Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
melarutkan batu uric pada saluran kemih tanpa merusak pada organ saluran kemih.
Pemberian ramuan jamu selama 28 hari tidak mengganggu/ mengubah fungsi faal
hati, faal ginjal maupun elektrolit. Hal ini menunjukkan kedua ramuan tersebut
memiliki efektifitas dan keamanan yang baik.
Namun, Konsumsi ramuan jamu oleh masyarakat pada umumnya berupa
sediaan rebusan. Hampir semua pasien dapat menyiapkan sediaan ini di rumah
masing-masing. Bentuk sediaan rebusan memiliki kekurangan dalam hal kandungan
air pada sediaan rebusan memicu terjadinya reaksi hidrolisis sehingga stabilitas
kandungan zat menjadi terganggu. Sediaan rebusan juga kurang nyaman dikosumsi
karena dosis yang besar dan rasa yang pahit. Oleh karena itu, perlu dilakukan
pengembangan bentuk sediaan yang lebih nyaman dan menyenankan untuk
dikonsumsi. Adapun salah satu alternatif bentuk sediaan adalah bentuk sediaan
kapsul.
Langkah awal adalah merebus ramuan jamu untuk mendapatkan ekstrak air.
Penggunaan ekstrak air bertujuan untuk menyesuaikan dengan penyiapan jamu di
masyarakat. Diharapkan ekstrak yang terambil menyerupai dengan hasil rebusan
yang dilakukan oleh masyarakat. Selanjutnya, filtrat dipisahkan dari ampas untuk
dibuat ekstrak serbuk menggunakan spray dryer. Ekstrak serbuk kemudian dilakukan
granulasi basah dengan penambahan bahan pengikat dan bahan pengisi sehingga
terbentuk massa granul. Granul yang terbentuk dilewatkan pada mess 16/18 untuk
mendapatkan granul yang seragam. Granul kemudian dikeringkan hingga didapat
kadar air < 3 %. Bahan pengikat yang digunakan adalah polivinilpirolidon (PVP) 1%,
sedangkan bahan pengisi yang tambahkan dilakukan variasi, yaitu avicel 102,
amylum dan lactose untuk menentukan mana yang memberikan parameter kualitas
terbaik. Sehingga terdapat 3 sampel untuk masing-masing ramuan yaitu RJH-1
(avicel 102), RJH-2 (amylum), RJH-3 (lactose), dan RJU-1 (avicel 102), RJH-2
(amylum), RJH-3 (lactose).
Pengamatan organoleptis menunjukkan baik RJH-1, RJH-2 dan RJH-3
menghasilkan bentuk serbuk, berwarna cokelat tua, berasa pahit dan beraroma khas
jamu. Sedangkan untuk RJU-1, RJU-2 dan RJU-3 juga menunjukkan bentuk serbuk,
berwarna cokelat tua, berasa pahit dan beraroma khas jamu.
Karakteristik fisik yang diamati adalah sifat alir yang meliputi waktu alir, sudut
diam dan indeks pengetapan.
51
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Granul yang telah diisikan kedalam cangkang kapsul selanjutnya diujikan waktu
hancur menggunakan alat disintegration tester. Semua sampel uji memiliki waktu
hancur yang baik.
d) Observasi Klinis Penderita Osteoartritis Dengan Kapsul Ekstrak Jamu Osteoartritis
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi yang paling banyak dijumpai di
masyarakat. Penyakit ini menyebabkan hilangnya jam kerja yang besar serta biaya
pengobatan yang tinggi. Sampai saat ini masih belum ditemukan obat yang dapat
menyembuhkan OA hingga tuntas. Pengobatan yang diberikan dokter dalam
penatalaksanaan OA umumnya ditujukan mengatasi gejala dan memperbaiki
aktivitas sehari-hari (symptom modifying effect) serta pencegahan dan perbaikan
kerusakan struktur rawan sendi (structure modifying effect). Oleh karena itu, masih
diperlukan pengembangan pengobatan alternatif yang efektif dan aman terutama
dari sediaan bahan alam atau tanaman obat.
Sehubungan dengan hal tersebut maka dilakukan penelitian observasi klinik
sediaan kapsul ekstrak jamu OA dibandingkan dengan obat meloxicam sehingga
diperoleh bukti ilmiah (evidence based) khasiat dan keamanan kapsul ekstrak jamu
OA yang lebih mudah diminum, praktis dan mudah dibawa pasien. Desain penelitian
observasi klinik dengan paralel design, untuk menilai keamanan dan kemanfaatan
penggunaan kapsul ekstak jamu pada subjek penelitian dengan osteoartritis
genu/sendi lutut dibandingkan dengan obat modern meloxicam. Tempat penelitian di
Rumah Riset Jamu B2P2TO2T Tawangmangu. Pelaksanaan penelitian berlangsung
selama 11 bulan. Individu subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
diikutsertakan pada studi ini dengan pemberian sediaan kapsul ekstrak selama 4
minggu dibandingkan obat meloxicam. Parameter yang digunakan untuk
mengevaluasi khasiat adalah gejala klinis, skor visual analogue scale (VAS),
fungsional sendi dan Short Form (SF)-36. Untuk mengevaluasi keamanan digunakan
nilai darah rutin, SGOT, SGPT, BUN, dan kreatinin. Formula formula kapsul ekstrak
jamu osteoartritis mampu:
1. Memperbaiki gejala klinis OA, menurunkan rerata skor VAS dan
meningkatkan lingkup gerak sendi sebagai parameter khasiat sebanding
dengan meloxicam pada pemberian setiap hari selama 2 8 hari, .
52
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
2. Tidak menimbulkan efek samping yang serius pada pemberian selama 28
hari.
3. Tidak mengganggu atau mengubah fungsi h a t i , f u n g s i ginjal,
hemoglobin, angka leukosit dan trombosit.
4. Mampu menaikan kualitas hidup subyek secara bermakna sebanding
dengan obat meloxicam.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kapsul ekstrak jamu osteoartritis OA secara klinis,
khasiatnya sebanding dengan meloxicam dan aman setelah intervensi selama 28
hari.
e) Observasi klinis khasiat dan keamanan ekstrak ramuan penurun gula darah pada
subjek hiperglikemia
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit menahun dan progresif ditandai
dengan kadar gula darah melebihi normal disebabkan oleh kekurangan hormon
insulin, baik secara absolut (kadar insulin benar-benar berkurang) maupun relatif
(kadar insulin cukup tetapi fungsinya menurun). Trias gejala klinis DM adalah banyak
makan, banyak minum, dan sering kencing (poliuri, polidipsi dan polifagi). Hal ini
karena pada penderita DM terjadi gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein.
Ramuan jamu yang terdiri dari daun salam, sambiloto, kayu manis, dan
temulawak sudah digunakan secara turun temurun untuk mengobati hiperglikemia.
Penelitian pra klinis sebelumnya membuktikan bahwa penggunaan ramuan jamu
dengan daun salam, herba sambiloto, kayu manis, dan temulawak pada tikus tebukti
aman/tidak toksik.
Desain penelitian adalah observasi klinis dengan intervensi tersamar tunggal
acak untuk menilai keamanan dan kemanfaatan penggunaan jamu pada subjek
penelitian dengan hiperglikemia.
Formula kapsul ekstrak ramuan penurun gula darah berkhasiat meningkatkan
kualitas hidup tanpa disertai penurunan kadar gula darah puasa subjek
hiperglikemia. Formula kapsul ekstrak ramuan penurun gula darah aman bagi subjek
hiperglikemia.
53
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
f) Pengembangan Johar (Senna siamea) sebagai obat malaria. Tahap III; Standarisasi
tanaman, ekstrak alkaloid dan standarisasi fraksi etyl asetat daun johar dengan
metode HPLC.
Point prevalence malaria menurut Riskesdas 2013 adalah sebesar 1,3%,
meskipun angka ini belum bisa menggambarkan keadaan sebenarnya per tahun
karena kasus malaria mengalami peak-peak pada waktu tertentu (Riskesdas, 2013).
Jika dibandingkan dengan tahun 2010, angka point prevalence pada tahun 2013 naik
dua setengah kali dari tahun 2010. Proporsi penyebab malaria berdasarkan spesies
parasit terbesar adalah Plasmodium falsiparum. Jenis ini telah resisten terhadap
regimen pengobatan standar menggunakan klorokuin. Untuk mengatasi resistensi
tersebut WHO merekomendasikan pengobatan dengan artemisinin yang biasa
dikombinasikan dengan obat lain yang disebut ACT (Artemisinin combination based
therapy). Obat malaria Artemisinin Combination Based Therapy (ACT) yang
digunakan di Indonesia sampai saat ini masih sepenuhnya import dari Cina.
Johar (Cassia siamea) merupakan salah satu tanaman obat yang telah
digunakan secara empiris oleh masyarakat untuk mengatasi malaria. Hasil penelitian
pra-klinis ekstrak daun johar menunjukkan aktivitas sebagai anti malaria dengan
menekan pertumbuhan dan mematikan plasmodium. Sedangkan hasil uji klinis tahap
I ekstrak johar terhadap orang sehat memberikan hasil bahwa ekstrak Johar aman
terhadap fungsi hati dan ginjal subyek penelitian.
Penelitian dilakukan dengan metode survei dan eksperimental di
laboratorium. Penelitian dibagi dalam 3 segmen kegiatan yaitu riset bagian hulu yang
dilaksanakan oleh Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional, riset
bagian tengah dalam pengembangan teknik ekstraksi dan isolasi senyawa aktif
dilakukan oleh Pusat Penelitian Kimia LIPI, dan riset bagian hilir terkait
pengembangan sediaan obat, standarisasi ekstrak dan uji aktivitasnya dilakukan oleh
Fakultas Farmasi UNAIR. Penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Aksesi johar yang berasal dari berbagai wilayah pada koleksi tahap I dapat
beradaptasi dengan baik pada kondisi lingkungan di Karangnyar pada
ketinggian 200 m dpl.
2. Johar aksesi Pacitan memiliki kadar casiarine tertinggi sebesar 0,14%
54
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
3. Metode ekstraksi super kritis menggunakan CFC tidak tepat dilakukan untuk
menghasilkan ekstrak yang mengandung Casiarine A.
4. Untuk standarisasi ekstrak johar dengan baku standar Casiarine A dapat
menggunakan metode HPLC
5. Uji aktivitas sebagai profilaksis fraksi etil asetat johar menunjukkan bahwa
dosis EA 216,45 mg/kg BB atau setara casiarine A 10 mg/kg bb memberikan
penghambatan pertumbuhan parasite yang sama dibandingkan dengan
kontrol doksisiklin.
g. Penelitian perkiraan umur simpan simplisia jenis curcuma, zingiber, kaempferia dan
alpine dengan metode Accelerate Shelf Life Test (ASLT) Model Arrhenius.
Simplisia dari jenis curcuma, zingiber, kaempferia dan alpinia merupakan
simplisia utama yang digunakan dalam formula jamu yang belum dilakukan penelitian
tentang perkiraan umur simpannya hingga tetap terjaga kualitas, keamanan dan
khasiatnya. Metode ASLT model Arrhenius merupakan salah satu metode yang umum
digunakan untuk mengetahui perkiraan umur/masa simpan produk agro dengan teknik
mempercepat proses degradasi atau reaksi dalam percobaan yaitu dengan
meningkatkan suhu penyimpanan pada beberapa suhu di atas suhu kamar, sehingga
mempercepat umur simpan berdasarkan analisis waktu. Metode ASLT yang
digunakan dalam menentukan masa simpan jenis curcuma, zingiber, kaempferia dan
alpinia adalah dengan penyimpanan simplisia pada suhu masing-masing 25OC, 35OC,
dan 45OC menggunakan oven dengan flap 50%. Kemudian pengamatan dilakukan
pada hari ke 0 (h0), hari ke 14 (h1), hari ke 28 (h2), dan hari ke 42 (h3) pada masing-
masing sampel. Sampel yang diuji merupakan sampel yang berasal dari daerah
Wonogiri, Jawa Tengah dan dilakukan proses pascapanen sesuai SOP pascapanen
tanaman obat dalam 1 batch.
Parameter standar simplisia digunakan uji makroskopik, susut pengeringan,
kadar minyak atsiri dan kadar air, kadar sari, kadar abu, kandungan kimia simplisia,
55
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
dan cemaran mikroba. Penelitian dilakukan di B2P2TOOT Tawangmangu dari bulan
Januari – Desember 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
1. Uji makroskopik (identifikasi) dengan organoleptik meliputi bau, rasa dan
warna tidak mengalami perubahan signifikan dengan perlakuan
penyimpanan baik berdasarkan waktu maupun suhu.
2. Kadar sari menunjukkan keempat sampel memenuhi syarat minimal kadar
sari baik kadar sari larut air maupun kadar sari larut etanol, hanya jahe
mengalami kadar sari larut air rerata yang melebihi ambang batas yang
disyaratkan dalam FHI yaitu 20,9163% > 15,8%.
3. Kadar minyak atsiri dan kadar air merupakan salah satu parameter standar
simplisia yang diujikan dengan hasil hampir semua sampel menunjukkan
kadar minyak atsiri mengalami penurunan kadar selama penyimpanan
dalam berbagai suhu, sedangkan kadar air ada yang cenderung menurun
yaitu lengkuas dan temulawak, sementara yang naik yaitu kunyit putih dan
jahe.
4. Cemaran mikroba termasuk unsur yang sangat penting sebagai salah satu
parameter standar simplisia, dimana dinyatakan sebagai salah satu tolok
ukur safety (keamanan) dari simplisia sebagai bahan jamu. Hasil uji
cemaran baik angka kapang maupun mikroba menunjukkan bahwa
semakin lama waktu penyimpanan dan semakin tinggi suhu penyimpanan
semakin menurunkan tingkat cemaran kapang dan mikroba.
h. Penelitian Uji Praklinik Aktivitas dan Toksisitas Ramuan Jamu Hiperglikemik Hasil
Ristoja
Diabetes melitus (DM) atau penyakit kencing manis adalah suatu gejala
kelainan dalam tubuh yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah
(hiperglikemia). Beberapa alternatif terapi farmakologi DM dengan obat konvensional
56
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
meliputi penggunaan golongan sulfonilurea, biguanid, thiazolidin, meglitinid, inhibitor
dipeptidil peptidase IV dan inhibitor α-glukosidse. Masing-masing bekerja secara
spesifik sesuai mekanisme aksinya (Rang et al, 2003). Intestinal α-glukosidase
merupakan enzim yang berperan penting dalam sistem digesti dan menghidrolisis α-
1,4-glukosida. Penghambatan enzim α-glukosidase akan menurunkan digesti dan
uptake karbohidrat secara signifikan berefek pada bekurangnya kadar glukosa darah
postprandial pada DM tipe II (Freid-Jaiyesimi et al, 2009).
Badan Litbang Kesehatan cq B2P2TOOT telah melaksanakan Riset
Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) untuk memperoleh database informasi ramuan
dan tumbuhan obat berbasis kearifan local. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan
konfirmasi secara evidence based sebanyak 25 tanaman obat (TO) yang secara
tradisional telah dimanfaatkan oleh para penyehat tradisional di masing-masing etnis
sebagai bahan pengobatan kencing manis (DM) berdasarkan pendekatan reverse
pharmacology. Uji keamanan dilakukan dengan uji toksisitas akut sedangkan uji
aktivitas antihiperglikemik dilakukan secara in vitro melalui uji penghambatan aktivitas
α-glukosidase dan alfa amilase. Data kuantitatif yang diperoleh dari uji aktivitas dan
toksisitas dianalisa secara statistik menggunakan uji anova dan uji t berpasangan.
Berdasarkan skrining aktivitas in vitro diketahui sejumlah ekstrak etanol dan
ekstrak air antara lain ekstrak etanol Archidendron jiringa dan Excoecaria
cochinchinensis serta ekstrak air Archidendron jiringa dan Albertisia papuana
menunjukkan aktivitas antihiperglikemik melalui mekanisme penghambatan alfa
amylase dan alfa glucosidase.
i. Standarisasi TO
57
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Selain penelitian dari DIPA B2P2TOOT juga dilakukan penelitian dengan sumber
pembiayaan dari Sekretariat Badan Litbangkes berupa Riset Pembinaan Kesehatan.
Judul riset tersebut sebagai berikut:
Tabel 3.8. Judul Riset Pembinaan Kesehatan
B2P2TOOT Tahun 2019
No Judul Penelitian Ketua Penelitian
1 Pengaruh Poliploidisasi terhadap Pertumbuhan dan Kadar Nur Rahmawati
Flavonoid Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Tyas Friska
2 Validasi Metode Analisis Penetapan Kadar Andrografolida
sebagai Senyawa Penanda Ramuan Jamu Saintifik Diabetes
Mellitus dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
(KCKT)
Analisis kegiatan yang menunjang keberhasilan/kegagalan
1. Pembahasan topik penelitian dilakukan Tahun-2.
2. Pengalokasi penganggaran dalam satu output hasil penelitian dan pengembangan
tanaman obat dan obat tradisional, dimana judul dimasukkan dalam komponen
memudahkan revisi apabila dalam perjalanannya terdapat perubahan metode
penelitian.
3. Kememilikan sarana penelitian seperti kebun percobaan, laboratorium hewan
coba, laboratorium terpadu dan Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus.
Kendala yang dihadapi tahun 2019
1. Keterbatasan peneliti. Peneliti yang sama harus melakukan kegiatan Riset
Kesehatan Nasional.
2. Peneliti dituntut untuk memenuhi hasil kerja minimal peneliti maka peneliti dibagi
sesuai dengan jumlah penelitian.
3. Beberapa penelitian yang memerlukan kaji etik dalam proses pengajuannya
terdapat perubahan judul yang berimplikasi pada perubahan metodologi, sampel
dan anggaran.
4. Pengadaan bahan belum bisa dilakukan sebelum keluarnya hasil kaji etik,
sehingga waktu untuk pengadaan semakin pendek.
5. Mekanisme lelang dengan lelang cepat kadang tidak tahu profilnya rekanan.
6. Pengadaan barang dan jasa dengan pemberlakukan Layanan Pengadaan Secara
Elektronik (LPSE 4.3) belum semua pihak familiar, baik pengguna maupun
penyedia,
58
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
7. Sistem LPSE sering mengalami gangguan server, sehingga memperngaruhi
proses pengadaan
Tindak lanjut mengatasi kendala Tahun 2019
1. Keterbatasan penelitian disiasati dengan pembagian peneliti. Peneliti yang
menjadi ketua pelaksana 2019 tidak dilibatkan pada riset nasional.
2. Hasil kerja minimal disiasati seorang peneliti hanya boleh menjadi 1 ketua
pelaksana penelitian dan 2 anggota peneliti. Namun, dalam pelaksanaan kegiatan
misalnya pengumpulan data bisa melibatkan peneliti lain.
3. Melakukan revisi perubahan judul, metodologi dan sampel sesuai masukan dari
kaji etik. Revisi selanjutnya ditindaklanjuti dengan revisi petunjuk operasional
kegiatan.
4. Pengadaan dilakukan dengan mekanisme lelang cepat dengan menunjuk merk
dan volume. Dengan mekanisme e_procurement maka rekanan yang sudah
masuk SIKAP tinggal mengajukan penawaran dengan mengisi harga. Harga yang
terendah menjadi pemenang.
5. Profil rekanan yang tidak diketahui maka pada waktu pengerjaan pengadaan
bahan, rekanan dikawal agar tidak jadi wanprestasi
6. Belum familiar dengan LPSE 4.3 diantisipasi dengan mengundang atau
mengirimkan pengguna untuk workshop.
7. Server yang sering down, maka pengguna sesering mungkin mengecek ke system
LPSE.
4. Jumlah laporan Status Kesehatan Masyarakat hasil Riset Kesehatan Nasional
Wilayah IV
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program Pemerintah yang
bertujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi seluruh rakyat
Indonesia untuk dapat hidup sehat, produktif, dan sejahtera. Program ini merupakan
produk dari Undang-Undang (UU) Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional dan UU Nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS).
Jaminan Kesehatan Nasional bertujuan untuk menjaga masyarakat agar tetap
produktif, baik secara sosial maupun ekonomi. Keberadaan program Jaminan Kesehatan
59
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Nasional (JKN) diharapkan mampu membuat rakyat lebih sejahtera. Perjalanan 5 tahun
pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional menunjukkan masih terdapat beberapa hal
yang dinilai memerlukan perbaikan. Beberapa isu yang mengemuka dalam perjalanan
JKN, antara lain defisit, mutu layanan klinis, besaran tariff Indonesia Case Base Group
(INA-CBGs), klasifikasi dan kompetensi rumah sakit, standar mutu layanan rumah sakit,
konflik manajemen dan dokter, keterbatasan sumber daya manusia kesehatan
profesional, disharmoni regulasi, ketidaksesuaian regionalisasi tarif dengan unit cost
pelayanan, kelengkapan petunjuk teknis pelayanan JKN, sosialisasi dan edukasi JKN,
keberadaan Sistem Informasi Manajemen (SIM) terintegrasi antara BPJS Kesehatan
dengan Fasilias Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Rujukan
Tingkat Lanjut (FKRTL), kemampuan teknis verifikator, fraud, besaran iuran premi, tarif
e-catalogue, keterlambatan pencairan jasa pelayanan, model CoB, peran dinas
kesehatan, peran Tim Kendali Mutu dan Kendala Biaya.
Peraturan Presiden Nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan Nasional
mengamanatkan seluruh penduduk masuk sebagai peserta BPJS Kesehatan paling
lambat tanggal 1 Januari 2019. Setiap peserta berhak memperoleh manfaat jaminan
kesehatan yang bersifat pelayanan perorangan, mencakup pelayanan promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai
dengan kebutuhan medis yang diperlukan. Pemerintah dan Pemerintah Daerah
bertanggungjawab atas ketersediaan fasilitas kesehatan dan penyelenggaraan pelayanan
kesehatan untuk pelaksanaan program jaminan kesehatan.
Instruksi Presiden Nomor 8 tahun 2017 tentang Optimalisasi pelaksanaan program
Jaminan Kesehatan Nasional, Menteri Kesehatan antara lain diinstruksikan untuk
menjamin ketersediaan obat dan alat kesehatan bagi peserta Jaminan Kesehatan
Nasional, terutama obat esensial, serta menjamin ketersediaan sarana dan prasarana
serta sumber daya manusia pada fasilitas kesehatan bersama Pemerintah Daerah,
TNI/Polri, dan swasta.
Evaluasi merupakan bagian dari upaya untuk menjamin pencapaian tujuan dari
Jaminan Kesehatan Nasional, sebagai dasar atas koreksi yang harus dilakukan. Pada
Perpes tersebut mengamanatkan Menteri berkoordinasi dengan Dewan Jaminan Sosial
Nasional (DJSN) untuk melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pelayanan
Jaminan Kesehatan.
60
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Program Jaminan Kesehatan Nasional telah berjalan selama 5 tahun. Pemerintah
perlu melihat secara komprehensif seluruh aspek yang mempengaruhi pelaksanaan
program tersebut, baik ditinjau dari sisi regulasi, tata kelola, penyelenggara, penyedia
pelayanan kesehatan, peserta, maupun hal-hal terkait lainnya. Penilaian yang
komprehensif ini diperlukan dalam rangka penyusunan rekomendasi kebijakan serta
perbaikan yang berkelanjutan dan penyempurnaan dari Jaminan Kesehatan Nasional,
melalui penelaahan terhadap instrumen legal, teknis, dan pembiayaan
Tujuan umum pelaksanaan riset ini; dihasilkannya rekomendasi kebijakan untuk
penguatan pencapaian Pelayanan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage,
UHC) dan perbaikan pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Secara khusus tujuan khusus yang ingin dicapai adalah:
a. Diperolehnya baseline indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional 2020 – 2024 dan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020 –
2024 berbasis fasilitas kesehatan.
b. Diperolehnya gambaran kondisi fasilitas pelayanan kesehatan (supply side) di era
Jaminan Kesehatan Nasional (2019) dan perbandingannya dengan kondisi tahun
2011 dalam Rifaskes 2011.
c. Dihasilkannya pemetaan kemampuan puskesmas dalam tatalaksana 144
diagnosa penyakit.
d. Diperolehnya informasi dan rekomendasi perbaikan tata kelola (governance)
Jaminan Kesehatan Nasional.
e. Diperolehnya informasi dan rekomendasi sistem informasi JKN.
f. Dihasilkannya informasi dan rekomendasi engenai kepesertaan JKN.
g. Dihasilkannya informasi dan rekomendasi mengenai kesiapan sumber daya
manusia.
h. Diperolehnya informasi dan rekomendasi mengenai obat dan alat kesehatan
terkait JKN
i. Diperolehnya informasi dan rekomendasi mengenai pembiayaan JKN
j. Diperolehnya informasi dan rekomendasi mengenai pelayanan JKN (kesiapan
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama [FKTP] dan Fasilitas Kesehatan Rujukan
Tingkat Lanjutan [FKRTL], kredensialing, aksesibilitas, sistem rujukan, serta
clinical pathway).
61
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
k. Diperolehnya informasi mengenai kendala dalam pelaksanaan JKN di tingkat
FKTP dan FKRTL.
l. Diperolehnya informasi outcome JKN (efektivitas, responsivitas, mutu layanan,
efisiensi, dan keberlanjutan).
B2P2TOOT selaku Korwil IV mengampu lokasi provinsi; Kepulauan Riau, Jambi,
Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi
Barat. Tahapan kegiatan Rifaskes tertuang dalam gambar berikut:
Gambar 3.2. Tahapan Pelaksanaan Rifaskes
Korwil IV B2P2TOOT Tahun 2019
Detil tahapan tiap kegatan terlampir dalam tabel berikut:
Tabel 3.9. Kegiatan dan Jadwal Pelaksanaan Riskesdas
Korwil IV B2P2TOOT Tahun 2019
No Tahapan Jambi Kepri Kalteng Kaltim Kaltara Sulteng Sulbar
Kegiatan
22-24
1. Rapat Koordinasi 20-22 21-23 18-20 18-20 4-6 20-22 Feb
Maret
Teknis Feb Feb Feb Feb Maret Feb
24-30
2. Rekrutmen Maret Maret Maret Maret Maret Maret April
1-20 Mei
Enumerator
3. Workshop 22-28 25 April 22-28 22-28 20-26 22-28
enumerator April – 1 Mei April April April April
4. Pengumpulan 29 April 2-22 Mei 29 April 29 April 27 April 29 April
Data – 18 Mei – 18 Mei – 18 Mei – 16 Mei – 18 Mei
5 Penyusunan 11-15 November 2019
laporan
6 Diseminasi hasil 16-18 Desember 2019
62
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
a. Rakornis
Rakornis dimaksudkan untuk memantapkan kesiapan daerah (kabupten/kota)
untuk melaksanakan Rifaskes. Peserta: Kadinkes Prov/kab/kota, PJO prov/kab/kota,
PJT prov/kab/kota, direktur RS terpilih, tim teknis pusat, PAL prov/kab/kota,
perwakilan korwil dan SAL korwil.
Bahan yang dipakai untuk diskusi pada Rakornis meliputi:
1. Surat Keputusan Bupati terkait dengan daerah terpencil dan sangat terpencil
serta aturan pembayaran transport didaerah tersebut
2. Proses perijinan pelaksanaan penelitian di Rumah Sakit, Puskesmas, Apotek,
Laboratorium, klinik, praktek dokter mandiri dan bidan mandiri
3. Jumlah dan Daftar Dokter Praktik Mandiri dikabupaten terpilih
4. Jumlah dan Daftar Klinik Mandiri dikabupaten terpilih
5. Jumlah dan Daftar Bidan Praktek Mandiri dikabupaten terpilih
6. Jumlah dan Daftar Laboratorium dikabupaten terpilih
Hasil yang diperoleh:
1. Tersosialisasinya rencana pelaksanaan Rifaskes
2. Diperolehnya dokumen perencanaan mekanisme rekrutmen enumerator
3. Diperolehnya dokumen perencanaan pelaksanaan workshop enumerator
4. Teridentifikasinya dan ditetapkannya rumah sakit, Puskesmas, klinik, praktek
dokter mandiri, praktek bidan mandiri, laboratorium dan apotek yang menjadi
sampel di tiap provinsi.
5. Diperolehnya dukungan dari pihak terkait atas pelaksanaan Rifaskes
b. Rekrutmen tenaga Rifaskes
Tim Rifaskes berasal dari tim pusat dan tim korwil. Tim pusat berisikan tim teknis dan
sekretariat Riskesnas, sedangkan tim korwil terdiri dari:
1. Penanggung jawab teknis provinsi
2. Koordinator provinsi
3. Penanggung jawab operasional provinsi
4. Penanggung jawab administrasi dan logistik provinsi
5. Staf administrasi dan logistik provinsi
6. Koordinator kabupaten/kota
7. Penanggung jawab teknis kabupaten/kota
8. Penanggung jawab operasional kabupaten/kota
63
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
9. Penanggung jawab administrasi dan logistik Kabupaten/kota
10. Enumerator Puskesmas
11. Enumerator Rumah Sakit
Rekrutmen enumerator dilaksanakan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, secara
terbuka. Peserta dengan latar belakang pendidikan kesehatan, menyampaikan
lamaran secara online selanjutnya dilakukan wawancara.
Tabel. 3.10 Jumlah Tenaga Rifaskes
Koordinator Wilayah IV, 2019
No Jenis Tenaga Jambi Kepri Kalteng Kaltim Kaltara Sulteng Sulbar
1 PJT Provinsi 11 2 1 1 2 1
2 Koordinator Prov 1 1 1 1 1 1 1
3 PJO Provinsi 11 1 1 1 1 1
4 PAL Provinsi 11 1 1 1 1 1
5 SAL Provinsi 11 1 1 1 1 1
6 PJT Kab/Kota 11 7 14 10 5 13 6
7 Korodinator 11 1 1 1 1 1
Kab/Kota
8 PJO Kab/Kota 11 1 1 1 1 1
9 PAL Kab/Kota 11 1 1 1 1 1
10 Enumerator 84 36 92 82 30 94 42
Puskesmas
11 Enumerator RS 64 4 8 2 6 2
c. Pelatihan tim pengumpul data
Pelatihan tim pengumpul data dilakukan oleh koordinator wilayah dengan
narasumber penanggungjawab teknis provinsi/kabupaten/kota yang sudah dilatih
pada workshop sebelumnya. Peserta pelatihan adalah tenaga pengumpul data di
Puskesmas dan rumah sakit. Hasil yang diperoleh setelah pelatihan:
1. Tenaga pengumpul data paham tentang kuesioner dan cara pengumpulan
data
2. Tenaga pengumpul data paham tentang pembagian kerja
3. Tenaga pengumpul data paham tentang mekanisme pengiriman data
d. Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berupa:
1. Data dinas kesehatan. Pelaksana pengumpulan data ditugaskan kepada
penanggung jawab teknis kabupaten/kota.
2. Data Puseksmas. Pelaksana pengumpulan data ditugaskan tenaga
pengumpul data Puskesmas. Setiap tim terdiri dari 2 orang, salah satunya
64
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
perawat atau bidan, yang mengumpulkan ± 5 Puskesmas ditambah fasilitas
kesehatan tingkat pertama lainnya seperti laboratorium, klinik, apotek, dokter
praktek mandiri, bidan praktek mandiri.
3. Data rumah sakit. Pelaksana pengumpulan data ditugaskan tenaga pengumpul
data rumah sakit. Setiap tim terdiri dari 2 orang, salah satunya perawat atau
bidan, yang mengumpulkan ± 3 rumah sakit, waktu pengumpulan data satu
rumah sakit 4-6 hari.
e. Penyusunan laporan
Penyusunan laporan dilakukan untuk mendapatkan laporan kegiatan Korwil IV dan
laporan Rifaskes Provinsi Khususnya Dinas Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan
Puskesmas.
f. Diseminasi
Diseminasi ditujukan kepada Kepala Dinas Provinsi, Penanggung Jawab
Operasional Provinsi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Materi yang
disampaikan hasil sementara dari Rifaskes Dinas Kesehatan dan Puskesmas,
sebagai pemateri penanggung jawab teknis provinsi.
Analisis kegiatan yang menunjang keberhasilan/kegagalan
1. Surat dukungan Menteri Kesehatan pada pelaksanaan Riset Kesehatan Nasional
Tahun 2019 nomor; UM.01.05/Menkes/91/2019 tanggal 15 Februari 2019. Isi surat
tersebut menyerukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota
untuk mendukung dan membantu pelaksanaan Riset Kesehatan Nasional.
2. Surat Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan nomor: LB.02.02/III/0577/2019
tanggal 14 Februari 2019 tentang Pemberitahuan Riset Kesehatan Nasional Tahun
2019.
3. Surat Direktur Kewaspadaan Nasional, Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintah
Umum, nomor: 440.02/055/D.V tanggal 7 Februari 2019 tentang Surat Keterangan
Penelitian.
4. Surat Telegram dari Kepala Pusat Kesehatan Tentara Nasional Indonesia nomor:
ST/02/2019 tanggal 18 Februari 2019 ditujukan kepada Kepala Pusat Kesehatan
Angkatan Darat, Kepala Dinas Kesehatan Angkatan Laut, Kepala Dinas Kesehatan
Angkatan Udara. Pada surat mengamanatkan untuk membantu kelancaran
pelaksanaan Rifaskes 2019.
65
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
5. Persetujuan etik dari Ketua Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Litbang
Kesehatan nomor: LB.02.01/2/KE.011/2019 tanggal 21 Januari 2019 tentang
Persetujuan amandeman protokol.
Kendala yang dihadapi tahun 2019
1. Belum ada kepastian besaran anggaran untuk alokasi daerah sulit
2. Beberapa daerah sedang melaksanakan pemilihan kepala daerah
3. Sebagian daerah dalam merekrut tenaga pengumpul data tidak dilakukan secara
terbuka
4. Beberapa FKTP: bidan, apotik, laboratorium, klinik, bidan praktek mandiri, dokter
praktek mandiri didaftar sampel tidak ada, sudah berubah atau tidak beroperasi,
sudah pindah,
5. Beberapa daerah kepulauan tidak semua perahu ada pelampung
6. Adanya kasus kecelakaan tim pengumpul data
7. Adanya ketidaksinkronan antara data Puskesmas dan dinas kesehatan terkait
dengan blok pembiayaan.
8. Jadwal transpor ke Puskesmas hanya dua minggu sekali
9. Beberapa lokasi terkendala dengan listrik yang sering mati dan susah sinyal
10. Data yang sudah dientry di Kabupaten Gunung Mas hilang
11. Sewaktu analisis data dilakukan dan pengisian dummy tabel selalu berkembang ide-
ide tambahan sehingga beberapa angka yang termuat dalam laporan nasional tidak
sinkron dengan laporan provinsi
12. Penugasan penanggung jawab teknis Kabupaten Malinau Kalimantan Timur tidak
hanya satu orang, karena pertimbangan luasnya wilayah dan sulitnya akses
transportasi
Tindak lanjut mengatasi kendala Tahun 2019
1. Perlu dipastikan alokasi besarnya biaya untuk sampai ke daerah sulit, titik terakhir
dimana respoden berada, pada saat rapat koordinasi teknis, termasuk identifikasi
moda transportasinya
2. Perlu penataan jadwal pengumpulan data, disesuaikan dengan agenda di lapangan.
66
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
3. Nama calon tenaga pengumpul data yang sudah diseleksi oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten, daftarnya dikirim ke manajemen Korwil untuk dilakukan verifikasi, cek
duplikasi dan rekam jejak selama mengikuti Riset Kesehatan Nasional.
4. FKTP; bidan, apotik, laboratorium, klinik, bidan praktek mandiri, dokter praktek
mandiri, yang sudah berubah diganti dengan yang masih beroperasi
5. Pembelian pelampung untuk daerah kepulauan
6. Tim yang kecelakaan ditambah 1 orang, dan dibantu klaim asuransinya
7. Ketidaksinkronan antara data Puskesmas dan dinas kesehatan terkait dengan blok
pembiayaan, maka menggunakan data yang ada di dinkes
8. Terkait transpor yang hanya 2 minggu sekali, maka tim enum ikut rute kapal dan tidak
ikut pada workshop pengumpul data terakhir. Pulangnya mengikuti pasien yang
dirujuk.
9. Lokasi yang sering mati listrik diprioritaskan untuk pengumpulan data terlebih dahulu,
entry bisa dilakukan dikota yang listriknya jarang mati dan sinyalnya bagus
10. Entry data yang hilang di Gunung Mas, dilakukan penelusuran dengan mengecek
spesifikasi laptop apakah sinkron dengan aplikasi yang dibuat, selain itu hubungi
penanggung jawab manajemen data. Namun demikian kalau tetap tidak bisa dilacak
datanya dilakukan entry ulang.
11. Melakukan serangkaian pertemuan untuk penyusunan laporan baik nasional maupun
provinsi. Meliputi: pertemuan awal pengisian dummy tabel, pemaparan bersama
dengan tim teknis, finalisasi laporan ditingkat Korwil, dan sinkronisasi laporan
nasional dan provinsi.
12. Penugasan penanggung jawab teknis Kabupaten Malinau Kalimantan Timur akan
didiskusikan pada Riskesnas selanjutnya
5. Layanan Sarana dan Prasarana
Hasil kegiatan layanan sarana dan prasarana meliputi:
a. Pengadaan alat laboratorium
Alat laboratorium yang diadakan di tahun 2019, antara lain:
67
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 3.11 Pengadaan Alat Laboratorium
B2P2TOOT Tahun 2019
No Nama Alat Jumlah Satuan Peruntukan
1 Spektrofotometer 1 Unit Laboratorium
Instrumen
2 Kamera Mikroskop stereo 1 Unit Laboratorium
Sistematikan
Tumbuhan
3 Organ Bath Systems 1 Unit Laboratorium
4 Metabolic cages for small rodents 1 Unit Farmakologi
5 Animal Restainer For small rodents 2 Unit
Broom style 30 mm
6 Animal Restainer For small rodents 2 Unit
Broom style 65 mm
7 Animal restainer for small rodents Flat 2 Unit
Bottom Restrainer 40 mm
8 Animal restainer for small rodents Flat 2 Unit
Bottom Restrainer 72 mm
b. Renovasi Gedung Laboratorium
Renovasi gedung laboratorium dilakukan yang semula hanya satu lantai dibuat dua
lantai. Peruntukan gedung akan digunakan untuk laboratorium manajemen data,
penyimpanan arsip, yang dilengkapi dengan musola, kantin dan koperasi.
Analisis kegiatan yang menunjang keberhasilan/kegagalan
1. Ajuan speksifikasi alat laboratorium dari pengguna telah dibahas tahun 2018
2. Rencana renovasi laboratorium sudah dibahas tahun 2018 seperti rencana
anggaran biaya
Kendala yang dihadapi
1. Belum familiar dengan LPSE 4.3
2. Perubahan Rencana Umum Pengadaan
3. Musim hujan yang menganggu kecepatan pelaksanaan renovasi laboratorium
Tindak lanjut mengatasi kendala
1. Melakukan workshop dan mengundang narasumber terkait penggunaan LPSE
2. Melakukan revisi RUP sesuai dengan perubahan terupdate dari pentunjuk
operasional kegiatan
3. Renovasi gedung laboratorium diprioritaskan untuk lingkup kegiatan yang
berhubungan dengan cuaca, seperti rehab dinding luar, pengecoran atap dan
68
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
pemasangan atap. Untuk kegiatan interior bisa dilaksanakan walaupun hujan
turun.
6. Layanan dukungan managemen
Kegiatan dukungan managemen seperti:
a. Layanan perencanaan dan anggaran
Kegiatan terkait perencanaan dan anggaran seperti:
1. Pada pelaksanaan anggaran tahun 2019.
Kegiatan 2019 disusun mulai 2018 sehingga dalam pelaksanaannya ada
beberapa perubahan yang perlu direvisi seperti:
i. Revisi rencana penarikan dana setiap triwulan.
ii. Revisi pergeseran antar komponen didalam ouput yang sama
dikarenakan adanya perubahan metode Penelitian, konfirmasi
lapangan pada kegiatan penyusunan rekomendasi kebijakan,
pergeseran pada Riset Fasilitas Kesehatan yang semula
mengalokasikan anggaran untuk penyusunan laporan hanya untuk
1 laporan kegiatan namun perlu ditambahkan laporan Rifaskes
tentang Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
iii. Revisi pengalokasian gaji 14 yang semula belum ada
2. Menyusun rencana kegiatan tahun 2020
Kegiatan 2020 sudah mulai disusun dari tahun 2019, seperti:
i. Pengusulan Stándar Biaya Masukan Tahun 2020. Usulan, rasio
antara uang harian dengan uang penginapan tidak sama antar satu
provinsi dengan provinsi lain, sehingga diusulkan rasionya sama.
Logikanya besaran uang harian mengikuti uang penginapan.
ii. Penyusunan anggaran pada aplikasi e_renggar, dalam pengisian
ini, B2P2TOOT memasukan data ke Puslitbang Sumber Daya dan
Pelayanan Kesehatan sebagai pengampu.
iii. Pembahasan kebijakan perencanaan dan pengganggaran Badan
Litbangkes 2020
iv. Pembahasan pagu anggaran dengan Badan Litbangkes yang
dilaksanakan tanggal 8-10 Mei 2019.
v. Penyusunan pagu anggaran, dimulai dengan penyusunan catatan
hasil desk satker tanggal 5 Juli 2019, penyusunan catatan hasil
69
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
desk dengan Badan Litbangkes tanggal 15-17 Juli 2019,
penyusunan catatan hasil penelitian dengan Biro Perencanaan dan
Anggaran, dan catatan hasil evaluasi dari APIP tanggal 22-27 Juli
2019.
vi. Penyusunan pagu alokasi anggaran, dimulai dengan penyusunan
catatan hasil desk satker tanggal 16 September 2019, penyusunan
catatan hasil desk dengan Badan Litbangkes tanggal 23-26
September 2019, penyusunan catatan hasil penelitian dengan Biro
Perencanaan dan Anggaran, dan catatan hasil evaluasi dari APIP
tanggal 30 September – 5 Oktober 2019.
vii. Penyerahan DIPA tahun 2020 oleh Menteri Kesehatan kepada
Eselon I pada tanggal 18 November 2019
viii. Bimbingan teknis pelaksanaan anggaran tanggal 2-4 Desember
2019
ix. Reviu DIPA Tahun 2020 sebagai tindak lanjut dari arahan Menteri
Kesehatan pada Penyerahan DIPA 2020. Reviu dilaksanakan
tanggal 26-28 Desember 2019.
3. Menyusun rencana aksi kegiatan B2P2TOOT Tahun 2020-2024
i. Penyusunan roadmap penelitian tanggal 14-16 Oktober 2019
ii. Rapat kerja penyusunan roadmap penelitian
iii. Penyusunan Rencana Aksi Kegiatan tanggal 7-9 November 2019
4. Penyusunan Rencana Strategi Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024
i. Pendalaman logframe Rencana Strategis Program Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan tanggal 6 Februari 2019
ii. Usulan Rencana Strategis Kemenkes dari B2P2TOO
iii. Pembahasan roadmap judul, tujuan dan lokus penelitian 2020-2024
tanggal 25 Oktober 2019
iv. Pembahasan usulan Rencana Strategis Badan Litbangkes tanggal
4-6 November 2019
b. Layanan monitoring dan evaluasi
Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan :
1. Monitoring pelaksanaan penelitian dilakukan bersama-sama dengan seksi
pelayanan penelitian.
70
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
2. Monitoring dan evaluasi pencapaian IKK
3. Monitoring dan evaluasi realisasi anggaran
c. Pengelolaan kerjasama
1. Pokja TOOT, merupakan Kelompok Kerja Tanaman Obat dan Obat
Tradisional (POkja TOOT) sebagai wadah komunikasi dalam pelaksanaan
Litbang TOOT atas rekomnedasi Kepala Badan Litbangkes.
Tabel 3.12 Kegiatan Kelompok Kerja Tanaman Obat dan Obat
Tradisional, B2P2TOOT Tahun 2019
No Kegiatan Waktu dan Tempat
1 Koordinasi Pokja TOOT dan persiapan pra B2P2TOOT, Tawangmangu, 6-8
seminar Februari
2 Seminar TOI Fakultas Farmasi Universitas Andalas,
TO tema: Nilam (Pogostemon cablin) dan Padang, 4-5 April
jeruk-jerukan (Citrus sp.)
3 Koordinasi Pokja TOOT dan persiapan pra B2P2TOOT, Tawangmangu, 5-7
seminar Agustus
4 Seminar TOI Fakultas Farmasi Universitas
TO tema: Daun afrika (Vernonia amygdalina) Muhammdiyah Dr. Hamka, Jakarta, 9-
dan binahong (Anredera cordifolia) 11 Oktober
2. Perjanjian Kerja Sama
Dalam rangka meningkatkan kemampuan pencapaian output kegiatan
penelitian dan pengembangan serta membangun jejaring litbang tanaman
obat-obat tradisional, B2P2TOOT menginisiasi dan mengimplementasi
perjanjian kerja sama dengan stakeholder terkait, misalnya perguruan
tinggi dan industri. Pada tahun 2019, B2P2TOOT berhasil melahirkan
empat (4) perjanjian kerja sama sebagai berikut:
Tabel 3.13. Penandatanganan Perjanjian Kerjasama
B2P2TOOT Tahun 2019
No Instansi Mitra Tempat, Tema Jangka
Tanggal (Tahun)
1 PT Sinde Budi Jakarta, 18 Pelaksanaan uji coba formula jamu 3
3
Sentosa Februari 2019 saintifik dalam produksi skala pilot 3
2 Dinas Kesehatan, Madiun, 22 Penelitian dan pengembangan 3
Kota Madiun Oktober 2019 tanaman obat dan jamu 71
3 Pusat Sains dan Bandung, 30 Pengembangan metode uji praklinik
Teknologi Nuklir Oktober 2019 herbal antikanker
Terapan, BATAN
5 Dinas Pariwisata Yogyakarta, 16 Pengembanagan zona edukasi
Kota Yogyakarta Desember 2019 tanaman obat untuk
penyebarluasan informasi hasil
penelitian dan pengembangan
tanaman obat dan jamu di taman
pintar Yogyakarta
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Selain kerja sama yang perjanjiannya ditandatangani pada tahun 2019,
sejumlah perjanjian kerja sama lainnya ditandatangani sebelum tahun
2019 dan masih aktif hingga 2019 atau pasca 2019. Status perjanjian yang
masih aktif hingga 2019 ditampilkan dalam tabulasi dibawah;
Tabel 3.14. Perjanjian Kerja Sama yang masih aktif
B2P2TOOT tahun 2019
No Jangka Mitra KS Lingkup KS
waktu
1 2016 - 2019 Fakultas Farmasi Penelitian dan Praktik Kerja
Universitas Indonesia Lapangan (PKL) Mahasiswa Program
Studi Magister Herbal
2 2017 - 2020 PT. Martina Berto, Tbk Saintifikasi Jamu
3 2017 - 2020 Pusat Penelitian Kimia LIPI Penelitian dan pengembangan daun
Johar sebagai obat antimalaria
4 2017 - 2020 Lembaga Penelitian dan Penelitian dan pengembangan daun
Inovasi UNAIR Johar sebagai obat antimalaria
5 2017 - 2020 Universitas
Muhammadiyah
Purwokerto Saintifikasi Jamu
6 2018 - 2021 Fakultas Farmasi UGM Penelitian dan pengembangan
formula jamu
Selain kerja sama yang perjanjiannya telah ditandatangani pada tahun
2019 atau tahun sebelumnya, kerja sama yang masih dalam tahap inisiasi
juga dilakukan pada tahun 2019. Daftar institusi mitra yang menginisiasi
kerja sama dengan B2P2TOOT pada tahun 2019 tercantum dalam tabulasi
dibawah:
Tabel 3.15. Intitusi kandidat mitra yang menginisiasi kerja sama
B2P2TOOT tahun 2019
No Institusi Mitra Lingkup
1 Balai Besar Konservasi Sumber Penguatan fungsi KSA/KPA melalui
eksplorasi dan inventarisasi TO di CA
Daya Alam Jawa Timur Gunung Sigogor, CA Gunung Picis, CA
Manggis Gadungan, CA Besowo dan CA
2 Fakultas Sains dan Teknologi, Gadungan
Institut Sains dan Teknologi Al Produksi dan uji sediaan tablet nano partikel
Kamal ramuan jamu saintifik untuk hiperlipidemia
3 PT Konimex Pengembangan fitofarmaka berbasis ramuan
jamu saintifik
72
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
d. Kegiatan kebun tanaman obat dalam rangka penyiapan bahan penelitian
1. Adaptasi dan pelestarian tanaman obat
2. Pembibitan, melakukan penyediaan bibit untuk lahan produksi, permintaan
instansi lain maupun masyarakat (disetor ke PNBP), bahan Penelitian
3. Melakukan perawatan tanaman pot
4. Melakukan kegiatan peremajaan tanaman dalam pot dan tanaman
narkotika
5. Melakukan penyiangan dilokasi pembibitan dan tanaman dalam pot
6. Melakukan kegiatan perbanyakan tanaman yang didapat dari hasil
eksplorasi
7. Budidaya tanaman obat untuk jamu, aromatik garden,
8. Produksi minyak atsiri
9. Peremajaan tanaman pot di Etalase Tanaman Obat
10. Budidaya tanaman obat bahan jamu di Kebun Rumah Riset Jamu
11. Instalasi pascapanen melakukan penanganan hasil panen tanaman obat
meliputi pencucian, sortasi, pengubahan bentuk, pengeringan,
pengemasan dan penyimpanan. Selain itu, instalasi pascapanen juga
melakukan pengolahan bahan jamu untuk memenuhi kebutuhan program
Saintifikasi Jamu
e. Pemeliharaan gedung dan bangunan
1. Pengecatan jalan etalase
2. Pengecatan aksesoris kolam di Etalase Tanaman Obat
3. Memperbaiki kolam di etalase tanaman obat
4. Pembuatan taman di gedung diklat
Gambar 3.3. Taman Gedung Ilmu Pengetahun dan Teknologi
B2P2TOOT, 2019
73
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
f. Kajian, pengembangan metoda, model teknologi. Kajian yang dilakukan berupa
kajian análisis laju pengeringan bunga kamilen terhadap karateristik simplisia
dengan berbagai metode pengeringan
g. Laboratorium.
Beberapa kegiatan dilaboratorium sebagai berikut:
1. Laboratorium pasca panen:
Fasilitasi penelitian, meliputi;
i. Pembuatan simplisia dan perlakuan penyimpanan dalam kegiatan
penelitian Perkiraan Umur Simpan Simplisia Jenis Curcuma,
Zingiberaceae, Kaempferia, dan Alpinia dengan metode ASLT
(Accelerate Shelf Life Test) Model Arhenius (Muhammad Suryana).
ii. Pembuatan simplisia untuk kegiatan penelitian Studi Klinik Formula
Jamu Rhinitis Alergi Dibanding Loratadin (Fajar Novianto).
iii. Pembuatan simplisia untuk kegiatan penelitian Observasi Klinis
Khasiat dan Keamanan Ekstrak Ramuan Penurun Gula Darah
Pada Subjek Hiperglikemia (Ulfa Fitriani).
iv. Pembuatan simplisia untuk kegiatan penelitian Observasi Klinis
Penderita Osteoartritis dengan Kapsul Ekstrak Jamu Osteoartritis di
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan
Obat Tradisional (Danang Ardiyanto).
2. Laboratorium Sistematika Tumbuhan
Kegiatan meliputi:
i. Penggantian larutan spesimen herbarium basah
ii. Inventarisasi tanaman obat
iii. Identifikasi tumbuhan obat
iv. Optimasi jenis larutan pengawet spesimen basah
v. Fasilitasi penelitian:
1. Pengamatan mikroskopis daun kratom dalam rangka Kajian
Kratom (Mitragyna speciosa)
2. Pengamatan mikroskopis bagian TO Jamu Saintifik dalam
rangka Atlas TO Jamu Saintifik
74
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
3. Identifikasi jenis-jenis dalam rangka Screening anti kanker
3. Laboratorium budidaya
Beberapa kegiatan meliputi:
i. Pengkoleksian tanaman obat
ii. Fasilitasi penelitian:
1. Pengaruh konsentrasi ZPT alami bawang merah dan waktu
perendaman terhadap pertumbuhan iler.
2. Pengaruh lama dan wadah penyimpanan terhadap daya
tumbuh biji silibum (Sylibum marianum).
3. Studi adaptasi kratom (Mitargyna speciose Korth) di
B2P2TOOT.
4. Laboratorium pengendalian hama dan penyakit tanaman
Beberapa kegiatan meliputi:
i. Monitoring serangan organisme pengganggu tanaman obat dan
pengendaliannya
ii. Pengamatan fluktuasi hama TO koleksi dengan masa tanam 1
musim tanam
iii. Inventarisasi hama
iv. Peremajaan agensia hayati
v. Fasilitasi penelitian:
1. Rearing ulat daun ungu
2. Observasi hama tanaman Iler
3. Observasi hama tanaman Johar
5. Laboratorium galenika
Beberapa kegiatan meliputi:
i. Penyediaan sediaan galenika
ii. Kontrol kualitas sampel penelitian
iii. Evaluasi instruksi kerja (IK)
iv. Koleksi ekstrak dan minyak atsiri
v. Uji stabilitas koleksi ekstrak
vi. Penataan ulang koleksi ekstrak
vii. Fasilitasi penelitian:
75
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
1. Pengaruh metode pengadukan terhadap rendemen, profil
dan kadar senyawa penanda dengan menggunakan metode
ekstraksi maserasi.
2. Pengaruh jenis pelarut terhadap rendemen dan profil
senyawa pada metode isolasi minyak atsiri dengan
ekstraksi non polar
3. Profiling senyawa fitokimia dan penelitian praklinik dengan
sampel daun kratom (Mitragyna speciosa),
6. Laboratorium fitokimia
Beberapa kegiatan meliputi:
i. Kontrol kualitas bahan jamu
ii. Penetapan kadar asiatikosid
iii. Penetapan kadar sinensetin
iv. Penetapan kadar kurkuminoid
v. Penetapan kadar flavonoid total
vi. Fasilitasi penelitian:
1. Masa simpan simplisia
2. Optimasi kontrol kualitas
3. Anti kanker
4. Anti malaria
5. Anti diabetes
6. Standarisasi iler
7. Laboratorium mikrobiologi
Beberapa kegiatan meliputi:
i. Evaluasi SOP, instruksi kerja dan metode uji
ii. Uji kontrol kualitas bahan penelitian
iii. Inokulasi koleksi mikrobia
iv. Fasilitasi penelitian:
1. Anti mikroba akar kelembak terhadap Candida Albicans
2. Uji zona hambat kunyit (Curcuma longa) pada pertumbuhan
bakteri Escherichia coli
3. KLT bioautografi kratom terhadap Staphylococcus aureus
76
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
8. Laboratorium kultur jaringan tanaman
Beberapa kegiatan meliputi:
i. Penyusunan modul pelatihan Kultur Jaringan Tanaman
ii. Pembuatan pupuk
iii. Studi banding kultur cair
iv. Penyusunan standard operating procedure pembuatan media,
penanaman, sterilisasi
v. Fasilitasi penelitian:
1. Metode baru aplikasi zat pengatur tumbuh pada eksplan
2. Pembentukan akar pulosari
3. Subkultur pulepandak
4. Pembentukan tunas daun duduk
5. Kultur cair pulosari
6. Synthetic seed
9. Laboratorium Herbarium Tawangmanguensis
Beberapa kegiatan meliputi:
i. Pembersihan dan pengepresan sampel
ii. Pengeringan sampel
iii. Mounting sampel
iv. Penulisan data
v. Sterilisasi sampel
vi. Perawatan dan remounting
10. Laboratorium biomolekuler
11. Laboratorium farmakologi dan toksikologi
12. Rumah Riset Jamu
h. Bimbingan teknis
Bimbingan teknis ada 3 di B2P2TOOT, yakni; bimbingan teknis magang,
pemanfaatan tanaman obat, dan budidaya dan pasca panen tanaman obat.
Kegiatan bimbingan teknis magang terlihat pada tabulasi dibawah:
77
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 3.16. Waktu, Instansi dan Peserta Bimbingan Teknis Magang
B2P2TOOT Tahun 2019
No Waktu Pelaksanaan Instansi Peserta Jumlah
Peserta
1 3 Januari – 28 Februari Fakultas Pertanian Universitas Tidar
1
2 3 – 31 Januari Aakadmi Analis Farmasi dan Makanan 5
Sunan Giri Ponorogo 4
2
3 21 Januari – 27 Februari Fakultas Biologi Universitas Riau
1
4 24 Januari – 26 April Indonesia International Institute for Life
1
Sciences
5
5 21 Januari – 28 Februari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal
2
Soedirman
4
6 21 Januari – 21 Februari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas
4
Widya Dharma 3
7 14 Januari – 9 Februari Fakultas Kedokteran Universitas 15
5
Muhammdiyah Purwokerto
15
8 7 Januari – 15 Februari Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan 2
4
Alam Universitas Negeri Sebelas Maret 4
4
9 1 Februari – 29 Maret Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi ‘Yayasan 3
5
Pharmasi”
7
10 25 Februari – 25 April Politeknik Negeri Jember
4
11 18 Februari – 15 Maret Fakultas Kedokteran Universitas 5
Muhammdiyah Purwokerto 5
12 11 Maret – 29 Maret Diplomasi III Jamu Poltekkes Surakarta 4
13 25 Maret – 27 April Fakultas Kedokteran Universitas 2
Muhammdiyah Purwokerto 3
2
14 1 – 18 April Diploma III Jamu Poltekkes Surakarta 15
15 April Fakultas Biologi UGM 78
16 1 – 30 April Diploma Farmasi Universitas Setia Budi
17 2 – 31 Mei Diploma Farmasi Poltekkes Bhakti Mulia
18 6 – 17 Mei Diploma Anafarma Poltekkes Surakarta
19 17 Juni – 28 Agustus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
20 1 – 26 Juli Diploma Farmasi Politeknik Indonusa
Surakarta
21 3 Juli – 2 Agustus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya
22 18 Juli – 7 Agustus Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada
23 5 Juli – 9 Agustus Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammdiyah Purwokerto
24 19 Agustus – 21 Fakultas Kedokteran Universitas
September Muhammdiyah Purwokerto
25 2 September – 4 Oktober Fakultas Fakultas Matematika Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Tadulako
26 16 September – 15 Fakultas Peternakan dan Pertanian
november Universitas Diponegoro
27 1 Oktober – 30 Desember Politeknik Negeri Jember
28 1 Oktober – 31 Desember Fakultas Pertanian Universitas Jember
29 7 – 25 Oktober Diploma III Jamu Poltekkes Surakarta
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
No Waktu Pelaksanaan Instansi Peserta Jumlah
Peserta
30 28 Oktober – 15 Diploma III Jamu Poltekkes Surakarta 15
November
31 4 – 25 November Diploma III Jamu Poltekkes Surakarta 8
32 3 Januari – 30 April Agribisnis Sekolah Menengah Kejuruan 5
Negeri 1 Trucuk
33 1 Maret – 27 Mei Pertanian Sekolah Menengah Kejuruan 2
Negeri 1 Kedawung
34 24 Juni – 23 Agustus Kimia Industri Sekolah Menengah Kejuruan 4
Negeri 1 Trucuk
35 24 Juni – 23 Agustus Kimia Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 4
Mojosongo
36 1 Juli – 30 Agustus Pertanian Sekolah Menengah Kejuruan 5
Negeri 1 Trucuk
37 19 Desember 2019 – 18 Agribisnis Sekolah Menengah Kejuruan 5
Februari 2020 Negeri 1 Mojosongo
Sebanyak 37 instansi telah melakukan magang selama 2019 dengan peserta
berjumlah 184 orang. Bimbing teknis lain berupa pemanfaatan tanaman obat dapat
dilihat pada tabulasi dibawah:
Tabel 3.17. Waktu, Instansi dan Peserta Bimbingan Pemanfaatan Tanaman
Obat, B2P2TOOT Tahun 2019
No Waktu Pelaksanaan Instansi Peserta Jumlah
Peserta
1 14 – 15 Mei Dinas Pengendalian Pendudukan Keluarga
Berencana Perlindungan Perempuan 10
Pemberdayaan Aanak Sragen
2 26 - 27 Juni PPA IO-574 Immanuel Semarang 5
3 27 Juni Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian 20
Sebanyak 3 instansi telah melakukan bimbingan teknis pemanfaatan tanaman
obat selama 2019 dengan peserta berjumlah 35 orang. Bimbing teknis lain berupa
budidaya dan pascapanen dapat dilihat pada tabulasi dibawah:
79
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 3.18. Waktu, Instansi dan Peserta Bimbingan Budidaya dan
Pascapanen Tanaman Obat, B2P2TOOT Tahun 2019
No Waktu Pelaksanaan Instansi Peserta Jumlah
Peserta
1 14 – 15 Mei Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga 10
Berencana Pemberdayaan Perempuan
Perlindungan Anak Sragen
2 26 - 27 Juni PPA IO-574 Immanuel Semarang 5
3 21 - 22 Oktober Unit Pelaksana Teknis Lab Herbal Materia 6
Medica
4 12 - 14 November Politekni Pembangunan Pertanian 5
Yogyakarta - Magelang
5 19 - 21 November Politekni Pembangunan Pertanian 5
Yogyakarta - Magelang
Sebanyak 5 instansi telah melakukan bimbingan teknis pemanfaatan tanaman
obat selama 2019 dengan peserta berjumlah 31 orang
i. Inventarisasi sarana dan prasarana litbangkes
Inventarisasi dilakukan untuk mengetahui nama alat, tahun pengadaan dan
penanggungjawab, serta menilai apakah alat laboratorium yang ada di masih
dalam kondisi baik, rusak ringan, rusak berat.
j. Pemeliharaan sarana dan prasarana
Pemeliharaan yang berkelanjutan sarana dan prasarana baik di laboratorium
maupun kebun sangat diperlukan untuk menjamin kondisi sarana / alat dalam
kondisi selalu siap (ready) digunakan sewaktu-waktu dan data yang dihasilkan bisa
presisi. Pemeliharaan dilakukan dengan:
1. Kalibrasi. Kalibrasi internal yang dilakukan setiap minggu dan kalibrasi
eksteranl yang dilakukan 1 tahun sekali.
2. Perbaikan alat laboratorium dilakukan dengan servis dan penggantian
spare part.
3. Perbaikan peralatan kebun
k. Pengadaan bahan laboratorium, laboratorium ware, bahan operasional kebun dan
peralatan kebun. Kegiatan meliputi:
1. Pengadaan bahan laboratory ware Laboratorium Galenika, Formulasi, dan
Fitokimia pada kegiatan manajemen laboratorium
2. Pengadaan bahan konsumsi operasional kebun pada kegiatan
manajemen kebun tanaman obat
80
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
3. Pengadaan Peralatan kebun pada kegiatan manajemen kebun tanaman
obat
4. Pengadaan bahan operasional kebun pada kegiatan manajemen kebun
tanaman obat
5. Pengadaan bahan laboratorium Formulasi, Pascapanen, Sistematika
Tumbuhan, dan Kultur Jaringan Tanaman
6. Pengadaan bahan laboratorium Mikrobiologi, Galenika, dan Hama
Penyakit Tanaman
7. Pengadaan Barang Non Ragen untuk kegiatan penelitian
8. Pengadaan Bahan Reagen Penelitian
9. Pemeliharaan Irigasi Kebun Doplang dan Tlogodlingo
l. Kegiatan manajemen ilmiah dan etik
Kegiatan terkait manajemen ilmiah dan etik yang dilakukan meliputi:
1. Pendampingan penyusunan proposal 2020
2. Sosialisasi dan pelaporan penelitian studi klinik formula jamu rhinitis alergi
dibanding loratadin
3. Autentifikasi Tumbuhan Obat Hasil Riset Tumbuhan Obat dan Jamu
(Ristoja)
4. Rapat Koordinasi Satuan Tugas Percepatan Pengembangan dan
Pemanfaatan Fitofarmaka Bidang Uji Praklinik dan Uji Klinik
5. Pertemuan Pembahasan Roadmap Penelitian dan Pengembangan
B2P2TOOT
6. Penyusunan Database Hasil Riset Tumbuhan Obat dan Jamu
m. Kegiatan saintifkasi jamu
Kegiatan saintifkasi jamu yang dilakukan meliputi:
1. Kegiatan evaluasi Pelatihan Saintifikasi Jamu, yang menhasilkan
kesepakatan bahwa perlu dibahas kembali bentuk dari penambahan
pengetahuan bagi dokter/apoteker mengenai Saintifikasi Jamu, tidak lagi
berbentuk pelatihan karena tugas dan fungsi B2P2TOOT yang tidak
mencakup pelatihan. Sedangkan untuk jejaring dokter/apoteker peneliti
Saintifikasi Jamu, tetap dilakukan workshop dengan topik khusus penelitian
yang akan dilaksanakan.
81
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
2. Eksplorasi tanaman Bajakah di Kalimantan Tengah. Informasi tentang hasil
penelitian bajakah tunggal yang dilakukan oleh siswa SMAN 2
Palangkaraya tersebut sudah memadai khususnya untuk taraf peneliti
pemula/remaja. Sampel tanaman Bajakah yang diperoleh berasal dari
hutan (ditunjukkan oleh informan setempat) dan pasar Kahayan (tanaman
yang diklaim sebagai bajakah tunggal).
3. Pembinaan petani tanaman obat. Beberapa jenis tanaman obat yang
sudah tidak lagi dibutuhkan untuk penelitian di B2P2TOOT, salah satunya
adalah tanaman iler, sehingga Lab Pascapanen tidak lagi menerima
setoran tanaman tersebut.
n. Sertifikasi dan akreditasi pelayanan Penelitian
Kegiatan meliputi:
1. Sistem manajemen mutu ISO 9001: 2015.
Sistem manajemen mutu ISO 9001: 2015 di Rumah Riset Jamu Hortus
masih diterapkan di Tahun 2019 . Hal ini dilakukan sebagai komitmen
B2P2TOOT menjaga pelayanan prima dalam kegiatan di RRJ “Hortus
Medicus”. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Rapat Tinjauan
Managemen dilakukan 2 kali yaitu pada tanggal 29 April dan 25 Juli 2019,
Kegiatan uadit internal dilakukan pada tanggal 16 Juli 2019 sedangkan
audit eksternal didampingi dan dilakukan oleh BSI Grup Indonesia tanggal
29 Juli 2019.
2. Akreditasi prana Penelitian dan Pengembangan
Kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka perolehan Akreditasi
Manajemen Litbang meliputi perbaikan, pengumpulan dan pertemuan
pembahasan terkait dokumen SOP internal lembaga melibatkan seluruh
penanggung jawab kegiatan. Dokumen yang diperbaiki dan dikumpulkan
meliputi dokumen SOP-AP dan Instruksi Kerja (IK). Ruang lingkup
kegiatan B2P2TOOT sebagai Pranata Litbang yang cukup luas
membutuhkan waktu yang lama untuk penyiapan dokumen-dokumennya.
Untuk itu telah dilakukan pertemuan untuk menyamakan pemahaman
mengenai pentingnya penguatan sistem kelembagaan.
82
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Pertemuan tersebut telah dilaksanakan pada tanggal 8-10 Desember 2019,
dengan mengundang narasumber pendamping dari Sub Bagian Organisasi
dan Tata Laksana Sekretariat Badan Litbang Kesehatan
o. Pusat Unggulan Iptek Saintifikasi Jamu
Pada tahun 2019, B2P2TOOT telah ditetapkan dalam pembinaan
Lembaga PUI oleh Kemenristek. Strategi penguatan lembaga PUI ditekankan
pada penguatan SDM dengan mendukung SDM yang tugas belajar untuk jenjang
Pendidikan S3, serta memberikan pelatihan-pelatihan teknis lainnya, penguatan
manajemen lembaga dengan target memperoleh akreditasi KNAPPP dan
penguatan sarana prasarana penelitian dengan fokus anggaran untuk riset yang
memadai.
Penguatan kapasitas dan kapabilitas riset dilakukan dengan menjalin
kolaborasi riset untuk menghasilkan riset yang bermanfaat, bermutu dan berdaya
saing. Diseminasi hasil riset didorong dengan indikator publikasi jurnal ilmiah di
jurnal terakreditasi nasional dan internasional, komersialisasi paten dan jumlah
kebijakan (policy option) yang dimanfaatkan oleh para stakeholder. Produk
unggulan yang dihasilkan oleh pusat unggulan saintifikasi jamu adalah jamu
saintifik, yaitu jamu yang telah teruji secara ilmiah yang aman, bermutu dan
bermanfaat khususnya untuk penyakit tidak menular.
Kegiatan-kegiatan yang telah terlaksana dalam rangka mendukung
tercapainya output dari strategi di atas adalah monitoring dan evaluasi SOP dan
Instruksi Kerja, peningkatan kapasitas SDM dalam penguasaan bahasa asing,
diseminasi hasil litbang dalam bentuk pameran dan seminar ilmiah, pendaftaran
hak cipta serta berbagai kegiatan lainnya.
Analisis kegiatan yang menunjang keberhasilan/kegagalan
1. Rapat rutin struktural tiap bulan, untuk memaparkan capaian kegiatan, realisasi
target maupun anggaran serta upaya pemecahannya
2. Penggunaan teknologi informasi
Kendala yang dihadapi
1. Kegiatan Autentifikasi Tumbuhan Obat Hasil Ristoja telah direncanakan
sebanyak 5 kali kegiatan, akan tetapi hingga akhir kegiatan ke-5, sampel
tumbuhan obat yang teridentifikasi masih belum mencapai 100%.
83
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
2. Rapat koordinasi Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan
Fitofarmaka semula akan diselenggarakan di Solo, akan tetapi ada kendala
mengenai jumlah kehadiran peserta.
3. Penyusunan Database Ristoja tidak dapat dilakukan oleh B2P2TOOT sendiri,
perlu dilakukan kolaborasi dan koordinasi dengan Tim Manajemen Data Badan
Litbang Kesehatan secara intensif dan koordinasi dengan Pusat Data dan
Informasi Kemenkes juga perlu dilakukan untuk mendapatkan dukungan
server dan bantuan teknis lainnya.
b. Tindak lanjut mengatasi kendala
1. Kegiatan Autentifikasi Tumbuhan Obat Hasil Ristoja telah 5 kali kegiatan
namun belum mencapai 100%, maka dilakukan kegiatan ke-6, dengan
menggunakan sisa anggarannya yang masih tersedia.
2. Rapat koordinasi Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan
Fitofarmaka yang terkendala mengenai jumlah kehadiran peserta, maka lokasi
kegiatan dialihkan ke Jakarta
3. Penyusunan Database Ristoja yang perlu dikolaborasikan dan dikoordinasikan
dengan Tim Manajemen Data Badan Litbang Kesehatan dan Pusat Data dan
Informasi Kemenkes maka kegiatan dilaksanakan di Jakarta.
6. Layanan perkantoran
Kegiatan yang dilakukan berupa:
1. Pembayaran gaji termasuk gaji ke 13 dan 14
2. Bersama-sama dengan Sekretariat Badan Litbangkes melaksanakan
pembayaran tunjangan kinerja
3. Kegiatan pengadaan keperluan sehari-hari kantor
4. Pengadaan satuan pengaman/ cleaning service, sopir, pramubakti
5. Pembayaran langganan daya dan jasa
6. Pembayaran pos dan giro
7. Pengadaan sewa kendaraan berupa Expander
8. Pemeliharaan gedung dan bangunan
9. Pemeliharaan instalasi jaringan
10. Perbaikan/pemeliharaan sarana kantor
11. Pemeliharaan kendaaran bermotor
84
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
12. Honor operasional satuan kerja
13. Pembayaran penambah daya tahan tubuh
14. Operasional pimpinan
15. Pengadaan pakaian dinas, toga dan pakaian kerja
16. Kunjungan kerja
17. Pelaksanaan manajemen laboratorium
18. Pelaksanaan manajemen kebun tanaman obat
Analisis kegiatan yang menunjang keberhasilan/kegagalan
1. Adanya mekanisme revisi
Kendala yang dihadapi tahun 2019
1. Belum terincinya pembayaran gaji ke 14
2. Biaya pemeliharaan kendaraan bermotor dari biaya sewa belum teralokasikan
Tindak lanjut mengatasi kendala Tahun 2019
1. Dilakukan revisi dengan merealokasi anggaran gaji kedalam gaji ke 14
2. Revisi pengalokasian biaya pemeliharaan kendaraan bermotor dengan
mengurangi biaya pembayaran langganan daya dan jasa
B. Realisasi Anggaran
Tahun 2019 tidak ada efisiensi anggaran sehingga pagu anggaran tetap. Realisasi
anggaran sebesar Rp. 47.157.948.129,00 dari pagu Rp. 52.181.144.000,00 atau sebesar
90,34%. Besaran capaian realisasi anggaran dikaitkan dengan target Kinerja Kegiatan dapat
terlihat pada tabel berikut:
Tabel 3.19. Realisasi Anggaran Berdasarkan Indikator Kinerja Kegiatan
B2P2TOOT, Tahun 2019
Indikator Pagu Realisasi
Target Anggaran Capaian Anggaran
Rekomendasi Kebijakan yang dihasilkan 2 Rp. 511.635.000 3 Rp. 474.496.021
dari penelitian dan pengembangan di
Bidang Tanaman Obat Dan Obat 24 Rp. 3.083.533.000 30 Rp. 2.764.815.487
Tradisional 9 Rp. 2.949.100.000 9 Rp. 2.560.055.157
Publikasi informasi di bidang tanaman obat 85
dan obat tradisonal
Hasil Penelitian dan pengembangan di
bidang tanaman obat dan obat tradisional
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Laporan Riset Kesehatan Nasional 1 Rp. 16.852.404.000 1 Rp. 14.408.415.557
(Riskesnas) Wilayah IV
Layanan sarana dan prasarana internal 1 Rp. 2.432.470.000 1 Rp. 2.224.290.740
Layanan dukungan manajemen satker 1 Rp. 9.048.411.000 1 Rp. 8.378.527.610
Layanan perkantoran 1 Rp. 17.303.591.000 1 Rp. 16.347.347.557
Rp. 47.157.948.000
Total Rp. 52.181.144.000
(90,37%)
Sedangkan realisasi per jenis belanja terlihat pada tabulasi dibawah ini.
Tabel 3.20. Realisasi Anggaran Berdasarkan Mata Anggaran Kegiatan
B2P2TOOT, Tahun 2019 *
No Jenis belanja Alokasi Realisasi %
1. Belanja pegawai Rp. 6.126.779.000,00 Rp. 6.073.300.663,00 99,91
Rp. 38.634.101.726,00 89,09
2. Belanja barang Rp. 43.366.820.000,00 Rp. 2.450.545.740,00 91,18
Rp. 47.157.948.129,00 90,37
3. Belanja modal Rp. 2.687.545.000,00
Jumlah Rp. 52.181.144.000,00
*) Sumber Omspan 9 Januari 2020
C. Kinerja Lainnya
1. Menerbitkan buku ilmiah populer, yaitu :
a. Buku Sebelas ramuan jamu saintifik pemanfaatan mandiri untuk masyarakat,
penyusun Danang Ardiyanto, dkk
b. Kratom : Prospek kesehatan dan social ekonomi, penyusun Slamet Wahyono
dkk
2. Menerbitkan Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia
Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia berhasil diterbitkan sebanyak dua (2) nomor
pada volume 12 tahun 2019. Sebelum penerbitan jurnal, terlebih dahulu dilaksanakan
workshop pengelolaan jurnal online pada tanggal 1 dan 2 April 2019 di Gedung Iptek
TOJA B2P2TOOT. Dua pemateri yang menjelaskan tentang teknis penggunaan sistem
open journal system kepada para mitra bestari dan dewan penyunting adalah Sutrisno,
M.Kom. dari LIPI dan Happy Candraloka, S.Kom dari Badan Litbang Kesehatan.
Selanjutnya sesuai jadwal yang ditentukan pada bulan Agustus dan Desember
diterbitkan JTOI dengan artikel-artikel sebagai berikut:
86
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Tabel 3.21. Judul Artikel dan Author Pada Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia
Volume 12, B2P2TOOT tahun 2019
No Judul Author
I Volume 12 Nomor 1
1 Antithrombocytopenia activity of peanut shell (Arachis Risha Fillah, Ririn Lispita, Dewi Nisa,
hypogea L.) extract and infusa on heparin induced Pia Annisa, Nilam Eka
BALB/C mice
2 Profil metabolit berbagai ekstrak daun Chrysophyllum Burhan Ma’arif, Agnis Aditama,
cainito L. menggunakan UPLC-QTOF MS/MS Roihatul Mutiah, Weka Sida, Reihan
Amiruddin, Rukiana
3 Karakteristik mutu kapsul ramuan kebugaran untuk Sofa Farida, Tofan Aries, Tyas Friska
saintifikasi jamu
4 The combination infusion of Talinum paniculatum Nuning Rahmawati, Ika Yanti
(Jaqc.) Gaertn., Centella asiatica L. (Urb)., Curcuma
xanthorrhiza L. effect on testosterone levels and
introduction, climbing, and coitus frequencies in male
sprague dawley rats
5 Uji penangkapan radikal 2,2-difenil-1 pikrilhidrazil oleh Tatang Irianti, Hari Purnomo, Purwandi
ekstrak etanol bunga kecombrang (Nicolaia speciosa
(Bl.) (Horan) dan buah talok (Muntingia calabura L.)
II Volume 12 Nomor 2
1 Eksplorasi spesies tumbuhan berkhasiat obat berbasis Saudah, Vera Viena, Ernilasari
pengetahuan lokal di kabupaten Pidie
2 Pengaruh kinetin dan naa terhadap induksi Heru Sudrajad, Nur Rahmawati
Kalus pule pandak (Rauvolfia serpentina (L.) Benth.
Ex. Kurz)
3 Pengaruh wadah, suhu dan waktu simpan terhadap Nurul Husniyati, Rahma Widyastuti,
perkecambahan benih meniran Widyantoro
(Phyllanthus niruri L.)
4 Pengaruh pemanasan, tingkat keasaman (pH) dan Gino Nemesio, Meike Meilan, Isak
konsentrasi garam terhadap stabilitas ekstrak etanol Silamba, Nitia Nilawati, Eka Syartika
kulit kayu akway (Drimys piperita Hook F.)
5 Studi in vitro potensi antioksidan dan aktifitas Risha Fillah, Ririn Lispita, Dewi Nisa,
antidiabetes fraksi etil asetat buah parijoto Pia Annisa, Nilam Eka
(Medinilla speciosa B.)
87
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
3. Menerbitkan majalah populer Warta HortusMed
Majalah HortusMed diterbitkan
dua kali setahun. Pada edisi 1 disajikan
topik utama stunting dengan tokoh yang
ditampilkan adalah Kepala Puslitbang
Upaya Kesehatan Masyarakat,
Balitbangkes. Pada rubrik travel
majalah ini menceritakan tentang
keindahan Kota Bukittinggi, sebuah kota
bersejarah di Sumatera Barat. Warta
HortusMed edisi kedua mengupas
pengembangan fitofarmaka yang saat ini
menjadi fokus B2P2TOOT. Proses
panjang menuju produk fitofarmaka dan
penelitian-penelitian yang sedang
dilakukan B2P2TOOT dijelaskan dalam
majalah edisi dua ini.
4. Pendampinangan penyelesaian tugas akhir
a. Dwi Fajar Sidhiq (Pascasarjana Universitas Sebelas Maret). Judul: Analisis
Kadar Fenol Total Aksesi Tanaman Echinacea purpurea (L) Moench. Pada
Beberapa Ketinggian Tempat di Karanganyar Jawa Tengah Indonesia (proses
pengeringan simplisia)
b. Jundi Faaris Alhazmi (Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada). Judul:
Plectranthus scutellarioides dan Senna Seamea
c. Windy Dyah Mawardy (Fakultas Pertanian Universtias Brawijaya Malang).
Judul: Tumpang sari daun ungu dengan iler dan daun jintan untuk mengurangi
intensitas serangan ulat Doleschalia bisaltide
d. Putri Dwi Kurniawati (Universitas Islam Negeri Surabaya). Judul; uji pestisida
nabati daun pepaya terhadap Paraseissetia nigra pada daun ungu
e. Windy Dyah Mawardy (Fakultas Pertanian Universtias Brawijaya Malang).
Judul: Uji repelensi pada daun ungu menggunakan tanaman repellen
88
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
5. Pengelolaan perpustakaan
Perpusatakaan sebagai salah satu fasilitas di B2P2TOOT melayani 692 pengunjung
selama tahun 2019. Dari jumlah tersebut pengunjung yang melakukan peminjaman
berjumlah 112 orang. Inovasi layanan yang sedang dilakukan pada tahun 2019 adalah
pengadaan pojok baca di Rumah Riset jamu Hortus Medicus. Pojok baca ini akan
difinalisasi tahun 2019 dengan anggaran pemeliharaan gedung dan bangunan yang
dikelola Bagian Tagta Usaha. Sebanyak 70 buku populer seperti buku kesehatan dan
pertanian serta agama tekah diadakan untuk mengisi pojok baca tersebut.
Kendala pengelolaan perpustakaan salah satunya adalah belum tersedianya komputer
yang memadai untuk pengerjaan database dan aplikasi layanan perustakaan.
6. Wisata Kesehatan Jamu
Program wisata kesehatan terutama jamu dimaksudkan meningkatkan minat
masyarakat terhadap pemanfaatan jamu yang aman dan berkhasiat serta pelestarian
tanaman obat, yang dikemas secara edukatif dan reaktif.
Peserta kunjungan wisata ilmiah kesehatan jamu (WIKJ) tahun 2019 tertinggi
pada kategori mahasiswa sebanyak 4.252 orang dan peserta kunjungan paling rendah
pada kategori sekolah dasar (SD) sebanyak 348 orang. Jumlah peserta kunjungan per
bulan tahun 2019 tertinggi pada bulan Oktober sebanyak 1.768 orang. Pemasukan
PNBP terbesar pada bulan tersebut adalah Rp 4.965.000. Total peserta kunjungan
selama satu tahun adalah 10.315 orang dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP)
yang diperoleh dari kegiatan ini sebesar Rp.32.116.000,- Jumlah pengunjung WKJ
tahun 2019 naik 30% dari jumlah pengunjung tahun sebelumnya.
89
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
2000 1768
1800
1600 1487
1400
1200 1184 1123
1000
939 864 655 674
800 715 410
600
400 496
200
0
0
Gambar 3.4. Jumlah Kunjungan Wisata Kesehatan Jamu, Berdasarkan Bulan dan
Tingkat Pendidikan, B2P2TOOT, Tahun 2019
7. Pengelolaan media informasi
Media informasi utama yang dikelola adalah website institusi. Dalam web ini tercantum
beragam informasi mulai dari kegiatan-kegiatan terkini sampai dengan prosedur
beragam layanan yang dilakukan di B2P2TOOT. Terkait dengan pengelolaan web ini,
pada tahun 2019 B2P2TOOT berhasil meraih juara 2 (dua) lomba E Aspirasi untuk
kategori website UPT yang diselenggarakan oleh Pusat Data dan Informasi,
Kemenkes. Aspek-aspek yang dinilai dalam lomba tersebut antara lain:
a. Desain website otomatis menyesuaikan perangkat yang digunakan
b. Fitur pencarian tidak hanya digunakan untuk kategori tertentu
c. Tersedia fitur untuk media cetak dan tombol share ke media sosial
d. Menyediakan peta (site map) yang mudah diakses
e. Menyediakan FAQ bagi pengunjung
f. Tampilaan halaman website sama di berbagai browser
g. Produk dan penjelasan layanan cepat dan mudah ditemukan di menu utama
h. Identitas institusi di header website
i. Performa website minimal grade C
90
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
8. Klinik Saintifikasi Jamu Rumah Riset Jamu Hortus Medicus
Klinik Saintifikasi Jamu Rumah Riset Jamu Hortus Medicus didirikan mengacu pada
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 003 Tahun 2010 tentang Penelitian Berbasis
Pelayanan. Jumlah kunjungan pasien terlihat pada tabulasi dibawah:
Kunjungan Pasien 2019
3500 2935 2627 2304 2660 2153 2150 2956 2537 2819 2910 2565 2540 Pasien Lama
3000 Pasien Baru
2500 Total
2000
1500
1000
500
0
Gambar 3.5 Jumlah Kunjungan Pasien Berdasarkan Bulan
B2P2TOOT Tahun 2019
Luar Jawa Jabar & DKI Jatim Jateng & DIY
Desember 47 231 463 1799
November 54 199 421 1891
76 290 513 2031
Oktober 80 267 495 1977
September 99 210
499 1729
Agustus 107 288 1864
Juli 697
Juni 96 246
Mei 613 1195
105 286 536 1226
April 193 376
Maret 656 1435
Februari 125 351 1130
Januari 698
158 395 1278
796 1435
192 485
823
Gambar 3.6. Jumlah Kunjungan Pasien Berdasarkan Domisili dan Bulan
B2P2TOOT Tahun 2019
91
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
8000 7570
7000
6000 3432 3587 3125
5000
4000 2170 1466 1360 1259 1303
3000
2000 931
1000
0
Pasien
Gambar 3.7. Jumlah Kunjungan Pasien Berdasarkan 10 Penyakit Terbanyak
B2P2TOOT Tahun 2019
2000 1729 1677 1624
1800
1600
1400
1200
1000 784
800
600
400 307 268 241 232 156
200 41 31 13
0
Pasien
Gambar 3.8 Jumlah Kunjungan Pasien Berdasarkan 10 Pemeriksaan
Laboratorium Terbanyak B2P2TOOT Tahun 2019
9. Pembinaan Petani
Pembinaan petani dilakukan untuk mendukung penyediaan bahan baku jamu. Selain
memang pemanfaatan hasil penelitian standarisasi tanaman.
92
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
D. Inovasi/Terobosan
Beberapa kegiatan inovasi yang dihasilkan selama tahun 2019 antara lain:
1. Sistem wisata ilmiah kesehatan jamu (SITA IKJ)
Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan layanan WKJ di B2P2TOOT pada tahun
2019 antara lain:
a. Permohonan dan koordinasi masih dilakukan dengan cara konvensional
menggunakan telepon dan surat sehingga pencatatan pemesanan tanggal
masih secara manual di buku WKJ.
b. Minat masyarakat terhadap WKJ semakin tinggi dilihat dari jumlah permohonan
yang masuk, namun seringkali ketidaktersediaan pemandu (peneliti dan teknisi
litkayasa) kurang sehingga banyak permohonan yang tidak terfasilitasi.
c. Besarnya minat masyarakat terhadap kegiatan wisata ilmiah kesehatan jamu
mengakibatkan sejumlah besar kunjungan tidak dapat terfasilitasi
d. Adanya calon peserta kunjungan yang datang tiba-tiba tanpa ada
pemberitahuan sebelumnya sehingga mengacaukan jadwal layanan yang telah
ditetapkan.
e. Kurangnya koordinasi dengan peserta kunjungan
f. Sarana dan prasarana untuk penerimaan kunjungan kurang maksimal
Berdasarkan kendala-kendala di lapangan tersebut, maka diusulkan solusi sebagai
berikut:
1. Perlu disediakan aplikasi pendaftaran/registrasi mandiri yang memudahkan
calon pengunjung dan mengefisienkan kerja petugas.
2. Disediakan pemandu khusus untuk kegiatan wisata ilmiah kesehatan jamu
yang mendapatkan pelatihan khusus pemandu kegiatan wisata ilmiah
kesehatan jamu untuk menunjang performa yang lebih baik.
3. Penanggung jawab instalasi juga membantu menjelaskan mengenai fasilitas
yang dikunjungi
4. Diadakan pertemuan berkala untuk evaluasi kegiatan wisata ilmiah kesehatan
jamu.
5. Perlu perbaikan atau penyempurnaan sarana atau fasilitas pendukung WKJ
misalnya taman yang dipercantik, kebun yang dimaksimalkan kesuburan dan
kebersihannya, rumah kaca yang lebih bersih dan hijau.
93
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Pada tahun 2019 B2P2TOOT memperoleh juara harapan 2 dalam kompetisi inovasi
layanan publik (Sinovik) dengan judul Sita IKJ (Sistem Wisata Ilmiah Kesehatan
Jamu). Sistem ini dibuat dalam rangka perbaikan pengelolaan layanan WKJ. Balai
Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) yang berlokasi di
Tawangmangu masuk ke dalam klaster Wisata Kebugaran dan Jamu dan berada di
salah satu spot penting wisata kesehatan dan kebugaran yaitu di seputar Solo. Dalam
rangka mendukung program Kemenkes tersebut dan untuk meningkatkan komitmen
B2P2TOOT menjadikan jamu menjadi tuan rumah di negeri sendiri, B2P2TOOT akan
meluncurkan Sistem Wisata Ilmiah Kesehatan Jamu (SITA IKJ)pada tahun 2020.
SITA IKJ merupakan upaya perbaikan layanan wisata edukasi yang telah berjalan
selama ini. Beberapa inovasi yang akan dilakukan dalam pelayanan wisata
kesehatan ini adalah:
1. Layanan 7 hari seminggu
Penambahan hari kunjungan yang semula 3 (tiga) hari dalam satu
minggu ditingkatkan menjadi 7 (tujuh) hari dalam seminggu. Penambahan
hari kunjungan ini merupakan inovasi untuk menjawab antusiasme
masyarakat untuk meningkatkan wawasan di bidang tanaman obat dan
jamu. Penambahan hari kunjungan diikuti penambahan jenis kegiatan yang
memungkinkan masyarakat memilih lokus dan wahana kegiatan wisata.
2. Registrasi mandiri
Inovasi ini berupa pengembangan sistem informasi berbasis web
yang memungkinkan peserta untuk mengetahui jenis kegiatan dan lokus
kunjungan. Lebih dari itu, melalui sistem informasi ini calon peserta SITA
IKJ dapat mengatur hari dan waktu kunjungan.
3. SDM sebagai aktor utama layanan
Inovasi ini mengharuskan setiap personel layanan mendapat
pembekalan kompetensi dan softskill. Produk yang ditawarkan oleh SITA
IKJ adalah hasil penelitian dan pengembangan tanaman obat dan jamu.
Agar dapat terdiseminasi dengan baik ke masyarakat, hasil litbang tersebut
harus disampaikan dengan cara yang sesuai. SITA IKJ mengemas cara-
cara diseminasi hasil litbang tanaman obat dan jamu, kemudian
menyajikannya kepada masyarakat melalui kegiatan wisata kesehatan.
94
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Produk yang berkualitas hanya bisa dinikmati oleh masyarakat jika
disampaikan dengan cara yang tepat. Agar personel pemberi layanan
mampu melakukan penyampaian informasi dengan sesuai maka
pembekalan kemampuan diberikan sebelum personel tersebut
melaksanakan tugasnya. Pembekalan berupa
4. Wahana wisata edukasi interaktif
Menciptakan pengalaman emosional psikologis bagi para
pengunjung sehingga hasil transfer pengetahuan lebih membekas melalui
wisata edukasi interaktif. Dengan memanfaatkan fasilitas wisata edukasi
interaktif peserta khususnya dari kelompok TK-SD mengenal lebih dini
tanaan obat dan jamu dengan cara yang menyenangkan (fun).
5. Inovasi konten
Mengemas informasi tulis dalam bentuk digital mudah akses misal
dalam bentuk QR. Akses cepat suatu bahan informasi sangat disukai
generasi milenial. Oleh karena itu penerapan QR code pada semua koleksi
tanaman obat di kebun B2P2TOOT diharapkan dapat membantu generasi
milenial untuk belajar cepat tentang tanaman obat dan jamu.
Pelayanan yang baik untuk mendukung konten wisata ilmiah
kesehatan jamu di B2P2TOOT diharapkan mampu meningkatkan jumlah
masyarakat yang hadir dan mememperoleh pengetahuan tentang tanaman
obat dan jamu. Pengetahuan yang semoga dapat dimanfaatkan sebagai
dasar pemikiran dalam melakukan preventif promotif kesehatan.
2. Wellness Tourisme
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersinergi membuat pola perjalanan wisata
kesehatan di Indonesia, sebagai langkah untuk mewujudkan Indonesia sebagai
destinasi Pariwisata Kesehatan Dunia. Wisata Kebugaran dan Jamu menjadi prioritas
dalam mewujudkan pariwisata kesehatan, karena mempunyai nilai jual yang tinggi.
Empat klaster wisata medis yang akan dikembangkan di Indonesia, antara lain
wisata medis, wisata kebugaran dan jamu, wisata olahraga yang mendukung
kesehatan dan wisata ilmiah kesehatan. Terdapat lima destinasi wisata kesehatan
95
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
dan kebugaran yang patut diperhatikan yaitu Semarang, Yogyakarta, Solo, Bali, dan
Jakarta.
Perjalanan wisata kebugaran ini dapat memberikan informasi tentang pilihan
paket wisata bagi para wisatawan yang memiliki karakter dan preferensi berbeda yaitu
motivasi kesehatan dan kebugaran melalui pengalaman budaya yang unik dan
dikemas secara inovatif. Untuk pertama kali dikembangkan di Joglosemar
(Jogjakarta, Solo, dan Semarang), Bali dan Jakarta.
Skenario perjalanan ini, dapat menjadi dasar bagi sektor bisnis untuk
mengembangkan paket-paket wisata kesehatan di masa mendatang. Penyusunan
pola jalur wisata ini untuk mendorong pelayanan kesehatan tradisional untuk memiliki
unggulan yang meliputi spa, herbal, acupressure, dan akupuntur dalam
penyelenggaraan wisata kesehatan. Serta menetapkan rumah sakit (medical
tourism) dan fasilitas kesehatan tradisional (wellness tourism) yang memiliki
pelayanan unggulan dalam penyelenggaraan wisata kesehatan. Beberapa tahun
terakhir, Indonesia mulai dikenal sebagai salah satu destinasi wisata kebugaran kelas
dunia. Sebagai besar dari destinasi wisata Indonesia sudah merespon kebutuhan
atas kebugaran berupa spa, makanan sehat dan pengobatan holistik.
3. Penggunaan teknologi informasi untuk monev triwulan
Dalam melaksanakan monitoring dan evaluasi kegiatan telah dibangun sebuah
system untuk memudahkan melaksanakan kegiatan monev. Pagi pelaksana kegiatan
tinggal menekan link; bit.ly/2019monev
96
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Gambar 3.9. Aplikasi Monitoring dan Evaluasi
B2P2TOOT Tahun 2019
4. Penyusunan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Penyesuaian tarif PNBP merupakan penyesuaian jenis dan tarif PNBP yang berlaku
di Kementerian Kesehatan. Peraturan Pemerintah RI Nomor 64 Tahun 2019 tentang
Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada
Kementerian Kesehatan merupakan penyesuaian dari PP Nomor 21 Tahun 2019.
Jenis tarif yang disesuaikan meliputi:
1. Pemeriksaan laboratorium
2. Penyediaan bibit tanaman obat
3. Penyediaan simplisia tanaman obat
4. Produk jamu dan olahan
5. Penyediaan hewan percobaan
6. Latihan kerja
7. Jasa pelatihan tanaman obat
8. Wisata ilmiah tanaman obat
9. Pelayanan laboratorium penelitian dan pengembangan
10. Klinik Saintifikasi Jamu
11. Gedung pendidikan dan pelatihan
97
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
5. Penentuan penganggaran yang tidak tertuang dalam SBM
Penentuan besaran anggaran yang tidak tertuang dalam Stadar Biaya Masukan 2019
maka telah ditentukan besarannya sesuai dengan perhitungan yang matang.
Misalnya transpor darat dari Semarang ke Surakarta sebesar Rp. 250.000,00 sekali
jalan. Sementara biaya transport dari Tawangmangu ke Bandara Adi Sumarno belum
ada, dengan dasar jarak tempuh yang hampir sama, maka besaran transpor ke
Bandara Adi Sumarno ditentukan sebesar Rp. 450.000,00
6. Pengembangan roadmap fitofarmaka
Pengelompokan bahan alam digolongkan menjadi tiga: jamu, obat herbal terstandar,
dan fitofarmaka. OHT dan fitofarmaka merupakan obat herbal yang memenuhi standar
yang ditetapkan dalam Farmakope Herbal Indonesia. Pengembangan roadmap
fitofarmaka dimaksudkan untun mempercepat diperolehnya fitofarmaka yang siap
untuk diproduksi skala besar. Selama ini fitofarmaka yang ada masih sedikit.
7. Pemindaian tanaman obat berdasarkan plat nama.
QR code merupakan kode dua dimensi yg bertujuan memberikan informasi tanaman
obat secara cepat dengan cara di pindai/ di scan. QR code dapat menyimpan data
tanaman (morfologi dan dokumentasi) dengan kapasitas tinggi sehingga
memudahkan wisatawan/masyarakat dalam memperoleh informasi tentang suatu
tanaman. Cara penggunaan : menggunakan aplikasi yg didownload (ex. Quick
scanner, dll) atau aplikasi bawaan dari Handphone jika sudah ada, kemudian
mengarahkan kamera ke QR code unttk memindai dan secara otomatis akan
langsung terhubung dengan web/server yang berisi informasi tanaman tersebut.
8. Pendaftaran onlien di Klinik Saintifikasi Jamu Rumah Riset Jamu Hortus Medicus
Pengembangan system ini dimaksudkan untuk memudahkan pasien yang akan
mencari pengobatan (dalam rangka penelitian) agar tidak mengantri terlalu lama.
Dengan system ini, seluruh berkas sudaha bsia disiapkan sebelum pasien datang.
98
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Gambar 3.10. Mekanisme Pendaftaran di Klinik Saintifikasi Jamu
B2P2TOOT Tahun 2019
B. Penghargaan
Penghargaan yang diperoleh selama tahun 2019 sebagai berikut:
1. Penghargaan Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran dari Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara Sragen
99
Laporan Kinerja B2P2TOOT Tahun 2019
Gambar 3.11. Penghargaan IKPA dari KPPN Sragen
2. Indikator Kinerja Pelaksanaan Aanggaran dari Kementerian Kesehatan
Gambar 3.12. Penghargaan IKPA dari Kemenkes RI
100