NOVIA ERWANDI, dkk.
Antologi Puisi
PCeenjtuaangngBiru
2021
Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
Antologi Puisi
PCeenjtuaangngBiru
NOVIA ERWANDI, dkk.
Editor:
Tri Mulyono
Tata Letak:
Febriani Safitri
Desain Sampul:
Sri Andayani
Penerbit dan Pencetak:
Satria Publisher
Jalan Raya Tinggarjaya RT 01/09 Ja lawang, Banyumas,
Jawa Tengah HP: 085867822579
ISBN:
.......................................
50 Halaman, 14, 8 x 21 cm
Terbitan Pertama
Cetakan Pertama
2021
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA PASAL 72
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu
Ciptaan atau memberikan izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) bulan dan/ atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah), atau pidana
penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000.00
(lima miliar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau
menjual kepada umum suatu Ciptaan atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada pasal (1),
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak
Rp. 500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah).
II Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
KATA PENGANTAR
Pada Progrogram Pendidikan Guru (PPG) angkatan 4 tahun 2021
Universitas Pancasak (UPS) Tegal saya kembali mendapatkan tugan
untuk menyampaikan materi bahasa Indonesia Modul 3, Kesastraan yang
isi materinya ada empat, yaitu (1) Genre Puisi dalam Pembelajaran Sastra
Kurikulum 13, (2) Genre Prosa dalam Pembelajaran Sastra Kurikulum
2013, (3) Genre Drama dalam Pembelajaran Sastra Kurikulum 2013, dan
(4) Perangkat Pembelajaran Sastra Kurikulum 2013. Tujuan
pembelajarannya adalah para peserta dapat memahami semua materi
dan menyampaikannya di depan kelas setelah menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Mengingat hal itu, semua peserta saya beri tugas menulis puisi seusai
pendalaman materiu, khususnya materi genre puisi. Tujuannya sangat
jelas, yaitu agar para peserta dak hanya mampu memahami materi
tetapi juga menulis dan membacakan puisi.
Puisi-puisi yang terkumpul dalam buku ini adalah merupakan tugas
mereka menulis puisi saat mengiku pendalaman materi, khususnya
berkaitan dengan genre puisi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
berkaitan dengan genre puisi para peserta dak hanya dapat memahami
materi tetapi juga menulis puisi sebagai implementasi pemahaman
materi yang bersangkutan.
Dengan kumpulan puisi ini harapannya bisa terjalin hubungan
silaturahmi lebih erat antar para peserta PPG yang berasal dari berbagai
Provinsi, misalnya I Wayan Ariyastani dan Ni Kadek Ima Suryani dari Bali,
Nuryan dan Perwan Meylia dari Sumatra, dan Petrus Afendi dari Papus.
Di samping sebagai buk bahwa para peserta telah memiliki kompetensi
profesional dalam hal ketrampilan menulis puisi.
Pemalang, 14 Oktober 2021
Tri Mulyono
III Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ~ iii
Da ar Isi ~ iv
PEJUANG CENTANG BIRU - Adis Setyo Rini__1
SYUKUR - Anggraini Rima Wahyu Ningsih__2
DEMI GURU PROFESIONAL - Anton Parnozomi__3
GURUKU - Baharuddin Nurdin__4
TITIK NOL - Budi Teguh Harianto__5
PEJUANG CETAK BIRU - Budi Teguh Harianto__6
AWAL KITA - Chrisna Sukarni__7
HUJAN PAGI INI - Defni Janiar __8
CENTANG BIRU - Dwi Yuliana__9
BERDISKUSI DENGAN MALAM - Es Sumarni__10
CENTANG BIRU - Fivin Novidha__11
LAYAR MAYA - I Wayan Ariyastana__12
Kami dan PPG - Iis Darliah__13
BAKTI GURU GURU BAKTI - Irwan Maulana__14
MENUJU KATA PROFESIONAL - Ita Rahmah Haerani __15
BEL SEKOLAH - Lida Ekawa __16
ANANDA BESTARI - Maria Fransiska Dosila__18
PEJUANG CENTANG HIJAU - Mega Rosarianta Purba__19
GURUKU YANG LUAR BIASA - Muh Ali R__20
SECERCAH ASA PPG – Mumfia __23
LANGKAH PERMULAAN - Ni Kadek Ima Suryani__24
IV Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
PEJUANG SERTIFIKAT - Nova Andriani Hutauruk__25
ASA DALAM MAYA - Novia Erwandi__26
SAHABAT PPG - Novita Surya D.A.__27
TIKTOK TIKTOK – Nuryan __28
Kau Bilang – Nuryan __29
Kau Bilang Aku Can k – Nuryan __30
Pejamkan Mata – Nuryan __31
Untukmu – Nuryan __32
RPP – Nuryan __33
Terima Kasihku – Nuryan __34
DILEMA GURU YANG INGIN SERTIFIKASI - Perwan Meylia__36
SANG INSPIRATOR - Petrus Afendi__37
BERSAMA MERAIH MIMPI - Ruswa __38
BERSAMA MERAIH MIMPI – Ruswa __39
PPG - Sapriadi Bin Syahrir__40
MENGEJAR SURYA – Suhendra__41
REDUP - Suryani,__42
Gugup – Tri Mulyono__43
Muhammad Ali – Tri Mulyono__44
Mumfia – Tri Mulyono__45
Ni Kadek Irma Suryani – Tri Mulyono__46
Novia Erwandi – Tri Mulyono__47
Percaya – Tri Mulyono__48
Maa an Jika Aku Keliru Menilaimu – Tri Mulyono__49
V Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
Nuryan – Tri Mulyono__50
Kau Bilang – Tri Mulyono__51
Mengapa Besuk – Tri Mulyono__52
Bukan Merayu – Tri Mulyono__53
PROFESIKU GURU - Wilhelmina Bethan__54
PPG - Yulia Marini__55
PEJUANG CENTANG BIRU - Yuliana Natalia Kuyami__56
PESAN UNTUK MURIDKU - Yulita Nur Indrawa __57
Biografi Para Penulis - 58
VL Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
PEJUANG CENTANG BIRU
Karya: Adisti Setyo Rini
Bertemu dalam dunia maya
Saling tegur sapa
Saling menanyakan kabar berita
Ya...kita
Para pejuang centang biru
Berburu mengejar ilmu
Bergulat dengan waktu
Kita.. tak pernah bertemu
Namun hati bisa menyatu
Tetaplah semangat sahabat-sahabatku
Teruslah berjuang demi harapan masa depan
Demi negeri ini menjadi terdepan
Demi anak didik kita menjadi pintar
1 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
SYUKUR
Karya: Anggraini Rima Wahyu Ningsih
Berhari-hari bertahun-tahun ku berjuang tanpa lelah
Hanya demi sebuah harapan
Harapan yang selalu aku impikan
Harapan yang selalu membuatku tetap semangat
Dan terus tetap berjuang
Berkali-kali ujian saya hadapi
Jatuh bangun aku lewati
Berkali-kali ku menanti
Hingga suatu hari kabar datang
Namaku terdaftar peserta PPG
Kabar baik yang slalu aku impikan dan harapan
Dan ketika kabar bai itu datang
Berkecamuk rasa di hati
Bahagia dan penuh mengharu biru
Sagala usahaku tak sia-sia
Dan kini terbayar dengan tangis bahagia
Puji syukur ku panjatkan padamu Tuhan
Terima kasih atas segala kenikmatan yang kau berikan
Tak akan kusia-siakan
'kan kugunakan kesempatan ini sebaik mungkin
Terima kasih Tuhan atas segala kebaikan yang kau berikan
2 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
DEMI GURU PROFESIONAL
Karya: Anton Parnozomi
sayup-sayup terdengar..kok kok kok
ya…. itu suara ayam berkokok di pagi hari
Pertanda bahwa menimba ilmu akan segera di mulai
Tak perduli mata masih mengantuk
Dan sisa lelah kemren belum hilang
Bergegas kuraih leptop dan kupersiapkan segalanya
Hari demi hari kujalani
Tak peduli lelah dan letih
Dimataku yangterlintas hanyalah wajah-wajah parasiswa
Tekat bulat ku tanamkan
Ini semua demi menjadi guru professional
Bosan….ya
Terkadang datang tiba-tiba
Tetapi itu semua hilang ketika melihat semangat
rekan guru
Mereka selalu senyum semangat
Hatikupun berkata “aku juga harus lebih semangat
dari mereka”
3 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
GURUKU
Karya: Baharuddin Nurdin
Ketika anak didikmu berhasil
Namamu tak jadi andil
Ketika anak didikmu gagal
Engkau jadi tumbal
Namun,
Itu bukan ukuran
Itu juga bukan jaminan
Tapi itu lecutan
Untuk jadi lebih baik
PPG pun dijalankan
Agar dapat mengasah kemampuan
Jadi profesional dan terbaik
Sekelumit doa di ujung malam
Disertai secercah pengharapan
Semoga lulus selalu bersemayam
Demi masa depan dan angan
4 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
TITIK NOL
Karya: Budi Teguh Harianto
Melayang di singgasana yang
meluruh terbawa angin bencana
bertubi-tubi tanpa lelah menghujam
Langkah yang tiada terkira membuyarkan angan dan cita
Ketika kaki tak berdaya menahan
gempuran cerca, seolah pemikul dosa
Taka da lagi kata yang pantas disandang
tak ada lagi suara yang lantang terdengar
Mulut terkunci wajah diselimuti kain hitam
Asa tinggal se ujung rambut jagung yang kering kerontang
Mata mulai redup tangan tak lagi mampu menggenggam
Terbesit cahaya dari lubang kecil menyusun puing-puing
dari dasar tanah
Bayang-bayang semu segera berlalu pergi jauh diterpa
ombak-ombak kecil
Tunas mulai tumbuh di tengah gersang dan teriknya
mentari
Biarkan dia tumbuh menjulang rindang tempat berteduh di
kala hujan
5 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
PEJUANG CETAK BIRU
Karya: Budi Teguh Harianto
Teruntuk yang jauh disana di balik sebongkah batu panjang
Layu sebelum berkembang gugur sebelum tunas
Jalan yang tak bisa kau pilih kawan, demi selembar kertas
cetak biru
Kami masih setia melajutkan perjuangan yang kau ukir kawan
Tangan bergetar dada berdegup kencang meledak-ledak
Berpacu dengan waktu dan cuaca yang tak bersahabat
Penghargaan yang dijanjikan dengan secarik kertas cetak biru
bukan semu
Mereka yang mencipta dan menerkanya, kita hanya
melaluinya
Itu yang mereka sebut sebongkah emas untuk kita
Jiwa dan ragamu akan terbayar dengan senyuman tunas
bangsa
yang menanti jiwa terpanggil menolong mereka dari jeratan
masa depan
Goreskan sedikit cerita teruntuk pejuang cetak biru
6 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
AWAL KITA
Karya: Chrisna Sukarni
Awal kita bertemu
Tak kira kan bersatu
Dimulai dengan kata penuh malu
Membuka wacana nan deru
Awal kita bersama
Mengalir nada nan berirama
Saling bertegur sapa
Lewat jari jemari lincah menari dikeyboard media
From zero to hero
Dipenuhi rasa semangat menuntut ilmu
Itulah tujuan kita bersama
Saling memacu diri
Hingga akhir mencapai target
Guru profesional
Program Profesional Guru dalam Jabatan
Bahasa Indonesia Angkatan 4
Kita bisa….
Kita Yakin bisa…
Kita pasti bisa….
Serang, 21 September 2021
7 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
HUJAN PAGI INI
Karya: Defni Janiarti
Hujan yang jatuh pagi ini
Derasnya masih seperti hari kemaren
Seperti mentari yang selalu menunggu datangnya pagi
Rindu masih tersemat di sini, pilu, dan mimpi-mimpi masih
menunggu kenangan
Perihal ingatan yang kau tanam berbuah dari pohon yang
rindu
Lalu siang yang tak lagi terik dengan datangnya mendung
nan syahdu
Sebuah mimpi yang tersimpan di kantong kenangan
Dan kau ceritakan tentang kegamangan malam
Aku membuka kenangan itu kembali, tentang hari-hari pada
bulan januari
Dan mawar yang tak lagi berduri
Tetapi tetap saja terluka walau berkali-kali ku usap
Terasa perih yang teramat hingga tak sanggup ku menutup
tabir kembali
8 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
CENTANG BIRU
Karya: Dwi Yuliana
Siapa sih kamu
Hingga semua orang mengejarmu
Semua orang menantimu
Apakah kamu gubernur
Atau aktris korea
Hingga semua yang disini memperjuangkanmu
Centang biru karena kamu
Orang rela tidak tidur hanya untuk menendapatkanmu
Orang sakit jadi sembuh hanya untukmu
Centang biru
Kenapa harus kamu
Yang mendapat perhatianku
Hingga suamiku cemburu
Centang biru
Kenapa harus kamu yang merenggut asa
Tapi kau juga yang memberikan segalanya
Kau murka saat kami tak bisa mendapatkanmu
Namun keberadaanmu menjadi pelita
Centang biru
Jangan pergi lagi
Biarlah kamu disini menemani
Dimalam sahdu yang sepi
Agar selalu ada centang biru di HPku
9 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
BERDISKUSI DENGAN MALAM
Karya: Esti Sumarni
Malam ini ku ingin mengajakmu berdiskusi
pecahkan serangkai masalahku
Bisakah gelapmu tetap gelap sampai fajar
panjangkan gelapmu seperti inginku
Ku mohon izinkan kunang-kunang yang bergelayut
di kelopak mataku untuk menjauh
agar ku selesaikan dulu deretan kosakataku
Bisakah gelapmu
Singkirkan gerombolan balok yang menimpa jemariku
agar ku mampu menggeser setiap deretan huruf
yang berbaris tak tertata
Malam…. panjangkan waktumu
untuk setumpuk agendaku
10 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
CENTANG BIRU
Karya: Fivin Novidha
Mulai hari ini, pikiranku tertuju pada satu tanda itu
Dengan langkahku yang serba terburu-buru
Susah payah ku berusaha menggapai tanda centang biru
Tak kuhiraukan lagi pekerjaanku
Aku korbanku murid-muridku
Semua demi sebuah tanda centang biru
Yang konon katanya bisa membuatku professional dalam
mengajarmu
Maa kan aku murid-muridku
Semoga esok aku bisa kembali mengantarmu
Menggapai cita-cita luhurmu
(Yogyakarta, 20 September 2021)
11 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
LAYAR MAYA
Karya : I Wayan Ariyastana
Di depan layar menatap cahaya
Sang surya tak sempat ku sapa
Nyatanya sudah berlalu begitu saja
Tersenyum lalu pergi
Di depan layar berkeluh kesah
Menyatakan diri layak digugu
Aku kira selama ini layak di tiru
Ternyata sebatas kertas dengan embel-embel di
belakang
Di depan layar menggali jati diri
Kesibukanku bukan lagi sebatas tegur sapa
Segudang kewajiban telah menanti
Berbagi waktu nyatanya hanya teori belaka
Di depan layar berpacu dengan waktu
Detak yang melambat
Tubuh yang melemah
Senyum tetap terjaga
Bali, 30 September 2021
12 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
KAMI DAN PPG
Karya: Iis Darliah
Kami dari berbagai daerah
Kami dari beranekaragam suku
Kami berbeda
Kami Satu
Kami di sini dengan tekad
Kami di sini ingin maju
Kami semangat
Kami Satu
PPG mempertemukan kami di jagat maya
PPG mempertemukan kami dengan insan cendikia
PPG merangkul kami dengan suka cita
PPG menyatukan kami yang berjiwa muda
PPG membuat kami yang jauh menjadi dekat
PPG membuat kami tersentuh oleh tekad
PPG membuat kami selalu mengobarkan semangat
PPG membuat kami menjadi guru hebat
13 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
BAKTI GURU GURU BAKTI
Karya: Irwan Maulana
Lelah sudah kami berdiri
belasan tahun tak ada kursi
tak sedikit saudara kami
Gugur dengan peluhnya sampai mengering
Hari ini
Dalam gubuk lusuh tempatku berteduh
Hany langit redup tempatku mengadu
Wahai para petinggi negeri
jangan lupakan kami
Anakku makan nasi seadanya
Anak-anakku sudah menggapai cita-citanya
Karena senyum mereka
Adalah pelepas lara kami
14 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
MENUJU KATA PROFESIONAL
Karya: Ita Rahmah Haerani
Hari-hari ku disni
Lewat tatap maya kita bersua
Googlemeet menjadi saksi perjuangan kita
Melewati hari-hari yang tak mudah berlalu
Hari-hari ku disini
Walau kerikil tajam ku temui
Walau banyak rintangan yang menghadang
Walau tugas menumpuk tanpa henti
Ku tak akan menyerah mengejar mimpi
Meraih asa demi sebuah harapan
Berharap jejak langkah ini mampu menggapai impian
Demi sebuah masa depan
Aku kembali melangkah
Demi sebuah kertas yang bergelar serdik
Menjejakan kakiku dengan pasti
Untuk menuju kata profesional
Tak ada yang berlari sendirian
Kami saling bahu membahu menyelesaikan segala tugas
Tuhan mengabulkan segala do'a
Semoga Lelah ini dibayar tuntas dengan lulus 100 porsen
15 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
BEL SEKOLAH
Karya: Lida Ekawati
Suara bel sekolah
Riuh teman sekelas
Tiap mentari senin telah tiba
Hormat bendera padamu negeri
Di bahu kami lekapkan harapan masa kan datang
Sepotong pena telah tumpul
Selama tiga tahun ditempa mengasah otak
Akal dan budi dipertajam
Sayang teman dan hormat pada guru
Kami tanamkan dalam sanubari
Berbekal budi bahasa
Kini
Anak panah akan melesat ke segala penjuru
Mencari titik terang pada bumi
Tempat singgah sementara
Semla belajar menyisir rambut
Kini
Semua belajar menempa diri
Tiga tahun bukan waktu yang lama
Kita saling berbagi kisah
Tiga tahun bukan waktu yang singkat
Kita saling mengukir kisah
16 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
Sepanjang jalan sepanjang masa
Sejauh apa pun jua kaki melangkah
Ingatlah jua tempat tuk kembali.
Seluas apa pun hal baru
Ingatlah budi jadi kunci diri
Jasa guru jangan ditinggal
Pesan orang tua jangan diabaikan.
Kepada Tuhanlah semua kita menuju
17 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
ANANDA BESTARI
Karya: Maria Fransiska Dosila
Menyusuri jejak sang pahlawan
Mencari ilmu, melewati rimba
Halang rintang, tak tergoyah
Apapun untuk bekal hidupmu
Arjunaku,
Hidup seolah mengujimu
Menahan tapak demi tapak jejakmu
Pesonamu tak tergoyahkan
Menuju nabastali demi masa depanmu
Anindyaku,
Jelita dan kemilaumu menyapa petang
Tertatih, lunglai, tak kau hiraukan
Selayaknya cinta, setitik ilmu menggelitik hatimu
Ini bekalku katamu, bekalku menyapa semesta
Berjuanglah, putra-putriku
Kelak asamu kan merona menyapa karsamu
Susah kini, bahagiamu kelak
Setiap meraki pasti kan berujung bahagia
Jangan menyerah, kalian harapan bentala
18 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
PEJUANG CENTANG HIJAU
Karya: Mega Rosarianta Purba
Ingin ku bercengkrama, bercanda
Tapi waktu berkata
Maaf, aku tak sempat
Ah semua terasa penat, berat…
Ingin ku menepi, berhenti sejenak
Tapi dermaga itu berkata
Maaf, tak ada tempat
Ah, semua terasa penat, berat..
Kini mata terkadang berkunang
Jidat mengerut, raga seakan merintih
Berpacu dengan waktu
Beradu dengan semua itu
Namun…
Aku, kau, kita harus bangkit
Jangan menyerah walau terasa susah
Semua demi centang hijau
Centang hijau dan centang hijau
Ingat…
Disana ada sejuta harapan
Aku, kau, kita tetap berpacu
Hingga garis inish menyapa indah
Torehkan senyuman dan impian…
19 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
GURUKU YANG LUAR BIASA
Karya: Muh Ali R
Guruku yang luar biasa…..
Kau sambut mentari dalam senandung
Berpacu dengan sang waktu
Tak peduli dengan bising kendaraan
Kala suara knalpot menggelegar
Tak peduli dengan panas
Kala sang surya bersinar menyengat
Tak peduli dengan dingin
Kala sang penguasa langit membasahi bumi
Wajah-wajah lugu yang haus akan ilmu dan pengetahuan
Menunggu kehadiranmu di pelupuk mata
Untaian kata terucap dari bibirmu penuh makna
Untaian kata terucap dari bibirmu menyejukkan jiwa
Ruangan persegi menjadi bilik pengabdianmu
Guruku Yang Luar Biasa…..
Engkau selalu sabar dalam menghadapi kami
Engkau selalu tabah memberikan ilmumu
Engkau selau sabar membimbing kami
Engkau memberikan arah dalam kesesatan kami
Engkau ibarat pelangi di tengah hujan dan badai
Sejuta rintangan di depanmu
Menjadi cambuk perjuangan
Sejuta pengabdian di depanmu
Bagaikan koin-koin emas
Ruangan persegi menjadi bilik pengabdianmu
20 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
Guruku yang luar biasa…..
Engkau yang sayang kepada kami
Walaupun terkadang kami membuatmu marah
Namun dibalik itu semua ada harapan dan doa untuk kami
Agar kami menjadi anak yang sukses dan berguna bagi bangsa
dan Negara
Engkau bagaikan hujan di musim kemarau
Memberi secercah harapan ditengah ketidakpastiaan
Ruangan persegi menjadi bilik pengabdianmu
Guruku yang luar biasa …..
Gajimu kecil tapi tak pelit
Gajimu cukup tapi tak boros
Gajimu kecil tapi tak berkecil hati
Gajimu cukup tapi tak menyombongkan diri
Walaupun terkadang masih ada yang iri dan sakit hati
Melihatmu menerima serti ikasi
Ruangan persegi menjadi bilik pengabdianmu
Guruku yang luar biasa …..
Maa kanlah kami ini
Yang terkadang tak mendengar nasihat-nasihatmu
Maa kalah kami ini
Yang terkadang lalai dari perintahmu
Guruku yang luar biasa……
Engkau pahlawan kami
Engkau pelita di dalam kegelapan
Engkau penyejuk di dalam kehidupan
21 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
Guruku yang luar biasa……
Terima kasih……
Terima kasih……
Terima kasih……
Ruangan persegi menjadi bilik pengabdianmu
22 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
SECERCAH ASA PPG
Karya: Mum iati
Degup dadaku
Terdengar hingga lorong terjauh anganku
'Tika segaris asa masih dalam keraguan
Ada tuntutan
Ada kewajiban
Untuk segera ditamatkan
Sebab di situlah secercah harapan
Ingin kusejukkan kegersangan
Ingin kuhapus perih beban di batin
Ingin kuukir senyum di wajah wajah terkasih
Meski sekedar setetes manisnya kebahagiaan
Serdik ditangan
23 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
LANGKAH PERMULAAN
Karya: Ni Kadek Ima Suryani
Menapak langkah teguhkan hati
Setelah sekian lama menanti
Tentang harapan tentang cita
Sampai mimpi jadi nyata
Ini baru langkah permulaan
Mantapkan tujuan perluas wawasan
Melawan hari hancurkan keraguan
Untuk mencerahkan hari depan
Tak perlu risaukan pertemuan
Layar perantara telah mengukir kenangan
Suara nyaring memecah keheningan
Saling menguatkan melepas kebimbangan
Jangan biarkan waktu menggiring
Terus bergerak bukan terbaring
Menggali ilmu matangkan mental
Untuk abdi yang profesional
24 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
PEJUANG SERTIFIKAT
Karya: Nova Andriani Hutauruk
Awal pengumuman dalam hati cemas
Tak yakin akan diri
Apa daya harus dijalani
Demi menjadi guru profesional
Demi selembar serti ikat
Bertemu teman seperjuangan
Dari Sabang sampai Merauke
Dari berbagai ladang berjuang besama
Belajar bersama
Bertemu di depan layar
Berkomunikasi dari dunia maya
Pengajar yang setia membimbing
Banyak hal yang tak ku tahu hingga tahu
Demi pendidikan yang lebih maju
Harap perjuangan PPG tak sia-sia
Harap akan sampai titik akhir perjuangan bersama
Kan kuikuti setiap alurnya
Demi selembar serti ikat
25 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
ASA DALAM MAYA
Karya: Novia Erwandi
Baru saja ku duduk untuk bermimpi
Mimpi yang berjalan dalam bayangan semu
Namun, tiba-tiba dalam bisu virtual
Mengabarkan seberkas asa itu menjadi nyata
Rasa gundah bercampur sukacita
Menemani senja pada hari itu
Rasa tak percaya ketentuan-Mu menjadi bukti
Di setiap berkas pada pencari indraloka
Pertemuan maya dengan ratusan mata
Menjadi saksi kebhinekaan Indonesia
Aceh sampai Papua mengisahkan
Bahwa kita ini nusantara dan punya ibu pertiwi
Sahaja, tawa, canda, gundah, dan lelah menjadi warna
Membawa silaturahmi yang tak ingin sampai di sini
Waktu yang bergulir mengajarkan sebuah makna
Bahwa kita ini memiliki satu nadi
Meskipun kini, detik demi detik itu mulai memberi isyarat
Bahwa kita punya satu titik
Namun, kisah ini kan terbingkai abadi di sanubari
Dan ku ceritakan pada anak pertiwi
Bahwa kita pernah berjumpa di dunia maya Pancasakti
(Bingkai dalam PPG)
Kaju, 28 September 2021
26 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
SAHABAT PPG
Karya: Novita Surya D.A,
Kita terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh.
Walau raga ini jauh, tetapi kita tetap satu tujuan.
Meski jarak membentang di antara kita.
Tak kubiarkan meluluhkan benang kasih yang telah tercipta.
Meski wajah tak pernah bertatap, meski tangan tak pernah
berjabat.
Kau goreskan seribu asa dalam benak.
Kau torehkan sejuta inspirasi dalam ilusi.
Membangkitkan gelora baru dalam diri.
Selama matahari masih terbit dan terbenam,
Selama panas dan hujan masih silih berganti,
Selama bulan dan bintang dilangit masih bercahaya,
Mari terus menggapai cita, dalam satu asa dan doa.
Kita percaya,
Tuhan selalu berpihak pada kita.
Dan biarkanlah kisah kita terus terangkai,
Kini, esok, dan selamanya.
27 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
TIKTOK TIKTOK
Karya: Nuryanti
Dulu waktu aku kecil, sebagai pengantar tidurku adalah
dongeng
Dulu waktu aku kecil, cita-citaku pingin punya baju loreng
Mainanku katapel, membidik layaknya kolonel
Mainanku bedil-bedilan dari kayu
Jika sudah kumainkan riuh suara amukan amunisi dari
mulutku
Olah ragaku angkat besi
Melatih agar otot-ototku terisi
Namun yang paling aku gemari adalah berlari
Mengejar meraih mimpi-mimpi untuk negeri
Kini…
Lihat lah, otot-otot itu tak ada lagi
Mereka hanya menari-nari
Hingga hilang jati diri
Mereka tak paham apa itu amunisi
Mereka tak tahu apa itu dongeng, baju loreng, bedil, katapel
Lihat lah maskulinnya terkikis habis
Demi eksis, viewers dan followers
Tiktok tiktok tiktok
28 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
KAU BILANG
Karya: Nuryanti
Kau bilang menulis itu
Seperti bicara
Tapi harus kau tau
Menulis dan berbicara itu...
Dua hal yang berbeda
Mana bisa kau samakan
Seperti bikin teh
Sedangkan teh perlu gelas
Menulis butuh kertas
Aku bukan tak percaya
Tapi tak cukup mudah
Terserah lah...
29 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
KAU BILANG AKU CANTIK
Karya: Nuryanti
Kau bilang aku cantik
Berbeda dan muda
Aku harap kau bukan menggoda
Atau tengah bercanda
Namun fakta benar adanya
Benarkah aku rewel
Aku bukan bawel
Aku juga bukan pejengkel
Tapi aku jengkel jika kau bawel
Kau bilang aku pendiam
Tapi jangan kau bilang aku pendendam
Atau juga bukan tak paham
Diamku bukan berarti padam
Aku bukan tak tau
Mungkin saja sedikit lugu
Namun aku juga bukan belagu
Karna ilmu siapa yang tau
Apakah harus selalu bertanya?
Tentang segala hal yang ada
Riau, 10 Oktober 2021
30 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
PEJAMKAN MATA
Karya: Nuryanti
Pejamkan mata saat kutatap dunia
Penuh fana dan bukit terjal
Bak bola api yang membara
Penuh drama dalam setiap tawa
Namun angin berhembus
Tetes embun menyentuh halus
Gemercik air membelai mulus
Kata hatiku sangat tulus
Untukmu wahai pujangga
Pembuka jendela dunia
Terpana hempaskan hampa
Aku tau kau pujangga
Melepas rasa dengan kata-kata
Meski kartumu sudah terbaca
Namun kau memikat sesiapapun yang ada
Mungkin saat ini aku ada
Dan kau masih berada
Suatu saat jika kita tiada
Kau akan tetap ada dalam jiwa
Untukmu wahai pujangga
Terimakasihku tiada tara...
31 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
UNTUKMU
Karya: Nuryanti
Untukmu wahai pujangga
Ya, aku bukan siapa-siapa
Aku hanyalah wanita
Wanita yang memang biasa saja
Memasak itu tugasku
Bersolek itu seleraku
Membimbing buat hati kewajibanku
Namu seni adalah hobiku
Aku bersyukur akan diriku
Merangkul semua yang ada di pundakku
Memasak, mencuci, menyapu,
Mengepel, setrika, dan merayu
Merayu buluh perinduku untuk mendekapku
Sesiapapun engkau dimana berada
Kita hanya insan biasa
Insan sempurna hanya diantara yang bernyawa
Bukan seperti Nabi atau Malaikat
Namun kita tetap punya martabat
Yang layak kelak di akhirat
Hilafmu bukan dosa
Atau sebuah neraka
Namun itu pertanda
Bahwa kau sempurna
32 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
RPP
Karya: Nuryanti
Rpp bagiku artinya
Rapopo...
Rapopo aku nggak bisa buat
Rapopo aku nggak bisa kilat
Rapopo meski aku butuh obat
Dan rapopo seng penting aku tobat
Yang penting bagiku dalam kelas
Siswa ibarat air dalam gelas
Ku transfer ilmu tanpa batas
Dan takkan pernah terbias
Meski terik mentari panas
Anak-anakku adalah dambaan
Harapan di masa depan
Mereka harus selalu terdepan
Dengan trik dariku meski aku bukan ilmuan
Rpp juga penting
Meski terkadang situasi genting
Yang bikin aku jadi radak sinting
Dan berhasil buat aku pusing tujuh keliling
Ya Tuhaaan aku kudu tetap eling
Karna ini sangat penting
33 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
TERIMA KASIHKU
Karya: Nuryanti
Aku seorang guru
Yang masih minim ilmu
Ya, aku sangat tau
Tau kemampuanku
Yang masih sebuku dan...
Seujung kuku
Ilmu yang kupunya tak seberapa
Namun jangan dikata
Aku tak bisa berbuat apa-apa
Aku masih punya daya
Dan masih bisa berupaya
Aku punya asa dan bahkan percaya
Seiring waktu menuntunku menjadi luar biasa
Hari berlalu membawaku pada masa jaya
Ya ya ya itu mimpiku yang ingin menjadi nyata
Karna itu aku menemuimu
Dosen pembimbingku
Aku datang untuk berguru
Aku hadir untuk menimba ilmu
Dan aku ada di hadapanmu
Untuk sesuatu yang penting bagiku
34 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
kanda tri Mulyono
Yang penuh dengan toto kromo
Kanda Syamsul Anwar
tak berhenti berbagi ajar
Terima kasih
Dosenku yang terkasih
Membimbing dengan hati bersih
Menuntun dengan segala jerih
Kelak Jannah, dari Yang Maha Pengasih
35 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
DILEMA GURU YANG INGIN SERTIFIKASI
Karya: Perwanti Meylia
Hampir empat bulan dilalui
Mengantungkan asa di tengah kepastian
Meraih profesi dengan uji kelayakan
Ahh… demi sebuah kertas
Ya kertas, kertas yang akan ditulis dengan kata
PROFESIONAL
Guru
Haruskah sebuah tanggung jawab melupakan kewajiban
Selayaknya sebuah hak tak perlu terkurung sepi seorang diri
Karena berstatus professional harus berserti ikat
Semua guru di tatar melalui tahap-tahapan
Agar bisa menjadi guru yang hebat
Menjadi sebuah pengakuan kinerja yang dibuktikan dengan
serti ikat pendidik
Pada akhirnya menerima penghargaan berupa angka dan
nominal
Ya inilah yang disebut sebagai Tunjangan Tambahan
Penghasilan Profesi Guru
Inilah yang orang bilang guru berserti ikasi
Yang menjadikan profesi guru selalu dicemburui oleh
profesi lainnya
Dilema ini tak henti-hentinya mengganggu
Bagai hantu terselubung
Yang membuat bingung
Adakah secercah harapan untuk menggapainya
Tanpa harus disebut kami professional berserti ikat
36 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
SANG INSPIRATOR
Karya: Petrus Afendi
Wahai guruku sang inspiratorku
Ketika kami pupus harapan
Engkau selalu hadir dan memberi diri
Ketika persoalan dan perbedaan datang silih berganti
Engkau tetap teguh dan memberi solusi dan petuah
Kesejukan kata- katamu memberi kami kedamaian dan
kebahagiaan
Oh guruku …
Kehadiranmu sungguh menyejukan hati
Senyummu yang merekah memberi kami sejuta harapan
Harapan untuk tetap menjadi yang terbaik
Teladanmu terus kami guguh
Tingkah lakumu menjadi pedoman hidup kami
Terima kasih guruku sang inspiratorku
Engkau mengajarkan kami banyak hal positif tentang
menghargai perbedaan
Tuntunan kesabaran dan keterbukaan hatimu
Sangat menginspirasi kami
Kasih sayangmu selalu membekas dalam hidup kami
Engkau sungguh guru sejati dan teladan hidup kami
37 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
BERSAMA MERAIH MIMPI
Karya: Ruswati
waktu tenaga pikiran disiapkan
untuk mencapai tujuan
guru profesional adalah dambaan
serti ikat bukti pengakuan
perjuangan PPG dimulai
ruang maya menjadi saksi
terekam dalam baris melodi
terukir indah dan terpatri
bersama kita bangkit dan berjuang
singkirkan keraguan
saling erat menggenggam
tuk saling menguatkan
yakin berakhir senyuman
38 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
BERSAMA MERAIH MIMPI
Karya: Ruswati
waktu tenaga pikiran disiapkan
untuk mencapai tujuan
guru profesional adalah dambaan
serti ikat bukti pengakuan
perjuangan PPG dimulai
ruang maya menjadi saksi
terekam dalam baris melodi
terukir indah dan terpatri
bersama kita bangkit dan berjuang
singkirkan keraguan
saling erat menggenggam
tuk saling menguatkan
yakin berakhir senyuman
39 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
PPG
Karya: Sapriadi Bin Syahrir
6 tahun diriku menanti,
Menanti dirimu dengan setia,
Putus asa kadang menghampiri
Menyapa dalam penantianku ini
6 tahun diriku menanti,
Menanti dirimu dengan setia,
Kadang lelah mengerogoti diri
Berharap dirimu mengutus kabar
6 tahun diriku menanti,
Menanti dirimu dengan setia,
Akhirnya engkau hadir jua
Menghapus derita penantian ini
6 tahun diriku menanti,
Menanti dirimu dengan setia,
Rangkulanmu ini akhirnya kurasa
Sebagai anugerah Ilahi Robbi
201699796147
SMP Satap 5 Bulukumba
Sulawesi Selatan
40 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
MENGEJAR SURYA
Karya: Suhendra
Ketika lelah menghampirimu
Malas menjadi dirimu
Mengapa kau menikmatinya
Ketika lelah menjadi masa lalu
Jangan biarkan melekat di telingamu
Sedang lelahmu akan berarti
Ketika malas tumbuh di tubuhmu
Jangan biarkan merusak hidupmu
Sedang lelahmu lebih besar
Ketika lelah membawa duka
Mengapa kau biarkan mereka tenggelam
Sedang kau dapat menggenggam mentari
41 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
REDUP
Karya: Suryani
Kulihat,
Kini kau tak lagi semekar dulu
Dulu, abdimu pada negri dijunjung tinggi
Abdimu pada negri seperti nyawa dalam jiwa
Tanpamu tunas ilmu seperti mati
Denganmu tunas ilmu tumbuh kembali
Tapi kulihat kini kau tak lagi semekar dulu
Dulu, kau andaikan lentera dalam gulita
Tapi kini, redup sudah lentera itu
Redup dan semakin meredup
Akankah kau perlahan memadam?
Untukmu abdi ilmu
Tetaplah menyala,
Jika kini kau meredup,
Tapi jangan kau padam!
Tetaplah tertatih
Untuk tunas ilmu
Sampai nanti kau akan kembali benderang
Untuk negri….
Suryani, S.Pd
SMPN 50 Batam
42 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
GUGUP
Karya: Tri Mulyono
Mega Rosarianta
Mengajar urutan pertama
Dengan jantung berdegup
Hingga terlihat sangat gugup
Dia pun salah sapa
Peserta didik dibilang pak
Yang perempuan dipanggil ibu
Satu kata diulang salah
Tak pernah berubah
Misalnya kata boleh
Sepuluh kali lebih
Disebut okeh
Pemalang, 09 Oktober 2021
43 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”
MUHAMMAD ALI
Karya: Tri Mulyono
Muhammad Ali
Mengajar dengan nada tinggi
baik sekali
dan mudah dipahami
Peserta didik tertarik
Tidak saling melirik
Mengikuti dengan baik
Pemalang, 09 Oktober 2021
44 Antologi Puisi “Pejuang Centang Biru”