Kulipat suratku dan kuselipkan di bawah bantal. Aku tidak mau Larry
melihatnya. Aku tahu aku sama sekali tidak mempercayai Larry. Buat
apa mempercayai dia?
"Apa yang kau kerjakan, Billy?" tanyanya curiga, matanya menatap
surat yang sedang kuselipkan di bawah bantal.
"Cuma menulis surat ke rumah," jawabku pelan. "Kau sedang rindu
pada orangtuamu, ya?" tanyanya sambil tersenyum lebar.
"Mungkin," gumamku.
"Yah, sekarang saat makan siang, anak-anak," katanya. "Bergegaslah,
oke?"
Kami semua bangun dari tempat tidur.
"Kudengar siang ini Jay dan Colin akan berjalan kaki dengan Frank,"
kata Larry. "Kalian beruntung." Ia berbalik, ke luar.
"Larry!" panggilku. "Hei, Larry—aku bagaimana? Apakah aku
seharusnya ikut berjalan kaki juga?" "Hari ini tidak," teriaknya.
"Kenapa tidak?" tanyaku.
Tapi Larry sudah menghilang di balik pintu. Aku kembali menatap
kedua teman sepondokku. "Kalian beruntung!" godaku.
Mereka berdua menggeram padaku. Lalu kami naik ke bukit untuk
makan siang.
Makan siangnya pizza, yang biasanya adalah makanan kesukaanku.
Tapi hari ini, pizza-nya dingin dan rasanya seperti karton, kejunya
menempel di langit-langit mulutku.
Aku tidak terlalu lapar.
Aku teringat terus pada Dawn dan Dori, betapa ketakutannya mereka,
betapa putus asanya. Aku ingin tahu kapan aku bisa bertemu mereka
lagi. Aku ingin tahu apakah mereka akan berenang ke seberang dan
bersembunyi di perkemahan anak laki-laki sebelum Hari Berkunjung.
Setelah makan siang Frank datang ke meja kami untuk menjemput Jay
dan Colin. Aku tanyakan padanya apakah aku seharusnya ikut juga.
"Kau tidak termasuk dalam daftar, Billy," katanya sambil menggaruk
bekas gigitan nyamuk di lehernya. "Aku cuma bisa membawa dua
orang sekali jalan. Rutenya agak berbahaya."
"Berbahaya?" tanya Jay sambil berdiri.
Frank tersenyum padanya. "Kau besar dan kuat," katanya pada Jay.
"Kau tidak akan apa-apa."
Aku mengamati Frank membawa Colin dan Jay ke luar ruang makan.
Meja kami sekarang kosong, tinggal dua anak berambut pirang yang
tidak kukenal, yang sedang bermain panco di ujung meja.
Kudorong baki makananku dan berdiri. Aku ingin kembali ke pondok
dan menyelesaikan surat untuk orang tuaku. Tapi ketika berjalan ke
pintu kurasakan bahuku dipegang orang.
Aku berbalik dan melihat Larry tersenyum padaku. "Pertandingan
tenis," katanya.
"Hah?" Aku terkejut.
"Billy, kau yang mewakili Pondok 4 untuk pertandingan tenis," kata
Larry. "Kau tidak melihat pengumumannya? Ada ditempel di papan
pengumuman."
"Tapi aku tidak pandai bermain tenis," protesku.
"Kami mengandalkanmu," jawab Larry. "Ambillah raket dan segera
ke lapangan tenis!"
Sepanjang siang itu aku bermain tenis. Aku mengalahkan seorang
anak kecil dua set langsung. Aku merasa ia belum pernah memegang
raket. Lalu aku kalah dalam pertandingan yang lama dan alot melawan
salah satu anak berambut pirang yang tadi bermain panco saat makan
siang.
Ketika pertandingan itu selesai, keringatku bercucuran dan semua
ototku terasa sakit. Aku pergi ke sungai untuk berenang dan
menyegarkan diri.
Setelah itu aku kembali ke pondok, berganti pakaian dengan jeans dan
kaus Camp Nightmoon berwarna hijau dan putih, lalu menyelesaikan
surat untuk orangtuaku.
Sebentar lagi makan malam. Jay dan Colin belum pulang dari acara
jalan kaki mereka. Aku memutuskan naik ke tempat makan dan
mengeposkan suratku. Ketika sedang menaiki bukit, aku melihat
serombongan anak-anak bergegas kembali ke pondok untuk berganti
pakaian sebelum makan malam. Tapi kedua teman sepondokku tidak
kelihatan.
Sambil memegang suratku erat-erat, aku memutar ke bagian belakang
aula tempat lokasi kantor perkemahan. Pintunya terbuka lebar, jadi
aku langsung masuk. Biasanya ada wanita muda duduk di belakang
meja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dan mengambil
surat-surat yang akan diposkan.
"Permisi!" teriakku sambil bersandar ke meja resepsionis dan
mengintip ke ruang kecil di belakang yang kelihatan gelap.
Tidak ada jawaban.
"Halo. Permisi?" ulangku sambil memegang amplop erat-erat.
Tidak ada orang. Kantor itu kosong.
Dengan perasaan kecewa aku melangkah pergi. Lalu kulihat tas kulit
besar tergeletak di lantai, di dalam ruang kecil di belakang.
Tas surat!
Kuputuskan untuk mem asukkan suratku ke dalam tas surat itu
bersama surat-surat lainnya. Aku menyelinap masuk ke ruangan kecil
itu, berlutut untuk memasukkan surat ke dalam tas.
Aku terkejut ketika melihat tas itu penuh sesak dengan surat. Ketika
kubuka tas itu dan kumasukkan suratku, setumpuk surat jatuh ke
lantai.
Aku mulai memasukkannya lagi ketika mataku melihat satu surat.
Salah satu suratku. Dialamatkan kepada orang tuaku.
Yang kutulis kemarin.
"Aneh," gumamku kuat-kuat.
Sambil membungkuk, aku merogoh isi tas itu dan menarik setumpuk
surat. Cepat-cepat kuperik-a. Aku menemukan surat yang ditulis
Colin.
Kutarik setumpuk lagi.
Dan aku melihat dua pucuk surat yang kutulis hampir seminggu yang
lalu ketika aku baru sampai di perkemahan ini.
Kupandangi surat-surat itu, punggungku terasa dingin.
Semua surat-surat kami, semua surat-surat yang telah kami tulis sejak
hari pertama berkemah, ada di sini. Di dalam tas surat ini.
Tak satu pun yang diposkan.
Kami tidak bisa menelepon ke rumah.
Dan kami tidak bisa mengirim surat ke rumah. Dengan tangan
bergetar hebat, kumasukkan lagi surat-surat itu ke dalam tas.
Apa yang sedang terjadi di sini? Aku ingin tahu. Apa yang sedang
terjadi?
KETIKA aku sampai di ruang makan, Paman Al baru saja selesai
mengumumkan sesuatu untuk malam ini. Aku menyelinap ke tempat
dudukku sambil berharap semoga aku tidak ketinggalan berita
penting.
Aku berharap akan melihat Jay dan Colin di seberang meja. Tapi kursi
mereka kosong.
Aneh, pikirku, masih terguncang karena mengetahui soal tas surat
tadi. Mestinya sekarang mereka sudah kembali.
Aku ingin menceritakan pada mereka tentang surat-surat kami. Aku
ingin bercerita bahwa orang tua kami tidak menerima satu pun surat
yang kami tulis.
Dan kami tidak akan memperoleh surat dari mereka.
Aku tiba-tiba tersadar, perkemahan ini pasti menahan surat-surat
kami.
Colin dan Jay—di mana kalian?
Ayam gorengnya lengket, kentangnya lembek dan rasanya seperti
pasta. Sambil memaksa diriku memakannya, sebentar-sebentar aku
melirik ke pintu ruang makan, mengharap kedua teman sepondokku
muncul.
Tapi mereka tidak datang-datang.
Perutku terasa tidak enak karena ketakutan. Dari jendela ruang makan
aku bisa melihat di luar sudah gelap.
Di mana mereka?
Berjalan kaki sejauh hampir lima kilometer dan kembali ke
perkemahan tidak akan memakan waktu selama ini.
Aku berdiri dan berjalan ke meja para pengawas di sudut. Larry
sedang berdebat seru tentang olah raga dengan dua pengawas lain.
Mereka berteriak dan menggerak-gerakkan tangan.
Kursi Frank kosong.
"Larry, Frank sudah pulang?" aku memotong perdebatan mereka.
Larry berbalik, wajahnya tampak terkejut. "Frank?" Ia menunjuk kursi
kosong itu. "Kurasa belum."
"Ia membawa Jay dan Colin berjalan kaki," kataku. "Bukankah
mestinya sekarang mereka sudah kembali?"
Larry mengangkat bahu. "Kalahkan aku," ia kembali berdebat,
dibiarkannya saja aku berdiri menatap kursi Frank yang kosong.
Setelah baki-baki makanan diangkat, kami mendorong meja dan kursi
ke dinding dan mengadakan lomba lari beranting di dalam ruangan.
Semua orang tampaknya bergembira. Suara teriakan dan sorak-sorai
bergema di langit-langit yang tinggi.
Aku sedang cemas memikirkan Jay dan Colin sehingga tidak bisa ikut
bergembira.
Mungkin mereka memutuskan berkemah di luar, kataku sendiri.
Tapi aku tadi melihat mereka berangkat dan aku tahu mereka tidak
membawa tenda atau kantong tidur atau perlengkapan berkemah
lainnya.
Jadi di mana mereka?
Pertandingan berakhir tak lama sebelum lampu dipadamkan. Ketika
aku berjalan ke luar bersama anak-anak lain, Larry muncul di
sebelahku. "Besok kita berangkat pagi-pagi," katanya. "Pagi sekali."
"Hah?" Aku tidak mengerti apa maksudnya.
"Perjalanan naik kano. Aku pengawas kanonya. Aku yang akan
membawa katanya menjelaskan karena dilihatnya aku kebingungan.
"Oh. Oke," jawabku tak bersemangat. Aku sangat mencemaskan Jay
dan Colin sehingga hampir lupa pada perjalanan naik kano.
"Langsung setelah sarapan," kata Larry. "Kenakan pakaian renang.
Bawa pakaian ganti. Temui aku di tepi sungai." Ia bergegas pergi
untuk membantu pengawas-pengawas lain mengembalikan meja ke
tempat semula.
"Setelah sarapan," gumamku. Aku ingin tahu apakah Jay dan Colin
akan ikut perjalanan naik kano juga. Aku tadi lupa menanyakannya
pada Larry.
Aku cepat-cepat berjalan menuruni bukit yang gelap. Embun sudah
jatuh, rumput terasa licin dan basah. Di tengah jalan, aku bisa melihat
bayangan Pondok Terlarang, condong ke depan seolah-olah siap
menyerang.
Kupaksa diriku mengalihkan pandangan dan berlari ke Pondok 4.
Aku terkejut ketika melihat dari jendela ada gerakan orang di dalam.
Colin dan Jay sudah kembali! pikirku.
Cepat-cepat kudorong pintu dan segera masuk. "Hei—dari mana saja
kalian?" teriakku.
Aku langsung berhenti. Dan tersentak.
Dua anak yang tidak kukenal menatapku.
Yang seorang duduk di pinggir tempat tidur Colin di atas, sedang
membuka sepatunya. Yang seorang lagi sedang membuka laci dan
mengeluarkan kaus.
"Hai. Tempatmu di sini?" Anak yang sedang membuka laci berdiri
tegak, matanya menatapku cermat. Rambutnya hitam dan sangat
pendek, ia mengenakan satu anting-anting.
Aku susah payah menelan ludah. "Aku ada di pondok yang salah, ya?
Ini Pondok 4, kan?" Mereka berdua menatapku, bingung.
Kulihat anak yang satu lagi, yang duduk di tempat tidur Colin,
rambutnya juga hitam, tapi rambutnya panjang dan jarang, tergerai di
keningnya. "Yeah. Ini Pondok 4," katanya.
"Kami orang baru," kata anak yang berambut pendek. "Aku Tommy
dan dia Chris. Kami baru datang hari ini."
"Hai," kataku ragu. "Namaku Billy." Jantungku berdebar-debar
kencang. "Mana Colin dan Jay?"
"Siapa?" tanya Chris. "Kata mereka pondok ini hampir kosong."
"Yah, Colin dan Jay—" kataku.
"Kami baru saja datang. Kami tidak kenal siapa-siapa," potong
Tommy. Ditutupnya laci.
"Tapi itu laci Jay," kataku bingung sambil menunjuk. "Kau apakan
barang-barang Jay?"
Tommy menatapku terkejut. "Lacinya kosong," jawabnya.
"Hampir semua laci kosong," kata Chris menambahkan sambil
melempar sepatunya ke lantai. "Kecuali dua laci yang paling bawah."
"Itu punyaku," kataku, kepalaku terasa berputar-putar. "Tapi Colin
dan Jay—barang-barang mereka tadi ada di sini," kataku berkeras.
"Pondok ini kosong," kata Tommy. "Mungkin teman-temanmu
dipindahkan."
"Mungkin," kataku lemah. Aku duduk di tempat tidur di bawah tempat
tidurku. Kakiku terasa g-metar. Beribu-ribu pikiran berputar di
kepalaku, semuanya menakutkan.
"Aneh," kataku keras-keras.
"Pondok ini tidak jelek," kata Chris sambil menyelinap masuk ke balik
selimutnya. "Nyaman juga."
"Sudah berapa lama kau berkemah?" tanya Tommy sambil
mengenakan kaus putih yang terlalu besar. "Sepanjang musim panas?"
"Tidak!" aku berteriak gemetar. "Aku tidak akan tinggal di sini!"
teriakku. "Maksudku—maksudku... aku akan pergi. Pada... uh... aku
akan pergi pada Hari Kunjungan minggu depan."
Chris melirik Tommy. "Hah? Kapan kau pergi?" tanyanya lagi.
"Pada Hari Kunjungan," kataku mengulangi. "Ketika orangtuaku
datang pada Hari Kunjungan."
"Kau tidak mendengar pengumuman Paman Al sebelum makan
malam tadi?" tanya Tommy sambil menatapku tajam. "Hari
Kunjungan sudah dibatalkan!"
MALAM itu tidurku tidak tenang. Meskipun sudah kutarik selimut
sampai dagu, aku tetap merasa kedinginan dan ketakutan.
Aneh sekali rasanya ada dua orang yang tidak kukenal berada di
dalam pondok bersamaku, tidur di tempat Jay dan Colin. Aku cemas
memikirkan teman-temanku yang hilang.
Apa yang telah terjadi pada mereka? Mengapa mereka belum pulang?
Ketika aku berbaring gelisah di tempat tidurku, kudengar lolongan di
kejauhan. Raungan binatang, mungkin berasal dari Pondok Terlarang.
Lolongan-lolongan yang panjang dan mengerikan, yang dibawa angin
memasuki jendela pondok kami yang terbuka.
Kadang-kadang, kurasa aku mendengar jeritan anak-anak. Aku
terduduk tegak, waspada seketika, dan mendengarkan.
Apakah aku cuma bermimpi mendengar jeritan-jeritan itu? Aku begitu
takut dan bingung, sulit rasanya membedakan antara kenyataan dan
mimpi buruk.
Berjam-jam kemudian aku baru bisa tertidur.
Aku terbangun ketika pagi masih tampak kelabu, udara terasa pengap
dan dingin. Kukenakan celana renang dan kaus, lalu berlari ke aula
untuk mencari Larry. Aku harus mencari tahu apa yang telah terjadi
pada Jay dan Colin.
Aku mencarinya ke mana-mana, tapi tidak berhasil. Larry tidak ikut
sarapan. Para pengawas men-aku tidak tahu apa-apa. Frank, pengawas
yang membawa teman-temanku berjalan kaki, juga tidak ada.
Akhirnya aku menemukan Larry di pinggir sungai, sedang
menyiapkan kano metal panjang untuk perjalanan sungai kami.
"Larry—mana mereka?" teriakku terengah-engah.
Ia menatapku sambil mengangkat setumpuk dayung. Ekspresi
wajahnya berubah bingung. "Hah? Chris dan Tommy? Mereka akan
segera sampai di sini."
"Bukan!" teriakku sambil mencengkeram lengannya. "Jay dan Colin!
Di mana mereka? Apa yang telah terjadi pada mereka, Larry? Kau
harus memberitahu aku!"
Kucengkeram lengannya kuat-kuat. Aku terengah-engah. Aku bisa
merasakan darah berdenyut-denyut di keningku. "Kau harus
memberitahu aku!" teriakku melengking.
Ia menjauh dariku dan dijatuhkannya dayung-dayung itu di samping
perahu. "Aku tidak tahu apa-apa mengenai mereka," jawabnya tenang.
"Tapi, Larry—!"
"Betul, aku tidak tahu," katanya dengan suara tetap tenang. Ekspresi
wajahnya melembut. Dip-gangnya bahuku yang bergetar. "Dengar, ya,
Billy," katanya sambil menatapku tajam. "Aku akan menanyakannya
pada Paman Al setelah pelayaran ini, oke? Aku akan mencari kabar
untukmu. Setelah kita pulang nanti."
Aku membalas tatapannya, bingung untuk memutuskan ia jujur atau
tidak.
Aku tidak bisa memutuskan. Matanya tenang dan dingin seperti
marmer.
Ia membungkuk dan mendorong kano ke air sungai yang dangkal.
"Ini. Ambil salah satu pelampungnya," katanya sambil menuding
setumpuk rompi karet biru di belakangku. "Kenakan. Lalu naik ke
kano."
Aku melakukan apa yang diperintahkannya. Aku tahu aku tidak punya
pilihan lain.
Beberapa saat kemudian Chris dan Tommy berlari-lari datang. Mereka
mematuhi perintah Larry dan mengenakan pelampung ke tubuh
mereka.
Beberapa menit kemudian kami berempat sudah duduk bersila di kano
yang panjang dan ramping itu, pelan-pelan menjauh dari tepi sungai.
Langit masih kelabu, matahari bersembunyi di balik awan gelap yang
berarak-arak. Kano itu terbanting kena arus sungai yang berombak.
Ternyata arusnya lebih kuat dari yang kukira. Kami mulai cepat
melaju. Pepohonan dan semak-semak pendek di sepanjang sungai
berlalu dengan cepat.
Larry duduk menghadap kami di bagian depan kano. Ia menunjukkan
bagaimana cara mendayung sementara arus sungai membawa kami.
Diamatinya kami dengan cermat, wajahnya berkerut, sementara kami
bertiga berusaha keras mengikuti irama mendayung yang
ditunjukkannya. Larry tersenyum ketika kami akhirnya kelihatan bisa
mengikuti, ia lalu berbalik sambil mencengkeram tepi kano ketika
mengubah posisinya.
"Matahari berusaha terbit," katanya, suaranya teredam desiran angin
yang kuat di atas sungai yang deras.
Aku mengangkat kepala. Langit kelihatan lebih gelap dibandingkan
tadi.
Ia tetap memunggungi kami, menghadap ke depan, membiarkan kami
bertiga mendayung. Aku belum pernah mendayung kano. Ternyata
lebih sulit dari yang kubayangkan. Tapi ketika aku mengikuti
iramanya bersama Tommy dan Chris, aku mulai menikmatinya.
Air yang berwarna gelap memukul dinding kano, memercikkan air
yang berbuih putih. Arusnya makin deras dan kami meningkatkan
kecepatan. Air masih terasa dingin, tapi aku merasa h-ngat karena
terus-menerus mendayung. Beberapa saat kemudian aku malah
berkeringat.
Kami mendayung melewati pohon-pohon berwarna kuning kelabu
yang saling membelit. Tiba-tiba sungai terbagi dua dan kami
mendayung ke cabang yang kiri. Larry mulai mendayung lagi,
berusaha menjauhkan kami dari batu-batu menjulang yang muncul
dari sela-sela kedua anak sungai.
Kano itu bergerak naik-turun. Naik-turun. Air dingin masuk dari
samping.
Langit makin gelap saja. Kurasa sebentar lagi pasti akan ada badai.
Ketika sungai melebar, arusnya menjadi semakin deras dan kuat. Aku
sadar kami tidak perlu lagi mendayung. Arus sungailah yang
mendorong kami.
Sungai itu menurun. Pusaran buih putihnya yang lebar membuat kano
bergerak naik-turun.
"Ini dia arus derasnya!" teriak Larry, dibuatnya tangannya seperti
terompet di depan mulutnya supaya kami bisa mendengar ucapannya.
"Pegang erat-erat! Arusnya akan deras sekali!"
Aku merasa takut ketika gelombang air sedingin es menerpaku. Kano
itu terangkat gelombang air yang putih, lalu terbanting keras ketika
mendarat.
Aku bisa mendengar Tommy dan Chris tertawa senang di
belakangku.
Kano itu diterpa arus air dingin lagi, membuatku terkejut. Aku
berteriak dan nyaris melepaskan dayungku.
Tommy dan Chris tertawa lagi.
Aku menarik napas dalam-dalam dan memegang dayung erat-erat,
berusaha keras mengikuti irama. "Hei, lihat!" teriak Larry tiba-tiba.
Aku terkejut ketika ia berdiri. Ia membungkuk dan menunjuk ke
dalam air putih yang berputar-putar.
"Lihat ikan-ikan itu!" teriaknya.
Ketika ia membungkuk, kano bergetar terkena arus deras. Kano itu
terputar ke kanan.
Aku melihat wajah Larry yang terkejut ketika ia kehilangan
keseimbangannya. Tangannya terulur dan ia jatuh ke dalam air yang
bergolak dengan kepala terlebih dulu.
"Larry!" teriakku.
Aku menoleh pada Tommy dan Chris, yang sudah berhenti
mendayung dan menatap air berwarna gelap yang berputar-putar.
Ekspresi wajah mereka membeku ketakutan dengan mulut ternganga.
"Larry! Larry!" Tidak sadar aku terus meneriakkan namanya.
Kano itu terus melaju cepat.
Larry tidak muncul-muncul.
"Larry!"
Di belakangku, Tommy dan Chris juga memanggil-manggil namanya,
suara mereka melengking dan ketakutan.
Di mana Larry? Mengapa ia tidak berenang ke permukaan?
Kano itu melaju makin jauh.
"Larrrry!"
"Kita harus berhenti!" jeritku. "Kita harus mengurangi kecepatan!"
"Tidak bisa!" teriak Chris. "Kita tidak tahu caranya!"
Larry masih belum kelihatan. Aku tahu ia pasti berada dalam bahaya.
Tanpa berpikir lagi, kulemparkan dayungku ke sungai, berdiri, dan
terjun ke dalam air yang gelap dan berputar-putar untuk
menyelamatkannya.
AKU melompat tanpa berpikir lagi dan air sungai yang cokelat
tertelan olehku ketika menyelam.
Jantungku berdebar-debar ketika berusaha naik ke permukaan air
sambil terbatuk-batuk dan tercekik.
Kutarik napas dalam-dalam, kutundukkan kepalaku dan berusaha
berenang melawan arus. Sepatuku rasanya berpuluh-puluh kilo
beratnya.
Aku sadar mestinya kubuka dulu sepatuku sebelum melompat tadi.
Air bergejolak hebat. Aku berenang sekuat tenaga dengan ayunan
tangan panjang-panjang, berusaha mendekati tempat Larry tadi
terjatuh. Ketika menoleh ke belakang, kulihat kanonya semakin
menjauh dan kelihatan mengecil.
"Tunggu!" Aku ingin berteriak pada Tommy dan Chris. "Tunggu, aku
menolong Larry dulu!"
Tapi aku tahu mereka tidak tahu cara mengurangi kecepatan kano.
Mereka tidak berdaya ketika arus membawa mereka menjauh.
Di mana Larry?
Aku menelan air lagi—dan ketakutan ketika merasa kaki kananku
kram.
Rasa sakitnya menusuk seluruh bagian kanan tubuhku.
Aku menyelam dan menunggu rasa sakit itu berkurang.
Kramnya makin parah sampai aku cuma bisa menggerakkan kakiku
saja. Air membenamkan aku. Aku berusaha naik ke permukaan.
Lebih banyak lagi air yang tertelan olehku. Sekuat tenaga, aku
berenang cepat-cepat dan menarik diriku ke atas, tidak kupedulikan
rasa sakit di kaki.
Hei!
Benda apa yang terapung tepat di depanku itu? Pohon hanyut yang
terbawa arus?
Air cokelat menerpaku, membuatku tidak bisa melihat, mendorongku
ke belakang. Sambil terbatuk-batuk, kutarik diriku ke atas lagi.
Air melaju di wajahku. Aku berusaha melihat. Larry!
Ia terapung tepat ke arahku.
"Larry! Larry!" akhirnya aku bisa berteriak.
Tapi ia tidak menjawab. Aku sekarang bisa melihat ia terapung
dengan posisi tertelungkup.
Kram di kakiku tiba-tiba tidak terasa ketika aku mengulurkan tangan
dan mencengkeram bahu Larry. Kutinggikan kepalanya dari air,
kubalikkan badannya, dan kulingkarkan satu tanganku di lehernya.
Itulah cara penyelamatan yang diajarkan orang tuaku.
Sambil berbalik, aku mencari-cari kano. Tapi arus telah membawanya
entah ke mana, sudah tidak kelihatan.
Aku menelan air dingin lagi. Sambil terbatuk-batuk, kupegang Larry.
Aku menendang kuat-kuat. Kaki kananku masih terasa kaku dan
lemah, tapi paling tidak sudah tidak terasa sakit lagi. Sambil
menendang-nendang dan mengayuh dengan tanganku yang tidak
memeluknya, kuseret Larry ke tepi sungai.
Untunglah arus sungai membantu. Rasanya arah arusnya ke tepi
sungai juga.
Beberapa saat kemudian, aku sudah cukup dekat ke tepi sungai
sehingga bisa berdiri. Dengan perasaan lelah, terengah-engah seperti
binatang liar, aku berdiri dan menyeret Larry ke lumpur di tepi sungai.
Apakah ia sudah meninggal? Apakah ia sempat tenggelam sebelum
aku mencapainya?
Terengah-engah aku membaringkannya telentang. Sambil berusaha
bernapas dan berusaha supaya badanku tidak gemetar lagi, aku
membungkuk di atas Larry.
Dan ia membuka matanya.
Ia menatapku kosong, seakan-akan tidak mengenaliku.
Akhirnya ia membisikkan namaku. "Billy," katanya pelan, "kita
selamat ya?"
Larry dan aku beristirahat sebentar. Lalu kami berjalan mengikuti
sungai kembali ke perkemahan.
Tubuh kami basah kuyup dan kotor terkena lumpur, tapi aku tidak
peduli. Kami masih hidup. Kami selamat. Aku telah menyelamatkan
hidup Larry.
Kami tidak banyak bicara dalam perjalanan pulang. Untuk berjalan
saja rasanya sudah setengah mati.
Aku bertanya pada Larry apakah menurutnya Tom dan Chris akan
baik-baik saja.
"Semoga," gumamnya sambil terengah-engah. "Mereka mungkin
menepi dan berjalan pulang seperti kita."
Aku juga bertanya padanya lagi tentang Jay dan Colin. Kurasa Larry
mungkin akan menceritakan yang sebenarnya karena kami sendirian
dan karena aku telah menyelamatkan hidupnya.
Tapi ia tetap mengatakan tidak tahu apa-apa tentang kedua teman
sepondokku. Sambil berjalan ia mengangkat satu tangan dan
bersumpah sama sekali tidak tahu apa-apa.
''Begitu banyak hal mengerikan telah terjadi," gumamku.
Ia mengangguk, matanya tetap menatap lurus ke depan. "Memang
aneh," katanya menyetujui.
Aku menunggu ia bicara lagi. Tapi ia terus melangkah sambil berdiam
diri.
Butuh waktu tiga jam untuk kembali. Sebenarnya kami tadi belum
terlalu jauh menyusuri sungai, tapi lumpur di sepanjang tepi sungai
yang berkelok-kelok, membuat perjalanan pulang kami semakin lama.
Ketika perkemahan sudah kelihatan, lututku melemah dan rasanya
kakiku nyaris putus.
Dengan napas terengah-engah, basah kuyup karena keringat, pakaian
masih basah dan tertutup lumpur, kami melangkah terseok-seok ke
tepi sungai.
"Hei—!" terdengar panggilan dari tempat berenang. Paman Al
mengenakan pakaian hijau longgar, bergegas menyeberangi lumpur
mendatangi kami. "Apa yang terjadi?" tanyanya pada Larry.
"Kami kecelakaan!" teriakku sebelum Larry sempat bicara.
"Saya terjatuh," kata Larry mengakui, wajahnya yang berlepotan
lumpur menjadi merah padam. "Billy melompat dan menyelamatkan
saya. Kami pulang berjalan kaki."
"Tapi Tommy dan Chris tidak bisa menghentikan kano. Mereka
hanyut!" teriakku.
"Kami berdua nyaris tenggelam," kata Larry pada kepala perkemahan
yang mengerutkan dahi itu. "Tapi, Billy—ia menyelamatkan hidup
saya."
"Bisakah Anda mengirim orang untuk mencari Tommy dan Chris?"
tanyaku. Sekujur tubuhku tiba-tiba gemetar, mungkin karena terlalu
capek.
"Kedua anak itu hanyut?" tanya Paman Al sambil menatap Larry
tajam. Ia menggaruk-garuk kepalanya.
Larry mengangguk.
"Kita harus menemukan mereka!" teriakku, makin gemetar.
Paman Al terus menatap Larry. "Kanoku bagaimana?" tanyanya
marah. "Itu kano terbaik kita! Bagaimana aku bisa menggantinya?"
Larry mengangkat bahu.
"Besok kita akan pergi mencari kano itu," bentak Paman Al.
Ia tidak memedulikan kedua anak itu, pikirku. Ia sama sekali tidak
peduli.
"Lekas ganti pakaian!" perintah Paman Al padaku dan Larry. Ia
bergegas ke aula sambil menggeleng-geleng.
Aku berbalik dan berjalan ke pondok. Sekujur tubuhku masih
gemetaran, rasanya dingin sekali. Aku merasa sangat marah.
Aku baru saja menyelamatkan hidup Larry, tapi Paman Al tidak
peduli.
Dan ia tidak peduli dua peserta perkemahan telah hilang di sungai.
Ia tidak peduli dua peserta perkemahan dan seorang pengawas tidak
kembali dari berjalan kaki.
Ia tidak peduli anak-anak diserang suatu makhluk!
Ia tidak peduli anak-anak menghilang dan tidak pernah disebut-sebut
lagi.
Ia tidak peduli pada kami.
Ia cuma peduli pada kanonya.
Kemarahanku segera berubah menjadi ketakutan.
Tentu saja, aku sama sekali tidak tahu masih akan ada bagian musim
panasku yang paling mengerikan.
MALAM itu aku sendirian di pondok.
Kupasang satu selimut lagi di tempat tidurku dan tidur meringkuk.
Aku ingin tahu apakah malam ini bisa tidur. Ataukah pikiran-
pikiranku yang ketakutan dan marah akan membuatku terjaga terus.
Tapi aku begitu lelah dan letih, sehingga lolongan yang mengerikan
dari Pondok Terlarang pun tidak bisa membuatku terbangun.
Aku tertidur dan tidak bangun-bangun lagi sampai kurasa bahuku
digoyang orang.
Aku langsung waspada dan duduk tegak. "Larry!" seruku, suaraku
masih parau karena baru bangun tidur. "Ada apa?"
Aku menyipitkan mata memandang ke seberang ruangan. Tempat
tidur Larry tampak kusut, selimutnya tergulung di ujung tempat tidur.
Pasti hari sudah sangat larut ketika ia datang tadi malam, dan langsung
tidur.
Tapi tempat tidur Tommy dan Chris tetap saja rapi seperti kemarin.
"Jalan kaki istimewa," kata Larry sambil berjalan ke tempat tidurnya.
"Cepat. Ganti pakaian."
"Hah?" Aku menggeliat dan menguap. Di luar jendela, langit masih
kelabu. Matahari belum terbit. "Jalan kaki seperti apa?"
"Paman Al menyebutnya jalan kaki istimewa," jawab Larry, ia
memunggungi aku. Diangkatnya seprai dan dirapikannya tempat
tidurnya.
Sambil mengerang aku bangun dari tempat tidur. Lantai terasa dingin.
"Tidakkah kita beristirahat? Maksudku, setelah kejadian kemarin?"
Aku melirik lagi tempat tidur Tommy dan Chris yang masih rapi.
"Bukan cuma kita yang ikut," jawab Larry sambil merapikan seprai.
"Seluruh perkemahan akan ikut. Semua orang pergi. Paman Al yang
memimpin."
Aku mengenakan celana jeans, berjalan terjatuh-jatuh di kamar karena
baru satu kaki yang masuk ke celana. Tiba-tiba aku merasa sangat
takut. "Tidak ada di jadwal," kataku suram. "Ke mana kami dibawa
Paman Al?"
Larry tidak menjawab.
"Ke mana?" tanyaku melengking.
Ia pura-pura tidak mendengar.
"Tommy dan Chris—mereka tidak kembali?" tanyaku sedih, sambil
mengenakan sepatu. Untung aku membawa dua pasang sepatu. Sepatu
yang kukenakan kemarin tergeletak di sudut, masih basah dan
berlepotan lumpur.
"Mereka akan datang," akhirnya Larry menjawab. Tapi
kedengarannya ia tidak bersungguh-sungguh.
Aku selesai berpakaian, lalu berlari ke atas bukit untuk sarapan. Pagi
itu mendung dan terasa hangat. Pasti kemarin malam hujan. Rumput-
rumput berkilat basah.
Sambil menguap dan mengedip-ngedipkan mata karena silau, para
peserta perkemahan naik ke atas bukit. Kulihat sebagian besar sama
bingungnya seperti aku.
Mengapa kami melakukan jalan pagi di luar jadwal ini pagi-pagi
sekali? Berapa lama? Ke mana kami pergi?
Aku berharap semoga Paman Al atau salah satu pengawas akan
menerangkan segalanya pada kami saat sarapan, tapi tak satu pun
muncul di ruang makan.
Kami makan diam-diam, tanpa bercanda seperti biasanya.
Aku teringat pada perjalanan naik kano yang mengerikan kemarin.
Rasanya masih terasa saja air cokelat kotor itu. Aku melihat Larry
mengapung ke arahku, tertelungkup, mengapung di air yang deras
seperti segumpal rumput laut.
Kuingat diriku berusaha mendekatinya, berusaha berenang, berusaha
melawan arus, berusaha tetap terapung di pusaran air yang putih.
Dan kulihat kanonya semakin mengabur ketika arus sungai yang deras
membawanya menjauh, Tiba-tiba akti teringat Dawn dan Dori. Aku
ingin tahu bagaimana keadaan mereka. Aku ingin tahu apakah mereka
akan berusaha bertemu aku lagi di tepi sungai.
Kami sarapan roti bakar dengan sirup. Biasanya aku menyukai
makanan itu. Tapi pagi ini, aku cuma menusuk-nusuknya dengan
garpu.
"Berbaris di luar!" teriak seorang pengawas dari pintu.
Terdengar suara kursi-kursi didorong. Kami semua berdiri dengan
patuh dan berjalan ke luar.
Ke manakah mereka membawa kami?
Mengapa tidak ada yang menerangkan sesuatu?
Langit sudah berubah warna menjadi merah muda, tapi matahari
belum terbit dari kaki langit.
Kami berbaris satu-satu di sepanjang dinding gedung aula. Aku berdiri
nyaris di ujung barisan, ke arah kaki bukit.
Beberapa anak ada yang bercanda dan bermain dorong-dorongan.
Tapi sebagian besar cuma berdiri diam atau bersandar di dinding,
menunggu apa yang akan terjadi.
Begitu barisan sudah terbentuk, salah satu pengawas berjalan
memeriksa. Ia menunjuk dan komat-kamit berkonsentrasi menghitung
kami. Ia dua kali menghitung supaya lebih yakin.
Lalu Paman Al muncul di depan barisan. Ia mengenakan pakaian
loreng-loreng cokelat dan hijau, seperti yang dikenakan tentara di
film. Ia mengenakan kacamata hitam pekat, meskipun matahari belum
terbit.
Ia tidak berbicara. Ia memberi isyarat pada Larry dan seorang
pengawas lain yang sedang memikul tas-tas cokelat yang kelihatannya
berat. Lalu Paman Al cepat-cepat menuruni bukit, matanya
tersembunyi di balik kacamata hitam, wajahnya berkerut-kerut.
Ia berdiri di dekat peserta terakhir. "Lewat sini!" teriaknya keras-keras
sambil menunjuk ke tepi sungai.
Cuma itu yang diucapkannya.
"Lewat sini!"
Kami mulai mengikutinya, langkah kami cukup cepat. Kami
terpeleset-peleset di rumput yang basah. Beberapa anak tertawa
cekikikan di belakangku.
Aku terkejut ketika menyadari sekarang aku hampir di depan barisan.
Aku cukup dekat untuk berteriak pada Paman Al. Jadi aku berteriak.
"Ke mana kita pergi?" teriakku.
Ia mempercepat langkahnya dan tidak menjawab.
"Paman Al—apa ini perjalanan jauh?" teriakku. Ia pura-pura tidak
mendengar.
Akhirnya aku menyerah.
Ia membawa kami ke tepi sungai, lalu berbelok ke kanan. Tampak
pepohonan tumbuh lebat di tempat sungai menyempit.
Ketika memandang ke belakang barisan kulihat Larry dan para
pengawas lain, dengan tas-tas di pundak, bergegas berjalan supaya
tidak ketinggalan.
Apa-apaan ini? pikirku bingung.
Ketika menatap pepohonan yang tumbuh rapat di depan, aku teringat
sesuatu.
Aku bisa melarikan diri.
Pikiran itu begitu menakutkan—tapi tiba-tiba terasa sangat nyata—
lama baru muncul.
Aku bisa melarikan diri ke dalam pepohonan ini.
Aku bisa melarikan diri dari Paman Al dan perkemahannya yang
menakutkan.
Pikiran itu begitu mengasyikkan sehingga aku nyaris terjatuh. Aku
menubruk anak di depanku, yang berbadan besar, namanya Tyler. Ia
berbalik dan melotot.
Wo, pikirku, kurasakan jantungku berdebar-debar. Pikirkan dulu.
Pikirkan masak-masak....
Aku menatap pepohonan itu terus. Ketika kami makin mendekatinya,
aku bisa melihat pepohonan yang lebat, begitu rapat sehingga dahan-
dahannya membelit semua.
Mereka takkan bisa menemukan aku di dalam sana, pikirku. Pasti
mudah sekali bersembunyi di hutan ini.
Tapi lalu bagaimana?
Aku tidak bisa tinggal di hutan terus.
Lalu bagaimana?
Sambil menatap pohon-pohon itu, kupaksa diriku berkonsentrasi,
kupaksa diriku berpikir jernih.
Aku bisa mengikuti sungai. Ya. Berjalan di pinggir sungai terus.
Mengikuti sungai. Pasti akhirnya akan sampai ke suatu kota. Harus
sampai ke suatu kota.
Aku akan berjalan ke kota pertama yang kutemui. Lalu akan
kutelepon orangtuaku.
Aku bisa melakukannya, pikirku. Aku begitu bersemangat sehingga
nyaris keluar barisan.
Aku harus lari. Berlari secepat-cepatnya. Kalau sedang tidak ada yang
melihat. Masuk ke hutan. Jauh ke dalam.
Kami sudah mencapai tepi hutan. Matahari sudah tinggi, langit pagi
yang berwarna merah jadi kelihatan cerah. Kami berdiri di bawah
bayang-bayang pepohonan.
Aku bisa melakukannya, pikirku.
Sebentar lagi.
Jantungku berdebar kencang. Aku berkeringat meskipun udara masih
dingin.
Tenang, Billy, kataku memperingatkan. Tenang saja. Tunggu
kesempatan.
Tunggu sampai waktunya tepat.
Lalu tinggalkan Camp Nightmare. Selamanya.
Sambil berdiri di bayang-bayang, aku mengamati pepohonan itu.
Kulihat ada jalan kecil menuju ke dalam hutan.
Aku mencoba menghitung berapa lama aku bisa mencapai jalan kecil
itu. Mungkin paling lama sepuluh detik. Lalu, lima detik berikutnya,
aku bisa berlindung di antara pepohonan. Aku bisa melakukannya,
pikirku.
Aku bisa menghilang dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Kutarik napas dalam-dalam. Kumantapkan diriku. Kusiapkan otot-
ototku untuk berlari.
Lalu aku memandang ke depan barisan.
Aku terkejut sekali ketika melihat Paman Al menatapku. Dan ada
senapan di tangannya.
AKU berteriak ketika melihat senapan di tangannya. Apakah ia bisa
membaca pikiranku? Apakah ia tahu aku akan melarikan diri?
Aku merinding ketika menatap senapan itu. Ketika kupandang wajah
Paman Al, aku baru sadar ia tidak menatapku.
Ia memperhatikan kedua pengawas. Mereka telah meletakkan tas-tas
di atas tanah dan sedang membungkuk, berusaha membukanya.
"Mengapa kita berhenti?" tanya Tyler, anak yang berada di depanku.
"Kita sudah sampai?" tanya anak lain bercanda. Beberapa anak
tertawa.
"Kurasa sekarang kita bisa kembali," kata anak yang lainnya.
Aku berdiri dan menatap tidak percaya ketika Larry dan pengawas
yang satu lagi mengeluarkan senapan-senapan dari dalam tas.
"Berbarislah dan ambil satu," perintah Paman Al pada kami, sambil
mengetuk gagang senapannya ke tanah. "Satu anak satu senapan.
Ayo—cepat!"
Tidak ada yang bergerak. Kurasa semua anak mengira Paman Al
main-main.
"Kenapa kalian ini? Kubilang cepat!" bentaknya marah. Diambilnya
setumpuk senapan, lalu berjalan sepanjang barisan, disodorkannya
senapan itu pada anak-anak.
Disodorkannya senapan ke dadaku kuat-kuat sehingga aku jadi
terhuyung beberapa langkah ke belakang. Cepat-cepat kupegang
popor senapan itu agar jangan sampai jatuh.
"Ada apa?" tanya Tyler padaku.
Aku mengangkat bahu, kuamati senapan dengan perasaan ngeri. Aku
tidak pernah memegang senjata yang sebenarnya. Orangtuaku tidak
suka segala jenis senjata api.
Beberapa menit kemudian kami semua berbaris di bawah bayang-
bayang pepohonan, masing-masing memegang senapan. Paman Al
berdiri di dekat tengah-tengah barisan dan menyuruh kami membuat
lingkaran di sekitarnya supaya bisa mendengar perkataannya.
"Ada apa? Apa ini latihan menembak?" tanya seorang anak.
Larry dan pengawas yang satu lagi tersenyum mengejek
mendengarnya. Wajah Paman Al tetap serius.
"Dengar," teriaknya. "Tidak ada lagi yang bercanda. Ini masalah
serius."
Para peserta perkemahan semakin merapat. Kami jadi diam. Ada
burung ribut bercicit di pohon dekat situ. Aku jadi teringat dengan
rencanaku untuk melarikan diri.
Apakah aku akan menyesal karena tadi tidak melarikan diri?
"Kemarin malam ada dua anak perempuan lari dari perkemahan
mereka," kata Paman Al dengan suara datar dan resmi. "Anak
perempuan berambut pirang dan merah."
Dawn dan Dori! pikirku. Pasti mereka!
"Aku yakin," kata Paman Al melanjutkan, "mereka adalah anak-anak
yang menyelinap ke perkemahan anak laki-laki dan bersembunyi di
pinggir sungai beberapa hari yang lalu."
Bagus! Aku merasa senang. Memang Dawn dan Dori! Mereka
melarikan diri!
Aku tiba-tiba sadar aku tersenyum lebar. Cepat-cepat aku berhenti
tersenyum sebelum Paman Al melihat aku senang mendengar berita
itu.
"Kedua anak perempuan itu berada di dalam hutan ini. Di dekat-dekat
sini," kata Paman Al lagi. Diangkatnya senapannya. "Senjata kalian
ada pelurunya. Bidik dengan cermat kalau kalian melihat mereka.
Mereka takkan bisa lari dari kita!"
"HAH?" Aku tersentak tidak percaya. "Maksud Anda kami harus
menembak mereka?"
Kupandang anak-anak lain. Mereka semua kelihatan sama kaget dan
bingungnya seperti aku.
"Yeah. Kalian harus menembak mereka," jawab Paman dingin.
"Sudah kubilang tadi—mereka mencoba melarikan diri."
"Tapi kami tidak bisa!" teriakku.
"Mudah," kata Paman Al. Diangkatnya senapannya ke bahu dan
berpura-pura menembak. "Lihat? Tidak susah."
"Tapi kami tidak bisa membunuh orang!" kataku berkeras.
"Membunuh?" Ekspresi wajahnya berubah di balik kacamata
hitamnya. "Aku tidak bilang harus dibunuh, kan? Senjata-senjata ini
berisi peluru obat bius. Kita cuma ingin menghentikan anak-anak
perempuan itu—bukan melukainya."
Paman Al mendekatiku, ia masih memegang senapan. Ia menatapku
tajam, didekatkannya wajahnya ke wajahku.
"Ada masalah, Billy?" desaknya.
Ia menantang aku.
Kulihat anak-anak lain mundur.
Hutan itu jadi sepi. Bahkan burung pun berhenti bercicit.
"Ada masalah?" ulang Paman Al, wajahnya dekat sekali dengan
wajahku. Aku bisa mencium napasnya yang bau.
Dengan perasaan takut aku melangkah mundur. Mengapa ia
melakukan hal ini padaku? Mengapa ia menantangku seperti ini?
Aku menarik napas dalam-dalam dan menahannya. Lalu aku berteriak
sekuat tenaga, "Aku—aku tidak mau melakukannya!"
Tanpa betul-betul menyadari apa yang kulakukan, kuangkat senapan
ke bahuku dan kuarahkan larasnya ke dada Paman Al.
"Kau akan menyesal," geram Paman Al pelan. Dibukanya
kacamatanya dan dilemparkannya ke hutan. Lalu disipitkannya
matanya dan menatapku marah. "Turunkan senapannya, Billy. Aku
akan membuatmu menyesal nanti."
"Tidak," kataku bertahan. "Tidak. Perkemahan s-dah selesai. Kau
tidak akan melakukan apa-apa."
Kakiku bergetar hebat sampai rasanya aku tidak kuat lagi berdiri.
Aku tidak akan mau memburu Dawn dan Dori. Aku tidak akan mau
lagi melakukan perintah Paman Al. Tidak akan.
"Berikan senapannya, Billy," katanya dengan suara pelan dan jahat.
Diulurkannya tangannya ke arah senapanku.
"Serahkan, Nak."
"Tidak!" teriakku.
"Serahkan sekarang," perintahnya, matanya menyipit, memelototi aku.
"Sekarang!"
"Tidak!" teriakku.
Ia berkedip sekali. Dua kali.
Lalu menerkamku.
Aku mundur selangkah dengan senapan terarah pada Paman Al—dan
kutarik picunya.
SENAPAN itU meletup pelan.
Paman Al mendongak dan tertawa. Dijatuhkannya senapannya ke
tanah.
"Hei—!" teriakku, bingung. Dadanya tetap kubidik.
"Selamat, Billy," kata Paman Al sambil tersenyum hangat padaku.
"Kau lulus." Ia melangkah maju dan mengulurkan tangan untuk
bersalaman denganku.
Anak-anak lain juga menjatuhkan senapan mereka. Kulihat mereka
semua tersenyum. Larry, yang juga tersenyum, mengacungkan
jempol.
"Ada apa?" tanyaku curiga. Pelan-pelan kuturunkan senapanku.
Paman Al memegang tanganku dan meremasnya kuat-kuat. "Selamat,
Billy. Aku tahu kau akan lulus."
"Hah? Aku tidak mengerti!" teriakku, benar-benar bingung.
Tapi bukannya menerangkan, Paman Al malah berbalik menatap
pepohonan dan berteriak. "Oke, semuanya! Sudah selesai! Keluarlah
dan ucapkan selamat padanya!"
Dan ketika aku menatap tidak percaya, mulutku ternganga lebar,
orang-orang keluar dari balik pohon.
Mula-mula tampak Dawn dan Dori.
"Kalian bersembunyi di hutan!" teriakku.
Mereka tertawa. "Selamat!" teriak Dawn.
Lalu yang lain keluar juga, tersenyum dan memberi selamat padaku.
Aku menjerit ketika melihat Mike. Ia baik-baik saja!
Di sebelahnya ada Jay dan Roger!
Colin melangkah keluar dari hutan, diikuti Tommy dan Chris. Semua
tersenyum, senang, dan baik-baik saja.
"Apa-apaan ini?" aku tergagap. Aku benar-benar bingung. Aku
merasa pusing.
Aku tidak mengerti. Aku betul-betul tidak mengerti.
Lalu orang tuaku keluar dari balik pohon. Mom cepat-cepat
mendatangi aku dan memelukku. Dad menepuk kepalaku. "Aku tahu
kau akan lulus, Billy," katanya. Kulihat ia menangis bahagia.
Akhirnya aku tidak tahan lagi. Kudorong Mom pelan. "Lulus apa?"
tanyaku. "Apa-apaan ini? Ada apa?"
Paman Al merangkul bahuku dan membawaku menjauh dari peserta
perkemahan. Mom dan Dad mengikutiku.
"Ini bulan perkemahan musim panas yang sebenarnya," kata Paman
Al menjelaskan, ia masih tersenyum padaku, wajahnya merah. "Ini
laboratorium pengujian milik pemerintah."
"Hah?" Aku menelan ludah.
"Kau tahu orang tuamu ilmuwan, Billy," lanjut Paman Al. "Yah,
mereka akan pergi melakukan perjalanan yang sangat penting. Dan
sekali ini mereka ingin membawamu."
"Mengapa Mom dan Dad tidak memberitahuku?" tanyaku pada
orangtuaku.
"Kami tidak boleh melakukannya!" kata Mom.
"Sesuai dengan peraturan pemerintah, Billy," lanjut Paman Al, "anak-
anak tidak diizinkan mengikuti perjalanan resmi kecuali kalau mereka
lulus ujian tertentu. Itulah yang kaulakukan di sini. Kau sedang diuji."
"Ujian untuk apa?" desakku, masih terkejut.
"Yah, kami ingin melihat apakah kau bisa mematuhi perintah," kata
Paman Al menjelaskan. "Kau lulus ketika menolak pergi ke Pondok
Terlarang." Diangkatnya dua jari. "Yang kedua, kami harus menguji
keberanianmu. Kau menunjukka-nya dengan menyelamatkan Larry."
Diangkatnya tiga jari. "Ketiga, kami harus melihat apakah kau tahu
kapan harus tidak mematuhi perintah. Kau lulus ujian itu dengan
menolak memburu Dawn dan Dori."
"Dan semua orang ikut berperan?" tanyaku. "Semua peserta
perkemahan? Semua pengawas? Semua orang? Mereka semua aktor?"
Paman Al mengangguk. "Mereka semua bekerja di laboratorium
pengujian ini." Wajahnya berubah serius. "Kau tahu, Billy,
orangtuamu ingin membawamu ke tempat yang sangat berbahaya,
mungkin tempat yang paling berbahaya di seluruh jagat raya. Jadi
kami harus yakin kau bisa melakukannya."
Tempat paling berbahaya di seluruh jagat raya? "Di mana?" tanyaku
pada orangtua.ku. "Mom dan Dad membawaku ke mana?"
"Ke planet yang sangat aneh, Bumi namanya," jawab Dad, sambil
melirik Mom. "Letaknya sangat jauh dari sini.
Tapi bisa jadi mengasyikkan. Penghuninya aneh dan tidak dapat
diduga, dan belum ada yang pernah mempelajari mereka."
Sambil tertawa aku melangkah ke tengah orang-tuaku dan memeluk
mereka. "Bumi?! Kedengarannya aneh juga. Tapi Bumi tidak akan
pernah sama berbahaya dan mengasyikkannya seperti Camp
Nightmoon!" teriakku.
"Lihat saja nanti," jawab Mom pelan. "Lihat saja nanti." END