The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpustakaansmpwarga, 2022-09-14 01:50:29

Dua Dunia (Nh. Dini) (z-lib.org)

Dua Dunia (Nh. Dini) (z-lib.org)

masih banyak lagi yang harus kukerjakan. Benar-benar aku
belum hendak kawin. Orang-orang sekarang jangan Ibu samakan
dengan orang-orang sezaman Ibu. Ya, barangkali Ibu sendiri
begitu. Pura-pura tak mau ketika ditanya Nenek tentang kawin.
Ibu menduga hatiku, hati orang sekarang, dengan ukuran hati
Ibu, hati orang dulu.”

“Sul! Kau selancang ini bicara dengan ibumu!” suara Bunda
gemetar.

“Aku ingin menginsafkan Ibu. Kami bekerja bukan hendak
cari uang atau bayaran, Bu. Tapi kerja kami hendak membantu
teman-teman yang berjuang. Ini Ibu mesti tahu! Berjuang itu
perang, Bu. Ibu tentu tahu juga bahwa kami ingin kami tak
dijajah. Insaflah Ibu bahwa kita ini ada dalam penjajahan.”

“Aku tak kenal benda itu.”
“Penjajahan adalah seperti kami ini, anak perempuan yang
selalu harus menuruti kemauan orang-orang tua. Taat kepada
perintah keluarga,” Sul ketawa sambil cepat-cepat pergi menjin-
jing ranselnya.
“Kau tak boleh pergi, Sul!” Bunda berteriak.
Tapi Sul makin cepat berjalan dan terus keluar halaman.
“Kau anak keparat, kau tak menurut perintahku Sul,” Bunda
tetap berteriak.
Aku masih berdiri bersandar pada almari sejak tadi. Menon-
ton ibu dan anak yang saling keluarkan bicara sepuas hatinya.
“Sul sudah bertunangan, Bu?” tanyaku tenang.
“Diam kau! Anak kecil tak perlu ikut campur,” bentak Bunda.
Aku tersenyum.
“Alangkah enak jadi anak kecil, masih lama lagi harus kawin,”
kataku acuh tak acuh sambil duduk di samping radio dan me-
mandang keluar.
“Anak kecil boleh berbuat sekehendak hatinya. Bermain-main
sepanjang hari, pergi ke sekolah atau di depan rumah. Tapi heran,
kenapa aku tak boleh beranjak dari rumah ini. Betul juga Sul.
Kalau aku pergi tak usah pamit.”
“Akan kauturuti kakakmu yang tak senonoh itu?”
50

“Biasanya aku mengikuti yang baik menurut pendapatku.”
“Baikkah ulah kakakmu itu? Patutkah anak perempuan se-
besar dia pergi-pergi seorang diri dan berani membantah ibu-
nya?”
“Kurasa Bunda tak perlu bicara sekeras ini, Bu. Aku tak tuli,”
aku tetap tenang.
“Kau memang anak biadab. Kau dimanjakan bapakmu dulu.
Kau anak bapakmu, bukan anakku. Anakku takkan seberani
itu bicara dengan aku.”
“Bisa juga aku anak bapakku, Bu. Sebab aku memang tak
melihat sendiri dari mana datangku ini,” aku masih tetap tenang.
Bunda diam.
“Ibu tak boleh menyamakan zaman Ibu dulu dengan zaman
sekarang, Bu,” kataku lagi ketika Ibu mulai mengunyah sirih.
“Aku hanya ingat kejadian-kejadian yang lalu. Misalnya
tentang Yu Asih, Yu Sri, dan akan Ibu lanjutkan lagi pada Sul.
Sedang anak manis Ibu boleh memilih kawin dengan siapa pun.
Kelak Ibu teruskan pula padaku? Pada anak kecil? Dan anak
Ibu yang laki-laki lainnya boleh pula berbuat sekehendak hati-
nya. Itu tak adil namanya, Bu.”
“Anak perempuan tak boleh memilih sendiri.”
“Itu dulu, Bu. Kini tak lagi begitu.”
“Memang anak sekarang pandai mengajari orang tua,” gerutu
Bunda.
“Kalau baik ajaran itu harus diterima, Bu.”
“Tutup mulutmu! Kau tahu dengan siapa kau berhadapan?”
Bunda marah lagi.
“Dengan orang zaman dulu,” aku tenang.
“Kurang ajar! Aku ibumu, berani kau mengajari ibumu?”
“Aku anak bapakku. Dan aku anak zaman sekarang. Jangan
Bunda selalu bersitegang pada adat yang buruk itu, Bu. Kami
tak hendak membuang adat kita semua. Kami hanya mengambil
yang baik saja yang tak menghambat kelancaran jalan ke arah
kesempurnaan. Kami tak membenci adat itu, Bu. Tidak! Kami
hanya ingin menyaringnya saja,” aku bangkit akan pergi keluar

51

dan, “Maaf, Bu. Aku hanya menginsafkan Ibu sekali lagi. Sayang
aku bukan anak manis Ibu,” lalu cepat-cepat aku keluar.

Ya! Itu semua aku ingat. Dan aku hampir tak bisa menahan
kesabaran waktu itu. Tapi aku harus sabar, aku harus punya
sifat ini dalam segala hal. Inilah satu-satunya peganganku dalam
menjalankan pekerjaanku.

Kami masing-masing masih saling diam. Aku tak tahu apa
yang sedang dipikirkannya. Barangkali dia masih menyusun
kata-kata untuk menyerangku lagi, untuk mendapatkan keme-
nangan seperti yang pernah didapatnya dari ketiga kakakku
perempuan. Atau barangkali pula dia sudah berputus asa untuk
dapat membawaku ke rumah keluarga.

“Aku harapkan benar kebijaksanaanmu, Kak,” aku berkata
sambil memandang kepadanya. “Kau satu-satunya anak yang
paling dekat Bunda. Tolonglah Bunda masuk dan mengerti jalan-
nya zaman, pekerjaan dan kebaktian. Kau bukan anak dulu
sebenarnya, tapi kau menipu dirimu sendiri dengan kecondong-
anmu kepada adat keluarga. Kau jangan terlalu membuta
menuruti Bunda. Tolehlah segala kejadian yang telah lampau,
Kak. Macam mana yang terjadi?”

Aku ingat Sul lagi. Dia satu kali datang ke asramaku sesudah
sekolah dibuka lagi. Wajahnya pucat. Lemah sungguh bicaranya.

“Sekali ini mereka harus tahu bahwa kita orang perempuan
punya tenaga juga. Aku datang mau pamit kepadamu.”

“Akan ke mana?” aku tak mengerti.
“Ke surga! Ke tempat yang kusuka,” dan dia pergi tanpa
bilang apa-apa lagi.
Kemudian kudengar Sul hilang dari rumah. Tapi aku mengerti
ke mana dia pergi. Cuma aku belum yakin benar apakah ada
teman Sul yang sangat menariknya untuk berbuat seberani itu.
Sul masih terus di daerah pedalaman dengan aksinya.
“Ah, Sul,” hatiku tak kuasa lagi menahan teriakan ini.
Kulihat kakakku terkejut mendengar keluhanku ini.
“Kau tentu ingat, Kak, apa yang diderita Sul sekarang. Dia
yang membawa tragedi paling besar dalam rangkaian kerja
52

keluarga, kerja Bunda, kerjamu pula. Coba kalau dulu Sul kau-
biarkan saja dalam kesibukannya membantu teman-teman di
luar kota, tak dalam angan-angannya saja. Ingat juga kau ketika
malam yang mengerikan dulu? Ketika Sul terlentang nekat me-
nelan sublima5) hendak bunuh diri? Ah, kenapa dulu kau ber-
tindak sekejam itu, Kak? Kauseret dia dari daerah cuma hen-
dak memuaskan hati Bunda.”

“Itu semua sudah lalu.”
“Aku tahu sudah lalu. Lebih baik kita bercermin pada segala
kejadian yang lalu itu.”
“Sul terlalu pendek jalan pikirannya,” dia enak saja bicaranya.
“Tidak terlalu pendek, bahkan sangat tidak terukurkan oleh
kau, oleh keluarga.” Air mata sudah hampir tak bisa kutahan.
Aku ingat Sul. Dia yang sudah berusaha dengan segala tenaga
perempuannya untuk memperoleh daerah bebas pilihannya. Tapi
dia gagal. Dan kegagalannya mewujudkan dunia baru di Ngawen,
daerah pasien yang dipenuhi paru-paru setengah kerja.
“Masih belum cukupkah kau tergelak ketawa puas melihat
tontonan-tontonan yang lalu, Kak? Akan kalian adakan lagi
sorak yang mengerikan dengan memperalat diriku?”
Dia diam, aku tahu dia bingung hendak menjawab.
Beberapa pekan lalu, surat Paman datang mengatakan bahwa
aku disuruh pulang. Tapi aku jawab aku meneguhi kerjaku.
Kemudian datang lagi suratnya mengutuk memaki. Aku anak
durhaka, anak keparat. Aku bikin dosa besar dalam hidup ini,
katanya.
Ya, aku memang anak biadab bagi keluarga. Tapi aku yakin
bahwa aku anak yang berbakti bagi masyarakat.
“Bukan tempatmu di kota sekecil ini,” dia mengambil hatiku.
“Kau tahu benar? Kenapa?”
“Yogya lebih baik. Kau bisa belajar lagi lebih jauh.”
“Di sini pun aku belajar. Aku belajar mengenal hidup segar,
Yogya hanya menjadi tikaman hasrat bagiku,” aku tahu dia

5) Sejenis obat tidur yang keras

53

memasang jerat untukku.
“Kau tak usah perbanyak soal untuk melanjutkan usahamu

menjadi pesuruh keluarga. Kepada orang lain barangkali kau
bisa pergunakan kekerasanmu, tapi kepadaku tidak. Sampai mati
pun kupertahankan kemerdekaanku.”

“Kau ikut jejak Sul?”
“Kalau perlu.”
“Dan merana di dunia batuknya?”
“Untuk ke sana kukira tidak. Sebab aku yakin akan ke-
kuatanku.”
Kembali dia diam. Aku memandang keluar, sudah gelap. Aku
berdiri dari dudukku pergi ke jendela. Sekedar menyejuki hati
dengan merah atau ungu senja sesudah berhadapan dengan mu-
rid-muridku, sejak pagi dan sore hari. Dan kali ini pun kuikuti
awan senja. Adanya kakakku tak menjadi penghalang, juga ada-
nya siapa pun.
Kudengar dia menghela napas panjang.
“Benar-benar kau keras kepala, Yati.”
“Bunda juga keras kepala. Apa salahnya kalau aku keras ke-
pala pula. Untung aku masih diwarisi keras hati dan kesabaran
dari Bapak.”
Dia bangkit dan berkata,
“Kau banyak kerja malam ini?”
“Aku selalu banyak kerja.”

Sekayu, 1953

54

Perempuan Warung

Kinah keluar dari rumah itu. Jalan sempit lembab dilaluinya.
Sebentar-sebentar ada siul dan ketawa. Lorong yang suram itu
menjadi menjijikkan bagi hidup yang menghendaki kesopanan.

“Berjaya, Nah?” ada suara yang nyaring dari pojok sana,
tempat tukang becak berlabuh.

Kinah menengok sambil terus berjalan.
“Mau ke warung.”
“Sambil lalu ta,1) malah banyak sana langganannya,” terde-
ngar suara lain diiringi ketawa. Tapi Kinah berjalan terus sam-
bil diam. Ia merasa tak perlu menjawab.
Ia belok ke kanan. Lapangan rumput di tengah-tengah dua
jalan itu ada panggungnya, besar dan indah.
Senja itu disinari oleh lampu-lampu merah putih yang dipasang
di keliling panggung serta lapangan. Seperti pasar malam peman-
dangan itu bagi Kinah. Terus saja ia berjalan di antara desakan calon
penonton pertunjukan yang akan diadakan di sana. Sampai di sam-
ping dan muka gedung bioskop dia berhenti sebentar. Lalu cepat-
cepat masuk ke warung. Orang-orang yang sedang duduk minum
di sana melihat kepadanya, beberapa ada yang tersenyum-senyum.
Tapi Kinah langsung saja bekerja, mencuci ini-itu yang kotor. Seperti
biasa, ia mendengar gerutu dari mulut iparnya. Dia cuma diam dan

1) kata seru, tambahan dalam kalimat logat Jawa

55

terus bekerja.
“Kenapa lambat tadi,” Karjan bertanya sesudah warung agak

sepi.
Kinah maunya diam tak menjawab. Tapi Karjan sekali lagi

berkata dan membentak,
“Kenapa?”
“Yu Limah masuk angin, minta digecel2) tadi,” suaranya dingin.
Tapi Karjan masih terus menggerutu. Mulutnya yang lebar

bergerak-gerak, tampak di warung yang suram itu sebagai satu
kewajaran. Pantas saja kedua bibir atas dan bawah saling menjauh
dan mencakup kembali. Dan bila dipandang dari dekat, akan
tampak gigi-giginya yang kuning kehitaman oleh madat dan
tembakau. Kinah tak hendak memandang wajah iparnya.

Sudah terlalu biasa ia mendengar gerutunya. Bentakan dan
cacian seperti datang dari majikan jika itu diucapkan oleh Karjan.

Sudah beberapa malam Kinah harus membantu Karjan di
warung. Limah empat hari yang lalu melahirkan anak, berarti
satu mulut lagi yang mesti diberi makan. Dan Kinah yang pen-
diam dengan malas terpaksa mengganti kedudukan Limah di
warung. Segalanya dikerjakan diam-diam. Matanya tak pernah
memandang muka orang yang datang ke warung itu.

Penjaga sepeda di arah kiri di samping gedung bioskop sudah
demikian seringnya bersiul jika lewat di depan warung. Tapi
Kinah makin menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Suara anak menangis makin dekat dengan warung. Kinah
memandang keluar; kelihatan olehnya anak Limah yang sulung
datang menggendong adiknya.

“Jangan diajak ke sini,” Karjan membentak.
“Nangis saja di rumah, Pak,” anak itu menjawab ketakutan.
Ia menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menenangkan adiknya
yang ada dalam gendongannya.
“Ajak sana lihat gambar!” Karjan dengan kasar memandang
kepada anaknya.

2) dipijat, diurut tengkuk dan kepala.

56

Tapi gedung bioskop itu penuh sekali. Sinar lampu ber-
pantulan pada aneka merah dan biru pakaian nyonya-nyonya,
nona-nona, dan tuan-tuan yang berdesakan di sana.

Kinah mendekati anak itu. Sambil memberikan seiris ubi
goreng ia berkata perlahan,

“Sana, diajak lihat nyanyian itu saja,” tangannya menunjuk
ke tanah lapang yang penuh kursi dan lampu merah putih.

Di ujung ada panggung besar. Cemerlang oleh sinar yang
tampak jernih menguning di kegelapan batas rumah-rumah kecil
dan pohon-pohon di belakangnya.

Dengan lembut ia membujuk anak yang ada dalam gendongan.
“Lihat nganten ya, Nang!3) Jangan nangis. Itu lihat itu! Lam-
punya bagus-bagus, ‘kan? Sana!” lalu tangannya mendorong
anak yang menggendong perlahan keluar warung.
Karjan melihatkan saja dengan muka muram. Mulutnya ma-
sih menggerutu tak menentu.
“Tukar tengah rupiahan dua, Yu,”4) seorang anak kecil menyan-
dang tempat permen, kwaci, dan rokok masuk ke warung itu.
“Apa dikiranya sini ini gudang uang,” Karjan membentak.
Dia betulkan sarungnya baik-baik, dan dia akan keluar.
“Jaga warung! Aku pergi dulu!” cuma itu yang dipesankannya
kepada Kinah.
Dia tak menjawab. Hanya melirik sebentar ketika Karjan
sudah agak jauh dari warung.
Memang menjadi kesempatan bagi Karjan buat pergi malam-
malam sesuka hatinya, di saat istrinya tak ikut jaga di warung. Ki-
nah yang pendiam tak dikhawatirkan olehnya kalau-kalau meng-
adu kepada Limah. Daerah sekitarnya yang lembab oleh bau rumput
lapangan ditambah kesuraman yang mengarah kepekatan itu mem-
bikin tempat tersebut nyaman bagi napas-napas yang dipenuhi nafsu.
Warung agak lama tak ada yang memasuki. Kinah duduk di
sudut melihatkan orang-orang yang berdesakan di gedung bioskop.

3) Buyung. Panggilan kepada anak lelaki di pesisir Jawa-Utara
4) Kak, dari kata mbakyu. Panggilan kepada kakak perempuan

57

Matanya mengawasi setiap ulah anak-anak pencatut karcis di sana.
“Kopi,” kata seorang laki-laki yang masuk ke dalam warung.
Tinggi-tegap, hingga ia terpaksa membungkukkan badannya

waktu masuk. Orang itu membawa tas, seperti pedagang tampak-
nya. Ia duduk, tak melihat sebentar pun kepada Kinah. Tangan-
nya mengusap-usap leher dengan saputangannya. Lalu diam-
bilnya tahu dan cabai. Mulutnya berbunyi kepedasan.

Kinah meletakkan gelas kopi di depan laki-laki itu. Selintas
orang itu memandang kepada Kinah. Ada sesuatu dalam pan-
dangannya. Kopi yang panas itu dia minum sedikit-sedikit sam-
bil sekali-sekali matanya melihat kepada Kinah yang mengisi
air di ceret lalu meletakkan di atas api.

“Kau di sini?” tiba-tiba laki-laki itu berkata.
Tapi Kinah tak menjawab. Ia lagi sibuk dengan api di tungku.
“Kau di sini, Kinah?” sekali lagi laki-laki itu berkata.
Matanya terbelalak dari balik gelas yang sedang diminumnya.
Kinah menegakkan kepalanya. Ia mengusap keringat di dahi
dengan lengan kebayanya. Pandangnya ragu diarahkan kepada
laki-laki itu. Hanya sebentar. Dia tak berkata apa-apa, duduk
di bangku dekat api sambil mengeringkan piring-piring. Dalam
dadanya berdesakan perasaan yang memanas. Laki-laki itu tetap
memandang kepadanya. Tiba-tiba ia berdiri dan pindah di sam-
ping Kinah. Tangannya terulur hendak menjamah bahu Kinah.
“Aku sudah kawin, Kang,”5) kata Kinah sambil menghindari
tangan orang itu. Suaranya perlahan. Wajahnya tetap menunduk.
“Aku tahu,” kata laki-laki itu dan langsung saja tangannya
memegang tengkuk Kinah, mempermainkan sanggul dan mem-
belai-belai anak rambut yang tak teratur di belakang telinga.
Sejenak rasa sejuk mesra menguasai hati perempuan itu. Ha-
tinya terangsang oleh jamahan tangan laki-laki yang menyen-
tuh kulit lehernya. Dan waktu laki-laki itu hendak memeluknya,
ia mengelak agak menjauh.
“Jangan, Kang,” suaranya tetap perlahan. Kepedihan terasa

5) Kak. Panggilan kepada lelaki/suami

58

menusuk perasaannya oleh sikap yang terpaksa harus ia tunjuk-
kan kepada laki-laki itu. Pria itu tersenyum, matanya liar mene-
liti wajah Kinah.

Kinah berdiri menempatkan piring-piring di dekat gelas dan
cangkir. Ia menahan ketenangan hatinya. Sejak di desa ia tak pernah
bisa mengelakkan diri dari rayuan dan kata manis yang merampas
kesanggupannya hendak bertahan sebagai perempuan baik-baik.

Marjo nama laki-laki itu, kasar dan tak sopan sikapnya dalam
pergaulan di desanya dulu. Tapi senyum dan ketegapannya tak
bisa dilupakan oleh kebanyakan perempuan di sana. Bujukannya
yang mesra sangat nyaman bagi telinga perempuan-perempuan.
Dan Kinah satu dari mereka yang membenci sifat Marjo, tapi
yang tak pernah bisa menjauhkan diri dari rabaan tangan laki-
laki yang kaku kasar itu.

Sayup angin membawa gema nyanyian gemuruh diiringi mu-
sik dari panggung di lapangan. Nyanyi kesuburan tanah air.
Nyanyi padang dan lembah yang hijau subur oleh air dan padi.
Tapi nyanyi itu tak satu nada pun yang menelusupi hati Kinah.

Desanya Karangawen, timur Semarang, tak sesobek tanah
pun digenangi air dengan padi bertumbuhan di atasnya. Padi
dan tumbuh-tumbuhan kurus tegak di atas tanah yang kering
kuning. Angin kemarau angin hujan meniup di sana tak menentu
kefaedahan yang dibawanya. Hujan datang terlalu banyak, angin
datang tanpa reda. Kemudian panas berurutan bulan, sumur
kering, tinggal batu-batu yang bergolekan merekah di tengah-
tengah pasir sungai. Oleh kekeringan daerah itulah maka laki-
laki di sana kebanyakan menjadi penjahat, maling, dan rampok.
Lingkungan desa ditumbuhi perbuatan kejam, membunuh,
menganiaya. Tanah di situ tetap keras dengan sebidang di sana,
sebidang di sini ditumbuhi jagung atau ubi kayu yang merunduk-
runduk kena angin kering. Sejak zaman dulu, sejak zaman
Belanda, Karangawen melahirkan rampok dan kejahatan-keja-
hatan yang disebarkan ke daerah-daerah sekitarnya. Dan Marjo
yang tegap, yang manis senyumnya itu pun terlibat suatu keja-
hatan pula, sebagian kekejaman yang mencuat dari Karangawen

59

ke daerah Mranggen. Ia ditangkap ketika sedang berusaha me-
rampas harta orang di jalan antara Karangawen-Semarang.

“Kapan kau lepas, Kang?” Kinah mencoba bicara.
“Sudah lama,” orang laki-laki itu mulai merokok Kansas, me-
wah benar bagi orang seperti dia. Tapi Marjo memang kelihatan
kaya, arlojinya besar, bajunya bagus, dan sarungnya tenunan halus.
“Sudah pulang ke desa?” Kinah masih membelakangi laki-
laki itu.
“Sudah.”
Kinah kembali duduk di tempatnya semula. Ia berpikir tentu
Marjo tahu dari orang-orang sedesanya bahwa ia sudah kawin.
“Tapi akan menetap di sini sekarang,” lalu ia memandang
kepada Kinah semakin dekat. “Kau tak mau nunggu aku dulu!”
Kinah tetap memandang ke luar. Bibirnya yang biru hitam
tak mengucapkan apa-apa. Cuma hatinya bergetar oleh perka-
taan Marjo itu.
“Di mana suamimu?” dan ia menatap dada Kinah yang turun
naik oleh perasaan yang ditekannya.
“Ke Cepiring.”
“Dagang?”
“Cari kerja di sana.”
Pabrik gula di Cepiring tiga bulan sekali giling tebu. Cepiring
sebelah barat kota Semarang. Pada waktu-waktu seperti itu me-
ngalirlah orang-orang yang membutuhkan kerja, dari desa-desa
sekitar situ, juga turun dari Kendal atau Semarang. Kota besar
tak cukup bisa menjamin penghuninya dengan kerja dan tum-
pangan. Di mana-mana terserak gerombolan manusia yang tak
punya kerja, berbaringan atau duduk-duduk iseng di bawah
langit di tempat yang lapang di kota.
“Kau ditinggal sendiri?”
“Dengan Yu Limah.”
“Mestinya cari kerja di sini saja. Jangan pisah.”
Kini Kinah tersenyum. Wajahnya yang kaku menjadi manis
olehnya. Sinar lampu bioskop yang masuk ke warung tepat jatuh
di wajahnya. Matanya yang selalu menyinarkan perasaan tersipu
60

itu cerlang bercahaya. Marjo tak sabar memegang tangan Kinah.
Ditekan-tekannya penuh nafsu. Kinah hendak menarik tangan-
nya, tapi erat dipegang oleh Marjo.

“Kau juga berbuat begini dengan laki-laki lain yang datang
ke sini. Jangan pura-pura malu kepadaku,” lalu didekatkannya
mulutnya ke telinga Kinah. Suara bisikan perlahan, tapi suara
itu turun ke hati Kinah bagai tamparan yang memerahkan mata-
nya. Ia cepat berdiri melepaskan pegangan tangan yang kasar
itu. Terengah-engah napasnya ia berkata,

“Kau masih tetap bajingan, Kang. Tidak! Aku bukan perem-
puan yang seperti kausangka. Jangan kau ...”

Tapi Kinah tak meneruskan perkataannya, karena dua orang
laki-laki datang ke warung itu.

Kinah melayani mereka dengan kekakuan seperti biasanya.
Sebentar-sebentar matanya memandang keluar. Dalam hati ia
mengharapkan kedatangan Karjan, yang sebelum itu tak pernah
diharapkannya. Ia tak memandang selintas pun kepada Marjo.
Ia duduk tepat di depan kedua laki-laki yang sedang minum,
cuma berantarakan meja berisi stoples dan piring-piring makan-
an. Marjo memandanginya terus. Sekali-sekali diliriknya kedua
laki-laki itu. Seakan terlintas rasa cemburunya.

Kinah berusaha menenangkan luapan perasaannya. Berde-
sakan macam-macam pikiran yang membingunginya. Serasa
tampak di matanya malam perampasan keperawanannya oleh
laki-laki yang kini hadir di warung itu.

Di desanya terlalu banyak perempuan. Dan karena terlalu
banyak itu ia jadi takut tidak laku, tak bisa menjadi seorang
istri, tak punya anak yang bisa diberi kesuburan dadanya. Oleh
ketakutan itulah maka dulu ia merasa megah berada dalam pe-
lukan Marjo, yang berkata akan menikahinya. Dia lupa segala-
nya. Cuma rabaan tangan dan napas panas laki-laki yang meng-
hangati tubuhnya yang dia ingat.

Kini dia mau kuat. Terasa tertikam oleh kata Marjo yang meng-
anggap dia sebagai perempuan-perempuan warung yang menjajakan
kehormatan hanya untuk beberapa rupiah. Ia mau menunjukkan

61

ketinggian martabatnya sebagai perempuan baik-baik kepada Marjo.
“Sekarang pergilah,” hanya itu yang keluar dari mulutnya

ketika dua tamunya sudah keluar dari sana.
Kinah tetap tak berani menentang mata Marjo yang enak-

enak saja duduk di tempatnya semula.
Sejenak keduanya diam.
“Aku sudah bersuami, Kang,” Kinah kaku berkata.
Matanya memandang keluar. “Dan aku bahagia dengan su-

amiku.”
“Kenapa kau dijadikan perempuan warung?”
Tertegak kepala Kinah mendengar ini. Dan sekali itu dia

menentang mata Marjo dengan pandangan tajam.
“Untuk sekedar cari makan banyak jalannya. Kau jangan

mengira semua perempuan di warung itu jalang,” kata-katanya
dia tekankan.

Sebetulnya ia hendak mengatakan kepada Marjo bahwa ini
bukan warungnya, bahwa ia hanya menunggui untuk kakaknya.
Tapi perasaan mau menunjukkan kekuatannya membikin jawab-
an itu meluncur saja dari mulutnya.

“Cara mencari makan halal, tak mengganggu orang lain,”
dan mau dikatakannya bahwa ia bukan maling bukan rampok
seperti Marjo. Tapi perasaannya sebagai perempuan tak sampai
hati melukai hati laki-laki itu.

Marjo berdiri. Tangannya meletakkan uang puluhan di meja.
Tersenyum ia memandang kepada Kinah dengan kejap mata
yang kurang ajar.

“Besok aku kemari lagi,” lalu ia keluar.
Sayup bagian musik dan nyanyi terakhir dari Jaja Wijaya di
panggung terbuka itu bergetar di udara malam. Meninggi dan
lepas nadanya. Satu sorakan kejayaan bagi kehidupan bangsa
yang pernah berjuang untuk merdeka.
Kinah termangu oleh kepergian laki-laki itu.

Sekayu, 1953
62

Penemuan

Sepi saja sore ini. Kawan-kawanku tak ada yang datang me-
nengokku. Mereka sudah mengatakan kemarin bahwa besok ada
ulangan1) dua mata pelajaran. Terlalu banyak jumlah itu bagi kami
yang tak pernah belajar kalau tidak akan ulangan. Sebab itulah
mereka tak datang sore ini. Sangat sepi rasanya. Dan kesepian
ini makin menunjam rasa sakitku pula. Kepalaku terasa besar
karena kain pembalut yang tebal, sedangkan kakiku yang kanan
digips kaku, sehingga segala gerakan hanya akan menambah rasa
batas lingkunganku ini. Aku paling benci kepada rasa sepi.
Kemarin kawan-kawanku ramai cerita, bicara kepadaku. Tentang
sekolah kami, tentang guru-guru kami yang suka menyom-
bongkan dirinya, dan juga tentang kecelakaan yang menimpaku
beberapa hari lalu.

Aku sendiri tak ingat apa-apa waktu itu. Aku hanya tahu
bahwa waktu itu pukul satu siang. Aku bersama kawan-kawanku
keluar gedung sekolah, dan di depan gedung itulah rupanya
kecelakaan terjadi. Aku dan becak dan entah kendaraan apa
lagi lainnya yang terlanggar prahoto,2) juga beberapa teman yang
hanya luka ringan. Mereka katakan kemarin, yang mati dua
orang. Jumlah yang lebih dari satu. Begitu mudah orang mem-

1) tes/THB (Tes Hasil Belajar)
2) truk

63

bunuh sesamanya, pikiranku terus meneliti bicara kawanku ke-
marin. Kupandang kakiku yang digantung agak tinggi dari letak
tubuhku. Jangan- jangan aku tak akan dapat berjalan lagi, pikiran
ini mengganggu hatiku. Akan seperti Mirakah aku? Seperti Mira-
nya Utuy Sontani yang hanya tinggal berkaki satu?

Aku ingat, di sekolah kami ada warung yang ditunggui oleh
janda cantik dengan anaknya yang mungil. Janda itu juga tinggal
satu kakinya. Aku menyebut dia Mira. Kemudian kawan-kawan-
ku ikut memakai sebutan ini. Lalu kami biasa berlaku dan ber-
bicara dengan lagak si Awal dari buku Utuy itu. Ah, alangkah
enaknya mengingat itu semua, waktu aku bisa bergerak semauku
dan berkumpul dengan kawan-kawanku.

Kucoba menggerakkan kakiku yang sakit, tapi tidak dapat.
Akan pincangkah jalanku kelak? Tidak! Aku tak mau kehilangan
kaki. Dan tiba-tiba saja aku pikirkan, alangkah banyaknya biaya
yang habis selama aku dirawat di rumah sakit ini. Aku ingat
bagaimana Ibu selalu menjumpai kesukaran dalam membagi-
bagi kebutuhan tiap bulannya. Sedangkan untuk bulan ini, aku
sudah menerima kiriman dua puluh ribu rupiah lebih dari biasa-
nya untuk beli buku Jerman. Alangkah banyak aku mendapat
rugi karena kecelakaan ini. Aku tak bisa sekolah, tak dapat ikut
meneruskan latihan-latihan kesigapan dalam kepanduan dan
perkumpulan lain. Segala kesalahan kutimpakan kepada sopir
prahoto itu kini. Aku tidak bersalah. Aku selamanya berhati-hati
jika bersepeda.

“Ning.”3)
Aku terkejut dan menoleh. Pandangku tertumbuk pada mata
orang yang berdiri agak arah kakiku. Kaku dan redup mata itu.
Seredup langit di luar jendela.
“Saya datang hendak minta maaf,” suaranya rendah ragu-
ragu, berbahasa Jawa Kromo Tengahan.
Aku tetap memandang kepadanya. Tapi aku tidak mengerti
kenapa ia hendak minta maaf padaku. Aku dan dia berpandang-

3) non, neng. Panggilan kepada anak perempuan di pesisir Jawa Utara

64

pandangan. Lalu tiba-tiba saja pikiranku mengatakan bahwa
inilah sopir itu. Benarkah? Tapi aku tak mengharapkan bentuk
macam dia ini untuk menjadi pembunuh. Aku perhatikan
wajahnya. Pucat dan tampak tulang-tulangnya yang menonjol
tegang.

“Saya datang minta maaf, Ning.”
Dia mendekati aku. Suaranya makin rendah, bibirnya ge-
metar gugup. Jadi, inilah sopir itu. Sosok yang kuhadapi mengan-
dung pengucapan kegagalan dan kekecewaan. Inikah pembunuh
itu? Keragu-raguan yang bagiku sangat beralasan ini membikin
aku tetap membungkam. Hatiku berteriak-teriak sendiri, mem-
bantah atau menerimanya. Meskipun dia tak sengaja merampas
nyawa orang yang masih suka hidup. Dan berapa banyaknya
manusia seperti dia. Apakah manusia-manusia ini akan habis
karena saling berbunuhan, dikuasai, dan dirajai oleh kelalaiannya
masing-masing!
Aku masih tetap diam. Kupandang terus dia, kurus dan
pucat. Akhirnya, dia mengeluh dalam, mengeluh seperti kepada
dirinya sendiri.
“Sampeyan4) harus tahu perasaan saya, Ning. Anak sekolah
mesti lebih bisa memahami perasaan orang seperti saya.”
“Saya hanya tahu dua orang mati dan saya sekarang sakit di
sini,” jawabku asal saja.
“Saya menyesal.”
Dia memandang keluar, ke halaman rumah sakit dengan pan-
dangan yang kosong.
“Saya tak dapat berbuat lain daripada minta maaf,” suaranya
mengambang. “Kepada orang yang sudah mati saya tak mungkin
minta maaf. Saya hanya minta maaf kepada Ning yang masih
hidup.”
“Bagiku lebih baik kalau juga mati. Sebab Sampeyan tak
usah minta maaf sama sekali.”
“Jangan berkata begitu, Ning,” wajahnya ketakutan. Lagi pan-

4) Kamu, Anda

65

dangnya tertumbuk pada mataku. Dia mengelak, memandang
ke luar.

Aku merasa telah menyakitkan, menambah deritanya karena
penyesalan itu. Aku ingin tetap bersikap tak peduli terhadapnya,
tapi aku tak bisa.

Aku tak boleh menahan-nahan perasaanku. Kepalaku makin
sakit rasanya. Keharuan yang selalu menang padaku tak bisa
untuk tetap tidak peduli kepadanya. Dia sudah cukup menderita
karena penyesalannya.

Aku mencoba tersenyum kepadanya. Dan aku tak tahu bagai-
mana bentuk senyumku itu. Terasa kepalaku mendenyut.

“Sampeyan bukan orang sini?” aku mengalih pembicaraan.
Dan aku bertanya begitu karena kudengar logat bicaranya bukan
logat daerahku.

“Dari Bumiayu,” dia menerima senyumku dengan ragu-ragu.
“Jauh sekali.”
“Saya harus cari hidup di sini.”
“Tak ada kehidupan di sana?”
“Yang ada hanya ketakutan dan kebingungan. Saya harus
pergi dari sana, Ning. Saya terpaksa meninggalkan desa tempat
kelahiran,” matanya merenung.
“Meninggalkan sawah?”
“Kami tak sempat pergi ke sawah atau ladang. Kami terjepit
perang di sana.”
“Perang apa?”
“Kata TNI kami harus merebut kemerdekaan kami lagi,”
dia mulai berani.
Selintas teringat olehku, daerah Bumiayu dan sekitarnya se-
lalu kacau dengan gerombolan-gerombolan susupan Darul Is-
lam. Selama ini, aku hanya mendengar keadaan orang-orang
itu. Mereka datang ke kota tiada tujuan dan pegangan yang
tentu. Kini aku jumpai seorang dari mereka, seorang dari jumlah
mereka yang belum juga merasakan apa dan bagaimana mem-
punyai negara yang merdeka.
“Saya telah berbuat banyak dosa tanpa sengaja,” katanya
66

lagi. “Kami harus keluar dari desa. Kemungkinan hidup kami
cuma di kota saja. Meski masuk kota, istri dan dua anak saya
tinggalkan di pinggiran.”

“Kenapa tak dibawa sekalian ke kota?” aku menyela.
“Tak ada tempat tinggal, Ning.”
“Dan Sampeyan?”
“Saya mendapat pekerjaan di bengkel,” dia mulai berani me-
nentang mataku. “Saya belajar memegang setir dan memper-
gunakan waktu sebaik-baiknya. Sebulan sekali menengok istri
dan anak.”
“Terlalu lama bagi anak-anak.”
Tapi saya belajar rajin sampai bisa menjadi sopir dan bisa
mendapat uang lebih.”
Kembali aku ingat bahwa dialah yang membunuh dua or-
ang dan yang menyebabkan aku terbaring di sini. Aku tak bisa
menahan penyesalanku terhadapnya.
“Menjadi sopir hanya untuk membunuh.”
“Tidak, Ning. Saya sungguh-sungguh tak mau menjadi pem-
bunuh. Saya pergi dari desa juga karena tak hendak jadi pem-
bunuh, tak mau menggabung kepada orang-orang musuh TNI,”
dia mulai gelisah lagi.
Matanya tampak merah, memandang kepadaku penuh ke-
sungguhan.
Aku terdiam oleh tangkisannya itu. Dia meneruskan bicara
dan aku mendengarkan.
“Malam itu ada pertempuran yang sangat maju ke daerah
batas kota,” suaranya lemah seakan bicara hanya untuk dide-
ngarkan sendiri. “Seperti biasa pada pertempuran-pertempuran
di desa, mereka selalu membakari rumah-rumah. Dan kali itu
rupanya mereka tak puas kalau tidak membakar rumah-rumah
penduduk, termasuk rumah yang didiami istri dan dua anak
saya. Tengah malam selagi orang-orang nyenyak tidur, api sudah
mengelilingi.”
Dia berhenti, matanya memandang kosong, kemudian ber-
bisik,

67

“Anak yang masih kecil-kecil itu tak lagi tertolong. Dan istri
saya ...”

“Bagaimana dia?” aku tak sabar menunggu.
Dia diam. Bibirnya gemetar. Matanya makin merah dipenuhi
air. Tetap tak menoleh kepadaku dia meneruskan bicaranya.
“Dia kena tembak waktu melarikan diri dari api. Dia mati
di rumah sakit beberapa hari kemudian.”
Pikiranku tertutup sama sekali oleh ceritanya itu. Aku me-
mandang kepadanya.
“Pagi itu saya harus berangkat ke kota ini dengan muatan.
Saya belum bisa melepaskan diri dari kejadian dan kehilangan
yang baru berlalu. Dan Sampeyan tahu akibatnya.”
Dia diam. Aku tetap memperhatikannya. Langit di luar tetap
muram. Angin dingin sudah berbau hujan.
“Telah terlalu banyak dosa yang saya buat,” tiba-tiba dia
berkata. “Saya tak bisa melepaskan diri dari kutukan-kutukan
kepada diri sendiri.”
“Tapi kenapa melarikan diri? Sampeyan harus menyerahkan
diri. Kalau sudah mengaku berdosa, cuma penjara tempat ber-
teduh.”
Aku tahu dia lari tak mau ditangkap polisi sewaktu kece-
lakaan itu. Kawan-kawanku menceritakan hal ini kepadaku ke-
marin.
“Bisakah penjara menghilangkan dosa itu? Tidak! Di sana
hanya akan menambah kesakitan. Cuma saya yang bisa meng-
adili dan melenyapkan dosa itu.”
“Tapi kita punya aturan untuk memperbaiki kesalahan or-
ang.”
“Tidak! Kesalahan tidak bisa diperbaiki di penjara,” matanya
tajam memandang kepadaku.
Aku terkejut oleh ini. Tiba-tiba aku merasa ngeri memandang
kepadanya.
“Juga kesalahan tidak dapat diperbaiki dengan ucapan maaf,”
lagi dia terus bicara. “Saya tak bisa memaafkan diri lagi.
Sampeyan tak perlu memaafkan juga. Tidak, tidak perlu me-
68

mang. Saya pun tak menyalahkan siapa-siapa. Tak menyalahkan
orang-orang yang membakar anak-anak, yang menembak istri.
Saya hanya kasihan mereka. Tapi jangan dikasihani diri saya
karena saya pun tak kasihan kepada diri ini.”

“Sampeyan harus menyerah kepada polisi,” aku menginsaf-
kannya.

“Tak usah menyerah kepada polisi, tak usah menyerah
kepada siapa pun. Saya sudah terlampau lama menyerah kepada
keadaan.”

“Tapi Sampeyan pembunuh,” suaraku keras.
Dia yang sudah berdiri dan berjalan ke pintu, tertegun. Aku
teruskan,
“Pembunuh! Perampas nyawa orang lain yang masih suka
hidup. Harus dihukum.”
Dia memandangku dengan tajam. Matanya penuh nyala
kebencian. Sekali lagi aku merasa ngeri menentangnya. Kepalaku
makin pening. Dan kurasa pandangku berputar-putar. Aku pe-
jamkan mataku.
Kudengar suara pintu.

69

Warung Bu Sally

Ketika Bu Bidan datang lalu masuk ke ruang pemeriksaan,
perawat pembantu sedang berhadapan dengan seorang pasien.

“Betul Anda sudah pernah kemari?” tanya perawat itu sambil
mencari kartu di kotak yang padat berisi deretan kertas tebal.

“Betul, Bu!”
“Yang terakhir kapan?”
Perempuan di bangku tampak berpikir.
“Sejak anak saya yang paling kecil itu!” berhenti sebentar,
lalu menambahkan, “Sekarang sudah lima tahun umurnya.”
“Anak lahir, sesudah itu masih periksa lagi apa tidak?”
“Masih. Lalu kami pulang ke desa. Dua tahun atau kurang
sedikit.”
Bu Bidan berpaling dari sudut ruangan, selesai memeriksa
persediaan obat sesuai daftar catatan. Katanya mencampuri per-
cakapan,
“Tidak ketemu kartunya?”
“Ya, Bu.”
“Dibuatkan yang baru saja daripada mencari terlalu lama.
Itu di luar masih banyak yang menunggu. Kartu yang baru disi-
sihkan, setelah praktek nanti dicari yang lama. Kalau ketemu,
diklip jadi satu.”
Pembantu perawat menyiapkan lembaran kertas tebal, siap
mencatat.
70

“Mudah-mudahan sebelum jam satu kita sudah selesai. Saya
masih ada dinas lain di Karangayu.”

“Oya, ya, Bu. Pembukaan Pusat Kesehatan di sana!” suara
perawat itu menunjukkan baru ingat peristiwa tersebut. “Pe-
resmiannya ‘kan pagi ini jam sepuluh, Bu! Tidak menghadirinya?”

“Ya, tidak bisa! Meskipun badan gemuk seperti ini, tetap
tidak bisa dibagi, setengah di sana setengah di sini. Padahal
yang benar-benar penting ‘kan pemeriksaan di sini.”

“Tapi di sana ada pesta, Bu.”
“Itulah yang memalukan! Pusat Kesehatan bukan untuk
pesta! Saya datang nanti saja kalau sudah selesai rame-ramenya.
Saya ingin melihat perlengkapannya.”
Percakapan itu lancar, mengiringi gerak dan sentuhan Bidan
yang pasti dan ahli memeriksa payudara pasien, pernafasan,
mata, tenggorokan. Kemudian mencuci tangan, mengenakan
pelindung dari karet.
“Anaknya berapa, Bu?”
“Lima.”
“Wah, sudah banyak! Mengikuti Ka-Be atau tidak?”
Pasien itu tidak segera menyahut. Lalu berkata sambil mem-
buang pandang.
“Suami saya tidak mau.”
“Euh!” Bidan mengeluarkan bunyi sesalan. “Ya, dia sih enak
saja! Ibu yang capek!”
Ditanya umur, rumah, nama anak-anaknya. Tiba-tiba Bidan
itu memandangi wajah pasiennya lagi, seakan-akan mencari satu
pengenalan. Ya, benar! Pasien ini sudah pernah diperiksanya.
Entah berapa kali. Barangkali setiap kali hamil!
“Nama Anda siapa tadi?” tanya Bidan.
“Bu Sally.”
“Nama kepanjangannya!” ulang Bidan.
Perempuan itu sekali lagi menghindari pandang Bu Bidan,
menjawab lirih,
“Saliyem.”
“Oooo Alllaaah!” hanya itu yang diucapkan Bu Bidan. “Dicari

71

lagi kartunya! Namanya Saliyem! Siapa nama suaminya?”
Dan sebelum pasien itu memberi jawaban, pembantu perawat

menambahkan,
“Nama lengkap! Nama aslinya!”
Bu Bidan merasa perlu menjelaskan lebih terang,
“Nama desa, nama yang dibawa dari desa!”
“Samijo,” suara pasien itu tetap perlahan.
“Sekarang siapa namanya? Nama kota?” Bu Bidan bertanya.
Tanpa mengenali nada ejekan atau sindiran dari Bu Bidan,

perempuan yang terbaring di tempat pemeriksaan menyahut,
“Pak Sammi.”
“Mengapa mulutnya begitu rapat? Apa Ibu tahu caranya

menulis? Dengan huruf em dua atau bagaimana?” Bidan itu
mendesak lagi.

“Saya tidak bisa menulis, Bu. Tapi katanya memang pakai
huruf em dua.”

Bidan dan pembantu perawat saling memandang, masing-
masing mengulum senyum.

“Kalau begitu, Salli itu el-nya juga dua?” tanya perawat.
“Ya, Bu. Katanya begitu.”
“Katanya, katanya, siapa to itu yang mengatakan begitu?”
“Ya, anak-anak sekolah, orang-orang pandai yang datang ke
warung saya, Bu”
Perawat mendekatkan kartu kunjungan, memperlihatkannya
kepada pasien.
“Apa betul begini? Nyonya Salli Sammi?”
Perempuan itu memandangi sejenak tulisan di kertas. Lalu
berkata,
“Huruf yang paling belakang ada kakinya, Bu. Panjang
sampai ke bawah.”
Bidan mendekat, turut melihat ke kartu.
“Ooooh, maksudnya itu i diganti dengan i-grek, jadi ye, ejaan
bahasa Inggris! Waaaah!”
Sambil melepaskan sarung tangan karet, membenahinya,
meneruskan katanya,
72

“Di samping, harus ditulis nama aslinya, Jeng! Kelak sukar
lagi menemukannya!”

“Ya, Bu!”
*

Bu Sally keluar dari halaman Pusat Kesehatan dengan pera-
saan lega. Dua sebabnya. Yang pertama-tama ialah karena dia
diberi tahu bahwa tidak mengandung. Mulai dari waktu itu dia
harus minum pil pencegah kehamilan. Yang tidak menyetujui
Ka-Be sesudah mempunyai anak lima adalah penentang pem-
bangunan. Karena politik negara menggalakkan kelahiran sese-
dikit mungkin. Kalau tidak menyetujui Ka-Be berarti membe-
rontak terhadap pemerintah.

Begitu kata Bu Bidan tadi. Kelegaan kedua ialah dia terlepas
dari keterangan-keterangan yang harus diberikan mengapa dia
berganti nama. Samijo mengambilnya kembali dari desa karena
sudah mempunyai tempat tinggal. Selama setahun suami itu
bekerja sebagai buruh harian, mengangkut pasir, mengaduk se-
men dan kerikil. Lalu berubah menjadi tukang batu, turut mendiri-
kan dinding, menaikkan genting. Akhirnya, bangunan sekolah
jadi, gubuk sementara yang melindungi para pekerja terlalu sayang
untuk dibongkar. Atapnya dari seng. Meskipun panas, tetapi rapat
dan tahan tertimpa hujan. Dindingnya dari papan-papan bekas.
Tempatnya jauh dari pinggir jalan, sekaligus tidak masuk ke dalam
karas1) sekolah. Betul-betul mendapat luasan yang lumayan.
Samijo berkata kepada kepala regu kerjanya apakah boleh tinggal
di barak itu. Mandornya mengatakan sesuka hati Samijo. Katanya
lagi sebagai tambahan bahwa jalan di sana sudah cukup lebar.
Perbaikan-perbaikan tidak akan menyentuh pondok tersebut.
Sewaktu pembangunan berlangsung, mereka bisa bersepuluh tidur
di dalamnya. Dibagi menjadi dua ruang karena yang di belakang
dipakai sebagai dapur. Ada gentong dan kompor kepunyaan
mandor. Itu bisa dibeli Samijo dengan harga murah.

1) halaman

73

Ketika mereka pindah, Samijo hanya mengganti pintu.
Gemboknya juga baru. Kemudian, sedikit-sedikit, bagian sam-
ping berubah menjadi beranda karena papan dindingnya dipo-
tong setengah badan. Akhirnya, Saliyem membuka warung pecel,
kolak, dan bubur. Ternyata laris, melayani anak-anak sekolah
di belakang pondok mereka.

Dengan alasan karena Samijo turut menggali sumur sekolah,
keperluan air bagi rumah tangga diteruskan mengambil dari
sana. Penjaga tidak bisa berbuat lain daripada membiarkannya.
Dan mapanlah keluarga itu dengan syarat-syarat kehidupan rak-
yat yang cukup sandang dan pangan asal tidak telanjang. Lima
anak kelihatan sehat meskipun yang kecil-kecil tampak ingusan.
Tetapi mereka selalu demikian. Selesma dianggap bukan penya-
kit lagi. Dia datang dan pergi bagaikan kenalan lama yang berhak
mengetuk pintu sewaktu-waktu. Dengan istri yang menjual
makanan, upah harian Samijo lebih bisa disisihkan. Bersama
kakaknya, dia mengharap akan bisa mengurus surat-surat tanah
yang baru milik keluarga mereka.

Seperti petani-petani lain di Sukorejo, orang tua Samijo men-
dapat bagian tanah bekas perkebunan kina untuk digarap. Masa
kontraknya habis, pemiliknya berkebangsaan Belanda mengem-
balikan kepada pemerintah. Tanah basah dan kering itu berpuluh
hektar luasnya. Orang tua Samijo semula mendapat setengah
hektar. Karena kehematan bapaknya, sedikit demi sedikit dapat
membeli bagian-bagian petani lain yang karena pergantian za-
man lebih suka hidup di pinggiran kota daripada di desa.

Purwosari, Bringinsari, Ngadiwarno adalah desa penghasil
tembakau. Tanaman yang oleh alam dijadikan alat pembakar
rongga dada manusia ini gampang-gampang sukar pemeliha-
raannya. Kecamatan Sukorejo, suatu ketika terlalu banyak me-
nerima hujan. Penderitaan petani penanam tembakau tidak
terlukiskan karena kebanyakan mereka hanya menggantungkan
diri dari hasil pemetikan daunnya. Kerugian yang tidak dira-
malkan itu membawa mereka menunggak kredit Bimas. Dan
untuk kesekian kalinya alasan eksodus ke kota bertambah.
74

Samijo termasuk golongan orang yang tidak sabar, ingin segera
hidup menuruti zaman bersama kemewahan dan perubahannya.
Tanah keluarga biarlah kakaknya yang mengerjakan, dibantu
oleh adik-adik yang berjumlah tujuh orang.

Namun, kesabaran yang bersemayam di hati kakak itu pun
terukur dengan keterbatasan. Panggilan hidup ingin menyamai
sekeliling tak dapat dihindarkan. Listrik masuk desa disertai
segala macam alat penggunaannya. Dimulai dari datangnya
kotak televisi, sampai kali terakhir Samijo pulang mendengar
orang rumah mengeluh masih menimba dengan tenaga. Tidak-
kah di rumah Wakijo sumurnya sudah dilengkapi dengan pompa
listrik? Semua mengarah ke kebutuhan uang. Tanah warisan
sudah diiris berapa kali agar sebagian dijual, sebagian lagi dise-
wakan. Mau tidak mau, mereka terbujuk dan terpikat janji sewa
dengan harga lebih tiggi dari harga umum. Kakaknya malahan
berhasil mendapatkan bayaran tiga kali lipat, yang berarti seratus
lima puluh ribu satu hektar selama satu musim, yaitu enam
bulan kira-kira. Tidak perlu dipertanyakan siapa gerangan yang
berani mengeluarkan jumlah sebesar itu! Semua orang menge-
tahui bahwa ekonomi kuat, kata bahasa kota, dipegang oleh
golongan yang bukan pribumi.

Samijo setuju-setuju saja, asal sebagian tanah tetap diperta-
hankan buat hari tua. Karena Samijo yang menghendaki hidup
di kota masih mempunyai rasa nostalgia kedesaan. Dia juga
dibayangi oleh keinginan menghabiskan umur yang tersisa untuk
tenang-tenang di tanah peninggalan orang tua.

Saliyem membuntuti semua kemauan suami. Dia merasa
beruntung sekali dipersunting oleh Samijo. Bapaknya sendiri
tidak kuasa menahan tanah yang menjadi bagiannya. Air dari
langit yang membusukkan tanaman tembakau membikin laki-
laki itu dibebani utang yang sampai sekarang masih belum ter-
lunaskan. Kini dia menjadi kuli di tanah yang telah dijualnya.
Desa Peron merupakan contoh malapetaka yang tidak akan ber-
henti mengganas menelan jenis manusia yang dinamakan petani.
Tanah garapan yang dibagikan dahulu sudah banyak yang

75

diperjualbelikan kepada pengusaha bersama surat-suratnya.
Saliyem mendengar suaminya menyebut kata sertifikat. Dia ter-
ingat kebodohan bapaknya karena ladang dan tegalan tempat
bermainnya dulu sekarang sudah dibatasi dengan pagar-pagar.
Salah satu, kata Samijo, tanah yang luasnya lebih dari dua puluh
hektar, dibeli sedikit demi sedikit oleh orang bermata sipit
Gunawan. Orang yang tinggal di kota. Tanahnya menjadi perke-
bunan dan dikerjakan oleh bekas petani pemilik atau penggarap.
Di Ngargosari sama halnya. Bedanya terletak pada warna kulit
si empunya perkebunan yang nyata senada dengan buruh-buruh
di sana. Keturunan asing atau pribumi, orang kota selalu lebih
kaya dan lebih pandai.

Inilah kesimpulan Saliyem. Dan ini diperkuat pengalaman
dari hari ke hari selama dia menjadi bagian dari warganya. Dia
merasa bahwa kepalanya yang sempit pun berubah. Seakan-
akan ada ruangan tambahan yang mampu meneguk pengeta-
huan-pengetahuan yang dahulu sama sekali tidak terjangkau
oleh pikirannya. Apalagi waktu-waktu terakhir, dimulai ketika
dia membuka warung.

Suatu siang, seorang pembeli duduk di bangku, di arah paling
dekat dengan Saliyem. Yang menarik baginya, orang itu berkaca-
mata hitam mengkilat. Ketika melayaninya, Saliyem terkejut me-
lihat bayangan bergerak dan menuruti gerakan dan ulahnya sendiri.
Setelah memberanikan menatap berkali-kali kedua jendela penghias
muka itu, barulah dia menyadari bahwa benda itu bisa buat berkaca.
Sambil makan nasi pecel, orang itu membaca atau melihati buku
besar yang diambil dari tas besi yang bagus. Tas ini tetap berada di
pangkuan.

Padahal waktu itu sepi. Anak-anak sekolah belum keluar.
Pembeli lain tidak ada. Saliyem memanfaatkan kelengangan ter-
sebut untuk menyiapkan piring dan sendoknya, membersihkan
lembaran-lembaran daun dengan kain lap. Dalam kesibukan itu
dia tidak melepaskan tamunya dari lirikannya. Seperti orang-
orang kota lain, lelaki itu berpakaian rapi. Bekas lipatan menanda-
kan bahwa dia tidak naik kendaraan umum. Saliyem mengetahui
76

hal itu dari guru sekolah di belakang warung. Katanya, pengajar
itu lebih suka jalan kaki di waktu pagi. Selain udara belum panas
sekali, menghemat, juga disebabkan karena pakaian tidak lusuh
berdesakan dengan orang banyak di dalam bis. Memalukan kalau
berhadapan dengan murid-murid menjelang dewasa dalam
pakaian yang kurang rapi. Itu juga mengurangi wibawa, kata guru
itu.

“Warung ini belum punya nama, Yu?”2) tiba-tiba pembeli
makanan di depan Saliyem bersuara.

“Belum,” biasa saja Saliyem menjawab.
“Harus diberi nama! Sayang kalau tidak, karena pecelnya
enak.”
Pujian itu bukan yang pertama kalinya bagi Saliyem. Dia
memutuskan menjual makanan itu karena suaminya mengata-
kan bahwa dia pandai membikin sambel pecel. Mertua di desa
selalu menyerahkan kepadanya pula jika acara makan mereka
memerlukan ramuan sambal kacang.
“Mahal pasang nama,” kata Saliyem, “dan lagi apa to nama-
nya! Kalau orang tahu makanannya enak, itu sudah cukup.”
“Lho, penting punya nama! Kalau saya cerita nanti kepada
kawan saya bahwa saya makan pecel enak lalu dia bertanya,
makannya di mana, ‘kan saya tidak bisa memberi keterangan
jelas. Sedangkan kalau warung Anda punya nama, kawan saya
pasti mudah menemukannya. Berarti, karena tidak ada nama,
Yu kehilangan pembeli satu akhirnya.”
Saliyem memandangi tamunya sambil mengusap daun pi-
sang lembar demi lembar. Alangkah pintar orang ini, pikirnya.
“Memesan tulisan di papan itu mahal!” akhirnya Saliyem
teringat lagi kepraktisannya dalam keuangan.
Harga papan, ongkos pengecatan, tulisan. Ah, sepuluh ribu
sendiri habis ke situ! Tentulah suaminya tidak akan setuju.
Jumlah itu besar, lebih baik ditambahkan ke tabungan guna
mengurus sertifikat baru tanah yang masih mereka miliki. Demi-

1) kak. Singkatan dari mbakyu, berarti kakak perempuan

77

kian sukar, berbelit, dan mahal untuk mendapatkan surat-surat
tersebut, kata Samijo. Dan katanya lagi, semakin lama akan
menjadi semakin mahal. Pegawai di kantor-kantor pemerintah
akan minta uang jasa lebih besar lagi. Jadi, pengeluaran yang
bukan untuk makan, pakaian Lebaran, dan kesehatan harus
dihindari.

“Bisa diatur, itu bisa diatur,” kata lelaki itu.
“Apanya yang bisa diatur?” hatinya berkata seorang diri.
Saliyem tidak mengerti, diam saja. Memang macam-macam
bahasa orang kota. Tidak hentinya dia belajar setiap hari!
“Saya bikinkan nanti!”
Saliyem menengok ke arah tamunya. Apa dia tidak salah
dengar? Orang itu sudah selesai makan, mulutnya bergerak-
gerak. Tonjolan lidah kelihatan ke kiri, ke kanan. Sebentar bibir-
nya menggelembung, meruncing seperti pantat ayam. Dia sibuk
mencari sisa-sisa yang terselempit di segala penjuru. Suara desis-
desis tidak ketinggalan untuk mengeluarkan butiran kacang yang
ditumbuk sebagai sambal dari sela gigi di sana-sini.
Tiba-tiba orang itu berdiri. Tasnya ditinggal. Dia berjalan
mundur, menjauh ke depan pondok. Kembali ke samping di
mana orang bisa melihat bahwa di sana ada sesuatu yang dijual.
“Betul seperti yang saya kira. Tempat ini bagus untuk papan
reklame.”
“Apa itu?” tak tertahankan Saliyem bertanya.
“Itu lho, gambar-gambar dengan tulisan supaya orang
membeli barang yang ditawarkan!”
Saliyem belum mengerti maksud tamunya. Orang ini me-
ngeluarkan sesuatu dari tas.
“Ini! Gambar odol, namanya Pepsoden. Nanti saya bikinkan
papan nama warung. Di sampingnya dipasang gambar seperti
ini.”
“Saya bayar berapa?” tanya Saliyem khawatir.
“Tidak bayar apa-apa.”
Agak curiga Saliyem semakin menatap laki-laki itu.
“Mengapa saya tidak bayar apa-apa?”
78

“Karena pabrik Pepsoden yang membayar! Kalau orang me-
lihat nama warung Anda, mau tidak mau harus pula melihat
gambar odol Pepsoden. Lha itu sudah merupakan pengaruh.
Atau kalau dia sudah memakai odol itu, tiba-tiba ingat bahwa
yang ada di rumahnya sudah habis, harus beli lagi.”

Saliyem tetap belum mengerti. Apa boleh buat! Asal dia tidak
bayar saja! Nanti suaminya tentu akan menjelaskan lebih terang.

Lalu mereka membicarakan kemungkinan nama-nama yang
pantas. Warung Enak? Gayeng? Miroso? Ah, tidak! Harus cari
yang lain, yang tidak lumrah.

“Nama Anda siapa?” tiba-tiba langganan itu bertanya, mene-
ruskan, “Pakai nama yang punya malah lebih menarik.”

“Itu juga sudah lumrah!” sahut Saliyem.
“Memang! Tapi dibikin yang lain. Jangan terlalu biasa! Siapa
nama Anda, Yu? Coba katakan!”
“Saliyem.”
Langganan yang sudah duduk kembali itu memiringkan
kepala. Kemudian memandang ke luar. Beberapa meter dari ping-
giran warung adalah pintu masuk sekolah. Jauh ke depan, lebih
dari sepuluh meter, selokan, trotoar tetapi sudah hilang keha-
lusannya, barulah jalan raya. Panas matahari mulai memukul
permukaan aspal di sana. Kilauan-kilauan warna hitam seperti
gerakan air, menggelombang dan menyakitkan pandang. Seben-
tar lagi anak-anak remaja akan memenuhi keseluruhan tempat
itu.
“Saliyem,” lelaki pembeli makanan itu mengulang menyebut
nama perlahan-lahan.
“Nama suaminya?”
“Samijo.”
“Saliyem dan Samijo,” sekali lagi orang itu mengulangi,
seperti membuat nama sendiri.
“Anak-anak?” dia meneruskan penyelidikannya.
“Margono, Sri Warsiah, Sri Hartati, Bambang Warjito, yang
terakhir Bambang Listriono.”
“Wah, wah, wah! Bagus-bagus namanya!”

79

Saliyem bangga mendengar pujian itu. Berkat suaminya dan
guru desa maka anak-anak mendapat nama demikian. Yang
terkecil memakai perkataan listrik karena Saliyem yang mengu-
sulkan. Waktu itu rumah di desa mulai mempergunakan lampu
Pe-el-en.

Dan mereka meneruskan pencarian nama buat warung. Sali-
yem menjawab, mengatakan isi pikiran yang wajar namun sering
kali kurang menjangkau maksud langganannya. Tiba-tiba or-
ang itu berkata,

“Aaah, ini dia, Yu!Baik ini! Nama Anda saja yang dipergu-
nakan, tetapi dipotong!”

Saliyem gembira melihat semangat pembelinya. Tetapi dia
tetap kurang mengerti.

“Dipotong bagaimana?”
“Pak Sami dan Bu Sali!”
Kedengarannya memang lumayan.
“Warung Pak Sami dan Bu Sali! Atau salah satu saja!”
Saliyem semakin mengerti jelas.
“Warung Pak Sami! Warung pecel Bu Sali!”
Saliyem tersenyum. Hatinya senang sekali.
“Lebih tepat kalau Warung Bu Sali karena saya yang mema-
sak, yang membikin bumbu pecelnya, bubur, dan gorengan ma-
cam-macam ini.”
Tamu itu pun tampak puas. Dia mengeluarkan dompet,
membayar. Ketika akan pergi, berkata,
“Ya, baik nama Bu Sali saja. Sa - li. Ditulis secara modern
ya, Yu! Biar lebih hebat. Ini ‘kan di samping sekolah menengah
prakteknya IKIP. Harus megah!”
Untuk kesekian kalinya, Saliyem kehilangan pengertian.
“Cara modern bagaimana?”
“El-nya dua, i di belakang seperti bahasa Inggris. Sally!”
“Itu menjadi nama Belanda Inggris?”
“Inggris, Yu! Bukan Belanda Inggris. Kalau Belanda, ya,
Belanda saja!”
Tamu itu akan melanjutkan pergi, tetapi berhenti. Barangkali
80

tiba-tiba dia menyadari ada di tingkatan mana lawan bicaranya
itu berasal. Mungkin dia juga baru ingat, bahwa banyak orang
desa dan kampung yang tidak bisa membaca maupun menco-
retkan huruf.

“Sudahlah! Pokoknya tahu beres! Besok siang saya mampir
makan lagi. Tanyakan kepada suami apakah dia setuju kalau
dipasang papan Pepsoden, sekalian di samping nama Warung
Bu Sally!”

Dia berdiri. Sebelum keluar, meletakkan sehelai kertas halus,
di atasnya tergambar odol Pepsoden dengan tulisan macam-
macam.

*
Bu Sally menyeberang.
Sambil berjalan dia melihat ke arah pondok. Suaminya tidak
mendapat pekerjaan sejak kemarin. Tampaknya, ia sudah mem-
buka jendela besar di samping. Meja rendah sudah diatur. Mu-
dah-mudahan sudah menanak nasi dan merebus sayuran. Sewak-
tu di bus, Bu Sally bertanya kepada penumpang lain jam berapa.
Katanya jam sepuluh kurang; dia masih akan sempat merendam
pakaian kotor. Kelupaan tadi sebelum berangkat ke Pusat Kese-
hatan.
Sampai di seberang, dia melihat ke atas tempat tinggalnya.
Warung Bu Sally. Memang pantas. Papan itu sudah terkena hujan
satu musim. Tetapi catnya tahan. Dari jauh masih jelas nama
dan gambarnya. Masuk dari samping, dia langsung menggeret
meja rendah tempat makanan dijajakan. Suaminya meletakkan-
nya kurang dekat ke dinding. Anak-anak sekolah kalau datang
berbondong-bondong dan tidak sabar. Harus diberi ruang sele-
bar-lebarnya.
Ditemuinya Samijo di dapur, sedang mengaduk kangkung
dalam air yang mendidih.
“Tinggal taogenya yang belum,” katanya. “Ini kauteruskan!
Aku harus pergi.”

81

“Nanti dulu! Masih ada cucian segala! Kamu mau ke mana?”
“Ke Bubakan! Mandor menyuruh orang memanggilku tadi.
Ada buruhan di sana, dekat Gereja Blenduk.”
Bu Sally tidak berani berkata apa-apa lagi. Dia membuka tu-
tup dandang. Nasi sudah berkepul. Butir-butir kelihatan lembut.
“Kalau begitu, makan dulu!”
Suaminya menurut, mengambil piring, mengaduk nasi. Bu
Sally meletakkan panci di amben. Di dalamnya ada gudeg daun
singkong bersama ikan asin lauk kemarin. Tambah tempe bacem
dan tahu. Dia sendiri juga lapar. Biasanya sebelum mengatur
dagangan, mengisi perut dulu.
“Tadi Mimun cerita. Katanya, tahun ini panennya baik di
desa. Tembakau dari Purwosari, selembar sampai lima ratus har-
ganya.”
Mimun seperti suaminya, juga berasal dari Sukorejo, menjadi
kuli bangunan seperti Samijo. Sering kali bekerja bersamanya.
Dia yang datang disuruh mandor.
“Dia merasa rugi besar. Kalau tahu, dulu-dulu dia tidak jadi
ke kota. Padahal dia memang sudah ragu-ragu. Ke kota atau
tidak. Sudah kehabisan modal, tidak berani pinjam uang lagi
ke bank. Seandainya mau nekat waktu itu, sekarang tentu sudah
panen ...”
Nada kalimat terakhir mengambang, seolah-olah belum sele-
sai. Saliyem makan, memandangi suaminya. Dia kurang yakin,
apakah suaminya menceritakan penyesalan Mimun ataukah pe-
nyesalannya sendiri.
“Keberuntungan orang sendiri-sendiri, Pakne!” Akhirnya, itu-
lah yang dikatakan. Tidak panjang, tetapi lengkap dan asli. Or-
ang desa seperti Saliyem, sedungu yang paling dungu pun, pernah
dibesarkan oleh nenek atau kakeknya. Mereka mengerti dan men-
jalani hidup karena percaya bahwa memang begitulah yang seha-
rusnya terjadi.

Empang Lembang, 1983
82

Liar

Sudah dua kali Irka lewat di depan rumah itu.
Sebetulnya kawasan tersebut bukan daerah operasinya. Dia
juga belum pernah bekerja seorang diri sambil mengendarai.
Hatinya berdebar dirangsang rasa keanehan. Dia sebut aneh
karena pastilah itu bukan ketakutan. Irka yang demikian muda,
begitu berhasil dalam usahanya dan segera dipilih Kuwat sebagai
Kapiten Regu Menengahan!
Tiga atau entah empat kali dia sudah menunjukkan kemam-
puannya beraksi, langsung diwisuda sebagai pengawas kepan-
jangan Jalan Raden Patah. Samsu yang memperkenalkannya
kepada Kuwat. Pada saat itulah Irka gemetar. Nama Kuwat yang
bagaikan gema menyeluruhi sudut ataupun lipatan kota sudah
dikenalnya di zaman dia bersekolah. Tetapi ternyata kegentaran-
nya itu pun tak ada gunanya. Kuwat yang disegani dan ditakuti
orang, juga seperti manusia lain. Dia minum, dia bahkan me-
merlukan Remason dan minta digosok punggungnya karena ma-
suk angin.
Sejak Irka mengantar pulang seorang relasi dari anggotanya
ke perumahan di situ, dia melihat bahwa kesejahteraan menye-
lubungi beberapa pondok. Dia membuang waktu berkeliling.
Seperti biasa, mempelajari kemungkinan-kemungkinan. Dia bah-
kan melihat bahwa tidak sedikit rumah yang secara menonjol
memaparkan keadaan yang berlebihan. Kebun kecil rimbun

83

dengan perdu mahal dan pot terpelihara. Pohon-pohon buah
subur digantungi bakal suguhan nikmat di meja makan. Dan
tentulah meja itu juga bagus, teratur, bertaplak pantas sebagai
gambaran kebun itu! Jelas bahwa memang penduduk di sana
sudah ada yang terpenuhi semua kebutuhannya. Pemukiman
seperti itu bahkan ada yang sudah diganti bagian-bagian rumah-
nya. Dinding depan keseluruhannya diganti kaca, lebar. Dite-
ruskan ke muka, menjadi teras dilengkapi pasangan kursi dan
meja kebun. Atau bagian samping, atapnya dilebarkan melin-
dungi jalanan kecil yang menuju ke belakang. Itu semua jelas
memakan biaya yang tidak sedikit.

Bercokol di pojok-pojok persimpangan, Irka sudah mencium
kebiasaan beberapa rumah seperti itu. Panasnya udara membikin
orang tertidur. Di lain tempat, justru jam dua barulah orang
akan berangkat. Atau jam tiga mengerjakan kesibukan di ha-
laman. Namun, kebanyakan, senyap. Kepanjangan jalan-jalan
di perumahan itu sepi. Baru mulai adanya tanda-tanda kehadiran
di waktu televisi mulai menyiarkan acara sore.

Sudah wajar jika Irka memperhatikan daerah yang sepi. Di
situ dia menemukan sebuah rumah lebih mentereng daripada
kiri kanannya. Jam tiga seorang perempuan muda mengalirkan
air dari belakang, pipa plastik menjulur panjang diarahkan ke
rumput dan tanaman. Semen halus yang menjadi bagian latar
dan menuju ke pintu juga disiram. Setelah itu, barulah disapu.
Mungkin untuk mengurangi rasa panas berdebu. Lalu wanita
itu menyapu tidak hanya sampai di pintu. Dia juga keluar. Terus
membersihkan tanah bersemen hingga ke pinggir jalan. Cukup
jauh dari pintu pagar.

Wanita itulah yang menarik perhatian Irka.
Lumayan wajahnya. Badannya tidak gemuk, tidak kerem-
peng. Mantap buat dinaiki sebagai pelepas nafsu mudanya yang
tergesa maupun gampang terpenuhi. Melihat baju rumah yang
serba terbuka, Irka mengakui selalu hampir lupa mengapa dia
berada dipojok jalan itu. Mata yang mengamati lingkaran leher
sering berkhianat meleset turun ke pantat perempuan itu. Gaun
84

goyor dan tidak tebal seakan-akan menambah daya pikat. Pada
waktu menyapu tepat di tengah pintu, sinar hari yang miring
ke barat mengirim terawangan jelas. Mau tidak mau jantung
Irka berdegup lebih keras. Namun ada kewajiban lain. Dan pan-
dangnya kembali ke leher, ke kuping, ke tangan. Wanita itu
lengkap mengenakan perhiasan. Sekali pandang, Irka menaf-
sirkan keberatan rantai di leher itu.

Anting-anting di telinga terlalu pendek, melekat. Oleh ka-
renanya, selalu kalung itu yang kembali menarik perhatiannya.
Pasti lebih dari lima gram. Bentuk dan uliran rantainya tidak
mungkin terbuat dari logam yang keropos.

Dua kali lewat, belum ada tanda-tanda kesibukan. Irka kem-
bali ke sudut persimpangan. Pohon akasia yang ditanam di selu-
ruh kompleks, ada yang tumbuh memanjang rimbun. Tetapi di
tempat perhentian yang dipilih Irka, kelihatan kerdil. Dia hanya
terlindungi cabang-cabang kurus. Rasa panas semakin menyelu-
ruhi badan karena dia memakai jaket. Peluh mengalir deras di
punggung dan ketiaknya. Dan untuk ke sekian kalinya dia
mengeluarkan buku kecil dari saku hem, pura-pura membaca.

Jangan-jangan siang itu dia akan sia-sia menunggu!
Hatinya tidak kuasa mengira, dirayapi kegugupan yang ja-
rang menelusup pikirannya. Karena sampai saat itu, semua aksi-
nya diperkirakan dengan perhitungan yang sangat rumit. Kalau-
pun harus mengalami hari-hari kosong, kemarahannya bisa sege-
ra reda. Dia sudah biasa dengan kekecewaan.
Sejak keluar dari kelas dua Sekolah Teknik, selama hampir
setahun kesibukannya yang pasti adalah kecewa. Dari satu tem-
pat ke tempat lain, pekerjaan satu ke bengkel lain. Kalau hu-
bungan dengan pemilik baik, pergaulan dengan sesama buruh
yang kurang menyenangkan. Atau sebaliknya.
Waktu itu uang kiriman dari desa masih diterima. Tidak
pasti, tetapi masih datang ke tempat pondokan. Irka sendiri
sudah tidak tidur di sana. Setelah penunggakan sewa kamar
tidak terbayar selama tiga bulan, Irka meninggalkan sekolah
untuk membantu-bantu di bengkel. Dari upahnya yang sangat

85

kecil, dia berangsur melunasi pondokan. Tetapi pemilik asrama
lebih suka ditempati anak-anak sekolah. Akhirnya, Irka harus
kabur. Kardus berisi sejumlah pakaian dan tas buku dititipkan
di rumah teman. Dia sendiri menggeletakkan diri di mana-mana.
Bekas teras Kabupaten yang sekarang menjadi kompleks perbe-
lanjaan, sangat lengang di waktu malam. Banyak kios yang ko-
song. Lorong lobinya enak untuk berbaring. Di Ya’ik Permai
demikian pula. Untuk tidur di kota sebesar itu, Irka tidak keku-
rangan tempat.

Secara kebetulan, pada suatu malam demikian dia bertemu
dengan Samsu. Yang akhir ini sedang kekeringan sekali. Irka
masih punya uang sedikit untuk membeli makanan pagi. Dengan
rasa solidaritas tanpa pamrih sesuatu pun, dia membayari sara-
pan tetangga tidurnya. Itu adalah permulaan dari pengalaman-
nya di gerombolan Samsu.

Daerah mereka sebenarnya kota bagian utara, bisa melonjok
sedikit ke timur. Setelah menjadi anggota tetap, Samsu memberi-
nya teman kerja. Yang digariskan bagi mereka adalah Jalan Raden
Patah. Tidak jarang sampai ke kompleks Unisula. Satu kali bah-
kan lebih ke Timur lagi, baru berhasil di Sayung.

Dia sulung dari delapan anak. Ketika berangkat ke kota se-
mua bangga mengelu-elukan dan menyelamati dengan bancakan1)
Sampai Lurah pun usul akan membuatkan nasi tumpeng. Tetapi
akhirnya hanya Nenek yang merasa berhak membikin nasi gu-
dangan lima tampah. Satu dikirim ke langgar, yang lain dikepung
seluruh desa di rumah Nenek.

Mereka adalah pemilik ladang luas. Terselinap di lereng Mu-
ria, bergantian palawija bisa menghidupi penduduk di sana.

Tetapi kemudian datang mode baru: di lereng sebelah lain,
orang menanam cengkih. Penyuluh pertanian menunaikan tugas
dengan baik, karena ternyata bapak Irka terpikat pula oleh an-
jurannya agar membeli bibit. Seakan-akan sepakat, seluruh desa
sebelah-menyebelah mengganti isi ladang dengan tanaman baru

1) Selamatan

86

itu. Ketika Irka berangkat, perdu itu sudah berusia tiga tahun.
Harapan dan rencana mulai dibikin dan dibicarakan. Tidak
hanya di keluarga Irka. Seluruh desa mempunyai cita-cita. Tujuan
akhir banyak yang ingin naik haji. Menjadi haji berarti memiliki
pangkat. Soal keteguhan iman merupakan acara lain. Keseganan
orang terilhamkan oleh sebutan Pak atau Bu Haji. Di sana hal
kepergian ke luar negeri tidak dianggap sebagai satu kelebihan.
Tetapi naik haji, lain halnya. Luar negeri mana pun tidak berarti
kalau bukan untuk kembali dengan serban atau kopiah putih di
kepala.

Meskipun Nenek sudah ompong dan badannya kurus kering,
dia juga ingin melihat Mekah. Maka diputuskan keluarga, hasil
panen cengkih pertama adalah untuk membiayai Nenek dan
seorang pengantar ke negeri Rasul. Sejak tahun terakhir itu
memang Nenek memperlihatkan lebih teratur bersembahyang.
Dia kurang menyebut-nyebut Danyang2) penunggu Muria. Dia
patuh dan menuruti nasehat kiai desa sebelah yang mengatakan
tidak perlu meletakkan saji-sajian di setiap sudut ladang. Itu
hanya menarik tikus atau makhluk halus. Bisa jadi malahan
mendatangkan jin jahat. Tekun Nenek menjalankan lima waktu.
Sehabis bulan Puasa dua tahun itu, badannya semakin kerem-
peng. Menjelang keberangkatan Irka ke kota, Nenek sering jatuh
sakit. Kepalanya pusing dibarengi keinginannya untuk terus-
menerus tidur.

Kiriman terakhir berjumlah utuh bayaran pondokan, sekolah
dan uang saku disertai dua kalimat yang selalu sama di belakang
wesel: Semua baik-baik, hati-hati kamu di negeri orang. Dan
pertama kalinya uang itu datang terlambat serta hanya sepertiga-
nya karena dimaksudkan sebagai pembayar penuntutan ilmu,
tidak ada berita sesuatu pun. Dari banyaknya kiriman itu sajalah
Irka mengetahui bahwa itu uang sekolah. Disusul kedatangan
Lurah sebagai wakil keluarga. Dialah yang bercerita mengenai
kerusakan perkebunan empat desa berdekatan. Dia ke kota un-

2) Penjaga, dalam arti makhluk halus

87

tuk langsung berhubungan dengan perwakilan Departemen
Pertanian meminta perhatian. Sarana guna menanggulangi jamur
atau kuman yang menggerogoti akar tanaman cengkih yang di-
miliki kaum tani tidak memadai. Dengan murah hati, Lurah
menyerahkan ongkos jalannya untuk biaya Irka hidup dua bulan.
Menurut Lurah, banyak harapan akan adanya perbaikan.

Tetapi tidak ada perbaikan.
Hanya di ladang keluarga Irka saja sudah enam puluh pohon
musnah! Seluruh lereng Muria bagian Barat terserang penyakit
yang sama. Seakan-akan sang gunung tidak menyukai punggung-
nya dicengkeram oleh akar pohon-pohon asing. Palawija yang
menjadi makanan cikal-bakal terusir. Muria tidak pernah ditanya
pendapatnya. Dibiarkannya penduduk menggali lubang menitip-
kan bibit-bibit pohon pendatang. Dibiarkan mereka tumbuh
mengisap aliran air kehidupan dari perutnya. Tidak selamanya.
Karena Muria mempunyai caranya sendiri untuk memperlihat-
kan hak suaranya. Setelah dikirakan semua penduduk yang
mengkhianatinya masak dan ranum memeluk mimpi dan harap-
annya, pada waktu itulah sang gunung mulai melepaskan perlin-
dungannya. Angin yang datang entah dari mana menyerang
satu jenis pohon, yaitu cengkih. Suatu hari penduduk melihat
pucuk-pucuk daun muda berganti warna. Dia baru menyadari
bahwa semua ranting tidak mempunyai warna hijau pupus lagi.
Dari ladang yang berisi lima pohon sampai yang empat puluh
banyaknya, akhirnya desa-desa bertetangga menginsyafi kenya-
taan itu. Mereka yang kerjanya turun ke kaki gunung dan naik
kembali, mulai menyadari pula bahwa pemandangan lereng tidak
menyuguhkan keluasan kehijauan, melainkan kecoklatan yang
padat bagaikan terbakar asap. Dan ketahuanlah bahwa di bawah
setiap pohon berjubelan binatang kecil bersarang memakan akar
cengkih. Setiap pohon! Tanpa kekecualian.
Irka menjadi korban malapetaka itu.
Semua kekayaan bapaknya dipertaruhkan dalam penanaman
jenis rempah-rempah tersebut. Siapa di desa lereng Muria yang
tidak tergiur oleh anjuran penyuluh pertanian yang begitu pintar!
88

Tidakkah orang itu yang memperkenalkan mereka kepada panen
tiga kali setahun? Orang itu membawa bibit-bibit baru konon
hasil penyelidikan kantor besar di Bogor dekat Betawi! Pendek
kata, seperti arti namanya, dia benar menjadi penyuluh petani
yang dari generasi ke generasi tidak pernah melepaskan cara-
cara kuno dan disebut terbelakang di zaman sekarang.

Tapi rupa-rupanya Muria tidak mempedulikan kepentingan
jabatan apa pun. Penyuluh yang mempunyai tiga pohon cengkih
di halaman pondoknya tidak diluputkan dari kuman pemakan
akar. Hancurlah rencana-rencana. Dari yang mau beli televisi
berwarna sampai ke perbaikan rumah. Irka pun mengalami ki-
riman uang yang terlambat sampai akhirnya surat panggilan
kembali ke desa. Biarlah tidak usah meneruskan sekolah. Kelas
dua sudah tinggi. Cukup buat bisa hidup. Kembali pulang, asal
bersama-sama seluruh keluarga berkumpul, makan apa pun
jadilah. Yang pokok, susah atau bahagia ditanggung dengan ke-
kompakan.

Tapi Irka tidak mau pulang. Dua tahun tinggal di kota, kem-
bali menengok pun hanya ketika liburan Puasa. Liburan lain-
lain dihabiskannya mengenali pelosok kota yang telah melahap-
nya. Dia tidak percaya tidak akan bisa makan tanpa bantuan
keluarga desa. Rundingan dengan seorang guru yang dianggap
paling disukai tidak membawakan kegunaan nyata. Irka hanya
mendapatkan nasihat dan anjuran. Padahal ia sudah terlalu se-
ring mendengarnya. Yang diperlukannya adalah uang. Dia mau
bekerja, menjual tenaganya. Tempat pertama di mana dia diteri-
ma adalah bengkel pengecatan, di kampung dekat pondokan.
Dia dikenal, langsung diterima tanpa persoalan. Yang menjadi
masalah adalah upah hariannya yang terlalu kecil. Dia dipandang
sebagai buruh magangan. Hanya diberi makan dan uang saku
seribu rupiah. Tetapi itu sudah bagus bagi Irka, yang oleh ling-
kungan dinamakan dengan sebutan baru drop out, manusia sete-
ngah-setengah tanpa kemahiran.

Pertemuan dengan Samsu dan Kuwat mengajarinya menjadi
pemegang uang ratusan ribu. Dia belajar pula kemewahan hidup,

89

membeli barang yang tidak keruan kepentingannya. Menyim-
pang dari dasar didikan bapaknya sebagai petani, bahwa gemi3)
dan setiti4) adalah rahasia kesejahteraan. Memang Irka tidak
mempunyai rasa kesejahteraan ini. Tetapi dia puas, bahagia ber-
sama gerombolannya. Semaunya kadang tidur di depan kios-
kios yang disewa, di lorong suatu pasar, atau di rumah orang.
Yang menjadi pelabuhannya ada dua. Dia pun bisa nongol sewak-
tu-waktu di tempat bekas kawannya sekolah. Ibunya mempunyai
warung dan kawan ini adalah anak yang sangat dekat dengan si
ibu. Sekali-sekali, Irka tahu menarik hati. Dia suruh kirim keper-
luan sehari-hari yang dipikirkannya bermanfaat bagi persiapan
makanan. Yang paling sering ialah minyak goreng, gula-kopi,
dan minyak tanah. Setahun dalam gerombolan Samsu, dia sudah
mengenal orang-orang Cina pedagang mana yang bisa didekati.
Sebagai upah perlindungan dari pemerasan, katanya. Oleh ban-
tuan yang sangat dihargai itu, Irka menjadi anggota keluarga
yang berhak datang, makan, tidur sewaktu-waktu. Selain di situ,
dia juga mempunyai kamar di rumah Samsu. Agak jauh dari
kota, menjadi lubang perhentian yang lebih aman dan tenang
dari gangguan berbagai pihak.

Seminggu terakhir itu uang ratusan ribu sangat sukar dikejar.
Padahal sampai minggu depan, ya, itulah batasnya, dia harus
bisa mengumpulkan paling sedikit dua ratus ribu. Jumlah itu
adalah minimum yang akan menemaninya naik ke lereng Muria
menengok keluarga. Di saku tinggal lipatan lima ribuan yang
terselip di ikat pinggang. Lain-lain adalah ratusan dan seribuan.
Hari itu dia wajib membayar sewa kendaraan. Bagian yang dibe-
rikan kepada kawan beroperasi pun harus disisihkan meskipun
siang itu dia bekerja seorang diri. Hitung punya hitung, akhirnya
lipatan lima ribu harus dipecah sore itu juga.

Keasyikan berpikir menolong menghabiskan waktu.
Perempuan yang ditunggu-tunggu tampak mengeluarkan

3) hemat
4) tekun

90

pipa, mengaturnya dan mulai menyiram halaman. Lalu ditinggal,
ganti memberi air semua perdu, pot, dan pohon yang ada di
kebun kecil. Sementara itu, permukaan semen menguapkan ke-
basahannya. Sebentar lagi luasannya akan disapu.

Irka menderukan motor, mengendarainya ke arah kepan-
jangan jalan, perlahan-lahan. Dia menoleh ke deretan rumah di
kanan, di kiri. Ketika tiba di persimpangan jalan lain, sepintas
dilihatnya perempuan di rumah yang satu itu sudah mulai me-
nyapu. Irka meneruskan, membelok ke salah satu simpangan.
Diperkirakannya hingga wanita itu keluar dari halaman. Ke-
mudian ia muncul kembali, sekali lagi mengambil jalan yang
sama. Lebih perlahan-lahan. Di dekat rumah itu, dia berhenti.
Sekali lagi meyakinkan diri bahwa semua serba sepi dan tenang.
Lalu menyeberang. Di arah jalanan semen rumah tersebut, Irka
berhenti lagi. Mengeluarkan secarik kertas, pura-pura membaca.

Wanita muda itu menyorong kotoran hasil sapuan dari ha-
lamannya ke jalan. Dia meneruskan kerjanya tanpa merasa ter-
ganggu oleh sesuatu pun.

“Maaf, Mbak!” Irka menegur dengan suara rendah tetapi
jelas. “Jalan Randu Blok A Lima itu yang mana?”

Perempuan itu mengangkat muka, menyahut,
“Randu sebelah sana!”
Tangannya menunjuk ke persimpangan, ke arah matahari
sore.
Irka menenggelamkan pandang ke kertas di tangannya. Pe-
rempuan itu mendekat. Semakin jauh dari pintu pagar.
“Randu A Lima nomor berapa? Mencari siapa?”
Irka memberikan kertas. Wanita itu melepaskan sapu, di-
kempit di antara paha. Kedua tangannya memegang kertas yang
berisi alamat.
Pada waktu itu juga, lengan Irka terulur.
Erat tangannya mencengkeram leontin di dada perempuan
itu. Dengan satu kali sentakan, rantai kalung tersendai putus.
Dan sekejap mata, dia memacu kendaraan ke jurusan yang telah
ditunjukkan korbannya. Oleh kegaduhan motor dia tidak

91

mendengar teriakan perempuan itu.
Itu bukan urusannya sekarang. Yang penting adalah melari-

kan diri, menyelinap jalanan kecil dahulu, baru di sebelah pasar
menemukan jalan besar yang menuju kota. Sebelum sampai di
sana, dia memerlukan berhenti satu menit. Jaket dan topi dibuka,
keduanya cepat dilipat, didudukinya. Kemudian menghilanglah
dia di sela-sela kepadatan lalu lintas.

Kalung itu melebihi perkiraannya.
Ketika ditumbangkan untuk dijual, hampir delapan gram
berat tanpa leontin. Karena emas lembek, si pembeli tidak ragu-
ragu membayar kontan. Dalam sakunya, Irka mempunyai jum-
lah uang yang mendekati seratus ribu. Dia sudah membayar
sewa kendaraan. Kini dia mencari kawan yang biasa bekerja
bersamanya. Melewati jalan ke Perbalan, dia berhenti di warung.
Sejak siang, dia belum makan nasi.
“Hanya keringan lauknya. Belum nyayur buat malam. Itu
sedang disiapkan oleh adik-adikmu,” kata ibu kawannya ketika
dia minta makan.
“Di rumah ada gudangan sedikit sisa kita tadi, Mak,” kata
adik teman Irka.
“Mau gudangan?”
“Tidak! Tidak usah! Minta kecap saja!”
Kawannya masuk siang. Dua adik perempuan teman itu
mengupas terong, memilihi daun so. Seonggok kacang panjang
terlihat di samping mereka. Irka mulai makan. Kering tempe
dan acar ikan tongkol.
“Tadi dicari kawannya,” kata ibu di warung sambil me-
nungguinya.
“Yang mana, Bu?”
“Yang biasa dibawa kemari itu?”
Itu rekan kerja samanya.
“Rambutnya pendek. Hampir gundul?”
“Yaitu!”
Irka sedang berpikir-pikir ada proyek apa yang menarik maka
kawannya mencari dia ke warung. Belum pernah hal ini terjadi.
92

Ibu pemilik warung menyela renungannya,
“Kelihatannya tergesa-gesa.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada aneh di pendengaran

Irka.
“Naik becak, Bu?”
“Naik truk! Naik Suzuki yang besar itu!”
“Biasa, Bu. Kami sering ikut numpang sopir kalau sedang

putar kota.”
“Bukan ikut! Maksudku, dia yang nyetir!”
Irka hampir tercekik. Tetapi dia bisa menyembunyikan rasa

terkejutnya. Perlahan ditelannya makanan yang ada di mulut.
Setelah bernapas dalam-dalam, menghirup teh dingin empat-
lima teguk panjang-panjang.

“Dia yang begitu kecil tubuhnya berani mengendarai truk!
Seperti tenggelam di belakang setir!” ibu itu meneruskan komen-
tarnya.

“Padahal dia lebih tua dari saya, Bu!” kata Irka.
Asal saja dia berbicara. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan
kawan itu mencarinya. Dengan mengendarai truk curian lagi!
Sebenarnya istilah mereka adalah meminjam. Mereka pergi ke
suatu tempat, lalu biasa meninggalkan kendaraan “pinjaman”
itu di sana. Sangat berbahaya mencari teman di sebuah warung
yang demikian mengenal dirinya. Itu di luar peraturan yang
biasa mereka anut.
Tiba-tiba Irka tertegak. Satu pikiran melintas bagaikan hali-
lintar, bepercikan sinar menggelegar gaduhnya di dalam kepala.
Cepat-cepat dia menghabiskan sisa makanan di piring. Setengah
mengunyah, dia sudah minum lagi.
“Uang saya di sini masih berapa, Bu?” tanyanya sambil
mengendalikan ketergesaannya.
“Dipinjam bapakmu untuk membelikan buku-buku Maswan
seharga dua puluh ribu. Masih ada seratus sepuluh.”
“Saya ambil ya, Bu. Saya harus berangkat ke Bandung malam
ini.”
“Semua?”

93

“Seratus saja. Yang sepuluh buat tambah-tambah di sini.”
Sementara ibu pemilik warung masuk ke dalam rumah, Irka
semakin tidak tenang perasaannya. Sebentar-sebentar melihat
keluar, ke jalanan.
Lalu lintas sepi jam-jam demikian. Udara masih panas. Sisa-
sisa kepengapan hari sebentar lagi akan terusir angin dari utara.
Angin yang berbau amis oleh menyumpalnya berbagai jenis ko-
toran di kanal pelabuhan. Dan Irka sudah berdiri di pintu ketika
ibu itu kembali. Dia memberikan puluhan ribu.
“Hitung dulu!”
Irka menurut.
“Lama di Bandung?”
“Belum tahu, Bu! Tergantung kawan saya itu. Dia barangkali
sudah berangkat duluan tadi naik truk. Sebab itu mencari saya.”
“Untung tidak ketemu! Jangan naik bersama dia! Apalagi
kalau disetiri sendiri! Begitu kecil badannya ...”
Belum selesai Ibu berbicara, Irka memutuskan,
“Habis, dia memang kuntet,5) cebol, Bu!”
“Apa tidak berbahaya menyetir begitu? Kakinya kalau akan
memijak rem bagaimana?”
Irka tidak bisa menahan senyumnya. Ibu itu tahu saja! Tapi
dia harus segera pergi. Jantungnya semakin berdebar. Nasi yang
baru dimakan serasa tidak mau turun lebih jauh lagi ke perut.
“Permisi, Bu. Saya harus cepat mandi. Bisnya berangkat jam
enam!”
“Ya, ya!”
Dari belakang terdengar teriakan,
“Oleh-olehnya, Mas Kirman!”
Irka tidak menyahut. Dia terlalu sibuk memikirkan sesuatu.
Tetapi juga karena panggilan itu menyebut nama sekolahnya.
Kata Samsu, dalam gerombolan, seperti dalam film atau dunia
show lain, orang harus ganti nama. Yang bagus, yang in. Tidak
boleh kedengaran kuno. Nama “desa”- nya Sukirman, diambil

5) cebol

94

huruf-huruf yang memukul suaranya. Menjadi Irka. Itu pilihan
Samsu. Dia menurut saja asal semua berjalan lancar. Dan ter-
nyata hingga saat ini semua baik-baik.

Hingga saat itu!
Dada Irka panas oleh kecemasan. Rasa itu tidak lagi berupa
keanehan ataupun kegugupan yang biasa. Kawan kerjanya men-
cari Irka ke warung. Hal ini tidak pernah terjadi, tentu ada hal
yang lain. Apalagi menyetir di luar batas-batas kemampuan-
nya. SIM roda dua saja dia tak punya. Apakah yang mendorong-
nya berbuat hal tersebut?
Irka ngebut ke utara. Ke daerah tambak. Ketika akan mema-
suki jalan satu-satunya ke perkampungan, matanya tajam menang-
kap bayangan kotak kendaraan polisi. Bukan hanya polisi lalu lintas.
Yang militer pun kelihatan terpancang beberapa orang menghadang.
Irka memperlambat motornya, lalu berhenti. Tanpa berpikir dua
kali, menyeberang, berputar mengubah arah akan balik ke kota.
Di warung terdekat, dia berhenti lagi. Tanpa menghentikan
mesin, meminta Jambu Bol satu bungkus bersama korek apinya.
Seseorang dari dalam keluar, membawa pesanannya.
“Kok bisa lolos, Mas?” tanya orang itu. “Ada SIM ya?”
Ada, sahut Irka, menyalakan rokok sambil menyembunyikan
ketergesaannya.
“Untung!” kata anak itu lagi.
Apa sih? dari dalam kedengaran suara lain mencampuri.
“Itu lho, cegatan SIM di utara!”
Seorang perempuan setengah tua menjengukkan kepala. Lalu
keluar menyandarkan diri di pintu. Sehelai kain lap kotak-kotak
tersampir di pundaknya.
Cegatan SIM apa! Tiga mobil polisi kok hanya untuk cegatan
SIM! Bukan! Itu pembersihan! Sudah satu pikap penuh tadi!”
Pembersihan apa? anak muda yang melayani Irka bertanya.
“Gali-gali!6) Sedari pagi dijaga begitu! Kalau untuk SIM ‘kan
beberapa jam saja, lalu ganti tempat!”

6) gabungan anak-anak liar

95

Seolah-olah Irka hanya menunggu akhir penjelasan tersebut.
Sambil menggumamkan pamit, dia kembali memacu
kendaraannya. Kali ini ke jurusan barat, terus naik ke Simongan,
ke arah Sampangan. Besar kemungkinan sarang di situ belum
“terbakar”. Kalau memang yang itu juga ketahuan, Irka harus
langsung menghilang. Antara ya dan tidak, kali itu hatinya ragu-
ragu. Apa yang akan dikerjakan Samsu dalam hal seperti itu?
Irka mencoba mencari jalan yang paling tengah. Seumpama me-
mang rumah itu belum digeledah, tidak berarti bahwa itu belum
ketahuan. Barangkali justru mereka menunggu sampai ada ang-
gota gerombolan yang datang!
Irka menghentikan kendaraannya lagi. Dari celah-celah rant-
ing dedaunan, di bawah tampak aliran Kaligarang yang menyempit.
Dua detik untuk memutuskan. Tiba-tiba Irka mundur beberapa
meter. Sampai pinggiran jalan setapak yang menurun landai,
berbelok, masuk ke tepi sungai. Di salah satu tempat ia berhenti
dan mematikan mesin. Dia akan cepat mandi. Di dalam tas di
kemudi, dia selalu mempunyai keperluan secukupnya. Anak
gelandangan seperti dia sudah biasa mandi dan tidur di mana-
mana. Nanti setelah selesai, dia akan balik ke warung ibu teman
sekolahnya. Beberapa baju disambar. Kemudian dia akan langsung
pulang ke desa. Meskipun uangnya belum mencapai jumlah yang
dibataskannya, dia lebih baik mengalah. Asal lolos dari tangkapan.
Dan memang dia harus lolos. Orang di warung tadi mengatakan
sudah satu mobil krangkengan7) yang dibawa! Kalau generasi frustrasi
harus terus hadir di kota, maka Irka-lah yang akan mewakilinya.
Golongan frustrasi yang telah melewati batas kesabaran. Yang ingin
hidup sebagaimana layaknya, cukup tanpa kelebihan- kelebihan,
namun dengan jalan secepat-cepatnya mendapat kepuasan.
Ya, itulah sebaiknya yang dia lakukan.
Uang yang dibawa ke desa tidak akan mencapai jumlah yang
direncanakan. Seandainya Irka singgah di rumah Samsu, dia
akan bisa mengambil simpanannya. Tetapi biarlah! Sampai di

7) kurungan

96

desa, yang seratus ribu akan langsung diberikan kepada bapak-
nya yang akan berangkat bertransmigrasi. Benar! Orang tuanya
putus asa menghadapi kegagalan kebun yang diharapinya. Sekali
lagi bersama penduduk desa lain, dia terpengaruh kemulukan
dan janji-janji kemudahan yang bakal diberikan di pulau lain.

Persetan dengan itu semua, pikir Irka. Kewajiban dia ialah
menyokong sedikit. Uang yang seratus ribu akan sampai ke ma-
na, dia juga masa bodoh. Tetapi dia masih mempunyai hak untuk
pulang ke rumah neneknya. Sebutan apa pun yang diberikan
orang kota kepadanya, itulah jalan hidup yang ditemukan. Balik
ke desa, dia kembali akan menjadi seorang cucu yang menolong
mencangkul dan mencabut singkong dari ladang.

Dia bahkan akan menjadi seorang anak lelaki sulung yang
bisa memberikan pesangon kepada orang tuanya.

Sekayu, 1983

97

Keberuntungan

Perasaannya nyaman, Jamjuri duduk di bangku yang me-
minggiri dinding samping warung. Pandangnya berlabuh pada
aneka irisan makanan di hadapan.

“Minum apa?”
“Biasa.”
Perempuan di belakang meja memandangnya sebentar seo-
lah-olah berpikir. Kemudian mengambil gelas, piring lepekan,
mengisinya dengan dua sendok gula, dua sendok kopi.
“Yang pahit, Mak. Takut mengantuk di jalan.”
Perempuan itu menambahkan kopi.
“Ini keras kopinya. Baru datang dari Banaran. Jenis di sana
wangi dan manjur.”
Jamjuri tidak menyahut. Pandangnya tetap meneliti gorengan
makanan yang bertumpuk di piring-piring berderetan.
“Tidak sama-sama Majid?”
“Tidak.”
“Kalau ketemu, mintakan bonnya buat dua bulan ini. Mau-
nya tidak bayar saja!”
Jamjuri tidak menyahut. Tetapi kali ini karena mulutnya
sibuk mengunyah tempe. Sebentar-sebentar tangan kirinya
mengangkat cabe rawit, dan secuil daripadanya menghilang. Yang
empunya warung duduk. Di depannya ada kaleng bekas roti
kering. Dari situ dia menyendok sesuatu, dimasukkan ke lubang
98

contongan-contongan kertas kaca. Yang telah terisi tampak di-
dirikan berjajar tersandar pada wadah makanan lain. Butir-butir
kacang bawang yang kuning terpampang dari balik bungkusan.

Diam-diam Jamjuri meneruskan makan. Matanya tenang
beralih dari kesibukan pemilik warung ke irisan tempe di ta-
ngannya. Semakin kecil dan semakin dekat dengan ujung jari-
jarinya.

“Kalau pada tidak bayar utang, aku tidak akan bisa terus jual-
an. Harga-harga menanjak. Kalau kulakan1) makanan kering bisa
diangsur. Tetapi belanja di pasar lain. Apalagi ini akan Lebaran.”

Jamjuri menelan kunyahan terakhir. Tangan kanan disembu-
nyikan di bawah bangku. Bekas minyak goreng dioles-oleskan
pada papan tempat duduk tersebut.

“Kalian tahu sendiri jualan begini tidak banyak untungnya.
Cuma bisa ikut makan.”

Jamjuri tetap diam. Matanya mengawasi pemilik warung
yang tetap mengisi contongan.

“Sudah banyak begitu kok, Mak!” tiba-tiba Jamjuri berkata.
“Kalau tidak cepat ditutup, nanti mlempem kacangnya. Sayang.”

Perempuan di balik meja mengangkat muka, sebentar mema-
ndang ke langganannya. Jamjuri perlahan menghirup pinggiran
gelasnya. Perempuan di warung menutup kaleng, menghitung
bungkusan kecil yang telah terisi.

“Kamu betul. Sudah ada dua puluh tujuh.”
“Musim begini semuanya lembab. Gorengan kalau tidak
cepat ditutup pasti amem,2) menjadi lembek.”
“Kamu kok tahu saja! Mana belum kawin lagi!”
“Justru karena belum kawin, Mak, maka tahu banyak menge-
nai urusan rumah.”
Suasana terasa lebih kendor. Suara perempuan itu lebih ri-
ngan. Seakan-akan sejenak terlepas dari tekanan kenaikan harga
di pasar.

1) membeli dalam jumlah banyak
2) mlempem, tak renyah

99


Click to View FlipBook Version