Masjid Quba dibangun dengan bentuk sederhana, dibuat dari
pelepah-pelepah dan daun kurma serta batu-batu bata. Masjid
mempunyai ruang bersegi empat dengan dinding sekelilingnya. Di
sebelah utara dibuat serambi untuk sholat, bertiang pohon kurma,
beratap datar dari pelepah dan daun kurma bercampur tanah liat.
Ditengah-tengah lapangan terbuka dalam masjid ada sebuah sumur
tempat mengambil wudhu bagi jamaah. Dengan demikian, sudah
wajar rasanya bila masjid Quba berbentuk yang sederhana karena
menjadi awal dalam pembuatan masjid disaat itu.81
Perjuangan Rasulullah dan pengikutnya dalam membangun
masjid menggambarkan kepada manusia betapa pentingnya makna
dari masjid. Setelah 12 tahun menjalankan tugas sebagai Rasul di
Makkah, Allah perintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk hijrah ke
Madinah. Ditilik dari ilmu perang, hijrah itu merupakan taktik.
Strategi nabi adalah addin dan mengislamkan ummat. Taktik untuk
mencapai tujuan strategi dijalankan beliau di Makkah. Tetapi
kemajuan sangat lambat sehingga perlawanan dari musuh begitu
kuat. Sehingga Rasulullah Saw. menjadikan Madinah sebagai
markass besarnya. Ternyata cara yang ditempuh ini berhasil. Pada
hari dimana dan rombongannya sampai di Madinah, beliau secara
bersama-sama mendirikan masjid, tempat bersujud kepada Allah
Swt. nabi sendiri pun ikut mengangkat batu dan dibantu oleh kaum
muslimin lainnya. Semua pekerja itu bekerja dengan berlandaskan
ketakwaan dan keikhlasan.82
Masjid Nabawi adalah masjid yang kedua dibina Rasulullah
Saw. setelah masjid Quba. Mengikuti sejarah, selepas memasuki
kota Madinah, baginda menolak perlawanan beberapa sahabat
supaya menginap dikediaman masing-masing. Sebaliknya
Rasulullah Saw membiarkan untanya menentukan tempat yang
baginda akan berhenti. Unta tersebut berlutut merebahkan dirinya
disatu tapak milik dua orang anak yatim Bernama Sahal dan Suhail.
Kedua anak yatim itu ingin menghadiahkan tapak tersebut kepada
Rasulullah Saw. tetapi baginda enggan menerimanya, bahkan
baginda membeli dengan harga sepuluh dinar emas.83
81 Ahmad Putra, Prasetio Rumondor, Eksistensi Masjid di Era Rasulullah dan
Era Milenial. Vol 17. No 1 (jurnal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2019 ) hal. 251.
82 Ahmad Putra, Prasetio Rumondor. Eksistensi Masjid di Era Rasulullah dan
Era Milenial. hal 252.
83 Ahmad Putra, Prasetio Rumondor. Eksistensi Masjid di Era Rasulullah dan
Era Milenial. hal 253.
98
Pada mulanya, Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun
Nabi dengan sangat sederhana, sebagaimana bangunan masjid di
pedalaman dan pelosok desa. Bah kan bangunan tersebut identik
dengan mushalla dalam konotasi murakhir. Tetapi, dalam
perjalanannya Masjid Nabawi menjelma sebagai bangunan yang
sangat megah. Dinasti-dinasti Islamlah yang memprakarsal
renovasi besar-besaran. Dimulai Dinasti Umayah, Dinasti Abbasi
yah, Dinasti Ottoman, dan Dinasti Arab Saudi modern. Sedangkan
renovasi yang sangat mewah dengan ang garan yang melimpah-
ruah adalah renovasi kedua Di nasti Saudi yang diprakarsal oleh
Raja Fahd bin Abdul Aziz.
Kemegahan 84 Masjid Nabawi pada masa modern ini
mempunyai dua sisi: positif dan negatif. Positifnya, ka rena Dinasti
Arab Saudi mempunyai kepedulian yang tinggi untuk memberikan
pelayanan yang memuaskan bagi para tamu Allah yang sedang
berziarah ke Madinah. Tetapi, negatifnya, kemudian muncul kesan
seolah olah bangunan masjid harus megah dan bahkan ka dangkala
melebihi kapasitas jemaahnya.
Di saat Islam masih pada perkembangan awal ke berbagai
pelosok negeri, ketika ummat Islam menetap disuatu daerah yang
abru, maka salah satu asrana untuk kepentingan umum dan orang
banyak yang mereka buat adalah masjid. Jadi masjid bukan hanya
sebagai beribadah saja, akan tetapi tempat berlindung bagi
khalayak banyak.85
Menurut M. Quraish Shihab dalam Jusmawati mencatat bahwa
dalam perjalanan sejarah masjid pertama didirikan (Nabawi)
mengemban sepuluh fungsi yaitu, tempat ibadah, pendidikan,
konsultasi, dan komunikasi (masalah ekonomi, sosial, dan budaya),
santunan sosial, latihan militer, dan persiapan alat-alatnya,
pengobatan para korban perang, perdamaian dan pengadilan
sengketa, aula tempat menerima tamu, seperti menawan tahanan
dan pusat. penerangan serta pembinaan Islam. Masjid Nabawi juga
menjadi tempat pusat informasi Islam, tempat menyelesaikan
hukum, peradilan dan sengketa di masyarakat. Kegiatan ekonomi
84 Zuhairi Misrawi. Madinah : Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan
Muhammad Saw. ( Penerbit Buku Kompas Bukukita.com 2009) hal 27.
85 Mohd Ismail bin Mustari, Menjaga Pengurusan Masjid Inovatif: Satu
Keperluan Era Globalisasi. Prosiding Seminar Pengurusan Masjid Inovatif.UTM hal.
256
99
pun menjadi salah satu aktivitas di masjid Nabawi sekaligus pusat
kegiatan sosial dan politik.86
Ada empat peranan dari fungsi masjid, yakni sebagai tempat
ibadah (pembinaan iman dan taqwa) itu sendiri, sosial
kemasyarakatan, pendidikan dan pembinaan sumber daya manusia,
dan ekonomi. Bila kita pantau secara jelas dan mendalam lagi
secara rinci, maka akan banyak terlihat keberfungsian masjid
tersebut. Sebagaimana dikemukakan oleh Shafiyyurahman Al-
Mubarakfuri bahwa sejarah Masjid Nabawi di Madinah yang
didirikan oleh Rasulullah saw memiliki tidak kurang dari sepuluh
peranan dan fungsi. Di antaranya adalah sebagai tempat dalam
melakukan urusan ibadah (shalat dan zikir), konsultasi dan
membentuk komunikasi, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan,
santunan sosial, latihan militer dan persiapan peralatannya,
pengobatan korban perang, perjanjian perdamaian, pengadilan
sengketa, menerima tamu, menawan tahanan perang, serta pusat
penerangan dan pembelaan agama.87
Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan dalam surah At-Taubah ayat
18 seىbَتaوآgَ aَةiَناbَصيلeَِّدrَتiهلk ْاuَممtْقاَلا:ََفمَعَْن َسآَمىَنأولَِبئَِّلّلَِكَوأاَلْْيَنْويَِمكاْونلواِخِرِم ََنوأ ِاَّلّل ََُميْ َسَاشِجإََِّْدل إَِّنَا يَ ْعمر
َاَّلّل ْالَّزَكاةَ َوَل
]18[التوبة
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah
hanyalah orang-orang yang beiman kepada Allah dan hari
kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan
tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah, maka merekalah
orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang
yang mendapat petunjuk” (Q.S At-Taubah : 18).
Masjid memang telah dijadikan tempat yang mulia, yaitu
tempat untuk bersujud kepada sang Ilahi. Dimasa itu, Rasulullah
Saw. dan kaum Muhajirin dan Ansar mendirikan shalat secara
berjamaah. Rasulullah Saw. menekankan bahwa masjid merupakan
tempat sembahyang yang dikerjakan lima waktu sehari semalam,
86 Aziz Muslim,“Manajemen Pengelolaan Masjid, dalam Jurnal Aplikasia
(Aplikasia Ilmu-ilmu Agama)”,Vol V, No. 2 (Desember 2004) hal. 105-114.
87 Yulianto Sumalyo, Arsitektur Masjid(Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 2000) hal. 2.
100
bernilai fardhu, baik secara munfarid atau berjamaah. Bukan hanya
sampai disitu, tapi juga menjadikan masjid tempat pelaksanaan
shalat-shalat sunnah. Selanjutnya, Rasulullah dan pengikutnya
menjadikan masjid untuk pelaksanaan shalat Jum’at dan ketika ada
hari-hari besar Islam maka masjid juga menjadi tempat yang pas
sebagai tempat pelaksanaan, salah satunya ialah shalat hari raya.
Rasulullah Saw. juga menjadikan masjid sebagai tempat
berkumpul kaum muslim dan tempat mengumumkan hal-hal
penting yang menyangkut hidup masyarakat Muslim. Apapun itu,
berkaitan dengan masyarakat dan acara-acara besar Islam juga
diumumkan agar semua orang mengetahuinya.88
B.2. Proses Rasulullah Saw mempersaudarakan kaum Muhajirin
dan Anshor
Walaupun kaum Muhajirin diterima di Madinah, mereka
belum terbiasa menggunakan cara hidup yang berlaku pada kota
Madinah. Sebagian besar mereka merupakan pedagang, seperti
halnya hampir semua Quraisy, sedangkan kaum Anshar sebagian
besar ialah petani. Suatu upaya keras penyesuaian harus dilakukan
oleh nabi. Yakni antara Muhajirin serta Anshar yaitu untuk
mengurangi perpecahan yang mungkin muncul sampai sekecil
mungkin. oleh karena itu, Nabi memanggil semua pengikutnya
bertujuan buat membentuk sebuah ikatan persaudaraan yang
spesifik. Tiap-tiap orang Muhajirin harus menjadi saudara bagi
tiap-tiap orang Anshar. rencana persaudaraan antara Muhajirin
serta Anshar yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. sudah
membentuk suatu persaudaraan baru yakni persaudaraan sesuai
agama, yang telah menggantikan persaudaraan dengan sesuai
darah. Persaudaraan tersebut merupakan satu-satunya untuk
persaudaraan Islam secara internasional.
Persaudaraan itu menjadi pelopor kebangkitan suatu umat
yang mempunyai misi dakwah serta risalah, menuju pembentukan
global baru bersumber pada akidah yang benar juga tujuan yang
baik. Yaitu dunia baru yang akan menyelamatkan dunia ini dari
penyimpangan serta penghancuran diri. dunia baru yang dibangun
berdasar pada korelasi-hubungan baru, mirip hubungan keimanan,
88 Ahmad Putra, Prasetio Rumondor. Eksistensi Masjid di Era Rasulullah dan
Era Milenial. hal 254.
101
korelasi persaudaraan batin dan korelasi kerja sama. 89Pada hal ini
Ibnu Katsir mengutip riwayat Imam Ahmad, Pada karyanya al-
Bidayah wa al-Nihayah, bahwa Rasulullah SAW
mempersaudarakan antara kaum Anshar serta Muhajirin di tempat
tinggal Anas bin Malik. Kaum Anshar dengan ikhlas membantu
kaum Muhajirin dalam hal apapun, seperti rumah bahkan harta
benda sekalipun. Persaudaraan ini lalu bisa menghilangkan sekat
kesukuan, dan saling tolong menolong terhadap sesama. lalu kaum
Anshar mensedekahkan tempat tinggal yang mereka, bahkan istri
mereka ada yang diceraikan agar dinikahkan dengan kaum
Muhajirin.
Persaudaraan ini menjadi lebih kuat daripada hanya
berdasarkan keturunan. Sebelumnya kaum Anshar yang terdiri dari
suku Aus serta Khazraj saling bermusuhan, ukhwah yang
berasaskan iman dibawah risalah Nabi Muhammad SAW sudah
melunakkan hati mereka. Keberhasilan Rasulullah pada
mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar berasaskan iman
tidak lepas melalui kecerdasan beliau dalam melenyapkan ikatan
kesukuan (tribalisme). Adapun keberadaan kabilah sebagai bagian
dari sunatullah serta fitrah penciptaan manusia, tetap ada dan tidak
di hapus. yang di hapus oleh Nabi Muhammad SAW ialah paham
kesukuan yang sempit serta picik serta primordialisme, ta’assub
jahiliah yang memberi pengakuan bahwa sukunya paling unggul,
super, mulia, paling baik dan berkualitas. Maka awal dari sinilah
Nabi SAW menciptakan warga Islam yang dijiwai oleh semangat
ukhuwwah Islamiyah, egalitarisme, di atas fondasi iman dan
akidah Islam90
B.3. Kesepakatan Rasulullah Saw. dan penduduk Madinah non
Muslim
Setelah Makkah, ada kota Madinah. Dua kota tersebut bagaikan
siang dan malam. Jika Makkah bagaikan siang, Madinah bisa
diibaratkan malam. Dan langit-langit nya diterangi lembutnya
cahaya bulan, yang pada hal ini Rasulullah Saw. lah yang pantas di
89 Nurul Hidayati, Potret Manajemen Rasullullah Saw Ketika Berdakwah di
Madinah A-Munawwarah, Manajemen Dakwah, Vol. 1, No. 2, Desember 2016: hal, 74,
Tersedia di: https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/tadbir/article/download/2706/2043
90 Ummu Salamah Ali, Peradaban Islam Madinah ( Refleksi terhadap Primordialisme
Suku Auz dan Khazraj), Studi Agama-Agama dan Pemikiran Islam, Vol. 15, No. 2,
September 2017: hal, 191, Tersedia di: http://dx.doi.org/10.21111/klm.v15i2.1495
102
ibartkan. Sedangkan keindahan bintang malamnya bisa diibaratkan
oleh jajaran sahabat nabi yang selalu mendedikaikan dirinya untuk
tegaknya kebajikan, keadilan, serta kedamaian untuk seluruh
ummat manusia. ِم ْ ثَيِيَا ِت ا ْل َودَا ْع َط َل َع ا ْل َب ْد ُر َع َل ْي َيا
Seperti pada sya’ir :
ََمادَ َعى لله دَا ْع َو َج َب ال ُّش ْك ُر َعلَ ْييا
Artinya :
Wahai rembulan yang terbit kepada kita dari lembah wada’
Dan wajiblah kita mengucap syukur dimana seruan adalah
kepada Allah.
Fakta tersebut tidak berlebihan karena Madinah adalah kota
yang identik dengan nabi Muhammad Saw. dalam bahasa Arab
biasa disebut Madinatun nabi, yaitu kota nabi. Kehidupan nabi
yang di tulis dalam sejarah-sejarah serta semua ajarannya yang
luhur tersebut juga dikukuhkan di Madinah. Bahkan, saat nabi telah
berhasil menguasai Makkah, beliau pun memeilih untuk kembali
dan menetap di Madinah. Masa-masa akhir nabi ditulis dengan
tinta emas di kota ini.
Madinah adalah salah satu kota yang mempersatukan ummat
Islam. Madinah juga salah satu kota yang dekat dengan ummat
Islam. betapa banyak aliran dan perbedaan paham dikalangan
Muslim, tetapi kalo sudah disebutkan kota ini mereka menyepakati,
bahwa Madinah adalah salah satu kota penting bagi spirutualitas
dan moralitas ummat Islam. Mereka terhanyut pada kerinduan
nabi, keluarga, dan para sahabatnya. Madinah adalah salah satu
potret kota idaman dan kota idaman yang memungkinkan
masyarakat dapat saling berhubungan dengan menghargai dan
menghormati.
Puncak keistimewaan Madinah, karena kota ini identik dengan
Rasulullah Saw. Madinah adalah satu-satunya kota yang dilekatkan
pada Rasulullah Saw. beliau berdoa kepada tuhan agar dianugerahi
cinta yang lebih pada Madinah. Rupanya, tuhan mengabulkan doa
tersebut, sehingga Madinah menjadi tempat peristirahatan terakhir
nabi. Setelah membebaskan kota Makkah nabi memilih untuk
kembali ke kota Madinah, sebagai bukti kecintaannya yang sangat
mendalam terhadap kota hijau ini. Madinah adalah kota nabi, oleh
karenanya beliau mengundang seluruh ummatnya untuk datang ke
103
kota ini, terutama mereka yang berkesempatan untuk
melaksanakan umroh dan haji.
Selain itu, Madinah juga dikenal sebagai kota ilmu dan kota
pertanian. Madinah menjadi tempat penempaan kader-kader muda
Muslim untuk menimba ilmu. Nabi memprakasai misi tersebut
dengan mengajarkan langsung para sahabat dan mereka tinggal di
al-shuffah. Merekalah kemudian yang melestarikan pesan-pesan
nabi yang tertuang dalam hadis dan mengantarkan pada proyek
kodifikasi Al-Qur’an. Tradisi keilmuan di Madinah terus
dilanjutkan oleh para ulama hingga masa sekarang. Di antara
ulama’ fiqh yang sangat tersohor, yaitu Malik bin Anas. Pandangan
keagamaannya menjadi salah satu rujukan penting, terutama dalam
bidang hadis dan fiqh.
Madinah pada masa Nabi ditandai dengan kehidupan beragama
yang gegap-gempita. Masjid dijadikan sebagai pusat pengenalan
ajaran Islam yang mengajak um atnya pada ketauhidan dan
kehidupan yang damai. Di samping itu, adanya komunikasi yang
bersifat intensif antara Nabi dengan pihak-pihak yang berada di
Madi nah. Begitu pula, terbit komitmen bersama untuk melawan
segala bentuk kezaliman yang dilakukan oleh pihak-pihak yang
mengganggu ketenangan hidup di Madinah.
Muhammad SAW dicatat dalam sejarah sebagai pemimpin
yang berhasil menjadikan Madinah sebagai kota yang aman dan
damai untuk seluruh penduduknya, sehingga dengan penuh
kesadaran dan tanggung jawab sebagian besar penduduk Madinah
memeluk Islam. Apa lagi setelah kemenangan diraih Nabi dalam
beberapa peperangan, hal tersebut telah menyebabkan munculnya
kepercayaan yang tinggi, bahwa Nabi dapat melindungi mereka
dari berbagai ancaman pihak luar.
Pada masa sebelum Islam, orang-orang Yahudi ke rapkali
membangun rumah dan benteng-benteng perta hanan, karena
mereka takut bilamana ada agresi dari luar, terutama agresi dari
orang-orang Arab nomaden. Tetapi pada masa Nabi, orang-orang
Madinah tidak me merlukan lagi benteng-benteng pertahanan,
karena Nabi telah memberikan jaminan kepada mereka tentang
keamanan dari musuh. Dan jaminan tersebut diperoleh setelah
adanya kesepakatan bersama untuk menjadikan Madinah sebagai
kota yang dibangun di atas fondasi kebersamaan, termasuk
kebersamaan dalam melawan musuh.
104
Muhammad Saw. pada masa Islam telah berhasil membangun
persaudaraan di internal umat Islam, terutama kalangan Anshar dan
Muhajirin. Persaudaraan internal merupakan modal yang sangat
besar untuk memberikan keteladanan keda orang-orang lain. Per
saudaraan yang begitu hangal dan harmonis telah me nyebabkan
kelompok-kelompok lainnya turut serta untuk menjadikan Nabi
sebagai simbol persaudaraan yang bersifat luas, yaitu persaudaraan
di antara seluruh penduduk Madinah.91
Piagam Madinah telah menjadi khazanah yang sangat baik
untuk membangun sebuah negara-bangsa yang di satu sisi lain
memberikan jaminan kebebasan beragama. Spiritualitas yang di
bangun adalah spiritualitas inklusif, yang di antara tujuannya
adalah adalah membangun persaudaraan dan perdamaian. Piagam
Madinah membuat nilai-nilai yang sangat penting, terutama dalam
hal kesetaran antarwarga kebebasan beragama dan jaminan
keamanan. Ketiga hal ini menjadi nilai yang sangat penting dan
pada beberapa tahun mjutakhir diperbincangkan sebagai sebuah
keniscayaan dalam demokrasi.92
Dalam sejarah Islam, setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah,
beliau membuat peraturan yang disebut dengan “Konstitusi
Madinah” atau “Piagam Madinah”. Isi penting dari prinsip Piagam
Madinah adalah membentuk suatu masyarakat yang harmonis,
mengatur sebuah umat dan menegakkan pemerintahan atas dasar
persamaan hak. Piagam Madinah juga merupakan suatu konstitusi
yang telah meletakkan dasar-dasar sosial politik bagi masyarakat
Madinah dalam sebuah pemerintahan di bawah kepemimpinan
nabi Muhammad. Piagam Madinah dianggap oleh para pakar
politik sebagai UndangUndang Dasar pertama dalam negara Islam
yang didirikan oleh nabi Muhammad.93
Dalam hal ini, Madinah pada masa Muhammad SAW telah
memberikan pengalaman dan pelajaran yang sa ngat berharga,
yang perlu untuk dijadikan rujukan sehingga umat Islam dapat
melanjutkan keteladanan poli tik, sebagaimana diwariskan oleh
Nabi dan para saha batnya. Umat Islam tidak perlu khawatir dengan
91 Zuhairi Misrawi. Madinah : Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan
Muhammad Saw. hal. 24.
92 Zuhairi Misrawi. Madinah : Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan
Muhammad Saw hal 26.
93 Imam Amrusi Jailani, Piagam Madinah: Landasan Filosofis Konstitusi
Negara Demokratis. Jurnal Hukum. Vol 6, No 2 2016 hal 273-274.
105
demo krasi, karena Piagam Madinah pada hakikatnya merupa kan
sebuah konstitusi yang dilahirkan dari proses demo krasi
deliberatif. Yaitu demokrasi yang bersumber dari aspirasi seluruh
penduduk Madinah, yang diperkuat dengan sendi-sendi moralitas
dan spiritualitas dalam agama-agama samawi, khususnya Islam.94.
Piagam Madinah atau yang bisa disebut dengan “Shahîfat
alMadînah” atau konstitusi Madinah adalah perjanjian yang
disepakati oleh Rasulullah saw sebagai pemimpin besar umat Islam
(Muhajirin dan Anshar), yang pada saat itu beliau baru sampai di
Yasrib, dengan para penduduk kaum Yahudi Madinah yang terdiri
dari beberapa kabilah, suku, yang faktualnya adalah kaum
penduduk mayoritas, di samping terdapat menganut keyakinan
minoritas yang berada di Madinah. Konstitusi Madinah juga
sebagai dokumen tertulis pertama yang dibuat Rasulullah dengan
suku-suku dan komunitas yang ada di Yasrib dan nantinya akan
membawa keadilan hukum yang berlaku dan sebagai landasan
hidup bagi umat Islam kedepan dan akan menguak cakrawala baru
dalam kehidupan politik, sebagai prospek babak awal bagi
berlangsungnya kehidupan mereka, dan bagaimana sebuah
komunitas nantinya akan terpadu menjadi satu wadah yakni
Yasrib.95
Piagam Madinah atau Shahîfat al-Madînah, juga dikenal
dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang
disusun oleh Nabi Muhammad saw, yang merupakan suatu
perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan
kaum-kaum penting di Yasrib (kemudian bernama Madinah) di
tahun 622 M. Sejak hijrah dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622
M, nabi Muhammad saw telah mempraktikkan kehidupan
bermasyarakat dan bernegara yang demokratis di tengah
masyarakat yang plural dengan aliran ideologi dan politik yang
heterogen. Tipe kepemimpinan yang sangat demokratis dan toleran
terhadap semua pihak, menjadikan semua penduduk merasa aman
dan tenteram, akhirnya kota Yasrib berubah menjadi Madinah al-
Munawarah, yang berarti kota yang bercahaya.96
94 Zuhairi Misrawi. Madinah : Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan
Muhammad Saw hal 27.
95 Imam Amrusi Jailani, Piagam Madinah: Landasan Filosofis Konstitusi
Negara Demokratis. hal. 279.
96 Muchsin, Sebuah Ikhtisar Piagam Madinah, Filsafat Timur, Filosof Islam dan
Pemikirannya, (Jakarta: STIH Iblam) hal. 1.
106
Shahîfat al-Madînah sebagai undang-undang dasar telah
mendeklarasikan Yastrib bertransformasi menjadi negara Madinah
(City-State of Madinah), membangun aturan-aturan pemerintahan,
mengamanatkan isu-isu sosial yang spesifik yang dapat mengubur
perpecahan yang telah lama terjadi di kota itu, mengamanatkan
perlindungan terhadap hak dan kewajiban warga negara, dan
mengamanatkan penyediaan pelayanan hukum yang adil bagi
semua pihak sehingga tidak ada lagi penyelesaian masalah dengan
aksi-aksi militer dari masing-masing suku.97
Piagam Madinah dibuat dengan maksud untuk memberikan
wawasan pada kaum muslimin waktu itu tentang bagaimana cara
bekerja sama dengan penganut bermacam-macam agama yang lain
yang pada akhirnya menghasilkan kemauan untuk bekerja
bersama-sama dalam upaya mempertahankan agama. Strategi nabi
tersebut sangat ampuh, terbukti dengan tidak memerlukan waktu
lama masyarakat Islam, baik Muhajirin maupun Anshar telah
mampu mengejawantahkan strategi tersebut dalam kehidupan
sehari-hari. Keberhasilan strategi tersebut tidak terlepas dari
kepiawaian nabi dalam melihat kondisi masyarakat sekitarnya
yang sangat memerlukan arahan dan tauladan dari pemimpin guna
menciptakan keadaan yang lebih baik. Perubahan tatanan
masyarakat di Madinah merupakan tolak ukur dari keberhasilan
atas perjanjian damai yang dibuat oleh Nabi.98
Piagam Madinah memang sarat muatan demokrasi dan
toleransi. Agar lebih jelas dan lebih memahami betapa demokratis
dan toleransi menjadi muatan-muatan yang terdapat dalam Piagam
Madinah, mari kita lihat sebagian isi dari Piagam Madinah.
Konstitusi Madinah dibuka dengan sebuah ungkapan:
Bismillâhirrahmânirrahīm. Hâdzâ kitâb min Muhammad
Nabī shallallâhu ‘alaih wa sallam, bayna al-mu’minîn wa al-
muslimîn min Quraisy wa Yatsrib wa man tabi’ahum falahiqa
bihim wa jâhada ma’ahum (Dengan nama Allah yang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang. Inilah piagam tertulis dari Nabi
saw. kepada orangorang mukmin dan muslim, baik yang berasal
dari suku Quraisy maupun suku Yatsrib, dan kepada segenap
warga yang ikut bersama mereka, yang telah membentuk
97 Zainal Abidin Ahmad, Piagam Nabi Muhammad SAW. Konstitusi Negara
yang Pertama di Dunia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975) hal. 93.
98 Imam Amrusi Jailani, Piagam Madinah: Landasan Filosofis Konstitusi
Negara Demokratis. hal. 280-281.
107
kepentingan bersama dengan mereka dan telah berjuang bersama
mereka). Dari sini jelas terlihat bahwa Rasulullah mengedepankan
kebersamaan dan persatuan. Kejayaan negara adalah kejayaan
bersama, dan kepentingan yang ada kaitannya dengan negara
adalah juga kepentingan bersama seluruh warga negara, tanpa
memandang golongan, ras, dan agama.
Dalam Piagam Madinah juga terdapat beberapa pasal yang
mengatur hubungan antara umat beragama, antara lain pasal 16:
“Bahwa sesungguhnya kaum-bangsa Yahudi yang setia
kepada (negara) kita, berhak mendapat bantuan dan
perlindungan, tidak boleh dikurangi haknya dan tidak boleh
diasingkan dari pergaulan umum”. Pasal 24: “Warga negara
(dari golongan) Yahudi ikut memikul biaya bersama-sama dengan
kaum beriman, selama negara dalam peperangan”. Pasal 25: “(1)
Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu bangsa-negara (umat)
dengan warga yang beriman, (2) Kaum Yahudi bebas memeluk
agama mereka, sebagaimana kaum muslimin bebas memeluk
agama mereka, (3) Kebebasan ini berlaku juga terhadap
pengikutpengikut/sekutu-sekutu mereka, dan diri mereka sendiri.
(4) Kecuali kalau ada yang mengacau dan berbuat kejahatan, yang
menimpa diri orang yang bersangkutan dan keluarganya”99
Kepiawaian dan kesuksesan nabi dalam menata peradaban
yang gemilang di Madinah sehingga kehidupan demokratis dan
toleran dapat tumbuh dan berkembang dengan subur di sana,
diterapkan juga oleh para penerusnya. Khalifah kedua, Umar bin
Khaththab, pada tahun 636 M., menandatangani perjanjian Aelia
dengan kaum Kristen di Yerussalem. Selaku pihak yang menang
perang, Khalifah Umar tidak menerapkan politik pembantaian
terhadap kalangan Kristen. Sikap Umar mencerminkan ketinggian
budinya yang didasari oleh keluhuran ajaran Islam, khususnya
dalam kasus penaklukan Yerussalem, yang menurut pujian Karen
Armstrong, belum pernah dilakukan oleh penguasa mana pun
sebelumnya.100
99 Adian Husaini, “Piagam Madinah dan Toleransi Beragama” dalam Tim
Penulis Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama R.I, Islam dan Isu-isu Kontemporer:
Artikel Dakwah dari Jurnal dan Website, (Jakarta: Ditjen Bimas Islam Kementerian
Agama R.I, 2010), hal. 144.
100 Imam Amrusi Jailani, Piagam Madinah: Landasan Filosofis Konstitusi
Negara Demokratis. hal 289.
108
C. Penutup
Dari makalah di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa :
1. Masjid sudah ada sejak masa Rasulullah Saw. pada waktu hijrah
dari Makkah ke Madinah dengan ditemani sahabat Abu Bakar,
Rasulullah Saw melewati daerah yang disebut dengan Quba, dan
akhirnya disana beliau mendirikan masjid pertama sejak
kenabiannya, yaitu masjid Quba
2. Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar menjadi pelopor
kebangkitan suatu umat yang mempunyai misi dakwah serta
risalah, menuju pembentukan global baru bersumber pada akidah
yang benar juga tujuan yang baik.
3. Madinah adalah salah satu kota yang mempersatukan ummat Islam.
Madinah juga salah satu kota yang dekat dengan ummat Islam.
betapa banyak aliran dan perbedaan paham dikalangan Muslim,
tetapi kalo sudah disebutkan kota ini mereka menyepakati, bahwa
Madinah adalah salah satu kota penting bagi spirutualitas dan
moralitas ummat Islam. Piagam Madinah atau yang bisa disebut
dengan “Shahîfat alMadînah” atau konstitusi Madinah adalah
perjanjian yang disepakati oleh Rasulullah saw sebagai pemimpin
besar umat Islam (Muhajirin dan Anshar), yang pada saat itu beliau
baru sampai di Yasrib, dengan para penduduk kaum Yahudi
Madinah yang terdiri dari beberapa kabilah, suku, yang faktualnya
adalah kaum penduduk mayoritas, di samping terdapat menganut
keyakinan minoritas yang berada di Madinah.
Bibliografi
BUKU :
Imam Amrusi Jailani, Piagam Madinah: Landasan
Filosofis Konstitusi Negara Demokratis.
Moh Ismail bin Mustari, Menjaga Pengurusan Masjid
Inovatif: Satu Keperluan Era Globalisasi. Prosiding Seminar
Pengurusan Masjid Inovatif.UTM
Muchsin, Sebuah Ikhtisar Piagam Madinah, Filsafat Timur,
Filosof Islam dan Pemikirannya, (Jakarta: STIH IBLAM)
Sidi Gazalba, Masyarakat Islam : Pengantar Sosiologi dan
Sosiografi (Jakarta: Bulan Bintang, 1976)
Yulianto Sumalyo, Arsitektur Masjid(Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press, 2000.
Abidin Ahmad, Piagam Nabi Muhammad SAW. Konstitusi
Negara yang Pertama di Dunia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975)
109
Zuhairi Misrawi. Madinah : Kota Suci, Piagam Madinah,
dan Teladan Muhammad Saw. ( Penerbit Buku Kompas
Bukukita.com 2009.
JURNAL :
Adian Husaini, “Piagam Madinah dan Toleransi
Beragama” dalam Tim Penulis Ditjen Bimas Islam Kementerian
Agama R.I, Islam dan Isu-isu Kontemporer: Artikel Dakwah dari
Jurnal dan Website, (Jakarta: Ditjen Bimas Islam Kementerian
Agama R.I, 2010)
Ali Ummu Salamah, Peradapan Islam Madinah : Refleksi
terhadap Primordialisme Suku Auz dan Khazraj. Studi Agama-
agama dan Pemikiran Islam, Vol 15, No 2 (September, 2017)
Aziz Muslim,“Manajemen Pengelolaan Masjid, dalam
Jurnal Aplikasia (Aplikasia Ilmu-ilmu Agama)”,Vol V, No. 2
(Desember 2004)
Hidayati Nurul, Potret Manajemen Rasulullah Saw Ketika
Berdakwah di Maadinah al-Munawwarah. Manajemen Dakwah
Vol 1 No 2 (Desember, 2016)
110
Peperangan Penting Semasa Rasulullah Saw
Oleh :
(1) Julia Maisaroh
(2) Raudhatul Jannah
(3) Faizah Zahrodina A.
A. Pendahuluan
Perang merupakan suatu keadaan dimana orang atau
sekelompok orang berusaha memenuhi tujuannya dengan
menentang pihak lain yang disertai dengan ancaman atau
kekerasan. Perang dapat terjadi karena sifat alami manusia yang
ingin menguasai satu sama lain. Namun perang dalam Islam pada
hakikatnya merupakan sesuatu yang dihindari. Islam tidak
menghendaki terjadi peperangan. Perang dalam bahasa Arab
disebut dengan qital. Perang dalam Islam harus didasari oleh
perang di jalan Allah dengan berbagai syarat yang harus ditaati
kaum Muslimin. Perang dalam Islam memiliki tujuan untuk
mempertahankan diri dari serangan lawan dan dalam rangka
menjaga penyebaran dakwah Islam. Perang merupakan
pertempuran dan menjadi salah satu dari bagian jihad. Jihad lebih
memiliki makna yang luas yaitu segala bentuk kegiatan
memperjuangkan kebenaran dan memperjuangkan penyebaran
Islam, baik secara damai atau secara perang.
Muslimin diperbolehkan berperang apabila kaum Muslimin
sebelumnya ditekan dan diintimidasi dalam menyebarkan syariat.
Kaum Muslimin wajib membela diri untuk menunjukkan izzah dan
kehormatan Islam dengan batasan-batasan yang menjunjung tinggi
peri kemanusiaan . Seluruh musuh Islam baik dari kalangan kaum
Yahudi maupun kaum Musyrik mengetahui bahwa penyebab
kemenangan kaum Muslimin terletak pada faktor kepemimpinan
atau personal yang diwujudkan melalui strategi perang.
Salah satu pasukan perang yang mengalami banyak
kemenangan adalah pasukan perang kaum Muslimin pada masa
Rasulullah. Keistimewaan strategi perang Rasulullah terletak pada
perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian rencana perang.
Selain itu, keistimewaan lain dari pasukan perang Rasulullah
adalah hubungan erat yang terjalin antara komandan militer dengan
para pasukannya. Kerjasama terjalin, strategi direncanakan secara
matang, dan dilaksanakan dengan teratur serta maksimal.
111
Salah satu perang masa kepemimpinan Nabi Muhammad
SAW ialah perang Khandaq. Perang Khandaq merupakan perang
antara kaum muslimin yang berada di Madinah yang berjumlah
3000 orang melawan golongan orang yang bersekutu antara
Yahudi, Quraisy dan beberapa kabilah Arab yang berjumlah
10.000 orang. Pada saat itu Keadaan Madinah yang dikepung
pasukan dalam jumlah banyak memungkinkan pasukan Muslimin
akan mengalami kekalahan. Namun akhirnya kaum muslimin yang
menang karena, kepemimpinan yang ditunjukkan Nabi
Muhammad sebagai pemimpin militer yang tetap tenang dalam
mengatasi perubahan situasi perang secara mendadak. Perang
Khandaq menjadi peperangan yang berarti bagi umat Islam karena
menjadi bukti bahwa kaum Muslimin berhasil menunjukkan
kekuatan dengan mengalahkan semua pasukan sekutu yang
berjumlah banyak.
Materi dalam mata kuliah Sirah Nabawiyah ini kami akan
menjelaskan mengenai peperangan pada masa Nabi Muhammad
SAW. Kami berharap materi ini mampu memberikan gambaran
secara jelas bagaimana kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Nabi
Muhammad sebagai pemimpin perang. Hal ini bisa menunjukkan
bahwa Nabi Muhammad tidak hanya sebagai pemimpin agama
saja, tetapi beliau juga merupakan seorang pemimpin perang yang
tetap mempertahankan nilai-nilai kepemimpinan yang luar biasa
dan bisa ditiru oleh semua orang.
B. Pembahasan
B.1. Definisi Ghazwah dan Sariyah
a. Pengertian Ghazwah
Kata Ghazwah di dalam Al-Qur’an disebutkan sekali dalam
QS. Ali Iَمَواmُِْانِتrِٰوٰمaٓخۦnْٰمِىا:ِيِْل1َُٰن5لَُٰدوَا6ّّنَلُل.إَِٰٰٰٓأوويٰٰذُُٰمييِاّياٰهاقُُٰتضِتَٱلََُٰۗرلبُّوَاِوذَٰاويٱلِّيَِٰلَّٰنَلَُفْجِِءٰٱعٰباْٰاٰمٰلَلٰنُْتٰروٱَاْعَّلِّٰٰملَُضَللَُ أٓوٰذٰتٰلَِْٰوَنُكٰبَٰكوٰكنُاِصونَاُٰحواََيرْٰسكٰٱغرَُلًَةّّزِذِيىَفََٰنلّقُْوَلُٰكوِٰفِٰكبُِارْنَمُواََۗوَاٰوٰوقٰٱِعا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti
orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang
112
mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka
mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang:
"Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak
mati dan tidak dibunuh". Akibat (dari perkataan dan keyakinan
mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa
penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah
menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang
kamu kerjakan.”
Kata ini berakar dari kata ghaza-yaghzu yang bermakna
menyerang atau menyerbu. Adapun ghazwan, ghazawah,
ghazwan, yang bermakna penyerbuan, penyerangan dan
perang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ghazwah
selalu melibatkan perlawanan fisik sehingga ada pihak yang
menang dan kalah. Ghazwah sering dikenal dengan istilah
peperangan yang Rasulullah SAW. ikut serta di dalamnya
untuk menghadapi musuh baik terjadi pertempuran atau tidak.
Menurut Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi mengatakan, “Para
penulis sejarah secara umum menyebut setiap kelompok kaum
Muslimin yang pergi bersama Nabi SAW. untuk menghadapi
musuhnya dengan istilah ghazwah baik terjadi pertempuran
dalam ekspedisi tersebut ataukah tidak, baik jumlah
pasukannya besar atau pun kecil. (Hilmi 2021)101 Berikut
beberapa perang ghazwah atau perang yang diikuti oleh
Rasulullah SAW:
Nama Ghazwah Tanggal Tempat
Waddan Shafar 2 H Waddan
Bani Quraizhah Dzul Qa’dah 5 H Pinggiran Madinah
Khaibar Muharram 7 H Khaibar
Hunain Syawal 8 H Lembah Hunain
Thaif Syawal 8 H Thaif
101 Mohammad Jakfar dan Fasha Faishal Hilmi, “Konsep Perang Menurut
Wahbah Az-Zuhayli”, Izzatuna, Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Vol. 2, No. 1, 2021, hal.
7.
113
Fathu Makkah Ramadhan 8 H Makkah al-
Dzatu Riqa’ 7H Mukarramah
Dekat Najed utara
Khaibar
b. Pengertian Sariyah
Secara bahasa السرنةberarti yang keluar di malam hari.
Disebut dengan sariyah karena ia berjalan di malam hari secara
tersembunyi agar tidak diketahui oleh musuh yang bisa
membuat mereka bersikap waspada dan melakukan antisipasi.
Adapun secara istilah menurut Ibnul Atsir adalah sekelompok
pasukan yang jumlahnya maksimal 400 personil yang dikirim
untuk menghadapi musuh. Bentuk jamak dari السرنةadalah
السرانا. Dinamakan dengan sariyah karena mereka itu adalah
pasukan tempur ini. Mereka adalah pasukan yang berharga,
berasal dari sesuatu yang rahasia dan berharga. Alhafidz Ibnu
Hajar dan Ibnul Mandzur menyatakan sariyah itu berkisar
antara 100 hingga 500 oarang. Adapun sariyah mu’tah jumlah
pasukannya mencapai 3000 orang. Dalam sirah nabawiyah
jumlah personil sariyah itu tidak lebih dari 3000 pasukan tidak
ada jumlah sariyah yang lebih besar dari sariyah mu’tah.
Demikian pula, tidak ada batasan minimal jumlah personil
sariyah dalam sirah nabawiyah bahkan kadang jumlah personil
sariyah hanya satu orang saja.102 Berikut beberapa perang
sariyah pada zaman Rasulullah SAW:
Nama Sariyah Tahun Tempat / Tujuan
Sariyah Hamzah Ramadhan 1 H Saiful Bahri
bin Abdullah Syawal 1 H Bathi Rabigh
Dzul Qa’dah 1 H Al- Kharrar
Muthalib Sebuah kampung
Sariyah ‘Ubaidah Rajab 2 H suku Kinanah
bin Al-Harits
Sariyah Sa’ad bin
Abi Waqqash
Sariyah Sa’ad bin
Abi Waqqash
102 Ali Muhammad Ash-Shalabi, “As-Sirah An-Nabawiyah ‘Ardhu Waqai’ wa
Tahlilu Ahdats”, (Beirut, Lebanon: Darul Ma’rifah, 1429 H/208M), hal. 366.
114
Sariyah Abdullah Rajab 2 H Nakhlah
Ramadhan 2 H
bin Jahsy Untuk membunuh
Sariyah ‘Umar ‘Ashma binti
Marwa
bin ‘Adi
B.2. Peperangan Penting pada Masa Rasulullah SAW di Madinah
Berikut beberapa perang yang terjadi di madinah ketika masa
Rasulullah SAW:
a. Perang Khaibar
Perang Khaibar terjadi pada tahun ke-7 Hijriyah.
Rasulullah SAW berangkat meninggalkan Madinah menuju ke
Khaibar di awal bulan Muharam, sepulang dari perjalanan
umrah yang terhambat di Hudaibiyah. Dinamakan perang
Khaibar karena terjadinya di suatu daerah milik Yahudi
bernama Khaibar, berjarak 160 kilometer di utara Madinah
yang merupakan tanah subur penghasil kurma terbaik di dunia.
b. Perang Qainuqa
Bani Qainuqa adalah satu di antara tiga suku Yahudi yang
tinggal di Yatsrib, sekarang Madinah. Pada tahun 624, mereka
diusir oleh Nabi Islam, Muhammad, karena dituduh melanggar
perjanjian yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Sebagian
besar Ulama Ahli Sejarah menyebutkan bahwa peperangan ini
terjadi setelah Perang Badar Kubra.
Perperangan dengan Bani Qainuqa ini terjadi pada bulan
Syawal tahun ke-2 H dan dimenangkan oleh Kaum Muslimin.
Penyebab terjadinya perang Bani Qainuqa' ialah seorang
wanita Arab datang membawa barang dagangannya untuk
dijual di pasar Bani Qainuqa' kemudian duduk bersebelahan
dengan seorang tukang emas dan perak. Orang-orang Yahudi
meminta wanita Arab tersebut menyingkap wajahnya, tapi
wanita itu menolak permintaan mereka. Tukang emas
mendekat ke ujung pakaian wanita tadi dan mengikatkannya ke
punggungnya. Saat wanita Arab tadi berdiri, maka
tersingkaplah auratnya dan orang-orang Yahudi pun tertawa
terbahak-bahak menyaksikan peristiwa tersebut. Mendapatkan
perlakuan keji seperti itu, wanita Arab tadi berteriak kencang.
Maka salah seorang dari kaum muslimin melompat ke tukang
emas Yahudi itu lalu membunuhnya. Yahudi-yahudi lainnya
tidak tinggal diam. Mereka menarik lelaki muslim tadi dan
115
membunuhnya juga. Akibat peristiwa tersebut, keluarga lelaki
muslim yang dibunuh berteriak memanggil kaum muslimin
seraya menyebutkan aksi kurang ajar orang-orang Yahudi.
Kaum muslimin pun geram sehingga meledaklah perang antara
kaum muslimin dengan orang-orang Yahudi.103
c. Perang Quraizhah
Bani Quraizhah adalah kabilah Yahudi yang tinggal di kota
Madinah pada permulaan tahun-tahun pertama setelah hijrah
Nabi Muhammad SAW. Perang terakhir Nabi Muhammad
SAW dengan Yahudi kota Madinah adalah perang melawan
Bani Quraizhah yang terjadi pada bulan Dzul Qa’idah tahun ke-
5 H dan bernama Perang Bani Quraizhah. Perang Bani
Quraizhah terjadi pada akhir perang Khandaq. Ini adalah
peristiwa dikepungnya benteng milik Bani Quraizhah dan
dibunuhnya semua penghuninya, karena mereka telah
berkhianat. Awalnya ketika Rasulullah SAW pulang dari
perang Khandaq dan hendak meletakkan baju perangnya, tiba-
tiba datang malaikat Jibril yang membawa perintah Allah untuk
meneruskan perang mengepung Benteng Yahudi Bani
Quraizhah.104
Kaum Muslimin yang berangkat menuju Bani Quraizhah
berjumlah 3000 orang. Pengepungan terus berlangsung selama
25 hari. Sebenarnya Bani Quraizhah dapat bertahan dalam
pengepungan tersebut dalam waktu lebih lama, mengingat
kuatnya benteng mereka dan tersedianya bahan makanan dan
minuman di dalamnya. Sementara di sisi lain, udara dingin
tanpa perlindungan menghadang kaum muslimin disertai rasa
lapar yang sangat. Namun peperangan ini lebih bersifat perang
urat saraf dan karena mereka telah dihantui rasa takut oleh
kekuatan kaum muslimin, akhirnya kaum Yahudi Bani
Quraizhah tunduk dan mereka menyerahkan keputusannya
kepada Rasulullah SAW. Orang-orang Anshar menghadap
Rasulullah untuk meminta keringanan hukuman terhadap Bani
Quraizhah, mengingat hubungan baik mereka selama ini. Maka
dengan bijaksana Rasulullah menunjuk seorang shabat dari
kalangan anshar yang Bernama Sa’ad bin Mu’adz memberi
103 Ibnu Hisyam, “Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap kehidupan Rasulullah”,
(Jakarta: Akbar Media, 2012), hal. 477.
104 Fuji E Permana, Ani Nursalikah, ” Peristiwa Perang Penting di Zaman Nabi
Muhammad”, Islam Digest, 10 Juni 2020, (diakses pada 22 November 2022, 07.30 WIB)
116
ketetapan berupa hukuman mati kepada setiap laki-laki dewasa
dari bani Quraizhah, sedangkan kaum Wanita ditawan dan
harta-harta mereka dibagi-bagikan. Mendengar keputusan
tersebut rasulullah berkomentar:
“Engkau telah menetapkan hukum Allah dari atas tujuh
lapis langit”. Maka segeralah dilaksanakan eksekusi hukuman
mati dengan memenggal kepala orang dewasa dari Bani
Quraizhah yang berjumlah antara 600 hingga 700 orang
termasuk di dalam tokoh Yahudi Bani Nadhir, yaitu Huyay bin
Akhtab, bapak dari Shafiyah Ummul Mu’min
Radhiallahuanha, yang saat itu juga ikut berlindung di benteng
Bani Quraizhah.
Hukuman yang sepintas sangat keras ini sebenarnya sangat
layak diberikan kepada Bani Quraizhah mengingat
penghianatan mereka di saat-saat Rasulullah sangat
membutuhkan bantuan mereka berdasarkan perjanjian yang
telah diseepakati. Apalagi ternyata diketahui kemudian setelah
kaum Muslim memeriksa benteng mereka didapati di dalamnya
perlengkapan sangat banyak. Hal itu menunjukkan bahwa
mereka pada memiliki rencana lebih besar terhadap kaum
Muslimin. Mereka layak dikatakan sebagai penjehat perang
yang harus dihukum mati.105
B.3. Perang Besar Pada Masa Rasulullah SAW
Berikut 4 perang besar di masa Rasulullah :
a. Perang Badar
Perang Badar terjadi di Lembah Badar pada 17 Ramadhan
2 H, 125 km selatan Madinah. Perang Badar merupakan puncak
pertikaian antara kaum muslim Madinah dan musyrikin
Quraisy Mekah. Peperangan ini disebabkan oleh tindakan
pengusiran dan perampasan harta kaum muslim yang dilakukan
oleh musyrikin Quraisy. Selanjutnya kaum Quraisy terus
menerus berupaya menghancurkan kaum muslim agar
perniagaan dan sesembahan mereka terjamin. Latar belakang
dari peristiwa perang Badar Kubra adalah untuk menghadang
kafilah dagang Abu Sufyan, pemimpin kafir Quraisy. Tidak
105 Shafiy al-Rahman al-Mubarakfury, dan Abdullah Haidir (Penerjemah)
“Sejarah hidup dan Perjuangan Rasulullah SAW disarikan dari Kitab al-Rahiq al-
Makhtum”, (Riyadh: Kantor Dakwah dan Bimbingan bagi Pendatang al-Sulay, 2005), hal.
133-134.
117
hanya itu, tetapi juga untuk memberikan pukulan pollitik,
ekonomi, dan militer ketubuh kafir Quraisy.106
Kaum Muslimin memasuki pertempuran dengan taktik baru
yang belum pernah di kenal sebelumnya oleh bangsa Arab
yaitu: Formasi bershaf dengan tempat pertahanan yang begitu
sempurna bagi pimpinan, dan pasukan berada di bawah kontrol
seorang panglima. Sementara kaum Musyrikin menerapkan
taktik perang “menyerang dan lari” tanpa kepentingan yang
jelas dan kontrol yang rapi, dimana peperangan mereka
berjalan seperti layaknya orang tawuran yang bergerak secara
individual, bukan sebagai kelompok dalam sebuah kesatuan.
Rasulullah SAW sendiri turun memimpin barisan pasukannya.
Pasukan tersebut mendekat secara perlahan-lahan ke arah
barisan pasukan Quraisy yang telah kehilangan para
pemimpinnya, sampai akhirnya mereka berhasil mengobrak-
abrik kekuatan pasukan kaum Musyrikin.
Dalam peperangan ini kaum muslim memenangkan
pertempuran dengan gemilang. Tiga tokoh Quraisy yang
terlibat dalam Perang Badar adalah Utbah bin Rabi'ah, al-Walid
dan Syaibah. Ketiganya tewas di tangan tokoh muslim seperti
Ali bin Abi Thalib. Ubaidah bin Haris dan Hamzah bin Abdul
Muthalib. Adapun di pihak muslim Ubaidah bin Haris
meninggal karena terluka.
b. Perang Uhud
Perang Uhud terjadi di Bukit Uhud pada Syakban 3 H.
Perang Uhud dilatarbelakangi kekalahan kaum Quraisy pada
Perang Badar sehingga timbul keinginan untuk membalas
dendam kepada kaum muslim.
Sejak kekalahan besar mereka yang sangat menyakitkan
dalm perang Badar, maka kaum Quraisy bertekat bulat hendak
menuntut balas terhadap kaum Muslimin. Untuk itu mereka
gigih menyiapkan kekuatan militer guna mengemblikan
kehormatan dan nama baik mereka. Setelah perang Badar, satu
strategi Rasulullah SAW yang sangat urgen adalah
menempatkan para intelegennya di Mekkah untuk memberikan
informasi-informasi yang terkait tentang pasukan Quraisy.
Salah satunya adalah Abbas bin Abdul Muthalib, pamannya
106 Zulyadain, dan Fitrah Sugiarto, “Sirah Nabawiyah”, (Mataram: Sanabil,
2021), hal. 113-114.
118
sendiri. Jumlah pasukan kaum Muslim ketika itu 1000 orang.
Pasukan itu terdiri atas 100 prajurit mengenakan baju besi dan
50 penunggang kuda dan sisanya pasukan berpedang.
Kaum Musyrikin Quraisy maju berperang dalam keadaan
bergolak aliran darahnya untuk menuntut balas atas pemuka-
pemuka dan tokoh-tokoh pimpinan mereka yang terbunug pada
perang Badar, sementara wanita-wanitanya berdiri di belakang
mereka mengobarkan semangat dan keberanian mereka. Tak
hanya seorang dari kaum wanita mereka itu yang menjanjikan
hadiah besar dan melimpah kepada kaum budak yang berhasil
membalaskan dendam dan sakit hati mereka dalam perang
Badar dan kematian bapak atau saudara atau suami atau orang
yang dicintainya. Wahsyi menungu-nunggu kesempatan
diantara barisan pasukan mengincar Hamzah bin Abdul
Muthalib, sampai akhirnya dia melihat Hamzah berada diantara
barisan lawan sedang menjatuhkan pahlawan-pahlawan
Quraisy. Lalu dia membidikkan lembingnya ke arah Hamzah.
Lembing terdebut dapat mengenai perut Hamzah dibagian
bawah pusarnya dan ujungnya keluar diantara kedua
selangkangan kakinya, sehingga syahidlah Hamzah bin Abdul
Muthalib lantaran tusukan lembing itu. Kendati kaum
Muslimin menderita kerugian yang cukup besar dengan
kesyahidan Hamzah, akan tetapi pasukan mereka tetap
menguasai secara mutlak situasi pertempuran yang
berlangsung saat itu.
Pasukan Muslimin berhasil memukul mundur pasukan
Musyrikin dan menjauhkan mereka dari markas pertahanan
mereka, kemudian setelah melakukan pengejaran sesaat
mereka balik lagi untuk mengumpulkan ghanimah. Pasukan
pemanah yang telah mendapat perintah Rasulullah supaya tidka
meninggalkan posisi mereka, begitu melihat kaum Musyrikin
berlarian mereka pun berpikir untuk membangkang perintah
Nabi. Hingga pada akhirnya pasukan kaum Muslimin pada saat
itu dalam kondisi rawan, kemudian Khalid bin Walid
memanfaatkan kesempatan untuk menyerang balik. Pertahanan
kaum Muslimin semakin rapuh. Kondisi berubah seketika saat
itu, Rasulullah SAW di kabarkan telah meninggal dan membuat
kaum Muslimin yang berperang semakin mundur.
Rantai yang pecah itu membuat pedang dengan luasa
menembus pipi Rasulullah SAW hingga gigi seri beliau pecah
119
sentak saja wajah Nabi Allah SWT ini berlumuran darah. Dua
sahabat yang masih tersisa itulah yang melindungi Rasulullah
SAW sampai putus beberapa jari jemari. Pada pertempuran ini
tentara Muslim banyak yang menjadi korban. Pada perang ini
kaum Musyrikin yang mati terbunuh sebanyak 12 orang. Dan
kaum Muslimin mati syahid sebanyak 71 orang.107
c. Perang Khandaq
Setelah perang Uhud, kaum Muslimin berhasil menerbitkan
kembali tatanan pemerintahan sehingga kendali kekuasaan di
Madinah berada penuh di tangan mereka dan Merekapun dapat
membebaskan diri dari rong-rongan orang-orang Yahudi bani
Nadhir. Maka dengan demikian kedudukan mereka di Madinah
menjadi kuat sehingga Madinah betul-betul menjadi Qa’idah
Aminah bagi Islam dan kaum Muslimin. Mereka juga berhasil
menggoyangkan moral kaum Musyrikin Quraisy dan kabilah-
kabilah yang bernafsu mekakukan penyerangan ke Madinah.
Lokasi Perang Khandaq adalah di sekitar kota Madinah
bagian utara pada Syawal 5 H. Perang ini juga dikenal sebagai
Perang Ahzab (Perang Gabungan). Perang Khandaq
melibatkan kabilah Arab dan Yahudi yang tidak senang kepada
Nabi Muhammad SAW. Mereka bekerjasama melawan Nabi
SAW. Di samping itu, orang Yahudi juga mencari dukungan
kabilah Gatafan yang terdiri dari Qais Ailan, Bani Fazara,
Asyja', Bani Sulaim, Bani Sa'ad dan Ka'ab bin Asad. Usaha
pemimpin Yahudi, Huyay bin Akhtab, membuahkan hasil.
Pasukannya berangkat ke Madinah untuk menyerang kaum
muslim. Berita penyerangan itu didengar oleh Nabi
Muhammad SAW. Kaum muslim segera menyiapkan strategi
perang yang tepat untuk menghadapi pasukan musuh. Salman
al-Farisi, sahabat Nabi SAW yang mempunyai banyak
pengalaman tentang seluk beluk perang, mengusulkan untuk
membangun sistem pertahanan parit (Khandaq). Ia
menyarankan agar menggali parit di perbatasan kota Madinah,
dengan demikian gerakan pasukman musuh akan terhambat
oleh parit tersebut. Usaha ini ternyata berhasil menghambat
pasukan musuh.
d. Perang Fath al-Makkah / Penaklukan Kota Mekkah
107 Zulyadain, dan Fitrah Sugiarto, “Sirah Nabawiyah”, (Mataram: Sanabil, 2021),
hal. 119-124.
120
Fath al-Makkah terjadi di sekitar kota Mekah pada tahun 8 H. Latar
belakang peristiwa ini adalah adanya anggapan kaum Quraisy
bahwa kekuatan kaum muslim telah hancur akibat kalah perang di
Mu'tah. Kaum Quraisy beranggapan Perjanjian Hudaibiyah (6 H)
tidak penting lagi, maka mereka mengingkarinya dan menyerang
Bani Khuza'ah yang berada dibawa perlindungan kaum muslim.
Nabi Muhammad SAW segera memerintahkan pasukan muslimin
untuk menghukum kaum Quraisy. Pasukan muslimin tidak
mendapat perlawanan yang berarti, kecuali dari kaum Quraisy yang
dipimpin Ikrimah dan Safwan. Berhala di kota Mekah dihancurkan
dan akhirnya banyak kaum Quraisy masuk Islam.
C. Penutup
Ghazwah secara bahasa bermakna menyerang atau
menyerbu. Ghazwah itu selalu melibatkan perlawanan fisik
sehingga ada pihak yang menang dan kalah. Namun secara istilah
Ghazwah ialah peperangan yang Rasulullah ikut serta didalamnya
untuk menghadapi musuh baik terjadi pertempuran atau tidak.
Sariyyah secara bahasa berarti yang keluar di malam hari. Disebut
dengan sariyyah karena ia berjalan di malam hari secara
tersembunyi agar tidak diketahui oleh musuh yang bisa membuat
mereka bersikap waspada dan melakukan antisipasi. Adapun
secara istilah menurut Ibnul Atsir adalah sekelompok pasukan yang
jumlahnya maksimal 400 personil yang dikirim untuk menghadapi
musuh.
Peperangan penting semasa Rasulullah SAW, yaitu perang
Badar, perang Uhud, perang Khandaq, dan perang Fath al-Makkah.
Pertama, Perang Badar terjadi pada 7 Ramadhan, dua tahun setelah
hijrah. Perang badar merupakan perang pertama yang dilakukan
kaum muslimin. Sekaligus peristiwa paling penting bagi sejarah
perkembangan dakwah Islam. Kedua, Perang Uhud merupakan
perang balasan terhadap orang muslim, karena pada saat perang
badar kaum Quraisy dikalahkan oleh kaum Muslim dan kafilah
dagang kaum Quraisy dirampas oleh kaum Muslimin. Perang
Khandaq terjadi pada tahun 5 H. Ketiga, Perang Khandaq disebut
juga perang ahzab, artinya perang gabungan. Muaranya adalah
ketidakpuasan beberapa orang Yahudi Bani Nadhir akan keputusan
Rasulullah yang menempatkan mereka di luar Madinah. Keempat,
Perang Fath al-Makkah terjadi di sekitar kota Mekah pada tahun 8
H. Latar belakang peristiwa ini adalah adanya anggapan kaum
121
Quraisy bahwa kekuatan kaum muslim telah hancur akibat kalah
perang di Mu'tah
Bibliografi
almanhaj.or.id. 13 April 2014. Bani Qainuqa. Diakses pada 21
November 2022.
al-Mubarakfury, Shafiy al-Rahman, dan Abdullah Haidir
(Penerjemah). 2005. Sejarah hidup dan Perjuangan
Rasulullah SAW disarikan dari Kitab al-Rahiq al-Makhtum.
Riyadh: Kantor Dakwah dan Bimbingan bagi Pendatang al-
Sulay.
dalamislam.com. 13 Maret 2019. Peperangan yang Terjadi di
Zaman Rasulullah SAW. Diakses pada 21 November 2022.
fitrianahadi.blogspot.com. 9 Januari 2016. Peperangan Penting
Semasa Rasulullah SAW. Diakses pada 21 November 2022.
Hisyam, Ibnu. 2012. Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap
Kehidupan Rasulullah. Jakarta: Akbar Media.
Jakfar, Mohammad, dan Fasha Faishal Hilmi. 2021. Konsep Perang
Menurut Wahbah Az-Zuhayli. Izzatuna, Jurnal Ilmu Al-Quran
dan Tafsir, 2(1).
pusatjamdigital.com. Pengertian Ghazwah dan Sariyah: Sejarah,
Sebab, Perbedaan, Tabel Lengkap. Diakses pada 21
November 2022.
republika.co.id. 10 Juni 2020. Peristiwa Perang Penting di Zaman
Nabi Muhammad. Diakses pada 21 November 2022.
risalahmuslim.id. 8 Mei 2022. Bani Quraizhah. Diakses pada 21
November 2022.
Zulyadain, dan Fitrah Sugiarto. 2021. Sirah Nabawiyah. Mataram:
Sanabil.
122
Perjanjian Damai (Hudaibiyah), Pengiriman Surat Dakwah oleh
Nabi Saw
Oleh :
(1) Zahrotunnisa Salsabila
(2) Rifqoh Zahidah A
(3) Suja Holifah
A. Pendahuluan
Perjuangan Rasulullah dan kaum muslimin dalam rangka
menyebarkan risalah tauhid sangatlah berat. Berbagai tantangan
dan halangan kerap dijumpai, di era Makkah ketika islam baru
sedikit pengikutnya, kaum mushrikin Quraysh begitu gencar
menghalang-halangi dan mengintimidasi kaum muslimin agar
jangan sampai dakwah islam tersebar lebih luas lagi.
Ka’bah merupakan suatu tempat yang suci dan dihormati
oleh bangsa Arab dan menjadi arah tujuan kabilah-kabilah Arab
dalam melakukan ibadah, posisinya terletak di kota Mekkah berada
didalam Masjidil Haram. Setiap tahun bangsa Arab datang ke
ka’bah pada bulan-bulan haram yang sangat mereka hormati.
Siapapun yang berada di lingkungan tanah haram dan pada bulan-
bulan itu, maka terjamin keselamatan jiwa dan raganya. Setiap
pemeluk agama berhala apa saja, apabila datang ke tempat suci itu,
asal dengan maksud yang baik serta niat untuk beribadah, harus
diperkenankan masuk dengan dijamin kemananan dan
keselamatannya. Oleh sebab itu kalau ada orang yang menghalang-
halangi orang lain untuk datang beribadah ke tempat itu, maka dia
telah melanggar undang-undang yang disepakati oleh seluruh
bangsa Arab pada masa itu.
Akan tetapi sikap kaum Quraisy terhadap kaum muslimin
berbeda. Mereka dengan lalimnya telah melarang kaum muslimin
masuk kota Mekah. Alasan mereka bersikap demikian karena
mereka sangat memusuhi Islam dan para pemeluknya, mereka
menganggap Nabi SAW dan para pengikutnya mengingkari
kesucian dan kemuliaan patung-patung berhala mereka, seperti
Hubal, Isaf, Na-ilah 108, Latta, dan Uzza, yang diletakkan berjajar
didalam dan sekeliling ka’bah.
108 Muhammad Husain Haekal. Hayat Muhammad. Terj. Ali Audah. Sejarah Hidup
Muhammad (Bogor. 2013) hal. 397.
123
Sementara pada saat itu kaum muslimin terutama dari
golongan Muhajirin merasakan kerinduan yang sangat terhadap
kampong halamannya yaitu Mekah. Kerinduan dan keinginan
kaum muslimin makin bertambah dengan adanya perintah
mengerjakan ibadah haji. Tetapi, keinginan tersebut belum bisa
diwujudkan karena adanya larangan dari kaum musyrikin Quraisy,
yang menjadi penguasa kota Mekah. Namun hal itu tidak
menurunkan semangat kaum muslimin. Mereka yakin Allah Swt
akan memberikan pertolongan, sehingga dapat memasuki kota
Mekah. Sebagaimana Allah telah menolong kaum muslimin, dalam
berbagai peperangan dengan kaum musyrikin. Semangat itu terus
menyala dalam dada setiap muslim ketika itu, apalagi jika mereka
ingat sabda Nabi SAW sesudah perang khandaq,”Mereka (kaum
Qurasiy) tidak akan memerangi kami sesudah hari ini.” Maka,
makin bertambah memuncaklah semangat mereka hendak ziarah
ke kota Mekah. Nabi SAW juga merasakan hal yang sama seperti
kaum muslimin, sangat merindukan Mekkah, dan beliau yakin
waktunya sudah semakin dekat.
Allah menghendaki agar kaum mukmin memperlihatkan
kekuatan nyata yang dapat menggetarkan kaum mushrikin
Makkah, kota itu harus berada di bawah naungan islam dan
baitullah harus segera disucikan dan dibersihakan dari patung-
patung berhala dan segala macam kepercayaan jahiliyyah yang
membelenggu kota suci itu. Untuk kesemuanya itu Allah
menciptakan sebab dan sarana, sebab itu adalah Perjanjian
Hudaibiyah.
B. Pembahasan
B.1. Perjanjian Hudaibiyah
Hudaibiyah merupakan sebuah sumur 109 yang namanya sesuai
dengan nama daerah tersebut. Daerah atau wilayah yang dimaksud
tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Jaraknya dari Madinah 9
Marhalah, dan jaraknya dari Makkah 1 Marhalah. Sebagian dari
Hudaibiyah termasuk tanah halal, dan sebagiannya termasuk tanah
Haram.
1. Kronologi Terjadinya Perjanjian Hudaibiyah
Berawal dari apa yang disampaikan Rasulullah kepada para
sahabatnya ihwal mimpi beliau yang masuk kota Makkah dan
109 Munawwar Khalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, (Depok: Gema
Insani Press, 2001) hal. 123.
124
berṭawaf mengitari Baitullah al-Haram, tanpa kejelasan
mengenai waktu, bulan dan tahunnya. Para sahabat utamanya
kaum Muhajirin sangat gembira dengan kabar yang
disampaikan oleh Rasulullah itu. Mereka pun tidak meragukan
sama sekali bahwa mimpi beliau pasti terjadi dan akan menjadi
kenyataan dalam tahun itu juga. Pentakwilan mereka seperti itu
terpadu dengan hasrat serta keinginan mereka yang demikian
besar sehingga membangkitkan kerinduan yang telah sekian
lama terpendam. Itulah antara lain yang membuat mereka
begitu semangat dan antusias untuk siap-siap berangkat ke
Makkah bersama Rasulullah. Sebelum berbicara tentang
penyebab langsung rekonsiliasi, perlu untuk menunjukkan
alasan mula-mula keberangkatan ke Hudaibiyah. Beberapa ahli
ilmu (sarjana) mengatakan bahwa sebab tersebut adalah mimpi
yang dilihat oleh Nabi, dan ia melihat bahwa ia dan para
sahabatnya akan masuk ke rumah suci (Ka’bah) dan diantara
mereka saling memotong rambut (mencukur). Diantara tokoh
yang berpendapat demikian adalah al-Waqidi, al-Ya’qubi, al-
Makriziy, al-Zarqani, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Pada tahun ke-6 H bulan Dzulqa’dah, bersama rombongan
kaum muslimin sebanyak 1400110 Rasulullah berangkat ke
Makkah, dengan tujuan untuk berumrah, bukan untuk
berperang. Dalam perjalanan menuju Makkah Rasulullah
berusaha menampakkan dengan gamblang niat beliau
menghormati Ka’bah dan kerena itu Rasulullah membawa 70
ekor unta yang gemuk-gemuk dan beberapa domba. Setibanya
mereka di sebuah tempat bernama Dzu al-Halifah mereka
berihram umrah, agar orang-orang Makkah mengetahui bahwa
kedatangan Rasulullah ke Makkah bersama rombongan kaum
muslimin tidak bermaksud lain kecuali hendak berziarah ke
Baitullah.
Berita tentang perjalanan Nabi dan kaum Muslimin yang
akan menunaikan ibadah umrah tersebut telah sampai ke kaum
Quraisy, namun kaum Quraisy karena bisa saja hanya sebagai
taktik untuk menembus kota Mekkah. Oleh karena itu, pada
umumnya para pemuka Quraisy tetap pada pendirian mereka,
bahwa dalih apapun yang disampaikan oleh kaum muslimin itu
tetap dilarang memasuki kota Mekkah, Sebesar apapun
110Anonim,PerjanjianHudaibiyah,file:///C:/Users/Windows/Downloads/Bab%203.p
df diakses tanggal 20 November 2022 pukul 21: 35 WIB
125
pengorbanan yang harus dilakukan guna menegakkan
keputusan mereka.
Untuk itu, kaum Quraisy segera menyiapkan pasukan
berjumlah 200 orang di bawah panglima Khalid ibnu Walid
guna merintangi Nabi Muhammad saw. dan kaum Muslimin
dari maksud dan tujuan mereka datang di Mekkah. Sementara
itu rombongan dari Madinah di bawah pimpinan Usman yang
sedang menuju Usfan dan ketika mereka tiba di daerah tersebut
Nabi bertemu
dengan seseorang dari suku Ka'ab dan berhasil memperoleh
informasi bahwa kaum Quraisy juga telah menuju ke suatu
daerah yaitu Kiral Gharim dan mereka bersumpah bahwa
Muhammad dan kaum Muslimin tidak boleh masuk di kota
Mekkah111.
Setelah mendengar informasi ini, Rasulullah SAW
bermusyawarah dengan para sahabat yang hasilnya adalah
tetap melanjutkan perjalanan, sebab niat dari awal memang
untuk umrah. Demikian Rasulullah dan rombongan sepakat
melanjutkan perjalanan. Di Asfan setelah mendengar kehadiran
pasukan berkuda kaum mushrikin, dan demi kehati-hatian,
Rasulullah bersama dengan romobongan melaksanakan shalat
khauf.
Untuk melanjutkan perjalanan dengan aman dan agar tidak
terjadi pertumpahan darah, serta menghindari pasukan berkuda
Khalid bin al-Walid agar tidak terjadi pertumpahan darah,
Rasulullah menempuh jalur yang berat tidak langsung menuju
Makkah. Jalan itu sangat sulit dan dipenuhi oleh batu-batu
keras dan melukai kaki pejalan. Ternyata hal itu diketahui oleh
Khalid bin al- Walid dan pasukannya. Setelah mengetahui
perubahan jalur Rasullullah Khalid Bin Walid dan pasukannya
kembali ke Makkah untuk bergabung dengan kaum mushrikin
Quraysh. Ketika rombongan Rasulullah mendekat ke
Hudaibiyah unta Rasulullah berhenti. Para sahabat yang
melihat kejadian itu berkata, “al-Quswha telah berhenti untuk
menetap di sini.” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak! Dia
tidak berhenti untuk menetap, tetapi yang menghalanginya
111 Ahmad Syallabi, Attarikhul Islami Walhadharatul Islamiyah, diterjemahkan
oleh H. Mukhtar Yahya dan M. Sanusi Latief dengan judul Sejarah dan Kebudayaan
Islam, hal. 186.
126
adalah yang menghalangi gajah.” Kemudian Rasulullah
melanjutkan,
“Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya,
mereka tidak meminta kepadaku sesuatu jalan yang
mengandung pengagungan sesuatu yang terhormat di sisi
Allah kecuali aku perkenanankan buat mereka.”
Rasulullah dan rombongan kaum muslimin kemudian
mengambil jalur yang tidak langsung menuju Makkah tetapi
jalan menuju ke arah Hudaibiyah. Rasulullah mengambil jalur
yang sulit dan berat di celah-celah gunung. 112Di tempat inilah
Rasulullah bermarkas dan membuat tenda-tenda, namun
ternyata sumber air di tempat ini sangat sedikit dan tidak cukup
untuk diminum rombongan. Anggota rombongan banyak yang
mengeluh kehausan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam
Bukhari, Rasulullah mengambil anak panah dan
memerintahkan untuk menusuk ke dalam sumur, setelah itu
airnya memancar dengan derasnya dan semua rombongan bisa
minum sepuas –puasnya.
B.2. Upaya-Upaya Diplomasi
Rasulullah mengirim beberapa utusan untuk meyakinkan
tokoh-tokoh Makkah bahwa maksud kedatangan beliau bukan
untuk berperang, tetapi hanya untuk melaksanakan umroh dan
mengagungkan Ka’bah. Utsman diutus untuk menyampaikan
maksud tersebut keoada petinggi Quraisy. 113Bebrapa utusan
tersebut antara lain Khurrasy bin Umayyah Al-Khuza’i yang
hampir saja dibunuh oleh kaum musyrikin Makkah.
Selanjutnya mengutus Umar Bin Khattab, akan tetapi menurut
Umar orang-orang mushrikin Quraysh sangat memusuhinya
dan tidak akan membelanya jika terjadi perihal yang tidak
diinginkan.
Lobi dan perundingan yang dilakukan oleh Usman bin
Affan dan kaum Musyrikin Quraisy menghabiskan waktu yang
cukup lama sehingga tersiar bahwa Usman bin Affan telah
dibunuh, menanggapi kabar tersebut Rasulullah saw.
mengajak seluruh rombongan untuk berbai’at, sambil berdiri
di bawah pohon, Nabi mengumpulkan semua rombongan
112 Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah,
(Jakarta: Qisthi Press, 2016), hal. 385.
113 Yudi Asmara Harianto, Kepemimpinan Rasulullah Dalam Peristiwa
Hudaibiyah, (Bojonegoro: Perkumpulan Zhena Ardh Grumma, 2020 ) hal. 79.
127
untuk membulatkan tekad dan bersiap untuk menghadapi
kaum Musyrikin Quraisy, mereka semua berjabat tangan dan
menyatakan janji setia kepada Nabi Muhammad saw.
dengan semangat berkobar-kobar dan kebulatan iman yang
teguh, kecuali seorang munafik bernama al-Jud bin Qais.
Peristiwa inilah yang dalam sejarah islam dikenal dengan
nama Bait al-Ridhwan, yang kemudian diabadikan dalam
Surat Al-Fath ayat 18. Suasana tegang itu tiba-tiba sirna ketika
terdengar berita bahwa Usman tidak dibunuh dan tidak lama
Usman datang, ia melaporkan kepada Rasulullah bahwa orang
Musyrikin Quraisy akan mengirim utusan untuk mengecek
kebenaran bahwa kedatangan Rasulullah memang tidak ada
tujuan lain kecuali berumrah dan beribadah.
Utusan pertama dari Musyrikin Quraiys yakni
delegasi Budail bin Warqa’ alKhuzai, setelah Rasulullah
memberikan penjelasan dan mereka mendengarkan dan
melihat kenyataan di lokasi rombongan kaum Muslimin,
Budail dan kawan-kawannya percaya bahwa memang
Rasulullah tidak bermaksud untuk berperang melainkan
beribadah, Budail menyampaikan laporan ke tokoh-tokoh
Musyrikin Quraisy, namun ia malah dicurigai karena ia dari
suku Khuza’ah yang selama ini memiliki hubungan baik
dengan keluarga Rasulullah dari Bani Hashim.
Tokoh kaum Musyrikin Quraisy tidak puas dengan
laporan dari Urwah, lalu mengutus delegasi Hulais bin al-
Qamah, setelah kedatangannya Rasulullah menyampaikan
kepada para sahabatnya bahwa Hulais adalah orang dari kaum
yang memiliki rasa keagamaan yang baik, oleh sebab itu Nabi
memerintahkan para sahabat untuk menggiring unta yang akan
dipersembahkan agar Hulais melihat. Apa yang dikatakan oleh
Rasulullah terbukti, hanya dengan melihat unta-unta yang
digiring untuk qurban, Hulais merasa tidak perlu menemui
Rasulullah atau menyelidiki lebih dalam maksud dan tujuan
Rasulullah berkunjung ke Makkah. Ia kembali kepada tokoh-
tokoh mushrikin Quraysh dan mengatakan bahwa Rasulullah
tidak datang kecuali untuk beribadah dan mengagungkan
Ka’bah. Setelah mendapatkan laporan dari Hulais, Beberapa
tokoh mushrikin Quraysh masih tidak puas dengan laporan
Hulais bahkan mereka mengejek Hulais sebagai orang gunung
yang bodoh dan mudah dikelabuhi.
128
Mushrikin Quraysh kembali mengutus delegasi lagi
pimpinan Mukriz bin Hafs yang pada akhirnya juga
memberikan laporan yang tidak beda seperti tiga delegasi
sebelumnya. Sampai akhirnya mushrikin Quraysh mengutus
Suhail bin Amr dengan mandat penuh. Tetapi dengan syarat
yang tidak boleh diabaikan oleh Suhail bahwa untuk tahun ini
Muhammad dan rombongannya tidak diperbolehkan memaski
kota Makkah apapun alasannya. Ketika Rasulullah melihat
kedatangan Suhail bin Amr beliau optimis akan mendapatkan
jalan keluar yang terbaik. Optimisme ini muncul dari “nama”
utusan mushrikin Quraysh itu. Namanya Suhail yang seakar
dengan kata sahl yang berarti mudah. Rasulullah SAW
bersabda, لََق ْد َسه َل لَك ْم ِم ْن أَْمِرك ْم
“Telah dipermudah untuk kalian urusan kalian.” (Hr.
Ahmad)
B.3. Proses Perjanjian Hudaibiyah
Perundingan melalui beberapa delegasi memang berjalan
alot, tetapi kesepakatan akhirnya ditemukan, ketika disusun konsep
teks perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah mengutus Ali bin Abi
Thalib yang bertindak sebagai juru tulis. 114
Nabi memerintahkan untuk menulis kalimat
”Bismillahirrahmanirrahim” maka Suhail keberatan dengan
berkata saya tidak mengenal apa itu al-Rahman al-Rahim tapi
tulislah “Bismikallahumma” (dengan nama-Mu ya Allah)
Rasulullah memerintahkan Ali Ra. untuk menghapus dan
mengganti sesuai usul Suhail, tetapi sahabat-sahabat Nabi yang
menyaksikan penulisan naskah itu memprotes,
واالله ْل نكتبها إْل بسم االله الرَحن الرحيم
“Tidak, demi Allah kami hanya bersedia menulis Bismillah al-
Rahman al-Rahim.”
Tetapi nabi Muhammad SAW. Dengan tegas berkata:
اكتب ِبسمك اللهم هذا ما قاضى عليه ُممد رسول االله
114 Shafiyyurrahman al-Mabarakfuri, Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul
Yang Agung Muhammad Saw Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir, (Malang:
Darul Haq, 2017), hal. 506.
129
“Wahai Ali tuliskan Bismika Allahumma kemudian lanjutkan
dengan “inilah yang menjadi keputusan Muhammad Rasulullah.”
mendengar hal itu Suhaill keberatan dengan alasan “jika kami
mengakui Anda Rasulullah tentu kami tidak akan menghalangi
Anda berkunjung ke Baitullah dan kami tidak akan memerangi
Anda, tuliskan saja Muhammad bin ‘Abdullah”. Tetapi dengan
tenang Rasulullah berkata :
واالله إِن لرسول االله وإن كذبتموِن اكتب ُممد بن عبد الله
“Demi Allah, aku adalah Rasulullah walau kalian mengingkariku.
Wahai Ali hapuslah, lalu tuliskan saja Muhamma bin Abdullah.”
Berdasarkan riwayat Muslim, setelah mendengar perintah dari
Rasulullah Ali tidak mau menghapusnya. Rasulullah pun paham
mengapa Ali tidak mau menghapusnya.
Singkatnya Suhail menyetujui tetapi tahun depan, nanti
orang Arab berkata bahwa kami dipaksa, lalu Suhail melanjutkan
dengan syarat engkau harus mengembalikan kepada kami siapapun
dari pihak kami yang datang kepadamu walau menganut agamamu,
mendengar syarat ini para sahabat sangat keberatan, bagaimana
bisa kami harus mengembalikan seorang Muslim kepada kaum
Musyrik? Dalam situasi demikian, tiba-tiba muncul Abu Jandal al-
Ashi, putra Suhail binti ‘Amr yang dengan berat berjalan karena
kedua kakinya dibelenggu, dia baru saja datang dari Mekkah.
Suhail lalu berkata, ini yang pertama saya tuntut untuk
dikembalikan, Nabi lalu berkata kita belum memutuskan
perjanjian, kemudian Suhail berkata kalau demikian aku tidak akan
mengikat perjanjian apapun, Nabi bersabda, kecualikan ini saja,
Suhail keberatan dan berkata aku tidak setuju, Nabi kemudian
bersabda, ayolah... perkenankanlah yang ini, Suhail berkata tidak,
aku tidak akan memperkenankan, Mukriz yang juga hadir dalam
rombongan Suhail berkata, tapi dalam kenyataan tidak demikian,
Abu Jandal tidak diizinkan bergabung dengan kaum Muslim.
Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya disepakati
dan ditandatangi oleh kedua belah pihak. Perjanjian Hudaibiyah
yang disepakati itu mengandung butir-butir pokok sebagai berikut:
1. Gencatan senjata selama sepuluh tahun, Tidak ada permusuhan
dan tindakan yang buruk terhadap masing-masing dari kedua
pihak selama masa tersebut.115
115 Rafli Difinubun, Perjanjian Hudaibiyah (Suatu Analisis Historis Tentang
Penyebaran Agama Islam di Jazirah Arab), (Makassar:UIN Alaudin, 2018), hal. 82.
130
2. Siapa yang datang dari kaum Musyrik kepada Nabi tanpa izin
keluarganya, harus dikembalikan ke Mekkah, tetapi bila ada
diantara kaum Muslim yang berbalik dan mendatangi kaum
Musyrik, maka ia tidak akan dikembalikan.
3. Diperkenankan siapa saja di antar suku-suku Arab untuk
mengikat perjanjian damai dan menggabungkan diri kepada
salah satu pihak, Ketika itu suku Khuza’ah menjalin kerja sama
dengan mengikat janji pertahanan bersama pihak Nabi saw. dan
Banu Bakar memihak kepada kaum Musyrik.
4. Tahun ini Nabi bersama rombongan belum diperkenankan
masuk kota Makkah, tetapi tahun depan dan dengan syarat
hanya bermukim tiga hari tanpa membawa senjata kecuali
pedang yang tidak dihunus.
5. Perjaanjian ini diikat atas dasar ketulusan dan kesediaan penuh
untuk melaksanakan, tanpa penipuan atau penyelewengan.116
B.4. Analisis Terhadap Butir-Butir Perjanjian Hudaibiyah
Setelah terjadinya kesepakatan perjanjian Hudaibiyah,
kaum Muslimin merasa kecewa atas hasil yang dicapai, mereka
menilai bahwa perjanjian itu adalah merupakan suatu kelemahan
dan kekalahan, hal ini dapat dipahami dari sikap Umar Bin Khattab
yang tidak rela atas kesepakatan yang telah dicapai, kesepakatan
tersebut tidak ubahnya sebuah sikap perendahan dan penghinaan
terhadap Islam, Nabi dan para pengikutnya. Akan tetapi
sebenarnya Nabi memiliki maksud yang tidak dimengerti oleh
kaum muslimin dan para sahabatnya.
Atas dasar butir pertama, lalu Nabi semakin meningkatkan
gerak dalam menyebarkan agama Islam tidak hanya di sekitar
Madinah tapi juga Makkah. Saat beribadah haji pada tahun 7 H117.
saat berkumpul orang-orang dari berbagai suku di semenanjung
Arab, Nabi jadikan kesempatan untuk meneyeru kepada kebenaran
absolut, kebenaran menurut Allah bukan atas dasar kehendak
manusia yang banyak kelemahan. Sebagaimana banyak dicatat,
bahwa Nabi memiliki kefasehan dalam bertutur, berkomunikasi
efektif dan berdaya tarik, lebih dari itu sifat pribadi yang lembut
dan jujur membuat siapapun terpikat bila mendengar atau
116 M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan al-
Qur’an dan Hadis-Hadis Shahih (Tanggerang: Lentera Hati, 2012), hal. 799.
117 Yusak Burhanudin, Muhammad Najib, Fikih Madrasah Ibtidaiyah Kelas V.
(Jakarta: Bumi Aksara, 2021), hal. 93.
131
melihatnya, itulah fakta bahwa kerelaan para pengikut terhadap
Nabi, di samping alasan kebenaran. religius yang dibawa dan juga
karena tertarik pada kepribadian Nabi Muhammad saw.
Butir kedua, dari isi perjanjian Hudaibiyah, sebenarnya
terdapat makna yang paling esensial yang merupakan suatu
kemenangan bagi kaum Muslimin, hal ini dapat ditelaah bahwa
warga Madinah yang keluar dari daerahnya menuju Makkah
bermakna telah keluar dari agamanya atau murtad, sementara orang
murtad cenderung akan merusak keutuhan umat, entah dengan cara
fitnah atau bentuk perusakan lainnya, jadi bila ia keluar kemudian
dikembalikan lagi ke Madinah justru akan menghancurkan
persatuan umat Muslim di Madinah dan minimal mengganggu
ketertiban umat Muslim dalam bermasyarakat. Sebaliknya, orang
Quraisy yang datang kepada Nabi dengan jiwa yang penuh
semangat, Islam menolak dengan bijaksana oleh Nabi dan
dikembalikan kepada Quraisy, tetapi orang-orang yang ditolak
tersebut akhirnya menjadi bahaya bagi pihak Quraisy. Penolakan
Nabi dengan perasaan terharu karena ikatan perjanjian itu
menimbulkan dendam dalam hati mereka kepada Quraisy. Pihak
Qurasiy yang kembali dari Madinah tidak meneruskan perjalanan
ke Mekkah, tetapi mendirikan kemah di jalanjalan yang biasa
dilalui kafilah-kafilah Quraisy, setiap kafilah Quraisy yang lewat
di tempat mereka senantiasa mendapat serangan, hal itu jelas
sangat merugikan pihak Quraisy dan menyadari hal itu akhirnya
Quraisy terpaksa meminta kepada Nabi supaya mereka diterima
menggabungkan diri ke Madinah. Dengan demikian, berarti butir
kedua dari isi perjanjian Hudaibiyah sangat menguntungkan kaum
Muslimin.
Butir keempat adalah hal yang paling berat untuk dihadapi
oleh pengikut Nabi dan para sahabat, terbukti bahwa Nabi dan
kaum Muslimin gagal menunaikan ibadah umrah pada saat itu,
dengan kata lain kaum Quraisy telah berhasil menekan keinginan
lawan, akan tetapi sebenarnya penilaian secara sepintas meski
nampak faktual, akan tetapi hal itu adalah sebuah kekeliruan karena
justru butir kedua dan keempat adalah merupakan bukti kepiawaian
Nabi dalam berdiplomasi, hal ini dapat dipahami dari usul yang
ditawarkan oleh pihak Quraisy langsung diterima tanpa dipangkas
oleh Nabi. Ini merupakan suatu teknik untuk mencapai butir
selanjutnya, di samping itu Nabi sepertinya memancing pihak
lawan agar menunjukkan reaksi positif setelah Nabi menyetujui,
132
perhitungan Nabi adalah merupakan suatu prospek jangka panjang
demi keselamatan atau kelangsungan hidup agama Allah dan
penganutnya.
Butir ketiga dari isi perjanjian kelihatannya seimbang
karena adanya kebebasan masing-masing suku yang ingin
menggabungkan diri atau bersekutu kepada salah satu pihak tanpa
adanya tekanan dan paksaan, adanya jaminan tersebut telah
memberi peluang kepada suku yang ada pada waktu itu untuk
bebas dalam menentukan persekutuan, hal ini terbukti
penggabungan Bani Khuza'ah ke dalam barisan Islam,
penggabungan ini adalah memberi arti tersendiri bagi kekuatan
Muslim, hal ini mengingat letak daerah Bani Khuza'ah tidak jauh
dari wilayah Madinah, sehingga manakala terjadi sesuatu yang
mengancam posisi kaum Muslim di Madinah maka mereka bisa
dikerahkan dengan mudah serta hal yang lebih esensial lagi adalah
penggabungan Bani Khuza'ah tersebut berarti mengurangi jumlah
kaum Quraisy.
Butir kelima dalam perjanjian ini menyebutkan bahwa
perjanjian harus berdasarkan dengan ketulusan dan kesediaan
penuh tanpa ada unsur paksaan dan ketepaksaan, penipuan, atau
penyelewengan dalam melaksanakan, namun terbukti pihak
Quraisy yang lebih awal dalam melakukan pelanggaran perjanjian,
yaitu Bani Bakr menyerang suku Khuza’ah yang secara otomatis
bertentangan dengan butir pertama dan kelima dalam perjanjian
yang berakibat pada pembatalan perjanjian.
Ahli sejarah menuturkan bahwa orang-orang yang
memeluk agama Islam dalam waktu semenjak perjanjian
Hudaibiyah itu diadakan, yakni dua tahun setelah itu jumlah
manusia yang masuk agama Islam adalah jauh lebih besar dari pada
orang-orang yang masuk agama Islam di tahun-tahun sebelum
terjadinya perjanjian Hudaibiyah.
B.5. Kontak Militer Pasca Perjanjian Hudaibiyah
Berikut beberapa perang pasca perjanjian Hudaibiyah:
1. Perang Khaibar (7 H/628 M)
Khaibar berarti benteng yang berasal dari leksikon bahasa
Ibrani. Nama ini sendiri digunakan karena di beberapa wilayah
tersebut terdapat beberapa benteng. Namun, dalam beberapa
pendapat lain mengatakan bahwa khaibar sendiri diambil dari
nama seorang pria yaitu Khaibar bin Qaniyah bin Abil bin
133
Mahlail bin Aram yang merupakan saudara ‘Ad bin Ghaut bin
Syam bin Nuh. Merupakan berasal dari komunitas Yahudi.
Menurut Ibnu Ishaq, sebelum penyerangan terhadap
khaibar, nabi Rasulullah Saw. Telah mengirim surat kepada
khaibar dengan berisi ajakan masuk islam dan mengingatkan
mereka tentang munculnya Rasulullah saw. Seperti yang
sebelumnya sering mereka publikasikan.118
Khaibar merupakan wilayah yang subur dan strategis.
Singkat cerita, perang terjadi antara umat muslim dan khaibar
Yahudi. Perang ini merupakan salah satu peperangan yang
sangat sengit, karena Yahudi sangat kuat waktu itu. Lalu
dimenangkanlah oleh kaum muslimin dalam peperangan yang
berlangsung kurang lebih dua Minggu.
2. Perang Wadi al-Qurra dan Taima (7H/628 M)
Hal penting dari perang ini adalah momentum
pengangkatan Panglima terakhir Rasulullah saw. Yakni adalah
Usamah bin Zaid bin Haritsah yang merupakan panglima
termuda yang saat itu berumur 18 tahun.
Setelah Usamah pamit dengan Rsulullah Saw. Belum jauh
bergerak terdengar berita kepergian Rasulullah Saw. Lalu sang
panglima memerintahkan para sahabat untuk berhenti. Seketika
itu meneteslah air mata pasukan kaum muslimin hingga kaki
dan lutut meraka lemas terjatuh ke padang pasir yang luas itu.
Mendengar berita tersebut, Umar bin Khattab tak terima dan
menghunuskan pedang sambil mengatakan bahwa siapa saja
yang mengtakan Rasulullah Saw. Telah wafat, maka beliau
akan membunuh-Nya. Tetapi Abu bakar As-Shiddiq bertindak
tegas dan menenangkan Umar bahwa memang benar
Rasulullah telah pergi.
Usamah bin Zaid diperintahkan Abu Bakar untuk
menyelesaikan perintah dari Rasulullah menuntaskan misi
perang al-Qura. Setelah 40 hari mereka berhasil memenangkan
perang menaklukkan Yaman.
3. Perang Dzatu Riqa’ (7 H/628 M)
Pada perang Dzatu Riqa’ ini tidak sampai kepada kontak
senjata, Dalam perjalanan ke Madinah, saat pasukan Islam dan
Rasulullah istirahat, Rasulullah pun berteduh sambil
menggantungkan pedangnya di pohon. Kemudian tidur. Tiba-
118 Zhaenal Fanani, Muhammad : Korespondensi, Perjanjian, Fathu Makkah, (Solo:
Tinta Medina, 2020), hal. 26-27
134
tiba ada seseorang Badui menghampiri Nabi dan mengambil
pedang beliau dan menodongkan pedang itu ke leher
beliau.Hingga membuar Rasulullah terjaga. Rasulullah tidak
takut sama sekali, akan tetapi si Badui ketakutan akan
keberanian dan ketenangan Rasulullah. Badui tersebut
diperintahkan untuk masuk islam, tetapi dia menolak dengan
halus. Akhirnya Badui itu pulang dan berkata “Aku datang
menemui kalian dari sisi manusia terbaik.”
4. Umrah Qadha’ (7 H/629 M)
Disebut Umrah qadha’, Menurut jumhur ulama bahwa hal
itu dikarenakan Rasulullah dan kaum Quraisy telah sama-sama
mengambil keputusan qadha’ pada tahun sebelumnya di
Hudaibiyah.119 Tetapi yang dimaksud adalah qadha’ untuk
suatu ketentuan, bukan berarti membayar umrah yang tidak jadi
dilaksanakan.
Perang Umrah Qada’ terjadi setelah peristiwa Fathu
Makkah dan nabi langsung yang memimpin. Tujuan hanya
memperlihatkan kekuatan kaum Muslim kepada kaum Quraisy.
5. Perang Mu’tah (8 H/629 M)
Pertempuran terdahsyat dan benar-benar melelahkan dalam
sejarah islam terjadi pada masa ini. Banyak-Nya Syuhada’ dan
sahabat yang syahid di medan perang.
Bermula dipenggalnya utusan Islam al-Harits bin Umair
oleh Surahbil bin ‘Amr al-Ghassani. Hingga Rasulullah sangat
sedih, dan dipersiapkanlah balatentara untuk menyerang
Romawi. Pasukan islam terdiri dari 3000 orang. Rasulullah
menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin delegasi
perang. Waktu itu Rasulullah berseru : “ Jika Zaid gugur maka
Ja’far bin Abu Thalib lah, yang memimpin pasuka. Jika Ja’far
gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang memimpin pasukan.
Jika dia gugur juga maka pasukan muslimin memilih orang
yang disukai diantara mereka untuk menjadi panglima.”120
Kaum muslimin melawan lebih dari 200.000 pasukan musuh.
Perang terjadi dan gugurlah semua panglima yang ditunjuk
119 Muhammad Ridha, Anshori Umar Sitanggal Abu Farhan diterjemahkan oleh:
Sumbodo & Eni Oesman dengan judul Perang Khaibar serta Masuk Islamnya ‘Amr Ibnul
‘Ash dan Khalid Bin Walid, hal. 20-21
120 Muhammad Ridha, Anshori Umar Sitanggal Abu Farhan, diterjemahkan oleh :
Sumbodo & Eni Oesman dengan judul Perang Mu’tah Melawan Romawi dan Perang
Fathu Makkah, hal. 4-9
135
tadi. Terpilih-Lah Khalid bin Walid sebagai panglima perang,
dan berhasil menyatukan kaum muslimin kembali. Peperangan
dimenangkan oleh kaum muslimin. Dan dikatakan bahwa
perang ini merupakan kemenangan dan pertolongan. Yaitu
pertolongan dari Allah.
B.6. Pengaruh Perjanjian Hudaibiyah Terhadap Penyebaran
Agama Islam
Perjanjian Hudaibiyah terbukti memiliki perngaruh besar
dalam melancarkan perkembangan misi Islam, kaum Muslimin
memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan mayoritas
penduduk bangsa Arab, menyeru dan mengajak mereka memeluk
agama Allah swt. kenyataan sejarah membuktikan bahwa
perjanjian yang mencerminkan pandangan jauh dan kebijaksanaan
Nabi Muhammad saw. itu terbukti hanya dalam waktu dua tahun
telah memperlihatkan keberhasilan dan kemajuan pesat yang
sangat menguntungkan Islam dan kaum Muslimin. Adapun
beberapa hasil atau konsekuensi dari perjanjian Hudaibiyah ini
antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pengakuan Terhadap Pemerintahan Islam
Seorang penulis barat berkebangsaan Amerika Serikat,
Michael H. Hart menulis dalam bukunya ‚Seratus Tokoh yang
Paling Berpengaruh dalam Sejarah‛ bahwa manusia yang
paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan ialah Nabi
Muhammad saw, bukan tanpa alasan ia menjatuhkan pilihan
tersebut kepada Nabi Muhammad saw. diperingkat pertama,
alasan yang paling mendasar ialah Nabi Muhammad saw.
merupakan seorang pemuka agama yang berhasil menyebarkan
agama Islam dan merupakan seorang pemimpin negara yang
terampil serta ahli berdiplomasi.121 Maka ajaran Islam tidak
dapat berpaling dari Nabi Muhammad saw. sebagai rujukan
untuk melakukan aktifitas dalam penyiaran Islam, sejarah
hidup dan perjuangan Nabi Muhammad saw. merupakan
teladan terbaik bagi kehidupan manusia.
Di Madinah, Rasulullah saw. berhasil menciptakan dan
memberlakukan berbagai hal yang mendukung kehidupan
sosial kemasyarakatan, diantaranya keberhasilan
memberlakukan hukum, administrasi pemerintahan, sistem
121 Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah,
Penerjemah: Mahbub Djunaidi, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), hal. 28-29.
136
perekonomian bahkan pembentukan angkatan perang dan
sebagainya. Di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. keadaan
betul-betul diperuntukkan untuk kepentingan misi Islam,
semua kebijakan negara dibuat untuk kebaikan agama dan
masyarakat, masyarakat betul-betul mencintai negeri dan siap
mengorbankan segala yang dimiliki untuk memerintahkan
eksistensi negeri yang juga identik dengan memperhatikan
agamanya. Fakta lain dari latar belakang Nabi Muhammad saw.
dalam menyebarkan Islam adalah pengakuan masyarakat Arab
terhadap ajaran Islam yang memperlihatkan bahwa kenabian
Muhammad saw. ditujukan kepada seluruh umat manusia
bukan kepada suatu golongan atau kelompok tertentu.
2. Pengiriman Surat
Berikut adalah beberapa surat yang Nabi Muhammad saw.
kirim kepada para raja dan penguasa melalui utusan:
a. Heraclius, Kaisar Romawi122
b. Chosroes, Penguasa Persia
c. Cyrus (al-Muqauqis) penguasa Mesir123
d. Negus, Penguasa Abessinia
e. Penguasa Bahrain, Munzir bin Sawi
f. Haudzan bin Ali, Pemimpin Yamamah
g. Alharits bin Abi Syamir Al-Ghassani, Pemimpin Damaskus
h. Raja Oman
Surat-surat Nabi Muhammad saw. itu singkat tetapi padat,
karena hanya menyampaikan tujuan utama dari pengirimanya,
yaitu mengajak kepada Islam, ini karena Nabi mengandalkan
para utusanya untuk memberi penjelasan rinci yang dibutuhkan
oleh yang disurat, apabila diamati dari surat-surat itu ciri
keislamanya, yaitu dimulai dengan basmalah dan tidak jarang
disertai dengan ayat Alquran, dalam surat-surat itu Nabi
Muhammad saw. tidak lupa memberi penghormatan yang layak
terhadap tokoh yang disurati.124
Hasil misi Islam yang dilakukan Nabi Muhammad saw.
melalui media surat ini sangatlah beragam, ada raja yang
122 Khalid Sayyid Ali, Surat-surat Nabi Muhammad, terj. HA Aziz Salim Basyarahil,
(Jakarta: Gema Insani Pers, 1993), hal. 27.
123 Uhaimid Muhammad Al-Uqaili, Surat-surat Nabi saw. Kepada Raja dan
Panglima Perang, (Surabaya: Pustaka Yassir, 2011), hal. 241.
124 Ahmad Hatta, The Great Story of Muhammad, (Maghfirah Pustaka, 2014), hal.
435.
137
beriman dan mengakui Islam seperti Najasyi, ada yang
menolak dengan cara yang baik tetapi tidak masuk Islam seperti
Muqouqis Raja Mesir dan Heraclius Raja Romawi, namun ada
yang menolak dengan cara merobek surat dari Rasulullah saw.
yaitu Raja Kisra Abrawaiz.
3. Perluasan Wilayah Islam
Perjuangan dalam usaha untuk memperluaskan wilayah
Islam adalah Nabi mengerahkan pasukan Islam yang
jumlahnya cukup besar untuk menghadapi sebuah pasukan
yang besar di Utara Jazirah Arab yaitu wilayah Syria yang
merupakan daerah kekuasaan Romawi, melihat besarnya
tentara Islam yang penuh semangat itu maka mereka melarikan
diri sebelum berperang, sehingga Nabi dan tentara Islam lainya
mengadakan perjanjian dengan penduduk setempat, selain itu
mereka diajarakan tentang nilai-nilai Islam, menurut catatan
sejarah bahwa ekspedisi yang dilakukan Nabi ini terjadi pada
tahun 631 H. perang ini dinamakan dengan perang Tabuk yang
merupakan perang terakhir yang diikuti oleh Nabi Muhammad
saw
4. Fathu Makkah
Penaklukkan kota Mekkah banyak membawa pengaruh di
hati bangsa Arab, banyak dari masyarakat Arab yang
dibukakan hatinya untuk masuk Islam, suku-suku dan kabilah
Arab pada umumnya ingin masuk Islam namun karena mereka
terikat suatu perjanjian dengan kaum Quraisy akhirnya mereka
terhalang untuk masuk Islam. Akan tetapi pada umumnya suku-
suku dan kabilah Arab sangat segan dan menghormati kaum
Quraisy, waktu suku Quraisy masi berjaya mereka enggan
untuk masuk Islam, namun setelah mereka tahu bahwa kaum
Quraisy menyerah, akhirnya mereka kemudian masuk Islam
maka hambatan yang menghalangi mereka untuk masuk Islam
terpinggirkan.
C. Penutup
Perjanjian Hudaibiyah memiliki pengaruh yang besar bagi
kaum muslimin. Bukan hanya kemenangan moral, semakin
berkembangnya syi’ar islam, tetapi juga kehidupan masyarakat
lebih aman dan damai, serta kemenangan umat islam mengalahkan
semua agama di dunia. Meskipun menghadapi berbagai tantangan
dan ancaman, nabi Muhammad, para sahabat, dan kaum muslimin
138
akhirnya bisa menghadapi hal tersebut dan hasil dari perjanjian
Hudaibiyah menunjukkan misi Nabi Muhammad semakin terbuka
dan diterima oleh masyarakat luas.
Bibliografi
Ali, Maulana Muhammad. 2015. Al-Qur’an Terjemah dan Tafsir.
Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah
al-Mubarakfuri. 2016. Shafiyurrahman, Ar-Rahiq al-Makhtum.
Sirah Nabawiyah. Jakarta: Qisthi Press
al-Mabarakfuri, Shafiyyurrahman. 2017. Sirah Nabawiyah
Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung Muhammad Saw
Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir. Malang:
Darul Haq
Al-Uqaili, Uhaimid M. 2011. Surat-surat Nabi saw. Kepada Raja
dan Panglima Perang. Surabaya: Pustaka Yassir
Burhanudin, Y, Muhammad Najib. 2021. Fikih Madrasah
Ibtidaiyah Kelas V. Jakarta: Bumi Aksara
Fanani, Zhaenal. 2020. MUHAMMAD : Korespondensi,
Perjanjian, Fathu Makkah. Solo: Tinta Medina
Hatta, Ahmad. The Great Story of Muhammad. Jakarta: Maghfirah
Pustaka
Haekal, Muhammad Husain. 2013. Hayat Muhammad. Terj. Ali
Audah. Sejarah Hidup Muhammad . Jakarta: Tintamas
Indonesia
Harianto, Yudi A. 2020. Kepemimpinan Rasulullah Dalam
Peristiwa Hudaibiyah. Bojonegoro: Perkumpulan Zhena
Ardh Grumma
Hart, Michael H. 1986. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh
dalam Sejarah, Penerjemah: Mahbub Djunaidi. Jakarta:
Pustaka Jaya
Khalil, Munawwar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad.
Jakarta: Gema Insani Press
Ridha, Muhammad. 2021. Delegasi Perang Qirtha dan Terjadinya
Perdamaian Hudaibiyah. Jakarta Selatan: Hikam Pustaka
Shihab, M. Quraish. 2012. Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW
dalam Sorotan alQur’an dan Hadis-Hadis Shahih.
Tangerang: Lentera Hati
Syalabi, Ahmad. 2003. Sejarah dan Kebudayaan Islam I. Jakarta:
Pustaka Al-Husna
139
Amin Iskandar. 2019. Hikmah Dibalik Perjanjian Hudaibiyah.
Jurnal Studi Hadis Nusantara. 1(1): 11-14
Difinubun, R. 2018. Perjanjian Hudaibiyah (Suatu Analisis
Historis Tentang Penyebaran Agama Islam di Jazirah
Arab), Skripsi. Makassar: UIN Alaudin
Azizah, N. 2022. Sejarah Isi Perjanjian Hudaibiyah serta Latar
Belakang & Hikmahnya. https://tirto.id/sejarah-isi-
perjanjian-hudaibiyah-serta-latar-belakang-hikmahnya-
gnKV. Diakses pada Senin, 26 November 2022 pukul 10.00
WIB
Anonym. Bab IV Laporan Hasil Penelitian. Diakses dari
file:///C:/Users/Windows/Downloads/sirah%20nabawiyah.
pdf
Difinubun, R. (2018). Perjanian Hudaibiyah (Suatu Analisis
Historis Tentang Penyebaran Agama Islam di Jazirah Arab).
(Tesis, UIN Alaudin Makassar) diakses dari
file:///C:/Users/Windows/Downloads/PERJANJIAN%20HUDAI
BIYAH%20(1).pdf
140
Fathu Makkah, Haji Wada’, Wafatnya Rasulullah dan
Kehidupan Sahabat Pasca Rasulullah Wafat
Oleh :
(1) Vanny Maulida A
(2) Nita Fitriyani
(3) Siti Jamilah.
A. Pendahuluan
Peristiwa sejarah mengandung ilmu yang tidak dapat terabaikan dalam
kehidupan manusia. Hal tersebut dijadikan pedoman masa kini dengan
cara mempelajarinya secara akademik dalam kegiatan menelusuri,
mengungkapkan makna dan menjelaskan sebab akibat. Peristiwa masa
lampau bertumpuh pada penjelasan data sejarah dan salah satu data itu
adalah hadis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sejarah
diartikan silsilah, asal-usul (keturunan), kejadian peristiwa yang benar-
benar terjadi pada masa yang lampau, pengetahuan atau uraian yang
mengenai peristiwa-peristiwa dan kejadiankejadian yang benar-benar
terjadi di masa lalu.125
Tugas besar menanti Rasulullah dan kaum muslimin ubtuk dapat menaklukkan
makkah. Penaklukkan kota Mekkah ataupun Fathu Mekkah dimulai
dari dilanggarnya perjanjian Hudaibiyah yang disepakati oleh kaum
Quraisy Mekkah dan kaum Muslimin. Pada Tahun 8 H Rasulullah Saw
berangkat bersama 10.000 sahabatnya ke Mekkah untuk menunaikan
ibadah umrah dan haji. Tanpa senjata dan memakai pakaian ihram
mereka berangkat menuju Mekkah, tetapi kaum Quraisy tidak
menghendaki kaum muslim untuk hadir di Mekkah pada tahun itu,
lalu diutuslah pasukan Khalid bin Walid untuk menghadang kaum
muslimin.
B. Pembahasan
B.1. Fathu Makkah
Penyebab langsung fathul Makkah adalah pelanggaran yang
dilakukan kaum Quraisy Makkah atas perjanjian Hudaibiyah. Mereka
melanggar salah satu poin perjanjian tersebut yaitu gencatan senjata
selama sepuluh tahun. Salah satu karakteristik masyarakat Arab pra Islam
adalah mereka terpecahpecah satu dengan yang lainnya dan mereka
sangat sangat fanatik akan keangungan kabilahnya. nya antara satu
125 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi
IV:Cet. I; Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal. 88.
141
kabilah dengan kabilah yang lainnya sering terjadi konflik atau
peperangan di antara mereka. Hal tersebut masih berlanjut sampai
kedatangan agama Islam di tengah-tengah mereka. Di antara suku yang
terlibat permusuhan sejak masa pra Islam dan berlangsung sampai
kedatangan Islam adalah Bani Bakr dan Bani Khuza’ah. Pada masa pra
Islam, Qabilah Khuza’ah pernah menyerang dan membunuh tokoh-tokoh
Bani Bakr. Di antara tokoh-tokoh bani Bakr yang terbunuh yaitu: Salma,
Kultsum dan Dhuaib. Mereka dibunuh oleh Kabilah Khuza’ah di Araf
perbatasan Tanah Haram.126 Tidak diketahui secara pasti apa yang
menyebabkan pembunuhan tokohtokoh Bani Bakr tersebut. Padahal,
Qabilah Khuza’ah dan Qabilah Bani Bakr merupakan dua suku yang
bersekutu mengusir Qabilah Jurhum dari Makkah dan merebut
pengelolaan Baitullah dari Qabilah Jurhum. Namun, apapun alasan
Qabilah Khuza’ah atas pembunuhan tersebut, persitiwa tersebut
melahirkan dendam yang luar biasa dari Qabilah Bani Bakr.
Penyerangan orang-orang Bani Bakr ke Kabilah Khuza’ah diawali
dengan orang-orang Bani Bakr menyerang Kabilah Khuza’ah pada
malam hari secara mendadak di Mata Air al-Watir. Kedua, setelah terlibat
pertempuran Kabilah Khuza’ah terdesak sampai ke tanah haram, di
tempat tersebut orang-orang Khuza’ah masih melakukan penyerangan
meskipun dalam tradisi masyarkat Arab dilarang melakukan
pertumpahan darah di tanah haram. Penyerangan Kabilah Bani Bakr
tersebut dan keterlibatan Quraisy membantunya menyerang Kabilah
Khuza’ah yang merupakan sekutu kaum muslimin dan menangkap
anggota Kabilah Khuza’ah kemudian membunuhnya adalah sebuah
pelanggaran atas perjanjian Hudaibiyah yang telah mereka sepakati pada
tahun ke-8 Hijriyah.. Sebelum delegasi resmi Kabilah Khuza’ah
menemui Nabi Muhammad saw. Mereka telah didahului oleh salah
seorang anggota Kabilah Khuza’ah yang melapor kepada Nabi
Muhammad saw. atas kejadian penyerangan Bani Bakr dan keterlibatan
Quraisy membantu Bani Bakr. Orang tersebut bernama Amr bin Salim,
dan Nabi Muhammad menyatakan kepada Amr bahwa ia akan dibantu.
Mendung di langit ditunjukkan Nabi saw. kepada Amr kemudian Nabi
saw berkata: sesungguhnya mendung ini akan membawa pertolongan
bagi Bani Ka’ab dari Kabilah Khuza’ah. Terkait dengan penyerangan
Bani Bakr terhadap Kabilah Khuza’ah dan keterlibatan orang-orang
Quraisy membantu Bani ad-Dail dari Kabilah Bani Bakr membuat Bani
126 Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri. As-Sirah An-Nabawiyah
Li Ibni Hisyam, terj. Fadhli Bahri; Shirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2. (Cet 16,
Bekasi: PT Darul Falah, 2016), hal. 359.
142
Ka’ab dari Kabilah Khuza’ah mengirim delegasi ke Madinah untuk
melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi Muhammad saw. dan
meminta pertolongan kepada Nabi Muhammad saw.127
Kedatangan Abu Sufyan ke Madinah tidak membuahkan hasil
kesepakatan dengan kaum muslimin. Pertama-tama Abu Sufyan
mendatangi Nabi Muhammad saw. namun, nabi saw. tidak
menggubrisnya. Kemudian ia mendatangi Abu Bakr dan Abu Bakr juga
menolak. Kemudian ia mendatangi Umar bin Khattab dan ia ditolak
denga kasar oleh Umar. Terakhir, ia mendatangi Ali bin Abi Thalib dan
Ali juga tidak bisa bernegosiasi bila Nabi saw. tidak melakukannya.
Usaha Abu Sufyan meminta campur tangan sahabat dekat Nabi saw.
untuk memperbaharui perjanjian tersebut gagal. Akhirnya, Abu Sufyan
pulang ke Makkah dengan perasaan khawatir.Rasulullah bersama
pasukannya bersiap diri untuk memasuki Kota Mekkah. Setelah
bertahun-tahun jumlah pasukan Rasulullah semakin besar.. Rasulullah
membagi pasukannya ke jalan yang berbeda. Pada hari yang telah
ditentukan dan melihat tidak ada tanda-tanda perlawanan, Nabi
Muhammad saw. bersama pasukannya memasuki Kota Makkah dari
empat penjuru.25 Ia menunjuk Khalid bin Walid di sayap kanan dan
Zubayr di sayap kiri, pasukan Nabi saw. sendiri berada di tengah dan
dibagi dua lagi, sebagian dipimpin oleh Sa’ad dan sebagian lagi, tempat
beliau berada dipimpin Abu `Ubaydah. Mereka diberi komando oleh
Nabi saw. Maka mereka memasuki kota dengan empat penjuru, Khalid
bin Walid dari bawah dan yang lainnya dari bukit. 128
Ketika pasukan Muslim menyerbu Mekkah, kaum Quraisy hanya
bisa pasrah. Mereka tidak mampu melawan pasukan Muslim yang
sebesar itu. Abu Sufyan dan pemimpin Mekkah lainnya menyerah kepada
Rasulullah. Selain perlawanan kecil-kecilan Ikrimah tersebut, tidak ada
lagi perlawanan dari pihak Quraisy karena memang tokoh-tokoh mereka
memutuskan untuk tidak berperang. Jadi, setelah mereka memusuhi Nabi
Muhammad saw. dan para pengikutnya selama dua puluh satu tahun, kini
masyarakat Quraisy Makkah memutuskan untuk menyerah dan
mengakui keunggulan Nabi Muhammad saw. Nabi saw. memasuki
Makkah dengan penuh kesyukuran atas kemenangan yang telah
127 Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri. As-Sirah An-Nabawiyah
Li Ibni Hisyam, terj. Fadhli Bahri; Shirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2. (Cet 16,
Bekasi: PT Darul Falah, 2016), hal. 359.
128 S.Intan. Fathul Makkah Keteguhan Nabi Muhammad saw. Menjalankan
Perjanjian. (Jurnal al-Hikmah,2019) cet. 21. hal 2.
143
dijanjikan oleh Allah SWT Akhirnya Rasulullah bersama pasukan
Muslim pun menang dan berhasil menguasai Mekkah tanpa pertumpahan
darah.
B.2. Ketakutan Quraisy Saat Kesepakatan Hudaibiyah
Dalam proses kesepakatan perjanjian itu kafir Quraisy menolak
adanya istilah-istilah dalam Islam: Sebagai contoh: mereka meminta agar
tulisan“Bismillahirahmanirahim”diganti menjadi“Bismika Allahuma”
dan “Muhammad Rasullullah SAW” diganti menjadi Muhammad bin
Abdullah” Meskipun demikian Rasullualah tetap bersabar dan menerima
usulan mereka. 1. Pelanggaran Kafir Quraisy terhadap perjanjian
Hudaibiyah
Baru 2 tahun perjanjian Hudaibiyah dilaksananakan kaum Quraisy
telahmelanggar isi perjanjian yang telah mereka buat. Mereka membantu
Bani Bakarmenyerang Bani Khuza’ah yang telah masuk Islam. Sejak
masa Jahiliyah Bani Bakar dan Bani Khuza’ah tidak pernah berdamai.
Mereka selalu bermusuhan. Setelah perjanjian Hudaibiyah Bani
Khuza’ah Menyatakan masuk Islam dan bergabung dengan Kaum
Muslimin.Ketika mendengar Bani Khuzaah masuk Islam, Bani Bakar
sangat marah. Mereka meminta bantuan kepada kafir Quraisy untuk
menyerang Bani Khuza’ah. Mereka mengepung dan menyerang Bani
Khuza’ah di al-Watir. Penyerangan itu dilakukan pada malam hari,
sehingga beberapa orang Bani Khaza’ah tewas. Amar bin Salam al-
Khuza’i melaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah SAW. Amar bin
Salim al-Khuza’i melaporkan, bahwa:
a. Kaum Quraisy telah mengingkari perjanjian damai, mereka ikut dalam
penyeranganterhadap Bani Khuza’ah.
b. Bani Khuza’ah berada dalam pengepungan selama beberapa hari.
c. Bani Khuza’ah banyak yang meninggal karena penyerangan
tersebut.Mendengarberita itu Rasulullah SAW segera menyiapkan
10.000 orang pasukan. Mereka akan membantu Bani Khuza’ah.
Kaum kafir merasa ketakutan. Mereka menghentikan bala bantuan
kepada Bani Bakar. Abu Sufyan, seorang pemimpin kafir Quraisy
memohon maaf kepadaRasulullah dan mengharap agar perjanjian itu
diperpanjang.Tetapi keinginan AbuSufyan ditolak oleh Rasulullah SAW.
Penolakan Rasulullah SAW bukan tanpaalasan, karena sebelumnya
Rasulullah sudah menyampaikan pesan ataspelanggaran yang mereka
lakukan. Pesan tersebut berisi pilihan sebagai berikut:
a. Kaum Quraisy membayar diat (denda).
144
b. Kaum Quraisy memutuskan hubungan persekutuan dengan Bani
Bakar,
c. Kaum Quraisy menyatakan perjanjian Hudaibiyah tidak berlaku lagi.
Ini berarti kaum muslimin akan mengamankan Kota Makkah.
Mereka memilih pilihan ketiga. Mereka menyadari pilihannya
keliru. Merekamengirim Abu Sufyan kembali ke Madinah untuk
memperbaharui perjanjian denganpihak kaum muslimin. Akan tetapi
usaha Abu Sufyan tidak berhasil. Kaum Muslimintelah siap
membebaskan Kota Makkah dari kafir Quraisy.129
B.3. Kehidupan Akhir Rasulullah SAW
Sebelum kita mengayunkan langkah berikutnya untuk menyimak
masa-masa terakhir dari kehidupan Rasulullah, ada baiknya jika kita
memandang sekilas kinerja yang agung dan sekaligus merupakan inti dari
kehidupan beliau, yang karenanya beliau berbeda dengan para rasul dan
nabi yang lain, hingga Allah mengangkat beliau sebagai pemimpin bagi
orang-orang yang130terdahulu dan orang-orang di kemudian hari.
Dikatakan kepada Rasulullah di da٢lam-sاuُۙ ًلrْيaِقَلt Aَّْلlِا-Mْي َلuّاَلzzِمaقm-m١il a ُۙلyِمaَّزtم1ْال-2ٰيّٓاَُيّ َها
“Hai orang-orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk
shalat) pada malam hari, kecuali sedikit (darinya).
Begitu pula dalam surat Al-Mudatstsir. "Hai orang-orang yang
berselimut bangunlah dan berilah peringatan..." dan seterusnya.
Karena perintah inilah beliau bangkit lebih dari 20 tahun,
memanggul beban amanat yang sangat besar di bumi ini, beban seluruh
kehidupan manusia, beban seluruh akidah, beban perjuangan dan jihad di
berbagai medan. Beliau memanggul beban perjuangan dan jihad di
kancah perasaan manusia yang tenggelam dalam ilusi dan konsepsi
jahiliyah, yang diberati beban kehidupan dunia dan yang dilumuri noda-
noda syahwat. Ketika perasaan sebagian orang sudah bisa melepaskan
diri dari semua jerat jahiliyah ini, mulailah peperangan lain di medan lain.
Bahkan peperangan itu datang bertubi- tubi tiada henti-hentinya,
melawan musuh-musuh Allah, dan para pendukungnya serta mereka
yang berpegang teguh kepada keyakinan jahiliyah, sebelum keyakinan
jahiliyah ini berkembang biak di segala penjuru, lalu membentuk medan
129 Shafiyurrahman al-Mubarakfuri Al Rahiqul Makhtuq , Bahtsun Fis-Sirah An-
Nabawiyah. Terj Kathur Suhardi. Jakarta Timur : Pustaka al-Kautsar. 1997. hal. 558-560.
145
yang lain.131 Hampir semua Jazirah Arab dirambah peperangan ini,
bahkan pasukan Romawi pun menggelar pasukan besar untuk
menghadapi umat yang baru ini dan bersiap sedia menghadangnya agar
tidak merambah ke utara.
Selama berlangsungnya berbagai peperangan ini, peperangan
pertama yang merupakan peperangan perasaan tidak pernah padam,
karena ini merupakan peperangan abadi. Pemicunya adalah setan, yang
sesaat pun tidak pernah terpicing untuk mengusik sanubari manusia.
Rasulullah melaksanakan dakwah Allah di saria, di tengah peperangan
yang terus berkecamuk di berbagai medannya, sambil terus berusaha
untuk mempertahankan kehidupan. Sementara orang-orang mukmin di
sekitar beliau mengharapkan terciptanya keamanan dan ketenteraman.
Beliau melaksanakan semua tugas ini dengan semangat yang tidak
pernah mengendor dan penuh kesabaran. Pada malam harinya beliau
bangun untuk beribadah kepada Allah, membaca Al-Qur'an dan tunduk
kepada Allah seperti yang diperintahkan- Nya.132 Begitulah Rasulullah
menjalani kehidupan dalam kancah peperangan yang seakan tidak ada
ujungnya selama lebih dari 20 tahun. Selama itu pula beliau tidak pernah
lalai terhadap satu urusan tertentu, karena sibuk mengurusi urusan yang
lain, hingga akhirnya dakwah Islam berhasil secara gemilang. merambah
kawasan yang amat luas, sulit diterima nalar manusia. Seluruh Jazirah
Arab tunduk kepada dakwah Islam, debu-debu jahiliyah tidak lagi
tampak di udara dan akal yang tadinya menyimpang kini menjadi lurus,
sehingga berhala ditinggalkan bahkan dihancurkan. Udara Arab berubah
dipenuhi suara-suara tauhid, adzan untuk shalat terdengar memecah
angkasa dan sela-sela gurun yang telah dihidupkan iman. Para pengajar
Al-Qur'an pergi ke arah utara dan selatan, membacakan ayat-ayat di
dalam Kitab Allah dan menegakkan hukum-hukum-Nya.
Berbagai kabilah dan suku yang bertebaran di mana-mana bersatu
padu. Semua orang keluar terhadap penyembahan hamba kepada
penyembahan terhadap Allah. Di sana tidak ada pihak yang merasa
dipaksa dan pihak yang memaksa, tuan dan hamba, pejabat dan rakyat,
orang zhalim dan dizhalimi. Semua manusia adalah hamba Allah,
saudara yang saling mencintai dan melaksanakan hukum Allah. Allah
telah menyingkirkan gelombang jahiliyah, kesombongan dan
pengagungan terhadap nenek moyang. Di sana tidak ada sisa-sisa
131 Shafiyurrahman al-Mubarakfuri Al Rahiqul Makhtuq , Bahtsun Fis-Sirah An-
Nabawiyah. Terj Kathur Suhardi. Jakarta Timur : Pustaka al-Kautsar. 1997. hal. 558-560.
132 Uraian ini dinukil dari pernyataan Sayyid Qutb dalam Zhilalul Qur'an, 29
hal.168-169.
146
kelebihan orang Arab atas non-Arab, ataupun kelebihan orang non- Arab
atas orang Arab, tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah atas
orang yang berkulit hitam ataupun kelebihan orang yang berkulit hitam
atas orang yang berkulit merah, kecuali dengan ukuran takwa. Semua
manusia adalah anak keturunan Adam dan Adam tercipta dari tanah.
Berkat kelebihan dakwah Islam ini terciptalah kesatuan bangsa Arab,
kesatuan manusia, keadilan sosial, kebahagiaan manusia di segala aspek
kehidupan dunia dan juga permalasahan kehidupan akhirat. Perjalanan
hari dan wajah bumi berubah total, garis sejarah bertoreh membentuk
garis yang lurus dan cara berpikir pun berubah drastis. Sebelum ada
dakwah Islam, ruh jahiliyah menguasai dunia, membuat perasaan dan
jiwanya sakit, mengenyahkan nilai-nilainya, meliputinya dengan
kegelapan dan perbudakan, menciptakan jurang pemisah antara
kehidupan yang serba mewah dan kemiskinan, menyelimutinya dengan
kekufuran, kesesatan dan kegelapan. Sekalipun di sana ada agama
samawi, tetapi agama ini sudah kehilangan taringnya, tidak lagi
mempunyai kekuasaan, sudah tersusupi penyimpangan dan pengubahan,
sehingga yang menyisa hanya upacara-upacara yang kaku tanpa memiliki
kehidupan ruh. Setelah dakwah Islam tampil memainkan perannya dalam
kehidupan manusia, maka ruh manusia bisa lepas dari ilusi dan khurafat,
dari perhambaan dan perbudakan, dari kerusakan dan pembusukan, dari
noda dan penyimpangan. bisa lepas dari kezhaliman dan kesewenang-
wenangan, dari perpecahan dan kehancuran, dari perbedaan kelas,
kediktatoran penguasa, dan pelecehan para dukun. Dakwah ini tampil
membangun dunia berdasarkan kehormatan dan kebersihan, hal-hal yang
positif dan membangun, kebebasan dan pembaruan, berangkat dari
pengetahuan dan keyakinan, kepercayaan dan iman, keadilan dan
kehormatan serta kinerja yang berkesinambungan, untuk membangkitkan
dan meningkatkan kehidupan serta memberikan hak kepada semua
orang. Dengan tahap-tahap perkembangan ini, Jazirah Arab bisa
menyaksikan kebangkitan yang penuh barakah, yang tidak pernah
disaksikan perkembangan macam apa pun dan tidak pernah dijumpai
yang seperti itu dalam perjalanan sejarah manusia.133
B.4. Haji Wada’ dan Wasiat Nabi SAW
Haji Wada’ adalah haji pertama dan terakhir Nabi Muhammad
SAW, 2 tahun setelah peristiwa fathu Makkah atau pembebasan kota
Makah tepatnya pada bulan Dzulqa’dah Tahun ke 10 Hijriyah, Nabi
133 Shafiyurrahman al-Mubarakfuri Al Rahiqul Makhtuq , Bahtsun Fis-Sirah An-
Nabawiyah. Terj Kathur Suhardi. Jakarta Timur : Pustaka al-Kautsar. 1997. hal. 558-560.
147