DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
14,97%, kedelai impor 15,22%, cabe merah besar biasa
teropong 10,10%, cabe merah besar keriting 14,94%, cabe
rawit merah 17,30%, cabe rawit hijau 29,98%, ikan laut
kembung 16,75%, ikan bandeng 12,69% dan minyak
goreng curah (tanpa merk) 11,08%.
Dari kegiatan pemantaun tersebut dijadikan sebagai acuan
untuk melakukan operasi pasar, jika telah terdeteksi sejak dini
terdapat indikasi yang mengarah terjadi disparitas yang sangat
tinggi. Pembenahan distribusi juga harus dilakukan pada
komoditi lainnya yang juga menjadi kebutuhan pokok
masyarakat, seperti gas. Sejak program konversi dari minyak
tanah ke gas, hingga saat ini juga masih sering terjadi
kelangkaan dan disparitas harga yang mencolok pada
beberapa wilayah di Jawa Tengah.
RenstraDISPERINDAG 42
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Indikator Targ Ta
et Pencapaian Kinerja Dinas
N Kinerja Targ Target
O sesuai et IKK Indi Provinsi
Tugas dan kato
Fungsi NSP (4) Target Renstra PD Tahun
Perangkat K r 2014 2015 2016 2017 2018
Lain (6) (7) (8) (9) (10)
Daerah nya 4.879 5.171 5.482 5.811 6.159
(5)
(1) (2) (3) 5.134 5.082 5.032 5.751 5.729
Nilai -255 89 450 60 430
1. Ekspor 6.159.00 20.47 20.55 20.62 13.53 13.57
Non Migas
(Jt US$)
Nilai
2. Impor Non 5.729.00
Migas
(Jt.US$)
Ekspor 430
Bersih
3. perdagang
an (Jt
US$)
4. Kontribusi
Sektor 13.57
Perdagang
*) dataasn.d September 2018
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
abel 2.4 Rasio Capaian pada Tahun
Perindustrian dan Perdagangan
i Jawa Tengah
Realisasi Capaian Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018
(11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
5.297,19 5.261.66 5.275.67 5.768.91 6.437.66 108 101 96,24 99,28 104,52
5.796,43 5.284,44 5.157.31 6.470,59 9.143.59 112 103 102 112 62,65
-499 -22.78 118.36 -701,68 -2.706,70 -95,69 -125,84 26,30 -1.270 -729,95
13.44 13.34 13.39 13.60 13.51 65,66 64,91 64,94 100,52 99,56
43
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Indikator Targ Target Renstra PD Tahun
et 2014 2015 2016 2017 2018
N Kinerja Targ Target (6) (7) (8) (9) (10)
O sesuai et IKK Indi
Tugas dan kato
Fungsi NSP (4)
Perangkat K r
Lain
Daerah nya
(5)
(1) (2) (3)
Terhadap
PDRB (%)
Cakupan 50 5 555 5
Bina Kel.
5. Pedagang/
Pengusaha
Informal
Jumlah
Ijin Usaha
6. per-
dagangan
dalam
negeri
-SIUP 478.15 398.539 418.442 438.345 458.24 478.151
1 8
-TDP 118.94 77.713 88.022 98.331 108.63 118.948
8 9
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
Realisasi Capaian Tahun Rasio Capaian pada Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018
(11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
30 0 5 17 5 600 0 100 340 100
401.318 426.010 447.450 475.637 486.670 100.70 101.81 102.08 103.79 101.78
110.999 140.331 164.281 185.081 361.931 142.83 159.43 167.07 170.36 304.28
44
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Indikator Targ Target Renstra PD Tahun
et 2014 2015 2016 2017 2018
N Kinerja Targ Target (6) (7) (8) (9) (10)
O sesuai et IKK Indi
Tugas dan kato 18 18 18 18 18
Fungsi NSP (4)
Perangkat K r
Lain
Daerah nya
(5)
(1) (2) (3)
Ketersedia 18 22 26 30 14 14
an data 14
harga 100% 100% 100% 100% 100% 100%
7. jenis 35.10 32.10 32.30 32.50 35.00 35.10
komo-
ditas
bahan
pokok
Jumlah
8. BPSK
(kab/kota)
Prosentase
Penyelesai
an
9. sengketa
konsumen
melalui
BPSK
kab/kota
Kontribusi
29 Sektor
Industri
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
Realisasi Capaian Tahun Rasio Capaian pada Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018
(11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
18 18 18 18 18 100 100 100 100 100
18 18 18 14 14 81.82 69.23 60 100 100
100% 100% 100% 100% 100% 100 100 100 100 100
36.31 35.30 34.48 34.96 34.50 113.12 109.29 106.09 99.89 98.29
45
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Indikator Targ Target Renstra PD Tahun
et 2014 2015 2016 2017 2018
N Kinerja Targ Target (6) (7) (8) (9) (10)
O sesuai et IKK Indi
Tugas dan (4) kato
Fungsi NSP
Perangkat K 5.20 r
Lain
Daerah nya
(5)
(1) (2) (3)
6
terhadap 5.20 5.20 5.20 5.20 5.20
PDRB 15-
20% 6 666 6
Pertumbu
han 15-20% 15- 15- 15- 15-20%
11 produksi 20% 20% 20%
Industri
pengolaha
n (ILMT)
Jumlah
Klaster
12 Logam,
Mesin dan
Tekstil
Persentase
kemampu
an sentra
13 ILMT
menjadi
pamasok
industri
besar
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
Realisasi Capaian Tahun Rasio Capaian pada Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018
(11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
8.04 5.57 5.90 8.69 7.07 154.62 107.12 113.46 167.12 135,96
6 6 6 6 6 100 100 100 100 100
19% 19% 19% 19.51% 20.48 100 100 100 100 102.40
46
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Indikator Targ Target Renstra PD Tahun
et 2014 2015 2016 2017 2018
N Kinerja Targ Target (6) (7) (8) (9) (10)
O sesuai et IKK Indi 32.10 32.30 32.50 35.00 35.10
Tugas dan (4) kato
Fungsi NSP 35.10 5.20 5.20 5.20 5.20 5.20
Perangkat K r
5.20 Lain
Daerah nya
(5)
(1) (2) (3)
6
Kontribusi
12-
Sektor 18%
14 Industri
terhadap
PDRB
Pertumbu
han
15 produksi
Industri
pengolaha
n (IAKHH)
Jumlah
Klaster
16 Agro, 6 666 6
kimia
&
hasil
hutan
Persentase
kemampu 12-18% 12- 12- 12- 12-18%
17 an sentra 18% 18% 18%
IAKHH
menjadi
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
Realisasi Capaian Tahun Rasio Capaian pada Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018
(11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
36.31 35.30 34.48 34.96 34.50 113.12 109.29 106.09 99.89 98.29
8.04 5.57 5.90 5.13 7.07 154.62 107.12 113.46 98.65 135.96
7 7 6 6 6 116,67 116,67 100 100 100
14% 20% 16.23% 16.23 12.80 100 100 100 100 106,67
47
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Indikator Targ Target Renstra PD Tahun
et 2014 2015 2016 2017 2018
N Kinerja Targ Target (6) (7) (8) (9) (10)
O sesuai et IKK Indi
Tugas dan kato
Fungsi NSP (4)
Perangkat K r
Lain
Daerah nya
(5)
(1) (2) (3)
pamasok 35.10 32.10 32.30 32.50 35.00 35.10
industri 5.20 5.20 5.20 5.20 5.20 5.20
besar
6 6 666 6
Kontribusi
Sektor
18 Industri
terhadap
PDRB
Pertumbu
han
19 produksi
Industri
pengolaha
n (IATEA)
Jumlah
Klaster
Komponen
20 otomotif
elektronik
a dan
neka
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
Realisasi Capaian Tahun Rasio Capaian pada Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018
(11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
36.31 35.30 34.48 34.96 34.50 113.12 109.29 106.09 99.89 98.29
8.04 5.57 5.90 6.10 7.07 154.62 107.12 113.46 117.31 135.96
6 6 7 7 7 100 100 116 116 116
48
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Indikator Targ Target Renstra PD Tahun
et 2014 2015 2016 2017 2018
N Kinerja Targ Target (6) (7) (8) (9) (10)
O sesuai et IKK Indi
Tugas dan kato 6-10% 6-10% 6-10% 6-10% 6-10%
Fungsi NSP (4)
Perangkat K r
Lain
Daerah nya
(5)
(1) (2) (3)
Persentase 6-10 5 555 5
kemampu 5
an sentra
21 IATEA
menjadi
pamasok
industri
besar
Pengemba
ngan
22 Kelembaga
an Usaha
Industri
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
Realisasi Capaian Tahun Rasio Capaian pada Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018
(11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
13 8 8.39 8.86 10.84 100 100 100 100 108
5 5 5 5 5 100 100 100 100 100
49
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa 20 (dua puluh) indikator
urusan industri dan perdagangan yang diampu oleh Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, terdiri dari 6 (indikator) kinerja
utama. Berdasarkan hasil evaluasi perencanaan pada tahun 2017,
terdapat 16 (enam belas) indikator telah tercapai, 3 (tiga) indikator akan
tercapai dan 1 (satu) indikator perlu upaya keras untuk pencapaian.
Berikut 3 (tiga) indikator yang akan tercapai (1 sektor perdagangan dan 2
sektor industri) serta 1 indikator yang perlu upaya keras :
1. Indikator nilai ekspor non migas Jawa Tengah dengan capaian sebesar
5.768.91 juta US$ dari target sebesar 5.811 juta US$ dengan rasio
99,28 %. Namun demikian nilai ekspor pada tahun 2017 mengalami
peningkatan sebesar 493,24 juta US$ dibandingkan tahun 2016 yaitu
sebesar 5.275.67 juta US$.
2. Indikator kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB dengan
capaian sebesar 34,96 % dari target sebesar 35,00 % dengan rasio
99,98 %. Namun demikian, kontribusi sektor industri pengolahan ini
masih lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2016 yaitu sebesar
34,48 %.
3. Indikator pertumbuhan produksi industri pengolahan agro, kimia dan
hasil hutan dengan capaian sebesar 5,13 % dari target 5,20 % dengan
rasio 98,85 %. Ketidaktercapaian ini dipengaruhi oleh krisis global dan
pelemahan ekonomi Amerika dan Uni Eropa, hambatan perdagangan
terhadap ekspor kayu dan produk kayu seperti wajibnya verifikasi legal
untuk ekspor ke uni eropa, juga adanya persaingan yang ketat dengan
Vitenam terhadap produk kayu sehingga mengurangi permintaan
produksi terhadap produk kayu Jawa Tengah.
4. Indikator yang perlu upaya keras untuk mencapai adalah ekspor bersih
perdagangan yang merupakan perhitungan neraca ekspor dan impor,
dimana Jawa Tengah pada tahun 2017 mengalami defisit neraca
perdagangan sebesar – 701,68 juta US$ dari target 60 juta US$ dengan
rasio – 1.270 %. Nilai impor Jawa Tengah sepanjang tahun 2017
mencapai 6.471,03 juta US $, impor bukanlah sesuatu yang
menakutkan. Impor tetap diperlukan sebagai wilayah terbuka
sepanjang ditujukan untuk pembelian barang modal. Produk ini diolah
kembali supaya menambah kapasitas ekonomi yang pada akhirnya
RenstraDISPERINDAG 50
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
dapat diekspor kembali. Jawa Tengah mengalami kenaikan volume
impor berbagai komoditas pada periode Januari – Desember 2017
hingga mencapai 20,97 % dibandingkan impor tahun sebelumnya.
Negara pemasok impor ke Jawa Tengah terbesar adalah Tiongkok
dengan total nilai impor sebesar 2.701,63 juta US $, Arab Saudi
sebesar 1.707, 37 juta US $ dan Malaysia dengan nilai impor sebesar
787,57 juta US $. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 48,68%
terhadap total impor Jawa Tengah. Dimana produk impor terbesar
merupakan komoditas bahan penolong bagi industri. Impor sebesar
6.471,03 juta US $ sebagian besar digunakan untuk bahan baku
tekstil dan pembelian belanja modal mesin dan mekanik. Impor tekstil
yang sebesar 1.789,77 juta US $, 86 % nya digunakan untuk bahan
baku penolong (statement BPS 16 Januari 2018 di Suara Merdeka) yaitu
sebesar 1.539,2 juta US $. Sementara untuk mesin dan mekanik
sebesar 1.734,99 juta US $ digunakan untuk belanja modal.
Sedangkan impor barang konsumsi perannya sangat kecil sekali, yaitu
hanya sebesar 5,91 %.
RenstraDISPERINDAG 51
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Tabe
Anggaran dan Realisasi Pendana
Dinas Perindustrian dan Perda
Anggaran pada tahun Re
Program
2014 2015 2016 2017 2018 2014
Program 26.420.000 5.097.200 6.500.000 11.050.000 7.394.500 10.700.000
pengemban
gan 14.370.000 7.625.000 6.810.000 5.700.000 6.000.000 4.990.000
industri 16.000.000
logam, 3.500.000 3.570.000 3.280.000 3.269.500 3.309.000
mesin, dan
tekstil
Program
Pengemban
gan
Industri
Agro, Kimia
dan Hasil
Hutan
Program
pengemban
gan
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
el 2.5
aan Pelayanan Perangkat Daerah
agangan Provinsi Jawa Tengah
ealisasi anggaran pada tahun Rasio antara realisasi Rata-Rata
2015 2016 2017 2018*) dan Anggaran Tahun Pertumbuha
2 n
20 20 20 20 0
14 15 16 17 1 Ang Reali
gara sasi
8
n
5.343.575 7.095.335 7.000.000 7.394.500 40,50 104,83 109,16 63,35 100 -4.07 -3.25
6.523.985 9.450.000 6.300.000 6.000.000 34,73 85,56 138,77 110,53 100 -17.17 9.37
2.898.190 3.584.020 3.000.000 3.269.500 20,68 82,81 100,39 91,46 100 -21.14 0.98
52
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Anggaran pada tahun Re
Program
2014 2015 2016 2017 2018 2014
industri 6.250.000 2.325.000 2.210.000 1.041.000 2.720.000 1.850.000
alat 10.300.000 5.9000.000 6.870.000 8.075.000 7.500.000 5.150.000
transportas
i,
elektronika,
telematika,
dan aneka
Program
pengemban
gan dan
pengua-tan
kelem-
bagaan
indus-tri
dan dagang
Program
peningkata
n ekspor,
promosi,
dan
efisiensi
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
ealisasi anggaran pada tahun Rasio antara realisasi Rata-Rata
2015 2016 2017 2018*) dan Anggaran Tahun Pertumbuha
2 n
20 20 20 20 0
14 15 16 17 1 Ang Reali
gara sasi
8
n
1.593.660 1.389.450 883.000 2.720.000 29,60 68,54 62,87 84,82 100 10.16 36.23
6.623.200 7.154.732 7.575.000 7.500.000 50,0 11,23 104,1 93,81 10 98.72 10.38
0 4 0,0
53
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Anggaran pada tahun Re
Program
2014 2015 2016 2017 2018 2014
impor 9.950.000 5.800.000 6.430.000 3.350.000 3.600.000 5.700.000
12.475.000 3.075.000 2.900.000 4.625.000
Program 2.554.500 2.435.00
peningkata
n
perlindung
an
konsumen
dan
pengamana
n
perdaganga
n dalam
negeri
Program
peningkata
n logistik
daerah,
akses pasar
dalam
negeri, dan
pemberday
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
ealisasi anggaran pada tahun Rasio antara realisasi Rata-Rata
2015 2016 2017 2018*) dan Anggaran Tahun Pertumbuha
2 n
20 20 20 20 0
14 15 16 17 1 Ang Reali
gara sasi
8
n
6.142.726 5.633.720 2.760.400 3.600.000 57,2 105,9 87,62 82,40 10 -17.82 -5.28
9 1 0,0
0
2.596.535 2.672.671 2.865.700 5.935.000 37,0 84,44 92,16 112,1 24 -24.41 18.35
7 8 3,7
4
54
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Anggaran pada tahun Re
Program
2014 2015 2016 2017 2018 2014
aan UDKM 500.000 400.000 500.000 0 300.000 275.000
250.00
Program 250.000 450.000 600.000 0 380.000 500.000
Peningkata
n Kualitas 600.000 750.000 0 300.000 250.000
Hidup
Perempuan
Program
Pengendali
an
Pencemara
n dan
Perusakan
Lingkunga
n Hidup
Program
Pengemban
gan Energi
Baru
Terbarukan
dan
Konservasi
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
ealisasi anggaran pada tahun Rasio antara realisasi Rata-Rata
2015 2016 2017 2018*) dan Anggaran Tahun Pertumbuha
2 n
20 20 20 20 0
14 15 16 17 1 Ang Reali
gara sasi
8
n
400.000 138.300 0 300.000 55,0 100,0 27,66 0,00 10 - -
0 0 0,0
0
450.0050 95.064 0 380.000 200, 100,0 15,84 0,00 10 - -
00 0
0,0
0
600.000 449.936 0 300.000 100, 100,0 59,99 0,00 10 - -
00 0 0,0
0
55
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Anggaran pada tahun Re
Program
2014 2015 2016 2017 2018 2014
Pendidikan 9.0000.000 6.500.000 7.300.000 00 7.500.000
Non formal 22.830.000 21.206.800 23.636.965 12.879.500 15.337.400 21.385.630
dan
informal 16.420.000 10.271.000 9.294.000 1.845.000 5.114.600 10.191.100
Program 750.000 750.000
Pelayanan 750.000 150.000 00
Administra 1.650.000 1.450.000
si 1.500.000 1.020.000 225.000 440.000
Perkantora
n
Program
Peningkata
n Sarana
dan
Prasarana
Aparatur
Program
Peningkata
n Disiplin
Aparatur
Program
Peningkata
n Kapasitas
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
ealisasi anggaran pada tahun Rasio antara realisasi Rata-Rata
2015 2016 2017 2018*) dan Anggaran Tahun Pertumbuha
2 n
20 20 20 20 0
14 15 16 17 1 Ang Reali
gara sasi
8
n
6.500.000 5.306.191 0 0 8,33 100,0 72,69 0,00 0,0 - -
0 0
22.816.256 18.169.462 12.695.000 15.337.400 93,6 107,5 76,87 98,57 10 -5.52 -5.75
7 9 0,0
0
14.714.154 2.465.406 1.718.294 5.114.600 62,0 143,2 26,53 93,13 10 12.53 32.12
7 6 0,0
0
315.275 0 0 0 100, 42,04 0,00 0,00 0,0 - -
1.091.270 278.000 262.500 00 0
440.000 87,8 72,75 27,25 116,6 10 -5.87 -9.31
8 7
0,0
0
56
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Anggaran pada tahun Re
Program
2014 2015 2016 2017 2018 2014
Sumber
Daya
Aparatur
147.415.000 128.100.000 78.540.965 50.000.000 52.356.000 78.625.730
*) Data s.d Agustus 2018
RenstraDISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023
ealisasi anggaran pada tahun Rasio antara realisasi Rata-Rata
2015 2016 2017 2018*) dan Anggaran Tahun Pertumbuha
2 n
20 20 20 20 0
14 15 16 17 1 Ang Reali
gara sasi
8
n
82.658.876 63.882.287 45.059.894 58.291.000 53.3 64.52 81.33 90.11 11 - 13,16 - 5,37
3 1.3
3
57
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa realisasi belanja pada
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah tahun 2014 –
2017 rata-rata mengalami penurunan, yaitu pada tahun 2014 sebesar Rp.
78.625.730.000,-, tahun 2015 sebesar Rp. 82.658.876.000,-, tahun 2016
sebesar Rp. 63.882.287.000,-, tahun 2017 sebesar Rp. 45.059.894.000,-
dan tahun 2018 sebesar Rp. 58.291.000.000,-.
Gambar 2.12
Realisasi Anggaran Disperindag Prov. Jateng
Tahun 2014-2018
(Rp. 000) Rencana Anggaran Realisasi Anggaran
147.415.000
160000000
128.100.000
140000000
120000000
100000000 78.625.730 78.540.965
80000000 82.658.876
60000000 58.291.000
40000000 63.882.287 50.00.0000 52.356.730
20000000 45.059.894
0 2015 2016 2017 2018
2014
2.4. Tantangan dan Peluang Pelayanan Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Tengah.
Pengembangan pembangunan dan pelayanan dibidang industri dan
perdagangan memiliki tantangan dan peluang, yang diuraikan
kedalam bidang masing-masing sebagai berikut :
1. Bidang Pengembangan Industri Agro:
Tantangan :
1) Agroindustri mengolah hasil pertanian sehingga tingkat
ketergantungan sektor ini relative rendah terhadap bahan
baku atau modal maupun capital dari luar negeri dan impor;
2) Memiliki tingkat keuntungan yang tinggi karena menghasilkan
produk bernilai ekonomi tinggi dan selalu dibutuhkan oleh
masyarakat;
RenstraDISPERINDAG 58
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
3) Agroindustri memiliki sustainabilitas yang tinggi dengan pola
penerapan yang tepat baik secara mandiri maupun dengan
kemitraan;
4) Agroindustri secara makro melibatkan tenaga kerja dalam
jumlah yang sangat besar antara lain petani, peternak,
nelayan dan masyarakat luas dipedesaan;
5) Input bagi agroindustri pada umumnya berupa bahan bahan
alamiah yang dapat diperbarui (renewable) sehingga ramah
terhadap lingkungan ;
6) Agroindustri memiliki proses produksi renewable dalam
memanfaatkan sumber daya alam sehingga ramah lingkungan
dan kontribusinya besar terhadap upaya peletarian sumber
daya alam dan lingkungan
Peluang :
1) Potensi permintaan produk-produk komoditas agro semakin
besar sejalan dengan dinamika pertumbuhan ekonomi, sosial,
budaya dan arus globalisasi.
2) Perubahan lingkungan strategis dari sisi permintaan seperti
pertambahan penduduk, pertumbuhan perkotaan dan
industrialisasi merupakan peluang usaha untuk peningkatan
nilai tambah.
3) Relokasi unit-unit produksi ke negara-negara berkembang
termasuk Indonesia.
2. Bidang Pengembangan Industri Non Agro:
Tantangan :
1) Relatif rendahnya kualitas sumber daya manusia industri yang
tercermin dari produkstivitas tenaga kerja yang kurang
kompetitif dan tingkat kekakuan (rigiditas) pasar tenaga kerja
yang tinggi;
2) Efisiensi logistik dan dukungan industri manufakture yang
belum memadai, menjadikan biaya bahan baku menjadi tinggi;
3) Belum tersedianya energi yang cukup untuk menopang
trasformasi pada industri manufaktur dengan harga yang
kompetitif;
4) Kebijakan industri yang belum terintegrasi antar lembaga
terkait dan antar pemerintah pusat dan daerah;
RenstraDISPERINDAG 59
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
5) Postur industri di jawa tengah yang tidak berimbang antara
industri kecil dan besar yaitu masih didominasi oleh industri
kecil menjadikan peran industri kecil dalam rantai industri
manufaktur industri belum optimal.
Peluang :
1) Kebijakan pengembangan Kawasan Industri dan WPPI (wilayah
pusat pertumbuhan industri) mendorong pemerataan industri
di Jawa Tengah;
2) Terkoneksinya insfrastruktur kawasan industri mendorong
tumbuhnya investasi di Jawa Tengah;
3) Revolusi industri 4.0 menjadikan metode manufaktur yang
canggih, mampu mengubah nilai ekonomi dalam berproduksi;
4) Munculnya pasar modren (e-commerce) atau pemasaran online
mendorong membuka pasar global;
5) Tumbuhnya industri kreatif digital dan industri kreatif aneka
menciptakan wirausaha baru dan tenaga kerja baru.
3. Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri:
Tantangan :
1) Produk kepokmas dalam n;egeri belum diketahui peta lokasi,
volume dan masa panen
2) Persaingan perdagangan di dalam negeri belum sehat;
3) Penggunaan produk – produk impor untuk konsumsi masih
tinggi;
4) Banyak sawah dan perkebunan yang berubah fungsi;
Peluang :
1) Permintaan terhadap produk dalam negeri meningkat;
2) Sebaran UMKM/UDKM semakin tinggi dan produk berkualitas;
3) Adanya kebutuhan kepokmas yang belum bisa diproduksi di di
dalam negeri;
4) Penggunaan IT sebagai sistem untuk Perdagangan.
4. Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Negeri:
Tantangan :
1) Adanya kecenderungan masih tingginya impor bahan baku
atau penolong untuk kegiatan ekspor, sehingga perlu
RenstraDISPERINDAG 60
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
diupayakan tumbuhnya industri yang mendukung subtitusi
impor;
2) Negara-negara pengimpor banyak yang melakukan
peningkatan hambatan masuk utamanya pasar Eropa dan
Amerika terhadap produk-produk dari negara yang pasarnya
terus berkembang (emerging market) termasuk produk dari
Jawa Tengah;
3) Makin gencarnya isu lingkungan yakni adanya tuntutan
negara maju agar produk yang masuk ke negaranya tidak
merusak lingkungan;
4) Adanya tuntutan pasar terhadap kualitas barang yang harus
memenuhi Standard Internasional (negara tujuan ekspor);
5) Masih banyak pengusaha yang belum menerapkan hasil - hasil
penelitian dan pengembangan (Litbang) perguruan tinggi
sehingga produk-produk inovatif dan kreatif belum
dikembangkan sesuai selera pasar.
Peluang :
1) Selain ASEAN, pasar non tradisional perlu dikembangkan
untuk itu perlu dilakukan penetrasi ke pasar di negara-negara
seperti: Amerika Latin maupun Amerika Tengah, Timur Tengah
dan Afrika, Asia Selatan, Asia Timur, Asia Barat, Rusia,
Kawasan Australia dan Selandia Baru (kewilayahan pasar non
tradisional );
2) Adanya upaya dari pemerintah tentang pengamanan akses
pasar komoditas Jawa Tengah dari tuduhan dagang oleh
negara lain yang menghambat ekspor (Dumping, Subsidy,
Safeguard) dan fasilitasi dari pemerintah seperti KITE,
Promosi, Konsultasi public hasil-hasil perundingan bilateral
maupun multilateral FTA/PTA dan forum-forum ekspor;
3) Adanya kemudahan pelayanan dibidang ekspor melalui
penerbitan SKA (Surat Keterangan Asal ) barang ekspor One
Day Services baik di IPSKA Semarang, Surakarta dan Cilacap
maupun coaching clinic di bidang ekspor;
4) Adanya keinginan yang kuat diantara stakeholder di bidang
ekspor di Jawa Tengah untuk meningkatkan ekspor non migas
Jawa Tengah.
RenstraDISPERINDAG 61
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
5. Bidang Standardisasi dan Perlindungan Konsumen;
Tantangan :
1) Banyaknya arus masuk produk-produk barang dan jasa
sehingga diperlukan pengawasan yang lebih intensif terkait
produk-produk impor dan lokal yang sesuai SNI dan
persyaratan teknis lainnya (Label dan MKG Berbahasa
Indonesia);
2) Belum adanya sistem perlindungan konsumen yang
terintegrasi dan masih rendahnya kapasitas/kemampuan
pemerintah daerah dalam melaksanakan urusan perlindungan
konsumen;
3) Upaya pengawasan dan penegakan hukum yang harus lebih
konkrit dan hasilnya dapat dirasakan masyarakat, termasuk
oleh pelaku usaha dan konsumen.
Peluang :
1) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi Negara Indonesia yang
cukup dinamis;
2) Regulasi/kebijakan perdagangan yang mempermudah investasi
dan perijinan berusaha;
3) Dukungan anggaran guna tersusunnya Standar Pelayanan
Minimum (SPM) pemerintah daerah bagi pelaksanaan bidang
perlindungan konsumen (pemberdayaan konsumen,
pengawasan barang beredar, standardisasi, pengembangan
mutu barang);
4) Ketentuan produk ekspor ber SNI akan memacu pelaku
usaha/IKM untuk memperoleh sertifikasi terkait HKI dan SNI
atas barang yang diproduksinya
6. Balai Industri Logam dan Kayu (BILK):
Tantangan :
1) Makin berkembangnya dunia industri nasional;
2) Masih terbuka pangsa pasar bagi produk instalasi dan IKM
binaan;
3) Inovasi dan teknologi yang makin berkembang
RenstraDISPERINDAG 62
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Peluang :
1) Berkembangnya dunia industri nasional dan makin
beragamnya produk industri memicu persaingan pasar untuk
menghasilkan produk yang berdaya saing;
2) Pangsa pasar yang masih terbuka lebar akan membuka
kesempatan lapangan kerja baru;
3) IKM harus mampu menghasilkan produk yang mempunyai
inovasi tinggi.
7. Balai Industri Kreatif Digital dan Kemasan;
Tantangan :
1) Pengembangan industri kreatif digital belum berjalan dengan
optimal dikarenakan masih minimnya daya dukung yang
meliputi aspek pendanaan, kurangnya sumber daya manusia
pengelola yang kompetens, sarana prasarana (gedung,
infrastruktur digital);
2) Hadirnya komunitas-komunitas atau lembaga kreatif yang
menyediakan jasa industri kreatif digital;
3) Tingginya persaingan pasar yang mengharuskan desain dan
produk kemasan terus berkembang dan kreatif;
4) Daya dukung Sumber Daya manusia (SDM) yang tersedia dan
berkompeten dibidangnya.
Peluang :
1) Banyaknya generasi muda yang tertarik menekuni bidang
kreatif digital;
2) Lulusan SMK dengan pengangguran terbuka yang semakin
meningkat;
3) Pangsa pasar bidang kreatif digital yang menjanjikan;
4) Potensi IKM di Jateng yang besar;
5) Tumbuhnya wirausaha wirausaha baru;
6) Masih banyak produk yang beredar tanpa label merek;
7) Masih banyak produk dengan desain dan kemasan yang
sederhana dan kurang menarik.
RenstraDISPERINDAG 63
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
8. Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) ;
Tantangan :
1) Semakin banyaknya pendirian laboratorium penguji dan
kalibrasi, terutama swasta sehingga membuat ketatnya
persaingan dalam menarik minat masyarakat;
2) Pesat perkembangan IPTEK BPSMB dituntut memiliki metode
dan peralatan yang mutakhir.
Peluang :
1) Bertambahnya jenis komoditi yang diberlakukan SNI secara
wajib;
2) Meningkatnya permintaan dunia industri maupun sektor
usaha lainnya untuk memastikan jaminan mutu produk dan
alatnya;
3) Adanya regulasi pemerintah yang dapat membuka peluang
bagi BPSMB dalam mengembangkan pelayanannya;
4) Kemajuan teknologi informasi dalam hal menunjang
kelancaran komunikasi dan upaya pengembangan
pengetahuan;
5) Terbukanya peluang kerjasama dengan laboratorium
Kab/Kota di Provinsi Jawa Tengah secara khusus, dan pada
tingkat nasional secara umum.
9. Balai Industri Produk Tekstil dan Alas Kaki ;
Tantangan :
1) Penurunan minat peserta pelatihan;
2) Belum bisa mengikuti dinamika perkembangan industri
garmen saat ini;
3) Semakin bertambahnya lembaga pelatihan sejenis baik di
dalam perusahaan maupun di luar perusahaan;
4) Dampak dari keterbatasan biaya pemeliharaan sarana dan
prasarana maka menyebabkan penurunan kualitas hasil
pelatihan dan tingkat kenyamanan proses pelatihan.
RenstraDISPERINDAG 64
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Peluang :
1) Menjadi rujukan pengusaha dan masyarakat Jawa Tengah
untuk meningkatkan kompetensi industri garmen dan alas
kaki;
2) Menjadi satu satunya tempat pelatihan industri alas kaki di
Jawa Tengah;
3) Menjadi lembaga yang dapat mengentaskan kemiskinan dan
mengurangi angka pengangguran di Jawa Tengah.
RenstraDISPERINDAG 65
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN BAB
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023 III
PERMASALAHAN DAN ISU – ISU
STRATEGIS DISPERINDAG
Sejalan dengan konteks pembangunan di suatu daerah, maka daerah
sebagai bagian dari subsistem yang terintegrasi secara nasional juga memiliki
kontribusi terhadap pola pembangunan nasional. Menghadapi dinamika
lingkungan strategis baik regional, nasional, maupun global serta
memperhatikan perencanaan sebagai alat manajerial untuk memelihara
keberlanjutan dan perbaikan kinerja lembaga, maka Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Tengah dalam mengemban tugas dan perannya
harus memperhatikan isu-isu strategis yang berkembang saat ini dan lima
tahun ke depan.
Hal tersebut sejalan dengan amanat RPJMD Provinsi Jawa Tengah,
sehingga menuntut terjadinya perubahan peran Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Tengah dalam orientasi dan pendekatan yang
digunakan dalam perencanaan dan koordinasi pembangunan sebagai upaya
mendukung tercapainya visi dan misi pemerintah daerah Provinsi Jawa
Tengah tahun 2018-2023.
Berdasarkan pendekatan seperti diamanatkan dalam Undang-Undang
No.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional serta
peluang dan ancaman yang terkait dengan dinamika lingkungan strategis
juga memperhatikan kekuatan dan kelemahan lembaga/institusi Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah dalam melaksanakan
tugas pokok dan fungsi, maka permasalahan dan isu-isu strategis
penyelenggaraan tugas fungsi menjadi rujukan penting dalam menentukan
program dan kegiatan yang diprioritaskan selama lima tahun ke depan (2018-
2023).
3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah
Secara normatif Dinas Perindustrian dan Perdagangan mempunyai
tugas melaksanakan penyelenggaraan urusan pemerintahan dan
pelayanan umum di bidang Perindustrian dan Perdagangan. Dalam
melaksanakan tugas dan fungsi tersebut terdapat beberapa
permasalahan, antara lain:
Renstra DISPERINDAG 66
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
Bidang Perdagangan
1. Kurangnya sarana dan prasarana perdagangan dalam negeri
Salah satu penyebab kurang mampunya pasar rakyat sebagai
sarana perdagangan dan pusat perekonomian masyarakat adalah
pengelolaan manajeman pasar dan infrastruktur secara baik.
Banyaknya revitalisasi pasar yang dilakukan hanya dalam bentuk
fisik lebih dari itu juga perlu diimbanginya dengan kemampuan SDM
pelaku pasar dan ASN yang bertugas di pasar dalam hal
pengelolaanya. Agar pembangunan secara fisik yang dilakukan oleh
pemerintah pusat dapat terus bermanfaat dalam jangka waktu yang
lama terutama pasar rakyat sebagai sarana perdagangan dan sarana
bagi peningkatan perekonomian masyarakat. Selain itu juga mampu
bersaing terhadap maraknya toko swalayan yang berdiri mengikuti
perkembangan zaman.
Pembekalan dalam hal peningkatan kompetensi SDM di pasar rakyat
harus diberikan secara berkesinambungan agar nantinya pelaku
pasar rakyat yang didalamnya termasuk pemerintah, aparat,
pedagang bisa secara sinergi dapat memajukan pasar rakyat supaya
mampu bersaing dalam mengikuti perkembangan zaman. Selain itu
perlunya membangun dan menciptakan sarana perdagangan (pasar)
unggulan dalam suatu daerah sebagai percontohan untuk memicu
pasar lainnya sehingga mampu berkembang dan bersaing.
2. Belum optimalnya fasilitasi sistem distribusi perdagangan
Rantai Distribusi yang panjang menjadi penyebab tingginya harga
komoditi kebutuhan pokok karena belum optimalnya fasilitasi
distribusi perdagangan. Hal ini terjadi karena panjangnya rantai
distribusi dari hulu ( produsen ) hingga hilir (konsumen) yang
melalui lebih dari 5 (lima) titik yaitu dari produsen – pengepul – agen
– pedagang besar – pengecer – konsumen, hal ini menyebabkan
perdagangan tidak efektif dan efisien. Selain panjangnya rantai
distribusi, kita merasa kesulitan untuk memantau perdagangan
yang berada di daerah perbatasan hal ini disebabkan tidak adanya
system yang mengatur perdagangan antar provinsi. Data
ketersediaan atau stok komoditas belum tersedia. Dikarenakan data
distributor maupun pelaku usaha di Jawa Tengah masih terbatas.
Renstra DISPERINDAG 67
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
3. Kurangnya Penggunaan Produk Dalam Negeri
Penggunaan produk dalam negeri merupakan strategi untuk
melakukan pembatasan dan pengurangan impor. Penggunaan
produk dari pasar dalam negeri masih sangat kurang dan kalah
bersaing dari produk impor yang membanjiri. Budaya yang
menganggap produk luar negeri lebih bagus daripada produk dalam
negeri masih melekat di masyarakat khususnya khususnya yang
berpenghasilan menengah ke atas. Sehingga kecenderungan untuk
menggunakan produk luar negeri sangat tinggi. Promosi bagi pelaku
usaha produk unggulan dalam negeri masih tertinggal dibandingkan
pelaku usaha dari luar negeri. Oleh karena itu semenjak usia dini
perlu diperkenalkan dengan produk dalam negeri dan perlindungan
terhadap produk-produk luar negeri sangat dibutuhkan.
Masih kurangnya tingkat penggunaan produk dalam negeri
disebabkan oleh :
Banyak dari konsumen tidak memilih produk dalam negeri dengan
alasan produk lokal memiliki kualitas yang rendah dengan harga
yang cukup tinggi. Namun, dengan memilih produk luar, mereka
bisa mendapatkan produk dengan kualitas tinggi dengan harga yang
sebanding.
Kemasan adalah salah satu hal yang dapat menarik daya beli
konsumen. Produk luar negeri biasanya akan mengeluarkan biaya
yang cukup besar untuk mengemas produknya dan biaya tersebut
biasanya lebih besar dibanding biaya untuk produknya sendiri.
Sebaliknya, bisnis lokal akan memilih untuk mengurangi tampilan
pada kemasan produknya dengan alasan untuk menekan harga
produknya agar tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan
produk luar.
Produk luar negeri biasanya akan memberikan inovasi baru untuk
menarik pelanggannya. Sedangkan bisnis lokal biasanya akan
meniru inovasi dari produk luar. Hal ini yang membuat masyarakat
lebih tertarik dan memilih produk luar negeri.
4. Belum Optimalnya Ekspor dan Perlunya pengendalian Impor
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah sejak tahun 2013
sampai 2017 diatas angka pertumbuhan nasional. Pada tahun 2013
pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencapai 5,78%, sedangkan
tahun 2017 petumbuhanya mencapai 5,27% lebih tinggi dari angka
Renstra DISPERINDAG 68
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
pertumbuhan nasional yang hanya sebesar 5,01%. Pertumbuhan
yang baik tersebut harus dijaga oleh seluruh stake holder tak
terkecuali unsur industri dan perdagangan. Oleh karena itu untuk
menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi kearah yang lebih baik kata
kuncinya adalah terletak pada makin baiknya pada investasi dan
ekspor. Saat ini dan kedepan ekspor dipandang mampu menjadi
sumber pendapatan devisa bagi negara, meningkatkan kapasitas
produksi, penyerapan tenaga kerja, meningkatkan pendapatan
pemerintah, serta meningkatan kesejateraan masyarakat.
Perkembangkan ekspor dan impor di Jawa Tengah dalam lima
tahun terakhir cukup menggembirakan. Hal ini ditunjukan dengan
angka realisasi ekspor non migas Jateng tahun 2017 sebesar
5.769,30 juta USD meningkat 9,36 % atau 493,63 juta USD
dibandingkan ekspor tahun 2016 yang Sebesar 5.275,67 juta USD.
Komoditas ekspor non migas utama Jawa Tengah tahun 2017
diantaranya ; Tekstil & barang Tekstil, Kayu & barang dari kayu
alas kaki dan bermacam-macam barang hasil pabrik dan lain-lain.
Sementara realisasi impor non migas Jateng tahun 2017 sebesar
6.471,03 juta USD meningkat sebesar 25,47% atau 1.313,79 juta
USD dibandingkan impor periode 2016 yang sebesar 5.157,24 juta
USD. Kenaikan impor non migas tahun 2017 dipicu oleh
peningkatan komoditas impor antara lain ; Tekstil & barang Tekstil ,
Mesin dan peralatan elektronik serta produk nabati. Melihat angka
petumbuhan ekspor dan impor tersebut pada dasarnya tidak
terlepas dari masalah yang dihadapi oleh para stake holder atau
pelaku usaha antara lain ;
- Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mulai membaik namun
diiringi melemahnya beberapa mata uang asing termasuk
Rupiah.
- Belum pulihnya krisis ekonomi di Eropa ditandai dengan
keluarnya keanggotaan Inggris dari Uni Eropa, adanya krisis
Turki serta adanya perang dagang Amerika Serikat - Tiongkok.
- Ketergantungan komoditas impor bahan baku atau penolong
yang tinggi untuk kegiatan ekspor.
- Adanya kecenderungan peningkatan hambatan masuk yang
makin besar dari pasar Eropa dan Amerika terhadap produk-
produk dari negara yang pasarnya terus berkembang (emerging
market) termasuk produk dari Jawa Tengah.
Renstra DISPERINDAG 69
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
- Meningkatnya isu lingkungan yakni adanya tuntutan negara
maju agar produk yang masuk ke negaranya tidak merusak
lingkungan.
- Tuntutan pasar terhadap kualitas barang yang harus memenuhi
Standard Internasional (negara tujuan ekspor).
- Belum optimalnya pemanfaatan lembaga kita di luar negeri baik
ITPC maupun Atase Perdagangan oleh pengusaha kita.
- Biaya logistik yang tinggi utamanya dirasakan oleh IKM/UKM
ekspor, hal ini dikarenakan jasa pengiriman yang aktif adalah
milik asing.
- Belum seimbangnya pertumbuhan usaha / Industri Kecil dan
Menengah dengan ketersediaan biaya fasilitasi Promosi produk
ataupun Sertikasi komoditas ekspor.
- Kemitraan industri orientasi ekspor antara perusahaan Industri
Besar dengan Kecil / Menengah belum optimal.
Belum optimalnya penerapan hasil - hasil penelitian dan
pengembangan (Litbang) perguruan tinggi dan industri orientasi
ekspor maupun belum dimanfaatkanya secara maksimal kemajuan
teknologi informasi oleh dunia usaha mendukung dalam
pengembangan usahanya (e-commerce).
5. Belum optimalnya pelayanan pengujian dan sertifikasi produk
dan komoditi unggulan
Jaminan mutu merupakan bagian dari manajemen mutu yang
difokuskan pada pemberian keyakinan bahwa persyaratan mutu
harus dipenuhi. Secara teknis jaminan mutu dapat diartikan
sebagai keseluruhan kegiatan yang sistematik dan terencana yang
diterapkan dalam pengujian, kalibrasi dan sertifikasi produk
sehingga memberikan keyakinan yang memadai bahwa data yang
dihasilkan memenuhi persyaratan mutu yang dapat diterima oleh
pengguna.
Berdasarkan hal tersebut belum optimalnya pelayanan pengujian
dan sertifikasi produk dan komoditi unggulan disebabkan oleh
keterbatasan SDM dan sarana prasarana laboratorium pengujian ,
laboratorium kalibrasi dan lembaga sertifikasi produk, sehingga
memberikan dampak belum semua permintaan pelayanan dapat
terpenuhi.
Masih adanya dunia industri yang belum memahami
jenis/parameter mutu produk yang termasuk dalam kategori SNI,
Renstra DISPERINDAG 70
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
sehingga kesulitan didalam permintaan pelayanan pengujian,
kalibrasi dan sertifikasi produk.
Keberadaan BPSMB sesuai fungsi sebagai laboratorium Pengujian,
Laboratorium kalibrasi dan lembaga sertifikasi produk belam
sepenuhnya dikenal oleh dunia usaha.
6. Kurangnya pemahaman masyarakat dan pelaku usaha tentang
hak dan kewajiban di Bidang Standarisasi dan Perlindungan
Konsumen
Konsumen selaku pengguna barang dan jasa harus mendapat
perlindungan dan kepastian hukum. Perlindungan terhadap
konsumen belum optimal karena kurangnya pengawasan barang
beredar dan jasa, diantaranya untuk melindungi ekses negative
penggunaan barang dan menciptakan kepatuhan Pelaku Usaha
sesuai dengan ketentuan. Selain itu, penyebab lainnya, masih
rendahnya pemahaman pelaku usaha dan konsumen terhadap
Undang-Undang Perlindungan Konsumen, banyaknya kasus-kasus
yang merugikan konsumen, membanjirnya produk impor yang tidak
sesuai dengan ketentuan, terbatasnya jumlah petugas di bidang
pengawasan, jumlah Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya
Masyarakat dan Badan Penyeleaian Sengketa Konsumen (BPSK)
masih terbatas, serta tempat pengaduan konsumen juga masih
terbatas.
7. Kurangnya Pemahaman penyelenggaranan pendaftaran
perusahaan secara online
Sampai dengan saat ini masih terdapat beberapa masalah teknis
saat Online Single Submission ( OSS) atau layanan perizinan
berusaha terintegrasi secara elektronik berjalan nanti. Kendalanya
lebih kepada infrastruktur teknologi informasi (TI) yang belum
maksimal karena OSS mengandalkan koneksi internet. Sistem TI
yang dimaksud lebih kepada ketersediaan akses internet yang
memadai di daerah. Ada wilayah yang infrastruktur TI-nya masih
lemah, sehingga di PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu) tidak bisa
masuk. Online Single Submission Jadi Pertaruhan Besar di Hadapan
Investor Asing karena jika ada suatu daerah yang terkendala
masalah teknis seperti itu, harus menunggu Kementerian
Komunikasi dan Informatika membangun infrastruktur TI untuk
memperluas jaringan di daerah-daerah. Selain itu juga masih
terdapat perbedaan pemahaman di daerah menyangkut legalitas dari
Renstra DISPERINDAG 71
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
sertifikat register perusahaan yang di keluarkan OSS. Sehingga
masih dibutuhkan adanya penyempurnaan system baik dari
pemerintah dan dunia usaha terkait kesiapan system dan
infrastrukturnya maupun pemahaman atas kebijakan tersebut.
8. Defisitnya Neraca Perdagangan Jawa Tengah
Banyak produk ekspor berkualitas dari Jawa Tengah, baik yang
merupakan hasil proses industri maupun hasil alam langsung.
Neraca perdagangan yang nilainya masih defisit disebabkan oleh
masih tingginya kegiatan impor non migas dibanding kegiatan
ekspor non migas. Neraca perdagangan ekspor - impor tahun 2017
(kumulatif dari bulan Januari sd Desember) menunjukkan defisit
sebesar 4.665,63 juta USD, dengan capaian ekspor sebesar 5.993,05
juta USD ( terdiri dari migas 223,75 juta USD & non migas 5.769,30
juta USD), nilai ekspor terbesar terjadi pada bulan Agustus sebesar
562,99 juta USD dan impor tahun 2017 sebesar 10.658,68 juta USD
(terdiri dari migas 4.187,66 juta USD & non migas 6.471,03 juta
USD), nilai impor terbesar terjadi pada bulan Desember sebesar
1.245,78 juta USD. Total impor Jawa Tengah tahun 2017 sebesar
10.658,68 juta USD, menurut penggolongan penggunaan barang
terdiri dari bahan baku / penolong sebesar 9.175,46 juta USD atau
86,08% dari total impor Jawa Tengah meningkat 18% dibandingkan
tahun 2016; impor barang modal sebesar 853,64 juta atau 8,01%
dari total impor Jawa Tengah meningkat 41,79% dan barang
konsumsi sebesar 629,57 juta atau 5,91% meningkat 45,29%.
Hal ini berdasarkan hasil versifikasi produk ekspor yang masih
rendah sehingga nilai ekspor masih didominasi TPT dan Produk
Kayu sedangkan impor Jateng didominasi oleh bahan baku dan
bahan penolong. Beberapa faktor, yang menghambat ekspor Jawa
Tengah antara lain; Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mulai
membaik namun diiringi melemahnya beberapa mata uang asing
termasuk Rupiah ;Belum pulihnya krisis ekonomi di Eropa ditandai
dengan keluarnya keanggotaan Inggris dari Uni Eropa, adanya krisis
Turki serta adanya perang dagang Amerika Serikat - Tiongkok ;
Ketergantungan komoditas impor bahan baku atau penolong yang
tinggi untuk kegiatan ekspor ; Adanya kecenderungan peningkatan
hambatan masuk yang makin besar dari pasar Eropa dan Amerika
terhadap produk-produk dari negara yang pasarnya terus
Renstra DISPERINDAG 72
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
berkembang (emerging market) termasuk produk dari Jawa Tengah ;
Meningkatnya isu lingkungan yakni adanya tuntutan negara maju
agar produk yang masuk ke negaranya tidak merusak lingkungan ;
Tuntutan pasar terhadap kualitas barang yang harus memenuhi
Standard Internasional (negara tujuan ekspor) ; Belum optimalnya
pemanfaatan lembaga kita di luar negeri baik ITPC maupun Atase
Perdagangan oleh pengusaha kita ; Biaya logistik yang tinggi
utamanya dirasakan oleh IKM/UKM ekspor, hal ini dikarenakan jasa
pengiriman yang aktif adalah milik asing; Belum seimbangnya
pertumbuhan usaha / Industri Kecil dan Menengah dengan
ketersediaan biaya fasilitasi Promosi produk ataupun Sertikasi
komoditas ekspor ; Kemitraan industri orientasi ekspor antara
perusahaan Industri Besar dengan Kecil / Menengah belum optimal ;
Belum optimalnya penerapan hasil - hasil penelitian dan
pengembangan (Litbang) perguruan tinggi dan industri orientasi
ekspor maupun belum dimanfaatkanya secara maksimal kemajuan
teknologi informasi oleh dunia usaha mendukung dalam
pengembangan usahanya (e-commerce). Disamping masalah didalam
negeri yang belum memperoleh solusi yakni: kesulitan dalam hal
ekspor dan impor barang yang disebabkan oleh keterbatasan
infrastruktur di Pelabuhan Tanjung Emas yang belum
memungkinkan untuk sandar kapal besar, pasar ekspor masih
didominasi pasar tradisional (AS,Eropa, Jepang, dan Australia)
karena sulitnya akses pasar ke pasar tujuan ekspor.
Hal – hal itu yang menyebabkan defisitnya neraca perdagangan Jawa
Tengah untuk itulah perlu ditempuh perluasan dan pengembangan
kewilayahan pasar non tradisional ; Pasar ASEAN yang merupakan
target pasar terdekat bagi Jawa Tengah, juga terdapat pasar diluar
ASEAN yang masih terbuka luas untuk dilakukan penetrasi ke pasar
di negara-negara Amerika Latin, Amerika Tengah, Afrika, Asia Barat,
Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika.
Bidang Industri
1. Masih banyaknya produk Industri yang belum memenuhi standard;
Semakin tingginya persaingan industri saat ini berdampak pada
peningkatan daya saing industri di dalam negeri melalui peningkatan
penggunaan komponen dalam negeri, hal ini merupakan peluang bagi
Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk memenuhi permintaan
Renstra DISPERINDAG 73
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
industri besar, di lain sisi IKM masih menghasilkan produk yang
belum memenuhi standar yang dipersyaratkan seperti SNI, Halal, HKI
dan lainnya maka daya saing produk yang dihasilkan Industri Kecil dan
Menengah masih sulit menangkap peluang tersebut dan bersaing di
pasar global.
Belum standardnya produk Industri juga diakibatkan oleh masih
rendahnya kemampuan teknis SDM Industri. Hal ini disebabkan rata –
rata SDM Industri memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan
kemampuan yang dimiliki hanya berdasarkan pengalaman atau
rutinitas sehari – hari dalam berproduksi. Sehingga produk industri
yang dihasilkan memiliki daya saing yang masih rendah. Untuk
Industri kreatif, saat ini juga masih belum optimal berkembang
dikarenakan terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki.
2. Masih terbatasnya ketersediaan SDM Kompetensi;
Seiring banyaknya investasi industri di Jawa Tengah, diperlukan
ketersediaan SDM Kompetensi yang mampu mendukung operasional
industri tersebut. Masih tingginya pengangguran di Jawa Tengah
diharapkan dapat bekerja di industri tersebut. Namun demikian,
ketersediaan tenaga kerja masih belum mempunyai kompetensi yang
dibutuhkan oleh perusahaan. Pada saat ini, beberapa industri yang
melakukan pengembangan usaha di Jawa Tengah masih membutuhkan
tenaga kerja kompeten. Sementara ini, lulusan SMK di Jawa Tengah
belum dapat memenuhi kebutuhan kompetensi perusahaan tersebut.
3. Belum optimalnya inovasi teknologi industri;
Baru saja di canangkan dalam Industrial Summit 2018 yaitu Industri
4.0 yang merupakan revolusi industri ke-4 dengan ditandai dengan
munculnya supercomputer, the internet of things, robot pintar,
kendaraan tanpa pengemudi dan perkembangan teknologi dengan
berbasis big data. Industri saat ini dituntut untuk melakukan inovasi
dalam hal penerapan teknologi industri berbasis industri 4.0 yang akan
menghasilkan output yang lebih efektif dan efisien.
Industri di dalam negeri khususnya Industri Kecil dan Menengah (IKM)
saat ini masih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar berbasis
kuantitas, IKM masih menggunakan peralatan manual dan sarana
Renstra DISPERINDAG 74
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
sederhana yang dimiliki sehingga kapasitas dan standarisasi produk
masih rendah.
4. Belum meratanya persebaran industri diwilayah Jawa Tengah;
Iklim usaha yang kondusif, masih kompetitifnya biaya tenaga kerja,
Infrastruktur transporasi dengan mulai tersambungnya Jalan Tol Trans
Jawa dan tersedianya jalur kereta api doubel track di wilayah Jawa
Tengah membuat daya tarik yang kuat bagi industri di wilayah
Jabodetabek dan Jawa Barat untuk mengalihkan basis produksinya ke
wilayah Jawa Tengah. Hal ini terlihat dengan meningkatnya jumlah
realisasi investasi dan tingginya permintaan tenaga kerja di wilayah
Jawa Tengah.
Sangat masifnya pengalihan basis industri di Jawa tengah memberikan
dampak tidak meratanya sebaran industri di Jawa Tengah. Industri
lebih memilih untuk menempatkan basis industrinya di wilayah Pantai
Utara Jawa yang memiliki infrastruktur transportasi, energi, sarana
dan prasarana industri yang lebih baik ketimbang wilayah selatan
Jawa. Selain itu tersedianya industri pendukung lainnya yang sebagian
besar berada di wilayah pantura Jawa semakin mendukung industri
besar untuk berlokasi di wilayah Pantura Jawa.
Hal tersebut juga berakibat pada permasalahan ketimpangan ekonomi
wilayah di Jawa Tengah yang mana menjadi salah satu penyebab
kemiskinan dan pengangguran di Jawa Tengah. Ketimpangan
persebaran industri akan menyebabkan terbatasnya kesempatan
bekerja dan tingginya angka pengangguran di wilayah – wilayah
tertentu yang memiliki potensi sumber daya lokal.
Permasalahan informasi dan data saat ini juga menjadi salah satu
penyebab penyebaran informasi industri menjadi kurang lancar, untuk
memperoleh informasi dan data yang sesuai dengan kebutuhan industri
relatif tidak mudah karena industri maupun penyedia data tidak
memiliki kewajiban untuk melaporkan ke Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Tengah mengenai informasi dan data yang
dimiliki. Kondisi riil data dan informasi mengenai keberadaan dan
perkembangan industri sangat dibutuhkan untuk mengidentifikasi
potensi dan permasalahan yang pada akhirnya memunculkan
penyelesaian permasalahan dan kebijakan yang terkait dengan industri.
Renstra DISPERINDAG 75
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
5. Kurangnya dukungan ketersediaan sarana dan prasarana industri,
serta infrastruktur penunjang yang berwawasan lingkungan;
Pelaku IKM harus selalu melakukan inovasi dan kreatif supaya mampu
bersaing kendati terkena dampak kebijakan dan permasalahan internal
maupun eksternal. Peningkatan sarana dan prasarana Unit Pelayanan
Teknis (UPT) dalam rangka optimalisasi pelayanan teknis dilakukan
melalui upaya pengembangan dan penerapan hasil rekayasa teknologi
industri bagi IKM serta sistem informasi networking. Terbatasnya
dukungan infrastruktur sarana dan prasarana layanan teknis dapat
menurunkan daya saing di sektor industri. Pengadaan sarana dan
prasarana harus diikuti dengan pembinaan agar tidak timbul
kecurangan yang tidak diinginkan.
Pengembangan dan Peningkatan pembangunan industri hendaknya
jangan sampai membawa akibat rusaknya lingkungan hidup. Hal ini
telah diatur di Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 142 Tahun 2015
tentang Kawasan Industri, yang akan mendorong pengembangan
industri berwawasan lingkungan, serta akan memberikan daya tarik
industri. Belum optimalnya pengembangan industri yang sesuai dengan
tata ruang wilayah yang berwawasan lingkungan disebabkan karena
belum adanya program khusus yang fokus terhadap peningkatan
kualitas dan populasi industri.
6. Belum optimalnya keterkaitan sektor industri dengan sektor
lainnya.
Jejaring kemitraan usaha antara IKM dengan industri besar termasuk
dalam Program Penataan Struktur Industri. Sektor IKM (Industri Kecil
dan Menengah) diharapkan menjadi mitra bisnis bagi perusahaan
besar. Namun kendala IKM untuk menjadi mitra bisnis bagi
perusahaan besar adalah kurang optimalnya IKM dalam memenuhi
persyaratan teknis maupun administrasi dan pasokan barang yang
kurang kontinyu yang menyebabkan keterlambatan produksi.
Selain permasalah diatas, keterkaitan industri satu dengan yang lain
masih belum optimal penerapannya, industri pendukung dengan
industri lainnya pada satu wilayah regional belum memiliki keterkaitan
yang optimal sehingga akselerasi perputaran ekonomi yang dihasilkan
belum maksimal.
Renstra DISPERINDAG 76
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
7. Tingginya ketergantungan bahan baku impor.
Kurang kondusifnya lingkungan usaha memiliki implikasi besar
terhadap penurunan daya saing ekonomi, terutama sektor-sektor
industri sebagai lapangan kesempatan kerja yang merupakan salah
satu motor bagi pertumbuhan ekonomi. Lemahnya daya saing juga
dirasakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Tengah pada industri kecil menengah Non Agro. Akar masalah dari
lemahnya daya saing industri kecil menengah Non Agro disebabkan
karena tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor, sehingga
dipengaruhi sebagian besar oleh faktor eksternal industri seperti kurs
rupiah, isu – isu global, kontinuitas pasokan, kendala tata niaga
berikut peraturan teknis dan lainnya yang sulit Industri dalam negeri
antisipasi.
Renstra DISPERINDAG 77
Prov.Jateng 2018-2023
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN T
P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023 Pemetaan P
Perindustrian dan Perd
No. Masalah Pokok
Industri Masalah
1 Rendahnya daya saing Masih banyaknya produk Ind
produk industri memenuhi standard
Masih terbatasnya ketersedia
Belum optimalnya inovasi tek
Tingginya ketergantungan ter
impor
2 Ketimpangan ekonomi wilayah Belum meratanya persebaran
Jawa Tengah Jawa Tengah
Kurangnya dukungan keterse
prasarana industri, serta infra
penunjang yang berwawasan
Renstra DISPERINDAG
Prov.Jateng 2018-2023