The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Digital UKMC Palembang, 2022-11-04 00:17:59

FullBook Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia

182 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


makan, hati mengubah glukosa menjadi glikogen dan trigliserida
untuk disimpan
3. Metabolisme lemak.
Hepatosit menyimpan sebagian trigliserida; menguraikan asam lemak
untuk menghasilkan ATP; menyintesis lipoprotein, yang mengangkut
asam lemak, trigliserida, dan kolesterol ke sel tubuh dan dari sel
tubuh; membentuk kolesterol: Menjelaskan letak dan menggunakan
kolesterol untuk membuat garam empedu.
4. Metabolisme protein.
Hepatosit mengeluarkan gugus amino dari asam amino sehingga
asam amino dapat digunakan untuk membentuk ATP atau diubah
menjadi karbohidrat dan lemak. Amonia toksik yang terbentuk
diubah menjadi urea yang jauh kurang toksik, yang diekskresikan
melalui urine. Hepatosit juga mensintesis sebagian besar protein
plasma, misalnya globulin alfa dan beta, albumin, protrombin, dan
fibrinogen.
5. Mengolah obat dan hormon.
Hati dapat mendetoksifikasi bahan-bahan seperti alkohol dan
mengekskresikan obat (penisilin, eritromisin, dan sulfonamid) ke
dalam empedu. Secara kimiawi hati dapat mengubah atau
mengekskresikan hormon tiroid dan hormon steroid misalnya
estrogen dan aldosteron.
6. Ekskresi bilirubin.
Bilirubin yang berasal dari hem sel darah merah tua, diserap oleh hati
dari darah dan diekskresikan ke dalam empedu. Sebagian besar
bilirubin dalam empedu dimetabolisme di usus halus oleh bakteri dan
dikeluarkan dalam tinja.
7. Sintesis garam empedu.
Garam empedu digunakan di usus halus untuk emulsifikasi dan
penyerapan lemak.
8. Penyimpanan.
Hati menyimpan glikogen, dan tempat utama untuk menyimpan
vitamin tertentu (A, B, D, E, dan K) serta mineral (besi dan tembaga),
yang dibebaskan dari hati jika dibutuhkan oleh bagian lain tubuh.

Bab 10 Anatomi dan Fisiologi Sistem Ekskresi 183


9. Fagisitosis.
Sel retikuloendotel stelata (Kupffer) hati memfagosit sel darah merah
tua, sel darah putih, dan beberapa bakeri.
10. Mengaktifkan vitamin D
Kulit, hati dan ginjal ikut serta dalam sintesis bentuk aktif vitamin D.

Sebagai sistem ekskresi, hati berfungsi untuk mengubah zat buangan (zat
sampah) dan zat-zat yang beracun didetoksifikasi sehingga mudah
diekskresikan ke dalam empedu dan urine (Irianto, 2017).



10.4 Ginjal


Ginjal merupakan organ kemerahan berbentuk kacang mede yang terletak di
atas pinggang antara peritoneum dan dinding belakang (posterior) abdomen.
Karena posisinya di belakang peritoneum rongga abdomen, ginjal disebut
sebagai organ retroperitoneum.
Ginjal terletak antara vertebra torakalis terakhir dan lumbal ketiga, tempat
organ ini terlindung sebagian oleh pasangan iga kesebelas dan kedua belas.
Ginjal kanan letaknya sedikit lebih rendah daripada ginjal kiri, karena hati
menempati ruang yang cukup banyak pada sisi kanan atas (superior) terhadap
ginjal.

10.4.1 Anatomi Ginjal

Anatomi Eksternal Ginjal
Ginjal pada orang dewasa panjangnya 10-12 cm (4-5 in.), lebar 5-7 cm (2-3
in.), dan tebal 3 cm (1 in.), dengan berat 135-150 g (4,5-5 oz). Batas medial
masing-masing ginjal yang konkaf menghadap ke kolumna vertebra. Pada
bagian tengah batas konkaf terdapat cekungan yang disebut hilus atau hilum
ginjal di mana ureter keluar dari ginjal bersama dengan pembuluh darah,
pembuluh limfe, dan saraf.

Terdapat tiga lapisan jaringan ginjal, yaitu:
1. Lapisan dalam (kapsul ginjal), adalah lembaran jaringan ikat yang
tidak teratur padat, halus dan transparan seta bersambungan dengan

184 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


lapisan luar ureter. Fungsi lapisan ini adalah sebagai sawar terhadap
trauma dan membantu mempertahankan bentuk ginjal.
2. Lapisan tengah (kapsul adiposa), adalah massa jaringan lemak yang
mengelilingi kapsul ginjal. Kapsul adiposa melindungi ginjal dari
trauma dan menahan ginjal pada tempatnya dalam rongga abdomen.
3. Lapisan superfisial (fasia renalis), adalah lapisan tipis lain jaringan
ikat tak teratur padat yang merekatkan ginjal ke struktur sekitar dan
ke dinding abdomen. Pada permukaan depan (anterior) ginjal, fasia
renalis masuk ke dalam peritoneum.

Anatomi Internal Ginjal
Potongan frontal ginjal menunjukkan dua regio berbeda (Gambar 10.8), yaitu:

1. Korteks ginjal
Merupakan daerah superfisial dan berwarna merah muda. Korteks
ginjal adalah daerah bertekstur halus yang terbentang dari kapsul
ginjal ke bagian basal piramida dan ke dalam ruang di antara
piramida. Pada bagian ini dibagi menjadi dua, yaitu zona korteks
(sebelah luar) dan zona jukstamedula (bagian dalam).
Bagian-bagian korteks ginjal yang menjulur di antara piramid ginjal
disebut kolumna renalis. Lobus ginjal terdiri dari piramid ginjal,
korteks ginjal, dan separuh dari kolumna renalis.
2. Medula ginjal
Merupakan bagian dalam berwarna coklat merah gelap Medula ginjal
terdiri dari beberapa piramida ginjal yang berbentuk kerucut. Pada
bagian basal (ujung yang lebih lebar) pada masing-masing piramida
menghadap ke korteks ginjal, dan apeks ginjal (ujung yang
menyempit ke hilus ginjal), disebut papila ginjal.

Bab 10 Anatomi dan Fisiologi Sistem Ekskresi 185





















Gambar 10.8: Anatomi Internal Ginjal (Gerald J. Tortora and Derrickson,
2011)
Korteks ginjal dan piramid ginjal pada medula ginjal membentuk parenkim
atau bagian fungsional ginjal. Pada parenkim terdapat unit-unit fungsional
ginjal yaitu sekitar satu juta struktur mikroskopik yang disebut nefron. Filtrat
(cairan tersaring) yang dibentuk oleh nefron mengalir ke duktus papilaris
besar, yang terbentang melalui papila renalis piramid. Duktus papilaris
mengalirkan isinya ke struktur berbentuk mangkuk yaitu kaliks minor dan
mayor.
Ginjal memiliki 8 sampai 18 kaliks minor dan 2 atau 3 kaliks mayor. Kaliks
minor menerima urin dari duktus-duktus papilaris satu papila ginjal dan
menyalurkan ke kaliks mayor. Apabila filtrat masuk ke kaliks, cairan tersebut
menjadi urin karena tidak terjadi reabsorpsi lebih lanjut. Dari kaliks mayor,
urin mengalir ke dalam pelvis ginjal dan keluar melalui ureter ke dalam
kandung kemih. Hilum mengembang ke suatu rongga dalam ginjal yang
disebut sinus renalis, yang terdiri dari pelvis ginjal, kaliks dan cabang-cabang
pembuluh darah dan saraf ginjal.

Aliran Darah dan Persarafan Ginjal
Ginjal mendapatkan banyak aliran darah karena ginjal mengeluarkan zat sisa
dari darah dan mengatur volume dan komposisi ionnya. Ginjal menerima 20-
25% curah jantung istirahat melalui arteri renalis kanan dan kiri (Gambar
10.9). Darah yang mengalir pada kedua ginjal orang dewasa sekitar 1200 mL

186 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


per menit. Arteri renalis bercabang menjadi beberapa arteri segmental, yang
mengalirkan darah ke segmen (area) yang berbeda-beda pada ginjal.
Setiap arteri segmental membentuk beberapa cabang yang masuk ke parenkim
dan berjalan melalui kolumna renalis di antara piramid-piramid ginjal sebagai
arteri interlobaris. Pada bagian basal piramid ginjal, arteri interlobaris
melengkung di antara medula dan korteks ginjal (arteri arkuata yang berbentuk
seperti busur). Percabangan arteri arkuata menghasilkan serangkaian arteri
interlobularis, karena berjalan di antara lobulus-lobulus ginjal. Arteri
interlobularis masuk ke korteks ginjal dan bercabang-cabang menjadi arteriol
aferen.
Arteriol eferen membelah membentuk kapiler peritubulus yang mengelilingi
bagian tubulus nefron di korteks ginjal. Dari arteriol eferen menjulur kapiler-
kapiler berbentuk lengkung, disebut vasa rekta yang mengalirkan darah ke
bagian tubulus nefron di medula ginjal. Kapiler-kapiler peritubulus menyatu
kembali membentuk venula peritubulus lalu vena interlobularis, yang
menerima darah dari vasa rekta. Selanjutnya darah mengalir melalui vena
arkuata ke vena interlobaris yang berjalan di antara piramid-piramid ginjal.
Darah meninggalkan ginjal melalui satu vena renalis yang keluar di hilus ginjal
dan mengangkut darah vena ke vena kava inferior.



























Gambar 10.9: Aliran Darah Ginjal (Gerald J. Tortora and Derrickson, 2011)

Bab 10 Anatomi dan Fisiologi Sistem Ekskresi 187


Saraf ginjal berasal dari ganglion renalis dan berjalan melalui pleksus renalis
ke dalam ginjal bersama arteri-arteri ginjal. Sebagian besar saraf ginjal adalah
saraf vasomotor yang mengatur aliran darah melalui ginjal dengan
menyebabkan vasodilatasi atau vasokonstriksi arteriol-arteriol ginjal (Gerald J.
Tortora and Derrickson, 2011).

10.4.2 Fisiologi Ginjal

Beberapa fungsi dari ginjal di antaranya adalah (Gerald J. Tortora and
Derrickson, 2011):
1. Mengatur komposisi ion darah. Ginjal membantu pengaturan kadar
beberapa ion dalam darah, terutama ion natrium (Na+), ion kalium
(K+), ion kalsium (Ca2+), ion klorida (Cl-), dan ion fosfat (HPO42-).
2. Mengatur pH darah. Ginjal mengekskresikan ion hidrogen (H+)
dalam jumlah bervariasi ke dalam urine dan menahan ion bikarbonat
(HCO3) sehingga dapat membantu tubuh mengatur pH darah.
3. Mengatur volume darah. Ginjal dapat menyesuaikan volume darah
dengan menahan atau mengeluarkan air di urine. Peningkatan volume
darah dapat meningkatkan tekanan darah; penurunan volume darah
dapat menurunkan tekanan darah.
4. Mengatur tekanan darah. Ginjal juga dapat membantu tubuh untuk
mengatur tekanan darah dengan mengeluarkan enzim renin, yang
mengaktifkan jalur renin-angiotensin-aldosteron. Peningkatan renin
menyebabkan peningkatan tekanan darah.
5. Mempertahankan osmolaritas darah. Ginjal secara terpisah mengatur
pengeluaran air dan pengeluaran zat terlarut dalam urine sehingga
dapat mempertahankan osmolaritas darah relatif konstan sebesar 300
milimol per liter (mOsm/liter).
6. Menghasilkan hormon. Ginjal menghasilkan kalsitriol yang
merupakan bentuk aktif vitamin D, membantu tubuh mengatur
homeostasis kalsium dan eritropoietin yang merangsang
pembentukan sel darah merah.
7. Mengatur kadar glukosa darah. Ginjal dapat menggunakan asam
amino glutamin dalam glukoneogenesis (pembentukan molekul

188 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


glukosa baru) dan dapat mengeluarkan glukosa ke dalam darah untuk
membantu mempertahankan kadar glukosa normal.
8. Ekskresi zat sisa dan benda asing. Dengan membentuk urine, ginjal
membantu tubuh membuang zat sisa. Sebagian zat sisa yang
diekskresikan dalam urine berasal dari reaksi metabolik tubuh. Zat
sisa ini meliputi amonia dan urea dari deaminasi asam amino;
bilirubin dari katabolisme hemoglobin; kreatinin dari penguraian
kreatin fosfat di serat otot; dan asam urat dari katabolisme asam
nukleat. Selain itu, zat sisa yang diekskresikan dalam urine adalah
benda asing dari makanan, misalnya obat dan toksin lingkungan.



10.5 Kulit (Integumen)


Kulit terdiri dari beberapa jenis jaringan yang berbeda dan dianggap sebuah
organ dan memiliki berbagai fungsi yang vital. Kulit merupakan pelindung
tubuh dengan luas dan tebal bervariasi. Luas kulit pada orang dewasa adalah
1,5–2 m2 dengan tebal antara 1,5 - 5 mm, tergantung pada letak kulit, usia,
jenis kelamin, suhu, dan keadaan gizi. Kulit paling tipis terdapat pada kelopak
mata, penis, labium minora dan bagian medial lengan atas, sedangkan kulit
tebal terdapat pada telapak tangan dan kaki, punggung, bahu, serta pantat
(Irianto, 2017).
Kulit berperan penting untuk mencegah kehilangan cairan yang berlebihan,
dan mencegah masuknya agen-agen yang ada di lingkungan seperti bakteri,
kimia dan radiasi ultraviolet. Kulit juga dapat menahan bila terjadi kekuatan-
kekuatan mekanik seperti gesekan (friction), getaran (vibration) dan
mendeteksi perubahan-perubahan fisik dari lingkungan luar, sehingga
seseorang dapat menghindari stimuli-stimuli yang tidak nyaman
(Wahyuningsih and Kusmiyati, 2017).

10.5.1 Anatomi Integumen

Kulit dibagi menjadi dua lapisan utama, yaitu: epidermis, dan dermis.
Epidermis merupakan bagian yang lebih tipis, superfisial, terdiri dari jaringan
epitel dan avaskuler. Dermis merupakan bagian jaringan ikat yang lebih dalam,
lebih tebal dan vaskular.

Bab 10 Anatomi dan Fisiologi Sistem Ekskresi 189






























Gambar 10.10: Komponen Sistem Integumen (Gerard J. Tortora and
Derrickson, 2011)

Di bawah dermis, terdapat lapisan subkutan (subQ), dan bukan merupakan
bagian kulit. Lapisan subkutan disebut hipodermis (hypo berarti di bawah),
lapisan ini terdiri dari jaringan areolar dan adiposa. Serat-serat yang
memanjang dari dermis mengaitkan kulit ke lapisan subkutan, yang menempel
pada fasia di bawahnya, jaringan ikat di sekitar otot dan tulang. Lapisan
subkutan berperan sebagai depot penyimpanan lemak dan terdapat pembuluh
darah besar yang mengalirkan darah ke kulit. daerah ini (dan kadang-kadang
dermis) juga berisi ujung-ujung saraf yang disebut badan pacini (berlamela)
yang sensitif terhadap tekanan (Gambar 10.10).
Epidermis

Epidermis terdiri dari jaringan epitel keratinisasi skuamosa berlapis dan paling
tebal di telapak tangan dan kaki. Epidermis terdiri dari empat jenis sel utama
yaitu keratinosit, melanosit, sel Langerhans, dan sel Merkel (Gambar 10.11).
Sel yang paling banyak jumlahnya adalah keratinosit yaitu sekitar 90%.
Keratinosit terdiri dari empat atau lima lapis yang menghasilkan protein
keratin. Keratinosit menghasilkan granul lamelar, yang mengurangi masuk dan
kehilangan air serta menghambat masuknya bahan asing.

190 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia




























Gambar 10.11: Sel-sel Pada Epidermis (Gerard J. Tortora and Derrickson,
2011)

Sekitar 8% sel epidermis merupakan melanosit, yang menghasilkan pigmen
melanin. Melanin adalah pigmen kuning-merah atau coklat-hitam yang
memberi warna kulit dan menyerap sinar ultraviolet (UV) yang merusak. Sel
Langerhans (sel dendritik epidermal) berasal dari sumsum tulang merah dan
bermigrasi ke epidermis. Sel langerhans berperan pada respons imun melawan
mikroba yang menyerang kulit, dan mudah rusak oleh sinar UV.
Pada respons imun, sel langerhans membantu sel-sel lain untuk mengenali
mikroba penyerang dan menghancurkannya. Sel epidermis yang paling sedikit
jumlahnya adalah sel Merkel. Sel-sel ini terletak pada lapisan epidermis yang
paling dalam dan berhubungan dengan prosesus pipih neuron sensorik (sel
saraf), yang disebut diskus Merkel (taktil). Sel Merkel dan diskus Merkel
terkait dapat mendeteksi sensasi sentuh.
Epidermis terdiri dari empat atau lima lapisan kulit. Pada kulit tipis terdiri dari
empat lapis yaitu stratum korneum, stratum granulosum, stratum spinosum dan
stratum basale. Pada kulit tebal terdiri dari lima lapis yaitu stratum korneum,
stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum basale
(Gambar 10.12) (Scanlon and Sanders, 2007; Gerard J. Tortora and
Derrickson, 2011).

Bab 10 Anatomi dan Fisiologi Sistem Ekskresi 191


1. Stratum Korneum
Stratum korneum terdiri dari 25-30 lapis keratinosit mati gepeng. Sel-
selnya adalah paket-paket keratin yang sangat tipis, gepeng dan
tertutup membran plasma, yang tidak lagi memiliki nukleus atau
semua organel internal. Stratum epidermis yang lebih luar, sel-sel
secara kontinu lepas dan digantikan oleh sel-sel dari lapisan yang
lebih dalam.
Lapisan multipel sel-sel matinya membantu stratum korneum
melindungi lapisan yang lebih dalam dari cedera dan invasi mikroba.
Kulit yang terus-menerus terkena gesekan merangsang peningkatan
produksi sel dan produksi keratin yang menyebabkan pembentukan
kalus.
2. Stratum Lusidum
Stratum lusidum hanya terdapat pada kulit tebal seperti pada ujung
jari, telapak tangan dan telapak kaki. Terdiri dari 4-6 lapis keratinosit
mati, jernih, gepeng, yang banyak mengandung keratin dan membran
plasma yang menebal.
3. Stratum Granulosum
Stratum granulosum terdiri dari tiga sampai lima lapisan keratinosit
gepeng yang mengalami apoptosis. Nuklei dan organel lain pada sel
ini mulai berdegenerasi dan bergerak lebih jauh dari sumber
nutrisinya (pembuluh darah dermal). Sel-sel mengandung protein
keratohialin (mengubah filamen intermedia keratin menjadi keratin)
dan granula lamelar (melepaskan sekresi tahan air dan kaya lipid)
4. Stratum Spinosum
Stratum spinosum terdiri dari banyak keratinosit, tersusun dalam 8-10
lapis. Sel-sel pada lapisan yang lebih superfisial menjadi agak
gepeng. Keratinosit pada stratum spinosum, dihasilkan oleh sel-sel
punca pada lapisan basal, memiliki organel yang sama seperti sel
pada stratum basale dan beberapa memiliki kemampuan membelah.
Keratinosit lapisan ini menghasilkan berkas keratin yang lebih kasar
pada filamen intermedia dibandingkan pada lapisan basal.

192 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


5. Stratum Basale
Stratum basale merupakan lapisan epidermis paling dalam, tersusun
atas satu baris keratinosit kuboid atau kolumnar. Beberapa sel pada
lapisan basal adalah sel punca yang mengalami pembelahan sel untuk
menghasilkan keratinosit yang baru secara kontinu. Melanosit dan
sel-sel Merkel yang terkait dengan diskus Merkel tersebar di antara
keratinosit.


























Gambar 10.12: Lapisan pada Epidermis (Gerard J. Tortora and Derrickson,
2011)

Dermis
Dermis, terdiri dari jaringan ikat tak teratur padat yang mengandung kolagen
dan serat elastik. Jejaring serat yang teranyam ini memiliki daya rentang yang
besar (menahan kekuatan tarikan atau peregangan). Dermis memiliki
kemampuan meregang dan rekoil dengan mudah. Dermis jauh lebih tebal
daripada epidermis, dan ketebalan ini berbeda-beda di antara regio-regio di
seluruh tubuh, yang mencapai ketebalan paling besar yaitu pada telapak tangan
dan kaki.

Beberapa sel yang terdapat pada dermis terutama meliputi fibroblas, dengan
beberapa makrofag, dan beberapa adiposit dekat perbatasannya dengan lapisan

Bab 10 Anatomi dan Fisiologi Sistem Ekskresi 193


subkutan. Pembuluh darah, saraf, kelenjar, dan kelenjar rambut (invaginasi
epitel pada epidermis) tertanam dalam lapisan dermal.
Berdasarkan struktur jaringannya, dermis dibagi menjadi dua regio yaitu regio
papilaris superfisial tipis dan regio retikularis tebal yang lebih dalam (Gerard J.
Tortora and Derrickson, 2011).
1. Regio papilaris
Regio papilaris membentuk sekitar seperlima ketebalan lapisan
keseluruhan yang terdiri dari serat kolagen tipis dan serat elastik
halus. Luas permukaannya bertambah besar karena papila dermal
(puting), yaitu struktur kecil, berbentuk puting yang menonjol ke
permukaan bawah epidermis. Semua papila dermal mengandung
lengkung kapiler (pembuluh darah).
Beberapa juga mengandung reseptor taktil yang disebut badan
Meissner atau badan sentuh. Papila dermal lain juga mengandung
ujung saraf bebas. Ujung saraf bebas yang berbeda menginisiasi
sinyal yang menimbulkan sensasi hangat, dingin, nyeri, geli, dan
gatal.
2. Regio retikularis
Regio retikularis menempel pada lapisan subkutan, terdiri dari berkas
serat kolagen tebal, fibroblast yang tersebar, dan berbagai sel yang
mengembara (seperti makrofag). Beberapa sel adiposa dapat
ditemukan di bagian paling dalam lapisan, dan beberapa serat elastik
kasar.
Serat kolagen pada regio retikularis tersusun seperti jaring dan
memiliki susunan lebih teratur dibandingkan pada regio papilaris.
Pembuluh darah, persarafan, folikel rambut, kelenjar sebasea
(minyak), dan kelenjar keringat mengisi ruang-ruang di antara serat.
Kombinasi serat kolagen dan elastik di regio retikularis memberi
kulit kekuatan, ekstensibilitas, kemampuan meregang, dan elastisitas,
serta kemampuan untuk kembali ke bentuk semula setelah meregang.

194 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


10.5.2 Fisiologi Integumen

Beberapa fungsi dari kulit (integumen) di antaranya adalah (Gerard J. Tortora
and Derrickson, 2011; Irianto, 2017):
1. Termoregulasi
Kulit berperan sebagai termoregulasi melalui dua cara yaitu dengan
membebaskan keringat pada permukaannya dan menyesuaikan aliran
darah pada dermis. Sebagai respons terhadap suhu lingkungan yang
tinggi, panas yang dihasilkan saat olahraga maka produksi keringat
dari kelenjar meningkat. Evaporasi keringat dari permukaan kulit
membantu menurunkan suhu tubuh.
Selain itu, pembuluh darah pada dermis berdilatasi sehingga lebih
banyak darah mengalir melalui dermis dan meningkatkan jumlah
kehilangan panas dari tubuh. Suhu lingkungan yang rendah, produksi
keringat dari kelenjar ekrin menurun, sehingga membantu
mempertahankan panas. Pembuluh darah pada kulit dermis
vasokonstriksi sehingga mengurangi aliran darah melalui kulit dan
mengurangi kehilangan panas tubuh dan kontraksi otot rangka
menimbulkan panas tubuh.
2. Reservoir darah
Dermis menyediakan tempat jejaring luas pembuluh darah yang
membawa 8-10% aliran darah total pada orang dewasa yang sedang
beristirahat.
3. Proteksi
Kulit berperan sebagai proteksi pada tubuh melalui berbagai cara.
Keratin melindungi jaringan di bawahnya dan mikroba, abrasi, panas,
dan zat kimia, serta keratinosit yang saling terkunci erat dapat
menahan invasi mikroba. Lipid yang dilepaskan oleh granula lamelar
menghambat evaporasi air dari permukaan kulit sehingga melindungi
terhadap dehidrasi. Lipid juga memperlambat masuknya air melewati
permukaan kulit. Sebum berminyak dari kelenjar sebasea, menjaga
kulit dan rambut dari kekeringan dan mengandung zat kimia
bakterisidal.

Bab 10 Anatomi dan Fisiologi Sistem Ekskresi 195


PH keringat yang asam memperlambat pertumbuhan beberapa
mikroba. Pigmen melanin dapat membantu menjaga dari efek sinar
UV yang merusak. Sel-sel langerhans epidermal dapat memberi
peringatan pada sistem imun terhadap adanya mikroba yang
berpotensi membahayakan dengan mengenali dan memprosesnya.
Makrofag pada dermis memfagosit bakteri dan virus yang melintasi
sel langerhans epidermis.
4. Tempat Penyimpanan
Kulit dan jaringan bagian bawah bekerja sebagai tempat
penyimpanan air. Jaringan adiposa di bawah kulit sebagai tempat
penyimpanan lemak. Cadangan lemak dapat dibakar sehingga
menghasilkan panas dan energi untuk mengatasi udara dingin.
5. Indera peraba
Pada lapisan dermis terdapat kumpulan saraf yang bisa menangkap
rangsangan berupa suhu, nyeri dan tekanan. Rangsangan tersebut
disampaikan ke otak sebagai pusat informasi sehingga dapat
mengetahui apa yang disentuh.
6. Penunjang penampilan
Fungsi yang terkait dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang
tampak halus, putih dan bersih dapat menunjang penampilan.
7. Alat pengeluaran (ekskresi)
Sebagai sistem ekskresi, kulit berfungsi mengeluarkan zat-zat sampah
yang terdapat dalam keringat. Keringat adalah pengeluaran aktif dari
kelenjar keringat di bawah pengendalian saraf simpatis. Keringat
berisi larutan garam dengan konsentrasi kira-kira 1/3 dari yang ada
dalam plasma.
8. Absorbsi
Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu, terutama zat-zat yang larut
dalam lemak dapat diserap ke dalam kulit. Penyerapan terjadi melalui
muara kandung rambut dan masuk ke dalam saluran kelenjar palit,
merembes melalui dinding pembuluh darah ke dalam peredaran darah
dan diteruskan ke berbagai organ tubuh lainnya.

196 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


9. Sintesis vitamin D
Sintesis vitamin D memerlukan aktivasi molekul prekursor pada kulit
oleh sinar UV pada sinar matahari. Enzim dalam hepar dan ginjal
kemudian memodifikasi molekul yang teraktivasi, akhirnya
menghasilkan kalsitriol, bentuk vitamin D yang paling aktif.

Bab 11



Anatomi dan Fisiologi Sistem


Urinaria
















11.1 Penyusun Sistem Urinaria


Sistem urinaria merupakan salah satu sistem organ pada manusia yang
berfungsi menyaring dan membuang zat sisa metabolisme yang tidak
diperlukan oleh tubuh dalam bentuk cairan yang disebut urin. Urin merupakan
cairan hasil ekskresi ginjal yang dikeluarkan dari tubuh melalui proses urinasi
guna menjaga homeostatis cairan tubuh.
Sistem urinaria terdiri dari beberapa organ penyusun di antaranya ginjal, ureter,
vesikula seminalis dan uretra beserta komponen-pendukung seperti peredaran
darah dan sistem persarafan.

11.1.1 Ginjal

Ginjal merupakan organ utama dari sistem ekskresi tubuh manusia yang
memiliki bentuk seperti kacang dengan sisi cekung yang menghadap ke
medial. Terdapat dua buah ginjal pada manusia yakni ginjal kanan dan ginjal
kiri. Keduanya terletak di rongga retroperitoneal vertebrata T12 hingga L3
(Gambar 11.1), di mana Ginjal kanan terletak langsung di bawah diafragma
dan di belakang hati sedangkan ginjal kiri terletak di bawah diafragma dan di

198 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


belakang limpa. Posisi ginjal kanan terletak sedikit di bawah ginjal kiri dan
berukuran lebih kecil dari ginjal kiri.






















Gambar 11.1: Ginjal
Ginjal memiliki dua lapisan lemak yakni lemak perirenal dan lemak pararenal.
Kedua lapisan tersebut berfungsi agar ginjal dapat menempel di dinding
abdomen dan selain itu sebagai peredam guncangan. Lemak perirenal, terletak
di antara fascia renal (jaringan penunjang fibrosa tebal) dan kapsul ginjal
sedangkan lemak pararenal terletak di atas fascia renal (Gambar 11.2)





















Gambar 11.2: Lapisan Lemak Ginjal (Dutt and Jialal, 2019; Stanley Oiseth,
Lindsay Jones, 2021)

Bab 11 Anatomi dan Fisiologi Sistem Urinaria 199


Anatomi ginjal manusia terdiri dari 3 bagian yakni korteks. medula dan pelvis.
Korteks

Bagian terluar organ ginjal yang dikelilingi oleh kapsul renal dan lapisan
lemak (Gambar 3). Korteks ginjal berfungsi sebagai pelindung bagian dalam
ginjal dari kerusakan, sebagai ruang untuk arteriol dan venula dari arteri, ruang
vena ginjal, dan kapiler glomerulus yang berfungsi untuk mengalirkan cairan
ke nefron ginjal.
Selain itu, korteks ginjal juga sebagai tempat untuk memproduksi hormon
erythropoietin yang diperlukan pada saat sintesis sel darah merah (Hall and
Guyton, 2019).

















Gambar 11.3: Bagian Ginjal

Medula
Terdiri atas piramida ginjal yang meliputi nefron, tubulus, dan saluran medula.
Nefron merupakan unit kerja fungsional kerja pada organ ginjal. Setiap ginjal
memiliki sekitar 1 juta nefron dengan struktur dan fungsi yang sama. Nefron
terdiri dari dua bagian utama yakni renal korpuskula (glomerulus dan kapsula
bowman) dan renal tubulus (tubulus proksimal, lengkung henle, tubulus distal,
dan tubulus kolektivus). Anatomi nefron dan bagian-bagiannya dapat dilihat
pada Gambar 11.4.

200 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia




















Gambar 11.4: Nefron

1. Renal korpuskula
a. Glomerulus
Struktur kecil berbentuk bulat yang terletak di tengah renal
korpuskula dan dikelilingi oleh membran kapsula Bowman.
Glomerulus berfungsi menerima darah dari arteriol aferen
untuk dilakukan filtrasi (penyaringan darah) dari air, garam,
asam amino, glukosa, dan urea. Sebanyak seperlima plasma
darah akan difiltrasi di glomerulus yang kemudian sisanya
dibawa ke arteriol eferen.

















Gambar 11.5: Renal Korpuskula (Longenbaker, 2011)
Selanjutnya arteriol aferen akan membawa darah ke
glomerulus dan arteriol eferen menguras darah dari

Bab 11 Anatomi dan Fisiologi Sistem Urinaria 201


glomerulus. Eferen arteriol memiliki diameter lebih kecil
daripada arteriol aferen. Perbedaan diameter arteriol tersebut
guna membantu dalam meningkatkan tekanan darah pada
glomerulus (Gambar 11.5). Hasil penyaringan akan dialirkan
ke kapsula bowman untuk membentuk urine primer.
b. Kapsula Bowman
Selaput membran yang mengelilingi glomerulus Kapsula
Bowman terdiri dari dua lapis membran yaitu lapisan yang
dalamnya tersusun atas sel terspesialisasi yang disebut
podosit dan lapisan luarnya yang tersusun epitel skuamosa
sederhana. Cairan dari darah di glomerulus akan difilter
melalui lapisan dalam podosit, kemudian akan dihasilkan
filtrat glomerulus.
2. Renal Tubulus
Merupakan serangkaian tabung yang menjalar dari kapsul
Bowman menuju tubulus kolektivus. Fungsi dari renal tubulus
adalah untuk menyerap kembali air, glukosa, dan elektrolit,
seperti natrium, klorida, dan kalium, di dalam darah untuk
digunakan oleh tubuh melalui proses filtrasi, reabsorbsi dan
augmentasi. Berikut komponen dari renal tubulus (Gambar 11.6).















Gambar 11.6: Renal Tubulus (Longenbaker, 2011)
a. Tubulus Kontortus Proksimal
Berupa saluran panjang yang membentang dari renal korteks
dan berada di antara glomerulus dan lengkung Henle.

202 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


Tubulus proksimal tersusun atas epitel kubus sederhana
dengan struktur mirip sikat yang berperan untuk
meningkatkan area absorpsi sebagai fungsi reabsorpsi yakni
penyerapan kembali zat-zat yang masih dibutuhkan oleh
tubuh seperti glukosa, asam amino, ion-ion seperti Na+, K+,
Cl-, HCO3, Ca2+ dan lain-lain, sehingga dalam proses
reabsorpsi akan dihasilkan urin sekunder.
b. Lengkung Henle
Terletak setelah tubulus kontortus proksimal yang turun ke
bawah hingga renal medula (Gambar 11.5). Lengkung Henle
memiliki dua bagian dengan ketebalan yang berbeda yakni
lengkung henle turun yang tipis dan lengkung Henle naik
yang tebal. Lengkung henle berfungsi untuk
mengkonsentrasikan kadar garam dan air dalam urin. Urin
sekunder yang terbentuk di tubulus kontortus proksimal
mengandung sisa nitrogen, urea, dan air yang kemudian
masuk ke dalam lengkung henle dan mengalami osmosis air
dan garam sehingga kadar air berkurang dan urin menjadi
lebih pekat.
c. Tubulus Konturtus Distal
Bagian renal tubulus setelah lengkung Henle yang
membentang di renal korteks dan bermuara di tubulus
kolektivus (Gambar 11.5). Tubulus distal berfungsi dalam
pengaturan kadar kalium, natrium, kalsium, dan pH tubuh
melalui proses augmentasi atau pengendapan yakni dengan
menambahkan zat tersebut pada urine jika kadarnya berlebih
dalam tubuh. Di tubulus kontortus distal urin sekunder akan
berubah menjadi lebih pekat karena akan kehilangan air.
Hasilnya berupa urin sejati yang siap untuk dikeluarkan dari
tubuh.
d. Tubulus Kolektivus
Disebut juga tubulus pengumpul yang berfungsi tubulus
mengumpulkan urin dari berbagai nefron menuju pelvis yang
kemudian dibawa menuju kandung kemih melalui ureter.

Bab 11 Anatomi dan Fisiologi Sistem Urinaria 203


Selain itu, tubulus kolektivus juga berfungsi dalam
pengaturan air dan elektrolit seperti natrium dan klor (Tortora
and Derrickson, 2014).
3. Pelvis Renalis
Merupakan bagian ginjal yang terletak di lapisan paling dalam
berbentuk ruang yang berdiameter sekitar 0,4-1 cm dengan
cabang berbentuk corong. Ruang pelvis berhubungan langsung
dengan bagian atas saluran penghubung ginjal dan ureter, yang
berfungsi sebagai penampung urine sementara, setelah dihasilkan
oleh nefron, urine akan dialirkan ke ureter dan dibuang keluar
tubuh. Pelvis terbagi menjadi 2 bagian yakni Calyces yakni
bagian awal dan terbesar dari pelvis renalis, terdiri dari ruang
major calyx dan cabang-cabang lebih kecil (minor calyx); Hilum
yakni bagian akhir pelvis renalis yang tersambung langsung
dengan ureter. Bagian ini merupakan saluran pendek yang berada
di ujung ginjal. Pada hilum, terdapat pembuluh darah besar, yaitu
arteri dan vena ginjal. Bagian ini juga menjadi pintu masuk dan
keluarnya darah dari ginjal.

11.1.2 Ureter

Merupakan bagian dari sistem urinaria yang memiliki bentuk menyerupai
saluran pipa atau tabung, yang merupakan perpanjangan tubula berpasangan
dan berotot dari pelvis ginjal yang merentang hingga kandung kemih (Gambar
11.3). Dinding ureter terdiri dari tiga lapisan yakni fibrosa sebagai lapisan
terluar, muskularis longitudinal kearah dalam dan otot polos sirkular kearah
luar sebagai lapisan tengah dan epitelium mukosa sebagai lapisan terdalam
yang mensekresikan selaput mukus.
Ureter berfungsi untuk mengangkut urin dari organ ginjal menuju kandung
kemih. Dalam kondisi normal, gaya peristalsis ureteral berasal dari aktivitas
elektris di situs pacemaker yang terletak pada tubulus kolektivus. Aktivitas
elektris secara distal menyebar dan memunculkan aktivitas mekanis berupa
gerak peristalsis, kontraksi ureter, yang dapat mendorong bolus urin secara
distal.Urin mengalir menuju kandung kemih melalui persambungan

204 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


ureterovesical (UVJ), sehingga dalam kondisi normal dapat memungkinkan
urin mengalir dari ureter ke kandung kemih tetapi tidak sebaliknya.

11.1.3 Kandung Kemih

Merupakan organ muscular berongga yang berfungsi sebagai tempat
menampung urin yang telah diproduksi ginjal lalu mengeluarkannya melalui
proses berkemih. Kandung kemih ditopang di dalam rongga pelvis dengan
lipatan-lipatan (rugae) peritoneum dan kondensasi fasia. Pada pria, kandung
kemih terletak tepat di belakang simfisis pubis dan di depan rectum. Pada
wanita, kandung kemih terletak agak di bawah uterus di depan vagina. Pada
umumnya, kandung kemih akan berukuran sebesar kacang kenari saat kosong
dan terletak pada pelvis, dan akan berbentuk seperti buah pir bahkan mencapai
umbilicus dalam rongga abmominopelvis jika terisi penuh oleh urin.

Dinding kandung kemih terdiri dari 4 lapisan, yakni:
1. Serosa sebagai lapisan terluar yang merupakan perpanjangan lapisan
peritoneal pada rongga abdominopelvis dan hanya ada di bagian atas
pelvis.
2. Otot detrusor sebagai lapisan tengah yang tersusun berkas otot polos
yang saling membentuk sudut satu sama lain, sehingga saat terjadi
urinasi, kandung kemih akan berkontraksi secara serempak ke segala
arah.
3. Submukosa sebagai lapisan jaringan ikat yang terletak di bawah
mukosa dan menghubungkannya dengan muskularis.
4. Mukosa sebagai lapisan terdalam yang merupakan lapisan epitel,
tersusun atas epitel transisional.

Pada kondisi kandung kemih yang relaks, mukosa akan membentuk rugae,
yang memipih dan mengembang saat urin berakumulasi di dalam kandung
kemih. Trigonum merupakan area halus, triangular dan relatif tidak dapat
berkembang yang terletak secara internal di bagian dasar kandung kemih.
Sudut-sudutnya terbentuk dari tiga lubang.
Di sudut atas trigonum, dua ureter akan bermuara ke kandung kemih. Uretra
keluar dari kandung kemih di bagian apex trigonum (Tortora and Derrickson,
2014; Chalik, 2016). Berikut gambar anatomu dari kandung kemih (Gambar
11.7).

Bab 11 Anatomi dan Fisiologi Sistem Urinaria 205



















Gambar 11.7: Kandung Kemih

11.1.4 Uretra
Merupakan saluran yang mengalirkan urin dari kandung kemih ke luar tubuh.
Pada wanita, ukuran uretra lebih pendek dibandingkan pria yakni 3,75 cm,
sedangkan pada pria berukuran 20 cm. Saluran uretra wanita menuju keluar
tubuh melalui orifisium uretra eksternal yang terletak dalam vestibulum antara
klitoris dan mulut vagina dan hanya sebagai saluran untuk pengeluaran urin.
Uretra pada pria selain sebagai saluran urin, juga sebagai saluran yang
membawa cairan semen berisi sperma, namun pengeluarannya tidak dalam
waktu yang bersamaan.
Uretra pria, uretra terdiri dari 3 bagian yakni:
1. Uretra prostatik yang dikelilingi oleh kelenjar prostat. Pada bagian
tersebut menerima dua duktus ejakulator yang masing-masing
terbentuk dari penyatuan duktus deferen dan duktus kelenjar vesikel
seminal, serta tempat bermuaranya sejumlah duktus dari kelenjar
prostat.
2. Uretra membranosa yaitu bagian terpendek yang berukuran 1-2 cm,
berdinding tipis dan dikelilingi oleh otot rangka sfingter uretra
eksternal.
3. Uretra kavernous merupakan bagian yang terpanjang yang menerima
duktus kelenjar bulbouretra dan membentang hingga orifisium uretra
eksternal pada ujung penis. Uretra kavernus dikelilingi korpus

206 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


spongiosum, yaitu suatu kerangka ruang vena yang besar (Chalik,
2016).



11.2 Mekanisme Pembentukan Urin


Filtrasi
Proses filtrasi terjadi di glomerulus, di mana terjadinya perpindahan cairan dari
glomerulus menuju ke kapsula bowman dengan menembus membran filtrasi
yang meliputi sel endothelium glomerulus, membrane basiler, epitel kapsula
bowman.

Di dalam glomerulus terjadi proses filtrasi sel-sel darah, trombosit dan protein
agar tidak ikut dikeluarkan oleh ginjal. Hasil filtrasi di glomerulus berupa
terbentuknya urine primer yang masih mengandung elektrolit, kritaloid, ion Cl,
ion HCO3, garam-garam, glukosa, natrium, kalium, dan asam amino. Setelah
terbentuk urine primer maka di dalam urine tersebut tidak lagi mengandung
sel-sel darah, plasma darah dan Sebagian besar protein yang masih dibutuhkan
oleh tubuh.

Reabsorbsi
Sebagian besar filtrat sekitar 99 hasil dari filtrasi sebelumnya secara selektif
direabsorpsi di dalam tubulus ginjal melalui transport aktif. Sekitar 85%
natrium klorida dan air serta semua glukosa dan asam amino pada filtrat
glomerulus diabsorpsi dalam tubulus kontortus proksimal dan tubulus
kontortus distal.
Setelah terjadi reabsorbsi, tubulus akan menghasilkan urin sekunder yang
komposisinya berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder tidak lagi
terkandung zat-zat yang masih diperlukan oleh tubuh. Sebaliknya, konsentrasi
zat-zat sisa metabolisme yang beracun bertambah, seperti adanya ureum, yang
awalnya dalam urin primer hanya 0,03 % menjadi 2% dalam urin sekunder.
Augmentasi

Proses augmentasi merupakan tahap terakhir dalam pembentukan urin. Pada
tahap augmentasi terjadi penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di
tubulus kontortus distal hingga tubulus kolektivus yang merupakan tempat
penyimpanan urin untuk sementara. Di tubulus ini, masih terjadi proses

Bab 11 Anatomi dan Fisiologi Sistem Urinaria 207


penyaringan kembali air, garam NaCl, dan urea. Hasil dari proses augmentasi
berupa urin sejati yang mengandung urea, asam urin, amonia, sisa-sisa
pembongkaran protein, dan zat-zat yang berlebihan dalam darah seperti
vitamin, obat-obatan, hormon, serta garam mineral.
Komposisi urin yang dikeluarkan melalui ureter di antaranya 96% air, 1,5 %
garam, 2,5% urea dan sisanya substansi lain seperti pigmen empedu yang
memberikan warna dan aroma khas urin.
















Gambar 11.8: Mekanisme Pembentukan Urin
Terdapat dua jenis hormon yang mengatur laju reabsorbsi air dalam
pembentukan urin, yakni hormon aldosterone dan antidiuretik (ADH):
1. Aldosteron
Hormon aldosteron bekerja pada tubulus kolektivus yang
menyebabkan tubuh dapat mempertahankan lebih banyak air, di
mana tekanan darah meningkat ketika tubuh mempertahankan lebih
banyak air. Sistem ini dipicu ketika tekanan darah rendah atau
konsentrasi ion natrium rendah di dalam darah.
Aldosteron adalah bagian dari sistem renin angiotensin aldosteron
(Raas) yang dapat menyerap kalsium dari urin ke pembuluh darah.
Hal ini bertujuan agar kalsium dapat dimanfaatkan kembali oleh
tubuh
2. Antidiuretik (ADH)
Hormon ADH dapat menyebabkan reabsorpsi kenaikan air pada
tubulus kolektivus dengan meningkatkan permeabilitas air, sehingga
air dapat bergerak kembali ke dalam darah melalui osmosis. Lebih

208 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


lanjut ADH disekresi ketika dibutuhkan oleh tubuh untuk
mempertahankan lebih banyak air agar urin terkonsentrasi. Berikut
regulasi hormone ADH:
a. Ketika sedikit minum maka suhu tubuh akan meningkat à
Mengalami dehidrasi à Darah menjadi pekat à Mengirimkan
Impuls ke hipotalamus ADH-RH Hipofisis posterior: Hormon
ADH meningkat à Tubulus renalis Reabsorbsi air meningkat à
Urine sedikit à Volume darah normal
b. Ketika banyak minum à Darah menjadi encer à Volume darah
meningkat à Mengirimkan impuls ke hipothalamus ADH-IH
Hiofisis posterior: Hormon ADH menurun à Tubulus renalis
reabsorbsi air menurun à Urin banyak à Volume darah normal.

Bab 12



Anatomi dan Fisiologi Sistem


Reproduksi Wanita dan Pria
















12.1 Pendahuluan


Reproduksi manusia adalah proses yang kompleks dan luar biasa. Sistem
reproduksi pria dan wanita saling melengkapi, dan masing-masing sangat
penting untuk reproduksi. Ada 2 jenis sel kelamin yang terlibat dalam
reproduksi manusia: sperma pria dan sel telur wanita. Reproduksi manusia
terjadi sebagai pembuahan internal melalui hubungan seksual.
Selama proses ini, penis pria yang ereksi dimasukkan ke dalam vagina wanita
sampai pria itu mengeluarkan air mani, yang berisi sperma, ke dalam vagina.
Sperma berjalan melalui vagina dan serviks ke dalam rahim untuk
kemungkinan pembuahan sel telur. Setelah pembuahan dan implantasi
berhasil, kehamilan janin terjadi di dalam rahim wanita selama kurang lebih
sembilan bulan (kehamilan). Kehamilan berakhir dengan persalinan yang
menghasilkan kelahiran.
Dalam persalinan, otot-otot rahim berkontraksi, serviks melebar, dan bayi
keluar melalui vagina. Bayi dan anak-anak manusia hampir tidak berdaya dan
membutuhkan perawatan orang tua tingkat tinggi selama bertahun-tahun.
Salah satu jenis perawatan orang tua yang penting adalah penggunaan kelenjar

210 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


susu di payudara wanita untuk menyusui bayinya (Iveson-Iveson, 1979;
Cortes, 2013; Family Planning National Training Center, 2020).


12.2 Sistem Reproduksi Wanita


Sistem reproduksi wanita manusia adalah serangkaian organ yang terutama
terletak di dalam tubuh dan di sekitar daerah panggul. Berisi tiga bagian utama:
vagina, yang mengarah dari vulva, lubang vagina, ke rahim; rahim, yang
menampung janin yang sedang berkembang; dan ovarium, yang menghasilkan
sel telur betina. Payudara juga merupakan organ reproduksi selama mengasuh
anak, tetapi biasanya tidak diklasifikasikan sebagai bagian dari sistem
reproduksi wanita. Vagina bertemu bagian luar di vulva, yang juga mencakup
labia, klitoris, dan uretra.

Selama hubungan seksual, area ini dilumasi oleh lendir yang dikeluarkan oleh
kelenjar Bartholin. Vagina menempel pada rahim melalui leher rahim,
sedangkan rahim menempel pada ovarium melalui saluran tuba. Pada interval
tertentu, kira-kira setiap 28 hari, ovarium melepaskan ovum yang melewati
tuba Fallopi ke dalam rahim. Jika ovum dibuahi oleh sperma, ia menempel
pada endometrium dan janin berkembang.
Pada bulan-bulan ketika pembuahan tidak terjadi, lapisan rahim, yang disebut
endometrium, dan sel telur yang tidak dibuahi ditumpahkan setiap siklus
melalui proses yang dikenal sebagai menstruasi.




















Gambar 12.1: Organ Reproduksi Wanita (Sumber: winchesterhospital.org)

Bab 12 Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita dan Pria 211


Sistem reproduksi wanita meliputi:
Anatomi Alat Reproduksi Bagian Luar:

Area genital eksternal wanita terdiri dari banyak bagian, yang bersama-sama
disebut vulva. Bagian-bagian ini meliputi:

1. Klitoris
Klitoris adalah organ kecil yang sensitif secara seksual yang penuh
dengan ujung saraf dan terdiri dari jaringan ereksi. Terletak di bagian
depan vulva tempat bertemunya labia minora. Sebagian besar klitoris
terletak di bawah kulit dan tidak terlihat. Bagian klitoris yang terlihat
disebut kelenjar. Glansnya kira-kira seukuran mutiara dan ditutupi
lipatan kulit yang disebut preputium. Klitoris menjadi penuh dengan
darah selama gairah seksual, memberikan sensasi seksual.
2. Bibir vagina – Labia mayora (bibir besar) dan labia minora (bibir
kecil) mengelilingi lubang vagina.
Labia mayora adalah bibir luar vulva dan melindungi lubang uretra
dan vagina. Labia mayora ditutupi dengan kulit berpigmen dan
rambut di permukaan luar vulva dan halus dan bebas dari rambut di
permukaan bagian dalam. Mereka terdiri dari lemak dan kelenjar.
Labia minora adalah bibir bagian dalam yang membentuk penutup
pelindung di atas klitoris dan lubang uretra. Pembukaan vagina –
Lubang vagina menghubungkan bagian reproduksi eksternal dan
internal wanita.
Ini adalah bagian tengah dari tiga lubang, antara lubang uretra dan
anus. Uretra adalah jalur yang dilalui urin untuk keluar dari tubuh.
Anus adalah lubang tempat feses keluar dari tubuh. Secara teknis,
anus bukanlah bagian dari sistem reproduksi. Namun, Anda harus
siap untuk mendiskusikannya dengan klien Anda, terutama yang
berhubungan dengan seks anal dan penyakit menular seksual (PMS).
Lubang vagina benar-benar terpisah dari lubang uretra dan anus.
Darah menstruasi dan sekret lainnya keluar dari rahim melalui
pembukaan serviks, ke dalam vagina, dan keluar melalui lubang
vagina.

212 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


Selaput dara adalah jalinan serat yang mengelilingi atau sebagian
menutupi lubang vagina. Penampilan selaput dara tidak secara akurat
atau andal mencerminkan aktivitas atau pengalaman seksual.
Beberapa anak perempuan dilahirkan tanpa selaput dara, atau selaput
dara mungkin teregang saat menggunakan tampon, olahraga,
memasukkan jari atau alat medis, atau selama aktivitas seksual.
Beberapa selaput dara cukup elastis untuk meregang tanpa pecah,
bahkan dengan hubungan seksual.
Seperti banyak bagian tubuh, selaput dara mungkin terlihat berbeda
dari satu orang ke orang lain. Ini mungkin tidak terlihat sama sekali
pada beberapa orang. Perubahan hormonal sepanjang perjalanan
hidup memengaruhi anatomi selaput dara, sehingga penampilannya
berubah seiring waktu. Sementara semua bagian vulva berkontribusi
pada gairah seksual (kegembiraan dan sensasi) dan orgasme,
kehamilan dapat terjadi tanpa mengalami orgasme.

Anatomi Alat Reproduksi Bagian Dalam
Sistem reproduksi wanita memiliki empat kegiatan utama yang berkaitan
dengan konsepsi:
1. untuk menghasilkan sel telur;
2. untuk mengangkut dan mempertahankan sel-sel;
3. untuk memelihara embrio/janin yang sedang berkembang;
4. untuk menghasilkan hormon.

Anatomi internal sistem reproduksi wanita meliputi rahim dan dua ovarium,
dua saluran tuba, dan vagina. Dua payudara, atau kelenjar susu, dianggap
sebagai organ aksesori dari sistem reproduksi wanita. Organ-organ ini
memproduksi dan menopang sel telur, mengangkut sel-sel ini ke tempat di
mana mereka dapat dibuahi oleh sperma, menyediakan lingkungan bagi janin
yang sedang berkembang, memindahkan janin ke luar tubuh pada akhir
kehamilan, dan menghasilkan betina. hormon seks.

1. Serviks — bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina
Serviks adalah bagian bawah rahim di mana ia bergabung dengan
vagina. Serviks terbuka untuk memungkinkan keluarnya bayi dari

Bab 12 Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita dan Pria 213


rahim selama persalinan. Berbagai jenis normal, sehat sekret
diproduksi di sini. Sekresi ini berubah sepanjang bulan. Terkadang
berwarna putih dan lengket, terkadang bening dan melar. Melalui
pembukaan serviks, darah menstruasi dan sekret lainnya keluar dari
rahim, ke dalam vagina, dan keluar dari tubuh. Lendir serviks adalah
sekresi yang sehat dan tanda kesuburan.
Beberapa hari setelah periode menstruasi berakhir, alat kelamin mulai
mengeluarkan cairan. Setelah ovulasi, kebasahan alat kelamin mulai
berkurang dan mengering, hingga siklus berikutnya. Tes pap
menyaring kanker serviks. Tes dilakukan dengan cara menyeka sel
pada leher rahim. Untuk akurasi terbaik, tes tidak boleh dilakukan
selama menstruasi.
2. Vagina — saluran berotot yang menghubungkan serviks dengan alat
kelamin luar
Vagina adalah struktur seperti tabung berotot yang memanjang dari
leher rahim ke bagian luar tubuh. Terletak di antara rektum dan
kandung kemih. Vagina memberikan sensasi seksual karena banyak
ujung sarafnya, terutama di sepertiga bagian luar. Panjangnya tiga
inci saat tidak terangsang dan lima sampai enam inci saat terangsang.
Vagina menghasilkan cairan setiap hari untuk membersihkan dan
melumasi dirinya sendiri dan membantu perjalanan sperma. Vagina
berfungsi sebagai saluran untuk aliran menstruasi.
Ini sangat elastis dan dapat mengembang selama gairah seksual untuk
menerima penis yang ereksi selama hubungan seksual, dan saat
melahirkan untuk memungkinkan bayi meninggalkan tubuh.
Beberapa hari setelah periode menstruasi berakhir, cairan keluar dari
tubuh sebagai keputihan. Semakin hari, jumlah keputihan semakin
meningkat. Pertengahan siklus, setelah ovulasi, jumlah keputihan
mulai berkurang hingga siklus berikutnya.
3. Rahim —struktur berongga dan berotot tempat telur yang telah
dibuahi ditanamkan dan janin tumbuh selama kehamilan
Rahim (rahim) adalah organ berongga. Tuba fallopi memanjang dari
setiap sisi rahim. Rahim terdiri dari dinding otot, lapisan dalam yang

214 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


disebut endometrium, dan serviks. Terletak di panggul antara
kandung kemih dan rektum. Rahim berperan dalam tiga fungsi
penting: menstruasi, kehamilan, dan persalinan. Endometrium, atau
lapisan rahim, merespons perubahan kadar hormon di seluruh siklus
menstruasi. Itu menjadi lebih tebal untuk memberikan nutrisi bagi
telur yang dibuahi untuk ditanamkan dan tumbuh.
Jika implantasi tidak terjadi, maka lapisan atas endometrium luruh
sebagai menstruasi pendarahan, sedangkan lapisan yang lebih dalam
tetap untuk membangun kembali untuk siklus berikutnya. Jika rahim
menerima sel telur yang telah dibuahi, ia menyediakan lingkungan
bagi sel telur yang telah dibuahi untuk berkembang menjadi janin dan
kemudian janin tumbuh sepanjang kehamilan.
Sebelum kehamilan, rahim seukuran buah pir, dengan bagian yang
sempit diarahkan turun menuju vagina. Setelah melahirkan, rahim
biasanya lebih besar dan mengecil setelahnya mati haid.
4. Ovarium —2 kelenjar yang menghasilkan telur, serta hormon wanita
estrogen dan progesteron
Ovarium adalah tempat sel telur (ovum) tumbuh dan berkembang.
Ada dua ovarium, masing-masing seukuran dan berbentuk almond.
Ovarium terletak di panggul, satu di setiap sisi rahim. Dimulai pada
masa pubertas, hormon perangsang folikel mendukung pertumbuhan
sel telur setiap bulan.
Sekitar dua minggu sebelum menstruasi, ovulasi terjadi. Ovulasi
adalah proses sel telur meninggalkan salah satu ovarium. Ovarium
menghasilkan estrogen, progesteron, dan androgen. Estrogen
mengatur siklus menstruasi dan mendukung perkembangan
karakteristik seks sekunder, seperti perkembangan payudara dan
pertumbuhan rambut kemaluan.
Ini juga memengaruhi banyak bagian tubuh lainnya, termasuk sistem
muskuloskeletal dan kardiovaskuler, dan otak. Progesteron
menyiapkan endometrium untuk mendukung sel telur yang telah
dibuahi, jika terjadi pembuahan. Jika kehamilan tidak terjadi, kadar
progesteron dalam tubuh menurun, menyebabkan menstruasi. Selama

Bab 12 Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita dan Pria 215


masa kehamilan, progesteron mencegah kontraksi rahim prematur
dan mempersiapkan payudara untuk produksi ASI.
5. Saluran tuba —2 saluran yang menghubungkan ovarium dengan
rahim
Saluran tuba (saluran rahim atau saluran telur) menghubungkan
ovarium dan rahim. Jika telur adalah dibuahi oleh sel sperma dalam
waktu sekitar 24 jam setelah ovulasi, sel telur yang telah dibuahi akan
melakukan perjalanan sepanjang tuba fallopi selama sekitar tujuh hari
sampai mencapai rahim untuk implantasi. Jika telur tidak dibuahi,
telur akan larut di tuba fallopi.
Ini adalah tabung yang tersumbat saat sterilisasi wanita dilakukan.
Jaringan parut di saluran tuba dapat disebabkan oleh infeksi klamidia
dan gonore. Hal ini dapat menyebabkan infertilitas atau kehamilan
ektopik. Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi
berimplantasi di luar rongga rahim, paling sering di tuba fallopi. Hal
ini dapat mengancam jiwa bagi wanita jika tidak dideteksi sejak dini.


Selama siklus menstruasi seorang wanita, yang biasanya berlangsung sekitar
28 hari, tubuhnya bersiap untuk kemungkinan kehamilan. Pada paruh pertama
siklus menstruasi, kadar estrogen meningkat untuk menebalkan lapisan rahim.
Pada saat yang sama, sel telur mulai matang di salah satu ovarium. Sekitar titik
tengah siklus menstruasi (misalnya, hari ke-14 dari siklus 28 hari), lonjakan
hormon luteinizing (LH), yang diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak,
menyebabkan sel telur yang matang meninggalkan ovarium, proses yang
disebut ovulasi.
Pada paruh kedua siklus menstruasi, tonjolan seperti jari yang terletak di
pembukaan saluran telur menyapu telur yang dilepaskan ke dalam tabung
menuju rahim. Pada saat yang sama, peningkatan kadar progesteron
membantu mempersiapkan lapisan rahim untuk kehamilan. Jika sel sperma
hadir pada saat ini, sel telur dapat dibuahi. Jika tidak ada sel sperma, sel telur
akan larut atau diserap ke dalam tubuh, tidak ada kehamilan yang terjadi, kadar
hormon turun, dan lapisan rahim yang menebal terlepas selama periode
menstruasi.
Jika pembuahan benar-benar terjadi, sel telur yang telah dibuahi tumbuh dan
membelah hingga menjadi blastokista, yaitu bola sel yang berongga.

216 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


Blastokista bergerak ke rahim, di mana ia menempel pada lapisan, dalam
proses yang disebut implantasi. Blastokista diberi makan, dan terus tumbuh
dan membelah sampai menjadi embrio, yang akhirnya menjadi janin.
Kehamilan berlangsung selama rata-rata 280 hari, atau sekitar 9 bulan, sampai
bayi siap untuk lahir dan bergerak dari rahim melalui leher rahim dan keluar
dari vagina.



12.3 Sistem Reproduksi Pria


Sistem reproduksi pria pada manusia adalah serangkaian organ yang terletak di
luar tubuh dan di sekitar daerah panggul. Fungsi langsung utama dari sistem
reproduksi pria adalah menyediakan gamet jantan atau spermatozoa untuk
pembuahan sel telur. Organ reproduksi utama pria dapat dikelompokkan
menjadi tiga kategori. Kategori pertama adalah produksi dan penyimpanan
sperma.
Produksi berlangsung di testis, bertempat di skrotum pengatur suhu. Sperma
yang belum matang kemudian melakukan perjalanan ke epididimis untuk
pengembangan dan penyimpanan. Kategori kedua, kelenjar penghasil cairan
ejakulasi, termasuk vesikula seminalis, prostat, dan vas deferens. Kategori
terakhir, digunakan untuk sanggama dan pengendapan spermatozoa (sperma)
di dalam wanita, termasuk penis, uretra, vas deferens, dan kelenjar Cowper.




















Gambar 12.2: Organ Reproduksi Pria (Sumber: winchesterhospital.org)

Bab 12 Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita dan Pria 217


Sistem reproduksi pria meliputi:
Anatomi Genital Pria Eksternal

Area genital pria eksternal terdiri dari tiga bagian utama:
1. Penis —organ di mana kontraksi otot memaksa air mani yang
mengandung sperma keluar dari uretra. Penis adalah organ sensitif
seksual yang terbuat dari jaringan spons, pembuluh darah, dan
banyak ujung saraf. Ini berisi uretra, jalur yang dilalui urin dan air
mani untuk keluar dari tubuh. Penis memiliki akar, badan (poros),
dan kelenjar. Akar penis menempel pada lengkung kemaluan. Tubuh
adalah bagian liontin yang terlihat. Saat terangsang secara seksual,
penis terisi darah dan menjadi lebih keras dan lebih besar; ini disebut
ereksi.
2. Glans
Glans adalah kepala penis yang sensitif dan bulat. Lipatan longgar
kulit (kulup) menutupi kelenjar, atau kepala penis, dan memberikan
sensasi seksual. Sunat adalah pengangkatan kulup dan merupakan
aspek penting dari beberapa agama dan budaya. Adalah normal bagi
penis untuk disunat atau tidak disunat.
3. Skrotum —kantong kulit yang menggantung di luar panggul untuk
menahan dan mengatur suhu testis. Skrotum adalah kantong kulit
yang menggantung di antara kaki dan di belakang penis. Ini dibagi
secara internal menjadi dua bagian, kiri dan kanan, masing-masing
berisi satu testis. Sisi kiri skrotum biasanya sedikit menggantung ke
bawah daripada sisi kanan. Skrotum membantu menjaga suhu ideal
untuk perkembangan sperma normal dengan berkontraksi dan rileks
untuk memindahkan testis lebih dekat ke tubuh untuk kehangatan
atau lebih jauh untuk mendinginkan suhu.

Anatomi Reproduksi Pria Internal
Sistem reproduksi pria memiliki tiga kegiatan utama yang berkaitan dengan
konsepsi, untuk menghasilkan sel sperma, untuk mengangkut dan
mempertahankan sel-sel ini, danuntuk menghasilkan hormon.

218 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


1. Testis (atau testis) —2 organ berbentuk oval yang memproduksi dan
menyimpan jutaan sel sperma kecil, serta hormon pria, termasuk
testosteron. Testis, atau testis, adalah dua organ yang menggantung di
dalam skrotum. Sejak pubertas, testis memproduksi sperma setiap
hari. Testis juga menghasilkan hormon seks pria, terutama
testosteron, yang pada gilirannya menghasilkan karakteristik seks
sekunder pria, seperti pertumbuhan rambut kemaluan, rambut wajah,
dan pendalaman suara seseorang.
2. Epididimis —2 tabung melingkar yang menghubungkan setiap testis
ke vas deferens. Epididimis adalah tabung kecil yang melingkar rapat
yang melekat pada bagian atas dan belakang setiap testis. Sel sperma
yang belum matang bergerak dari testis ke epididimis, di mana
mereka selesai matang dan disimpan sementara. Dibutuhkan sekitar
dua puluh hari untuk sperma matang, menjadi mobile dan subur.
Mereka disimpan di epididimis hingga enam minggu. Selama
ejakulasi, epididimis mengeluarkan sperma ke dalam vas deferens.
Jika ejakulasi tidak terjadi setelah enam minggu, sperma diserap ke
dalam tubuh.
3. Vas deferens —tabung berotot yang mengangkut sperma dari testis
ke saluran ejakulasi. Vas deferens adalah perpanjangan dari
epididimis. Mereka adalah tabung melingkar yang membawa sperma
dari testis, melewati kandung kemih, melewati vesikula seminalis dan
ke uretra. Mani vesikel adalah kantong yang menempel pada vas
deferens di dekat kandung kemih. Mereka menghasilkan cairan yang
menyediakan sperma dengan sumber energi. Selama sterilisasi pria,
vas deferens dipotong atau disegel untuk mencegah sperma masuk
uretra.
4. Kelenjar mani dan kelenjar prostat —kelenjar yang menghasilkan
cairan mani. Kelenjar prostat adalah struktur kokoh yang terletak di
bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra saat meninggalkan
kandung kemih. Prostat menghasilkan zat alkali berwarna seperti
susu yang membentuk yang terbesar bagian dari cairan mani.
Substansinya membantu mengaktifkan dan mengangkut sperma.

Bab 12 Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita dan Pria 219


5. Kelenjar Cowper. Kelenjar Cowper terletak di dekat pangkal penis.
Mereka kecil, kira-kira sebesar sebuah kacang polong. Menanggapi
rangsangan seksual, kelenjar Cowper menghasilkan cairan yang
menetralkan keasaman residu urin di uretra dan keasaman vagina. Ini
juga menyediakan sedikit pelumas untuk ujung penis. Cairan yang
dikeluarkan disebut pra-ejakulasi. Jarang terjadi cairan pra-ejakulasi
mengandung sperma; Namun, dapat menularkan infeksi menular
seksual (IMS), termasuk HIV.
6. Uretra —tabung yang mengeluarkan urin dan air mani dari tubuh.
Uretra adalah tabung yang terletak di tengah penis. Ini adalah jalur
urin dan perjalanan air mani melalui untuk keluar dari tubuh. Seorang
pria tidak dapat ejakulasi dan buang air kecil pada saat yang sama,
karena pembukaan kandung kemih tetap tertutup selama ejakulasi
sehingga urin tetap berada di kandung kemih.

Ketika seorang pria terangsang, sel sperma bergerak keluar dari testis, melalui
epididimis, dan masuk ke vas deferens. Mereka dicampur dengan cairan mani
keputihan yang diproduksi oleh kelenjar mani dan prostat untuk membentuk
air mani. Penis kemudian terisi darah dan menjadi ereksi, dan otot
berkontraksi, memaksa air mani melalui uretra dan keluar dari tubuh pria,
sebuah proses yang disebut ejakulasi. Setiap ejakulasi bisa berisi hingga 500
juta sperma.

Ketika ejakulasi terjadi selama hubungan seksual, air mani disimpan ke dalam
vagina wanita. Sel sperma “berenang” dari vagina melalui leher rahim dan
rahim, menuju saluran tuba. Jika sel telur yang matang hadir di salah satu
saluran tuba, sperma dapat menembus dan membuahinya.

Ada tiga hormon yang mengatur sistem reproduksi pria, yaitu:
1. Hormon perangsang folikel merangsang produksi sperma.
2. Hormon luteinizing merangsang produksi testosteron.
3. Testosteron merangsang perkembangan karakteristik seks sekunder
pria dan produksi sperma.

Siklus respons seksual pria meliputi ereksi—karena rangsangan dan
rangsangan seksual—dan orgasme. Orgasme terjadi ketika ketegangan dari

220 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


rangsangan seksual dilepaskan dalam serangkaian kejang otot dan disertai
dengan ejakulasi air mani dan pelepasan endorfin. Setelah orgasme, ada waktu
pemulihan di mana tidak mungkin untuk ereksi lagi. Lamanya waktu
pemulihan ini bervariasi.

Bab 13



Anatomi dan Fisiologi Sistem


Pernafasan
















13.1 Pendahuluan


Sistem pernapasan pada manusia adalah proses pengambilan oksigen dari
udara ke paru-paru dan mengeluarkan karbon dioksida dari paru-paru ke udara.
Pernafasan merupakan pertukaran O2 dan CO2 antara sel-sel tubuh dengan
lingkungan, melalui proses inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi merupakan
pengisapan udara ke dalam tubuh, sedangkan ekspirasi adalah
menghembuskan udara keluar tubuh. Sistem pernapasan pada manusia
mencakup dua hal, yaitu saluran pernapasan dan mekanisme pernafasan.
Saluran pernapasan atau tractus respiratorius adalah bagian tubuh manusia
yang berfungsi sebagai tempat lintasan dan tempat pertukaran gas yang
diperlukan untuk proses pernapasan. Saluran ini dimulai dari hidung atau
mulut dan berakhir di paru-paru. Sistem pernafasan disebut juga dengan sistem
respirasi.
Fungsi pernafasan yang utama adalah mengambil O2 dibawa oleh darah
keseluruh tubuh untuk mengadakan pembakaran dan mengeluarkan CO2
sebagai sisa dari pembakaran dibawa darah ke paru-paru untuk dibuang ke luar
tubuh (Setiadi, 2016)

222 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


13.2. Struktur Sistem Pernafasan


Sistem pernafasan atau dikenal sebagai sistem respirasi adalah pertukaran gas
oksigen (O2) yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme sel dan karbon
dioksida (CO2) yang dihasilkan dari metabolisme. Proses pengambilan
oksigen dan pengeluaran karbon dioksida ini dalam rangka memperoleh
energi.
Sistem pernafasan terdiri dari:
1. Paru-paru
2. Pembuluh pernapasan bagian atas, yang memungkinkan masuknya
udara atmosfer ke dalam sistem pernapasan, ini melibatkan hidung
(dan mulut), laring (dan faring), dan trakea (tenggorokan).
3. Saluran udara pernapasan bagian bawah yang memungkinkan
lewatnya udara atmosfer ke paru-paru itu sendiri, melibatkan bronkus
dan bronkiolus utama.
4. Saluran udara pernapasan akhir yang memungkinkan pertukaran gas
terjadi, melibatkan bronkiolus pernafasan, kantung alveolar dan
alveoli (Syaifuddin, 2006)
























Gambar 13.1: Anatomi Sistem Pernafasan Manusia (Guyton, 2006)

Bab 13 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan 223


Rongga Hidung
Hidung merupakan organ pernafasan yang pertama dilalui udara luar. Di
dalam rongga hidung terdapat rambut dan selaput lendir berguna untuk
menyaring udara yang masuk, lendir berguna untuk melembapkan udara, dan
konka untuk menghangatkan udara bernafas.





















Gambar 13.2: Anatomi Hidung Manusia (Syaifuddin, 2006)
Bagian depan terdapat nares (cuping hidung) anterior dan di belakang
berhubungan dengan bagian atas farings (nasofaring). Rongga hidung terbagi
menjadi 2 bagian yaitu vestibulum, merupakan bagian lebih lebar tepat di
belakang nares anterior, dan bagian respirasi. Permukaan luar hidung ditutupi
oleh kulit yang memiliki kelenjar sabesea besar, yang meluas ke dalam
vestibulum nasi tempat terdapat kelenjar sabesa, kelenjar keringat, dan folikel
rambut yang kaku dan besar. Rambut pada hidung berfungsi menapis benda-
benda kasar yang terdapat dalam udara inspirasi (Pearce, 2007; Tambayong,
2001)
Pada dinding lateral hidung menonjol tiga lengkungan tulang yang dilapisi
oleh mukosa, yaitu:
1. Konka nasalis superior.
2. Konka nasalis medius dan;
3. Konka nasalis inferior, yang terdapat jaringan kavernosus atau
jaringan erektil yaitu pleksus vena besar, berdinding tipis, dan dekat
dengan permukaan.

224 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


Di antara konka-konka ini terdapat 3 buah lekukan meatus yaitu meatus
superior (lekukan bagian atas), meatus medialis (lekukan bagian tengah dan
meatus inferior (lekukan bagian bawah). Meatus-meatus inilah yang dilewati
oleh udara pernapasan. Di sebelah dalam terdapat lubang yang berhubungan
dengan tekak, lubang ini disebut koana.
Di sebelah belakang konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langit-langit
terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan
rongga pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba auditiva eustaki, yang
menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Hidung juga
berhubungan dengan saluran air mata disebut tuba lakminaris (Tambayong,
2001).
Dasar dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas. Rongga hidung
berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis, yaitu
sinus maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga tulang
dahi, sinus sfenoidalis pada rongga tulang baji dan sinus etmodialis pada
rongga tulang tapis.Pada sinus etmodialis, keluar ujung-ujung saraf penciuman
yang menuju ke konka nasalis, yang terdapat sel-sel penciuman yang terletak
terutama di bagian atas konka. Pada hidung di bagian mukosa terdapat serabut-
serabut saraf atau respektor dari saraf penciuman disebut nervus olfaktorius
(Syaifuddin, 2006).
Faring

Merupakan percabangan dua saluran, yaitu saluran tenggorokan (nasofaring)
yang merupakan saluran pernapasan, dan saluran kerongkongan (oralfaring)
yang merupakan saluran pencernaan.
Faring dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Nasofaring, yang terletak di bawah dasar tengkorak, belakang dan
atas palatum molle. Pada bagian ini terdapat dua struktur penting
yaitu adanya saluran yang menghubungkan dengan tuba eustachius
dan tuba auditory. Tuba Eustachii bermuara pada nasofaring dan
berfungsi menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membrane
timpani. Apabila tidak sama, telinga terasa sakit. Untuk membuka
tuba ini, orang harus menelan. Tuba auditory yang menghubungkan
nasofaring dengan telinga bagian tengah.

Bab 13 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan 225


2. Orofaring merupakan bagian tengah farings antara palatum lunak dan
tulang hyodi. Pada bagian ini traktus respiratory dan traktus digestif
menyilang di mana orofaring merupakan bagian dari kedua saluran
ini. Orofaring terletak di belakang rongga mulut dan permukaan
belakang lidah. Dasar atau pangkal lidah berasal dari dinding anterior
orofaring, bagian orofaring ini memiliki fungsi pada sistem
pernapasan dan sistem pencernaan. Refleks menelan berawal dari
orofaring menimbulkan dua perubahan makanan terdorong masuk ke
saluran cerna (oesophagus) dan secara stimulant, katup menutup
laring untuk mencegah makanan masuk ke dalam saluran pernapasan.
Orofaring dipisahkan dari mulut oleh fauces. Fauces adalah tempat
terdapatnya macam-macam tonsila, seperti tonsila palatina, tonsila
faringeal, dan tonsila lingual.
3. Laringofaring terletak di belakang larings. Laringofaring merupakan
posisi terendah dari farings. Pada bagian bawah laringofaring sistem
respirasi menjadi terpisah dari sitem digestif. Udara melalui bagian
anterior ke dalam larings dan makanan lewat posterior ke dalam
esophagus melalui epiglottis yang fleksibel (Tambayong, 2001).

Laring

Laring merupakan bagian pangkal dari saluran pernapasan (trakea). Laring
tersusun atas tulang rawan yang berupa lempengan dan membentuk struktur
jakun. Di atas laring terdapat katup (epiglotis) yang akan menutup saat
menelan. Katup berfungsi mencegah makanan dan minuman masuk ke saluran
pernapasan. Pada pangkal laring terdapat selaput suara. Selaput suara akan
bergetar jika terembus udara dari paru-paru.

Laring terdiri dari 5 tulang rawan antara lain:
1. Kartilago tiroid (1 buah) terletak di depan jakun sangat jelas terlihat
pada pria.
2. Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk beker.
3. Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk cincin, dan;
4. Kartilago epiglotis (1 buah).

226 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang
dilapisi oleh sel epitelium berlapis (Syaifuddin, 2012; Anderson, 1999). Pada
proses pembentukan suara, suara terbentuk sebagai hasil dari kerja sama antara
rongga mulut, rongga hidung, laring, lidah, dan bibir.

Pada pita suara palsu tidak terdapat otot, oleh karena itu pita suara ini tidak
dapat bergetar, hanya antara kedua pita suara tadi dimasuki oleh aliran udara
maka tulang rawan gondok dan tulang rawan bentuk beker tadi diputar.
Akibatnya pita suara dapat mengencang dan mengendur dengan demikian sela
udara menjadi sempit atau luas.
Pergerakan ini dibantu pula oleh otot-otot laring, udara yang dari paru-paru
dihembuskan dan menggetarkan pita suara. Getaran itu diteruskan melalui
udara yang keluar masuk. Perbedaan suara seseorang bergantung pada tebal
dan panjangnya pita suara. Pita suara pria jauh lebih tebal daripada pita suara
wanita (Syaifuddin, 2006)

Trakea
Batang tenggorokan terletak di daerah leher depan kerongkongan. Dan
berbentuk pipa dengan panjang 10 cm. dinding trakea terdiri atas 3 lapisan,
lapisan dalam berupa epithel bersilia dan berlendir. Lapisan tengah tersusun
atas cincin tulang rawan dan berotot polos. Lapisan luar tersusun atas jaringan
ikat.
Cincin tulang rawan berfungsi untuk mempertahankan bentuk pipa dari batang
tenggorokan, sedangkan selaput lendir yang sel-selnya berambut getar
berfungsi menolak debu dan benda asing yang masuk Bersama udara
pernapasan. • Akibat tolakan secara paksa tersebut kita akan batuk atau bersin
(Setiadi, 2016).

Bronchus
Ujung tenggorokan bercabang dua disebut bronchus, yaitu bronchus kiri dan
bronchus kanan. Struktur bronchus kanan lebih pendek dibandingkan bronchus
sebelah kiri. kedua bronchus masing-masing masuk kedalam paru-paru.
Di dalam paru-paru bronchus bercabang menjadi bronchiolus yang menuju
setiaplobus (belahan) paru-paru. bronchus sebelah kanan bercabang menjadi 3
bronchiolus, sedangkan sebelah kiri bercabang menjadi 2 bronchiolus. Cabang
bronchiolus yang paling kecil masuk ke dalam gelembung paru-paru yang
disebut alveolus. Dinding alveolus mengandung banyak kapiler darah. Melalui

Bab 13 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan 227


kapiler darah oksigen yang berada dalam alveolus berdifusi masuk ke dalam
darah (Setiadi, 2016).
Bronchiolus
Bronkiolus merupakan cabang dari bronkus. Bronkiolus bercabang-cabang
menjadi saluran yang semakin halus, kecil, dan dindingnya semakin tipis.
Bronkiolus tidak mempunyai tulang rawan tetapi rongganya bersilia. Setiap
bronkiolus bermuara ke alveolus (Setiadi, 2016).
Alveolus

Struktur berbentuk bola-bola kecil yang diliputi oleh pembuluh darah. Epitel
pipih yang melapisi alveoli memudahkan darah didalam kapiler-kapiler darah
mengikat oksigen dari udara dalam rongga alveolus (Tambayong, 2001).
Tabel. 13.1: Komponen Pernafasan dan Fungsinya
Komponen Fungsi
Lubang hidung memungkinkan udara untuk masuk dan keluar rongga
Hidung hidung; filter rongga hidung, menghangatkan, dan melembapkan udara
yang dihirup
Membawa udara antara rongga hidung dan laring; filter, menghangatkan,
dan melembapkan udara yang dihirup; berfungsi sebagai jalan terusan untuk
Faring
makanan dari mulut ke kerongkongan; menyetarakan tekanan udara dengan
telinga tengah melalui tabung pendengaran
Membawa udara antara faring dan trakea; mengandung pita suara untuk
Laring
menghasilkan suara dalam vokalisasi; mencegah obyek masuk trakea
Membawa udara antara laring dan bronkus; filter, menghangatkan, dan
Trakea
melembapkan udara yang dihirup
Membawa udara antara trakea dan bronkiolus; filter, menghangatkan, dan
Bronchus
melembapkan udara yang dihirup
Bronchiolus Mengatur laju aliran udara melalui bronkokonstriksi dan bronkodilatasi
Memungkinkan pertukaran gas antara udara di alveoli dan darah dalam
Alveolus
kapiler sekitarnya
Paru-Paru
Letak paru-paru di rongga dada, menghadap ke tengah rongga dada atau
kavum mediastinum. Pada bagian tengah terdapat tampuk paru-paru atau hilus.
Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus oleh selaput
yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi 2 yaitu, pleura visceral (selaput
pembungkus) yang langsung membungkus paru-paru dan pleura parietal yaitu
selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar.

Pada keadaan normal, kavum pleura ini vakum (hampa) sehingga paru-paru
dapat mengembang mengempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang

228 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


berguna untuk melumasi permukaan (pleura), menghindarkan gesekan antara
paru-paru dan dinding dada sewaktu ada gerakan bernapas (Silverthon, 2001;
Syaifuddin, 2006).
Paru-paru merupakan bagian tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung
(gelembung hawa atau alveoli). Gelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel
dan endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya kurang lebih 90 m².



























Gambar 13.3: Anatomi Paru-Paru Manusia (Silverthon, 2001)
Persarafan pada pernapasan disuplai melalui Nervus Phrenicus dan Nervus
Spinal Thoraxic. Nervus Phrenicus mensarafi diafragma, sedangkan Nervus
Spinal Thoraxic mempersarafi intercosta. Paru juga dipersarafi oleh serabut
saraf simpatis dan parasimpatis. Pada paru terdapat peredaran darah ganda.
Darah yang miskin oksigen dari ventrikel kanan masuk ke paru melalui arteri
pulmonalis.

Selain sistem arteri dan vena pulmonalis, terdapat pula arteri dan vena
bronkialis, yang berasal dari aorta, untuk memperdarahi jaringan bronki dan
jaringan ikat paru dengan darah kaya oksigen. Ventilasi paru (bernapas) terdiri
otot-otot pernapasan, yaitu diafragma dan otot-otot interkostal. Selain ini ada
otot-otot pernapasan tambahan seperti otot-otot perut (Graaff, 2010; Pearce,
2007; Silverthon, 2001; Syaifuddin, 2006).

Bab 13 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan 229


Volume udara pernapasan terdiri dari:
1. Volume tidal (VT)
Volume udara yang keluar masuk paru-paru sebagai akibat aktivitas
pernapasan biasa (500 cc).
2. Volume komplemen (VK)
Volume udara yang masih dapat dimasukkan secara maksimal ke
dalam paru-paru setelah inspirasi biasa (1500 cc).
3. Volume suplemen (VS)
Volume udara yang masih dapat dihembuskan secara maksimal dari
dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi biasa (1500 cc).
4. Volume residu (VR)
Volume udara yang selalu tersisa di dalam paru-paru setelah
melakukan ekspirasi sekuat kuatnya (1000 cc).
5. Kapasitas vital (KV)
Volume udara yang dapat dihembuskan sekuat kuatnya setelah
melakukan inspirasi sekuat-kuatnya (KV = VT + VK + VS) 3500 cc.
6. Kapasitas total (KT)
Volume total udara yang dapat tertampung di dalam paru-paru (KT =
KV + VR) 4500 cc (Pearce, 2007; Silverthon, 2001).























Gambar 13.4: Mekanisme pertukaran O2 dan CO2 (Silverthon, 2001)

230 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia


13.3 Fisiologi Pernafasan


Manusia sangat membutuhkan oksigen dalam hidupnya, kalau tidak
mendapatkan oksigen selama 4 menit saja dapat mengakibatkan kerusakan
pada otak yang tidak dapat diperbaiki lagi dan bisa menimbulkan kematian.
Kalau penyediaan oksigen berkurang, juga dapat menimbulkan anoksia
serebralis.
Untuk memenuhi oksigen tersebut dalam tubuh manusia terjadi beberapa
macam pernapasan antara lain pernapasan paru dan pernapasan sel (Setiadi,
2016).
Pernafasan Paru

Pernapasan paru adalah pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi
pada paru paru. Oksigen diambil melalui mulut dan hidung pada waktu
bernapas, masuk melalui trakea sampai ke alveoli berhubungan dengan darah
dalam kapiler pulmonar. Alveoli memisahkan oksigen dari darah, oksigen
kemudian menembus membran, diambil oleh sel darah merah dibawa ke
jantung dan dari jantung dipompakan ke seluruh tubuh. Karbondioksida
merupakan hasil buangan di dalam paru yang menembus membran alveoli,
dari kapiler darah dikeluarkan melalui pipa bronkus berakhir sampai pada
mulut dan hidung.
Pernapasan pulmoner (paru) terdiri atas empat proses yaitu:
1. Ventilasi pulmoner, gerakan pernapasan yang menukar udara dalam
alveoli dengan udara luar.
2. Arus darah melalui paru-paru, darah mengandung oksigen masuk ke
seluruh tubuh, karbon dioksida dari seluruh tubuh masuk ke paru-
paru.
3. Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian rupa dengan jumlah
yang tepat, yang bisa dicapai untuk semua bagian.
4. Difusi gas yang menembus membran alveoli dan kapiler
karbondioksida lebih mudah berdifusi dari pada oksigen.

Proses pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi ketika konsentrasinya
dalam darah merangsang pusat pernapasan pada otak, untuk memperbesar
kecepatan dalam pernapasan, sehingga terjadi pengambilan O2 dan
pengeluaran CO2 lebih banyak. Darah merah (hemoglobin) yang banyak

Bab 13 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan 231


mengandung oksigen dari seluruh tubuh masuk ke dalam jaringan, mengambil
karbondioksida untuk dibawa ke paru-paru dan di paru-paru terjadi pernapasan
eksterna (Pearce, 2007; Silverthon, 2001; Syaifuddin, 2006).
Pernafasan Sel

Transpor gas paru-paru dan jaringan. Pergerakan gas O2 mengalir dari alveoli
masuk ke dalam jaringan melalui darah, sedangkan CO2 mengalir dari
jaringan ke alveoli. Jumlah kedua gas yang ditranspor ke jaringan dan dari
jaringan secara keseluruhan tidak cukup bila O2 tidak larut dalam darah dan
bergabung dengan protein membawa O2 (hemoglobin).

Demikian juga CO2 yang larut masuk ke dalam serangkaian reaksi kimia
reversibel (rangkaian perubahan udara) yang mengubah menjadi senyawa lain.
Adanya hemoglobin menaikkan kapasitas pengangkutan O2 dalam darah
sampai 70 kali dan reaksi CO2 menaikkan kadar CO2 dalam darah menjadi
17.
Sistem pengangkutan O2 dalam tubuh terdiri dari paru-paru dan sistem
kardiovaskuler. Oksigen masuk ke jaringan bergantung pada jumlahnya yang
masuk ke dalam paru-paru, pertukaran gas yang cukup pada paru-paru, aliran
darah ke jaringan dan kapasitas pengangkutan O2 dalam darah. Aliran darah
bergantung pada derajat konsentrasi dalam jaringan dan curah jantung. Jumlah
O2 dalam darah ditentukan oleh jumlah O2 yang larut, hemoglobin, dan
afinitas (daya tarik) hemoglobin (Pearce, 2007; Silverthon, 2001).
Transpor oksigen melalui lima tahap sebagai berikut
1. Tahap I: oksigen atmosfer masuk ke dalam paru-paru. Pada waktu
kita menarik napas, tekanan parsial oksigen dalam atmosfer 159
mmHg. Dalam alveoli komposisi udara berbeda dengan komposisi
udara atmosfer, tekanan parsial O2 dalam alveoli 105 mmHg. 2)
2. Tahap II: darah mengalir dari jantung, menuju ke paru-paru untuk
mengambil oksigen yang berada dalam alveoli. Dalam darah ini
terdapat oksigen dengan tekanan parsial 40 mmHg. Karena adanya
perbedaan tekanan parsial itu apabila sampai pada pembuluh kapiler
yang berhubungan dengan membran alveoli maka oksigen yang
berada dalam alveoli dapat berdifusi masuk ke dalam pembuluh
kapiler. Setelah terjadi proses difusi tekanan parsial oksigen dalam
pembuluh menjadi 100 mmHg.


Click to View FlipBook Version