The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by chan.hamdani, 2023-06-24 23:59:11

Resume Modul 1.4 Guru Penggerak

Modul 1.4 Budaya Positif

Keywords: Modul 1.4 Budaya Positif

Posisi kontrol yang baik adalah posisi kontrol manajer “ posisi dimana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilahkan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahan sendiri" . Kita membimbing murid untuk dapat mengatur dirinya. 5 posisi Kontrol


Pernyataan-Pernyataan Siapa yang mengatakan? "Saya kecewa sekali dengan kamu..." "Kamu tidak pernah benar melakukannya...." "Ayolah, lakukan demi ibu/bapak....." "Apakah kamu mau mau medapatkan stiker bintang hari ini" "Bagaimana kamu bisa menyelesaikan masalah in?" "Kamu selalu yang paling berakhir...." Apa Menurutmu?


Pernyataan-Pernyataan Siapa yang mengatakan? "Saya kecewa sekali dengan kamu..." Pembuat orang merasa bersalah "Kamu tidak pernah benar melakukannya...." Penghukum "Ayolah, lakukan demi ibu/bapak....." Teman "Apakah kamu mau mau medapatkan stiker bintang hari ini" Pemantau "Bagaimana kamu bisa menyelesaikan masalah in?" Manajer "Kamu selalu yang paling berakhir...." Penghukum Apa Menurutmu?


Segitiga Restitusi UPT SPF SDN 106162 MEDAN ESTATE HAMDANI


Restitusi : sebuah pendekatan untuk menciptakan Disiplin Positif Kebiasaan kita selama ini, bila ada oran yang berlaku salah pada kita adalah langsung memaafkan, atau bakan kita melakukan sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman atau merasa bersalah Kita cenderung untuk berfokus pada kesalahan daripada mencari cara bagi orang yang berbuat kesalahan untuk memperbaiki diri. Kita lebih fokus pada cara mereka membayar akibat dari kesalahan mereka daripada mengembalikan harga diri mereka Membuat kondisi menjadi impas, menjadi lebih penting daripada membuat situasi menjadi benar.


KAMU TENTU PUNYA ALASAN MENGAPA MELAKUKAN ITU SETIAP ORANG PASTI PERNAH MELAKUKAN KESALAHAN ADAKAH CARA YANG LEBIH EFEKTIF UNTUK MENDAPATKAN APA YANG KAMU BUTUHKAN? KEYAKINAN KELAS APA YANG TELAH KITA SEPAKATI KAMIU INGIN MENJADI ORANG YANG SEPERTI APA KAMU BUKAN SATU-SATUNYA YANG PERNAH MELAKUKAN INI


Berbuat salah itu hal yang manusiawi Tidak ada manusia yang sempurna Bapak/Ibu juga buat salah Kita pasti bisa menyelesaikan permasalahan ini Bapak/Ibu tidak tertarik untuk mencari tahu siapa yang benar, siapa yang sala, Bapak/Ibu lebih tertarik untuk menyelesaikan masalah. Kalau kamu menyalahkan dirimu sendiri terus menerus, apakah kamu bersikap baik pada dirimu sendiri? Guru Berkata : Tujuan : untuk membuat murid yang merasa gagal karena berbuat salah menjadi positif terhadap dirinya sendiri 1.Menstabilkan Identitas


Kamu bisa saja kan melakukan hal yang lebih buruk, tapi kamu tidak melakukannya kan? Kamu pasti punya alasan mengapa melakukannya Apa yang penting bagi kamu? Kamu boleh tetap berusaha menjaga sikap itu, tapi tambahkan sikap yang lain, yang baru. Maukah kamu belajar cara lain untuk mendapat yang kamu butuhkan tanpa harus memukul? Apakah kamu bisa melakukan dengan lebih baik lagi besok? Guru Berkata : Tujuan : Membantu murid mengenali kebutuhan yang ingin dipenuhinya ketika melakukan kesalahan itu Karena pada dasarnya setiap tindakan memiliki alasan. 2. Validasi Kebutuhan


Apa nilai yang kita percaya di kelas/sekolah kita? Nilai-nilai Universal apa yang telah kita sepakati? Kelas yang ideal itu seperti apa sih? Kamu ingin jadi anak seperti apa? Apa yang kamu rasakan ketika kamu melakukan itu? Kamu menjadi orang seperti apa? Guru Berkata : Tujuan : Murid melihat kesalahannya dihubungkan dengan norma sosial dan nilai-nilai yang mendasari manusia berinteraksi dengan orang lain. 3. Menanyakan Keyakinan


Adnan yang terlambat hadir di sekolah Apa yang Anda lakukan sebagai guru ? Studi Kasus


1.PENGHUKUM: “Terlambat lagi, pasti terlambat lagi, selalu datang terlambat, kapan bisa datang tepat waktu?” (Nada suara tinggi, bahasa tubuh: mata melotot, dan jari menunjuk-nunjuk menghardik) Tanyakan kepada diri Anda: Bagaimana perasaan murid bila guru berbicara seperti itu pada saat muridnya datang terlambat?


AKIBAT: Kemungkinan murid marah dan mendendam atau bersifat agresif. Bisa jadi sesudah kembali duduk, murid tersebut akan mencoret-coret bukunya atau meja tulisnya. Lebih buruk lagi, sepulang sekolah, murid melihat motor atau mobil bapak/ibu guru dan akan menggores kendaraan tersebut dengan paku.


2. PEMBUAT ORANG LAIN MERASA BERSALAH: “Adnan, kamu ini bagaimana ya? Kamu sudah berjanji dengan ibu tidak akan terlambat lagi. Kamu kenapa ya senang sekali mengecewakan Ibu. Ibu benar-benar kecewa sekali.” (Nada suara memelas/halus/sedih, bahasa tubuh: merapat pada anak, lesu) Tanyakan kepada diri Anda: Bagaimana perasaan murid bila ditegur seperti cara ini?


AKIBAT: Murid akan merasa bersalah. Bersalah telah mengecewakan ibu atau bapak gurunya. Murid akan merasa menjadi orang yang gagal dan tidak sanggup membahagiakan orang lain. Kadangkala sikap seperti ini lebih berbahaya dari sikap penghukum, karena emosi akan tertanam rapat di dalam, murid menahan perasaan. Tidak seperti murid dalam dengan guru penghukum, di mana murid bisa menumpahkan amarahnya walaupun dengan cara negatif. Murid tertekan seperti inilah yang tiba-tiba bisa meletus amarahnya, dan bisa menyakiti diri sendiri atau orang lain.


3. TEMAN:: “Adnan, ayolah, bagaimana sih kamu. Kemarin kamu sudah janji ke bapak bukan, kenapa terlambat lagi? (sambil tertawa ringan). Ya, sudah tidak apa-apa, duduk dulu sana. Nanti Pak Guru bantu. Kamu ini.” (sambil senyum-senyum). (nada suara: ramah, akrab, dan bercanda, bahasa tubuh: merapat pada murid, mata dan senyum jenaka) Tanyakan kepada diri Anda: Bagaimana perasaan murid dengan sikap guru seperti ini?


AKIBAT: Murid akan merasa senang dan akrab dengan guru. Ini termasuk dampak yang positif, hanya saja di sisi negatif murid menjadi tergantung pada guru tersebut. Bila ada masalah dia merasa bisa mengandalkan guru tersebut untuk membantunya. Akibat lain dari posisi teman, Adnan hanya akan berbuat sesuatu bila yang menyuruh adalah guru tersebut, dan belum tentu berlaku yang sama dengan guru atau orang lain.


4. PEMANTAU: Guru: “Adnan, tahukah kamu jam berapa kita memulai pelajaran?” Adnan: “Tahu Pak!” Guru: “Kamu terlambat 15 menit, apakah kamu sudah mengerti apa yang harus dilakukan bila terlambat?” Adnan: “Paham Pak, saya harus tinggal kelas pada jam istirahat nanti dan mengerjakan tugas ketertinggalan saya.” Guru: “Ya, benar, nanti pada saat jam istirahat kamu harus sudah di kelas untuk menyelesaikan tugas yang tertinggal tadi. Saya tunggu” (nada suara datar, bahasa tubuh yang formal): Tanyakan kepada diri Anda: Bagaimana perasaan murid diperlakukan seperti ini?


AKIBAT: Murid memahami sanksi yang harus dijalankan karena telah melanggar salah satu peraturan sekolah. Guru tidak menunjukkan suatu emosi yang berlebihan, menjadi marah atau membuat merasa berbuat salah. Murid tetap dibuat tidak nyaman yaitu dengan harus tinggal kelas pada waktu jam istirahat dan mengerjakan tugas. Guru tetap harus memonitor atau memantau murid pada saat mengerjakan tugas di jam istirahat karena murid tidak bisa ditinggal seorang diri.


5. MANAJER: Guru: “Adnan, apakah kamu mengetahui jam berapa sekolah dimulai?” Adnan: “Tahu Pak, jam 7:00!” Guru: “Ya, jadi kamu terlambat, kira-kira bagaimana kamu akan memperbaiki masalah ini?” Adnan: “Saya bisa menanyakan teman saya Pak, untuk mengejar tugas yang tertinggal.” Guru: “Baik, itu bisa dilakukan. Apakah besok akan ada masalah untuk kamu agar bisa hadir tepat waktu ke sekolah?” Adnan: “Tidak Pak, saya bisa hadir tepat waktu.” Guru: “Baik. Saya hargai usahamu untuk memperbaiki diri” Bagaimana perasaan murid diperlakukan seperti ini? (nada suara tulus, bahasa tubuh tidak kaku, mendekat ke murid)


AKIBAT: Pada posisi Manajer maka suara guru sebaiknya tulus. Tidak perlu marah, tidak perlu meninggikan suara, apalagi menunjuk-nunjuk jari ke murid, berkacak pinggang, atau bersikap seolah-olah menyesal, tampak sedih sekali akan perbuatan murid ataupun bersenda gurau menempatkan diri sebagai teman murid. Fokus adalah pada murid, bukan untuk membahagiakan guru atau orang tua. Murid sudah mengetahui adanya suatu masalah, dan sesuatu perlu terjadi. Bila guru mengambil posisi Pemantau, guru akan melihat apa sanksinya apa peraturannya? Namun pada posisi Manajer, guru akan mengembalikan tanggung jawab pada murid untuk mencari jalan keluar permasalahannya, tentu dengan bimbingan guru.


JENIS KEGIATAN YOTUBE Platform Merdeka Mengajar/ Google Drrive Mulai Dari Diri https://youtu.be/nxSTnkX0dXY https://guru.kemdikbud.go.id/buktikarya/video/299574?from=share Eksplorasi Konsep https://youtu.be/egNJbf6h0E8 https://guru.kemdikbud.go.id/buktikarya/video/313084?from=share Ruang Kolaborasi https://docs.google.com/presentation/d/1ZTxJm ppjKXTNgUb8TbA0MekqAaBJmNng/edit? usp=drive_link&ouid=102425509491819447403&r tpof=true&sd=true Demonstrasi Kontekstual https://youtu.be/cP7YVQACoBg https://guru.kemdikbud.go.id/buk ti-karya/video/282433?from=share Koneksi Antar Materi https://youtu.be/qP4DI9clD6I https://guru.kemdikbud.go.id/buktikarya/video/282430?from=share Aksi Nyata https://youtu.be/ZFIae49C4DQ https://guru.kemdikbud.go.id/buktikarya/video/212943?from=share L ink Youtub e, P M M dan G oogle D r ive171


HAMDANI SDN 106162 MEDAN ESTATE TERIMA KASIH CALON GURU PENGGERAK @hamdanichan


Click to View FlipBook Version