dan fibrinogen protein
plasma (Mader, 2005).
3. Regulasi
Darah membantu mengatur suhu tubuh dengan mengambil panas,
sebagian besar dari otot-otot aktif, dan mengangkutnya ke tubuh. Jika
darah terlalu hangat, panasnya hilang karena terjadi vasodilatasi
pembuluh darah di kulit. Garam dan protein plasma dalam darah
bertindak untuk menjaga kandungan cairan darah yang tinggi.
Dengan cara ini, darah berperan dalam membantu menjaga
keseimbangan cairan elektrolit sendiri. Darah mengandung buffer,
sehingga membantu mengatur pH tubuh dan menjaganya agar relatif
konstan.
Komponen Darah
Darah merupakan cairan dalam tubuh yang berfungsi untuk transportasi
bahan-bahan antara sel dan lingkungan eksternal atau di antara sel itu sendiri.
Transportasi ini sangat penting untuk kelangsungan hidup seluler dalam
mempertahankan homeostasis.
288 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Darah terdiri dari cairan plasma dan komponen seluler. Darah sebagai tempat
elemen-elemen selular antara lain eritrosit, leukosit, dan trombosit. Eritrosit
(sel darah merah atau SDM) secara esensial merupakan membran plasma
kantong-tertutup hemoglobin yang menyangkut O2 di dalam darah. Leukosit
(sel darah putih, atau SDP), unit pertahanan sistem imun, diangkut melalui
darah ke tempat terjadinya luka atau invasi mikroorganisme penyebab
penyakit. Platelet (trombosit) penting bagi homeostasis untuk menghentikan
pendarahan akibat pembuluh yang cedera (Sherwood, 2016)
Komponen darah terdiri dari plasma dan elemen seluler yang diilustrasikan
pada Gambar 17.1. Elemen seluler terdiri dari eritrosit, neutrofil, limfosit,
monosit, eosinofil, basofil, dan trombosit. Plasma mengandung protein, air,
garam, gas terlarut (seperti CO2), bikarbonat (HCO3), hormon, glukosa, dan
limbah. Kemudian protein plasma adalah albumin, globulin, dan fibrinogen
(Susan, Stromberg and Dallred, 2017).
Gambar 17.1: Komponen Darah (Susan, Stromberg and Dallred, 2017)
Komponen darah dan fungsinya dapat dilihat dari Tabel 18.1:
Tabel 17.1: Komponen Darah dan Fungsinya (Sherwood, 2016)
Kompunen Fungsi
Plasma
Air Berperan sebagai medium transpor; membawa panas
Elektrolit Berperan dalam eksitabilitas membran; distribusi cairan melalui
osmosis antara CES dan CIS; menyangga perubahan pH
Nutrien, zat sisa, Diangkut dalam darah; gas CO2 darah berperan dalam keseimbangan
gas, hormon asam-basa
Protein plasma Secara umum, menghasilkan efek osmotik yang penting dalam
distribusi CES antara kompartemen vaskular dan interstisium;
menyangga perubahan pH
Bab 17 Perkembangan Sel-Sel Darah dan Sistem Limpatik 289
Kompunen Fungsi
• Albumin Mengangkut banyak bahan tak larut air; mencakup faktor pembekuan
dan molekul prekursor inaktif
• Globulin
-Alfa dan beta
-gama Merupakan antibodi
Mengangkut banyak bahan tak larut air; mencakup faktor pembekuan
• Fibrinogen
dan molekul prekursor inaktif
Merupakan prekursor inaktif untuk jalinan fibrin pada bekuan
Elemen seluler
Eritrosit Mengangkut O2 dan CO2 (terutama O2 )
Leukosit
Neutrofil Menelan bakteri dan debris
Eosinofil Menyerang cacing parasitik; berperan dalam reaksi alergik
Basofil Mengeluarkan histamin, yang penting dalam reaksi alergik, dan
heparin, yang membantu membersihkan lemak dari darah menjadi
Monosit makrofag jaringan
Limfosit
Limfosit B Menghasilkan antibodi
Limfosit T Menghasilkan respons imun diperantarai-sel
Trombosit Berperan dalam hemostasis
17.3 Proses Hematopoesis
Hematopoiesis adalah pembentukan komponen seluler darah yang terjadi
selama perkembangan embrio dan sepanjang masa dewasa untuk
memproduksi dan mengisi kembali sistem darah (Jagannathan-Bogdan and
Zon, 2013). Teori monofiletik tentang hematopoiesis, yang diterima secara
luas, menunjukkan bahwa semua sel hematopoietik dihasilkan berdasarkan
pluripotent stem cells, yang menjadi sel unipotential dan berdiferensiasi
menjadi sel prekursor sebelum melanjutkan untuk membentuk sel darah
matang (Hoggatt and Pelus, 2013).
Hematopoiesis selama tahap awal embriogenesis terjadi di yolk sac dan
selanjutnya di hati. Selama kehamilan 3 sampai 7 bulan terjadi di limpa dan
tepat sebelum kelahiran bergeser ke rongga sumsum dan sejak lahir dan
seterusnya terjadi terutama di sumsum tulang (Wilson, 2018).
Sel punca (stem cell) mampu membelah dan memproduksi sel-sel baru yang
kemudian menjadi tipe spesifik dari sel induk. Sel punca di sumsum tulang
merah menghasilkan sel yang matang menjadi berbagai jenis elemen yang
terbentuk. Gambar 17.2 adalah sel induk multipoten yang membelah,
menghasilkan dua jenis sel induk lainnya. Sel induk myeloid menghasilkan
290 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
sel-sel yang melalui beberapa tahap menjadi sel darah merah, trombosit,
leukosit granular, dan monosit. Sel induk limfatik menghasilkan limfosit. Saat
ini ilmuwan mengembangkan cara untuk menggunakan sel punca darah, serta
sel punca dari jaringan dewasa lainnya, untuk meregenerasi jaringan tubuh
untuk menyembuhkan berbagai penyakit (Mader, 2005)
Gambar 17.2: Hematopoiesis Sel Punca Multipoten (Multipotent Stem Cells)
Menghasilkan Dua Sel Punca Khusus (Mader, 2005).
Sel induk myeloid menghasilkan sel erytoblas, megakarioblas, myeloblas dan
monoblas menjadi sel darah merah, trombosit, dan semua sel darah utuh
kecuali limfosit. Sel induk limfatik menghasilkan limfoblas, yang menjadi
limfosit.
Blast
Tahap pertama untuk jalur hematopoesis disebut "Blast". Karakteristik
morfologi secara umum, blast merupakan sel besar dengan inti besar. Blast
juga ditandai dengan tingkat pembelahan sel yang sangat cepat. Saat
diferensiasi berlangsung, laju pembelahan sel menurun dan sel mempunyai
karakteristik morfologi yang unik untuk tipe sel dewasa akhir mereka.
Perkembangan progresif dari karakteristik morfologi yang unik ini digunakan
untuk menentukan tahapan diferensiasi.
Misalnya dalam kondisi patologis tertentu, seperti leukemia akut, lesi genetik
muncul untuk memblokir diferensiasi sel-sel Blast ini, sehingga menghasilkan
Bab 17 Perkembangan Sel-Sel Darah dan Sistem Limpatik 291
klon neoplastik dari sel-sel yang tidak berdiferensiasi dengan tingkat mitosis
yang cepat.
Erythropoiesis
Eritropoiesis adalah proses pembentukan sel darah merah atau eritrosit,
distimulasi oleh hormon eritropoietin yaitu protein larut yang disintesis oleh
ginjal sebagai respons terhadap tekanan oksigen arteri yang rendah di dalam
darah. Ketika tekanan oksigen darah rendah, peningkatan kadar eritropoietin
merangsang peningkatan eritropoiesis yang meningkatkan kadar eritrosit
dalam darah dan dengan demikian meningkatkan kapasitas pembawa oksigen
darah.
Proses pembentukan sel darah merah membutuhkan rata-rata 2 hari untuk
menyelesaikan dari unipotential hematopoietic cell ke sel darah merah matang.
Di dalam tubuh kita, ada 2 juta eritrosit yang diproduksi setiap detik. (Wilson,
2018).
Proses untuk menghasilkan eritrosit matang membutuhkan sintesis sejumlah
besar hemoglobin bersama dengan hilangnya inti sel dan organel intraseluler.
Jenis sel pertama yang dapat dikenali dalam berdiferensiasi menjadi eritrosit
disebut "Proerythroblast", sel besar yang mengandung nukleus tanpa
hemoglobin dan organel yang menonjol.
Saat sel ini berdiferensiasi, ukurannya menjadi semakin kecil, organel hilang,
dan warnanya berubah dari biru (basofilik) menjadi merah muda (eosinofilik),
mencerminkan penurunan kandungan nukleotida pengkode hemoglobin (biru),
dan peningkatan kandungan protein hemoglobin sebenarnya (Merah Jambu).
Saat diferensiasi berlangsung, nukleus menjadi semakin kecil, padat, dan
akhirnya dikeluarkan dari sel.
Sel-sel yang keluar dari sumsum tulang dan masuk ke dalam sirkulasi belum
sepenuhnya matang dan masih mengandung sejumlah kecil kandungan
nukleotida, sedikit basofilik. Disebut dengan "Retikulosit" (Gambar 18.3). Sel
ini dapat dengan mudah diamati dalam darah tepi, dan kadar yang meningkat
(disebut "Retikulositosis") yang merupakan indikasi penting bahwa
eritropoiesis meningkat di dalam sumsum tulang.
292 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Gambar 17.3: Proses Produksi Eritrosit (Eritropoiesis) (Sherwood, 2016).
Granulopoiesis
Granulopoiesis adalah pembentukan granulosit, yaitu sel darah putih dengan
inti multi-lobular dan granula sitoplasma di mana granulosit matang
berdiferensiasi dalam sumsum tulang (Wilson, 2018). Tahap paling awal pada
garis keturunan granulosit adalah "Myeloblast" besar yang membelah dengan
cepat yang setelah mengembangkan butiran sitoplasma disebut
"Promyelocyte".
Promielosit kemudian dapat berdiferensiasi menuju salah satu dari tiga garis
keturunan granulosit: neutrofil, eosinofil, atau basofil. Proses diferensiasi ini
dicirikan oleh perkembangan granula sitopasmik yang spesifik untuk garis
keturunan tertentu serta segmentasi nukleus yang progresif. Seluruh proses
terjadi selama 2 minggu.
Monopoiesis, Lymphopoiesis and Thrombopoiesis
Monopoiesis adalah proses pembentukan monosit. Sel progenitor, monoblas,
hanya ditemukan di sumsum tulang dan memiliki sitoplasma basofilik tanpa
granula. Selanjutnya berkembang menjadi promonosit, yang lebih kecil
dengan inti yang menjadi sedikit menjorok, sebelum menjadi monosit, yang
memiliki inti berbentuk ginjal dan dapat berkembang menjadi sel dendritik
atau makrofag.
Limfopoiesis adalah pembentukan limfosit, yang dimulai dari sel progenitor
menjadi limfoblas. Sel-sel ini berkembang menjadi limfosit yang mampu
berdiferensiasi menjadi sel B, T atau natural killer. Trombopoiesis adalah
pembentukan trombosit, yang berasal dari sel besar di dalam sumsum tulang
yang disebut megakariosit. Proses pembentukan trombosit terjadi ketika
membran plasma megakariosit terfragmentasi, sehingga menghasilkan
trombosit yang mengandung banyak butiran.
Megakariosit sendiri adalah sel berumur panjang yang terus menerus
memproduksi trombosit dan dengan demikian berada dalam keadaan
Bab 17 Perkembangan Sel-Sel Darah dan Sistem Limpatik 293
fragmentasi dan kehilangan membran yang konstan. Sel-sel ini berdiferensiasi
relatif awal dari Sel Induk Hematopoietik primordial dan melalui beberapa
tahap sebelum matang sepenuhnya.
Regulasi Hematopoesis
Microenvironment sumsum tulang mengatur aktivitas hematopoietik untuk
memenuhi kebutuhan fisiologis agar homeostasis. Ada dua komponen utama
lingkungan mikro yaitu elemen seluler dan elemen non seluler yaitu faktor
pertumbuhan dan matrik ekstraseluler (Lazarus and Schmaier, 2019).
HSC (hematopoietic stem cell) terletak dekat dengan endosteum di sumsum
tulang memiliki tekanan oksigen rendah, pH rendah, dan kalsium tinggi.
Dalam sumsum tulang, HSC relatif terisolasi dari sistem sirkulasi sistemik dan
dipertahankan dalam kondisi tidak berdiferensiasi.
Sebaliknya, sel endotel memiliki tekanan oksigen lebih tinggi, mudah
memperoleh akses faktor pertumbuhan dari sirkulasi, dan mempromosikan
HSC untuk berkembang biak dan berdiferensiasi ke dalam HPC
(Hematopoietic Progenitor Compartment). Faktor pertumbuhan hematopoietik
antara lain G-CSF, atau penghambatan aksis CXCR4-CXCL12 (Broxmeyer,
Orschell DW and Clapp, 2005).
Di sumsum tulang, sel stroma menghasilkan faktor pertumbuhan larut dan
terikat membran untuk menstimulasi kelangsungan hidup, proliferasi, dan
diferensiasi HSC dan HPC. Beberapa sel stroma juga menghasilkan protein
matriks ekstraseluler seperti fibronektin, kolagen, laminin, dan
glikosaminoglikan. Tiga faktor pertumbuhan yang paling penting untuk HSC,
ligan kit, ligan FLT3, dan trombopoietin (TPO) juga memainkan peran kunci
untuk sel prekursor yang berbeda. Ligan kit, yang diproduksi oleh sel stroma,
mengaktifkan reseptor kit dan memberikan sinyal anti-apoptosis ke HSCs dan
HPC primitif.
Reseptor kit juga sangat diekspresikan, dan memainkan peran penting dalam
sel mast. Demikian pula, Ligan FLT3 mengikat reseptor FLT3 dan mendorong
proliferasi HSC/HPC serta pematangan sel dendritik. Terakhir, TPO yang
diproduksi sebagian besar oleh hati mengikat reseptor cMPL pada sel punca
dan megakariosit/trombosit. TPO terus diproduksi oleh hati dan dibersihkan
dari sirkulasi dengan mengikat cMPL pada trombosit. Jadi, jumlah trombosit
yang tinggi menghasilkan TPO yang lebih rendah dan penurunan
megakariopoiesis.
294 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Mirip dengan TPO, eritropoietin (EPO) juga diproduksi oleh: organ non-
hematopoietik, ginjal. Dengan demikian, TPO dan EPO sebenarnya adalah
hormon hematopoietik. EPO mengikat reseptor EPO dan berkontribusi pada
pematangan akhir sel darah merah. Gagal ginjal berhubungan dengan
gangguan produksi EPO dan akhirnya anemia (Lazarus and Schmaier, 2019).
17.4 Sel Darah
Eritrosit
Setiap mililiter darah rata-rata mengandung 5 miliar eritrosit (sel darah merah
atau SDM), secara klinis sering dilaporkan dalam hitung sel darah merah
sebagai 5 juta sel per milimeter kubik (mm3). Tiga sifat anatomik eritrosit
berperan dalam efisiensi pengangkutan O2.
Pertama, eritrosit adalah sel berbentuk cakram yang mencekung di bagian
tengah di kedua sisi, seperti donat dengan bagian tengah menggepeng bukan
lubang Bentuk bikonkaf ini membuat oksigen mudah berdifusi dengan cepat
karena area permukaan yang lebih luas dan selnya tipis dibandingkan dengan
bentuk sel bulat dengan volume yang sama.
Kedua yang mempermudah fungsi transpor SDM adalah kelenturan
membrannya. Sel darah merah, berdiameter normal 8 mm, dapat berubah
bentuk ketika mengalir satu per satu melewati kapiler yang garis tengahnya
sesempit 3 mm. Karena sangat lentur, eritrosit dapat mengalir melalui kapiler
sempit yang berkelok-kelok untuk menyalurkan O2 di tingkat jaringan tanpa
mengalami ruptur selama proses berlangsung.
Ketiga adalah adanya hemoglobin di dalamnya. Hemoglobin memiliki dua
bagian: (1) bagian globin, suatu protein yang terbentuk dari empat rantai
polipeptida yang sangat berlipat-lipat; dan (2) empat gugus non-protein yang
mengandung besi yang dikenal sebagai gugus hem, dengan masing-masing
terikat ke salah satu polipeptida di atas.
Masing-masing dari keempat atom besi dapat berikatan secara reversibel
dengan satu molekul O2; karena itu, setiap molekul hemoglobin dapat
mengambil empat penumpang O2 di paru. Karena O2 tidak mudah larut dalam
plasma, 98,5% O2 yang terangkut dalam darah terikat ke hemoglobin
(Sherwood, 2016). Ada sekitar 250 juta molekul hemoglobin dalam satu sel
Bab 17 Perkembangan Sel-Sel Darah dan Sistem Limpatik 295
darah merah dan oleh karena itu satu sel darah merah akan mengangkut 1
miliar molekul oksigen (Peate and Nair, 2015).
Selain mengangkut O2, hemoglobin juga dapat berikatan dengan: Karbon
dioksida (CO2-,), ion-hidrogen asam (H+), Karbon monoksida (CO), Nitrat
oksida (NO). Di paru, nitrat oksida yang bersifat vasodilator berikatan dengan
hemoglobin. Vasodilatasi membantu menjamin bahwa darah kaya -O2 dapat
mengalir dengan lancar dan juga membantu menstabilkan tekanan darah.
Jadi hemoglobin berperan kunci dalam transpor O2, transpor CO2 dan
menyangga pH. Selain itu, dengan membawa vasodilatornya sendiri,
hemoglobin membantu menyalurkan O2, yang dibawanya (Sherwood, 2016).
Leukosit
Leukosit beredar mempunyai rentang hidup yang pendek. Semua sel darah
putih bermigrasi dari pembuluh darah melalui proses yang disebut emigrasi.
Beberapa sel darah putih mampu memfagositosis antara lain neutrofil,
eosinofil, dan monosit.
1. Neutrofil
Neutrofil adalah sel darah putih yang paling banyak dan berperan
peran penting dalam sistem kekebalan tubuh. Membentuk kira-kira
60-65% granulosit dan merupakan fagosit. Neutrofil non-aktif
bertahan sekitar 12 jam sementara neutrofil aktif bisa bertahan 1-2
hari. Neutrofil adalah sel kekebalan pertama yang tiba di tempat
infeksi, melalui proses yang dikenal sebagai kemotaksis.
2. Eosinofil
Membentuk sekitar 2-4% granulosit dan memiliki inti berbentuk B.
Seperti neutrofil, mereka juga bermigrasi dari pembuluh darah dan
berdiameter 10–12 μm. Merupakan sel fagosit tapi tidak seaktif
neutrofil. Mengandung enzim lisosom dan peroksidase dalam
granulanya, yang beracun bagi parasit.
3. Basofil
Basofil adalah yang paling sedikit dan menyumbang sekitar 1%
granulosit, mengandung inti lobus memanjang. Basofil berdiameter
8–10 μm. Dalam jaringan yang meradang menjadi sel mast dan
296 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
mensekresi granul yang mengandung heparin, histamin dan protein
lain yang memicu peradangan
4. Monosit
Monosit menyumbang 5% dari sel leukosit yang tidak bergranula
dalam sirkulasi. Monosit berkembang di sumsum tulang dan
menyebar ke seluruh tubuh dalam 1-3 hari. Diameter 12–20μm. Inti
monosit berbentuk ginjal atau tapal kuda. Makrofag memainkan
peran penting dalam kekebalan dan peradangan dengan
menghancurkan antigen spesifik.
5. Limfosit
Limfosit menyumbang 25% dari leukosit dan sebagian besar
ditemukan di jaringan limfatik seperti kelenjar getah bening dan
limpa. Limfosit kecil kira-kira berdiameter 6–9 μm sedangkan yang
lebih besar berdiameter 10–14μm. Dapat keluar dan masuk kembali
ke sistem peredaran darah. Rentang hidup limfosit berkisar dari
beberapa jam hingga bertahun-tahun
Platelets dan Hemostasis
1. Trombosit/platelet
Trombosit adalah sel darah yang kecil terdiri dari sitoplasma
dikelilingi oleh membran plasma. Diproduksi di sumsum tulang dari
megakariosit dan fragmen megakariosit pecah membentuk trombosit.
Berdiameter 2–4 μm tetapi tidak memiliki nukleus dan masa
hidupnya adalah sekitar 5-9 hari.
Trombosit memainkan peran penting dalam kehilangan darah dengan
pembentukan sumbat trombosit yang menutup lubang di daerah
pembuluh darah dan melepaskan bahan kimia yang membantu
pembekuan darah (Peate and Nair, 2015).
2. Hemostasis
Hemostasis dibagi menjadi tiga peristiwa: spasme vaskular,
pembentukan sumbat trombosit, dan koagulasi. Spasme vaskular,
penyempitan pembuluh darah yang rusak, adalah respons langsung
terhadap cedera pembuluh darah. Pelepasan trombosit serotonin, zat
kimia yang memperpanjang kontraksi otot polos. Pembentukan
Bab 17 Perkembangan Sel-Sel Darah dan Sistem Limpatik 297
sumbat trombosit adalah peristiwa berikutnya dalam hemostasis.
Trombosit biasanya tidak menempel pada dinding pembuluh darah
yang rusak, tetapi ketika lapisan pembuluh darah pecah, ikat jaringan,
termasuk serat kolagen, terkena.
Trombosit menempel ke serat kolagen dan melepaskan sejumlah zat,
termasuk salah satu yang mempromosikan agregasi trombosit
sehingga disebut bentuk sumbat trombosit. Sebagai bagian dari
aktivitas normal, pembuluh darah kecil sering pecah, dan sumbat
trombosit biasanya cukup untuk menghentikan pendarahan.
Koagulasi, juga disebut pembekuan darah, adalah peristiwa terakhir untuk
menghasilkan hemostasis. Terdapat dua protein plasma, disebut fibrinogen dan
protrombin, berpartisipasi dalam pembekuan darah. Vitamin K, ditemukan
dalam sayuran hijau dan juga dibentuk oleh bakteri usus, diperlukan untuk
produksi dari protrombin. Jika vitamin K kurang atau tidak ada dari diet,
terjadi gangguan perdarahan (Mader, 2005).
17.5 Interaksi Sistem Limfatik Dengan
Sistem Vaskular
Pertukaran di Kapiler Darah
Jantung memompa mengirimkan darah melalui arteri ke kapiler di mana
terjadi pertukaran darah yang melintasi kapiler tipis dinding. Darah yang telah
melewati kapiler kembali ke jantung melalui vena. Dinding kapiler sebagian
besar tersusun atas satu lapis sel epitel yang dihubungkan oleh persimpangan.
Kapiler sangat banyak. Tubuh mengandung satu miliar kapiler, dan total luas
permukaannya diperkirakan 6.300 meter persegi. Oleh karena itu, kebanyakan
sel-sel tubuh berada di dekat kapiler.
Dalam jaringan tubuh, sel-sel yang aktif secara metabolik memerlukan oksigen
dan nutrisi dan mengeluarkan limbah, termasuk karbon dioksida. Selama
pertukaran kapiler tidak termasuk pertukaran gas paru-paru, oksigen dan
nutrisi meninggalkan kapiler, dan limbah seluler, termasuk karbon dioksida,
masuk ke kapiler. Tentu saja, darah arteri mengandung lebih banyak oksigen
298 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
dan nutrisi dari darah vena, dan darah vena mengandung lebih banyak limbah
daripada darah arteri.
Lingkungan internal tubuh terdiri dari darah dan cairan jaringan. Cairan
jaringan merupakan cairan yang mengelilingi sel-sel tubuh. Zat yang
meninggalkan kapiler melewati cairan jaringan sebelum memasuki sel-sel
tubuh, dan zat-zat yang keluar dari sel-sel tubuh lewat melalui cairan jaringan
sebelum memasuki kapiler. Komposisi cairan jaringan tetap relatif konstan
karena kapiler yang menukarkan. Cairan jaringan terutama air.
Setiap jaringan berlebih cairan dikumpulkan oleh kapiler limfatik, yang selalu
ditemukan di dekat kapiler darah (Mader, 2005).
1. Kapiler darah
Air dan molekul kecil lainnya dapat melintasi sel dinding kapiler atau
melalui celah kecil yang ada antara sel. Molekul besar dalam plasma,
seperti protein plasma, terlalu besar untuk melewati dinding kapiler.
Tiga proses memengaruhi pertukaran kapiler yaitu Tekanan darah,
difusi, dan tekanan osmotik. Tekanan darah, yang dihasilkan dari
pemompaan jantung, adalah tekanan darah terhadap pembuluh
(misalnya, dinding kapiler).
Difusi, merupakan pergerakan zat dari daerah konsentrasi tinggi ke
daerah dengan konsentrasi yang lebih rendah. Tekanan osmotik
adalah gaya yang disebabkan oleh perbedaan zat terlarut konsentrasi
di kedua sisi membran.
2. Ujung kapiler Arteri
Ketika darah arteri memasuki kapiler jaringan, warnanya merah cerah
karena hemoglobin dalam sel darah merah membawa oksigen. Di
ujung kapiler arteri, tekanan darah, kekuatan tekanan luar, lebih
tinggi dari tekanan osmotik, kekuatan dalam. Tekanan diukur dalam
satuan mm Hg (merkuri); Tekanan darah adalah 30 mmHg, dan
tekanan osmotik adalah 21 mmHg.
Karena tekanan darah lebih tinggi dari tekanan osmotik di ujung
arteri kapiler, air dan lainnya molekul kecil (misalnya, glukosa dan
asam amino) keluar dari kapiler pada ujung arterinya. Sel darah
merah dan sebagian besar protein plasma umumnya tetap berada di
kapiler karena terlalu besar untuk melewati dindingnya. Keluarnya
Bab 17 Perkembangan Sel-Sel Darah dan Sistem Limpatik 299
air dan molekul kecil lainnya dari kapiler menciptakan cairan
jaringan. Oleh karena itu, cairan jaringan terdiri dari semua
komponen plasma, kecuali mengandung lebih sedikit protein plasma.
3. Bagian tengah kapiler
Difusi terjadi di sepanjang kapiler, molekul kecil mengikuti gradien
konsentrasinya dengan bergerak dari daerah yang lebih tinggi ke
daerah yang konsentrasinya lebih rendah. Dalam jaringan, area
dengan konsentrasi oksigen yang lebih tinggi dan nutrisi selalu darah,
karena setelah molekul ini masuk ke dalam cairan jaringan, mereka
diambil dan dimetabolisme oleh sel. Sel menggunakan oksigen dan
glukosa dalam proses seluler respirasi, dan mereka menggunakan
asam amino untuk sintesis protein. Sebagai hasil metabolisme, sel-sel
jaringan mengeluarkan karbon dioksida dan limbah lainnya. Karena
cairan jaringan selalu area konsentrasi yang lebih besar untuk bahan
limbah, dan menyebar ke kapiler.
4. Ujung kapiler Vena
Di ujung kapiler vena, tekanan darah jauh berkurang hanya sekitar 15
mm Hg. Tekanan darah berkurang di ujung vena karena kapiler
memiliki luas penampang yang lebih besar di ujung vena daripada
ujung arteri. Namun, tidak ada pengurangan tekanan osmotik, tetap
pada 21 mm Hg dan menjadi lebih tinggi dari tekanan darah.
Oleh karena itu, air cenderung masuk ke kapiler pada ujung vena.
Saat air memasuki kapiler, ia membawa sertanya tambahan molekul
sampah. Darah yang keluar dari kapiler adalah berwarna merah
marun karena sel darah merah sekarang mengandung berkurang
hemoglobin, hemoglobin yang telah melepaskan oksigennya dan
diambil pada ion hidrogen.
Sekitar 85% air yang meninggalkan kapiler di ujung arteri kembali ke ujung
vena. Oleh karena itu, mengambil cairan dengan cara tekanan osmotik tidak
sepenuhnya efektif. Tubuh memiliki alat bantu untuk mengumpulkan cairan
jaringan; kelebihan apa pun biasanya memasuki kapiler limfatik.
300 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Kapiler Limpatik
Pembuluh limfatik adalah sistem pembuluh satu arah. kapiler limfatik
memiliki ujung yang terletak di dekat kapiler darah (Gambar 18.4). Pembuluh
limfa memiliki struktur yang mirip dengan vena kardiovaskuler, kecuali
dindingnya lebih tipis dan mereka memiliki lebih banyak katup. Katup
mencegah aliran getah bening kembali saat getah bening mengalir menuju
rongga dada.
Kapiler limfatik bergabung untuk membentuk pembuluh yang lebih besar
yang bergabung ke dalam saluran limfatik. Saluran limfatik bermuara ke
dalam vena kardiovaskuler di dalam rongga dada. Getah bening, cairan yang
dibawa oleh pembuluh limfatik, memiliki komposisi yang sama dengan cairan
jaringan. Karena kapiler limfatik menyerap kelebihan cairan jaringan di kapiler
darah. Sistem limfatik berkontribusi pada homeostasis dengan beberapa cara.
Salah satu caranya adalah dengan mempertahankan volume dan tekanan darah
normal dengan mengembalikan kelebihan cairan jaringan ke darah.
Edema adalah pembengkakan lokal yang terjadi ketika cairan jaringan
menumpuk. Edema dapat disebabkan oleh beberapa faktor: peningkatan dalam
permeabilitas kapiler; penurunan penyerapan air di ujung vena kapiler darah
karena penurunan dalam protein plasma; peningkatan tekanan vena; atau tidak
cukup pengambilan cairan jaringan oleh kapiler limfatik.
Gambar 17.4: Kapiler Limfatik.
Bab 17 Perkembangan Sel-Sel Darah dan Sistem Limpatik 301
Penyebab edema yang lain adalah tersumbatnya pembuluh limfatik. Salah satu
penyebab penyumbatan adalah infeksi parasit pembuluh limfatik oleh cacing
kecil. Kaki yang terkena bisa menjadi begitu besar sehingga penyakit ini
disebut kaki gajah
Kapiler limfatik selalu dekat kapiler darah. Panah hitam menunjukkan aliran
darah. Panah kuning menunjukkan bahwa getah bening terbentuk ketika
kapiler limfatik mengambil kelebihan cairan jaringan (Mader, 2005).
302 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Bab 18
Proses Metabolisme
18.1 Pendahuluan
Nutrien yang sudah diabsorpsi dan masuk dalam sistem sirkulasi selanjutnya
akan dimanfaatkan untuk energi tubuh melalui reaksi kimia yang disebut
metabolisme. Metabolisme adalah jumlah keseluruhan reaksi kimia dan fisika
pengetahuan energi dalam tubuh yang menopang dan mempertahankan
kehidupan. Besarnya energi yang diperlukan tubuh disebut metabolism rate.
Untuk dapat terjadi metabolisme sel membutuhkan oksigen dan nutrien
termasuk air, vitamin, ion mineral dan substansi organik seperti enzim.
Di dalam mitokondria nutrient organic dipecah menjadi energi yang berfungsi
untuk pertumbuhan sel, pembelahan, kontraksi, sekresi dan fungsi-fungsi yang
lain. Reaksi kimia yang terjadi di dalam sel disebut metabolisme seluler.
Kebutuhan energi tubuh minimal untuk fungsi-fungsi normal tubuh pada saat
istirahat disebut Basal Metabolisme rate (Aryanti Ratna,2018).
Metabolisme Tubuh (Reaksi Enzimatis)
Kata “metabolisme” berasal dari bahasa Yunani metabolismos yang memiliki
arti “perubahan‟. Secara istilah, metabolisme merupakan proses kompleks
yang melibatkan berbagai jalur lintasan reaksi kimia. Metabolisme dan jalur
metabolisme ini telah banyak diteliti oleh para ahli sehingga telah banyak
304 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
menghasilkan terobosan dan ilmu terkini yang dapat menjelaskan jalur-jalur
metabolisme secara lebih detail.
Dalam ilmu kimia, definisi metabolisme bertujuan untuk menjelaskan seluruh
perubahan zat-zat kimia di dalam tubuh dengan jalur-jalur reaksi kimia yang
terlibat, keterkaitan masing-masing zat kimia yang terlibat, mekanisme
pengaturan reaksi-reaksi kimia, serta jalur perubahan dan transpor zat-zat
kimia dalam suatu proses reaksi. Reaksi-reaksi kimia tersebut terus
berlangsung secara berkesinambungan di dalam setiap sel untuk menjamin
keberlangsungan kehidupan sel (Dedy Syahrizal, dkk, 2020).
Metabolisme merupakan rangkaian peristiwa reaksi-reaksi kimia yang
berlangsung dalam sel makhluk hidup. Metabolisme juga merupakan aktivitas
hidup yang selalu terjadi pada setiap sel hidup. Melalui proses metabolisme
makanan yang dimakan dapat diubah menjadi energi untuk kelangsungan
hidup. Di dalam tubuh makanan mengalami serangkaian perombakan melalui
berbagai reaksi kimia sehingga membebaskan energi yang dikandungnya yaitu
berupa molekul Adenosine Trifosfat (ATP) (Olivia rinjani, 2021).
Metabolisme adalah serangkaian reaksi kimia yang terjadi dalam hidup
organisme untuk mempertahankan hidup, berkembang biak, mempertahankan
struktur mereka, dan merespons lingkungan mereka. Biasanya, metabolisme
menunjukkan jumlah energi yang dibakar setiap menit oleh tubuh.
Metabolisme disebut juga reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu
menggunakan katalisator enzim.
Dalam suatu reaksi kimia, terjadinya perubahan yang menyangkut struktur
molekul dari satu atau lebih zat. Perubahan dari suatu zat dengan sifat khusus
menjadi zat lain yang mempunyai sifat baru yang disertai dengan pelepasan
atau penyerapan energi. Oleh karena itu, metabolisme juga merupakan suatu
proses dalam tubuh manusia untuk menjaga keseimbangan antara energi
(kalori) dengan komponen-komponen pembentuknya.
Metabolisme terdiri atas 2 proses, yaitu:
1. Anabolisme
Anabolisme adalah proses penyusunan energi kimia melalui sintesis
senyawa-senyawa organik. Dalam anabolisme terjadi reaksi yang
merangkai senyawa organik dari molekul-molekul sederhana menjadi
molekul kompleks.
Bab 18 Proses Metabolisme 305
2. Katabolisme
Katabolisme adalah proses penguraian dan pembebasan energi dari
senyawa-senyawa organik melalui proses respirasi maupun
fermentasi. Dalam katabolisme terjadi reaksi penguraian senyawa
kompleks menjadi molekul sederhana. Semua reaksi yang terjadi
dikatalis oleh enzim, baik reaksi yang sederhana maupun reaksi yang
rumit.
Kedua proses metabolisme di atas diperlukan oleh setiap organisme untuk
dapat bertahan hidup. Proses metabolisme ditentukan oleh suatu senyawa yang
disebut sebagai hormon, dan dipercepat (dikatalisis) oleh enzim. Pada senyawa
organik, penentu proses reaksi kimia disebut promoter dan penentu percepatan
reaksi kimia disebut katalis.
Metabolisme basal adalah istilah untuk menunjukkan jumlah keseluruhan
aktivitas metabolisme dengan tubuh dalam keadaan istirahat fisik dan mental.
Kecepatan metabolisme basal diukur pada waktu istirahat, di tempat tidur,
tidak terganggu oleh apa pun, dengan pemasukan oksigen dan pengeluaran
karbon dioksida diukur.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan metabolisme basal antara lain:
1. Internal meliputi: Ukuran tubuh, umur, jenis kelamin, hormon.
2. eksternal meliputi: Faktor lingkungan secara fisik, khemis yaitu
temperatur, kelembaban, senyawa kimia.
Fungsi utama metabolisme:
1. Regulasi energi sel.
2. Sintesis molekul untuk struktur dan fungsi yang dibutuhkan sel,
contoh protein, asam nukleat, lipid dan CHO.
3. Menghilangkan sisa metabolit.
Alasan reaksi biokimia banyak terjadi dan bersifat kompleks di dalam sel:
1. Jenis reaksi umumnya kecil.
2. Reaksi biokimia bersifat sederhana.
306 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
3. Reaksi pada tempat tertentu yang penting (untuk produksi energi dan
sintesa dan degradasi komponen utama sel) hanya dalam jumlah kecil
dan bersifat relatif.
Jenis-jenis reaksi dalam metabolisme:
1. Substitusi; satu atom pada gugus disubstitusi dengan yang lain.
2. Eliminasi; ikatan rangkap dibentuk jika atom dalam suatu molekul
dihilangkan.
3. Addisi; dua molekul bergabung membentuk suatu produk.
4. Hidrasi; terjadi penambahan air.
5. Isomerasi; pergantian atom secara intramolecular pada atom atau
gugus.
6. Oxidation-Reduction (redox); terjadi jika adanya transfer elektron
dari donor ke aseptor elektron.
7. Hidrolisis; pemecahan ikatan rangkap oleh air.
18.2 Daur dan Hirolisis ATP
Daur ATP
Peranan ATP sebagai sumber energi untuk metabolisme di dalam sel
berlangsung dengan mekanisme daur. ATP berperan sebagai alat angkut
energi kimia dalam reaksi katabolisme ke berbagai proses reaksi dalam sel
yang membutuhkan energi. ATP terbentuk dari ADP dan Pi dengan suatu
reaksi fosforilasi yang dirangkaikan dengan proses oksidasi molekul penghasil
energi.
ATP yang terbentuk dialirkan ke proses reaksi yang membutuhkan energi dan
dihidrolisis menjadi ADP dan Pi. Mekanisme daur ATP-ADP secara kontinu
dan berkesinambungan. Gugus fosfat ujung pada molekul ATP secara kontinu
dipindahkan ke molekul penerima gugus fosfat dan secara kontinu pula diganti
oleh gugus fosfat lainnya selama katabolisme.
Bab 18 Proses Metabolisme 307
Hidrolisis ATP
Jumlah energi yang dilepaskan oleh reaksi penguraian ATP menjadi ADP dan
Pi belum diketahui dengan pasti. Penentuan jumlah energi dilakukan dengan
mengukur perubahan energi bebas, yaitu perbedaan antara jumlah energi bebas
senyawa hasil reaksi dan jumlah energi bebas senyawa pereaksi.
Untuk memudahkan penentuan perubahan energi dipakai suatu cara dengan
melibatkan komponen keseimbangan reaksi dalam dua reaksi yang berurutan
yang mempunyai perubahan energi bebas baku lebih kecil yaitu:
ATP + glukosa ADP + glukosa 6-fosfat =
Glukosa 6-fosfat + H2O == glukosa + fosfat
Jumlah kedua persamaan reaksi ini adalah:
ATP + H2O ADP + Pi
Perubahan energi bebas baku hidrolisis ATP sebesar -7,3 kkal mol -1 Sel
mengekstraksi energi dari lingkungan dan menyintesis makromolekul untuk
menunjang aktivitas hidupnya. Kedua proses tersebut dilakukan melalui
reaksi-reaksi yang terintegrasi dan ganisasi yaitu metabolisme.
18.3 Energi Sel
Sel makhluk hidup adalah tidak sepenuhnya stabil. Aliran energi konstan
mampu mencegah terhadap terjadinya ketidakteraturan sel. Sel memperoleh
energi terutama melalui oksidasi biomolekul. Energi ditangkap sel dan
digunakan untuk mempertahankan regulasi struktur dan fungsi sel yang
terorganisir.
308 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Gambar 18.1: Jalur Biokimia Produksi Energi Sel (Nelson, 2012)
Jalur Biokimia Produksi Energi
Glycogen Glucose Liver only Glucose 6-phosphate Glycerol -2 ATP NH3
Some amino acids Anaerobic cond Pyruvate Lactate Aerobic conar Cytoplasm
Mitochondria Pyruvate Fatty acids Acetyl COA COA Ketone bodies (in liver)
CO2 Chric Icitric acid 2 cycle NH3 ATP Electron transport system 32-34 ATP
+ H2O Some amino acids
Input dan Output Energy
Tiap organ membuat energi (ATP) untuk keperluan fungsi organ masing-
masing, contoh pada ginjal untuk transpor aktif, pada otot untuk kontraksi,
pada hepar untuk biosintesis. Rata-rata manusia memerlukan 1500-6000
kcal/hari (6000-25000 kJ/hari).
Jenis sumber energi dan penyimpanan energi berbeda masing-masing organ.
Organ yang memproduksi suatu energi biasanya tidak mampu menggunakan
energi tersebut.
Pusat pengaturan ATP dalam metabolisme sebagai berikut:
Cell macromolecules Proteins Polysaccharides Lipids Nucleic acids Energy
Containing nutrients Carbohydrates Fats Proteins ADP + HPO? NAD+
NADP+ FAD Anabolism Catabolism ATP NADH NADPH FADH2 Chemical
energy Precursor molecules Amino acids Sugars Fatty acids Nitrogenous
bases Energy Depleted end products CO2 H20 NH3
Bab 18 Proses Metabolisme 309
Gambar 18.2: Pengaturan ATP Dalam Metabolisme (Nelson, 2012)
Diet-Induced Thermogenesis (DIT) Atau Specific Dynamic Action (SDA)
Merupakan energi yang digunakan untuk metabolisme makanan yang
menghasilkan panas. Setelah seseorang makan makanan campuran,
penggunaan energi meningkat selama 6 jam. Hal ini digunakan untuk
melakukan pencernaan makanan, absorpsi, dan penyimpanan makronutien.
DIT berkisar 8%-15% dari TEE pada individu yang aktivitasnya sedang. Dari
makanan yang kita konsumsi DIT lemak 2%-4%, karbohidrat 4%-7%, dan
protein 18%-25%.
Metabolisme Pada Steady State
Absorptive state adalah masa selama nutrien masuk ke peredaran darah dan
beberapa nutrien tsb menyuplai energi bagi tubuh. Metabolisme yang terjadi
ialah anabolisme. Karbohidrat dan protein diabsorbsi ke dalam darah terutama
dalam bentuk monosakarida dan asam amino. Lemak diabsorbsi dalam bentuk
triasilgliserol ke pembuluh limfe.
Karbohidrat yang diabsorbsi, selama masa absorptive state, yang menjadi
sumber energi utama ialah glukosa, sebagian diubah menjadi glikogen dan
disimpan di otot rangka dan hati. Di jaringan adiposa, glukosa diubah dan
disimpan sebagai lemak. Asam lemak dalam bentuk kilomikron dilepaskan
dalam kapiler jaringan dan membentuk triasilgliserol. Sebagian besar asam
amino masuk ke dalam sel dan digunakan untuk sintesis protein, dan
kelebihannya diubah menjadi karbohidrat atau lemak.
310 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Post-absorptive state ialah masa selama saluran pencernaan kosong dari
nutrien dan simpanan/cadangan tubuh harus menyuplai energi yang
dibutuhkan. Metabolisme yang terjadi ialah katabolisme. Setelah semua
nutrien dicerna, diabsorbsi, dan didistribusikan ke sel yang berbeda-beda,
kadar glukosa darah turun sebagai sinyal untuk mengubah keadaan dari
absorptive state menjadi post-absorptive state (fasted-state).
Tujuan fasted-state ialah mempertahankan konsentrasi glukosa dalam plasma
dalam batas normal sehingga otak dan sel saraf tetap terpenuhi kebutuhannya.
Gambar 18.3: Metabolisme Post Absorptive State (Nelson, 2012)
Metabolisme Post Absorptive State
Adipose Triglyceride stores Liver Fatty acids Fatty acids Liver glycogen stores
Glycogenolysis b-oxidation Muscle Energy production Ketone bodies Glucose
Energy production Gluconeogen Glycogen Proteins Brain Pyruvate or Lactate
Glucose Ketone bodies Amino acids Energy production
Ada 4 jenis nutrien utama, yaitu:
1. Makronutrien (karbohidrat, protein, lipid) menyuplai energi bagi
tubuh.
2. Vitamin membantu penggunaan makronutrien dan mempertahankan
jaringan.
3. Mineral mempertahankan homeostasis, dan
4. Air sebagai pelarut dalam tubuh, dan alat transport untuk
mendistribusikan nutrien ke jaringan.
Bab 18 Proses Metabolisme 311
Metabolisme bahan makanan digambarkan sebagai berikut:
DIET Fats | | Carbohydrates Proteins Free fatty acids + glycerol
Gluconeogenesis Amino Glucose acids Fat stores Lipogenesis Excess glucose
Lipogenesis Glycogen stores Body protein - Protein Lipolysis Urine
Glycogenolysis Gluconeogenesis 0 Free fatty acid pool Glucose pool Amino
acid pool Range of normal plasma glucose Excess nutrients Metabolism in
most tissues Brain metabolism
Sumber https://moondoggiesmusic.com/wp-
content/uploads/2019/02/Metabolisme-Karbohidrat-1.jpg
18.4 Nutrien Pool Synthesis
Bentuk nutrien yang diabsorbsi bergantung pada jenis makromolekulnya.
Makromolekul dari diet akan diubah menjadi 3 nutrient pools tubuh. Nutrient
pools ialah nutrien yang tersedia di dalam tubuh dan siap digunakan. Bahan-
bahan ini berada di dalam plasma.
Metabolisme Karbohidrat
Istilah “karbohidrat” atau juga dikenal dengan saccharides, berasal dari bahasa
Latin sakcharon yang berarti „gula‟. Keterkaitan istilah karbohidrat dengan
gula atau pemanis tidaklah mengherankan karena karbohidrat merupakan
molekul biologis yang paling banyak ditemukan di dalam kehidupan sehari-
hari. Fungsi biologis utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi dan
penyusun material struktur biologis.
312 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Walaupun demikian, masih banyak peranan penting karbohidrat lainnya pada
berbagai sistem biologis yang tidak terbatas hanya kepada dua fungsi utama
tersebut. Sebagai contoh, ribosa merupakan salah satu molekul yang
menyusun struktur DNA sedangkan gliseraldehid adalah komponen penting
dalam berbagai jalur metabolik (Dedy Syahrizal,dkk, 2020).
Metabolisme karbohidrat merupakan sumber energi utama tubuh. Hampir
80% energi dihasilkan dari karbohidrat. Setiap 1 gram karbohidrat akan
dihasilkan 4 kilokalori (kkal). Untuk dapat dimanfaatkan oleh sel dan jaringan
karbohidrat harus diubah terlebih dahulu menjadi glukosa. Glukosa berada
dalam sel tubuh dengan cara difusi yang dibantu oleh hormon insulin. Glukosa
dapat berasal dari zat tepung dan gula, asam amino dan gliserol. Kelebihan
glukosa akan disimpan di hati dalam bentuk glikogen.
Setelah kebutuhan energi tubuh terpenuhi, kelebihan glukosa akan diubah
menjadi lemak dan disimpan dalam jaringan adipose. Glukosa darah
dipertahan secara optimal untuk kebutuhan energi seperti otak dan fungsi
organ yang lain. Kelainan yang ekstrim glukosa darah dapat menimbulkan
penurunan kesadaran, koma dan meninggal. Insulin merupakan hormon yang
berfungsi dalam mempertahankan glukosa darah. Jika insulin tidak ada atau
kadarnya berkurang maka glukosa darah akan meningkat. (Aryani Ratna,2018)
Metabolisme karbohidrat terjadi melalui empat proses yaitu:
1. Glikogenolisis yaitu perubahan dari katabolisme glikogen menjadi
glukosa, karbon dioksida dan air. Ketika glukosa darah turun maka
glikogen glikogen akan dipecah dengan bantuan enzim glikogen
fosforilase menjadi glukosa 1-fosfat, selanjut nya menjadi glukosa-6-
fosfat yang kemudian dengan bantuan oksigen diubah menjadi
energi.
2. Glikogenesis merupakan proses anabolisme atau pembentukan
glikogen dari glukosa. Ketika Glukosa masuk dalam sel kemudian
difosforisasi menjadi glukosa- 6-fosfat, kemudian diubah menjadi
glukosa-1-fosfat, selanjutnya melalui bantuan enzim glikogen sintase
akan diubah menjadi glikogen. Sintesis dan penyimpanan glikogen
terjadi di hati dan sel otot skeletal.
3. Glukoneogenesis adalah proses pembentukan glukosa dari protein
dan lemak misalnya dari asam amino dan gliserol. Ketika cadangan
Bab 18 Proses Metabolisme 313
energi dari karbohidrat menurun maka untuk mempertahankan
glukosa darah terjadi pemecahan lemak dan protein.
4. Glikolisis merupakan proses pemecahan glukosa menjadi asam
piruvat yang mengandung senyawa ATP.Proses glikolisis terjadi di
sitosol sel yang dipercepat oleh enzim spesifik.
Metabolisme Protein
Istilah protein berasal dari bahasa Yunani yaitu proteos, yang berarti yang
utama atau yang didahulukan. Kata ini diperkenalkan oleh ahli kimia Belanda.
la berpendapat bahwa protein adalah zat yang paling penting dalam setiap
organisme. Protein merupakan rangkaian asam amino dengan ikatan peptida.
Tiga per empat zat padat tubuh terdiri dari protein (otot, enzim, protein plasma,
antibodi, hormon). Banyak protein terdiri ikatan kompleks dengan fibril atau
disebut protein fibrosa. Macam protein fibrosa: kolagen (tendon, kartilago,
tulang), elastin (arteri), keratin (rambut, kuku) dan aktin miosin (Suprayitno, E.
2017).
Protein merupakan unsur nutrien yang sangat penting untuk pertumbuhan,
mempertahankan dan mengganti sel atau jaringan yang rusak. Protein
merupakan sumber energi selain karbohidrat dan lemak. Setiap 1 gram protein
menghasilkan 4 kkal. Makanan yang masuk dalam lambung dengan bantuan
enzim pepsin akan mengubah protein menjadi albuminosa dan pepton.
Selanjutnya albuminosa dan pepton dalam usus halus dengan bantuan enzim
tripsin dari pankreas akan diubah menjadi asam amino. asam amino diserap
atau berdifusi ke aliran darah untuk dimanfaatkan oleh sel sebagai bahan
energi (Aryani Ratna, 2018) .
Terdapat dua jenis asam amino yang menyusun protein yaitu asam amino
esensial dan asam amino non-esensial. Sifat fisikokimia setiap protein tidak
sama, tergantung pada jumlah dan jenis asam aminonya. Berat molekul protein
sangat besar, ada protein yang larut dalam air, ada pula yang tidak dapat larut
dalam air, tetapi semua protein tidak larut dalam pelarut lemak. Pada
hakikatnya asam amino esensial merupakan asam amino yang diperoleh hanya
dari makanan sehari-hari karena tidak dapat disintesa di dalam tubuh. Adapun
asam amino non esensial, yakni selain dari makanan dapat juga disintesa di
dalam tubuh melalui proses transaminasi (Suprayitno, E. 2017).
314 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Asam amino yang tidak dapat digunakan ditranspor kembali ke hati, untuk
kemudian dilakukan katabolisme melalui proses deaminasi, dimana terjadi
pemindahan nitrogen dari asam amino dengan menghasilkan amonia dan asam
keto. Amonia diubah menjadi urea dan dibuang melalui ginjal, sedangkan
asam keto dimanfaatkan untuk pembentukan asam amino lain. (Aryani
Ratna,2018).
Protein merupakan senyawa organik polimer dengan berat molekul tinggi.
Protein tersusun dari persenyawaan unsur karbon, oksigen, hidrogen, dan
nitrogen. Senyawa ini merupakan polipeptida yang pada setiap polipeptida
tersusun atas peptida. Peptida ini adalah unit penyusun dari protein. Selain itu,
peptida tersebut juga disusun oleh senyawa-senyawa asam amino. Dari
beberapa penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa asam amino
merupakan senyawa terkecil penyusun protein (Dedy Syahrizal,dkk, 2020).
Metabolisme Lemak
Lemak merupakan nutrien yang paling banyak menghasilkan energi. 1 gram
lemak akan dihasilkan 9 kkal. Metabolisme lemak terjadi dihati, ketika lemak
diabsorpsi di usus halus atau dilepaskan dari jaringan adeposa, gliserol yang
merupakan bagian dari lemak dipecah menjadi piruvat, asam lemak dan
komponen lemak lainnya. Ketika terjadi penurunan gula darah, dimana
cadangan karbohidrat dan protein menurun maka lemak diubah menjadi
glukosa Pada kondisi tertentu oksidasi lemak menjadi tidak sempurna dan
menghasilkan ketone dan dilepaskan dalam darah.
Jika terjadi penumpukan keton dalam darah lebih cepat dari yang dibutuhkan
sel untuk sumber energi maka terjadi ketosis. Karena keton berupa asam maka
dapat mengakibatkan asidosis metabolic dimana pH darah menjadi menurun.
Pada kondisi ini pernafasan pasien menjadi cepat untuk membuang lebih
banyak ion hidrogen (Aryani Ratna,2018).
Lemak atau sering disebut dengan lipid adalah senyawa yang tidak larut di
dalam air tetapi larut di dalam pelarut-pelarut organik seperti: eter, kloroform,
dan benzol. Lemak disusun atas senyawa heterogen yang memiliki perbedaan
antara satu dengan lainnya. Hal inilah yang membedakan lemak dengan
karbohidrat dan protein yang memiliki struktur dasar yang tetap. Heterogenitas
senyawa penyusun lemak menyebabkan setiap jenis lemak memiliki fungsi
tersendiri bagi tubuh manusia (Dedy Syahrizal,dkk, 2020).
Lipid yang penting dalam kehidupan adalah lemak-lemak netral (trigliserida),
fosfolipid, atau senyawa sejenis, dan sterol. Trigliserida terdiri dari 3 asam
Bab 18 Proses Metabolisme 315
lemak yang berikatan dengan gliserol. Asam lemak merupakan bagian struktur
membran biologik yang penting sebagai sumber energi bagi jaringan otot
bahkan pada keadaan tersedianya glukosa (Siregar, F. A. 2020).
Metabolime Rate dan Basal Metabolisme Rate Pada Ibu
Hamil ibu hamil kebutuhan nutrien sangat meningkat untuk memenuhi
kebutuhan karena adanya perubahan fisiologis. Misalnya terjadi peningkatan
volume darah yang meningkat sampai 50% sehingga terjadi pengenceran
darah yang berakibat pada penurunan hemoglobin, albumin dan zat lainnya.
Selain itu nutrien pada ibu hamil juga dibutuhkan untuk pertumbuhan janin,
rahim, plasenta dan ketuban, pembentukan air susu, menjaga kesehatan dan
kekuatan badan ibu. (Aryani Ratna, 2018).
Kebutuhan energi pada trimester I meningkat secara minimal, kemudian
meningkat terus sepanjang semester II dan III sampai akhir kehamilan. Energi
tambahan pada trimester II diperlukan untuk pemerakan jaringan ibu seperti
penambahan volume darah, pertumbuhan uterus dan payudara serta
penumpukan lemak. Selama trimester III energi tambahan digunakan untuk
pertumbuhan janin dan plasenta.
Menurut WHO pada trimester I diperlukan tambahan energi sebanyak 150
kkal sehari dan pada trimester II, III sebanyak 350 kkal per hari. Di Indonesia
berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998
merekomendasikan kebutuhan kalori tambahan selama hamil sekitar 285 kkal.
Adanya peningkatan kebutuhan energi pada ibu hamil sudah barang tentu
peningkatan metabolisme. Sedangkan basal metabolisme ratenya meningkat
sekitar 4 % lebih tinggi, hal ini parallel dengan kenaikan berat badan (Aryani
Ratan, 2018).
Metabolisme Asam Nukleat
Salah satu karakteristik dari makhluk hidup adalah kemampuan untuk
mereproduksi atau melahirkan keturunannya. Pada level selular, proses
replikasi akan diawali dengan penggandaan materi genetik di dalam nukleus
untuk kemudian diturunkan ke sel-sel turunannya. Materi genetik ini tersimpan
di dalam molekul yang dikenal sebagai asam nukleat. Adapun yang dimaksud
dengan asam nukleta adalah suatu molekul polimerik yang menjadi dasar
struktur kimia gen yang akan mengkode informasi genetik.
Terdapat dua jenis asam nukleat, yaitu Deoxyribonucleic Acid (DNA) dan
Ribonucleic Acid (RNA). Informasi genetik yang terkandung DNA akan
316 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
ditransfer ke dalam RNA yang kemudian dipakai untuk template sintesis
protein di ribosom. Gen merupakan bagian atau segmen dari satu molekul
DNA yang mengandung untaian informasi untuk menyintesis RNA dan
protein.
Berbeda dengan molekul nutrisi lainnya, fungsi utama asam nukleat bukanlah
untuk menghasilkan energi, melainkan berperan pada proses proses
biomolekular yang berkaitan dengan informasi genetik sel. (Dedy Syahrizal,
dkk, 2020). Molekul asam nukleat merupakan biopolimer dari monomer-
monomer nukleotida yang disusun atas tiga komponen penting yaitu gula
pentosa, gugus fosfat, dan basa nitrogen.
Gambar 18.4: Gugus Gula dan Basa Nitrogen Yang Terdiri Tanpa Gugus
Fosfat Dikenal Sebagai Nukleosida (Pendidikan & Biologi, 2021)
Selanjutnya, molekul yang terdapat pada basa nitrogen terbagi atas dua
kelompok, yaitu basa purin dan pirimidin. Adapun gugus gula yang menyusun
asam nukleat ini adalah gugus ribosa atau deoksiribosa. (Dedy Syahrizal, dkk,
2020).
Bab 19
Keseimbangan Cairan dan
Elektrolit
19.1 Pendahuluan
Pemahaman tentang keseimbangan normal cairan dan elektrolit dalam tubuh
sangat penting tidak hanya untuk memahami fungsi normal tubuh manusia
tetapi juga untuk memprediksi masalah dan untuk campur tangan selama
berbagai proses penyakit.
Untuk melakukan itu, praktisi harus memiliki pemahaman menyeluruh tentang
keseimbangan cairan, homeostasis, elektrolit, dan pergeseran yang dapat
terjadi ketika 1 elemen tidak lagi seimbang. Memahami keseimbangan cairan
dan elektrolit dalam tubuh sangat penting untuk memprediksi komplikasi dan
merencanakan perawatan pada pasien yang sakit akut.
Kemampuan untuk memprediksi ketidakseimbangan berdasarkan proses
penyakit, mengidentifikasi tanda dan gejala ketidakseimbangan dan parameter
penilaian kunci, dan merumuskan modalitas pengobatan akan memungkinkan
praktisi untuk memberikan perawatan yang optimal kepada pasien yang
memiliki berbagai masalah medis.
318 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
19.2 Keseimbangan Cairan
Tubuh manusia terdiri dari sekitar 70% air. Dua pertiga dari air ditemukan
dalam cairan intraseluler. Sepertiga lainnya ditemukan dalam cairan
ekstraseluler dan terdiri dari air dan natrium klorida. Cairan ekstraseluler
selanjutnya dikategorikan sebagai cairan intravaskuler dan interstisial. Tubuh
mempertahankan keseimbangan cairan ke molekul, termasuk elektrolit, yang
dikenal sebagai homeostasis (Kee et al., 2010).
Homeostasis dipertahankan melalui pengangkutan zat terlarut melalui
membran semipermeabel. Hal ini dicapai dengan menggunakan banyak proses
yang berbeda. Proses difusi terjadi ketika ion dan molekul dalam larutan
menyebar untuk distribusi yang seragam. Filtrasi adalah proses di mana cairan
atau gas melewati filter (membran) dengan kekuatan tekanan. Osmosis terjadi
ketika zat terlarut melewati membran, meninggalkan larutan dengan
konsentrasi lebih tinggi ke larutan dengan konsentrasi lebih rendah, sehingga
menyeimbangkan zat terlarut di kedua sisi membran.
Akhirnya, transpor aktif adalah proses zat terlarut bergerak melawan gradien
elektrokimia, seperti pompa natrium-kalium yang menggerakkan elektrolit
bolak-balik tergantung pada kebutuhan sel (Merishi & Feinfeld, 2009). Untuk
cairan dalam tubuh, osmolalitas serum normal— konsentrasi zat terlarut dalam
cairan intravaskular—adalah 275 hingga 295 mOsm/kg (Kee et al., 2010).
Oleh karena itu, setiap osmolalitas serum yang lebih besar dari 295 dikenal
sebagai hiperosmolar, sedangkan osmolalitas serum yang kurang dari 275
dikenal sebagai hipoosmolar. Osmolalitas cairan tubuh memengaruhi tonisitas
cairan, tekanan atau ketegangan zat terlarut dalam larutan, dan akan
berdampak pada konsentrasi berbagai zat terlarut dan fungsi normal dalam sel
(Kee et al., 2010).
Hal ini dikenal sebagai tekanan osmotik, yang sebanding dengan osmolalitas
larutan. Mengacu pada tubuh manusia, larutan isotonik memiliki tekanan
osmotik yang sama dengan cairan intravaskular (Merishi & Feinfeld, 2009).
Contoh larutan isotonik meliputi natrium klorida 0,9%, Ringer laktat (RL), dan
dekstrosa 5% dalam air. Untuk alasan ini, larutan ini biasanya merupakan lini
pertama yang digunakan untuk menggantikan cairan yang hilang dalam tubuh
(Kee et al., 2010). Larutan hipertonik, yang memiliki tekanan osmotik lebih
tinggi dibandingkan dengan cairan intravaskular, termasuk dekstrosa 5%
dalam natrium klorida 0,9% atau RL. Larutan hipertonik dapat digunakan
Bab 19 Keseimbangan Cairan dan Elektrolit 319
untuk menarik cairan dari intraseluler dan interstitium ke dalam ruang
intravaskular untuk membantu membalikkan kelebihan cairan (Kee et al.,
2010).
Larutan hipotonik, seperti natrium klorida 0,45%, mengandung tekanan
osmotik lebih rendah daripada cairan intravaskular dan dapat digunakan untuk
mempromosikan cairan berpindah keluar dari ruang intravaskular dan masuk
ke dalam ruang intraseluler atau interstisial (Kee et al., 2010).
Ada beberapa proses yang bekerja untuk menjaga keseimbangan cairan dalam
tubuh. Ketika tubuh merasakan penurunan volume sirkulasi atau peningkatan
osmolalitas serum, beberapa jalur berfungsi untuk memperbaiki masalah
tersebut. Pertama adalah mekanisme rasa haus, yang ditempatkan di
hipotalamus dan didorong oleh penurunan volume intravaskular atau
peningkatan osmolalitas serum (Porth, 2011).
Ketika tubuh merasakan salah satu dari keadaan ini, tubuh menafsirkan
masalah dan merespons dengan memicu dorongan untuk minum. Selain itu,
hormon antidiuretik (ADH) dilepaskan oleh kelenjar pituitari sebagai respons
terhadap penurunan volume sirkulasi dan meningkatkan retensi cairan dalam
tubuh (Porth, 2011).
Di ginjal, aparatus jukstaglomerulus mengukur aliran darah ginjal. Ketika
penurunan aliran ginjal terdeteksi, ia bekerja untuk mengatur kadar natrium
dan cairan dalam tubuh melalui sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS).
RAAS menyebabkan ginjal menyerap kembali natrium, yang kemudian
menarik air dari cairan intraseluler dan masuk ke dalam cairan intravaskular,
meningkatkan aliran (Porth, 2011).
Penyebab hipovolemia meliputi penurunan asupan; penurunan penyerapan,
seperti dari reseksi usus; pendarahan; diuresis berlebihan, seperti diabetes
insipidus (DI); dan muntah dan diare yang berkepanjangan (Porth, 2011).
Manifestasi klinis meliputi rasa haus, membran mukosa kering, takikardia,
turgor kulit yang buruk, dan tanda-tanda selanjutnya dari hipotensi dan
oliguria. Pengobatan harus fokus pertama pada menghentikan kehilangan dan
kemudian mengganti volume (Porth, 2011).
Ketika jantung merasakan peningkatan volume darah, peptida natriuretik
atrium dilepaskan, yang kemudian memblokir RAAS, mengakibatkan
hilangnya natrium dan cairan dalam upaya untuk menormalkan tekanan darah
dan volume sirkulasi (Porth, 2011).
320 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Penyebab hipervolemia termasuk ekskresi natrium dan air yang tidak memadai
(seperti dengan sindrom Cushing, gagal jantung, atau gagal ginjal) atau asupan
natrium yang berlebihan (Porth, 2011).
Tanda kelebihan cairan termasuk edema perifer dan paru, hipertensi, distensi
vena, dan penambahan berat badan akut. Perawatan harus difokuskan untuk
memperbaiki penyebab yang mendasari dan mungkin membatasi asupan.
19.3 Keseimbangan Elektrolit
Pergeseran dan fluks elektrolit adalah bagaimana tubuh menyampaikan pesan
dan melakukan fungsi normal di dalam sel. Kation adalah elektrolit bermuatan
positif, sedangkan anion bermuatan negatif. Meskipun ada yang lain, natrium,
kalium, kalsium, fosfor, dan magnesium adalah elektrolit kunci yang memiliki
efek penting pada fungsi normal dalam sel.
19.3.1 Natrium
Natrium (Na+) adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler tubuh.
Perannya adalah untuk mengatur volume cairan, osmolalitas, dan
keseimbangan asam-basa, serta untuk melakukan aktivitas otot dan saraf
(Merishi & Feinfeld, 2009). Tubuh mengatur natrium melalui asupan
makanan, ekskresi oleh ginjal, dan respons hormonal terhadap aldosteron dan
ADH. Kisaran normal natrium adalah 135 hingga 145 mEq/L (Daniels, 2010).
Hipernatremia (Na > 145) dapat disebabkan oleh asupan yang berlebihan—
baik dari asupan makanan atau dari infus cepat larutan isotonik atau
hipertonik—atau dari kehilangan air yang berlebihan melalui, misalnya, DI,
gangguan pusat rasa haus, penurunan asupan, atau ketidakmampuan untuk
mengonsentrasikan urin. Manifestasi klinis hipernatremia termasuk rasa haus
dan selaput lendir kering, disorientasi dan halusinasi, oliguria atau anuria, dan
denyut nadi yang cepat dan lemah (Daniels, 2010).
Kunci untuk mengobati hipernatremia adalah mengidentifikasi dan mengobati
penyebab yang mendasarinya. Misalnya, DI harus diobati dengan vasopresin
untuk menyebabkan ginjal menahan air. Selain itu, infus larutan hipotonik
harus digunakan untuk membantu mengganti cairan tanpa meningkatkan kadar
natrium. Jika hipernatremia adalah kondisi akut, terapi agresif untuk
mengurangi kadar natrium sebesar 1 mEq/L/jam harus dilakukan. Jika
Bab 19 Keseimbangan Cairan dan Elektrolit 321
hipernatremia adalah kondisi kronis (ada selama lebih dari 48 jam), perawatan
harus dilakukan untuk mengurangi kadar natrium secara perlahan.
Selama hipernatremia, respons awal tubuh adalah menarik air dari cairan
intraseluler, termasuk sel-sel di otak. Penurunan natrium yang cepat selama
kondisi kronis kemudian akan menyebabkan masuknya kembali air secara
besar-besaran ke dalam sel dan dapat menyebabkan edema serebral.
Pengurangan natrium harus lambat, sekitar 0,5 mEq/L/jam (atau 10-12 mEq/L
selama 24 jam) (Daniels, 2010).
Hiponatremia (Na < 135) dapat disebabkan oleh diuresis berlebihan,
insufisiensi adrenokortikoid, peningkatan asupan cairan, ketoasidosis, dan
sindrom hormon antidiuretik yang tidak tepat (SIADH). Tanda dan gejala
termasuk kram dan kelemahan otot, lesu dan/atau agitasi, hipotensi ortostatik,
anoreksia, dan dalam kasus ekstrim, kejang. Kadar natrium kurang dari 115
mEq/L dapat menyebabkan disfungsi neurologis permanen (Daniels, 2010).
Sekali lagi, kunci pengobatan adalah mengidentifikasi dan memperbaiki
penyebab yang mendasarinya. Selain itu, cairan mungkin dibatasi untuk
membantu memperbaiki ketidakseimbangan. Agresivitas penggantian natrium
tergantung pada tanda dan gejala. Pada pasien tanpa gejala, penggantian 8
sampai 10 mEq/L selama 24 jam sudah cukup. Pada pasien bergejala,
penggantian yang lebih agresif harus meningkatkan kadar natrium sebesar 1
hingga 2 mEq / L / jam.
Saat Anda membaca informasi tentang ketidakseimbangan natrium,
pertimbangkan skenario pasien ini: Anda merawat pasien autis berusia 26
tahun yang baru saja dirawat karena serangan mendadak dan penurunan
tingkat kesadaran. Ibunya mengatakan dia "sangat suka air" dan "minum
setidaknya beberapa galon sehari." Apa yang bisa menjadi penyebab
gejalanya, dan bagaimana Anda harus merawatnya?
Pasien Anda menderita hiponatremia terkait dengan asupan air yang
berlebihan. Mengingat beratnya gejala, penggantian natrium yang cepat harus
dilakukan untuk mencegah kekambuhan kejang dan untuk menormalkan kadar
natrium.
19.3.2 Kalium
Kalium (K+) adalah kation utama dalam cairan intraseluler; 98% kalium dapat
ditemukan dalam cairan intraseluler. Fungsi utamanya meliputi konduksi yang
322 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
berhubungan dengan aktivitas neuromuskular, jantung, dan otot rangka.
Asupan kalium adalah melalui diet (Merishi & Feinfeld, 2009). Delapan puluh
persen kalium diekskresikan melalui tubulus distal ginjal, sedangkan 20%
diekskresikan melalui keringat dan usus. Kisaran normalnya adalah 3,5 hingga
5 mEq/L (Daniels, 2010).
Hiperkalemia (K > 5 mEq/L) dapat disebabkan oleh asupan yang berlebihan;
obat-obatan tertentu, seperti penghambat enzim pengubah angiotensin,
penghambat reseptor angiotensin, penghambat beta, dan diuretik hemat
kalium; kondisi, seperti penyakit Addison; dan gangguan fungsi ginjal dan
asidosis metabolik.
Dalam kasus trauma seluler yang ekstrim, seperti luka bakar dan cedera
remuk, sejumlah besar kalium intraseluler dapat dilepaskan ke dalam cairan
ekstraseluler. Manifestasi klinis utama dari hiperkalemia termasuk kram otot,
kelemahan dan parestesia, hiperrefleksia, dan perubahan pada
elektrokardiogram (EKG), termasuk QRS yang melebar dan gelombang T
yang tinggi dan memuncak, dan, pada kasus yang parah, fibrilasi ventrikel
(Daniels, 2010).
Pengobatan hiperkalemia harus termasuk mengubah obat kontributor dan
mengurangi asupan. Perawatan jangka pendek atau segera mungkin termasuk
pemberian natrium polistirena sulfonat, insulin intravena (IV) dan larutan
dekstrosa 50%, natrium bikarbonat, atau kalsium klorida. Dialisis juga dapat
digunakan untuk menurunkan kadar kalium dengan cepat (Daniels, 2010).
Hipokalemia dapat disebabkan oleh asupan makanan yang tidak memadai,
diuresis berlebihan, muntah dan diare, gangguan metabolisme asam-basa,
penyakit Cushing, pemberian agonis beta-adrenergik (seperti epinefrin,
dobutamin, dan albuterol), dan insulin IV dosis besar yang diberikan untuk
pengobatan ketoasidosis diabetik (DKA) atau sindrom nonketotik
hiperglikemik hiperosmolar. Manifestasi klinis meliputi kelemahan otot,
kelelahan, hiporefleksia, alkalosis metabolik, dan perubahan EKG (interval PR
yang memanjang dan gelombang T yang mendatar) (Daniels, 2010).
Kalium dapat diganti secara oral atau intravena, tergantung pada beratnya
gejala. Penggantian kalium IV tidak boleh melebihi 20 mEq/jam untuk
mencegah komplikasi serupa dengan hiperkalemia akibat infus cepat (Daniels,
2010).
Saat Anda membaca informasi mengenai ketidakseimbangan kalium,
pertimbangkan skenario pasien ini: Anda merawat pasien berusia 56 tahun
Bab 19 Keseimbangan Cairan dan Elektrolit 323
dengan gagal ginjal stadium akhir. Dia bilang dia mulai merasa sakit 3 hari
sebelumnya dan melewatkan janji dialisis yang dijadwalkan secara teratur. Dia
datang ke unit gawat darurat karena "palpitasi." Elektrokardiogramnya
menunjukkan QRS yang melebar dan gelombang T yang tinggi dan
memuncak. Apa yang bisa menjadi diagnosisnya? Apa intervensi yang paling
tepat?
Pasien Anda menderita hiperkalemia. Mengingat riwayat dan gejala pasien,
intervensi yang paling tepat adalah mendialisa dia secara akut untuk
mengembalikan kadar kaliumnya ke dalam batas yang dapat diterima.
19.3.3 Kalsium
Kalsium (Ca+) adalah kation esensial, 99% di antaranya dapat ditemukan
dalam sistem kerangka. Fungsinya meliputi transmisi impuls saraf, kontraksi
dan relaksasi otot, aktivasi enzim tertentu, koagulasi, dan ikatan dengan protein
untuk melewati dinding kapiler, serta sebagai komponen utama tulang dan gigi
(Merishi & Feinfeld, 2009). Pengaturan kalsium melalui asupan makanan, dan
ekskresi melalui kalsitonin dan hormon paratiroid. Kisaran normal untuk
kalsium total adalah 8,5-10,5 mg/dL (Daniels, 2010).
Kalsium memiliki hubungan terbalik dengan fosfor, artinya peningkatan satu
akan mengakibatkan penurunan di sisi lain, dan sebaliknya. Selain itu, karena
kemampuannya untuk berikatan dengan protein untuk membantu transpor
melintasi dinding sel, tidak semua kalsium serum tersedia secara hayati untuk
fungsi lain. Untuk alasan ini, praktisi harus menggunakan tingkat kalsium
terkoreksi atau tingkat kalsium terionisasi.
Kalsium terkoreksi adalah perhitungan yang dilakukan untuk mengoreksi
kalsium yang tersedia secara hayati berdasarkan kadar albumin serum. Rumus
untuk kalsium terkoreksi adalah Ca + 0,8 (4 albumin serum). Kalsium
terionisasi adalah tes laboratorium untuk kalsium yang tidak terikat pada
protein (normal 1,15-1,34 mg/dL).
Kalsium terionisasi mungkin lebih disukai dalam pengaturan perawatan kritis
atau dalam proses penyakit yang menyebabkan defisiensi protein. Kalsium
terionisasi lebih besar dari 1,35 mg / dL membawa tingkat kematian 50%
(Daniels, 2010).
Hiperkalsemia (Ca > 10,5 mg/dL) dapat disebabkan oleh asidosis; gagal ginjal;
hiperparatiroidisme; tirotoksikosis, termasuk penyakit Graves; dan kanker
324 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
tertentu, seperti karsinoma sel skuamosa, kanker payudara dan ovarium, dan
metastasis tulang. Manifestasi klinisnya meliputi konstipasi, hipotonisitas,
kalkulus ginjal, kebingungan dan pingsan, bradikardia dengan gelombang T
yang lebar, dan, pada kasus yang parah, henti jantung (Daniels, 2010).
Perawatan termasuk mengidentifikasi dan mengobati penyebab yang
mendasari dan pemberian diuretik loop dan cairan IV. Hipokalsemia (Ca <8,5
mg/dL) dapat disebabkan oleh proses penyakit seperti pankreatitis,
hipoparatiroidisme, hipoalbuminemia, alkalosis metabolik, hipomagnesemia,
dan pemberian produk darah sitrat dalam jumlah besar (produk darah yang
diberi pengawet).
Tanda dan gejala termasuk mati rasa atau kesemutan pada tangan, jari kaki,
dan mulut; tetani; ketidakstabilan emosional; kejang; hipotensi; dan interval
QT pendek pada EKG. Penilaian untuk hipokalsemia termasuk tanda
Trousseau, tekanan darah tinggi yang menyebabkan kejang otot di ibu jari atau
tangan, dan tanda Chvostek (menekan 1 inci di bawah lengkungan zygomatic
pada sudut rahang akan menyebabkan kontraksi otot wajah) (Daniels, 2010).
Selain mengobati penyebab yang mendasarinya, penggantian kalsium dapat
diberikan secara oral atau intravena. Kalsium glukonat lebih disukai daripada
kalsium klorida untuk penggantian kalsium (Daniels, 2010).
Saat Anda membaca informasi mengenai ketidakseimbangan kalsium,
pertimbangkan skenario pasien ini: Anda merawat pasien berusia 34 tahun
yang baru saja dirawat karena kejang otot, terutama di wajah dan tangan. Dia
mengeluhkan ketidakmampuan untuk mengontrol "kedutan" yang cenderung
terjadi saat dia menggenggam benda berat dan tics wajah yang datang dan
pergi. Dia melaporkan serangan gangguan gastrointestinal baru-baru ini
dengan 2 sampai 3 hari muntah dan diare. Apa yang bisa menjadi penyebab
gejalanya? Bagaimana Anda harus memperlakukannya?
Kemungkinan pasien Anda mengalami hipokalsemia yang berhubungan
dengan alkalosis metabolik. Perawatan akan mencakup memastikan masalah
gastrointestinal diselesaikan dan memberikan penggantian kalsium.
19.3.4 Fosfor
Fosfor (P−) adalah anion intraseluler utama, 85% di antaranya dapat
ditemukan di tulang. Fosfor bertindak sebagai penyangga keseimbangan asam-
basa, penting untuk fungsi neuromuskular dan sel darah merah, dan
merupakan struktur utama gigi dan tulang (Merishi & Feinfeld, 2009).
Bab 19 Keseimbangan Cairan dan Elektrolit 325
Kadar fosfor diatur melalui ginjal, kelenjar paratiroid, dan kadar hormon
lainnya. Kisaran normal fosfor adalah 2,5-4,5 mg/dL (Daniels, 2010).
Hiperfosfatemia (P > 4,5 mg/dL) dapat disebabkan oleh penggunaan obat
pencahar; gangguan ginjal; hipoparatiroidisme; sindrom lisis tumor; dan
nekrosis otot ekstrem, seperti yang terlihat pada sindrom kompartemen.
Manifestasi klinis termasuk tetani; parestesia; hipotensi; dan disritmia,
khususnya, torsade de pointes dari hipomagnesemia terkait (Daniels, 2010).
Pengobatan untuk hiperfosfatemia meliputi penurunan asupan fosfat;
pemberian pengikat fosfor berbasis kalsium, karena fosfor memiliki hubungan
terbalik dengan kadar kalsium; diuretik tertentu; dan dialisis (Daniels, 2010).
Hipofosfatemia (P <2,5 mg/dL) dapat disebabkan oleh asupan antasida yang
berlebihan; malnutrisi protein-kalori berat, seperti yang terlihat pada pasien
luka bakar parah; DKA; hiperparatiroidisme; dan keracunan salisilat. Tanda
dan gejala termasuk ataksia, tremor niat, kelemahan, parestesia, kebingungan,
kejang, hemolisis dan perdarahan yang signifikan, dan, pada kasus yang parah,
koma dan kegagalan pernapasan (Daniels, 2010).
Perawatan termasuk identifikasi penyebab yang mendasari dan penggantian
fosfor:
Saat Anda membaca informasi mengenai ketidakseimbangan fosfor, pertimbangkan
skenario pasien ini: Anda sedang merawat seorang pekerja konstruksi berusia 40 tahun
yang dirawat dengan patah tulang paha kiri setelah ditabrak di tempat kerja oleh
forklift. Dia baru saja kembali dari ruang operasi setelah fasciotomi untuk sindrom
kompartemen kaki kiri. Dia memanggil dan mengeluh mati rasa dan kesemutan di
semua ekstremitas; tekanan darahnya lebih rendah daripada saat pertama kali kembali
dari ruang operasi. Apa yang bisa menjadi penyebab gejalanya? Bagaimana Anda
harus memperlakukan dia? Pasien Anda mungkin menderita hiperfosfatemia. Anda
dapat mengobatinya dengan meningkatkan ekskresi fosfor melalui pemberian diuretik,
seperti asetazolamid.
19.3.5 Magnesium
Magnesium (Mg+) adalah kation intraseluler yang signifikan. Ini memainkan
peran dalam metabolisme karbohidrat dan protein, protein dan sintesis asam
deoksiribonukleat, dan konduktivitas listrik (Merishi & Feinfeld, 2009). Ini
diatur melalui asupan makanan, ginjal, dan kelenjar paratiroid. Kisaran normal
untuk magnesium adalah 1,5 hingga 2,4 mg/dL (Daniels, 2010).
326 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Hipermagnesemia (Mg > 2,4 mg/dL) adalah ketidakseimbangan yang jarang
terjadi yang disebabkan oleh gagal ginjal, KAD, penyakit Addison,
hiperparatiroidisme, dan hipotiroidisme. Biasanya bersamaan dengan
hipokalsemia dan hiperkalemia. Manifestasi klinis termasuk kebingungan,
kejang, kelemahan dan hiporefleksia, disfagia, wajah memerah, dan blok
atrioventrikular pada EKG (Crawford & Harris, 2011).
Perawatan termasuk pemberian cairan IV, kalsium, dan kemungkinan dialisis
dalam kasus disfungsi ginjal (Crawford & Harris, 2011). Hipomagnesemia
(Mg <1,5 mg/dL) dapat disebabkan oleh diuretik; peningkatan asupan kalsium,
yang bersaing dengan magnesium untuk mengikat protein; alkoholisme;
penggunaan pencahar yang berlebihan; bypass usus kecil; dan SIADH. Tanda
dan gejala termasuk kebingungan, pusing dan sakit kepala, nistagmus,
hipertensi, tetani, dan disritmia ventrikel (torsade de pointes). Parameter
penilaian dapat mencakup tanda Chvostek, Trousseau, dan Babinski positif
(Crawford & Harris, 2011).
Perawatan termasuk infus magnesium, biasanya 1 hingga 2 g. Perhatian harus
diambil dalam penggantian magnesium untuk pasien dengan gagal ginjal
(Crawford & Harris, 2011).
Saat Anda membaca informasi mengenai ketidakseimbangan magnesium,
pertimbangkan skenario pasien ini: Anda merawat pasien wanita berusia 88
tahun yang datang dengan lesu dan bingung. Dia berkata bahwa dia “tidak
dapat mengingat apakah dia baru saja buang air besar” dan bahwa dia telah
mengonsumsi banyak produk untuk membantu memperlancar buang air besar.
Saat Anda menilai dia, Anda melihat ritme jantungnya berubah menjadi ritme
yang lebar, kompleks, kacau, dan dia kehilangan kesadaran. Apa yang bisa
menjadi penyebabnya, dan bagaimana Anda harus memperlakukannya? Pasien
Anda kemungkinan besar menderita hipomagnesemia dan menunjukkan
torsade de pointes. Perawatan darurat untuk ini termasuk pemberian
magnesium IV segera.
Daftar Pustaka
Agnes dan Soebiyanto. (2017). Biokimia kesehatan. Biokimia Dasar Untuk
Profesi Kesehatan. Jakarta. CV. Trans Info Media
Ajul, K., Pranata, L., Daeli, N. E., & Sukistini, A. S. (2021). Pendampingan
lansia dalam meningkatkan fungsi kognitif melalui permainan kartu remi.
JPMB: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Berkarakter, 4(2), 195-198.
Al-Azab, M. (2017, June). Anatomy of the immune & lymphatic system.
Retrieved January 2022, from https://www.researchgate.net:
https://www.researchgate.net/publication/317645471_Anatomy_of_the_I
mmune_Lymphatic_System
Amboss, (2021). Physiology of the kidney. [Online] Available at:
https://www.amboss.com/us/knowledge/ Physiology_of_the_kidney/
[Accessed 24 Januari 2022].
Anderson RH, Boyett MR, Dobrzynski H, Moorman AF: (2013) The
anatomyof the conduction system: implications for the clinical
cardiologist. J Cardiovasc Transl Res 6:187,.
Anderson, P., (1999). Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Anderson, Paul D. (2008). Anatomi & Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta : EGC,
2008.
Anyfantis, I.D., Biska, A., (2018). Musculoskeletal Disorders Among Greek
Physiotherapists: Traditional and Emerging Risk Factors. Saf. Health
Work 9: 314–318. doi:10.1016/j.shaw.2017.09.003
328 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Aryani Ratna, (2018), Anatomi dan fisiologi untuk mahasiwa keperawatan,
Jakarta
Asadi, H., Yu, D., Mott, J.H., (2019). Risk Factors for Musculoskeletal Injuries
in Airline Maintenance, Repair & Overhaul. Int. J. Ind. Ergon. 70: 107–
115. doi:10.1016/j.ergon.2019.01.008
Atlas, P., Anatomy, S., & All, T. (2001). Pocket Atlas of Sectional Anatomy
Volume 2 (Vol. 2).
Aziz, S.H., (2018). Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Nyeri Otot
Skeletal (Musculoskeletal Disorders) Pada Pekerja Bongkar Muat Di
Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar Tahun 2018. Kesehat. Masy. Univ.
Hasanuddin.
Aznam, S.A., Safitri, D.M., Anggraini, R.D., (2017). Ergonomi Partisipatif
Untuk Mengurangi Potensi Terjadinya Work-Related Musculoskeletal
Disosrders. J. Tek. Ind. 7: 94–104.
Badeer HS: (2001) Henodynamics for medical stuclents. Am J physiol (Adv
Physiol Edttc) 25:41,.
Bartholomew, M. N. (2018) "Fundamentals of Anatomy", Global Edition,
Pearson Education, Canada. Postgraduate Medical Journal, 14(147), pp.
26–26. doi: 10.1136/pgmj.14.147.26.
Battica B. Fansisca. (2009). Asuan Kepeawatan Pada Klien dengan Gangguan
Sitem Metabolisme.. Salemba Medika.
Bazigou E, Makinen T: (2013) Flow control in our vessels: vascular valves
make sure there is no way back. Cell Mol Life Sci 70:1055,.
Belleza, M. (2021) Lymphatic System: Anatomy and Physiology. Available at:
https://nurseslabs.com/lymphatic-system-anatomy-physiology/
(Accessed: 15 January 2022).
Berman, A., Snyder, S. J. dan Frandsen, G. (2016). “Kozier & Erb’s
Fundamentals of Nursing: Concepts, Practice, and Process,” 10th edition,
England: Pearson Education Limited
Burke, K. M., LeMone, P., Mohn-Brown, E. dan Eby, L. (2014). “Medical-
Surgical Nursing Care,” 3rd edition, England: Pearson Education Limited
Carillo, J., Rodrigues, S., Coronado, O., Garcia, M., & Cordero, J. (2017).
Physiology and Pathology of Innate Immune Response Against
Daftar Pustaka 329
Pathogens. In Physiology and Pathology of Immunology (pp. 100-134).
INTECH.
Chalik, 2016 (2016) ‘Anatomi Fisiologi MAnusia, Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia’, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 148.
Chirinos JA: (2012) Arterial stiffness: basic concepts and measurement
techniques. J Cardiovasc Transl Res 5:255,
Chobanian AV Bakris GL, Black HR, et al: (2003) Joint National Committee
on Preyention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood
Pressure, National High Blood pressure Edu_ cation Program
Coordinating Committee. Seventh Report of the Joint National Committee
on prevention, detection, eyaluation, and treatment ofhigh blod pressure.
Hyperten_ sion 42;1206,.
Choi, I., Lee, S. and Hong, Y. K. (2012) ‘The new era of the lymphatic system:
No longer secondary to the blood vascular system’, Cold Spring Harbor
Perspectives in Medicine, 2(4), pp. 1–23. doi:
10.1101/cshperspect.a006445.
Cortes, C. (2013) ‘Physiology and anatomy of reproduction’, (E-learning course
from ESA), pp. 10–11.
Crawford, A., Harris, H. (2011). Balancing act: hypomagnesemia &
hypermagnesemia. Nursing Journal.
Cueni, L. N. and Detmar, M. (2008) ‘The lymphatic system in health and
disease’, Lymphatic Research and Biology, 6(3–4), pp. 109–122. doi:
10.1089/lrb.2008.1008.
Dafriani, P. and Prima, C. B. (2019) BUKU AJAR ANATOMI &
FISIOLOGI untuk Mahasiswa Kesehatan. doi: 10.31227/osf.io/fq93m.
Dafriani, P. and Prima, C. B. (2019) BUKU AJAR ANATOMI &
FISIOLOGI untuk Mahasiswa Kesehatan. doi: 10.31227/osf.io/fq93m.
Damien J. Wilson (2018) Hematopoiesis Process. Available at:
https://www.news-medical.net/life-sciences/Hematopoiesis-Process.aspx.
Daniels, R. (2010). Delmar’s Guide to Laboratory and Diagnostic Tests. 2nd ed.
Clifton Park, NY: Delmar Centage Learning.
Devi Buana Kris Anakardian. (2017). Anatomi Fisiologi & Biokimia
Keperawatan.Yogyakarta.PUSTAKABARUPRESS
330 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Dharmayanti, C.I., Sutjana, I.D.P., Adiputra, N., (2019). Perubahan Sikap Kerja
Berdasarkan Kaidah Ergonomi Menurunkan Beban Kerja Dan Keluhan
Subjektif Serta Meningkatkan Produktivitas Kerja Perajin Bola Mimpi Di
Desa Budaga. Bali Heal. J. 3: 1–8.
Diaconita, V., Uhlman, K., Mao, A., (2019). Survey of occupational
musculoskeletal pain and injury in Canadian ophthalmology. Can. J.
Ophthalmol. Can. d’ophtalmologie 54: 314–322.
doi:10.1016/j.jcjo.2018.06.021
Drake, R. L., Vogl, A. W. and Mitchell, A. W. M. (2010) ”Grays Anatomy for
Students, Second Edition”, Canada: Churchill Livingstone Elsevier.
Dutt, M. and Jialal, I. (2019) Physiology, Adrenal Gland, StatPearls.
Effendi, Y. H. (2021) Patofisiologi Gizi : Regulasi Makan Gangguan
Homeostasis Energi Peran Zat Gizi pada Pertumbuhan & Perkembangan
Otak. Bogor: IPB Press. Available at:
https://www.google.co.id/books/edition/Patofisiologi_Gizi/oUgvEAAA
QBAJ?hl=id&gbpv=1.
Effendi, Y. H. (2021) Patofisiologi Gizi : Regulasi Makan Gangguan
Homeostasis Energi Peran Zat Gizi pada Pertumbuhan & Perkembangan
Otak. Bogor: IPB Press. Available at:
https://www.google.co.id/books/edition/Patofisiologi_Gizi/oUgvEAAA
QBAJ?hl=id&gbpv=1.
Ekomaru, C., (2020). Physiology of the urinary system. [Online] Available at:
https://3d4medical.com/blog/physiology-of-the-urinary-system
[Accessed 19 Januari 2022].
Ellis, H. (2006). Clinical Anatomy.
Ermita. I, Ibrahim Ilyas, D. (2018) Guyton And Hall Texbook of Medical
Physiology. Singapore: Elsevier Inc. Available at: 3. Nukleus Nukleus
atau inti sel adalah pusat pengatur aktifitas sel. Di dalamnya terdapat
nucleoli yang berfungsi untuk menghasilkan ribosom. Nucleus juga
mengandung kromosom tempat beradanya gen manusia. Masing-
masing kromosom mengandung .
Ermita. I, Ibrahim Ilyas, D. (2018) Guyton And Hall Texbook of Medical
Physiology. Singapore: Elsevier Inc. Available at: 3. Nukleus Nukleus
atau inti sel adalah pusat pengatur aktifitas sel. Di dalamnya terdapat
Daftar Pustaka 331
nucleoli yang berfungsi untuk menghasilkan ribosom. Nucleus juga
mengandung kromosom tempat beradanya gen manusia. Masing-
masing kromosom mengandung .
Evelyn, C. (2010). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama, 2010.
Faiz, O., Moffat, D., & Faiz, O. (2002). Anatomy at a Glance.
Falkson, S. R. & Bordoni, B., (2021). Anatomy, Abdomen and Pelvis, Bowman
Capsule. [Online] Available at:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554474/#:~:text=Bowman's%
20capsule%20surrounds%20the%20glomerular,to%20the%20proximal
%20convoluted%20tubule.[Accessed 25 Januari 2022].
Family Planning National Training Center (2020) ‘Introduction to Reproductive
Anatomy and Physiology’.
Ganong, W. F. (2012) Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 22nd edn. Jakarta: EGC.
Ganong. W, F., (1995). Review Of Medical Physiology, alih bahasa Adji Darma
(Fisiologi Kedokteran). Jakarta: EGC.
Gavins, N. and Alexander, J. (2020) Lymphatic Structure and Function in
Health and Disease. London: Elsevier Academic Press.
Gibson, John. (2002). Fisiologi & Anatomi Modern untuk Perawat. [penerj.]
Bertha Sugiarto. 2. Jakarta : EGC, 2002.
Ginanjar, R., Fathimah, A., Aulia, R., (2018). Analisis Risiko Ergonomi
Terhadap Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Pada Pekerja
Konveksi Di Kelurahan Kebon Pedes Kota Bogor Tahun 2018. J. Mhs.
Kesehat. Masy. 1: 1–6.
Gómez-galán, M., Pérez-alonso, J., Callejon-Ferre, A.-J., Lopez-Mastines, J.,
(2017). Musculoskeletal disorders : OWAS review. Ind. Health 55: 314–
337.
Grant, A. dan Waugh, A. (2017) ”Dasar-Dasar Anatomi Dan Fisiologi, Edisi
12”, Singapore: Elsevier.
Gujar, S. (2017). A cadaveric study of human spleen and its clinical significance.
National Journal of Clinical Anatomy, 6(1), 35-41.