The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

SULTAN IBRAHIM CHALILUDDIN
RAJA PEJUANG YANG TERLUPAKAN
(SULTAN PASER TERAKHIR 1900-1906),
Pangeran Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliludin

Penajam Paser Utara adalah nama sebuah kabupaten di provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten ini terbilang masih relatif muda usianya. Dibentuk melalui UU No. 7 Tahun 2002 pada tanggal 10 April 2002 hasil pemekaran dari kabupaten induknya, Kabupaten Paser. Nama ini mungkin dulu tidak banyak yang mengenalnya. Belakangan, nama ini menggema di seantero Nusantara, bahkan dunia. Penajam Paser Utara terpilih menjadi lokasi Ibu Kota Negara Indonesia berdasarkan UU No. 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara (IKN).

Jauh sebelum lahirnya negara Indonesia, daerah ini dulunya merupakan wilayah Kerajaan Sadurengas yang kemudian bermetamorfosis menjadi Kesultanan Paser. Memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Terbentang dari Selatan ke Utara diapit dua kesultanan besar lainnya, yakni Kesultanan Banjar dan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Raja terakhir Kesultanan Paser, Adjie Medje gelar Sultan Ibrahim Chaliluddin, seorang tokoh pergerakan nasional (Presiden Sarikat Islam Cabang Paser, Kalimantan) dan pemimpin perlawanan dari Kalimantan ini justru tidak dimakamkan di kompleks makam kerajaan di Paser - Kalimantan Timur, di tempat tanah kelahirannya tapi terbaring jauh di Cianjur, Jawa Barat. Ya, perjuangannya melawan Belanda harus ditebusnya dengan menjalani hukuman pengasingan seumur hidup. Pemerintah kolonial Belanda menghukumnya karena dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya Perang Paser. Penulis yang juga merupakan salah satu keturunannya mencoba mengisahkan kembali lika-liku perjuangannya, penderitaannya, dan suasana bathinnya selama menjalani hukuman sampai akhirnya Beliau wafat. Penasaran dengan ceritanya? Ikuti kisah serunya.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by benipro, 2024-02-27 23:11:07

Sultan Ibrahim Chaliluddin, Raja Perjuang Yang Terlupakan

SULTAN IBRAHIM CHALILUDDIN
RAJA PEJUANG YANG TERLUPAKAN
(SULTAN PASER TERAKHIR 1900-1906),
Pangeran Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliludin

Penajam Paser Utara adalah nama sebuah kabupaten di provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten ini terbilang masih relatif muda usianya. Dibentuk melalui UU No. 7 Tahun 2002 pada tanggal 10 April 2002 hasil pemekaran dari kabupaten induknya, Kabupaten Paser. Nama ini mungkin dulu tidak banyak yang mengenalnya. Belakangan, nama ini menggema di seantero Nusantara, bahkan dunia. Penajam Paser Utara terpilih menjadi lokasi Ibu Kota Negara Indonesia berdasarkan UU No. 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara (IKN).

Jauh sebelum lahirnya negara Indonesia, daerah ini dulunya merupakan wilayah Kerajaan Sadurengas yang kemudian bermetamorfosis menjadi Kesultanan Paser. Memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Terbentang dari Selatan ke Utara diapit dua kesultanan besar lainnya, yakni Kesultanan Banjar dan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Raja terakhir Kesultanan Paser, Adjie Medje gelar Sultan Ibrahim Chaliluddin, seorang tokoh pergerakan nasional (Presiden Sarikat Islam Cabang Paser, Kalimantan) dan pemimpin perlawanan dari Kalimantan ini justru tidak dimakamkan di kompleks makam kerajaan di Paser - Kalimantan Timur, di tempat tanah kelahirannya tapi terbaring jauh di Cianjur, Jawa Barat. Ya, perjuangannya melawan Belanda harus ditebusnya dengan menjalani hukuman pengasingan seumur hidup. Pemerintah kolonial Belanda menghukumnya karena dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya Perang Paser. Penulis yang juga merupakan salah satu keturunannya mencoba mengisahkan kembali lika-liku perjuangannya, penderitaannya, dan suasana bathinnya selama menjalani hukuman sampai akhirnya Beliau wafat. Penasaran dengan ceritanya? Ikuti kisah serunya.

Keywords: Sultan Ibrahim Chaliluddin,Sultan Paser,Sultan Paser terakhir,Sultan Kalimantan Timur,Borneo,Indonesia,Raja Kalimantan,Ibu Kota Nusantara,Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliludin,Adjie Medje,Aji Meje

Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 37


38 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Sultan Ibrahim Chaliluddin Melawan Belanda ejak turun tahta pada tahun 1906, Sultan kemudian ditunjuk oleh para alim ulama untuk menjadi ketua presidium Serikat Islam di daerah Paser. Dengan pergerakan inilah Sultan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Puncaknya terjadi pada tahun 1915-1916 dimana peperangan terbesar terjadi di daerah Paser. Belanda mendokumentasikan peperangan tersebut dengan istilah “Pemberontakan Sarikat Islam”, dimana Sultan Ibrahim Chaliluddin ditunjuk sebagai pimpinannya. Kepura-puraan Sultan yang selama ini terlihat baik terhadap Belanda pada akhirnya terbongkar, ternyata otak dari semua perlawanan ini adalah mantan Sultan Paser ini yaitu Sultan Ibrahim Chaliluddin. Sultan ditangkap pada bulan Februari 1916. Bersama dengan keluarga, para pembesar kesultanan dan pengikutnya dengan sebuah kapal perang Belanda diangkut ke Banjarmasin. Di suatu persidangan di Banjarmasin tanggal 31 Juli 1918 keluar vonis Belanda yang menetapkan bahwa Sultan S


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 39 Ibrahim Chaliluddin beserta adik tirinya, Adjie Medja gelar Pangeran Mantri diasingkan seumur hidup, hukuman terberat di bawah hukuman mati karena dianggap oleh Belanda sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya Perang Paser tersebut. Hal inilah yang menyebabkan Sultan Ibrahim Chaliluddin tidak dapat kembali dan tidak pernah kembali lagi ke Paser. Sultan harus merelakan hidupnya terpisah dari tanah leluhurnya dan meninggalkan semuanya di sana sampai akhir hayatnya dan akhirnya wafat di tempat pengasingannya di Cianjur – Jawa Barat.


40 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Catatan Sejarah Kalimantan Timur dan Selatan ebuah sumber referensi yang jelas menceritakan peperangan yang terjadi di Paser pada tahun 1915-1918 dapat kita temukan pada buku setebal 146 halaman yang ditulis oleh Dr. J. Eisenberger dengan judul bukunya, Kroniek der Zuider-En Oosterafdeeling van Borneo terbit pada tahun 1936 tertulis jelas pada halaman 77-98 tentang apa, siapa, mengapa, dan bagaimana terjadinya Perang Paser tersebut. Siapa saja tokohnya dan siapa pemimpinnya. Pada tahun 1931, Residen Divisi Selatan dan Timur Kalimantan, Jhr BCCMM van Suchtelen (1931-1933) memerintahkan Dr. J. Eisenberger untuk menuliskan tinjauan sejarah Divisi Selatan dan Timur Kalimantan, yang akan dimasukkan dalam nota penyerahan umum. Nota ini mencakup semua informasi yang perlu diketahui tentang wilayah ini dan terdiri antara lain kontribusi dari sejumlah ahli, masing-masing di bidangnya sendiri. Karena tidak ada kepastian bahwa memorandum itu akan pernah diterbitkan, Dr. J. Eisenberger (1936) mempertahankan kebebasan S


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 41 publikasi kontribusinya tersebut dengan menerbitkannya dalam bentuk “Kroniek der Zuider-En Oosterafdeeling van Borneo”. Kronik adalah catatan kejadian-kejadian secara singkat dari waktu ke waktu secara berurutan. Artinya kumpulan kejadian di masa lalu dikumpulkan atau dikelompokkan dalam urutan waktu yang sama. Kronik ini dibuat hanya terpaut beberapa tahun saja dengan kejadian tersebut. Sehingga orisinilitas dari peristiwa yang diceritakan dalam buku tersebut mendekati keadaan yang sebenarnya karena masih segar dalam ingatan dan masih banyaknya saksi hidup yang masih ada.


42 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Lembaran yang memuat sejarah peperangan yang terjadi di Paser dalam buku Kroniek der Zuider-En Oosterafdeeling van Borneo karya Dr. J. Eisenberger (1936).


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 43


44 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 45 Gambar 10. Kutipan dari Buku Karya Dr. J. Eisenberger (1936) Sumber: https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB06:000004135:pdf


46 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Perjuangan Sultan Ibrahim Chaliluddin Tercatat dalam Surat Kabar Belanda elain yang tercatat dalam buku karya Dr. J. Eisenberger, beberapa catatan sejarah perjuangan beliau, penulis temukan juga dalam beberapa berita di koran atau surat kabar Belanda yang terbit tahun 1900an, yakni di surat kabar Leidsch Dagblad (23-01-1906), Het Nieuws Van Den Dag (30-07- 1906), Algemeen Handelsblad (05-11-1906), De Avondpost (25- 03-1908), Dagblad van Noord-Brabant (08-07-1908), Algemeen Handelsblad (16-07-1908), De Locomotief (04-08-1908), Bataviaasch Nieuwsblad (11-08-1916), Algemeen Handelsblad (30-09-1916), De Locomotief (24-01-1917), Sumatra-Bode (26- 04-1917), De Indier (13-09-1918), dan De Locomotief (14-09- 1918). Itulah beberapa surat kabar Belanda yang memuat kisah perjuangan Sultan Ibrahim Chaliluddin. Berikut ini penulis tampilkan beberapa kutipan berita dari surat kabar tersebut di atas. S


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 47 Koresponden di Batavia melaporkan kelompok gerilyawan orang Pasir mencegat pasukan patroli dari Barabai serta kontroler Knappert, seluruhnya tewas. Sedangkan Mayor Schilham yang merupakan komandan divisi Kalimantan Tenggara, dinyatakan hilang. Pasir adalah kerajaan kecil di kawasan Pantai Timur Kalimantan. Di sebelah Tenggara berbatasan dengan daerah administratif Kutai, sebelah Barat berbatasan dengan daerah administratif Amuntai dan Martapura. Sebelah Selatan dengan Tanah Bumbu dan Timur dengan Selat Makassar. Kerajaan ini telah diserahkan kepada Belanda oleh Kesultanan Banjar pada tahun 1826. Gambar 11. Kutipan Berita dari Surat Kabar Leidsch Dagblad Edisi 23 Januari 1906 Halaman 5 Kolom 2 Sumber: https://leiden.courant.nu/issue/LD/1906- 01-23/edition/0/page/5


48 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Orang Pasir merupakan penduduk asli di sana, sementara orang Bugis banyak tinggal di ibu kota dan di sepanjang sungai sekitarnya. Pasir merupakan bagian dari daerah administratif Pasir dan Tanah Bumbu, tetapi sejak tahun lalu ditingkatkan statusnya menjadi bagian terpisah di bawah pimpinan seorang kontroler. Gejolak kerusuhan di Paser mulai terjadi pada bulan Juli 1905. Pada bulan itu petugas patroli di daerah Telake (Desa Muara Telake dan Sebakung di Long Kali, admin) melepaskan tembakan yang menewaskan sejumlah anggota kelompok perusuh yang menamakan diri mereka sebagai Pasukan Panglima Sentik. Kelompok ini memperlihatkan sikap bermusuhan kepada pemerintah dan melakukan kerusuhan di Tanah Grogot. Mayor H.N.A. Swart, komandan sipil dan militer, segera setelah menerima berita itu, pada tanggal 20 Juli 1905 pergi menemui Sultan Pasir yang pengaruhnya telah merosot dan beberapa bekas anggota partai nasional di sana untuk menanyakan informasi dan keterangan posisi markas kelompok perusuh. Namun mereka mengaku tidak tahu dan dalam posisi tidak berdaya. Sultan secara tersamar memperlihatkan sikap bermusuhan dan setelah sebelumnya enggan bekerjasama dalam rencana pembangunan jalan Tanah Grogot – Kuaro. Dalam berita ini sangat jelas diterangkan bahwa jauh sebelum kekuasaan pemerintahan kesultanan diambil alih Belanda, Sultan sudah memperlihatkan sikap bermusuhan dengan tidak mau bekerja sama dan menolak keinganan


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 49 Belanda dan berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Panglima Sentik dengan pasukannya. Kalimantan bagian Selatan dan Timur. Menurut telegram yang diterima dari Hindia Belanda, telah terjadi perlawanan lokal terhadap perintah pemerintah di Pasir Atas (Kalimantan bagian Selatan dan Timur) dan sembilan penjahat telah ditembak. (St. cr.) Pasir adalah salah satu dari sepuluh departemen di Departemen Kalimantan Selatan dan Timur; Divisi ini terdiri dari lanskap pinjaman Pasir. Sudah beberapa waktu sejak kabar kerusuhan datang dari Pasir. Seperti yang kami ketahui dari email-email tersebut, Ibrahim Chaliloedin, Sultan Pasir, dan penasihat hukumnya, menghadap Gubernur Jenderal untuk menyampaikan keluhan tentang dugaan perlakuan tidak adil oleh residen Van Weert. Kami menceritakan inti permasalahannya. pesan dari Javabode. Kemungkinan besar Gambar 12 Kutipan Berita dari Surat Kabar Dagblad van Noord-Brabant Edisi 08 Juli 1908 Sumber: https://www.delpher.nl/nl/kranten/vie w?query=sultan+pasir&coll=ddd&page =2&identifier=MMKB23:001966153:mp eg21:a00030&resultsidentifier=MMKB2 3:001966153:mpeg21:a00030&rowid=9


50 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin perlawanan lokal di Pasir Atas yang kini diberitakan secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan perasaan tidak puas sultan. Namun, ini tidak lebih dari sekadar asumsi. Seorang letnan infanteri bertanggung jawab atas administrasi divisi Pasir. Berita ini memperlihatkan ketidakpuasan Sultan dan melaporkannya pada Gubernur Jenderal Belanda atas tindakan ketidakadilan dari residen Van Weert. Ada dugaan pemberontakan di Pasir dipicu atas ketidakpuasan Sultan sebagaimana diterangkan dalam buku terbitan Kementerian Penerangan Republik Indonesia Tahun 1959 pada halaman 405-410 dengan judul buku Republik Indonesia Propinsi Kalimantan dan juga diceritakan dalam tulisan Angraeni Antemas dalam Surat Kabar Buana Minggu edisi 25 Januari 1976.


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 51 Gambar 13. Surat Kabar Buana Minggu Edisi 25 Januari 1976 Gambar 14. Kutipan Berita dari Surat Kabar Het Nieuws Van Den Dag - Voor NederlandschIndië Edisi 30 Juli 1906 Sumber: https://www.delpher.nl/nl/kranten /view?query=sultan+pasir&coll=dd d&page=2&identifier=ddd:0101344 89:mpeg21:a0081&resultsidentifie r=ddd:010134489:mpeg21:a0081&r owid=4


52 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Kesultanan Pasir di bawah pemerintahan langsung. Pada hari Selasa tanggal 24 tahun ini, s.s. Flamingo tiba di Bandjermasin bersama Sultan Pasir Ibrahim Chalil Ondin dan tokoh-tokoh besar negaranya: Pangéran Kasoema Djaja Ningrat, Sultan Moeda, Pangaran Mantri, Pangéran Pandji, Pangaran Mas dan Pangéran Djepati di dalamnya. Pagi itu juga, pukul sepuluh, mereka diterima audiensi oleh Residen Sipil dan Militer. Hal ini berkaitan dengan keinginan mereka untuk menjadikan Kesultanan Pasir berada di bawah pemerintahan langsung pemerintah. N.Soer. Crt Berita ini menyangkal tuduhan yang selama ini beredar dan sengaja diputarbalikan faktanya oleh pihak-pihak tertentu bahwa Sultan menyerahkan kekuasaan pemerintahannya tanpa sepengetahuan dan persetujuan para tokoh-tokoh negaranya. Jelas sekali diberitakan secara terbuka siapa saja yang datang, bahkan kapal yang memuat, jam pertemuan, serta maksud dari pertemuan tersebut pun disebutkan secara jelas. Alasan penyerahan tersebut jelas, selain diketahui dan disetujui oleh para tokoh negara/pembesar kerajaan, juga karena adanya tindakan sewenang-wenang oleh residen sebagaimana diberitakan dalam berita sebelumnya (surat kabar Dagblad van Noord-Brabant edisi 08 Juli 1908). Dari sumber lainnya disebutkan alasan lainnya adalah diterapkannya kenaikan pajak orang pribadi dan keharusan


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 53 kerja paksa bagi rakyat Paser saat itu oleh Belanda. Padahal selama ini, Sultanlah menanggung/membayarkan pajak pribadi para pembesar kerajaan dengan uangnya sendiri selama menjadi sultan. Jika perintah tersebut dilaksanakan maka Sultan akan dicatat dalam sejarah sebagai Sultan yang zalim karena mengenakan pajak yang tinggi dan keharusan menjalankan kerja paksa pada rakyatnya, maka Sultan dan para pembesar kerajaan memutuskan untuk menyerahkan saja pelaksanaan perintah tersebut kepada pemerintah Belanda. Namun di balik itu, mereka melakukan perlawanan secara sembunyi-sembunyi. Sayangnya keputusan tersebut akhirnya menjadi bumerang juga karena ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi tersebut untuk menyerang Sultan dengan harapan dapat mengambil alih kekuasaan.


54 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Asal Muasal Terjadinya Pengalihan Kekuasaan Kesultanan Paser ejak dinobatkannya Pangeran Mangku Jaya Kesuma sebagai Sultan Paser dengan gelar Sultan Ibrahim Chaliluddin, persaingan politik yang terjadi di Kesultanan Paser tidak menjadikannya mereda. Pergolakan dan persaingan politik ini seperti api dalam sekam yang siap membakar ketika ada penyulutnya. Para penentang sultan baru ini walaupun sudah diakomodasi masuk dalam sistem pemerintahan Sultan Ibrahim Chaliluddin masih tetap memendam rasa kecewa dan selalu mencari-cari cara dan kesalahan untuk berupaya menurunkannya. Hal inilah yang menyebabkan Sultan Ibrahim Chaliluddin sulit untuk menjalankan roda pemerintahannya dengan baik. Hal ini terdokumentasikan dalam surat kabar Hindia Belanda Het Nieuws Van Den Dag - Voor Nederlandsch-Indië edisi 30 Juli 1906 dan catatan harian seorang perwira Belanda Dr. J. Eisenberger (1936). S


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 55 Adanya peraturan tentang kenaikan pajak dan dikenakannya pajak pribadi dan kerja paksa (rodi) yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda untuk dilaksanakan di Kesultanan Paser semakin mempersulit posisi Sultan Ibrahim Chaliluddin. Di satu sisi, sebagai seorang raja, Sultan harus melindungi rakyatnya. Namun, di sisi lain terdapat dua kekuatan besar yang menekannya. Pertama, pemerintah kolonial Belanda yang memaksanya untuk menjalankan peraturan tersebut sebagai bentuk menjalankan perjanjian politik antara pemerintah kolonial Belanda dengan Raja-Raja yang ada di Nusantara pada saat itu. Tekanan kedua, dari pesaing politiknya yang ada di dalam pemerintahannya pun tidak benar-benar mendukungnya mereka menolak membayar tanpa mengindahkan konsekwensinya yang akan terjadi pada rakyat Paser, bahkan penerapan peraturan tersebut apabila dijalankan oleh Sultan Ibrahim Chaliluddin menjadi celah terbuka untuk bisa menjatuhkannya. Seperti pepatah mengatakan bagai makan buah simalakama, sulit memilih dua pilihan yang pahit. Menerapkan peraturan tersebut berarti menyengsarakan rakyat Paser, namun ketika tidak diterapkan akan mengakibatkan murkanya pihak kolonial Belanda. Kebimbangan Sultan tersebut beralasan, sebab jika peraturan tersebut diterima dan diterapkan maka sejarah akan mencatat bahwa beliau akan menjadi raja yang zalim karena mengambil pajak yang tinggi dan menjalankan kerja paksa (rodi) yang tentu saja akan menyengsarakan rakyatnya. Sedangkan para pembantu sultan yang kini duduk di pemerintahannya pun masih belum ikhlas menerima penobatannya, bahkan seakan tidak mau tahu dengan


56 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin peraturan tersebut. Kondisi yang sulit ini di mata para penentangnnya malahan menjadi celah atau pintu masuk untuk menjatuhkan Sultan Ibrahim Chaliluddin jika peraturan tersebut diterapkan. Kesalahan mengambil keputusan akan berpengaruh buruk pada pemerintahannya. Sehingga selama kurang lebih 3 tahun tanpa diketahui oleh rakyat Paser, Sultan secara pribadi menutupi beban pajak rakyat dan para pembesar kerajaan tersebut dengan uangnya sendiri dengan cara menanggulangi pembayaran pajak-pajak tersebut ke pemerintah kolonial Belanda supaya rakyat Paser terhindar dari sanksi pemerintah kolonial Belanda. Sampai saat itu pemerintahan Sultan Ibrahim Chaliluddin masih aman terhindar dari sanksi Pemerintah kolonial Belanda. Rongrongan dari pesaing politiknya masih bisa terhindarkan untuk menjatuhkan dari tampuk kekuasaan karena secara rutin masih membayarkan pajaknya. Namun setelah sekian lama berlangsung, akhirnya kondisi keuangan Sultan menjadi sulit juga kalau harus terus-menerus membayarkan pajak rakyat dan para pejabat pemerintahannya ke pemerintahan kolonial Belanda. Pada akhirnya Sultan mau tidak mau harus berkompromi dengan situasi yang sulit ini dan mengundang para pembesar kesultanan untuk berembug dan bersepakat untuk mencari cara keluar terbaik atas permasalahan ini. Hasil dari dialog bersama para pembesar kesultanan tersebut direalisasikan dalam bentuk Sultan beserta para pembesar kesultanan berkunjung ke kediaman Residen Belanda untuk membicarakan hal itu dan mencari jalan terbaik bagi kesultanan. Hal ini terdokumentasikan dalam surat kabar


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 57 Hindia Belanda Het Nieuws Van Den Dag - Voor NederlandschIndië edisi 30 Juli 1906. Sayangnya kondisi yang sulit ini malah membuka peluang bagi para pesaing politiknya untuk menjatuhkan tampuk kekuasaan Sultan. Mereka yang datang beserta Sultan ke pertemuan tersebut di akhir cerita berbalik menyerang dan bahkan mengingkari kehadiran dan isi perjanjian tersebut. Beruntung kejadian tersebut ternyata terdokumentasikan secara baik dan terbuka dalam surat kabar Hindia Belanda yang secara jelas dan gamblang menjelaskan siapa saja yang datang dan menghadiri pertemuan tersebut. Perlu diketahui pada saat itu dan sebelum Sultan Ibrahim Chaliluddin berkuasa di Paser, sejak lama, sebagaimana yang terjadi pada raja-raja atau sultan-sultan yang ada di Nusantara pada umumnya, tidak hanya terjadi di Kesultanan Paser saja, sebagian besar kerajaan besar/berpengaruh (di mata penjajah menguntungkan dari sisi ekonomi) itu tunduk pada penguasa kolonial Belanda dan membuat perjanjian dengan pemerintah kolonial Belanda untuk menjalankan roda pemerintahannya. Beberapa kerajaan kecil atau yang tidak berpengaruh (tidak menguntungkan secara ekonomi menurut penjajah) atau kerajaan-kerajaan besar yang belum atau sukar untuk ditaklukan oleh penjajah Belanda memang tidak membuat perjanjian dengan pemerintah kolonial Belanda, namun jumlahnya memang tidak banyak, sangat sedikit karena sebagian besar wilayah Nusantara pada saat itu dikuasai oleh Belanda. Belanda mengakui pemerintahan lokal (kerajaan) di samping pemerintahan kolonial untuk mengurusi wilayah jajahannya tersebut. Namun sebagian besar kerajaan lokal


58 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin tersebut tunduk pada pemerintah kolonial Belanda dan terikat perjanjian dengan pemerintah kolonial Belanda dalam menjalankan roda pemerintahan lokalnya tersebut. Adanya pihak yang menyebutkan Sultan Ibrahim Chaliluddin adalah sultannya Belanda karena diangkat Belanda adalah aneh, seakan-akan hanya Sultan Ibrahim Chaliluddin ini saja yang dinobatkan pemerintah kolonial Belanda, sedangkan Raja-Raja atau Sultan-Sultan sebelumnya di Kesultanan Paser atau bahkan Raja/Sultan kerajaan lainnya yang terikat kontrak politik dengan pihak kolonial Belanda tidak melakukan itu. Perlu kita tahui bersama bahwa kerajaan yang terikat kontrak politik dengan pemerintah kolonial Belanda, semua Raja/Sultannya setelah melalui proses pemilihan lokal harus mendapatkan restu terlebih dahulu dari pemerintah kolonial Belanda sebelum mereka berkuasa. Tidak hanya terjadi saat Sultan Ibrahim Chaliluddin berkuasa saja, bahkan hal itu pun terjadi pada Sultan Paser-Sultan Paser sebelumnya karena kontrak politik dengan pemerintah kolonial Belanda sudah terjadi di era Sultan Paser sebelumnya sehingga Sultan berikutnya (Sultan Ibrahim Chaliluddin) hanya melanjutkan atau melakukan kontrak politik pembaruan saja. Hal ini dapat kita lihat dalam dokumen Daftar Perjanjian Raja-Raja Nusantara dengan pemerintah kolonial Belanda (sebagian besar kerajaan nusantara terikat kontrak politik dengan pemerintah kolonial Belanda, tidak hanya Kesultanan Paser saja). Daftar Perjanjian Kontrak Politik Raja Nusantara tersebut setiap tahun diterbitkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Jika terjadi peralihan kekuasaan pemerintahan kerajaan (ganti raja baru) maka perjanjian ini dibarukan (update) dan pada


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 59 umumnya isi perjanjian ini merupakan kelanjutan dari perjanjian Raja-Raja sebelumnya. Bahkan format dan isi perjanjiannya pun untuk yang bersifat umum isinya hampir sama dan berlaku untuk semua kerajaan, sedangkan isi perjanjian lainnya yang bersifat spesifik hanya berlaku untuk kerajaan bersangkutan saja. Secara kasat mata mungkin kita bisa melihat mengapa baju kebesaran raja atau sultan yang berkuasa di Nusantara pada saat itu sewaktu dinobatkan menjadi raja/sultan memiliki kemiripan baju kebesaran dengan pola, motif, dan corak yang hampir sama, memiliki kemiripan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini karena mereka saat dinobatkan biasanya menggunakan baju kebesaran raja/sultan berupa hadiah atau bingkisan dari Raja/Ratu Belanda yang berkuasa saat itu. Biasanya Raja/Ratu Belanda akan memberikan hadiah berupa baju kebesaran kerajaan, dll yang ditempat dalam sebuah peti hadiah yang kemudian akan dikenakan oleh raja/sultan pada saat penobatannya.


60 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Perjanjian Pemerintah Kolonial Belanda dengan Raja-Raja Nusantara di Kepulauan Hindia Timur erikut salah satu kutipan daftar kontrak politik raja-raja nusantara dengan penguasa kolonial Belanda yang dibuat antara tahun 1901-1902. Tampak jelas semuanya hampir sama isinya kecuali ada hal khusus yang dibuat terpisah. Kontrak politik ini selalu di-update setiap tahunnya sehingga setiap berganti kekuasaan pada pemerintahan lokal (Raja/Sultan/Pangeran) maka akan melanjutkan kotrak politik penguasa sebelumnya. Secara lengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut: https://www.delpher.nl/nl/boeken1 /gview?query=sultan+pasir+ibrahim&coll=boeken1&identifier=G nc72f7EvW4C&rowid=1 Dalam buku daftar kontrak politik antara penguasa lokal (Raja/Sultan/Pangeran) dengan pemerintah kolonial Belanda B


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 61 pada tahun 1901-1902 (Overeenkomsten met inlandsche vorsten in den Oost-Indischen Archipel 1901-1902), terdiri dari: 1. Kontrak politik dengan Kutai 2. Kontrak politik dengan Bulungan 3. Kontrak politik dengan Gunung Tabur 4. Kontrak politik dengan Sambaliung 5. Kontrak politik dengan Paser 6. Kontrak politik dengan Pegatan dan Kusan 7. Kontrak politik dengan Kota Waringin


62 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 63


64 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 65


66 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 67


68 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Kalimantan. Berikut ini diambil dari laporan singkat kediaman Zuideren Oosterafdeeling di Kalimantan bulan Agustus 1906: Setelah penaklukan Pegoestian yang disebutkan dalam laporan sebelumnya, yang pada tanggal 28 Agustus bersama saudara perempuan mereka dari Amuntai dengan kapal uap "Tjantik II" menuju kota induk Bandjermasin, ketentraman dan ketertiban di wilayah Tabalong dan Yuh tidak lagi terganggu. Karena kondisi kesehatan yang membaik, para ekspatriat di kampung Patas II (Kecamatan Boentok) pun kembali ke kampung halamannya. Gambar 15. Kutipan Berita dari Surat Kabar Algemeen Handelsblad Edisi 05 November 1906 Sumber: https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?qu ery=sultan+pasir+1900&coll=ddd&identifier =ddd:010974489:mpeg21:a0153&resultside ntifier=ddd:010974489:mpeg21:a0153&rowi


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 69 Di jurusan Tanah Boemboe, pada sore hari tanggal 7 Agustus, Rumah Bupati Sampanahan diserang oleh beberapa orang jahat, menewaskan seorang pengikutnya dan melukai tiga orang (termasuk seorang putri Bupati). Sejak saat itu diketahui bahwa para pembuat amuk sebagian besar terdiri dari sejumlah pembunuh dan keluarga mereka yang diambil alih oleh pemerintah, dan terhadap mereka proses hukum telah dimulai. Sebelum diberlakukannya pemerintahan langsung (1 Januari 1905), penjahat seperti itu biasanya dibiarkan begitu saja, karena masyarakat takut untuk bersaksi melawan mereka; Namun, karena keadaan baru dan upaya bupati untuk mengklarifikasi kejahatan yang dilakukan, para pelaku menjadi khawatir dan ingin membalas dendam kepada kepala daerah. Yang memimpin mereka adalah Boentur, Asu dan Goentar. Yang terakhir meninggal akibat luka yang dideritanya selama mengamuk. Di bawah kepemimpinan pribadi pengawas dan bupati, dua patroli dilakukan untuk mengejar pelaku dan pembantunya; enam orang yang melawan ditembak. Namun pelaku utama berhasil melarikan diri ke Pasir; penganiayaan juga berlanjut di sana. Di Pasir, persiapan bertahap untuk pengenalan pemerintahan daerah dimulai, setelah para kepala suku dan penduduk diberitahu tentang hasil diskusi yang diadakan pada bulan sebelumnya oleh pemerintah pribumi dengan penduduk sipil dan militer di wilayah ini. Pada satu melalui wd. Pengawas dengan seluruh kepala dan kepala kampung – yang, kecuali sultan, pangeran Mantri, Depati dan Paninji, serta polisi Raden Mas, tetap berada dalam kekuasaannya untuk sementara waktu – berbagai urusan administratif dibahas; pangeran Nata, Mas dan Praboe diangkat menjadi bupati.


70 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Dampak positif dari penyelesaian kasus secara langsung oleh dewan segera menjadi nyata, karena banyak pengaduan, kadang-kadang sejak bertahun-tahun yang lalu, diajukan namun sebelumnya tidak ada perhatian. Melanjutkan pekerjaan jalan dari Tanah Grogot ke Pasir dengan 300 wajib militer dan mulai membersihkan kampung terakhir (kediaman sultan). Diserahkan empat pucuk senapan laras panjang, 25 pucuk senapan laras belakang, 59 pucuk senapan laras panjang, dan 20 lila yang sebagian besar berasal dari sultan. Dari denda sebesar 15.400 gulden yang dikenakan kepada kepala Segai (Boetoengan), hanya sebesar pl. m.2000, dibayar untuk tempajang, gong dan peralatan tembaga lainnya dan kecil kemungkinan pembayaran untuk sisanya. Investigasi terhadap pelaku den pada bulan Desember. Aksi cepat yang terjadi di Keboerau Lama pada tahun 1905 belum membuahkan hasil. Dejak Basap di Tabalar mengadu kepada penguasa Beraoe tentang penyitaan yang dilakukan oleh pemegang tanah tertentu Sarip Radja Besar dan Pata Pangian alias Si Andoeng; keluhan mereka akan diselidiki di kerapatan.


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 71 Sultan Ibrahim Chaliluddin, Tokoh Pergerakan Nasional Indonesia ultan Ibrahim Chaliluddin, selain memimpin perang fisik melawan penjajah, namun yang tidak kalah pentingnya melakukan perlawanan dengan perang pergerakan. Bahkan perang pergerakan tersebut tidak saja bersifat lokal tapi sudah menasional karena menjadi salah satu Ketua Presidium Sarikat Islam (SI) Cabang Pasir yang kita ketahui bersama adalah organisasi Pergerakan Nasional yang lahir jauh sebelum adanya Kebangkitan Nasional 1908. Perlu dicatat bahwa kelahiran SI Cabang Paser adalah kelahiran organisasi pergerakan nasional pertama yang ada di Kalimantan Timur. Bahkan Belanda mencatat peperangan yang terjadi di Paser dengan sebutan “Pemberontakan SI”. Ini menunjukkan besarnya pengaruh Sultan dalam peperangan tersebut sehingga pihak Belanda pun melekatkan perjuangan tersebut dengan organisasi pergerakan Sarikat Islam (SI) yang dipimpinnya. S


72 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Sebuah tulisan sejarah yang dibuat oleh Petrik Matanasi (https://tirto.id/jejak-pemberontakan-sarekat-islam-di-pasir1915-1916-gnrB) dengan judul tulisan Jejak Pemberontakan Sarekat Islam di Pasir 1915-1916 menceritakan pergerakan perlawanan tersebut bermula dari KNIL yang sembarangan memotong kerbau milik warga. Pada awal 1915, serombongan tentara kolonial Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang tengah berpatroli di daerah Pasir Hulu (Kalimantan Timur) menangkap seekor kerbau milik salah satu warga. Tanpa memberi ganti rugi kepada si pemilik, mereka lantas memotong kerbau itu. Si pemilik yang merasa diperlakukan tak adil kemudian mengadu kepada Sultan Ibrahim Chaliluddin, mantan penguasa Kesultanan Pasir. Ibrahim Chaliluddin tak bisa berbuat apa-apa karena tidak berkuasa lagi. Dia kemudian menyarankan si pemilik kerbau yang malang itu untuk datang pada Pangeran Singa Maulana di Modang, sebelah utara Kesultanan Pasir. Kemudian, pada Juli 1915, Pangeran Singa Maulana memimpin penyerangan ke sebuah tangsi KNIL di Tanah Grogot—yang semula adalah pusat Kesultanan Pasir. Begitulah permulaan dari kisah perlawanan rakyat Pasir terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda, seperti dikisahkan dalam Republik Indonesia Kalimantan (1959, hlm. 410). Perlawanan rakyat Pasir itu kemudian dikenal sebagai Pemberontakan Sarekat Islam. Dalam pemberontakan itu, Ibrahim Chaliluddin bermain di dua kaki. Dia pasang gestur bersahabat dihadapan otoritas Belanda, tapi di lain waktu turut urun membantu pemberontak. Permaisurinya Dajang Ringgong juga terlibat dalam gerakan perlawanan.


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 73 Setelah tak menjadi sultan lagi sejak 1906, Ibrahim Chaliluddin turut dalam pergerakan nasional dan kemudian menjadi presiden dari Sarekat Islam (SI) cabang Pasir. SI Pasir sendiri mulai berdiri pada 1914. Sebagai pemimpin SI, Ibrahim Chaliluddin mengajak anggota SI Pasir untuk melawan Belanda. Perlawanan itu juga mendapat bantuan dari orang-orang Banjar dari Hulu Sungai. Selain Sultan Ibrahim Chaliluddin dan Panglima Singa Maulana, tokoh lain yang terlibat dalam perlawanan itu adalah Panglima Sentik dan Panglima Sebaja. Pemberontakan SI Pasir berlangsung sekitar 1,5 tahun. Ketika pemberontakan ini berlangsung, Perang Dunia I (1914- 1916) juga tengah berlangsung di Eropa. Kekhalifahan Turki Usmani sempat satu kubu dengan Jerman dalam perang ini. Karenanya, Belanda menganggap pengaruh-pengaruh dari kedua negara ini sebagai bahaya. Di sekitar tahun-tahun perang itu, merebak kabar bahwa kekuatan dari Turki Usmani bakal datang ke Hindia Belanda. Meski kabar-kabar itu tentu sumir belaka dan memang tak pernah terbukti, tetap banyak warga muslim Hindia Belanda yang percaya. Menurut catatan Kees van Dijk dalam Hindia Belanda dan Perang Dunia I 1914-1918 (2014, hlm. 333), ada seorang haji di Sulawesi yang meyakini bahwa kekuatan Turki Usmani telah benar-benar masuk ke Hindia Belanda. Berdasar keyakinan itu, dia lantas mengumpulkan orang untuk berontak pada 1915. Van Dijk juga menyebut, “Di Pasir, di pesisir timur Kalimantan, kaum muslimin juga mengandalkan dukungan Turki untuk mengusir Belanda.”


74 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Dukungan itu tentu saja tak pernah datang. Yang benarbenar datang kepada mereka kemudian justru adalah kekuatan baru daripada KNIL. Kekuatan baru itu didatangkan dari Batalyon Garnisun Kalimantan bagian selatan dan timur yang berpusat di Banjarmasin. Bagi KNIL yang memiliki persenjataan modern, melawan orang-orang kampung yang minim senjata api dan lebih banyak mengandalkan mandau (parang khas Kalimantan) bukanlah perkara sulit. Pasukan KNIL yang terlatih dengan komando dari perwira yang berpendidikan militer tentu dapat bermanuver dengan lebih cepat. De Preanger-bode (14/4/1916) memberitakan bahwa pada 9 April 1916, pasukan KNIL pimpinan Letnan Satu Raden Wardiman dan Letnan Satu Poll telah melakukan persiapan untuk melawan pemberontakan orang-orang Pasir. Pasukan itu kemudian bergerak ke hulu Kasungai untuk menghadapi sekitar 30 orang Pasir. Pangeran Singa Maulana kemudian jadi bahan berita koran kolonial. De Avondpost (6/7/1916) memberitakan bahwa Letnan Wardiman dan pasukannya telah menangkap Pangeran Singa Maulana dan seorang bawahannya yang bernama Semarangkitin Tabalong. Pada akhir 1916, militer kolonial Hindia Belanda melakukan beberapa langkah penting untuk mengakhiri pemberontakan orang-orang Pasir. Mereka mengepung rumah Sultan Ibrahim Chaliluddin pada tengah malam dan menangkapnya. Sejumlah anggota keluarga mantan sultan itu juga turut ditahan. Selanjutnya, mereka semua dibuang ke Jawa.


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 75 Sultan Ibrahim Chaliluddin berusia sekitar 58 tahun kala ditangkap Belanda. Dia kemudian tutup usia di tanah pembuangannya di Cianjur, Jawa Barat. Pemerintah kolonial Hindia Belanda tak meremehkan orang-orang Pasir. Meski Sultan Ibrahim Chaliluddin dan para pengikutnya telah ditahan pada 1916, perlawanan sebenarnya tidak berhenti begitu saja. De Locomotief (20/8/1917) menyebut Panglima Sebaja masih belum tertangkap. Letnan Dua Oerip juga melaporkan adanya sisa-sisa anggota pemberontak yang bersembunyi di hutan pada Mei 1917.


76 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin HOS Cokroaminoto Membela Sultan Ibrahim Chaliluddin ebagai pemimpin pusat organisasi pergerakan nasional Sarikat Islam (SI), HOS Cokroaminoto yang sedang berkunjung ke Banjarmasin mendengar kabar tentang akan adanya sidang tuntutan Pengadilan Belanda di Banjarmasin terhadap mantan Sultan Paser, Sultan Ibrahim Chaliluddin yang saat itu masih mengemban tugas organisasi sebagai Presiden Sarikat Islam Cabang Paser yang dituntut melawan pemerintah Belanda dengan organisasi yang dipimpinnya itu. Sebagai teman seperjuangan tentunya HOS Cokroaminoto ingin membelanya sehingga beliau membuat tulisan tentang perjuangan mantan Sultan tersebut dengan harapan dapat meringankan putusan pengadilan pengadilan menjadi lebih ringan. Sebagai mana kebiasaan para penulis saat itu yang selalu menggunakan nama samaran dalam tulisannya, tetapi pihak Belanda mencurigai bahwa penulis S


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 77 tersebut adalah HOS Cokroaminoto yang memakai nama samaran “Si Adil”. Dalam surat kabar De Locomotif edisi 24 Januari 1917 dengan judul tulisan “De opstand in Pasir” atau “Pemberontakan di Pasir” diterangkan disebutkan sebagai berikut. Beberapa bulan yang lalu, tak lama setelah pemberontakan di Pasir dan setelah penyerbuan di Tanah Grogot, beberapa artikel oleh Tirtodanoedjo - juga kami adopsi - muncul di Oetusan-Hindia, yang membahas tentang pemberontakan ini dan penulis lokal sendiri yang menulisnya. Dalam artikel-artikel ini penulis memperjelas apakah para pemimpin pemberontakan, Penasihat Singa dan Andin Ngoko, benar-benar terprovokasi oleh tindakan beberapa anggota patroli mini. Kami sekarang menemukan di majalah yang sama artikel pertama yang sepenuhnya ditujukan untuk mantan sultan Pasir, Ibrahim Haliludin, yang telah tinggal di Bandjermasin selama sepuluh bulan atas perintah residen sebelumnya, Tuan Rijekmans. Penulis yang menggambar dirinya sendiri “Si Adil” bukan tidak mungkin adalah Pak Tjokroaminoto sendiri, yang seperti diketahui, baru saja kembali dari berwisata ke Bandjermasin di Surabaya. Scr. Dimulai dengan mengingat kembali artikel-artikel tersebut, yang muncul pada awal tahun 1916, dan menyatakan bahwa artikel-artikel tersebut direkam dari mulut beberapa S.I. gubernur Pasir, yang dia sendiri nyatakan sebagai setengah


78 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin kaoem pemberontak, yaitu mereka, para utusan. Bahkan setengah-setengah milik partai pemberontak. Setelah pertama-tama menguraikan fakta bahwa pada tahun 1906 lanskap Pasir yang merdeka dibawa di bawah administrasi langsung oleh pemerintah, di mana ganti rugi sebesar 367.000 gulden dibayarkan kepada sultan dengan tunjangan bulanan sebesar 933,34 gulden dan kepada empat pejabat tinggi lainnya. f 10.000, f 10.000, f 10.000 dan f 25.000 dibayarkan, yang juga diberikan tunjangan bulanan sekitar 100 gulden, kata schr., bahwa sekitar sepuluh bulan yang lalu mantan sultan ini dikirim oleh pengawas dan patroli dari Pasir ke Tanah Grogot dibawa ke mana residen ingin melihat sultan. Ketika pejabat itu datang, dia hanya diberi tahu bahwa dia harus pergi ke Bandjermasin untuk urusan yang hanya bisa dibicarakan di tempat ini. Karena tidak ada hubungan perahu langsung dengan tempat ini, sultan tetap berada di bawah penjagaan beberapa prajurit di Tanah Grogot dan kemudian dibawa bersama beberapa kerabat, juga di bawah pengawalan bersenjata, oleh Sampit ke Bandjermasin, di mana ia dan keluarganya menetap di sana. (Catatan penulis: ada yang menarik dalam tulisan ini, dimana disebutkan Sultan beserta kerabat atau saudaranya namun juga disebutkan beserta keluarganya atau anakistrinya. Jelas di sini disebutkan Sultan memiliki keluarga, anak dan istri. Ini pun membuktikan bahwa sangkaan selama ini yang sengaja dibuat pihak tertentu bahwa Sultan tidak memiliki anak menjadi terbantahkan selain beberapa


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 79 dokumen asli yang dimiliki penulis tentang keberadaan keturunannya). Setelah sepuluh bulan tinggal, akhirnya ia didengar oleh residen yang mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya, yaitu. Apakah dia menolak keinginan untuk menjadi sultan lagi, atau apakah benar dia adalah seorang S.I. membentuk masyarakat untuk melawan pemerintah, apakah dia pernah bergabung dengan orang Dayak, menjadi orang Islam, dan juga anggota S.I. dan terakhir jika dia ingin menjadi kepala pemberontak? Haliludin menjawab semua pertanyaan itu dalam arti negatif, mengacu pada pembelaannya yang telah disampaikannya kepada Residen pada bulan Maret 1916. Tidak ada jawaban atas pertanyaannya apakah dia dicurigai rusa, yang telah dimasukkan ke dalam formulir pertanyaan. Penulis kemudian mengikuti pembelaan yang diajukan oleh Haliludin secara keseluruhan, di mana ia menyangkal adanya kesepahaman dengan para pemberontak, mengingat pada tahun 1906 ia atas kemauannya sendiri meminta agar lanskapnya dibawa ke dalam wilayah yang dikelola langsung. Dia tampaknya cukup puas dengan tunjangan NLG 933 sebulan, dengan hasil dari kebun karetnya dan uang sewa yang dikumpulkan dari rumah dan tokonya. Dia menulis bahwa seseorang dari posisinya tidak akan begitu gila sama sekali untuk melakukannya, berhubungan dengan pemberontak. Kebetulan, dia melemparkan semua kesalahan ke pundak pemimpin kerusuhan yang sebenarnya, dewan Singa dan Andin Ngoko, yang dulu, ketika dia masih sultan, tak henti-


80 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin hentinya menyulut dan menuntut pajak dari penduduk, yang masuk ke kantong mereka sendiri. Haliludin bahkan sudah dua kali turun lapangan melawan orang-orang ini. "Si Adil" berharap dengan kontribusinya dapat memprovokasi keputusan cepat pemerintah terkait mantan sultan ini, seraya menambahkan tak percaya pria yang sudah berusia 58 tahun ini masih bisa melakukan intrik. Gambar 16. Potongan Kutipan Berita di Surat Kabar De Locomotif Edisi 24 Januari 1917 Sumber: https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB23:001652036:mpeg21:pdf


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 81 Kehidupan Sultan di Tempat Pengasingan (Penderitaan yang Tidak Pernah Berakhir) ebencian dan kemarahan Belanda kepada Sultan Ibrahim Chaliluddin ternyata berdampak buruk pada kehidupan pribadi beliau di tempat pengasingannya di Cianjur, Jawa Barat. Dalam sebuah dokumen dari Daftar Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 10 tanggal 25 Januari 1929, terungkap bahwa Sultan Ibrahim Chaliluddin ternyata selama ini tidak pernah menerima pendapatan (biaya hidup) sebagaimana layaknya mantan sultan yang diasingkan. Namun ironisnya, segala pajak atas pribadi Sultan (semua harta beliau yang ditinggalkan di Paser) tetap harus dibayarkannya. Sungguh ironi sekali, Sultan tidak bisa kembali ke tanah kelahirannya karena dihukum buang seumur hidup tapi dibebani pajak yang tidak pernah dinikmati olehnya dan keturunannya. Bahkan hak beliau untuk menerima tunjangan biaya hidup pun dihentikan dan tidak pernah diterimanya. Hal ini terungkap dalam jawaban pemerintah Hindia Belanda atas K


82 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin isi surat Sultan pada tanggal 4 Juli 1928, dan kemudian diulanginya lagi pada tanggal 26 November 1928 dimana beliau berkirim surat kepada pemerintah Hindia Belanda hanya untuk meminta keringanan untuk pembebasan pajak saja. Namun, ternyata jawaban pemerintah Hindia Belanda saat itu bahkan mengabulkan 2 hal sekaligus, yaitu; 1) Disetujuinya pembebasan pajak, dan 2) Diberikannya hak pembayaran pendapatan yang selama ini ternyata tidak pernah diterimanya/tidak pernah diberikan oleh pemerintah Belanda sebagai mana layaknya mantan Raja/Sultan yang diasingkan. Dokumen ini sejalan dengan apa yang dituliskan oleh Dr. J. Einsenberger (1936) dalam bukunya berjudul “Kroniek der Zuider-En Oosterafdeeling van Borneo” pada halaman 98 menyebutkan: 1917: Te Pasir keert de rust terug; enkele bendeleiders worden door patrouilles opgevat, de meeste echter melden zich vrywillig aan; de laatste, die zich aanmeldt, is Sabaja (December). De bivaks buiten Tanah Grogot worden ingetrokken, de militaire sterkte teruggebracht tot een compagnie, gelegerd te Tanah Grogot. De vaste uitkeeringen aan den ex-sultan, lbrahim Chaliloedin en Pangeran Mantri, die by den opstand betrokken waren, worden ingetrokken. By Gouvernementsbesluit van 31 Juli 1918 no. 25 wordt de ex-sultan verbannen naar Telok Betong, Pangeran Mantri naar Padang, Pangeran Prawira naar Banjoemas en Adji Moejoeh naar Benkoelen. (1917: Perdamaian kembali ke Pasir; beberapa pemimpin geng ditangkap oleh patroli, namun sebagian besar sukarelawan; yang terakhir mendaftar adalah Sabaja


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 83 (Desember). Bivak di luar Tanah Grogot ditarik, kekuatan militer dikurangi menjadi kompi yang ditempatkan di Tanah Grogot. Tunjangan yang dibayarkan kepada mantan sultan, Ibrahim Chaliludin dan Pangeran Mantri, yang terlibat dalam pemberontakan, ditarik. Dengan SK pemerintah tanggal 31 Juli 1918 no.25 mantan sultan diasingkan ke Telok Betong, Pangeran Mantri ke Padang, Pangeran Prawira ke Banjoemas dan Adji Mujoeh ke Benkoelen). Artinya selama lebih dari 10 tahun, sejak ditangkap dan dijatuhi hukuman pada tahun 1918 sampai menjelang akhir hidupnya 1928 sewaktu Sultan membuat surat permintaan keringanan pajak, Sultan Ibrahim Chaliluddin tidak pernah menerima tunjangan yang seharusnya diterimanya, bahkan terus dibebani pajak atas hidup dan penghidupannya di tempat pengasingannya sekalipun. Penderitaan beliau ini, tidak hanya dialami oleh dirinya sendiri namun juga oleh keluarganya. Anak satu-satunya pun, Pangeran Adjie Abdoelwahid Chaliluddin yang menikah dengan Gusti Ratu Sadiyah binti Gusti Hasan Hasbullah bin Pangeran Muhammadillah bin Pangeran Wirakusumah (saudara kandung Pangeran Hidayatulloh) bin Sultan Muda Abdurachman bin Sultan Adam Alwasikbillah bin Sultan Sulaeman Rahmatullah (Sultan Banjar) harus mengalami trauma yang sangat hebat karena tekanan physis yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda terhadap beliau. Beliau harus terganggu jiwa dan ingatannya karena termasuk yang dihukum dan dipersalahkan oleh pemerintah Belanda dan digolongkan sebagai salah seorang pimpinan perang/tokoh


84 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin pejuang yang menentang Pemerintah Belanda saat Perang Paser terjadi. Gambar 17. Besluit De Gouvernements Secretaris Nederlandsch-Indie No. 10 Tanggal 25 Januari 1929


Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 85 KUTIPAN dari daftar keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 10.- Batavia, 25 Januari 1929 Membaca pernyataan tertanggal Cianjur (Jawa Barat) 4 Juli dan 26 Nopember 1928, dari Ibrahim Chaliloedin, mantan Sultan Tanah Pasir (Borneo), yang berisi permintaan pembebasan pajak; Disetujui dan dipahami: Kepada pemohon juga, diberikan/disetujui bahwa tidak ditemukan alasan untuk memperpanjang pembebasan/penghentian pembayaran pendapatan kepada yang bersangkutan_ dan pajak pribadi untuk pajak-pajak lainnya. Kutipan ini disampaikan kepada yang bersangkutan untuk diketahui. Sesuai kontra Register: Sekretaris Pemerintahan, Gambar 18. Terjemah Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 10 Tanggal 25 Januari 1929


86 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 19. Keluarga Keturunan Sultan Paser


Click to View FlipBook Version