The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

GOOSEBUMP - SELAMAT DATANG DI CAMP NIGHTMARE

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cicik.wulandari, 2022-02-13 21:50:01

GOOSEBUMP - SELAMAT DATANG DI CAMP NIGHTMARE

GOOSEBUMP - SELAMAT DATANG DI CAMP NIGHTMARE

"Tidak," jawab Colin. "Tapi aku punya teman yang menceritakan
tentang perkemahan mereka." Ia mengangkat tangannya membuka
kacamata peraknya untuk pertama kali. Matanya berwarna biru Iangit
cerah, seperti kelereng biru besar.

Tiba-tiba kami mendengar suara terompet, nadanya pelan dan
kedengaran sedih.

"Itu pasti tanda sudah waktunya mematikan lampu," kataku sambil
menguap. Aku mulai membuka sepatu. Aku tidak berganti pakaian
atau mencuci muka karena sudah terlalu lelah. Aku akan tidur dengan
pakaian yang sudah kukenakan dari tadi.

"Ayo kita menyelinap ke luar dan menyelidiki Pondok Terlarang,"
desak Jay. "Ayolah. Kita bisa jadi orang pertama yang
melakukannya!"

Aku menguap lagi. "Aku benar-benar terlalu capek," kataku pada
mereka.

"Aku juga," kata Colin. Ia berbalik menatap Jay. "Bagaimana kalau
besok malam saja?"

Wajah Jay tampak kecewa.

"Besok," kata Colin berkeras sambil menendang sepatunya ke sudut
lalu mulai membuka kaus kaki.

"Seandainya aku jadi kalian, aku tidak akan melakukannya!"

Suara itu mengagetkan kami bertiga. Kami berbalik menatap jendela
tempat kepala Larry tiba-tiba tampak dari balik kegelapan. Ia meringis
pada kami. "Seandainya aku jadi kalian, aku akan mematuhi kata-kata
Paman Al," katanya.

Sudah berapa lama ia mendengarkan kami dari luar sana? Aku ingin
tahu, apakah ia sengaja memata-matai kami?

Pintu pondok terbuka. Larry menundukkan kepalanya ketika
melangkah masuk. Senyumnya sudah hilang. "Paman Al tidak main-
main," katanya serius.

"Yeah. Tentu," jawab Colin kasar. Ia naik ke tempat tidurnya dan
masuk ke balik selimut wol.

"Kurasa hantu perkemahan ini akan memakan kami kalau kami ke luar
setelah lampu dipadamkan," kata Jay bercanda sambil melempar
handuk ke seberang kamar.

"Bukan. Bukan hantu," kata Larry pelan. "Tapi Sabre yang akan
memakan kalian." Ia menarik lacinya, mulai mencari-cari sesuatu di
dalamnya.

"Hah? Siapa Sabre?" tanyaku, kantukku tiba-tiba hilang.

"Sabre adalah sesuatu," jawab Larry misterius.

"Sabre adalah monster bermata merah yang setiap malam memakan
peserta perkemahan," ejek Colin. Ia menatapku. "Sabre itu tidak ada.
Larry cuma mengarang-ngarang cerita."

Larry berhenti mengaduk-aduk lacinya dan menatap Colin. "Tidak,
aku tidak bohong," katanya dengan suara pelan. "Aku berusaha
menghindarkan kalian dari masalah. Aku tidak bermaksud menakut-
nakuti kalian."

"Kalau begitu apa itu Sabre?" tanyaku tidak sabar.

Larry mengeluarkan baju hangat dari laci, lalu ditutupnya lagi lacinya
itu. "Kau tidak akan mau mengetahuinya," jawabnya.

"Ayolah. Katakan pada kami," kataku memohon.

"Ia tidak akan mau," kata Colin.

"Aku cuma akan mengatakan satu hal pada kalian. Sabre akan
mengoyak jantung kalian," kata larry datar.

Jay mengejek. "Yeah. Tentu."

"Aku serius!" bentak Larry. "Aku tidak main-main!" Dipakainya baju
hangatnya. "Kalian tidak percaya? Suatu malam nanti keluarlah.
Keluar dan temui Sabre." Ia berusaha memasukkan tangannya ke
lengan baju hangat. "Tapi sebelum kalian melakukannya," katanya
memperingatkan, "tinggalkan alamat kalian supaya aku tahu ke mana
harus mengirim barang-barangmu."

KEESOKAN harinya kami bersenang-senang.

Kami semua bangun pagi-pagi sekali. Matahari baru saja terbit dari
kaki langit ke arah selatan, dan udara masih terasa sejuk dan lembap.
Aku bisa mendengar kicau burung.

Suara itu membuatku teringat rumah. Ketika turun sambil menggeliat,
aku teringat orangtuaku. Aku ingin sekali menelepon mereka dan
menceritakan tentang perkemahan ini. Tapi ini baru hari kedua. Aku
pasti akan malu menelepon mereka di hari kedua.

Aku rindu sekali pada rumahku. Tapi untung tidak ada waktu untuk
merasa sedih. Setelah berganti pakaian, kami segera pergi ke
bangunan di atas bukit, yang berfungsi sebagai balai pertemuan,
gedung pertunjukan, dan ruang makan.

Di tengah-tengah aula itu terdapat barisan-barisan lurus meja dan
bangku panjang. Lantai dan dinding kayunya terbuat dari kayu merah
tua. Palang langit-langit dari kayu merah bersilangan jauh di atas
kepala kami. Tidak ada jendela, jadi kami rasanya seperti berada di
gua gelap yang besar sekali.

Denting piring, gelas, peralatan lainnya terdengar memekakkan
telinga. Teriakan dan tawa kami terpantul di langit-langit yang tinggi,
bergema di aula berdinding kayu keras itu. Mike meneriakkan sesuatu
padaku dari seberang meja, tapi aku tidak bisa mendengarnya karena
keributan ini.

Beberapa anak mengomel soal makanan, tapi menurutku makanannya
cukup enak. Kami makan telur orak-arik, daging goreng, kentang
goreng, roti panggang, dan segelas besar sari buah. Aku belum pernah
sarapan sebanyak itu di rumah. Tapi aku memang kelaparan. Kutelan
saja semuanya.

Setelah sarapan, kami berbaris di luar aula untuk membentuk
kelompok kegiatan yang berbeda-beda. Matahari sudah tinggi di
langit. Hari ini akan panas sekali. Suara kami yang bersemangat
bergema di bukit yang landai. Kami semua tertawa-tawa dan ribut
berbicara. Rasanya asyik sekali.

Larry dan dua pengawas lain berdiri di depan kami sambil memegang
papan jadwal. Mereka melindungi mata mereka dari sinar matahari
yang cerah ketika membagi kami dalam kelompok-kelompok.
Kelompok pertama, yang kira-kira terdiri atas sepuluh orang, menuju
sungai untuk berenang.

Betapa beruntungnya mereka, pikirku. Aku ingin sekali ke tepi sungai
dan melihat seperti apa sungainya.

Ketika menunggu namaku dipanggil, aku melihat ada telepon umum
di dinding gedung. Aku teringat orangtuaku lagi. Mungkin nanti aku
akan menelepon mereka, pikirku. Aku ingin sekali menceritakan
perkemahan ini dan teman-teman baruku pada mereka.

"Oke, anak-anak. Ikuti aku ke lapangan bola," perintah Larry. "Kita
akan bermain scratchball1.

Kira-kira dua belas orang, termasuk teman-teman sepondokku,
mengikuti Larry menuruni bukit menuju lapangan berumput.

Aku berlari untuk menyamai langkah Larry, yang tampaknya selalu
melangkah cepat-cepat, digerakkannya kakinya yang panjang seakan-
akan sedang terburu-buru. "Apakah setelah ini kita akan berenang?"
tanyaku.

Tanpa mengurangi kecepatan langkahnya, ia melirik papan jadwalnya.
"Yeah. Kurasa ya," jawabnya. "Kalian akan perlu berenang nanti. Kita
akan berkeringat."

"Kau pernah bermain scratchball?" tanya Jay ketika kami bergegas-
gegas mengikuti Larry.

"Yeah. Tentu," jawabku. "Kami sering memainkannya di sekolah."

Larry berhenti di sudut jauh lapangan yang lebar dan hijau, tempat
base dan kotak pemukul. Ia menyuruh kami berbaris dan membagi
kami menjadi dua regu.

Scratchball mudah dipelajari. Pelempar melemparkan bola setinggi
dan sejauh mungkin. Lalu ia harus berlari ke base-base sebelum regu
lain menangkap bola tadi, melemparnya dengan bola, atau melempar
si pelempar tadi ke luar.

1 Semacam permainan kasti

Larry mulai memanggil nama kami, membagi kami menjadi regu-
regu. Tapi ketika ia memanggil nama Mike, Mike maju mendekati
Larry sambil hati-hati memegang tangannya. "Aku—aku rasa aku
tidak bisa bermain, Larry," kata Mike tergagap.

"Ayolah, Mike. Jangan cengeng," bentak Larry.

"Tapi rasanya sakit sekali," kata Mike berkeras. "Berdenyut-denyut
terus, Larry. Rasa sakitnya terasa naik-turun di pinggangku. Dan,
lihat—" diangkatnya tangannya ke muka Larry—"bengkak semua!"

Pelan-pelan Larry mendorong tangan Mike dengan papan jadwalnya.
"Duduklah di bawah pohon," katanya pada Mike.

"Tidakkah aku mendapat obat?" tanya Mike melengking. Aku tahu
anak malang itu kesakitan.

"Duduk saja di samping pohon itu," perintah Larry sambil menunjuk
ke segerombolan pohon-pohon pendek dan rindang di pinggir
lapangan. "Nanti kita bicarakan."

Larry segera berbalik membelakangi Mike dan meniup peluitnya
untuk memulai permainan. "Aku akan menggantikan Mike di Regu
Biru," katanya,

berlari ke lapangan.

Aku langsung melupakan Mike begitu permainan dimulai. Kami
sangat gembira. Sebagian besar pemain ternyata mahir bermain
scratchball dan kami bermain jauh lebih cepat dibandingkan teman-
temanku di rumah.

Ketika tiba giliran pertamaku untuk menjadi pemukul, kulemparkan
bolanya tinggi sekali. Tapi jatuhnya tepat di tangan fielder2, aku
terpaksa keluar. Pada giliranku yang kedua, aku berhasil mencapai
tiga base sebelum akhirnya terkena bola.

Larry pintar sekali bermain. Ketika tiba gilirannya memukul,
dilemparnya bola lebih jauh dari siapa pun. Bola itu melayang di atas
kepala para fielder, dan ketika mereka mengejarnya, Larry berhasil
mengelilingi semua base. Kakinya yang panjang bergerak anggun
ketika berlari.

Pada giliran keempat, regu kami, Regu Biru, menang dengan angka
dua belas melawan enam. Kami semua bermain dengan bersemangat
dan keringat bercucuran. Rasanya aku sudah ingin sekali berenang di
sungai tadi.

Colin berada di Regu Merah. Kulihat cuma dia yang tidak menikmati
permainan ini. Ia terkena bola dua kali dan tidak bisa menangkap bola.

Aku tahu tubuh Colin tidak terlalu atletis. Lengannya panjang dan
kurus, tidak berotot, dan cara larinya juga aneh.

Pada giliran ketiga Colin bertengkar dengan salah satu pemain di
reguku mengenai sah atau tidaknya suatu lemparan. Beberapa menit
kemudian, Colin marah-marah pada Larry soal bola yang menurutnya
keluar.

Ia dan Larry berteriak-teriak selama beberapa menit. Cuma
pertengkaran biasa, pertengkaran olah raga. Larry akhirnya menyuruh

2 Pemain yang bertugas menangkap bola

Colin tutup mulut dan kembali ke outfield3. Dengan menggerutu Colin
mematuhinya, dan permainan dilanjutkan.
Aku tidak memikirkannya lagi. Maksudku, pertengkaran semacam itu
sering terjadi dalam pertandingan olahraga. Dan ada orang-orang yang
menyukai pertengkaran itu seperti mereka menyukai permainannya
sendiri.

Tapi, di giliran berikutnya, terjadi sesuatu yang aneh yang membuatku
merasa tidak enak dan bingung memikirkan apa yang sedang terjadi.

Giliran regu Colin memukul bola. Colin melangkah ke kotak pemukul
dan bersiap-siap memukul bola.
Larry bermain jadi outfield. Aku berdiri di dekatnya, di lapangan juga.

Colin memukul bola tinggi-tinggi, tapi tidak jauh sekali.

Larry dan aku bersama-sama berlari mengejar bola itu.
Larry yang sampai duluan. Ditangkapnya bola yang kecil dan keras itu
pada pantulan pertama, ditekuknya tangannya—lalu kulihat ekspresi
wajahnya berubah.
Kulihat wajahnya menegang karena marah. Kulihat matanya menyipit,
alisnya yang berwarna tembaga berkerut karena berkonsentrasi.
Sambil berteriak keras, Larry melemparkan bola sekuat tenaga.

3 Pemain yang bertugas di luar area permainan

Bola itu mengenai bagian belakang kepala Colin, suara benturannya
keras sekali.

Kacamata perak Colin terpental tinggi.

Colin langsung berhenti dan berteriak melengking. Tangannya
terangkat seperti orang yang tertembak. Lalu lututnya tertekuk.

Ia jatuh terempas, wajahnya tertelungkup di rumput. Ia tidak bergerak.

Bolanya menggelinding di rumput.

Aku berteriak terkejut.

Lalu kulihat ekspresi wajah Larry berubah lagi. Matanya terbelalak
tak percaya. Mulutnya ternganga ngeri.

"Astaga!" teriaknya. "Bolanya meleset! Aku tidak bermaksud
melemparkannya ke arah dia!"

Aku tahu Larry berbohong. Aku tadi melihat kemarahan di wajahnya
sebelum ia melempar bola.

Aku jatuh berlutut ke tanah ketika Larry berlari mendatangi Colin.
Aku merasa pusing, kesal, dan bingung. Perutku terasa mual.

"Bolanya meleset!" Larry berteriak-teriak. "Bolanya meleset!"

Pembohong, pikirku. Pembohong, pembohong, pembohong.

Aku menguatkan diri untuk berdiri dan bergegas bergabung dengan
anak-anak yang mengerumuni Colin. Ketika aku sampai di sana, Larry

sedang berlutut di samping Colin, pelan-pelan diangkatnya kepala
Colin dari atas tanah dengan kedua tangannya.

Mata Colin terbelalak. Ia bingung menatap Larry dan mengerang
pelan.

"Jangan mengerumuni dia!" teriak Larry. "Jangan mengerumuni dia."
Ditatapnya Colin. "Bolanya meleset. Maafkan aku. Bolanya meleset."

Colin mengerang. Matanya terbalik. Larry melepaskan bandana merah
Colin dan menggunakannya untuk menghapus keringat di dahi Colin.

Colin mengerang lagi. Matanya terpejam.

"Bantu aku membawanya ke aula," perintah Larry pada dua orang
anggota Regu Merah. "Yang lainnya berganti pakaian sebelum
berenang. Pengawas renang akan menanti kalian."

Aku mengamati saat Larry dan kedua anak itu mengangkat Colin dan
membawanya ke aula. Larry memegang bagian bawah bahu Colin.
Kedua anak itu memegang kakinya dengan kaku.

Perutku masih terasa mual. Aku terus teringat ekspresi tegang dan
marah di wajah Larry ketika ia melemparkan bola ke bagian belakang
kepala Colin.

Aku tahu kejadian itu disengaja.

Aku mulai mengikuti mereka. Aku tidak tahu mengapa. Mungkin
karena terlalu gelisah, aku jadi tidak bisa berpikir jernih.

Mereka sudah hampir sampai di kaki bukit ketika kulihat Mike
mengejar mereka. Ia berlari di samping Larry sambil memegangi
tangannya yang bengkak.

"Bolehkah aku. ikut?" tanyanya memohon. "Tanganku harus
diperiksa. Sakit sekali rasanya, Larry. Tolong—bolehkah aku ikut
juga?"

"Yeah. Sebaiknya kau ikut," aku mendengar Larry menjawab pendek.

Bagus, pikirku. Akhirnya ada juga orang yang akan memeriksa tangan
Mike yang digigit ular.

Kuabaikan keringat yang mengalir di dahiku, kuamati mereka
mendaki bukit menuju aula.

Seharusnya hal ini tidak terjadi, pikirku. Tiba-tiba aku merasa dingin
sekali meskipun matahari bersinar cerah.

Ada yang tidak beres. Ada yang sangat tidak beres di sini.

Bagaimana aku tahu kalau ini baru awal rentetan kejadian-kejadian
yang menyeramkan?

SIANG hari setelah kejadian itu, Jay dan aku menulis surat untuk
orangtua kami. Perasaanku sangat kacau. Aku teringat terus pada
ekspresi marah di wajah Larry ketika melemparkan bola ke belakang
kepala Colin.

Aku menceritakannya di dalam suratku. Kuceritakan juga bahwa di
sini tidak ada perawat, juga tentang Pondok Terlarang.

Jay berhenti menulis dan memandangku dari tempat tidurnya.
Kulitnya terbakar matahari semua. Pipi dan dahinya merah-merah.

Digaruk-garuknya kepalanya. "Kita berjatuhan seperti lalat," katanya
sambil memberi tanda pada pondok yang nyaris kosong.

"Yeah," kataku sedih. "Semoga Colin dan Mike baik-baik saja." Lalu
aku keterlepasan bicara, "Larry sengaja mengenai Colin."

"Hah?" Jay berhenti menggaruk-garuk kepalanya dan memegang
tempat tidur. "Ia apa?"

"Ia sengaja melempar bola ke kepala Colin. Aku melihatnya," kataku,
suaraku gemetar. Tadinya aku tidak berniat menceritakannya pada
siapa pun, tapi sekarang aku lega karena sudah melakukannya.

Perasaanku terasa lebih baik setelah mengatakannya.

Tapi aku lalu melihat Jay tidak mempercayaiku. "Tidak mungkin,"
katanya tenang. "Larry pengawas kita. Lemparannya meleset. Itu
saja."

Aku mulai membantah ketika pintu pondok terbuka dan Colin masuk,
didampingi Larry.

"Colin! Bagaimana keadaanmu?" teriakku. Jay dan aku serentak
melompat.

"Lumayan," jawab Colin. Ia tersenyum terpaksa. Aku tidak bisa
melihat matanya. Matanya tersembunyi lagi di balik kacamata
peraknya.

"Ia masih agak goyah, tapi keadaannya baik-baik saja," kata Larry
gembira sambil memegang lengan Colin.

"Pandanganku agak mendua," kata Colin mengaku. "Maksudku,
pondok ini kelihatan padat sekali di mataku. Kalian berdua masing-
masing kelihatan ada dua."

Jay serta aku tertawa pendek dan tidak enak.

Larry membantu Colin berjalan ke tempat tidur yang diduduki Jay
tadi. "Sehari-dua hari lagi ia akan sembuh," kata Larry.

"Yeah. Sakit kepalanya sudah agak berkurang," kata Colin, sambil
mengusap bagian belakang kepalanya pelan-pelan, lalu berbaring di
tempat tidur.

"Kau tadi diobati dokter?" tanyaku.

"Tidak. Cuma Paman Al," jawab Colin. "Ia yang memeriksa dan
katanya aku akan baik-baik saja."

Aku melirik curiga pada Larry, tapi ia memunggungi kami dan
membungkuk untuk mencari sesuatu di dalam tas ransel yang
disimpannya di kolong tempat tidur.

"Mana Mike? Ia baik-baik saja?" tanya Jay pada Larry.

"He-eh," jawab Larry tanpa menatap kami. "Ia baik-baik saja."

"Tapi di mana dia?" desakku.

Larry mengangkat bahu. "Kurasa masih di aula. Aku tidak tahu pasti."

"Tapi ia akan kembali, kan?" tanyaku berkeras.

Larry mendorong tasnya ke kolong tempat tidur dan berdiri. "Kalian
sudah selesai menulis surat?" Tanyanya. "Cepatlah dan segera ganti
pakaian untuk makan malam. Kalian bisa mengeposkan surat kalian di
aula."

la berjalan ke pintu. "Hei, jangan lupa malam ini Malam Tenda.
Malam ini kalian tidur di tenda.”

Kami semua mengerang. "Tapi, Larry, di luar terlalu dingin!" protes
Jay.

Larry tidak memedulikannya dan berbalik.

"Hei, Larry, kau punya obat untuk kulitku yang terbakar matahari
ini?" tanya Jay.

“Tidak," jawab Larry, segera menghilang ke balik pintu

Jay dan aku membantu Colin berjalan ke aula.

Penglihatannya masih mendua dan sakit kepalanya lumayan hebat.

Kami bertiga duduk di ujung meja panjang yang paling dekat dengan
jendela. Angin dingin bertiup ke meja. Rasanya enak sekali di kulit
kami yang terbakar matahari.

Kami makan daging dengan kentang dan saus untuk makan malam.
Rasanya tidak terlalu enak, tapi karena lapar sekali, aku tidak peduli.
Colin tidak nafsu makan. Ia cuma memakan ujung-ujung dagingnya.

Ruangan makan tetap saja berisik. Anak-anak tertawa dan berteriak
pada teman-temannya di seberang meja panjang. Di satu meja, anak-
anak melempar-lempar roti panjang seperti melempar tombak.

Seperti biasa, para pengawas, yang mengenakan pakaian hijau dan
putih, makan bersama di meja di ujung dan sama sekali tidak
memedulikan para peserta perkemahan.

Ada desas-desus setelah makan malam nanti kami akan mempelajari
semua lagu perkemahan. Anak-anak mengerang dan berkeluh kesah
mendengarnya.

Pada saat makan malam, Jay dan seorang anak yang duduk di
seberang meja, namanya Roger, mulai bermain-main. Mereka
memperebutkan roti panjang. Jay menarik roti itu kuat-kuat dan

berhasil mendapatkannya—dan menumpahkan segelas penuh sari
anggur di celana pendek cokelatku.

"Hei!" Aku melompat marah, kupandangi noda ungu itu menyebar di
bagian depan celana pendekku.

"Billy kecelakaan!" teriak Roger. Semua orang tertawa.

"Yeah. Celananya jadi ungu!" tambah Jay.

Semua menganggap ini lucu sekali. Lalu Seseorang melemparkan roti
panjang ke arahku. Roti itu memantul di dadaku dan jatuh ke piringku.
Anak-anak tertawa makin keras.

Perang makanan itu cuma berlangsung beberapa menit. Lalu dua
orang pengawas menghentikannya. Kuputuskan sebaiknya segera
kembali ke pondok dan mengganti celana pendekku. Ketika aku
bergegas-gegas keluar, kudengar Jay dan Roger berteriak mengolok-
olok aku.

Aku berlari menuruni bukit secepat mungkin menuju pondok. Aku
ingin kembali lagi ke aula pada saat hidangan penutup disajikan.

Sambil mendorong pintu pondok dengan bahu, aku menerobos masuk,
langsung menuju lemari pakaian di seberang ruangan, lalu kubuka laci
pakaianku.

"Hah?"

Aku terkejut sekali ketika melihat laciku kosong. Laci itu sudah
dibersihkan, tidak ada isinya sama sekali.

"Apa-apaan ini?" tanyaku keras-keras. "Mana barang-barangku?"
Dengan perasaan bingung, aku melangkah mundur—lalu aku sadar
bahwa tadi aku membuka laci yang salah. Laci itu bukan laciku.

Itu tadi laci Mike.

Lama kupandangi laci yang kosong itu.

Semua pakaian Mike sudah dipindahkan. Aku berbalik mencari-cari
kopernya, yang ditumpuk di belakang pondok kami.

Koper Mike juga sudah tidak ada.

Mike tidak kembali.

***

Aku begitu kalut sehingga aku berlari kembali ke aula tanpa
mengganti celana pendek.

Dengan napas terengah-engah, aku mendatangi meja para pengawas,
berhenti di belakang Larry. Ia sedang berbicara dengan pengawas di
sebelahnya, yang berbadan gemuk, berambut pirang panjang dan
jarang-jarang. "Larry—Mike sudah pergi!" teriakku terengah-engah.

Larry tidak berbalik. Ia terus saja berbicara dengan pengawas itu,
seolah-olah aku tidak ada.
Kucengkeram bahu Larry. "Larry—dengar!" teriakku. "Mike—ia
sudah pergi!"

Pelan-pelan Larry berbalik, wajahnya kelihatan kesal. "Kembalilah ke
mejamu, Billy," bentaknya. "Meja ini cuma untuk para pengawas."

"Tapi Mike bagaimana?" tanyaku melengking. "Barang-barangnya
sudah tidak ada. Apa yang terjadi pada dirinya? Apakah ia baik-baik
saja?"

"Mana aku tahu?" jawab Larry tidak sabar. "Apakah ia dipulangkan?"
tanyaku. Aku tidak mau mundur sebelum memperoleh jawaban.

"Yeah. Mungkin." Larry mengangkat bahu, lalu menurunkan
pandangannya. "Kau menumpahkan sesuatu di celana pendekmu."

Jantungku berdebar keras sekali sehingga bisa kurasakan darah
berdenyut-denyut di dahiku. "Kau benar-benar tidak tahu apa yang
terjadi pada Mike?" tanyaku, aku merasa kalah.

Larry mengangguk. "Aku yakin ia baik-baik saja," jawabnya, sambil
berbalik menatap teman-temannya lagi.

"Mungkin ia berenang," ejek pengawas berambut jarang yang duduk
di sebelahnya.

Larry dan beberapa pengawas lain tertawa. Menurutku itu tidak lucu.
Aku merasa mual sekali. Dan agak ketakutan.

Tidakkah pengawas-pengawas di perkemahan ini memedulikan kami?
aku bertanya-tanya sendiri dengan perasaan suram.

Aku berjalan kembali ke mejaku. Hidangan penutup berupa puding
cokelat sedang dihidangkan, tapi aku tidak merasa lapar lagi.

Kuceritakan pada Colin, Jay, dan Roger tentang laci Mike yang sudah
dikosongkan, dan tentang Larry yang berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Mereka tidak terlalu mencemaskannya.

"Mungkin Paman Al harus memulangkannya karena tangannya yang
sakit itu," kata Colin tenang

sambil menyendok pudingnya. ''Tangannya lumayan bengkak."

"Tapi mengapa Larry tidak mengatakan yang sebenarnya saja?"
tanyaku, perutku masih terasa seperti seolah-olah aku tadi makan batu.
"Mengapa ia tadi mengatakan tidak tahu apa-apa mengenai Mike?"

"Pengawas tidak suka membicarakan hal-hal yang tidak enak," kata
Jay sambil memukul bagian atas pudingnya dengan sendok. "Itu bisa
membuat anak-anak kecil seperti kita ini bermimpi buruk."
Disendoknya puding, dimundurkannya, dan dilemparkankannya ke
dahi Roger.

"Jay—kau harus kuhajar!" teriak Roger sambil menyendok pudingnya
juga. Dilemparkannya ke bagian depan lengan kaus Jay.

Terjadilah perang puding sampai ke ujung meja panjang.

Tidak ada lagi yang membicarakan Mike.

Setelah makan malam, Paman Al menjelaskan tentang Malam Tenda
dan betapa menyenangkannya bermalam di tenda malam ini. "Diam-
diam saja supaya tidak diserang beruang!" katanya bercanda. Hebat
sekali candanya.

Lalu ia dan para pengawas mengajarkan lagu-lagu perkemahan pada
kami. Paman Al menyuruh kami menyanyikannya terus sampai kami
hafal.

Aku sedang tidak ingin menyanyi. Tapi Jay dan Roger mulai
mengarang kata-kata yang kasar sekali untuk lagu-lagu itu. Dan segera
saja sekelompok anak bergabung, menyanyikan lagu-lagu versi kami
sendiri sekeras-kerasnya.

Setelah itu, kami semua berjalan menuruni bukit menuju tenda.
Malam itu sejuk dan cerah. Bintang-bintang pudar bertebaran di langit
yang berwarna ungu kehitam-hitaman.

Aku membantu Colin menuruni bukit. Pandangannya masih mendua
dan ia pun masih merasa agak lemah.

Jay dan Roger berjalan beberapa langkah di depan kami, mendorong-
dorong dengan bahu, mula-mula ke kiri, lalu ke kanan.

Tiba-tiba Jay berbalik menatap Colin dan aku. "Malam ini saatnya,"
bisiknya, ia tersenyum jahat.

"Hah? Malam ini saatnya apa?" tanyaku.

"Sssst." Ditempelkannya jari ke mulutnya. "Kalau semua orang sudah
tidur, Roger dan aku akan memeriksa Pondok Terlarang." Ia berbalik
menatap Colin. "Kau ikut?"

Colin menggeleng sedih. "Rasanya aku tidak sanggup, Jay."
Sambil berjalan mundur di depan kami, Jay menatap mataku tak
berkedip. "Kau bagaimana, Billy? Ikut?"

"AKU—aku rasa aku akan menemani Colin," kataku.

Kudengar Jay bergumam mengatakan aku pengecut. Jay kelihatan
kecewa. "Kau akan rugi nanti," katanya.

"Biarlah. Aku memang merasa agak lelah," kataku. Memang benar.
Aku merasa lelah sekali setelah melalui hari yang panjang ini, semua
ototku terasa sakit. Rambutku pun terasa sakit!

Sepanjang jalan menuju tenda, Jay dan Roger berbisik-bisik
menyusun rencana.

Setibanya di kaki bukit, aku berhenti dan menatap Pondok Terlarang
di atas. Di bawah sinar bulan yang pucat, pondok itu tampak seolah-
olah miring ke arahku. Aku menunggu terdengarnya suara lolongan
yang tampaknya berasal dari dalam pondok. Tapi malam ini keadaan
sunyi senyap.

Tenda-tenda besar berderet di daerah pondok. Aku merayap masuk ke
tenda kami dan berbaring di atas kantong tidurku. Tanahnya keras

Aku tahu malam ini pasti terasa sengsara.

Jay dan Colin kelihatan sibuk dengan kantong tidur mereka di bagian
belakang tenda.

"Aneh rasanya tidak ada Mike di sini," kataku. Tiba-tiba aku
merinding.

"Sekarang kau jadi punya banyak tempat untuk barang-barangmu,"
kata Jay ringan. Ia meringkuk di tepi tenda, wajahnya tegang, matanya
menatap kegelapan di luar pintu tenda yang terbuka sedikit.

Larry entah di mana. Colin duduk diam. Ia masih merasa kurang
sehat.

Aku mengubah posisi tidurku dan menggeliat, aku berusaha mencari
posisi yang enak. Aku ingin tidur. Tapi aku tahu aku tidak akan bisa
tidur sebelum Jay dan Roger kembali dari petualangan mereka.

Waktu bergerak dengan lamban. Di luar dingin, udara di dalam tenda
terasa pengap dan lembap.

Aku menatap dinding tenda. Ada kumbang merayap di keningku.
Kusingkirkan dengan tangan.

Aku bisa mendengar Jay dan Colin berbisik-bisik di belakangku, tapi
aku tidak bisa menangkap pembicaraan mereka. Jay tertawa gelisah.

Aku pasti sempat terlelap. Suara bisikan yang mendesak membuatku
terbangun. Sesaat kemudian baru aku sadar, ada yang sedang berbisik-
bisik di luar tenda.

Aku mengangkat kepala dan melihat wajah Roger tersembul dari luar.
Aku duduk tegak, merasa waswas.

"Doakan kami," bisik Jay.

"Semoga berhasil," bisikku, suaraku tercekik karena baru bangun.

Dalam kegelapan kulihat bayangan Jay yang besar merayap cepat ke
pintu tenda. Dibukanya, tampak sepotong langit, lalu ia menghilang di
kegelapan.

Aku gemetar. "Ayo menyelinap ke pondok," bisikku pada Colin. "Di
luar sini dingin sekali. Dan tanahnya keras seperti batu."

Colin setuju. Kami berdua keluar dari tenda da berjalan diam-diam ke
pondok kami yang hangat dan menyenangkan. Sesampainya di dalam,
kami menuju jendela dan mencoba melihat Jay dan Roger.

"Mereka akan tertangkap," bisikku. "Aku tahu."

"Mereka tidak akan tertangkap," bantah Colin "Tapi mereka tidak
akan melihat apa-apa. Tidak ada apa-apa di atas sana. Cuma pondok
konyol." '

Dengan menjulurkan kepala ke luar jendela, aku bisa mendengar Jay
dan Roger cekikikan pelan entah di mana di kegelapan sana.
Perkemahan sunyi sekali, kesunyian yang mengerikan. Aku bisa
mendengar mereka berbisik-bisik, suara kaki mereka berjalan di sela-
sela rumput yang tinggi.

"Moga-moga mereka tidak bersuara," gumam Colin sambil bersandar
di kusen jendela. "Mereka terlalu ribut."

"Mereka pasti sudah di atas bukit sekarang," bisikku. Kujulurkan
kepalaku sejauh mungkin, tapi mereka tetap tidak kelihatan.

Colin akan menjawab, tapi suara jeritan pertama membuatnya terdiam.

Itu suara jeritan ketakutan yang memenuhi udara yang sunyi.

"Oh!" teriakku dan kutarik kepalaku masuk.

"Itu tadi Jay atau Roger?" tanya Colin, suaranya bergetar.

Jeritan kedua lebih mengerikan dari yang pertama.

Sebelum suara itu menghilang, kudengar geraman binatang. Keras dan
marah. Seperti ledakan guntur.

Lalu kudengar jeritan putus asa Jay, "Tolong kami! Tolong—
tolonglah kami!"

Jantungku berdebar-debar kencang. Aku cepat-cepat menuju pintu
pondok dan membukanya. Jeritan mengerikan tadi masih terdengar di
telingaku. Aku melangkah ke luar, tanah yang tertutup embun
membasahi kakiku.

"Jay—di mana kau?" teriakku, tapi aku tidak mengenali suaraku yang
terdengar melengking dan ketakutan.

Lalu kulihat ada sesosok gelap berlari ke arahku, lari terbungkuk-
bungkuk, dengan tangan terulur.

"Jay!" teriakku. "Ada—apa? Apa yang terjadi?"

Ia berlari mendatangiku, badannya tetap membungkuk, wajahnya
berkerut ketakutan, matanya terbelalak dan tidak berkedip.
Rambutnya yang lebat kelihatan berdiri kaku.

"Ia—ia menangkap Roger," erangnya, dadanya naik-turun ketika
berusaha berdiri tegak.

"Ia apa?" desakku.

"Ada apa?" tanya Colin, tepat di belakangku. "Aku—aku tidak tahu!"
Jay tergagap, dipejamkannya matanya. "Ia—ia mengoyak-ngoyak
Roger." Jay menangis tersedu-sedu. Lalu ia membuka matanya dan
berbalik ketakutan. "Itu dia datang!" jeritnya. "Sekarang ia mengejar
kita!"

Ebukulawas.blogspot.com

DI bawah cahaya bulan yang pucat, aku melihat mata Jay terbeliak.
Lututnya tertekuk dan ia terkulai ke tanah.

Aku cepat-cepat memegangnya sebelum ia jatuh ke tanah dan
menyeretnya ke dalam pondok. Colin membanting pintu hingga
tertutup.

Begitu sampai di dalam, keadaan Jay pelan-pelan membaik. Kami
bertiga berdiri diam dan mendengarkan dengan cermat. Aku masih
memegangi bahu Jay yang naik-turun. Wajahnya pucat sekali dan
napasnya terengah-engah.

Kami mendengarkan.

Sunyi.

Udara terasa panas dan diam.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada binatang yang mendekat.

Cuma suara erangan ketakutan Jay dan bunyi detak jantungku.

Lalu, di kejauhan, aku mendengar lolongan itu. Mula-mula pelan dan
rendah, lalu semakin keras terbawa angin. Lolongan yang membuat
darahku beku dan membuatku berteriak.

"Itu Sabre!"

"Jangan biarkan ia menangkapku!" jerit Jay sambil menutupi
wajahnya dengan kedua tangannya. Ia jatuh berlutut di lantai pondok.
"Jangan biarkan ia menangkapku!"

Aku menatap Colin, yang tersandar ke dinding, jauh dari jendela.
"Kita harus memanggil Larry," akhirnya aku berhasil bicara. "Kita
harus mencari bantuan."

"Tapi bagaimana caranya?" tanya Colin dengan suara gemetar.

"Jangan biarkan ia menangkapku!" ulang Jay, yang terduduk di lantai.

"Ia tidak datang kemari," kataku padanya, berusaha terdengar
meyakinkan, menghibur. "Kita aman di dalam pondok ini, Jay. Ia
tidak datang kemari."

"Tapi ia menangkap Roger dan—" kata Jay. Seluruh tubuhnya
gemetar ketakutan.

Memikirkan Roger membuatku merasa takut.

Benarkah? Benarkah Roger telah diserang suatu makhluk? Benarkah
ia telah dikoyak-koyak?

Aku mendengar jeritan-jeritan dari sisi bukit. Dua jeritan yang
menegakkan bulu roma.

Begitu keras, begitu menakutkan. Tidak adakah orang lain di
perkemahan ini yang mendengarnya juga? Tidakkah anak-anak lain
mendengar jeritan Roger? Tidakkah para pengawas itu mendengar?

Aku berdiri diam dan mendengarkan.

Sunyi. Bisikan angin berdesir di dedaunan.

Tidak ada suara. Tidak ada suara peringatan. Tidak ada suara langkah
kaki bergegas-gegas.

Aku berbalik menatap teman-temanku. Colin sudah membantu Jay
berjalan ke tempat tidur. "Di mana Larry?" tanya Colin. Matanya yang
tidak tertutup kacamata perak tampak betul-betul ketakutan.

"Orang-orang ke mana?" tanyaku sambil bersedekap dan mulai
mondar-mandir di antara tempat tidur. "Tidak terdengar suara apa-apa
di luar sana."

Aku melihat mata Jay terbelalak ketakutan. Ia melotot menatap
jendela yang terbuka. "Makhluk itu—" teriaknya. "Itu dia datang! Ia
masuk dari jendela!"

KAMI bertiga melotot ketakutan ke jendela yang terbuka.

Tapi tidak ada makhluk apa pun yang melompat masuk.

Yang kulihat sambil berdiri kaku di tengah pondok, cuma kegelapan
dan beberapa bintang pudar. Di pohon-pohon di luar, jangkrik-
jangkrik mulai berderik. Tidak ada suara lain.

Jay yang malang begitu ketakutan dan gelisah sampai melihat hal-hal
yang sebetulnya tidak ada. Colin dan aku akhirnya berhasil juga
menenangkan Jay. Kami menyuruhnya membuka sepatu dan
berbaring di tempat tidur bawah. Kami selimuti dia dengan tiga lapis
selimut supaya tidak gemetar lagi.

Colin dan aku ingin berlari mencari bantuan.

Tapi kami takut keluar.

Kami bertiga tidak tidur semalaman. Larry tidak muncul-muncul.

Perkemahan itu sunyi, yang terdengar cuma suara cengkerik dan desau
angin di sela-sela pepohonan.

Kurasa aku pasti tertidur juga akhirnya, tepat sebelum fajar. Aku
bermimpi aneh tentang kebakaran dan orang-orang yang berusaha lari
menyelamatkan diri.

Aku dibangunkan Colin yang menggoyangku kuat-kuat. "Sarapan,"
katanya parau. "Cepat. Kita terlambat."

Aku terduduk bingung. "Mana Larry?"

"Ia tidak muncul," jawab Colin menunjuk ke tempat tidur Larry yang
masih rapi.

"Kita harus mencari dia! Kita harus menceritakan apa yang terjadi
padanya!" teriak Jay bergegas ke pintu pondok dengan sepatu yang
belum diikat talinya.

Colin dan aku jatuh-bangun mengejarnya, kami berdua masih
setengah tidur. Udara pagi terasa sejuk. Matahari berusaha muncul
dari sela-sela awan putih.

Kami bertiga berhenti di tengah jalan yang menuju aula di atas bukit.
Dengan perasaan takut-takut, kami memandang tanah di sekitar
Pondok Terlarang.

Aku tidak tahu ingin melihat apa. Tapi tidak ada tanda-tanda
keberadaan Roger di situ.

Tidak ada bekas-bekas perkelahian. Tidak ada darah kering di tanah.
Rumput-rumput yang tinggi tidak tertekuk.

''Aneh," aku mendengar Jay bergumam sambil menggeleng. "Aneh."

Aku menarik tangannya supaya terus berjalan dan kami segera
bergegas meneruskan perjalanan ke bangunan di atas.

Aula tempat makan tetap ribut seperti biasa. Anak-anak saling tertawa
dan berteriak-teriak. Kelihatannya normal-normal saja. Kurasa belum
ada pengumuman tentang Roger.

Beberapa anak memanggil Colin dan aku. Tapi kami mengabaikan
mereka dan mencari-cari Roger sambil bergerak cepat di antara meja-
meja.

Ia tidak tampak.

Perutku terasa tidak enak ketika kami bergegas mendatangi meja para
pengawas di sudut.

Larry yang sedang menghadapi sepiring besar telur orak-arik dan
daging goreng, memandangi kami bertiga ketika kami datang.

"Apa yang terjadi pada Roger?"

"Apakah ia baik-baik saja?"

"Ke mana kau kemarin malam?"

"Roger dan aku diserang."

"Kami takut mencarimu."

Kami bertiga serentak menanyai Larry bertubi-tubi.

Wajahnya kelihatan bingung dan diangkatnya kedua tangannya untuk
menenangkan kami. ''Wo," katanya. "Tenang, anak-anak. Bicara apa
kalian ini?"

"Roger!" teriak Jay, wajahnya jadi merah padam.
"Makhluk itu—makhluk itu menerkamnya. Dan—dan—"

Larry melirik pengawas-pengawas lain di meja yang kelihatan sama
bingungnya. "Makhluk? Makhluk apa?" tanyanya.

"Makhluk itu menyerang Roger!" jerit Jay. "Makhluk itu mengejar
aku dan—"

Larry menatap Jay. "Ada yang diserang? Kurasa tidak, Jay." Ia
berbalik menatap pengawas di sebelahnya, anak muda gemuk
bernama Derek. "Kau mendengar sesuatu di daerahmu?"

Derek menggeleng.

"Roger bukan di kelompokmu?" tanya Larry pada Derek.

Derek menggeleng. "Bukan di kelompokku." "Tapi Roger—!" kata
Jay berkeras.

"Kami tidak memperoleh laporan mengenai adanya penyerangan apa
pun," kata Larry memotong ucapan Jay. "Kalau ada peserta
perkemahan yang diserang beruang atau apa saja, kami akan
mengetahuinya."

"Dan kami akan mendengar suaranya," kata Derek. "Kau tahu, kan.
Jeritan dan yang semacamnya."

"Aku mendengar ada jeritan," kataku.

"Kami berdua mendengar ada jeritan," tambah Colin cepat. ''Dan Jay
datang berlari-lari, berteriak-minta tolong."

"Yah, kenapa tidak ada orang lain yang mendengarnya?" tanya Larry
sambil menatap Jay. Ekspresi wajahnya berubah. "Di mana
terjadinya? Kapan?" tanyanya curiga.

Wajah Jay menjadi makin merah padam. "Setelah lampu
dipadamkan," katanya mengakui. "Roger dan aku pergi ke Pondok
Terlarang, dan—"

"Kau yakin itu bukan beruang?" potong Derek "Kemarin siang tampak
beberapa beruang di sungai."

"Itu suatu makhluk!" jerit Jay marah.

"Kau seharusnya tidak berada di luar," kata Larry sambil menggeleng.

"Kenapa kau tidak mau mendengar perkataan ku?" teriak Jay. "Roger
diserang. Makhluk besar ini menerkamnya dan—"

"Kami pasti mendengar sesuatu kalau ada apa-apa," kata Derek tenang
sambil melirik Larry.

"Yeah," kata Larry setuju. "Para pengawas semuanya sedang berada di
aula ini kemarin. Kami pasti mendengar jeritan apa pun."

"Tapi, Larry—kau harus memeriksanya!" teriakku. "Jay tidak
mengarang-ngarang. Kemarin benar benar terjadi sesuatu!"

"Oke, oke," jawab Larry sambil mengangkat tangannya seperti orang
menyerah. "Aku akan menanyakannya pada Paman Al, oke?"

"Cepat," desak Jay. "Tolonglah!"

"Aku akan bertanya pada Paman Al setelah sarapan," kata Larry
sambil berbalik menatap telur dan daging gorengnya. "Sampai ketemu
lagi pada saat berenang pagi nanti. Aku akan memberitahukan apa
yang dikatakan Paman Al."

"Tapi, Larry—" rengek Jay.

"Aku akan menanyakannya pada Paman Al," kata Larry tegas. "Kalau
kemarin malam terjadi sesuatu, Ia pasti mengetahuinya." Ia
mengangkat sepotong daging goreng ke mulutnya dan mengu-
nyahnya. "Kurasa kalian cuma bermimpi buruk," katanya sambil
menatap Jay curiga. "Tapi akan kuberitahukan pada kalian apa yang
dikatakan Paman Al."

"Kejadian itu bukan mimpi buruk!" teriak Jay melengking. Larry
memunggungi kami, melanjutkan sarapannya. "Tidakkah kau peduli?"
jerit Jay padanya. "Tidakkah kau peduli apa yang terjadi pada kami?"

Kulihat anak-anak banyak yang berhenti sarapan dan menatap kami.
Kutarik Jay, lalu berusaha menggiringnya ke meja kami. Tapi ia
berkeras ingin memeriksa seluruh ruang makan lagi. "Aku tahu Roger
tidak ada di sini," katanya berkeras. "Ia—ia tidak mungkin ada di
sini!"

Untuk kedua kalinya, kami bertiga berjalan di antara meja-meja,
mengamati semua wajah.

Satu hal pasti: Roger tidak kelihatan di mana-mana.

Matahari bersinar dari balik awan ketika kami mencapai tepi sungai
untuk berenang pagi. Udara terasa sejuk. Semak-semak yang lebat di

sepanjang sungai basah berkilau-kilau terkena sinar matahari.

Kujatuhkan handukku ke semak-semak dan berbalik menatap air
kehijauan yang mengalir perlahan. "Pasti pagi ini airnya dingin,"
kataku pada Colin yang sedang mengikat tali celana renangnya.

"Aku cuma ingin kembali ke pondok dan tidur lagi," kata Colin sambil
menyimpulkan tali. Penglihatannya sudah tidak mendua, tapi ia
merasa lelah karena tidak tidur semalaman.

Beberapa anak sudah masuk ke air. Mereka mengeluh airnya dingin
sambil bermain siram-siraman dan dorong-dorongan.

"Mana Larry?" tanya Jay terengah-engah sambi menerobos semak-
semak menuju kami. Rambutnya yang merah tampak berantakan,
setengahnya berdiri tegak di bagian samping kepalanya. Matanya
merah.

"Mana Larry? Ia tadi berjanji akan berada d sini," kata Jay sambil
sibuk mencari-cari.

"Ini aku."

Kami bertiga berbalik ketika Larry muncul dari semak-semak di
belakang kami. Ia mengenakan celana renang hijau longgar Camp
Night moon.

"Bagaimana?" desak Jay. "Apa kata Paman Al tentang Roger?"

Ekspresi wajah Larry kelihatan serius. Matanya terpaku menatap mata
Jay. "Paman Al dan aku mengelilingi Pondok Terlarang," katanya
pada Jay "Tidak ada serangan apa-apa di sana. Tidak mungkin pernah
ada serangan."

"Tapi—tapi akhluk itu menangkap Roger," teriak Jay melengking.
"Makhluk itu mengoyak-ngoyaknya. Aku melihatnya!"

Larry menggeleng, matanya masih terus menatap mata Jay. "Itu hal
lain lagi," katanya pelan. "Paman Al dan aku pergi ke kantor dan
memeriksa daftar peserta, Jay. Dan tidak ada peserta perkemahan
tahun ini yang bernama Roger. Tidak ada yang bernama depan atau
bernama tengah Roger. Tidak ada Roger. Sama sekali tidak ada
Roger."

MULUT Jay ternganga dan ia berteriak lirih.

Kami bertiga menatap Larry tidak percaya, kami harus mencernakan
berita mengejutkan ini selama beberapa saat.

"Ada orang yang melakukan kekeliruan," kata Jay akhirnya, suaranya
bergetar karena emosi. "Kami mencari-cari dia ke seluruh ruang
makan, Larry. Dan ia tidak ada. Roger tidak ada di sini."

"Ia tidak pernah ada di sini," kata Larry tanpa emosi sama sekali.

"Aku—aku tidak percaya!" teriak Jay.

"Bagaimana kalau kalian berenang?" tanya Larry sambil menunjuk
air.

"Yah, menurutmu bagaimana?" desakku pada Larry. Aku tidak
percaya ia bisa setenang itu menghadapi masalah ini. "Menurutmu apa
yang terjadi kemarin malam?"

Larry mengangkat bahu. "Aku tidak tahu harus berpikir apa,"
jawabnya, matanya menatap sekelompok perenang yang paling jauh
dari tepi sungai. "Mungkin kalian mencoba bercanda denganku."

"Hah? Kau mengira begitu?" teriak Jay. "Bahwa ini cuma lelucon?"

Larry mengangkat bahu lagi. "Waktunya berenang, anak-anak.
Berolahragalah, oke?"

Jay mulai membantah, tapi Larry cepat-cepat berbalik, melangkah
masuk ke air yang hijau. Ia berlari-lari sebentar di air sebelum

menceburkan dirinya. Ia melaju cepat, ayunan tangannya panjang dan
mantap.

"Aku takkan berenang," kata Jay marah. "Aku akan kembali ke
pondok." Wajahnya merah padam. Dagunya bergetar. Aku tahu
sebentar lagi ia akan menangis. Jay berbalik dan berlari menerobos
semak-semak sambil menyeret handuknya di tanah.

"Hei, tunggu!" Colin berlari mengejarnya.

Aku berdiri bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak mau
mengikuti Jay ke pondok. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk
membantunya.

Mungkin setelah berenang di air dingin perasaanku akan terasa lebih
enak, pikirku.

Mungkin tidak ada yang bisa membuatku merasa lebih enak, pikirku
suram.

Aku menatap anak-anak lain yang sedang berenang. Larry dan
pengawas-pengawas lain sedang merencanakan perlombaan renang.
Aku bisa me-dengar mereka mendiskusikan jenis gaya yang akan
dipakai.

Mereka semua tampaknya bersenang-senang, pikirku ketika
mengamati mereka berbaris.

Jadi mengapa aku tidak bersenang-senang juga?

Mengapa aku begitu ketakutan dan tidak bahagia sejak kedatanganku
di sini? Mengapa para peserta perkemahan lain tidak melihat betapa
aneh dan menakutkannya tempat ini?

Aku menggeleng, tidak bisa menjawab pertanyaanku sendiri.

Aku perlu berenang, pikirku.
Aku berjalan selangkah mendekati air.
Tapi seseorang mengulurkan tangan dari balik semak-semak dan
menarikku dengan kasar dari belakang.
Aku berteriak protes.
Tapi penyerangku cepat-cepat menutup mulutku dengan tangannya.

AKU mencoba berontak, tapi tidak bisa.

Ketika tangan itu menarikku, aku kehilangan keseimbangan dan
tertarik masuk ke dalam semak-semak.

Apakah ini lelucon? Apa yang terjadi? Aku bingung.

Tiba-tiba, ketika aku berusaha membebaskan diri, tangan itu
melepaskanku.

Aku terjatuh menimpa sekumpulan daun-daun hijau segar.

Lama baru aku bisa berdiri. Lalu aku berbalik untuk melihat
penyerangku.

"Dawn!" teriakku.

"Sssst!" Ia melompat ke depan dan menutup mulutku dengan
tangannya lagi. "Merunduk," bisiknya. "Mereka bisa melihatmu
nanti."

Aku merunduk dengan patuh di balik semak-semak pendek. Ia
melepaskan aku lagi dan melangkah mundur. Ia mengenakan pakaian
renang warna biru. Pakaian renangnya basah. Rambut pirangnya juga
basah, air menetes-netes di bahunya.

"Dawn—apa yang kaulakukan di sini?" bisikku sambil berlutut.

Sebelum Dawn menjawab, tampak sosok lain yang juga mengenakan
pakaian renang bergerak cepat dari semak-semak sambil merunduk.
Ternyata teman Dawn, Dori.

"Kami berenang kemari. Tadi pagi-pagi sekali," bisik Dori sambil
mendorong rambut merahnya yang keriting dengan gelisah. "Kami
menunggu di sini. Di semak-semak."

"Tapi ini tidak boleh," kataku, aku tidak bisa menutupi perasaan
bingungku. "Kalau kalian tertangkap—"

"Kami harus berbicara denganmu," potong Dawn; sambil mengangkat
kepala untuk mengintip dari atas semak-semak lalu cepat-cepat
merunduk lagi.

"Kami memutuskan untuk menanggung risikonya," tambah Dori.

"Ada—ada apa?" aku tergagap. Ada kumbang berwarna merah dan
hitam merayap di bahuku. Kutepis kumbang itu.

"Perkemahan anak perempuan. Seperti mimpi buruk saja," bisik Dori.

"Semua orang menyebutnya Camp Nightmare, Perkemahan Mimpi
Buruk, bukan Camp Nightmoon," tambah Dawn. "Banyak hal aneh
terjadi."

"Hah?" Aku ternganga menatapnya. Tidak jauh dari tempat kami, aku
bisa mendengar teriakan dan suara ceburan air dari tempat perlombaan
renang. "Hal-hal aneh seperti apa?"

"Hal-hal yang menakutkan," jawab Dori, ekspresi wajahnya suram.

"Banyak anak perempuan menghilang," kata Dawn. "Hilang begitu
saja."

"Dan tampaknya tidak ada yang peduli," tambah Dori dengan suara
berbisik yang gemetar.

"Aku tidak percaya!" seruku. "Di sini juga terjadi hal yang sama. Di
perkemahan anak laki-laki." Aku menelan ludah. "Ingat Mike?"

Kedua anak perempuan itu mengangguk.

"Mike menghilang," kataku. "Barang-barangnya disingkirkan dan ia
menghilang begitu saja."

"Sulit dipercaya," kata Dori. "Tiga anak perempuan menghilang dari
perkemahan kami."

"Menurut mereka yang satu diserang beruang," bisik Dawn.

"Yang dua lagi bagaimana?" tanyaku.

"Hilang begitu saja," jawab Dawn, ia tercekat.

Aku mendengar bunyi peluit. Perlombaan yang tadi sudah selesai.
Perlombaan lain sedang diatur.

Matahari menghilang lagi di balik awan-awan putih yang tinggi.
Bayangan tampak memanjang dan semakin gelap.

Aku cepat-cepat menceritakan pada mereka tentang Roger dan Jay
dan serangan di Pondok Ter-arang. Mereka mendengarkan dengan
mulut ternganga dan tidak bisa berkata-kata. "Seperti di perkemahan
kami saja," kata Dawn.

"Kita harus melakukan sesuatu," kata Dori sengit.

"Kita harus bersatu. Anak laki-laki dan anak perempuan," bisik Dawn
sambil mengintip dari atas semak-semak lagi. "Kita harus menyusun
rencana."

"Maksudmu rencana melarikan diri?" tanyaku, aku tidak mengerti.

Kedua anak perempuan itu mengangguk. "Kita tidak bisa tinggal di
sini," kata Dawn serius. "Setiap hari ada saja anak perempuan yang
menghilang. Dan para pengawas bersikap seolah-olah tidak terjadi
apa-apa."

"Kurasa mereka ingin kita terbunuh atau apalah," kata Dori penuh
emosi.

"Kalian sudah menulis surat pada orangtua kalian?" tanyaku.

"Setiap hari kami menulis surat," jawab Dori.

"Tapi belum ada balasannya."

Aku tiba-tiba sadar aku juga belum menerima balasan dari
orangtuaku. Mereka berdua telah berjanji akan mengirim surat setiap
hari. Sudah hampir seminggu aku berada di perkemahan, tapi belum
satu surat pun kuterima.

"Minggu depan adalah Minggu Kunjungan," kataku. "Orangtua kita
akan datang. Kita bisa menceritakan segalanya."

"Mungkin sudah terlambat," kata Dawn murung. "Semua orang begitu
ketakutan!" kata Dori. "Sudah dua malam aku tidak bisa tidur. Setiap
malam aku mendengar jeritan-jeritan yang mengerikan itu di luar."

Terdengar suara peluit lagi, lebih dekat ke tepi sungai. Aku bisa
mendengar para perenang sedang kembali. Acara berenang pagi sudah
berakhir.

"Aku—aku tidak tahu harus bilang apa," kataku. "Kalian harus
berhati-hati. Jangan sampai tertangkap."

"Kami akan berenang ke perkemahan anak perempuan kalau sudah
tidak ada orang," kata Dawn. "Tapi kita harus bertemu lagi, Billy.

Kita harus menyatukan lebih banyak anak-anak. Kau tahu, kan.
Mungkin kalau kita semua kompak..." Suaranya terhenti.

"Sesuatu yang tidak beres sedang berlangsung di perkemahan ini,"
kata Dori sambil bergidik, menyipitkan matanya. "Ada sesuatu yang
jahat."

"Aku—aku tahu," kataku menyetujui. Aku mendengar suara anak-
anak lain. Di dekatku. Tepat di balik semak-semak. "Aku harus pergi."

"Kita usahakan lusa bertemu lagi di sini," bisik Dawn. "Hati-hati,
Billy."

"Kalian yang hati-hati," bisikku. "Jangan sampai kalian tertangkap."

Mereka menyelinap pergi, masuk ke dalam semak-semak.

Sambil merunduk, aku berjalan menjauhi tepi sungai. Ketika sudah
melewati semak-semak, aku berdiri dan berlari. Aku tidak sabar ingin
menceritakan pada Colin dan Jay tentang apa yang dikatakan anak-
anak perempuan itu tadi.

Aku merasa ketakutan dan juga bersemangat. Kupikir mungkin Jay
akan merasa lebih enak kalau mengetahui hal-hal mengerikan yang
sama juga terjadi di perkemahan anak-anak perempuan di seberang
sungai.

Di tengah-tengah perjalanan ke pondok, aku mendapat ide. Aku
berhenti dan berbalik menuju aula.

Aku tiba-tiba teringat pernah melihat telepon umum di dinding
samping gedung itu. Ada yang pernah mengatakan padaku bahwa
cuma telepon itulah yang bisa digunakan peserta perkemahan. Aku
akan menelepon Mom dan Dad, pikirku. Mengapa tidak terpikirkan
olehku sebelumnya? Aku sadar bahwa aku bisa menelepon orang

tuaku dan menceritakan segalanya pada mereka.

Dan aku bisa meminta mereka datang untuk menjemputku. Dan
mereka juga bisa menjemput Jay,Colin, Dawn, dan Dori.

Di belakangku, tampak sekelompok anak menuju lapangan
scratchball, di bahu mereka tersampir handuk renang. Aku ingin tahu
apakah ada yang memperhatikan bahwa aku tidak bersama mereka.

Jay dan Colin juga tidak ada, kataku pada diri sendiri. Larry dan anak-
anak lain mungkin mengira aku bersama mereka.

Aku mengamati mereka berjalan melintasi rerumputan tinggi dalam
barisan dua-dua dan tiga-tiga. Lalu aku berbalik dan berlari menaiki
bukit menuju aula.

Aku senang karena akan menelepon ke rumah. Aku ingin sekali
mendengar suara orangtuaku, ingin sekali menceritakan pada mereka
tentang hal-hal aneh yang terjadi di sini.

Apakah mereka akan mempercayaiku?

Tentu saja. Orangtuaku selalu percaya padaku.

Sambil berlari menaiki bukit, aku melihat telepon umum berwarna
hitam di dinding gedung yang putih itu. Aku mulai berlari secepat-
cepatnya. Aku ingin terbang ke telepon itu.

Semoga Mom dan Dad ada di rumah, pikirku. Mereka harus berada di
rumah.

Aku terengah-engah ketika sampai di dinding tempat telepon umum
itu. Aku membungkuk sebentar, menunggu napasku normal kembali.

Lalu kuangkat gagang teleponnya.

Dan tersentak.

Telepon umum itu cuma telepon plastik. Bukan telepon yang
sebenarnya.

Telepon palsu.

Telepon itu terbuat dari lempeng plastik tipis yang dipakukan ke
dinding, dibuat agar kelihatan persis seperti telepon yang sebenarnya.

Tapi telepon itu bukan telepon betulan. Telepon itu palsu.

Mereka tidak ingin kami menelepon ke luar, pikirku, tiba-tiba
merinding.

Jantungku berdebar-debar, kepalaku pusing karena merasa sangat
kecewa, aku berbalik dari dinding—dan langsung menabrak Paman
Al.

"BILLy—sedang apa kau di sini?" tanya Paman Al. Ia mengenakan
celana pendek hijau longgar perkemahan dan kaus putih tanpa lengan
yang menampakkan lengannya yang gemuk dan merah muda. Ia
membawa papan jadwal yang penuh kertas. "Kau seharusnya berada
di mana?"

"Saya... uh... ingin menelepon," kataku tergagap sambil mundur
selangkah. "Saya ingin menelepon orangtua saya."

Ia menatapku curiga dan mengelus kumisnya yang berwarna
kekuningan. "Betul?"

"Ya. Cuma untuk memberi kabar," kataku. "Tapi teleponnya—"

Paman Al mengikuti arah tatapanku ke telepon plastik. Ia tertawa
terkekeh-kekeh. "Ada yang bercanda memasang telepon itu," katanya
sambil tersenyum. "Apakah kau tadi tertipu?"

"Yeah," kataku mengaku, wajahku terasa panas. Kutatap matanya. "Di
mana telepon yang sebenarnya?"

Senyumnya menghilang. Wajahnya berubah serius. "Tidak ada
telepon," jawabnya ketus. "Peserta perkemahan tidak diizinkan
menelepon ke luar. Itu peraturannya, Billy."

"Oh." Aku tidak tahu harus bicara apa.

"Apakah kau benar-benar rindu pada orangtuamu?" tanya Paman Al
pelan.

Aku mengangguk.

"Yah, tulis saja surat panjang-lebar pada orang-tuamu," katanya.
"Pasti kau akan merasa jauh lebih baik."

"Oke," kataku. Kurasa aku tidak akan merasa lebih baik. Tapi aku
ingin pergi dari hadapan Paman Al.

Ia mengangkat papan jadwal dan menatapnya. "Seharusnya sekarang
kau berada di mana?" tanyanya.

"Lapangan, saya rasa,'' jawabku. "Saya merasa kurang enak badan.
Jadi saya—"

"Kapan perjalanan naik kanomu?" tanyanya, ia tidak mendengar
perkataanku. Dibalik-baliknya lembaran kertas di papan jadwal,
dilihatnya sekilas.

"Perjalanan naik kano?" Aku belum mendengar akan ada perjalanan
naik kano.

"Besok," katanya, menjawab pertanyaannya sendiri. "Giliran
kelompokmu besok. Apa kau merasa senang?" Dipandangnya aku.

"Saya—saya tidak begitu tahu," kataku mengaku.

"Sangat menyenangkan!" teriaknya bersemangat.

"Dari sini sungainya tidak kelihatan terlalu bagus. Tapi beberapa
kilometer di bawah, sungainya akan cukup mengasyikkan. Kau nanti
akan merasakannya sendiri arusnya yang deras."

Dipegangnya bahuku sebentar. "Kau akan menikmatinya," katanya
sambil tersenyum. "Semua orang selalu menikmati perjalanan naik
kano."

"Bagus," kataku. Aku berusaha kedengaran agak bersemangat, tapi
suaraku terdengar datar dan ragu-ragu.

Paman Al melambaikan papan jadwalnya padaku dan berjalan menuju
bagian depan aula, langkahnya panjang-panjang. Aku berdiri
mengamatinya sampai ia berbelok di sudut. Lalu aku menuruni bukit
menuju pondok.

Aku melihat Jay dan Colin duduk di rumput di samping pondok. Colin
membuka kausnya dan berbaring telentang, kepalanya berbantal
tangan. Jay duduk bersila di sebelahnya, dengan gelisah mencabuti
rumput, lalu melemparkannya.

"Ayo masuk," kataku sambil melirik sekelilingku untuk memastikan
tidak ada orang lain yang bisa mendengar.

Mereka mengikutiku masuk ke pondok. Kututup pintu.

"Ada apa?" tanya Colin sambil menjatuhkan diri ke tempat tidur
bawah. Ia mengambil bandana merahnya dan memutar-mutarnya.

Aku menceritakan pada mereka tentang Dawn dan Dori dan laporan
mereka mengenai perkemahan anak perempuan.

Colin dan Jay sama-sama terkejut.

"Mereka benar-benar berenang kemari dan menunggumu?" tanya Jay.

Aku mengangguk. "Menurut mereka kita harus berkumpul atau
melarikan diri atau apalah," kataku.

"Mereka bisa mendapat masalah besar kalau sampai tertangkap," kata
Jay serius.

''Kita semua sedang menghadapi masalah besar," kataku. "Kita harus
keluar!"

"Minggu depan ada Hari Kunjungan," gumam Colin.

"Aku akan menulis surat pada orangtuaku sekarang juga," kataku
sambil menarik kotak tempat aku menyimpan kertas dan pena dari
kolong tempat tidur. "Aku akan mengatakan pada mereka aku harus
pulang pada Hari Kunjungan."

"Kurasa aku juga akan menulis surat," kata Jay sambil dengan gelisah
mengetuk-ngetuk kerangka tempat tidur.

"Aku juga," kata Colin setuju. "Di sini rasanya terlalu... aneh!"

Aku mengeluarkan dua lembar kertas dan duduk di tempat tidur untuk
menulis surat. "Dawn dan Dori sangat ketakutan," kataku.

"Aku juga," kata Jay mengaku.

Aku mulai menulis surat. Kutulis Dad dan Mom, TOLONG!, lalu aku
berhenti menulis. Kupandang Jay dan Colin seberang kamar. "Kalian
tahu besok ada perjalanan naik kano?" tanyaku.

Mereka menatapku, wajah mereka terkejut.

"Wo!" teriak Colin. "Siang ini berjalan kaki hampir lima kilometer
dan besok naik kano?"

Giliran aku yang terkejut. "Jalan kaki? Jalan kaki apa?"

"Tidakkah kau ikut?" tanya Jay.

"Kau tahu pengawas yang tinggi sekali itu? Frank? Yang mengenakan
topi kuning?" tanya Colin. "Ia memberitahu Jay dan aku bahwa

setelah makan siang kami akan berjalan kaki sejauh hampir lima
kilometer."

"Tidak ada yang memberitahu aku," jawabku sa-bil menggigit-gigit
ujung pena.

"Mungkin kau tidak termasuk kelompok yang berjalan kaki," kata Jay.

"Sebaiknya kau tanyakan pada Frank saat makan siang nanti," kata
Colin mengusulkan. "Mungkin tadi ia tidak bisa menemukanmu.
Mungkin seharusnya kau ikut juga."

Aku mendesah. "Siapa yang mau ikut berjalan kaki sejauh hampir
lima kilometer dalam udara sepanas ini?"'

Colin dan Jay mengangkat bahu.

"Kata Frank kami akan sangat menyukainya," kata Colin sambil
mengikat dan membuka bandana merahnya.

"Aku cuma mau keluar dari sini," kataku, kembali menulis surat.

Aku menulis suratku cepat-cepat dengan tegang. Aku ingin
menceritakan pada orang tuaku tentang hal-hal aneh dan mengerikan
yang telah terjadi. Aku ingin membuat mereka mengerti mengapa aku
tidak mau tinggal di Camp Nightmoon.

Aku sudah menulis hampir satu setengah halaman, sedang
menceritakan ketika Jay dan Roger pergi menyelidiki Pondok
Terlarang, ketika Larry bergegas masuk. "Kalian berdua sedang cuti?"
tanyanya sambil menatap kami satu per satu. "Kalian sedang berlibur
ya?"

"Cuma bersantai-santai," jawab Jay.


Click to View FlipBook Version