“Biar sudah! Tidak usah ditambah tiga supaya mencapai tiga
puluh. Aku rekat dulu, nanti kalau dimasukkan di lodong ditam-
bah lagi.”
“Tinggalkan dua di luar buat saya. Jadi jumlahnya pas dua
puluh lima.”
“Kamu ambil?”
“Ya. Buat di jalan nanti.”
“Kalau begitu lebih baik. Aku lebih suka. Jadi gampang
ketahuan isi lodong berapa. Selalu ada yang dicuri!”
Suro datang, diiringi Diman. Masing-masing duduk, meme-
san minuman.
“Ke mana pagi ini, Jam?” sambil menyalakan rokok Suro
bertanya.
“Ke Ambarawa.”
“Aaah, senang kamu. Bisa mampir rumah.”
Sambil kepalanya dilongokkan ke arah rekannya, menerus-
kan,
“Bawa apa?”
“Belum tahu. Barangkali sabun atau gula. Kemarin kulihat
mereka membongkar barang itu.”
“Hujan-hujan bawa gula. Repot.”
Perempuan di warung mengulurkan gelas-gelas berisi kopi.
Asap yang berkepulan menghamburkan bau sedap melawan ke-
kerasan udara bacin dari kanal.
“Mana Majid, Man?” tanya perempuan itu.
“Berangkat ke Cirebon jam dua tadi malam.”
“Cirebon?” Jamjuri menyela.
“Bawa karet,” Diman menjelaskan.
“Kapan kembali?” perempuan warung menyambung lagi.
“Bonnya dua bulan belum dilunasi.”
“Jangan khawatir, Mak!”
“Tentu saja aku khawatir!”
“Barangkali dia lupa bayar.”
“Tapi yang mengherankan itu, kalau makan kok tidak lupa!”
kata perempuan itu lagi, nada suaranya mulai jengkel.
100
“Majid bukan orang yang tidak mau bayar utang biasanya,”
Diman tetap mempertahankan.
“Jangan-jangan dia meninggalkan kebiasaan itu. Kalau sudah
main perempuan atau judi, mulailah ...”
“Nanti kalau ketemu saya ingatkan.”
Ucapan itu seakan-akan meredakan kejengkelan si pemilik
warung, karena percakapan terhenti. Kedengaran suara hirupan.
Bunyi embusan yang tertumpah ke atas cairan, disusul oleh
kepuasan “haaaah”. Masing-masing memegang gelas atau go-
rengan yang dipilih.
Jalan masih lengang. Gedung sekolah jauh di seberang kanal
kelihatan sendirian, sepi dan kaku diapit oleh bangunan kanan
kiri yang penuh kendaraan tentara.
“Rokoknya satu, Jam!” Suro berkata.
“Habis.”
“Satu saja!”
“Aku bilang habis!”
“Itu bungkusan di saku!” Suro mendesak.
Cepat Jamjuri mengangkat telapak ke dada kiri. Seolah-olah
hendak melindunginya dari rampasan orang. Katanya,
“Tinggal satu buat di jalan nanti. Kamu mengisap terus sedari
tadi!”
Suro berbalik, menghadap ke Diman.
“Lagi satu, ah!”
“Kamu lihat sendiri yang terakhir kamu isap!” sahut Diman.
“Itu bungkusannya kaulempar di sana.”
Diman menunjuk ke luar, ke pinggir jalan.
“Maunya selalu minta!” suara Jamjuri menggerutu, tetapi
lirih.
“Beli saja!” usul Diman.
Jelas Suro kecewa. Kepalanya meneleng, mencari, meman-
dang tempat duduk si pemilik warung dari celah-celah lodong.
“Kretek, Mak. Dua saja!” katanya.
Jamjuri mengeluarkan korek api. Memotong sebatang, mem-
pergunakannya sebagai tusuk gigi. Tempat duduk di pojok me-
101
mungkinkan dia bersandar ke dinding gedhek.3) Sambil mende-
sis-desis, tangannya repot mengusir sisa-sisa potongan tempe
dan singkong yang terselip di celah-celah gigi. Pandangnya ter-
pancang ke arah Suro. Masih tetap seperti dulu, menganggap
semuanya gampang! Dan selalu meminta!
Keduanya berasal dari kampung yang sama. Sejak kecil ber-
main bersama. Dimulai dari waktu itu pula sudah dirasakan
Jamjuri adanya semacam lomba antara keduanya. Suro banyak
omong. Suro pandai memikat hati orang. Untuk mendapatkan
pemberian berupa apa pun, Suro tidak perlu bersusah payah.
Pohon-pohon klengkeng tumbuh di desa menjadi mata penca-
harian penduduk. Hampir di semua pekarangan buah itu ada.
Namun, tidak semua penghuni desa menjadi pemilik. Jamjuri
dan Suro sama-sama berasal dari keluarga pekerja yang menjaga
sawah atau kebun orang. Gubuk mereka hanya dilingkari karas4)
sempit.
Klengkeng tetap merupakan buah istimewa bagi mereka.
Jamjuri harus bekerja menolong orang untuk dapat mencicipi
rasanya setiap musim. Atau jika terpaksa, didorong oleh naluri
dan kenakalan bocah, sering kali mencuri bersama anak-anak
lain. Sedangkan Suro, berkali-kali Jamjuri menyaksikan sendiri,
orang memberikan tangkai klengkeng penuh buah kepadanya.
Padahal Suro hanya berdiri di sana, kadang-kadang menyua-
rakan kata-kata minta yang memelas. Dari satu kebun ke kebun
lain, Suro bisa bersombong bahwa tanpa mengeluarkan tenaga,
dia telah mengecap rasa buah di seluruh desa mereka.
Jamjuri selalu harus bekerja keras untuk mendapatkan sega-
lanya. Dari menolong menyapukan halaman orang, membawa-
kan kiriman makanan ke ladang, lalu membantu membawakan
buku-buku guru dari atau ke sekolah. Dia bahagia menerima
upah sekecil apa pun. Kadang-kadang nasi atau jajan pasar. Di
lain kesempatan sejumlah uang. Ketika dewasa dan berangkat
3) anyaman bambu
4) halaman
102
ke kota, dia harus pula berjuang buat mendapatkan tempat seba-
gai kuli di pelabuhan. Menabung uang hasil jerih payahnya dan
mengambil izin untuk menyetir. Hingga akhirnya menjadi sopir
truk di salah satu perusahaan angkutan, Jamjuri bertemu Suro
sebagai montir di bengkel. Seketika itu juga dia merasakan kem-
bali perbedaan rezeki yang terbagi antara mereka. Di samping
itu, perbedaan watak yang dikenal penduduk desa, mulai dilihat
oleh rekan-rekan di kota. Tetapi di desa, yang digemparkan or-
ang ialah ketika mereka memperhatikan keberanian Jamjuri
mendekati Kasnah. Usaha yang mengkhawatirkan sekaligus
menakjubkan bagi mereka.
Kasnah bukan anak orang terkaya. Tetapi keluarganya memi-
liki tanah. Sejak bapaknya meninggal, gadis ini memegang ken-
dali pengerjaan sawah, dibantu oleh pamannya. Orang tidak
pernah mengetahui dengan pasti umur masing-masing pendu-
duk. Jamjuri hanya tahu bahwa Kasnah lulus dari kelas enam
dan pergi ke kota memasuki pendidikan guru ketika dia sendiri
naik ke kelas lima. Dan di waktu gadis itu pulang untuk mengu-
bur bapaknya, semalaman Jamjuri tidak bisa tidur. Matanya
dipaksa-paksa dipejamkan, namun terlalu berat digantungi kese-
luruhan bayangan Kasnah.
Sedari masa kanak-kanak, Jamjuri mengagumi orang berada
itu. Bajunya selalu bersih. Rambutnya yang kribo menggembung
di atas kepala bagaikan bulu ayam mutiara, bertitik-titik berki-
lauan terkena cahaya. Suaranya renyah, tidak jarang menegurnya
di sudut dapur ketika Jamjuri menerima sekadar upah makanan
setelah menyapu latar. Mereka sempat berbicara mengenai peli-
haraan kambing atau sarang ketilang di pohon klengkeng. Tidak
jarang Kasnah memintanya memanjatkan pohon untuk memetik
beberapa buah mangga lalijiwo. Atau mengambil kelapa muda
di pinggir kebun klengkeng, lalu berdua minum airnya di lin-
dungan pepohonan. Sebetulnya mereka tidak perlu bersem-
bunyi. Tetapi berada di lingkungan yang senyap hanya berdua
demikian, Jamjuri merasa seolah-olah itulah rahasianya. Seluruh
keluarga Kasnah selalu mengetahui di mana mereka berada.
103
Barangkali karena dia dipandang terlalu muda. Kasnah sendiri
selalu memerintahkan pekerjaan kepadanya dengan sikap umur
yang lebih tua. Bukan sebagai atasan terhadap pegawainya.
Kasnah tidak meneruskan sekolahnya. Selama beberapa waktu
tinggal di rumah. Lalu kelihatan turut pamannya ke sawah, ke
kebun. Tiba-tiba mengikuti laki-laki itu ke kota. Semakin hari
semakin tetap kehadirannya, menjadi bagian dari kegiatan peng-
hasilan desa. Tidak lagi membuntuti sang paman, melainkan
sendirian. Dan semakin hari semakin nyata pula dari pembicara-
an penduduk bahwa Kasnah adalah perempuan yang bisa meng-
awasi pengerjaan tanah bapaknya. Banyaknya hasil padi dan
kangkung yang dikirim ke kota tidak menurun karena ditinggal
mati orang tua. Di mata orang desa, Kasnah mencapai keduduk-
an tersendiri. Martabat perempuan muda yang disegani tidak
karena memiliki harta, tetapi karena bisa bekerja seperti laki-
laki. Belum kawin lagi!
Tahun-tahun terus bertambah. Ini tiba-tiba berubah menjadi
cela atau kekurangan. Bagi wanita di desa, bagaimanapun tinggi
sanjungan kepadanya, umur merupakan syarat utama untuk
norma-norma kehidupan normal di lingkungannya: kawin dan
beranak. Berkali-kali tersebar berita ada lamaran dari haji di
desa tetangga. Di kampung sendiri tak ada yang berani memi-
nang. Dan haji-haji itu biasanya dikabarkan akan menjadikannya
istri kedua atau ketiga. Lengkaplah gambaran sekitar yang biasa,
yang wajar bagi kehidupan desa yang damai dan tenteram.
Namun, kabar itu kabur begitu saja tanpa diketahui dari
mana asalnya. Kasnah tetap sendirian. Mondar-mandir dari desa
ke kota. Mengurus penjualan dan pengiriman sendiri. Di waktu-
waktu panen, halaman rumahnya yang luas tertutup oleh
ombyokan5) tangkai keemasan, kadang bertebaran, kadang ber-
tumpukan setinggi atap rumah. Sekali-sekali Kasnah tampak di
tengah kekuningannya, berbicara atau memberi petunjuk. Suara-
nya nyaring dan pasti terdengar dari semua bagian kelebaran
5) ikatan besar
104
karas. Di saat lain, kehadirannya disaksikan orang di ladang
yang menjajari juluran sungai desa. Kakinya setengah tenggelam
menyatu dengan batang-batang kangkung. Atau tiba-tiba orang
melihatnya sigap turun dari truk yang tinggi. Sebelum menutup
pintu kembali, memberikan kata-kata perintah akhir kepada
sopir. Selagi ia berjalan ke pedalaman kampung, kendaraan berisi
ikatan-ikatan kangkung telah mengarah ke pasar kota.
Kasnah selalu menjadi tarikan pandang di desa. Dia dianggap
luar biasa sebagai keturunan perempuan yang berhasil meng-
awetkan peninggalan keluarga. Perawan berada, gesit namun
bersikap biasa. Menegur dan bergaul seperlunya, tanpa menge-
sankan kelainan yang menonjol. Semuanya sederhana, tidak
disertai kepongahan ataupun keakraban.
Mata Jamjuri tidak ketinggalan merayap di mana gadis itu
berada. Hubungannya tidak pernah berubah. Tetap sebagai pe-
nolong keluarga itu meskipun bapak Kasnah telah meninggal.
Kembalinya calon guru ke desa semakin membuat Jamjuri meng-
aguminya. Semakin rapi gadis itu. Umur-umur yang membikin ke-
duanya menjadi remaja dan dewasa hanya ditandai oleh pertum-
buhan badan dan lekuk tubuh. Perasaan dan kalimat yang tampak
tidak menunjukkan perbedaan. Mereka tetap bergaul dan saling
berbicara seadanya.
Suatu kebetulan yang luar biasa kemudian membikin Jamjuri
terlibat erat dengan semua penghasilan tanah si gadis. Ini dise-
babkan karena perusahaan yang sejak dulu disewa keluarga Kas-
nah mempercayakan satu dari kendaraan transportnya kepada
Jamjuri sebegitu dia mendapat SIM.
Sama-sama sedesa, kenal sejak masa kecil, diteruskan dengan
angkutan-angkutan beberapa kali, Jamjuri tiba-tiba menemukan
dirinya menjadi orang kepercayaan. Dia mengganti Kasnah
sebagai penerima bayaran dagangan. Dari tangan ke tangan,
menjadi perantara, penghasil ke tengkulak. Tetapi cukupkah itu
untuk menenteramkan rindunya? Pandangnya yang berkobar
tidak pernah tertanggal dari bayangan Kasnah. Sewaktu orang
kampung menyaksikan gadis itu berpindah dari satu tempat ke
105
tempat lain, melihat lengannya yang terulur menunjuk ke pohon-
pohon yang pemetikan buahnya harus didahulukan, mata
Jamjuri tersangkut ke ayunan pinggul pujaannya. Dan malam-
malam di atas amben atau di belakang setir truknya, dia mengkha-
yalkan mengusap betis yang bagaikan biji-biji padi hasil ta-
nahnya, mentes6) berisi. Karena tidak bisa tidur, jika dia membalik
bantal, permukaan kapuk yang sejuk tertempel di bibir mem-
berinya bayangan meneguk bibir Kasnah, basah segar bagaikan
hijaunya kangkung yang baru disiram air sendang pegunungan.
Tetapi itu semua tidak memberinya kepuasan pada hatinya yang
dahaga.
Dalam perjalanan dari kota ke kota, dia terdesak oleh kebu-
tuhan. Dia membayar perempuan-perempuan di pinggir pasar
atau di pojok gudang pelabuhan. Beberapa waktu dia bisa menge-
labui dirinya. Di saat tangannya menggenggam buah dada pe-
rempuan lain, terasa aliran hangat menelusupi kulit telapak yang
peka, debaran jantung yang mengeras. Namun, itu tidak lama
berakhir. Semakin dia berusaha memuaskan birahinya, semakin
dia terjebak jauh ke dasar jurang bayangan. Seringkali terjadi,
di waktu bersenggama, pikirannya membayangkan Kasnah se-
bagai pasangannya. Dan Jamjuri lemas tanpa mencapai puncak
kepuasan.
Dia bahagia bekerja bersama perempuan berharta di kam-
pungnya itu. Meskipun merana oleh gangguan rindu yang tak
terucapkan. Pada suatu hari, kemeranaannya itu menjadi derita
yang dahsyat ketika Suro muncul sebagai saingan. Dari bengkel,
Suro pindah menjadi sopir. Perusahaan yang sama mengirim
dua truk atau ditambah yang lain-lain lagi di waktu musim panen
sedang giat-giatnya. Padi harus mencapai penggilingan secepat
mungkin, tergantung kekeringan udara serta gudang penyim-
panannya.
Suro merupakan ancaman bagi Jamjuri. Laki-laki ini mem-
punyai bintang yang berbeda. Memiliki cara-cara merengek yang
6) penuh, bernas
106
bisa merayu hati siapa pun. Termasuk wanita-wanita berharta
seperti Kasnah. Dan yang lebih-lebih mengecutkan harapan
Jamjuri ialah paman Kasnah yang sedari dahulu kelihatan
menyukai Suro. Dimulai dari zaman mereka masih anak-anak.
Jamjuri semakin menyatakan sendiri betapa mengecilnya kebe-
runtungan yang dimilikinya. Sedikit demi sedikit dia membe-
ranikan diri memperlihatkan perhatian yang lebih kepada
Kasnah. Di waktu menerima persen setelah menandatangani
penerimaan bayaran dagangan, dan truk angkutannya melewati
Salatiga, dia membeli bibit mawar. Lalu secara kilat disinggah-
kannya ke rumah Kasnah. Katanya untuk ditanam di petak
kembang di bawah kamar gadis tua itu. Karena memang Kasnah
sudah mendapat sebutan perawan tua di desa mereka. Panggilan
atau tambahan yang dicantumkan orang desa, tetapi yang tidak
memberi pengaruh sesuatu pun bagi Jamjuri. Dia bahkan
semakin ingat bahwa Kasnah menyukai enting-enting gepuk
dan keripik paru kota Salatiga.
Oleh karena itu, semakin sering Jamjuri menghentikan
kendaraan di sana untuk membeli makanan tersebut walau ha-
nya satu bungkus pun. Kiriman itu sering kali hanya ditinggalkan
di serambi gadis impiannya. Sikap dan perbuatan tetap sederha-
na. Tapi sekarang, di kala Kasnah memandang kepadanya, mata
Jamjuri lebih berani menunjukkan nyala kerinduannya. Sekali-
sekali, dengan sadar atau tidak, dibiarkannya pandangnya terpe-
leset turun ke dada Kasnah. Mengedar leluasa di sana untuk
kemudian kembali tertambat di wajah. Lebih dari satu kali
Jamjuri mengira menemukan warna semburat merah di pipi
gadis berumur itu. Seolah-olah tersipu akan menundukkan
kepala, namun tidak jadi, memalingkan muka memandang ke
tempat lain.
“Kita ketemu di kampung, Jam,” suara Suro menyadarkan
Jamjuri.
“Di mana?” Jamjuri tergagap.
“Di desa.”
“Kukira kau ke Boyolali,” kata Jamjuri mencari penjelasan.
107
“Tidak jadi. Kemarin memang ditentukan begitu. Pagi ini
banyak perubahan.”
“Lalu kau ke mana?”
“Aku ke Ambarawa.”
Jamjuri tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Bawa apa?”
“Muatan dibawa ke Magelang. Belum tahu apa.”
“Pulangnya bawa apa?”
“Barangkali kosong dari sana. Sebab itu akan bisa mampir
ke rumah. Majikan tentu setuju. Siapa tahu di kampung ada
muatan. Sayuran atau buah. Biasa, kan?”
Ya, itu memang sering dilakukan. Di antaranya tentu saja
hasil tanah Kasnah. Jamjuri semakin murung, tidak menyahut.
“Di kantor, mereka tahu bahwa sisa panen di lumbung Kas-
nah masih ada. Barangkali dia ingin mengirimnya ke kota seka-
lian. Biar aku yang membawanya.”
Suara Suro kedengaran seakan-akan disengaja membikinnya
iri dan mendendam!
Sinyal di pelabuhan mengawang di udara. Kapal keruk yang
pertama akan berangkat. Seorang demi seorang bangkit, mem-
bayar, pergi. Suro berkata lagi,
“Hitung saja ya, Mak.”
Jamjuri menunggu beberapa waktu, kemudian mengikuti
keluar. Di gudang, petugas memberi tahu,
“Ada perubahan, Jam, Suro yang ke Salatiga. Pindahannya
tidak jadi. Satu truk sudah cukup, biar saja. Kamu ke Pekalongan
bawa mori. Ada tiga ton. Bawa kernet dan satu tenaga lagi supaya
cepat selesai. Harus pulang malam nanti. Truk dipakai lagi
besok.”
Jamjuri diam. Terlalu sakit hatinya! Terlalu kecewa! Dia tetap
membungkam ketika menerima lembaran kertas berisi alamat
dan daftar barang yang harus diangkut. Sementara menunggu
siapnya muatan, dia termenung-menung di bangku luar.
Lalu lintas mulai lahir di jalan yang menjajari kanal. Langit
cerah dan bening. Sisa udara sejuk karena hujan kemarinnya
108
terangkat perlahan bersamaan dengan naiknya matahari di balik
lindungan gedung-gedung di timur. Kegiatan pelabuhan akan
segera terasa. Bunyi gericik air tercurah menandakan bahwa
penghuni perahu-perahu di kanal juga mulai bangun. Dalam
keremangan, satu-dua dari mereka bergoyang. Pengeras suara
masjid terdekat memuntahkan teriakan azan.
Dada Jamjuri serasa panas. Membara oleh rindunya ingin
melihat dan memeluk Kasnah. Dia semakin percaya bahwa kebe-
runtungan Suro sejalan dengan kemalangan dirinya. Kegusaran
yang merajai hatinya membikin dia memutuskan akan berbuat
sesuatu yang luar biasa: dia akan melamar Kasnah. Dia harus
berani berbuat demikian. Karena laki-laki seperti Suro yang di-
buntuti segala macam keuntungan kerap kali juga memiliki
kemudahan bergaul dan memikat perempuan. Kasnah si gadis
tua bisa terperangkap oleh kemanisan bahasanya. Jamjuri tidak
akan merelakannya. Dia tidak akan bisa memaafkan diri jika
tidak mencoba keberuntungannya mengajukan lamaran.
Perjalanan ke Pekalongan lancar tanpa rintangan. Gulungan
kain putih harus segera diturunkan, malam itu juga harus kem-
bali ke Semarang. Sementara mencari muatan lain, baru larut
mendekati dini hari Jamjuri menyetir kembali ke kota pangkalan.
Tetapi dia sempat membeli sarung dan kain batik Jlamprang
Pekalongan. Hatinya dilumuri kemesraan serta kerinduan yang
meluap-luap ketika memilih yang kedua. Dia akan meminta
tolong istri rekannya di pelabuhan supaya mencarikan bahan
kebaya sepadan dengan warna batik tersebut.
Hujan deras menyertainya ketika pulang ke kota. Sepanjang
jalan kepalanya dipenuhi rangkaian kalimat yang hendak diucap-
kan di hadapan Kasnah. Diatur dan disusun. Tidak jadi, diganti
lain, yang barangkali lebih cocok serta mengena di hati wanita.
Antara bahagia, harapan dan kekecutan hati yang waswas, Jam-
juri membujuk diri: harus melamar! Harus berani melamar!
Biarlah ada kepastian ditolak atau diterima. Dengan keberanian
itu, dia akan mengetahui nasibnya yang benar-benar malang.
Daripada terus-menerus dirongrong oleh ketidaktentuan yang
109
menggerogoti keseimbangannya sebagai manusia dan laki-laki.
Sore berikutnya, dia beristirahat, mengambil dua hari tanpa
bayaran. Dia menumpang kendaraan rekan sampai Ungaran,
lalu naik bus ke pinggir jalan Ambarawa. Celana panjang dan
hem yang dikenakan hari itu baru keluar dari binatu. Minyak
brilkrim sempat dipesankan kepada kawan sepondokan,
dipilihkan botol yang jangan terlalu tua supaya bau wanginya
masih tajam. Kesan segar dan kebersihan memancar dari dirinya.
Ketika masuk ke halaman yang dahulu sering disapunya,
Jamjuri ingin berbalik pulang ke gubuk emaknya. Tetapi
seseorang kelihatan keluar dari samping rumah. Dia bertanya
apakah Kasnah ada.
“Ada. Sedang marah-marah,” sahut pembantu. “Muatan padi
satu lumbung habis terjun ke jurang dekat Grabak!”
Dasar sial! Rupa-rupanya itu bukan waktu yang tepat Jamjuri
datang. Apalagi mengajukan lamaran!
Ya sudah! Aku kembali besok pagi saja,” katanya sambil
beranjak akan menuju pintu halaman.
Kasnah tiba-tiba muncul di pigura pintu ke ruang dalam.
“Siapa itu?” serunya, segera diteruskan, “Ah, kau Jam! Kema-
ri, silakan masuk!”
Ragu dan khawatir Jamjuri mendekat. Duduk di depan wanita
yang dirinduinya, tiba-tiba semua rangkaian kalimat menghilang
dari kepala. Malahan Kasnah yang berbicara. Suaranya jelas penuh
penyesalan karena lama Jam
selalu orang lain yang dikirim perusahaan. Akhirnya, Kasnah
mengutuk Suro.
“Aku menuruti usul Paman. Persediaan padi yang terakhir
diangkut pagi-pagi tadi. Suro berhenti minum kopi di Grabak.
Entah parkirnya kurang baik, atau rem tangannya yang blong,
truk mundur menggelincir masuk jurang! Tenggelam ke dalam
air semuanya!”
Jamjuri mendengarkan. Apakah yang bisa dikatakan dalam
suasana seperti itu? Dia merasa diri benar-benar sial! Bungkusan
kain Jlamprang beserta kebaya dan sarung terletak di pangkuan.
110
Sebentar-sebentar tangannya mengelus dan memijitnya tanpa
mengetahui apa yang harus atau setepatnya dikerjakan.
“Apa itu, Jam?” seketika itu Kasnah bertanya, matanya ter-
tuju ke pangkuan Jamjuri.
“Oh, ini? Anu, eh, kain batik Pekalongan dan bahan kebaya.”
“Kain Pekalongan?” serunya kenes manja. “Buat aku?”
Dengan gerakan sederhana, lengan Kasnah terulur, telapak ta-
ngan terbuka siap menerima. Jamjuri tidak bisa berbuat lain dari-
pada menyerahkan bungkusan. Dan merasa perlu menjelaskan,
“Sarungnya buat Paman.”
Sewaktu Kasnah membuka kertas, dia masih menambahkan,
“Untuk Lebaran. Mudah-mudahan Yu Kas menyukainya!”
Kasnah menyukainya.
Wajahnya berseri memandangi Jamjuri, beralih ke kain yang
dipegang dan digelar, berpindah lagi ke arah tamunya. Lalu pera-
wan itu berkata bahwa dia bosan sendirian memikiri hasil tanah.
Capek rasanya hilir mudik mengurusi tengkulak-tengkulak di
kota, menghitung pendapatan.
“Kalau kita kawin, kamu saja yang mondar-mandir. Aku di
rumah mengurus panen dan penyimpanannya.”
Jamjuri tidak mendengarkan hal lain-lain lagi yang mengiringi
kalimat itu. Matanya menelan bibir yang terus bicara. Pandang-
nya membakar keseluruhan perempuan yang telah sekian lama
membayanginya. Dengan susah payah dia menahan diri untuk
tidak bangkit lalu merengkuhnya. Dia menggigit lidah menyem-
bunyikan getar birahinya.
“Bagaimana Jam? Kita tunangan dulu, kamu tinggal di kamar
depan itu. Sesudah panen yang akan datang kita kawin. Setuju?”
“Setuju!” sahut Jamjuri tanpa menunggu.
Apa pun yang harus disetujui, dia kini merasa bahwa keber-
untungan berada di pihaknya.
Empang Lembang, 1982
111
Biografi Singkat
Nh. Dini dilahirkan di Semarang, 29 Februari 1936. Berpendidikan
SMA Bagian Sastra (1956), Kursus Pramugari Darat GIA Jakarta
(1956), dan Kursus B-I Jurusan Sejarah (1957). Tahun 1957-1960
ia bekerja di GIA Kemayoran, Jakarta. Setelah menikah dengan
seorang diplomat Prancis, berturut-turut ia bermukim di Jepang,
Prancis, dan Amerika Serikat. Sejak Tahun 1980, ia kembali ke In-
donesia, dan kini menetap di Semarang.
Ia mulai menulis sejak tahun 1951. Karya-karyanya antara
lain: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal
(1973), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), Namaku Hiroko
(1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang
Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981),
Amir Hamzah Pangeran dari Seberang (1981), Kuncup Bersen (1982),
Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Orang-Orang Tran (1985),
Pertemuan Dua Hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Tirai Menurun
(1993), Panggilan Dharma Seorang Bhikku (1997), Tanah Baru, Tanah
Air Kedua (1997), Kemayoran (2000), Jepun Negerinya Hiroko (2002),
Monumen (2002), Istri Konsul (2003), dan Dari Parangakik ke Kam-
puchea (2003). Terjemahannya: Sampar (karya Albert Camus, 1985).
Ia pernah menjadi pemenang Lomba Penulisan Naskah Skenario
untuk Radio se-Jawa Tengah (1955) dan mendapat hadiah pertama
untuk Lomba penulisan Cerita Pendek dalam bahasa Prancis se-
Indonesia untuk cerpennya “Sarang Ikan di Teluk Jakarta” (1988).
Ia pun mendapat Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI (1989) dan memperoleh Piagam Penghargaan Upa-
pradana dari Pemda Tingkat I Jawa Tengah (1991).
Studi mengenai Nh. Dini dan karyanya: Sariyati Nadjamuddin-
Tome, Isu Wanita dalam La Barka (1997) dan Th. Sri Rahayu Prihatmi,
Nh. Dini: Karya dan Dunianya (1999).
112
Dua Dunia
Dunia fiksi Nh. Dini adalah dunia yang kompleks namun
narasinya sederhana. Gaya berceritanya bertendensi natural.
Tokoh-tokohnya bergerak dan berpikir dalam aliran alamiah
lingkungan dan batasan problem mereka. Hal ini dapat
dimengerti sebab mereka yang dihadirkan dalam fiksi Dini
pada umumnya adalah orang-orang sederhana, orang-orang
kebanyakan, orang-orang yang hanya berhadapan dengan
persoalan primer untuk bertahan hidup dan memikirkan
harapan serta beban dalam jangka pendek. Yang khas pula dari
pola penceritaan Nh. Dini ialah selalu sudah disiapkan bagi
pembaca suatu klimaks atau kejutan di akhir cerita, seakan-
akan untuk klimaks itulah ceritanya disusun.