The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

e book ini adalah kumpulan makalah sirah nabawiyah secara online dan gratis

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by arinijauharoh21, 2022-12-23 17:13:04

Sirah Nabawiyah

e book ini adalah kumpulan makalah sirah nabawiyah secara online dan gratis

Keywords: #ebook #sirahnabawiyah #kisahnabi

berkata, “(itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang
terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah
dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.”(Al-Furqan :
4-5)
c. Menandingi Al-Qur’an sebagai dongeng-dongeng orang-orang
dahulu dan menyibukkan manusia dengan dongeng-dongeng
itu agar mereka meninggalkan Al-Qur’an.
Kaum quraisy selalu berusaha untuk menumpas dan menindas
agama Islam dengan menempuh jalan apa saja, salah satunya
dengan memboikot Bani Hasyim. Isi piagam pemboikotan tersebut
antara lain: mereka memutuskan segala bentuk hubungan dengan
Bani Hasyim seperti pernikahan, silaturrahmi dan jual beli.41

2. Berbagai Macam Tekanan
Orang-orang kafir Quraisy menerapkan cara-cara yang

disebutkan di atas sedikit demi sedikit, untuk menghentikan dawah
setelah disebarkan secara terang-teranggan sejak ermulaan tahun
keempat dari nubuwah. Para kaum Quraisy memutuskan untuk
memerangi Islam dan menganggu beliau menyiksa orang-orang
yang masuk Islam dikarenakan cara di atas kurang efektif dalam
menghentikan dakwah beliau.

Sebelum itu Abu Lahab sudah menikahkan kedua anaknya,
Utbah dan Utaibah dengan kedua putri beliau yaitu Ruqayyah dan
Ummu Kulstum. Tepatnya sebelum Nabi diutus sebagai Rasul.
Tetapi setelah itu Abu Lahab menyuruh anak anaknya untuk
menceraikan istrinya masing- masing dengan disertai ancaman
keras. Tidak ada pilihan lain bagi keduanya kecuali menceraikan
istrinya.

Begitu pula yang dilakukan tetangga-tetangga beliau yang
lain, yang selalu menganggu selagi beliau ada drumah. Menurut
Ibnu Ishaq, orang orang yang biasa menyaiti beliau saat dirumah
adalah Abu Lahab,Al-ahkam bin Abul Ash bin Umayyah , Uqbah
bin Abu Mu’ith, Adi bin hamraats-tsaqafi, Ibnul Ashda’ Al-
hudzali. Semuanya merupakan tetangga beliau. Tak seorang pun
yang masuk Islam selain Al-Ahkam bin Abul Ash.

Di antara mereka ada yang melemparkan isi perut seekor
domba selagi beliau sedang shalat. Diantara mereka ada juga yang
meletakan nya di atas periuk beliau

41 Patmawati, “Sejarah Dakwah Rasulullah di Mekkah dan Madinah” dalam
Jurnal At-Taghyir (Padang Sidempuan: UIN Syahada Padangsidimpuan) vol.

48

Al-Bukhari meriwayatkan dari ibnu mas’ud bahwa suatu
kali Nabi SAW sedang shalat di dekat Ka’bah, sedangkan Abu
Jahal dan rekan-rekannya sedang duduk-duduk. Kemudian Uqbah
bin Abu Mu’ith meletakkan kotoran unta di antara pundak beliau
disaat beliau sedang sujud.

Umayyah bin Khalaf ketika melihat Rasulullah, ia
mengumpat dan mencela Rasulullah. Tentang dirinya, turunlah
surah Al Humazah artinya orang yang mencela orang lain secara
blak-blakan.42 Gangguan dan sisksaan-siksaan seperti ini tidaklah
begitu berarti bagi diri rasulullah karena beliau memiliki
kepribadian yang tidak ada duanya,berwibawa dan dihormati setiap
orang, umum maupun khusus, selain itu beliau juga masih dapat
perlindungan khusus dari abu thalib,orang yang paling disegani dan
di hormati di mekah.

Hal ini berbeda dengan yang dirasakan oleh orang-orang
muslim, terutama lagi bagi mereka yang lemah. Semua itu sangat
terasa pahit dan berat. Pada saat yang sama setiap kabilah pasti
siapapun ynag condong terhadap islam dengan berbagai macam
siksaan. Setiap kali Abu Jahal mendengar seseorang masuk Islam,
dia memperingatkan, menakut-nakuti, menjanjikan sejumlah uang
dan kedudukan jika orang tersebut dari kalangan yang terpandang
.adapun terhadap orang yang awam dan lemah makan akan disiksa.

Utsman bin Affan pernah diselubungi tikar dari daun kurma
oleh pamannya, lalu diasapi bawahnya. Tatkala ibu Mus’ab bin
Umair tahu anaknya masuk islam, dia tidak diberi makan dan di
usir dari rumah. Bilal, yang saat itu menjadi budak Umayyah bin
Khalaf, pernah dikalungi tali dilehernya, lalu diserahkan kepada
anak-anak kecil lalu mereka mengaraknya di pegunungan mekah.
Lehernya menampakan luka bekas jeratan tali itu, karena Umayyah
mengikatnya dengan kencang-kencang. Setelah itu dia disuruh
duduk di bawah terik matahari dan dibiarkan kelaparan.
Penyiksaan yang paling keras yang dialami oleh Bilal adalah ketika
dia dibawa keluar selagi matahari tapat ditengah ufuk, lalu
ditelentangkan di atas padang pasir Mekkah. Ummayah meminta
batu besar lalu meletakannya di atas dada bilal sambil memaksanya
untuk menyebutkan berhala yaitu Latta dan Uzza. Bilal hanya
mampu berucap “ahadun,ahad!” sampai akhirnya Abu Bakar
melihat Bilal dan membelinya dari Ummayah untuk dibebaskan .43

42 Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, hal.165.
43 Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, hal. 170.

49

Ammar bin Yasir, budak Bani Makzum, masuk Islam
bersama ibu dan bapaknya. Orang-orang musyrik yang dipimpin
Abu Jahal menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas
membara, lalu menyiksa mereka. Nabi lewat selagi mereka disiksa.
Beliau bersabda “ sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya
tempat yang sudah dijanjikan bagi kalian adalah surga” Yasir
meninggal dalam penyiksaan itu dan ibu Ammar, Sumayyah
ditikam oleh Abu Jahal dengan menggunakan tombak hingga
meninggal dunia. Dialah wanita pertama yang syahid Islam.

Abu Fakihah,yang nama aslinya Aflah , budak Abdud Dar,
diikat kakinya dengan ikatan yang kencang,lalu dia diseret di atas
tanah .Khabbab bin Al-Aratt, budak milik Ummu Ammar binti
Siba’al-kuza’iyah,juga mendapat berbagai macam penyiksaan.
Mereka menjambak rambutnya kuat-kuat. Mereka juga
membelitkan tali dilehernya lalu menelentangkannya ke tanah
hingga beberapa kali diatas pasir yang menyengat.

Abu Bakar membeli semua budak yang masuk Islam itu dan
memerdekakan mereka sebagaimana dia telah memerdekakan Bilal
dan Amir bin Fuhairah.
Orang-orang kafir Quraisy biasa mengikat sebagian sahabat di
tepat gembalaan unta dan sapi, lalu melemparkannya di atas
padang pasir yang menyengat, lalu melentangkan nya di atas pasir
yang sangat panas. Sebagian lain ada yang dikenakan pakaian besi
dan dilentangkan di atas pasir yang sangat panas.

pada tahun keempat, Sa’ad bin Abi Waqash memukul
seorang pria musyrikin sehingga melukainya. Penyebabnya, ketika
itu para sahabat Rasulullah SAW. berkumpul di lembah-lembah
untuk melaksanakan shalat. Seorang pria kafir bersama
sekelompok orang Quraisy melihat mereka. Maka, orang-orang
kafir itu mencemooh para sahabat. Sa’ad memukul salah seorang
dari mereka sehingga darah mengalir dari lukanya. Itulah darah
pertama yang dialirkan dalam Islam.44

44 Muhammad bin Abdul Wahab, Mukhtashar Sirah Rasul, (Surakarta: Al-
Qowam, 2012) cet.1, hal.101.

50

C. Penutup

Dari pemaparan materi diatas, dapat disimpulkan sebagai
berikut:

1. Setelah Rasulullah berdakwah secara sembunyi sembunyi yang
kurang lebih selama 3 tahun, beliau mendapat perintah dari Allah
untuk berdakwah secara terang-terangan. Dimulai dari keluarga
terdekatnya, yaitu Bani Hasyim. Pertama kali, Rasulullah
mengundang sekitar 45 orang untuk dijamu dan mendengar
dakwah beliau, yaitu dakwah dan ajaran untuk masuk Islam.
Namun, pada saat Rasulullah ingin berbicara di forum, Abu Lahab
memotong pembicaraan beliau, dan akhirnya dakwah tersebut
gagal. Pada kedua kalinya, beliau mengundang mereka lagi dan
menyampaikan dakwahnya, kalo ini beliau mendapat dukungan
dari Abu Thalib, dan akhirnya berhasil untuk menyampaikan
dakwahnya. Pada akhirnya, karena dukungan dari Abu Thalib
tersebut, Rasulullah bisa melanjutkan dan memperluas seruan
dakwahnya. Rasulullah SAW adalah orang yang sangat gigih
dalam memperjuangkan.

2. Musim haji adalah musim dimana para penduduk yang berasal dari
luar Mekkah menuju kota Mekkah untuk berhaji, mereka akan
menginap di Mekkah selama beberapa hari. Kondisi inilah yang
dimanfaatkan oleh Rasulullah SAW untuk menyebarkan ajarannya
dan mengajak orang yang berasal dari luar kota Mekkah untuk
beriman kepada Allah. Namun, tidak sedikit dakwah Rasulullah
ditolak oleh mereka karena mereka terpengaruh oleh propaganda
dari kafir Quraisy yang meyakinkan mereka bahwa Rasulullah
adalah tukang sihir, orang jahat, dan penghina ajaran leluhur.

3. Pasar Ukaz adalah pasar yang terletak diantara Mekkah dan Thaif.
Pasar ini merupakan pasar yang dimana para pedagang dan
pebisnis mengadakan transaksi jual-beli. Para politisi mengadakan
lobi-lobi penting. Mereka merundingkan perdamaian, persekutuan,
atau bahkan membicarakan rencana peperangan. Disana pula para
penyair dan orator unjuk kemampuan, membacakan untaian
kalimat indah yang mereka susun sekaligus mengungkapkan isu-
isu hangat yang sedang terjadi. Namun setelah datang Islam, Ukaz
tidak lagi semeriah masa sebelumnya, dikarenakan dua hal yaitu ;
Abdulkah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma mengatakan, "Ukaz
adalah tempat yang istimewa dan tempat berniaga di masa
Jahiliyah. Ketika Islam datang, orang-orang meninggalkannya

51

hingga Allah menurunkan ayat 198 surah Al-Baqarah.Dan
penyebab yang kedua yaitu hijrahnya Rasulullah ke Madinah.
4. Penentangan orang Kafir Quraisy terhadap kenabian Nabi
Muhammad SAW dilakukan dengan beberapa cara, yaitu; pertama
Ejekan, penghinaan, olok-olok dan penertawaan. Kedua,
Menjelek-jelekkan ajaran Rasulullah SAW. Ketiga, menandingi
Al-Qur'an sebagai dongeng orang terdahulu. Selain itu, mereka
juga melakukan banyak tekanan serta Penindasan terhadap
Rasulullah dan orang-orang yang telah beriman kepada Allah.

Bibliografi
Nasriah, Siti. (2016). “Dakwah Pada Masa Nabi

Muhammad SAW.” dalam Jurnal Tabligh. (Makassar: UIN
Alauddin Makassar) vol.17.No.2

Antonio, Muhammad Syafi’i. 2010. Ensiklopedia
leadership & Manajemen Dakwah. Jakarta: Tazkia Publishing.

Choirin, Muhammad. 2021. “Pendekatan dakwah Nabi
Muhammad SAW. di Era Makkah dan Relevansinya di Era
Modern” dalam Jurnal Misykat Al-Anwar. (Jakarta: Universitas
Muhammadiyah Jakarta) vol.4.No.2

Shihab, Quraisy. 2011. Membaca Sirah Nabi Muhammad
SAW dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih. Jakarta:
Lentera Hati.

Jauhari, Qomi Akit. 2011. “Perkembangan Sastra Arab
Pada Masa Jahiliyyah” dalam Jurnal Lingua Scientia. (Malang:
UIN Maliki Malang) vol.3.No.3

Fauzi, Rahmat.(2018). “Prospek Hukum Islam Di Bidang
Penguatan Moneter Dengan Pemberlakuan Mata Uang Dinar dan
Dirham” dalam Jurnal Jurnal Cendikia Hukum. (Payakumbuh:
STIH Putri Payakumbuh) vol.3.No.2

Mubarakfuri, Shafiyurrahman. 2013. Sirah Nabawiyah.
Jakarta: Ummul Qura’.

Patwawati. 2016. “Sejarah Dakwah Rasulullah di Mekkah
dan Madinah” dalam Jurnal At-Taghyir. (Padang Sidempuan: UIN
Syahada Padangsidimpuan) vol.16

Wahab, Muhammad bin Abdul. 2012. Mukhtashar Sirah
Rasul. Surakarta: Al-Qowam.

52

Diplomasi Quraisy dan Pencarian Suaka Politik ke Habasyah

Oleh :
(1) Puput Meinanda
(2) Kamaria Suhrah
(3) Nur Hafshoh Berliantini

A. Pendahuluan
Sebagai seorang pembawa risalah dari tuhan, sudah menjadi

kewajiban menyampaikan pada umat manusia apapun dan bagaimanapun
resikonya. Itulah ajaran yang di wasiatkan pemimpin kita ,pemimpin umat
manusia ( umat Islam). Ejekan, cemooh, fitnah telah mewarnai perjalanan
dakwah Rasulullah SAW,Gangguan dari kaum musyrikin yang begitu
hebat sehingga membuat Rasul dan sahabat kadang patah semangat dan
menurun kadar kekuatan iman mereka. Tapi sebagai ibrah yang akan
menjadi pedoman umat manusia Allah telah menjaganya dari tipu daya
dunia.

Untuk memperoleh dan mempertahankan keimanan serta dasar-dasar
agama. Hijrah merupakan langkah yang baik dan harus di tempuh dalam
mencapainya. Manusia yang hakekatnya mempuyai perasaan cinta dan
takut yang menyebabkan manusia memiliki kecenderungan membutuhkan
sandaran pada kekuatan yang mampu membuat hatinya tenang. Karena
perasaan inilah kaum muslimin terdorong untuk melakukan hijrah, maka
demi memperkuat akidah mereka sangat antusias terhadap perintah Allah
dan Rasul-Nya dalam mempertahankannya dengan gigih setiap asasnya.
Hijrah merupakan sunnatullah yang berlaku bagi para Nabi dan Rasul
sejak zaman Nabi Adam as; termasuk Nabi yang lain. Nabi Nuh as dengan
kapal besar mengangkut umatnya yang beriman (QS. al-Qamar: 10-14).
Hijrah Nabi Musa as pada waktu dan tempat yang di tetapkan Allah
terhadap keadaan Musa as (QS. ad-Dukhan: 23-24). Nabi Luth as tentang
kaumnya (QS. al-Qamar:33-34)begitu juga pada masa Nabi Muahmmad
SAW.

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW adalah jihad terhadap
perlawanan kaum Musyrik demi menegakkan hukum Allah SWT atas
manusia waktu itu Setiap orang yang ingin memperjuangkan agamanya
tidak akan terlepas dari hijrah dan tidak pula merasa terpaksa
melakukannya, karena hijrah dapat menempatkan orang-orang mukmin di
bawah naungan Allah SWT. (QS. al-Anfal: 26).

53

B. Pembahasan
B.1. latar Belakang Para sahabat hijrah ke Abisinia /
Habasyah
Inilah kisah hijrah pertama kala Muslim terpaksa harus pergi
ke Abisinia (kekaisaran Ethopia) karena tekanan kaum Quraisy
yang sangat luar biasa. Sebagian kaum Muslim pada masa awal di
Makkah memilih meminta perlindungan ke Kaisar Abisinia,
Najasi. Dia memang penganut agama Kristen. Namun dia menolak
dan terus melindungi Muslim Mekah mesti utusan Quraisy agar
dia melepaskannya.
Gangguan terhadap kaum Muslimin makin menjadi-jadi,
sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa, dan semacamnya.
Waktu itu Nabi Muhammad menyarankan supaya mereka
terpencar-pencar. Ketika mereka bertanya kepadanya, “Kemana
mereka akan pergi?” . Mereka diberi nasihat supaya pergi ke
Abisinia yang rakyatnya menganut agama Kristen. Tempat itu
diperintah seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ.
Bumi terlalu jujur, sampai nanti Allah membukakan jalan untuk
kita semua.
Habasyah menjadi pilihan Nabi Muhammad SAW sebagai
negeri tempat para sahabat untuk berhijrah dikarenakan tempatnya
yang prospektif bagi kaum muslimin agar mendapatkan perlakuan
yang layak sehingga ketenangan serta kedamaian akan mereka
dapatkan dalam menjalankan ibadah-ibadah di dalamnya, selain
itu juga karena letaknya yang mudah dijangkau dan dapat di
tempuh dengan transportasi berupa perahu, mengingat bahwa kala
itu hanya terdapat perahu sederhana yang juga merupakan
trnaspostasi yang tersedia pada masa itu. Serta keberadaan sosok
raja yang adil dan bijkasana sehingga mampu memikat harapan
kaum muslimin untuk mencari suaka ke negeri tersebut, mengingat
mereka haus akan keadilam atas perlakuan orang-orang Quraisy
yang mengintimidasi selama ini.
Kaum muslimin yakin bahwa perjalanan hijrah tersebut adalah
sebuah ketentuan dari Allah, ketika kedzaliman terjadi diantara
umat manusia, maka janji Allah adalah nyata dengan memberikan
tempat yang lebih baik di dunia. Dan balasan lebih besar akan
menanti di kehidupan selanjutnya45 maka hikmah dan rahmat
Allah akan senantiasa menyertai46

45 Q.S . An-Nahl: 41
46 QS. Al-Baqarah: 218

54

B.2. Hijrah ke Habasyah yang pertama

Berbagai tekanan yang dilancarkan orang-orang Quraisy

dimulai pada pertengahan atau akhir tahun keempat dari

nubuwuah, terutama diarahkan kepada orang-orang yang lemah.

Hari demi hari dan bulan demi bulan tekanan mereka semakin

keras hingga pertengahan tahun kelima, sehingga Makkah terasa

sempit bagi orang-orang muslim yang lemah itu. Mereka mulai

berpikir untuk mencari jalan keluar dari siksaan pedih ini. Dalam

kondisi yang sempit dan terjepit ini, turun surah Al-kahfi, sebagai

sanggahan terhadap berbagai pertanyaan yang disampaikan orang-

orang musyrik kepada nabi SAW. Surat ini meliputi tiga kisah,

disamping di dalamnya terkandung isyarat yang pas dari Allah

terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman.

Kisah pertama, tentang Ashabul Kahfi yang diberi petunjuk

untuk hijrah dari pusat kekufuran dan permusuhan, karena

dikhawatirkan mendatangkan cobaan terhadap agama, dengan

memasrahkan diri kepada A‫ََل‬lِ‫ا‬la‫وا‬hٓ‫أْا‬.‫فًَق‬Fَ‫ْلَرف‬i‫ّل‬r‫ِّٰم‬m‫لْم ا‬a‫َرّْك‬nِِ‫ْما‬-‫ََن‬N‫نْو ا‬yْ‫د‬a‫بِم‬,‫اَّرَْعْتَحََتِزلْهتمَوْيوهَهيِْم ْئَوَلمَاكيَْمْع‬ ‫َِمواِِْذن‬

‫يَنْشْر لَك ْم َرُبّك ْم‬ ‫الْ َك ْه ِف‬

“Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka

sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam

gua itu, niscayab Rabb kalian akan melimpahkan Sebagian

rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang
berguna bagi kalian dalam urusan kalian” (Al-Kahfi:16)

Kisah kedua, tentang khidr dan musa, yang memberikan suatu

pengertian bahwa berbagai factor tidak selamanya bisa berjalan

dan berhasil dengan bergantung kepada riil semata, tetapi

permasalahannya bisa berbalik total tidak seperti yang di tampak.

Di sini terdapat isyarat yang lembut bahwa usaha memerangi

orang-orang muslim bisa membalikkan kenyataan secara total ,

dan orang-orang musyrik yang berbuat semena-mena terhadap

orang-orang muslim yang lemah itu bisa di balik keadaanya.

Kisah ketiga, tentang Dzil-Qarnain, yang memberikan suatu

pengertian bahwa bumi ini adalah milik Allah, yang di wasiatkan-

Nya kepada siapa pun yang di kehendaki-Nya dari hamba-hamba-

Nya, bahwa keberuntungan hanya diperoleh di jalan iman, bukan

di jalan kekufuran, bahwa dari waktu ke waktu Allah senantiasa

55

akan menurunkan orang yang siap membela dan menyelamatkan
prang-orang yang lemha, seperti Ya’juj dan Ma’juj pada zaman
itu, bahwa yang layak mewarisi bumu adalah hamba-hamba Allah
yang shalih.
Kemudian turun Az-Zumar yang mengisyaratkan hijrah dan

m‫و َن‬eْ‫ب‬nِy‫ ّٰص‬a‫ل‬t‫ا‬ak‫َّف‬aَ‫َو‬n‫ي‬b‫َا‬a‫َّن‬hِ‫ ا‬wٌ‫َعة‬a‫ِس‬b‫وا‬uَmِ‫ّٰلل‬iّ‫ا‬A‫ض‬lla‫ْر‬hَ‫َوا‬inٌ‫ة‬iَ‫َسن‬tid‫َح‬ak‫ا‬lَ‫ي‬aْ‫ن‬h‫ل ُّد‬s‫ا‬e‫ِه‬m‫ ِذ‬p‫ّٰهب‬it‫اْف‬.‫َِس‬F‫ح‬i‫ِْوا‬rm‫ِيَسن‬aْْ‫غَح‬nِْ‫ب‬-َ‫ا‬N‫هَنْم‬yْ‫َير‬a‫ْجِذ‬,ّ‫الََِل‬

“orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh
kebaikan. Dan bumi itu telah luas. Sesungguhnya hanya orang-
orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa
batas.” (Az-Zumar:10)

Rasulullah SAW, sudah tahu bahwa ashhamah An-Najasyi,
raja yang berkuasa di Habasyah adalah seorang raja yang adil, tak
bakal ada seorang pun yang teraniaya di sisinya. Oleh karena itu
beliau memerintahkan beberapa orang muslim hijrah ke habasyah,
melepaskan diri dari cobaan sambal membawa agamanya.

Pada bulan rajab tahun kelima dari nubuwah, sekelompok
sahabat hijrah yang pertama kali ke Habasyah, terdiri dari dua
belas orang laki-laki dan empat orang wanita, yang dipimpin oleh
Utsman bin Affan. Dalam rombongan ini ikut pula Sayyidah
Ruqayyah, putri Rasullah SAW. Beliau bersabda tentang
keduanya, “mereka berdua adalah penduduk Baitul-Haram
pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth”.

Dengan berjalan mengendap-endap ditengah malam, mereka
pergi menuju pantai, agar tidak diketahui orang-orang Quraisy.
Secara kebetulan saat mereka tiba dipelabuhan Syaiban, ada dua
kapal yang datang bertolak menuju Habasyah. Setelah orang-orang
Quraisy mengetahui kepergian orang-orang Muslim ini, mereka
segera mengejar. Tetapi tatkal mereka tiba di pinggir pantai, orang-
orang muslim sudah bertolak dengan selamat. Orang-orang
muslim hidup di sana dengan mendapat perlakuan yang baik.
Adapun diantara yang hijrah ke Habasyah tahap pertama adalah:

• Utsman bin Affan
• Ruqayyah (istri Utsman dan putri Nabi

Muhammad SAW)
• Abu Hudzaifah

56

• Sahlah binti Suhail bin Amr (istri Abu
Hudzaifah)

• Zubair bin Awwam
• Mush’ab bin Umair
• Abu Salamah
• Ummu Salamah binti Abu Umaiyyyah (istri

Abu Salamah)
• Utsman bin Madz’un
• Abdurrahman bin Auf
sampai di Habasyah mereka diperlakukan dengan baik oleh
raja Najasyi. Kemudian ditempatkan di Negash yang terletak
disebelah utara provinsi Tigray. Wilayah yang kemudian menjadi
pusat penyebaran islam di Habasyah.

B.3. Hijrah untuk kedua kalinya ke Abisinia/Habasyah
Pada bulan Ramadhan di tahun yang sama, Nabi SAW keluar

dari Masjidil Haram, yang saat itu para pemuka dan pembesar
Quraisy sedang berkumpul di sana. Beliau berdiri dihadapan
mereka, lalu seketika itu pula membacakan surah An-Najm.
Orang-orang kafir itu tidak pernah mendengarkan kalam Allah
yang seperti itu sebelumnya. Sebab redaksi mereka Panjang-
panjang seperti biasanya, memaksa Sebagian di antara mereka
untuk menjelaskan kepada Sebagian yang lain, seperti yang di
jelaskan Allah.
“Dan orang-orang yang kafir berkata, ‘Janganlah kalian
mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan
buatlah hiruk pikuk terhadapnya, supaya kalian dapat
mengalahkannya” (Fushshilat:26)

Tetapi tatkala dilantunkan bacaan surat ini, gendang telinga
mereka diketuk kalam ilahi yang indah menawan, yang
keindahannya sulit dilukiskan dengan suatu gambaran, mereka pun
diam terpesona, menyimak isinya dan semua orang khidmat
mendengarnya, sehingga tidak ada pikiran lain yang melintas di
dalam benak mereka. Tatkala beliau membacakan penutup surat
ini, hati mereka terasa terbang. Akhirnya beliau membaca ayat
terakhir, yang artinya:
“ Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)” . (An-
Najm:62)

57

Tak seorangpun dari mereka mampu menguasai dirinya, maka
mereka pun sujud seketika. Cahaya kebenaran telah masuk ke
dalam relung hati dan perasaan terdalam kumpulan orang sombong
dan suka mengumpat itu. Ketidakmampuan mereka menahan
sujud adlah bukti keagungan Allah SWT. Tetapi cercaan dari
beberapa orang Quraisy yang tidak ikut sujud waktu itu membuat
mereka berdusta pada Nabi Muhammad dan mengada-ngadakan
perkataan untuk memojokan beliau. Keahlian mereka membuat
kedustaan benar-benar nyata sebagai alasan untuk menutupi
sujudnya bersama Nabi. Tindakan seperti ini sangat biasa
dilakukan orang kafir Quraisy, maka tak heran atas kepiawaian
mereka mengarang cerita-cerita bohong.47

Kabar berita tentang orang-orang musyrik yang sujud bersama
Nabi terdengar oleh muhajirin di Habasyah, tetapi lebih di ada-
adakan sehingga membuat para Muhajirin ikut senang
mendengarnya. Kabar yang terdengar adalah bahwa orang-orang
kaum Quraisy telah masuk islam. Dengan mendengar kabar
tersebut maka mereka memutuskan berkunjung dan kembali ke
Mekkah pada bulan Syawal masih di tahun yang sama. Begitu
sebelum tengah hari dan akan mendekati Mekkah, mereka pun
tahu kebenaran atas kabar palsu itu. Maka sebagian dari mereka
berbalik arah bertolak menuju Habasyah kembali, sedangkan
sisanya memutuskan melanjutkan kunjungannya ke Mekah masuk
dengan cara menyelinap. Selain itu orang-orang Quraisy semakin
menindas orang-orang Muslim, maka tidak cara lain bagi Nabi
Muhammad untuk mereka agar melakukan hijrah kembali dengan
membawa pasukan hijrah yang lebih banyak menuju Habasyah.
Tentu saja dalam hijrah kedua ini lebih sulit daripada hijrah
pertama, karena kewaspadaan orang-orang Quraisy lebih
diperketat agar rencana kali ini dapat digagalkan.

Hijrah yang kedua ini lebih banyak dari sebelumnya, kali ini
julah orang yang ikut hijrah mencapai delapan puluh tiga orang
laki-laki dan delapan belas atau sembilan belas wanita. Akhirnya
mereka bertemu dengan Raja Najasyi, raja negeri Habasyah. Raja
Najasyi adalah laki-laki yang cerdas, baik cara berfikirnya,
mengenal Allah, serta berakidah. Disana mereka mendapat
kemanan lingkungan dan perlakuan yang baik yang merupakan hal

47 Tafhimul-Qur’an, 5/188. Makna inilah yang bisa disimpulkan para peneliti
mengenai hadis Gharaniq.

58

di dambakan atas penyiksaan yang selama ini menimpa kaum
muslimin.48

Rasulullah dan para sahabat yang tidak ikut ke Habasyah
menetap di Syi’ib keluar dari kota Mekah yang terletak di celah
bukit. Disitulah saksi biru atas perjungan Rasulullah bersama
keluarganya Bani Hasyim dan Bani Muthalib juga sisa kaum
muslimin yang tidak ikut ke Habasyah selama sekitar tiga tahun
mereka menetap disana dan terpencilkan oleh kaum Quraisy.

Mendengar bahwa orang-orang islam hijrah ke Habasyah
membuat para pembesar Quraisy semakin marah dan ingin
sesegera mungkin mengakhiri perbuatan yanng menurut mereka
(kaum Quraisy) telah menikuti ajaran baru yang bertentangan
dengan ajaran nenek moyang mereka yakini. Kesepakatan kaum
Musyrikin untuk membunuh Nabi dan menjemput orang-orang
muslimin agar kembali ke Mekah dengan tujuan agar tidak
semakin menyulitkan orang-orang Quraisy, maka diutuslah dua
orang dari mereka yaitu Amr bin Ash dan Umarah bin Walid
dengan tujuan membujuk Raja Najasyi agar mau mngembalikan
kaum muslimin dengan hadiah-hadiah yang mereka bawa. Ketika
Raja Najasyi bertanya kepada mereka apa maksud dari kedatangan
kemari,kemudian mereka menjawab kepada Raja Najasyi agar
orang-orang yang hijrah supaya dikembalikan dan dipulangkan
karena orang-orang ini adalah dari seorang pendusta yang telah
memecah belah kaum keluarganya. Maka dipanggillah pemimpin
orang Islam waktu itu oleh raja Najasyi. Bertanyalah sang raja
kepada pemimpin rombongan tersebut yaitu Ja’far bin Abi Thalib
“apakah ajaran yang dibawa oleh Nabimu itu ?” Ja’far menjawab
“Dia membawa kitab kepada kami, yang disana tertulis bahwa
manusia harus menjalankan keadilan dan kejujuran, tentu tidak
dibenarkan ketidakadilan membatasi umat manusia. Dia
menyerukan agar umat manusia berlaku baik, saling menolong
menyenangkan anak-anak yatim, dan mengesakan Allah”

Sungguh senang raja Najasyi dengan pernyataan Ja’far, tak
terkecuali saat Ja’far membacakan beberapa ayat dari Al-Qur’an,
surah ke sembilan belas yang menceritakan tentang kelahiran Isa
as dari seorang wanita yang suci bernama Maryam. Begitu
memikatnya kalimat yang dilantunkan Ja’far sampai membuat air
mata sang raja berlinang jatuh di atas kitabnya, tidak terkecuali
para pendeta pun ikut merasakan hal yang sama. Lalu berkatalah

48 Al-Mubarakfuri S. 2012,hal. 100.

59

sang raja “Demi Allah sungguh ajaran dan perkataan keduanya
adalah sama yang dibawakan dari ssatu jendela. Berbahagialah
kalian dengan orang-orang yang datang bersama kalian. Dan aku
telah mengetahui bahwa Muhammad adalah Rasul Allah yang
telah diberitakan beserta kegembiraan Isa as. Dan sekiranya aku
tidak sedang mengemban tugas kerajaan, pastilah aku
mendtanginya sampai mencium terompahnya.” Raja Najasyi
mempersilahkan kaum muslimin untuk tinggal di negerinya sesuka
hati, dan menegmbalikan hadiah-hadiah dari kaum musyrikin serta
mengutusnya agar kembali pulang.49

Berbagai macam dilakukan kaum Quraisy gara bisa
mendapatkan Nabi Muhamaad SAW dalam rangka
membunuhnya, tetapin sejarah mencatat bahwa semakin islam di
tindas maka dia semkin kokoh. Terbukti dengan masuknya
pahlawan-pahlawan yang masuk islam diantaranya, Hamzah bin
Abdul Mutahlib, Umar bin al-Khattab, dan yang lainnya. Perlu
diketahui bahwa mereka (kaum kafir Musyrik) akan memusuhi
ajaran islam hingga nanti Allah tentukan waktunya tiba. Mereka
hanya bisa membunuh bunga-bunga, tetapi tidak bisa
menghentikan musim semi itu datang kembali. Islam akan berjaya
suatu saat nanti karena Allah SWT telah menjanjikannya.

B.4. Peristiwa seputar pencarian suaka politik ke tanah Raja
Najasyi

Pencarian suaka politik ke Habsyi yang dilakukan oleh
kaum muslimin dipelopori oleh gangguan yang dilakukan oleh
kaum Quraisy yang senakin menjadi-jadi, sampai-sampai ada yang
dibunuh, disiksa dan semacamnya. Waktu itu Nabi Muhmmad
menyarankan agar mereka terpencar-pencar. Ketika mereka
bertanya kemana mereka akan pergi, mereka diberi nasihat agar
pergi ke Habsy yang rakyatnya mengatut agama kristen.

Sebagian kaum muslim pada waktu itu lalu beragkat ke
Habsy guna enghindari fitnah dan tetap berlindung kepada tuhan
dengan memepertahankan agama. Mereka berangkat dengan
melakukan dua kali hijrah. Yang pertama terdiri dari sebelas orag
pria dan empat wanita. Dengan sembunyi-sembunyi mereka keluar
dari Mekkah untuk mencari perlindungan. Kemudian mereka
mendapat tempat yang baik di bawah Najasyi. Lalu mereka hijrah
yang kedua dilakukan delapan puluh orang pria tanpa kaum istri

49 Soekanto, 2018, hal 55-57.

60

dan anak-anak. Mereka tinggal di Habsyi sampai hijrah Nabi ke
Yastrib.

Setelah menegtahui kaum muslimin hijrah ke Habsyi, kaum
Quraisy mengirimkan dua orang utusan untuk menemui raja
Najasyi utusan tersebut adalah Amr bin Ash dan dan Abdullah bin
Abi Rabi’a. kepada raja Najasyi dan para pembesar istana mereka
memebrikan hadiah-hadiah yang dimaksudkan agar mereka mau
mengembalikan kaum Muslimin yang hijrah ke Habsyi kepada
kum Quraisy.

Sebenarnya kedua utusan itu telah mengadakan persetujuan
dengan pembesar-pembesar istana kerajaan, setelah mereka
menerima hadiah-hadiah dari penduduk Mekkah mereka akan
membantu usaha mengembalikan kaum muslimin itu kepada kaum
Quraisy. Pembicaraan mereka ini tidak sampai diketahui oleh raja.
Tetapi baginda raja menolak sebelum mendengar sendiri
keterangan dari pihak kaum Muslimin. Lalu dimintanya mereka
menghadap

Pada saat itu Ja’far bin Abi Thalib adalah perwakilan dari
kaum muslimin yang menghadap kepada raja. Raja bertanya
kepadanya. “agama apa ini yang sampai membuat tuan-tuan
meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri, tetapi tidak juga
tuan-tuan menganut agamku atau agama lain ?”

Lalu Ja’far bin Abi Thalib pun menjawab “ketika itu kami
maysrakat yang bodoh, kami menyembah berhala, bangkai pun
kami makan, segala kejahatan kami lakukan, memutuskan
hubungan kerabat, dengan tetangga kami pun tidak baik, yang kuat
akan menindas yang lemah. Demikian yang kami, sampai tuhan
mengutus seorang Rasul dari kalngan kmi yang sudah kami kenal
asal usulnya, dia jujur, dapat dipercaya, dan bersih pula. Ia
mengajak kami hanya menyembah kepada Allah yang naha Esa
dan meinggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama itu
kami dan nenek moyang kami sembah. Ia menganjurkan kami
untuk tidak berdusta, untuk berlaku jujur serta mengadakan
hubungan keluarga dan tetangga yang baik, serta menyudahi
pertumapahan darah dan perbuatan terlarang lainnya. Ia
melarang kami melakukan segala kejahatan dan menggunakan
kata-kata dusta, memakan harta anak yatim, atau mencemarkan
wanita-wanita bersih. Ia minta kami hana menyembah Allah dan
tidak memeprsekutukan-Nya. Selanjutnya kami sholat, zakat, dan
puasa. (lalu disebutkan beberapa ketentuan islam) kami pun

61

membenarkannya. Kami turut segala yang diperintahkan Allah
yang maha Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya. Dengan apa
dan siapapun juga. Segala keharaman kami jauhi dan yang halal
kami lakukan. Karena itukah masyarakat memusuhi kami, menyksa
kami, menghasut kami agar meninggalkan agama kami dan
kembali menyembah berhala, supaya kami membenrakan
keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena itu ereka
menyiksa kami, menekan kami, mereka menghalang-halangi ami
dari agama kami, maka kami pun keluar pergi ke negeri tuan ini.
Tuan jugalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami
berada di dekat tuan, dengan harapan di sinila kami terhindar dari
penganiayaan.”

“adakah ajaran Tuhan yang di bawanya itu yang dapat tuan-
tuan bacakan kepada kami ?” tanya raja itu lagi.

“ya”, jawab Ja’far. Lalu membacakan surah Maryam dari
pertama sampai pada firman Allah:

“lalu ia memberi isyarat menunjuk kepadanya” kata mereka:
“bagaimana kami bicara dengan anak yang masih muda belia?
Dia Isa berkata: ‘aku adalah hamba Allah, diberi-Nya aku kitab
dan dijadikan-Nya aku seorang Nabi. Dijadikan-Nya aku pembawa
berkah dimana saja aku berada dan dipesankan-Nya kepadaku
melakukan sembahyang dan zakat selama hdupku. Dan berbaktilah
aku kepada ibuku, bukan dijadikan-Nya aku orang yang congkak
yang celaka. Bahagialah aku tatkala aku dilahirkan, tatkala aku
mati dan tatkala aku hidup kembali”.

Setelah mendengar keterangan tersebut membenarkan apa yang
ada di Injil, pemuka-pemuka istana terkejut, mereka mengatakan
bahwa kata-kata tersebut merupakan kata-kata yang keluar dari
sumber yang mengeluarkan kata-kata Yesus Kritus. Kemudian raja
Najasyi meminta dua orang utusan dari Quraisy untuk pergi, dan
mengatakan bahwa beliau tidak akan menyerahkan kaum Muslimin
kepada mereka.

Keesokan harinya Amr bin Ash kembali menghadap raja
dengan mengatakan, bahwa kaum Muslimin mengeluarkan
tuduhan yang luar biasa terhadap Isa anak Maryam. Panggilah dan
tanyakan apa yang mereka katakan, setelah mereka datang Ja’far
berkata “tentang dia pendapat kami adalah seperti dikatakan Nabi
kami: Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya Ruh-Nya dan
firman-Nya yan disampaikan pada Maryam” lalu Raja Najasyi
mengambil tongkat dan menggoreskannya ke tanah. Dengan

62

gembira sekali baginda berkata: “antara agama tuan-tuan dan
agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini.”

Selama di Habsyi itu kaum Muslimin merasa aman dan
tentram setelah di kabarkan pada kaum Muslimin bahwa gangguan
kaum Quraisy mulai reda, lalu mereka kembali ke Mekah untuk
pertama kalinya, dan pada saat itu Nabi Muhammad masih berada
di Mekkah. Akan tetapi ternyata kaum Quraisy masih menggangu
kum Muslimin dan akhirnya mereka pun kembali lagi ke Habsy dan
hijrah yang kedua ini terdiri dari delapan puluh orang laki-laki
tanpa wanita dan anak-anak.

C. Penutup
1. Diplomasi adalah seni mengeedapankan kepentingan suatu negara
melalui cara negosiasi dengan cara-cara damai apabila mungkin dalam
berubungan dengan negara lain. Apabila cara-cara damai gagal untuk
memperoleh tujuan yang diinginkan, cara kekerasan (dengan
menggunakan kekuatan) sangat mungkin untuk digunakan. Sedangkan
suaka politik adalah perlindungan yang diberikan oleh suatu negara
kepada orang asing yang terlibat perkara/kejahatan politik di negara lain
atau negara asal pemohon suaka.
2. Awal mula terjadinya kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy atas
kaum Muslim adalah ketika Nabi Muhammad mendapatkan wahyu untuk
melakukan dakwah secara terang-terangan. Dari perihal tersebut kaum
Quraisy sangat tidak menyukai hal tersebut karena mereka tidak
mengetahui perbadaan antara kerasulan dan kekuasaan sehingga mereka
menganggap bahwa jika mereka tunduk kepada ajaran yang dibawa Nabi
Muhammad berarti sama saja mereka tunduk kepada keluarga Abu
Muthalib. Banyak sekali cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk
menghancurkan dakwah Nabi Muhammad diantaranya dengan
mengadakan diplomsi, serta bujuk rayu dan kekerasan, selain itu mereka
juga melakukan usaha pemboikotan, akan tetapi semua itu gagal
menghancurkan keteguhan hati Nabi Muhammad.
3. Gangguan serta kekerasan yang dilakukan oleh kaum Quraisy
semakin menjadi-jadi sehingga membuat resah para kaum Muslimin.
Oleh karena itu Nabi Muhammad mengutus para kaum Muslimin untuk
pergi ke Habsyi dan meminta perlindungan kepada raja Najasyi yang
terkenal adil dan bijaksana. Hijrahnya kaum Muslimin ke Habsyi
dilakukan dua kali, yang pertama terdiri dari sebelas orang pria dan
empat wanita. Dan hdelapan puluh orang laki-laki tanpa wanita dan
hijrah mereka yang kedua terdiri dari delapan puluh orang laki-laki tanpa
wanita dan anak-anak.

63

Bibliografi
Sirah nabawiyah, Syaikh shafiyurrahman Al-
Mubarakfuri
Tafhimul-Qur’an, 5/188. Makna inilah yang bisa disimpulkan para
peneliti mengenai hadis Gharaniq.
Al-Mubarakfuri S. 2012,
Soekanto, 2018

64

Tahun Duka Cita (‘Amul Huzni) dan Peristiwa Isra’ Mi’raj

Oleh :
(1) Dwi Titik O
(2) Elfa Mujtahidah
(3) Alya Anisyah M

A. Pendahuluan
Islam adalah agamanya kaum muslimin yang berlandaskan pada
kepercayaan terhadap Tuhan yang Esa yang di sampaikan melalui
Nabi Muhammad Saw. sebagai utusan Allah. Islam sebagai
penyempurna agama hadir untuk manusia di semua zaman dan
segala ruang. Kehadiran Islam adalah untuk mengingatkan
manusia kepada kecenderungan dasarnya yaitu menghayati
dan melaksanakan sebagai nilai kebaikan yang telah tertanam
di dalam diri. Agama sempurna ini disampaikan Allah kepada
manusia melalui Nabi Muhammad Saw. Dalam sejarah
kehidupan Nabi Muhammad Saw. atau yang dikenal dengan
sebutan Sirah Nabawiyah, diceritakan bahwa beliau pernah dalam
keadaaan duka cita yang amat mendalam. Tahun kesedihan dan
terberat yang dialami Rasulullah Saw. ini dikenal dengan sebutan
amul huzni. Amul huzni ini erat kaitannya dengan peristiwa Isra
Miraj yang dialami Nabi Muhammad pada 27 Rajab. Salah satunya
yang membuat beliau bersedih lantaran beliau ditinggalkan oleh
dua orang yang begitu beliau dikasihi. Dua orang yang selama ini
menjadi penjaga bagi Nabi Muhammad Saw. Apalagi di tahun-
tahun tersebut, cobaan terhadap kaum muslim atas dakwah beliau
sedang menjadi-jadi. Teror, siksaan dan hujatan seakan datang tak
henti-hentinya. Nabi Muhammad, keluarga dan mereka yang
percaya akan Islam juga diboikot oleh Quraisy, tidak boleh
berdagang maupun aktivitas lainnya yang beririsan dengan
penduduk. Hal itu ditambah, dua orang yang dikasihinya tersebut,
yakni istri beliau Sayyidah Khadijah dan pamannya Abu Thalib
wafat. Sebelum berhijrah ke Madinah, Nabi Muhammad
mendapatkan sebuah pengalaman yang luar biasa yang
merupakan bagian penyempurnaan agama islam. Pengalaman
itu adalah isra’ mi’raj. peristiwa isra’ mi’raj Nabi Muhammad
Saw. menjadi momentum yang sangat sakral dan bersejarah bagi
umat islam khususnya.

65

B. Pembahasan
B.1. Peristiwa Amul Huzni Nabi Muhammad Saw.
1. Sejarah Terjadinya Tahun Kesedihan
Secara bahasa tahun kesedihan di kenal dengan istilah ‘amul
huzni. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke sepuluh kenabian 50 .
Dikatakan tahun kesedihan sebab ada dua peristiwa duka lara yang
melanda Rasulullah Saw., yang pertama adalah kematian Abu
Thalib dan kematian istrinya yaitu Khadijah yang telah
menemaninya selama 25 tahun. Kematian kedua tokoh sentral
pendukung dakwah Rasulullah relatif berdekatan, walau para
sejarawan berbeda pendapat, siapa yang meninggal lebih dulu, Abu
Thalib atau Khadijah. Ada yang berpendapat bahwa Abu Thalib
meninggal di bulan Rajab, dan Khadijah di bulan Ramadhan.
Pendapat lain, Khadijah wafat pada 10 Ramadhan, dan Abu Thalib
menyusul tiga bulan kemudian. Yang jelas, keduanya wafat di
tahun kesepuluh kenabian, tidak perlu dipermasalahkan siapa di
antara keduanya lebih awal tutup usia.
Dakwah Nabi Muhammad Saw. mengalami penentangan
hebat dari masyarakat Mekkah. Kepedihan yang luar biasa di
alami Nabi Muhammad dalam rangka menyampaikan pesan
dari Tuhan. Dalam kesedihan-kesedihan itu, istri beliau
senantiasa menemani dan memberi dukungan.Tidak hanya itu,
Khadijah yang dikenal sebagai saudagar kaya telah sangat banyak
memberikan dukungan materi kepada Nabi Muhammad sebagai
bekal untuk berdakwah. Sosok lainnya yang sangat berjasa
kepada Nabi Muhammad adalah pamannya yaitu Abu Thalib.
Sosok tersebut terkenal sangat keras dan tegas pembelaannya
terhadap Nabi Muhammad sehingga para penentang Nabi
Muhamad di mekkah menjadi gentar untuk melakukan hal-hal
buruk kepada Nabi Muhammad51.
Pada bulan Muharram tahun ke sepuluh kenabian, yakni
setelah melewati tiga tahun masa pemboikotan, papan piagam yang
digantung di dinding ka’bah rusak dan isinya terhapus. Kondisi ini
memberikan peluang bagi suku-suku yang tidak setuju dengan
pemboikotan itu untuk membatalkannya. Sejak awal, sebenarnya

50 Said Ramadhan Al-Buthy, “Fikih Sirah”, (Jakarta Selatan: PT. Mizan Publika,
2010), Cet. Ke-1, hal. 142.

51 Dzul Fahmi & Miswari, “Historitas dan Rasionalitas Isra’ Mi’raj”, At-Tafkir,

Vol. 12, No. 2, (Desember 2019), hal. 154.

66

banyak suku yang tidak setuju dengan pemboikotan itu, namun
mayoritas mereka tidak berani menyuarakannya karena posisi
mereka sebagai suku kecil. Mengetahui papan piagam itu rusak,
suara keadilan pun menggema di seluruh mekkah sehingga beliau
bersama kaum muslimin terbebas dari pemboikotan itu serta dapat
menjalankan dakwah lebih maksimal.

Ketika pemboikotan di batalkan, orang-orang musyrik
semakin gencar dalam menghalangi dakwah dengan berbagai
macam upaya yang dapat mereka lakukan. Tidak lama setelah
pemboikotan itu di batalkan, orang yang paling menyayangi beliau
di kala resah, melindungi beliau di saat-saat kritis, dan selalu
mendampingi beliau dalam menyebarkan risalah, yakni istri
tercinta beliau, Khadijah meninggal dunia. Sebelumnya beliau juga
di tinggalkan oleh tokoh Quraisy terkemuka sekaligus paman
beliau yang sejak dakwah islam di dengungkan terus memberikan
perlindungan, yaitu Abu Thalib. Hal inilah yang menjadikan tahun
pasca pembebasan dari pemboikotan itu di kenal dalam sejarah
dengan nama ‘amul huzni (tahun kesedihan)52.
2. Wafatnya Abu Thalib

Boikot yang berkepanjangan beberapa waktu lalu telah
melemahkan kondisi Abu Thalib. Pada bulan Rajab tahun ke
sepuluh kenabian, keadaan Abu Thalib benar-benar sangat lemah.
Fisiknya melemah akan tetapi semangatnya untuk melindungi
keponakannya tak pernah surut. semenjak Rasulullah berada di
bawah asuhan pamannya, beliau tidak pernah melihat pamannya
melakukan berbagai ritual yang sering dilakukan kaumnya. Abu
Thalib seolah mematri dirinya pernah menyatakan iman di
hadapannya, akan tetapi lelaki yang selama ini mengasuhnya,
selalu membenarkan kata-kata Rasul, membela, dan menolong
kegiatan dakwahnya yakni Abu Thalib tak berkenan mengucapkan
syahadat. Rasulullah prihatin dengan keadaan Abu Thalib yang tak
berkenan mengucapkan syahadat, namun Rasulullah sangat bangga
dengan semua pengorbanan pamannya dalam memperjuangkan
islam.

Sakit yang dialami oleh Abu Thalib semakin parah, maka tak
lama dari itu beliau menemui ajalnya, yaitu pada bulan Rajab tahun
ke sepuluh kenabian, setelah enam bulan keluar dari pemboikotan.

52 Muhammad Makhyaruddin, “Muhammad Saw. The Super Husband”, (Jakarta
Selatan: PT. Mizan Publika, 2013), Cet. Ke-1, hal. 103-104.

67

Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau wafat pada

bulan Ramadhan tiga hari sebelum Khadijah wafat.
Dalam shahih di sebutkan dari Sa’id bin al-Musayyib bahwa

Ketika Abu Thalib dalam keadaan sekarat, Nabi Muhammad Saw.

mendatanginya sementara di sampingnya ada Abu Jahal.
Rasulullah bertutur kepada nya, “wahai pamanku! Katakanlah laa

ilaaha illallah, kalimat ini akan kujadikan hujjah untukmu di sisi
Allah”. Namun Abu Jahal Abdullah bin Abi Muayyah memotong,
“wahai Abu Thalib! Sudah bencikah engkau terhadap agama Abdul

Muththalib? Keduanya terus mendesaknya demikian, hingga

kalimat terakhir yang di ucapkan Abu Thalib kepada mereka adalah
“aku masih tetap dalam agama Abdul Muththalib (agama Hanif)”.

Rasulullah Saw. sangat terpukul dengan wafatnya Abu Thalib.

Sesaat kemudian Allah menurunkan ayat sebagai penegas agar

Rasulullah Saw. t‫ء‬i‫ا‬dۤ ‫َش‬aّk‫َي‬ ‫ن‬bْ e‫َم‬rl‫ْي‬ar‫ِد‬u‫ه‬tْ-َ‫ي‬laَ‫ل‬r‫ّٰل‬uّ‫ا‬t ‫ّن‬dَ aِ‫ك‬la‫َوّٰل‬m‫َت‬du‫َْب‬k‫ْحب‬anَ‫ ا‬y‫ْن‬a‫َم‬: ‫اَِِنبّلْ َمكْهتََْلِديَْتَْنِد ْي‬

‫ََۚوهَو اَ ْعلَم‬

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk

kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk

kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui
orang-orang yang mau menerima petunjuk”53.

Ayat di atas bukanlah menunjukkan bahwa Abu Thalib

meninggal dalam keadaan kufur, namun merupakan bentuk hiburan

agar Rasulullah tidak begitu terhanyut dalam kesedihan. Dalam

ayat ini Allah seolah menegaskan kepada beliau bahwa sebagai

manusia, meskipun berstatus sebagai Nabi, tak akan pernah mampu

mengupayakan yang namanya petunjuk. Itu adalah kuasa Tuhan,

rahasia bagi kehidupan. Sebagai Rasul beliau hanya di perintahkan

untuk memberi peringatan pada orang yang menyimpang dari

jalan-Nya. Memberi kabar gembira bagi mereka yang berkenan

mengikuti ajarannya.

Dalam kesempatan lain, Allah juga memberikan ilham-Nya

bahwa kelak paman beliau tidak akan di siksa seperti halnya orang-

orang kafir. Sebagaimana yang beliau sabdakan sendiri bahwa

kelak di hari pembalasan siapapun yang menyekutukan Allah maka

mereka akan menerima siksaan paling pedih. Namun Abu Thalib

hanya mendapatkan siksa ringan. Hal itu di karenakan sejatinya

53 QS. Al-Qashash: 56.

68

beliau adalah seorang mukmin, namun tak pernah berkenan

menjalankan ibadah dan lain sebagainya demi menjaga

keponakannya. Inilah akhirnya yang menjadi penyebab Tuhan

tetap memberikan hukuman pada Abu Thalib. Siksa atas

kemaksiatan meskipun semua itu demi kebaikan, bahkan kebaikan

Rasulullah Saw.

Sebagai penghormatan terakhir, Rasulullah memerintahkan
agar pamannya dikebumikan layaknya orang mukmin. “Ali,

mandikan, kafani dan kebumikan beliau. Aku akan selalu

memohonkan ampun kepada Allah sampai aku di larang

mْeِn‫و‬d‫ ا‬o‫ْٓوا‬a‫ن‬k‫كا‬aَn‫و‬nَْ‫ل‬y‫َو‬a‫َْ”ي‬.ِْ‫ك‬M‫ ِر‬ak‫ْش‬a‫ميِْم‬t‫ح‬uِْ‫لِل‬rَ‫ْل‬uْ‫ْوا‬n‫را‬l‫ِفب‬a‫ْغ‬hَ‫ّٰحت‬ay‫سْص‬aَْ‫ا‬tّ:‫ااَََّْْننمَي‬ ‫َواَلّ ِذيْ َن ٰاَّمن ْٓوا‬ ‫قَمْارّٰٰبَكاِمَن ْْۢنلِلَبنَِّْعِبِد‬
‫َما تَبَََّْي ََل ْم‬
“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman

memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik

sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya) setelah jelas bagi

mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni Neraka
Jahannam”54.

hanya itu yang beliau perintahkan karena waktu itu Allah Swt.

belum memerintahkan untuk melakukan shalat jenazah. Begitulah

akhir hayat paman Rasulullah. Seorang paman termulia yang telah

mencurahkan segenap jiwanya bagi makhluk termulia pula55.

3. Berpulangnya Khadijah ke Rahmatullah

Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap

kaum muslimin, Khadijah kemudian sakit keras akibat beberapa

tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi

kesehatan badannya semakin memburuk. Dalam kondisi sakit yang

tidak terlalu lama itu, pada usia 65 tahun wafatlah seorang

mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya, yaitu Khadijah binti

Khuwailid.

Khadijah wafat pada 10 Ramadhan pada tahun ke sepuluh

kenabian atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 M.
Ketika itu usia Rasulullah Saw. sekitar 50 tahunan56. Dalam sebuah

54 QS. Al-Taubah: 113.
55 M. Haris, dkk, “Lentera”, (Kediri: Pustaka Gerbang Lama, 2010), Cet. 1, hal.

188 dan 191.
56 Haris Priyatna & Lisdy Rahayu, “Perempuan yang Menggetarkan Surga”,

(Yogyakarta: PT. Mizan Pustaka, 2014), Cet. 1, hal. 92.

69

riwayat di ceritakan tatkala ajal hendak menjemputnya, Rasulullah
Saw. menemui Khadijah seraya berkata, “engkau tidak suka apa

yang aku ketahui dari dirimu. Ketahuilah Allah telah meletakkan
suatu kebaikan dalam kebencian tersebut”. Hal ini sesuai dengan

apa yang telah di firmankan Allah d‫اْم‬a‫ك‬lّa‫ َل‬mٌ‫كْيْرًه‬a‫َش‬y‫َو‬a‫اه‬t‫َوْو‬bّ‫ِتُب‬e‫َل‬r‫ا‬i‫ْتَن‬k‫َِق‬u‫الْا‬t‫مى‬in‫ك‬i‫ّٰٓس‬:ْ‫َوعََعلَي‬ ‫َلّككتِْم ََۚب‬
‫تَ ْعلَمْوَن‬
ٌ‫ََّۚوَهوَوَع ّٰٓسَشىراَ َلّْنكتَْمْكَرهَواّْواّٰلل َشيَيًْْعلاَمَّوَهواََنْوت ْمَخَْْْلي‬

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak

menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak

menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi

kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”57.

Ketika Khadijah meninggal dunia, Rasulullah turun untuk

memakamkannya. Rasulullah yang memasukkan Khadijah ke

dalam liang kubur dengan tangannya yang mulia. Beliau

dimakamkan di dataran tinggi Mekkah yang di kenal dengan
sebutan kompleks pemakaman al-Ma’la, bukit Jabal as-Sayyidah,

perkampungan al-Hujun.

Peristiwa wafatnya Khadijah mempunyai dampak yang sangat

kuat dalam jiwa Rasulullah Saw. karena Khadijah merupakan istri

teladan yang selalu memberikan kehangatan dan ketentraman

setiap kali beliau berada di sisinya58.

B.2. Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw.
1. Pengertian Isra’ dan Mi’raj

Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu peristiwa sejarah yang sangat

penting dan agung dalam perjalanan risalah Nabi Muhammad Saw.

sebuah perjalanan yang sangat jauh dan sangat sulit untuk bisa di

gambarkan serta akan lemah kemampuan akal kita untuk menerima

penjelasan tersebut. Namun peristiwa ini benar-benar nyata dan di

alami oleh Nabi Muhammad Saw.

57 QS. Al-Baqarah: 216.
58 Abdurrahman Umairah, “Taman-Taman Cinta Sang Nabi”, (Jakarta Timur:
Mirqat, 2008), Cet. 1, hal. 21.

70

Kisah perjalanan Isra’ dan Mi’raj di jelaskan Allah Swt. pada

dua surah berbeda di dalam al-Qur’an. Perjalanan Isra’ (perjalanan

b‫ِد‬u‫ِج‬m‫َيس‬iْ)‫ِصَم‬d‫بَل‬iَ‫لب‬sَ‫بل‬eََbِ‫ إع‬u‫ِمِمي‬t‫را‬kَ‫َلَّس‬aَِ‫ل‬n‫بب‬ d‫َوِد‬a‫ِهج‬la‫ۥس‬mَ‫إََِمنّه‬a‫ابَل‬yۤ َ‫ن‬aِ‫يََّٰنت‬t‫ا‬:‫ءَِم‬ ‫لََي ࣰلا‬ ‫بَلَّنِذ بَلِّۡذبَّٰ ََۤرۡكنَأَا َسََحر َّٰوللَهۥبِعََلِبنِِدريَهِهۥ‬ ‫ب َْس َلَبَق َحَّٰصا‬
‫ِم َن‬

“Maha suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya

(Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke

Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami

perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran)

Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat”59.

Sementara itu kisah Mi’raj (naik ke langit) disebutkan Allah Swt.

dalam a‫نّة‬yَ‫َج‬at‫ا‬:‫ِعنْ َد َه‬ )14( ‫تَ َهى‬ ْ‫ْدَرِة الْمن‬ ‫غَْ(دَش ِسى‬1ْ‫يعَِن‬8‫َ)م)ا‬1‫رةَل‬3ََ‫ِم)َرْآَنإِهْذآَنَييََاْزلَغْةًِتَشأ َرْىبخَِِهرالاللِْس(كْدِْب‬1‫لْد‬5‫ََ(روألَََق‬
‫) َما‬16(
‫الْ َمأَْول‬
‫) لََق ْد‬17( ‫َزاغَ الْبَ َصر َوَما طَغَى‬

“(13) Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam

rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (14) (yaitu) di

Sidratilmuntaha (15) Di dekatnya ada surga tempat tinggal,

(16) (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntaha diliputi

oleh sesuatu yang meliputinya, (17) penglihatannya

(Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan

tidak (pula) melampauinya. (18) Sungguh, dia telah melihat

sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling
besar”60.

Disebutkannya kisah Isra’ dan Mi’raj ini secara terpisah

oleh Allah Swt. seakan memberikan isyarat bahwa kedua bentuk

perjalanan ini adalah perjalanan untuk tujuan yang berbeda

sekalipun subtansisnya sama yaitu untuk memperlihatkan kepada

Nabi Saw. sebagian tanda kebesaran Allah Swt. baik di langit

maupun di bumi. Perbedaan tempat penyebutan kedua peristiwa ini

oleh Allah Swt. dalam dua surat berbeda memberikan isyarat
bahwa kedua perjalanan ini adalah dua mu’jizat yang berbeda. Jika
Isra’ adalah perjalanan yang merupakan mu’jizat yang tidak

59 QS. Al-Isra’: 1.
60 QS. Al-Najm: 13-18.

71

satupun penduduk bumi yang mampu melakukannya, maka Mi’raj
adalah perjalanan luar biasa dan merupakan mu’jizat yang
penduduk langitpun tidak akan mampu melakukannya. Bukankah
disebutkan bahwa Jibril hanya mampu berjalan menemani Nabi
Saw. sampai Sidratul Muntaha, sementara perjalanan berikutnya
hanya Nabi Muhammad Saw. yang bisa melakukan-nya untuk
bertemu langsung dengan Tuhan di tempat yang hanya diketahui
Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. saja.

Dikarenakan perjalanan ini merupakan mu’jizat agung, wajar
ketika Allah swt menjelaskan tentang perjalanan Isra’ dan Mi’raj
nabi Muhammad Saw. tersebut, Dia memulai ayat-Nya dengan
ungkapan ta’ajjub (kekaguman) yaitu subhanallah yang artinya
Maha Suci Allah seperti terlihat dalam ayat di atas. Demikian itu,
karena memang Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa yang ajaib dan
luar biasa serta sangat sulit diterima kebenarannya jika hanya
diukur dengan ukuran akal dan logika. Perjalanan Isra’ dan
Mi’rajnya Nabi Saw. untuk bertemu dengan Allah Swt. sekaligus
menjadi bukti nyata kedudukan Nabi Muhammad Saw. sebagai
kekasih Allah Swt. Demikian itu dikarenakan pertemuan tersebut
atas kehendak Allah Swt. dan atas undangan Allah Swt. tanpa ada
persiapan Nabi Muhammad Saw. Berbeda dengan nabi Musa As.
misalnya, yang jika hendak bertemu Allah Swt. harus meminta izin
dan mengadakan perjanjian terlebih dahulu, seperti disebutkan
dalam satu ayat al-Qur’an:

ً‫َوَواعَ ْدََن مو َسى ثَلَاثَِْي لَيْلَةً َوأَُْتَْمنَا َها بِعَ ْشر فَتََّم ِميَقات َربِِه أَْربَعَِْي لَيْلَة‬

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat)
sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami
sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi),
maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya
empat puluh malam”61.

Isra’ dan Mi’raj sendiri terdiri dari dua kata yaitu Isra’yang
secara harfiyah berarti perjalanan di malam hari dan Mi’raj yang
berarti anak tangga yang dipakai untuk naik. Dengan demikian,
Isra’ dan Mi’raj berarti perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari
Masjid al-Haram di Mekkah hingga masjid al-Aqsha di Palestina
dan terus naik menghadap Tuhan hingga sampai batas terjauh yang
bisa dicapai makhluk yaitu Sidrataul Muntaha. Sepanjang

61 QS. Al-A’raf: 142.

72

perjalanan banyak hal yang disaksikan Nabi Muhammad Saw.

sebagai bukti keagungan Allah Swt. dan kasih sayang-Nya kepada

hambanya yang muhsin. Itulah kenapa di akhir surat al-Nahl, Allah

Swt. menutupnya dengan sebutan kebersamaan Allah Swt. dengan
makhluk-Nya yang terbaik (muhsin)62. dalam ayat al-Qur’an yang

berbunyi: ‫إِ َّن اَّلّلَ َم َع اَلّ ِذي َن اَتَّقْوا َواَلّ ِذي َن ه ْم ُْم ِسنوَن‬

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan

orang-orang yang berbuat kebaikan”63.

2. Reaksi Masyarakat Mekkah Terhadap Peristiwa Isra’ Mi’raj

Ibnu Qayyim menuturkan, esok paginya Rasulullah

menemui warga Mekkah dan menyampaikan tanda-tanda

kekuasaan-Nya yang telah diperlihatkan kepada beliau.

Mendengar paparan dari Rasulullah mereka makin keras

mendustakan Rasulullah dan makin kekeh menolak beliau.

Namun masyarakat Mekkah pun menantang beliau untuk

menggambarkan Baitul Maqdis. Maka Allah memperlihatkan

secara detail Baitul Maqdis dihadapan Rasulullah Saw., seakan

beliau berdiri langsung didepan bangunannya. Para tokoh kafir

Quraisy menghasut penduduk Mekkah islam agar tidak

mengikuti ajaran Nabi Muhammad Saw. Mereka menuduh Nabi

Muhammad Saw. sebagai pembohong. Karena rasa penasarannya

mereka pun menemui Abu Bakar untuk menanyakan perihal
peristiwa Isra’ Mi’raj. Dengan tegas dan penuh keyakinan, Abu

Bakar membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut. Abu Bakar

merupakan orang pertama yang membela dan membenarkan
peristiwa Isra’ Mi’raj, atas ketulusan dan keberaniannya Abu

Bakar diberi gelar as-Shiddiq yang artinya membenarkan64.

3. Tujuan Isra’ dan Mi’raj
Memang tujuan utama dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini

adalah untuk menjemput perintah shalat fardhu yang lima waktu.
Namun, terdapat beberapa tujuan lainnya seperti agar nabi

62 Syofyan Hadi, “Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw.”, (Serang: A-
Empat, 2021), Cet. 1, hal. 1-3.

63 QS. Al-Nahl: 128.
64 Yuyun Yunita, “Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw dan
Pembelajarannya”, Dewantara, Vol. 11, (Januari 2021), hal. 128.

73

Muhammad Saw. melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Allah
Swt. di alam raya ini seperti dalam ungkapan linuriyahu min
ayatina ( ‫ ) لنينرنننه من نننا نيننا‬.Selain itu, tujuan yang tidak kalah
pentingnya dari perjalanan itu adalah bahwa Allah Swt. ingin
menghibur kekasih-Nya yang memang ketika itu sedang berduka.
Seperti diketahui, ketika itu dalam waktu bersamaan beliau
ditinggal dua sosok yang paling dicintainya yaitu Khadijah isteri
tercinta yang dengan penuh kesetiaan menemani beliau
menghadapi masa-masa sulit selama 25 tahun dan Abu Thalib
paman yang selalu melindungi dan membela beliau sejak usia 8
tahun. Maka perjalanan Isra’ dan Mi’raj ini merupakan hiburan
untuk beliau dari Allah Swt. sebagai bukti bahwa Allah selalu
bersama beliau dan tidak sedikitpun meninggalkan makhluk
terbaik-Nya dan merupakan kekasih-Nya65.
4. Hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj

Di setiap peristiwa yang pernah dilalui pasti ada hikmah
yang dapat kita ambil. Seperti halnya dengan peristiwa Isra’ Mi’raj
ini. Didalam surat al-Isra’ Allah menyebutkan kisah Isra’ hanya
satu kali pada ayat pertama. Selanjutnya beralih pada skandal
dan kejahatan orang-orang Yahudi, kemudian memperingatkan
kepada mereka bahwa al-Qur’an lah petunjuk kepada jalan yang
lurus. Dengan sistematika seperti ini, Allah hendak menunjukan
bahwa Isra’ berakhir di Baitul Maqdis karena orang-orang yahudi
akan dilengserkan dari tampuk kepemimpinan umat, mengingat
keberagaman kekejian dan kejahatan mereka. Selanjutnya Allah
akan mengalihkan kepemimpinan umat ini kepada Rasulullah,
dan menyatukan dua pusat dakwah agama Ibrahim dalam diri
beliau. Sudah tiba saatnya dilakukan pergeseran kendali
spiritual, yakni dari satu bangsa yang sejarahnya sarat di warnai
penghianatan, tipu daya, kejahatan, dan dosa, kepada bangsa
lain, dan lembaran hidupnya berhiaskan kebaikan. Sementara
Rasul yang diutus ini masih menikmati wahyu al-Qur’an yang
memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus. Selain itu ada
juga didalam QS. an-Najm 13-18.

Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa pada saat peristiwa Isra’
Mi’raj terjadi, Rasulullah melihat malaikat Jibril dan Allah Swt.
secara langsung tanpa ada halangan suatu apapun, selain
itu Rasulullah juga melihat tanda-tanda kebesaran Allah Swt.

65 Syofyan Hadi, “Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw.”, Cet. 1, hal. 5.

74

serta surga tempat tinggal diperlihatkan kepada Rasulullah. Berikut
hikmah peristiwa Isra’ Mi’raj:
a. Wajib melaksanakan sholat fardhu lima waktu.
b. Menumbuhkan dan meningkatkan keimanan kita terhadap

kekuasaan Allah Swt. yang Maha berkehendak.
c. Membuat kita semakin mengamati bahwa Nabi Muhammad

adalah utusan yang membawa perintah Allah Swt.
d. Menyakini bahwa setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan

dari Allah Swt., dimana setiap cobaan tersebut juga dapat
meningkatkan keimanan kita atas kuasa Allah Swt.
e. Kita juga dapat mengetahui apabila kita melanggar perintah
Allah maka Allah akan menghukum kita sesuai dengan apa
yang kita lakukan.
f. Kita juga dapat mengetahui tentang tanda-tanda kebesaran
Allah Swt.

Itulah beberapa hikmah dari perjalanan isra’ mi’raj Nabi
Muhammad saw yang bisa kita jadikan tauladan bagi umat islam
dalam menjalani kehidupan sehari-hari66.

C. Penutup

Dari beberapa penjelasan yang telah kami paparkan, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Dalam islam, ‘Amul Huzni adalah tahun duka cita atau kesedihan,
di mana peristiwa di baliknya yang melatar belakangi Isra’ Mi’raj.
2. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw. dari
Mekkah ke Masjidil al-Aqsa di Yerussalem hingga di naikkan ke
langit ke tujuh atau Sidratul Muntaha.
3. Tujuan Nabi Muhammad di Isra’ Mi’rajkan adalah untuk menerima
perintah shalat lima waktu dan untuk memperlihatkan Sebagian
tanda-tanda kebesaran Allah.
4. Hikmah dari peristiwa Isra’ Mi’raj yaitu ujian keimanan pada diri
seseorang, eksplorasi langit dan alam semesta, serta perintah shalat.

66 Yuyun Yunita, “Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw dan
Pembelajarannya”, Dewantara, Vol. 11, hal. 129.

75

Bibliografi
A. Dari Jurnal

Fahmi, Dzul. & Miswari. (2019). Historis dan Rasionalitas Isra’
Mi’raj. Jurnal At- Tafkir. Vol. 12. No. 2.

Yunita, Yuyun. (2021). Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad
Saw. dan Pembelajarannya. Jurnal Dewantara. Vol. 11.

B. Dari Buku
Al-Buthy, Said, Ramadhan. (2010). Fikih Sirah. Jakarta Selatan:
PT. Mizan Publika.
Makhyaruddin, Muhammad. (2013). Muhammad Saw. The Super
Husband. Jakarta Selatan: PT. Mizan Publika.
Haris, M. dkk. (2010). Lentera. Kediri: Pustaka Gerbang Lama.
Priyatna, Haris. & Rahayu, Lisdy. (2014). Perempuan yang
Menggetarkan Surga. Yogyakarta: PT. Mizan Pustaka.
Umairah, Abdurrahman. (2008). Taman-Taman Cinta Sang Nabi.
Jakarta Timur: Mirqat.
Hadi, Syofyan. (2021). Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad
Saw. Serang: A-Empat.

76

Hijrah ke Yatsrib (Madinah), Karakteristik Muhajirin dan Anshar

Oleh :
(1) Madinatul Munawwaroh
(2) Syania Haqqi Ahmada

(3) Nur Azzira Alya R I

A. Pendahuluan
Selama 13 tahun hidup di kota Makkah, Rasulullah SAW

serta para pengikutnya sering mengalami cobaan besar dan siksaan
yang sangat pedih, di samping cobaan besar dan siksaan yang
sangat pedih. Di samping itu, hak kemerdekaan mereka dirampas,
mereka diusir dan harta benda mereka disita. Siksaan pedih berupa
dera cambuk sangat meresahkan para sahabat dan kaum muslimin
pada umumnya. Badan mereka dipenggal kabel sejenis serabut
diikatkan pada tubuh karena tidak mau tunduk kepada selain Allah,
seperti sahabat Bilal bin Rabah, disiksa oleh Umayyah bin Khallaf
untuk meninggalkan agama tauhid. Namun, Bilal tetap teguh
mempertahankan keimanannya. Itulah tekanan yang sangat
dahsyat dan mengerikan yang dialami Rasulullah beserta
pengikutnya selama menyampaikan dakwah demi tersebarnya
risalah tauhid di tengah-tengah kaum Musyrikin Quraisy
Makkah.67

Kaum Muhajirin dan Anshar adalah kelompok sahabat
yang memperoleh pujian keutamaan dari Allah SWT. Rasulullah
SAW juga menempatkannya pada posisi sangat tinggi karena
merupakan unsur ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai firqah an-
Najiyyah. Apabila orang beriman di kemudian hari ingin
memperoleh keselamatan serupa maka harus mengikuti Muhajirin
dan Anshar di samping Rasulullah SAW. Oleh karena itu, dalam
memahami kerangka keberagamaan mereka sangat diperlukan.
Berdasarkan atas laporan sejarah, kaum Muhajirin dan Anshar
bukan semata-mata konsep spekulatif semata. Akan tetapi,
merupakan kenyataan sejarah .

67 Muhammad Raji Hasan Kinas, Ensiklopedia Sahabat Nabi, (Jakarta: Zaman,
2012) hal. 308.

77

B. Pembahasan
B.1. Arti Hijrah dan Keterangannya
Sebelum membahas tentang hijrah Nabi SAW ke kota
Madinah, lebih dahulu perlulah kami uraikan sementara tentang
arti hijrah di dalam Islam dan keterangannya. Perkataan "Hijrah"
itu berasal dari bahasa Arab, yang artinya, "Meninggalkan suatu
perbuatan" atau "Menjauhkan diri dari pergaulan" atau "Berpindah
dari suatu tempat ke tempat yang lain." Hijrah juga diartikan
sebagai perginya suatu kaum dari suatu wilayah ke wilayah lain.68
Adapun artinya menurut syari'at, hijrah itu adalah tiga macamnya.
Pertama, hijrah dari (meninggalkan) semua perbuatan yang
terlarang oleh ALLAH. Hijrah ini adalah wajib dikerjakan oleh
tiap-tiap orang yang telah mengaku beragama Islam. Nabi SAW
telah bersabda:
Orang-orang yang berhijrah itu ialah orang yang
meninggalkan segala apa yang Allah telah melarang daripadanya.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya dari
sahabat 'Abdullah bin Umar r.a.) Jadi, barangsiapa dari orang-
orang Islam, telah meninggalkan semua perbuatan yang dilarang
oleh Allah, maka ia termasuk daripada orang yang mengerjakan
hijrah yang pertama.
Kedua, hijrah (mengasingkan) diri dari pergaulan orang-orang
musyrik atau orang-orang kafir yang memfitnahkan orang-orang
yang telah memeluk Islam maka hijrah ini adalah wajib juga
dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam. Jadi, seorang Islam yang
tidak dapat mengerjakan perintah-perintah Islam dan menjauhi
larangan-larangan Islam di suatu kampung, kota, atau negeri,
disebabkan oleh adanya fitnah yang diperbuat oleh orang-orang
kafir atau orang-orang Musyrik, maka ia wajib mengasingkan diri
ke kam- pung, kota, daerah atau negeri lainnya, yang kiranya dapat
dipergunaka untuk mengerjakan perintah-perintah Islam dan
menjauhi larangan-larangan nya. Di zaman Nabi SAW. hijrah ini
pernah dikerjakan oleh kaum Muslimin, yakni hijrah sebahagian
kaum Muslimin diwaktu itu ke negeri Habsyi (Abbessinia) sampai
terjadi dua kali.
Ketiga, hijrah (berpindah) dari negeri atau daerah orang-orang
kafi atau Musyrik ke negeri atau daerah orang-orang Muslimin,
seperti hijrah Na- bi dan kaum muslimin dari Makkah ke Madinah.

68 Ahzami Sami’un Jazuli, Hijrah dalam Pandangan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema
Insani Press, 2006), hal. 15.

78

Hijrah inipun wajib pula dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam.
Yaitu: orang-orang Islam yang berdiam atau tinggal di negeri atau
daerah orang-orang kafir atau musyrik, padahal ia tidak kuasa
membongkar atau memusnahkan keadaan-keadaan dan perbuatan-
perbuatan mereka yang nyata-nyata terlarang oleh Allah, maka
kaum muslimin wajib berpindah (berhijrah) ke negeri atau daerah
lain yang kiranya dapat jauh daripada keadaan-keadaan dan
perbuatan-perbuatan yang terkutuk oleh Allah itu.69

B.2. Kronologi hijrah Nabi dan para sahabat ke Yatsrib
(Madinah)

Begitu Rasulullah SAW melakukan dakwah secara terbuka,
berbagai ancaman mulai diarahkan kepada Nabi SAW dan orang-
orang beriman yang mengikutinya. Oleh karena itu, Rasulullah
SAW senantiasa berpikir untuk mencari perlindungan di luar
Makkah. Sehingga terjadilah hijrah kaum muslimin ke Habsyah,
Thaif, dan kemudian ke Madinah. Hijrah Nabi Muhammad SAW
dilakukan pada tahun 622 M dari Makkah ke Madinah. Hijrah itu
terjadi karena penindasan orang-orang musyrik Quraisy yang luar
biasa terhadap Nabi dan para sahabatnya. Setelah Bai’atul Aqabah
kedua dan semakin banyaknya penduduk Madinah yang menerima
agama Islam, Rasulullah bersama para sahabatnya mulai
merencanakan untuk hijrah ke Madinah, namun beliau tidak
mengambil keputusan sebelum memperoleh kepastian yang jelas
melalui wahyu yang membawa perintah ilahi. Pada saat beliau
memikirkan rencana untuk berhijrah dan menantikan perintah
Allah, turunlah wahyu yang memerintahkan beliau supaya
meninggalkan kota Makkah menuju Yasrib atau Madinah.

‫َه ۨاااَللَّنّااِذيْْسََنسم‬٣ِ‫فِّّٰيْلل‬٩‫لِيديَْْدذٌرفَْكُۙعر ا‬٤‫لَْودََْق‬٠َ‫ااابَِّٰذّلْعْخِلَنِرَضَكلجَِثِهلّْْوْاْمِذًيايِْمبََِبَنولَْنْيعَيْنَِدقياَضصاتََلرِرََِّّْهنلوْمَنِادَّّٰملبِلِبغَََّْْْْتنَمِيْمْن ََصحَيّظَْنولاِقِمماصَِْعوّْارهلََٓواواِاَبَِِيََّْنّننٌعاَايَّّّّٰٰلّّلقولَلَْوللََصَْلَقَعواّّٰٰلِووَرىُبٌّيتنَناَََعّواِْصّزَميّْٰلِرٌلٰزِّهسَْمِولج‬

“Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi
karena sesungguhnya mereka dizalimi. Sesungguhnya Allah benar-

69 Moenawar Khalil, Kelengkapan Tarikh, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2001),
hal. 3-4.

79

benar Mahakuasa membela mereka. (Yaitu) orang-orang yang
diusir dari kampung halamannya, tanpa alasan yang benar hanya
karena mereka berkata, “Tuhan kami adalah Allah.” Seandainya
Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan
sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara, gereja-
gereja, sinagoge-sinagoge, dan masjid-masjid yang di dalamnya
banyak disebut nama Allah. Sungguh, Allah pasti menolong orang
yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar
Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Qs. Al-Hajj (22): 39-40).

Beberapa hari setelah turunnya ayat ini, Rasulullah
memerintahkan para sahabat di Makkah untuk bergabung dengan
kaum muslimin lain di Madinah. Rasulullah mengingatkan agar
mereka berhati-hati ketika meninggalkan Makkah, tidak
bergerombol dan menyelinap di waktu malam atau siang hari, agar
jangan sampai diketahui kaum Quraisy. Atas dasar perintah
Rasulullah itu para sahabat berangkat ke Madinah di malam yang
sunyi, ada yang secara perorangan, ada yang bersama keluarga atau
beberapa teman Mereka pun keluar berhijrah secara berkelompok-
kelompok.70 Orang yang pertama berhijrah dari Makkah ke
Madinah adalah Abu Salamah bin Abdul Asad kemudian ‘Amir bin
Rabi’ah bersama istrinya Laila. Kemudian ‘Abdullah bin Jahsy,
kemudian sahabat-sahabat lain radhiyallahu ‘anhum, secara
berkelompok, selanjutnya Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu
‘anhu bersama saudaranya Zaid bin ‘Iyasy bin Abi Rabi’ah. Tidak
ada yang tinggal di Makkah melainkan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Ali bin Abi
Thalib, dan beberapa orang sahabat karena ditawan serta ada faktor
lainnya. Abu Bakar termasuk sahabat yang paling sering meminta
kepada Rasulullah supaya diizinkan hijrah. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar, “Janganlah engkau
terburu-buru, wahai Abu Bakar, semoga Allah memberikan kawan
yang baik sewaktu kamu hijrah.” Lalu Abu Bakar pun merasa
tenang dan berharap kawannya itu adalah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.

Rasulullah telah mempersiapkan hijrahnya hampir dua
bulan dengan perencanaan yang matang. Beliau menyiapkan
rencana dengan melihat situasi dan kondisi di kota Mekkah.

70 Moenawar Khalil, Kelengkapan Tarikh Jilid I, (Jakarta: Gema Insani Press,
2001), hal. 406.

80

Adapun proses atau kronologi hijrah Nabi Muhammad Saw ke
Madinah dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pemuka-pemuka Quraisy berkumpul dan bermusyawarah

membicarakan Rasulullah SAW
Tatkala orang-orang Quraisy menyadari bahwa pengikut

dan sahabat-sahabat Rasulullah SAW semakin bertambah
banyak di negeri lain selain negeri mareka dan hijrahnya kaum
Muhajirin ke Madinah secara bergelombang, mereka pun
mulai mengambil ancang-ancang menyusun strategibaru agar
bisa menghalangi hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah.
Mereka juga menyadari bahwa kaum Muslimin telah
bersepakat untuk memerangi mereka. Karena itulah, mereka
segera menyelenggarakan rapat di Daar An-Nadwah
membahas Rasulullah SAW. Pada hari Yawmu Az-Zahmah.
Pada hari itu, mereka dicegat iblis yang menjelma menyerupai
seorang tua yang berwibawa yang memakai mantel kemudian
berdiri di depan pintu Daar An-Nadwah. Ketika orang Quraisy
melihatnya, mereka bertanya kepadanya: "Siapa anda?" Iblis
menjawab: "Aku penduduk Najed. Aku dengar kalian akan
mengadakan rapat membahas Muhammad. Aku ingin
menyertai rapat kalian agar kalian bisa mendengarkan
pendapat dan nasihat dariku. Orang-orang Quraisy berkata:
"Baik, silahkan masuk!" Iblis pun masuk bersama mereka.
Sebagian dari mereka membuka pembicaraan kepada sebagian
yang lain: "Sesungguhnya Muhammad semakin berbahaya
saja. Kita tidak merasa aman jika sewaktu-waktu para
pengikutnya yang berasal dari selain kita menyerang kita. Oleh
karena itu, apa yang harus kita lakukan pada orang ini". Salah
seorang dari mereka berkata: "Bagaimana kalau dia kita
penjara saja sebagaimana menimpa para penyair sebelumnya,
seperti Zuhair dan An-Nabighah dan orang-orang yang mati
sebelumnya hingga ia mengalami seperti apa yang mereka
alami."Iblis berkata: “Ini bukanlah sebuah pandangan yang
paling tepat untuk kalian. Sebab, jika kalian memenjarakannya
tetap saja dia bisa berkomunikasi dan memberi perintah
kepada para sahabatnya, kemudian mereka menyerang kalian
dan membebaskannya. Ini bukan pandangan yang tepat.
Carilah pandangan yang lain.” Salah seorang dari mereka
berkata: "Bagaimana kalau kita usir saja dia dari negeri kita
lalu kita asingkan ke negeri lain. Bukankah jika dia telah diusir

81

dari negeri kita, maka kita tidak terlalu resah dia akan pergi ke
mana dan akan singgah di mana. Dengan begitu, kita tidak
terganggu olehnya, kemudian kita bersatu seperti
semula.?"Iblis berkata: "Ini juga bukan pandangan yang paling
tepat buat kalian. Tidakkah kalian perhatikan retorika yang
indah, manis dan apalagi ia memiliki daya pikat yang mana
apabila orang Arab di negeri lain mendengarnya, maka mereka
akan mengikutinya, kemudian dia bersama mereka berangkat
ke tempat kalian, lalu mereka menginjak negeri kalian dan
merampas kepemimpinan dari tangan kalian. Carilah
pandangan yang lain!" Abu Jahal berkata: Sesungguhnya aku
mempunyai ide yang lebih brilian dari kalian." Mereka
berkata: "Apa itu, wahai Abu Al-Hakam." Abu Jahal berkata:
"Bagaimana kalau kita kerahkan para pemuda yang tangguh
dalam bertarung untuk mem-bunuhnya sehingga kita bisa
tenang setelah kematiannya. Jika para pemuda tersebut
berhasil melakukannya, maka banyak kabilah yang akan
mendukung mereka dan Bani Abdu Manaf tidak akan kuasa
membalas dendam. Jika mereka meminta uang ganti rugi, kita
berikan saja." Iblis berkata: "Inilah pandangan yang paling
tepat." Setelah itu orang-orang Quraisy berpencar dan
melaksanakan usulan Abu Jahal.71

2. Rasulullah meninggalkan rumah
Setelah ada ketetapan yang bulat untuk menghabisi nabi

SAW, jibril turun kepada beliau membawa wahyu dari Allah,
seraya mengabarkan persengkokolan Quraisy dan bahwa Allah
sudah mengizinkan beliau untuk pergi serta menetapkan waktu
hijrah, seraya berkata, "Janganlah engkau tidur di tempat
tidurmu malam ini seperti biasanya. Pada tengah hari Nabi
menemui Abu Bakar agar menyertainya dalam hijrah. Di
samping itu para pemuka Quraisy membuat persiapan untuk
melaksanakan rencana yang sudah ditetapkan Parlamen
Makkah di Darun Nadwah pada pagi harinya. Untuk
melaksanakan rencana ini, ditunjuk sebelas orang terkemuka
di anatara mareka, yaitu Abu Jahan bin Hisyam, Al-Hakam bin
Abul Ash, Uqbah bin Abu Mu’aith, Umayyah bin Khalaf,
Zam'ah bin Al-Aswad, Thu'aimah bin Adi, Abu Lahab, Ubay
bin Khalaf, Nubih bin Al-Hajaj, dan Munabbih Al-Hajjaj.

71 Ibnu Ishaq & Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah Sejarah Lengkap Kehidupan
Rasulullah SAW, terj. Samson Rahman (Jakarta: Akbarmedia, 2018), hal. 280-281.

82

Seperti yang sudah dirancang, rencana jahat itu akan

dilaksanakan pada tengah malam. Maka dari itu mereka terus

berjaga menunggu saat yang sudah ditentukan. Tetapi Allah

lebih berkuasa atas masalah ini. Di tangan- Nyalah terletak

segala kerajaan langit dan bumi, Dia berbuat apa pun yang

dikehendak-Nya. Dia melindungi dan tidak membutuhkan

perlindungan. Dia melaksanakan apa yang pernah

disampaikan-Nya kepada Rasulullah SAW, sebagaimana

dalam firman-Nya: ‫يَ ْقت ل ْو َك‬ ‫اَْو‬ ‫ك‬٣َ‫ْو‬٠‫بِ ََواكّّٰلالَلّ ِذَيخَْْْني اَكلْ َٰفّمرْوكِاِريْلِيَنثْبِت‬ ‫َواِْذ َيْكر‬
‫َوَيْكر اّّٰلل‬
‫اَْو ُيِْرجْوَك َوَيْكرْوَن‬

"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafair (Quraisy)

memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan

memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu.

Mereka memikirkan tipu daya itu, dan Allah sebaik-baik

Pembalas tipu daya." (QS. Al-Anfal (8): 30)

Sekalipun orang-orang Quraisy sudah mempersiapkan

secara matang untuk melaksanakan rencana mereka, tetap saja

mereka gagal total. Pada saat-saat yang kritis itu Rasulullah

dan berkata kepada Ali bin Abu Thalib, Tidurlah di atas tempat

tidurku, berselimutlah dengan mantelku warna hijau yang

berasal dari Hadhramaut ini. Tidurlah dengan berselimut

mantel itu. Rasulullah Saw berpesan kepada Ali bin Abi Thalib

setelah Nabi hijrah untuk tinggal dulu di Mekkah

menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan

kepadanya. Sementara itu pemuda-pemuda terpilih dari kaum

Quraisy telah mengintai tempat pembaringan Rasulullah SAW

dari celahcelah dinding dan merasa yakin bahwa beliau masih

tidur nyenyak. Beberapa saat lewat tengah malam Rasulullah

SAW keluar mengambil segenggam pasir lalu ditaburkan ke

arah para pemuda yang sedang mengepung kediaman beliau

SAW. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengetahui

bahwa beliau ke luar rumah, saat itu beliau membaca awal

surat Yasin ‫ّٰن‬s‫ْي‬a‫َش‬m‫ْغ‬pَ‫َا‬a‫ف‬i‫دا‬dًّe‫َس‬ng‫ْم‬a‫ِه‬n‫ِف‬fْ‫ل‬i‫َخ‬rm‫ْن‬a‫م‬nِ‫َّو‬A‫ا‬l‫ًّد‬la‫َس‬h ‫م‬Sْ ‫ِه‬Wْ‫ِدي‬Tْ‫َي‬:‫ا‬ ‫بَِْْي‬ ٩‫يَوبَْجِصَعْلرنَْواَنِم ْْۢن‬

‫ه ْم فَه ْم َْل‬

83

“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di
belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata)
mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Qs. Yāsīn
[36]: 9)

Maka, ketika kafir Quraisy mengintip dari celah pintu
mereka mengintip ke dalam rumah, dan menangkap sesosok
tubuh yang sedang tidur (Ali). Mereka berkata, "itu adalah
Muhammad sedang tidur berselimut mantelnya. Ternyata
sampai pagi hari mereka tidak berbuat apa-apa. Ali bangkit
dari tempat tidur dan langsung dikepung. Mereka bertanya
keberadaan Muhammad. Ali menjawab, "Aku tidak tahu."
Setelah tahu bahwa yang tidur aalah Ali bin Abi Thalib,
mereka menyeretnya ke Masjid Haram dan menyiksanya, lalu
melepaskannya.72
3. Nabi Muhammad Saw Menetap di Gua Tsur

Rasulullah meninggalkan rumah pada malam hari
tanggal 27 Shafar tahun 14 nubuwah menuju rumah rekan
sejatinya, Abu Bakar, lalu berdua mereka meninggalkan
rumah dari pintu belakang untuk keluar dari Makkah secara
tergesa-gesa sebelum fajar menyingsing. Rasulullah &
menyadari sepenuhnya bahwa tentunya orang-orang Quraisy
akan mencarinya mati-matian, dan jalur satu-satunya yang
mereka perkirakan adalah jalur utama ke Madinah yang
mengarah ke utara. Untuk itu beliau justru mengambil jalur
yang berbeda, yaitu jalur yang mengarah ke Yaman, dari
Makkah ke arah selatan. Beliau menempuh jalan ini sekitar 5
mil hingga tiba di sebuah gunung yang disebut Gunung Tsur.

Waktu itu Nabi SAW berjalan kaki dengan kaki
telanjang. Dan karena beliau tidak biasa berjalan dengan kaki
telanjang, maka dari jauhnya perjalanan malam itu kaki beliau
mendapat luka-luka. Patut diterangkan lebih dulu bahwa gua
Tsur itu adalah gua yang didalamnya terdapat banyak
binatang-binatang liar dan buas, dan sering kali ditempati oleh
ular-ular yang berbisa. Hal ini telah umum diketahui oleh
orang banyak pada masa itu, sehingga tidak seorangpun berani
masuk kedalamnya. Tetapi Nabi SAW beserta sahabat Abu

72 Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi,
(Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2022), hal. 187-193.

84

Bakar dengan hati berani serta tulus dan karena Allah semata-
mata memasuki gua itu.

Mereka sampai di gunung Tsur pada waktu larut
malam, di mana-mana gelap gulita dan sunyi-senyap. Lebih
dahulu sahabat Abu Bakar masuk ke dalam gua itu, sedang
Nabi masih tinggal di luar. Yang demikian itu disebabkan oleh
cintanya sahabat Abu Bakar kepada beliau. Di dalam gua itu
sahabat Abu Bakar membersih-bersihkan dalam gua itu,
dengan maksud kalau di dalamnya ada binatang-binatang liar
atau ular-ular yang berbisa agar ia sendirilah yang terkena oleh
mereka, dan jangan sampai nanti Nabi s.a.w yang terkena.
Kesemuanya itu timbul dari perasaannya yang suci, bahwa diri
Nabi adalah lebih berharga daripada dirinya sendiri. Inilah
suatu contoh bagi kita bahwa diri seorang penuntun atau
pemimpin itu lebih berharga daripada diri seorang yang
dituntun dan dipimpinnya.73

Sesampai di mulut gua, Abu Bakar berkata, "Demi
Allah, janganlah engkau masuk ke dalamnya sebelum aku
masuk terlebih dahulu. Jika di dalam ada sesuatu yang tidak
beres, biarlah aku yang terkena, asal tidak mengenai engkau."
Lalu Abu Bakar memasuki gua dengan menyisihkan kotoran
yang menghalangi. Di sebelahnya dia mendapatkan lubang.
Dia merobek mantelnya menjadi dua bagian dan mengikatnya
ke lubang itu. Robekan satunya lagi dia balutkan ke kakinya.
Setelah itu Abu Bakar berkata kepada beliau, "Masuklah!"
Maka beliau pun masuk ke dalam gua. Setelah mengambil
tempat di dalam gua, beliau merebahkan kepala di atas
pangkuan Abu Bakar dan tertidur. Tiba-tiba Abu Bakar
disengat hewan dari lubangnya. Namun dia tidak berani
bergerak, karena takut akan menganggu tidur Rasulullah.
Dengan menahan rasa sakit, air matanya menetes ke wajah
beliau. "Apa yang terjadi wahai Abu Bakar?" tanya beliau.
Abu Bakar menjawab, "Demi ayah dan ibuku menjadi
jaminanmu, aku digigit binatang. Rasulullah & meludahi
bagian yang digigit sehingga hilang rasa sakitnya. Mereka
berdua bersembunyi di dalam gua selama tiga malam, yaitu
malam Jum'at, malam Sabtu, dan malam Ahad.

73 Moenawar Khalil, Kelengkapan Tarikh, Buku Ketiga (Jakarta: PT Bulan
Bintang, 2001), hal. 25.

85

Sementara orang-orang Quraisy seperti hilang akalnya
dan tidak waras setelah pagi harinya kehilangan jejak
Rasulullah. Pertama kali yang mereka lakukan ialah memukuli
Ali dan menyeretnya ke dekat ka’bah serta menahannya,
dengan harapan mereka bisa mengorek keterangan tentang diri
beliau. Tatkala tidak mampu mengorek keterangan sedikit pun
dari Ali, mereka segera ke rumah Abu Bakar. Mereka
menggedor pintu rumahnya. Asma' binti Abu Bakar menemui
mereka di ambang pintu. "Mana ayahmu?" tanya mereka.
"Demi Allah, aku tidak tahu di mana ayahku berada,"
jawabnya. Abu Jahal langsung mengangkat tangannya dan
menampar pipi Asma hingga anting-antingnya terlepas. Lewat
pertemuan yang singkat dan cepat mereka memutuskan untuk
menggunakan segala cara yang memungkinkan dilakukan
untuk menemukan Rasulullah dan Abu Bakar. Di setiap jalur
di Makkah ditempatkan beberapa penjaga dengan dibekali
senjata yang lengkap, dan siapa pun yang bisa membawa
beliau kepada orang-orang Quraisy dalam keadaan hidup atau
mati, disediakan hadiah seratus ekor onta, siapa pun dia.

Pada saat itu setiap penunggang kuda, pejalan kaki, dan
para pencari jejak mencari beliau. Mereka menyebar ke
gunung dan lembah, ke dataran tinggi dan dataran rendah.
Tetapi hasilnya nihil. Sebenarnya ada di antara mereka yang
sudah mendekati mulut gua. Tetapi Allah lebih berkuasa. Di
sinilah terjadi mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada
Nabi-Nya. Akhirnya para pencari itu kembali, padahal jarak
antara mereka dan beliau tinggal berberapa langkah kaki saja.

4. Perjalanan ke Madinah
Tatkala usaha pencarian sudah mulai mengendor dan

setelah tiga hari gejolak orang-orang Quraisy sudah menurun,
tanpa membawa hasil apa pun, Rasulullah dan rekannya
bersiap-siap untuk pergi ke Madinah. Mereka berdua
mengupah Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk Jalan
yang sudah matang dan mengetahui seluk beluk jalan.
Sekalipun dia masih memeluk agama orang-orang kafir
Quraisy, namun mereka berdua mempercayainya dan
menyerahkan dua ekor onta kepadanya. Setelah tiga malam
berada di gua, dia diminta datang ke gua dengan membawa dua
ekor unta itu. Maka pada malam Senin, 16 September tahun
622 M. Abdullah bin Uraiqith datang ke gua. Asma’ binti Abu

86

Bakar datang sambil membawa rangsum makanan untuk
perjalanan mereka berdua. Selanjutnya Rasulullah berangkat
bersama Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah. Abullah bin
Uraiqith yang menjadi penunjuk jalan mengambil jalan pesisir.
Jalan yang pertama kali ditempuh adalah ke arah selatan
menuju jalan Yaman, baru setelah itu mengarah ke barat
menuju pesisir, hingga setelah tiba di jalan yang tidak biasa
dilalui orang, perjalanan diarahkan ke utara di dekat pesisir
Laut Merah. Ini merupakan perjalanan yang jarang dilalui
orang.

Ketika terdengar kabar bahwa ada rombongan tiga
orang sedang dalam perjalanan, mereka yakin itu adalah
Muhammad dan sahabatnya. Suraqah bin Malik bin Ju’syum,
salah seorang dari Quraisy, juga ingin memperoleh hadiah
seratus ekor unta. Tetapi ia ingin memperoleh hadiah seorang
diri saja. Ia mengelabui orang-orang dengan mengatakan
bahwa itu bukan Muhammad. Tetapi diam-diam ia menyuruh
pembantunya untuk menyiapkan kuda dan perlengkapannya.
Ketika tidak ada orang yang melihatnya, ia segera memacu
kendaraannya ke pesisir yang ditunjukkan orang tersebut.
Suraqah mengendarai kuda yang cepat, sehingga ia bisa
mengejar rombongan hijrah Nabi Muhammad SAW tersebut
dan jaraknya semakin dekat. Nabi Muhammad Saw tetap
tenang, sementara Abu Bakar yang duduk di boncengan unta
Nabi Saw, terlihat cemas dan berkali-kali melihat ke belakang.
Setelah jarak makin dekat, tiba-tiba kuda Suraqah terjerembab
jatuh, Nabi Muhammad SAW terus saja berjalan tanpa
memperdulikan Suraqah yang mengejarnya. Setelah berhasil
mendekati lagi, Suraqah menyiapkan anak panahnya, tetapi
lagi-lagi kudanya terjerembab, sementara Nabi Muhammad
SAW terus berjalan. Masih juga penasaran, setelah berhasil
membebaskan kudanya, ia mengejar lagi, tetapi untuk ketiga
kalinya, kudanya terjerembab dan kali ini diikuti dengan debu
yang bertaburan di udara. Sadarlah Suraqah bahwa orang yang
dikejarnya bukanlah orang sembarangan. Setelah berhasil
membebaskan kudanya dan tidak ada lagi niat untuk
menangkap atau membunuh Nabi Muhammad SAW, ia
berhasil mendekati rombongan beliau dan memanggilnya.
Setelah berhadapan dengan Nabi Muhammad SAW, ia
meminta maaf dan memohon untuk tidak diapa-apakan. Ia juga

87

menawarkan untuk memberikan perbekalan yang dibawanya.
Nabi Muhammad SAW memaafkannya tetapi menolak
pemberiannya, hanya saja beliau meminta untuk merahasiakan
pertemuannya itu. Akhimya Suraqah pulang dan mendapatkan
orang-orang masih berusaha mencari. Maka dia berkata, "Aku
tidak memperoleh kabar apa-apa untuk kalian. Lebih baik
kalian diam saja di sini." Begitulah Suraqah, yang pada pagi
harinya bersemangat mencari Rasulullah, namun pada sore
harinya dia menjaga beliau.

Manakala Abu Jahal mendengar kisah Suraqah dengan
Nabi dan sikapnya kepadanya, dia mencibir Suraqah atas
kepicikannya dan ketakutannya sehingga dia menyia-nyiakan
kesempatan. Maka Suraqah bin Malik menjawab cibirannya
dengan berkata, Wahai Abu Hakam, demi Allah, seandainya
kamu menyaksikan keadaan kudaku manakala kakinya
terbenam ke dalam tanah niscaya kamu mengetahui dan tidak
meragukan bahwa Muhammad adalah rasul dengan bukti
nyata, lalu siapa yang akan melawannya?.74

Ditengah perjalanan ini juga, Nabi bertemu dengan
Abu Buraidah, pemimpin kaumnya. Dia pergi untuk mencari
beliau dan Abu Bakar, dengan harapan bisa mendapatkan
hadiah yang telah diumumkan Quraisy. Tatkala dia
berhadapan dengan Rasulullah dan beliau mengajaknya
berbicara, maka seketika itu dia masuk Islam bersama tujuh
puluh orang dari kaumnya. Dia melepas ikat kepalanya dan
mengikatkan di tombaknya sebagai bendera, sambil berseru,
bahwa pemimpin yang membawa keamanan dan perdamaian
telah datang untuk memenuhi dunia dengan keadilan.
5. Berada di Quba’

Pada hari Senin tanggal 8 Rabi'ul Awwal tahun ke-14
dari nubuwah atau tahun pertama dari hijrah, bertepatan
dengan tanggal 23 September 622 M, Rasulullah SAW tiba di
Quba’. Abdullah bin Az-Zubair menuturkan, bahwa tatkala
orang-orang Muslim di Madinah mendengar kabar tentang
Rasulullah SAW dari Makkah, maka setiap pagi mereka keluar
menuju tanah lapang menunggu kedatangan beliau. Lalu
mereka pulang tatkala panas matahari menyengat pada tengah
hari. Suatu hari ketika mereka sedang pulang setelah

74 Izuddin Karimi, Jejak Perjuangan dan Keteladanan Sahabat-sahabat Nabi,
(Jakarta: Darul Haq, 2018), hal. 393.

88

menunggu sekian lama, ada salah seorang Yahudi yang naik
ke atas benteng mereka dan untuk keperluan, Saat itu dia
melihat Rasulullah SAW dan rekan-rekannya, membentuk
titik putih yang kabur karena fatamorgana. Orang Yahudi itu
tidak kuasa menahan diri untuk berteriak dengan suara
nyaring, “Wahai semua orang Arab, itulah kakek kalian yang
kalian tunggu-tunggu. Seketika itu juga orang-orang Muslim
menghampiri senjatanya. Beliau disambut hangat oleh
penduduk Quba dan singgah di rumah Kultsum bin Hadm
selama 4 hari. Selama di Quba Rasulullah SAW membangun
masjid yang dalam sejarah islam terkenal dengan nama
“Masjid Quba” masjid yang didirikan atas dasar taqwa setelah
nubuwah atau masjid pertama yang didirikan setelah masa
kenabian.

Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan
nabi, setelah menyelesaikan segala urusan di Makkah.
Sementara itu, penduduk Yatsrib menunggu-nunggu
kedatangannya. Waktu yang mereka tunggu- tunggu itu tiba.
Nabi memasuki Yatsrib dan penduduk kota ini mengelu-
elukan kedatangan beliau dengan penuh kegembiraan. Sejak
itu, sebagai penghormatan terhadap nabi, nama kota Yatsrib
diubah menjadi Madinatun Nabi (Kota Nabi) atau sering pula
disebut Madinatul Munawwaroh (Kota yang Bercahaya),
karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia.
Dalam istilah sehari-hari, kota ini cukup disebut Madinah
saja.75
6. Memasuki Madinah

Seusai shalat Jum’at, Nabi SAW memasuki Madinah.
Sejak hari itulah Yastrib dinamakan Madinatur Rasul, yang
kemudian disingkat dengan nama Madinah. Inilah hari yang
sangat monumental. Semua rumah dan jalan ramai dengan
suara tahmid dan taqdis. Sementara anak-anak gadis mereka
mendendangkan bait-bait syair karena senang dan gembira:
"Purnama telah terbit di atas kami
dari arah Tsaniyyatul Wada'

Kita wajib mengucap syukur

75 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2017), hal. 25.

89

dengan doa kepada Allah semata

wahai orang yang diutus kepada kami

kau datang membawa urusan yang ditaati."

Sekalipun orang-orang Anshar bukan termasuk orang-
orang yang sangat kaya, tetapi setiap orang di antara mereka
berharap agar Rasulullah SAW singgah di rumahnya. Tak ada
satu pun rumah yang dilalui beliau melainkan mereka pasti
memegang tali kekang onta beliau, sambil meminta agar beliau
berkenan singgah di rumahnya. Demikianlah semua
menginginkan Rasulullah tinggal di rumahnya. Mereka
menarik kendali unta agar Rasulullah SAW mau, tetapi beliau
bersabda, “Biarkan saja unta ini berjalan, dia diperintah.”
Unta beliau terus berjalan hingga sampai di tempat lapangan
penjemuran kurma milik dua orang anak yatim dari Bani al-
Najjar, tepat di depan rumah Abu Ayyub al-Ansari. Saat itu
beliau berkata, “Di sinilah aku hendak membangun masjid
insya Allah.” Yang sekarang dinamakan dengan masjid
Nabawi. Abu Ayyub pun segera menjemput Rasulullah dan
membawakan barang-barang beliau untuk singgah di
rumahnya. Sesudah tiga hari barulah Ali bin Abi Ṭalib
menyusul setelah tugasnya mengembalikan amanat orang-
orang yang dititipkan kepada Rasululllah ketika beliau ke
Makkah. Menyusul juga keluarga dan isteri Rasulullah SAW
Saudah binti Zam’ah bersama Fathimah dan Ummu Kultsum,
Usamah bin Zaid dan Ummu Aiman.

Ibnu Ishaq berkata: Beberapa kaum Muhajirin berhasil
hijrah ke Madinah, namun sebagian mereka ada juga yang
tidak hijrah karena mendapat sika atau ditahan oleh orang-
orang Quraisy. Kaum Muhajirin yang hijrah dari Makkah saat
itu tidak bisa membawa keluarga dan harta mereka kepada
Allah dan Rasul-Nya SAW. kecuali Bani Madz'un dari Bani
Jumah, Bani Jahsy bin Riab sekutu Bani Umayyah, Bani Al-
Bukair dari Bani Sa'ad bin Laits sekutu dari Bani Adi bin Kaab.

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah SAW tinggal di rumah
Abu Ayub sejak beliau tiba di sana pada bulan Rabiul Awwal
hingga bulan Shafar pada depannya, sampai masjid dan
rumahnya selesai dibangun, serta perkampungan kaum Anshar
telah masuk Islam. Hampir semua perkampungan kaum
Anshar, telah masuk lslam, kecuali perkampungan Khatmah,

90

Wagi, Wail dan Umayyah. Semua perkampungan tersebut
masih berada dalam kemusyrikan.76
Periode Madinah bisa di bagi menjadi tiga tahapan masa:
1. Tahapan masa yang banyak diwarnai guncangan dan

cobaan, banyak rintangan yang muncul dari dalam,
sementara mush dari luar menyerang Madinah untuk
menyingkirkan para pendatangnya. Tahapan ini berakhir
dengan dikukuhkannya Perjanjian Hudaibiyah pada bulan
Dzul-Qa'dah tahun ke-6 dari hijrah.
2. Tahapan masa perdamaian dengan para memimpin
paganisme, yang berakhir dengan Fathu Makkah pada bulan
Ramadhan tahun ke-8 dari hijrah. Ini juga merupakan
tahapan masa berdakwah kepada para raja agar masuk
Islam.
3. Tahapan masa masuknya manusia ke dalam Islam secara
berbondong-bondong, yaitu masa datangnya para utusan
dari berbagai kabilah dan kaum ke Madinah. Masa ini
membentang hingga wafatnya Rasulullah 3 pada bulan
Rabi' ul Awwal tahun ke-11 dari hijrah.77
Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam makin
bertambah kuat. Perkembangan Islam yang pesat itu membuat
orang-orang Makkah dan musuh-musuh Islam lainnya menjadi
risau. Kerisauan ini akan mendorong orang-orang Quraisy berbuat
apa saja. Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan gangguan
dari musuh nabi, sebagai kepala pemerintahan, mengatur siasat dan
membentuk pasukan tentara. Umat Islam diizinkan berperang
dengan dua alasan: (1) untuk mempertahankan diri dan melindungi
hak miliknya dan (2) menjaga keselamatan dalam penyebaran
kepercayaan dan mempertahankannya dari orang-orang yang
menghalang-halanginya.78

76 Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, terj. Samson Rahman,
(Jakarta: Akbar Media, 2018), hal. 290.

77 Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi,
(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1997), hal.187-198.

78 Hassan Ibrahim Hassan, Sejarah non Kebudayaan Islam, (Yogyakarta:
Penerbit Kota Kembang, 1989), hal. 28-29.

91

B.3. Kaum Muhajirin dan Anshar
1. Definisi kaum Muhajirin dan Anshar
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajid, kaum
Muhajirin adalah orang-orang yang telah masuk Islam sebelum
Fathu Makkah (pembebasan Makkah) dan berhijrah menuju
Rasululllah di Madinah dan menetap di sana dengan
meninggalkan negeri mereka, hartanya dan keluarganya karena
mengharap apa yang ada di sisi Allah, ridha- Nya dan untuk
menolong agama islam.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid mendefinisikan
Anshar sebagai berikut: "Para penduduk Madinah yang
menyambut Rasulullah dan para sahabatnya dari kalangan
Muhajirin dan memberikan kepada mereka tempat perlindungan
dan membagi harta mereka serta tidak bersikap bakhil sama
sekali. Mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.

2. Keutamaan kaum Muhajirin dan Anshar
Keutamaan kaum Muhajirin dan Anshar disebutkan dalam

Al-Qur’an sebagai sebuah kehormataan dari Allah SWT.
Kepada mereka karena keimanan dan ketaatan mereka kepada
Allah dan Rasul-Nya. Keutamaan Muhajirin dan Anshar
adalah sebagai berikut:

a. Allah mengakui mereka sebagai orang yang beriman
dengan sebenar-benarnya serta memberikan kepada
mereka maghfirah (ampunan) dan rezeki yang mulia. (Qs.
al-Anfal : 74)
b. Allah meridhai kaum Muhajirin dan Anshar, serta

menyiapkan surga untuk mereka. (Qs. at-Taubah :
100)
c. Allah telah menerima taubat kaum Muhajirin dan
Anshar. (Qs. at-Taubah : 117)
Selain Allah menyebutkan keutamaan keduanya, secara
khusus juga terdapat keutamaan kaum Muhajirin, yakni :
a. Allah menyebutkan para Muhajirin dengan

shadiquun ( orang-orang yang memiliki iman yang
benar dan kokoh). (Qs. al-Hasyr : 8)
b. Mendapatkan tempat perlindungan yang banyak dan
rezeki yang luas. (Qs. an-Nisa’: 100)
c. Allah memberikan tempat yang baik di dunia dan
pahala yang lebih besar di akhirat. (Qs. an-Nahl : 41)
Adapun keutamaan khusus kaum Anshar, yakni :

92

a. Allah telah memberikan kesaksian bahwa orang-
orang Anshar adalah orang-orang yang telah
beruntung. (Qs. al-Hasyr : 90)

b. Rasulullah mengutamakan pilihan Anshar
c. Tanda keimanan adalah mencintai orang Anshar

dan tanda kemunafikan adalah membenci orang
Anshar
d. Rasulullah mendoakan orang-orang Anshar,
anak-anaknya, dan cucu-cucunya agar diampuni
oleh Allah
3. Karakteristik kaum Muhajirin dan Anshar
Karakteristik kaum Muhajirin, diantaranya adalah:
a. Allah menyebut mereka di dalam Al-Qur’an sebagai fakir
b. Mereka berhijrah bukan demi keuntungan duniawi berupa
apapun. Dapat dipastikan bahwa mereka melakukannya
demi mencari ridha Allah dalam kehidupan di dunia ini, dan
untuk mencari karunia-Nya di hari pembalasan kelak.
c. Mereka berhijrah untuk menolong Allah dan Rasulullah
SAW. Maksud dari menolong Allah disini adalah
menolong dalam hal mendakwahkan Islam.
d. Mereka berdiri tegak diatas ikrar yang mereka ucapkan
kepada Allah dan Rasulullah SAW.

Karakteristik kaum Anshar, diantaranya adalah:
a. Mereka dibesarkan di kota yang dimuliakan, karena

dipersiapkan sebagai tempat bernaung bagi Rasulullah
SAW dan para pengikutnya.
b. Kaum Anshar tidak memandang kedatangan para Muhajirin
yang tak berdaya itu sebagai hal yang menyulitkan atas diri
mereka.
c. Mereka menerima dengan sepenuh hati apapun yang
diberikan oleh Rasulullah SAW kepada kaum Muhajirin.
d. Mereka lebih cenderung mencukupi kebutuhan kaum
Muhajirin, walaupun mereka juga mempunyai kebutuhan
yang sama.79

79 Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, Hayat Al-Sahabat, terj. Bey Arifin,
(Beirut: Maktabah al-Bananiyah al-Markaziyah, 1988), hal. 16–17.

93

C. Penutup
Dari pembahasan mengenai kronologi hijrah Rasulullah

SAW ke Yatsrib (Madinah) dan karekteristik kaum Muhajirin dan
Anshar maka kami menarik kesimpulan, sebagai berikut:
1. Hijrah Nabi Muhammad SAW dilakukan pada tahun 622 M dari
Makkah ke Madinah. Hijrah itu terjadi karena penindasan orang-
orang musyrik Quraisy yang luar biasa terhadap Nabi dan para
sahabatnya.
2. Sebelum sampai ke Madinah, Rasulullah melalui beberapa proses
perjalanan dari awal perintah untuk hijrah meninggalkan rumah,
singgah di gua tsur, berada di Quba, hingga memasuki Madinah.
3. Kaum Muhajirin adalah orang-orang yang telah masuk Islam
sebelum Fathu Makkah (pembebasan Makkah) dan berhijrah
bersama Rasululllah di Madinah. Keutamaan kaum Muhajirin
mareka berhijrah bahkan menetap di sana dengan meninggalkan
negeri mereka, hartanya dan keluarganya karena mengharap apa
yang ada di sisi Allah, ridha- Nya dan untuk menolong agama
islam.
4. Kaum Anshar adalah para penduduk Madinah yang menyambut
Rasulullah dan para sahabatnya dari kalangan Muhajirin.
Keutamaan kaum Anshar maereka memberikan tempat
perlindungan dan membagi harta mereka serta tidak bersikap
bakhil sama sekali kepada Rasulullah SAW. dan kaum Muhajirin.
Mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.

Bibliografi
Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman Sirah Nabawiyah, Terj. Kathur
Suhardi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet. I, 1997.
Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman Sirah Nabawiyah, Terj. Kathur
Suhardi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2022.
Al-Kandahlawi, Muhammad Yusuf. Hayat Al-Sahabat. Terj. Bey
Arifin. Beirut: Maktabah al-Bananiyah al-Markaziyah, 1988.
Hasan, Ibrahim Hasan. Sejarah non Kebudayaan Islam.
Yogyakarta: Penerbit Kota Kembang, 1989.
Ishaq, Ibnu, Ibnu Hisyam. Sirah Nabawiyah Sejarah Lengkap
Kehidupan Rasulullah SAW. Terj. Samson Rahman. Jakarta:
Akbarmedia, 2018.
Jazuli, Ahzami Sami’un. Hijrah dalam Pandangan Al-Qur’an.
Jakarta: Gema Insani Press, 2006.
Khalil, Moenawar. Kelengkapan Tarikh. Jakarta: PT Bulan
Bintang, 2001

94

Khalil, Moenawar. Kelengkapan Tarikh Jilid I. Jakarta: Gema
Insani Press, 2001.
Kinas, Muhammad Raji Hasan. Ensiklopedia Sahabat Nabi.
Jakarta: Zaman, 2012.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2017.

95

Pembentunkan Masyarakat Islam dan Piagam Madnah

Oleh :
(1) Farawuza Diva Putri Z
(2) Ghaizani Fauziah
(3) Arini Jauharoh

A. Pendahuluan
Islam merupakan agama yang bisa memberikan bisa memberikan

keberkahan bagi manusia di dunia dan kelak di akhirat. Islam dangat
memegang kuat nilai solidaritas. Banyak sekali ajaran-ajaran agama
Islam yang menganjurkan bahkan mewajibkan bagi pengikutnya
untuk memegang prinsrip mulia yang di isyaratkan. Diantara bukti
nyata solidaritas yang diajarkan oleh agama adalah konsep dari
saling menghormati, saling membantu, saling menyayangi, gemar
tolong menolong, dan lain sebagainya. Proses dalam Islam ini
memgang dua dimensi yaitu dimensi vertikal (hablum minallah)
dan dimensi horizontal (hablum minannas).

Membangun masyarakat yang berakhlaq mulia, adil, anggun,
berwibawa, dan langgeng dimuka bumi merupakan tujuan utama
Al-Qur’an yang dalam hal ini melalui nabi Muhammad Saw.
Sebuah bangunan komunitas sebenarnya terdiri dari individu-
individu. Tidak ada individu yang dapat hidup tanpa masyarakat.
Buku teladan utama ummat Islam adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an
adalah yang pertama mengritik dua aspek terkait erat dari
masyarakat Makkah. Al-Qur’an menyentuh banyak aspek yang
berkaitan dengan manusia, kedudukan atau fungsi manusia,
keistimewaan manusia, kelemahan manusia, seperti tergesa-gesa,
rakus, kikir, fakir, berlebihan, sangat tidak patuh, dan tidak tahu
apa-apa. Banyak pesan dalam Al-Qur’an yang merupakan bentuk
protes terhadap norma-norma sosial yang telah diberlakukan oleh
masyrakat Jahiliyyah. Isi Al-Qur’an tidak hanya mereformasi
tatanan sosial yang ada, tetapi bahkan merevolusi konsep-konsep
lama dan menggantinya dengan konsep-konsep baru yang
mencerahkan dan membebaskan.

Madinah merupakan titik awal lahirnya zaman baru, yang mana
setiap kelompok telah mencapai consensus untuk hidup
berdampingan secara damai, saling menghargai, serta mempunyai
komitmen untuk menjaga keberlangsungan hidup tanpa
diskriminasi dan eksploitasi. Sebab itu, Madinah dianggap sebagai

96

fajar baru lahirnya peradapan manusia, yang juga membuktikan
bahwa Islam adalah agama peradapan dan agama berkemajuan.
Dalam makalah ini akan di paparkan tentang aspek-aspek yang
berkaitan dengan pembentukan masyarakat islam serta kesepakatan
dalam piagam Madinah.

B. Pembahasan

B.1. Langkah awal Rasulullah Saw. dalam mendirikan masjid

Masjid sudah ada sejak masa Rasulullah Saw. pada waktu

hijrah dari Makkah ke Madinah dengan ditemani sahabat Abu

Bakar, Rasulullah Saw melewati daerah yang disebut dengan Quba,

dan akhirnya disana beliau mendirikan masjid pertama sejak

kenabiannya, yaitu masjid Quba. Sebagaimana Allah Swt.
berfirman dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 108

seb:a‫ة‬g‫وب‬a‫ت‬i‫ل‬m‫ق[ا‬aُّ‫َن‬n‫يَح‬a‫ِهأَِر‬bّ‫َطم‬e‫ْو‬r‫َم‬i‫ي‬kْ‫لال‬uِ‫وب‬tَُّّ:َ‫لََِرمَجْساٌِلج ٌدُِيُأبّ ِوسَن َأَس ْنعَيلََتَىطََاّهلَتّرْقواَوَوالَّلّلِمُْنِي أ‬ ‫تَتَققْموَمفِيفِِهيِهأَبَفًِدياِه‬ ‫َْل‬
‫أَ ْن‬
]108

“ Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-
lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa
(masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat
didalamnya. Didalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin
membersihkan diri, Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-
orang yang bersih ” (Q.S At-Taubah : 108)

Masjid Quba yaitu masjid pertama yang dibina pada hari
pertama Rasulullah Saw. tiba di Madinah. Baginda tiba di Madinah
pada hari Isnin dan menginap sehingga hari jum’at dan diikuti
masjid Nabawi bukan saja menjadi tempat ummat Islam
menunaikan ibadah shalat, bahkan menjadi pusat perkembangan
ilmu penegtahuan, pusat kemajuan ekonomi ummah, pusat
perjumpaan komuniti dan sebagainya. Masjid Quba lebih banyak
difungsikan untuk pengajaran dan melakukan penguatan
kemasyarakatan yang langsung dilakukan serta dicontohkan oleh
nabi sendiri.80

80 Sidi Gazalba, Masyarakat Islam : Pengantar Sosiologi dan Sosiografi (Jakarta:
Bulan Bintang, 1976), hal. 150.

97


Click to View FlipBook Version