Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | i
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan Penulis: Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin ISBN Editor: Siti Mugi Rahayu Penata Letak: @timsenyum Desain Sampul: @timsenyum Copyright © Pustaka MediaGuru, 2023 xii, 134 hlm, 14,8 x 21 cm Cetakan Pertama, November 2023 Diterbitkan oleh CV Pustaka MediaGuru Anggota IKAPI Jalan Dharmawangsa 7/14 Surabaya Website: www.mediaguru.id Dicetak dan didistribusikan oleh Pustaka MediaGuru Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, Pasal 72
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | iii Prakata adirnya Buku Sultan Ibrahim Chaliluddin – Raja Pejuang yang Terlupakan (Sultan Paser Terkahir 1900-1906) ini merupakan jawaban penulis atas adanya upaya pendiskreditan pribadi dan pengkerdilan peran Sultan Ibrahim Chaliluddin pada Perang Paser yang terjadi di daerah eks Kesultanan Paser, Kalimantan Timur pada 1915-1918. Adanya pemutarbalikan dan pembelokan fakta sejarah ini pula yang membuat penulis yang sekaligus juga merupakan cucu cicit (keturunan keempat) Sultan Ibrahim Chaliluddin merasa perlu meluruskan fakta sejarah yang sebenarmya terjadi atas apa yang telah menimpa kakek buyutnya tersebut secara lebih transparan, adil, bijaksana, dan berimbang. Merangkai sejarah masa silam memang merupakan perkara yang sangat sulit karena untuk merangkai sebuah cerita sejarah yang valid memerlukan bukti-bukti dan saksisaksi sejarah yang melihat, mengalami, dan terlibat sendiri secara langsung dalam perkara tersebut, bukan berdasarkan cerita dari mulut ke mulut yang sangat mungkin terdistorsi dalam penyampaiannya. Antara satu penutur cerita dengan penutur cerita lainnya bisa berbeda bahkan bertolak belakang H
iv | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin ceritanya, dan yang sangat miris/memprihatinkan semuanya akan mengklaim dirinya sebagai yang paling benar ceritanya. Berbeda dengan bukti peninggalan dokumen tertulis, selama keontentikan/keaslian dokumen tersebut terbukti maka mulai saat dokumen tersebut dibuat di masa lalu sampai saat ini, tidak akan pernah berubah akan tetap sama isinya sampai kapan pun. Seperti sudah disebutkan di atas, mencari saksi sejarah pada saat perkara itu terjadi, saat ini merupakan hal yang sangat sulit bahkan bisa jadi tidak mungkin karena semua saksi sejarah ini kemungkinan besar sudah wafat. Namun demikian untuk mencari dan mendapatkan bukti otentik berupa peninggalan dokumen-dokumen atau arsip lama yang menceritakan perkara itu terjadi sangat mungkin untuk didapatkan sehingga kita dapat merangkai dan menyusun cerita sejarah tersebut secara lebih baik lagi dan mendekati fakta sejarah yang sebenarnya terjadi. Sebagai keturunan keempat Sultan Ibrahim Chaliluddin, alhamdulillah, penulis mendapatkan banyak sekali keuntungan dan kemudahan dalam merangkai sejarah kakek buyutnya tersebut secara lebih transparan, adil, bijaksana, dan berimbang karena didasarkan pada dokumen-dokumen asli peninggalan Sultan Ibrahim Chaliluddin yang masih terawat secara baik oleh keturunannya. Dokumen-dokumen sejarah ini sebagian di antaranya ada yang mengungkapkan apa yang dialami Sultan Ibrahim Chaliluddin pada saat menjadi tawanan dan pada saat menjalani hukum buang-bimbang atau hukuman pengasingan dari pemerintah Belanda. Dokumen-dokumen ini tentunya
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | v hanya dimiliki oleh keturunan Sultan sendiri dan pemerintah Belanda saja karena dokumen ini lebih bersifat personal (hubungan antara pihak pemerintah Belanda sebagai pemberi hukuman dan pihak Sultan Ibrahim Chaliluddin sebagai penerima hukuman) sehingga tidak tersebar/sampai ke publik (masyarakat Paser saat itu). Dokumen ini banyak mengungkapkan fakta sejarah yang sebenarnya telah terjadi yang jarang bahkan tidak diketahui oleh publik, khususnya masyarakat Paser dimana Sultan Ibrahim Chaliluddin pernah menjadi raja disana sebelum akhirnya pemerintah Belanda menangkap, menawan, dan mengasingkannya ke Cianjur, Jawa Barat karena telah berani melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda pada saat itu. Bukti-bukti sejarah ini sangat penting dan perlu untuk diungkapkan/disampaikan ke publik karena selama ini telah terjadi pemutar-balikan fakta sejarah yang sebenarnya telah terjadi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan untuk itu. Hal ini sangat merugikan pribadi Sultan Ibrahim Chaliluddin beserta keluarga dan keturunannya baik secara moril mau pun materiil. Dengan mengetahui kebenaran sejarah di masa lalu tersebut, kita berharap para generasi muda yang lahir belakangan dapat lebih menghargai dan menghormati pengorbanan jasa-jasa dari para pahlawan yang telah gugur mendahului kita ini. Cianjur, Maret 2022 Penulis, Pangeran Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin (Ketua Yayasan Sultan Ibrahim Chaliluddin)
vi | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Daftar Isi Prakata ....................................................................................... iii Daftar Isi ..................................................................................... vi Daftar Gambar........................................................................... ix 1. Pendahuluan ..................................................................... 1 2. Berawal dari Buku Sejarah Kerajaan Sadurangas atau Kesultanan Pasir ...................................................... 5 3. Paser sebagai sebuah Negeri, Bangsa, dan Bahasa ...... 15 4. Wilayah Adat Paser di Era Kerajaan dan Kesultanan ....................................................................... 17 5. Wilayah Paser di Era Penjajahan Belanda ..................... 19 6. Silsilah Raja-Raja/Sultan Paser ........................................ 25 7. Asal-Usul Keturunan Raja-Raja Paser 1) ........................ 28 8. Penguasa Daerah Paser dari Masa ke Masa ................ 30 9. Gelar Bangsawan Aji di Kesultanan Paser .................... 34 10. Sultan Ibrahim Chaliluddin Melawan Belanda .............. 38 11. Catatan Sejarah Kalimantan Timur dan Selatan ........... 40
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | vii 12. Perjuangan Sultan Ibrahim Chaliluddin Tercatat dalam Surat Kabar Belanda ........................................... 46 13. Asal Muasal Terjadinya Pengalihan Kekuasaan Kesultanan Paser............................................................ 54 14. Perjanjian Pemerintah Kolonial Belanda dengan Raja-Raja Nusantara di Kepulauan Hindia Timur .......... 60 15. Sultan Ibrahim Chaliluddin, Tokoh Pergerakan Nasional Indonesia .......................................................... 71 16. HOS Cokroaminoto Membela Sultan Ibrahim Chaliluddin ...................................................................... 76 17. Kehidupan Sultan di Tempat Pengasingan (Penderitaan yang Tidak Pernah Berakhir) ................... 81 18. Raja yang Harus Menderita di Akhir Masa Hidupnya......................................................................... 87 19. Kembalinya sang Raja ke Haribaan Ilahi ...................... 89 20. Kronologis Penangkapan, Penahanan, Vonis, dan Masa Pengasingan Sultan Ibrahim Chaliluddin (Raja Terakhir Kesultanan Paser – Kalimantan Timur) .............................................................................. 91 21. Sultan Ibrahim Chaliluddin Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama ................................. 94 22. Istana Sultan Ibrahim Chaliluddin (Museum Sadurangas) ................................................................... 96 23. Masjid Kesultanan Pasir (Masjid Nurul Ibadah) ............ 98 24. Baju Kebesaran Sultan Ibrahim Chaliluddin ................. 100
viii | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin 25. Keturunan Sultan Ibrahim Chaliluddin ......................... 105 Daftar Pustaka ......................................................................... 131 Profil Penulis ........................................................................... 132
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | ix Daftar Gambar Gambar 1. Sultan Ibrahim Chaliluddin bersama Pembesar Kerajaan .................................................................... 4 Gambar 2. Buku Republik Indonesia Provinsi Kalimantan, 1959 ........................................................................ 8 Gambar 3. Sumber Rujukan Buku Karangangan A.S. Assegaff yang Tidak Melibatkan Keturunan Sultan Ibrahim Chaliluddin .................................................................... 9 Gambar 4. Salah Satu Surat Jawaban Pemerintah Cq Dirjen Pembinaan Penyiapan Pemukiman dan Penempatan Transmigrasi kepada para Penggugat yang Menyatakan bahwa Tanah yang Mereka Klaim tersebut secara Jelas Menyebutkan Masih Merupakan Tanah Milik Sultan Ibrahim Chaliluddin ................................................ 11 Gambar 5. Potongan Kutipan dari Putusan Mahkamah Agung Nomor: 2922 K/PDT/2003 yang di dalamnya Memuat Keterangan Alm. Aji Padang Ardjan Bahwa Andi Syech Assegaff telah Merekayasa Sejarah Hak Asal Usul Tanah ................................................................................. 14
x | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 6. Negeri Paser Tercantum dalam Kakawin Desa Warnnana Uthawi Nagara Krtagama ............................. 16 Gambar 7. Peta Bumi Kesultanan Paser .................................. 18 Gambar 8. Peta Lama Wilayah Pasir di Masa Kolonial Belanda ..................................................................................... 20 (Koleksi Tropen, Amsterdam) ................................................. 20 Gambar 9. Staatsblad van Nederlandsch-Indie No. 40 Tahun 1849 ................................................................................ 22 Gambar 10. Kutipan dari Buku Karya Dr. J. Eisenberger (1936) ........................................................................................ 45 Gambar 11. Kutipan Berita dari Surat Kabar Leidsch Dagblad Edisi 23 Januari 1906 Halaman 5 Kolom 2 ................ 47 Gambar 12 Kutipan Berita dari Surat Kabar Dagblad van Noord-Brabant Edisi 08 Juli 1908 ............................................ 49 Gambar 13. Surat Kabar Buana Minggu Edisi 25 Januari 1976 ............................................................................................ 51 Gambar 14. Kutipan Berita dari Surat Kabar Het Nieuws Van Den Dag - Voor Nederlandsch-Indië Edisi 30 Juli 1906 ........................................................................................... 51 Gambar 15. Kutipan Berita dari Surat Kabar Algemeen Handelsblad Edisi 05 November 1906 .................................... 68 Gambar 16. Potongan Kutipan Berita di Surat Kabar De Locomotif Edisi 24 Januari 1917 ............................................... 80 Gambar 17. Besluit De Gouvernements Secretaris Nederlandsch-Indie No. 10 Tanggal 25 Januari 1929 .............. 84
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | xi Gambar 18. Terjemah Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 10 Tanggal 25 Januari 1929 ...... 85 Gambar 19. Keluarga Keturunan Sultan Paser ....................... 86 Gambar 20. Verklaring Asisten Residen Cianjur tanggal 3 Oktober 1930 ............................................................................ 88 Gambar 21. Terjemah Verklaring Asisten Residen Cianjur tanggal 3 Oktober 1930 ........................................................... 88 Gambar 22. Makam Ratu Waroe dan Sultan Ibrahim Chaliluddin ................................................................................ 90 Gambar 23. Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama Nomor 3638/VI/1999 ................................................................ 95 Gambar 24. Bagian dalam Istana Kesultanan Pasir (Museum Sadurangas) ............................................................ 97 Gambar 25. Masjid Nurul Ibadah (Masjid Kesultanan Paser) ........................................................................................ 99 Gambar 26. Tampak Keseluruhan Baju Beskap Terbuka Sultan Ibrahim Chaliluddin. Baju aslinya masih tersimpan di penulis ............................................................... 101 Gambar 27. Sultan Ibrahim Chaliluddin Menggunakan Pakaian Kebesaran .................................................................. 103 Gambar 28. Surat Keterangan Lurah ..................................... 107 Gambar 29. Bagan Keturunan Sultan Ibrahim Chaliluddin ............................................................................... 108 Gambar 30. Petikan Register Firman Tjiandjoer Kenchoo No. 126/C tanggal 25 Hachigatsu 2604 (25 Agustus 1944) .... 110
xii | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 31. Surat Kuasa Gusti Ratu Sadiyah ........................... 111 Gambar 32. Surat Kuasa Penuh Semua Ahli Waris ................. 112 Gambar 33. Direktori Putusan PN Cianjur .............................. 116 Gambar 34. Adjie Medje gelar Sultan Ibrahim Chaliluddin (Sultan Paser terakhir, 1900-1906) ...................... 117 Gambar 35. Adjie Medje gelar Sultan Ibrahim Chaliluddin (Sultan Paser terakhir, 1900-1906) ......................................... 118 Gambar 36. Foto Keluarga Menantu Sultan Ibrahim Chaliluddin ............................................................................... 119 Gambar 37. Foto Ratu Waroe, Istri Sultan Ibrahim Chaliluddin saat di Tempat Pengasingannya di Cianjur, Jawa Barat sebelum Akhirnya Beliau Wafat .......................... 120 Gambar 38. Foto Pangeran Adjie Abdoelwahid Chaliluddin, Putra Tunggal Sultan Ibrahim Chaliluddin saat di Tempat Pengasingannya di Cianjur, Jawa Barat, sebelum Akhirnya Beliau Wafat .............................................. 121
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 1 Pendahuluan danya pihak-pihak tertentu yang mendiskreditkan pribadi dan mengkerdilkan peran Sultan Ibrahim Chaliluddin pada Perang Paser yang terjadi di daerah eks Kesultanan Paser, Kalimantan Timur pada 1915-1918 yang lalu inilah yang melatarbelakangi alasan penulis untuk menulis buku ini. Adanya pemutarbalikkan dan pembelokan fakta sejarah ini pula yang membuat penulis yang sekaligus juga merupakan canggah (keturunan keempat) Sultan Ibrahim Chaliluddin merasa perlu meluruskan fakta sejarah yang sebenarmya terjadi atas apa yang telah menimpa kakek buyutnya tersebut secara lebih transparan, adil, bijaksana, dan berimbang. Merangkai sejarah masa silam memang merupakan perkara yang sangat sulit karena untuk merangkai sebuah cerita sejarah yang valid memerlukan bukti-bukti dan saksisaksi sejarah yang secara langsung melihat, mengalami, dan terlibat sendiri dalam perkara tersebut, bukan berdasarkan cerita dari mulut ke mulut yang sangat mungkin terdistorsi dalam penyampaiannya. Antara satu penutur cerita dengan penutur cerita lainnya bisa berbeda, bahkan bertolak belakang A
2 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin ceritanya, dan yang sangat miris dan memprihatinkan, semuanya akan mengklaim dirinya sebagai yang paling benar ceritanya. Berbeda dengan bukti peninggalan dokumen tertulis, selama keontentikan atau keaslian dokumen tersebut terbukti maka mulai pada saat dokumen tersebut dibuat di masa lalu sampai pada saat ini, tidak akan pernah berubah akan tetap sama isinya sampai kapan pun. Seperti sudah disebutkan di atas, mencari saksi sejarah pada saat perkara itu terjadi, saat ini merupakan hal yang sangat sulit bahkan bisa jadi tidak mungkin karena semua saksi sejarah ini kemungkinan besar sudah wafat. Namun demikian untuk mencari dan mendapatkan bukti otentik berupa peninggalan naskah kuno, dokumen atau arsip lama yang menceritakan perkara itu terjadi sangat mungkin untuk didapatkan. Dengan demikian, kita dapat merangkai dan menyusun cerita sejarah tersebut secara lebih baik lagi dan mendekati fakta sejarah yang sebenarnya terjadi. Sebagai keturunan keempat Sultan Ibrahim Chaliluddin, alhamdulillah penulis mendapatkan banyak sekali keuntungan dan kemudahan dalam merangkai sejarah kakek buyutnya tersebut secara lebih transparan, adil, bijaksana, dan berimbang. Semua didasarkan pada dokumen-dokumen asli peninggalan Sultan Ibrahim Chaliluddin yang masih terawat secara baik oleh keturunannya. Dokumen-dokumen sejarah ini sebagian di antaranya ada yang mengungkapkan apa yang dialami Sultan Ibrahim Chaliluddin pada saat menjadi tawanan dan pada saat menjalani hukum buang-bimbang atau hukuman pengasingan dari pemerintah Belanda. Dokumen-dokumen ini tentunya
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 3 hanya kamilah (keturunannya) dan pemerintah Belanda yang memilikinya karena dokumen ini lebih bersifat personal (hubungan antara pihak pemerintah Belanda sebagai pemberi hukuman dan pihak Sultan Ibrahim Chaliluddin sebagai penerima hukuman) sehingga tidak tersebar atau sampai ke publik (masyarakat Paser saat itu). Dokumen ini banyak mengungkapkan fakta sejarah yang sebenarnya telah terjadi yang jarang, bahkan tidak diketahui oleh publik, khususnya masyarakat Paser, dimana Sultan Ibrahim Chaliluddin pernah menjadi raja di sana sebelum akhirnya pemerintah Belanda menangkap, menawan, dan mengasingkannya ke Cianjur, Jawa Barat. Bukti-bukti sejarah ini sangat penting dan perlu untuk diungkapkan atau disampaikan ke publik karena selama ini telah terjadi pemutarbalikkan fakta sejarah yang sebenarnya telah terjadi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan untuk itu. Hal ini tentunya sangat merugikan sosok pribadi Sultan Ibrahim Chaliluddin beserta keluarga dan keturunannya, baik secara moril maupun materiil. Dengan mengetahui kebenaran sejarah di masa lalu, kita berharap para generasi muda yang lahir belakangan dapat lebih menghargai dan menghormati pengorbanan jasa-jasa dari para pahlawan yang telah gugur mendahului kita ini.
4 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 1. Sultan Ibrahim Chaliluddin bersama Pembesar Kerajaan
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 5 Berawal dari Buku Sejarah Kerajaan Sadurangas atau Kesultanan Pasir uku karangan Andi Syech Assegaff dengan judul Sejarah Kerajaan Sadurangas atau Kesultanan Pasir, yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Pasir (sekarang Kabupaten Paser) tahun 1982 yang lalu sudah sering penulis baca. Sebuah buku yang mencoba menceritakan sejarah Negeri Paser, baik di masa Kerajaan maupun Kesultanan. Perlu mendapat apresiasi atas upayanya tersebut, namun sebagaimana yang dinyatakan oleh penulis buku itu pada halaman “Kata Pendahuluan Penulis”, dalam alinea terakhir mengatakan bahwa “Dengan terbatasnya bahan dan data memberikan kemungkinan adanya kekeliruan dan kekhilafan ...”. Ya, penulis setuju sekali dengan kalimat yang dinyatakan oleh penulis buku itu. Sebuah kalimat yang bijak. Penulis buku itu menyadari bahwa tulisannya tidak akan 100% benar sebagaimana sikap penulis B
6 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin yang tidak menolak 100% tulisannya tersebut, tetapi tidak juga menerima 100% tulisannya tersebut. Ada hal yang cukup mengganjal hati penulis, terutama terkait dengan riwayat sultan terakhir Kesultanan Paser, yaitu Sultan Ibrahim Chaliluddin. Beliau banyak dituliskan negatif dalam buku tersebut, padahal realitanya, beliau (Sultan Ibrahim Chaliluddin) dan saudara satu ibunya (Pangeran Menteri), dari sekian banyak Pejuang Paser yang pernah ada selama masa penjajahan Belanda, hanya dua orang inilah yang mendapat hukuman paling berat di bawah hukuman mati, yakni dihukum buang seumur hidup dan tidak boleh kembali lagi ke Paser. Bandingkan dengan pejuang lainnya yang maksimal mendapat 10 tahun hukum buang sehingga bisa kembali lagi ke Paser untuk menjalani kehidupan normal. Ini adalah sebuah realita yang tidak bisa dibantah bahwa beliau dan adik satu ibunya adalah orang yang paling dibenci penjajah (Belanda). Mengapa pihak penjajah (Belanda) begitu membenci kedua tokoh ini dibandingkan tokoh pejuang Paser lainnya? Adakah rahasia atau cerita tersembunyi yang tidak kita ketahui? Sejarah Sultan Ibrahim Chaliluddin dalam buku tersebut banyak bernada kontradikti. Jika tidak arif dan bijaksana dalam mencermatinya, akan menggiring pembacanya pada satu opini negatif tentang Sultan Ibrahim Chaliluddin dan keluarganya. Karena lamanya waktu, opini tersebut kemudian dianggap sebagai suatu kebenaran pada generasi setelahnya yang tidak tahu sejarah yang sebenarnya atau hanya menerima sepotong cerita yang kemudian dijadikan kesimpulan dari sebuah cerita yang seharusnya mereka terima secara utuh dan menyeluruh.
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 7 Dalam sebuah tulisan lain penulis pernah menganalogikan tontonan film dengan rangkaian sejarah seseorang; “Jangan pernah membuat satu kesimpulan hanya dengan mengambil dari satu adegan saja karena itu akan menyesatkan, tapi tontonlah seluruh adegan dalam film tersebut untuk mendapatkan kesimpulan akhirnya”. Mengambil satu kesimpulan hanya dari satu kejadian saja tanpa melihat kejadian yang melatarbelakanginya atau kejadian lainnya yang kemudian menyertainya di kemudian hari adalah kekeliruan dan tidak adil. Sebelum buku karangan A.S. Assegaff ini terbit pada tahun 1982, sebuah buku lain telah mendahuluinya, di dalamnya ada bagian yang bercerita tentang sejarah Kerajaan Paser. Buku tersebut resmi diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia cq Menteri Penerangan pada tahun 1959. Buku tersebut ditulis berdasarkan bahan-bahan tulisan yang dikumpulkan oleh M. Djamdjam, Wedana Pasir saat itu. Sesuai petunjuk dari Kementerian Penerangan, bahan yang telah terkumpul dan disusun itu kemudian dikirim ke Jakarta oleh Panitia yang diketuai oleh Machroes Effendi dan diterbitkan menjadi buku ensiklopedia Indonesia dengan judul Republik Indonesia Provinsi Kalimantan. Pertanyaannya, mengapa isinya menjadi berbeda, padahal A.S. Assegaff mengakui dalam buku yang ditulisnya tersebut bahwa beliau terinspirasi setelah membaca dan memperhatikan bahan yang ditulis oleh M. Djamdjam?
8 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 2. Buku Republik Indonesia Provinsi Kalimantan, 1959 Sumber: https://www.google.co.id/books/edition/Kalimantan/1nESAAAAMAAJ?hl=id&gbpv=0
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 9 Hal lainnya lagi adalah terkait dengan sejarah yang mengungkapkan tentang riwayat Sultan Ibrahim Chaliluddin. Tidak ada satu pun keturunan dari Sultan Ibrahim Chaliluddin yang dijadikan narasumbernya, padahal saat buku tersebut ditulis, masih ada kerabat Sultan yang mengetahui keberadaan keturunan Sultan Ibrahim Chaliluddin di Cianjur, Jawa Barat. Beliau ini pernah tinggal di Cianjur dan kemudian kembali ke Paser dan tidak pernah datang lagi ke Cianjur (terputus komunikasi). Gambar 3. Sumber Rujukan Buku Karangangan A.S. Assegaff yang Tidak Melibatkan Keturunan Sultan Ibrahim Chaliluddin
10 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Kenyataannya, sejarah ini pula (dihukum buang seumur hidup dan tidak boleh kembali lagi ke Paser), yang menyebabkan adanya pihak-pihak tertentu yang mencoba menguasai aset berupa tanah-tanah milik Sultan Ibrahim Chaliluddin untuk diklaim kepemilikannya. Mereka mengetahui Sultan Ibrahim Chaliluddin tidak boleh dan tidak mungkin kembali lagi ke Paser untuk selamanya. Untuk memudahkan rencananya tersebut, cara termudahnya adalah dengan membuat isu tentang Sultan Ibrahim Chaliluddin tidak memiliki keturunan. Sebuah strategi yang kotor. Demi untuk menguasai dan mengklaim tanah peninggalan Sultan Ibrahim Chaliluddin, mereka membuat isu yang keji. Sejak tahun 1980 sampai saat ini, pihak-pihak ini masih tetap melakukan gugatan ganti rugi kepada pemerintah dengan mengatasnamakan keturunan Sultan Ibrahim Chaliluddin dari jalur lain (mereka memutus jalur keturunan lurus yang ada dengan menyatakan Sultan Ibrahim Chaliluddin tidak memiliki anak dan hanya memiliki anak angkat).
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 11 Gambar 4. Salah Satu Surat Jawaban Pemerintah Cq Dirjen Pembinaan Penyiapan Pemukiman dan Penempatan Transmigrasi kepada para Penggugat yang Menyatakan bahwa Tanah yang Mereka Klaim tersebut secara Jelas Menyebutkan Masih Merupakan Tanah Milik Sultan Ibrahim Chaliluddin
12 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Yang tidak kalah menariknya lagi, dalam sebuah dokumen negara berupa Putusan Mahkamah Agung Nomor: 2922 K/PDT/2003 terungkap fakta bahwa berdasarkan keterangan Alm. Aji Padang Ardjan bahwa Andi Syech Assegaff (dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, semoga beliau diterima iman, Islamnya, dan diampuni segala khilaf dan salahnya), telah merekayasa sejarah hak asal-usul tanah dengan membuat Surat Keterangan Hak Milik pada tanggal 1 Juli 1964 untuk melegalkan penguasaan tanah milik Sultan Ibrahim Chaliluddin. Mudah-mudahan hal ini hanya kekhilafan semata. Sebagai manusia biasa tentunya beliau bisa khilaf, namun kehilafan tersebut juga bisa terjadi pada sejarah Sultan Ibrahim Chaliluddin yang beliau tulis, apalagi kekhilafan yang pernah beliau buat juga memiliki hubungan keterkaitan dengan aset tanah milik Sultan Ibrahim Chaliluddin.
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 13
14 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 5. Potongan Kutipan dari Putusan Mahkamah Agung Nomor: 2922 K/PDT/2003 yang di dalamnya Memuat Keterangan Alm. Aji Padang Ardjan Bahwa Andi Syech Assegaff telah Merekayasa Sejarah Hak Asal Usul Tanah
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 15 Paser sebagai sebuah Negeri, Bangsa, dan Bahasa erbicara Paser maka kita sedang membicarakan sebuah nama yang merujuk pada satu istilah untuk sebuah negeri, bangsa, dan bahasa. Paser atau dalam beberapa naskah kuno atau dokumen lama memiliki bentuk variasi tulisan lain seperti Pasir, Passir, Passier, dan Bassir adalah nama untuk sebuah daerah/negeri, suku bangsa, dan juga bahasa yang terdapat di bagian sebelah Timur pulau Kalimantan. Paser sudah ada sejak lama, namun "secara tertulis" sebagai nama sebuah daerah/negeri, baru mulai dikenal pada tahun 1365 sebagaimana tercantum dalam sebuah karya tulis gubahan Mpu Prapanca dengan judul tulisan Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama atau lebih dikenal dengan judul singkat Nagara Kretagama. Dalam tulisannya tersebut, Mpu Prapanca menyebutkan negeri-negeri terkemuka di Nusa Tanjungnagara, dalam naskah kuno tersebut tercantum nama sebuah daerah yang disebut Negeri Pasir. B
16 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Sebagai sebuah Negeri, Paser tentunya memiliki wilayah sendiri yang dikenal sebagai Negeri Paser, juga memiliki penduduk asli sendiri yang dikenal sebagai Suku/Bangsa Paser, serta memiliki juga bahasa sendiri yang dikenal sebagai Bahasa Paser. Suku/Bangsa Paser merupakan salah satu suku asli penduduk Pulau Kalimantan selain suku asli lainnya yang ada di Pulau Kalimantan. Gambar 6. Negeri Paser Tercantum dalam Kakawin Desa Warnnana Uthawi Nagara Krtagama Sumber: Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama (Prof. Dr. Drs. I Ketut Riana, S.U.)
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 17 Wilayah Adat Paser di Era Kerajaan dan Kesultanan Peta Wilayah Adat Paser Berdasarkan peta bumi Kesultanan Paser yang tercantum dalam buku Sejarah Kerajaan Sadurangas atau Kesultanan Pasir, penulis Andi Sayid Syekh Assegaff, sebelum adanya pemisahan wilayah administratif oleh Belanda tahun 1879 wilayah kekuasaan Kesultanan Paser meliputi yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Paser, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kota Balikpapan, Kecamatan Samboja yang sekarang masuk wilayah administrasi Kabupaten Kutai Kartanegara di Provinsi Kalimantan Timur, dan Pamukan (Pemaken) yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Kota Baru di Provinsi Kalimantan Selatan, serta Kepulauan Balabagan yang sekarang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.
18 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Sebelah Utara : 0.00 derajat (Sungai Aji Raden) Sebelah Barat : 11.35 derajat Bujur Timur (deretan gunung dan bukit) berbatasan dengan Kerajaan Tumbun Bunga Sebelah Selatan : 3.00 derajat Lintang Selatan (Teluk Kelumpang) berbatasan dengan Kerajaan Pulau Laut Tanah Bumbu Sebelah Timur : 117.00 Bujur Timur (Selat Makasar) Gambar 7. Peta Bumi Kesultanan Paser Sumber: Buku Sejarah Kerajaan Sadurangas atau Kesultanan Pasir, penulis A.S. Assegaff
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 19 Wilayah Paser di Era Penjajahan Belanda ada masa penjajahan Belanda, dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie No. 40 Tahun 1849, Paser (ditulis Passir) dimasukkan ke dalam wilayah Borneo Timur. Pulau Kalimantan dibagi menjadi 2 (dua) bagian wilayah, yakni Borneo bagian Barat dan Selatan (satu wilayah administratif), dan Borneo bagian Timur. P
20 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 8. Peta Lama Wilayah Pasir di Masa Kolonial Belanda (Koleksi Tropen, Amsterdam)
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 21
22 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 9. Staatsblad van Nederlandsch-Indie No. 40 Tahun 1849
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 23 Dalam staatsblad tersebut disebutkan bahwa Pulau Kalimantan dibagi menjadi dua bagian dengan nama Bagian Barat serta Bagian Selatan dan Timur. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, 27 Agustus 1849, No. 8. Wilayah Belanda di Pulau Kalimantan dibagi menjadi dua bagian utama, dengan nama Bagian Barat dan Bagian Tenggara. A. Bagian Barat terdiri dari: Sambas, Mampawa, Pontianak, Koebu, Simpang Sukkadana, Matam Landak, Tajan, Meliou, Sangouw, Sekadouw, Blitang, Sintang, dan seluruh daerah dari dua cabang aliran sungai Kapoeas. B. Bagian Tenggara terdiri dari: Kottawaringin, Pembuang, Sampit, Mendawe, sungai Daijak besar dan kecil, Tanah Laut Tanah Boemboe, Doesson Illier dan Uelu, yang kaya Passir, Koetie Berou, dan Kerajaan Banjermassin, hingga daerah aliran sungai dengan lembah Kapoeas dan ke
24 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Soengei atas di pantai timur laut, termasuk seluruh lembah Beraou.
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 25 Silsilah Raja-Raja/Sultan Paser ebagai sebuah wilayah atau daerah, baik pada masa lalu ataupun pada masa modern ini tidak akan terlepas dari apa yang disebut sebagai “Penguasa Daerah”. Di masa lalu, para penguasa daerah tersebut ada yang hanya dikenal oleh komunitas tertentu saja dan kemudian dijadikan pimpinan mereka secara informal. Mereka ini kemudian dikenal sebagai “Penguasa Daerah/Wilayah” tanpa gelar apa pun, namun ada pula yang karena perkembangan dan kebutuhan menjelma menjadi pimpinan formal yang kita kenal sebagai Raja/Sultan dengan wilayahnya kekuasaanya yang kita sebut sebagai wilayah Kerajaan/Kesultanan. Sebagaimana daerah lainnya, begitu pula dengan Paser, daerah ini pun akhirnya berkembang dan menjelma menjadi sebuah kerajaan, bermula ketika pada pertengahan abad ke XVI (kira-kira dalam tahun 1565) di daerah Kuripan (Amuntai sekarang) mengalami pergolakan di kalangan pemerintahannya sendiri. Pada waktu itu Temenggung Duyung dan Temenggung Tukiu, dua orang Panglima Kerajaan S
26 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Kuripan yang menderita akibat perang saudara di Rantau Panyaberangan, telah melarikan diri ke daerah Timur melalui Desa Batu-Butok, dengan membawa seorang bayi perempuan. Bayi kecil tersebut bukanlah diculik, akan tetapi dilarikan dengan sengaja dalam suatu rencana yang telah diatur sebelumnya. Sang bayi adalah puterinya Aria Manau (juga merupakan salah seorang Panglima Kuripan), rekan Temenggung Duyung sendiri. Ia dengan susah payah melalui rimba belantara, akhirnya sampai juga ke bagian Timur Kalimantan yang bernama “Sadurangas”, pada saat itu merupakan ”daerah tak bertuan”. Setelah Aria Manau mengetahui bahwa puteri kesayangannya telah diselamatkan ke Sadurangas, maka dengan segera Panglima ini menyusul ke sana untuk menemui puterinya. Setelah sekian lama berada di daerah tersebut, oleh karena penduduk sekitar tidak mengenal namanya dan dari mana asal-muasalnya maka penduduk sekitar lebih mengenal Aria Manau dengan sebutan “Kakah Ukop”. Kakah Ukop berarti orang tua pemilik kerbau putih yang bernama Ukop karena pada waktu itu Aria Manau memelihara kerbau putih bernama Ukop, sedangkan istrinya sendiri oleh penduduk sekitar dipanggil dengan sebutan “Itak Ukop”. Sang bayi dinamainya “Putri Petung”. Putri Petung (ejaan lainnya dituliskan Petong/Betung/Botung) adalah nama panggilan masyarakat Sadurengas/Paser saat itu untuk anak putrinya Aria Manau, sedangkan nama asli Putri Petung adalah Adjie Renik Jala Kembang alias Sri Sukma Dewi Aria Manau Deng Giti yang merupakan anak dari Adjie Tunggul alias Adjie Tenggal alias Aria Manau alias Kakah Ukop.
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 27 Kira-kira pada pertengahan tahun 1575 Masehi, Putri Petung diangkat dan diakui oleh penduduk sekitar sebagai raja pertama di Sadurangas (Pasir). Setelah Putri Petung dewasa, Ia dikawinkan dengan seorang mubalig dari tanah Jawa (Giri) bernama Pangeran Indera Jaya (ayahnya berasal dari Yaman dan ibu dari Jawa), yang datang dengan kapal layar yang membawa sebuah batu. Setelah perkawinan itu, batu yang dibawanya dari Jawa (Giri) pun dibongkarnya sehingga sampai sekarang batu tersebut masih tersimpan di Kampung Pasir (Benua) yang lebih dikenal oleh penduduk sekitar dengan sebutan “Batu Indera Giri”. Dari perkawinan dengan Pangeran Indera Jaya, Putri Petung memperoleh seorang putera yang diberinya nama Adjie Patih dan seorang puteri yang diberinya nama Putri Adjie Meter. Adjie Patih kemudian menjadi raja menggantikan Putri Petung. Dari hasil perkawinannya, Adjie Patih memperoleh seorang putera yang diberinya nama Adjie Anum. Sedangkan saudara perempuannya yang bernama Putri Adjie Meter menikah dengan seorang Arab keturunan Ba’alwi dari Mempawah – Kalimantan Barat. Suami Putri Adjie Meter inilah yang menyebarkan agama Islam di daerah Paser, kurang lebih 250 tahun yang lalu. Dari hasil perkawinannya dengan seorang Arab inilah, Putri Adjie Meter memperoleh dua orang anak yang diberinya nama Imam Mustafa dan Putri Ratna Berana. Putri Ratna Berana kemudian dikawinkan dengan anaknya Adjie Patih yang bernama Adjie Anum. Dari sinilah selanjutnya menurunkan raja-raja Paser hingga saat ini.
28 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Asal-Usul Keturunan Raja-Raja Paser 1)
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 29 1) Diintisarikan, diolah dan diberi keterangan tambahan oleh Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliludin dari Buku Republik Indonesia Provinsi Kalimantan, halaman 407 terbitan Djawatan Penerangan Provinsi Kalimantan. Kementerian Penerangan Republik Indonesia (terbit perdana pada tahun 1959). 2) Nama lain Aria Manau adalah Adjie Tunggul alias Adjie Tenggal 3) Nama lain Putri Petung adalah Adjie Renik Jala Kembang alias Sri Sukma Dewi Aria Manau Deng Giti 4) Penyebar agama Islam di daerah Paser, kurang lebih 250 tahun yang lampau.
30 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Penguasa Daerah Paser dari Masa ke Masa Nama Penguasa/Raja/Sultan Gelar Tahun Berkuasa A. Masa Kerajaan Sadurangas Sri Sukma Dewi Aria Manau Deng Giti Puteri Petung 1516-1567 Aji Mas Pati Indra bin Pangeran Indra Jaya Raja Sadurangas I 1568- 1618 Aji Mas Anom Indra bin Aji Mas Pati Indra Raja Sadurangas II 1618– 1639 Aji Anom Singa Maulana bin Aji Mas Anom Indra Raja Sadurangas III 1639– 1656 Aji Perdana bin Aji Anom Singa Maulana Penambahan Sulaiman 1659– 1683 Aji Duwo bin Aji Anom Singa Maulana Penambahan Adam 1683– 1705
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 31 Nama Penguasa/Raja/Sultan Gelar Tahun Berkuasa B. Masa Kesultanan Paser Aji Geger bin Aji Anom Singa Maulana Sultan Aji Muhammad Alamsyah (Sultan Pasir I) 1705– 1738 La Madukelleng *) (Plt. Sultan Pasir, Arung Matoa Kerajaan Wajo, Bugis,) 1726– 1736 Aji Ngara bin Sultan Aji Muhammad Alamsyah Sultan Sepuh I Alamsyah (Sultan Pasir II) 1738– 1760 Aji Dipati bin Panembahan Adam Sultan Dipati Anom Alamsyah (Sultan Pasir III) 1760– 1772 Aji Panji bin Ratu Agung Sultan Sulaiman Alamsyah (Sultan Pasir IV) 1772– 1798 Aji Sembilan bin Aji Muhammad Alamsyah Sultan Ibrahim Alamsyah (Sultan Pasir V) 1811–1815 Aji Karang bin Sultan Sulaiman Alamsyah Sultan Mahmud Han Alamsyah (Sultan Pasir VI) 1815– 1843
32 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Nama Penguasa/Raja/Sultan Gelar Tahun Berkuasa Aji Adil bin Sultan Sulaiman Alamsyah Sultan Adam Alamsyah (Sultan Pasir VII) 1843– 1853 Aji Tenggara bin Aji Kemas Sultan Sepuh II Alamsyah (Sultan Pasir VIII) 1853– 1873 C. Kesultanan Terpecah Menjadi 2 Bagian (Kesultanan Paser Utara dan Paser Selatan) Aji Timur Balam bin Sultan Adam Alamsyah Sultan Abdurahman Alamsyah (Sultan Pasir IX) 1875– 1890 Aji Tiga bin Mahmud Han Alamsyah Sultan Muhammad Ali Alamsyah (Sultan Pasir IX) 1880– 1897 D. Sepeninggal Sultan Abdurahman Alamsyah, Kesultanan kembali bersatu dibawah kekuasaan Sultan Muhammad Ali Alamsyah 1890- 1897 Pangeran Nata bin Pangeran Dipati Sulaiman Sultan Sulaiman Alamsyah 1897– 1898 Pangeran Ratu bin Sultan Sepuh II Sultan Ratu Raja Besar Alamsyah (Sultan Pasir X) 1898– 1900
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 33 Nama Penguasa/Raja/Sultan Gelar Tahun Berkuasa Alamsyah (Aji Tenggara) Aji Medje bin Latadaga gelar Pangeran Mangku Jaya Kesuma Sultan Ibrahim Chaliluddin (Sultan Pasir XI) 1900– 1906 Adjie Medje gelar Sultan Ibrahim Chaliluddin, Raja Terakhir Kesultanan Paser *) La Madukelleng menikah dengan Putri Andeng Ajang, anak dari Aji Geger bin Aji Anom Singa Maulana (Sultan Aji Muhammad Alamsyah). Ketika Sultan wafat, istri La Maddukelleng dicalonkan menjadi Ratu Paser, Namun sebagian orang-orang Paser menolak pencalonan tersebut dan terjadi pemberontakan di kerajaan. Untuk meredakan keadaan La Maddukelleng bersama Pasukannya menyerang Paser. Ia menjabat Raja Paser tahun 1726–1736. Salah seorang putri La Maddukelleng dengan Putri Andeng Ajeng bernama Andi Rianjeng gelar I Doya Aji Putri Agung yang kemudian menikah dengan Sultan Aji Muhammad Idris (Sultan Kutai XIV).
34 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gelar Bangsawan Aji di Kesultanan Paser da hal yang cukup menarik terkait gelar kebangsawan Aji di Kesultanan Paser. Gelar kebangsawanan Aji (dalam ejaan lama ditulis Adji atau Adjie) pada awal mulanya diturunkan dari garis keturunan ibu (Putri Petung), bukan dari garis keturunan bapak (Pangeran Indera Jaya) karena suami Putri Petung bukanlah seorang bangsawan bergelar Aji. Namun pada kenyataannya, anak-anak mereka ini yang kemudian menjadi raja-raja di Paser secara turuntemurun menggunakan gelar Aji yang diturunkan dari garis ibu (Putri Petung). Pada perjalanan berikutnya, gelar Aji ini kemudian berkembang tidak hanya diturunkan berdasarkan garis keturunan ibu atau bapak saja, tapi juga menjadi gelar kehormatan yang diberikan oleh raja/sultan pada rakyat lainnya yang dianggap berjasa bagi kerajaan/kesultanan. A
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 35 Silsilah Sultan Ibrahim Chaliluddin Sultan Ibrahim Chaliluddin terlahir dengan nama Adjie Medje. Setelah menjadi sultan bergelar Sultan Ibrahim Chaliluddin, beliau adalah sultan terakhir Kesultanan Paser (d.h bernama Kerajaan Sadurangas) yang terletak di bagian Timur Pulau Kalimantan. Beliau berkuasa sejak tahun 1900– 1906. Kakeknya adalah Sultan Sepuh II Alamsyah, pamannya adalah Sultan Ratu Raja Besar Alamsyah. Ibunya bernama Puteri Adjie Miki binti Sultan Sepuh II Alamsyah, adik kandung Sultan Ratu Raja Besar Alamsyah. Ayahnya bernama La Taddaga, seorang bangsawan Bugis yang terkenal pemberani dan kaya raya (saudagar rotan saat itu, yang memiliki kebun ongko atau rotan yang sangat luas) di daerah Paser. Kedekatan La Taddaga dengan Sultan Ratu Raja Besar Alamsyah yang dianggap berjasa dalam mengembangkan usaha perdagangan di Kesultanan Paser menjadikan dia ditengarai mendapatkan gelar kehormatan Adjie. Hal ini sebagaimana terungkap dalam tulisan Anggraini Antemas dalam koran Buana Minggu yang terbit di Jakarta 25 Januari 1976. Koran ini menyebutkan ayahanda dari Sultan Ibrahim Chaliluddin adalah Adjie Gapa, sedangkan dalam dokumen lainnya, penulis menemukan informasi berupa tulisan bahwa Adjie Gaga adalah ayahanda dari Sultan Ibrahim Chaliluddin. Berdasarkan data-data tersebut di atas, patut diduga nama lain dari La Taddaga adalah Adjie Gapa alias Adjie Gaga. Nama-nama tersebut adalah orang yang sama dan merupakan nama lain dari ayahanda Sultan Ibrahim Chaliluddin. Sultan tinggal bersama kedua orang tua kandungnya hanya sebentar saja karena ayahnya meninggal saat Sultan
36 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin berusia 1 tahun. Sepeninggal ayahnya, Putri Adjie Miki menikah lagi dengan Anden Raga. Dari hasil perkawinan kedua ibunya tersebut, Sultan memiliki saudara tiri (saudara satu ibu) yaitu; (1) Pangeran Menteri, (2) Aji Lijah, dan (3) Aji Susah. Sultan sendiri sepeninggal ayahnya setelah beberapa tahun hidup bersama ibu dan bapak tirinya akhirnya diambil, diasuh dan dijadikan anak angkat oleh pamannya yaitu Sultan Ratu Raja Besar Alamsyah. Bahkan pada masa pemerintahan Sultan Ratu Raja Besar Alamsyah inilah, Sultan Ibrahim Chaliluddin sudah diangkat menjadi Perdana Menteri Kesultanan dengan gelar Pangeran Mangku Jaya Kesuma Adiningrat.