232 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
3. Tahap III: oksigen yang telah berada dalam pembuluh darah
diedarkan keseluruh tubuh. Ada dua mekanisme peredaran oksigen
yaitu oksigen yang larut dalam plasma darah yang merupakan bagian
terbesar dan sebagian kecil oksigen yang terikat pada hemoglobin
dalam darah. Derajat kejenuhan hemoglobin dengan O2 bergantung
pada tekanan parsial CO2 atau pH. Jumlah O2 yang diangkut ke
jaringan bergantung pada jumlah hemoglobin dalam darah.
4. Tahap IV: sebelum sampai pada sel yang membutuhkan, oksigen
dibawa melalui cairan interstisial dahulu. Tekanan parsial oksigen
dalam cairan interstisial 20 mmHg. Perbedaan tekanan oksigen dalam
pembuluh darah arteri (100 mmHg) dengan tekanan parsial oksigen
dalam cairan interstisial (20 mmHg) menyebabkan terjadinya difusi
oksigen yang cepat dari pembuluh kapiler ke dalam cairan interstisial.
5. Tahap V: tekanan parsial oksigen dalam sel kira-kira antara 0-20
mmHg. Oksigen dari cairan interstisial berdifusi masuk ke dalam sel.
Dalam sel oksigen ini digunakan untuk reaksi metabolisme yaitu
reaksi oksidasi senyawa yang berasal dari makanan (karbohidrat,
lemak, dan protein) menghasilkan H2O, CO2 dan energi (Pearce,
2007).
Dinamika reaksi hemoglobin sangat cocok untuk mengangkut O2.
Hemoglobin adalah protein yang terikat pada rantai polipeptida, dibentuk
porfirin dan satu atom besi ferro. Masing-masing atom besi dapat mengikat
secara reversible (perubahan arah) dengan satu molekul O2. Besi berada dalam
bentuk ferro sehingga reaksinya adalah oksigenasi bukan oksidasi. Transpor
karbondioksida.
Kelarutan CO2 dalam darah kira-kira 20 kali kelarutan O2 sehingga terdapat
lebih banyak CO2 daripada O2 dalam larutan sederhana. CO2 berdifusi dalam
sel darah merah dengan cepat mengalami hidrasi menjadi H2CO2 karena
adanya anhydrase (berkurangnya sekresi keringat) karbonat berdifusi ke dalam
plasma. Penurunan kejenuhan hemoglobin terhadap O2 bila darah melalui
kapiler-kapiler jaringan.
Sebagian dari CO2 dalam sel darah merah bereaksi dengan gugus amino dari
protein, hemoglobin membentuk senyawa karbamino (senyawa
karbondioksida). Besarnya kenaikan kapasitas darah mengangkut CO2
Bab 13 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan 233
ditunjukkan oleh selisih antara garis kelarutan CO2 dan garis kadar total CO2
di antara 49 ml CO2 dalam darah arterial 2,6 ml dalam senyawa karbamino
dan 43,8 ml dalam HCO2 (Pearce, 2007; Silverthon, 2001; Setiadi, 2016) .
13.4 Mekanisme Pernafasan
Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang
mengandung oksigen serta menghembuskan udara yang banyak mengandung
karbon dioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Penghirupan
udara ini disebut inspirasi dan penghembusannya disebut ekspirasi. Jadi, dalam
paru-paru terjadi pertukaran zat antara oksigen yang masuk ke dalam darah
dan CO2 dikeluarkan dari darah secara osmosis. CO2 dikeluarkan melalui
traktus respiratorius (jalan pernapasan) dan masuk ke dalam tubuh melalui
kapiler-kapiler vena pulmonalis kemudian masuk ke serambi kiri jantung
(atrium sinistra) menuju ke aorta kemudian ke seluruh tubuh (jaringan-jaringan
dan sel-sel), di sini terjadi oksidasi (pembakaran).
Sebagai sisa dari pembakaran adalah CO2 dan dikeluarkan melalui peredaran
darah vena masuk ke jantung (serambi kanan atau atrium dekstra) menuju ke
bilik kanan (ventrikel dekstra) dan dari sini keluar melalui arteri pulmonalis ke
jaringan paru-paru (Setiadi, 2016).
Selama inspirasi, otot-otot interkostal eksternal ditemukan antara kontraksi
rusuk, menggerakkan tulang rusuk ke atas dan keluar. Otot diafragma juga
berkontraksi dan membentuk kubah yang datar. Ini meningkatkan ruang di
paru-paru dan menyebabkan udara secara otomatis ditarik ke dalam paru-paru.
Selama ekspirasi, otot-otot interkostal eksternal berelaksasi dan tulang rusuk
kembali ke posisi istirahat mereka. Diafragma berelaksasi, kembali ke bentuk
kubah aslinya. Ini menyebabkan ruang di paru-paru menjadi lebih kecil,
memaksa udara keluar (Tambayong, 2001).
Proses pernafasan pada manusia dimulai dari hidung. Udara yang di isap pada
waktu menarik nafas (inspirasi) biasanya masuk melalui lubang hidung (nares)
kiri dan kanan selain melalui mulut. Udara disaring saat masuk oleh bulu
hidung yang terdapat di bagian dalam lubang hidung. Otot diafragma
berkontraksi pada waktu menarik nafas. Awalnya kedudukan diafragma
melengkung ke atas dan menjadi lurus sehingga rongga dada menjadi
mengembang.
234 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Akibat mengembangnya rongga dada, maka tekanan dalam rongga dada
menjadi berkurang, sehingga udara dari luar masuk melalui lubang hidung
selanjutnya melalui saluran pernafasan akhirnya udara masuk ke dalam paru-
paru, sehingga paru-paru mengembang. Setelah melewati rongga hidung,
udara masuk ke kerongkongan bagian atas (naro-faring) lalu kebawah untuk
selanjutnya masuk ke kerongkongan (laring). Udara masuk ke trakea dan
diteruskan ke bronkus.
Saluran bronkus terdiri dari beberapa tingkat percabangan dan akhirnya
berhubungan di alveolus di paru-paru. Udara yang diserap memalui alveoli
akan masuk kedalam kapiler yang selanjutnya dialirkan ke vena pulmonalis.
Gas oksigen diambil oleh darah dan dialirkan ke serambi kiri jantung dan
seterusnya. Udara yang mengandung karbon dioksida akan dikeluarkan
melalui hidung kembali. Pengeluaran napas ini disebabkan karena
melemasnya otot diafragma dan otot-otot rusuk dan juga dibantu dengan
berkontraksinya otot perut.
Diafragma menjadi melengkung ke atas, tulang rusuk turun ke bawah dan
bergerak ke arah dalam, akibatnya rongga dada mengecil sehingga tekanan
dalam rongga dada naik sehingga udara di dalam pau-paru keluar melalui
saluran pernapasan (Syaifuddin, 2006; Setiadi, 2016).
13.5 Pengaturan dan Pengendalian
Pernafasan
Mekanisme pernafasan dikendalikan dan diatur oleh saraf dan kimiawi.
Syaraf
Bernafas berarti melakukan inspirasi dan ekspirasi secara bergantian, teratur,
berirama, dan terus menerus. Bernapas merupakan gerak refleks yang terjadi
pada otot-otot pernapasan. Refleks bernapas ini diatur oleh pusat pernapasan
yang terletak di dalam sumsum penyambung (medulla oblongata).
Oleh karena seseorang dapat menahan, memperlambat, atau mempercepat
napasnya, ini berarti bahwa refleks bernapas juga dibawah pengaruh korteks
serebri. Pusat pernapasan sangat peka terhadap kelebihan kadar CO2 dalam
darah dan kekurangan dalam darah. Inspirasi terjadi bila muskulus diafragma
Bab 13 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan 235
telah mendapat rangsangan dari nervus frenikus lalu mengerut datar. Muskulus
interkostalis yang letaknya miring, setelah mendapat rangsangan kemudian
mengerut dan tulang iga (kosta) menjadi datar.
Dengan demikian jarak antara sternum (tulang dada) dan vertebra semakin
luas dan melebar. Rongga dada membesar maka pleura akan tertarik, yang
menarik paru-paru sehingga tekanan udara di dalamnya berkurang dan
masuklah udara dari luar (Ganong. W, 1995; Pearce, 2007; Silverthon, 2001).
Susunan retikularis mempunyai pola aktivitas saraf dengan irama teratur yang
mempertahankan aktivitas berirama dari otot-otot ini. Irama ini dilengkapi
Hering-Breuer yaitu reseptor-reseptor yang regang yang terdapat pada
parenkim paru-paru yang memancarkan rangsangan ke medulla oblongata
melalui vagus, pengembang paru-paru yang cepat menghambat rangsang
respirasi.REseptor regangan di jaringan paru mengirim impuls-impuls melalui
nervus vagus ke batang otak impuls ini menghambat inspirasi saat paru-paru
dikembangkan dan merangsang inspirasi bila paru dikempeskan (Anderson,
1999).
Kimiawi
Pusat pernafasan di sumsum sangat peka terhadap reaksi kimia. Faktor
kimiawi merupakan pengendali dan pengatur frekuensi, kecepatan dan
dalamnya gerakan pernafasan. Karbon dioksida adalah produk asam dari
metabolisme, yang merangsang pusat pernafasan untuk mengirim keluar
impuls saraf yang bekerja atas otot pernafasan.
Peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah, atau peningkatan konsentrasi
ion hidrogen darah, mempunyai efek kuat yang langsung pada neuron-neuron
susunan retikular yang menyebabkan peningkatan kecepatan dan kedalaman
pernafasan dengan peningkatan ekskresi karbon dioksida (Sherwood, 2012;
Setiadi, 2016).
Surfaktan merupakan suatu bahan senyawa kimia yang memiliki sifat
permukaan aktif. Merupakan campuran beberapa fosfolipid, protein dan ion.
Fungsi surfaktan ini melawan tegangan permukaan sehingga alveoli tidak
mengempis/kolaps, memastikan bahwa ruang alveoli tetap terbuka selama
siklus respirasi, dan mempertahankan volume residual paru pada saat akhir
ekspirasi
Pusat pengendalian ada di kemoreseptor yang mendeteksi perubahan kadar
oksigen, karbon dioksida dan ion hidrogen dalam darah arteri dan cairan
236 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
serebrospinalis dan menyebabkan penyesuaian yang tepat antara frekuensi dan
kedalaman respirasi (Setiadi, 2016).
13.5.1 Masalah Pernafasan
1. Hipoksia (anoksia)
Defisiensi oksigen, yaitu kondisi berkurangnya kadar oksigen
dibandingkan kadar normalnya secara fisiologis dalam jaringan dan
organ.
a. Hipoksia dapat terjadi akibat insufisiensi oksigen dalam
atmosfer; anemia (insufisiensi sel darah merah); gangguan
sirkulasi darah; penyakit paru; yang mengganggu ventilasi
pulmonary ; atau keberadaan zat toksik seperti karbon monoksida
atau siania, di dalam tubuh.
b. Karbon monoksida (CO) adalah zat toksik karena molekul ini
berikatan dengan hemoglobin disis yang sama untuk mengikat
oksigen. Kecenderungan daya ikatnya terhadap hemoglobin lebih
besar 320 kali dibandingkan daya ikat hemoglobin oksigen dan
pelepasannya lebih lambat. Oleh karena itu sejumlah kecil karbon
monoksida dalam udara dapat mematikan.
2. Hiperkapnia
Peningkatan kadar CO2 dalam cairan tubuh dan sering disertai
hipoksia. CO2 berlebih meningkatkan respirasi dan konsentrasi yang
hidrogen, yang akan menyebabkan asidosis (kadar asam berlebih).
3. Hipokapnia
Penurunan kadar CO2 dalam darah, biasanya terjadi akibat
hiperventilasi (pernapasan cepat) dan penghembusan CO2.
penurunan kadar CO2 menyebabkan terjadinya alkalosis (jumlah
bikarbonat berlebih) dalam cairan tubuh.
4. Asfisia atau Sufokasi
Kondisi hipoksia atau hiperkapnia akibat ketidakcukupan ventilasi
pulmonary.
5. Dispnea
Kesukaran bernafas, dan berhenti berhentinya nafas selama 3 menit
sudah bisa menimbulkan kematian (Setiadi, 2016; Syaifuddin, 2006).
Bab 13 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan 237
13.5.2 Kelainan Sistem Pernafasan
1. Asma
Asma adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai inflamasi
saluran napas dan spasme akut otot polos bronkiolus.. Gejala:
Dispnea yang bermakna., batuk, terutama di malam hari., pernapasan
yang dangkal dan cepat, mengi yang dapat terdengar pada auskultasi
paru. Biasanya mengi terdengar hanya saat ekspirasi, kecuali kondisi
pasien parah, peningkatan usaha bernapas, ditandai dengan retraksi
dada, disertai perburukkan kondisi, napas cuping hidung.
2. Bronkitis akut
Bronkitis adalah penyakit pernapasan obstruktif yang sering dijumpai
yang disebabkan inflamasi pada bronkus. Penyakit ini biasanya
berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri atau inhalasi iritan seperti
asap rokok dan zat-zat kimia yang ada di dalam polusi udara.
Gejala: batuk, biasanya produktif dengan mukus kental dan sputum
purulent. Dispnea, demam, suara serak, ronki (bunyi paru diskontinu
yang halus atau kasar), terutama saat inspirasi, nyeri dada yang
kadang timbul.
3. Bronkitis kronis
Bronkitis kronis adalah gangguan paru obstruktif yang ditandai
produksi mukus berlebihan di saluran napas bawah dan menyebabkan
batuk kronis. Kondisi ini terjadi selama setidaknya 3 bulan berturut-
turut dalam setahun untuk 2 tahun berturut-turut.
Gejala: batuk yang sangat produktif, purulen, dan mudah memburuk
dengan inhalasi iritan, udara dingin, atau infeksi, produksi mukus
dalam jumlah sangat banyak, sesak napas dan dispnea.
4. Penyakit paru obstruktif kronis
Individu yang mengidap emfisema kronis biasanya juga menderita
bronkitis kronis dan memperlihatkan tanda-tanda kedua penyakit.
Keadaan ini disebut penyakit paru obstruktif kronis (PPOK, chronic
obstructive pulmonary disease). Asma kronis yang berkaitan dengan
emfisema atau bronkitis keonis juga dapat menyebabkan PPOK.
238 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Gejala: akan dijumpai gejala-gejala dari kedua penyakit, emfisema
dan bronkitis kronis, dispnea yang konstan (Syaifuddin, 2006).
5. Influenza
Influenza atau flu adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
virus influenza. Penyakit ini ditularkan melalui udara melalui bersin
dari si penderita.
Gejala umum adalah demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, hidung
tersumbat dan mengeluarkan cairan, batuk, lesu serta rasa tidak enak
badan.
6. Flu burung
Avian influenza disebabkan oleh virus yang biasanya menjangkiti
burung dan mamalia. Gejala umum yang terjadi demam tinggi,
keluhan pernafasan.
7. Flu babi
Kasus influenza disebabkan virus Orthomyxoviridae yang biasanya
menyerang babi. Flu babi menginfeksi manusia yang bersentuhan
dengan babi. Gejala yang dirasakan demam, disorientasi, kekakuan
pada sendi, muntah-muntah dan kehilangan kesadaran.
8. Faringitis
Peradangan yang menyerang tenggorokan atas faring. Radang ini bisa
disebabkan oleh virus atau bakteri pada saat daya tahan tubuh lemah.
Pengobatan dengan antibiotic hanya efektif apabila disebabkan oleh
bakteri. Konsumsi makanan sehat, buah-buahan dan vitamin sangat
dianjurkan.
9. TBC
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberculosis. Kasus TBC sangat tinggi di Indonesia dan merupakan
permasalahan global yang belum dapat diatasi sampai sekarang.
Gejala yang dirasakan batuk selama lebih dari 2 minggu, sesak napas,
demam, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan drastis.
10. Emfisema
Emfisema disebabkan karena hilangnya elastisitas alveolus. Alveolus
adalah gelembung-gelembung yang terdapat di paru-paru. Asap
Bab 13 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernafasan 239
rokok dan kekurangan enzim alfa-1antitripsin adalah penyebab
kehilangan elastisitas pada paru-paru ini.
11. Pneumonia
Infeksi yang terjadi pada jaringan paru (parenkim) yang disebabkan
oleh bakteri, virus atau jamur. Gejala yang terjadi batuk berdahak
dengan dahak kental berwarna kuning, sakit pada dada, dan sesak
napas juga disertai demam tinggi.
12. Sinusitis
Sinusitis merupakan penyakit peradangan pada bagian atas rongga
hidung atas sinus paranasalis. Gejala yang dirasakan hidung
tersumbat terasa gatal, tercium bau tidak sedap Ketika bernapas,
sering bersin, hidung mengeluarkan ingus kental, kepala terasa sakit
seperti ada yang menekan.
13. Kanker Paru
Kanker paru disebabkan asap rokok yang mengandung banyak zat
beracun dan dihisap masuk ke paru-paru terakumulasi puluhan tahun
menyebabkan mutasi pada sel saluran napas berkembang menjadi sel
kanker (Setiadi, 2016).
14. Covid 19
Penyakit akibat infeksi virus severe acute respiratory syndrome
coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang juga disebut virus corona. Gejala
yang dirasakan demam, batuk kering, sesak nafas, anosmia,
kehilangan kemampuan mengecap rasa.
240 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Bab 14
Anatomi dan Fisiologi Sistem
Integument
14.1 Pendahuluan
Kulit adalah lapisan luar yang menutupi dan melindungi tubuh serta bersifat
elastis. Kulit juga sering disebut dengan integument. Sistem integumen adalah
sistem organ yang paling luas. Sistem ini meliputi kulit, rambut, dan kuku.
Kata ”integument” berasal dari bahasa Yunani ”integumentum” yang artinya
”penutup”. Sistem integument adalah suatu sistem pada organ terluar yang
membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan tubuh
manusia terhadap lingkungan sekitar.
Sistem integument adalah garis pertama pertahanan tubuh terhadap bakteri,
virus dan mikroba lainnya. Hal ini juga membantu untuk memberikan
perlindungan dari radiasi ultraviolet yang berbahaya. Kulit menutupi tubuh
dengan sempurna dan merupakan lanjutan dari membran yang melapisi
orifisium tubuh. Kulit melindungi struktur yang berada di bawahnya dari
cedera dan serangan mikroba. Kulit mengandung ujung saraf sensoris
(somatik) nyeri, suhu, dan sentuhan.
Selain itu kulit terlibat dalam regulasi suhu tubuh. Kulit merupakan organ
terbesar di tubuh dan memiliki area permukaan sekitar 1,5-2 m2 pada orang
242 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
dewasa serta mengandung kelenjar, rambut, dan kuku. Terdapat dua lapisan
utama, yaitu epidermis dan dermis. Antara kulit dan struktur yang mendasari
terdapat lapisan lemak subkutan (Grant dan Waugh, 2017).
14.2 Struktur Sistem Integument
Sistem terdiri atas kulit dan aksesorisnya, termasuk kuku, rambut, kelenjar
(keringat dan sebaseous), dan reseptor saraf khusus (untuk stimuli perubahan
internal atau lingkungan eksternal). Sistem integument terdiri dari organ
terbesar dalam tubuh yaitu kulit, yang melindungi struktur internal tubuh dari
kerusakan, mencegah dehidrasi, penyimpanan lemak dan menghasilkan
vitamin D dan hormon.
Hal ini juga membantu untuk mempertahankan homeostasis dalam tubuh
dengan membantu dalam pengaturan suhu tubuh dan keseimbangan air. Kulit
adalah organ sensorik dalam hal ini memiliki reseptor untuk mendeteksi panas
dan dingin, sentuhan, tekanan dan nyeri. Komponen kulit meliputi rambut,
kuku, kelenjar keringat, kelenjar minyak, pembuluh darah, pembuluh getah
bening, saraf dan otot. Mengenai anatomi sistem integument yang menutupi
kulit terdiri dari lapisan jaringan epitel (epidermis) yang didukung oleh lapisan
jaringan ikat (dermis) dan lapisan subkutan yang mendasari (hipodermis atau
subkutan) (Syaifuddin, 2012).
Selain kulit, ada juga rambut dan kuku yang termasuk ke dalam sistem
integument. Rambut adalah organ seperti benang yang tumbuh di kulit.
Rambut muncul dari epidermis (kulit luar), walaupun berasal dari folikel
rambut yang berada jauh di bawah dermis. Serta kuku tumbuh dari sel mirip
gel lembut yang mati, mengeras, dan kemudian terbentuk saat mulai tumbuh
dari ujung jari. Kulit ari pada pangkal kuku berfungsi melindungi dari kotoran.
Fungsi utama kuku adalah melindungi ujung jari yang lembut dan penuh urat
saraf, serta mempertinggi daya sentuh. Secara kimia, kuku sama dengan
rambut yang antara lain terbentuk dari keratin protein yang kaya akan sulfur.
14.2.1 Kulit
Kulit merupakan organ tubuh paling besar yang melapisi seluruh bagian tubuh,
membungkus daging dan organ-organ yang ada di dalamnya. Luas kulit pada
manusia rata-rata 2 m2, dengan berat 10 kg jika ditimbang dengan lemaknya
Bab 14 Anatomi dan Fisiologi Sistem Integument 243
atau 4 kg jika tanpa lemak, atau beratnya sekitar 16% dari berat badan
seseorang. Daerah yang paling tebal (6 mm) pada telapak tangan dan telapak
kaki, dan paling tipis (0,5 mm) terdapat pada kulit kelamin.
Keberadaan kulit memegang peranan penting dalam mencegah terjadinya
kehilangan cairan yang berlebihan, dan mencegah masuknya agen-agen yang
ada di lingkungan seperti bakteri, kimia dan radiasi ultraviolet. Kulit juga akan
menahan bila terjadi kekuatan-kekuatan mekanik seperti gesekan (friction),
getaran (vibration) dan mendeteksi perubahan-perubahan fisik di lingkungan
luar, sehingga memungkinkan seseorang untuk menghindari stimuli-stimuli
yang tidak nyaman.
Kulit membangun sebuah barier yang memisahkan organ-organ internal
dengan lingkungan luar, dan turut berpartisipasi dalam berbagai fungsi tubuh
vital. Kulit tersusun atas tiga lapisan, yaitu epidermis, dermis, dan
subkutan/hipodermis (Syaifuddin, 2012 dan Pearce, 2007).
Gambar 14.1: Struktur Kulit (Syaifuddin, 2012)
Epidermis
Epidermis berasal dari ektoderm, terdiri dari beberapa lapis (multilayer).
Epidermis sering kita sebut sebagai kulit luar. Epidermis merupakan lapisan
teratas pada kulit manusia dan memiliki tebal yang berbeda-beda, yaitu 400-
600 μm untuk kulit tebal (kulit pada telapak tangan dan kaki) dan 75-150 μm
untuk kulit tipis (kulit selain telapak tangan dan kaki, memiliki rambut).
244 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Epidermis dibedakan atas lima lapisan kulit, yaitu sebagai berikut:
1. Lapisan tanduk (stratum corneum)
Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling atas, dan
menutupi semua lapisan epidermis lebih ke dalam. Lapisan tanduk
terdiri atas beberapa lapis sel pipih, tidak memiliki inti, tidak
mengalami proses metabolisme, tidak berwarna dan sangat sedikit
mengandung air.
Pada telapak tangan dan telapak kaki jumlah baris keratinosit jauh
lebih banyak, karena di bagian ini lapisan tanduk jauh lebih tebal.
Lapisan ini sebagian besar terdiri atas keratin yaitu sejenis protein
yang tidak larut dalam air dan sangat resisten terhadap bahan-bahan
kimia. Lapisan ini dikenal dengan lapisan horny, terdiri dari milyaran
sel pipih yang mudah terlepas dan digantikan oleh sel yang baru
setiap 4 minggu, karena usia setiap sel biasanya hanya 28 hari. Pada
saat terlepas, kondisi kulit akan terasa sedikit kasar sampai muncul
lapisan baru.
Proses pembaruan lapisan tanduk, terus berlangsung sepanjang hidup,
menjadikan kulit ari memiliki self repairing capacity atau
kemampuan memperbaiki diri. Bertambahnya usia dapat
menyebabkan proses keratinisasi berjalan lebih lambat. Ketika usia
mencapai sekitar 60 tahunan, proses keratinisasi, membutuhkan
waktu sekitar 45-50 hari, akibatnya lapisan tanduk yang sudah
menjadi lebih kasar, lebih kering, lebih tebal, timbul bercak-bercak
putih karena melanosit lambat bekerja dan penyebaran melanin tidak
lagi merata serta tidak lagi cepat digantikan oleh lapisan tanduk baru.
Daya elastisitas kulit pada lapisan ini sangat kecil, dan lapisan ini
sangat efektif untuk mencegah terjadinya penguapan air dari lapis
kulit lebih dalam sehingga mampu memelihara tonus dan turgor kulit,
tetapi lapisan tanduk memiliki daya serap air yang cukup besar.
2. Lapisan bening (stratum lucidum)
Lapisan ini disebut juga dengan lapisan barrier, terletak tepat di
bawah lapisan tanduk, dan dianggap sebagai penyambung lapisan
tanduk dengan lapisan berbutir. Lapisan bening terdiri dari
Bab 14 Anatomi dan Fisiologi Sistem Integument 245
protoplasma sel-sel jernih yang kecil-kecil, tipis dan bersifat
translusen sehingga dapat dilewati sinar (tembus cahaya). Lapisan ini
sangat tampak jelas pada telapak tangan dan telapak kaki. Proses
keratinisasi bermula dari lapisan bening.
3. Lapisan berbutir (stratum granulosum)
Tersusun oleh sel-sel keratinosit berbentuk kumparan yang
mengandung butir-butir di dalam protoplasmanya, berbutir kasar dan
berinti mengkerut. Lapisan ini tampak paling jelas pada kulit telapak
tangan dan telapak kaki.
4. Lapisan bertaju (stratum spinosum)
Lapisan ini disebut juga dengan lapisan malphigi, terdiri atas sel-sel
yang saling berhubungan dengan perantaraan jembatan-jembatan
protoplasma berbentuk kubus. Jika sel-sel lapisan saling berlepasan,
maka seakan-akan selnya bertaju. Setiap sel berisi filamen-filamen
kecil yang terdiri atas serabut protein. Sel-sel pada lapisan taju
normal, tersusun menjadi beberapa baris. Bentuk sel berkisar antara
bulat ke bersudut banyak (poligonal), dan makin ke arah permukaan
kulit makin besar ukurannya.
Di antara sel-sel taju terdapat celah antar sel halus yang berguna
untuk peredaran cairan jaringan ekstraseluler dan pengantaran butir-
butir melanin. Sel-sel di bagian lapis taju yang lebih dalam, banyak
yang berada dalam salah satu tahap mitosis. Kesatuan-kesatuan
lapisan taju mempunyai susunan kimiawi yang khas; inti-inti sel
dalam bagian basal lapis taju mengandung kolesterol dan asam
amino.
5. Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale)
Merupakan lapisan terbawah epidermis, dibentuk oleh satu baris sel
torak (silinder) dengan kedudukan tegak lurus terhadap permukaan
dermis. Alas sel-sel torak ini bergerigi dan bersatu dengan lamina
basalis di bawahnya. Lamina basalis yaitu struktur halus yang
membatasi epidermis dengan dermis. Pengaruh lamina basalis cukup
besar terhadap pengaturan metabolisme demo-epidermal dan fungsi-
fungsi vital kulit.
246 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Di dalam lapisan ini sel-sel epidermis bertambah banyak melalui
mitosis dan sel-sel tadi bergeser ke lapisan-lapisan lebih atas,
akhirnya menjadi sel tanduk. Di dalam lapisan benih terdapat pula
sel-sel bening (clear cells, melanoblas atau melanosit).
Sloane (2004) dan Syaifuddin (2012) mengatakan bahwa selain sel-sel epitel,
epidermis juga tersusun atas lapisan melanosit, sel langerhans, sel merkel, dan
keratinosit:
1. Melanosit, yaitu sel yang menghasilkan melanin melalui proses
melanogenesis. Melanosit (sel pigmen) terdapat di bagian dasar
epidermis. Melanosit mensintesis dan mengeluarkan melanin sebagai
respons terhadap rangsangan hormon hipofisis anterior, hormon
perangsang melanosit (melanocyte stimulating hormone). Melanosit
merupakan sel-sel khusus epidermis yang terutama terlibat dalam
produksi pigmen melanin yang mewarnai kulit dan rambut. Semakin
banyak melanin, semakin gelap warnanya. Sebagian besar orang yang
berkulit gelap dan bagian-bagian kulit yang berwarna gelap pada
orang yang berkulit cerah (misal puting susu) mengandung pigmen
ini dalam jumlah yang lebih banyak.
Warna kulit yang normal bergantung pada ras dan bervariasi dari
merah muda yang cerah hingga cokelat. Penyakit sistemik juga akan
memengaruhi warna kulit. Sebagai contoh, kulit akan tampak
kebiruan bila terjadi inflamasi atau demam. Melanin diyakini dapat
menyerap cahaya ultraviolet dan demikian akan melindungi
seseorang terhadap efek pancaran cahaya ultraviolet dalam sinar
matahari yang berbahaya.
2. Sel langerhans, yaitu sel yang merupakan makrofag turunan sumsum
tulang, yang merangsang sel limfosit T, mengikat, mengolah, dan
mempresentasikan antigen kepada sel limfosit T. Dengan demikian,
sel langerhans berperan penting dalam imunologi kulit. Sel-sel imun
yang disebut sel langerhans terdapat di seluruh epidermis. Sel
langerhans mengenali partikel asing atau mikroorganisme yang
masuk ke kulit dan membangkitkan suatu serangan imun. Sel
Bab 14 Anatomi dan Fisiologi Sistem Integument 247
langerhans mungkin bertanggungjawab mengenal dan menyingkirkan
sel-sel kulit displastik dan neoplastik.
Sel langerhans secara fisik berhubungan dengan saraf-saraf simpatis,
yang mengisyaratkan adanya hubungan antara sistem saraf dan
kemampuan kulit melawan infeksi atau mencegah kanker kulit. Stres
dapat mempengaruhi fungsi sel langerhans dengan meningkatkan
rangsang simpatis. Radiasi ultraviolet dapat merusak sel langerhans,
mengurangi kemampuannya mencegah kanker.
3. Sel merkel, yaitu sel yang berfungsi sebagai mekanoreseptor sensoris
dan berhubungan fungsi dengan sistem neuroendokrin difus.
Keratinosit, lapisan eksternal kulit tersusun atas keratinosit (zat
tanduk) dan lapisan ini akan berganti setiap 3-4 minggu sekali. Setiap
kulit yang mati akan terganti setiap 3-4 minggu.
Epidermis akan bertambah tebal jika bagian tersebut sering
digunakan. Persambungan antara epidermis dan dermis disebut
dengan rete ridge yang berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi
yang esensial, dan terdapat kerutan yang disebut fingerprints.
Pada daerah kulit terdapat juga kelenjar keringat. Kelenjar keringat terdiri dari
fundus (bagian yang melingkar) dan duet, yaitu saluran semacam pipa yang
bermuara pada permukaan kulit membentuk pori-pori keringat. Semua bagian
tubuh dilengkapi dengan kelenjar keringat dan lebih banyak terdapat di
permukaan telapak tangan, telapak kaki, kening, dan di bawah ketiak. Kelenjar
keringat mengatur suhu badan dan membantu membuang sisa-sisa pencernaan
dari tubuh. Kegiatannya terutama dirangsang oleh panas, latihan jasmani,
emosi dan obat-obat tertentu.
Dermis
Dermis atau cutan (cutaneus), yaitu lapisan kulit di bawah epidermis.
Penyusun utama dari dermis adalah kolagen. Membentuk bagian terbesar kulit
dengan memberikan kekuatan dan struktur pada kulit, memiliki ketebalan yang
bervariasi bergantung pada daerah tubuh dan mencapai maksimum 4 mm di
daerah punggung.
Dermis terdiri atas dua lapisan dengan batas yang tidak nyata, yaitu stratum
papilare dan stratum reticular. Dermis merupakan bagian yang paling penting
248 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
di kulit yang sering dianggap sebagai “True Skin” karena 95% dermis
membentuk ketebalan kulit. Bagian ini terdiri atas jaringan ikat yang
menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis.
Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm. Kulit
jangat atau dermis menjadi tempat ujung saraf perasa, tempat keberadaan
kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar-kelenjar palit atau kelenjar
minyak, pembuluh-pembuluh darah dan getah bening, dan otot penegak
rambut (muskulus arektor pili). Lapisan ini elastis dan tahan lama, berisi
jaringan kompleks ujung-ujung saraf, kelenjar sudorifera, kelenjar sebasea,
folikel jaringan rambut, dan pembuluh darah yang juga merupakan penyedia
nutrisi bagi lapisan dalam epidermis.
Sel-sel umbi rambut yang berada di dasar kandung rambut, terus-menerus
membelah dalam membentuk batang rambut. Kelenjar palit yang menempel di
saluran kandung rambut, menghasilkan minyak yang mencapai permukaan
kulit melalui muara kandung rambut. Kulit jangat sering disebut kulit
sebenarnya dan 95 % kulit jangat membentuk ketebalan kulit. Ketebalan rata-
rata kulit jangat diperkirakan antara 1-2 mm dan yang paling tipis terdapat di
kelopak mata serta yang paling tebal terdapat di telapak tangan dan telapak
kaki. Susunan dasar kulit jangat dibentuk oleh serat-serat, matriks interfibrilar
yang menyerupai selai dan sel-sel.
Keberadaan ujung-ujung saraf perasa dalam kulit jangat, memungkinkan
membedakan berbagai rangsangan dari luar. Masing-masing saraf perasa
memiliki fungsi tertentu, seperti saraf dengan fungsi mendeteksi rasa sakit,
sentuhan, tekanan, panas, dan dingin. Saraf perasa juga memungkinkan segera
bereaksi terhadap hal-hal yang dapat merugikan diri kita.
Jika kita mendadak menjadi sangat takut atau sangat tegang, otot penegak
rambut yang menempel di kandung rambut, akan mengerut dan menjadikan
bulu roma atau bulu kuduk berdiri. Kelenjar palit yang menempel di kandung
rambut memproduksi minyak untuk melumasi permukaan kulit dan batang
rambut. Sekresi minyaknya dikeluarkan melalui muara kandung rambut.
Kelenjar keringat menghasilkan cairan keringat yang dikeluarkan ke
permukaan kulit melalui pori-pori kulit.
Pada dasarnya dermis terdiri atas sekumpulan serat-serat elastis yang dapat
membuat kulit berkerut akan kembali ke bentuk semula dan serat protein ini
yang disebut kolagen. Serat-serat kolagen ini disebut juga jaringan penunjang,
Bab 14 Anatomi dan Fisiologi Sistem Integument 249
karena fungsinya dalam membentuk jaringan-jaringan kulit yang menjaga
kekeringan dan kelenturan kulit.
Berkurangnya protein akan menyebabkan kulit menjadi kurang elastis dan
mudah mengendur hingga timbul kerutan. Faktor lain yang menyebabkan kulit
berkerut yaitu faktor usia atau kekurangan gizi. Perlu diperhatikan bahwa luka
yang terjadi di kulit jangat dapat menimbulkan cacat permanen, hal ini
disebabkan kulit jangat tidak memiliki kemampuan memperbaiki diri sendiri
seperti yang dimiliki kulit ari.
Di dalam lapisan kulit jangat terdapat dua macam kelenjar yaitu kelenjar
keringat (sudorifera) dan kelenjar palit (sebacea):
1. Kelenjar keringat (sudorifera), terdiri dari fundus (bagian yang
melingkar) dan duet yaitu saluran semacam pipa yang bermuara pada
permukaan kulit membentuk pori-pori keringat. Semua bagian tubuh
dilengkapi dengan kelenjar keringat dan lebih banyak terdapat di
permukaan telapak tangan, telapak kaki, kening dan di bawah ketiak.
Kelenjar keringat mengatur suhu badan dan membantu membuang
sisa-sisa pencernaan dari tubuh. Kegiatannya terutama dirangsang
oleh panas, latihan jasmani, emosi dan obat-obat tertentu.
Ada dua jenis kelenjar keringat yaitu kelenjar keringat ekrin dan
apokrin. Kelenjar keringat ekrin menyekresi cairan jernih, yaitu
keringat yang mengandung 95-97% air dan mengandung beberapa
mineral, seperti garam, sodium klorida, granula minyak, glusida dan
sampingan dari metabolisme seluler. Kelenjar keringat ini terdapat di
seluruh kulit, mulai dari telapak tangan dan telapak kaki sampai ke
kulit kepala. Jumlahnya di seluruh badan sekitar dua juta dan
menghasilkan 14 liter keringat dalam waktu 24 jam pada orang
dewasa. Bentuk kelenjar keringat ekrin langsing, bergulung-gulung
dan salurannya bermuara langsung pada permukaan kulit yang tidak
ada rambutnya.
Kelenjar keringat apokrin hanya terdapat di daerah ketiak, puting
susu, pusar, daerah kelamin dan daerah sekitar dubur (anogenital)
menghasilkan cairan yang agak kental, berwarna keputih-putihan
serta berbau khas pada setiap orang. Sel kelenjar ini mudah rusak dan
250 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
sifatnya alkali sehingga dapat menimbulkan bau. Muaranya
berdekatan dengan muara kelenjar sebasea pada saluran folikel
rambut. Kelenjar keringat apokrin jumlahnya tidak terlalu banyak dan
hanya sedikit cairan yang disekresikan dari kelenjar ini. Kelenjar
apokrin mulai aktif setelah usia akil balig dan aktivitas kelenjar ini
dipengaruhi oleh hormon.
2. Kelenjar palit (Sebacea), terletak pada bagian atas kulit jangat
berdekatan dengan kandung rambut terdiri dari gelembung-
gelembung kecil yang bermuara ke dalam kandung rambut (folikel).
Folikel rambut mengeluarkan lemak yang meminyaki kulit dan
menjaga kelunakan rambut. Kelenjar palit membentuk sebum atau
urap kulit. Terkecuali pada telapak tangan dan telapak kaki, kelenjar
palit terdapat di semua bagian tubuh terutama pada bagian muka.
Pada umumnya, satu batang rambut hanya mempunyai satu kelenjar
palit atau kelenjar sebasea yang bermuara pada saluran folikel
rambut. Pada kulit kepala, kelenjar palit atau kelenjar sebasea
menghasilkan minyak untuk melumasi rambut dan kulit kepala. Pada
kebotakan orang dewasa, ditemukan bahwa kelenjar palit atau
kelenjar sebasea membesar sedangkan folikel rambut mengecil. Pada
kulit badan termasuk pada bagian wajah, jika produksi minyak dari
kelenjar palit atau kelenjar sebasea berlebihan, maka kulit akan lebih
berminyak sehingga memudahkan timbulnya jerawat (Syaifuddin,
2012 dan Pearce, 2008).
Hipodermis
Pada bagian subdermis ini terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak
di dalamnya. Pada lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah
dan getah bening. Untuk sel lemak pada subdermis, sel lemak dipisahkan oleh
trabekula yang fibrosa. Lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposit
yang menghasilkan banyak lemak.
Disebut juga panikulus adiposa yang berfungsi sebagai cadangan makanan.
Berfungsi juga sebagai bantalan antara kulit dan struktur internal seperti otot
dan tulang. Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan
panas. Sebagai bantalan terhadap trauma dan tempat penumpukan energi.
Bab 14 Anatomi dan Fisiologi Sistem Integument 251
Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah dan limfe,
saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit. Cabang-cabang dari
pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menuju lapisan kulit jangat. Jaringan ikat
bawah kulit berfungsi sebagai bantalan atau penyangga benturan bagi organ-
organ tubuh bagian dalam, membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan
makanan. Ketebalan dan kedalaman jaringan lemak bervariasi sepanjang
kontur tubuh, paling tebal di daerah pantat dan paling tipis terdapat di kelopak
mata. Jika usia menjadi tua, kinerja liposit dalam jaringan ikat bawah kulit juga
menurun. Bagian tubuh yang sebelumnya berisi banyak lemak, lemaknya
berkurang sehingga kulit akan mengendur. Perubahan kondisi hipodermis
inilah yang membuat kulit menjadi keriput, kendur, serta makin kehilangan
kontur idealnya.
14.2.2 Fungsi Kulit
Grant dan Waught (2017) mengatakan bahwa kulit mempunyai berbagai
fungsi, yaitu sebagai berikut:
1. Proteksi
Kulit membentuk lapisan anti air yang disusun terutama oleh
epitelium berkeratin, yang melindungi struktur yang lebih dalam dan
lebih lunak. Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk
menutupi jaringan-jaringan tubuh di sebelah dalam dan melindungi
tubuh dari pengaruh-pengaruh luar seperti luka dan serangan kuman.
Lapisan paling luar dari kulit ari diselubungi dengan lapisan tipis
lemak, yang menjadikan kulit tahan air.
Kulit dapat menahan suhu tubuh, menahan luka-luka kecil, mencegah
zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh serta menghalau
rangsang-rangsang fisik seperti sinar ultraviolet dari matahari.
2. Regulasi suhu tubuh
Suhu tubuh tetap konstan sekitar 36,80 C di berbagai rentang suhu
tubuh. Dalam keadaan sehat, variasi suhu tubuh biasanya berkisar
antara 0,5-0,750 C, walaupun biasanya sedikit meningkat di sore hari,
saat latihan fisik, dan pada wanita tepat setelah ovulasi.
Saat laju metabolisme meningkat, suhu tubuh meningkat, dan saat
laju metabolisme menurun, suhu tubuh menurun. Untuk memastikan
252 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
suhu tubuh ini konstan, keseimbangan dipertahankan di antara panas
yang dihasilkan tubuh dan panas yang hilang pada lingkungan.
3. Produksi panas
Sebagian energi dilepaskan dalam sel saat aktivitas metabolik dalam
bentuk panas dan organ yang paling aktif menghasilkan panas yang
paling tinggi.
Organ penting yang terlibat adalah sebagai berikut:
a. Otot, kontraksi otot rangka menghasilkan jumlah panas yang
besar dan semakin berat otot dilatih, semakin besar panas yang
diproduksi.
b. Hati mengalami metabolisme yang sangat aktif, dan panas
dihasilkan sebagai produk samping. Laju metabolisme dan
produksi panas meningkat setelah makan.
c. Organ pencernaan menghasilkan panas saat melakukan gerakan
peristaltik dan saat reaksi kimia terlibat dalam pencernaan.
4. Pengeluaran panas
Sebagian besar panas yang hilang dari tubuh terjadi pada kulit.
Sebagian kecil panas hilang di udara, urine, dan feses yang
dikeluarkan. Hanya panas yang hilang dari tubuh yang dapat diatur;
tidak ada pengendali panas yang hilang di kulit oleh rute lain. Panas
yang hilang melalui kulit dipengaruhi oleh perbedaan antara suhu
tubuh dan lingkungan, jumlah permukaan tubuh yang terpapar udara,
dan jenis pakaian yang dikenakan. Udara merupakan konduktor
panas yang buruk dan saat lapisan udara terperangkap pada pakaian
serta antara kulit dan pakaian, pakaian bekerja sebagai isolator yang
efektif terhadap hilangnya panas yang berlebihan.
5. Pengendalian suhu tubuh
Pusat pengaturan suhu tubuh di dalam hipotalamus sensitif terhadap
suhu darah yang mengalir. Pusat ini merespons terhadap penurunan
suhu tubuh dengan mengirimkan impuls saraf ke:
a. arteriol di dalam permukaan kulit, yang menyempitkan
penurunan aliran darah ke kulit;
b. otot rangka menstimulasi proses menggigil. saat panas
dipertahankan, suhu tubuh naik dan saat tubuh kembali ke
Bab 14 Anatomi dan Fisiologi Sistem Integument 253
kisaran normalnya lagi, mekanisme umpan balik negatif
dimatikan.
Begitu pula sebaliknya ketika suhu tubuh naik, kehilangan panas
meningkat oleh dilatasi arteriol di dalam permukaan kulit, meningkatkan
aliran darah ke kulit, dan menstimulasi kelenjar keringat yang
menyebabkan berkeringat, sampai akhirnya kembali ke kisaran normal
lagi ketika mekanisme umpan balik dimatikan.
6. Pembentukan vitamin D, substansi berbahan dasar lipid di kulit
adalah 7-Dehidrokolesterol dan sinar ultraviolet dari matahari
mengubahnya menjadi vitamin D. Substansi ini beredar di darah dan
digunakan bersama kalsium dan fosfat, dalam pembentukan dan
pemeliharaan tulang.
7. Sensasi kutan, reseptor terdiri atas ujung saraf di lapisan dermis yang
peka terhadap sentuhan, tekanan, suhu, atau nyeri. Stimulasi
membangkitkan impuls saraf di saraf sensoris yang dihantarkan ke
korteks serebri. Sebagian area yang memiliki reseptor sensoris lebih
banyak daripada area lainnya menyebabkan area tersebut sensitif
(peka), misalnya pada bibir dan ujung jari.
8. Absorpsi, fungsi ini terbatas pada kulit, tetapi substansi yang dapat
diabsorpsi meliputi:
a. beberapa obat, pada koyok transdermal, misalnya terapi salih
hormon (hormone replacement therapy) saat menopause, nikotin
sebagai bantuan untuk berhenti merokok;
b. beberapa zat kimia toksik, misalnya merkuri.
9. Ekskresi, kulit merupakan organ ekskresi minor bagi sebagian zat,
meliputi:
a. natrium klorida dalam keringat. Keringat berlebihan dapat
menyebabkan kadar natrium darah yang rendah (hiponatremia);
b. urea, khususnya saat fungsi ginjal terganggu, (c) substansi
aromatik, misalnya bawang putih dan rempah-rempah lainnya.
254 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
14.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Warna Kulit
Sloane (2004) mengatakan bahwa perbedaan warna kulit terjadi akibat faktor
berikut:
1. Melanosit, terletak pada stratum basalis, memproduksi pigmen,
melanin yang bertanggung jawab untuk pewarnaan kulit dari coklat
sampai hitam:
a. Pada rentang yang terbatas, melanin melindungi kulit dari sinar
ultraviolet matahari yang merusak. Peningkatan produksi melanin
berlangsung jika terpajan sinar matahari’
b. Jumlah melanosit (sekitar 1000/mm2 sampai 2000/mm2) tidak
bervariasi antar ras, tetapi perbedaan genetik dalam besarnya
jumlah produksi melanin dan pemecahan pigmen yang lebih
melebar mengakibatkan perbedaan ras;
c. Puting susu, areola dan area sirkumanal, skrotum, penis dan labia
mayora, adalah area tempat terjadinya pigmentasi yang besar,
sedangkan telapak tangan dan telapak kaki mengandung sedikit
pigmen.
2. Darah dalam pembuluh dermal di bawah lapisan epidermis dapat
terlihat dari permukaan dan menghasilkan pewarnaan merah muda.
Ini lebih jelas terlihat pada kulit orang kulit putih.
3. Keberadaan dan jumlah pigmen kuning, karotin hanya ditemukan
pada stratum korneum, dan dalam sel lemak dermis dan hipodermis
yang menyebabkan beberapa perbedaan pada pewarnaan kulit.
14.3 Struktur Aksesoris Kulit
Derivat kulit berasal dari epidermis, terdiri dari kelenjar sudorifera, kelompok
sebasea, rambut dan folikel rambut serta kuku. Rambut dan folikel rambut
serta kuku merupakan aksesoris dari kulit (Sherwood, 2018).
Bab 14 Anatomi dan Fisiologi Sistem Integument 255
Rambut dan Folikel Rambut
Rambut terdiri dari batang yang terletak di atas permukaan kulit dan akar
rambut yang terletak di dalam kulit. Folikel rambut merupakan jaringan yang
meliputi akar rambut.
Rambut terdiri dari medula yang terdiri dari keratin lunak dan kortex serta
kutikula yang terdiri dari keratin keras:
1. Medula merupakan bagian tengah rambut, terdiri dari sel-sel yang
mengalami keratinisasi. Sel-selnya terpisah satu sama lain, dan antara
sel-sel kadang-kadang terdapat udara/cairan. Bagian ini tak terdapat
pada rambut tipis/halus.
2. Kortex merupakan bagian terbesar dari rambut, terdiri dari sel-sel
berbentuk runcing, yang mengalami keratinisasi dan banyak
mengandung pigmen.
3. Kutikula merupakan membran tipis, terdiri dari sel-sel pipih/gepeng
yang mengalami keratinisasi, transparan.
Folikel rambut terdiri dari komponen dermis dan epidermis. Pada dasarnya
folikel rambut bagian dermis terlihat menonjol, disebut papila yang terdiri dari:
jaringan ikat, pembuluh darah dan sel-sel saraf. Bagian luar papila diliputi sel-
sel epitel yang disebut germinal matri, dan ujung folikel rambut tampak
membesar. Sel-sel germinal matrik (puncak papila) berproliferasi membentuk
rambut yang dapat tumbuh terus.
Gambar 14.2: Struktur Rambut (Sloane, 2004)
256 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Bagian sentral germinal matrik membentuk bagian medula rambut dan kortex.
Bagian perifer membentuk selubung akar rambut yaitu selubung akar dalam
dan selubung akar luar. Selubung akar dalam hanya pada bagian bawah folikel,
terdiri dari 3 lapisan yaitu lapisan kutikula merupakan lapisan dalam, dekat
kutikula dari kortek rambut terdiri dari sel-sel pipih. Lapisan husley,
merupakan lapisan tengah dan lapisan henle yaitu lapisan luar, terdiri dari satu
lapis sel yang seluruhnya mengalami keratinisasi.
Kuku
Kuku tersusun atas protein yang mengeras disebut keratin. Fungsinya sebagai
pelindung ujung jari tangan dan jari kaki. Lempeng kuku berbentuk empat
persegi panjang, keras, cembung ke arah lateral dan dorsal, transparan, dan
terletak di dorsal paling distal. Lempeng kuku terbentuk dari bahan tanduk
yang tumbuh ke arah dorsal untuk waktu yang tidak terbatas. Kecepatan
tumbuh kuku jari tangan yaitu lebih kurang 0,1 mm/ hari, sedangkan kuku jari
kaki 1/3-1/2 kecepatan kuku jari tangan. Tebal kuku tangan bervariasi 0,5-
0,75mm, dan pada kaki dapat mencapai 1,0 mm.
Lempeng kuku terdiri dari tiga lapisan horizontal yang masing-masing adalah
sebagai berikut:
1. Lapisan dorsal tipis yang dibentuk oleh matriks bagian proksimal
(1/3 bagian).
2. Lapisan intermediet yang dibentuk oleh matriks bagian distal (2/3
bagian).
3. Lapisan ventral yang dibentuk oleh lapisan tanduk dasar kuku dan
hiponikium yang mengandung keratin lunak.
Lunula atau bulan sabit terletak di proksimal lempeng kuku. Lunula
merupakan ujung akhir matriks kuku. Warna putih lunula disebabkan epitel
yang lebih tebal dari epitel kasar kuku dan kurang melekatnya epitel di
bawahnya sehingga transmisi warna pembuluh darah kurang dipancarkan.
Daerah di bawah lempeng kuku disebut hiponikium.
Alur kuku dan lipat kuku merupakan batas dan pelindung kuku. Lipat kuku
proksimal merupakan perluasan epidermis, bersama kuku yang melindungi
matriks kuku. Produk akhirnya adalah kutikel. Pada matriks kuku terdapat sel
melanosit. Bagian-bagian kuku adalah sebagai berikut:
Bab 14 Anatomi dan Fisiologi Sistem Integument 257
Matriks kuku, merupakan pembentuk jaringan kuku yang baru.
1. Dinding kuku (nail wall),merupakan lipatan-lipatan kulit yang
menutupi bagian pinggir dan atas.
2. Dasar kuku (nail bed), merupakan bagian kulit yang ditutupi kuku.
3. Alur kuku (nail groove), merupakan celah antara dinding dan dasar
kuku.
4. Akar kuku (nail root), merupakan bagian tengah kuku yang
dikelilingi dinding kuku.
5. Lempeng kuku (nail plate), merupakan bagian tengah kuku yang
dikelilingi dinding kuku.
6. Lunula, merupakan bagian lempeng kuku berwarna putih dekat akar
kuku berbentuk bulan sabit, sering tertutup oleh kulit
7. Eponikium, merupakan dinding kuku bagian proksimal, kulit arinya
menutupi bagian permukaan lempeng kuku.
8. Hiponikium, merupakan dasar kuku, kulit ari di bawah kuku yang
bebas (free edge) menebal.
Gambar 14.3: Struktur Kuku (Sherwood, 2004)
258 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Bab 15
Anatomi dan Fisiologi Sistem
Pencernaan
15.1 Pendahuluan
Nutrisi merupakan sumber energi yang sangat dibutuhkan tubuh dalam
membantu proses sintesis dan metabolisme tubuh (Smith dan Morton, 2010).
Nutrisi diperoleh melalui makanan yang dikonsumsi dan/atau dimasukkan ke
dalam tubuh yang selanjutnya akan diolah sehingga dapat diserap dan
digunakan oleh tubuh (Smith dan Morton, 2010; White et al, 2013). Proses
pengolahan dan penyerapan makanan dalam tubuh dilakukan oleh organ
sistem pencernaan atau yang biasa disebut sebagai organ sistem
gastrointestinal atau alimentary system (White et al, 2013).
Proses pencernaan makanan dimulai dari rongga mulut yang berlanjut ke
lambung dan usus halus (dimana proses absorpsi nutrisi banyak terjadi), lalu
masuk ke usus besar dimana mayoritas air direabsorpsi lalu material yang tidak
dicerna dalam tubuh akan dieliminasi dari usus besar melalui anus (William
dan Hopper, 2015). Proses sistem pencernaan yang sehat atau normal sangat
dibutuhkan untuk menjaga homestasis tubuh dalam upaya mempertahankan
fungsi normalitas sistem kerja organ tubuh secara umum (Widmaier et al,
2019).
260 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
15.2 Anatomi dan Fisiologi Sistem
Pencernaan
Sistem pencernaan merupakan sebuah saluran dengan panjang 7-7,9 meter
(23-26 kaki) yang memanjang dari mulut sampai ke esofagus berlanjut ke
lambung, usus halus dan besar, rektum sampai ke anus serta beberapa organ
aksesoris (kelenjar saliva, hepar, kantung empedu dan pankreas) (lihat Gambar
15,1) (Hinkle dan Cheever, 2018).
Gambar 15.1: Organ Sistem Pencernaan dan Organ Aksesoris (Widmaier et
al, 2019).
Sistem pencernaan umumnya berfungsi untuk (Hinkle dan Cheever, 2018):
1. Memecah partikel makanan menjadi molekuler kecil sehingga mudah
dicerna.
2. Mengabsorpsi molekul nutrisi yang kecil hasil proses pencernaan ke
dalam pembuluh darah atau limfa lalu ditransfer ke seluruh sel tubuh.
3. Mengeliminasi bahan makanan yang tidak dicerna atau material lain
yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.
15.2.1 Rongga Mulut dan Faring
Rongga mulut merupakan jalur bagi makanan untuk masuk ke dalam mulut
(Scanlon dan Sanders, 2015). Mulut dibatasi oleh berbagai organ aksesoris
dimana pada bagian atas dibatasi oleh palatum durum (keras) dan palatum
mole (lunak), bagian samping dibatasi oleh leher dan bagian depan oleh bibir,
Bab 15 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan 261
dengan bagian dalam terdiri dari gigi, lidah dan kelenjar saliva (William dan
Hopper, 2015).
Gigi terdiri dari dua jenis yakni gigi primer (desiduous) yang mulai terbentuk
saat janin berusia 14 minggu dalam uterus dan gigi permanen (sucedaneous)
yang mulai tumbuh pada usia 6 tahun (orang dewasa memiliki 32 gigi
permanen) (Nelson, 2015). Struktur gigi terdiri dari mahkota yang terletak di
atas gusi, leher dan akar gigi yang terletak di dalam kantung mandibula atau
maksilaris (lihat Gambar 15.2) (Scanlon dan Sanders, 2015).
Gambar 15.2: Struktur Gigi (Scanlon & Sanders, 2015)
Gigi tersusun dari empat jaringan yakni enamel, dentin, sementum dan rongga
pulpa (Phulari, 2014). Enamel merupakan lapisan terluar gigi yang berfungsi
untuk melindungi mahkota gigi (Scanlon dan Sanders, 2015). Enamel terbuat
dari sel ameloblas yang memiliki permukaan yang keras dan merupakan
bagian gigi yang paling terakhir mengalami proses pembusukan jika
dibandingkan dengan bagian gigi yang lain (Scanlon dan Sanders, 2015).
Enamel terdiri dari 95% kalsium hidroksiapatite dan 5% air serta enamel
matriks (Scheid dan Weiss, 2012).
Dentin merupakan suatu jaringan keras berwarna kekuningan terletak di bawah
enamel dan sementum (Scheid dan Weiss, 2012). Dentin berkembang dari
papila dental (mesoderm) yang dibentuk oleh sel odontoblast (Scanlon dan
Sanders, 2015). Dentin terdiri dari 70% kalsium hidroxypati, 18% serat
kolagen dan 12% air yang membuat dentin lebih keras dibandingkan
sementum dan lebih lembut dibandingkan enamel (Scheid dan Weiss, 2012).
Dentin berperan dalam membentuk akar gigi (Phulari, 2014).
262 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Sementum merupakan lapisan terluar akar gigi yang berwarna kuning kusam
(Scheid dan Weiss, 2012). Sementum berkembang dari kantong dental
(mesodermal) yang dibentuk oleh sel sementoblas dengan fungsi melindungi
akar gigi dan merekat pada membran periodontal yang bertugas untuk
menopang gigi (Phulari, 2014). Sementum terdiri dari 65% kalsium
hidroksiapatite, 35% serat kolagen dan 12% air (Scheid dan & Weiss, 2012).
Rongga pulpa merupakan bagian terdalam gigi yang mengandung pembuluh
darah dan ujung-ujung saraf dari saraf trigeminal (Scanlon dan Sanders, 2015).
Rongga pulpa berkembang dari papila dental (mesoderma) dan berfungsi
untuk formatif (membantu proses pembentukan dentin), sensori
(menyampaikan rasa nyeri), menutrisi dan pertahanan dengan mereparasi
dentin saat terjadi luka atau pembusukan gigi (Scheid dan Weiss, 2012).
Fungsi gigi. Gigi berfungsi untuk mengunyah makanan yang masuk ke dalam
mulut (Scanlon dan Sanders, 2015). Mengunyah merupakan proses
pencernaan mekanik dimana makanan dipecah menjadi partikel kecil yang
dapat ditelan dan dicampur dengan enzim pencernaan (Hinkle dan Cheever,
2018). Enzim pencernaan yang berperan dalam proses mengunyah yakni
enzim ptyalin (amilase saliva) yang berperan dalam proses penghancuran
makanan secara kimiawi dengan mengubah molekul pati menjadi molekul
rantai glukosa (maltosa) (Scanlon dan Sanders, 2015).
Kelenjar saliva terdiri dari tiga bagian yakni kelenjar parotis yang terletak di
bagian bawah dan depan telinga, kelenjar submandibular (atau submaksilaris)
yang terletak pada sudut posterior mandibula dan kelenjar sublingual yang
terletak di bawah mulut (Scanlon dan Sanders, 2015) (lihat Gambar 15.3).
Gambar 15.3: Kelenjar Saliva (Scanlon dan Sanders, 2015).
Bab 15 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan 263
Kelenjar saliva menyekresi saliva 1,5L setiap hari (Hinkle dan Cheever, 2018).
Makan atau melihat, mencium atau mencicipi makanan menimbulkan respons
parasimpatis yang akan merangsang saraf fasial dan glosofaringeal untuk
meningkatkan sekresi saliva (White et al, 2013). Saliva merupakan sekresi
pertama yang kontak dengan makanan berbentuk cairan yang berfungsi untuk
melumasi makanan agar mudah ditelan dan menimbulkan cita rasa makanan
(William dan & Hopper, 2015). Cita rasa makanan tidak hanya dirasakan oleh
saliva, namun juga dapat dirasakan oleh lidah (Scanlon dan Sanders, 2015).
Lidah terbuat dari otot tulang yang dipersarafi oleh saraf hipoglossus (saraf
kranila yang ke 12) dimana pada bagian permukaan lidah terdapat papila yang
mengandung indra pengecap (William dan Hopper, 2015). Lidah berfungsi
mempertahankan makanan tetap berada antara gigi dan mencampur makanan
dengan kelenjar saliva yang selanjutnya akan mengubah makanan dalam
bentuk sediaan bolus (White et al, 2013). Bolus selanjutnya ditransfer ke
dalam faring melalui proses menelan yang ditandai dengan elevasi lidah
(Scanlon dan Sanders, 2015).
Faring merupakan saluran otot yang menghubungkan rongga mulut dengan
esofagus (William dan Hopper, 2015). Faring mempunya fungsi ganda yakni
sebagai jalan pernapasan ke laring dan sebagai jalur makanan (bolus) ke
esofagus (Scanlon dan Sanders, 2015).
Makanan (bolus) yang didorong secara posterior oleh lidah ke faring akan
membuat otot faring berkontraksi dengan mengaktifkan reseptor sensori yang
akan menstimulasi refleks menelan (Scanlon dan Sanders, 2015). Refleks
menelan merupakan aktivitas volunter yang diatur oleh pusat menelan di
medula oblongata pada sistem saraf pusat (Hinkle dan Cheever, 2018).
Refleks menelan membuat uvula dan palatum mole menutup nasofaring,
membuat esofagus menutup laring untuk mencegah makanan masuk ke dalam
trakea, dan dengan rangsangan gerakan peristalsis dari otot esofagus
mendorong makanan masuk ke dalam esofagus (William dan Hopper, 2015;
White et al, 2013).
15.2.2 Esofagus
Esofagus merupakan saluran dengan panjang kurang lebih 25cm (10 inci),
terletak di bagian mediastinum rongga torakal, anterior terhadap tulang
punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung (Hinkle dan Cheever,
2018). Esofagus memiliki dua sfingter, yakni sfingter bagian atas (berupa otot
264 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
sirkuler) yang berfungsi mencegah makanan refluks (bergerak ke belakang)
kembali ke tenggorokan dan sfingter bagian bawah (berupa otot sirkuler) atau
sfingter kardiak yang berfungsi mencegah makanan kembali dari lambung ke
esofagus (Potter et al, 2021; Scanlon dan Sanders, 2015).
Esofagus berfungsi menyalurkan makanan dari faring ke dalam lambung
melalui gerakan peristalsis yang timbul akibat kontraksi dinding otot halus
esofagus (William dan Hopper, 2015). Gerakan peristalsis mendorong
makanan masuk ke dalam lambung dan disaat yang bersamaan, sfingter
esofagus bawah dalam keadaan rileks akan membuka jalan bagi makanan
untuk masuk ke dalam lambung dan sebaliknya saat berkontraksi akan
mencegah makanan kembali dari lambung ke esofagus (Potter et al, 2021).
Sfingter esofagus bawah yang tidak tertutup dengan sempurna memungkinkan
gas dalam lambung akan naik ke esofagus yang akan menimbulkan rasa nyeri
seperti terbakar dan kondisi ini disebut sebagai penyakit refleks
gastroesofageal ”gastroesophageal reflux disease (GERD)” (Scanlon dan
Sanders, 2015).
15.2.3 Lambung
Lambung merupakan sebuah kantong yang dapat berdistensi dengan kapasitas
1500 mL (Hinkle dan Cheever, 2018). Lambung terletak di bagian kiri atas
abdomen, tepat di bawah hepar dan diafragma sebelah kiri serta menutupi
sebagian besar pankreas (White et al, 2013).
Lambung terdiri dari empat region (lihat Gambar 15.4) yakni kardia (jalan
masuk makanan ke dalam lambung), fundus (bagian atas lambung yang
melengkung), badan (bagian terbesar dan terletak di tengah lambung, dengan
bagian lateral dibatasi oleh lengkungan besar ”greater curvature” dan bagian
medial oleh lengkungan kecil ”lesser curvature”) dan pilorus (jalan keluar
makanan dari dalam lambung) yang berada dekat dengan duodenum (bagian
usus halus) (William dan Hopper, 2015).
Otot halus sirkuler di dinding pilorus membentuk sfingter pilorik yang
mengontrol jalan masuk antara lambung dan usus halus (Hinkle dan Cheever,
2018).
Bab 15 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan 265
Gambar 15.4: Bagian-Bagian Lambung (William dan Hopper, 2015).
Lambung berfungsi menampung makanan dan memecah makanan secara
mekanis dan kimiawi sehingga dapat dicerna dan diabsorpsi dalam bentuk
kimus (makanan dengan bentuk semicair) (Hinkle dan Cheever, 2018). Kimus
selanjutnya disalurkan ke dalam usus halus dengan gerakan peristaltik (Potter
et al, 2021).
Kimus tidak akan melewati usus halus sampai kimus berukuran kurang dari
1mm atau sama dengan 1 mm (White et al, 2013). Saat kimus mencapai
ukuran yang sesuai, sfingter pilorik akan relaksasi membuat kimus masuk ke
dalam usus halus, lalu setelah makanan berada dalam usus halus sfingter
pilorik akan berkontraksi untuk mencegah refluks makanan masuk ke dalam
lambung (Scanlon dan Sanders, 2015).
Lambung atau lebih tepatnya kelenjar lambung mengandung beberapa jenis sel
yang berfungsi mensekresikan cairan lambung (Scanlon dan Sanders, 2015).
Lambung mensekresikan cairan lambung sebanyak 2,4L per hari (Hinkle dan
Cheever, 2018). Cairan lambung disekresikan saat individu melihat atau
mencium makanan atau saat makanan berada di dalam lambung yang akan
merangsang sel G (enteroendokrin) untuk mensekresi hormon gastrin yang
akan meningkatkan sekresi jumlah cairan lambung (William dan Hopper,
2015).
Cairan lambung mengandung air, mukus, asam hidroklorida (HCL), lipase
lambung, pepsinogen (bentuk non aktif enzim pepsin) dan faktor intrinsik
(White et al, 2013). Mukus (disekresi oleh sel mukus lambung) berfungsi
melindungi lambung dan mencegah erosi dari serangan asam hidroklorida
(Scanlon dan Sanders, 2015).
266 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Asam hidroklorida (disekresi oleh sel parietal) membuat lingkungan lambung
menjadi asam (pH 1-2) yang dibutuhkan untuk membunuh mikroorganisme
yang masuk ke dalam lambung dan mengubah pepsinogen (disekresi oleh sel
chief) menjadi pepsin (Hinkle dan Cheever, 2018). Pepsin merupakan enzim
yang penting dalam mencerna protein (Potter et al, 2021).
Lipase lambung juga merupakan bagian dari cairan lambung yang berfungsi
membantu lambung dalam menyerap trigliserida (White et al, 2013). Faktor
intrinsik adalah komponen penting yang dibutuhkan untuk absorpsi vitamin
B12 di dalam usus, jika faktor intrinsik tidak ada dapat membuat individu
mengalami anemia pernisiosa (Hinkle dan Cheever, 2018).
15.2.3 Usus Halus
Usus halus merupakan bagian saluran sistem pencernaan yang paling panjang
dengan panjang sekitar dua pertiga (6m atau 20 kaki) dari total panjang sistem
pencernaan dengan diameter 2,5cm (1 inci) (Taylor et al, 2015). Usus halus
membalik dan melipat diri yang memungkinkan sekitar 70m (230 kaki) area
permukaan usus halus melakukan proses sekresi dan absorpsi (Hinkle dan
Cheever, 2018).
Usus halus terdiri dari tiga bagian yakni bagian proksimal (duodenum dengan
panjang 25cm (10 inci), bagian medial (jejunum dengan panjang 8 kaki) dan
bagian distal (ileum dengan panjang 11 kaki) (Widmaier et al, 2019).
Duodenum bertanggung jawab mengabsorpsi kalsium dan besi yang berfungsi
untuk menetralisir asam kimus, jejenum bertanggung jawab mengabsorpsi
lemak, protein dan karbohidrat, sementara ileum bertanggung jawab
mengabsorpsi vitamin B12 dan garam empedu (White et al, 2013).
Akhir bagian ileum terdapat katup ileosekal yang berfungsi mencegah refluks
bakteri ke dalam usus halus dan mengontrol makanan yang masuk dari ileum
ke sekum (bagian usus besar) (Hinkle dan Cheever, 2018). Pada sekum
terdapat appendiks veriformis, suatu saluran buntu kecil dengan kelenjar
limfatik yang melimpah namun tidak memiliki fungsi fisiologis (Scanlon dan
Sanders, 2015).
Usus halus memiliki dua fungsi yakni mencerna makanan dan menyerap
nutrisi dari kimus yang akan dimasukkan ke dalam sistem sirkuler (White et al,
2013). Kimus yang berada dalam usus halus (selama 3-6 jam) akan
merangsang kontraksi yang terjadi secara teratur yakni kontraksi segmentasi
dan peristaltik usus (Hinkle dan Cheever, 2018).
Bab 15 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan 267
Kontraksi segmentasi menghasilkan campuran gelombang yang
menggerakkan isi usus ke belakang dan ke depan dalam gerakan mengaduk,
sementara peristaltik usus mendorong isi usus halus (kimus) ke arah usus besar
(Honan, 2019). Kimus yang masuk atau melewati usus besar berjumlah 1,500
mL per hari, dimana sekitar 100mL diekskresikan dalam bentuk feses dan
100mL direabsorpsi di setengah bagian proksimal usus besar (Berman et al,
2016).
Kimus yang berada di usus halus merupakan materi semicair yang bercampur
dengan enzim pencernaan (Potter et al, 2021). Enzim pencernaan dalam usus
halus berasal dari sekresi organ pankreas, hepar, kantung empedu dan kelenjar
dinding usus (Hinkle dan Cheever, 2018).
Pankreas menyekresi pH alkalin yang memiliki konsentrasi bikarbonat tinggi
yang berfungsi untuk menetralisir asam lambung yang masuk ke dalam
duodenum (Honan, 2019). Pankreas juga menyekresi enzim pencernaan yakni
tripsin (membantu dalam proses pencernaan protein dan mengubah polipeptida
menjadi peptida), amilase (membantu zat pati menjadi maltosa) dan lipase
(mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol) (William dan Hopper,
2015). Enzim dari pankreas masuk ke dalam duodenum melalui vater ampula
atau ampula hepatopankreatis (White et al, 2013).
Hepar mensekresi empedu yang berfungsi untuk mengelmusi lemak sehingga
lemak mudah dicerna dan diabsoprsi (Hinkle dan Cheever, 2018). Empedu
dari hepar masuk ke dalam duodenum melalui vater ampula atau ampula
hepatopankreatis dengan kontrol sfingter oddi (White et al, 2013).
Kantong empedu berfungsi menyimpan empedu yang disekresikan oleh hepar
(Hinkle dan Cheever, 2018). Sfingter oddi (jaringan otot yang terletak antara
duktus empedu komunis dan duodenum) berfungsi mengontrol laju empedu
yang masuk ke dalam duodenum; jika sfingter oddi tertutup maka empedu
akan masuk kembali ke duktus empedu komunis dan duktus sistikus lalu ke
kantong empedu (Honan, 2019).
Kelenjar dinding usus halus menyekresi mukus yang menyelimuti sel dan
melindungi mukosa usus halus dari serangan asam hidroklorida (Hinkle dan
Cheever, 2018). Aktivitas perlindungan terhadap serangan asam hidroklorida
juga dilakukan oleh kimus yang masuk ke dalam duodenum dimana kimus
akan merangsang sel S pada mukosa duodenal dan jejunal untuk mensekresi
hormon sekretin yang akan menurunkan motilitas lambung dan menghentikan
produksi asam hidroklorik (White et al, 2013).
268 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Mukosa usus halus pada kelenjar dinding halus tidak hanya memproduksi
mukus, namun juga memproduksi beberapa enzim yakni enzim sukrosa,
maltosa dan laktosa yang membantu proses pencernaan disakarida menjadi
monosakarida, enzim peptida yang membantu proses pencernaan protein
menjadi asam amino, dan enzim nukleosida dan fosfat yang membantu proses
pencernaan nukleotida (William dan Hopper, 2015).
Hormon, neuregulator dan regulator lokal yang juga ditemukan dalam sekresi
kelenjar usus berfungsi mengatur laju sekresi usus dan memengaruhi motilitas
gastrointestinal (Hinkle dan Cheever, 2018). Total sekresi usus halus yang
diproduksi setiap hari yakni getah pankreas (1L per hari), empedu (0,5 L per
hari), dan 3L per hari sekresi dari kelenjar usus halus (Honan, 2019). Tabel
15.1 memberikan informasi tentang enzim pencernaan dan zat regulator
gastrointestinal.
Tabel 15.1: Zat Pengatur Gastrointestinal Utama (Hinkle dan Cheever, 2018)
Stimulus Untuk Efek Pada
Zat Jaringan Target Efek Pada Motilitas
Produksi Sekresi
Neuroregulator
Asetilkolin Melihat, Kelenjar lambung, Peningkatan Secara umum
emncium, kelejar sekretoris, asam lambung meningkatkan;
menelan makan, lambung dan otot menurunkan tonus
distensi lambung instestinal sfingter
Norepinefrin Stres, berbagai Kelenjar Secara umum Secara umum
ransangan lain sekretoris, menghambat meningkatkan;
lambung dan otot menurunkan tonus
intestinal sfingter
Hormon regulator
Gastrin Distensi lambung Kelenjar lambung Meningkatkan Meningkatkan
dengan makanan sekresi getah motilitas lambung,
lambung menurunkan waktu
(HCl) yang diperlukan
untuk
mengosongkan
lambung
Relaksasi sfingter
ileosekal
Eksitasi kolon
Konstriksi sfigter
gastroesofageal
Colisitokoin Lemak di Kantong empedu, Melepaskan Memperlambat
duodenum pankreas, empedu ke pengosongan
lambung dalam lambung
duodenum,
meningkatkan
Bab 15 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan 269
Stimulus Untuk Efek Pada
Zat Jaringan Target Efek Pada Motilitas
Produksi Sekresi
produksi
sekresi
pankreas yang
kaya enzim,
menghambat
sekresi
lambung
Sekretin pH kimus dalam Lambung, Menghambat Menghambat
duodenum di pankreas sekresi ontraksi lambung
bawah 4-5 lambung,
meningkatkan
produksi getah
pankreas yang
kaya
bikarbonat
Regulator lokal
Histamin Tidak jelas, zat Kelenjar lambung Meningkatkan Meningkatkan
dalam makanan produksi asam peristalsis usus
lambung
15.2.3 Usus Besar
Usus besar atau yang biasa disebut sebagai kolon memanjang dari ileum
(bagian usus halus) sampai ke anus dengan panjang sekitar 1,5m (5 kaki) dan
diameter 6,3cm (2,5 inci) (Scanlon dan Sanders, 2015). Usus besar terdiri dari
beberapa segmen yakni segmen asenden pada sisi kanan abdomen, segmen
transversum yang memanjang dari sisi kanan ke sisi kiri atas abdomen, dan
segmen desending pada sisi kiri abdomen, sementara kolon sigmoid, rektum
dan anus merupakan bagian terminal dari usus besar (lihat Gambar 15.5)
(Hinkle dan Cheever, 2018).
Kolon sigmoid mengandung feses (produk buangan yang solid yang telah
mencapai bagian distal kolon dan siap untuk diekskresikan) (Taylor et al,
2015). Feses mengandung selulosa dan material lain yang tidak dibutuhkan
tubuh, bakteri aerob dan anaerob serta air (Scanlon dan Sanders, 2015). Feses
akan dipindahkan dengan gerakan peristalsis dari kolon ke rektum (White et al,
2013).
Rektum memiliki ukuran dengan panjang 12cm (5 inci) yang terdiri dari tiga
lipatan jaringan transversal yang berfungsi untuk mempertahankan feses dalam
rektum untuk sementara waktu dan lipatan jaringan vertikal yang mengandung
pembuluh darah arteri dan vena (jika pembuluh darah vena mengalami distensi
270 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
secara abnormal, maka individu akan mengalami hemoroid) (Taylor et al,
2015). Rektum umumnya dalam kondisi normal tidak berisi feses kecuali
sesaat sebelum dan sesudah defekasi (Scanlon dan Sanders, 2015). Feses yang
berada di rektum akan diekskresikan melalui kanal anus (Taylor et al, 2015).
Gambar 15.5: Bagian-bagian Usus Besar (Scanlon dan Sanders, 2015)
Kanal anus berukuran panjang 2,5-5cm (1-2 inci) yang berakhir di anus serta
dikelilingi oleh otot sfingter internal dan eksternal (lihat gambar 15.6) (Berman
et al, 2016). Otot sfingter internal adalah otot polos yang dipersarafi oleh
sistem saraf otonom yang bekerja secara involunter, sementara sfingter
eksterna adalah otot yang dipersarafi oleh sistem saraf somatik yang bekerja
secara sadar atau dapat dikontrol (Taylor et al, 2015).
Gambar 15.6: Sfingter Internal dan Eksternal (Scanlon dan Sanders, 2015)
Usus besar berfungsi untuk menyimpan makanan sementara sebelum
dikeluarkan dari tubuh dan mengeliminasi material yang tidak lagi dibutuhkan
oleh tubuh berupa flatus (gas yang dihasilkan oleh proses pencernaan
karbohidrat) dan feses (Berman et al, 2016). Eliminasi feses terjadi melalui
Bab 15 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan 271
refleks defikasi, suatu refleks spinal yang dikontrol secara volunter dan
involunter (William dan Hopper, 2015).
Feses yang terkumpul di dalam rektum membuat dinding rektum distensi,
menyebabkan lapisan otot dinding rektum mengirimkan impuls ke spinal yang
akan merangsang sfingter internal anal relaksasi yang memungkinkan lebih
banyak feses memasuki rektum (Scanlon dan Sanders, 2015). Pada saat yang
bersamaan, impuls bergerak ke otak untuk menciptakan kesadaran bahwa
individu perlu melakukan defekasi (Potter et al, 2021).
Saat proses defekasi terjadi, sfingter anal eksternal juga mengalami relaksasi,
otot abdomen berkontraksi, diafragma berkontraksi dan menutup glotis yang
akan meningkatkan tekanan intraabdomen dan intrarektum yang akan
mendorong feses keluar (Taylor et al, 2015; Potter et al, 2021). Jika proses
defekasi ditunda, secara volunter (sadar) otot levator ani dan sfingter eksternal
anal akan berkontraksi untuk menutup anus dan keinginan defekasi akan
muncul kembali saat reseptor pada dinding rektum terstimulasi oleh gerakan
peristalsis yang mencapai dinding rektum (Scanlon dan Sanders, 2015).
Peristalsis yang terjadi secara cepat dapat membuat kolon tidak mampu
menyerap air dengan baik yang akan menyebabkan feses menjadi lebih cair,
sebaliknya gerakan peristaltik yang lemah atau lambat memungkinkan kolon
mereabsorpsi air secara terus menerus yang dapat mengakibatkan feses
menjadi keras dan menyebabkan konstipasi (Potter et al, 2021). Gerakan
peristaltik umumnya terjadi 3-4 kali dalam sehari, berbeda dengan gerakan
peristaltik yang sering timbul di usus halus (Taylor et al, 2015). Setiap gerakan
peristaltik pada usus halus akan membuat katup ileosekal akan terbuka secara
singkat dan memungkinkan sebagian isi dari usus halus masuk ke dalam usus
besar (Hinkle dan Cheever, 2018).
Proses pencernaan tidak terjadi di usus besar sehingga mukosa usus besar
hanya mensekresi mukus yang berfungsi untuk melindungi dinding usus besar
dari trauma yan ditimbulkan oleh asam feses dan juga berfungsi sebagai
perekat yang merekatkan massa feses (Berman et al, 2016). Usus besar juga
mensekresi larutan elektrolit berupa cairan bikarbonat yang berfungsi
menetralisir produk akhir yang dihasilkan oleh aktivitas bakteri kolonik
(Hinkle dan Cheever, 2018).
272 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
15.2.4 Organ Aksesoris
Sistem pencernaan memiliki organ aksesoris yang membantu dalam proses
pencernaan makanan yakni organ pankreas, hepar dan kantung empedu
(Scanlon dan Sanders, 2015).
Pankreas memiliki panjang dengan ukuran 6 inci dan terletak di bagian
posterior lambung (William dan Hopper, 2015). Pankreas terbagi ke dalam
tiga bagian yakni kepala, badan dan ekor (lihat gambar 15.7) (Ignatavicius et
al, 2021). Kepala pankreas berdekatan dengan duodenum, badan dan ekor
pankreas terletak di belakang lambung dan membran periteneum, dengan
posisi ekor pankreas lebih dekat dengan limpa (Burke et al, 2014).
Pankreas memiliki fungsi endokrin dan eksokrin, dimana fungsi endokrin
dilakukan oleh pulau Langerhans untuk memproduksi glukagon dan sel beta
yang berfungsi memproduksi insulin (Ignatavicius et al, 2021); sementara
fungsi eksokrin dilakukan oleh kelenjar eksokrin pankreas yang disebut acini
(Scanlon dan Sanders, 2015).
Acini pankreas memproduksi tiga enzim utama pencernaan yang dibutuhkan
dalam proses pencernaan karbohidrat, lemak dan protein yakni enzim protease,
amilase dan lipase (Ignatavicius et al, 2021). Enzim protease (memecah
protein), enzim amilase (mengubah pati menjadi maltosa), dan enzim lipase
(mengubah lemak menjadi asam lemak dan monogliserida) (White et al,
2013).
Gambar 15.7: Anatomi Pankreas (William dan Hopper, 2015).
Enzim pencernaan dalam pankreas ditemukan dalam getah pankreas yang
disekresikan oleh pankreas 1-1,5L per hari, mengandung bikarbonat yang
Bab 15 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan 273
berfungsi untuk menetralisir asam kimus yang masuk ke dalam duodenum
(Burke et al, 2014).
Hepar
Hepar merupakan organ terbesar dalam tubuh yang terletak di sebelah sisi
kanan atas dan medial abdomen serta berada tepat di bawah diafragma
(William dan Hopper, 2015). Hepar memiliki berat sekitar 1,4 kg dengan berat
seukuran berat rata-rata orang dewasa (Burke et al, 2014). Hepar dibungkus
oleh kapsul fibroelastis (disebut kapsul glisson) yang mengandung pembuluh
darah, limfa dan saraf (Lemone et al, 2017).
Hepar memiliki dua lobus yakni lobus kanan dan lobus kiri, dimana lobus
kanan memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan lobus kiri (White et al,
2013). Lobus kanan dan kiri hepar dipisahkan oleh ligamen mesenterik
(LeMone et al, 2017). Setiap lobus mengandung banyak lobulus ”suatu unit
fungsional hepar” yang mengandung sel hepar (hepatosit) (Scanlon dan
Sanders, 2015). Setiap lobulus menerima darah yang kaya oksigen dari arteri
hepatikus dan darah yang kaya nutrisi dari vena portal (Burke et al, 2014).
Hepar berfungsi untuk metabolisme karbohidrat, asam amino dan lemak,
menyintesis protein plasma, memproduksi bilirubin, fagositosis oleh sel
kupffer, menyimpan vitamin A, D, E, K dan B12, detoksifikasi serta aktivasi
vitamin D (William dan Hopper, 2015). Fungsi hepar dalam metabolisme
protein sangat penting dikarenakan protein akan diubah menjadi asam amino
yang akan membuang amonia melalui urin dalam bentuk urea (Ignatavicius et
al, 2021).
Dalam sistem pencernaan, hepar (sel hepar) berfungsi memproduksi empedu
yang akan disalurkan ke duodenum melalui duktus hepatikus dan duktus
sistikus dengan kontrol sfingter oddi (Scanlon dan Sanders, 2015). Sel hepar
memproduksi 700-1200 mL empedu setiap hari (LeMone et al, 2017).
Empedu merupakan larutan cairan yang berwarna hijau mengandung garam
empedu, kolesterol, bilirubin, elektrolit, air dan fosfolipid (Burke et al, 2014).
Empedu berfungsi untuk membawa bilirubin dan kolestrol yang berlebih
dalam tubuh untuk diekskresikan melalui feses (White et al, 2013). Fungsi
pencernaan empedu secara lengkap dilakukan oleh garam empedu yang
berfungsi untuk mengemulsi (mengubah globulus lemak besar menjadi lebih
kecil) lemak dan meningkatkan absorpsi lemak pada usus halus (William dan
Hopper, 2015). Ketika empedu tidak digunakan dalam proses pencernaan,
274 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
sfingter oddi akan tertutup dan mengembalikan empedu ke kantong empedu
melalui duktus empedu komunis dan duktus sistikus (Burke et al, 2014).
Kantong Empedu
Kantong empedu merupakan kantong yang memiliki ukuran dengan panjang
7,5-10cm (3-4 inci), berada tepat di bawah lobus kanan hepar (Scanlon dan
Sanders, 2015). Kantong empedu berfungsi untuk menyimpan empedu yang
dihasilkan oleh hepar yang ditransferkan ke dalam kantong empedu melalui
duktus hepatikus dan sistikus (White et al, 2013).
Saat makanan berlemak masuk ke dalam duodenum, sel enteroendokrin pada
mukosa duodenum menyekresikan hormon kolisistokinin (William dan
Hopper, 2015). Hormon kolisistokinin merangsang kontraksi dinding otot
halus kantong empedu, membuat empedu masuk ke dalam duktus sistikus lalu
ke duktus empedu kominis dan masuk ke duodenum (lihat gambar 15.8)
(Scanlon dan Sanders, 2015).
Gambar 15.8: Kantung Empedu dan Pankreas (William dan Hopper, 2015)
Bab 16
Anatomi dan Fisiologi Sistem
Perkemihan
16.1 Pendahuluan
Apakah anda pernah membayangkan berapa banyak sampah sisa metabolisme
yang dihasilkan dalam tubuh manusia? Bagaimana sampah itu bisa
dikeluarkan dalam tubuh? dan apa yang terjadi jika sampah tersebut tidak
dikeluarkan dalam tubuh? serta siapa yang bertugas untuk mengeluarkan
sampah-sampah sisa metabolisme tersebut dari dalam tubuh? Jawabannya
adalah ada beberapa sistem yang Pencipta manusia sudah tempatkan dalam
tubuh yang bertugas untuk menyaring dan mengeluarkan sampah dari dalam
tubuh manusia, dan salah satu dari sistem tersebut adalah sistem perkemihan.
Sistem perkemihan yang terdiri dari dua buah ginjal, dua buah saluran ureter,
sebuah kandung kemih dan uretra memiliki peranan yang sangat penting
dalam tubuh manusia. Fungsi utama dari sistem perkemihan adalah
membuang sisa2 metabolisme melalui urine, menjaga keseimbangan cairan
dan elektrolite dalam tubuh, menghasilkan hormon dan menjaga
keseimbangan tekanan darah. Sistem perkemihan telah diciptakan Tuhan
sebagai penyaring yang super ajaib dalam tubuh manusia.
276 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Sistem perkemihan pada dasarnya adalah sistem yang mengatur dan
mempertahankan volume serta komposisi cairan tubuh melalui filtrasi darah
dan reabsorpsi selektif atau sekresi zat terlarut yang disaring. Mulai dari ginjal
sampai uretra dapat bekerja secara sistematis dan otomatis sesuai dengan
fungsi masing-masing, bahkan ketika sebagian besar fungsi sudah mengalami
gangguan, sistem perkemihan masih bisa menjaga keseimbangan cairan dan
elektrolite dalam memenuhi kebutuhan tubuh (Naylor, n.d.).
Tubuh mengambil nutrisi dari makanan dan mengubahnya menjadi energi.
Setelah tubuh mengambil komponen makanan yang dibutuhkannya, produk
limbah tertinggal di usus dan di dalam darah. Ginjal dan sistem perkemihan
membantu tubuh membuang limbah cair yang disebut urea, dan menjaga
keseimbangan bahan kimia, seperti kalium dan natrium, serta air. Urea
diproduksi ketika makanan yang mengandung protein, seperti daging, unggas,
dan sayuran tertentu, dipecah dalam tubuh. Urea dibawa dalam aliran darah ke
ginjal, di mana ia dikeluarkan bersama dengan air dan limbah lainnya dalam
bentuk urin (Johns Hopkins Medicine, 2022).
Kerusakan pada sistem perkemihan akan berakibat fatal bagi tubuh manusia.
Ada begitu banyak orang di seluruh dunia yang mengalami gangguan atau
bahkan kerusakan pada sistem perkemihan. 10% dari populasi di seluruh dunia
menderita penyakit gagal ginjal kronis (CKD), dan jutaan meninggal setiap
tahun karena mereka tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan.
Menurut studi Beban Penyakit Global (2010), penyakit ginjal kronis
menduduki peringkat ke-27 dalam daftar penyebab jumlah kematian di seluruh
dunia pada tahun 1990, tetapi naik ke urutan ke-18 pada tahun 2010. Tingkat
kenaikan daftar ini menempati urutan kedua setelah HIV dan AIDS. Lebih
lanjut dikatakan lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia saat ini menerima
pengobatan dengan dialisis atau transplantasi ginjal untuk tetap hidup, namun
jumlah ini mungkin hanya mewakili 10% dari orang yang benar-benar
membutuhkan pengobatan untuk hidup.
Dari 2 juta orang yang menerima pengobatan untuk gagal ginjal, mayoritas
hanya dirawat di lima negara – Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Brasil, dan
Italia. Kelima negara ini hanya mewakili 12% dari populasi dunia. Hanya 20%
yang dirawat di sekitar 100 negara berkembang yang membentuk lebih dari
50% populasi dunia. Lebih dari 80% dari semua pasien yang menerima
pengobatan untuk gagal ginjal berada di negara-negara makmur dengan akses
universal keperawatan kesehatan dan populasi lanjut usia yang besar (National
Kidney Foundation, 2015).
Bab 16 Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan 277
16.2 Anatomi dan Fisiologi Sistem
Perkemihan
Sistem perkemihan adalah gabungan beberapa organ perkemihan, antara lain;
a) ginjal, b) ureter, c) bladder dan d) uretra. Ginjal adalah organ retroperitoneal
(yaitu terletak di belakang peritoneum) yang terletak di dinding posterior
abdomen di setiap sisi kolumna vertebralis, kira-kira setinggi iga kedua belas.
Ginjal kiri sedikit lebih tinggi di perut dari pada kanan, karena adanya liver
yang mendorong ginjal kanan ke bawah. Ginjal mendapatkan suplai darah
langsung dari aorta melalui arteri ginjal; darah dikembalikan ke vena cava
inferior melalui vena ginjal.
Sistem ini membantu menghilangkan produk limbah seperti urea dari tubuh,
mengatur konsentrasi elektrolit, tekanan darah dan tingkat pH. Ginjal
memainkan peran sentral dalam produksi urin dan membuang produk limbah
dan racun dari darah melalui 3 mekanisme fisiologis utama: filtrasi
glomerulus, reabsorpsi selektif, dan sekresi tubulus. Ini terjadi di dalam nefron,
yang merupakan unit fungsional ginjal. Ginjal menghasilkan urin dengan
kecepatan hingga 1-1,5 ml/kg berat badan per jam, dan ketika semua racun dan
produk limbah telah disaring, urin melewati ureter ke kandung kemih di mana
ia disimpan. (Ekomaru, 2020).
Gambar 16.1: Anatomi Sistem Perkemihan
Urine dikeluarkan dari ginjal melewati ureter fibromuskular dan terkumpul di
kandung kemih. Otot kandung kemih (otot detrusor) mampu melakukan
278 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
distensi untuk menerima urin tanpa meningkatkan tekanan di dalam. Ini berarti
bahwa volume besar dapat dikumpulkan (700-1000 ml) tanpa terjadi
kerusakan tekanan tinggi pada sistem ginjal. Ketika urin dikeluarkan, spingter
uretra di dasar kandung kemih berelaksasi, detrusor berkontraksi, dan urin
dikeluarkan melalui uretra.
Setiap komponen dalam sistem perkemihan secara unik membantu aliran urin
dari diproduksi di nefron sampai keluar melalui ureter, kemudian ditampung di
kandung kemih kemudian dikeluarkan melalui saluran uretra ke meatus. Jika
salah satu komponen gagal berfungsi dengan benar, aliran urin dapat menjadi
sangat berkurang (kondisi yang dikenal sebagai stasis urin), sehingga dapat
meningkatkan risiko infeksi, khususnya infeksi saluran kemih (ISK) sampai
terjadinya gagal ginjal.
16.2.1 Anatomi dan Fisiologi Ginjal
Ginjal merupakan organ yang bentuknya menyerupai kacang tanah yang
terletak di belakang peritoneum di dinding posterior abdomen di setiap sisi
kolumna vertebralis, kira-kira setinggi iga kedua belas. Ginjal kiri sedikit lebih
tinggi dari ginjal kanan. Ginjal mengatur osmolaritas plasma dengan mengatur
jumlah air, zat terlarut, dan elektrolit dalam darah. Ini memastikan
keseimbangan asam-basa jangka panjang dan juga menghasilkan hormon
eritropoietin dalam jumlah cukup yang merangsang sum-sum tulang belakang
untuk memproduksi sel darah merah.
Selain itu, ginjal juga berfungsi menghasilkan renin yang diubah menjadi renin
angiotensin untuk pengaturan tekanan darah dan melakukan konversi vitamin
D menjadi bentuk aktifnya (Ogobuiro & Tuma, 2021). Fungsi ginjal yang
paling umum digunakan adalah laju filtrasi glomerulus (glomerular filtration
rate - GFR), yang merupakan volume ultrafiltrat primer yang disaring ke
dalam kapsul Bowman per unit waktu (AMBOSS, 2021)
Jika ginjal dibelah dua, ginjal memiliki bagian luar yang pucat yang disebut
korteks, dan bagian dalam yang lebih gelap yang disebut medula. Medula
dibagi menjadi 8-18 daerah berbentuk kerucut, yang disebut piramida ginjal;
dasar setiap piramida dimulai dari perbatasan kortikomedularis, dan
puncaknya berakhir di papila ginjal yang bergabung membentuk pelvis ginjal
dan kemudian membentuk ureter. Pelvis dan ureter dilapisi oleh otot polos
yang dapat berkontraksi untuk memaksa urin menuju kandung kemih dengan
peristalisis (Johns Hopkins Medicine, 2022).
Bab 16 Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan 279
Gambar 16.2: Anatomi Ginjal
Korteks dan medula terdiri dari nefron. Masing-masing ginjal terdiri dari
sekitar satu juta unit nefron yang berfungsi sebagai penyaring. Nefron
merupakan satuan fungsional terkecil dari ginjal. Secara umum nefron bekerja
melalui 2 proses yaitu: glomerulus yang bertugas untuk menyaring darah, serta
tubulus yang mengembalikan zat yang dibutuhkan ke darah dan membuang
limbah (National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases,
2018), atau dengan perkataan lain nefron bertanggung jawab untuk ultrafiltrasi
darah dan reabsorpsi atau ekskresi produk dalam filtrat berikutnya.
Setiap nefron terdiri dari glomerulus, tubulus, lingkaran henle dan kapsul
bowman:
1. Unit penyaringan yang disebut glomerulus
Dinding tipis glomerulus memungkinkan molekul, limbah, dan cairan
yang lebih kecil (kebanyakan air) masuk ke dalam tubulus.
Sementara molekul yang lebih besar, seperti protein dan sel darah,
tetap berada di pembuluh darah. Kecepatan laju filtrasi glomerulus
(Glomerulus filtration rate) yang normal adalah 125ml/menit.
2. Tubulus proksimal
Pembuluh darah mengalir di sepanjang tubulus. Saat cairan yang
disaring bergerak di sepanjang tubulus, pembuluh darah menyerap
kembali hampir semua air, bersama dengan mineral dan nutrisi yang
dibutuhkan tubuh seperti glukosa, natrium, dan zat terlarut lainnya.
280 Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia
Tubulus membantu menghilangkan kelebihan asam dari darah.
Cairan dan limbah yang tersisa di tubulus menjadi urin.
3. Lingkaran Henle
Wilayah ini bertanggung jawab untuk konsentrasi dan pengenceran
urin dengan memanfaatkan mekanisme penggandaan arus berlawanan
- pada dasarnya, tidak dapat ditembus air tetapi dapat memompa
natrium keluar, yang pada gilirannya memengaruhi osmolaritas
jaringan di sekitarnya dan akan memengaruhi pergerakan air
selanjutnya. masuk atau keluar dari saluran pengumpul yang
permeabel terhadap air.
Gambar 16.3: Anatomi Nefron
4. Tubulus kontortus distal
Daerah ini bertanggung jawab, bersama dengan saluran pengumpul
yang bergabung, untuk menyerap air kembali ke dalam tubuh -
matematika sederhana akan memberitahu Anda bahwa ginjal tidak
menghasilkan 125ml urin setiap menit. 99% air secara normal
direabsorbsi, meninggalkan urin yang sangat pekat mengalir ke
duktus kolektivus dan kemudian ke pelvis ginjal (Naylor, n.d;
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases,
2018).
5. Kapsul Bowman adalah bagian dari nefron yang membentuk kantong
seperti cangkir yang mengelilingi glomerulus. Kapsul Bowman
Bab 16 Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan 281
membungkus ruang yang disebut "ruang Bowman," yang mewakili
awal ruang kemih dan berbatasan dengan tubulus proksimal nefron.
Kapsul Bowman, ruang Bowman, dan jaringan kapiler glomerulus
serta arsitektur pendukungnya secara kolektif dapat dianggap sebagai
penyusun glomerulus (Falkson & Bordoni, 2021)
16.2.2 Ureter
Ureter adalah struktur tubular tipis bilateral (3 sampai 4 mm) yang
menghubungkan ginjal ke kandung kemih, Dua tabung sempit yang berbentuk
seperti huruf S ini membawa urin dari ginjal ke kandung kemih atau
mengangkut urin dari pelvis ginjal ke dalam kandung kemih. Lapisan otot
bertanggung jawab atas aktivitas peristaltik (mengencang dan mengendur)
yang memaksa ureter untuk memindahkan urin dari ginjal ke kandung kemih.
Kira-kira setiap 10 -15 detik, sejumlah kecil urin dikosongkan ke kandung
kemih dari ureter (Johns Hopkins Medicine, 2022; Lescay, et al., 2021).
Fungsi utama dari ureter adalah mengalirkan urine yang diproduksi ginjal ke
penampungan sementara yaitu kandung kemih.
Gambar 16.4: Anatomi Ureter
16.2.3 Bladder
Organ berongga berbentuk segitiga ini terletak di perut bagian bawah. Dinding
kandung kemih mengendur dan mengembang untuk menyimpan urin, dan
berkontraksi serta meratakan untuk mengosongkan urin melalui uretra.