The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah - STAI Al-Hamidiyah 2021

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by info.alhamidiyah, 2021-06-26 23:07:06

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah - STAI Al-Hamidiyah 2021

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah - STAI Al-Hamidiyah 2021

Keywords: STAMIDIYA,Pedoman

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH
Skripsi, Makalah, dan Artikel

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
AL-HAMIDIYAH BANGKALAN
TAHUN 2021

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH
Skripsi, Makalah, dan Artikel

Cetakan ke sepuluh, Januari 2021

Penyusun:
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M)
STAI Al-Hamidiyah

Editor:
Pusat Penjaminan Mutu (LPM) STAI Al-Hamidiyah

Desain Cover & Isi:
Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STAI Al-Hamidiyah

Diterbitkan oleh:
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M)

STAI AL-HAMIDIYAH BANGKALAN

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur hanya milik Allah SWT., karena berkat rahmat dan
maunah-Nya buku pedoman penulisan karya ilmiah ini dapat
diselesaikan sebagaimana mestinya.

Buku pedoman ini sangat penting sebagai pedoman atau
petunjuk teknis bagi dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam
(STAI) Al-Hamidiyah Bangkalan dalam menyusun karya ilmiah. Buku
pedoman ini berisi tentang pedoman penulisan proposal, skripsi,
makalah, dan artikel ilmiah.

Kami menyadari bahwa buku pedoman ini masih banyak
terdapat kekurangan dan kelemahan. Karena itu, kritik dan saran akan
sangat berguna bagi penyempurnaan buku pedoman ini di masa yang
akan datang.

Semoga buku ini dapat bermanfaat. Atas perhatian dan
kerjasamanya yang baik kami ucapkan terima kasih.

Bangkalan, Januari 2020
Ketua STAI Al-Hamidiyah

Ahmadi, S.Pd.I, M.Pd.
NIDN. 2106068603

ii

DAFTAR ISI

Cover ...................................................................................................... i
Kata Pengantar ....................................................................................... ii
Daftar Isi ................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Perbedaan Skripsi, Makalah Dan Artikel ................................... 1
B. Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah .............................................. 3

BAB II PROSEDUR PEMPROGRAMAN SKRIPSI
A. Pendahuluan ............................................................................. 5
B. Syarat Akademik dan Prosedur Pengajuan Judul ...................... 6
C. Proses Pembimbingan ............................................................... 8
D. Persiapan Ujian ......................................................................... 9
E. Ujian Skripsi ............................................................................... 10
F. Revisi Skripsi .............................................................................. 10

BAB III SISTEMATIKA PENULISAN
A. Sistematika Penulisan Skripsi, Makalah, dan Artikel ................. 12
B. Sistematika Penulisan Artikel dan Makalah Pendek ................. 14
C. Tata Letak dan Teknis Penulisan ................................................ 16
D. Teknik Penulisan Notasi Ilmiah .................................................. 17
E. Daftar Pustaka ........................................................................... 34
F. Skema Transliterasi Arab-Indonesia .......................................... 40
G. Contoh Transliterasi Arab-Indonesia dalam Catatan kaki dan
Daftar Pustaka ........................................................................... 45
H. Sistematika Penulisan Proposal ................................................. 46
I. Sistematika Penulisan Laporan .................................................. 49
J. Format dan Redaksi Bagian Pembuka........................................ 54
K. Penulisan Tabel dan Gambar ..................................................... 55

BAB IV DESKRIPSI BAGIAN-BAGIAN PROPOSAL
A. Format Proposal Penelitian Kuantitatif...................................... 60
iii

B. Format Proposal Penelitian Kualitatif ........................................ 64
BAB V DESKRIPSI BAGIAN INTI SKRIPSI

A. Format Laporan Penelitian Kuantitatif ...................................... 69
B. Format Laporan Penelitian Kualitatif ......................................... 74
C. Format Laporan Penelitian Pustaka .......................................... 79
BAB VI PENULISAN MAKALAH
A. Ciri Pokok ................................................................................... 84
B. Isi dan Sistematika ..................................................................... 85
BAB VII DESKRIPSI ISI ARTIKEL
A. Artikel Hasil Penelitian .............................................................. 93
B. Artikel Non Penelitian ............................................................... 99
BAB VIII PENUTUP
LAMPIRAN

iv

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

BAB I
PENDAHULUAN
A. PERBEDAAN SKRIPSI, MAKALAH, DAN, ARTIKEL
Skripsi
Skripsi merupakan karya ilmiah dalam suatu bidang studi
yang ditulis oleh mahasiswa Program Sarjana (S1) pada akhir
studinya. Karya ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan untuk
menyelesaikan program studi mereka yang dapat ditulis berdasarkan
hasil penelitian lapangan, hasil kajian pustaka, atau hasil kerja
pengembangan (proyek)
Skripsi hasil penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang
berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan. Ditinjau
dari pendekatan yang digunakan, penelitian lapangan dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu penelitian kuantitatif dan
penelitian kualitatif.
Penelitian kuantitatif adalah sutau penelitian yang pada
dasarnya menggunakan pendekatan deduktif - induktif. Pendekatan
ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, maupun
pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya, kemudian
dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta
pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh
pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di
lapangan.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang pengumpulan
data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai
instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan
cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif.
Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam
penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan
bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif

Pendahuluan | 1

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam
serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh keontetikan.

Kerja pengembangan adalah kegiatan yang menghasilkan
rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan
masalah-masalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan
ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-
prinsip, atau temuan-temuan penelitian untuk memecahkan
masalah. Skripsi dan tesis yang ditulis berdasarkan hasil kerja
pengembangan menuntut format dan sistematika yang berbeda
dengan skripsi dan tesis yang ditulis berdasarkan hasil penelitian,
sebab karakteristik kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian
tersebut berbeda. Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya
menguji jawaban yang diajukan terhadap suatu permasalahan,
sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan
atau teori untuk memecahkan suatu permasalahan.
Makalah

Makalah adalah karya ilmiah yang merupakan hasil
pelaksanaan tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen. Sebagai
karya ilmiah, secara umum makalah juga memiliki ciri-ciri yang sama
dengan jenis karya ilmiah yang lain, yaitu antara lain bersifat
objektif, tidak memihak, berdasarkan fakta (bukan emosi atau
perasaan), sistematis, dan logis. Contoh isi dan format sampul
makalah dapat dilihat pada Lampiran 16.
Artikel

Artikel ilmiah adalah suatu tulisan yang dibuat oleh
mahasiswa pada akhir program studinya yang didasarkan pada
skripsi yang telah ditulisnya. Oleh karena skripsi yang ditulis oleh
mahasiswa dapat berupa hasil kegiatan penelitian lapangan
(kuantitatif atau kualitatif), kajian pustaka, atau pengembangan
proyek, artikel ilmiah yang disusun oleh mahasiswa juga merupakan
tulisan yang diangkat dari hasil penelitian lapangan, kajian pustaka,

Pendahuluan | 2

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

atau pengembangan proyek. Dari segi sistematika penulisan dan
isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam: artikel hasil
penelitian dan artikel nonpenelitian. Artikel ilmiah yang ditulis oleh
mahasiswa diarahkan untuk dapat diterbitkan dalam jurnal ilmiah.
Contoh format artikel untuk jurnal dapat dilihat pada Lampiran 15.
B. KODE ETIK PENULISAN KARYA ILMIAH

Kode etik adalah seperangkat norma yang perlu diperhatikan
dalam penulisan karya ilmiah. Norma ini berkaitan dengan
pengutipan dan perujukan, perizinan terhadap bahan yang
digunakan, dan penyebutan sumber data atau informan.

Dalam penulisan karya ilmiah, penulis harus secara jujur
menyebutkan rujukan terhadap bahan atau pikiran yang diambil dari
sumber lain. Pemakaian bahan atau pikiran dari suatu sumber atau
orang lain yang tidak disertai dengan rujukan dapat diidentikkan
dengan pencurian.

Penulis karya ilmiah harus berupaya menghindarkan diri dari
tindak kecurangan yang lazim disebut plagiat. Plagiat merupakan
tindak kecurangan yang berupa pengambilan tulisan atau pemikiran
dari orang lain yang diakui sebagai hasil tulisan atau hasil
pemikirannya sendiri. Dalam menulis karya ilmiah, rujuk-merujuk
dan kutip-mengutip merupakan kegiatan yang tidak dapat dihindari.
Kegiatan ini amat dianjurkan, sebab perujukan dan pengutipan akan
membantu perkembangan ilmu.

Dalam menggunakan bahan dari suatu sumber (misalnya
instrumen, bagan, gambar, dan tabel), penulis wajib meminta izin
kepada pemilik bahan tersebut. Permintaan izin sebaiknya dilakukan
dalam bentuk tertulis. Jika pemilik bahan tidak dapat dijangkau,
penulis harus menyebutkan sumbernya dengan menjelaskan apakah
bahan tersebut diambil secara utuh, diambil sebagian, dimodifikasi,
atau dikembangkan.

Pendahuluan | 3

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Nama sumber data atau informan, terutama dalam
penelitian kualitatif, tidak boleh dicantumkan apabila pencantuman
nama tersebut dapat merugikan sumber data atau informan. Sebagai
gantinya, nara sumber data atau informan dinyatakan dalam bentuk
kode.

Pendahuluan | 4

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

BAB II
PROSEDUR PEMPROGRAMAN SKRIPSI
A. PENDAHULUAN
Skripsi adalah sebuah karya ilmiah mahasiswa dari hasil
penelitian yang dilakukan dengan berbagai analisis keilmuan sesuai
disiplin ilmu masing-masing. Sebagai sebuah laporan penelitian.
Skripsi adalah cermin baik tidaknya suatu kegiatan penelitian. Skripsi
merupakan suatu sarana atau wahana peneliti dalam berkomunikasi
dengan pembaca, pembaca tahu apa yang telah dilakukan dan
ditemukan oleh peneliti dari laporan penelitian.
Skripsi ditulis oleh seorang mahasiswa setelah seluruh
kegiatan penelitian termasuk pembahasan hasil-hasilnya telah
selesai dilakukan. Skripsi ditulis dengan maksud supaya peneliti
dapat mengkomunikasikan pikiran tentang penemuan-penemuannya
melalui penelitian secara sistematis. Di pihak lain, skripsi itu ditulis
supaya orang lain dapat mengikuti, memahami dan memberikan
kritik-kritik yang konstruktif tentang pokok masalah hasil penelitian.
Sebagai laporan penelitian, skripsi menjelaskan masalah
yang diteliti, mengapa hal itu diteliti, bagaimana proses penelitian
dilakukan, dan apa kesimpulannya. Dengan pemaparan yang Objek
tif dan terperinci, maka komunitas ilmiah dapat memberikan makna
pada data, menentukan validitas dan menghayati makna dari
keseluruhan penelitian itu. Mereka juga dapat memberikan kritik-
kritik dalam rangka pengembangan ilmu yang menjadi substansi
penelitian.
Untuk memerankan fungsi komunikasi seperti diharapkan di
atas, penyusunan dan penulisan skripsi harus memperhatikan
beberapa hal, antara lain Objek tivitas peneliti, gaya penulisan, dan
format atau teknik penulisan laporan. Mahasiswa hendaknya
berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga Objek tivitas dalam
mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, serta

Prosedur Program Skripsi | 5

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

menulisnya dalam bentuk skripsi. Dalam konteks inilah, seorang
mahasiswa dituntut integritasnya untuk mengungkapkan suatu
kebenaran.

Hal yang tidak kalah penting dalam menyusun skripsi adalah
perlu adanya gaya penulisan yang dianut oleh mahasiswa secara
konsisten. Hal ini terkait dengan aturan-aturan yang harus ditaati
oleh mahasiswa. Oleh karena itu, skripsi disusun dengan cara-cara
yang sudah lazim dalam tradisi perguruan tinggi sebagai institusi
pengelola dan pengembang ilmu, seni dan teknologi. Dengan gaya
penulisan tertentu, maka skripsi akan nampak lebih sistematis dan
mudah dipahami oleh pembaca.

Di samping itu, skripsi juga dapat diasumsikan sebagai syarat
yang diperlukan bagi kelanjutan studi ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi. Sebagai sarana pendidikan, mutu skripsi harus
mencerminkan tingkat akademik dan keilmuan yang memadahi,
sekaligus hal ini akan membawa citra akademik yang baik dari
institusi pendidikan tinggi yang bersangkutan. Untuk kepentingan
tuntutan akademik dan keilmuan serta pengendalian mutu tersebut,
maka skripsi mahasiswa harus diuji kebenarannya dan dipertahankan
secara ilmiah di hadapan tim penguji.

B. SYARAT AKADEMIK DAN PROSEDUR PENGAJUAN JUDUL
1. Syarat Akademik
a. Pengajuan program skripsi dapat dimulai setelah mahasiswa
menyelesaikan beban studinya minimal 138 sks dengan
IPK minimal 2.00 dilampirkan dengan transkrip nilai terakhir.
b. Topik skripsi yang akan dibahas dapat mengambil salah satu
bidang kajian ilmu Pendidikan Agama Islam
c. Sistematika penulisan dan format pengetikan skripsi ditulis
mengikuti pedoman ini dan menggunakan kaidah-kaidah
bahasa Indonesia yang baik dan benar.
d. Pengajuan program skripsi dapat dilakukan oleh mahasiswa
Prosedur Program Skripsi | 6

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

setelah yang bersangkutan lulus menempuh mata kuliah
metodologi penelitian.

2. Prosedur Pengajuan Judul
Untuk dapat dipertimbangkan dalam proses pemilihan

judul skripsi, mahasiswa STAI Al-Hamidiyah Bangkalan harus lebih
dahulu tercatat sebagai mahasiswa dengan status mahasiswa
aktif. Untuk ini persyaratan administratif mahasiswa pada
semester yang bersangkutan harus lebih dahulu terpenuhi.
Mereka tercatat sebagai mahasiswa aktif dan selanjutnya dapat
mengajukan judul skripsi kepada ketua program studi. Pengajuan
judul skripsi diselenggarakan setiap waktu selagi mahasiswa
memenuhi persyaratan akademik.

Prosedur pengajuan judul skripsi bagi mahasiswa STAI
Al-Hamidiyah Bangkalan dapat dilakukan dengan urutan sebagai
berikut:
a. Pengambilan blanko konsultasi dan beberapa formulir yang

diperlukan untuk pengajuan judul skripsi oleh mahasiswa
dari program studi.
b. Pengajuan tiga judul penelitian lengkap dengan pokok
masalahnya oleh mahasiswa melalui staf program studi
untuk ditentukan dalam rapat tim akademik program studi.
c. Pengumuman hasil rapat tim akademik oleh program studi
tentang penentuan satu judul skripsi mahasiswa sekaligus
dosen pembimbingnya.
d. Permohonan tanda tangan surat tugas dan surat bimbingan
skripsi oleh mahasiswa kepada ketua program studi melalui
bagian akademik dan kemahasiswaan (BAK).
e. Penyerahan surat tugas dan surat bimbingan skripsi yang
telah ditandatangani ketua program studi dengan nomor
resmi dari bagian umum kepada dosen pembimbing.

Prosedur Program Skripsi | 7

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

3. Pengajuan Proposal
Apabila dosen pembimbing telah menyatakan setuju

menjadi pembimbing skripsi yang diajukan mahasiswa, maka
selanjutnya mahasiswa dapat menuliskan proposal lengkap
menyangkut penelitiannya. Proposal merupakan rencana
penelitian yang akan dilakukan mahasiswa sekaligus merupakan
tahap awal penelitian. Oleh karena itu, mahasiswa disarankan
mengerjakan proposal dengan serius karena akan menentukan
kelancaran penelitian selanjutnya.

C. PROSES PEMBIMBINGAN
Proses pembimbingan atau konsultasi dapat dilakukan segera

setelah proposal penelitian diterima dan telah dilakukan perbaikan.
Dalam menjaga kelancaran konsultasi dengan pembimbing, ada
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan mahasiswa, antara lain:
1. Menetapkan jadwal pertemuan dengan dosen pembimbing

sehingga dapat diketahui waktu yang disediakan oleh
pembimbing.
2. Mengikuti atau mentaati aturan yang ditetapkan oleh dosen
pembimbing secara khusus.
3. Memperhatikan dengan baik saran-saran yang diberikan oleh
dosen pembimbing.

Dalam setiap proses pembimbingan, para dosen pembimbing
diharapkan menjalankan fungsi dan perannya sebagai counterpart
yang memberikan feed back bagi kekurangan penelitian mahasiswa.
Hal yang perlu diperhatikan oleh setiap dosen pembimbing adalah:
1. Pembimbing skripsi bertugas memberikan bimbingan tentang

relevansi materi, metode penelitian, dan teknik penulisan sesuai
dengan judul yang telah disetujui.
2. Pembimbingan oleh dosen pembimbing meliputi:
a. Penyusunan dan penyelesaian proposal penelitian minimal

tiga kali bimbingan
Prosedur Program Skripsi | 8

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

b. Penyempurnaan proposal penelitian berdasarkan masukan
pada saat seminar proposal.

c. Penyelesaian penulisan skripsi minimal enam kali bimbingan.
d. Penyempurnaan penulisan skripsi berdasarkan masukan tim

penguji skripsi.
3. Jangka waktu pembimbingan yang diberikan kepada mahasiswa

adalah sesuai dengan keputusan yang diterbitkan oleh pihak
akademik, terhitung sejak tanggal penunjukan dosen pembimbing
oleh ketua program studi.

D. PERSIAPAN UJIAN
Apabila mahasiswa telah selesai menulis laporan penelitian

skripsi, maka yang bersangkutan dapat mendaftarkan diri untuk
mengikuti ujian skripsi dengan terlebih dulu harus memenuhi
beberapa persyaratan sebagai berikut:
1. Syarat Akademik

a. Mahasiswa telah lulus semua mata kuliah dengan jumlah
kredit minimal (ditentukan oleh program studi).

b. Mahasiswa memperoleh Indeks Prestasi kumulatif minimal
2,00 (cukup).

c. Mahasiswa telah lulus dalam ujian lisan PAI
2. Syarat Administratif

a. Menyerahkan bukti pembayaran SPP sampai dengan
semester akhir

b. Menyerahkan foto berwarna ukuran 3x4 (2 lembar).
c. Menyerahkan transkrip nilai sementara.
d. Menyerahkan skripsi 2 eksemplar (belum dijilid) yang telah

ditandatangani oleh dosen pembimbing serta dengan
melampirkan surat izin melaksanakan penelitian dan bukti
surat telah selesai melaksanakan penelitian.
e. Mengisi blanko pendaftaran skripsi.

Prosedur Program Skripsi | 9

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

E. UJIAN SKRIPSI
1. Ujian skripsi dapat dilaksanakan pada akhir semester.
2. Penguji skripsi terdiri dari penguji I sebagai ketua sidang
(utama), dan penguji II (pendamping/pembimbing) dan
Sekretaris Sidang
3. Pada saat ujian, mahasiswa diharuskan membawa dan
menunjukkan literatur yang tercantum di dalam daftar pustaka
minimal 5 referensi utama, semua alat ukur atau bukti
penelitian, misalnya angket, kaset rekaman, catatan lapangan,
checklist pengamatan, dan lain-lain.
4. Mahasiswa diberi waktu maksimal 10 menit untuk presentasi
pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam skripsi, yang
meliputi permasalahan, kerangka berpikir, metode penelitian,
hasil penelitian atau kesimpulan.
5. Penguji skripsi dapat mengajukan pertanyaan dan memberikan
penilaian untuk aspek-aspek
a. Presentasi dan Sikap (25%)
b. Penguasaan Materi (35%)
c. Kemampuan Perencanaan Skripsi (40%)
6. Tim Penguji akan melakukan diskusi sesaat setelah ujian skripsi
selesai untuk menyatakan lulus-tidaknya mahasiswa yang
bersangkutan dalam mempertanggungjawabkan skripsinya.
7. Hasil ujian (Lulus/Tidak Lulus) disampaikan setelah pelaksanaan
ujian.
8. Mahasiswa yang dinyatakan tidak lulus ujian skripsi wajib
mengikuti ujian ulang skripsi.
9. Hasil ujian dinyatakan dengan nilai akhir (kumulatif) dengan
ketentuan sebagaimana ada dalam buku pedoman
penyelenggaraan pendidikan.

F. REVISI SKRIPSI
1. Mahasiswa yang merevisi skripsi memperoleh catatan salinan
Prosedur Program Skripsi | 10

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

revisi dari tim penguji.
2. Skripsi yang telah direvisi harus mendapatkan pemeriksaan dan

persetujuan seluruh anggota tim penguji yang ditandai dengan
tanda tangan pengesahan.
3. Angka penilaian baru dapat diberitahukan setelah skripsi selesai
disempurnakan dan disetujui oleh tim penguji.
4. Hasil akhir skripsi yang telah disetujui dan disahkan oleh tim
penguji selanjutnya digandakan 2 salinan (1 eksemplar untuk
mahasiswa dan 1 eksemplar untuk Perpustakaan STAI
Al-Hamidiyah Bangkalan), dan 1 eksemplar dilokasi penelitian
(jika dibutuhkan).
5. Bagi mahasiswa yang melakukan revisi skripsi melebihi batas
waktu yang telah ditentukan, diharuskan untuk mengikuti ujian
ulang dengan waktu yang ditentukan oleh program studi atau
panitia ujian.
6. Revisi skripsi dilaksanakan oleh mahasiswa dalam waktu
selambat-lambatnya tujuh hari terhitung setelah ujian skripsi.
7. Jika dalam waktu tujuh hari mahasiswa belum menyelesaikan
revisi skripsi, maka akan dilakukan ujian ulang.

Prosedur Program Skripsi | 11

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

BAB III
SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan yang dibahas dalam bagian ini khusus untuk
penulisan skripsi, dan laporan penelitian; sedangkan sistematika penulisan
artikel dan makalah mengikuti pedoman yang berbeda. Makalah panjang
yang panjangnya lebih dari 20 halaman dapat mengikuti sistematika
laporan penelitian. Perbedaan pokok antara kedua jenis karya ilmiah ini
terletak pada susunan bagian-bagiannya. Teks skripsi, dan laporan
penelitian terdiri atas bab dan subbab. Bab dan subbab tersebut diberi
judul dengan format sesuai dengan peringkatnya.

A. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI, MAKALAH, DAN ARTIKEL
Penulisan subbab untuk skripsi, makalah panjang, dan laporan

penelitian mengikuti ketentuan berikut ini:
Contoh:

BAB III
METODE PENELITIAN

Judul bab ini berperingkat 1 dan ditulis sama dengan yang
berlaku pada Alternatif Pertama. Paragrafnya dimulai 1,2 cm dari tepi
kiri dan kemudian baris selanjutnya dicetak mulai dari garis tepi.
A. Instrumen Penelitian

Judul subbab ini berperingkat 2 yang ditandai dengan urutan
huruf besar memakai titik. Judul subbab ini ditulis dengan huruf
besar kecil, bold, dan ditulis dari garis tepi. Paragrafnya dimulai
1,2 cm dari tepi kiri dan kemudian baris berikutnya dicetak
mulai garis tepi.

Sistematika Penulisan | 12

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

1. Alasan Pemilihan Tes
Judul subbab ini berperingkat 3 yang ditandai dengan

urutan angka memakai titik. Judul subbab ini ditulis dengan
huruf besar kecil, bold, dan ditulis dari garis tepi. Paragrafnya
dimulai 1,2 cm dari tepi kiri dan kemudian baris selanjutnya
dicetak mulai dari garis tepi.
a. Isi Tes

Judul subbab ini berperingkat 4 yang ditandai dengan
urutan huruf kecil memakai titik. Judul subbab ini ditulis
dengan huruf besar kecil, bold, dan ditulis dari garis tepi.
Paragrafnya dimulai 1,2 cm dari tepi kiri dan kemudian
baris selanjutnya dicetak mulai dari garis tepi. Contoh
penyajian butir hierarkis dan nonhierarkis dapat dilihat
pada Alternatif Pertama.
1) Tingkat Kesulitan Butir Tes

Judul subbab ini berperingkat 5 yang ditandai
dengan urutan angka memakai kurung tutup tanpa
titik. Judul subbab ini ditulis dengan huruf besar kecil,
bold, dan ditulis dari garis tepi. Paragrafnya dimulai 1,2
cm dari tepi kiri dan kemudian baris selanjutnya dicetak
mulai dari garis tepi.
Ringkasan penulisan Judul subbab:

Sistematika Penulisan | 13

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

B. SISTEMATIKA PENULISAN ARTIKEL DAN MAKALAH PENDEK
Penulisan bagian artikel dan judulnya yang akan dikirimkan

untuk dimuat di jurnal ilmiah dan makalah pendek (< 20 halaman)
mengikuti tata cara penulisan sebagai berikut.
1. Peringkat 1 ditulis dengan huruf besar semua, bold, dan diletakkan di

tengah (judul artikel).
2. Peringkat 2 ditulis dengan huruf besar semua, bold, dan

diletakkan di tepi kiri.
3. Peringkat 3 ditulis dengan huruf besar kecil, bold, dan diletakkan

di tepi kiri.
4. Peringkat 4 ditulis dengan huruf besar kecil dengan cetak miring,

bold, dan diletakkan di tepi kiri.
Contoh:

TAKSONOMI PENGAJARAN
Judul artikel (berperingkat 1) ditulis dengan huruf besar semua,
bold, dan diletakkan di tengah. Jarak antara judul artikel dengan teks di
bawahnya adalah 2 spasi.

Sistematika Penulisan | 14

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

METODE PENGAJARAN
Judul bagian ini termasuk peringkat 2, ditulis dengan huruf besar

semua, bold, dan ditempatkan rata tepi kiri. Paragrafnya dimulai 1,2 cm
dari tepi kiri dan kemudian baris selanjutnya dicetak mulai dari garis tepi.
Strategi Penyampaian Pengajaran

Judul subbagian ini termasuk peringkat 3, ditulis dengan huruf
besar-kecil, bold, dan ditempatkan rata tepi kiri. Paragrafnya dimulai
1,2 cm dari tepi kiri dan kemudian baris selanjutnya dicetak mulai
dari garis tepi.
Media Pengajaran

Judul subbagian ini berperingkat 4, ditulis dengan huruf besar-
kecil, bold, rata tepi kiri, dan dicetak miring. Paragrafnya dimulai 1,2 cm
dari tepi kiri dan kemudian baris selanjutnya dicetak mulai dari garis tepi.
Ringkasan penulisan judul dan bagian-bagian artikel:

Sistematika Penulisan | 15

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

C. TATA LETAK DAN TEKNIK PENULISAN
1. Ukuran Kertas dan Marginasi
Naskah skripsi diketik dengan komputer. Tulisan latin
menggunakan huruf (font) Times New Roman ukuran 14 untuk
judul halaman sampul, ukuran 12 untuk judul bab, sub bab, anak
sub bab dan naskah atau teks skripsi, ukuran 11 untuk teks
dalam tabel, dan ukuran 10 untuk catatan kaki (foot note).
Sedangkan tulisan Arab menggunakan huruf Traditional Arabic
ukuran 18 atau yang seukuran tersebut jika ditulis dengan
tangan.
Kertas yang digunakan adalah HVS A4 (21 x 29,7) dengan
berat 80 gr. Pengetikan dengan spasi ganda dan hanya untuk
satu muka halaman (tidak bolak balik). Sedang jumlah halaman
skripsi minimal 60 halaman selain lampiran. Marginasi diatur
sebagai berikut:

Margin atas : 4 cm

Margin kiri : 4 cm Margin kanan : 3 cm

Margin bawah : 3 cm

Sistematika Penulisan | 16

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

2. Nomor Halaman (Paginasi )
a. Bagian pembukaan terdiri dari : Halaman Judul, Pengesahan,
Persetujuan Pembimbing, Motto dan Persembahan, Kata
Pengantar, Daftar Isi, Abstrak, Tabel diberi nomor halaman
dengan angka romawi kecil (i,ii,iii,iv,v,vi,dst.) diletakkan
dibagian bawah- tengah.
b. Bagian Isi (teks), pemberian nomor halaman diatur sebagai
berikut:
1). Menggunakan angka Arab (1,2,3,4,5, dst.).
2). Halaman bab, nomor halamannya diletakkan dibagian
bawah-tengah.
3). Halaman biasa diketik pada bagian kanan-atas.
c. Bagian lampiran diatur sebagaimana bagian isi.

3. Penjilidan
a. Penjilidan menggunakan karton tebal dengan warna sampul
hijau tua .
b. Judul skripsi dicetak dengan huruf warna hitam.
c. Nama, NIM, dan judul skripsi, selain ditulis pada kulit muka
juga ditulis pada sisi kiri (punggung).
d. Setiap pergantian bab diberikan pembatas kertas warna dan
ada lambang STAI Al-Hamidiyah

D. TEKNIK PENULISAN NOTASI ILMIAH
Teknik penulisan notasi ilmiah dalam pedoman ini adalah

teknik atau cara mengutip sumber dari buku, majalah dan referensi
lainnya. Dilihat dari sudut jenis kutipan, dapat dikategorikan dalam
dua hal yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan
langsung adalah kutipan yang diambil langsung secara utuh dari
sumbernya, sedangkan kutipan tidak langsung adalah kutipan yang
diambil hanya sebagian saja dan dimodifikasi sendiri oleh penulis

Sistematika Penulisan | 17

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

dalam kemasan bahasanya sendiri, tetapi masih merupakan esensi
yang dimaksud oleh sumber.

Adapun teknik kutipan, baik secara langsung atau tidak
langsung dalam pedoman ini adalah catatan kaki (footnote).

1. Langkah Pengutipan Model Footnote

a. Identitas Buku dan Penulis
Menuliskan identitas sebuah buku, ada beberapa hal

yang perlu diperhatikan. Nama penulis harus ditulis ditepi
kiri lurus dengan baris kedua dan seterusnya dengan
susunan nama aslinya dengan tidak mendahulukan nama
akhir (last name) kemudian diikuti koma, judul buku ditulis
miring, kurung buka, tempat penerbit, titik dua, nama
penerbit, koma, tahun penerbitan, kurung tutup, koma,
nomor halaman dan titik.

Contoh:
1Mitsuo Nakamura, The Crescent Arises Over the Banyan
Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central
Javanese Town (Yogyakarta: Gajah Mada University Press,
1983), 45.
2Oemar Seno Adji, Peradilan Bebas Negara Hukum (Jakarta:
Erlangga, 1985), 60.

Jika terdapat kutipan lagi dari buku tersebut (The
Crescent Arises Over the Banyan Tree atau Peradilan Bebas
Negara Hukum) secara langsung di bawahnya, maka kutipan
berikutnya dalam satu halaman cukup dituliskan ibid (ditulis
miring), koma nomor halaman (jika halaman yang dikutip
berbeda). Penggunaan ibid maksimal tiga kali berturut-
turut.

Sistematika Penulisan | 18

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Contoh:
1Mitsuo Nakamura, The Crescent Arises Over the Banyan
Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central
Javanese Town (Yogyakarta: Gajah Mada University Press,
1983), 45.
2Ibid., 50.
3Ibid., 52.
4Ibid., 53.

Jika terdapat kutipan lagi dari buku yang sama (The
Crescent Arises Over the Banyan Tree atau Peradilan Bebas
Negara Hukum) yang telah diselingi sumber kutipan lain,
maka cukup dituliskan nama akhir penulis, koma, beberapa
kata dari judul buku (ditulis miring), koma, dan halaman
kutipan, titik.

1Mitsuo Nakamura, The Crescent Arises Over the Banyan
Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central
Javanese Town (Yogyakarta: Gajah Mada University Press,
1983), 45.
2Oemar Seno Adji, Peradilan Bebas Negara Hukum (Jakarta:
Erlangga, 1985), 60.
3 Nakamura, The Crescent Arises, 47.
4 Nakamura, The Crescent Arises, 32.

Jika seorang penulis memiliki dua karya tulis atau
lebih dan disebutkan untuk pertama kali secara berurutan
dalam satu nomor catatan kaki, maka nama penulis
tersebut diganti dengan kata idem.

Sistematika Penulisan | 19

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Titik koma ditulis untuk memisahkan antara kata idem
dengan kata atau angka yang menjadi bagian dari identitas
sumber sebelumnya.

1Howard M. Federspiel, The Persatuan Islamic Reform in
Twentieth Century Indonesia (Ithaca, New York: Cornell
University Modern Indonesia Project, 1970), 109; Idem,
Popular Indonesia Literature of the Qur’an (Ithaca, New
York: Cornell University Modern Indonesia Project, 1994),
142.
2M. Yahya Harahap, Tujuan Kompilasi Hukum Islam (Jakarta:
Pustaka Panjimas, 1990), 455; Idem, Kedudukan
Kewenangan dan Acara Peradilan Agama (Jakarta: Pustaka
Kartini, 1990), 89.

b. Karya Terjemahan
Sumber yang diterjemahkan dari bahasa asing, judul

sumber yang ditulis adalah judul terjemahannya. Judul
aslinya dalam bahasa asing tidak boleh disebutkan. Cara
penulisan identitas sumber persis sama dengan ketentuan
yang sudah diberikan, hanya ada tambahan “terj.” untuk
tanda penerjemah.

1C. Snouck Hurgronje, Islam di Hindia Belanda, terj. S.
Gunawan (Jakarta: Bhatara Aksara, 1983), 45.

c. Pengutipan Artikel
Kutipan yang diambil dari artikel sebuah jurnal

memiliki ketentuan teknik tertentu. Ketentuan dimaksud
adalah: menyebutkan nama penulis persis seperti susunan
nama aslinya, koma, tanda kutip buka, judul artikel (ditulis

Sistematika Penulisan | 20

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

biasa, tidak miring atau bergaris bawah), tanda kutip tutup,
koma, nama jurnal yang ditulis miring, koma, nomor jurnal,
bulan (kalau ada), koma, dan tahun penerbitan, koma,
nomor halaman dan titik. Perlu disebutkan bahwa jurnal
ditulis dengan angka Arab (Arabic Number) dan bukan
Angka Romawi (Roman Number).

Contoh:
1George Makdisi, “The Hanbali School and Sufism”,
Humaniora Islamica, 2 Januari, 1974, 61.
2Wael B. Hallaq, “A Tenth-Eleventh Century Treatise on
Juridical Dialectic”, Muslim World, 77 1987, 197-228.

Jika artikel yang dikutip dimuat dalam buku, maka
ketentuannya adalah: menyebutkan nama penulis artikel
persis seperti susunan nama aslinya, koma, tanda kutip
buka, judul artikel (ditulis biasa, tidak miring atau bergaris),
tanda kutip tutup, koma, dalam, judul buku yang ditulis
miring koma, ed. (singkatan editor), nama editor, tempat
penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun penerbitan,
koma, nomor halaman dan titik.
1Abdus Subhan, “Social and Religious Reform Movements in
the 19th Century Among the Muslim”, dalam Social and
Religious Movements, ed. S.P. Sen Calcutta: Institute of
Historical Studies, 1979, 485.

Kutipan lain yang dinukil dari artikel yang sama, baik
yang langsung mengikuti kutipan pertama atau diselingi
dengan kutipan dari sumber lain, ketentuannya persis sama

Sistematika Penulisan | 21

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

dengan ketentuan kutipan dari buku, seperti telah diberikan
di atas. Demikian juga jika penulis artikel memiliki dua karya
tulis artikel atau lebih dan disebutkan untuk yang pertama
kali secara berurutan dalam satu nomor catatan kaki, maka
penulis tersebut diganti kata idem.

Untuk kutipan yang diambil dari jurnal elektronik, cara
penulisannya adalah: nama penulis, koma, tanda ku-tip
buka, judul artikel (ditulis biasa, tidak miring), tanda kutip
tutup, nama jurnal yang ditulis miring, koma, nomor jurnal
(volume/edisi kalau ada), kurung buka, bulan (kalau ada),
koma, tahun terbit, kurung tutup, titik dua, alamat website,
kurung buka, tanggal, bulan, dan tahun diakses, kurung
tutup, koma, nomor halaman dan ti-tik.

Contoh:
¹Rachel Jones, "Polygyny in Islam," Macalester Islam Journal,
1/1 (2006):
http://digitalcommons.macalester.edu/islam/vol1/iss1/11
(diakses pada 11 Juni 2015), 23.

d. Artikel dalam Koran
Penulisan footnote pada sumber data artikel dari

surat kabar disusun sebagai berikut: nama penulis, ko-ma,
artikel dalam tanda petik, koma, nama surat kabar (ditulis
miring), kurung buka, tanggal, bulan dan tahun terbit, koma,
kurung tutup, koma, nomor halaman, titik. Contoh:

¹Fahri Hamzah, "Pemuda dan Usia Suatu Bangsa" Republika
(28 Oktober 2000),15.

Sistematika Penulisan | 22

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Jika artikel yang dirujuk tidak menyebutkan nama
penulis, maka aturan penulisannya adalah: nama koran
(diketik biasa, tidak miring), koma, judul artikel (ditulis
miring), kurung buka, tanggal, bulan dan tahun penerbit-an,
titik, kurung tutup, koma, koma, nomor halaman, titik.
Contoh:
¹Jawa Pos, Pelaksanaan UNAS Menyedihkan (20 September
2011), 3.

e. Dokumen Resmi Pemerintah yang Diterbitkan oleh Suatu
Penerbit tanpa Penulis dan tanpa Lembaga
Teknik penulisan rujukan tersebut adalah: nama do-
kumen (ditulis miring), kurung buka, tempat penerbit, ti-tik
dua, nama penerbit, koma, tahun terbit, kurung tutup,
koma, nomor halaman, titik. Contoh:
¹Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Bandung: Citra Umbara, 2003), 12.

f. Makalah yang Disajikan dalam Pertemuan Ilmiah
Teknik penulisan rujukan adalah: nama penulis, ko-

ma, judul makalah (dicetak miring), koma, diikuti per-
nyataan; Makalah disajikan dalam … (nama pertemuan),
ditulis biasa (tidak miring), koma, lembaga penyelengga-ra,
kurung buka, tempat penyelenggaraan, titik dua, tang-gal
bulan dan tahun penyelenggaraan, kurung tutup, ko-ma,
nomor halaman, titik. Contoh:
¹Mukimin, Pendidikan Islam dalam Bingkai Keindonesiaan,
makalah disajikan dalam Kuliah Umum Mahasiswa
Pascasarjana STAIN Pamekasan (Pamekasan: 4 September
2017), 5.

Sistematika Penulisan | 23

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

g. Penulisan Gelar dan Nama
Segala macam gelar yang dicantumkan di depan atau

di belakang nama seorang penulis tidak perlu disebutkan
dalam kutipan.
1Moh. Koesnoe, “Kedudukan Kompilasi Hukum Islam dalam
Sistem Hukum Nasional”, Varia Peradilan, 122 (1995), 78.
Bukan
1Prof. Dr. H. Moh. Koesnoe SH, “Kedudukan Kompilasi
Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional”, Varia
Peradilan, 122 1995, 78.

Jika penulisan hanya memiliki satu nama (single
name), maka nama satu-satunya tersebut yang disebutkan.
1Hazairin, Hukum Kekeluargaan Nasional (Jakarta: Tintamas,
1974), 50.

Penulis Arab Klasik dan Pertengahan yang dikenal
melalui satu nama saja, walaupun ia memiliki nama lebih
dari satu, maka nama yang terkenal itu saja yang
disebutkan. Nama diri (given name) boleh disebutkan, jika
memang diperlukan sebagai penguat.
1al-Ghazālī, al-Makhūl min Talīqāt al-Ushūl (Damaskus: Dār
al-Fikr, 1980), 98.
2al-Syawkānī, Irsyād al-Fuhūl (Kairo: Mustafā al-Bābī al-
Halabī, 1937), 56.
3Jalāl al-Dīn al-Suyūtī, al-Durr al-Mantsūr fi al-Tafsīr al-
Ma’tsūr, vol. 5 (Beirut: Dār al-Ma’rifah, 1965), 89.

Sistematika Penulisan | 24

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Namun jika kebetulan nama yang satu tersebut sama
atau mirip dengan nama penulis lain yang buku atau
artikelnya juga dipakai sebagai sumber, maka nama diri
perlu disebutkan.
1Abū Hāmid al-Ghazālī, al-Mustasyfā min ‘Ilm al-Ushūl, vol.
2 (Kairo: Maţba’at Būlāq, 1976), 89.
2Muhammad Ghazālī, al-Sunnah al-Nabawīyah Bayn Ahl al-
Fiqh wa Ahl al-Hadīts (Kairo: Dār al-Syurūq, 1990), 78.

Perlu disebutkan bahwa penyebutan nama sering
rancu, bukan hanya pada catatan kaki tetapi juga pada bodi
tulisan (the body of the writing). Nama yang disebutkan
dalam bodi tulisan harus ditulis semua (nama awal, tengah
dan akhir). Jika nama itu disebutkan lagi, maka salah satu
nama saja yang ditulis. Jika pemilik nama adalah orang
Indonesia, maka nama yang lebih dikenal yang ditulis.
Namun jika nama asing (Inggris atau Arab), maka yang
disebutkan adalah nama akhirnya. Segala macam gelar yang
dimiliki oleh penulis tersebut, baik yang terletak di depan
atau di belakang namanya, seperti doktor, profesor dan
yang lain, tidak boleh disebutkan.

Contoh dari penjelasan masalah di atas adalah
sebagaimana berikut:

Contoh (1):
Hasbi Ash-Shiddieqy menulis beberapa buku tentang

fiqih, di antaranya adalah al-Ahkam. Hasbi menulis al-
Ahkam, yang terdiri dari lima jilid itu, ketika dia masih
tinggal di daerah asalnya, Aceh.1

Sistematika Penulisan | 25

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

1Hasbi Ash-Shiddieqy, Al-Ahkam: Pedoman Muslimin, vol. 4
(Medan: Islamiyah, 1953), 12.

Contoh (2):
Wilfred Cantwel Smith ternyata memiliki akses

untuk mengkaji tema hukum. Dia memiliki beberapa resensi
buku tentang hukum Islam yang dimuat di beberapa jurnal
terbitan Amerika Utara dan Eropa Barat. Smith selama ini
hanya dikenal melalui karya-karya yang mengangkat isu
masyarakat muslim di kawasan Asia Selatan. 1

1Giovani Solomon, Middle Eastern Studies (London: Oxford
University Press, 1978), 98.

Contoh (3):
Muhammad al-Bāhī menulis sebuah monograph

berbahasa Inggris dengan judul, “Factors of Islamic
Movements in the Arab World”. Dalam karya satu-satunya
yang berbahasa Inggris itu, dia menganalisis pergolakan
pemikiran Islam modern dari satu tahapan waktu ke
tahapan yang lain. Al-Bāhī menulis buku tersebut, ketika dia
menjadi dosen tamu di Institute of Islamic Studies, McGill
University, Montreal awal tahun 1950-an.1

1Muhammad al-Bh, “Factors of the Islamic Movements in
the Arab World,” (Montreal: McGill University Press, 1956),
45.

Jika sebuah buku ditulis, diedit atau diterjemahkan
oleh dua orang, maka dua nama tersebut harus disebutkan
semua. Namun jika jumlah penulis, editor atau
penterjemahnya tiga orang ke atas, maka hanya nama

Sistematika Penulisan | 26

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

penulis, editor atau penterjemah pertama yang disebutkan
kemudian diikuti dengan et. al. (ditulis miring) sebagai ganti
nama-nama lain yang tidak disebutkan.
1Fazlur Rahman, “Revival and Reform in Islam,” dalam The
Cambridge History of Islam, vo. 2, ed. P. M. Holt, et. al.
Cambridge: Cambridge University Press, 1970, 632-638.

Untuk menulis sumber data artikel dari surat kabar
disusun sebagai berikut: nama penulis, koma, judul artikel
dalam tanda petik, koma, nama surat kabar, koma, tanggal
bulan dan tahun, koma, nomor halaman, titik.
Contoh:
1Fahri Hamzah, “Pemuda dan Usia Suatu Bangsa”,
Republika, 28 Oktober 2000, 15.

Bila hanya menuliskan data saja, bukan artikel dari
surat kabar, maka ditulis sebagaimana berikut: nama surat
kabar, koma, tanggal dan tahun, nomor halaman, titik.
Contoh:
Republika, 1 November 2002, 17.

Untuk menulis sumber data artikel dari internet
disusun sebagai berikut: alamat website, titik dua, dua garis
miring, alamat internet, kurung buka, diakses jam, koma,
tanggal, bulan, koma, tahun, kurung tutup, koma, nomor
halaman, titik.
Contoh:
http://www.ciaonet.org/pub/hur01.html (diakses jam 18.30
WIB, 2 Januari, 2014), 2.

Sistematika Penulisan | 27

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

h. Pengutipan Ensiklopedi
Kutipan yang diambil dari Encyclopaedia ditulis

nama penulis entry, tanda kutip buka, koma, judul entry,
tanda kutip tutup, koma, nama encyclopaedia, vol. (volume)
(jika ada), ed. (editor), et. al. (jika diperlukan), kurung buka,
tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun
penerbit, kurung tutup, koma, nomor halaman dan titik.

1A. J. Wensink, “Kufr”, The First Encyclopaedia of Islam, vol.
7, ed. M. Th. Houtsma, et. al. (Leiden: E. J. Brill, 1987), 234.

i. Pengutipan Skripsi, Tesis, dan Disertasi
Kutipan yang diambil dari skripsi, tesis, atau

disertasi yang tidak diterbitkan, caranya adalah dengan
menuliskan nama penulis skripsi, tesis, atau disertasi, koma,
tanda kutip buka, judul skripsi, tesis, atau disertasi (ditulis
biasa tidak miring), tanda kutip tutup, koma, Tesis atau
Disertasi, koma, nama perguruan tinggi, koma, tempat
perguruan tinggi, koma, tahun penulisan skripsi, tesis, atau
disertasi, koma, nomor halaman dan titik.
1Bisri Affandi, “Syaykh Ahmad al-Syurkati: His Role in al-
Irsyad Movement”, Tesis, McGill University, Montreal, 1976,
34.
2Nurcholish Madjid, “Ibn Taymiyya on Kalam and Falsafa: A
Problem of Reason and Revelation in Islam”, Disertai,
Chicago University, Chicago, 1984, 45.

j. Pengutipan Identitas Sumber yang tidak jelas
Jika unsur dalam identitas sumber data ada yang

tidak jelas atau hilang, maka harus dicantumkan tanda
“kehilangannya”. Misalnya, jika tempat, nama atau tahun
penerbitan tidak ada dalam sebuah buku atau jurnal, maka

Sistematika Penulisan | 28

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

harus diberi tanda t.tp. (tanpa tempat [penerbit]), t.p.
(tanpa [nama] penerbit) dan t.t. (tanpa tahun [penerbitan]).
Di samping itu, tanda tanya “?” juga harus dipakai, jika salah
satu unsur dalam identitas tersebut diragukan karena tidak
tertulis dengan jelas.

1al-Nawāwī, al-Majmū’ Syarh al-Muhadhdhab, vol.5 (t.tp: al-
Maktabah al-Salafiyah, 1950), 34.
2H. A. R. Gibb, Modern Trend in Islam (Chicago: t.p., 1947),
67.

3S.D. Gotein, Studies in Islamic History and Institutions
(Leiden: E.J. Brill, t.t.), 34.
4M. Hatta, “Politik Sintesa”, Aliran Islam (Februari, 1984),
45.

k. Pengutipan ayat al-Qur’ān
Kutipan dari al-Qur’ān dilakukan dengan cara

menuliskan kata al-Qur’ān (ditulis biasa tidak miring atau
digarisbawahi) kemudian diikuti koma, nama surat, koma,
kurung buka, nomor surat, kurung tutup, titik dua, nomor
ayat dan titik.

Jika dalam satu nomor catatan kaki terdapat dua
atau lebih kutipan al-Qur’ān, maka kutipan berikutnya
ditulis persis seperti kutipan pertama, hanya tidak perlu
menyebutkan kata al-Qur’ān lagi dan antara kedua kutipan
tersebut dipisahkan dengan titik koma. Kutipan lain yang
disebutkan dalam nomor selanjutnya ditulis Ibid, titik,
koma, nomor surat, titik dua, nomor ayat dan titik. Perlu
diketahui bahwa huruf “a” dalam kata sandang difinite
article “al”-Qur’an harus ditulis dengan huruf kecil, sebab
“al” dari sudut gramatika bukan bagian dari kata dimaksud.

Sistematika Penulisan | 29

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Di samping itu perlu diingat bahwa nomor yang dipakai
untuk menunjukkan ayat dan surat adalah Angka Arab
(Arabic Number) dan bukan Angka Romawi (Roman
Number).
Contoh :
1al-Qur’ān, al-Baqarah (2):34;
2Ibid., al-Nisā’ (5):14.

Jika yang dikutip berupa terjemahan ayat al-Qur‟an
atau al-Qur‟an dan terjemahnya, maka cara penulisannya
ditulis lengkap seperti biasa.
Contoh :
¹Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya
(Jakarta: Mahkota, 2013), 119.

l. Pengutipan langsung dan tidak langsung
Kutipan ada dua macam, langsung dan tidak

langsung. Kutipan langsung adalah kutipan yang dinukil
sama persis seperti bunyi yang dinyatakan dalam teks
aslinya. Kutipan langsung ada yang terdiri dari enam baris
ke atas atau kurang dari enam baris. Kutipan langsung yang
kurang dari enam baris ditulis sama dengan teks yang lain
dan diletakkan di antara dua tanda kutip. Kutipan langsung
yang terdiri dari enam baris ke atas, ditulis dengan spasi
lebih rapat (1 spasi) dari teks yang lain (2 spasi) dan margin
kiri masuk 4 (empat) ketukan ke kanan. Berbeda dengan
kutipan langsung yang kurang dari enam baris, kutipan
langsung yang terdiri dari enam baris ke atas tidak
diletakkan di antara tanda kutip. Berikut ini adalah contoh
dua macam kutipan langsung tersebut.

Sistematika Penulisan | 30

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Contoh kutipan langsung kurang dari enam baris:
Islam meletakkan nilai moral universal yang jika

dikembangkan dalam format peradaban modern bisa
menjadi acuan moral alternatif. Oleh karena itu, dikatakan
bahwa “Islam adalah sumber nilai yang memiliki potensi
untuk menjadi acuan baru.”

Contoh kutipan langsung lebih dari enam baris:
“Semenanjung Arabia adalah kawasan yang selalu
dijadikan ajang pertikaian politik oleh imperium
Romawi dan Persi dalam era pra-kedatangan Islam.
Kelahiran Islam bukan saja telah mengakhiri posisi
Arabia sebagai “wilayah sengketa,” tetapi juga
menjadikan wilayah itu sebagai pusat kekuatan politik
baru, di mana dasar-dasar Emperium Islam, yang
akhirnya bisa mengakhiri riwayat Emperium Parsi dan
mengurangi wilayah teritorial Emperium Romawi,
dikodifi-kasikan.”

Kutipan langsung dari sumber tidak berbahasa
Indonesia (Arab, Inggris, bahasa daerah atau yang lain)
perlu ditulis aslinya dan disertai terjemahannya. Terutama
jika kutipan tersebut dinukil dari teks al-Qur’ān, Hadīts atau
teks dokumentatif. Ini untuk memastikan keakuratan
terjemah dengan teks aslinya, kata, phrase (ungkapan),
singkatan (acronym) atau istilah (technical terms) yang
berasal dari bahasa asing atau daerah ditulis miring atau
digarisbawahi. Ketentuan seperti itu dimaksudkan untuk
menjaga otentisitas penelitian. Otentisitas sebuah
penelitian dibuktikan, diantaranya, dengan menunjukkan
bahwa kata, phrase, singkatan (acronym) atau istilah
(technical terms) yang disebutkan, namun dipinjam atau

Sistematika Penulisan | 31

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

berasal dari bahasa asing, memang terbukti keasingannya.
Karena itu, dalam menuliskan unsur-unsur asing atau
daerah tersebut tidak boleh terjadi salah ejaan
(misspelling).

m. Penulisan Sumber Arab
Cara penulisan sumber Arab sedikit berbeda

dengan sumber non-Arab. Identitas sumber tersebut,
misalnya, harus ditransliterasikan dengan mengikuti skema
transliterasi Arab-Indonesia yang diberikan dalam pedoman
ini. Setiap bagian dalam identitas sumber ditransliterasikan
persis seperti aslinya, kecuali nama tempat penerbitannya.
Tempat penerbitan disesuaikan dengan nama tempat yang
dibakukan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, al-Qahirah
berubah menjadi Kairo, Bayrūt menjadi Beirut, Dimasq
menjadi Damaskus, Baghdād menjadi Bagdad, Halb menjadi
Alepo dan seterusnya. Kadang-kadang nama tempat (kota)
penerbit tidak disebutkan dalam buku-buku Arab terbitan
lama. Sebagai gantinya disebutkan nama negara. Untuk
kasus seperti ini, nama negara itulah yang harus dipakai.

1Ibn Salāh, Fatāwā wa Masā'il Ibn Shalāh fi al-Tafsīr wa al-
Hadīts wa Ushūl al-Fiqh, vol. 1 (Beirut: Dār al-Ma’rifah,
1986), 57.
2Ibn Qayyim al-Jawzīyah, al-Manār al-Munīf li al-SHahīh wa
al-Da’īf (Alepo: Maţba’at al-Maţbū’ah al-Islāmīyah, 1970),
23.
3Rasyīd Ridā, al-Khilāfah aw al-‘Imāmah al-‘Uzmā (Mesir:
Maţba’at al-Manār, 1928), 80.

n. Penulisan nomor catatan kaki
Nomor catatan kaki dimulai dari angka terkecil

dalam setiap bab. Perlu disebutkan bahwa antara catatan

Sistematika Penulisan | 32

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

kaki dalam satu nomor urut dengan catatan kaki dalam
nomor urut yang lain tidak perlu diberi jarak. Angka (nomor
urut) dalam catatan kaki dicetak sedikit lebih tinggi
(superscript) dari permukaan rata-rata kata dalam nomor
itu. Di samping itu, antara nomor catatan kaki dengan huruf
pertama nama penulis sumber tidak perlu diberi spasi.
Nomor urut catatan kaki juga tidak perlu diikuti dengan
titik.
1Afaf Lutfi Al-Sayyid Marsot, A Short History of Modern
Egypt (London: Cambridge University Press, 1985), 78.

2John A. Haywood, Modern Arabic Literature (1800-1970)
(New York: Strategi. Martin’s Press, 1972), 90.

3W. M. Watt dan R. Bell, Introduction to the Qur’an
(Edinburgh: Edinburgh University Press, 1990).

o. Penulisan Hasil Wawancara dan Observasi
Menuliskan hasil wawancara diatur dengan

menyebutkan nama yang diwawancarai, tanpa menyebut
gelar seperti bapak, ustadh dan lain-lain, kemudian koma,
wawancara (ditulis miring), koma, tempat wawancara,
koma dan tanggal wawancara, titik.
Contoh:

¹Nandar, wawancara, Lumajang, 13 Desember 2000.

Identitas diri informan ditulis dalam daftar
responden. Contoh: Kasiman adalah seorang guru PAI dan
menjabat sebagai ketua takmir di Dusun Berguh Desa Sen
Asen Kecamatan Konang Kabupaten Bangkalan

Sistematika Penulisan | 33

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Untuk data hasil observasi, teknik penulisan ruju-
kannya seperti contoh berikut:
¹Observasi dilakukan pada saat istighotsah di Masjid Agung
As-Syuhada pada hari Ahad tanggal 15 Juli 2015, pukul
07.00-09.00.

E. DAFTAR PUSTAKA
Semua sumber yang dipakai sebagai rujukan dalam penulisan

skripsi harus dicantumkan dalam daftar pustaka. Jumlah sumber
rujukan/referensi minimal 30 buku/referensi. Dalam daftar pustaka,
sumber diklasifikasikan antara sumber primer dengan sekunder.
Dengan ketentuan 10 sumber primer yang terdiri dari 10 buku dan/
atau jurnal, sisanya merupakan sumber sekunder. Sumber primer
wajib dibawa pada saat pelaksanaan ujian.
1. Buku

Teknik penulisan sumber dalam daftar pustaka pada
dasarnya tidak berbeda jauh dengan teknik penulisan catatan
kaki. Untuk menulis identitas sumber dalam bentuk buku, maka
susunan nama penulis dibalik, nama akhir (last name) kemudian
diikuti nama awal (first name). Jika penulis buku tersebut
mempunyai nama tengah (middle name), maka nama tengah
ditulis setelah nama awal. Setiap unsur identitas dalam daftar
pustaka selalu diakhiri dengan titik. Koma dipakai hanya ketika
menengahi nama akhir dan awal penulisan serta nama penerbit
dan tahun penerbitan. Sedangkan antara tempat penerbitan dan
nama penerbitan ditulis titik dua. Kemudian sumber-sumber
yang dijadikan daftar pustaka tersebut disusun berdasarkan
abjad dari A sampai Z sehingga terlihat urut dan rapi.
Contoh:
Basyr, Ahmad Azhar. 1993. Refleksi Atas Persoalan Ke-Islaman.

Bandung: Mizan.

Sistematika Penulisan | 34

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Gani, Bustami A. 1994. Beberapa Aspek Ilmiah tentang Al-
Qur’ān. Jakarta: Litera Antarnusa.

Hasan, Fuad. 1997. Heteronomia. Jakarta: Pustaka Jaya.

Jika sumber yang dikutip merupakan transliterasi dari
nama-nama (pengarang) berbahasa Arab seperti al-Ghazali, al-
Baghdadi, dan lain-lain maka urutan yang dipakai bukan dari segi
abjad paling depan, tetapi merujuk kepada nama pokoknya
seperti Ghazali, Baghdadi, dan lain-lain, sehingga susunan
penulis menjadi seperti berikut :

Abī al-Barakat, Majd al-Dīn. 1964. Al-Muharrar fī al-Fiqh ‘alā
Madhhab al-Imām Ahmad b. Hanbal. Vol. 1. Beirut: Dār al-
Kitāb al-‘Arabī.

Al-Baghdādī al-Hanbalī, Shafī al-Dīn. 1986. Qawā’id al-Ushūl wa
Ma’āqid al-Fushūl. Beirut: ‘Alam al-Kutub.

Basyr, Ahmad Azhar. 1993. Refleksi Atas Persoalan Ke-Islaman.
Bandung: Mizan.

Al-Dhahabī, Muhammad Husayn. 1962. Al-Tafsīr wa al-
Mufassirūn. vol. 3. Kairo: Dār al-Kutub al-Hadītsah.

Gani, Bustami A. 1994. Beberapa Aspek Ilmiah tentang Al-
Qur’ān. Jakarta: Litera Antarnusa.

Al-Taymīyah. 1983. al-Musawwadah fī Ushūl al-Fiqh. Kairo:
Maţba’at al-Madanī.

Sistematika Penulisan | 35

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

Mendahulukan nama akhir penulis dalam daftar pustaka
berlaku dengan mutlak, sekalipun seorang penulis lebih dikenal
nama awalnya.
Contoh:
Ash-Shiddieqy, Hasbi. 1967. Kriteria antara Sunnah dan Bid’ah.

Jakarta: Bulan Bintang.

Jika seorang penulis mempunyai beberapa sumber yang
dicantumkan dalam daftar pustaka, maka nama penulisnya
hanya dicantumkan pada sumber pertama saja. Sedangkan pada
sumber kedua dan seterusnya, nama tersebut diganti dengan
tanda – yang dibuat sebanyak 9 (sembilan) kali ketukan
kemudian diikuti titik.
Contoh:
Nasution, Harun. 1986. Akal dan Wahyu. Jakarta: UI Press.

________. 1975. Filsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang,.

________. 1987. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional
Mu’tazilah. Jakarta: UI Press.

Perlu disebutkan bahwa jika sebuah sumber dalam bibliography
tertulis lebih dari satu baris (contoh nomor tiga di atas), maka
baris kedua dan seterusnya ditulis masuk empat ketukan dari
margin kiri dan jarak antara baris pertama dengan berikutnya
lebih sempit dibandingkan dengan jarak antara sumber tersebut
dengan sumber yang lain.

2. Buku yang Berisi Kumpulan Artikel (ada editornya)
Caranya adalah seperti menulis rujukan dari buku ditambah
dengan tulisan (Ed.) jika ada satu editor, dan (Eds.) jika editornya

Sistematika Penulisan | 36

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

lebih dari satu, di antara nama pe-nulis dan tahun penerbitan.
Contoh :
Letheridge, S. & Cannon, C.R. (Eds.). 1980. Bilingual Edu-cation:

Teaching English as a Second Language. New York: Praeger.

Aminuddin (Ed.). 1990. Pengemhangan Penelitian Kualitatif
dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat
Malang dan YA3.

3. Artikel dalam Buku Kumpulan Artikel (ada editor-nya)
Nama penulis artikel ditulis di depan diikuti de-ngan tahun
penerbitan. Judul artikel ditulis biasa (ti-dak cetak miring). Nama
editor ditulis seperti me-nulis nama biasa, diberi keterangan
(Ed.) bila hanya satu editor, dan (Eds.) bila lebih dari satu editor.
Judul buku kumpulannya ditulis dengan huruf miring, dan nomor
halamannya disebutkan dalam kurung. Contoh:
Hasan, M.Z. 1990. Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam
Aminuddin (Ed.), Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam
Bidang Bahasa dan Sastra (hlm. 12-25). Malang: HISKI
Komisariat Malang dan YA3.

4. Artikel dalam Jurnal
Nama penulis ditulis paling depan diikuti de-ngan tahun dan
judul artikel yang ditulis dengan ce-tak biasa, dan huruf besar
pada setiap awal kata. Nama jurnal ditulis dengan cetak miring,
dan huruf awal dari setiap katanya ditulis dengan huruf besar
kecuali kata hubung. Bagian akhir berturut-turut ditulis jur-nal
tahun ke berapa, nomor berapa (dalam kurung), dan nomor
halaman dari artikel tersebut. Contoh:
Hanafi, A. 1989. Partisipasi dalam Siaran Pedesa-an dan
Pengadopsian Inovasi. Forum Penelitian, 1(1): 33-47.

Jika artikel berasal dari jurnal online, maka penu-lisannya adalah

Sistematika Penulisan | 37

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti
secara berturut-turut oleh ta-hun, judul artikel, nama Jurnal
(dicetak miring), volume dan nomor, titik dua, alamat sumber
rujukan tersebut, keterangan kapan diakses di antara tanda
kurung.
Contoh:
Kumaidi. 1998. Pengukuran Bekal Awal Bela-jar dan

Pengembangan Tesnya. Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid 5, No.
4: http://www,malang.ac.id (diakses 20 Januari 2015).

5. Artikel dalam Majalah atau Koran
Nama penulis ditulis paling depan, diikuti oleh tanggal, bulan,
dan tahun (jika ada). Judul artikel di-tulis dengan cetak biasa,
dan huruf besar pada setiap huruf awal kata, kecuali kata
hubung. Nama majalah ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf
pertama se-tiap kata, dan dicetak miring. Nomor halaman di-
sebut pada bagian akhir.
Contoh :
Huda, M. 13 November, 1991. Menyiasati Krisis Listrik Musim
Kering. Jawa Pos, 6.

6. Koran tanpa Penulis
Nama koran ditulis di bagian awal. Tanggal, bulan, dan tahun
ditulis setelah nama koran, kemu-dian judul ditulis dengan huruf
besar-kecil dicetak miring dan diikuti dengan nomor halaman.
Contoh :
Jawa Pos. 22 April, 1995. Wanita Kelas Bawah Lebih Mandiri, 3.

7. Dokumen Resmi Pemerintah Berupa Undang-Un-dang dan
Peraturan Pemerintah yang Diter-bitkan Sekretariat Negara
Republik Indonesia
Judul atau nama dokumen ditulis di bagian awal dengan cetak

Sistematika Penulisan | 38

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

miring, diikuti tahun penerbitan do-kumen, kota penerbit dan
nama penerbit.
Contoh :
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional. 2004. Jakarta: Sekretariat Negara RI.

Jika bersumber dari lembaga yang ditulis atas na-ma lembaga
tersebut, maka penulisannya adalah nama lembaga
penanggungjawab langsung ditulis paling de-pan, diikuti dengan
tahun, judul karangan yang dicetak miring, nama tempat
penerbitan, dan nama lembaga yang bertanggungjawab atas
penerbitan karangan tersebut.
Contoh :
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2000. Pedoman

Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.

8. Terjemahan
Nama penulis asli ditulis paling depan, di-ikuti tahun penerbitan
karya asli, judul terjemahan (di-singkat terj.), nama penerjemah,
tahun terjemahan, na-ma tempat penerbitan dan nama penerbit
terjemahan. Apabila tahun penerbitan buku asli tidak dican-
tumkan, ditulis dengan kata tanpa tahun.
Contoh :
Ary, D., Jacobs, L.C. & Razavieh, A. T.t. Pengantar Penelitian
Pendidikan. Terj. Arief Furchan. Surabaya: Usaha Nasional.

9. Skripsi, Tesis, atau Disertasi
Nama penulis ditulis paling depan, diikuti ta-hun yang tercantum
pada sampul, judul skripsi, tesis atau disertasi ditulis dengan
cetak miring diikuti dengan pernyataan skripsi, tesis, atau
disertasi tidak di-terbitkan, nama kota tempat perguruan tinggi,

Sistematika Penulisan | 39

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

dan nama fakultas serta nama perguruan tinggi.
Contoh :
Pangaribuan, T. 1992. Perkembangan Kompetensi Kewacanaan

Pembelajar Bahasa Inggris di LPTK. Disertasi tidak
diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana IKIP Malang.

10. Makalah yang Disajikan dalam Pertemuan
Nama penulis ditulis paling depan, dilanjut-kan dengan tahun,
judul makalah ditulis dengan cetak miring, kemudian diikuti
pernyataan "Makalah disajikan dalam ...", nama pertemuan,
lembaga penyeleng-gara, tempat penyelenggaraan, dan tanggal
serta bulannya.
Contoh :
Huda, N. 2014. Penulisan Laporan Penelitian untuk Jurnal.
Makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian 'Tingkat
Dasar bagi Dosen PTN dan PTS di Malang Angkatan XIV,
Pusat Penelitian IKIP Malang, Malang, 12 Juli.

11. Artikel dalam Internet
Nama penulis, titik, judul tulisan (cetak miring), titik dua, alamat
website, koma, tanggal diakses. Contoh:
Handayani, Ririn. Ketika Negara-Negara Maju Berlomba-lomba
Memajukan Sistem Pendidikannya, Bagaimana dengan
Indonesia?: http://edukasi.kompasiana.com, diakses 14-
11-2015.

F. SKEMA TRANSLITERASI ARAB - INDONESIA
Sebelum menggunakan transliterasi Arab Indonesia,

hendaknya instal font dengan font Times New Arabic. Berikut
adalah skema transliterasi Arab-Indonesia yang ditetapkan dalam
pedoman ini.

Sistematika Penulisan | 40

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

ARAB INDONESIA ARAB INDONESIA
‫ء‬ ‘ ‫ض‬ dl
‫ب‬ B ‫ط‬ zh
‫ت‬ T ‫ظ‬ dz
‫ث‬ Ts ‫ع‬ ‘
‫ج‬ J ‫غ‬ Gh
‫ح‬ H ‫ف‬ F
‫خ‬ Kh ‫ق‬ Q
‫د‬ D ‫ك‬ K
‫ذ‬ Dh ‫ل‬ L
‫ر‬ R ‫م‬ M
‫ز‬ Z ‫ن‬ N
‫س‬ S ‫ه‬ H
‫ش‬ Sy ‫و‬ W
‫ص‬ Sh ‫ي‬ Y

Berikut beberapa kombinasi tombol untuk membuat
transliterasi yang simple dan mudah pada font Times New Arabic:
1. Huruf besar dengan titik di bawah (S} D} T} H} Z})

Caranya, ( huruf + Shift { )
2. Huruf kecil dengan titik di bawah (s} d} t} h} z})

Caranya, ( huruf + Shift } )
3. Huruf besar dengan titik di atas (S| D| T|)

Caranya, ( huruf + Shift \ )
4. Huruf kecil dengan titik di atas (r\ u\ s\)

Caranya, ( huruf + \ )
5. Huruf besar dengan garis di atas (A< U<)

Caranya, ( huruf + Shift < )
6. Khusus untuk huruf besar “I” dengan garis di atas (I@)

Caranya, ( huruf + Shift @ )
Sistematika Penulisan | 41

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

7. Huruf kecil dengan garis di atas (u> i> a>)
Caranya, ( huruf + Shift > )

8. Huruf kecil dengan garis di atas (u> i> a>)
Caranya, ( huruf + Shift > )

9. Huruf Besar (G# M# ), caranya ( huruf + Shift # )
10. Huruf kecil ( g^ m^ ), caranya ( huruf + Shift ^ )
11. Huruf Besar ( G~ M~ ), caranya ( huruf + Shift ~ )
12. Huruf kecil ( v` m` ), caranya ( huruf + ~ )

Untuk menunjukkan bunyi hidup panjang (madd) caranya
dengan munuliskan coretan horisontal (macron) diatas huruf a, i,
dan u ( ‫ ) ؤ ئ أ‬menjadi ā, ī, dan ū. Bunyi dobel (dipthong) Arab dengan
dengan menggabungkan dua huruf “ay” dan “aw” seperti layyinah,
lawwamah._Untuk kata ta’ marbutah dan berfungsi sebagai sifat
(modifier) atau mud}a<f ilayh dengan “ah” sedangkan yang berfungsi
mud{a<f ditransliterasikan dengan “at”.

Semua nama Arab dan istilah teknis (technical terms) yang
berasal dari bahasa Arab harus ditulis dengan transliterasi Arab
Indonesia. Di samping itu, kata dan istilah yang berasal dari bahasa
asing (Inggris dan Arab) juga harus dicetak miring atau
digarisbawahi. Karenanya, kata dan istilah Arab terkena dua
ketentuan tersebut, transliterasi dan cetak miring. Namun untuk
nama diri, nama tempat dan kata Arab yang sudah terserap ke dalam
bahasa Indonesia cukup ditransliterasikan saja.

Bunyi hidup dobel (dipotong) Arab ditransliterasikan dengan
menggabung dua huruf ay dan aw.

Syay’, bayn, maymūn, ‘alayhim, qawl, daw’, mawdū’ah,
masnū’ah,.

Bunyi hidup (vocalization atau harakah) huruf konsonan akhir
pada sebuah kata tidak dinyatakan dalam transliterasi. Transliterasi
hanya berlaku pada huruf konsonan (consonant letter) akhir

Sistematika Penulisan | 42

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

tersebut. Sedangkan bunyi (hidup) huruf akhir tersebut tidak boleh
ditransliterasikan. Dengan demikian, maka kaidah gramatika Arab
tidak berlaku untuk kata, ungkapan atau kalimat yang dinyatakan
dalam bentuk transliterasi latin.

Khawāriq al-‘ādah bukan khawāriqu al-‘ādati; inna al-dīn
‘inda Allāhi al-Islām bukan inna al-dīna ‘inda Allāhi al-Islāmu;,
wa hādhā syay’ ‘inda ahl al-‘ilm fahuwa wājib bukan wa
hādhā syay’un ‘inda ahli al-‘ilmi fahuwa wājibun.

Sekalipun demikian dalam transliterasi tersebut terdapat
kaidah gramatikal Arab yang masih difungsikan yaitu untuk kata
dengan akhiran ta’ marbūţah yang bertindak sebagai sifah modifier
atau idāfah genetife. Untuk kata berakhiran tā’ marbūţah dan
berfungsi sebagai mudāf, maka tā’ marbūţah diteransliterasikan
dengan “at”. Sedangkan tā’ marbūţah pada kata yang berfungsi
sebagai mudāf ilayh ditransliterasikan dengan “ah’. Ketentuan
transliterasi seperti dalam penjelasan tersebut mengikuti kaidah
gramatika Arab yang mengatur kata yang berakhiran tā’ marbūţah
ketika berfungsi sebagai shifah dan idāfah.

Sunnah sayyi’ah, nazrah ‘āmmah, al-la’āli’ al-mashnū’ah, al-
kutub al-muqaddah, al-hādīts al-mawdū’ah, al-maktabah al-
misrīyah, al-siyāsah al-syar’īyah dan seterusnya.
Maţba’at Būlaq, Hāshiyat Fath al-mu’īn, Silsilat al-Ahādīts
al-Sahīhah, Tuhfat al-Tullāb, I’ānat al-Tālibīn, Nihāyat al-
ushūl, Nashaat al-Tafsīr, Ghāyat al-Wusūl dan seterusnya.
Maţba’at al-Amānah, Maţba’at al-‘Ashimah, Maţba’at al-
Istiqāmah dan seterusnya.

Penulisan huruf besar dan kecil pada kata, phrase (ungkapan)
atau kalimat yang ditulis dengan transliterasi Arab-Indonesia
mengikuti ketentuan penulisan yang berlaku dalam tulisan. Huruf
awal (initial letter) untuk nama diri, tempat, judul buku, lembaga dan

Sistematika Penulisan | 43

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

yang lain ditulis dengan huruf besar.
Jamāl al-Dīn al-Isnāwī, Nihāyat al-Sūfi Syarh Minhāj al-Wushūl
ilā ‘Ilm al-Ushūl (Kairo: Maţba’at al-Adabīyah 1954); Ibn
Taymiyah, Raf’ al-Malām ‘an A’immat al-A’lām (Damaskus:
Manshūrat al-Maktabah al-Islāmī, 1932).
Rābitat al-‘Ālam al-Islāmī, Jam’īya al-Rifq bi al-ayawān, ay’at
Kibār ‘Ulamā’ Mishr, Munazzamat al-Umam al-Muttahidah,
Majmu’al-Lughah al-‘Arabīyah.

Kata Arab yang diakhiri dengan yā’ musyaddadah
ditransliterasikan dengan ī. Jika yā’ musyaddadah yang masuk pada
huruf terakhir sebuah kata tersebut diikuti tā’ marbūţāh, maka
transliterasinya adalah īyah. Sedangkan yā’ musyaddadah yang
terdapat pada huruf yang terletak di tengah sebuah kata
ditransliterasikan dengan yy.

Al-Ghazālī, al-Shunā’nī, al-Nawawī, Wahhābī, Sunnī Syī’ī,
Mishrī, al-Qusyayirī Ibn Taymīyah, Ibn Qayyim al-Jawīzyah,
al-Isytirākīyah, sayyid, sayyit, mu’ayyid, muqayyid dan
seterusnya.

Kata depan (preposition atau harf jarr) yang
ditransliterasikan boleh dihubungkan dengan kata benda yang jatuh
sesudahnya dengan memakai tanda hubung (-) atau dipisah dari kata
tersebut, jika kata diberi kata sandang (adāt al-ta’rīf).

Fi-al-adab al-‘arabī atau fi al-adab al’arabī, min-al-musykilāt
al-iqtishādīyah atau min al-musykilt al-iqtishādīyah, bi-al-
madhāhib al-arba’ah atau bi al-madhāhib al-arba’ah.

Sistematika Penulisan | 44


Click to View FlipBook Version