Dua Dunia
Kenangan kepada:
Angely Yuwana, Benita E. Arijani,
Dwi Yanny, Eka Kartikawati,
Lilly Djamin
Dua Dunia
Kumpulan Cerita Pendek
Nh. Dini
DUA DUNIA
Kumpulan Cerita Pendek
Karya Nh. Dini
Diterbitkan oleh
PT Dunia Pustaka Jaya
Jl. Gumuruh No. 51, Bandung 40275
Telp. 022-7321911 Faks. 022-7330595
Email: [email protected]
Anggota Ikapi
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Desain sampul: Ayi R. Sacadipura
Cetakan pertama, 1956 oleh Nusantara
Cetakan kedua, 1961 oleh Nusantara
Cetakan ketiga, 1989 oleh Nur Cahaya
Cetakan keempat, 2002 oleh Grasindo
Cetakan kelima, 2003 oleh Grasindo
EDISI PUSTAKA JAYA
Cetakan pertama, 2014
ISBN 978-979-419-421-8
Kata Pengantar
Buku kumpulan cerpen Dua Dunia diterbitkan pertama kali
tahun 1956, memuat tujuh cerpen. Semuanya saya tulis ketika
masih duduk di bangku SMA.
Bahan-bahan cerpen tersebut saya peroleh dari pengamatan
di sekitar saya, lebih-lebih di antara pemondok, anak-anak seko-
lah serta pegawai kantor yang menumpang di rumah kami dan
rumah penduduk tempat kami tinggal. Ibu saya adalah seorang
janda tanpa penghasilan. Oleh karena itu, Ibu menggunakan
lima kamar di rumah kami sebagai sumber nafkah untuk meng-
hidupi dan menyekolahkan kami empat bersaudara.
Cerpen “Warung Bu Sally” yang saya tulis puluhan tahun
kemudian merupakan gabungan bahan-bahan yang saya dengar/
kumpulkan dari relasi, lebih-lebih mbakyu spiritual saya, Nyonya
Bagong Kussudiardjo, yang berprofesi sebagai bidan dan banyak
berkomunikasi dengan rakyat jelata.
Cerpen “Liar” pernah dimuat dalam tabloid Mutiara tahun
1980-an; juga saya tulis ketika sudah kembali ke Indonesia,
tetapi masih menumpang di rumah saudara di Jakarta. Isinya
mengungkapkan “protes” saya terhadap nasib petani di lereng
Gunung Muria serta “rekaman” tentang kehadiran “Gali” (ga-
bungan anak-anak liar) di Semarang yang pada masa itu amat
meresahkan penduduk.
Cerpen “Keberuntungan” pernah dimuat di majalah Femina,
5
juga mengungkapkan sebagian kejadian nyata: seorang pedagang
kangkung yang sukses.
Tiga cerpen itu saya tambahkan supaya kumpulan ini berisi
genap sepuluh cerpen.
Tulisan-tulisan saya lebih banyak mengandung kenyataan
hidup daripada hanya khayalan. Isi kumpulan cerpen ini meru-
pakan buktinya.
Semarang, Juni 2002
Nh. Dini
6
Daftar Isi
Kata Pengantar — 5
Dua Dunia — 9
Istri Prajurit — 15
Jatayu — 23
Kelahiran — 32
Pendurhaka — 41
Perempuan Warung — 55
Penemuan — 63
Warung Bu Sally — 70
Liar — 83
Keberuntungan — 98
Biografi Singkat — 112
7
8
Dua Dunia
Dulu rambutnya tidak jarang seperti ini. Sekarang kalau bersisir
dia harus perlahan sekali; sakit rasanya sisir itu menyentuh kulit
kepalanya. Dia berharap supaya tak banyak rambut yang rontok.
Terlalu banyak yang hilang segala yang dimiliki dulu, sebelum dia
kena tifus.
Ya, terlalu banyak yang hilang. Kesegarannya, kesigapannya, wak-
tu dan tenaga kesanggupannya begitu mudah ditelan oleh keru-
munan kuman yang menggerogoti kesehatannya. Dan rambutnya
ini, ah, alangkah sakit hatinya jika melihat perhiasan satu-satunya
yang asli ada di tubuhnya itu kini tak seindah dulu.
Disisirnya perlahan memanjang. Jarang dan kasar. Tak lagi meng-
kilat. Dia tak mau memberinya minyak karena minyak dianggapnya
akan membikin rambut menjadi kelihatan sedikit. Dan dia tak mau
rambutnya menjadi sedikit jika dilihat orang. Meskipun dengan
cara ini dia hanya menipu hatinya sendiri, dia membujuk perasaan-
nya sendiri yang mengatakan bahwa dia masih cukup bisa berhias
dengan rambut yang ada sekarang.
Dengan hati-hati dibelainya rambutnya sekali lagi, untuk kese-
kian kalinya. Dipandangnya sebentar wajahnya dalam cermin. Ah,
tidak! Tak sampai hati dia merenungi wajah itu. Redup kuyu benar
sinar matanya. Terlalu tajam beda dia yang dulu, segar dan selalu
lincah pandang matanya, dengan dia yang sekarang, yang ada di
dalam cermin itu. Dia yang sekarang sudah tak lengkap lagi dengan
9
keseluruhannya yang dulu, sudah dimakan penyakit. Sudah menjadi
sarang ribuan kuman yang tak disadarinya telah merampas sebagian
miliknya.
Dia masih ingat dulu waktu kecil, bagaimana takutnya dia kepada
jarum suntik. Dia masih ingat pula ibunya membisikkan bujukan
rayu ke telinganya agar mau disuntik. Dia masih ingat pula bagai-
mana dulu dia lari pulang dari sekolah karena ada suntikan di seko-
lahnya. Dan betapa ibunya memeluknya dengan mesra, menginsaf-
kan apa perlunya orang disuntik. Tapi dia belum bisa mengerti kenapa
orang mesti ditusuk lengannya kemudian diberi semacam air dalam
tusukan itu. Dia hanya tahu bahwa dia takut kepada jarum itu dan
dia tak mau orang menusuknya begitu saja. Sampai pada batas umur
yang tak pantas lagi dia selalu ditolong, dia tetap belum bisa
menginsafkan dirinya untuk tidak takut suntik. Suntikan apa saja
tetap dia tidak berani.
Dan kini, dia benar-benar merasakan akibat ketakutannya sela-
ma itu. Takutnya terhadap jarum, satu ujung kecil yang menusuk
dagingnya dan yang tak akan minta kekuatan tenaga apa pun
darinya, kini memberinya akhiran yang tidak seimbang. Sebagian
hidupnya sudah lesu. Dia tak akan bisa kuat benar seperti dulu.
Segala yang dia makan harus ada batasannya, jumlah serta jenisnya.
Betapa terikatnya kini dia. Satu paksaan di samping kehilangan
keseluruhan yang dulu. Seakan-akan dia tak akan lagi bisa memberi
arti hidupnya sendiri. Hidup yang dulu selalu ditimbang atau
diidamkan oleh ibunya: Jadilah manusia yang berarti bagi
keluargamu! Idaman ibunya, ucapan ibunya, manusia yang kini
sudah tak hadir lagi di kelanjutan hidupnya.
Dia tersenyum, alangkah kaku ucapan ibunya itu diingatnya
kini. Dia harus menjadi manusia yang berarti bagi keluarganya. Tapi
kenyataannya sampai kini dia tetap tak bisa menjadi tokoh yang
berarti dalam keluarga. Berarti menurut pikirannya, menurut otak
manusia seperti dia yang bercitakan kesemarakan tidak hanya dalam
soal keluarga. Dan idaman ibunya yang sangat sederhana, menjadi
seorang istri dan ibu yang baik dan membawa kebesaran bagi nama
keluarga, tidak bisa dia penuhi. Meskipun dia sudah berusaha untuk
10
memenuhinya, berusaha menjadi istri yang baik sambil menuruti
segala perintah orang tuanya. Betapa tidak! Orang seperti dia yang
terus- menerus disodori berbagai ajaran adat, tumbuh dalam belaian
kata timangan ibunya yang sangat terbatas pandangannya. Sampai
pada perkawinannya, dia hanya mempunyai kesadaran harus bagai-
mana nanti dia untuk menjadi istri yang baik, dan dia tinggal menja-
lankan saja perkawinan itu.
Suaminya dipilihkan oleh orang tuanya.
“Apa kata Darwo, Is?” tiba-tiba suara ayahnya memadati sepi di
kamar itu.
Dan tiba-tiba pula dia teringat kepada surat bekas suaminya
yang datang siang tadi. Wajahnya muram menjawab ayahnya.
“Minta Kanti.”
Suaranya merendah dan matanya merenung ke wajah ayahnya
di dalam kaca. Kedengaran ayahnya menghela napas, lalu Iswanti
meneruskan,
“Uang tunjangan dimasukkan sana, dan anak itu harus ikut
dia.”
“Memang menurut hukum Islam anak perempuan ikut bapak.”
“Aku tak peduli macam hukum mana pun juga. Terlalu tak ngo-
peni perasaan kemanusiaan.”
“Biar Bapak saja yang menjawab surat itu nanti.”
“Uangnya pun tak pernah dikirimkan, Pak.”
“Ibumu yang menerima, Is.”
Betapa terkejutnya dia mendengar ini. Dibalikkan badannya
dan ditentang mata bapaknya, mata yang sudah pudar itu.
“Tanpa setahuku!” dia memprotes.
“Kita sama-sama membutuhkan uang, Is,” suara ayahnya ren-
dah.
“Tapi belum cukupkah gajiku tiap bulan yang kuserahkan se-
mua kepada Ibu? Tak terhitungkan pula gaji Bapak sebelum pensiun.”
Ayahnya diam saja. Dan oleh kediamannya itu hati Iswanti
menjadi lemah.
“Seolah sudah demikian mendesaknya kebutuhan itu sehingga
mesti minta kepada orang lain.”
“Tapi kami tidak minta,” ayahnya menyela.
11
“Tapi menerima,” dia cepat menjawab. “Dan menerima berarti
mau; untuk kemudian minta supaya bulan depan diberi lagi,”
ditantangnya mata bapaknya dari dalam kaca; kemudian dia buang
pandangnya ke arah jauh. “Ayah tak menyadari betapa tuntutan
Darwo nanti. Juga Ibu tidak.”
Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan lemah sekali. Dia
tahu kenapa ibunya begitu rakus akan kebutuhan uang. Lingkung-
an ibunya yang tak punya banyak kerja itu membikin keisengan
buat membuang-buang waktu. Dan judi yang dimulai kecil-kecilan
lama-kelamaan mencandu dan mendarah daging pada manusia.
Demikian itulah hidup ibunya, manusia yang dicintai anak-anaknya
itu mencari keisengan sejak pagi ditinggal suami dan anak-anaknya
berangkat kerja dan sekolah. Biaya hidup sederhana kadang-kadang
terhanyut pula ke meja judi, kumpulan orang-orang yang juga iseng
seperti ibunya.
Hidup demikian sudah lebih dari biasa bagi Iswanti yang me-
ngetahui segala-galanya. Dia malu kepada tetangga dan kawan-ka-
wannya, dan kepada dirinya sendiri sebagai perempuan yang tahu
bagaimana menyelenggarakan rumah tangga yang baik. Ia terima
mesra cukup banyak dari ibunya sebelum tergila oleh judi dan kela-
laian. Tapi sejak kelahiran adiknya yang bungsu, dia hidup di bawah
asuhannya sebagai anak sulung yang mengerti ke mana ibunya pergi.
Kadang-kadang hingga tengah hari belum pulang, kadang-kadang
hingga petang hari.
Tiba-tiba Kanti masuk dengan langkahnya yang belum tegak
benar. Dia hendak mengambil bola di bawah kolong tempat tidur.
Iswanti melihatkan anaknya dari dalam kaca. Begitu mungil tubuh
itu. Akan diberikan dia kepada Darwono, bapak Kanti? Tidak! Ha-
tinya berteriak sendiri mengatakan tidak. Dia ingat betapa malam
itu dia berjuang memperebutkan nyawanya dan nyawa anaknya,
betapa derita yang dirasakannya sewaktu Kanti lahir. Dia tak punya
tenaga penuh karena kelemahan tubuhnya selama mengidap tifus.
“Kanti tak boleh diasuh ibu tiri!” tiba-tiba dia berkata. Dan dibe-
lainya kepala anaknya yang jongkok di kakinya menggapai-gapai
bola di bawah tempat tidur.
“Kalau ada tuntutan?” tanya bapaknya sambil menolong cucunya
12
mengambil bola.
“Aku akan berusaha mengembalikan uangnya.”
“Kau harus hati-hati dengan kesehatanmu.”
“Aku tahu itu. Tapi aku sangat menyesal karena namaku dibuat
mencari keuntungan. Dan keuntungan itu cuma untuk dibuang-
buang di meja judi.”
Ayah diam. Iswanti sendiri sudah demikian tak tahan hatinya
hingga terungkit olehnya kepincangan rumah tangga ayahnya. Satu
tusukan pula bagi ayahnya sebagai kepala rumah tangga yang tak
bisa menumbuhkan kebahagiaan dalam lingkungannya.
“Kau bisa minta tolong kepada kawanmu di kantor perbenda-
haraan tentang tunjangan itu. Masukkan Kanti bersamamu,”
ayahnya mencoba memberi jalan.
“Tidak. Biar semua kuurus sendiri.”
“Kalau tak berhasil?”
“Gelang dan subangku barangkali cukup untuk ganti beberapa
ratus rupiah.”
“Utang kita juga belum lunas sejak perkawinan adikmu.”
“Baru sekarang Bapak bicarakan ini kepadaku!”
“Aku berusaha memikirkannya sendiri sejak ibumu meninggal.”
Ibunya meninggal dengan warisan utang juga rupanya. Dan
ayahnya yang sudah tua itu sekali lagi dia amati. Tubuh kecil kering
oleh batuk.
“Kita sebetulnya bisa minta tolong sama Darwo.”
“Kalau Bapak mau boleh saja. Tapi jangan kami, aku dan Kanti,
ikut pula terbawa-bawa untuk pengganti jasa,” dipandangnya wajah
bapaknya dengan sungguh-sungguh.
“Sudah lama aku tahu bagaimana manusia selalu minta ganti
buat kerja atau perbuatan yang dilakukannya terhadap orang lain.
Dan kepada Darwo aku tak perlu beramah-ramah.”
Dia ingat dulu sewaktu masih di Jakarta di rumah suaminya.
Tak pernah terasa olehnya bahwa dia berada di rumahnya, di tem-
pat yang harus diaturnya seperti rumah tangga-rumah tangga lainnya
yang dia ketahui. Ibu tiri Darwono yang genit itu selalu memper-
lihatkan bahwa ia lebih kuasa dalam rumah itu, bahkan lebih kuasa
atas diri Darwono yang telah menjadi suami Iswanti. Tampak segala
13
perbuatan ibu tiri itu dibuat-buat untuk menyakitkan hati Iswanti.
Dan segala itu ditahannya, ditekan saja dalam perasaannya, karena
dia mau menjadi istri yang baik. Dia mau menjadi istri yang menurut
idaman ibunya, mengikuti semua omongan suami dan orang tua.
Sampai akhirnya, Kanti sudah di dalam kandungan antara lima
bulan, dia tak tahan lagi berada di lingkungan yang berisi tantangan
dan cemoohan. Betapa tak akan terbakar dadanya bila dia lihat
suaminya berbaring dengan kepala di atas pangkuan ibu tirinya di
dipan ruang belakang. Darwono yang begitu penuh nafsu seperti
juga laki-laki lain di atas bumi ini! Tadinya dia anggap itu sebagai
sesuatu yang biasa saja, karena dia sangka kasih ibu tiri itu cuma
kasih ibu yang tulus kepada anaknya. Tapi lama-kelamaan, segala
tingkah yang melampaui batasan kesopanan antara kedua manusia
itu benar-benar mengejutkan dan mencolok mata Iswanti, istri yang
mau setia.
Tidak, dia sudah cukup lama menderita dengan penerimaan
yang dipaksa-paksa terhadap perlakuan Darwono. Dan dia tak hen-
dak, bahkan tak sudi minta tolong kepadanya. Apalagi tak terpikir-
kan olehnya untuk menyerahkan anaknya kepada bekas suami itu.
“Aku akan dapat menghidupi anakku sendiri,” katanya.
Ayahnya diam saja. Dia tahu betapa sakit hati anaknya terhadap
Darwono. Tapi dia tak tahu betapa derita perasaan anaknya itu
tentang hal yang pernah dihadapi. Dia sendiri sebagai kakek pernah
mengeluhkan: kenapa cucuku lahir perempuan. Kakek itu agak
menyimpan sedikit kekhawatiran dalam hatinya akan kekerasan
hidup cucu perempuan itu, anak dari anaknya perempuan yang
pernah dibuat landasan permainan nasib perkawinan.
Tapi itu tidak bagi Iswanti. Laki-laki atau perempuan baginya
sama saja. Anaknya entah laki-laki entah perempuan hendak dia
didik dengan baik, dengan curahan segala rasa kemanusiaan yang
wajar. Hendak dia didik supaya jiwa pembedaan antara dunia laki-
laki dan perempuan dipenuhi rasa kasih kepada sesamanya.
Kembali dia pandang wajahnya di dalam kaca, lesu dan pucat.
Semarang, 28 Maret 1955
14
Istri Prajurit
“Di mana anakmu?”
Inilah pertama-tama yang aku ucapkan ketika dia keluar
menemuiku di pendapa sebuah rumah berbentuk kuno. Ke-
muraman tempat itu tampak benar karena bayangan pohon-
pohon sawo yang besar di halaman rumah.
Matanya kuyu memandang kepadaku.
“Kenapa aku tak kauberi kesempatan berbicara hal-hal lain
dulu yang lebih menggembirakan?”
Aku tersenyum, ada keraguan di hatiku hendak mengatakan
ketidak-mengertianku atas bicaranya itu. Lalu kami berbicara
hal-hal apa saja mengenai diriku selama ini. Apa saja yang lucu
dan menggembirakan kuceritakan kepadanya. Tapi percakapan
itu kadang-kadang terhenti dengan cara yang kaku. Aku tak
bisa lagi bercerita, atau tiba-tiba saja dia diam termangu. Dan
pada saat-saat macam itu, aku membuang pandangku keluar
rumah, ke halaman yang rindang, ke jalan yang tadi aku lalui
memanjang terus ke rumah bercat kuning yang tepat ada di
kelokan jalan itu. Begitulah berkali-kali membuang pandang
keluar, ke halaman ke jalan yang tadi aku lalui dan akhirnya ke
rumah kuning.
“Siapa orang di rumah itu, Ningsih? Sejak tadi melihat
kepadaku saja,” tanyaku.
“Anak kedokteran,” jawabnya.
15
Suaranya biasa saja.
“Kau kenal?” tanyaku dan sekali lagi memandang ke rumah
kuning itu.
“Tidak! Nani yang kenal, tiap kali digendong dan diberi
permen.”
Aku segera memandang kepadanya lagi. Dan dengan
bersungguh-sungguh bertanya,
“Di mana Nani sekarang?”
Dia menundukkan kepala sesudah menentang mataku agak
lama. Tangannya iseng bermain-main dengan ujung taplak meja.
Tepat seperti laku gadis pingitan yang malu menentang mata
temannya laki-laki atau orang tua yang bakal jadi mertuanya.
Kekakuan terasa lagi menyelinapi antara aku dan dia. Lama
sekali kami saling diam. Nampak olehku kegelisahan yang ter-
selip di wajahnya yang kurus dan pucat. Dia tetap tak meman-
dang kepadaku. Cuma kadang-kadang saja ditegakkannya kepa-
lanya memandang keluar.
Matanya melubang oleh lindungan tulang yang menonjol
menyimpan kecemasan.
“Kedatanganku untuk kau dan Nani, kau mesti tahu itu.
Tapi kalau hanya kausuguhi kediaman macam ini, apa yang
akan bisa kumengerti?”
Aku mencoba memecah dinding kekakuan saat itu. Kudengar
keluhannya perlahan sekali. Dan dia tetap tak memandang
kepadaku.
“Aku tak tahu dari mana mesti memulainya.”
Aku tertawa sedikit mengejek.
“Seperti juga kau tak tahu bagaimana mesti memulai dan
mengakhiri hidup dengan Garjo.”
Sekali lagi kudengar keluhnya, kali ini memberat.
“Mereka menyalahkan aku, mereka semua mengutuk aku.
Tapi aku tak mengharapkan itu dari kau, Niek,” perlahan sekali
dia berbicara dengan sebentar-sebentar berhenti.
Digigitnya bibirnya, kesedihan yang tak terderita memba-
yangi seluruh wajahnya. Aku tertegun sejenak.
16
“Tapi aku tak pernah mengutuk perkawinanmu dengan
Garjo. Juga aku tak menyalahkan kau. Aku hanya menyesali
tindakanmu yang selalu ragu-ragu itu.”
Dia sebentar memandang aku, lalu mengalihkan pandangan-
nya keluar lagi. Matanya cemas mengarah ke kejauhan.
Ningsih inilah yang dulu menjadi istri Garjo. Aku pandangi
dia. Kecantikannya larut oleh kekurusan badannya. Tapi tampak
benar keningratan dan kebangsawanan memancar dari wajah
itu. Pribadinya yang berdarah keraton tak meragukan orang
yang menentang matanya. Dan bagiku kesemuanya itu taklah
berarti jika tak ada pula padanya kebangsawanan budi yang
berguna, yang lebih bercahaya mengalahkan sifat-sifat lahirnya.
Tiga setengah tahun yang lalu ia kawin. Ia berani melepaskan
diri dari lingkungan keluarganya di balik dinding itu hanya untuk
Garjo anak desa Sentul, beberapa kilometer sebelah selatan
Yogya. Kenekatannya itu mengejutkan benar, juga bagiku yang
tahu benar siapa Ningsih. Kami bertiga aku, Ningsih, Garjo
sekelas dulu di zaman Jepang. Sama sekali aku tak melihat hu-
bungan yang mesra antara kedua orang itu, karena aku hanya
melihat mereka sering berjalan bersama pulang atau berangkat
ke sekolah pada jalan yang sama arahnya; kemudian Garjo me-
nyimpang ke arah lain, menuju stasiun untuk pulang ke desanya.
Bagaimana mungkin keluarga njeron beteng1) itu akan menerima
Garjo sebagai menantu. Tapi segala macam tingkatan memang
tak ada artinya bagi orang yang benar-benar cinta. Lalu di antara
beberapa kawan atau kenalan ada desas-desus, katanya Ningsih
kena guna-guna Garjo. Memang sukar untuk mereka hadapi.
Bagi mereka tak ada yang menarik pada pribadi Garjo. Keso-
panannya, ramah serta sikapnya yang selalu sedia menolong
seseorang itu bagi mereka tidak berarti apa-apa.
Tapi bagi Ningsih dan bagi mereka yang mengerti, itu adalah
kelebihan yang jarang ada pada laki-laki lain. Dan bagiku tak
1) Masyarakat yang masih dekat dengan keraton dalam arti keturunan bang-
sawan
17
ada soal lain yang lebih penting kecuali: Ningsih mencintai Garjo.
Kedudukan Garjo tidak tinggi, bukan sesuatu jabatan penting
yang mendapat perhatian masyarakat, karena Garjo cuma men-
dapat sebutan dari bapak Ningsih: Serdadu. Dan Ningsih men-
jadi istri serdadu, menjadi istri prajurit yang sewaktu-waktu bisa
berangkat perang dan menyerahkan nyawanya ke tangan musuh.
Hal ini tak terpikirkan olehnya meskipun keluarganya semua
sudah mengingatkan mencukil-cukil soal mati itu untuk men-
cegah perkawinannya. Baginya, tak akan ada perang lagi di ne-
gara ini. Pikirannya dipenuhi kedamaian cinta yang menghen-
daki kedamaian pula di antara semua orang.
“Aku memang ingin bisa seperti kau,” katanya dengan suara
yang hampir tak terdengar, seakan-akan kata-kata itu hanya untuk
dia sendiri. “Aku selalu berusaha untuk bersikap tegas dalam hal
apa saja. Tapi aku selalu lebih memikirkan perasaan-perasaan
orang lain. Aku tidak bisa seperti kau, Niek,” kalimat akhir ini
lebih perlahan lagi dan diucapkan sesudah terdiam sebentar.
“Kau pernah bersikap tegas.”
Dia diam memandang kepadaku. Aku menatapnya dengan
tajam.
“Kauputuskan sendiri persoalan cinta dan kawinmu dengan
Garjo dulu. Kenapa kau kini tidak menguasai ketegasan itu lagi.
Aku tak percaya kau hanya punya satu saat saja untuk menun-
jukkan ketegasan kepada mereka.”
“Aku belum punya kesempatan.”
“Begitu banyak kesempatan yang terbuang malahan, karena
kau tak menyadari bahwa itu adalah satu kesempatan.”
Aku berhenti sebentar. Kurasa aku terlalu keras mendesaknya.
Dan aku mengubah suaraku agak lembut,
“Kenapa kau balik lagi ke dalam lingkungan dinding ini,
Ningsih? Apakah ini satu ketegasan setelah kau dulu berani
lepas keluar dari tembok-tembok di sini?”
Dia tak berani menentang mataku lama-lama. Dan dibuang-
nya pandangnya menjauh.
Garjo ditempatkan di pos Slawi, daerah Tegal, bersama ka-
18
wan-kawannya untuk menggantikan anak-anak Brawijaya yang
kembali ke Jawa Timur. Sudah hampir enam bulan Garjo tugas
di sana. Tiap kali jika dinas ke Semarang, dia mampir pulang
ke rumah istrinya. Lalu bayi lahir setahun setelah perkawinan
mereka. Kebahagiaan yang memenuhi keluarga itu membikin
lupa jalan apa yang pernah mereka tempuh untuk mencapainya.
Dan manusia pada waktu itu diasyiki oleh apa yang telah
menjadi miliknya. Ketika bayi itu sudah tampak senyumnya,
sudah hampir setahun ria dalam rumah ibu dan kadang-kadang
menerima cium kasih ayahnya, tiba-tiba ada telegram datang
ke rumah itu: Garjo gugur. Begitu cepat dan begitu sederhana
dirasakan hidup yang dikecapnya bersama Garjo.
Kebiasaan hidup senang dan ditolong dalam menyelesaikan
segala sesuatu membikin dia tak tahu apa yang mesti dikerjakan
sepeninggal Garjo. Dia masih di rumah itu juga, tempat yang
disewa Garjo untuk mereka, sampai kemudian beberapa bulan
sesudahnya ia pergi ke Surabaya. Aku mengantarkannya ke
stasiun. Senyum di bibir Nani masih menggaris dalam ingatanku.
Dan aku sangat rindu kepadanya.
Aku mencuri pandang Ningsih. Tapi dia masih tetap meng-
hindarkan paduan mataku dan dia masih tetap diam pula.
“Kenapa kau tidak mencoba hidup sendiri dengan tenagamu.
Kau punya ijazah untuk kerja di kantor, kawan-kawan Garjo
mesti bisa menolongmu mencari pekerjaan. Dengan begitu kau
bisa menunjukkan kepada orang-orang bahwa kau bisa hidup
tanpa mereka yang ada di sini,” pandangku aku edarkan ke
seluruh pendapa.
“Aku tak berani menghadapi sangkaan orang yang tidak-
tidak terhadapku. Perempuan berumah sendirian dengan anak
kecil. Dan nanti kalau ada beberapa kawan laki-laki bertamu,
ah, aku tidak bisa hidup begitu,” katanya sambil selintas meman-
dang kepadaku.
“Kau selalu berfantasi dengan perasaan-perasaanmu sendiri.”
“Tidakkah kau juga pernah ketakutan kalau-kalau orang me-
nyangka kau menghendaki harta dan kebangsawanan jika kau
19
kawin dengan Narto?” katanya sambil menentang mataku.
Suaranya yang datar rendah menusuk perasaanku, dan aku
menghindari pandangnya sebisaku. Aku tak mau dia melihat
kehancuran yang mungkin tampak pada mataku. Tapi aku mau
supaya dia melihat kebajaan hatiku dalam menentang hidup.
“Tidakkah itu malahan sifat pengecut yang menghindari
cinta, karena takut hal yang belum pasti?”
Aku tersenyum dan mencoba berkata jujur,
“Satu kali memang aku pernah ketakutan dan digelisahi oleh
hal yang belum pasti. Mungkin itu sifat pengecut. Tapi aku tahu
benar harga diriku sebagai perempuan. Aku sekolah terus ke
Jakarta waktu itu, dan aku mau terus entah sampai kapan sampai
bisa mencapai kedudukan yang terpandang dalam masyarakat.”
Dalam hati aku merasa malu kepada diriku sendiri. Aku
mengingkari cinta karena mengkhawatirkan pandangan orang
lain. Tapi apa yang aku khawatirkan adalah satu hal yang wajar
yang pasti ada pada pikiran orang-orang lain. Narto saudara
sepupu Ningsih mempunyai sebutan gelar yang ada jauh di atas-
ku. Aku tak punya sebutan apa-apa. Dan aku merasa tergugah
oleh kesombonganku sendiri: Aku harus bisa mempunyai sebut-
an yang ada di atasnya, sebutan yang bukan sisa-sisa kefeodalan.
Lalu aku lari dengan kesombongan itu. Akhirnya, aku sadar
bahwa itu bukanlah kesombongan, melainkan satu kesadaran
akan harga diriku sebagai perempuan yang mau mengulurkan
tangan dalam kerja bermasyarakat.
“Memang aku menghindari Narto dengan seluruh kesa-
daranku,” aku sekali lagi menjelaskan dengan suara tetap.
Dan tiba-tiba saja aku merasa aneh. Baru kali itulah aku
mengeluarkan pengakuan kepada seseorang.
Dia menatap pandangku. Dan oleh paduan mata kami itu,
aku merasa sesal yang tak terkirakan terhadap apa yang telah
aku katakan. Aku melihat kecemasan pada matanya. Seperti
ada perasaan diri rendah, dia menundukkan kepalanya dan ber-
bisik,
“Aku tidak bisa seperti kau.”
20
“Penderitaanmu jauh lebih menekan daripada aku,” aku
membujuknya.
Kubayangkan bagaimana kebingungannya ketika Garjo gu-
gur. Kematian suami yang menjadi penegak sejak ia keluar dari
lingkungan dinding keluarganya. Tapi dunia dan mungkin ne-
gara tak merasa kehilangan suami itu. Matinya prajurit tidak-
lah berarti suatu apa bagi dunia dan bagi negara. Kenangan
keberanian mereka cuma ada pada kawan-kawan yang pernah
berjuang bersama-sama. Cuma kenangan. Dan kenangan itu
cuma selintas seperti liuknya api di unggunan ranting. Bagi me-
reka cuma ada air mata keluarganya, istri, dan anaknya.
“Tapi kau bisa terhibur oleh Nani tentu. Dia satu-satunya
yang bisa kauajak bicara tentang hal-hal yang lucu dalam dinding
ini kalau aku tak ada di sini,” kataku pula.
Dia mengangkat wajah mencoba menentang mataku. Ada
sesuatu yang hendak dikatakan kurasa. Tapi aku hanya melihat
linangan air pada matanya. Aku memandangnya tenang.
“Kau sayang benar kepada Nani?” tanyanya tanpa meman-
dang kepadaku. Kerut-kerut di wajahnya tampak menahan kesa-
kitan. Bibirnya agak gemetar.
“Dia anakmu, dan kau lebih dari saudara bagiku.”
Dia tetap tak memandang kepadaku. Dipejamkannya mata-
nya sebentar.
“Tujuh bulan aku di sini, Nani sakit. Tadinya hanya influ-
enza. Tapi lalu dokter bilang long onsteking. Uang mengalir terus
untuk obat dan dokter. Dari Bapak aku tidak menerima apa-
apa,” dia berhenti seperti mencari tenaga. “ Aku terasing di sini
seperti orang yang dikebonkan.2) Dan Nani, ah, anak prajurit kata-
nya. Dan begitu saja,” serak dia tertahan-tahan mencoba mene-
ruskan bicaranya.
Lalu diam.
“Begitu saja bagaimana?” aku mendesaknya.
2) Di kalangan bangsawan keraton Jawa berlaku hukum kebon itu, berarti
dipisahkan dari orang-orang lain
21
“Begitu saja kalau uang habis tentu tak ada obat.”
Aku tentang wajahnya. Ada senyum yang dibuat-buat mem-
bayangi wajahnya. Bibirnya gemetar dan matanya meloncat-
loncat memandang tak tentu.
“Benar-benar ada orang yang berhati begitu. Mereka cuma
pikirkan gelar saja. Sama sekali tak ingat bahwa sebagian darah-
nya mengalir dalam tubuh Nani,” suaranya makin berbisik.
Aku tak berani berkata apa-apa. Juga aku tak berani menye-
but kata ketidakhadiran Nani di antara kami. Kutundukkan
kepalaku, dan kupejamkan mataku menahan kesesakan dadaku.
Terlalu banyak yang mau kukatakan, serasa tersekat saja dalam
kerongkongan. Senyum bibir Nani masih menggaris dalam
ingatanku.
“Tapi kini aku juga tahu kesadaran. Aku bisa seperti kau
Niek, aku bisa! Kau mesti percaya ini,” tiba-tiba suaranya menge-
ras, penuh semangat.
Aku tetap pada sikapku semula. Mataku menahan air yang
makin memanas.
“Aku pergi dengan kau kalau kau balik ke Jakarta.”
Aku dengar suaranya jernih dan tegas.
Semarang, 1956
22
Jatayu
bagi Nuning gadis kembarku
Dia tidak pernah diam. Kepalanya menggeleng ke kiri atau
ke kanan sambil matanya melirik; atau tiba-tiba dianggukkannya
kepala itu seperti gerak yang sungguh-sungguh diiringi senyum
atau kecerahan pandang yang mesra dan lembut. Sangat lembut
hingga orang meragukan apakah ia betul-betul sudah tidak lagi
dihuni jiwa yang sempurna.
Orang-orang sekampung tahu bahwa ia anak dalang di ujung
kampung. Tumbuh besar di rumah yang penuh gambar dan ben-
tuk wayang atau yang senapas dengan kebudayaan Jawa itu.
Sewaktu ia lahir, masih ada gamelan seperangkat di rumah.
Dan kelahiran yang diharapkan bapaknya adalah kelahiran yang
sangat bahagia bagi keluarga. Bapaknya ingin anaknya yang lahir
itu perempuan. Benarlah! Rupa-rupanya dewa-dewa wayang juga
ikut mendengarkan permintaan dalang itu dari dalam petinya.
Anak perempuan menjadi adik dari anak sulung laki-laki. Tapi
alangkah jauh beda umur antara kedua anak itu. Dan dia, anak
perempuan idaman bapaknya itu mendapat nama Prita, nama
yang sangat dipenuhi harapan oleh orang tua itu untuk menjadi
manusia yang baik, seperti Prita ibu Pendawa dalam cerita wayang.
Tapi nama itu terlalu berat, tak terdukung oleh gadis itu, kata
orang-orang sekampung. Karena setelah menjelang umur enam
belas tahun Prita ternyata sakit keras. Sakit malaria tropika yang
menggerogoti otak dan sarafnya. Dewa-dewa wayang marah
23
kepada gadis itu karena memakai nama yang begitu agung. Desas-
desus semacam itu lepas mengedari kampung. Dan Prita tetap
memakai nama Prita. Bapaknya tak hendak mengubah nama itu.
Prita dikeluarkan dari sekolah. Waktu itu dia baru kelas dua
esempe.1) Terlalu jauh pikirannya untuk mengikuti pelajaran-
pelajaran di sekolah. Otaknya sudah digerogoti kuman-kuman
penyakit. Kerjanya sejak itu antara lain cuma duduk bermain-
main dengan wayang bapaknya, berdiri di depan pintu rumah
sambil tersenyum-senyum. Atau menunggui penjual rokok di
ujung kampung sana, agak ke samping dari rumahnya.
“Heh!” kadang-kadang dia membentak orang yang bersepeda
melalui depan rumahnya. Sesudah itu, satu senyuman meme-
nuhi wajah yang lembut. Dan orang akan segera memalingkan
muka untuk lekas-lekas berlalu. Terlalu lembut wajah gadis itu
sehingga sangat jauh hati orang hendak menggodanya.
Di rumah, Prita tak hendak diam menganggur. Dia mainkan
wayang bapaknya, dan yang paling dia hafal ialah lakon-lakon
Ramayana. Bagi hatinya yang mau bebas dia sangat erat dengan
raja garuda Jatayu, burung yang menunjukkan kepada Rama ke
mana Sita dibawa raksasa. Dia mau lepas, terbang ke angkasa
seperti burung.
Cita-cita semula yang dikandungnya ialah hendak menjadi
penerbang. Dia mau terbang meskipun dia seorang perempuan.
Tapi dia tak boleh terus sekolah, dan dia tak jadi duduk di bela-
kang kemudi pesawat terbang. Dulu sewaktu masih sekolah,
dia tak jarang menirukan sikap orang yang sedang mengemu-
dikan kapal terbang; di dalam kelas, di atas bangkunya sambil
tangan mengarah ke depan, dengan suara dari mulutnya mende-
ru. Kemudian sejenak kelas sepi, semua mata terpaku kepadanya.
Mata yang menyinarkan rasa geli dan terharu.
Ya. Prita gadis terbang yang lahir tanpa berkah dari dewa-
dewa, wajah lembut membikin setiap orang yang memandang-
nya menjadi mesra terhadapnya.
1) SLTP
24
Seharian Prita duduk saja di atas peti wayang ketika dia
mendengar bahwa bapaknya hendak menjual wayang itu. Kebu-
tuhan yang mengejar manusia tak dapat dikalahkan oleh ma-
nusia yang berotak tak waras. Bapaknya merasa perlu menebus
rumah yang didiaminya dari gadai setahun lalu, ketika kenduri
kematian anak sulungnya hendak digenapkan seribu hari.
“Bapak jahat, Mak,” katanya kepada emaknya dengan wajah
muram.
“Bapak butuh uang, kelak kalau punya uang tentu beli lagi
seperangkat yang lebih baik,” emaknya menghibur.
Bapak tua yang berkuasa terhadap wayangnya yang dilakon-
kannya itu merasa tak kuasa jika berhadapan dengan wajah Prita,
anak gadisnya. Anak satu-satunya bagi keluarga dalang itu se-
sudah kematian si sulung.
“Aku tak akan punya lagi garuda yang menerbangkan aku,”
dia mempertahankan Jatayunya, tokoh wayang pelaku dalam
cerita Rama.
Lalu emak melirik kepada bapaknya.
“Semua orang di rumah ini terlalu jahat kepadaku. Aku tak
boleh sekolah. Aku tak boleh jauh-jauh dari rumah. Sekarang
garudaku hendak diminta pula.”
“Bapak carikan gantinya.”
“Apa?”
“Kakatua.”
“Tak bisa terbang seperti garuda.”
“Tapi bisa bicara.”
Prita tertegun memandang bapaknya, dalang tua yang kuasa
atas wayang-wayangnya.
“Dia akan menjadi teman yang baik tentu,” emaknya ikut
menyela.
“Aku tak mau punya teman dia. Aku mau garuda yang bisa
terbang,” Prita menjerit lalu lari menangis di atas peti wayang,
kemudian membukanya dan mengeluarkan wayang satu-satu
mencari Jatayu-nya.
Bentuk-bentuk yang terbuat dari kulit itu tersebar tak me-
25
nentu di atas lantai. Di waktu seperti itu, tak ada yang meng-
hargai dewa ataupun ksatria.
Akhirnya, Jatayu tetap tergantung di rumah itu, di papan
arah kepala amben tempat tidur Prita. Wayang lain sudah pindah
pemilik. Bapaknya kalah oleh cinta dan sayangnya kepada Prita,
dan pembeli wayang akan merasa kecewa karena satu pelaku
tak hadir dalam petinya.
Tapi rasa sepi diri kadang-kadang tak terderitakan lagi oleh
Prita. Pada injakan ke tingkat umur yang makin jauh, dia seperti
juga manusia-manusia lain, merasakan kerinduan kasih seorang
sahabat. Sayup agak kabur dia masih ingat wajah kakaknya. Sau-
dara tunggalnya yang mati entah di mana kuburnya. Dia cuma
ingat, dengan pikiran sadarnya, dulu kakaknya itu berpamitan
kepada bapak dan emaknya dengan memakai caping, kaus, dan
celana pendek, membawa pancing serta kepis2) tempat ikan. Dan
dia merasakan sekali itu cium saudara tunggalnya di kedua pipinya.
Mula-mula dia rindu kepada kakaknya. Kemudian, kepada
setiap pemuda yang lewat di depan rumahnya, dia melempar
senyum lembut, lebih lembut dari yang dia berikan kepada bapak
dan emaknya.
Ada seorang yang sangat memperhatikan dia. Lalu Prita men-
jadi biasa dengan pandang pemuda itu, yang sering membeli
rokok di ujung kampung dekat rumah Prita. Diam-diam Prita
sering kali menantikan dia lewat di depan rumahnya.
Suatu sore, Prita keluar dari rumah memakai celana tiga
perempat warna hijau. Dia berjalan gontai menuju ke tempat
penjual rokok. Lalu dengan suara keras, dia membentak orang
yang sedang berada di sana. Orang itu segera menoleh. Alangkah
terkejutnya dia karena orang itu adalah pemuda yang telah begitu
sering berpandangan dengan dia. Prita tersenyum, mau terus
pergi ke jembatan di dekatnya.
“Cantik kaupakai pita kuning, Prita!” pemuda itu menegur
dengan suara biasa.
2) Wadah dari anyaman bambu untuk menyimpan ikan hasil pancingan
26
Prita memandang kepadanya, tangannya memegang pita
pengikat rambutnya yang pendek agak menggelombang.
“Bapak tak marah kaupakai celana?”
“Sudah biasa begitu, Dar,” penjual rokok itu menyahuti.
Prita duduk di bangku penjual rokok sambil mengayunkan
kakinya perlahan-lahan.
“Kau suka kembang?” pemuda itu mendekatinya, bertanya
halus.
Prita mengangguk, mengejapkan matanya.
“Aku punya banyak di rumah. Kau mau?”
Prita mengangguk.
“Tapi kau mesti datang sendiri ke sana.”
Dia diam.
Pemuda itu mengharapkan Prita akan bertanya di mana
rumahnya. Tapi Prita yang lembut masih bicara dengan senyum-
nya saja.
“Kau mau ambil sendiri?”
Prita memandang kepadanya.
“Mau?”
Prita tetap memandang kepada pemuda itu.
“Bicaralah! Kan aku tak tahu kalau kau diam saja begini.”
Prita tersenyum.
“Ah, senyummu saja yang kautunjukkan,” kata pemuda itu
perlahan seperti kepada dirinya sendiri.
Dan Prita yang rupanya juga mendengar, menambah lagi
senyumnya.
Sejak itu, Prita dan pemuda itu saling dekat. Sering Prita
datang ke tempat pemuda itu, jauh ke dalam kampung. Sang
pemuda sering pula datang ke rumah dalang untuk mengajak
Prita jalan-jalan atau bersepeda keluar kampung. Dunia Prita tak
lagi terbatas kampung dan rumahnya, sebab sejak tidak bersekolah
dia tak pernah keluar kampung. Tak cuma penjual rokok, bapak,
dan emaknya yang dikenalinya dengan baik. Dia juga kenal mobil
dan kereta api yang makin aneh bentuknya. Meskipun Prita hanya
tahu wujudnya saja. Dia belum pernah naik kendaraan itu. Mata
27
Prita yang lembut itu tak lagi punya sinar bila berpapasan pandang
dengan orang lain yang asing baginya. Tapi ketidakwarasan
otaknya tetap menutupi kesadaran yang kadang-kadang hilang.
Siang itu mereka, Prita dan pemuda itu, terlindung di bawah
atap gereja oleh serangan hujan. Hari yang dipenuhi udara men-
dung membikin orang kadang-kadang harus mencari tempat
berlindung, karena hujan tiba-tiba datang sangat deras dan angin
menyelinginya.
Prita merenung ke jalan besar. Angin dan air yang saling
bergumul di atas jalan itu sangat mengasyikkan. Alangkah indah
daun-daun pohon yang tumbuh sekitar situ turun beterbangan
bersama air memutih. Seperti asap rupanya. Dan angin keras
yang datang ke dalam lindung gereja itu membawa titik air ber-
kepyuran mengenai wajahnya. Segar. Sejuk.
Senyumnya menyimpul di bibir. Dan mata yang linang itu
makin manis tampaknya. Tak ada kegelisahan yang membayangi
wajahnya. Sedangkan bagi manusia lain yang juga bersama dia
mencari naungan atau berlindung ke gereja itu mungkin banyak
yang menyesali suasana hujan. Mereka rugi oleh waktu. Air
dan angin yang mengabuti jalan itu tak menarik bagi mereka.
“Aku mau terbang,” tiba-tiba Prita mengeluarkan suara.
Pemuda itu memandangnya.
“Aku mau menjadi daun itu; bersama angin dan hujan ringan
melayang, seperti serimpi.”
“Tapi kau mau menjadi garuda, bukan?” pemuda itu me-
nyela.
Prita diam, tapi bibirnya tersenyum.
“Aku baru menulis tentang sebuah siang yang berbadai. Tapi
di situ aku bayangkan semua orang ketakutan. Kau takut ke-
adaan semacam ini? Banyak angin dan hujan?”
“Tidak. Aku tak takut,” Prita menggelengkan kepalanya per-
lahan. “Aku suka begini. Dan aku ingin siang terus seperti ini.
Indah sekali jalan itu bukan?”
Prita menunjukkan tangan kirinya ke arah jalan yang memu-
tih seperti kabut.
28
Sekali-sekali tampak mobil hitam lewat, remang-remang saja
bentuknya.
Malamnya Prita makin memimpikan diri terbang dengan
megah dan indah.
Akhir-akhir itu, ada seorang kenalan bapaknya yang datang
berkunjung ke rumah. Orang itu amat bengis tampaknya, dengan
kumis dan jenggotnya yang panjang. Tapi Prita tak ribut ngopeni3)
orang itu. Cuma, dia mengamat-amati sebuah benda yang dibawa
orang itu jika datang. Benda itu hijau, seperti atau hampir seperti
sepeda motor tapi juga seperti kereta angin anak-anak baginya.
Ah tidak, seperti sepeda roda tiga.
Dia pernah dengar namanya skuter. Alangkah rindunya dia
mendengar suara benda itu. Tiba-tiba dia diserang satu keinginan
yang tak bisa lagi ditahannya. Dia mau menaikinya. Dulu dia
pernah naik sepeda sewaktu masih sekolah. Dan sekarang, ia
selalu memasang matanya baik-baik, mengingati segala cara dan
kerja orang berjenggot itu sebelum naik skuternya. Prita dapat
mempergunakan pikirannya untuk mengingati cara menghidup-
kan mesin skuter itu. Tapi kesempatan untuk menaikinya belum
juga dia dapatkan. Kalau orang berjenggot itu datang dan sudah
asyik omong-omong dengan bapaknya di serambi, Prita perla-
han-lahan mendekat, lalu memegang-megang skuter itu. Mata
memandangi penuh keinginan, lembut dan sayang.
Segala keasyikan lain sudah dilepaskannya. Dia tak lagi
peduli kepada Jatayu di atas ambennya. Juga dia tak lagi sering
menunggui pemuda di rumahnya yang menulis dan membaca
saja kerjanya. Seluruh waktu sudah diisi dengan mimpi yang
tak juga berubah: dia mau terbang. Dan terbang kali ini adalah
dengan skuter, dengan benda yang punya deru seperti kapal
terbang bagi telinganya.
Senja. Gerimis memenuhi hari itu sejak pagi, siang, dan sore.
Prita memandang dengan mata yang selembut biasanya. Terpaku
pandangnya pada benda yang ada di depannya.
3) meladeni
29
Lalu perlahan tapi pasti tangannya memegang kemudi skuter.
Erat, tak hendak dilepaskan lagi rasanya. Dan seperti digerakkan
sesuatu yang pasti pula, Prita membalikkan arah skuter, terus
dituntunnya agak jauh dari rumahnya. Kemudian dengan cepat
dan tepat tangannya mulai bekerja menghidupkan mesin.
Bapak dan tamunya sedang minum kopi di serambi belakang.
Gericik gerimis tak pula ketinggalan untuk ikut menguatkan
alasan bagi Prita buat berpura-pura diam di kamarnya.
Prita sudah naik di atas skuter itu. Sudah berjalan keluar
kampung tanpa menoleh kepada siapa pun yang ditemuinya di
jalan. Dia terus memegang kemudi penuh kesungguhan. Celana
tiga perempat yang biru dan baju putih makin dipenuhi titik-
titik gerimis. Rambut yang tak pernah teratur itu berpencaran
mau terbang dengan angin yang menyorong dari belakang.
Prita tetap tenang. Tapi tiba-tiba dia belokkan skuter itu ke
kiri, ke jalan mendaki yang ada di sana. Naik terus naik.
Wajahnya tak lagi lembut, tapi penuh dengan kesungguhan
dan kemegahan. Dia rasakan, begitulah rasanya terbang. Terbang
di antara awan, hujan, dan angin. Inilah mimpinya yang mem-
buntuti sejak kecil hingga umur delapan belas tahun. Dia benar-
benar bersikap tegak seperti juru terbang di belakang kemudi
pesawatnya, penuh tanggung jawab dan ketegasan pada sikap
duduk dan pandangnya. Naik. Dan masih terus naik. Gerimis
yang turun ke bumi masih tetap seperti tadi. Jalan yang lengang
itu makin memberi keleluasaan kepada Prita buat tetap ber-
mimpi di atas awan dan angin. Latar penghabisan tanjakan sudah
tampak. Lalu kini menurun. Turun terus. Prita makin tak bisa
lagi menguasai kesadarannya.
“Aku terbang, aku terbang! Aku melayang di atas awan dan
angin,” teriaknya menyelingi gerimis yang terus gemericik.
Dan rumah-rumah serta warung-warung di jalan bawahnya
tampak kecil.
Pada desakan rasa yang tak tertahan lagi, Prita merentangkan
kedua lengannya. Kemudi dilepaskan. Sebentar dia bisa lurus
dengan keseimbangannya. Dia menirukan burung, terbang betul-
30
betul dengan sayap terentang ke dua sisi. Tapi angin dari arah
kiri yang menyentuhnya tiba-tiba membuat satu goyangan. Prita
tak dapat lagi mempertahankan keseimbangannya. Miring ke
kanan. Tanpa memakan waktu lama, dia jatuh terguling bersama
skuternya ke bawah. Turun terus turun bersama dengan deru
mesin yang mendengung di senja yang gerimis.
“Tidak! Aku tak mau jatuh! Aku mau terbang!” dia masih
sempat berteriak dengan keras, teriakan manusia sadarnya.
Langit, rumah, gundukan bukit di sekitarnya berputar di
atas gulingan tubuhnya yang turun terus turun bersama skuter
itu. Tak ada yang mau memperhatikan teriakannya.
Prita tergolek tepat di tanjakan jalan yang mulai naik. Kepa-
lanya terkulai merah dan hitam, darah dan rambutnya.
Diam dia di sana. Diam kaku disiram gerimis senja yang
makin gelap. Kediamannya menelan kegagahan dan keme-
gahannya sewaktu tadi terbang dengan tangan terentang.
Prita jatuh, pecah, dan remuk seluruh anggota tubuhnya
seperti Jatayu jatuh kena senjata Rahwana. Segala mimpi dan
angannya hendak terbang cuma tertebus beberapa menit di atas
skuter yang dirindukan sebagai pesawat terbangnya, sebagai ga-
ruda yang mendukungnya di angkasa.
Jatayu masih tetap tergantung di atas ambennya, menung-
gunya buat bersama bermain. Tapi Prita tak bangkit lagi. Dia
mati seperti tokoh wayang yang dieratinya sejak kecil mula.
Gerimis terus turun hingga malam dan esoknya.
Sekayu, 1955
31
Kelahiran
Memang itu rumah. Ada atap, punya pintu dan punya gedhek1)
penyekat antara daun pintu satu dengan pintu tetangga sebe-
lahnya. Cuma punya ruang dalam satu meter dari dinding ge-
dung yang menghadap ke Jalan Bojong dan kali yang menggarisi
Jalan Depok.
Pada pintu yang paling pojok dekat pompa bensin itulah Sar-
din tiap hari keluar dan masuk sambil tiap kali membungkukkan
badannya. Hari itu pula ia berjalan menuju ke sana. Seharian dia
duduk di bangku panjang kantor Tuan Kontan. Di situ banyak
orang seperti dia menunggu. Orang-orang yang kurus, tak punya
kerja untuk mendapatkan makan. Dan setiap kali matanya yang
tenggelam dalam-dalam itu membelalak liar jika Tuan Kontan
ramah bicara dengan tamunya untuk memilih sederet orang yang
duduk. Kemudian mereka, tamu dan Tuan Kontan mendekat,
lalu tamu itu akan menunjuk satu atau dua atau seberapa saja
orang yang disukainya. Demikian saja, lalu Tuan Kontan akan
menerima uang dari dua ribu rupiah sampai lima ribu rupiah
untuk setiap orang yang ditunjuk tamu itu. Dan tubuh-tubuh
yang tak kena tunjukan tamu-tamu itu akan menundukkan kepala
mengeluh perlahan, seakan ada sesuatu yang rapuh tersimpan di
bawah jantung dan akan hancur jika keluhan itu tersentak keluar.
Mereka tak tahu bahwa sebetulnya justru harus ada teriakan
1) anyaman bambu
32
yang megah dari hati mereka karena mereka tak diperjualbelikan.
Karena mereka tak ditunjuk oleh tangan yang kemudian akan
membawanya pergi dengan membayar Tuan Kontan. Tapi keme-
gahan hati mereka sudah jauh hilang. Teriakan perut menindih
semua rasa harga diri. Mereka tak peduli apakah akan dihargai
lima atau seratus rupiah karena mereka cuma akan mengikut
tangan yang menunjuknya, dan di belakangnya Tuan Kontan
tersenyum dengan mengusap-usap dahinya yang kemerahan.
Sudah lima hari berturut-turut Sardin ikut mengisi bangku
panjang. Pagi datang dan sore balik ke rumahnya di pojok De-
pok. Tapi mukanya yang pucat-malaria selalu dilampaui saja
oleh tamu-tamu yang datang meneliti deretan manusia di bangku
panjang itu. Tamu-tamu itu datang ke sana untuk cari tenaga.
Mereka tentu saja tak mau membeli orang yang pucat kurus
seperti Sardin. Kerja rumah atau kerja lain tidak akan bisa mere-
ka laksanakan dengan baik. Tamu-tamu itu akan sia-sia mengu-
lurkan uang kepada Tuan Kontan.
Sardin masih saja tersaruk-saruk berjalan di pinggir. Dia tahu
istrinya menunggu di rumah dengan penuh harap. Minggu yang
lalu dia terpaksa melepaskan kerjanya di pelabuhan sebelum
pembongkaran garam selesai. Dia kedapatan mencocoki bungkusan
garam. Bersama dengan kuli-kuli pelabuhan lain, dia juga coba-coba
cari untung lain di samping upah harian sewaktu ada pembongkaran
muatan. Harga garam yang tinggi memungkinkannya menerima
uang berlebih jika mereka bisa mengorek beberapa pak garam dan
menjualnya di pasar. Tak ada lagi pikiran yang sempat membedakan
manakah kerja yang jujur dan mana yang curang. Dan Sardin yang
biasa hidup dengan suasana desa jadi tak bisa menghadapi pengaruh
kawan-kawan sekerjanya yang kasar dan cepat bertindak itu. Siang,
enam hari yang lalu dia dengan lima kuli lain kembali bergelandangan
tak punya nafkah pencaharian.
“Kita menanti bayi lahir, Kang,” berdenyut kepala Sardin
ketika berjalan pulang, teringat suara istrinya yang bening ber-
kata dari sudut rumah di teritisan tepi kali itu.
Dia tak melihat muka istrinya, karena dalam gubuk itu gelap.
33
Dia yang duduk di pintu menghadap ke jalan itu membuang
pandang jauh ke depan.
“Tampaknya kau tak peduli saja.”
“Aku berpikir, Mah,” dengan berat dia mencoba mau menge-
lakkan tuduhan istrinya yang mengambang suara bicaranya.
“Kenapa pula berpikir kalau tak lekas cari kerja. Sepertinya
semua ini harus dipikir saja sampai bayi lahir!”
Sardin diam. Sakit hatinya mendengar perkataan istrinya
itu. Sejak bayi ada dalam perutnya, istri itu lekas marah dan
cemburunya bukan main.
“Besok aku cari.”
“Besok,” istrinya menirukan ucapannya. “Kalau tak diber-
hentikan kau mendapat dua puluh rupiah hari ini.”
“Mestinya kita berterima kasih karena aku tak masuk pen-
jara, Mah,” dan dia ingat Tuan Ge In yang baik hati, pemilik
gudang di Regang yang mengepalai pembongkaran garam dulu.
Ganti istrinya yang diam. Siang panas, jalan itu agak sepi.
Apalagi karena hanya satu jurusan arahnya, dari timur ke barat.
“Kau lupa hidup jujur, Kang,” istri itu lebih rendah suaranya.
“Aku sekadar cari tambahan uang,” Sardin tak mau disalahkan.
“Tapi kau jadi maling, Kang,” kini suara itu mengingatkan.
Dan kembali sepi lagi di gubuk itu. Masing-masing punya
bicara sendiri di dalam hati.
Sardin cepat menyeberang. Ramai sekali jalan itu. Langit
kemerahan oleh senja yang sudah menutupi hari.
“Darni, Kang, dari desa,” suara istrinya sudah menyongsong-
nya.
Sardin tak masuk di bawah atap yang pengap itu, terlalu
sempit dan terlalu panas. Ia duduk di pintu, sambil melepaskan
pegal-pegal di kakinya.
“Darni bawa beras,” sederhana istrinya menjelaskan.
Diterimanya piring itu dan dia mulai makan. Istrinya duduk
juga di sebelahnya, agak ke kanan.
“Padi menjadi, Ni?” sambil makan dia bertanya.
“Tidak, Kang?” ada suara dari dalam, “banyak tikus dan
34
ulat merah.”
“Menthek2) barangkali.”
“Barangkali.”
Suasana hening sebentar. Dan Sardin bertanya lagi.
“Kenapa bawa beras ke kota kalau padi tak jadi? ‘Kan rumah
sana kurang nanti.”
“Mak bilang untuk icip-icip,” muka Darni agak tampak dari
pintu.
“Ada pesan Mak untukku?”
“Ada, Kang.”
“Apa?”
“Kau disuruh pulang ke desa.”
Sardin menolehkan kepalanya ke dalam gubuk mencoba
mencari wajah Darni. Tapi kini cuma tampak bayangan hitam
yang duduk berselonjor. Dan dia kembali melihat ke jalan.
“Sawah tak ada yang mengurus, Kang. Mak makin tua, Kardi
sekolah di Karangjati dan aku tak bisa kerja sendirian.”
Sardin menunduk ke piringnya yang hampir kosong.
“Dulu waktu Kakek masih, bisa terurus semuanya,” Darni
menambahkan.
Memang betul kata adik istrinya itu. Dia ingat dulu waktu
masih di desa, ketika kakek itu masih hidup. Tiap malam Selasa
Kliwon atau malam Jumat orang tua itu pergi ke sawah sambil
membawa obor bambu. Ia mengelilingi sawah tiga atau tujuh-
sembilan kali dengan menyanyikan kidung penolak hama.
Lagunya lembut menyusupi malam. Dan kidung itu merdu me-
medihi hati malam yang kadang gelap, kadang terang oleh bulan.
Nyala obornya tampak berlonjak dari jauh, dari gardu penjagaan
tempat pamong desa. Kadang-kadang Sardin ikut pula dengan
pemuda desanya, berjaga bergantian. Di musim panen, sawah
itu memberi hasil yang berlimpah bagi lumbung keluarga. Padi-
nya pulen3) bila jadi nasi, diresapi kidung dan doa orang tua itu.
2) ulat hama
3) gurih enak
35
“Sudah selamatan untuk menolak hama itu?”
“Sudah!”
“Wayangan?”
“Ya, Kang.”
“Kalau kau di sana kau mesti bisa mengurus sawah,” istrinya
ikut bicara.
Sardin memandang istrinya. Pandangannya kosong, tapi pe-
rempuan itu menentang tajam mata suaminya. Sardin menu-
runkan matanya, tertumbuk pada perut istrinya yang besar;
“itu anakku” hatinya berbisik.
Ia sudah lama membuang diri hidup di kota bersama istrinya.
Sebelum punya tempat yang tetap, ia berdua dengan istrinya
beralihan tiap malam, di teritisan toko atau kantor atau gedung
K.M.K. di alun-alun. Kadang-kadang menggeletak saja di sesuatu
tempat, asal keteduhan. Ia pergi dari desa karena ia merasa harus
hidup mandiri tak bergantung kepada kekayaan orang tua
istrinya. Ia merasa bertanggung jawab atas hari depan anak-
anaknya yang harus tahu hidup tak berlingkungan kedesaan
saja, seperti dirinya dari lahir sampai kawin.
Piringnya diletakkan dan dia membungkuk ke kali di
depannya. Tangannya menggapai-gapai air.
“Kau tak bawa apa-apa lagi?” istrinya bertanya sesudah diam
sekian lama.
“Kalau sudah tahu tak usah tanya,” Sardin menjawab dengan
jengkel.
Dia cepat mau pergi lagi, menepi-nepi deretan rumah di situ.
“Pulang tak bawa uang, sekarang mau minggat lagi,” istrinya
kasar agak berseru.
Tetangga di deretan atap itu memandang suami-istri berganti-
ganti. Dan Sardin berhenti, menoleh ke arah istrinya.
“Sejak pagi istrimu sudah merasa lho, Din. Kalau-kalau lahir
nanti malam anakmu,” seorang perempuan tua yang sedang
mencari kutu di kepala anak kecil berkata.
Sardin memandang kepadanya sebentar, lalu memandang
kepada istrinya lagi.
36
“Aku ke Citro sebentar.”
Ia berjalan ke kiri. Di seberang jalan, ramai orang berjualan
pisang, es, roti, macam-macam buah dan makanan. Di toko potret
kerap kali keluar masuk orang-orang dengan tampang berlenggok
dibuat-buat. Cina pemilik toko di sana sebentar-sebentar melihat
ke jalan, seakan-akan mau membandingkan dirinya dengan para
penjual makanan yang tersebar di trotoar tanpa alas itu. Sampai
di samping, sebelum rumah gadai itu, Sardin membelok ke kiri
dan menyelinap di sela rumah yang ada di sana. Ia membuka
sebuah pintu kemudian masuk. Pintu dibiarkan terbuka saja.
“Kang.”
Orang yang berbaring di amben itu cuma memandang kepa-
danya.
“Mana uangku?”
Orang itu diam saja. Sardin tahu bahwa mata orang itu
memandang kepadanya. Pintu yang terbuka membawa sinar
langit bersemburatkan warna matahari sore.
Sardin pergi ke meja dekat amben, lalu duduk di kursi yang
cuma satu di sisi meja. Sardin mengeluh.
“Sudah waktunya bayi lahir, Kang. Aku minta uangku yang
kaupinjam dulu.”
Orang di amben bangkit perlahan, membetulkan sarungnya
dan memandang keluar.
“Sudah ke Tuan Kontan ?” tanyanya.
“Sudah,” Sardin menjawab biasa.
“Sudah dapat kerja?”
“Belum.”
“Kau goblok,” tiba-tiba orang itu membentak dan meman-
dang kepada Sardin.
“Bukan salahku kalau orang itu tidak mau memilihku,”
Sardin mencoba mempertahankan diri. “Aku sudah bosan duduk
saja seharian beberapa hari ini. Minta minum air saja tak boleh,
ledeng mahal katanya.”
“Kau harus sabar kalau ingin dapat kerja,” suara orang itu
masih kasar.
37
“Aku minta uang yang kaupinjam dulu,” Sardin mengulangi
katanya yang tadi.
Sepi. Orang itu berdiri, lalu duduk lagi di amben, seakan
ragu akan berbuat sesuatu.
“Mana uangnya?”
“Aku tak punya, Din,” lemah jawabnya.
“Tiap kali tak punya. Lalu kapan itu kaubayar?” Sardin
menahan marahnya.
“Minggu nanti sudah! Pasti kubayar!”
“Minggu nanti,” Sardin menirukan. “Yah, kalau bayi bisa
disuruh lahir seminggu lagi,” suaranya ditengahi keluhan.
Orang itu menelentang kembali di atas ambennya. Kurusnya
sama dengan Sardin. Pada wajahnya bersilangan garis-garis yang
menonjol kasar dan kaku, lebih kasar dari wajah Sardin. Kerja
orang itu tak tentu. Kadang-kadang menjadi perantara pada
penjual dan pembeli bahan rumah: genting, bata, kapur atau
kadang-kadang mencarikan tukang, cari perempuan yang cocok
untuk tuan-tuan yang iseng cari kehangatan malam di pondok
dekat situ. Matanya tampak liar, seakan kerjanya seharian ter-
kaca di sana. Dan garis mulut yang lengkung ke bawah itu me-
nampakkan penderitaan yang menimpanya sejak kecil.
“Aku selalu sabar menunggu bayaran itu, Kang. Tapi kali ini
benar-benar aku butuh. Istriku sudah merasa mau melahirkan,
aku tak punya duit sedikit pun. Bisa makan beberapa hari ini
pun karena istriku pandai-pandai nyimpan sedikit,” suara Sardin
ditekankan oleh kemauan hendak memberi penjelasan kepada
yang diajak bicara.
Gelap ruang itu menambah sesak perasaannya. Teng-teng
dan kelinting-kelinting penjual tahu atau es bersahutan di antara
suara becak dan sepeda serta mobil.
“Aku bisa beri uang besok, Din! Tapi ini pun kalau aku ber-
hasil,” orang itu berkata sambil berdiri. Sardin diam saja.
“Atau, kau akan terima sepuluh rupiah lagi kalau kau mau
tolong aku.”
Sardin masih diam memandang kepada orang itu.
38
“Sepuluh rupiah,” orang itu mengulangi, berhenti sebentar
lalu, “kalau kau mau tunjukkan tetanggamu yang masih perawan.
Ada orang yang mau bayar lima puluh rupiah kalau aku dapat
carikan perawan, yang masih perawan, Din.”
Sardin mencoba meneliti pandang orang itu, tapi kegelapan
menghalanginya. Dia ingat Darni, adik istrinya yang tadi datang
dari desa, kini di rumah sana.
“Sepuluh rupiah?” mengambang suaranya bertanya. “Ka-
pan?”
“Besok.”
Sejenak sepi ruangan itu. Lalu cepat-cepat orang itu
menambahkan,
“Aku nanti secepatnya!”
Sardin bangkit, menuju pintu.
“Bisa, Din?”
Sardin tak menjawab dan keluar dari rumah itu. Dalam ber-
jalan menuju ke rumahnya di pojok jalan, pikirannya berbentur-
an tak menentu. Dia sudah lihat bagaimana orang-orang yang
datang tiap hari di kantor Tuan Kontan menunjuk dan membeli
tubuh-tubuh di sana dengan lima sampai ratusan rupiah. Dia
juga sudah melihat bagaimana Tuan Kontan tersenyum meneri-
ma bayaran itu. Tapi dia tak melihat bagaimana nasib orang-
orang yang dibeli, yang dibayar dengan sejumlah uang itu. Dan
kalau dia menerima sepuluh rupiah dari Citro, Darni akan men-
jadi perempuan yang tak memiliki sesuatu lagi yang merupakan
harta satu-satunya di dunia ini. Darni adik istrinya, dan siang
tadi membawa beras yang dimakannya.
Dari jauh tampak anak kecil berlari-lari.
“Lekas, Kang, lekas! Yu Mah mau lahir anaknya. Lekas
Kang!”
Dia ikut berlari bersama anak itu menuju pondoknya di pojok
jalan. Berpecahan segala yang ada di kepalanya. Dia mau melihat
anaknya.
Cepat dia masuk ke bawah atap gubuk itu. Perempuan tua
ada di sana. Kain buruk bertumpukan di sampingnya. Seorang
39
perempuan lagi berjongkok di arah kepala istrinya. Sardin hanya
melihat istrinya terlentang menyilang sudut menyudut dalam
ruang yang sempit diterangi pelita kecil. Dia keluar dari ruang
itu, duduk tepat di depan pintu. Beberapa orang juga ada di
sana.
“Tenang saja, Din. Tuhan kasih kepada orang seperti kita
ini. Mudah-mudahan semua selamat,” seorang laki-laki berkata
menenangkannya.
Seorang lagi datang membawa bungkusan dan cangkir seng.
Sardin memandangnya.
“Telur dan nasi. Yang ini jamu Nyonya Menir situ,” orang
itu menjawab pandang Sardin.
Dia duduk di samping Sardin dan terus berkata,
“Pecahan kaca tiga keranjang kemarin dibeli Cina situ empat
rupiah, lalu dapat lagi seringgit dari seng yang dulu itu.”
Sardin memindahkan pandangnya ke jalan. Beginilah hidup
dengan orang yang tahu penderitaan. Mereka bergerombol me-
ngumpul di saat susah. Sedangkan mereka yang menjumpai hi-
dup senang berpukulan tak kenal waktu. Sardin ingat uang sepu-
luh rupiah yang dijanjikan Citro, lalu dia ingat Darni.
“Mana Darni?”
“Di dalam bersama Mak Su,” seseorang menjawab.
Tidak. Dia tak hendak ikut menjadi penjual orang.
Teriak lembut tiba-tiba terdengar, disusul tangis bayi halus
merambat dari pojok itu ke segenap deretan atap di tepi kali.
Tangisnya membawa kabar tantangan kepada hidup yang akan
merengkuhnya.
Dari arah kanan sayup suara becak dan mobil. Pukulan pen-
jual martabak di atas wajannya terdengar menyahut dari muka
bioskop Gris, menyela lontaran azan magrib dari langgar di
kampung Prembaen.
Sekayu, 1953
40
Pendurhaka
bagi Warti teman sekamar
bagi Ajeng di perbatasan
“Kau harus pulang, Yati. Kau sudah cukup meremukkan hati
Ibu. Sekali ini kau harus benar-benar mengerti bahwa kau sudah
besar, sudah tak patut lagi untuk tiap kali membantah kata orang
yang lebih tua darimu. Kalau dulu kau selalu ingin menang saja,
kau tahanlah keinginan itu. Kau sudah cukup tahu bagaimana
hati Ibu karena kelakuanmu,” dan dia terus mendesakku dengan
kata-katanya yang dianggapnya menasihati aku.
Aku hanya diam. Diam saja sambil memandang ke luar pintu.
Dalam hati aku tersenyum. Senyum besar menyenyumi segala
bicara orang yang ada di depanku ini. Dia lahir jauh sebelum
aku. Lahir dari satu kandungan dengan aku. Dan orang sebut,
dia saudaraku. Mungkin. Sebab aku tak tahu atau tak lihat
sendiri bahwa dia lahir sebelum aku, dari satu kandungan pula
dengan aku. Dia saudaraku. Ya, kakakku menurut kata orang.
Satu dari lima orang kakakku.
“Jangan kauabaikan kata-kataku ini karena semua yang
kukatakan hanya untuk kebaikanmu sendiri. Kau harus
mengerti, Yati. Ibu sudah tua. Tinggal kau yang dipikirkannya.
Tapi kau malahan tak berusaha untuk menyenangkan hatinya.”
Sebetulnya aku sudah tak tahan mendengar kata-katanya.
Aku memang tak bisa diam saja jika bicara dengan orang macam
dia. Aku selalu ingin mendebat atau membantahnya. Karena
mana ada seorang ibu hanya pikirkan seorang anaknya saja,
41
padahal dia punya enam orang anak. Dan ibuku hanya tinggal
memikirkan aku? Hatiku ketawa geli mendengar ini. Tidak! Tak
mungkin Ibu cuma pikiri aku. Kakakku lima orang. Tapi, biarlah.
Kubiarkan saja dia berbicara semau hatinya.
“Tiap kali aku katakan kepadamu dalam surat bahwa kau
disuruh pulang oleh Ibu. Tidak hanya Ibu, tapi seluruh keluarga
memikirkan kau. Dan mengharap benar supaya kau pulang ke
rumah. Tak pantas lagi kau bekerja terus dengan tenagamu yang
serba lemah. Kau harus pula ingat kata Nenek. Harus kauingat
apa kata segenap anggota keluargamu,” dia mulai keras bicara-
nya. Hatinya kesal barangkali.
“Apa kata mereka?” tanyaku acuh tak acuh.
“Kau anak yang tak tahu budi. Kau tak tahu membalas jasa
orang tua. Kau anak yang melangkahkan kaki dari adat. Ya, ma-
cam-macam lagi kata mereka. Ingati benar, Yati. Kau anak pe-
rempuan dalam keluarga kita. Kau mesti menurut segala aturan-
aturan keluarga.”
Jantungku serasa ditarik mendengar katanya yang akhir ini.
Tapi bukan darah yang mengalir. Cuma terasa sentakan sedikit.
Dan kutahan benar supaya aku tetap tenang. Aku diam dan tak
menyahuti kata-katanya.
Melihat aku diam, dia mengharapkan satu kemenangan.
“Kau perempuan, Yati. Tak patut terus bersendiri macam
ini.”
“Bersendiriku bukan mengganggu kepentingan orang lain,”
aku mulai mematahkan harapannya yang tergambar pada wa-
jahnya.
Dia agak terkejut mendengar jawabanku yang tiba-tiba ini.
Dan aku tambahkan,
“Hidupku kini bukan lagi kepunyaan Ibu atau keluarga. Bu-
kan pula kepunyaanku. Tapi hidup dan adaku kini kepunyaan
negara, kepunyaan bangsa, kepunyaan tanah air ini. Segala yang
kulakukan bukan untuk kepuasanku semata. Aku ingin bekerja.
Dan bekerjaku ini juga harus berisi kegunaan bagi masyarakat.”
“Tapi kau lupa siapa yang membesarkan kau,” selanya.
42
“Aku ingat siapa yang membesarkan aku. Bahkan tahu
dengan pasti.”
“Siapa?”
“Orang tua,” jawabku tenang.
“Kauabaikan jasa orang tua itu?”
“Tidak! Juga aku tak hendak menyanjung jasa itu sebab aku
tahu orang tua membesarkan serta mengusahakan pertumbuhan
anaknya itu sudah kewajibannya.”
“Alasan untuk menyatakan kau tak mau pulang, Yati! Gam-
pang memang mengatakan yang tidak-tidak untuk jadi alasan,”
dia mulai kesal lagi.
“Mengapa pula kaukatakan alasan yang tidak-tidak? Aku
berbuat apa yang baik menurut pendapatku. Segala sesuatu
kuperhitungkan dengan guna adaku di dunia ini.”
Aku jaga benar supaya aku tak terdesak oleh caranya. Dan
kuusahakan pula supaya dia mengerti segala kataku.
Memang surat-suratnya yang datang kepadaku selalu menyu-
ruhku pulang, menyuruh datang lagi ke rumah yang dulu, tem-
patku tiga tahun yang lalu. Sangat lama waktu tiga tahun itu
bagi orang yang masih merasa mempunyai ikatan dengan yang
tinggal di rumah itu. Tapi bagiku tidak. Aku merasa tak perlu
datang ke rumah itu lagi. Kalaupun aku datang ke sana, aku tak
hendak memakai kata “pulang”. Sebab memang itu bukan ru-
mahku. Itu rumah keluarga, rumah Bunda yang mungkin kini
sudah tua sekali. Ya, rumah orang dalam jumlah yang tak sedikit
dan yang selalu saling memikiri karena rumah itu dianggap ben-
da warisan Ayah.
“Untuk waktu-waktu semacam ini kau harus bisa mengesam-
pingkan nafsu bicaramu. Kau ingat dengan siapa kau bicara?
Patutkah anak kecil macam kau ini selalu membantah omongan
orang tua? Kau sudah begitu jauh berada dalam pergaulan serba
tidak beraturan,” matanya melihat kepadaku dengan tajam.
Dia betul-betul marah rupanya.
Aku diam. Tak berguna kusahuti bicaranya itu sebab aku
memang merasa terlalu tidak tahu bagaimana caraku kalau aku
43
bicara dengan orang macam dia, orang keluarga. Aku jarang
bergaul dengan mereka. Sekolah Rakyat1) enam tahun kulanjutkan
ke sekolah guru, dan selama itu aku tinggal di asrama. Ling-
kungan rumah yang kujumpai di hari-hari libur sangat tidak
mengenakkan hati. Kemudian hari-hari libur kuhabiskan di
rumah teman-temanku, di desa-desa yang jauh melegakan dari-
pada keadaan rumah Bunda, rumah keluarga.
“Mereka mengharap kedatanganku di rumah itu,” hatiku
mengulang kata kakakku tadi.
“Bunda sudah tua,” lagi hati bicara sendiri. Ya, Bunda tentu
sudah tua. Sudah makin menjadi-jadi pula sifat pemarahnya.
Seperti Nenek juga, tentu Bunda menyuruhku kembali ke
rumah. Aku tak tahu untuk apa. Dan aku ingat benar bagaimana
ketiga orang kakakku perempuan dipaksa menuruti kehendak
Bunda. Mematuhi perintah orang tua, katanya.
“Tidakkah kausadari bahwa kau mendurhaka, Yati?” katanya
tiba-tiba setelah kami, aku dan dia, diam lama sekali. Wajahnya
masih marah seperti tadi.
“Tidak,” jawabku tenang.
“Aku tak tahu kenapa Ibu dulu punya anak kau.”
“Itu satu kebetulan.”
“Tapi cuma kau yang membelot bikin aturan sendiri, lain-
lainnya tak ada yang seperti kau.”
“Ya, karena lain-lainnya takut dan menjadi pengecut hatinya
sendiri.”
“Apa?” matanya terbelalak.
Aku tersenyum, kujelaskan,
“Karena kalian penakut dan penipu hati sendiri. Tak kaurasa
bahwa jalan yang lurus selalu menjemukan? Kekakuan pada
setiap perbuatanmu sendiri sudah bisa menonjolkan sifat yang
tertanam padamu.”
“Kauajari orang tua?”
“Kalau perlu. Aku juga mengajar orang tua di samping mu-
1) SD
44
rid-muridku yang kecil-kecil. Perpaduan keduanya membikin
aku makin tahu dan mengerti jiwa masing-masing orang.”
“Kau jadi sekurang ajar ini, Yati! Apa yang kauperoleh dari
pekerjaanmu mengajar di kota sempit ini?”
“Kau tak boleh memberi anggapan dengan gampang, Kak,”
kataku dengan tenang. Lalu kulanjutkan,
“Kaukatakan tadi aku anak kecil. Sedang tadi sudah pula
kausebut-sebut bahwa aku sudah besar. Alangkah sukar untuk
berpegang pada perkataanmu yang sangat bertentangan itu. Ya,
aku tahu bahwa aku sudah besar. Seperti kaukatakan tadi. Dan
aku sadari benar dengan besarku itu aku mendukung satu kewa-
jiban yang tak akan habis sebelum matiku. Berikan segala hak
sepenuhnya kepadaku kalau kauanggap aku sudah besar. Aku
sudah mengerti dan tahu memilih jalan sendiri. Aku bekerja
dengan segenap rasa tanggung jawabku meskipun di kota sempit,
tapi penuh jiwa luas. Tidak dengan kedangkalan-kedangkalan
yang berlingkungan rumahmu, rumah keluarga.”
“Aku bosan dengan tonjolan-tonjolan kewajiban yang jadi
sanjunganmu itu.”
“Aku juga bosan dengan sanjunganmu terhadap tundukan
perintah orang-orang tua,” cepat aku menyela. “Kalau dalam
kebosanan itu aku selalu diam dan mendengarkan, dan pikirkan
segala omonganmu, kenapa kau tidak mau pula pikirkan penda-
patku, pendapat orang-orang muda yang sama dengan aku. Kau
tak adil, Kak. Juga aku heran kenapa kau begitu bersitegang
pada tonggak aturan keluarga. Kau cukup lanjut bersekolah.
Lebih tinggi dariku. Kau setingkat SMA2). Sedangkan aku cuma
SG setingkat SMP.3) Ya, tak usah kau jelaskan aku sudah tahu.
Kau terlalu berhati-hati karena kauanggap dirimu sebagai ganti
ayah dalam rumah itu. Kauturuti dengan membuta segala kata
Ibu. Ya, kau memang anak yang manis,” aku ketawa mengejek-
nya.
2) SMU
3) SLTP
45
“Kau begitu lancang! Berani mengaduk-aduk hal-hal yang
telah lalu dengan mengejekku pula,” suaranya geram. Dia takut
kalau-kalau marahnya terdengar orang rumah tempatku menum-
pang.
“Mengapa tidak. Kau anak laki-laki dari keluarga. Sanggup
mengada yang tiada,” aku mencibirkan bibirku mengejeknya.
Aku ingat, Bunda selalu mendahulukan anaknya laki-laki
dalam hal yang enak. Bunda perbuat apa yang Nenek perbuat
terhadapnya dulu. Ah! Bunda sangat tidak tahu cara hidup dan
bergaul orang-orang zaman kini. Sejak Ayah meninggal, dia tak
tahu bahwa hidup bergerak di mana-mana, tidak hanya di
lingkungan rumah keluarga itu saja. Bunda tak tahu pula bahwa
anaknya yang lari dari rumah hanya untuk mencari hidup yang
sebenarnya hidup.
“Juga sanggup memaksa kau untuk melurusi adat,” dia sahuti
omonganku.
“Kau dapat buktikan?”
“ Aku mesti menang.”
“Keyakinanmu kaulumuri dengan bujukan di hatimu sen-
diri,” aku tetap tenang.
“Aku berbuat karena wajib yang dibebankan keluarga.”
“Dan kau jadi corong mereka.”
“Aku malu punya saudara seperti kau. Sudah besar, bekerja
jauh dari rumah dan mengabaikan hukum keluarga.”
“Kau boleh tak punya saudara aku,” aku mulai bersungguh-
sungguh. “Kau boleh anggap aku tak ada. Juga seluruh keluarga
bisa menganggapku tak ada. Karena adaku toh hanya bikin
pikiran mereka saja. Aku tak membutuhi kasihan atau pemikiran
mereka. Kau terlalu mendewakan segala aturan keluarga. Terlalu
memper-Tuhan keluarga. Sampai-sampai kau tak sadar bahwa
kau bersama mereka telah mencabik-cabik tiga hati perempuan.
Hati kakak-kakakku. Kau bersama Ibu membikin gelanggang
tontonan dengan darah perasaan perempuan. Ya! Kau laki-laki.
Kau tak tahu bagaimana hati perempuan.”
Dadaku sangat sesak. Amat banyak yang hendak kulempar-
46
kan ke mata hatinya. Hati yang puas kalau sudah bisa menekuk-
lututkan perasaan bebas.
“Aku mengerti kenapa mereka menyuruhku kembali ke ru-
mah dulu. Surat-surat Yu Asih sudah katakan bahwa mereka
menyibukkan diri dengan membicarakan diriku. Mereka mau
kawinkan aku! Benar,” aku ketawa sepuas hati. Ketawa ejekan
yang membikin dia melongo tak mengerti. Tolol betul wajahnya!
“Yati! Kenapa kau ketawa?”
“Kau tak ingat bagaimana Yu Asih menangis terus-menerus
setelah dia tahu bahwa dia akan dikawinkan dengan orang yang
sama sekali belum dikenalnya?” tanyaku.
Dia diam.
“Kalau dia menangis, kini aku ketawa. Aku ketawakan mere-
ka yang begitu bersusah payah untukku. Untuk orang durhaka.
Untuk orang yang tak tahu membalas budi,” aku pandang dia
dengan tajam. Sebentar kemudian kuteruskan,
“Tidak! Mereka telah membuang-buang waktu karena memi-
kirkan orang durhaka. Juga kau telah terlalu berani akan mem-
buktikan kemenangan datangmu kemari,” kualihkan pandangku
ke luar pintu.
Suasana percakapan yang tadi keras lawan tenang kini ber-
ubah menjadi tegang. Sudah cukup aku memberi harapan ke-
padanya. Aku kasihan karena dia terlalu percaya kepada keku-
asaannya sebagai utusan keluarga, pesuruh Bunda.
Pikiranku berputar mengenai ketiga kakakku perempuan.
Ya, mereka perempuan, sama dengan aku. Masing-masing mem-
punyai kelemahan dan hati perempuan. Ketiga-tiganya dijadikan
tontonan keluarga, dijadikan boneka yang tak boleh memilih
cinta.
Yu Asih. Dia kakakku sulung. Hatinya yang lembut tak sedi-
kit pun mengalirkan perasaan menentang. Segalanya diterima
dengan baik, dengan membungkam tanpa pembelaan atas
hatinya yang begitu halus. Juga ketika Bunda katakan kepadanya
bahwa bulan depan dia akan dikawinkan dengan seseorang dari
Solo.
47
Ah, Bunda tak tahu hati Yu Asih, hati anaknya sendiri, hati
perempuan.
Waktu itu, aku sedang berlibur kwartalan. Dan aku lihat
bagaimana penerimaan Yu Asih terhadap kata Bunda itu. Dia
memandang kepada Bunda. Sinar matanya yang lembut sangat
meragukan untuk diterka apa kata hatinya. Dan pada sinar itu
lama-kelamaan terpancar kehancuran.
Ya, hanya kehancuran. Dengan aliran air mata yang makin
lama makin memenuhi keseluruhan mata itu. Bunda masih tegak
di pintu kamar. Kemudian pergi keluar tak berkata sesuatu pun
lagi. Kulihat Yu Asih merenungi bekas Bunda berdiri. Dan titik
air makin banyak mengalir ke pipinya.
“Kau sudah bertunangan, Yu?” tanyaku.
Kini kudengar tangisannya meledak sekeras-kerasnya. Tangis
manusia lembut yang tak punya darah penentang.
Yu Asih kawin. Yang berarti kebuntuan segala jalan untuk
mencari kesegaran di luar keluarga. Kemudian giliran Yu Sri.
Belum lagi ia menempuh ujian SKP4) sudah disuruh keluar oleh
Bunda. Dia tahu untuk apa Bunda berbuat itu. Dia berusaha
sekeras-kerasnya untuk menginsafkan Bunda. Revolusi disang-
kanya akan bisa membantunya. Tetapi tidak. Bunda tak hendak
anaknya berpikiran sekehendak hati. Juga tak mau anaknya ber-
cinta dengan orang yang bukan pilihannya.
Yu Sri punya teman seorang anggota tentara. Ikut memper-
juangkan kemerdekaan dengan menjabat dokter dalam pertem-
puran-pertempuran di luar kota. Yu Sri cinta kepada teman itu.
Tapi cintanya dipenuhi keraguan. Yu Sri tak bisa menegasi tin-
dakan sendiri. Akhirnya, dia tunduk juga kepada Bunda, kepada
keluarga. Dia kawin dengan seorang haji pilihan Bunda, dan
menduduki singgasana sebagai istri ketiga.
Dalam soal-soal keluarga yang menyinggung perkawinan,
aku selalu menolong sedapatku kebenaran Yu Asih maupun Yu
Sri. Aku tak mau ikut campur urusan keluarga. Tapi dalam hal
4) Sekolah Kepandaian Puteri, setingkat dengan SLTP
48
kebebasan macam itu aku tak bisa berdiam diri.
“Sul ke mana ini?” tanya Bunda pada suatu petang.
“Sejak siang aku tak lihat dia juga,” kakakku, anak manis
Ibu menyahuti.
“Ke mana Sul, Yati?” Bunda tanya padaku.
“Tak tahu,” jawabku sambil terus menyulam.
Sul enyah dari rumah sejak siang hari. Dia kakakku keempat.
Aku tahu ke mana dia pergi. Ia keluar kota bersama kawan-
kawannya membantu palang merah. Dan orang rumah menjadi
ribut ketika tahu Sul hilang. Aku mengerti mengapa. Bunda
sudah pula adakan rencana buat Sul. Rencana tontonan lagi,
tapi yang lebih sukar penyelenggaraannya dan sangat meng-
gegerkan hati yang mengerti.
Sul sudah tahu bahwa dia sudah disediai suami oleh Bunda.
Lalu Sul keluar kota. Selama lebih tujuh bulan dia menyertai
teman-teman gerilya. Pulangnya ke kota membikin hatiku
bersorak. Dia hitam kini. Segar dan ria benar mukanya. Dan
dia bertugas dalam kota mengumpulkan obat-obatan. Keluarga
yang mengutuknya kembali ribut pikirkan dia. Aku peringatkan
ini kepadanya. Tetapi Sul sudah terlalu menyibuki pekerjaannya
hingga tak sepenuhnya memperhatikan soal itu. Aku dan Sul
agak banyak mempunyai sifat yang sama. Aku tak memanggilnya
dengan sebutan keluarga, karena aku merasa lebih dekat dengan
panggilan nama saja.
Suatu hari ketika kulihat Sul hendak pergi, Bunda berkata,
“Ke mana lagi kau Sul?” dengan wajah yang muram. Wajah
Bunda memang tak pernah cerah.
“Bekerja,” pendek jawab Sul.
“Bekerja setiap hari, setiap waktu kau pergi selalu. Bekerja
tak menerima bayaran kauteguhi begitu rupa. Kau tak boleh
seenakmu saja. Kau sudah besar, sudah hampir bersuami,” Ibu
mulai marah.
“Aku belum hendak bersuami,” jawab Sul keras.
“Pura-pura kau mengelak,” Bunda tersenyum masam.
“Tidak! Tak ada dalil pura-pura di sini. Aku bekerja dan
49