The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by wikedewihikmatika, 2023-03-20 11:21:59

Cerpen p5 2

Cerpen p5 2

92 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Sesaat pulang dari Museum, mereka berencana untuk menghidupkan Kembali hewan purba. Mereka bertiga pergi ke lab untuk menulis ramuan-ramuan. Setelah itu, mereka mencari ramuan di setiap tempat. Setiap tempat dicari oleh satu orang, Wily dan Farel menemukan salah satu ramuan itu dan Rifky pun menemukan ramuan dan tersisa 2 ramuan yang ditemukan. Dua ramuan itu bisa ditemukan di pegunungan dan di area hutan, dan pertama mereka berjalan ke area hutan, tetapi mereka harus melewati rintangan, yaitu harus menjawab pertanyaan pantun dan mereka harus bekerja sama untuk menjawab dan setelah berbincangbincang, mereka menjawabnya dengan benar. Mereka pun melanjutkan untuk mengambil ramuan dan menemukannya. Setelah menemukan ramuan yang ada di area hutan, mereka melanjutkan mencari ramuan yang ada di pegunungan. Mereka berjalan ke atas pegunungan. Mereka harus melewati tangga yang sangat banyak, tetapi salah satu dari mereka terpeleset, yaitu Wily.


93 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Wily berkata ”AH SAKIT !” dan Rifky membalas, ”KAMU KENAPA WIL,“ WILY membalas, “AKU TADI TERJATUH,” Farel berkata, ”Untungnya aku membawa obat untuk mengobati luka.” Mereka pun mengobati luka temannya yang bernama Wily sambil mengobati mereka juga sambil beristirahat. Karena sudah sore juga, Rifky dan teman-temannya bersepakat untuk bermalam. Menjelang pagi, mereka kembali melanjutkan perjalanan itu. Setelah melewati tangga yang banyak, mereka harus menyebrangi pegunungan dengan jembatan. Setelah melewati jembatan itu, mereka harus melewati pertanyaan puisi dan pertanyaan itu juga harus dipecahkan dengan kerjasama mereka pun bisa memecahkan jawaban itu, mereka pun mengambil ramuan itu. Setelah memecahkan tantangan itu, merekapun menemukan ramuan yang terakir, dan mereka pun pulang membawa pulang ramuan yang sudah didapatkan oleh ketiga remaja itu dan mereka pun pergi ke laboratorium kembali untuk mencampurkan semua ramuan itu. Akan tetapi,


94 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) percobaan pertama gagal karena Farel salah mencampurkan ramuan itu. Rifky dan Wily membantu membenarkan susunan ramuan Ketika mereka mencampurkan lagi mereka berhasil hidup dan mereka pun bahagia karena bisa menghidupkan Kembali hewan purba, yaitu monyet purba. AMANAT KITA HARUS BERJUANG KARNA PERJUANGAN TIDAK MENGHIANATI HASIL.


95 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)


96 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Kura-Kura yang Ingin Menjadi Cepat Ameer Luthfi Akbar VII-J Pada suatu hari, ada seorang ilmuan yang datang ke Museum Zoologi. Dia berkunjung karena ada tugas dari gurunya untuk menganalisa hewan dan tumbuhan yang langka. Dia membawa ramuan di dalam tas nya, dia tidak sengaja menumpahkan ramuan agar menjadi hidup dan tumpahan tersebut mengenai monyet. Monyet pun hidup dan menjadi pintar. Monyet tersebut mulai meracik ramuan yang lain contohnya agar menjadi cepat, agar menjadi besar, dll. Pada suatu hari seekor kurakura yang berasal dari Museum Zoologi yang ingin menjadi cepat. Kura-kura itu Bernama Jono, dia ingin menjadi cepat karena selalu melihat Harimau Sumatra yang sering berlarian sangat cepat sehingga dia ingin bisa seperti Harimau Sumatra tersebut.


97 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Keesokan harinya, dia melihat Harimau Sumatra sedang mengejar seekor kancil untuk dimakan, tapi kancil itu sangat pintar dan cerdik jadi dia tidak dimakan oleh Harimau Sumatra tersebut, setelah melihat itu Jono mulai berlatih agar menjadi cepat dengan semua cara yang dia ketahui. Seminggu sudah berlalu tapi Jono tetap saja masih pelan dan belum bertambah cepat, sampai sudah satu tahun tetap saja dia belum saja bertambah cepat. Pada suatu pagi di Museum Zoologi ada seekor Badak Sumatra yang melihat Jono sedang berlari, Jono menyapa Badak Sumatra tersebut ‘’Selamat pagi Badak,” sapa Jono. Badak menjawab sambil bertanya ‘’Pagi juga, kamu sedang apa kura-kura?” Jono menjawab ‘’Aku sedang latihan agar menjadi cepat.” Badak tersebut memberi tahu Jono bahwa monyet mempunyai sebuah ramuan agar menjadi cepat, Jono langsung menanyakan lokasi monyet tersebut kepada Badak Sumatra tersebut. Jono mencari lokasi monyet itu setiap hari bahkan sampai


98 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) berbulan bulan akan tetapi, dia tetap saja tidak menemukan monyet yang membuat ramuan tersebut. Beberapa hari berlalu, Jono istirahat sebentar dari Latihannya tersebut dan dia memikirkan cara agar menjadi cepat yang baru agar tidak terlalu cape dan membuat letih. Sudah satu bulan Jono istirahat dari latihannya dan Jono mulai Latihan seperti biasa lagi agar menjadi cepat. Kali ini Jono lebih semangat dan tidak akan mudah menyerah. Setelah setahun Jono berlatih dia mulai merasa bahwa dia sudah lebih cepat daripada biasanya, dia semakin termotivasi oleh hasilnya tersebut dan dia terus berlatih keras, tapi semakin lama dia berlatih dia merasa semakin cape dan membuatnya menjadi pelan lagi. Akhirnya dia pun putus asa sehingga tidak melanjutkan latihannya tersebut. AMANAT Kita harus berusaha keras agar mendapatkan hasil yang puas dan harus menjaga Museum Zoologi.


99 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)


100 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Penelitian Tertutup Nabila Rizqi Ramadhani VII-G *Zsrahh.. suara cairan yang dituang oleh Victor memecahkan keheningan di lab itu. 2040. Siang itu Wira, Ravindra dan Anastasya berkunjung ke Museum Zoologi di Bogor. Mereka berkeliling sangat lama. Saat mencapai altar replika burung cendrawasih, mereka berdua terpukau oleh keindahannya. Mereka sering kali mempunyai pikiran yang sama, “Spesies burung satu ini indah sekali, walaupun sudah ada dari beratus-ratus tahun lalu keindahannya tidak berkurang sama sekali. Aku penasaran bagaimana wujudnya di masa lalu saat masih hidup,” gumam Wira dan Anastasya dalam hati. Ternyata, di sisi lain, replika burung cendrawasih yang di dalam altar bisa berbicara. Sang burung pun dapat membaca pikiran hati


101 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) makhluk apapun. Lalu, burung tersebut membalas “Hm.. manusia-manusia ini tertarik padaku? Aha! menarik.” Keheningan muncul beberapa menit di antara Wira dan Anastasya. Beberapa menit kemudian, ternyata Wira dan Anastasya pun mendapat ide di waktu yang bersamaan, mereka dengan bersamaan menatap satu sama lain dan mengatakan, kita bertujuan untuk.. “Bagaimana kalau kita kembali ke masa lalu di mana Zoologi masih dalam penelitian dan berencana untuk menghidupkan burung cendrawasih kembali?" Tawa mereka mengisi ruangan itu. “Kita memang sudah cocok dari kecil,” ucap Wira. Setelah itu pu, mereka dengan cepat kembali ke markas mereka berdua. Di sisi lain, mereka sudah menyimpan sebuah mesin waktu dari beberapa tahun yang lalu dan menggunakannya untuk bersenang-senang menjelajahi waktu sepuas mungkin serta kapanpun yang mereka inginkan. Tanpa basa-basi, mereka pun bersiap diri membawa peralatan penting dan bergegas untuk kembali ke masa lalu.


102 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) ZING! Mereka pun sampai di tahun di mana Museum Zoologi masih dilakukan penelitian untuk proses pembangunan. Suasananya sangat mencekam, beda dari tahun di mana Wira dan Anastasya tinggal. Mereka sampai saat latar waktu di tahun itu malam hari, Anastasya sangat senang karena jika malam hari, dia bisa menggunakan kekuatan manipulasi miliknya lebih akurat. “Langsung saja?” tanya Wira kepada sang gadis berkacamata tersebut. “Ayo, Wira,” balasnya. Dengan mudah, mereka melewati penjaga penjaga yang ada di wilayah tersebut, saat di mana pintu utama laboratorium terlihat. Mereka sangat terpukau karena bangunan tersebut terbilang cukup megah untuk di tahun itu. Beberapa menit, mereka memandangi laboratorium itu dengan keheningan suara rindang daun di sekeliling mereka. Setelah selesai memandangi akhirnya


103 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) mereka masuk menyelinap kedalam laboratorium. “Ugh.. bau ruangan ini tidak enak.” “Tentu saja, Tasya. Ini kan sebuah laboratorium, apalagi kita tidak memakai setelan pengaman sehelai pun, wajar saja baunya sangat menyengat.” “Memang hal seperti itu ada di tahun sekarang?” “Aku juga tidak yakin, haha,” balas wira seraya menggaruk tengkuk kepalanya. “Ah dasar bodoh- eh? Lihat, ada ruangan yang terang.. mau coba masuk?” “Boleh, ayo.” Karena melihat sebuah ruangan yang terlihat terang, mereka pun tertarik ingin masuk karena penasaran. Saat mereka masuk, ruangan tersebut dipenuhi oleh tabung tabung dan tempat tempat cangkir cairan yang disusun secara rapi mengelilingi ruangan. Di sisi kana, terlihat sebuah tabung yang berisikan replika burung cendrawasih yang terlihat masih sangat baru, di sisi kiri


104 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) terlihat sebuah kertas yang menggambarkan sebuah rangkain tulang seekor anoa. Karena Wira tidak bisa tahan jika adanya sebuah burung cendrawasih, maka itu mata Wira saat masuk ke ruangan tersebut tentu saja langsung tertuju pada replika burung cendrawasih di sisi kanan. Selain barang barang penelitian, terlihat juga sosok pria tinggi yang sedang bekerja di ruangan tersebut. Rambutnya coklat ke merah merahan, panjangnya melebihi telinga sang pria itu, poni miring yang aneh tapi masih terlihat modis, matanya yang sipit, dan tajam membuat bulu kuduk Tasya merinding, jubah khas seorang ilmuwan terpampang jelas dikenakannya oleh sang pria tersebut. Pria itu menoleh. “Kalian siapa?” Tasya dengan kemampuan untuk memanipulasi orang orang berusaha memanipulasi pria tersebut, namun tidak disangka-sangka.


105 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) “Hey, kami adalah orang suruhan dari kepemerintahan yang dikirim untuk membantu penelitianmu,” ujar Tasya dengan sangat percaya diri. “Bohong.” Wira yang tadinya memerhatikan sebuah replika burung cendrawasih seketika dibuat kaget dengan balasan pria itu, begitupun Tasya. Wira memerhatikan seluruh penampilan dan isi ruangan milik pria itu, dengan teliti. “Jubah putih, perlengkapan asing untuk tahun sekarang, ruangan rahasia di ujung kanan, lalu beberapa senjata tajam di rak atas?” Wira bergumam. “Tasya, dia ini bukan orang yang sembarangan.. jujurlah padanya, sekarang,” bisik Wira pada Tasya. Tasya tidak bisa bergerak, ia membeku. Karena itu pun mau tidak mau Wira lah yang harus membalas omongan pria tersebut.


106 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) “Ah- salam kenal, tuan. Aku Wira Ravindra dan ini temanku Anastasya, kami datang dari tahun 2040 untuk menjalankan suatu rencana.” “Tahun 2040? Rencana? Wah.. kalian pasti sangat jenius, sebelum itu perkenalkan, namaku Victor,” balasnya seraya membungkuk hormat pada Wira dan Tasya. “Aku tidak suka basa-basi. Jadi, apa rencana kalian?” “Ekhm.. kami-” “Kami ingin mengembalikan beberapa primata yang akan dipajang di Museum Zoologi hidup kembali!” Wira memotong bicara Tasya, dengan tegas dan percaya diri. “Oh? Rencana yang menarik, tapi itu akan cukup merepotkan bagiku.. aku sudah lelah mengerjakan beberapa tugas penelitian dari kepemerintahan” Victor mengeluh. “Kau.. tidak perlu membantu banyak, cukup dengan mengirim surat izin persetujuan penelitian ini


107 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) kepada pemerintah atas nama dirimu. Dengan alasan, ini dapat membuat Indonesia lebih cepat dikenal oleh negara-negara di luar sana.” Victor menyeringai, “Baiklah, aku setuju.” “Akuu menyetujui kita dengan semudah itu!? Bahkan, kita belum kenal satu sama lain dengan rinci! Aku.” Tasya terheran. “DIAM. Kau seharusnya bersenang diri karena aku bisa menyetujui rencana kalian semudah ini, jika suasana hatiku sedang buruk? Mungkin saja rencana kalian berdua akan ku tolak mentahmentah dan KALIAN akan ku jadikan kelinci percobaan dalam penelitianku!” Victor marah karena merasa diremehkan oleh gadis itu, Wira yang mendengarnya menjadi sedikit emosi karena melihat reaksi Tasya yang hampir mengeluarkan air mata, tapi Wira tidak mau memperpanjang masalah tersebut dan memutuskan untuk menenangkan situasi dengan menanyakan sesuatu kepada Victor.


108 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) “Replika burung itu terlihat menarik, boleh aku mencoba menghidupkannya? Hitung saja sebagai pelatihan untuk penelitian selanjutnya.” Wajah Victor terlihat panik “Eh? K-kau mau menghidupkan burung itu kembali? Apa kau yakin? Apa kau kenal dengan burung itu.” “Aku yakin? Kenapa reaksimu seperti itu, Victor?” “Aku, tidak apa-apa, silahkan saja. Aku akan mengirim surat izin persetujuan kepada kepemerintahan esok hari, bersenang-senanglah berasa di sini, aku akan kembali ke ruang istirahatku.” Wira mendengarnya sangat heran, namun ia senang telah diberi izin untuk menghidupkan replika burung cendrawasih tersebut. Ia menoleh kepada Tasya dan menunjukkan wajah yang menandakan ingin mengajak Tasya dalam penelitian kecil ini. Tasya membalasnya dengan anggukan kecil dan mereka pun memulai penelitian tersebut. Keesokan harinya.


109 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Di tengah-tengah Wira dan Tasya sedang bermain dengan burung cendrawasih yang hidup kembali dalam semalam, terdengar suara langkah kaki yang membuat ruangan yang awalnya dipenuhi oleh tawa menjadi hening, tuk.. tuk.. tuk.. dan tAK! Langkah kaki tersebut terdengar seperti sengaja dihentakkan untuk membuat ruangan itu hening. “Kalian ini, kalian lihat jam berapa ini? Ini masih termasuk jam istirahatku, dan kalian.. sangat berisik, ugh mataku, aku masih memaafkan kalian tapi lain kali, tolong jangan berisik.” “Kau masih saja egois, Victor.” Semua orang yang ada di ruangan tersebut terkejut, burung itu? Bisa bicara? “Mengapa ia berbicara seolah-olah mengenal Victor. Apa maksud dari semua ini.” “Kau. Am- maaf atas perbuatanku.” Burung itu diam sebagai tanda membalas. “Apa maksud dari semua ini? Victor?” tanya Tasya dengan heran


110 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) “Lau akan tahu di hari yang tepat,” balas burung itu. Anastasya dan Wira pun saling menatap satu sama lain dengan wajah kebingungan Di siang itu, Victor pergi untuk mengirim surat perizinan tentang penelitian yang Wira dan Anastasya ajukan. Saat mereka berdua menunggu Victor kembali untuk membawa jawaban, mereka berdua pergi ke sebuah taman di depan laboratorium, tempat itu sejuk, menenangkan, dan sangat-sangat sepi. “Kau, bisa bicara kan?” tanya Wira kepada seekor burung cendrawasih itu. “ya, aku bisa. Ada yang ingin kau tanyakan kan? Kenapa aku bisa seperti ini” “Betul, tebakanmu benar. Tolong ceritakan asal usulmu kepada kami.” “Ceritanya panjang.” 1 tahun sebelum kedatangan Wira dan Anastaya. “Hei, tolong bantu aku untuk menyelesaikan tugas ini, Victor? Ayolah, kau tahu kan pengiriman


111 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) replika sudah harus diurus esok pagi! Kau berkata kau ingin menjadi ilmuwan yang berguna, tapi“ “Diam. Kau berisik sekali.” “Huh? Ah kau sangat lucu, APAKAH MIMPIMU MENJADI ILMUWAN TERNAMA SUDAH HANCUR?” Victor terdiam, kemudian ia berdiri dan menghampiri sang wanita yang daritadi terusterusan mengomelinya. Victor mengikat wanita itu dengan sebuah rantai dengan paksa, ia pun membawanya ke ruang bawah tanah. “Hei! Apa-apaan kau ini? Tolong lepaskan aku dasar brengsek, aku hanya ingin membantumya menggapai cita-citamu itu! Mmphh-” “Diamlah di sini, Amber.” Wanita itu terdiam, kaku, kepalanya terasa sangat amat pusing.. berputar seperti planet yang sedang mengitari sebuah matahari. “Kau? Bahan percobaan oleh Victor? Pria itu ternyata sangat kejam, ya.” Wira merasakan


112 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) sebuah rasa syok dalam dirinya, ia tahu Victor adalah orang yang arogan dari sejak pertama kali bertemu namun ia tidak menyangka bahwa Victor adalah orang yang sangat kejam dan sadis seperti itu. Sama seperti Wira, Anastasya pun memberikan reaksi yang sangat-sangat terkejut. “Victor.. dia ternyata orang yang cukup kejam, ya, ” ucap Tasya dengan raut wajah yang sedikit memperlihatkan sebuah ekspresi kecewa. “Ada apa, Tasya? Kenapa wajahmu seperti itu” tanya Amber, sang burung. “T-tidak apa-apa” “Apa Tasya mempunyai rasa terhadap Victor? Oh tidak,” Wira bergumam diantara mata Tasya dan Amber bertatap satu sama lain. Setelah percakapan itu selesai, suasana di antara Amber, Wira, dan Anastasya pun menjadi canggung. Karena itu pun keheningan mulai menyelimuti taman itu. Beberapa jam kemudian...


113 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Sesosok pria berjubah putih pun datang, srak.. srak.. suara yang dihasilkan oleh beberapa daun yang diinjak oleh pria itu memecahkan keheningan yang ada di taman, itu adalah Victor? Ia telah kembali dengan membawa sepucuk kertas. “Wira, Tasya. Ini, surat persetujuan dari kepemerintahan, penelitian yang kalian ajukan secara diam-diam dengan menggunakan namaku sebagai pengakuan telah disetujui oleh kepemerintahan.” Wajah Wira dan Tasya yang awalnya merenung sontak menjadi gembira kembali karena kabar baik yang dibawa oleh Victor, di sisi lain terlihat Amber yang sedang menatap kepada Victor dengan sinis Ia masih menyimpan rasa dendam terhadap ‘temannya’ yang sudah membuatnya seperti ini. Karena sudah didapatnya persetujuan dari kepemerintahan, mereka bertiga. Tasya, Wira, dan Victor pun menjalankan penelitian itu dengan sangat sangat teliti agar tidak terjadi


114 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) kesalahan pada penelitian tersebut, awalnya Tasya dan Wira sangat-sangat kesulitan karena pengaruh alat yang digunakan oleh Victor sangat berbeda dengan alat yang Tasya dan Wira gunakan di tahun 2040 untuk melakukan sebuah penelitian, namun berkat Victor yang mengajari mereka berdua dengan perlahan-lahan mereka pun dapat beradaptasi dengan lingkungan yang sekarang mereka tinggali. Di tengah-tengah penelitian pun Wira dan Victor sering bertengkar satu sama lain karena perbedaannya pendapat diantara mereka tentang beberapa campuran bahan kimia, di tengah-tengah itu tentunya ada Anastasya yang menjadi penengah diantara 2 orang yang bersikap arogan seperti gunung merapi yang sedang erupsi. “Hei dasar bodoh! Cairan A lebih cocok dipadukan dengan campuran ini, apa kau tidak belajar sebelum menjadi ilmuwan seperti ini?” teriak Wira kepada Victor yang keras kepala. “Tentu saja aku belajar! Pendidikanku ini sangatlah tinggi, aku mencari ilmu pada sekolahsekolah yang ada di Belanda! Kau ini, jangan


115 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) merasa kecerdasan mu lebih tinggi dariku hanya karena kau berasal dari masa depan. Sudah kubilang cairan D lebih efisien untuk membangkitkan beberapa sel yang mati, apa kau tidak belajar juga? Penjelajah waktu,” balas Victor. “Hei, kalian sudahlah, mari kita buat dua campuran cairan di sini pisahkan cairan C terlebih dahulu lalu campurkan cairan C dengan cairan A dan D dengan pipet kaca ini, kita lihat reaksi yang lebih kuat yang mana, haha!” jelas Anastasya dengan lembut kepada mereka berdua. “Menurutmu, mana yang lebih cocok, Tasya?” “Eh? Victor? Ah, menurutku, mungkin cairan D lebih efisien.” “HAH! Kau lihat Wira? Rekanmu lebih percaya kepadaku daripada kepadamu.” “T-tasya!? Kenapa kau memihak kepadanya? HEI ITU TIDAK ADIL!”


116 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Tasya hanya membalas protes Wira dengan tawa kecil. Beberapa tahun kemudian. “Hei, kondisi fisik kita makin memburuk. penelitian ini juga masih dalam setengah proses, Victor bodoh, apa kau ada cara lain untuk mengatasinya?” tanya Wira dengan nada menggerutu. “Aku lupa memikirkan hal itu, aku mempunyai solusi yang kusimpan dari beberapa tahun lalu. Aku akan memberi tahunya setelah kau berhenti memanggilku Victor bodoh seperti itu.” “Ahaha, baiklah.. jadi apa solusinya?” “Aku mempunyai sebuah ramuan rahasia yang membuat manusia tertentu menjadi hidup abadi, ini adalah penelitian rahasia yang ku lakukan sejak aku masih bersekolah.. ini ampuh! Percayalah kepadaku, aku sudah mencobanya kepada Amber..” Amber menoleh kepada Victor, membalas dengan anggukan pelan. Tampaknya sang burung telah memaafkan pria itu, sikap Amber kepada Victor


117 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) akhir-akhir ini menjadi lebih lembut kepada Victor. “kalau begitu.. mau coba meminumnya sekarang?” ajak Tasya “boleh” Victor menyetujui Mereka bertiga pun meminum ramuan rahasia yang dibuat Victor, tidak ada efek samping apapun yang disebabkan oleh ramuan itu, kabar baiknya.. badan mereka lebih terasa segar setelah meminum ramuan rahasia tersebut. Setelah itu mereka langsung melanjutkan pekerjaan mereka dan bersikap seperti biasa. Berpuluh-puluh tahun mereka lalui bersama untuk menyelesaikan penelitian tersebut, mereka masih terlihat sangat muda karena efek dari ramuan yang diberikan Victor puluhan tahun lalu. Mereka bertiga bekerja keras setiap harinya dan melakukan percobaan sebanyak mungkin. Suatu hari...


118 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) “aku yakin, ramuan ini adalah ramuan terakhir yang akan kita pakai untuk percobaan menghidupkan primata primata itu kembali.. aku sangat-sangat yakin.” Ucap Wira “mari kita lihat reaksinya, tuangkan sekarang Victor” “baiklah” Keheningan pun muncul karena disebabkannya rasa tegang yang menyelimutinya pikiran Wira, Tasya, dan Victor di ruangan itu. Tanpa basa-basi Victor pun menuangkan cairan tersebut ke sebuah bangkai anoa yang sudah diawetkan oleh mereka. *zsrahh.. suara cairan yang dituang oleh Victor memecahkan keheningan di lab itu. *krek.. krek.. kaki dari anoa tersebut mulai bergerak, tatapan mata yang awalnya terlihat kosong seperti padang pasir yang tidak ada kehidupan mulai menunjukkan pergerakan kedipan mata, beberapa tanda-tanda lain yang


119 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) memperlihatkan anoa tersebut mulai kembali hidup pun muncul. “BERHASIL?” Tanya Tasya dengan mata yang sudah bergelimang air mata “sepertinya.. iya..” Balas Victor dengan haru Wira terlihat tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya, penelitian yang ia kerjakan selama berpuluh-puluh tahun akhirnya membuahkan hasil yang sepadan. Suasana yang awalnya hening menjadi gembira dan haru, Wira menangis dan refleks memeluk Tasya. Victor yang melihatnya hanya bisa tersenyum haru, rasa bangga kepada Wira dan Tasya mulai muncul pada hati Victor, mereka bertiga sangat-sangat senang karena usaha mereka yang tidak sia-sia. Beberapa tahun kemudian setelah semua primata yang mereka bertiga bisa hidupkan kembali sudah selesai, mereka pun meresmikan Museum Zoologi akan dibuka. Orang-orang sangat antusias ingin melihat hewan-hewan yang awalnya punah menjadi hidup kembali, beberapa turis asing


120 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dari negara lain pun berdatangan. Pada mading pendiri Museum Zoologi tampaknya tidak ada nama ‘Wira Ravindra’ hal itu dilakukan secara sengaja karena permintaan Wira langsung. “tolong sembunyikan namaku dalam pendiri Museum Zoologi, masukkan nama Anastasya dan Victor saja. Aku hanya ingin nama Indonesia dikenal oleh dunia, bukan namaku.” Suatu hari disaat Museum Zoologi dibuka.. Wira dan Amber sedang berkeliling Museum untuk melihat reaksi beberapa pengunjung yang melihat hasil penelitiannya, banyak sekali orang-orang yang terpukau dengan adanya hewan purba yang kembali hidup, tentunya mereka tidak tahu semua itu adalah perbuatan seorang lelaki yang ada di Museum itu juga. Karena adanya Amber yang bertengger di pundak Wira, ia menjadi sorotan oleh pengunjung yang ada disana. “tampaknya karena aku kau seperti menjadi karakter utama di Museum ini, haha” ucap Amber


121 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) “bukankah begitu faktanya? Aku adalah seorang pendiri utama dari Musuem Zoologi, aku lah karakter utama dalam Kebun Raya ini.” Balas Wira secara berbisik pada Amber dengan nada mengejek. ...”mama, lihat! Burung itu bisa berbicara!” ucap seorang anak kecil yang berdiri di sebelah Wira “dedek! Mana mungkin seorang burung bisa bicara, minta maaf kepada kakak itu kau tidak sopan” Wira dan Amber bertatap satu sama lain dan hanya bisa tertawa karena kejadian itu. ... “...begitulah ceritaku bagaimana mengubah Museum Zoologi yang awalnya hanya tempat kerangka kerangka hewan purba, menjadi tempat ‘hewan purba’ yang benar-benar hidup ada. Karena hal ini pun aku dapat membuat Indonesia menjadi lebih dikenal oleh negara-negara luar, aku sangat bangga pada diriku sendiri.. impianku menjadi tercapai karena kerja kerasku dan temantemanku” TAMAT.


122 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) AMANAT: Raihlah impianmu dengan kerja kerasmu sendiri, jangan mudah menyerah untuk mengharumkan Negara Indonesia dan janganlah hanya bisa mengeluh karena beberapa daerah di Indonesia tidak dikenal oleh Negara lain, lakukan sebuah usaha untuk membuat daerah tersebut menjadi dikenal oleh negara lain.


123 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)


124 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Pengalaman Naik Kereta Bandung Raya Ekonomi dari Cimahi Cimekar Nurul Arifah VII-J Hai, nama saya Jeno, saya ingin berbagi cerita pengalaman naik kerata api Bandung Raya ekonomi. Akhir minggu ini, saya dan mamah saya berdua main ke Cimekar untuk menengok kerabat yang sedang sakit. Dari Cimekar, saya berencana terus melanjutkan perjalanan ke Cicalengka begini kira-kira rencana perjalanan kami. Kami berada di stasiun ini sekitar pukul 5 sore. Sekarang, kami merasa takjub semua sudah lebih bagus dan keren sih, tapi bentuk bangunan lamanya tetap ada tidak hilang karena memang stasiun ini punya kisah sejarah loh. Stasiun ini punya fungsi sejarah juga di zaman pemerintah Kolonial Belanda sebagai tempat mengangkut logistik untuk keperluan militer.


125 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Membeli tiket Beli tiketnya di loker posisi ada di dekat pintu atau gote masuk kedaraan sebelum ke Stasiun Cimahi. Waktu itu sih ga terlalu antre buat beli tiketnya. Harga tiket dari Stasiun Cimahi ke Stasiun Cimekar adalah 5000 perorang tiket dua orang total 10.000. Ini termasuk murah kalau melihat harga tiketnya. Kereta api berangkat pukul 17.23 dan sampai di Cimekar pukul 18.31 jadi waktu tempuhnya satu jam lebih... Ruang tunggu penumpang Sesudah dapat tiket, kami segera menuju pintu masuk penumpang. Tapi, kalau di Stasiun Cimahi, karena waktu datangnya kereta masih lama, kita tidak bisa masuk harus dan harus menunggu dulu di ruangan yang sudah disediakan. Area stasiun Di area stasiun, banyak sekali tukang dagang dan kita tidak takut jauh kalo beli makanan


126 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) karena di depan Stasiun Kereta Api Cimahi banyak sekali tukang dagang. Nah, kami sih waktu naik kereta KRD lokal ini ga lihat atau dengar pengumumuman dari petugas, stasiun selanjutnya berhenti di mana ga ada pengumumannya. Jujur saja, saya terakhir naik KRD lokal di Bandung itu waktu masih kuliah. 20 tahun yang lalu , jadi rada–rada ga pede pas naik lagi takut kelewat stasiunnya. Untungnya, ada bapak–bapak yang duduk depan kami yang sudah biasa naik kereta ini memberikan info keretanya berhenti di mana. (Terimakasih banyak ya pak, hatur nuhun) Sebelumnya sih saya mau naik grab car tapi, menurut sepupu “A daripada naek grab car kan lumayan awis pastina, mending naek kereta weh atuh.” “Hah? Kereta, naek di mana? Terus engke turun na di mana?” tanyaku. Sepupu menjawab, “Kereta lokal a naek di Cimahi turunna mah engke di Cimekar da kamari ge mertua saya


127 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) ka bumi orange naek kareta.” “Cimekar teh mana?” tanyaku. “Di sekitar bumi panyileukan a deket ka GBLA, murah lah mun ngegrab ti dinya mah heheh....,” kata sepupu. “Wah boleh atuh mun kitu mah , hayu kita coba,” kataku. Dan bagusnya di situ banyak yang jaga dan ga ada copet atau apalah itu. PESAN UNTUK STASIUN CIMAHI Bentuk bangunan lamanya sih tetap ada, ga hilang. Jangan sampai dihilangkan juga sih karena memang stasiun ini punya nilai sejarah loh dan kita harus melestarikannya, contohnya menjaga kebersihan tidak boleh buang sampah sembarangan dan saya senang bisa mencoba naik kereta api Cimahi sekian dari saya. Assalammualaikum wr wb.


128 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)


129 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) AMORAELGIO Fahira Andhita VII-D Saya Amora Nayara Angelista lebih dikenal dengan Nayara. Saya adalah seorang mahasiswa dari universitas Neo, saya mempunyai teman yang menemani saya sejak kecil ia adalah Elgio Bara Narendra dan Greycia Evelyna. Gio masih bersama saya, sedangkan saya dan Cia sudah berbeda sekolah sejak kelas 5 SD. Pada hari Senin sepulang sekolah saya dan Gio pulang bersama. Gio mengajak saya untuk pergi ke Museum Sambari menemaninya untuk membuat projek. “Ra! Mau temenin aku ke museum gak?mau buat projek nih.” ucap Gio yang mengajak saya untuk pergi ke museum. “Aku si ayo aja!” ucap saya dengan perasaan senang karena sudah lama tidak berkunjung ke museum.


130 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) “Mau kapan nih?” tanya saya. “Sabtu aja gimana?” jawab Gio. “Ayo” ucap saya. Hari Sabtu pun tiba, saya dan Gio berkomunikasi lewat WhatsApp. “Gio, hari ini jadi ke museum?” Tanya saya untuk memastikan perkataan Gio hari Senin lalu. “Jadi, kok Ra” jawab Gio. Singkat cerita, sesampainya di museum, Gio langsung mengurus tiket masuk untuk kami berdua, tanpa Gio sadari staff yang mengurus tiket masuk itu adalah Cia, saya menyadari karena saya melihat kartu nama yang berada di pakaian Cia, mungkin Cia juga menyadari bahwa yang datang ke museum pada hari Sabtu jam 14.00 itu saya dan Gio. Saat saya dan Gio meneliti hewan-hewan disana, Cia menawarkan dirinya untuk menjelaskan lebih rinci alat yang ada di sana. Setelah selesai


131 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) meneliti saya dan Gio beristirahat di tempat duduk yang berada di luar museum. Saya pun berbicara kepada Gio bahwa staff yang mengurus tiket dan membantu menjelaskan isi museum adalah Cia teman semasa kecil kami. Saat kami sedang beristirahat Cia pun memberikan kami minum, “Terimakasih Cia,” ucap kami. Cia pun menoleh dan berkata “Loh kalian masih ingat aku!” Kami pun berkata “Masih dong”. Saat itu kami pun mengobrol sambil menceritakan masa lalu kami, setelah selesai Cia pun cepat cepat pergi ke dalam museum. Beberapa menit kemudian tiba-tiba saja Gio pingsan, saya pun ingin menolong Gio, saat saya ingin menolong Gio tiba-tiba saya dibawa oleh seseorang ke suatu ruangan, tangan saya diikat dan mulut saya ditutup oleh lakban. Saya mencoba untuk membuka lakban itu, setelah berhasil saya


132 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) pun langsung bergegas untuk menyelamatkan Gio. Setelah Gio sadar saya pun menyuruh Gio untuk beristirahat sejenak. Sembari Gio beristirahat saya pun keluar ruangan lalu melapor kepada penjaga yang ada di sana. “Pak tolong saya, ada salah satu staff yang berbuat jahat kepada saya dan teman saya” dengan nada panik. Terlihat satpam terkejut dengan ucapan saya. Lalu satpam berkata “masa sih mbak, setau saya staff disini tidak ada yang seperti itu,” ucap satpam yang tidak mempercayai ucapan saya barusan. Lalu saya menjelaskan apa yang diperbuat oleh Cia. Setelah penjaga mempercayaiku aku dan penjaga mendatangi ruangan tempat saya dan Gio disekap tadi, ketika saya dan penjaga datang. Saya melihat dia dan Gio yang sedang berdebat, saya, dan satpam merekam pertengkaran mereka. Saya dan satpam segera melapor polisi. Setelah beberapa saat polisi pun


133 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) tiba, saya dan satpam segera menunjukan bukti bukti yang ada, polisi pun segera menangkap Cia. Pesan Jangan mudah percaya dengan orang meskipun sudah mengenal lama.


134 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)


135 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Hewan yang Hidup Kembali Davina Assyla VII-D Crala, Rora, Kirana, Pak Ilham, Bu Salwa, Murid-murid, dan para guru berlari ketakutan karna dikejar-kejar oleh para kera, burungburung, dan kucing batu. Mereka sangat panik dan ketakutan Clara, Rora, dan Kirana tidak tahu apa yang membuat hewan-hewan ini hidup kembali. Seketika Pak Ilham dan Bu Salwa pun teringat ada kejadian yang pernah mereka alami juga. 15 TAHUN YANG LALU .... Saat Pak Ilham dan Bu Salwa sedang mengungjungi Kebun Raya Bogor, tiba-tiba Bu Salwa ingin melihat/memasuki area Museum Zoologi. Saat mereka memasuki Museum Zoologi dan pergi ke dalam, saat di dalam, Bu Salwa melihat orang yang sedang membaca mantra/berbicara sendiri (dengan mata tertutup) sambil memegang kaca pelindung. Tidak lama dari


136 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) itu hewan-hewan di sana pun hidup kembali. Salah satu pengunjung di sana berlari sambil berteriak "LARII LARII HEWAN HEWAN HIDUP KEMBALI!" pengunjung di sana kebingungan dan menganggap bahwa yang tadi hanya gurauwan saja. Ternyata, teriakan pengunjung itu benar bahwa hewan-hewan tersebut hidup kembali. Pak Ilham dan Bu Salwa terkejut melihat hewanhewan yang tadinya tidak hidup tiba-tiba hidup kembali. Tiba-tiba, ada seorang kakek yang berteriak sambil membaca mantra. Kakek itu berteriak, "KEMBALI LAH KALIAN KE TEMPAT ASALMU!" setelah kakek itu berteriak. Hewanhewan pun seperti tertarik kedalam tempat asalnya. Pada masa itu, Museum Zoologi pun di tutup untuk sementara waktu. Pada tahun 2019 Museum Zoologi pun di buka kembali. (KITA KEMBALI LAGI KE KERIBUTAN PADA TAHUN 2023 YAA..)


137 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Setelah Pak Ilham dan Bu Salwa flasback ke masa masa lalu, pak Ilham pun teringat dengan teriakan si Kakek. Pak Ilham pun mencoba membaca mantra/teriakan si kakek itu. Tanpa di sangka mantra itu berhasil. Hewan hewan di sana seketika tertarik masuk ke dalam tempat asalnya. Para murid, guru-guru, dan pengunjung disana merasa senang karna hewan-hewan yang tadinya menyerang sekarang hewan-hewannya pun sudah kembali ke tempat asalnya. Pak Ilham masih tidak menyangka bahwa ia telah menyelamatkan orang-orang disana. Ternyata orang yang menjadi penyebab kegaduhan itu adalah Joko. Joko adalah seorang dukun yang ingin menghancurkan seluruh kota Bogor karna dia mempunyai dendam kepada orangorang, selama Joko hidup di Bogor, Joko selalu dihina sehingga ia ingin membunuh orang-orang di sana.


138 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) PESAN MORAL JANGANLAH KALIAN MENJADI IRANG YANG PENDENDAM KARNA ITU TIDAK ADA MANFAAT NYA BAGI DIRI MU , MALAH ITU AKAN MEMBUAT DIRI MU MENYESAL.


139 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)


140 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Kehidupan Kedua Dimas Faturrohman VII-G Di sebuah kota Bogor terdapat dua anak ber-IQ tinggi yaitu Dimas dan Zahid, mereka teman dari kelas 1 SMP, meraka berdua memiliki ketertarikan pada IPA dan mereka berdua memiliki keinginan yang sama yaitu menghidupkan kembali hewan yang sudah punah dan saat kelas 2 SMP mereka pun mulai bekerja sama. Pada hari Senin, mereka mengunjungi Museum Zoologi dengan memakai baju ilmuan yang berwarna putih, mereka melihat-lihat fosil dan mereka tertarik kepada Fosil Harimau Sumatera dan Badak Sumatera. Keesokan harinya, mereka menuju laboratorium untuk membuat ramuanX. Saat sedang membuat ramuanX, tanpa sengaja, mereka menumpahkan cairan kimia dan tanpa disadari


141 Kelas Bahasa 1 | P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) cairan kimia tersebut mengenai ramuanX. Setelah selesai membuat ramuanX, mereka mendatangi Museum Zoologi. Lalu, memberikan ramuanX ke fosil Harimau Sumatera dan Badak Sumatera dan tiba-tiba harimau dan badak membesar dan yang seharusnya bersikap baik, tetapi malah bersikap ganas. Dimas dan Zahid pun menyadari bahwa cairan kimia tersebut mengenai ramuanX. Lalu, Harimau Sumatera dan Badak Sumatera bertarung dan menghancurkan gedung-gedung yang ada di Kota Bogor, tetapi hewan tersebut tidak menghancurkan Museum Zoologi karena mereka tau bawa Museum Zoologi adalah tempat tinggalnya saat mereka menjadi Fosil. Tetapi, Dimas dan Zahid membiarkan hewan tersebut bertarung karena saat hewan itu mati, akan berubah menjadi Fosil kembali. Lalu, Dimas dan Zahid membuat ramuanX kembali dengan berhati-hati. Kemudian, mereka mencoba lagi kepada Harimau Sumatera dan Badak Sumatera, Lalu, mereka berhasil Zahid pun berkata ”Alhamdulillah kita berhasil Dimas,” dengan rasa


Click to View FlipBook Version