AKU menatap ke luar jendela yang berdebu ketika bus yang
membawa rombongan kami terlonjak di jalan yang sempit dan
berkelok. Di kejauhan aku bisa melihat bukit-bukit merah yang landai
di bawah langit kuning cerah.
Pohon-pohon putih yang gundul berjejer di pinggir jalan seperti pagar
kayu. Kami benar-benar berada di alam terbuka. Sudah hampir
setengah jam ini kami tidak melewati rumah atau pertanian.
Kursi bus terbuat dari bahan plastik biru keras. Kalau bus melintas di
atas tonjolan, kami semua terlonjak dari kursi. Semua tertawa dan
berteriak-teriak. Sopir bus terus saja memarahi kami, ia berteriak-
teriak menyuruh kami diam.
Anak-anak yang akan berkemah berjumlah dua puluh dua orang. Aku
duduk di barisan belakang, jadi aku bisa menghitung mereka semua.
Delapan belas anak laki-laki dan cuma empat anak perempuan. Kurasa
semua anak laki-laki akan berkemah di Camp Nightmoon, tempat aku
berkemah juga. Anak-anak perempuan di perkemahan anak
perempuan di dekat situ.
Anak-anak perempuan duduk berkumpul di barisan depan dan
berbicara pelan. Sesekali mereka melirik ke belakang untuk melihat
anak laki-laki.
Anak laki-laki jauh lebih ribut daripada anak perempuan, bercanda,
tertawa, berteriak. Perjalanan ini memakan waktu lama, tapi kami
menikmatinya.
Anak laki-laki di sebelahku bernama Mike. Ia duduk di dekat jendela.
Mike agak mirip anjing bulldog. Ia sedikit gempal, wajahnya bulat,
tangan dan kakinya gemuk. Kepalanya berambut hitam pendek dan
kaku, dan sering ia garuk-garuk. Ia mengenakan celana pendek
cokelat longgar dan kaus hijau tanpa lengan.
Selama perjalanan ini kami selalu duduk bersebelahan, tapi Mike tidak
banyak bicara. Kurasa ia pemalu, atau mungkin sangat gugup.
Katanya baru sekali ini ia berkemah.
Ini juga perkemahan pertamaku. Dan harus kuakui, ketika bus
membawaku makin jauh dari rumah, aku sudah mulai merindukan
orangtuaku.
Umurku sudah dua belas tahun, tapi aku belum pernah pergi jauh dari
rumah. Meskipun perjalanan naik bus ini menyenangkan, aku tetap
merasa sedih. Dan kurasa Mike juga merasa begitu.
Mike menempelkan wajahnya yang tembam ke kaca jendela dan
menatap bukit-bukit merah yang berbaris di kejauhan.
"Kau baik-baik saja, Mike?" tanyaku.
"Yeah. Tentu, Billy," jawabnya cepat tanpa menatapku.
Aku teringat Mom dan Dad-ku. Di terminal bus tadi mereka kelihatan
sangat serius. Kurasa mereka juga merasa gugup memikirkan aku
pergi berkemah untuk pertama kalinya.
"Kami akan menulis surat setiap hari," kata Dad. "Baik-baik, ya," kata
Mom sambil memeluk aku lebih erat dari biasanya.
Aneh sekali Mom ini. Mengapa ia tidak mengatakan "Selamat
bersenang-senang"? Mengapa ia mengatakan "Baik-baik, ya"?
Yah, aku memang agak pencemas.
Sejauh ini anak laki-laki lain yang kukenal cuma dua anak laki-laki
yang duduk di depan kami. Yang satu namanya Colin. Rambutnya
cokelat panjang sampai menyentuh kerah bajunya, dan ia mengenakan
kacamata berlapis perak sehingga matanya tidak terlihat. Kelakuannya
agak sok, ia mengenakan bandana merah di kepalanya. Ia terus-
terusan membuka dan memasang lagi bandananya itu.
Yang duduk di sebelahnya, di dekat gang, adalah anak yang bertubuh
besar dan bersuara keras, namanya Jay. Jay banyak berbicara tentang
olah raga dan terus menyombongkan diri bahwa ia atlet hebat. Ia suka
memamerkan lengannya yang besar dan berotot, terutama kalau ada
anak perempuan sedang berbalik melihat kami.
Jay sering mengganggu Colin dan bergulat dengannya, memegang
kepala Colin dan mengacak-acak bandananya. Kau tahu, kan. Cuma
bercanda.
Rambut Jay merah berantakan, seperti tidak pernah disisir. Matanya
besar dan berwarna biru. Ia tidak pernah berhenti tersenyum dan
selalu bermain-main. Sepanjang perjalanan ia menceritakan lelucon-
lelucon kasar dan berteriak-teriak pada anak-anak perempuan.
"Hei—siapa namamu?" teriak Jay pada anak perempuan berambut
pirang yang duduk di depan, di dekat jendela.
Anak perempuan itu tidak memedulikannya. Namun ketika Jay
meneriakkan pertanyaannya untuk keempat kalinya, anak itu berbalik,
matanya yang hijau berkilat-kilat. "Dawn," jawabnya. Lalu ia
menunjuk anak perempuan berambut merah di sebelahnya. "Dan ini
temanku, Dori."
"Hei—hebat sekali! Namaku Dawn juga!" kata Jay bercanda.
Anak laki-laki banyak yang tertawa, tapi Dawn tidak tersenyum
sedikit pun. "Senang berkenalan denganmu, Dawn," teriaknya pada
Jay. Ia lalu berbalik lagi ke depan.
Bus terlonjak ketika melintasi lubang di jalan dan kami semua ikut
terlonjak.
"Hei, Billy, lihat," kata Mike tiba-tiba sambil menunjuk ke luar
jendela.
Dari tadi Mike diam saja. Aku membungkuk ke arah jendela, mencoba
melihat apa yang ditunjuknya.
"Kurasa aku melihat kucing padang rumput," katanya sambil tetap
menatap tajam ke luar.
"Hah? Betul?" Aku melihat sekelompok pohon pendek putih dan
banyak batu merah runcing-runcing. Tapi aku tidak bisa melihat
seekor kucing padang rumput pun.
"Kucing itu pergi ke balik batu-batu itu," kata Mike, ia terus
menunjuk. Lalu ia berbalik menatapku. "Dari tadi kau melihat ada
kota atau tidak?"
Aku menggeleng. "Cuma padang pasir."
"Tapi bukankah tempat perkemahannya mestinya di dekat kota?"
Mike tampak cemas.
"Kurasa tidak," kataku. "Kata ayahku Camp Nightmoon berada
selepas padang pasir, jauh di dalam hutan."
Mike memikirkannya sebentar sambil mengerutkan dahi. "Bagaimana
kalau kita ingin menelepon ke rumah?" tanyanya.
"Mungkin ada telepon di perkemahan," kataku.
Aku mengangkat kepala tepat ketika Jay melemparkan sesuatu ke arah
anak-anak perempuan di depan. Kelihatannya seperti bola hijau. Bola
itu mengenai bagian belakang kepala Dawn dan menempel di
rambutnya yang pirang.
"Hei!" Dawn berteriak marah. Ditariknya bola hijau lengket itu dari
rambutnya. "Apa ini?" Ia berbalik dan melotot pada Jay.
Jay tertawa dengan suara melengking. "Aku tidak tahu. Aku
menemukannya melekat di kolong kursi!" teriaknya.
Dawn cemberut dan melemparkan bola itu kembali. Bola itu tidak
mengenai Jay, tapi mengenai jendela dan menempel dengan suara
keras.
Semua orang tertawa. Dawn dan temannya, Dori, mencibir pada Jay.
Colin bermain-main dengan bandana merahnya. Jay merosot dan
menyandarkan lutut ke kursi di depannya.
Beberapa baris di depan kami, dua anak laki-laki yang selalu
tersenyum sedang menyanyikan lagu yang terkenal, tapi kata-kata
aslinya diganti dengan kata-kata yang kasar sekali.
Beberapa anak laki-laki mulai ikut bernyanyi. Tiba-tiba, tanpa
peringatan, bus itu berhenti. Ban-bannya berdecit keras di jalan.
Kami semua berteriak terkejut. Aku terlempar dari kursi dan dadaku
mengenai kursi di depanku.
"Uh!" Sakit.
Ketika aku bersandar lagi di kursi, dengan jantung yang masih
berdebar-debar, sopir bus berdiri dan berbalik menatap kami, ia
berjalan terhuyung-huyung di gang.
"Ohh!" Terdengar suara napas tersentak ketika kami melihat wajah
sopir itu.
Kepalanya besar sekali dan berwarna merah muda, rambutnya
berwarna biru cerah dan berantakan, berdiri tegak semua. Telinganya
panjang dan runcing. Bola matanya yang besar dan berwarna merah
terjulur keluar dari rongga mata yang gelap, terlonjak-lonjak di depan
hidungnya yang menonjol.
Taring putih runcing mencuat dari mulutnya yang terbuka. Cairan
hijau meleleh dari bibir hitamnya yang tebal.
Ketika kami terbelalak ketakutan, sopir itu me-dongakkan kepalanya
yang mengerikan dan meraung seperti binatang.
SOPIR itu meraung begitu keras sehingga jendela bus bergetar.
Beberapa anak menjerit ketakutan.
Mike dan aku merunduk, bersembunyi di belakang kursi di depan
kami.
"Ia jadi monster!" bisik" Mike, matanya terbelalak takut.
Lalu kami mendengar suara tawa dari depan bus.
Aku bangun tepat ketika sopir bus itu memegang rambutnya yang
berwarna biru cerah. Ia menyentakkannya—dan wajahnya copot!
"Ohhh!" Beberapa anak menjerit ketakutan.
Tapi kami segera sadar wajah yang tergantung di tangan sopir itu
cuma topeng. Ia tadi mengenakan topeng karet monster.
Wajahnya yang sebenarnya normal-normal saja, aku lega melihatnya.
Kulitnya pucat, rambutnya hitam tipis dan pendek, matanya biru kecil.
Ia tertawa sambil menggeleng, kelihatannya senang sekali.
"Orang-orang selalu tertipu topeng ini!" katanya sambil mengangkat
topeng jelek itu.
Beberapa anak tertawa bersamanya. Tapi sebagian besar terlalu
terkejut dan bingung untuk menganggapnya lucu.
Tiba-tiba ekspresi wajah sopir itu berubah. "Semua keluar!"
perintahnya kasar.
Ditariknya tuas dan pintu bus terbuka dengan mengeluarkan suara
mendesis.
"Kita ada di mana?" teriak seseorang.
Tapi sopir bus tidak memedulikannya. Dilemparnya topeng tadi ke
kursi sopir. Lalu, dengan menundukkan kepala supaya tidak terantuk
atap bus, ia berjalan cepat ke pintu.
Aku membungkuk dan memandang keluar jendela, tapi tidak banyak
yang bisa dilihat. Cuma hamparan luas tanah kuning, kadang-kadang
ada kumpulan batu merah. Tampaknya seperti padang pasir.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Mike sambil berbalik
menatapku. Aku tahu ia cemas sekali.
"Mungkin ini tempat perkemahannya," kataku bercanda. Menurut
Mike itu tidak lucu.
Sambil berdesak-desakan turun dari bus, kami semua merasa bingung.
Mike dan aku yang paling akhir turun karena kami duduk di belakang.
Ketika menginjak tanah yang keras itu, aku menaungi mataku dari
matahari yang bersinar cerah, jauh di langit. Kami berada di daerah
datar dan terbuka. Busnya diparkir di sebelah pelataran beton, kira-
kira seukuran lapangan tenis.
"Pasti semacam tempat pemberhentian bus," kataku pada Mike. "Kau
tahu, kan. Tempat penumpang diturunkan."
Tangan Mike masuk ke dalam saku celana pendeknya. Ia menendang
tanah, tapi tidak bicara apa-apa.
Di sisi lain pelataran, Jay sedang bermain dorong-dorongan dengan
anak laki-laki yang belum kukenal. Colin bersandar di samping bus,
sok aksi. Keempat anak perempuan berdiri melingkar di depan
pelataran, membicarakan sesuatu diam-diam.
Aku mengamati sopir berjalan ke samping bus dan membuka bagasi.
Ia mulai mengeluarkan tas-tas dan peti alat berkemah dan
membawanya ke pelataran beton.
Dua orang anak duduk di pinggir pelataran dan mengawasi sopir itu
bekerja. Di sisi lain pelataran, Jay dan beberapa anak lain sedang
berlomba melemparkan kerikil merah sejauh mungkin.
Mike, dengan tangan masih berada di dalam saku, berjalan ke
belakang sopir bus yang sedang bercucuran keringat. "Hei, kita ada di
mana? Mengapa kita berhenti di sini?" tanya Mike gelisah.
Sopir itu menarik peti hitam berat dari bagian belakang bagasi. Ia
sama sekali tidak memedulikan pertanyaan Mike. Mike bertanya lagi.
Dan sopir itu lagi-lagi berpura-pura tidak mendengar.
Mike berjalan kembali pelan-pelan ke tempat aku berdiri, diseretnya
sepatunya. Ia kelihatan sangat cemas.
Aku bingung, tapi tidak cemas. Maksudku, sopir bus itu dengan
tenang pun melakukan tugasnya, membongkar muatan. Ia tahu apa
yang sedang dikerjakannya.
"Kenapa ia tidak mau menjawab pertanyaanku? Kenapa ia tidak mau
mengatakan apa-apa pada kita?" tanya Mike mendesak.
Aku merasa kasihan pada Mike yang begitu cemas. Tapi aku tidak
mau mendengar pertanyaan-pertanyaannya lagi. Ia mulai membuatku
jadi gelisah juga.
Aku berjalan menjauh dari Mike, menuju sisi pelataran tempat
keempat gadis itu berdiri. Di seberang pelataran, Jay dan teman-
temannya masih berlomba melempar batu.
Dawn tersenyum padaku ketika aku mendekat. Lalu ia cepat-cepat
membuang muka. Ia benar-benar manis, pikirku. Rambutnya yang
pirang berkilau-kilau terkena sinar matahari.
"Kau dari Center City?" tanya Dori temannya sambil menyipitkan
mata menatapku, wajahnya yang berbintik-bintik berkerut-kerut
karena silau.
"Bukan," kataku. "Aku dari Midlands. Di sebelah utara Center City.
Dekat Outreach Bay."
"Aku tahu Midlands di mana!" bentak Dori. Ketiga anak perempuan
yang lain tertawa.
Aku bisa merasa wajahku merah padam.
"Siapa namamu?" tanya Dawn sambil menatapku dengan matanya
yang hijau.
"Billy," jawabku.
"Nama burungku Billy!" teriaknya, dan anak-anak perempuan itu
tertawa lagi.
"Kalian mau pergi ke mana?" tanyaku cepat-cepat, aku ingin
mengubah bahan percakapan. "Maksudku, tempat perkemahan apa?"
"Camp Nightmoon. Ada tempat untuk anak perempuan dan anak laki-
lakinya," jawab Dori. "Ini bus Camp Nightmoon untuk kedua tempat
itu."
"Tempat perkemahan kalian dekat dengan tempat kami?" tanyaku.
Aku tidak tahu kalau di Camp Nightmoon ada tempat untuk anak
perempuan.
Dori mengangkat bahu. "Kami tidak tahu," jawab Dawn. "Ini tahun
pertama kami."
"Kami semua," tambah Dori.
"Aku juga," kataku. "Aku ingin tahu kenapa kita berhenti di sini."
Anak-anak perempuan itu mengangkat bahu.
Aku melihat Mike mengikutiku, ia kelihatan semakin ketakutan. Aku
berbalik dan berjalan ke arahnya.
"Lihat. Sopirnya sudah selesai mengeluarkan barang-barang kita,"
katanya sambil menuding.
Aku berbalik dan melihat saat sopir itu membanting pintu bagasi
sampai tertutup.
"Apa yang terjadi?" teriak Mike. "Apakah ada yang menjemput kita di
sini? Mengapa ia menurunkan semua barang-barang kita?"
"Akan kutanyakan," kataku tenang. Aku berlari mendatangi sopir itu.
Ia berdiri di depan pintu bus yang terbuka sambil menyeka dahinya
yang berkeringat dengan lengan baju seragam sopirnya yang berwarna
cokelat.
la melihatku datang—dan cepat-cepat naik ke dalam bus. Ia duduk di
kursi sopir, ditariknya pelindung matahari di depan dahinya ketika aku
melangkah naik ke pintu.
"Adakah yang akan menjemput kami?" aku berteriak padanya.
Aku terkejut ketika ia menarik tuas dan pintu busnya terbanting
menutup tepat di depan hidungku.
Mesinnya dihidupkan dengan suara menggemuruh dan asap knalpot
berwarna kelabu menyembur.
"Hei—!" aku berteriak dan kugedor-gedor pintu kacanya dengan
marah.
Aku terpaksa melompat ketika busnya bergerak, rodanya ribut
berputar di tanah yang keras. "Hei!" teriakku. "Kau tidak harus
melindasku!"
Aku melotot marah ketika bus itu naik ke jalanan dan menderu pergi.
Lalu aku berbalik menatap Mike. Ia berdiri di samping keempat anak
perempuan itu. Mereka semua sekarang kelihatan cemas.
"Ia—ia pergi," kata Mike tergagap ketika aku mendekati mereka. "Ia
meninggalkan kita begitu saja di tempat terpencil ini."
Kami menatap bus itu sampai menghilang di balik cakrawala yang
semakin gelap. Kami semua jadi terdiam.
Beberapa detik kemudian, kami mendengar teriakan binatang yang
menakutkan.
Sangat dekat. Dan semakin mendekat.
"A-APA itu?" Mike tergagap.
Kami berbalik ke arah datangnya teriakan melengking itu.
Rasanya datang dari seberang pelataran. Mula-mula kukira Jay dan
Colin bersama teman-temannya yang mempermainkan kami,
membuat suara binatang supaya kami ketakutan.
Tapi aku lalu melihat wajah mereka yang ketakutan dan mata mereka
yang terbelalak. Jay, dan teman-temannya berdiri kaku. Bukan mereka
yang membunyikan suara itu.
Teriakan itu semakin kuat. Semakin dekat. Teriakan peringatan yang
melengking.
Lalu, ketika kutatap jauh di seberang pelataran,aku melihatnya.
Makhluk-makhluk kecil, kelam, mengendap-endap, berlari cepat di
tanah yang datar, mendongakkan kepala dan meraung gembira ketika
mendekati kami.
"Apa itu?" teriak Mike sambil bergerak mendekatiku.
"Apakah mereka serigala padang rumput?" tanya Dori dengan suara
gemetar.
"Semoga bukan!" teriak salah satu anak perempuan.
Kami semua naik ke pelataran beton dan bersembunyi di balik peti
dan tas kami.
Raungan binatang itu semakin keras terdengar ketika makhluk-
makhluk itu mendekat. Aku bisa melihat jumlahnya yang begitu
banyak. Mereka berlari cepat ke arah kami di atas tanah datar seperti
tertiup angin saja.
"Tolong! Tolong kami!" aku mendengar teriakan Mike.
Di sebelahku, Jay masih memegang dua batu merah sisa perlombaan
lempar batu tadi. "Ambil batu!" teriaknya panik. "Mungkin kita bisa
menakut-nakuti mereka!"
Makhluk-makhluk itu berhenti beberapa meter dari pelataran dan
berdiri di atas kaki belakang mereka dengan sikap mengancam.
Dengan posisi terjepit di antara Jay dan Mike, aku sekarang bisa
melihat mereka dengan jelas. Makhluk-makhluk itu serigala atau
entah kucing liar jenis apa. Dalam posisi berdiri, tinggi mereka nyaris
mencapai satu meter.
Tubuh mereka langsing dan agak kurus kering, bulunya cokelat
kemerahan berbintik-bintik. Kuku cakarnya panjang dan berkilat-kilat.
Kepala mereka hampir selangsing tubuhnya. Mata mereka yang kecil
seperti mata musang menatap kami dengan lapar. Mulut mereka yang
panjang bergerak-gerak, memperlihatkan dua baris gigi tajam dan
berkilat-kilat.
"Tidak! Tidak! Tolong!" Mike jatuh berlutut. Sekujur tubuhnya
gemetar karena ngeri.
Beberapa anak ada yang menangis. Yang lainnya ternganga diam
menatap makhluk-makhluk yang semakin mendekat itu.
Aku terlalu takut sehingga tidak bisa berteriak atau bergerak atau
melakukan apa pun.
Aku menatap makhluk yang berderet-deret itu, jantungku berdebar-
debar, mulutku kering. Makhluk-makhluk itu sekarang diam. Sambil
berdiri beberapa meter dari pelataran, mereka mengamati kami,
mengatup-ngatupkan rahang mereka dengan suara keras, dengan
lapar. Air liur mulai menetes dari mulut mereka.
"Mereka—mereka akan menyerang!" teriak seorang anak laki-laki.
"Mereka kelihatan lapar!" aku mendengar suara salah satu anak
perempuan.
Air liur makhluk-makhluk itu menetes-netes dari sela-sela gigi
mereka. Mereka terus mengatup-ngatupkan rahang. Kedengarannya
seperti banyak sekali perangkap baja yang mengatup.
Tiba-tiba salah satu makhluk itu melompat ke tepi pelataran.
"Tidak!" teriak beberapa anak serentak.
Kami semakin rapat berkumpul sambil berusaha tetap berlindung di
balik tumpukan peti dan tas.
Satu makhluk lagi memanjat pelataran. Lalu lagi.
Aku mundur.
Kulihat Jay melempar batu merah ke salah satu makhluk yang
bertetesan air liur itu. Batu itu berdetak ketika mengenai pelataran dan
melambung.
Makhluk-makhluk itu tidak takut. Mereka melengkungkan punggung,
bersiap-siap untuk menyerang.
Gigi mereka mulai bergemeletuk keras.
Mereka bergerak mendekat. Makin dekat. Jay melempar batu lagi.
Batu itu mengenai bagian samping salah satu makhluk yang sedang
mendekat. Makhluk mendengking terkejut. Tapi ia tetap bergerak
maju matanya yang merah terpaku pada Jay, rahangnya bergerak-
gerak lapar.
"Pergi!" teriak Dori dengan suara gemetar. "Pulanglah! Pergi! Pergi!"
Tapi teriakannya tidak berpengaruh. Makhluk-makhluk itu terus maju.
"Lari!" kataku. "Lari!"
"Kita tidak bisa lari dari mereka, pasti terkejar!' teriak seseorang.
Suara gemeletuk itu makin keras. Menulikan telinga. Sampai rasanya
kami dikelilingi dinding suara.
Makhluk-makhluk jelek itu membungkuk untuk mengambil kuda-
kuda sebelum melompat.
"Lari!" teriakku lagi. "Ayo—lari!"
Kakiku tidak mau menurut. Rasanya lemah seperti karet.
Karena berusaha menjauh dari makhluk-makhluk yang akan
menyerang itu, aku terjatuh telentang dari pelataran.
Mataku berkunang-kunang ketika bagian belakang kepalaku mengenai
tanah yang keras.
Mereka akan memangsaku, pikirku.
Aku tidak bisa menghindar.
AKU mendengar teriakan menyerang seperti suara sirene.
Aku mendengar suara kuku-kuku panjang makhluk-makhluk itu
bergesekan di pelataran beton. Aku mendengar jeritan dan teriakan
teman-temanku yang ketakutan.
Lalu, ketika sedang berusaha berdiri dengan panik, aku mendengar
suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Mula-mula kukira suara ledakan.
Kukira pelataran itu ambruk.
Tapi aku lalu berbalik dan melihat senapan itu. Terdengar suara
tembakan senapan lagi. Asap putih memenuhi udara.
Makhluk-makhluk itu segera berbalik, lari ketakutan. Tak ada raungan
keluar dari moncong mereka. Bulu makhluk-makhluk itu yang jarang-
jarang, bergesekan dengan tanah ketika mereka menyelipkan ekor
mereka di sela-sela kaki.
"Ha-ha! Lihat, mereka lari!" Pria itu menyandang senapan di bahunya
sambil mengamati makhluk-makhluk itu pergi.
Di belakangnya ada bus hijau panjang.
Aku berdiri dan membersihkan diri.
Sekarang semua orang tertawa, melompat-lompat senang, merayakan
hilangnya bahaya.
Aku masih kaget sehingga tidak bisa bergembira seperti mereka.
"Mereka berlarian seperti kelinci!" kata pria itu dengan suara
menggelegar. Diturunkannya senapannya.
Beberapa saat kemudian aku baru sadar, ia keluar dari bus
perkemahan untuk menyelamatkan kami. Kami tidak mendengar atau
melihat kedatangan bus itu karena tertutup oleh raungan binatang-
binatang tadi.
"Kau baik-baik saja, Mike?" tanyaku sambil berjalan mendekati teman
baruku yang nampak ketakutan.
"Begitulah," jawabnya tidak yakin. "Kurasa sekarang aku baik-baik
saja."
Dawn menepuk punggungku sambil tersenyum. "Kami baik-baik
saja!" teriaknya. "Kami semua baik-baik saja."
Kami berkumpul di depan pria yang membawa senapan itu.
Tubuhnya besar, wajahnya merah, kepalanya nyaris botak, cuma ada
rambut kuning keriting sedikit di sekeliling kepalanya. Di bawah
hidungnya yang besar dan bengkok ada kumis pirang.
Matanya kecil hitam seperti mata burung, alisnya pirang dan lebat.
"Hai, anak-anak! Aku Paman Al. Aku kepala perkemahan kalian yang
ramah. Kuharap kalian menikmati sambutan ke Camp Nightmoon
tadi!" katanya menggelegar.
Aku mendengar anak-anak bergumam.
Pria itu menyandarkan senapannya ke bus dan berjalan mendekati
kami. Diamatinya wajah kami. Ia mengenakan celana pendek putih
dan kaus perkemahan berwarna hijau cerah yang melekat ketat di
perutnya yang besar. Dua anak muda, yang mengenakan pakaian
berwarna hijau dan putih juga, keluar dari bus. Wajah mereka
kelihatan serius.
"Ayo, angkat barang-barang," perintah Paman Al pada mereka dengan
suaranya yang dalam.
Ia tidak minta maaf karena terlambat.
Ia tidak menerangkan tentang binatang-binatang aneh tadi. Dan ia
tidak menanyakan apakah kami baik-baik saja setelah kejadian yang
menakutkan itu.
Kedua pengawas itu mulai menarik peti-peti perkemahan dan
memasukkannya ke dalam bagasi bus.
"Kelihatannya rombongan tahun ini baik-baik," teriak Paman Al.
"Kami akan mengantarkan anak-anak perempuan dulu ke seberang
sungai. Lalu kami akan mengurus anak laki-laki."
"Tadi itu binatang-binatang apa?" teriak Dori pada Paman Al.
Kelihatannya Paman Al tidak mendengar.
Kami mulai memasuki bus. Aku mencari Mike dan menemukannya di
dekat ujung barisan. Wajahnya pucat dan tampaknya ia masih sangat
terguncang. "Aku—aku benar-benar ketakutan," katanya mengaku.
"Tapi kita baik-baik saja," kataku meyakinkannya. "Sekarang kita bisa
bersantai dan bersenang-senang."
"Aku lapar sekali," kata Mike. "Aku belum makan seharian ini."
Salah satu pengawas mendengar ucapannya. "Kau takkan lapar kalau
sudah merasakan makanan perkemahan nanti," katanya pada Mike.
Kami naik ke bus. Aku duduk di sebelah Mike. Bisa kudengar perut
anak malang itu keroncongan. Tiba-tiba aku sadar aku juga kelaparan.
Dan aku tidak sabar ingin melihat Camp Nightmoon. Aku berharap
semoga jaraknya tidak jauh.
"Seberapa jauh perkemahan kami?" teriakku pada Paman Al, yang
sudah duduk di kursi sopir. Kelihatannya ia tidak mendengar
pertanyaanku. "Hei, Mike, bus kita sudah berjalan!" kataku senang
ketika bus masuk ke jalanan.
Mike tersenyum terpaksa. "Aku senang sekali pergi dari sana!"
Aku terkejut, ternyata perjalanan kami tidak sampai lima menit.
Kami semua bergumam terkejut karena singkatnya perjalanan ini.
Mengapa bus pertama tadi tidak sekalian mengantarkan kami sampai
ke tujuan?
Tampak papan kayu besar bertuliskan CAMP NIGHTMOON dan
Paman Al membelokkan bus ke jalan berbatu-batu yang melewati
sekelompok pohon pendek menuju perkemahan.
Kami melewati jalan sempit yang berkelok-kelok itu, menyeberangi
sungai kecil yang airnya berwarna kecokelatan. Tampak beberapa
pondok kecil. "Perkemahan anak perempuan," kata Paman Al
mengumumkan. Bus itu berhenti untuk menurunkan keempat anak
perempuan. Dawn melambai padaku ketika ia turun.
Beberapa menit kemudian kami tiba di perkemahan anak laki-laki.
Dari jendela bus aku bisa melihat pondok-pondok kecil berwarna
putih. Di puncak bukit yang landai terdapat bangunan besar bersirap
putih, mungkin tempat pertemuan atau aula penginapan.
Di pinggir lapangan, tampak tiga pengawas, semuanya mengenakan
celana pendek putih dan kaus hijau, sedang menyalakan api di lubang
panggangan besar dari batu.
"Hei, kita akan memasak di alam terbuka!" teriakku pada Mike. Aku
mulai merasa benar-benar bersemangat.
Mike juga tersenyum. Ia benar-benar meneteskan air liur karena
memikirkan makanan!
Bus itu berhenti mendadak di ujung deretan pondok kecil. Paman Al
cepat-cepat berdiri dari kursi sopir dan berbalik menatap kami.
"Selamat datang di Camp Nightmoon yang indah!" teriaknya. "Turun
dan berbarislah untuk menerima pengaturan pondok kalian. Begitu
kalian selesai membongkar barang dan makan malam, kita akan
bertemu di api unggun."
Kami ribut berdesakan keluar dari bus. Aku melihat Jay menepuk
punggung seseorang dengan bersemangat. Kurasa kami semua merasa
lebih baik, setelah melupakan kejadian yang nyaris merenggut nyawa
tadi.
Aku melangkah turun dan menarik napas dalam-dalam. Udara yang
sejuk terasa sangat nyaman dan segar. Aku melihat deretan pohon
cemara pendek di belakang bangunan putih di atas bukit.
Sambil antre di barisan, aku mencari-cari tepi sungai. Aku bisa
mendengar arus sungai di balik deretan pohon cemara yang lebat, tapi
aku tidak bisa melihatnya.
Mike, Jay, Colin, dan aku ditempatkan di pondok yang sama. Di
Pondok 4. Kurasa mestinya pondok itu diberi nama yang lebih
menarik. Tapi yang ada cuma nomor. Pondok 4.
Pondok itu benar-benar kecil, dengan langit-langit rendah dan jendela
di kedua sisinya. Cuma cukup untuk enam orang. Ada tiga tempat
tidur bertingkat yang dirapatkan pada ketiga sisi dinding, dan rak
tinggi di dinding keempat, di tengah-tengahnya ada ruang kosong
persegi kecil.
Tidak ada kamar mandi. Kurasa kamar mandinya terdapat di
bangunan lain.
Ketika kami berempat memasuki pondok, kami melihat salah satu
tempat tidur sudah ada yang menempati. Tempat tidur itu sudah rapi,
selimut hijaunya terlipat, di atasnya terdapat beberapa majalah
olahraga dan tape.
"Pasti milik pengawas kita," kata Jay sambil memeriksa tape itu.
"Semoga kita tidak diharuskan mengenakan kaus hijau jelek itu," kata
Colin sambil tersenyum. Ia masih mengenakan kacamata peraknya,
meskipun matahari sudah hampir terbenam dan pondok itu nyaris
gelap gulita.
Jay mau tempat tidur di atas, Colin mengambil tempat tidur di
bawahnya.
"Bolehkah aku tidur di bawah?" tanya Mike padaku. "Kalau malam
aku sering berguling-guling. Aku takut jatuh kalau tidur di atas."
"Yeah. Tentu. Tidak ada masalah," jawabku. Aku memang
menginginkan tempat tidur atas. Pasti lebih asyik.
"Semoga kalian tidak mendengkur," kata Colin.
"Kita tidak akan tidur di dalam sini," kata Jay. "Kita akan berpesta
semalam suntuk!" Ditepuknya punggung Mike main-main, begitu
keras sehingga Mike terjerembap ke dalam lemari.
"Hei!" Mike berteriak. "Sakit!"
"Maaf. Kurasa aku tidak tahu kekuatanku sendiri," jawab Jay, sambil
tersenyum pada Colin. Pintu pondok terbuka dan seorang pemuda
berambut merah, dengan wajah penuh bintik-bintik, berjalan masuk
sambil membawa tas plastik besar kelabu. Tubuhnya tinggi dan sangat
kurus, ia mengenakan celana pendek putih dan kaus perkemahan
hijau.
"Hei, semuanya," katanya, dan dijatuhkannya tas besar itu ke lantai
pondok sambil mengerang. Setelah mengecek kami, lalu ditunjuknya
tas itu. "Itu perlengkapan tempat tidur kalian," katanya. "Rapikan
tempat tidur kalian. Usahakan serapi tempat tidurku." Ia menunjuk
tempat tidur di dekat jendela yang ada tape di atasnya.
"Kaukah pengawas kami?" tanyaku.
Ia mengangguk. "Yeah. Aku yang beruntung." Ia berbalik dan berjalan
ke luar.
"Siapa namamu?" teriak Jay.
"Larry," katanya sambil membuka pintu pondok. "Sebentar lagi peti-
peti kalian diantarkan," katanya. "Kalian bisa memperebutkan lemari.
Dua lemarinya tidak mau terbuka."
Ia berjalan ke luar, lalu berbalik menatap kami. "Jauhi barang-
barangku." Dibantingnya pintu kuat-kuat.
Dengan mengintip ke luar jendela, aku melihat ia pergi, langkah
kakinya cepat dan panjang-panjang, kepalanya bergerak-gerak ketika
ia berjalan.
"Orang hebat," gumam Colin sebal.
"Sangat bersahabat," tambah Jay sambil menggeleng.
Kami lalu mengaduk-aduk isi tas plastik dan mengeluarkan seprai dan
selimut wol. Jay dan Colin bergulat memperebutkan selimut yang
menurut mereka lebih lembut.
Kuhamparkan seprai ke atas kasurku dan mulai naik untuk
memasangnya.
Aku baru menaiki setengah tangga ketika kudengar Mike menjerit.
MIKE berada tepat di bawahku, sedang merapikan tempat tidurnya. Ia
menjerit begitu keras sehingga aku jadi berteriak dan nyaris terjatuh
dari tangga.
Aku melompat turun dari tangga, jantungku rasanya berdebar-debar.
Aku melangkah ke sampingnya.
Mike melotot lurus ke depan, mulutnya ternganga ketakutan, ia
mundur dari tempat tidurnya.
"Mike—ada apa?" tanyaku. "Ada apa?"
"U-ular!" Mike tergagap, melangkah mundur sambil menatap tempat
tidurnya yang belum rapi.
"Hah?" Kuikuti pandangannya. Pondok itu sudah terlalu gelap, aku
tidak bisa melihat apa-apa.
Colin tertawa. "Lelucon kuno!" teriaknya.
"Larry meletakkan ular karet di tempat tidurmu," kata Jay, sambil
meringis ketika mendekati kami.
"Bukan ular karet! Ular betulan!" kata Mike berkeras, suaranya
gemetar.
Jay tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak percaya kau
bisa tertipu lelucon kuno begitu." Ia mendekati tempat tidur Mike—
lalu berhenti. "Hei—!"
Aku bergerak mendekat dan tampaklah dua ekor ular. Sambil
menampakkan diri dari balik bayang-bayang, mereka melengkungkan
kepalanya yang langsing, bergerak mundur seperti akan menyerang.
"Ular betulan!" teriak Jay sambil berbalik menatap Colin. "Ada dua
ekor!"
"Mungkin tidak berbisa," kata Colin sambil mendekat.
Ular-ular itu mendesis marah, mereka meninggikan badannya tinggi-
tinggi. Ular-ular itu sangat panjang dan kurus. Kepala mereka lebih
besar dari badannya. Lidah mereka bergerak-gerak ketika mereka
melengkungkan badannya dengan sikap mengancam.
"Aku takut ular," kata Mike dengan suara pelan. "Mungkin mereka
yang takut padamu!" kata Jay bercanda sambil menepuk punggung
Mike.
Mike menyipitkan matanya. Ia sedang tidak ingin bercanda. "Kita
harus memanggil Larry atau siapa saja," kata Mike.
"Tidak!" kata Jay. "Kau bisa mengatasi mereka, Mike. Mereka cuma
berdua!"
Jay mendorong Mike ke tempat tidur. Maksudnya cuma bercanda,
ingin menakut-nakuti anak itu.
Tapi Mike tersandung—dan jatuh ke atas tempat tidur.
Kedua ular itu berdiri serentak.
Aku melihat salah satu menggigit tangan Mike.
Mike berdiri. Mula-mula ia tidak bereaksi apa-apa. Sejenak kemudian
jeritannya melengking.
Tampak dua tetes darah di punggung telapak tangan kanannya. Ia
menatapnya, lalu dipegangnya tangannya itu.
"Aku digigit ular!" jeritnya.
"Astaga!" teriakku.
"Apakah kulitmu terluka?" tanya Colin. "Apakah berdarah?"
Jay bergegas maju dan dirangkulnya bahu Mike. "Hei—aku benar-
benar minta maaf," katanya. "Aku tidak bermaksud—"
Mike mengerang kesakitan. "Sakit—sakit sekali," bisiknya. Ia
terengah-engah, dadanya naik-turun, suara napasnya terdengar aneh.
Ular-ular itu, yang bergelung di tengah-tengah tempat tidur Mike,
mulai mendesis lagi.
"Sebaiknya kau cepat-cepat berobat ke perawat," kata Jay, tangannya
masih di bahu Mike. "Aku akan menemanimu."
"Ti-tidak," Mike tergagap. Wajahnya pucat sekali. Dipegangnya
tangannya erat-erat. "Aku akan ke sana sendirian!" Ia cepat-cepat
berlari keluar dari pondok. Pintu pondok terbanting.
"Hei—aku tidak bermaksud mendorongnya," Jay menjelaskan pada
kami. Aku tahu ia benar-benar cemas. "Aku cuma bercanda, cuma
menakut-nakutinya sedikit. Aku tidak bermaksud membuatnya
terjatuh atau bagaimana..." Suaranya menghilang.
"Kita apakan mereka?" tanyaku sambil menunjuk ular-ular yang
bergelung itu.
"Aku akan memanggil Larry," kata Colin. Ia mulai berjalan ke pintu.
"Tidak, tunggu," aku memanggilnya lagi. "Lihat.Mereka bergelung di
seprai Mike, kan?"
Jay dan Colin mengikuti arah pandanganku ke tempat tidur. Kedua
ular itu mengangkat dirinya tinggi-tinggi, bersiap-siap menyerang
lagi.
"Jadi?" tanya Jay, digaruknya kepalanya.
"Jadi kita bisa membungkus mereka dengan seprai dan membawanya
keluar," kataku.
Jay menatapku. "Kalau saja terpikir olehku tadi.Ayo kita lakukan!"
"Kau akan digigitnya," kata Colin memperingat kan.
Aku menatap ular-ular itu. Kelihatannya mereka juga sedang
mengamati aku. "Mereka tidak bisa menggigit kalau terbungkus
seprai," kataku.
"Mereka bisa saja mencobanya!" teriak Colin sambil melangkah
mundur.
"Kalau kita cepat-cepat melakukannya," kataku sambil berhati-hati
mendekati tempat tidur itu, "kita bisa membungkus mereka sebelum
mereka mengetahui apa yang terjadi."
Ular-ular itu mendesis memberi peringatan, dan berdiri makin tinggi.
"Bagaimana caranya mereka masuk?" tanya Colin.
"Mungkin perkemahan ini penuh ular," kata Jaysambil meringis.
"Mungkin di tempat tidurmu pun ada, Colin!" Ia tertawa.
"Jangan bercanda terus," kataku tegas, mataku terpaku menatap ular-
ular yang bergelung itu. "Kita jadi mencobanya atau tidak?"
"Yeah. Ayo kita lakukan," jawab Jay. "Maksudku, sebagai tebusan
atas perbuatanku pada Mike tadi." Colin tetap diam.
Kurasa aku pasti bisa memegang ekornya dan melemparkannya ke
luar jendela," kata Jay. "Kau bisa memegang ekor ular yang satu lagi
dan—"
"Kita coba rencanaku dulu," kataku tenang.
Kami pelan-pelan mendekati ular-ular itu, mengendap-endap. Konyol
juga rasanya, soalnya mereka jelas-jelas sedang menatap kami.
Aku menunjuk salah satu ujung seprai, yang terselip di tempat tidur.
"Pegang sebelah sana," perintahku pada Jay. "Lalu tarik ke atas."
Ia ragu-ragu. "Bagaimana kalau aku meleset? Atau kau yang
meleset?"
"Kalau itu terjadi, kita gawat," jawabku suram. Dengan mata terus
menatap ular-ular itu, aku mengulurkan tangan ke ujung seprai yang
lain. "Siap? Aku hitung sampai tiga," bisikku.
Mulutku serasa tersumbat. Aku nyaris tercekik. "Satu, dua, tiga."
Pada hitungan ketiga, kami berdua memegang ujung-ujung seprai.
"Tarik!" Aku berteriak dengan suara melengking yang rasanya seperti
bukan suaraku.
Kami menarik seprai itu ke atas lalu segera menyatukan ujung-
ujungnya, membuatnya jadi bungkusan.
Di dasar bungkusan, kedua ular itu bergerak-gerak liar. Aku bisa
mendengar rahang mereka mengatup-ngatup. Mereka bergerak kuat
sekali sehingga bagian bawah bungkusan bergoyang-goyang.
"Mereka tidak suka," kata Jay ketika kami bergegas ke pintu, sambil
membawa bungkusan yang bergoyang-goyang di antara kami. Kami
berusaha menjaga jarak dari bungkusan itu sejauh mungkin.
Kudorong pintu dengan bahuku dan kami berlari ke rerumputan.
"Sekarang bagaimana?" tanya Jay.
"Jalan terus," jawabku. Aku bisa melihat salah satu ular menjulurkan
kepalanya ke luar. "Cepat!"
Kami berlari melewati pondok-pondok menuju serumpun kecil semak.
Di belakang semak-semak itu ada segerumbulan pohon-pohon pendek.
Begitu sampai di pepohonan itu, kami ayun bungkusan itu ke
belakang, lalu kami buang ke pepohonan.
Bungkusan itu terbuka begitu mengenai tanah. Kedua ular itu
langsung merayap ke luar lalu menyelinap ke sela-sela pohon.
Jay dan aku menarik napas lega. Kami berdiri diam sesaat, lalu
membungkuk, tangan di lutut, mencoba menenangkan diri.
Sambil membungkuk, aku mencari-cari kedua ular itu. Tapi mereka
sudah merayap jauh ke dalam pepohonan cemara yang aman.
Aku berdiri. "Kurasa sebaiknya kita ambil lagi seprai Mike," kataku.
"Ia mungkin tidak akan mau tidur di atas seprai itu," kata Jay. Tapi ia
membungkuk dan menariknya dari atas rumput. Digulungnya dan
dilemparkannya padaku. "Mungkin seprai ini terkena bisa ular,"
katanya, wajahnya kelihatan jijik.
Ketika kami kembali ke pondok, Colin sudah selesai merapikan
tempat tidurnya dan sedang sibuk membongkar isi petinya, lalu
menjejalkan semuanya ke laci lemari pakaian paling atas. Ia berbalik
ketika kami masuk. "Bagaimana?" tanyanya ringan.
"Mengerikan," jawab Jay cepat, wajahnya kelihatan suram. "Kami
berdua digigit. Dua kali."
"Kau pembohong payah!" kata Colin padanya ,ambil tertawa.
"Sebaiknya kau tidak mencoba-coba berbohong."
Jay tertawa juga.
Colin berbalik menatapku. "Kau pahlawan," katanya.
"Terima kasih atas semua bantuanmu," kata Jay padanya kasar.
Colin akan membalas. Tapi pintu pondok terbuka dan Larry
menjulurkan kepalanya. "Bagaimana?" tanyanya. "Kalian belum
selesai?"
"Kami ada sedikit masalah," kata Jay.
"Mana anak yang nomor empat? Yang gemuk?" Tanya Larry sambil
menundukkan kepalanya supaya tidak terantuk kusen pintu ketika
melangkah masuk.
"Mike tergigit. Tergigit ular," kataku padanya. "Ada dua ular di
tempat tidurnya tadi," kata Jay menambahkan.
Ekspresi Larry tidak berubah. Ia sama sekali tidak kelihatan terkejut.
"Jadi ke mana Mike pergi?" tanyanya enteng sambil menepuk nyamuk
di tangannya.
"Tangannya berdarah. Ia pergi ke perawat untuk mengobati lukanya,"
kataku.
"Hah?" Mulut Larry ternganga.
"Ia pergi menemui perawat," kataku mengulangi.
Larry mendongakkan kepalanya dan mulai tertawa. "Perawat?"
teriaknya sambil tertawa terbahak-bahak. "Perawat apa?"
PINTU terbuka dan Mike kembali sambil tetap memegangi tangannya
yang terluka. Wajahnya pucat, ekspresinya ketakutan sekali. "Mereka
bilang tidak ada perawat," katanya padaku.
Lalu ia melihat Larry duduk di tempat tidurnya. "Larry—tanganku,"
kata Mike. Diangkatnya tangannya supaya pengawas itu bisa melihat.
Tangan Mike berdarah.
Larry duduk di lantai. "Kurasa aku punya perban," katanya pada Mike.
Dikeluarkannya kotak hitam ramping dari kolong tempat tidurnya lalu
mulai mencari-cari.
Mike berdiri di sampingnya sambil memegangi tangannya. Darahnya
bertetesan di lantai. "Kata mereka di perkemahan ini tidak ada
perawat," ulang Mike.
Larry menggelengkan kepala. "Kalau kau terluka di perkemahan ini,"
katanya serius pada Mike, "kau harus berusaha mengobatinya sendiri."
"Kurasa tanganku agak bengkak," kata Mike. Larry menyerahkan
segulung perban padanya.
"Kamar mandi ada di ujung deretan pondok ini," katanya pada Mike
sambil menutup kotak dan mendorongnya lagi ke kolong tempat tidur.
"Pergilah cuci dan balut tanganmu. Cepat. Sudah hampir saat makan
malam."
Sambil memegang perban erat-erat di tangannya yang tidak terluka,
Mike bergegas pergi ke arah yang ditunjukkan Larry.
"Ngomong-ngomong, bagaimana cara kalian mengeluarkan ular-ular
itu dari sini?" tanya Larry sambil memandang sekeliling pondok.
"Kami membungkusnya dengan seprai Mike dan membawanya ke
luar," kata Jay. Ia menunjukku. "Itu ide Billy."
Larry menatapku tajam. "Hei, aku terkesan, Billy," katanya. "Berani
juga tindakanmu."
"Mungkin turunan dari orangtuaku," kataku padanya. "Orangtuaku
peneliti ilmiah. Semacam penjelajah. Kadang-kadang mereka pergi
berbulan-bulan, menyelidiki tempat-tempat paling liar."
"Camp Nightmoon cukup liar," kata Larry. "Kalian sebaiknya berhati-
hati. Aku peringatkan kalian." Ekspresi wajahnya berubah serius.
"Tidak ada perawat di Camp Nightmoon. Paman Al tidak mau
memanjakan kalian."
Hot dog-nya gosong semua, tapi karena lapar sekali, kami tidak
peduli. Aku makan tiga dalam waktu kurang dari lima menit. Kurasa
seumur hidup belum pernah aku selapar ini.
Api unggun berada di tempat terbuka yang datar, dikelilingi oleh batu-
batu bulat putih. Di belakang kami, tampak gedung besar beratap
putih yang terletak di bukit landai. Di depan kami, tampak deretan
lebat pohon cemara yang memagari sungai dari pandangan kami.
Dari sela-sela pohon, aku bisa melihat kelap-kelip api unggun di
seberang sungai. Aku ingin tahu apakah itu api unggun di perkemahan
anak perempuan.
Aku teringat pada Dawn dan Dori. Aku ingin tahu apakah perkemahan
kami nanti bisa disatukan. Apakah aku akan bertemu mereka lagi?
Makan malam di dekat api unggun tampaknya membuat semua orang
merasa senang. Dari semua orang yang duduk mengelilingi api
unggun, cuma Jay yang mengomel karena hot dog-nya gosong. Tapi
kurasa ia makan juga empat atau lima hot dog!
Mike agak kesulitan karena tangannya terbalut. Ketika ia menjatuhkan
hot dog pertamanya, kukira ia akan menangis. Setelah makan malam
selesai, ia merasa jauh lebih baik. Tangannya yang terluka bengkak
sedikit. Tapi katanya sudah tidak sesakit tadi.
Para pengawas mudah dikenali. Mereka semua mengenakan seragam
celana pendek putih dan kaus hijau. Jumlah mereka ada delapan atau
sepuluh, semuanya masih muda, mungkin berusia enam belas atau
tujuh belas tahun. Mereka makan bersama tenang-tenang, terpisah
dari kami para peserta perkemahan. Aku terus memandangi Larry, tapi
ia tidak pernah menatap kami sekali pun.
Aku memikirkan Larry, aku ingin tahu apakah ia memang pemalu
ataukah ia tidak terlalu menyukai peserta perkemahan seperti kami.
Tiba-tiba Paman Al berdiri. Ia menggerakkan kedua tangannya meng-
isyaratkan agar kami tidak berbicara lagi.
"Aku ingin mengucapkan selamat datang di Camp Nightmoon pada
kalian," katanya. "Aku berharap kalian semua sudah membongkar
barang kalian dan merasa nyaman di pondok. Aku tahu, sebagian
besar kalian baru sekali ini berkemah."
Ia berbicara cepat sekali, tidak ada jeda di antara kalimatnya, seakan-
akan sudah beribu kali ia mengucapkannya dan ingin cepat-cepat
selesai.
"Aku akan memberitahu beberapa peraturan dasar," lanjutnya.
"Pertama, lampu mati tepat pada jam sembilan."
Banyak yang mengerang.
"Kalian bisa saja mengira dapat mengabaikan peraturan ini," kata
Paman Al, ia tidak memedulikan reaksi anak-anak. "Kalian bisa saja
mengira bisa menyelinap ke luar pondok untuk bertemu teman-teman
kalian atau berjalan-jalan ke sungai. Tapi sekarang kuperingatkan
kami tidak akan membiarkannya dan kami punya cara-cara yang
sangat baik untuk memastikan peraturan ini dipatuhi."
Ia berhenti untuk mengambil napas.
Beberapa anak menertawakan sesuatu. Di seberangku Jay bersendawa
keras. Anak-anak jadi semakin tertawa.
Tampaknya Paman Al tidak mendengar apa-apa. "Di seberang sungai
ada perkemahan anak perempuan," katanya keras-keras sambil
menunjuk pepohonan. "Kalian mungkin bisa melihat api unggunnya.
Aku ingin mengatakan kalian dilarang keras berenang atau berperahu
ke perkemahan anak perempuan."
Beberapa anak mengerang keras. Semua orang jadi tertawa. Beberapa
pengawas pun tertawa. Paman Al tetap serius.
"Hutan di sekeliling Camp Nightmoon penuh beruang grizzli dan
beruang pohon," kata Paman Al. "Mereka mandi dan minum di
sungai. Dan mereka biasanya kelaparan."
Pemberitahuan ini membuat kami semua, yang duduk di sekeliling api
unggun yang mulai padam, ribut bereaksi lagi. Seseorang menggeram
keras. Seorang lagi menjerit. Semua orang lalu tertawa.
"Kalian tidak akan tertawa kalau ada beruang mencakar kepala kalian
sampai putus," kata Paman Al tegas.
Ia berbalik menatap kumpulan pengawas di luar lingkaran tempat
kami duduk. "Larry, Kurt, coba kemari," perintahnya.
Kedua pengawas itu dengan patuh berdiri, berjalan ke tengah
lingkaran, ke samping Paman Al. "Aku ingin kalian berdua
menunjukkan pada para peserta perkemahan yang baru, cara-cara yang
harus dilakukan waktu—eh, maksudku, kalau kalian diserang beruang
grizzli."
Kedua pengawas itu segera berbaring menelungkup di tanah, sambil
menutupi bagian belakang kepala mereka dengan tangan.
"Betul. Aku harap kalian semua memperhatikan dengan cermat," kata
kepala perkemahan itu dengan suara menggelegar. "Tutupi leher dan
kepala kalian. Usahakan sebisa mungkin tidak bergerak." Ia memberi
tanda pada kedua pengawas. "Terima kasih. Kalian bisa berdiri
sekarang."
"Pernahkah ada serangan beruang di sini?" teriakku, kubuat tanganku
seperti corong di depan mulut supaya Paman Al bisa mendengarnya.
Ia berbalik ke arahku. "Musim panas yang lalu ada dua," jawabnya.
Beberapa anak tersentak.
"Memang tidak menyenangkan," kata Paman Al. "Sulit rasanya
berdiam diri ketika seekor beruang besar mengancammu dan
menatapmu penuh nafsu. Tapi kalau kalian bergerak..." Suaranya
menghilang, kurasa supaya kami bisa membayangkan kejadian
selanjutnya.
Aku merinding. Aku tidak mau mengingat-ingat beruang dan serangan
beruang.
Ke perkemahan macam apa Mom dan Dad mengirimku? Aku
bingung. Aku tidak sabar ingin menelepon dan memberitahu semua
yang sudah terjadi.
Paman Al menunggu kami semua diam, lalu menunjuk ke samping.
"Apakah kalian melihat pondok yang di sebelah sana?" tanyanya.
Dalam cahaya malam yang remang-remang, aku bisa melihat ada
pondok di tengah-tengah lereng bukit, di dekat bangunan beratap
putih. Kelihatannya lebih besar dari pondok-pondok lain. Tampaknya
pondok itu miring, seperti berdiri di ujungnya, seolah-olah condong
karena tertiup angin.
"Aku ingin memastikan kalian melihat pondok itu," kata Paman Al
memperingatkan, suaranya yang mengguntur mengalahkan suara api
yang berderak-derak. "Pondok itu dikenal sebagai Pondok Terlarang.
Kami tidak akan membicarakan pondok itudan kami tidak pernah
mendekatinya."
Aku merinding lagi ketika menatap pondok yang miring dan
berbayang-bayang itu dalam keremangan malam. Aku merasa ada
sengatan tajam di tengkukku, lalu segera kutepuk. Ternyata seekor
nyamuk sudah sempat menggigitku.
"Aku akan mengulangi kata-kataku tadi," teriak Paman Al, sambil
menunjuk pondok gelap di atas bukit itu. "Pondok itu namanya
Pondok Terlarang. Pondok itu sudah ditutup selama bertahun-tahun.
Tidak seorang pun boleh mendekatinya. Tidak seorang pun."
Semua orang mulai berbicara dan tertawa. Kurasa tertawa karena
gelisah.
"Kenapa Pondok Terlarang itu terlarang?" teriak seseorang.
"Kami tidak pernah membicarakannya," jawab Paman Al tajam.
Jay membungkuk dan berbisik di telingaku, "Ayo kita periksa."
Aku tertawa. Lalu aku ragu-ragu berbalik menatap Jay. "Kau main-
main, kan?"
Ia cuma meringis dan tidak berkata apa-apa lagi.
Aku berbalik menatap api unggun lagi. Paman Al sedang berkata
semoga kami menikmati perkemahan ini dan mengatakan betapa
tahun ini ia sangat ingin berkemah. "Dan satu peraturan lagi—"
teriaknya. "Kalian harus mengirim surat pada orangtua kalian setiap
hari. Setiap hari! Kami ingin mereka mengetahui kalian bersenang-
senang di Camp Nightmoon."
Aku melihat Mike memegang tangannya yang terluka dengan hati-
hati. "Tanganku mulai berdenyut-denyut," katanya padaku,
kedengaran sangat ketakutan.'
"Mungkin Larry punya obat," kataku. "Ayo kita tanya dia."
Paman Al membubarkan kami. Kami semua berdiri, menggeliat dan
menguap, dan mulai berjalan berkelompok kembali ke pondok.
Mike dan aku berjalan belakangan, berharap semoga bisa bicara
dengan Larry. Kami melihat ia sedang berbicara dengan pengawas
lain. Ia lebih tinggi dari mereka semua.
"Hei, Larry—" panggil Mike.
Tapi ketika kami berhasil menembus arus anak-anak yang berjalan ke
arah yang berlawanan dengan kami, Larry sudah tidak kelihatan.
"Mungkin ia pergi ke pondok kita untuk memastikan kita mematuhi
peraturan tentang pemadaman lampu," kataku.
"Ayo kita lihat," jawab Mike cemas.
Kami berjalan cepat melewati api unggun yang mulai padam. Apinya
sudah tidak berderak-derak lagi, tapi baranya masih ada. Lalu kami
berjalan di tikungan bukit menuju Pondok 4.
"Tanganku sakit sekali," erang Mike sambil memegang tangannya
lembut. "Aku bukan cuma sekadar merengek-rengek. Tanganku
berdenyut dan mulai membengkak. Badanku mulai terasa dingin."
"Larry akan tahu apa yang harus dilakukan," jawabku, berusaha
kedengaran meyakinkan.
"Semoga," kata Mike gemetar.
Kami berdua berhenti ketika mendengar suara lolongan.
Lolongan yang mengerikan. Seperti binatang sedang kesakitan. Tapi
rasanya lebih mirip lolongan manusia daripada binatang.
Lolongan-lolongan panjang dan melengking yang terdengar keras dan
bergema sampai ke bawah bukit.
Mike tersentak. Ia berbalik menatapku. Meskipun gelap, aku bisa
melihat wajahnya yang ketakutan.
"Teriakan-teriakan itu," bisiknya. "Datangnya dari... Pondok
Terlarang!"
Ebukulawas.blogspot.com
BEBERAPA menit kemudian Mike dan aku terseok-seok masuk ke
pondok. Jay dan Colin duduk tegang di tempat tidur mereka. "Mana
Larry?" tanya Mike, suaranya kedengaran ketakutan.
"Tidak ada di sini," jawab Colin.
"Mana dia?" tanya Mike melengking. "Aku harus menemui dia.
Tanganku!"
"Sebentar lagi pasti dia datang," kata Jay.
Aku masih bisa mendengar lolongan aneh itu dari jendela yang
terbuka. "Kalian dengar itu?", tanyaku sambil berjalan ke jendela dan
mendengarkan dengan cermat.
"Mungkin kucing padang rumput," kata Colin. "Kucing padang
rumput tidak melolong," kata Mike padanya. "Kucing padang rumput
menciut-ciut, tidak melolong."
"Kau tahu dari mana?" tanya Colin sambil berjalan ke tempat tidur
bertingkat Larry lalu duduk di tempat tidur bawah.
"Dari pelajaran sekolah," jawab Mike.
Kami berhenti bicara dan mendengarkan ketika terdengar lagi suara
lolongan.
"Kedengarannya seperti lolongan manusia," kata Jay, matanya
bersinar-sinar karena bersemangat. "Manusia yang sudah bertahun-
tahun dikurung di pondok Terlarang."
Mike menelan ludah. "Betul begitu?"
Jay dan Colin tertawa.
"Sebaiknya kuapakan tanganku?" tanya Mike sambil mengangkat
tangannya. Tangannya benar-benar bengkak sekarang.
"Cuci lagi," kataku. "Dan ganti perbannya." Aku menatap kegelapan
di luar jendela. "Mungkin sebentar lagi Larry muncul. Ia mungkin
tahu harus mencari obat ke mana."
"Aku tidak percaya di sini tidak ada perawat," rengek Mike.
"Mengapa orangtuaku mau mengirimku ke perkemahan yang tidak
ada perawat, klinik, atau tempat berobat lainnya?"
"Paman Al tidak suka memanjakan kita," kata Colin, mengulangi kata-
kata Larry.
Jay berdiri dan meniru tingkah laku Paman Al. "Jauhi Pondok
Terlarang!" teriaknya dengan suara mengguntur. Ia kedengaran mirip
sekali dengan Paman Al. ''Kami tidak membicarakannya dan tidak
pernah mendekatinya!"
Kami semua tertawa melihat kelakuan Jay. Mike juga.
"Kita harus pergi ke sana malam ini!" kata Colin bersemangat. "Kita
harus segera memeriksanya!"
Kami mendengar lagi lolongan yang panjang dan sengsara dari arah
Pondok Terlarang.
"Me—menurutku tidak usah saja," kata Mike pelan sambil mengamati
tangannya. Ia menatap pintu. "Aku akan mencuci tanganku."
Dibantingnya pintu.
"Ia ketakutan," ejek Jay.
"Aku juga agak ketakutan," kataku mengaku. "Maksudku, lolongan-
lolongan mengerikan itu..."
Jay dan Colin tertawa. "Semua perkemahan punya tempat aneh seperti
Pondok Terlarang. Kepala perkemahan yang mengarang-ngarang
ceritanya," kata Colin.
"Yeah," kata Jay setuju. "Kepala perkemahan suka sekali menakut-
nakuti anak-anak. Cuma itu cara mereka bersenang-senang."
Dibusungkannya dadanya dan ditirunya Paman Al lagi. "Jangan keluar
setelah lampu dipadamkan, kalau tidak kalian akan hilang!" katanya
menggelegar, lalu tertawa keras.
"Tidak ada apa-apa di Pondok Terlarang itu," kata Colin, sambil
menggeleng. "Mungkin saja pondok itu sama sekali kosong. Semua
ini cuma lelucon. Kau tahu, kan. Seperti cerita-cerita hantu di
perkemahan. Setiap perkemahan punya cerita hantu sendiri-sendiri."
"Dari mana kau tahu?" tanyaku sambil duduk di tempat tidur Mike.
"Kau pernah berkemah?"