Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 87 Raja yang Harus Menderita di Akhir Masa Hidupnya enderitaan Sultan Ibrahim Chaliluddin tidak sampai di situ saja, bahkan menjelang akhir hidupnya terungkap pula sebuah dokumen yang menunjukkan betapa tersiksanya beliau di tempat pengasingan di Cianjur, Jawa Barat ini. Hanya untuk sekadar membayar biaya pengobatan beliau selama dirawat di rumah sakit pun, beliau tidak sanggup untuk membayarnya. Seorang Sultan yang kaya raya, harus menderita bahkan tak sanggup membayar biaya pengobatannya sendiri. Sementara di sisi lain, para pejuang lainnya yang dihukum buang maksimal 10 tahun bisa pulang kembali ke Paser dan bisa menjalani hidupnya lagi secara normal. Tapi Sultan Ibrahim Chaliluddin benar-benar disingkirkan dari tanah kelahirannya dan dicampakkan di tanah pembuangan, jauh dari tanah kelahirannya. Hal ini terungkap dalam sebuah dokumen Verklaring dari Asisten Resident Cianjur tanggal 3 Oktober 1930. P
88 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 20. Verklaring Asisten Residen Cianjur tanggal 3 Oktober 1930 V E R K L A R I N G . – ================= Asisten Residen di Cianjur atas nama Residen Priangan Barat atau Kepala Direksi Sukabumi dengan ini menyatakan sesungguhnya bahwa saya setuju bahwa Sultan Ibrahim Haliloedin, bertempat tinggal di ................ ............. dan tidak dalam kondisi untuk sanggup membayar biaya perawatan, selayaknya, di rumah sakit. Cianjur, 3 Oktober 1930 Asisten Residen Gambar 21. Terjemah Verklaring Asisten Residen Cianjur tanggal 3 Oktober 1930
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 89 Kembalinya sang Raja ke Haribaan Ilahi anya enam belas hari setelah Sultan Ibrahim Chaliluddin meminta keringanan pembayaran biaya H pengobatannya di rumah sakit. Raja pejuang ini 19 akhirnya kembali ke haribaan Ilahi pada hari Minggu tanggal Oktober 1930 di tempat pengasingannya di Cianjur, Jawa Barat. Beliau meninggalkan seorang anak bernama Pangeran Adjie Abdoelwahid Chaliluddin, sedangkan istrinya Ratu Waroe sepeninggal Sultan Ibrahim Chaliluddin tidak pernah menikah lagi sampai akhirnya Ratu Waroe wafat pada hari Kamis, 24 Agustus 1944. Makam Sultan Ibrahim Chaliluddin beserta Ratu Waroe terletak di Kompleks Pemakaman Keluarga Raja-Raja Kalimantan di Kampung Joglo (sekarang Jalan Pangeran Hidayatullah) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
90 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 22. Makam Ratu Waroe dan Sultan Ibrahim Chaliluddin
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 91 Kronologis Penangkapan, Penahanan, Vonis, dan Masa Pengasingan Sultan Ibrahim Chaliluddin (Raja Terakhir Kesultanan Paser – Kalimantan Timur) Kilas Balik Sejarah: Salah satu perjuangan rakyat Indonesia sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di daerah Pasir (baca paser), Tanah Grogot (Kalimantan Timur) adalah perjuangan atau peperangan terhebat yang terjadi pada tahun 1915-1916. Seorang tokoh yang bernama Sultan Ibrahim Chaliluddin (Adjie Medje) mempunyai hubungan erat riwayat hidupnya dengan peristiwa tersebut. Namun di satu malam di bulan Februari 1916, Sultan Ibrahim Chaliluddin beserta keluarga, para pembesar kerajaan dan para pengikutnya akhirnya ditangkap oleh Belanda, dan dengan sebuah kapal perang Belanda diangkut ke Banjarmasin. Di Banjarmasin Sultan Ibrahim Chaliluddin ditahan 3 (tiga) tahun lamanya, sampai akhirnya pada tanggal 31 Juli 1918 keluar vonnis Belanda yang menetapkan bahwa Sultan Ibrahim Chaliluddin beserta adik tirinya, Adjie Medja gelar Pangeran Mantri diasingkan seumur hidup, hukuman terberat dibawah hukuman mati karena dianggap oleh Belanda sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya perang Pasir tersebut. Hukuman ini menyebabkan Sultan Ibrahim Chaliluddin tidak dapat kembali dan tidak pernah kembali lagi ke Pasir. Sultan harus merelakan hidupnya terpisah dari tanah leluhurnya dan meninggalkan semuanya disana sampai akhir hayatnya dan akhirnya wafat di tempat pengasingannya di Cianjur – Jawa Barat. Atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan semangat perjuangannya melawan penjajah maka Pemerintah Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie pada tanggal 13 Agustus 1999 mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) No. 077/TK/TAHUN 1999 dengan menganugerahi Sultan Ibrahim Chaliluddin sebuah Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama Nomor : 3638/VI/1999.
92 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Februari 1916 : Di tengah malam buta Sultan Ibrahim Chaliluddin beserta keluarga dan pembesar kerajaan ditangkap dan dengan sebuah kapal perang Belanda. Mereka diangkut ke Banjarmasin untuk menjalani masa penahanan sebelum sidang pengadilan Belanda di Banjarmasin; 19 November 1917: Pemerintah Kolonial Hindia Belanda berdasarkan SK Gubernur General Nederlandsche Indie No. 43 tanggal 19 Nopember 1917 membubarkan Sarikat Islam (SI) dan menyatakan Sarekat Islam (SI) sebagai organisasi terlarang karena telah melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda; 31 Juli 1918 : Setelah melewati persidangan, akhirnya Pemerintah Belanda menjatuhkan vonis kepada Sultan Ibrahim Chaliluddin hukuman pengasingan seumur hidup dan ditempatkan di Teluk Betung (Sumatera). Setelah dari Teluk Betung kemudian Sultan Ibrahim Chaliluddin dipindahbuangkan ke Batavia (Jakarta), kemudian ke Cimahi (Jawa Barat), dan terakhir ke Cianjur (Jawa Barat); Pejuang Pasir lainnya; Pangeran Menteri dijatuhi hukuman pengasingan seumur hidup ke Padang, Sultan Muda, Pr.
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 93 Perwiro, Anden Dek, Anden Oko, Anden Gedang, masing-masing mendapatkan hukuman pengasingan 10 tahun. 1918 : Pertengahan tahun 1918 perlawanan rakyat Paser berakhir, Belanda mengadakan operasi besar-besaran ke seluruh daerah bekas Kesultanan Pasir. Pemberontakan yang dikenal oleh Belanda sebagai Pemberontakan Sarikat Islam Pasir akhirnya berakhir karena banyak pimpinannya yang telah ditawan dan ditangkap pihak Belanda; 1928 : Sultan Ibrahim Chaliluddin dipindahkan dan dibuang ke tempat pengasingan barunya di Cianjur, Jawa Barat; 19 Oktober 1930 : Sultan Ibrahim Chaliluddin wafat dan dimakamkan di Cianjur, Jawa Barat; 25 Agustus 1944 : Ratu Waroe, permaisuri Sultan Ibrahim Chaliluddin wafat dan dimakamkan di Cianjur, Jawa Barat.
94 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Sultan Ibrahim Chaliluddin Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama tas jasa-jasanya terhadap bangsa dan semangat perjuangannya melawan penjajah, Pemerintah Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie pada tanggal 13 Agustus 1999 mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) No. 077/TK/TAHUN 1999 dengan menganugerahi Sultan Ibrahim Chaliluddin sebuah Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama Nomor 3638/VI/1999. A
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 95 Gambar 23. Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama Nomor 3638/VI/1999
96 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Istana Sultan Ibrahim Chaliluddin (Museum Sadurangas) stana Kesultanan Paser terletak di 1°56'53.1' Lintang Selatan 116°12'38.4' Bujur Timur, Kecamatan Pasir Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, merupakan bekas kediaman Adjie Tenggara gelar Sultan Sepuh II Alamsyah (kakeknya Sultan Ibrahim Chaliluddin). Rumah kakeknya tersebut kemudian dibelinya untuk dijadikan rumah tinggal. Pada awal abad ke-19, bangunan ini dijadikan Istana Kesultanan Paser oleh Sultan Ibrahim Chaliluddin yang memindahkan pusat pemerintahan kesultanan dari Gunung Sahari Ke Pasir Belengkong. Bangunan ini termasuk rumah adat Paser dengan sebutan “Kuta Imam Duyu Kinalenja” atau “Rumah Pemimpin yang Bertingkat”. Bangunan ini terbagi dua bagian, yaitu bagian yang pertama bagian tengah sampai dengan bagian belakang merupakan bangunan bekas tempat tinggal Adjie Tenggara bin Adjie Kimas gelar Sultan Sepuh II Alamsyah, dan bagian I
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 97 yang kedua merupakan penambahan bangunan bagian depan yang dilakukan oleh Sultan Ibrahim Chaliluddin. Bangunan ini sebelumnya dikenal oleh masyarakat sebagai Istana Sultan Ibrahim Chaliluddin selanjutnya dijadikan museum dengan nama Museum Sadurangas hingga saat ini. Gambar 24. Bagian dalam Istana Kesultanan Pasir (Museum Sadurangas) Foto diambil pada tahun 1925 (Koleksi Tropen Museum) Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_interi eur_van_het_paleis_van_de_sultan_in_Pasir_TMnr_60030839.jpg
98 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Masjid Kesultanan Pasir (Masjid Nurul Ibadah) i samping bangunan Istana Kesultanan Paser terdapat juga bangunan Masjid Kesultanan Paser yang merupakan satu kesatuan dengan Istana Kesultanan Paser. Dengan kesatuan inilah maka pada tanggal 12 Januari Tahun 1999 dikeluarkan SK Mendikbud No. 012/M/1999 tentang Penetapan Status Istana Kesultanan Paser (Museum Sadurangas) dan Masjid Kesultanan Paser (Masjid Nurul Ibadah) sebagai Benda Cagar Budaya Nasional yang menjadikan Museum Sadurengas di Kecamatan Pasir Belengkong, Kabupaten Paser menjadi salah satu museum lokal yang ada di Kalimantan Timur. D
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 99 Gambar 25. Masjid Nurul Ibadah (Masjid Kesultanan Paser)
100 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Baju Kebesaran Sultan Ibrahim Chaliluddin ada baju kebesaran Sultan Ibrahim Chaliluddin ini berbentuk beskap terbuka. Pada baju beskap terbuka ini terdapat warna dan ornamen tertentu yang mempunyai maksud atau makna tertentu. Elemen-elemen yang terkandung tidak hanya diartikan sebagai makna, ada pula yang hanya menjadi unsur dalam penghias semata. Terdapat beberapa ornamen geometris dan flora yang bisa ditemui di baju ini. P
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 101 Gambar 26. Tampak Keseluruhan Baju Beskap Terbuka Sultan Ibrahim Chaliluddin. Baju aslinya masih tersimpan di penulis (Foto: Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliludin) Pada gambar merupakan bentuk visual dari keseluruhan baju beskap terbuka Sultan Ibrahim Chaliluddin. Nilai estetis yang terdapat pada baju ini bisa dilihat dari unsur wujudnya yang menyerupai jas hitam dengan banyak corak atau motif di sekujur baju, mulai dari kerah, badan kanan-kiri, hingga lengan dipenuhi dengan motif flora. Unsur pembentuknya adalah kain jas berwarna hitam dengan hiasan benang emas yang dibordirkan pada bagian luar baju dengan bentuk-bentuk sedemikian rupa sehingga pada saat dikenakan raja akan
102 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin terkesan gagah dan berwibawa. Simbol dari baju beskap terbuka ini adalah melambangkan kebesaran seorang raja dan lambang kewibawaan dari seorang raja. Baju ini pun melambangkan kesucian yang hanya bisa dipakai oleh seorang raja. Baju ini digunakan raja pada saat penobatan dan acaraacara formal kerajaan. Bahan dan cara pembuatan motif ini ke dalam baju menggunakan bahan dan cara menggunakan benang emas dengan teknik bordir. Elemen penghias lainnya hanya sebagai unsur keindahan semata. Dari segi ilmu semiotik*) baju kebesaran ini mengandung makna yang mendalam mengenai kehidupan manusia dalam bermasyarakat dan simbol kebesaran seorang raja. Dari segi estetik baju kebesaran ini dipengaruhi oleh keadaan sekitar lokasi dari keberadaan Kesultanan Paser dan juga keinginan raja sendiri dalam menentukan baju kebesarannya.
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 103 Gambar 27. Sultan Ibrahim Chaliluddin Menggunakan Pakaian Kebesaran
104 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Pakaian kebesaran Sultan Ibrahim Chaliluddin ini sebetulnya secara lengkap terdiri atas baju kebesaran bersulamkan benang emas yang terbuat dari lakan hitam, celana panjang hitam yang pada sisi kiri dan kanan sepanjang kaki juga bersulamkan benang emas selebar kurang lebih 4 cm, sebuah peci yang terbuat dari lakan hitam pada sisi sekelilingnya bersulamkan benang emas, sebuah pedang yang bersalut emas dan berhulukan gading, serta sepasang sepatu hitam lengkap dengan kaosnya dan sepasang sarung tangan warna putih. *) Semiotika adalah sebuah disiplin ilmu dan metode analisis yang dapat mengkaji tanda-tanda yang terdapat pada suatu objek untuk diketahui makna yang terkandung dalam objek tersebut. Semiotika berasal dari bahasa Yunani “Semeion”, yang berarti tanda. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda (sign). Dalam kajian semiotika menganggap bahwa fenomena sosial pada masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tandatanda, semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 105 Keturunan Sultan Ibrahim Chaliluddin Dibuat oleh salah seorang cucu cicit (keturunan ke-4) Sultan Ibrahim Chaliluddin: Adjie Benni Sarief Firmansyah Chaliluddin bin Pr. Adjie Bachtiar Chaliluddin bin Pr. Adjie Achmad Moelia Chaliluddin bin Pr. Adjie Abdoelwahid Chaliluddin bin Sultan Ibrahim Chaliluddin (Adjie Medje) Sultan Ibrahim Chaliluddin (Raja terakhir Kesultanan Paser, Kalimantan) wafat di tempat pengasingannya di Cianjur-Jawa Barat pada hari Minggu, tanggal 19 Oktober 1930, sedangkan istrinya Ratu Waroe sepeninggal Sultan Ibrahim Chaliluddin tidak pernah menikah lagi sampai akhir hayatnya. Ratu Waroe wafat pada Kamis malam, tanggal 24 Agustus 1944 di Cianjur. Makam Sultan Ibrahim Chaliluddin beserta Ratu Waroe terletak di kompleks pemakaman keluarga Raja-Raja Kalimantan di Bukit Joglo (sekarang Jalan Pangeran Hidayatullah) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
106 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin 1. Anak Sultan Ibrahim Chaliluddin (Keturunan ke-1) Sultan Ibrahim Chaliluddin semasa hidupnya hanya sekali menikah dengan Ratu Waroe. Dari hasil perkawinannya dengan Ratu Waroe, Sultan memiliki seorang anak laki-laki bernama Pangeran Adjie Abdoel Wahid Chaliluddin. Bukti dokumen yang menerangkan keberadaan anak Sultan tersebut terdapat pada Surat Keterangan yang dibuat oleh Loerah Desa Tandjoengsari, onderdistrict dan district Tjirandjang, kaboepaten Tjiandjoer, diketahui oleh Asisten Wedana dan Wedana Tjirandjang pada bulan Mei 1948 dimana pada dokumen tersebut dinyatakan “Pangeran Abdoelwahid anak almarhoem Ratu Waroe”. Dokumen ini membuktikan bahwa Sultan Ibrahim Chaliluddin memiliki anak/keturunan.
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 107 Gambar 28. Surat Keterangan Lurah
108 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin 2. Cucu Sultan Ibrahim Chaliluddin (Keturunan ke-2) Anak Sultan Ibrahim Chaliluddin, Pangeran Adjie Abdoel Wahid Chaliluddin menikah dengan Gusti Ratu Sadiyah (binti Gusti Hasan Hasbullah bin Pangeran Muhammadillah bin Pangeran Wirakusumah bin Sultan Muda Abdurachman bin Sultan Adam Alwasikbillah bin Sultan Sulaeman, Kesultanan Banjar), memiliki 9 orang anak, 3 di antaranya tidak memiliki keturunan, yaitu anak ke-3, ke-4, dan ke-9. Gambar 29. Bagan Keturunan Sultan Ibrahim Chaliluddin
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 109 Bukti dokumen anak keturunan Pangeran Adjie Abdoel Wahid Chaliluddin dapat ditemukan pada catatan berupa: a. Petikan Register Firman Tjiandjoer Kenchoo No. 126/C tanggal 25 Hachigatsu 2604 (25 Agustus 1944) yang berisi tentang persetujuan pemerintah Jepang kepada Pangeran Adjie Achmad Moelia Chaliluddin untuk menguburkan neneknya, yaitu Ratu Waroe; b. Surat Kuasa yang dibuat oleh Gusti Ratu Sadiyah pada hari Kamis, 22 Djuli 1954 yang diketahui oleh Lurah Sei Djingah Bandjarmasin yang berisi pernyataan “ ... 1. Gusti Sadiah 2. P. Moh. Achya, istri dan anak dari P. Abdulwahid, ... ”; c. Surat Kuasa Penuh yang dibuat pada tanggal 25 Mei 1970 oleh (1) P. Achmad Mulia Chaliludin, (2) A. Abdullah Chaliludin, (3) A. Abdoerachman Chaliludin, dan (4) A. Arifin Chaliludin, semua ahli waris dari almarhum Pr. Abdulwahid, memberi kuasa penuh kepada saudaranya yang bernama (5) Adji Abdoerahim Chaliludin ... ”; d. Surat Keterangan Ahli Waris yang dibuat pada tanggal 30 Mei 1980 oleh Kepala Desa Sayang, diketahui oleh Camat Cianjur dan disahkan oleh Bupati Cianjur U.b. Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Cianjur.
110 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 30. Petikan Register Firman Tjiandjoer Kenchoo No. 126/C tanggal 25 Hachigatsu 2604 (25 Agustus 1944) Petikan Register Firman Tjiandjoer Kenchoo No. 126/C tanggal 25 Hachigatsu 2604 (25 Agustus 1944) yang berisi tentang persetujuan pemerintah Jepang kepada Pangeran Adjie Achmad Moelia Chaliluddin untuk menguburkan neneknya
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 111 yaitu Ratu Waroe. Penulisan “neneknya” mengandung pengertian bahwa Ratu Waroe (Sultan Ibrahim Chaliluddin) memiliki cucu, yaitu Pangeran Adjie Achmad Moelia Chaliluddin. Dokumen ini membuktikan bahwa Sultan Ibrahim Chaliluddin memiliki cucu/keturunan. Gambar 31. Surat Kuasa Gusti Ratu Sadiyah
112 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Surat Kuasa yang dibuat oleh Gusti Ratu Sadiyah pada hari Kamis, 22 Djuli 1954 yang diketahui oleh Lurah Sei Djingah Bandjarmasin yang berisi pernyataan “... 1. Gusti Sadiah 2. P. Moh. Achya, istri dan anak dari P. Abdulwahid, ...”; Dokumen ini menunjukkan kepada kita bahwa Pangeran Adjie Abdoelwahid Chaliluddin (anak Sultan Ibrahim Chaliluddin) memiliki seorang istri bernama Gusti Ratu Sadiyah dan memiliki anak bernama Pangeran Adjie Mohammad Achya. Dokumen ini membuktikan bahwa Sultan Ibrahim Chaliluddin memiliki anak, menantu, dan cucu/keturunan. Gambar 32. Surat Kuasa Penuh Semua Ahli Waris
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 113 Surat Kuasa Penuh yang dibuat pada tanggal 25 Mei 1970 oleh (1) P. Achmad Mulia Chaliludin, (2) A. Abdullah Chaliludin, (3) A. Abdoerachman Chaliludin, dan (4) A. Arifin Chaliludin, semua ahli waris dari almarhum Pr. Abdulwahid, memberi kuasa penuh kepada saudaranya yang bernama (5) Adji Abdoerahim Chaliludin ...”; Dokumen ini membuktikan bahwa ahli waris dari Pangeran Abdoelwahid Chaliluddin (anak Sultan) memiliki beberapa orang anak (cucu Sultan) yakni, P. Achmad Mulia Chaliludin, A. Abdullah Chaliludin, A. Abdoerachman Chaliludin, dan A. Arifin Chaliludin dan Adji Abdoerahim Chaliludin.
114 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Surat Keterangan Ahli Waris yang dibuat pada tanggal 30 Mei 1980 oleh Kepala Desa Sayang, diketahui oleh Camat Cianjur dan disahkan oleh Bupati Cianjur U.b. Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Cianjur. Dokumen ini membuktikan keberadaan ahli waris dari Pangeran Adjie Abdoelwahid Ratu Waroe, anak Sultan Ibrahim Chaliluddin.
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 115 3. Cicit dan Cucu Cicit Sultan Ibrahim Chaliluddin (Keturunan ke-3 dan ke-4) Keberadaan Cicit dan cucu cicit Sultan Ibrahim Chaliluddin, tercantum dalam dokumen berupa Surat Keterangan Ahli Waris masing-masing keturunan cucu Sultan Ibrahim Chaliluddin, yakni keturunan dari keluarga besar ahli waris; (1) Pangeran Adjie Moch. Achya Chaliluddin bin Pangeran Adjie Abdul Wahid Chaliluddin bin Sultan Ibrahim Chaliluddin, (2) Pangeran Adjie Achmad Mulia Chaliludin bin Pangeran Adjie Abdul Wahid Chaliluddin bin Sultan Ibrahim Chaliluddin, (3) Pangeran Adjie Abdoellah Chaliluddin bin Pangeran Adjie Abdul Wahid Chaliluddin bin Sultan Ibrahim Chaliluddin, (4) Pangeran Adjie Abdoerachman bin Pangeran Adjie Abdul Wahid Chaliluddin bin Sultan Ibrahim Chaliluddin, (5) Pangeran Adjie Abdoerachim bin Pangeran Adjie Abdul Wahid Chaliluddin bin Sultan Ibrahim Chaliluddin, dan (6) Pangeran Adjie Arifin Chaliluddin bin Pangeran Adjie Abdul Wahid Chaliluddin bin Sultan Ibrahim Chaliluddin. Berdasarkan data-data tersebut di atas maka Pengadilan Negeri Cianjur membuat Keputusan Penetapan No. 07-Pdt.P2021-PN Cjr tentang Penetapan Keturunan Sultan Ibrahim Chaliluddin. Secara lengkapnya dokumen penetapannya Keturunan Sultan Ibrahim Chaliluddin dapat diakses melalui situs Mahkamah Agung melalui tautan berikut:
116 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 33. Direktori Putusan PN Cianjur https://putusan3.mahkamahagung.go.id/direktori/putusan/z aeb8c54c9e256848d86313035353335.html Semoga Allah SWT menganugerahi pahala yang besar pada hari ketika harta atau pun keturunan tidak bermanfaat, kecuali mereka yang datang menghadap Allah SWT dengan kalbu yang bersih.
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 117 Gambar 34. Adjie Medje gelar Sultan Ibrahim Chaliluddin (Sultan Paser terakhir, 1900-1906) Sumber foto: Buku Republik Indonesia Provinsi Kalimantan (Penerbit Kementerian Penerangan Republik Indonesia: 1959)
118 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 35. Adjie Medje gelar Sultan Ibrahim Chaliluddin (Sultan Paser terakhir, 1900-1906) Sumber: Koleksi Foto Yayasan Sultan Sultan Ibrahim Chaliluddin
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 119 Gambar 36. Foto Keluarga Menantu Sultan Ibrahim Chaliluddin
120 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Gambar 37. Foto Ratu Waroe, Istri Sultan Ibrahim Chaliluddin saat di Tempat Pengasingannya di Cianjur, Jawa Barat sebelum Akhirnya Beliau Wafat
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 121 Gambar 38. Foto Pangeran Adjie Abdoelwahid Chaliluddin, Putra Tunggal Sultan Ibrahim Chaliluddin saat di Tempat Pengasingannya di Cianjur, Jawa Barat, sebelum Akhirnya Beliau Wafat
122 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 123
124 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 125
126 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 127
128 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 129
130 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 131 Daftar Pustaka Antemas, Anggraini. (1976). Darah Tertumpah di Sadurangas: Koran Buana Minggu. Assegaff, A.S. (1982). Sejarah Kerajaan Sadurangas atau Kesultanan Pasir: Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Paser. Besluit De Gouvernements Secretaris Nederlandsch-Indie No. 10 tanggal 25 Januari 1929 Eisenberger, Dr. J. (1936). Kroniek der Zuider-En Oosterafdeeling van Borneo. Kementerian Penerangan Republik Indonesia. (1959). Republik Indonesia Propinsi Kalimantan: Djawatan Penerangan Propinsi Kalimantan. Register Firman-Firman Tjiandjoer Kenchoo No. 126/2C tanggal 25 Hachigatsu 2604 (25 Agustus 1944 Masehi). Verklaring Assistent-Resident Tjiandjoer, 3 October 1930.
132 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin Profil Penulis Berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Cianjur Nomor 07/Pdt.P/2021/PN Cjr tanggal 2 Februari 2021, penulis ditetapkan sebagai salah seorang keturunan Raja terakhir Kesultanan Paser, Sultan Ibrahim Chaliluddin, sehingga berdasarkan ketetapan tersebut apabila ditulis lengkap, penulis bernama Pangeran Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliludin bin Pangeran Adjie Bachtiar Chaliluddin bin Pangeran Adjie Achmad Moelia Chaliluddin bin Pangeran Adjie Abdoelwahid Chaliluddin bin Sultan Ibrahim Chaliluddin (Adjie Medje). Sebagai keturunan keempat, penulis mendapatkan keuntungan dengan kondisi tersebut karena memiliki dokumen-dokumen tertulis peninggalan Sultan Ibrahim Chaliluddin. Hal inilah yang kemudian menjadikan penulis tertarik untuk menuliskan sejarah Kesultanan Paser terutama berkenaan dengan sejarah di era pemerintahan kakek buyutnya, Sultan Ibrahim Chaliluddin. Atas dasar itu pulalah pada tanggal 2 Juli 2021 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi
Sultah Ibrahim Chaliluddin, Raja Pejuang yang Terlupakan | 133 Kalimantan Timur mengundang penulis sebagai narasumber dalam kegiatan “Sosialisasi Cagar Budaya Tahun 2021” dimana penulis memaparkan tentang Sejarah Kesultanan Paser pada Masa Pemerintahan Sultan Ibrahim Chaliluddin. Selain tertarik dalam bidang sejarah, penulis juga pemerhati dalam bidang teknologi informatika, komputer, dan robotika. Salah satu tulisannya berjudul Virtual Network Computing diterbitkan di majalah Komputer Indonesia, Jakarta, Neotek (Vol. IV, No. 3/2003). Saat ini penulis aktif sebagai tenaga pengajar, sekaligus koordinator program Digitaliasi Sekolah di SMP IT AlHanif Cibeber, Kab. Cianjur.
134 | Adjie Benni Syarief Fiermansyah Chaliluddin