The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bagas nur adi, 2020-02-04 02:31:32

LKj B2P2TOOT 2019

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

LAPORAN
KINERJA
BALAI BESAR
LITBANG
TANAMAN
OBAT & OBAT
TRADISIONAL

2019

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayahNya,
sehingga penyusunan Laporan Kinerja Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tahun
2019 dapat kami selesaikan. Laporan Kinerja (LKj) disusun sebagai bentuk
pertanggungjawaban kepada pemangku kepentingan sesuai Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah.
Penyusunan laporan ini sebagai kewajiban memenuhi amanat Peraturan Presiden
tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahm, sebagai bentuk transparansi dalam tata
pemerintahan yang baik (good governance) untuk menginformasikan pelaksanaan kegiatan
tahun 2019. Laporan memuat perencanaan kegiatan, pelaksanaan kegiatan serta alokasi
sumber daya.
Pencapaian hasil kegiatan tidak terlepas dari peran serta semua pihak, baik aparatur
sipil negara maupun tenaga kontrak, termasuk pengawasan yang dilakukan. Semoga laporan
ini dapat menjadi bentuk pertanggungjawaban kami kepada masyarakat atas amanah yang
diberikan melalui Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pembentukan B2P2TOOT. Akhir
kata, terima kasih kami kepada semua pihak, yang telah ikut berperan dalam penyusunan
Laporan Kinerja ini.

Tawangmangu, Januari 2020
Kepala

Akhmad Saikhu

ii

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

RINGKASAN EKSEKUTIF

Visi pemerintah dalam Kabinet Kerja Periode Tahun 2014-2019 adalah “Terwujudnya
Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong”.

Laporan kinerja merupakan bentuk pertanggungjawaban dalam melaksanakan tata
pemerintahan yang baik. Prinsip keterbukaan, transparansi dan akuntabilitas menjadi dasar
dalam pelaksanaan kegiatan.

Untuk mewujudkan masyarakat sehat dengan jamu yang aman, berkhasiat dan
bermutu, B2P2TOOT telah melaksanakan saintifikasi jamu, sebagaimana diamanatkan dalam
Permenkes 003 Tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu Dalam Penelitian Berbasis Pelayanan.
Tiga pilar misi, berupa meningkatkan mutu litbang, mengembangkan hasil litbang, dan
meningkatkan pemanfaatan litbang, dilakukan secara konsisten dari tahun ke tahun.

Pada Tahun 2019, aspek managemen litbang tertuang dalam pemanduan,
pelaksanaan, pemanfaatan hasil dan manajemen sumber daya. Perjanjian Kinerja
B2P2TOOT Tahun 2019 dengan indikator sebagai berikut:

1. Tersusunnya naskah rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari penelitian dan
pengembangan di bidang tanaman obat dan obat tradisional sebanyak 2 buah,

2. Terlaksananya publikasi karya tulis ilmiah di bidang tanaman obat dan obat
tradisional yang dimuat di media cetak dan atau elektronik nasional dan internasional
sebanyak 24 (dua puluh empat),

3. Terlaksananya hasil penelitian dan pengembangan di bidang tanaman obat dan obat
tradisional sebanyak 9 (sembilan)

4. Tersusunnya laporan status kesehatan masyarakat Hasil Riset Kesehatan Nasional
Wilayah IV sebanyak 1 buah.
Berbagai kegiatan sudah dilakukan untuk pencapaian indikator kinerja. Kegiatan

penyusunan rekomendasi kebijakan, dengan capaian sebanyak 3 rekomendasi kebijakan dari
2 yang ditargetkan. Capaian publikasi karya tulis ilmiah mencapai target, yaitu dari target 24
tercapai 30 publikasi, yakni 25 publikasi nasional dan 5 publikasi internasional. Berbagai
kegiatan sudah dilakukan untuk meningkatkan capaian, meliputi; workshop penulisan ilmiah,
wokshop penulisan jurnal online.

iii

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Kegiatan utama berupa penelitian dari target 9 tercapai 9 yang terdiri dari penelitian
untuk standarisasi tanaman, standarisasi bahan jamu, kemandirian bahan baku, praklinik,
klinik saintifikasi jamu, dan pemberdayaan masyarakat. Untuk jumlah laporan status
kesehatan masyarakat target 1 tercapai 1 laporan Riset Fasilitas Kesehatan.

Alokasi anggaran sebesar Rp. 52.181.144.000,00 (lima puluh dua milyar seratus
delapan puluh satu juta seratus empat puluh empat ribu rupiah) terdiri dari Rupiah Murni
sebesar Rp. 50.089.319.000,00 (lima puluh milyar delapan puluh Sembilan juta tiga ratus
sembilan belas ribu rupiah) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp. 2.091.825.000
(dua milyar sembilan puluh satu ribu delapan ratus dua puluh lima ribu rupiah). Realisasi
anggaran sebesar Rp. 47.157.948.129,00 atau sebesar 90,37%.

Seluruh output mencapai target > 100%, dengan realisasi anggaran < 100. Secara
rata, efisiensi sebesar 20,25, dengan capaian realisasi target sebesar 110,71% dan realisasi
anggaran 90,03%.

iv

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................................i
KATA PENGANTAR ....................................................................................................ii
RINGKASAN EKSEKUTIF ...........................................................................................iii
DAFTAR ISI .................................................................................................................v
DAFTAR TABEL .........................................................................................................vi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................viii
DAFTAR GRAFIK ........................................................................................................ix
BAB I. PENDAHULUAN ...............................................................................................

A. Latar Belakang .............................................................................................
B. Tujuan ...........................................................................................................
C. Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi ............................................................
D. Mandat dan Peran Strategis .........................................................................
E. Sistematika Pelaporan ..................................................................................
BAB II. PERENCANAAN KINERJA ..............................................................................
A. Rencana Strategis ........................................................................................
B. Rencana Kerja, Rencana Kerja dan Anggaran, Perjanjian Kinerja ................
C. Evaluasi Internal ...........................................................................................
D. Pengukuran Kinerja ......................................................................................
BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA ............................................................................
A. Realisasi Kinerja Organisasi .........................................................................
B. Realisasi Anggaran ......................................................................................
C. Kinerja Lainnya ............................................................................................
D. Inovasi/Terobosan ........................................................................................
E. Penghargaan ................................................................................................
F. Analisis Efisiensi Sumber Daya ....................................................................
BAB IV. PENUTUP .....................................................................................................
A. Simpulan ......................................................................................................
B. Langkah perbaikan........................................................................................

v

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Tabel 1.1. DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Komposisi Pegawai B2P2TOOT Berdasarkan Jenis Kelamin dan
Status Kepegawaian, Tahun 2019
Tabel 2.2.
Target Indikator Kinerja B2P2TOOT Sesuai Rencana Strategi
Tabel 2.3. Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019

Tabel 2.4. Target Indikator Kinerja dan Anggaran Sesuai Rencana Kinerja
B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 2.5.
Tabel 3.1. Target Indikator Kinerja dan Anggaran Sesuai Rencana Kerja dan
Anggaran Kementerian Lembaga B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 3.2.
Alokasi Anggaran Berdasarkan Jenis Belanja B2P2TOOT, Tahun
Tabel 3.3. 2019
Tabel 3.4.
Ketentuan Pengukuran Kinerja, B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 3.5.
Target dan Capaian Indikator Kinerja Sesuai Renstra Kemenkes
Tabel 3.6. Tahun 2015-2019, B2P2TOOT Tahun 2019

Tabel 3.7. Target dan Capaian Indikator Kinerja Sesuai Perjanjian Kerja
Tabel 3.8. B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 3.9.
Judul Rekomendasi Kebijakan, B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 3.10.
Tabel 3.11. Judul Artikel Ilmiah ada Media Cetak dan Elektronik Nasional
Tabel 3.12. Bidang TOOT, Tahun 2019
Tabel 3.13.
Tabel 3.14. Judul Artikel Ilmiah ada Media Cetak dan Elektronik Internasional
Tabel 3.15 Bidang TOOT, Tahun 2019
Tabel 3.16
Judul Artikel Ilmiah di Bidang Tanaman Obat dan Obat Tradisional
yang Dipublikasikan dalam Jurnal Nasional Tahun 2019 (bukan
penulis pertama)

Hasil Litbang Bidang TOOT, B2P2TOOT Tahun 2019

Judul Riset Pembinaan Kesehatan B2P2TOOT Tahun 2019

Kegiatan dan Jadwal Pelaksanaan Risnakes Korwil IV B2P2TOOT
Tahun 2019

Jumlah Tenaga Rifaskes 2019 Koordinator Wilayah IV, 2019

Pengadaan Alat Laboratorium B2P2TOOT Tahun 2019

Kegiatan Kelompok Kerja Tanaman Obat dan Obat Tradisional,
B2P2TOOT Tahun 2019,
Penandatanganan Perjanjian Kerjasama, B2P2TOOT Tahun 2019

Perjanjian Kerja Sama (KS) yang masih aktif, B2P2TOOT tahun
2019
Intitusi kandidat mitra yang menginisiasi kerja sama B2P2TOOT
tahun 2019
Waktu, Instansi dan Peserta Bimbingan Teknis Magang, B2P2TOOT
Tahun 2019

vi

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Tabel 3.17 Waktu, Instansi dan Peserta Bimbingan Pemanfaatan Tanaman
Tabel 3.18 Obat, B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 3.19 Waktu, Instansi dan Peserta Bimbingan Budidaya dan Pascapanen
Tanaman Obat, B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 3.20. Realisasi Anggaran Berdasarkan Indikator Kinerja Kegiatan
B2P2TOOT, Tahun 2019
Tabel 3.21.
Tabel 3.22. Realisasi Anggaran Berdasarkan Mata Anggaran Kegiatan
B2P2TOOT, Tahun 2019

Judul Artikel dan Author Pada Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia
Volume 12, B2P2TOOT tahun 2019
Analisis Efisiensi Sumber Daya B2P2TOOT Tahun 2019

vii

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Jumlah ASN Berdasarkan Jabatan B2P2TOOT, Tahun 2019 11
Gambar 1.2.
Jumlah Pegawain Berdasarkan Tingkat Pendidikan, B2P2TOOT 11
Gambar 1.3 Tahun 2019
Gambar 1.4.
Gambar 2.1. Gambar 1.3. Kebun Tanaman Obat B2P2TOOT Tahun 2019 13
Gambar 2.2.
Gambar 3.1. Struktur Organisasi B2P2TOOT Tahun 2019

Gambar 3.2. Perjanjian Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Gambar 3.3. Perjanjian Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Gambar 3.4.
Perbandingan Target dan Capaian Indikator Kinerja Sesuai
Gambar 3.5 Perjanjian Kinerja B2P2TOOT Tahun 2015-2019

Gambar 3.6 Tahapan Pelaksanaan Risfaskes, Korwil IV B2P2TOOT Tahun
2019
Gambar 3.7
Taman Gedung Ilmu Pengetahuan dan Teknologi B2P2TOOT 2019
Gambar 3.8
Jumlah Kunjungan Wisata Kesehatan Jamu, Berdasarkan Bulan
Gambar 3.9 dan Tingkat Pendidikan, B2P2TOOT, Tahun 2019
Gambar 3.10
Jumlah Kunjungan Pasien Berdasarkan Bulan B2P2TOOT Tahun
Gambar 3.11 2019
Gambar 3.12
Gambar 3.13 Jumlah Kunjungan Pasien Berdasarkan Domisili dan Bulan
B2P2TOOT Tahun 2019

Jumlah Kunjungan Pasien Berdasarkan 10 Penyakit Terbanyak
B2P2TOOT Tahun 2019

Jumlah Kunjungan Pasien Berdasarkan 10 Pemeriksaan Terbanyak
B2P2TOOT Tahun 2019

Aplikasi Monitoring dan Evaluasi B2P2TOOT Tahun 2019

Mekanisme Pendaftaran di Klinik Saintifikasi Jamu B2P2TOOT
Tahun 2019

Penghargaan IKPA dari KPPN Sragen

Penghargaan IKPA dari Kemenkes RI

Penghargaan e-aspirasi dari Kemenkes RI

viii

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

DAFTAR DIAGRAM / GRAFIK

Diagram 1.1. Jumlah ASN Berdasarkan Jabatan, B2P2TOOT Tahun 2019
Diagram 1.2.
Jumlah Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan, B2P2TOOT
Tahun 2019

ix

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

1. Akuntabilitas
Sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014

tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, setiap satuan kerja harus
membuat laporan kinerja. Laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap
pelaksanaan kegiatan kepemerintahan yang bersih, transparan dan akuntabel. Hal
senada juga disampaikan pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian
Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi
Pemerintah.

Dalam melaksanakan tugas, azas-azas good governance dalam tata kelola
kepemerintahan seperti azas transparan, akuntabel, efektif, efisien menjadi dasar dalam
pelaksanaan program. Salah satu azas yang tertuang dalam undang-undang Nomor 28
Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bebas Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme, adalah azas akuntabilitas, yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan
hasil akhir dari kegiatan penyelenggaraan negara harus dapat dipertanggungjawabkan
kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Undang-undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009, Pasal 47 menyebutkan
bahwa upaya Kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu,
menyeluruh dan berkesinambungan dan pelayanan kesehatan tradisional merupakan
bagian integral dari penyelenggaraan upaya kesehatan (Pasal 48). Obat Tradisional
atau yang popular disebut jamu, merupakan salah satu modalitas dalam upaya
kesehatan. Sumber obat tradisional yang sudah terbukti berkhasiat dan aman
digunakan dalam pencegahan, pengobatan, perawatan, dan atau pemeliharaan
kesehatan, tetap dijaga kelestariannya (Pasal 100).

Sebagai penjabaran dari Undang-undang Kesehatan terutama Pasal 53, yang
menyebutkan ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan jenis pelayanan

10

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Pemerintah, maka telah lahir Peraturan Pemerintah tentang Pelayanan Kesehatan
Tradisional. Pada pasal 66 menyebutkan bahwa Litbang (Pelayanan Kesehatan
Tradisional) dilakukan berbasis/tidak berbasis pelayanan, diarahkan untuk
meningkatkan keamanan, manfaat dan kualitas pelayanan, serta dilaksanakan tenaga
kesehatan, lembaga penelitian, lembaga pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan,
fasilitas pelayanan kesehatan tradisional

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional
sebagai bagian instansi pemerintah juga telah menyusun Laporan Kinerja. Selain untuk
memenuhi prinsip akuntabilitas, Laporan Kinerja tersebut juga merupakan amanat
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja
Instansi Pemerintah, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014
tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014
tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas
Laporan Kinerja Instansi Pemerintah serta Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
2416/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kinerja Dan
Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Kesehatan.

2. Sumber Daya Manusia

Pegawai yang dimiliki B2P2TOOT terdiri dari pegawai tetap (PNS) dan tenaga

kontrak. Pada Desember 2019, gambaran kondisi pegawai B2P2TOOT adalah sebagai

berikut:

Tabel 1.1. Komposisi Pegawai
Berdasarkan Jenis Kelamin dan Status Kepegawaian

B2P2TOOT Tahun 2019

Jenis Kelamin Jenis ASN (orang) Sub Total
PNS Pegawai Kontrak

Laki-laki 47 108 155

Perempuan 36 46 82

Total 83 154 237

Pegawai tetap sebanyak 83 orang, yang terbagi menjadi tenaga manajemen,
peneliti, dan Litkayasa.

11

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Jabatan Struktural ; 10
fungsional
umum ; 21

Peneliti ; 23

Litkayasa ; 17

Calon peneliti ;
12

Gambar 1.1. Jumlah ASN Berdasarkan Jabatan
B2P2TOOT, Tahun 2019

Pegawai kontrak sebanyak 154 orang, diadakan untuk mengakomodasi beban
pekerjaan yang belum dapat ditangani oleh tenaga PNS. Tenaga kontrak dipekerjakan
untuk membantu pengelolaan tugas dan fungsi organisasi yang terdistribusi di kebun
tanaman obat, laboratorium terpadu, laboratorium pasca panen, laboratorium
farmakologi dan toksikologi, laboratorium sediaan Jamu, Rumah Riset Jamu (RRJ), dan
bidang kesekretariatan (administrasi, satuan pengaman, pengemudi).

Berdasarkan pendidikan jumlah pegawai terlihat pada gambar berikut;

120 116

100 21 26 20

80 10 11 20
S3
60 D3 S1 S2
ASN Tenaga Kontrak
40
22

20
0

0
SLTA

Gambar 1.2. Jumlah Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan,
B2P2TOOT, Tahun 2019

12

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana diperlukan untuk pencapaikan kinerja yang baik sesuai

dengan target yang telah ditetapkan. Sarana prasarana yang dimiliki B2P2TOOT
berupa:
a) Instalasi Kebun Tanaman Obat

Kebun Tanaman Obat (KTO) dikelola untuk memfasilitasi aktifitas Litbang
standarisasi TO, standarisasi bahan jamu, observasi klinik, uji acak terkendali dan
kemandirian bahan baku.
KTO dikelola untuk menyediakan sarana, fasilitas, dan spesimen untuk pengukuran,
pemeriksaan, riset, pengembangan eksperimen, Iptek TO, dan pelayanan Iptek. KTO
dikelola sebagai kebun, juga pusat pembelajaran Iptek untuk akademisi, pemerintah,
dunia usaha, dan kelompok masyarakat. Instalasi KTO terdapat di beberapa tempat,
yaitu:
1) Etalase Tanaman Obat

Terletak Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, dengan ketinggian 1.200
mdpl dan luas 3.505 m2. Merupakan kebun koleksi dan wisata ilmiah TO, terdiri
dari 600 jenis tanaman, seperti ekinase, lidah buaya, trawas, kluwak, lerak,
ashitaba.
2) KTO Citeureup, 100-200 mdpl seluas 30.000 m2 Citeureup Bogor Jawa Barat,
tanaman yang dapat tumbuh baik adalah rumput mutiara. Iller, kumis kucing,
meniran, daun ungu, tempuyung, tapak liman dll
3) KTO Tegalgede, 185-200 mdpl seluas 3.300 m2 Karanganyar Karanganyar Jawa
Tengah, tanaman yang dapat tumbuh baik adalah daun ungu, meniran,
pegagan, tempuyung dll
4) KTO Doplang, 400-600 mdpl seluas 350 m2 di Matesih Karanganyar Jawa
Tengah, tanaman yang dapat tumbuh baik adalah tanaman yang berupa empon
empon (kunyit, temulawak, temu manga, temu putih, temu ireng, kunyit putih),
jati belanda, kumis kucing, sambiloto, daun ungu, rumput mutiara, keji beling,
sambung nyawa, pegagan dll
5) KTO Ngemplak, 400-600 mdpl seluas 3.127 m2 di Karangpandan Karanganyar
Jawa Tengah, tanaman yang dapat tumbuh baik adalah tanaman yang berupa
empon empon (kunyit, temulawak, temu manga, temu putih, temu ireng, kunyit

13

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

putih), jati belanda, kumis kucing, sambiloto, daun ungu, rumput mutiara, keji
beling, sambung nyawa, pegagan dll
6) KTO Toh Kuning, 400-600 mdpl seluas 7.972 m2 di Karangpandan Karanganyar
Jawa Tengah, tanaman yang dapat tumbuh baik adalah tanaman yang berupa
empon empon (kunyit, temulawak, temu manga, temu putih, temu ireng, kunyit
putih), jati belanda, kumis kucing, sambiloto, daun ungu, rumput mutiara, keji
beling, sambung nyawa, pegagan dll
7) KTO Kalisoro, 1.200 mdpl seluas 2.644 m2 (produksi) dan 3.505 m2 di
Tawangmangu Karanganyar Jawa Tengah, tanaman yang dapat tumbuh baik
adalah taraksakum, tempuyung, echinase, daun duduk, daun ungu dll
8) KTO Tlogodlingo, 1.694 – 1.800 mdpl seluas 135.995 m2 di Tawangmangu
Karanganyar Jawa Tengah, tanaman yang dapat tumbuh baik di KTO
Tloglodlingo adalah timi, stevia, teh, menta, krangean, adas, purwoceng,
sambang colok, kamilen dll

Gambar 1.3. Kebun Tanaman Obat
B2P2TOOT, Tahun 2019

b) Instalasi Rumah Hewan Coba
Rumah hewan coba dikelola sebagai pusat uji praklinik formula jamu yang
menyediakan sarana dan fasilitas untuk pengukuran, pemeriksaan, riset,
14

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

pengembangan eksperimen, iptek, pelayanan iptek dalam uji keamanan dan khasiat

formula jamu yang digunakan dalam kerangka Saintifikasi Jamu.

c) Instalasi Laboratorium Terpadu

Laboratorium Terpadu (Labdu) dikelola untuk memfasilitasi aktifitas iptek dalam

kerangka Saintifikasi Jamu. Labdu dikelola sebagai pusat laboratorium Saintifikasi

Jamu, juga pusat pembelajaran iptek untuk pihak akademisi/ilmuwan, pemerintah,

dunia usaha dan kelompok masyarakat dalam kerangka Saintifikasi Jamu. Labdu

terdiri dari:

1) Laboratorium Benih dan Pembibitan, digunakan untuk uji benih dan koleksi benih

2) Laboratorium Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman (HPT), digunakan

untuk uji biopstisida, identifikasi HPT, dan koleksi hama

3) Laboratorium Fitokimia, digunakan untuk skrining kandungan senyawa kimia,

standar mutu, kromatograpi lapis tipis ekstrak, dan minyak atsiri.

4) Laboratorium Instrumen, digunakan untuk uji kadar bahan aktif dan quality

control bahan Jamu

5) Laboratorium Formulasi, digunakan untuk formulasi bahan Jamu

6) Laboratorium Produksi, digunakan untuk produksi bahan jamu

7) Laboratorium Galenika, digunakan untuk uji kadar sari, koleksi minyak atsiri,

koleksi ekstrak, Optimalisasi metode ekstraksi (Inisiasi Pusat Ekstrak Daerah)

8) Laboratorium Sistematika, digunakan untuk determinasi TO dan koleksi

spesimen.

9) Laboratorium Mikrobiologi, digunakan untuk uji angka cemaran mikroba dan uji

aktivitas antibakteri

10) Laboratorium Biomelekuler, digunakan untuk uji khasiat dan uji keragaman

genetik

11) Laboratorium Kultur Jaringan, digunakan untuk perbanyakan TO dan produksi

metabolit sekunder

d) Laboratorium Pasca Panen

Laboratorium Pasca Panen dikelola sebagai laboratorium dan divisi simplisia

untuk memfasilitasi aktifitas iptek pasca panen TO dan simplisia bahan jamu. Terdiri

dari empat lantai dengan peruntukan sebagai berikut:

1) Lantai 1 digunakan untuk penerimaan hasil panen, pencucian, penirisan dan

perajangan

15

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

2) Lantai 2 digunakan untuk gudang siap edar, pembuatan kapsul serbuk, dan
penimbangan

3) Lantai 3 digunakan untuk pengeringan simplisia dengan oven dan gudang
penyimpanan simplisia kering

4) Lantai 4 digunakan untuk pengeringan simplisia melalui penjemuran dibawah
sinar matahari langsung.

e) Instalasi Sediaan Bahan Jamu
Instalasi Sediaan Bahan Jamu dikelola untuk memfasilitasi aktifitas iptek

sediaan Jamu. Instalasi dikelola untuk menyediakan sarana, fasilitas dan bahan
Jamu non simplisia.
f) Instalasi Produksi Jamu

Instalasi Produksi Jamu dikelola sebagai pusat pengembangan formula Jamu
Kemenkes untuk memfasilitasi aktivitas produksi. Instalasi menyediakan produk
Jamu dan hasil olahannya.
g) Instalasi Klinik Saintifikasi Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus

Saat ini RRJ mempunyai sarana dan prasarana fisik berupa 8 ruang periksa,
1 ruang laboratorium, 8 tempat tidur, 1 ruang ultrasonografi dan elektrokardiogram,
griya jamu, rekam medis. Selain itu ditunjang dengan mushola, kebun koleksi
tanaman obat, kantin, kebun sayuran organik, area foot stone therapy, taman dan
gazebo.
h) Instalasi Perpustakaan

Perpustakaan dikelola untuk memfasilitasi dukungan referensi dan
kepustakaan. Perpustakaan menyediakan sarana dan fasilitas terkait sumber data
dan informasi iptek.
i) Laboratorium Herbarium Tawangmanguensis

Laboratorium Herbarium berisi koleksi spesimen TO yang diawetkan,
merupakan satu-satunya laboratorium herbarium tanaman obat di Indonesia.
Peresmian gedung dilakukan oleh Menteri Kesehatan pada tanggal 18 Desember
2018.
j) Museum Jamu

Museum Jamu “Hortus Medicus” dibangun dengan tujuan untuk selalu mengingat
asal usul jamu dari kearifan lokal kekayaan nenek moyang Indonesia. Museum jamu
menyajikan koleksi alat-alat jamu kuno, peta persebaran jamu di nusantara, naskah

16

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

kuno yang memuat ramuan jamu, koleksi jamu dari dalam maupun luar negeri,
dokumentasi ramuan hingga perkembangan B2P2TOOT dari masa ke masa. Total
koleksi yang dimiliki, meliputi:

1) Ruang depan, berisi 44 koleksi terdapat peta jamu, alat untuk membuat jamu,
dan alur saintifikasi jamu

2) Ruang bahan jamu, berisi 34 koleksi yang berasal dari kayu pohon seperti
kayu manis, kayu tabat barito, dll

3) Ruang produk jamu, berisi 215 koleksi produk jamu seluruh Indonesia
4) Ruang naskah kuno, berisi 40 koleksi berisi ramuan jamu dalam bentuk

tulisan jawa seeprti Serta Centini, Ramuan Jawa, naskah kuno
5) Ruang prestasi, berisi 124 koleksi terdiri dari foto sejarah B2P2TOOT dari

awal didirikan RM Santoso sampai sekarang.
k) Sinema Fitomedika

Sinema Fitomedika merupakan prasarana edukasi dan penyebaran informasi
mengenai profil B2P2TOOT dan materi Iptek Tanaman Obat dan Jamu dalam Wisata
Kesehatan Jamu, pembinaan petani, pembekalan akademisi dalam Praktek Kerja
Lapangan (PKL).
l) Rumah Kaca

Rumah Kaca difungsikan untuk pembibitan, adaptasi dan pelestarian tanaman.
Terdapat dua tempat rumah kaca, yakni;

1) Satu unit berlokasi di Stasiun Research Tlogodlingo (1.800 mdpl)
2) Dua unit berlokasi di KTO Kalisoro (1.200 mdpl)
m) Gedung Perkantoran

Beberapa gedung perkantoran difokuskan untuk kegiatan managemen.
Rincian gedung kantor;

1) Satu unit kantor sekretariat, terdiri dari 3 lantai untuk ruang Kepala, Bagian Tata
Usaha, Bidang Program Kerjasama dan Jaringan Informasi, serta Bidang
Pelayanan dan Sarana Penelitian

2) Satu unit gedung serbaguna “R.M. Santoso Soerjokoesoemo”
3) Satu unit rumah negara golongan I untuk Rumah Dinas Kepala
4) Satu unit gedung Ilmu Pengetahuan Tanaman Obat dan Obat Tradisional

berkapasitas 28 kamar, 3 ruang rapat

17

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

n) Peralatan Laboratorium Utama
Peralatan laboratorium digunakan untuk menegakan diagnose, mengukur

sampel dll. Alat laboratorium utama meliputi:
1) Data logged Comet D3120 USA 15910275
2) Moisture Analyzer AND MF-50/PI038107
3) Versatile Environment Test Chamber Sanyo MLR 350 serial No. 41217320
4) Laminair Air Flow (LAF) Biosafe Heraeus
5) Autoclave Hirayama HVE-50
6) Hotplate Stirer Simple Corning PC-420 D
7) Mikroskop Olympus CX22LED
8) Rotavapor R-114 + Vacum Pump MZ-2C
9) Hot plate single C-MAG-HS.7 IKA
10) Automatic Pipette Thermo Scientific 60 ml K0232
11) Oven Memmert UF 55 Plus
12) Thermo Fisher Scientific Introduces Pipet Filter / 144436
13) Centrifuge Thermo Scientific –Heaeus
14) Ultrasonikator Elma S 40 H
15) HPLC Waters 2695
16) Spectrofotometer UV Vis Optima
17) Friabilator Charles Ischi AG Pharma
18) Climate chambers Binder KMF series 115
19) Mesin Tablet Delta S1
20) Mikroskop Cahaya Nikon SMZ 645
21) Incubator ESCO – Isocide
22) Colony counter Funke Gerber- 8502.4915
23) Automatic Colony Counter Interscience Scan®1200
24) Blotting apparatus Biorad Trans Blot 49BR 35893
25) ECG Contec / ECG 300 GT
26) Tempat tidur pasien
27) Stethoscope ERKA-Germany
28) Hematologi Analyzer Nihon Kohden MEK-6410K
29) High Shear Granulator

18

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

30) Steam Boiler
31) Tangki Pelarut 1000 L
32) Mesin Pengisi Kapsul Semi Otomatis
o) Kendaraan Operasional

Kendaraan operasional yang dimiliki berupa kendaraan untuk pimpinan,
operasional perkantoran, jemputan, operasional kebun. Berikut kendaraan
dimaksud:

1) Satu bus operasional antar jemput pegawai
2) Dua unit mobil operasional bak terbuka Suzuki Carry untuk Kebun Tanaman

Obat (KTO) dan pasca panen
3) Satu unit mobil box operasional Mitsubishi L-300 untuk pameran
4) Satu unit mobil sedan operasional Honda City untuk dinas Kepala
5) Satu unit mobil minibus operasional Toyota Inova untuk aktifitas perkantoran
6) Satu unit mobil minibus operasional Nissan Livina untuk aktifitas perkantoran
7) Satu unit mobil minibus operasional Mitsubishi L-300 untuk aktifitas

perkantoran
8) Satu mobil minibus operasional Mitsubishi Expander dari sewa untuk aktifitas

perkantoran
9) Empat unit sepeda motor roda dua (2) operasional untuk perkantoran, KTO,

dan pasca panen
10) Dua unit sepeda motor roda tiga (3) operasional untuk KTO dan pasca panen

B. Tujuan

Penyusunan LKj B2P2TOOT Tahun 2019 mempunyai tujuan untuk:

1. Memenuhi amanat Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem

Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah,

2. Memenuhi amanat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 2416/Menkes/Per/XII/2011

tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kinerja Dan Pelaporan Akuntabilitas

Kinerja Kementerian Kesehatan.

3. Memenuhi Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi

Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan

Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah,

4. Memberikan pertanggungjawaban dalam melaksanakan tugas dan fungsi

19

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

5. Akuntabilitas dan transparansi kinerja,
6. Dasar perbaikan berkesinambungan untuk peningkatan kinerja,
7. Sarana untuk mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan.
C. Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi

Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2017
Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan, struktur organisasi B2P2TOOT sebagai berikut :

Gambar. 1.4 Struktur Organisasi B2P2TOOT Tahun 2019
B2P2TOOT mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang
tanaman obat dan obat tradisional. Dalam melaksanakan tugas tersebut, B2P2TOOT
menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan rencana, program, dan angaran kegiatan B2P2TOOT;
b. pelaksanaan penelitian dan kajian di bidang tanaman obat dan obat tradisional;
c. pelaksanaan pengembangan metoda, model, dan teknologi di bidang tanaman obat

dan obat tradisional;
d. pelaksanaan penelitian dan pengembangan berbasis pelayanan di bidang tanaman

obat dan obat tradisional;

20

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

e. pengelolaan sarana penelitian dan pengembangan di bidang tanaman obat dan obat
tradisional;

f. pelaksanaan diseminasi, publikasi, dan advokasi hasil-hasil penelitian dan
pengembangan di bidang tanaman obat dan obat tradisional;

g. pelaksanaan kerja sama dan jaringan informasi penelitian dan pengembangan di
bidang tanaman obat dan obat tradisional;

h. pelaksanaan bimbingan teknis penelitian dan pengembangan di bidang tanaman obat
dan obat tradisional;

i. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan; dan
j. pelaksanaan ketatausahaan Balai Besar.

D. Mandat dan Peran Strategis
Mandat dan peran strategis yang diampu B2P2TOOT meliputi kemandirian bahan

baku obat, riset tumbuhan obat dan jamu, saintifikasi jamu, percepatan perolehan
fitofarmaka dan pengembangan hasil penelitian kearah produk yang bisa diproduksi
massal dan digunakan oleh masyarakat.

Kemandirian bahan baku obat, selama ini alokasi biaya Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) sebagian besar dibelanjakan untuk pembelian obat, dimana 90% bahan
baku obat diperoleh dari import, sehingga biaya untuk JKN lebih banyak untuk dibelanjakan
ke luar negeri. Disisi lain, Indonesia mempunyai kekayaan hayati (biodiversitas) terbesar
nomor 2 didunia. Potensi ini belum termanfaatkan, sehingga perlu dilakukan penelitian
tanaman obat untuk mencari tanaman obat sebagai bahan baku obat.

Untuk menilai kekayaan hayati (biodiversitas) telah dilakukan Riset Tumbuhan Obat
dan Jamu (Ristoja). Ristoja dimaksudkan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai
data tumbuhan obat dan ramuan tradisional yang digunakan setiap suku di Indonesia. Hasil
Ristoja akan ditindaklanjuti dengan kegiatan saintifikasi jamu. Sesuai dengan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor; 003 Tahun 2010 tentang Saintikasi Jamu dalam Penelitian
Berbasis Pelayanan, saintifikasi jamu bertujuan salah satunya untuk memberikan landasan
ilmiah (evidence based) penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis
pelayanan.

Selain jamu dan obat herbal terstandar, arah pemerintah berupa diperolehnya
fitofarmaka dan pengembangan produk hasil penelitian. Produk ini kemudian dapat
dilakukan produksi secara massal dan mempunyai nilai jual.

21

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

E. Sistematika Pelaporan
Kata Pengantar
Ringkasan Eksekutif
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Grafik
Daftar Lampiran

BAB I
PENDAHULUAN, memuat tentang; 1) Latar belakang, 2) Tujuan, 3) Tugas, fungsi dan struktur
organisasi, 4) Mandat dan peran strategis, 5) Sistematika pelaporan.
BAB II
PERENCANAAN KINERJA, memuat tentang; 1) Rencana strategis, 2) Rencana kerja,
rencana kerja dan anggaran, dan perjanjian kinerja, 3) Evaluasi Internal berupa evaluasi
Rencana Strategi dan Evaluasi Mandiri atas Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja
Instansi Permerintah, 4) Pengukuran Kinerja
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA, memuat tentang; 1) Realisasi kinerja organisasi, 2) Realisasi
anggaran, 3) Kinerja lainnya, 4) Inovasi/Terobosan, 5) Penghargaan, 6) Analisis Efisiensi
Sumber Daya, dan 7) Analisis kegiatan
BAB IV
PENUTUP, memuat tentang; 1) Simpulan umum dan capaian organisasi, dan 2) Langkah
perbaikan di masa mendatang

22

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

BAB II PERENCANAAN KINERJA

A. Rencana Strategis
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan merupakan tingkatan tertinggi di

Kementerian Kesehatan yang menjadi acuan pelaksanaan program dan kegiatan. Pada
tingkatan Eselon I sebagai jabaran dari Rencana Strategis disusun Rencana Aksi Program,
sedangkan pada tataran Eselon II disusun Rencana Aksi Kegiatan. Sesuai Rencana
Strategi Kemenkes indikator kegiatan TOOT seperti tertuang dalam tabulasi dibawah ini:

Tabel. 2.1. Target Indikator Kinerja B2P2TOOT Sesuai Rencana Strategi
Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019

Sasaran Indikator 2015 Target
2 2016 2017 2018 2019
Meningkatnya Jumlah rekomendasi kebijakan
penelitian dan yang dihasilkan dari penelitian 24 4 6 8 10
pengembangan di dan pengembangan di bidang
bidang tanaman Tanaman Obat Dan Obat 48 72 96 120
obat dan obat Tradisional
tradisional
Jumlah publikasi karya tulis
ilmiah di bidang tanaman obat
dan obat tradisional yang dimuat
di media cetak dan atau
elektronik nasional dan
internasional

Dalam dokumen Renstra, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan mempunyai
indikator berupa Riset Kesehatan Nasional. Untuk pelaksanaannya dilakukan oleh satuan
kerja yang ada dijajaran Badan Litbangkes. Oleh karenanya, B2P2TOOT selain
melaksanakan penelitian dan pengembangan bidang tanaman obat dan obat tradisional, juga
melaksanakan Riset Kesehatan Nasional. Strategi yang disusun untuk mencapai indikator
tersebut dan melaksanakan Riset Kesehatan Nasional, meliputi:

a. Menyusun rekomendasi kebijakan
b. Melaksanakan penelitian dan pengembangan
c. Melaksanakan publikasi karya tulis ilmiah
d. Melaksanakan riset kesehatan nasional

23

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

e. Melaksanakan layanan internal
f. Melaksanakan layanan perkantoran

B. Rencana Kerja

1. Rencana Kerja
Mengacu pada Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019

dan Rencana Kinerja Pemerintah (RKP) Tahun 2019, perencanaan kinerja tahunan
dituangkan pada dokumen Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L) Tahun
2019. Dalam dokumen tersebut tertuang Indikator Kinerja Kegiatan yang memuat
target yang harus dicapai dan anggaran yang dialokasikan. Target dan anggaran
tersebut tertuang pada tabulasi di bawah ini;

Tabel 2.2 Target Indikator Kinerja dan Anggaran Sesuai Rencana Kinerja
B2P2TOOT Tahun 2019

No Output Target Biaya

1 Rekomendasi Kebijakan yang dihasilkan 2 Rp. 511.635.000,00
dari penelitian dan pengembangan di
Bidang Tanaman Obat Dan Obat 9 Rp. 3.083.533.000,00
Tradisional 8 Rp. 2.949.100.000,00
7 Rp. 16.852.404.000,00
2 Publikasi informasi di bidang tanaman
obat dan obat tradisonal

3 Hasil Penelitian dan pengembangan di
bidang tanaman obat dan obat tradisional

4 Laporan Riset Kesehatan Nasional
(Riskesnas) Wilayah IV

5 Layanan sarana dan prasarana 1 Rp. 2.432.470.000,00

6 Layanan dukungan managemen Satker 1 Rp. 9.048.411.000,00

7 Layanan perkantoran 1 Rp. 17.303.591.000,00
Total Pagu Rp. 52.181.144.000,00

2. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga
Rencana Kerja Kementerian Lembaga yang sudah tersusun, selanjutnya

ditindaklanjuti dengan penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Lembaga. Besaran target dan alokasi anggaran pada setiap indikator kegiatan terlihat
dalam tabulasi dibawah ini:

24

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Tabel 2.3 Target Indikator Kinerja dan Anggaran Sesuai Rencana Kerja dan
Anggaran Kementerian Lembaga B2P2TOOT Tahun 2019

No Output Target Pagu

1 Rekomendasi Kebijakan yang dihasilkan dari penelitian 2 Rp. 511.635.000,00
dan pengembangan di Bidang Tanaman Obat Dan Obat
Tradisional

2 Publikasi informasi di bidang tanaman obat dan obat 9 Rp. 3.083.533.000,00
tradisonal
8 Rp. 2.949.100.000,00
3 Hasil Penelitian dan pengembangan di bidang tanaman
obat dan obat tradisional 7 Rp. 16.852.404.000,00

4 Laporan Riset Kesehatan Nasional (Riskesnas) Wilayah 1 Rp. 2.432.470.000,00
IV 1 Rp. 9.048.411.000,00
1 Rp. 17.303.591.000,00
5 Layanan sarana dan prasarana

6 Layanan dukungan managemen Satker

7 Layanan perkantoran

Total Pagu Rp. 52.181.144.000,00

Anggaran B2P2TOOT sebesar Rp. 52.181.144.000,00 (lima puluh dua milyar seratus
delapan puluh satu juta seratus empat puluh empat ribu rupiah) terdiri dari Rupiah
Murni sebesar Rp. 50.089.319.000,00 (lima puluh milyar delapan puluh Sembilan juta
tiga ratus sembilan belas ribu rupiah) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar
Rp. 2.091.825.000 (dua milyar sembilan puluh satu ribu delapan ratus dua puluh lima
ribu rupiah).

Berdasarkan belanja terlihat pada tabulasi di bawah:

Tabel 2.4. Alokasi Anggaran Berdasarkan Jenis Belanja

B2P2TOOT, Tahun 2019

No Jenis belanja Alokasi

1 Belanja pegawai Rp. 6.126.779.000,00

2 Belanja barang Rp. 43.366.820.000,00

3 Belanja modal Rp. 2.687.545.000,00

Jumlah Rp. 52.181.144.000,00

3. Perjanjian Kinerja
Mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan

Reformasi Birokrasi RI Nomor 53 Tahun 2014 telah dilakukanlah perjanjian kinerja
oleh Kepala Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional kepada Kepala
Badan Litbangkes. Perjanjian kinerja tersebut dilakukan dalam rangka mewujudkan
manajemen pemerintahan yang efektif, transparan, akuntabel serta berorientasi hasil.

25

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Perjanjian kinerja yang ditandatangani 18 Desember 2018 memuat 4 indikator
kinerja kegiatan meliputi :
a. 2 rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari penelitian dan pengembangan di

bidang tanaman obat dan obat tradisional;
b. 24 publikasi karya tulis ilmiah di bidang tanaman obat dan obat tradisional yang

dimuat di media cetak dan atau elektronik nasional dan internasional;
c. 9 hasil penelitian dan pengembangan di bidang tanaman obat dan obat tradisional;

dan
d. 1 laporan status kesehatan masyarakat hasil Riset Kesehatan Nasional Wilayah

IV
Biaya yang teralokasikan sebesar Rp. 52.181.144.000,00 (lima puluh dua milyar
seratus delapan puluh satu juta seratus empat puluh empat ribu rupiah)

26

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Gambar 2.1. Perjanjian Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

27

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Gambar 2.2. Perjanjian Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

28

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Setelah perjanjian kinerja tersebut, selanjutnya dilakukan perjanjian kinerja antara Eselon
II dengan Eselon III, dan antara Eselon III dengan Eselon IV.

C. Evaluasi Internal

1. Evaluasi Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
Evaluasi Renstra dilakukan dengan pengusulan terhadap target indikator kinerja

kegiatan. Pembahasan revisi Renstra dilakukan pada pertemuan di Badan Litbangkes
pada tanggal 16 Januari 2017. Usulan ke Kepala Pusat Analisis Determinan Kesehatan
disampaikan melalui surat Sekretaris Badan Litbangkes Nomor; PR.01.01/I/406/2017
tanggal 17 Januari 2017 tentang Penyampaian Revisi Renstra Badan Litbangkes 2015-
2019.
2. Evaluasi Rencana Aksi Kegiatan B2P2TOOT

Seiring dengan Renstra Kemenkes yang diusulkan revisi, maka dilakukan revisi
terhadap Rencana Aksi Kegiatan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tananam
Obat dan Obat Tradisional Tahun 2015-2019. Penekanan evaluasi terkait dengan
target-target yang telah direvisi.
3. Evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)

Evaluasi terhadap Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)
dilakukan dengan:
a. Mengusulkan revisi Rentra Kemenkes Tahun 2014-2019
b. Melakukan revisi Rencana Aksi Kegiatan B2P2TOOT Tahun 2014-2019
c. Menindaklanjuti hasil Evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

Tahun 2018 yang dilaksanakan tanggal Senin-Jumat tanggal 22-26 April 2019 dan
tertuang dalam Catatan Hasil Evaluasi SAKIP 2018. Pada evaluasi tersebut predikat
diperoleh AA (sangat baik) dengan nilai 94,46 namun masih ada beberapa catatan,
seperti:
1) Belum seluruh indikator Renstra bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan,

pada kriteria ukuran keberhasilan tujuan (outcome)/hasil program telah
memenuhi kriteria ukuran keberhasilan yang baik. Perbaikan dilakukan dengan
mencermati lagi definisi operasional yang telah ditetapkan. Hasil pembahasan
bahwa indikator tersebut sudah memenuhi kriteria SMART (specific_tidak
dwimakna, measureable_dapat diukur, achievable_dapat dicapai,

29

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

relevance_terkait langsung dengan yang akan diukur, timebound-ada ukuran
waktu).
2) Belum seluruh indikator Renstra bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan,
pada indikator kinerja sasaran (outcome dan output) telah memenuhi kriteria
ukuran keberhasilan yang baik. Perbaikan dilakukan dengan mencermati lagi
definisi operasional yang telah ditetapkan. Setelah dibahas indikator tersebut
sudah memenuhi kriteria SMART (specific_tidak dwimakna,
measureable_dapat diukur, achievable_dapat dicapai, relevance_terkait
langsung dengan yang akan diukur, timebound-ada ukuran waktu).
3) Belum seluruh indikator Renstra bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan
pada kriteria target kinerja ditetapkan dengan baik. Perbaikan dilakukan
dengan membahas bahwa target kinerja sudah menggambarkan suatu
tingkatan tertentu yang seharusnya dicapai, selaras dengan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan, juga mengacu pada indikator yang SMART, serta
berdasarkan basis data yang memadai dan argumentasi yang jelas.
4) Belum seluruh indikator Perencanaan Kinerja Tahunan bisa digunakan untuk
mengukur keberhasilan, pada indikator kinerja sasaran dan hasil program
(outcome) telah memenuhi kriteria ukuran keberhasilan yang baik. Perbaikan
dilakukan dengan mencermati lagi definisi operasional yang telah ditetapkan.
Setelah dibahas indikator tersebut sudah memenuhi kriteria SMART (specific_-
tidak dwimakna, measureable_dapat diukur, achievable_dapat dicapai,
relevance_terkait langsung dengan yang akan diukur, timebound-ada ukuran
waktu).
5) Belum seluruh indikator Perencanaan Kinerja Tahunan bisa digunakan untuk
mengukur keberhasilan pada indikator kriteria target kinerja ditetapkan dengan
baik. Perbaikan dilakukan dengan membahas bahwa target kinerja sudah
menggambarkan suatu tingkatan tertentu yang seharusnya dicapai, selaras
dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan Rencana
Strategis Kementerian Kesehatan, juga mengacu ke indikator yang SMART,
serta berdasarkan basis data yang memadai dan argumentasi yang jelas.
6) Belum seluruh indikator bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan pada
indikator Indikator Kinerja Utama telah memenuhi kriteria indikator yang baik.

30

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Perbaikan dilakukan dengan mencermati lagi definisi operasional dan
menuangkan dalam rencana kinerja. Indikator tersebut sudah menggambarkan
mandat yang diemban oleh B2P2TOOT sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2017 Tentang Organisasi dan
Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, relevan, dapat diukur. Indikator relevan dengan
kinerja yang akan dicapai, mewakili pelaksanaan tupoksi, dan mencerminkan
yang kinerja. Sedangkan dapat diukur bahwa indikator tersebut jelas
ukurannya, formulasi perhitungannya dapat diidentifikasi, dan cara
menghitungpun tertuang dalam definisi operasional.
7) Belum seluruh indikator bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan pada
indikator IKU telah cukup untuk mengukur kinerja. Perbaikan dilakukan
mencermati definisi operasional indikator tersebut. Hasil diskusi bahwa
indikator tersebut merupakan representasi kinerja, ukuran keberhasilan
memadai. Selain itu indikator juga; selaras dengan tugas pokok fungsi,
menggambarkan kekhasan dengan unit organisasi lain, menjawab isu
strategis, bisa membantu memecahkan masalah didaerah, kearifkan local
berupa jamu, dan berdasarkan prinsip-prinsip terbaik.
8) Belum seluruh indikator bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan pada
indikator ukuran (indikator) kinerja Eselon III dan IV telah memenuhi kriteria
yang baik. Perbaikan dengan menetapkan indikator kinerja Eselon III dan IV.
Indikator tersebut sudah mencerminkan relevansi dan dapat diukur. Relevan
mengambarkan kinerja ditingkatannya, terkait kinerja, merupakan representasi
kinerja yang akan diwujudkan, juga merupakan cerminan dari indikator yang
tertuang dalam perjanjian kinerja antara Kepala B2P2TOOT dengan Kepala
Badan Litbangkes. Sedangkan dapat diukur bahwa indikator tersebut jelas
ukurannya, formulasi perhitungannya dapat diidentifikasi, dan cara
menghitungpun tertuang dalam definisi operasional.
9) Belum ada reward dan punishment berdasarkan hasil pengukuran (capaian)
kinerja mulai dari setingkat Eselon IV keatas telah dikaitkan dengan
(dimanfaatkan sebagai data dasar pemberian reward dan punishment).
Capaian kinerja dari tahun 2018 dan 2019 telah disampaikan untuk pemberian
reward dan punishment, semisal penilaian pada Sasaran Kinerja Pegawai

31

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

(SKP) Tahun 2018, beberapa kegiatan terutama publikasi yang tidak tercapai
akan dijadikan target pada penulisan tahun berikutnya. Publikasi yang tidak
tercapai 2018 akan menjadi kumulatif pada tahun 2019. Kepala Seksi
Kerjasama dan Jaringan Informasi, Bidang Program Kerjasama dan Jaringan
Informasi, difokuskan pada kegiatan publikasi 2019, dan dibuktikan dengan
capaian publikasi > 100%. Untuk reward, capaian > 100% contoh rekomendasi
kebijakan diberikan dalam bentuk Eselon IV dan III bersama tim penyusun yang
mengawal rekomendasi kebijakan diberikan kesempatan untuk advokasi hasil
ke pemangku kepentingan. Advokasi bajakah ke Pemerintah Daerah
Kalimantan Tengah. Reward peneliti yang publikasinya terbanyak tahun 2018
diberikan sertifikat dan piagam serta goody bag (yang berisikan hard disk),
yang diserahkan pada Rapat Kerja B2P2TOOT tanggal 19-22 Maret 2019.
10) Publikasi dilakukan secara terbatas dalam e performance dan e_puldatwas
pada indikator laporan kinerja telah dipublikasikan. Perbaikan telah dilakukan
dengan mempublikasikan kinerja pada web: b2p2toot.litbang.kemkes.go.id,
: b2p2toot_kemenkes, facebook:https://www.facebook.com/SaintifikasiJamu/
Publikasi kinerja yang lain dengan aplikasi yang dikembangkan oleh
Kementerian Kesehatan melalui; http://e-performance.kemkes.go.id, dan oleh
Kementerian Keuangan: http://monev.anggaran.depkeu.go.id, serta Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional http://e-monev.bappenas.go.id
11) Belum semua data realisasi tahun ini dibandingkan dengan target jangka
menengah pada indikator laporan kinerja menyajikan data kinerja yang
memadai antara realisasi tahun ini dengan realisasi tahun sebelumnya dan
pembandingan lain yang diperlukan. Perbaikan pada laporan kinerja tahun
2019 ini sudah membandingkan realisasi dengan target, realisasi tahun 2019
dengan tahun 2018, realisasi 2014-2019 dibandingkan dengan target 2014-
2019, realisasi dibandingkan dengan satuan kerja lain yang setara.
12) Belum seluruh rekomendasi ada persetujuan untuk dilaksanakan pada
indikator evaluasi program telah memberikan rekomendasi-rekomendasi
perbaikan perencanaan kinerja yang dapat dilaksanakan. Perbaikan berupa
perubahan target dan alokasi anggaran. Pada output publikasi yang semula
tahun 2018 alokasi anggaran sebesar Rp. 317.995.000,00 dengan target 9
direkomendasikan untuk dinaikkan target dan alokasinya pada tahun 2019

32

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

sebesar Rp. 3.083.533.000,00 target 24 publikasi. Rekomendasi yang menjadi
catatan pada evaluasi Sakip 2018 sudah diperbaiki pada laporan kinerja ini
mapun dokumen lain terkait.
13) Belum seluruh rekomendasi ada persetujuan untuk dilaksanakan pada
indikator evaluasi program telah memberikan rekomendasi-rekomendasi
peningkatan kinerja yang dapat dilaksanakan. Perbaikan berupa pengawalan
jurnal Tanaman Obat Indonesia agar tetap terjaga akreditasinya. Selain itu
meningkatkan kegiatan untuk publikasi terbukti dengan capaian 2019 yang
lebih tinggi dari 2018.
14) Pemantauan Rencana Aksi dilakukan secara triwulanan. Perbaikan dilakukan
dengan melakukan evaluasi rencana aksi secara bulanan melalui pertemuan
rutin struktural setiap bulan terkait capaian target yang tertuang dalam rencana
aksi, yang kemudian dijadikan dasar dalam pengisian monev bappenas, monev
anggaran dam e performance Kementerian Kesehatan.
15) Belum seluruh evaluasi ada bukti dokumentasi langkah nyata pada indikator
hasil evaluasi Rencana Aksi telah ditindaklanjuti dalam bentuk langkah-langkah
nyata. Perbaikan sudah dilakukan langkah-langkah nyata sebagai tindak lanjut
dari rekomendasi yang disarankan.
16) Baru ada Surat Keputusan tentang Unit Pengendali Gratifikasi (UPG) terkait
indikator kinerja manajemen internal. Perbaikan dengan menerbitkan SK dan
Tim UPG serta melaksanakan kegiatan seperti melaporkan setiap kegiatan
yang bernuansa gratifikasi. Penerbitan Tim Pengendali Intern atas Pelaporan
Keuangan.

D. Pengukuran Kinerja

1. Pengukuran Kinerja Bulanan
Pengukuran kinerja bulanan dilakukan melalui rapat struktrual untuk melihat

capaian kegiatan disesuaikan dengan target dan realisasi anggaran. Hasil pengukuran
kinerja bulanan dimuat dalam monitoring dan evaluasi anggaran, Kementerian
Keuangan. Aplikasi monitoring evaluasi tersebut terlihat pada laman
http://monev.anggaran.kemenkeu.go.id/smart. Hasil capaian masing-masing kegiatan
disampaikan kepada penanggungjawab kegiatan.

33

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

2. Pengukuran Kinerja Triwulanan

Hal yang sama dengan bulanan, pengukuran kinerja triwulanan dilakukan dengan
melihat capaian kegiatan baik penelitian maupun kegiatan rutin disesuaikan dengan
realisasi anggaran. Hasil pengukuran kinerja triwulanan dimuat dalam monitoring dan
evaluasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, melalui aplikasi http://e-
monev.bappenas.go.id/ dan http://monev.anggaran.kemenkeu.go.id/smart serta
http://e-performance.kemkes.go.id Hasil capaian masing-masing kegiatan disampaikan
kepada penanggungjawab kegiatan.

3. Pengukuran Kinerja Tahunan
Pengukuran kinerja tahunan dilakukan melalui mekanisme laporan akuntabilitas

kinerja instansi pemerintah, dalam bentuk Laporan Kinerja. Pengukuran kinerja
mengacu pada Keputusan Menteri Keuangan Nomor 249/PMK.02/2011 tentang
Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Atas Pelaksanaan Anggaran Rencana Kerja dan
Anggaran Kementerian. Berdasarkan Permenkeu tersebut, untuk mengukur
keberhasilan kinerja berdasarkan ketentuan;

Tabel 2.5 Ketentuan Pengukuran Kinerja,

B2P2TOOT Tahun 2019

No Kriteria Rata-rata Persentase Warna
Capaian

1 Sangat Baik > 90,00 Hijau

2 Baik > 80,00 – 90 Hijau

3 Cukup atau Normal > 60,00 – 80,00 Kuning

4 Kurang > 50,00 – 60,00 Merah

5 Sangat Kurang < 50,00 Merah

34

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

A. Realisasi Kinerja Organisasi

Pada Tahun 2019 B2P2TOOT dapat mewujudkan sasaran strategis berupa

meningkatnya Penelitian dan Pengembangan di Bidang Tanaman Obat dan Obat

Tradisional. Keberhasilan tersebut diukur melalui capaian kinerja yang tercantum dalam

dokumen perjanjian kinerja dan indikator kinerja kegiatan (IKK). Capaian kinerja tertuang

dalam tabulasi sebagai berikut;

Tabel 3.1. Target dan Capaian Indikator Kinerja Sesuai

Renstra Kemenkes Tahun 2015-2019

B2P2TOOT Tahun 2019

No Indikator Target Capaian Kinerja
150
1 Jumlah rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari
125
penelitian dan pengembangan di bidang tanaman obat 2 3

dan obat tradisional

2 Jumlah publikasi karya tulis ilmiah di bidang tanaman

obat dan obat tradisional yang dimuat di media cetak dan 24 30

atau elektronik nasional dan internasional

Sedangkan capaian kinerja sesuai dengan yang tertuang dalam Perjanjian Kinerja,

tertuang dalam tabulasi sebagai berikut:

Tabel 3.2. Target dan Capaian Indikator Kinerja Sesuai

Perjanjian Kerja B2P2TOOT Tahun 2019

No Indikator Kinerja Kegiatan Target Capaian Kinerja (%)
150
1 Jumlah rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari
125
penelitian dan pengembangan di bidang tanaman obat 2 3 100
100
dan obat tradisional

2 Jumlah publikasi karya tulis ilmiah di bidang tanaman

obat dan obat tradisional yang dimuat di media cetak dan 24 30

atau elektronik nasional dan internasional

3 Jumlah hasil penelitian dan pengembangan di bidang 9 9
tanaman obat dan obat tradisional

4 Jumlah laporan status kesehatan masyarakat hasil Riset 1 1
Kesehatan Nasional Wilayah IV

Target dan capaian selama 5 tahun terakhir tertuang dalam gambar di bawah ini:

35

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

30,0

25,0 Target
Capaian

20,0

15,0

10,0

5,0

0,0 2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019

Rekomendasi Kebijakan Publikasi Hasil Litbang Laporan Status
Kesehatan

Target 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 24,0 24,0 9,0 9,0 24,0 5,0 20,0 15,0 8,0 9,0 0,0 2,0 1,0 7,0 1,0

Capaian 2,0 3,0 6,0 3,0 3,0 2,0 7,0 12,0 20,0 30,0 5,0 20,0 15,0 8,0 9,0 0,0 2,0 1,0 7,0 1,0

Gambar 3.1. Perbandingan Target dan Capaian Indikator Kinerja Sesuai

Perjanjian Kinerja B2P2TOOT Tahun 2015 – 2019

Dari keempat indikator, selama 5 tahun periodisasi Renstra Kemenkes, sesuai
perjanjian kinerja capaian ≥ 100%, hanya pada indikator publikasi yang realisasinya
belum mencapai 100%, kecuali 2019 yang capaian publikasi > 100%. Capaian
publikasi mulai meningkat setelah terakreditasinya Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia,
sesuai Keputusan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek Dikti
Nomor: 21/E/KPT/2018 tanggal 9 Juli 2018, ditetapkan sebagai Jurnal Ilmiah
Terakreditasi Peringkat 3. Akreditasi ini berlaku selama 5 tahun yaitu Volume 9 No 1
2016 sampai Volume 13 Nomor 2 Tahun 2020.

Jabaran dari capaian masing-masing indikator tertuang dalam penjelasan dibawah ini.
1. Rekomendasi Kebijakan

Capaian sebesar 3 judul dari target 3 rekomendasi kebijakan. Ketiga judul
tersebut meliputi:

36

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Tabel 3.3. Judul Rekomendasi Kebijakan

B2P2TOOT Tahun 2019

No Judul Rekomendasi Kebijakan Nama Peneliti

1 Percepatan Pelaksanaan Asuhan Mandiri Fanie Indrian Mustofa, Yuli Widiyastuti,

TOGA di Jawa Tengah MBS Adi, Enggar Wijayanti

2 Pentingnya Menjaga Ketersediaan Bahan Wahyu Jokopriyambodo, Anshary

Baku Jamu untuk Pelayanan Kesehatan Maruzy, Rohmat Mujahid, Dyah subositi

Tradisional di Jawa Tengah

3 Bajakah: Sebuah Awal untuk Harapan Obat Rohmat Mujahid, Tri Widayat, Anshary

Antikanker Maruzy, Sari Haryanti, Mery Budiarti S.

Target rekomendasi kebijakan di B2P2TOOT tercapai sebanyak 150% setelah

melalui rangkaian kegiatan sesuai rencana pelaksanaan kegiatan sebagai

ditetapkan pada awal tahun.

Tahapan penyusunan rekomendasi tentang percepatan asuhan mandiri

TOGA dan pentingnya keberlangsungan bahan baku jamu di Jawa Tengah, proses

yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Penentuan tema rekomendasi, tanggal 1 Maret & 16 April 2019

b. Focus group discussion secara round table discussion, tanggal 8-10 Juli

2019

c. Konfirmasi lapangan, tanggal 18 - 20 September 2019

d. Penyusunan naskah rekomendasi, periode September - Oktober 2019

e. Finalisasi rekomendasi kebijakan, tanggal 6-8 Oktober 2019

f. Advokasi naskah rekomendasi di Dinkes Prov Jateng, tanggal 11

November 2019

Rekomendasi kebijakan tentang bajakah merupakan rekomendasi respon

atas permasalahan di Kalimantan Tengah yang muncul karena pemberitaan hasil

penelitian bajakah untuk antikanker. Terkait munculnya isu yang berkembang di

masyarakat Palangka Raya tersebut, B2P2TOOT melakukan serangkaian

kegiatan untuk menghasilkan rekomendasi sebagai berikut:

a. Pemberitaan bajakah di televisi nasional, periode Agustus minggu ke-2

2019

b. Koordinasi tim B2P2TOOT dengan Dinkes Prov Kalteng, tanggal 19

Agustus 2019

c. Mengikuti rapat koordinasi Sekda Prov Kalteng terkait bajakah, tanggal 20

Agustus 2019

37

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

d. Pengambilan sampel, tanggal 20 -22 Agustus 2019
e. Pelaksanaan penelitian: identifikasi, uji skrining fitokimia, uji toksisitas,

periode Agustus minggu ke-4 s.d. November minggu ke-1
f. Penyusunan laporan dan naskah rekomendasi, periode November minggu

ke-2
g. Advokasi hasil penelitian dan rekomendasinya di Setda Prov Kalimantan

Tengah, tanggal 25 November 2019
Analisis kegiatan yang menunjang keberhasilan/kegagalan
Kegiatan yang menunjang keberhasil/kegagalan meliputi:
1. Adanya alokasi pembiayaan yang sudah ditetapkan sebelumnya, termasuk

mekanisme revisi menyesuaikan kondisi dilapangan
2. Tayangan Kompas TV yang mengangkat bajakah dapat untuk mengobati

kanker, bahkan siswa SMA 2 Palangkaraya yang mengikuti lomba dengan
topik bajakah menerima penghargaan diluar maupun Kemendikbud. Viralnya
topik bajakah memudahkan tim B2P2TOOT waktu turun kelapangan.

Kendala yang dihadapi Tahun 2019
Kendala yang dihadapi meliputi:
1. Kesimpangsiuran dan pemanfaatan yang membabi buta. Bajakah yang sudah

viral membangun pemahaman bahwa bajakah bisa digunakan untuk
mengobati kanker. Ujicoba yang dilakukan siswa SMA 2 Palangkaraya hanya
memberikan getah bajakah selama 2 minggu ke tikus yang luka, dan lukanya
semakin mengecil. Ini yang kemudian menjadi simpulan bahwa bajakah dapat
mengobati kanker, padahal tahapan penelitian tidak semudah itu.
2. Banyak orang yang punya keinginan untuk mengakses bajakah, sehingga
menyulitkan pada waktu tim ke lapangan. Bahkan tenaga penyehat tradisional
yang menggunakan bajakah (siswa mendapatkan bajakah dari sini), waktu
diminta menunjukkan bajakah yang mana yang digunakan untuk siswa SMA 2
Palangkaraya tidak bisa menunjukkan karena pertimbangannya rahasia. Ini
menyulitkan untuk tindak lanjut di laboratorium.
3. Karena bajakah yang menarik, maka harus banyak melibatkan pihak untuk
penyusunan rekomendasi, termasuk konfirmasi ke lapangan harus dengan tim
yang komprehensif, akibatnya kekurangan biaya untuk konfirmasi lapangan

38

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Tindak lanjut mengatasi kendala Tahun 2019
Tindak lanjut untuk mengatasi kendala meliputi;

1. Tahapan penelitian bajakah yang belum melalui mekanisme yang baku
ditindaklanjuti di B2P2TOOT dengan sampel yang diperoleh dilapangan.

2. Kesulitan mengakses sampel bajakah diatasi dengan meminta Pemerintah
Daerah Kalimantan Tengah untuk membantu Tim B2P2TOOT mendapatkan
sampel tanaman bajakah.

3. Melakukan revisi anggaran dengan menambahkan alokasi untuk konfirmasi
lapangan yang diambil dari penyusunan formulasi kebijakan

2. Publikasi Karya Tulis Ilmiah di Bidang Tanaman obat dan Obat Tradisional
Yang dimuat di Media Cetak dan atau Elektronik Nasional dan Internasional

Target publikasi yang tertuang dalam Penetapan Kinerja sebanyak 24
karya tulis ilmiah yang dipublikasi pada media cetak atau elektronik, baik nasional
maupun internasional, capaian yang diperoleh sebesar 30 karya tulis ilmiah. Artikel
yang dimuat pada jurnal nasional sebagai berikut:

Tabel 3.4. Judul Artikel Ilmiah di Bidang Tanaman Obat dan Obat

Tradisional yang Dipublikasikan dalam Jurnal Nasional Tahun 2019

Media Publikasi
No Judul Artikel Nama Penulis (Nama Media, Institusi
Penerbit, Periode)

1 Faktor-faktor yang berhubungan Tyas Friska, Jurnal Farmasi Klinik

dengan pemanfaatan obat tradisional Ulfatun Nisa Indonesia, Universitas

pada pasien hiperkolesterolemia pada Padjajaran, Maret 2019,

Rumah Riset Jamu Hortus Medicus. Vol.8, No 1

2 Kajian Tumbuhan Obat yang Banyak Fauzi, Harto Media Litbangkes, Badan

Digunakan untuk Aprodisiaka oleh Widodo, Sari Litbangkes, Vol.29 No. 1

Beberapa Etnis Indonesia Haryanti Tahun 2019

3 Pemanfaatan Tumbuhan Famili Harto Widodo Media Litbangkes Vol. 29

Fabaceae untuk Pengobatan Penyakit No. 1, Maret 2019

Liver oleh Pengobat Tradisional

Berbagai Etnis di Indonesia

4 Efek Sinergis Kombinasi Ekstrak Sari Haryanti, Jurnal Kefarmasian

Etanolik Kayu Secang dan Rimpang Ikayanti MS., Indonesia, Fakultas

Lempuyang pada Sel Kanker Payudara Yuli Widiyastuti Farmasi Universitas

MCF-7 Pancasila, Vol.9 Nno 1

2019.

5 Evaluation of antiurolithic herbal Ulfatun Nisa, Asian Journal of

formula for urolithiasis: a randomized Peristiwan R. Pharmaceutical and

open-label clinical study. Widhi Astana Clinical Research, Vol.12,

Issue 3, 2019

39

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Media Publikasi
No Judul Artikel Nama Penulis (Nama Media, Institusi
Penerbit, Periode)

6 Penggunaan Tumbuhan Jerango Rahma Media Konservasi, FHut

(Acorus calamus) untuk Pengobatan Widyastuti, Istitut Pertanian Bogor,

Berbagai Penyakit pada Delapan Etnis Galuh Ratnawati, Vol. 14 No 1, April 2019

di Provinsi Aceh. Saryanto

7 Keanekaragaman Genetik Tempuyung Dyah Subositi, Majalah Ilmiah Biologi

(Sonchus arvensis L.) berdasarkan Rohmat Mujahid Biosfera: A Scinetific

Mara ISSR Journal, Fabio Unsoed,

Vol.36 No 2. Mei 2019: 57-

62

8 Inventarisasi Ragam Tumbuhan obat Dian Susanti, Jurnal Vektor Penyakit,

Berpotensi Sebagai Anti Nyamuk Aniska Novita Balai Litbangkes

Sari Donggala, Vol 13 No 1,

2019: 7-20

9 Efektifitas Metode Blanser terhadap Devi Safrina, Jurnal Penelitian

Peningkatan Kualitas Simplisia Temu Merry Budiarti Pascapanen Pertanian,

Mangga (Curcuma mangga Val) Badan Litbang Pertanian,

setelah Masa Simpan. Vol. 16. No. 1 Tahun 2019

10 Karakteristik Mutu Kapsul Ramuan Sofa Farida, Jurnal Tanaman Obat

Kebugaran untuk Saintifikasi Jamu Tofan Aries Mana, Indonesia, B2P2TOOT,

Tyas Friska Dewi Vol. 12-Tahun 2019

11 Keragaman Pertumbuhan Kelembak Nurul Husniyati Jurnal Agritech, Faperta

dari Berbagai Daerah di Jawa Tengah Listyana, Universitas Muhamadiyah

Dyah Subositi, Purwokerto, Volume 21 No

Widyantoro 1 Tahun 2019

12 Pengaruh Ketinggian Tempat Tumbuh Devi Safrina, Jurnal Teknik Pertanian

dan Metode Pengeringan terhadap Endang Brotojoyo, Lampung, Faperta Unila,

Organoleptik dan Kadar Asiatikosid Inas Kamila Vol. 8-tahun 2019

Pegagan (Centella asiatica (L) Urb)

13 Efek Dua Sediaan Ramuan Jamu pada Zuraida Jurnal Kefarmasian

Pasien Obesitas: Studi Klinis dengan Zulkarnain, Indonesia, FFarmasi

Desain Paralel, Random dan Tidak Ulfatun Nisa, Universitas Pancasila,

Tersamar Enggar Wijayanti, volume 9-tahun 2019

Ulfa Fitriani

14 Efek Sitotoksik Formula Jamu Daun Yuli Widiyastuti, Jurnal Kefarmasian

Sirsak, Buah Takokak, dan Umbi Ika Yanti Indonesia,Fakultas

Bidara Upas terhadap Sel Kanker Marfuatush Farmasi Universitas

Payudara MCF-7 Sholikhah, Sari Pancasila, Vol. 9-tahun

Haryanti 2019

15 The Combination Infusion of Talinum Nuning Jurnal Tanaman Obat

paniculatum (Jacq.) Gaertn, Centella Rahmawati, Indonesia, B2P2TOOT Vol.

asiatica (L.) Urb and Curcuma Ika Yanti 12-Tahun 2019

xanthorrhiza Roxb. Effects on Marfuatush

Testosterone Levels and Introduction, Sholikhah

Climbing and Coitus Frequencies in

Male Sprague-Dawley Rats

40

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Media Publikasi
No Judul Artikel Nama Penulis (Nama Media, Institusi
Penerbit, Periode)

16 Status Konservasi Tumbuhan Obat Anshary Maruzy Media Konservasi,

Provinsi Papua dan Papua Barat dan Rohmat Fakultas Kehutanan Institut

(Indonesia) Mujahid Pertanian Bogor, Vol. 24-

Tahun 2019

17 Phytochemicals and cytotoxic Yuli Widiyastuti, Biosaintifika, Vol. 11 No. 3,

evaluation of krangean fruits extract Ika Yanti Tahun 2019

againts HeLa, MCF-7 and HepG2 Marfuatush

Cancer Cell line Sholikhah, Sari

Haryanti

18 Skrining Aktivitas Anti Tuberkulosis Galuh Ratnawati, Jurnal Jamu Indonesia,

Tumbuhan Obat dari Tumbuhan Ristoja Nita Supriyati Biofarmaka Institut

2012 Pertanian Bogor, 4(2):54-

62, 2019

19 Effect of Patah Tulang Latex Galuh Ratnawati, Indonesian Journal of

(Euphorbia tirucalli L.) of Wound Kurniasih, Sari Pharmaceutical Science

Healing in Wistar Rat Haryant and Technology, Vol. 6(3)

2019.

20 Analisis Ramuan Jamu Antihipertensi di Danang Ardiyanto, Jurnal Jamu Indonesia,

Rumah Riset Jamu Hortus Medicus Tyas Friska Dewi Biofarmaka IPB, 4(2):42-

Tawangmangu 47, 2019

21 Ethnopharmacological Study of Nuning Scienta Journal of

Medicinal Plants Utilization Against Rahmawati, Pharmaceutical and Health

Gastritis by Traditional Healers in Sari Haryanti, Vol.9(2):116-125, 2019

Central Sulawesi Fanie I.M.

22 Respon Pertumbuhan, Produksi dan Fauzi, Dyah Jurnal Jamu Indonesia,

Kualitas Daun Duduk (Desmodium Subositi Biofarmaka IPB, 4(2):48-

triquetrum(L.)D.C.) terhadap Ketinggian 53, 2019

Tempat Budidaya

23 Durasi Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Aniska Novita Sari Berita Kedokteran

terhadap Perkembangan Anak Usia 24 Masyarakat, Vol. 35 (3) 91-

– 35 Bulan 95

24 Profil Konsumsi Zat Gizi pada Wanita Enggar Wijayanti, Media Gizi Mikro

Usia Subur Anemia (Nutrient Intake Ulfa Fitriani Indonesia, Balai

Profile in Anemic Childbearing Age Litbangkes Magelang,

Women) Vol.11 No 1, Desember

2019

25 Studi Etnomedicine Pengobatan Luka Rohmat Mujahid, Kartika: Jurnal Ilmiah

Terbuka dan Sakit Kulit pada Beberapa Slamet Wahyono, Farmasi, Fakultas Farmasi

Etnis di Provinsi Kalimantan Barat. Wahyu Joko Unjani Bandung, Vol. 7 No

Priyambodo, Dyah 1, 2019

Subositi

41

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Tabel 3.5. Judul Artikel Ilmiah di Bidang Tanaman Obat dan Obat Tradisional
yang Dipublikasikan dalam Jurnal Internasional Tahun 2019

No Judul Artikel Nama Penulis Media Publikasi

1 Study of The Genus Curcuma in Dyah Subositi, Biodiversitas, volume 20-
2019,
Indonesia used as Traditional Herbal Slamet Wahyono
Biodiversitas, volume 20-
Medicines 2019

2 Short Communication : Aphrodisiac Fauzi, Asian Journal of
Conservation Biology,
Plants Used by Dayak ethnic in Central Harto Widodo Volume 8-2019,

Kalimantan Province, Indonesia Asian Journal of
Pharmaceutical and Clinical
3 Genetic Diversity and Relationship of Dyah Subositi, Research, volume 12-2019,

Alpinia galanga (L.) Willd, in Indonesia Aniska Novita Sari Bioscience Research,
Volume 16 tahun 2019,
using SRAP Markers for Genetic published

Conservation Strategy

4 Total Flavonoid Content Analysis Four Yuli Widiyastuti

Iler Accessions (Coleus atropurpureus)

(L.) Benth) on Lowland Karanganyar,

Central Java, Indonesia

5 Sequence-related amplified Dyah Subositi,

polymorphism (SRAP) marker system Anshary Maruzy,

for identification of Indonesian Ginger Slamet Wahyono

(Zingiber sp.)Genetic Diversity

Selain sebagai nama penulis pertama dalam artikel terpublikasi, sejumlah peneliti juga
berkolaborasi dengan peneliti dari instansi lain dalam melakukan publikasi. Tabel 7
menunjukkan judul-judul artikel yang mencantumkan nama peneliti tanaman obat dan
obat tradisional sebagai salah satu author.

42

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Tabel 3.6. Judul Artikel Ilmiah di Bidang Tanaman Obat dan Obat Tradisional
yang Dipublikasikan dalam Jurnal Nasional Tahun 2019 (bukan penulis
pertama)

No Judul Artikel Nama Penulis Media Publikasi

1 Pembuatan Sediaan Tabir Surya Tatang Irianti, TN Majalah Farmaseutik,

Ekstrak Etanol Buah Mahkota Saifullah Sulaiman, volume 15-tahun 2019,

Dewa (Phaleria macrocarpa), Nanang Fakhrudin,

Aktivitas Inhibisi Fotodegradasi Siluh Astuti, Nita

Tirosin dan Kandungan Fenolik Testikawati, Sofa

Totalnya Farida, Jovanita Fara

Addina, Sari Rosiati

Nur Khasanah

2 Uji Penangkapan Radikal 2,2- Tatang Irianti, Hari Jurnal Tanaman Obat

difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) oleh Purnomo, Kuswandi Indonesia, volume 12-

Ekstrak Etanol Bunga Kuswandi, Sindu tahun 2019,

Kecombrang (Nicolaia speciosa Nuranto, Damiana

(BI.) Horan) dan Buah Talok (M Nitya Kanistri, Yosi

calabura L.) Bayu Murti, Sofa Farida

3 Faktor Determinan Hipertensi Mugi Wahidin, Annisa Media Litbangkes, volume

pada Pedagang Pasar Cibinong, Rizky Aprilia, Dwi 29- tahun 2019,

Jawa Barat Susilo, Sofa Farida

4 Selectivity Index of Alpinia galanga Muhammad Da’I, Indonesian Journal of

Extract and 1’-Acetoxychavicol Khairunnisa Azani M., Cancer Chemoprevention

Acetate on Cancer Cell Lines Andi Suhendi, Sari Vol 10 No 2 tahun 2019

Haryanti

5 Short Communication: rbcL and Muhammad Fauzi Arif, Biodiversitas Vol 20 No 12,

matK chloroplast DNA Ganies Riza Aristya, Desember 2019

compositionof green chireta Dyah Subositi, Aniska

(Andrographis paniculata) from Novita Sari, Rina Sri

Indonesia Kasiamdari

Kegiatan yang mendukung keberhasilan publikasi karya tulis ilmiah adalah rangkaian
workshop penulisan yang terlaksana pada:

a. Workshop penulisan karya tulis ilmiah untuk publikasi pada jurnal nasional
terakreditasi, tanggal 13-15 Maret 2019 dengan pemateri dari; Lembaga
Eijkman, Universitas Hasanudin, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada,
dan B2P2TOOT

b. Workshop penulisan karya tulis ilmiah untuk publikasi internasional tanggal 28
Mei 2019, dengan narasumber dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah
Mada, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada

c. Workshop penulisan karya tulis ilmiah dari hasil penelitian klinik tanggal 6
Desember 2019 dengan narasumber dari Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret.
43

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Selain publikasi pada jurnal ilmiah, juga dilakukan diseminasi hasil
penelitian langsung kepada pemangku kepentingan, masyarakat, Industri Obat
Tradisional (IOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA), Usaha Kecil Obat
Tradisional (UKOT), Gabungan Pengusaha Jamu dan Gabungan Pengusaha
Farmasi. Diseminasi dalam rangka hilirisasi dilaksanakan tanggal 29-30 Agustus
2019, fokus hasil riset Saintifikasi Jamu. Sebanyak 11 ramuan jamu saintifik yaitu
ramuan asam urat, ramuan tekanan darah tinggi, ramuan wasir, ramuan radang
sendi, ramuan kolesterol tinggi, ramuan gangguan fungsi hati, ramuan gangguan
lambung/maag, ramuan batu saluan kencing, ramuan diabetes melitus, ramuan
obesitas dan ramuan kebugaran. Kegiatan diseminasi dilaksanakan dalam bentuk
paparan hasil riset dan temu bisnis. Paparan yang disampaikan oleh peneliti
bertema:
a. Akan Dibawa Kemana Hasil Saintifikasi Jamu (Kepala Badan Litbangkes)
b. Strategi Percepatan Fitofarmaka (Kepala B2P2TOOT)
c. Peluang Hilirisasi Jamu Saintifik (dr. Danang Ardiyanto)
d. Formulasi Sediaan Ramuan Jamu Saintifik (Sofa Farida, S.Farm, Apt.)
e. Pemanfaatan Hasil Litbang Tanaman Obat (Fanie Indrian Mustofa, MPH)
f. Jamu Saintifik untuk Masyarakat (dr. Zuraida Zulkarnain)

Diseminasi hasil penelitian sisi hulu juga dilakukan di Jakarta tanggal 18-21
November 2019. Lima tema penelitian yang diangkat dalam diseminasi ini adalah:
a. Standarisasi tanaman obat
b. Pengembangan formula jamu
c. Pengembangan bahan baku obat
d. Uji klinik jamu
e. Karakterisasi tumbuhan obat hasil Ristoja.
Sebanyak 8 hasil penelitian dan 23 hasil analisis lanjut sudah didesiminisikan,
yakni:

a. Standardisasi Tanaman Obat Unggulan Tahap III: Perbanyakan, Karakterisasi
dan Evaluasi Aksesi Daun Ungu, Kelembak, Iler dan Daun Duduk oleh Dyah
Subositi, M.Sc

44

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

b. Formulasi Sediaan Kapsul Ramuan Jamu Diabetes Mellitus dan Osteoarthritis,
oleh Tyas Friska Dewi, S.Farm., Apt.

c. Pengembangan Johar sebagai Obat Malaria Baru Tahap II, oleh Dr. Ir. Yuli
Widiyastuti, MP.

d. Pengembangan Bahan Baku Obat Anti malaria dan Anti kanker berdasarkan
Hasil RISTOJA, oleh Mery Budiarti S., M.Si

e. Observasi Klinik Kapsul Ekstrak Jamu Hepatoprotektor, oleh dr. Danang
Ardiyanto

f. Observasi Klinis Kapsul Ekstrak Jamu Hemoroid, oleh dr. Peristiwan R. Widhi
Astana

g. Observasi Klinik Formula Jamu Pelancar Air Susu Ibu (ASI), oleh dr. Zuraida
Zulkarnain

h. Observasi Klinis Formula Jamu Anemia, oleh dr. Ulfa Fitriani
Sebanyak 23 judul penelitian dalam payung riset Analisis Lanjut RISTOJA juga
didiseminasikan, yakni:

a. Profiling DNA Euphorbia hirta dan Andrographis paniculata berdasarkan
penanda molekular SRAP, oleh Dra. Tuty Arisuryanti, M.Sc., PhD., Fakultas
Biologi Universitas Gadjah Mada

b. Profiling DNA Alpinia galanga dan Zingiber officinale berdasarkan penanda
molekular SRAP, oleh Prof.Dr.Sc.Agr.Ir. Jamsari,MP, Fakultas Pertanian
Universitas Andalah ,

c. Profiling DNA Psidium guajava berdasarkan penanda molekular SRAP, oleh
Dr. Moch. Irfan Hadi, SKM.,MKL., Fakultas Sains Teknologi, Universitas Islam
Negeri Sunan Ampel Malang

d. Profiling DNA Orthosiphon aristatus dan Tinospora crispa berdasarkan
penanda molekular SRAP, oleh Dr. Elfahmi, MSi.,Apt, Pusat Penelitian
Biosains dan Bioteknologi Institut Teknologi Bandung

e. Profiling DNA Sauropus androgynus berdasarkan penanda molekular SRAP,
oleh Prof. Dr. Aulaniam drh., DES., Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Brawijaya Malang

f. Profiling DNA Blumea balsamifera dan Sida rhombifolia berdasarkan penanda
molekular SRAP, oleh Dr. Isma Kurniatanty,M.Si., Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga

45

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

g. Profiling DNA Ageratum conyzoides dan Physalis minima berdasarkan
penanda molekular SRAP, oleh Dr. Ir. Aziz Purwantoro, M.Sc., Fakultas
Pertanian Universitas Gadjah Mada

h. Profiling DNA Curcuma longa berdasarkan penanda molekular SRAP, oleh
Muhammad Hilman, MSi., Fakultas Sains Teknologi Departemen Biologi,
Universitas Airlangga

i. Profiling DNA Centella asiatica dan Phyllanthus niruri berdasarkan penanda
molekular SRAP oleh Azizatur Rahmah, MSi., Fakultas Sains Teknologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

j. Profiling DNA Graptophyllum pictum dan Piper betle berdasarkan penanda
molekular SRAP oleh Dr. Ir. I Made Artika, MAppSc., Fakulas Matematika Ilmu
Pengetahun Alam Institut Pertanian Bogor

k. Profiling DNA Curcuma zanthorrhiza, Kaempferia galanga, Zingiber
montanum, dan Zingiber zerumbet berdasarkan penanda molekular SRAP
oleh Dr. Marlina Ardiyani,MSc. , Pussat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia

l. Profiling Fitokimia Justicia gendarussa dan Piper betle menggunakan HPLC
oleh Dr. Dimas Adrianto,MSi., Fakultas Matematika Ilmu Penegtahun Alam
Institut Pertanian Bogor

m. Profiling Fitokimia Orthosiphon aristatus dan Tinospora crispa menggunakan
HPLC oleh Eva Agustina MSI.,, FST Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

n. Profiling Fitokimia Graptophyllum, Sida Rhombifolia dan Zingiber montanum
menggunakan HPLC oleh Dr. Kintoko, MSc., Fakultas Farmasi, Universitas
Ahmad Dahlan

o. Profiling Fitokimia Curcuma zedoaria menggunakan HPLC oleh Dr. RR.
Endang Lukitaningsih, Apt., Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada

p. Profiling Fitokimia Ageratum conyzoides, Centella asiatica, Curcua zedoaria,
Phyllanthus niruri, Physais minima dan Sida rhombifolia menggunakan TLC
Densitometri oleh Dr.rer.nat. Yosi Bayu,Apt., Fakultas Farmasi Universitas
Gadjah Mada

q. Profiling Fitokimia Acorus calamus, Blumea balsamifera, Centella asiatica dan
Kaempferia galanga menggunakan HPLC oleh Prof. Deddi Prima Putra, Apt.,
FFarmasi Universitas Andalas

46

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

r. Profiling fitokimia Psidium guajava menggunakan HPLC oleh Dr. Muhammad
Insanu, MSi., Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung

s. Profiling fitokimia Alpinia galanga, Graptophyllum pictum, Psidium guajava,
dan Zingiber officinale menggunakan TLC Densitometri oleh Dr. Rika Hartati,
Apt., Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung

t. Profiling fitokimia Physalis minima dan Sauropus androgynus menggunakan
HPLC oleh Dra. Sukmayanti Alegantina, Apt, Puslit Biomedis dan Teknolodi
Dasar Kesehatan

u. Profiling fitokimia Ageratum conyzoides menggunakan HPLC oleh Dr. Sayekti
Wahyuningsih, MSi., Fakultas Matematika Ilmu Pengetahun Alam Universitas
Sebelas Maret

v. Profiling fitokimia Zingiber officinale dan Alpinia galanga menggunakan HPLC
olehLestyo Wulandari, MFarm., Apt., Fakultas Farmasi Universitas Jember

w. Profiling fitokimia Blumea balsamifera, Euphorbia hirta, Kaempferia galanga,
dan Sauropus androgynus menggunakan TLC densiometri oleh Dr. Diniatik,
Apt., Fakultas Farmasi Universitas Muhamadiyah Purwokerto

Analisis kegiatan yang menunjang keberhasilan/kegagalan
1. Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia yang sudah terakreditasi sesuai
Keputusan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek Dikti
Nomor: 21/E/KPT/2018 tanggal 9 Juli 2018 memudahkan untuk akses
publikasi bagi penelitian
2. Jejaring Dewan Redaksi Jurnal yang ada di lingkungan Badan Litbangkes
yang topiknya sama, memberikan tempat yang memudahkan untuk
publikasi.
3. Kewajiban menerbitkan artikel di jurnal ilmiah dimuat dalam Sasaran KInerja
Pegawai

Kendala yang dihadapi tahun 2019
1. Lambatnya dewan redaksi dari jurnal diluar dalam memberikan feedback dari
artikel yang akan diterbitkan, sementara artikel yang sama tidak bisa
dikirimkan ke jurnal lain sebelum ada kepastian ditolaknya publikasi dijurnal
sebelumnya

47

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

2. Rendahnya kemampuan strategi publikasi artikel pada jurnal nasional
terakreditasi dan internasional, terutama sebagai penulis pertama dan lebih
banyak yang menyampaikan tulisan pada seminar oral dalam bentuk
prosiding. Ini terkait juga dengan adanya hasil kerja minimal peneliti.

Tindak lanjut mengatasi kendala Tahun 2019
1. Meningkatkan koordinasi dengan dewan redaksi jurnal yang bersangkutan.
Koordinasi dilakukan dengan mengkonfirmasi sampai sejauh mana proses
penerbitan artikel yang dikirimkan
2. Kemampuan strategi peneliti ditingkatkan dalam workshop penulisan jurnal
nasional terakreditasi dan publikasi internasional.

3. Hasil Penelitian dan Pengembangan Yang Dihasilkan di Bidang Tanaman Obat dan
Obat Tradisional

Capaian kinerja sebesar 9 dari target 9 penelitian. Judul terlihat pada tabulasi dibawah ini;

Tabel 3.7. Hasil Litbang Bidang TOOT, Ketua Penelitian
B2P2TOOT Tahun 2019 Dyah Subositi
M. Suryana
No Judul Penelitian
dr. Danang Ardianto
1 Standarisasi Tanaman Obat Daun Iler: Uji evaluasi, daya hasil dr. Ulfa Fitriani
dan seleksi aksesi Sofa Farida
Yuli Widiyastuti
2 Perkiraan umur simpan simplisia jenis curcuma, zingiber,
kaempferia dan alpinia dengan metode Accelerate Sheft Life dr. Fajar Novianto
Test (ASLT) Metode Arhenius Nuning Rahmawati

3 Observasi klinis penderita osteoartritis dengan kapsul esktrak Merry Budiarti
jamu osteoartritis

4 Observasi klinik subjec hiperglikemia yang diintervensi dengan
ekstrak ramuan jamu hiperglikemia

5 Formulasi sediaan kapsul hiperurisemia dan urolitiasis

6 Pengembangan Johar sebagai Obat Antimalaria Tahap II:
Standarisasi tanaman, standarisasi ekstrak fraksi etil asetat
dan optimalisasi metode sintesa Casiarin A dari barakol

7 Uji klinis formula jamu rhinitis alergi dibandingkan loratandin

8 Uji praklinik aktifitas dan toksisitas ramuan jamu hiperglikemi
hasil Ristoja

9 Penelitian lanjutan Ristoja Tahap 2: Penemuan fraksi aktif
antimalaria dan fraksi aktif antikanker

48

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Ringkasan hasil penelitian sebagai berikut:

a) Studi Klinik Formula Jamu Rhinitis Alergi Dibanding Loratadin
Rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore,

rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai
oleh Imunoglobulin E (IgE). Berbagai efek samping akibat obat anti alergi
menyebabkan masyarakat mencari alternatif pengobatan menggunakan bahan alam
(back to nature). Tanaman obat yang dapat meringankan gejala rhinitis alergi antara
lain daun sembung, cabe jawa, jahe, dan rumput teki.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai keamanan dan khasiat formula jamu
rhinitis alergi pada subyek dengan gejala rhinitis alergi persisten sedang dibanding
loratadin. Desain penelitian open label randomized clinical trial dengan paralel
design. Dosis formula jamu terdiri dari 10 gram daun sembung, 8 gram buah cabe
jawa, 5 gram rimpang jahe, dan 7 gram rimpang rumput teki. Sebanyak 109 subyek
diberikan jamu rebusan selama 4 minggu diminum 2 kali sehari dan 111 subyek
minum loratadin 1x10mg selama 4 minggu. Pada H0 dan H28 masing-masing
kelompok diperiksa darah rutin, fungsi hati, fungsi ginjal, eosinofil, total serum IgE,
rhinitis quality of life questionnaire (RQLQ), visual analog score (VAS), dan Short
Form-36 (SF-36).

Hasil menunjukkan darah rutin, fungsi hati, dan fungsi ginjal masing-masing
kelompok dalam rentang normal antara sebelum dan sesudah penelitian.
Pemeriksaan eosinofil dan IgE rata-rata mengalami penurunan diantara kedua
kelompok. Penilaian RQLQ dan VAS rata-rata mengalami penurunan sedangkan SF-
36 mengalami kenaikan diantara kedua kelompok.

b) Penelitian Lanjutan Ristoja Tahap 2: Penemuan Fraksi Aktif Antimalaria dan Fraksi
Aktif Antikanker

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan
ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Kasus resistensi mendorong munculnya
penelitian untuk menemukan anti malaria yang baru. Kriteria obat anti malaria yang
ideal adalah obat yang efektif terhadap semua jenis dan stadium parasit,
menyembuhkan infeksi akut maupun laten, efek samping ringan dan toksisitas
rendah. Oleh karena itu, dilakukan upaya melalui penelitian terhadap tanaman obat
yang digunakan secara tradisional oleh masyarakat untuk mengobati malaria.

49

Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019

Keempat jenis tumbuhan obat tersebut, antara lain akar Bambusa vulgaris,
rimpang Kaempferia galanga, daun Momordica charantia, dan daun Sida rhombifolia.
Pada penelitian ini, masing-masing ekstrak keempat jenis tumbuhan tersebut
dilakukan pengujian aktivitas antimalaria kembali dengan metode antiplasmodium
secara in vitro menggunakan parasit Plasmodium falciparum strain 3D7. Hasil
pengujian tersebut menunjukkan bahwa hanya akar Bambusa vulgaris yang
berpotensi sebagai antimalaria dengan nilai IC50 berturut-turut 2,72 μg/mL (nonpolar)
dan 2,86 μg/mL (polar). Nilai IC50 tersebut menunjukkan bahwa aktivitas antimalaria
yang dimiliki oleh akar bambu termasuk dalam kategori moderat.

Penyakit lain, menurut data SIRS (Sistem Informasi Rumah Sakit) tahun 2007,
kanker payudara merupakan kasus terbanyak (16,85%) yang diderita pasien rawat
inap di seluruh rumah sakit di Indonesia (Kementerian Kesehatan, 2013). Inovasi
manajemen terapi kanker yang berkesinambungan dan komprehensif masih sangat
diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan penyembuhan, mengurangi angka
kematian, dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Salah satu metode
pembaruan terapi kanker yang potensial adalah melalui riset eksplorasi dan
identifikasi senyawa dengan aktivitas antikanker dari tumbuhan (Naithani dkk., 2008).
Penelitian ini dilakukan untuk menemukan fraksi aktif dari ekstrak tumbuhan obat
hasil penelitian 2018, yang berpotensi sebagai agen kemopreventif melalui target
aksi aktivitas sitotoksik pada model sel kanker payudara T47D, sel kanker kolon
WiDr, dan sel kanker serviks HeLa secara in vitro.

Pada penelitian ini, dilakukan profiling KLT terhadap ekstrak diklormetan Mikania
micrantha bagai dasar penentuan sistem pelarut yang digunakan pada proses
fraksinasi menggunakan metode KKV. Hasil kromatogram juga menunjukkan ekstrak
tersebut mengandung golongan senyawa steroid, terpenoid, dan saponin.

c) Formulasi Sediaan Kapsul Ramuan Jamu Hiperurisemia dan Urolithiasis
Ramuan Jamu Hiperurisemia (RJH) yang terdiri dari daun tempuyung, kayu

secang, daun kepel, rimpang temulawak, rimpang kunyit dan herba meniran mampu
menurunkan asam urat darah subjek penelitian sebanding dengan Allopurinol, serta
tidak mengganggu fungsi hati, fungsi ginjal, dan darah rutin. Hal yang sama terlihat
dari Ramuan Jamu Urolithiasis (RJU) yang terdiri dari daun tempuyung, daun kumis
kucing, daun keji beling, herba alang-alang, temulawak, kunyit dan meniran mampu

50


Click to View FlipBook Version