Penulis
Fine Reffiane, S.Pd., M.Pd, Prof. Dr. Sudarmin, M.Si, Prof. Dr. Wiyanto, M.Si, Dr.
Sigit Saptono, M.Pd, Vivi Anggriani, Zuliana Permatasari, Reza Luthfia Dewi,
Ismawadah, Yulia Nailil Muna, An Nisa Az Zahra Anindya Putri, Shofi Asfika,
Dara Ayu Prasetyani, Andina Isna Ghani Saputri, Cindra Pradena, Desy Riani
Hafshah, Sepfeira Anjelina, Fitri Rohmatika Uyun Nihlah, Nurul Qomariyah,
Wahyu Triasih, Mukti Cahyo L, Fitriyana Rahmawati, Hanifa Nurul Putriana,
Na'im Khoirudin, Dewi Nur Aini, Rizky Amalia Safitri, Fadhilah Cahyaningrum,
Nadia Amalia, Sinta Dina Afiana, Sinta Oliviana, Sekar Anggun Tilaras, Rindi
Artanti, Annisak Miftakhul Hidayah, Neneng Oktaviani Sugiyanto, Rizki Septy
Nur Intan, Siti Sumarni, Novita Ramadani P.S, Larasati Kusuma Dewi, Janatun
Musribatun, Mukti Lestari, Adinda Dwi Sekartaji, Alri Purtika Megalely, Harnum
Ayu Aningdia, Pravita Hasna Nabila, Rega Aji Sajiwo, Rizky Dian Nova, Zico
Tampati, Rizky Al Maulana, Nila Pramesti Rahayu
Editor
Fine Reffiane, S.Pd., M.Pd,
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si,
Prof. Dr. Wiyanto, M.Si,
Dr. Sigit Saptono, M.Pd,
Desain sampul
Taufik Alam Huda
Penerbit
NEM
Cetakan Pertama, Juni 2021
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014
Tentang Hak Cipta
1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta
melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta
melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana
dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
4. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan
dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh)
tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
Kata Pengantar
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt., Tuhan
yang Maha Esa karena atas berkah, rahmat, hidayah dan ridho-Nya jualah
sehingga penulis dapat menyelesaikan buku dengan judul Penerapan Model
Hybrid Learning Berpendekatan Ethno-STEM (Pandemi Tak Surutkan
Langkah Kami) Seri 2
telah diberikan menjadi nilai ibadah dan menjadi pahala kebaikan di sisi
Allah Swt.
Penulis menyadari bahwa walaupun sudah memaksimalkan seluruh
kemampuan dalam penyusunan buku ini, tidak menutup kemungkinan masih
terdapat kekurangan yang perlu penyempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan masukan berupa saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan penulisan buku ini.
Semarang, Juni 2021
Editor
Daftar Isi
Kata Pengantar ………………………. 1
Daftar Isi ………………………. 2
Pengantar : ………………………. 4
Model Hybrid Learning berpendekatan Etno-
STEM Pandemi Tak Surutkan Langkah Kami
Tema 1 Pembelajaran Etno-STEM dengan ………………………. 5
Tema Pembuatan Kue Klepon Khas Mranggen
Tema 2 Pembelajaran Etno-STEM dengan ………………………. 8
Tema Pembuatan Tape Singkong Khas Tugu
Tema 3 Pembelajaran Etno-STEM dengan ………………………. 20
Tema Pembuatan Ikan Tengiri Khas Jepara
Tema 4 Pembelajaran Etno-STEM dengan ………………………. 30
Tema Pembuatan Gatot Singkong Khas Blora
Tema 5 Pembelajaran Etno-STEM dengan ………………………. 40
Tema Pembuatan Tauco Khas Pemalang
Tema 6 Pembelajaran Etno-STEM dengan ………………………. 50
Tema Tiwul Khas Rembang
Tema 7 Pembelajaran Etno-STEM dengan ………………………. 60
Tema Apem Kukus Khas BantarBolang
Tema 8 Pembelajaran Etno-STEM dengan ………………………. 71
Tema Gethuk Khas Wirosari
Daftar Pustaka ………………………. 82
Bibliografi Penulis ………………………. 110
Model Hybrid Learning berpendekatan Etno-STEM
Oleh :
Fine Reffiane, S.Pd.,M.Pd
Mahasiswa Pascasarjana S3 IPA Universitas Negeri Semarang
Dosen Universitas PGRI Semarang
Prof. Dr. Sudarmin, S.Si., M.Si
Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Semarang
Prof. Dr. Wiyanto, S.Si., M.Si
Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Semarang
Dr. Sigit Saptono, M.Pd
Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Semarang
Model pembelajaran dengan pendekatan Etno-STEM merupakan
pengembangan pendekatan STEM yang berbasis pada kearifan lokal di
suatu daerah. Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan Etno-STEM
dimulai dari suatu tema pembelajaran IPA yang bermuatan kearifan lokal
disuatu daerah. Tema pembelajaran dengan bermuatan kearifan lokal
tersebut akan dikembangkan menjadi pengetahuan ilmiah yang meliputi
pengetahuan sains, teknologi, Teknik rekayasa sederhana, dan
penghitungan matematika. Pada setiap pengetahuan tersebut dilakukan
pengamatan terhadap hasil belajar dan pengaruhnya terhadap
keterampilan keterampilan berpikir kritis, mengembangkan kreativitas,
komunikasi dan berkerjasama.
Urban (2015) melalui Pendidikan STEM terintegrasi teknologi pada
peserta didik dapat dimaksimalkan dalam memperoleh kompetensi di
bidang teknologi, sains, matematika dan Teknik. Belland (2017) dalam
pelaksanakan STEM dengan menggunakan 7 pendekatan mendapatkan
efek pembelajaran yang berbeda yaitu pembelajaran berbasis masalah
(0,28), pembelajaran berbasis kasus (0,30), pemodelan/visualisasi (0,42),
pembelajaran berbasis proyek (0,51), pembelajaran berbasis desain (0,27),
pembelajaran berasis inkuiri (0,53), dan pembelajaran berbasis masalah
(1,33).
1
Bybee (2013:68) mengungkapkan STEM dapat membantu peserta
didik untuk mendapatkan pengalaman dalam penguasaan teknik untuk
mengobservasi, mengumpulkan dan menganalisis data sehingga program
STEM saat sesuai digunakan untuk mengembangkan kemampuan
ketrampilan abad 21. Honey & Schweingruber (2014:109) menuliskan
langkah-langkah praktis STEM dalam pembelajaran the Common Core State
Standards for Mathematics and Scientific and Engineering Practices in the
Next Generation Science Standar yang dibedakan menjadi 2 yaitu
Mathematical Practice dan Scientific and Engineering Practices.
Gambar 1 Model Pembelajaran Etno-STEM
Bagian-bagian yang digunakan pada Mathematical Practice adalah (1)
Memahami masalah dan bertahan dalam menyelesaikannya, (2)
mengungkapkan alasan secara abstrak dan kuantitatif, (3) Membangun
argument yang layak dan menerima kritik serta alasan dari orang lain, (4)
Menerapkan berbagai model Matematika, (5) Menggunakan alat dan
strategi yang tepat, (6) menghadirkan presisi/ keseimbangan, (7) mencari
dan memanfaatkan secara terstruktur, (8) Mencari dan mengekspresikan
keteraturan dalam penalaran berulang.
Bagian-bagian yang diterapkan pada Scientific and Engineering
Practices adalah (1) Mengajukan pertanyaan dan menentukan masalah, (2)
Mengembangkan dan menggunakan model, (3) Merencanakan dan
melaksanakan investigasi, (4) Menganalisis dan menginterprestasikan data,
(5) Menggunakan matematika dan komputasi dalam berpikir, (6) Membuat
desain solusi, (7) Melibatkan argument/pendapat dalam bukti penelitian,
2
(8) Memperoleh, mengevaluasi dan berkomunikasi dalam pertukaran
informasi. Sedangkan dalam jurnal National (2011) terungkap bahwa STEM
merupakan capaian suatu budaya yang mencerminkan kemampuan
kemanusiaan, memberikan kekuatan ekonomi dan sebagai pembentuk
aspek fundamental untuk masyarakat.
Pelaksanaan pembelajaran yang menekankan pada aspek pedadogis
bersinergi dengan kemampuan kontruktivisme dapat diintegrasi pada
penggunaan teknologi. Bevins & Price (2016) mengungkapkan bahwa
pendekatan inquiry dapat digunakan untuk melatih ketrampilan peserta
didik. Chalkiadaki (2018) ketrampilan dalam membaca menjadi suatu
kekuatan literasi peserta didik dalam memahami dan menerapkan
kompetensi dan ketrampilan di abad 21.
Chung, et al (2016) pendekatan melalui pembelajaran berbasis
masalah dapat meningkatkan proses ketrampilan komunikasi peserta
didik. Comfort & Timms (2018) standar penerapan kurikulum nasional
akan mampu menjadi standar sains pada generasi sains selanjutnya. Farisi
(2016) pelaksanaan pembeajaran di kelas melalui pengembangan
ketrampilan yang terintegrasi teknologi akan menambah kompetensi di
abad 21.
Forawi (2016) pelaksanaan Pendidikan sains berdasarkan
pengembangan kurikulum akan memberikan pemikiran kritis terhadap
peserta didik. Keane, et al (2016) mempunyai hasil penelitian perubahan
dari literasi tradisional menjadi pembelajaran praktik menggunakan TIK.
Obschonka, et al (2017) ketrampilan yang harus dimiliki oleh peserta didik
di abad 21 adalah ketrampilan berwirausaha.
Pembelajaran hybrid merupakan suatu model pengetahuan yang
dapat digunakan untuk mengambil keputusan yang cerdas. Moakofhi, et al
(2017) melakukan penelitian pembelajaran hybrid di sebuah universitas di
Botswana, Afrika bahwa walaupun pembelajaran terintregasi teknologi
membawa keuntungan yang luar biasa, tetapi dosen-dosen masih
mengalami hambatan dalam pelaksanaannya. Pemanfaatan pembelajaran
hybrid merupakan pembelajaran yang mengasyikan karena dapat
memperkuat praktek dan pikiran serta dapat berfokus pada konteks
informal dan formal sehingga sangat sesuai dilakukan di masa pandemic
Covid 19 saat ini.
3
TEMA 1
Pembelajaran Berbasis Etno-STEM dengan Tema
“Pembuatan Kue Klepon di Kecamatan Mranggen”
Oleh :
Zuliana Permatasari
Mahasiswi PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Ismawadah
Mahasiswi PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Reza Luthfia Dewi
Mahasiswi PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Vivi Anggriani
Mahasiswi PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
4
Yulia Nailil Muna
Mahasiswi PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Saat ini kita sedang dihadapkan dengan adanya pandemi Covid-19
yang menyebabkan semua aktivitas dilakukan dari rumah, mulai dari
belajar hingga bekerja dilakukan dari rumah. Hal ini membuat masyarakat
berlomba-lomba dalam menciptakan sebuah kreasi atau usaha yang dapat
dilakukan dari rumah sebagai pekerjaan sampingan atau sekedar mengisi
waktu luang.
Pada semester 4 ini bertepatan dengan adanya pandemi Covid-19,
kami diberi tugas untuk membuat sebuah produk yang menampilkan
kearifan lokal yang ada di daerah tempat tinggal dan kelompok kami
memilih untuk membuat kue klepon. Alasan kelompok kami memilih kue
klepon karena kue klepon banyak diminati dan dijual di kecamatan
Mranggen. Di samping itu kue klepon dapat dibuat dengan mudah, dan
bahan-bahan untuk membuatnya mudah dicari.
Saat ini telah banyak swalayan dan supermarket yang dibangun,
akan tetapi pesona pasar tradisional masih menarik hati masyarakat karena
memiliki daya tarik tersendiri. Daya tarik tersebut adalah di pasar
tradisional banyak yang menjual berbagai macam jajanan tradisional khas
Indonesia, salah satunya yaitu klepon. Namun di era modern seperti
sekarang, klepon sulit dijumpai karena tidak banyak orang yang
mengembangkan jajanan ini sebagai sebuah usaha
5
Gambar 1. 1 Skema Etno-STEM dengan tema Kue Klepon Mranggen
Kue klepon merupakan jajanan pasar yang berbahan tepung ketan,
tepung tapioka, garam kemudian dicampur dengan air panas dan dibentuk
bulat serta diberi isian gula jawa. Lalu direbus dengan air pandan hingga
mengapung lalu tiriskan dan tunggu hingga dingin, setelah itu dibalut
dengan parutan kelapa. Saat memakan klepon ini lelehan gula jawalah
yang membuat kenikmatan tersendiri saat memakan klepon. Klepon cocok
untuk dimakan saat bersantai bersama keluarga kita dirumah.
Uraian lengkap berdasarkan bidang kajian keilmuan sesuai kurikulum
1) Materi dan Perubahannya
Perubahan suatu materi yang dapat menghasilkan jenis dan sifat materi
baru dari zat semula disebut dengan perubahan kimia. Bahan utama dari
pembuatan klepon adalah tepung ketan. Tepung ini sama-sama memiliki
tekstur yang lengket jika dimasak. Pada saat memasak kue klepon inilah
terjadi perubahan kimia.
2) Gaya
Gaya merupakan tarikan maupun dorongan yang dapat mempengaruhi
suatu benda. Gaya berpengaruh pada perubahan bentuk benda, posisi
benda, dan perubahan pada posisi benda. Gaya terjadi pada saat
pembentukan klepon, saat kita membulat-bulatkan kue klepon.
3) Suhu dan Kalor
6
Suhu merupakan ukuran untuk menyatakan panas yang tersimpan
pada suatu benda. Benda yang bersuhu tinggi, berarti suhu itu memiliki
energi panas tinggi, begitupun juga sebaliknya. Perpindahan energi panas
yang terjadi pada benda yang memiliki suhu yang lebih tinggi ke benda
yang memiliki suhu lebih rendah. Suhu dan kalor terjadi pada saat
perebusan klepon yang disebabkan oleh api kompor yang berasal dari gas.
4) Kewirausahaan
Kue klepon tidak cukup tinggi harga jualnya namun jika di hitung
lumayan untung jika menjual kue klepon. Dalam satu kali pemblian bahan
dapat memperoleh untung Rp37.000,-. Dengan ini lumayan untuk
menambah pemasukan kita jika kita menjual klepon apalagi jika kita
menjualkan klepon ke internet dan menyetorkan pada penjual-penjual
keliling. Dengan begitu akan menambah pelanggan, jika pelanggan
bertambah otomatis keuntungan akan semakin bertambah. Tapi tidak
menutup kemungkinan ada rugi juga yang akan bertambah.
Uraian lengkap berdasarkan urutan Etno-STEM (Etno-sains, Etno-
Technology, EtnoEngineering, Etno-Mathematics
1. Sains Ilmiah
a. Nama Ilmiah Tepung Ketan
Salah satu varietas padi yang termasuk dalam Family Graminae yaitu
beras ketan putih. Beras ketan putih memiliki nama ilmiah Oryza Sativa
Glutinosa dan pada sebutir berasnya terdiri dari zat pati (sekitar 80-85%).
Dalam beras ketan putih terdapat dalam endosperma yang tersusun oleh
granula-granula pati yang berukuran 3-10 milimikron. Salah satu
kandungan yang ada dalam tepung ketan adalah amilosa. Jenis beras yang
memiliki kandungan amilosa rendah, apabila beras tersebut dimasak akan
menghasilkan hasil yang lembek dan lunak. Hal ini yang menjadikan
tepung ketan digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan kue
klepon.
b. Nama Ilmiah Tepung Tapioka
Tepung tapioka atau sering disebut tepung kanji merupakan tepung
yang terbuat dari sari pati ketela pohon yang memiliki nama ilmiah Manihot
Utilissima. Tepung tapioka memiliki karakteristik yang unik yaitu termasuk
tepung yang bebas protein dan gluten serta tekstur tepung ini sangat halus,
cenderung susah untuk digenggam dan kesat sehingga saat digenggam
akan menimbulkan bunyi, hal tersebut yang membedakan tepung tapioka
7
dengan tepung lainnya. Pada kegiatan sehari-hari, tepung tapioka sering
digunakan dalam pembuatan berbagai jenis makanan, misalnya seperti
cimol, cilok, bakso, hingga jajanan pasar seperti kue klepon.
c. Nama Ilmiah Gula Jawa
Gula yang beredar di Indonesia ada dua jenis, yaitu gula putih
seperti gula pasir dan gula batu yang terbuat dari tebu serta gula merah
seperti gula aren, gula kelapa dan gula enan. Pada pembuatan kue klepon
ini menggunakan jenis gula merah yaitu gula jawa. Gula jawa merupakan
gula yang didapatkan melalui proses penyadapan air nira dari pohon
kelapa yang memiliki nama ilmiah Cocos Nucifera. Gula jawa digunakan
sebagai isian untuk kue klepon karena fruktosa dan sukrosa yang
terkandung pada gula jawa cukup tinggi sehingga dapat memberikan cita
rasa manis yang alami.
d. Nama Ilmiah Daun Pandan
Indonesia termasuk wilayah tropis yang terdapat banyak tanaman
hias dan tanaman lainnya dari berbagai spesies tumbuh dengan subur.
Salah satunya yaitu pandan wangi yang memiliki nama ilmiah Pandanus
Ammaryllifolius. Pandan wangi memiliki kelebihan yaitu dapat dijadikan
sebagai tambahan pewangi makanan agar makanan menjadi lebih harum,
selain itu juga dapat dijadikan sebagai pewarna alami makanan. Pada
pembuatan klepon ini, daun pandan direbus bersama air dan nantinya ai
tersebut digunakan untuk merebus klepon.
2) Teknologi
a) Proses pembuatan klepon menurut aturan
Tabel 1.1 Proses Pembuatan Klepon
No. Tahapan Proses Gambar
Pembuatan
1. Persiapan alat-alat
dan bahan.
8
2. Memasukkan tepung
ketan, tepung kanji,
dan garam ke dalam
baskom.
9
3. Menuangkan air ke
dalam baskom berisi
tepung sedikit demi
sedikit. Jika sudah
tidak panas uleni
menggunakan tangan
hingga adonan tidak
lengket dan bisa
dibentuk.
4. Ambil sedikit adonan
lalu isi dengan gula
jawa dan bentuk
bulat. Usahakan agar
adonan menutupi
semua gula jawa agar
tidak bocor saat
direbus.
10
5. Masukkan klepon jika
air berisi pandan
sudah mendidih.
Tunggu hingga
klepon mengapung
dan tiriskan.
6. Tunggu klepon agar
dingin terlebih
dahulu, lalu taburi
dengan kelapa parut.
Kemudian letakkan
di piring.
7. Klepon sudah siap
untuk sajikan
maupun dijual.
Sumber : Koleksi Pribadi
b) Proses pemasakan menurut aturan
Dalam memasak kue klepon harus menyiapkan air rebusan, saat
merebus air usahakan api kompor sedang dan air sudah diberi daun
pandan. Dalam memasak usahakan gula jawa tertutup dengan
11
sempurna karena jika ada gula jawa yang tidak tertutup akan membuat
gula jawa keluar dari kue klepon. Saat membuat adonan kue klepon
jangan menuangkan air yang terlalu panas karena akan membuat
adonan menjadi lengket, jika sudah begitu adonan tidak akan bisa di
bentuk. Maka usahakan agar air tidak terlalu panas.
3) Teknik (Engineering)
a) Proses Pembentukan Klepon
Saat pembentukan kue klepon dengan menggunakan tangan,
usahakan jangan sampai kue klepon bocor, yang dimaksud bocor di sini
adalah gula jawa tidak tertutup dengan sempurna dengan adonan. Jika
kue klepon tidak tertutup sempurna mengakibatkan gula jawa keluar
dari adonan.
b) Proses Perebusan Kue Klepon
Saat merebus kue klepon harus menggunakan api sedang pada
kompor. Air rebusan harus diberi daun pandan agar kue klepon lebih
harum. Jika mau merebus tunggu air hingga mendidih, setelah itu
masukan kue klepon, tunggu hingga klepon mengapung, setelah itu
baru bisa diangkat dan tiriskan, jika mau melaburi dengan kelapa parut
tunggu hingga kue klepon dingin terlebih dahulu. Jangan rebus kue
klepon terlalu lama.
4) Matematika
a) Perhitungan Untung dan Rugi
Perhitungan untung dan rugi dalam sekali pembelian bahan. Dalam
sekali penjualan dapat menjual 20 bungkus klepon dengan harga satu
bungkusnya Rp3.000,-Jika dalam sekali pembelian bahan mencapai
Rp22.000,- dan bahan-bahan yang tidak terduga Rp15.000,- jadi total
Rp37.000,-. Maka keuntungan dari sekali pembelian bahan adalah
Rp37.000,-.
20 x Rp.3.000 = Rp60.000 – Rp.37.000
Tidak menutup kemungkinan untuk pembeli merasa bosan membeli
klepon. Jika sepi pembelian klepon bisa menurun menjadi 10 bungkus
atau pun bisa kurang. Jika seperti itu akan rugi setengah dari biasanya.
b) Penggunaan Komposisi Bahan
Pembuatan klepon cukup mudah hanya perlu sedikit bahan.
Komposisi yang di perlukan yaitu; tepung ketan, tepung tapioka, garam,
12
gula jawa, kelapa parut, dan daun pandan. Diperlukan 200gr tepung
ketan, 1sdm tepung tapioka, garam secukupnya, gula jawa secukupnya
dan kelapa parut secukupnya untuk membaluri bagian luar klepon.
Pandan merupakan komposisi saat perebusan
Hasil wawancara dengan pembuat klepon
Yulia : “Bagaimana Ibu tahu cara membuat klepon ini?”
Ibu : “Ibu belajar dari YouTube, Ibu melihat-lihat resep yang ada di
YouTube.”
Yulia: “Apakah saat pertama kali Ibu mencoba membuat kue klepon ini
langsung berhasil?”
Ibu : “Ya tentu tidak, Ibu mencoba resep ini dua kali, karena saat pertama
kali membuat kue klepon ini ibu ada kesalahan. Saat itu Ibu
memasukkan air terlalu panas kedalam tepung jadi tepungnya lengket
banget dan tidak bisa di bentuk.”
Yulia : “Apa lagi yang membuat kita gagal saat memasak kue klepon
Bu?”
Ibu : “Kamu jangan memasak kue klepon terlalu lama dan juga saat
membentuk klepon gula jawa harus tertutup sempurna.”
Yulia : “Mengapa Ibu tidak menjual kue klepon ini untuk pekerjaan
sampingan?”
Ibu : “Ya karena Ibu tidak ada waktu untuk membuat klepon, karna ibu
bekerja sudah dari jam 7 pagi hingga jam 7 malam.”
Proses pembuatan klepon bisa dilihat di laman youtube berikut :
https://youtu.be/5Pslp028CRY
13
Gambar 1.2 Tampilan Pembuatan Klepon di YouTube
TEMA 2
Pembelajaran Berbasis Etno-STEM dengan Tema
“Pembuatan Tape Singkong Semarang”
Oleh :
Shofi Asfika
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
An Nisa Az Zahra Anindya Putri
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Andina Isna Ghani Saputri
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Cindra Pradena
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Dara Ayu Prasetyani
14
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Pada semester ini dalam kondisi pandemi, kelompok kami
mendapat ilmu serta pengalaman yang luar biasa dan menyenangkan,
kami diberi tugas untuk membuat suatu produk yang diambil dari kearifan
lokal yang berada di masyarakat di sekitar tempat tinggal kami yaitu di
daerah Semarang, Jawa Tengah. Kami memilih tema yaitu membuat
produk tape Singkong. Produk ini dapat diterapkan pada pembelajaran
sekolah dasar kelas tinggi.
Tape merupakan makanan tradisional yang cukup digemari di
masyarakat Semarang. Melalui pengamatan dan wawancara kepada
narasumber, produk tape singkong juga dapat menjadi olahan industri
rumah tangga yang menguntungkan. Dalam proses pembuatannya
terdapat bioteknologi tradisional. Namun bioteknologi tradisional masih
belum dilestarikan karena terkendala oleh masalah, diantaranya kondisi
cuaca dan persaingan antar makanan masa kini. Oleh karena itu kami
membuat tape singkong Semarang dengan ciri khas tape berwarna agak
kehijau-hijauan dan tentunya tidak merubah kearifan lokal yang ada.
Semoga produk dan hasil pengamatan kami dapat membawa
pengetahuan dan pemahaman bagi kita semua tentang Pembuatan tape
Singkong Semarang dan diharapkan menjadi bahan ajar yang bermanfaat
untuk siswa SD di kelas tinggi serta dapat melestarikan kearifan lokal yang
ada di sekitar tempat tinggal kita semua.
15
Gambar 2.1 Skema Etno-STEM dengan Tema Pembuatan Tapai
Tape merupakan makanan tradisional yang berasal dari hasil fermentasi
dengan ragi. Tape yang baik memiliki beberapa ciri - ciri seperti memiliki
aroma yang harum, legit, lezat dan tidak mengandung alkohol terlalu
banyak. Penamaan tape di setiap daerah berbeda - beda berdasarkan
dengan nama dari bahasa daerah tersebut, seperti peyeum dari sunda atau
tape pulut yang berasal dari malaysia.
Pada dasarnya bahan utama untuk pembuatan adalah bahan utama
yang mengandung karbohidrat tinggi (ubi, beras, jagung) dan ragi. Bahan
yang akan saya gunakan untuk membuat tape kali ini adalah singkong,
karena singkong masuk dalam kategori bahan pangan yang mengandung
karbohidrat tinggi. Alasan lainnya adalah karena singkong terjangkau dan
mudah untuk ditemui dipasar tradisional.
Fermentasi tape dipengaruhi oleh kerja ragi pada saat proses peragian
dengan cara membalurkan ragi kepada singkong yang sudah direbus
setengah matang, yang ada ragi tersebut bereaksi dengan cara memecah
pati singkong menjadi molekul - molekul yang lebih sederhana.
Keberhasilan fermentasi dipengaruhi dengan bahan baku yang baik dan
cara fermentasi yang bersih dan steril.
16
Uraian lengkap berdasarkan bidang kajian keilmuan sesuai kurikulum
yang telah ditugaskan
1. Materi dan Perubahan
Bahan utama pembuatan tape singkong adalah umbi kayu / nama
lainnya singkong yang merupakan akar panjang dari pohon yang memiliki
fisik bergaris tengah yang berukuran 2 sampai 3 cm dengan panjang 50
hingga 80 cm tergantung pada jenis tanamannya. Umumnya berwarna
putih atau kekuningan. Singkong termasuk umbi yang dapat bertahan
lama meski disimpan tanpa lemari pendingin, ciri - ciri kerusakan singkong
ditandai dengan timbulnya warna biru keunguan pada singkong yang
bersifat racun bagi manusia.
Tanaman ini bersifat keras saat belum diolah, setelah diolah
singkong mengalami perubahan menjadi lunak. Perubahan ini terjadi
karena proses pengukusan dimana singkong akan menyerap uap air
sehingga singkong memuat kadar air yang lebih banyak. Tak hanya itu,
proses fermentasi dengan bantuan ragi sehingga membuat terjadi reaksi
kimia didalamnya juga mempengaruhi tingkat kelunakan dan memberikan
rasa manis dan masam pada singkong.
Perubahan kimia tersebut menghasilkan zat baru, karena terjadi
reaksi antara ragi yang mana merupakan jamur dan singkong. Proses
tersebut dimulai saat jamur ragi memakan glukosa pada singkong,
sehingga singkong menjadi lunak dan ragi (saccharomyces cerevisiae)
menghasilkan enzim yang berguna untuk memecah pati singkong menjadi
glukosa, hal tersebut yang membuat tape singkong terasa manis walaupun
tanpa diberi gula.
2. Tumbuhan Berpembuluh
Singkong adalah salah satu bahan utama dalam pembuatan tape
singkong. Singkong memiliki karakteristik keras dengan daging buah yang
berwarna putih atau kuning. Singkong cukup mudah dibudidayakan dan
memiliki manfaat yang sangat banyak, tak hanya umbinya yang
dimanfaatkan sebagai panganan pengganti beras, daun singkong pun
dapat diolah menjadi panganan pendamping sebagai sayur atau lauk.
Singkong termasuk tumbuhan berpembuluh, sehingga singkong memiliki
sistem pembuluh yang jelas yang berfungsi untuk menyalurkan zat - zat
yang dibutuhkan tubuh tumbuhan seperti zat hara dan nutrisi lainnya.
Klasifikasi singkong dalam tumbuhan berpembuluh termasuk
dalam tumbuhan berbiji, yang artinya singkong berkembang biak secara
generatif menggunakan biji yang berasal dari bunga. Tumbuhan berbiji
memiliki klorofil pada daun yang berfungsi untuk proses fotosintesis dan
akar yang terletak dalam tanah.
3. Bioteknologi
Bioteknologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang
makhluk hidup (bakteri, virus, jamur) dan manfaatnya dengan tujuan
17
untuk menghasilkan suatu produk barang atau jasa. Pembuatan tape
singkong termasuk dalam jenis Bioteknologi Hijau/Green Biotechnology
yang mana merupakan bioteknologi dibidang pertanian atau peternakan
yang memiliki tujuan untuk menciptakan suatu makanan yang memiliki
kandungan gizi yang lebih tinggi. Dalam proses pembuatan tape singkong
menggunakan teknik bioteknologi konvensional karena alat yang
digunakan untuk menciptakan suatu produk sangat sederhana, dengan
menggunakan ragi yang akan aktif menjadi enzim dan berubah pati
singkong menjadi glukosa sehingga menimbulkan rasa manis pada tape
singkong.
4. Suhu dan Kalor
Suhu adalah suatu ukuran yang digunakan untuk menyatakan
derajat panas atau dinginnya suatu benda, sedangkan kalor merupakan
energi yang berpindah dari benda yang bersuhu tinggi menuju benda yang
bersuhu rendah. Pembuatan tape singkong dipengaruhi perubahan suhu
saat singkong masuk pengukusan suhu singkong akan naik, hal itu
dikarenakan panas api (kalor). Perubahan suhu juga terjadi saat
pendinginan tape singkong, terjadi penurunan suhu. Artinya perubahan
suhu sebanding dengan kalor yang diterima benda.
5. Kewirausahaan
Kewirausahaan adalah kemampuan seseorang untuk
menunjukkan kreativitas dengan ide tersendiri yang berdampak positif
bagi dirinya atau orang disekitarnya.
Selain memiliki manfaat dibidang pangan dan kesehatan, tape
singkong termasuk alternatif untuk berwirausaha. Karena angka
permintaannya tinggi hal itu menyebabkan laba yang diperoleh untuk
sekali produksi tinggi. Dalam sekali produksi tape singkong menghasilkan
pendapatan sekitar Rp50.000,- dengan modal produksi Rp25.000,-. Artinya
laba yang dihasilkan dalam sekali produksi yaitu Rp25.000,- jika
dipersentasekan sebesar 100%.
Uraian lengkap berdasarkan urutan EtnoSTEM (Etno-sains, Etno-
Technology, Etno-Engineering, Etno-Mathematics sesuai yang telah
ditugaskan ! (bila diperlukan diperbolehkan menggunakan skema dan
tabel)
1. Sains Ilmiah
a. Klasifikasi singkong
Klasifikasi bahan utama pembuatan tape singkong :
Nama Indonesia : Singkong
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
18
Ordo : Euphorbiaceae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot escule
b. Morfologi Singkong
Singkong atau Manihot esculenta adalah bahan utama dalam
pembuatan tape singkong. Singkong termasuk dalam famili Euphorbiaceae
memiliki batang berkayu yang dapat tumbuh hingga ketinggian 1 - 4 m.
Singkong termasuk jenis daun menjari dengan warna hijau dan
mempunyai tangkai daun memanjang yang berwarna merah keunguan,
Bunga pada tanaman singkong muncul di ketiak cabang yang memiliki
umur kurang dari 4 minggu.Akar daun singkong terdapat dalam tanah
yang memajang sekitar 50 - 60 cm yang berfungsi untuk menyimpan
cadangan makanan yang mana jika sudah menyimpan cukup banyak akan
membesar yang biasa disebut dengan umbi singkong.
c. Nama latin ragi tape
Ragi yang digunakan dalam pembuatan tape singkong memiliki
nama latin Saccharomyces cerevisiae
d. Kandungan dalam ragi tape
Ragi yang digunakan dalam pembuatan tape singkong adalah jenis
ragi halus yang berbentuk kepingan yang terbuat dari tepung beras. Di
Dalam ragi tape memiliki kandungan mikroorganisme seperti kapang,
Amylomyce rouxii, mucor sp dan Rhizopus sp, khamir saccharomycopsis
fibuligera, Saccharomycopsis malanga, Phichia buttonii, Saccharomyces cerevisiae
dan basilu sp. Kedua mikroorganisme tersebut bekerja dalam proses
fermentasi singkong yang mana menghasilkan enzim yang berguna untuk
memecah pati singkong menjadi gula yang lebih sederhana. Menurut
Aswan (2004) kandungan mikroorganisme yang ada didalam ragi tape
dapat diklasifikasikan menjadi 5 kelompok seperti :
Tabel 2. 1 Jenis Mikroba Yang Terdapat Dalam Ragi tape
Jenis Mikroba Fungsi
Kapang Mucor Menghasilkan sakarida dan
Amilolitik Rhizopus
Amilomyces cairan
Menghasilkan sakarida dan
cairan
Menghasilkan sedikit
sakarida dan cairan
19
Endomycopsis Menghasilkan sakarida dan
bau yang lemah
Khamir
Amilolitik
Kahamir Saccharomyces - Menghasilkan alkohol
Amilolitik N onHansenula
- Menghasilkan bau
Enycopsis menyegarkan
Candida
- Menghasilkan bau yang khas
- Menghasilkan bau yang khas
Bakteri Asam - Pediococcus - Menghasilkan asam laktat
Laktat
Bakteri - Bacillus - Menghasilkan sakarida
Amilolitik
Sumber : Aswatan 2004
e. Reaksi Kimia Fermentasi
Dalam proses pembuatan tape singkong terjadi proses fermentasi
yang mengubah pati singkong / karbohidrat menjadi gula yang
selanjutnya diubah kembali menjadi alkohol, karbondioksida dan energi.
Hal itu akan menyebabkan perubahan fisik pada singkong yang berubah
menjadi lunak walaupun dikukus setengah matang, timbulnya rasa manis
dan asam walau tanpa diberi perasa dan dihasilkan bau khas tape.
Berikut adalah penjabaran proses fermentasi pada tape singkong :
Glukosa(C6H12O6) -> 2 etanol(C2H5OH) + 2 karbondioksida( CO2) +
2ATP(energi)
2. Teknologi
20
Tabel 2.2 Proses pembuatan tape :
No Keterangan Gambar
1 Memilih singkong yang
bagus, dilihat dari tanah yang
masih menempel yang
menandakan singkong baru
saja dicabut atau dipanen
2 Mengupas singkong
3 Memotong singkong
21
4 Mengerok daging
singkong, dengan tujuan
agar proses pengragian /
fermentasi dapat berjalan
dengan maksimal dan
cepat
5 Mencuci singkong,
pencucian dilakukan
berulang kali dengan
tujuan agar kotoran pada
singkong hanyut dalam
air.
6 Pengukusan singkong
22
7 Pendinginan atau
pengirisan singkong
setelah dikukus
8 Melumuri singkong
dengan ragi dengan rata
9 Memasukan singkong
pada wadah yang sudah
dilapisi dengan daun
pisang
23
10 Fermentasi singkong
selama 2 - 3 hari
3. Teknik
a. Proses pencucian singkong
Proses pencucian dilakukan menggunakan air mengalir dan
dilakukan secara berulang dengan tujuan untuk memastikan singkong
benar - benar bersih sehingga kotoran yang dapat mengganggu proses
fermentasi dapat hilang terbawa air.
b. Proses lama pengukusan
Dalam pembuatan tape singkong lamanya saat proses pengukusan
mempengaruhi tekstur pada tape, singkong akan menyerap air lebih
banyak apabila terlalu lama mengukus yang mana air tersebut tidak dapat
hilang dengan di dinginkan saja, hal itu dapat menjadi kegagalan dalam
pembuatan tape.
Pendinginan singkong setelah dikukus langkah awal sebelum ragi di
taburkan di dalam penataan singkong ke dalam wadah.
c. Proses pendinginan
Proses pendinginan atau penirisan singkong setelah Proses
pengukusan bertujuan untuk mengurangi kadar air yang diserap singkong
saat proses pengkukusan.
d. Proses peragian
Proses peragian adalah kunci utama dalam pembuatan tape. Ragi
yang jual di pasaran biasanya berbentuk kepingan. Saat proses peragian,
ragi yang berbentuk kepingan tersebut dihancurkan hingga halus dan
ditaburkan secara merata pada singkong kukus yang sudah didinginkan.
Saat proses peragian pastikan wadah yang digunakan bersih dan terbebas
24
dari minyak, sabun, udara dan air. Yang selanjutnya dilanjutkan pada
proses fermentasi yang memakan waktu 2 - 3 hari.
4. Matematika
A. Perhitungan komposisi bahan
Dalam pembuatan tape singkong membutuhkan alat dan bahan seperti :
1. Singkong = Rp2.000/kg
2. Ragi = Rp9.000/25 keping
3. Air = Rp5.000/20L
4. Gas = Rp20.000,-
5. Daun pisang = Rp2.000/ikat
6. Plastik = Rp8.000,-
7. Wadah (tersedia di rumah)
8. Kukusan (tersedia di rumah)
Dalam sekali produksi membutuhkan singkong sebanyak 5 kg
dengan komposisi 1 keping ragi setiap 1 kg singkong, membutuhkan air
sekitar kurang lebih 3L untuk mengukus 5 kg singkong selama 20 menit,
daun pisang yang diperlukan 1 ikat untuk mengungkep singkong, wadah
untuk tempatnya dan plastik untuk kemasan tape singkong saat dijual.
B. Perhitungan laba rugi
Dalam satu kali produksi memerlukan biaya sebesar :
1. Singkong @Rp2.000 x 5 = Rp 10.000,-
2. Ragi
180,- @Rp9.000(isi 25 keping) / 5keping = Rp
3. Air
4. Gas @Rp5.000(satu galon/20L) / 3L = Rp 750,-
5. Daun pisang = Rp 1.000,-
6. Plastik = Rp 2.000,-
8.000,-
7. Wadah = Rp
8. Kukusan
Biaya produksi = Rp 23.550,-
Biaya tenaga kerja =-
Total harga jual = Rp 23.550,- = 25
plastik/200gram Produksi
Harga pokok per produk = Rp 945,-
25
Harga jual = Harga pokok per produk + laba yang diinginkan
= 945 + (100 % x 945)
= 945+945
= 1890 dibulatkan menjadi 2000
Total pendapatan dari satu kali produksi adalah Rp 2.000 x 25 = Rp50.000,-
Sistem yang digunakan dalam penjualan tape singkong adalah sistem titip
jual perhitungan kerugian dihitung dari retur barang atau pengembalian
barang dari toko - toko yang bersangkutan.
Hasil pengamatan dan wawancara
Tabel 2.2 Pembuatan Tape Singkong
No Keterangan Foto
1. Proses pengupasan dan
pemotongan singkong
26
2. Proses pencucian singkong
dilakukan
2 - 3 kali
3. Proses pengukusan singkong
dilakukan ± 20 Menit hingga
warnanya berubah menjadi
kuning.
4. Proses pendinginan singkong
setelah dikukus
27
5. Proses peragian
6. Proses fermentasi dilakukan
selama 2 - 3 hari tanpa dibuka
7. Hasil tape singkong
Hasil wawancara
An Nisa : “Assalamualaikum saya An Nisa dari Universitas PGRI
Semarang ingin mewawancarai ibu tentang tape singkong, apakah boleh
Bu?”
Penjual : “Waalaikumsalam, silahkan Mbak.”
An Nisa : “Sudah berapa lama Ibu berjualan tape singkong?”
Penjual : “Kurang lebih satu tahun Mbak”
An Nisa : “Berapa harga per bungkusnya Bu?”
Penjual : “2000 rupiah saja Mbak.”
28
An Nisa : “Biasanya Ibu jual ke mana?”
Penjual : “Biasanya Ibu titipkan ke warung sayur dekat sini, di
toko kelontong atau angkringan.”
An Nisa : “Berarti sistemnya titip-jual gitu nggih Bu?”
Penjual : “Iya Mbak, biasanya ibu menitipkan di warung -
warung, nanti warungnya mengambil laba sendiri lalu kalau tidak laku
dikembalikan ke Ibu.”
An Nisa : “Apa saja yang dibutuhkan untuk membuat tape singkong
ini?”
Penjual : “Pastinya ragi dan singkong, lalu menggunakan daun
pisang untuk ungkapan.”
An Nisa : “Kira - kira berapa biaya modal untuk ibu berjualan tape
singkong ini?”
Penjual :” Singkongnya biasaya ibu ambil dari kebun mbak, tapi kalau
tidak ada ya beli di pasar sekilo biasanya Rp. 2000,-. Raginya
beli di pasar juga satu bungkus Rp. 9000,- isi 25 keping, daun
pisangnya satu ikat Rp. 3000 sama plastik 1kg an buat
bungkusnya Rp 8000,-.“
An Nisa : “Bisa dijelaskan kira - kira Ibu dalam pembuatan tape
singkong tersebut berapa banyak banyak
komposisinya serta harganya Bu?”
Penjual : “Boleh Mbak, singkongnya biasanya ibu pake 5 kg, ragi nya
pake 1 keping per kilo Mbak. Berarti Rp. 2000,- x 5 = Rp.
10.000,- untuk singkong + Rp 9000,- : 5 = Rp 1800,- untuk ragi
+ Rp 2000,-untuk daun pisang + plastik Rp 8000,- = Rp 21800,-
, ditambah gas dan air mungkin jadinya sekitar Rp. 25.000,- an
ya Mbak”
An Nisa : “Biasanya dengan komposisi segitu menjadi berapa bungkus
dan menghasilkan laba berapa Bu?”
Penjual : Ibu biasanya membungkusi tapenya sebanyak kurang lebih
200 gram Mbak, jadi dengan komposisi segitu ya bisa jadi 25
bungkus, ya kalau habis semua ya dapat Rp 50.000,- (Rp
2000,- x 25), kalau tidak ya dikembalikan.”
An Nisa :” Maaf Bu, apakah ibu pernah mengalami rugi?”
Penjual : “Alhamdulillah sih Mbak dikasih rezeki terus sama Allah”
An Nisa : “Bagaimana proses pembuatannya?”
29
Penjual : “Caranya pertama -tama bersihkan singkong dari kulitnya,
lalu dipotong - potong sesuai selera, kalau ibu biasanya
An Nisa potongnya kecil - kecil, setelah itu dicuci sampai bersih, Ibu
Penjual biasanya mengulanginya hingga 2 kali pencucian, setelah itu
An Nisa lanjut ke pengukusan, ini tidak terlalu lama hanya sampai
Penjual setengah matang kurang lebih 20 menit, sebelum peragian
An Nisa singkongnya kita dinginkan dulu, setelah dingin baru kita
Penjual taburi ragi yang sudah dihaluskan hingga merata kemudian
An Nisa ditutup selama 2 -3 hari.”
Penjual : “Apakah semua singkong bisa diolah menjadi tape Bu?”
: “Tidak Mbak, hanya singkong yang empuk saja. Kalau
singkong yang genyol (keras) itu nanti jelek kalo dibikin tape
singkong”
: “Apakah tape singkong ini bisa diolah kembali Bu?”
: “Bisa Mbak, bisa dijadikan tape singkong goreng, untuk
campuran es juga bisa, untuk campuran kue juga bisa dibuat
jadi bolu tape atau untuk kolak tape dan masih banyak lagi.”
: “Bisa dijelaskan Bu bagaimana rasa singkong setelah
difermentasi menjadi tape?”
: “Silahkan dicicipi Mbak, rasanya asam, rasa asamnya timbul
tergantung pada lama prosesnya, semakin lama
didiamkan semakin asam”
: “Terima kasih Bu sudah mengizinkan saya mewawancarai
ibu, semoga laris nggih bu, sehat selalu Bu.”
: “Sama - sama Mbak.”
6. Proses pembuatan tape singkong dapat dilihat pada laman :
https://youtu.be/sywIVWj0zfY
Gambar 2.2 Tampilan Pembuatan Tape di YouTube
30
TEMA 3
Pembelajaran Berbasis Etno-STEM dengan Tema
“Pembuatan Kerupuk Ikan Tenggiri Khas Desa Pengkol Jepara”
Oleh :
Nurul Qomariyah
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Sepfeira Anjelina
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Fitri Rohmatika Uyun Nihlah
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Wahyu Triasih
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Desy Riani Hafshah
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Situasi pendidikan di masa pandemi Covid- 19 sedang berlangsung
pembelajaran daring sejak 17 Maret 2020 hingga saat ini semester 4 2021.
Kelompok kami mendapatkan amanah serta tugas untuk pembuatan buku
karya tulis ilmiah yang berjudul "Kerupuk ikan tenggiri khas desa Pengkol
Jepara" materi yang kelompok kami ambil merupakan kearifan lokal yang
berada di masyarakat Pengkol, Jepara. Makanan kerupuk ikan adalah salah
satu hasil olahan dari ikan, di desa Pengkol, Jepara terdapat banyak
industri pembuatan kerupuk ikan tenggiri dan telah menjadi mata
pencaharian masyarakat Pengkol Jepara. Hal tersebut sesuai jika dikaitkan
dengan pembuatan perangkat pembelajaran tematik di sekolah dasar,
khususnya di kelas V tema 6 subtema 1
Kurang lengkap rasanya ketika kita makan nasi tanpa ada kerupuk.
Makanan yang memiliki cita rasa renyah ini menjadi kesukaan masyarakat
Indonesia. Meskipun ukuranya kecil, namun nyatanya masyarakat selalu
menjadikan kerupuk ini menjadi makanan pendamping dan makanan
penutup. Kerupuk memiliki rasa dan proses pembuatan yang beraneka
ragam. Salah satu kerupuk yang menjadi bahan praktikum kelompok kami
31
yaitu kerupuk tenggiri. Dari namanya kita pasti tahu, bahwa kerupuk ini
dibuat dengan bahan utama ikan tenggiri dan tepung tapioka. Ikan yang
memiliki kandungan protein hewani yang sangat tinggi dan kandungan
lemaknya rendah ini sangat baik dikonsumsi oleh semua orang, baik itu
anak-anak hingga orang dewasa.
Gambar 3. 1 Skema Etno-STEM dengan Tema Kerupuk Ikan Tengiri
Di desa Pengkol kabupaten Jepara banyak terdapat industri pembuatan
kerupuk ikan. Beraneka ragam kerupuk ikan yang diolah disana. Salah
satunya yaitu kerupuk ikan tenggiri yang akan menjadi bahan praktikum
kelompok kami.
1. Vertebrata
Kelompok hewan yang memiliki tulang belakang adalah vertebrata. Ruas –
ruas tulang yang berderet panjang punggung mulai dari leher hingga ekor
disebut dengan Tulang Belakang. Sistem saraf yang melindungi dan
sebagai penyokong tubuh merupakan fungsi dari tulang belakang. Hewan
vertebrata juga dapat ditandai dengan sistem otot yang terutama terdiri
dari massa yang digabungkan secara bilateral. Sistem respirasi atau
pernapasan menggunakan insang atau paru-paru. Di kutub utara dan
antartika ke daerah tropis terdapat Spesies dari beberapa kelas. Dalam
ukurannya, vertebrata berkisar mulai dari ikan terkecil hingga gajah dan
paus (hingga 100 ton), hewan terbesar yang pernah ada.
Ciri-ciri vertebrata
Kelompok vertebrata memiliki ciri – ciri sebagai berikut, yakni:
32
1) Tubuh avertebrata terdiri dari 2 pasang alat gerak, kepala, dan badan.
2) Ekor dimiliki oleh beberapa Spesies.
3) Kelenjar pencernaan melengkapi Sistem pencernaan yang memanjang
dari mulut hingga anus
4) Ginjal merupakan alat ekskresi yang menutup Sistem peredaran darah.
5) Paru-paru, kulit, atau insang merupakan alat pernafasan
6) Memiliki sepasang alat reproduksi yang terdiri dari di kanan dan di kiri
7) Sistem hormon dapat dihasilkan oleh sistem endokrin
8) Sistem saraf tersusun atas sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang
belakang) dan sistem saraf tepi (serabut saraf)
9) Jantung, dan sel-sel dara termasuk dalam Sistem peredaran darah
10) Sistem gerak tersusun dari rangka yang berguna sebagai alat gerak pasif
dan otot sebagai alat gerak.
Klasifikasi vertebrata
Hewan vertebrata dapat dikelompokan menjadi lima jenis. Pengelompokan
tersebut dikelompokkan berdasarkan penutup tubuh, alat gerak, dan cara
perkembangbiakannya.
Berikut klasifikasi hewan vertebrata:
1. Ikan (pisces)
Ikan termasuk salah satu jenis hewan vertebrata. Karena rangka yang
tersusun dari tulang keras yang mengandung kalsium fostat biasanya
dimiliki oleh ikan. Ikan juga merupakan binatang yang hidup didalam air,
baik di air tawar atau air asin.
a. Ikan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
b. Tubuh ikan biasanya dilindungi oleh sisik.
c. Ikan dapat bergerak dengan menggunakan sirip dan ekor.
d. Ikan memiliki gurat sisi yang berfungsi untuk menentukan arah dan
posisi pada saat berenang.
e. Ikan tidak mempunyai daun telinga.
f. Ikan dapat bernapas dengan menggunakan insang.
g. Labirin merupakan alat bantu yang biasa di gunakan oleh ikan yang
hidup di habitat lumpur.
h. Jantung ikan terdiri dari dua ruang.
i. Ikan biasanya berkembangbiak dengan cara bertelur.
j. Ikan melakukan perkembangbiakan melalui pembuahan terjadi di
luar tubuh induk (fertilisasi eksternal).
k. Ikan biasanya berdarah dingin.
2. Ikan Burung (aves)
Burung ini memiliki bulu yang menutupi tubuhnya dengan alat gerak
berupa kaki dan sayap. Paruhnya yang terbuat dari zat keratin. Meskipun
33
aves sering disebut sebagai hewan yang bisa terbang. Ada beberapa jenis
hewan yang tergolong dalam aves tetapi tidak bisa terbang.
a. Hidup di darat sebagai alat Penglihatan, umumnya mata terdapat di
sisi bagian kepala
b. Alat pendengaran burung melalui frekuensi suara.
c. Zat keratin yang membentuk rambut dan kuku.
d. Burung bernafas dengan paru paru yang berhubungan dengan
pundi - pundi udara sebagai alat pernafasan tambahan
e. Jantung yang memiliki 4 ruang, burung berkembang biak secara
bertelur. Telur tersebut memiliki zat kapur sehingga telur aman dari
serangan hewan lain
f. Pembuahan terjadi di dalam tubuh induknya (fertilasi internal)
g. Burung aves berdarah panas
3. Amphibi
Amphibi merupakan hewan vertebrata yang mempunyai keunikan.
Amphibi hidup di 2 tempat air dan darat. Berikut siklus hidup amphibi:
a. Pada saat fase larva amphibi hidup di air dan darat maupun tempat
- tempat lembab pada saat fase dewasa
b. Tubuh hewan amphibi ditutupi kulit yang licin serta tidak bersisik
c. Hewan amphibi memiliki 3 ruang untuk jantung yang dapat
berkembang biak dengan menghasilkan telur yang bercangkang
d. pembuahan terjadi diluar tubuh induk (fertilasi eksternal) di air atau
tempat yang lembab
e. Spesies kelompok amphibi ini mengalami perubahan bentuk tubuh
selama proses pertumbuhan dan perkembangnya perubahan ini di
kenal dengan proses metamorfosis
f. Amphibi merupakan hewan yang berdarah dingin
4. Reptil
Reptil merupakan hewan yang memiliki kulit kering, keras dan bersisik
yang tersusun dari zat tanduk (keratin). Sisik yang terdapat pada reptil
dapat digunakan untuk menghindari kekeringan.
Hewan reptil memiliki ciri:
a. Hidupnya di darat, tetapi ada beberapa yang hidupnya di air.
b. Bergerak menggunakan kaki atau perut.
c. Bernapas menggunakan paru-paru.
d. Memiliki ruang sebanyak 4 pada jantung yang sekatnya kurang
sempurna.
34
e. Berkembangbiak dengan cara bertelur dan terjadi pembuahan di
dalam tubuh sang induk.
f. Berdarah dingin.
5. Mamalia (Hewan yang menyusui)
Jenis hewan mamalia dapat menghasilkan susu untuk makanan anaknya.
Susu dapat dihasilkan pada kelenjar yang terdapat di daerah dada atau
perut. Selain menghasilkan susu, mamalia juga memiliki rambut, dan
memiliki tulang telinga tengah sebanyak tiga. Hewan mamalia dapat hidup
di darat, tetapi juga ada yang hidup di air.
Hewan mamalia memiliki ciri-ciri:
a. Sebagian besar hidup di darat, tetapi juga ada yang hidupnya di air
seperti lumba lumba dan paus.
b. Memiliki struktur tubuh yang sesuai cara hidupnya, misalnya ada
yang berenang, berlari, terbang, melompat, meluncur, atau
menggali.
c. Pada kulit mamalia terdapat kelenjar minyak dan kelenjar keringat.
d. Bernapas menggunakan paru-paru dan memiliki diafragma.
e. Memiliki 4 ruang pada jantung yang sudah sempurna.
f. Otak yang berkembang lebih bagus daripada yang lain.
g. Berkembangbiak dengan cara melahirkan.
h. Terjadi pembuahan dalam tubuh sang induk.
i. Berdarah panas.
2. Perubahan Wujud Benda
Perubahan wujud benda terdiri dari mencair, membeku, menguap,
mengkristal. Menyublim dan mengembun.
1. Perubahan Wujud Benda Mencair
Mencair yaitu perubahan wujud benda yang semula padat menjadi benda
cair. Mencair juga biasa disebut meleleh. Benda padat dapat mencair akibat
terkena panas.Contoh perubahan wujud benda mencair yaitu ketika kita
memakan es krim di tempat yang panas maka es krim akan mencair.
2. Perubahan Wujud Benda Membeku
Membeku yaitu kebalikan dari mencair, benda cair yang berubah wujud
menjadi benda padat. Membeku terjadi karena adanya perubahan suhu
yang awalnya panas menjadi dingin.Contoh peristiwa membeku yaitu air
yang diletakkan didalam lemari es maka akan berubah menjadi es batu.
35
3. Perubahan Wujud Benda Menyublim
Menyublim yaitu perubahan wujud benda yang semula padat berubah
menjadi gas. Benda padat yang menyublim tidak melalui peristiwa
pencairan karena langsung menjadi gas. Contoh peristiwa menyublim
yaitu apabila kita meletakkan kapur barus didalam kamar lama kelamaan
akan mengecil lalu habis.
4. Perubahan Wujud Benda Menguap
Menguap yaitu perubahan benda yang awalnya cair berubah menjadi
benda gas. Menguap sama seperti mencair yang terjadi karena perubahan
suhu yang awalnya dingin menjadi panas. Contoh penguapan yaitu air
yang dimasak dan mendidih maka air yang dimasak berubah menjadi gas
apabila kompor tidak dimatikan air akan habis.
5. Perubahan Wujud Benda Mengembun
Mengembun yaitu perubahan yang awalnya benda gas berubah menjadi
benda cair. Contoh peristiwa mengembun yaitu ketika hujan kaca di dalam
mobil akan basah dan berair.
6. Perubahan Wujud Benda Mengkristal
Mengkristal yaitu perubahan wujud benda yang awalnya cair berubah
menjadi padat yang terjadi karena adanya pengaruh perubahan senyawa
dalam benda. Contoh peristiwa mengkristal yaitu ketika kita memiliki
madu di dalam botol maka di sekitar tutup botol terdapat butiran gula,
maka butiran gula tersebut yang disebut dengan mengkristal
1. Etno Sains
1. Kandungan Nutrisi pada Ikan Tenggiri
Ikan tenggiri merupakan salah satu ikan laut yang diminati masyarakat
paling banyak, karena dapat diolah menjadi jenis makanan yang beragam.
Ikan tenggiri cukup mahal dan mempunyai rasa yang sangat enak. Di
dalam daging ikan tenggiri terdapat banyak nutrisi. Kandungan nutrisi
pada ikan tenggiri membuat ikan tenggiri menjadi ikan yang menyehatkan
apabila dikonsumsi secara rutin. Berikut ini merupakan ulasan nutrisi yang
terkandung dalam ikan tenggiri.
a. Omega-3
36
Hampir semua ikan memiliki kandungan omega-3. Omega-3 sangat
bermanfaat untuk membantu perkembangan dan pertumbuhan anak.
Bahkan, omega-3 baik dalam kesehatan dan mempertahankan fungsi otak,
sehingga jika rutin memakan ikan tenggiri dapat terhindar dari kepikunan.
b. Protein
Ikan dikenal mempunyai kandungan protein yang sangat tinggi, tidak
terkecuali pada ikan tenggiri. Bahkan, kandungan protein 100 gram
kacang-kacangan lebih rendah dibandingkan kandungan protein 100 gram
ikan tenggiri. Asam amino dan protein yang terkandung dalam ikan
tenggiri mudah dicerna tubuh, sehingga dapat dirasakan manfaatnya lebih
cepat pada manusia jika mengkonsumsi ikan tenggiri.
c. Mineral
Ikan tenggiri mengandung mineral seperti fosfor, zat besi, selenium, zinc,
dan yodium. Semua zat itu memberikan efek dalam tubuh manusia. Zat
besi memiliki fungsi mencegah anemia atau penurunan tekanan darah,
selenium dapat melindungi tubuh manusia dari radikal bebas, yodium
dapat membantu kinerja enzim dan hormon.
2. Komposisi Tepung Tapioka
Tepung tapioka merupakan salah satu jenis tepung yang terbuat dari ubi
kayu atau singkong yang diolah. Dibeberapa daerah tepung tapioka
memiliki sebutan yang berbeda seperti tepung singkong dan tepung kanji.
Tepung tapioka merupakan salah satu tepung yang sering digunakan
masyarakat dalam memasak atau membuat olahan.
Tepung tapioka pertama kali ditemukan di amerika selatan. Diperkuat
dengan kata tapi’oka yang apabila diartikan dari bahasa Brazil memiliki arti
makanan dari singkong atau cassava. Di Indonesia tepung tapioka sendiri
banyak digunakan ketika tahun 1980-an. Ketika itu pemerintah sedang
menggalakkan program penanaman makanan pokok seperti singkong dan
padi. Di setiap negara di belahan dunia tapioka memiliki nama yang
berbeda-beda seperti macaxeira, manioca, boba, mandioca dan yuca.
Tabel 3.1 Proses pembuatan kerupuk ikan tenggiri
No. Tahap Proses Gambar
Pembuatan
37
1. Mempersiapkan
bahan yang
dibutuhkan
2. Mencampur
bahan dengan
air panas sedikit
demi sedikit
lalu di campur
dan diuleni
hingga
tercampur
3. Setelah
tercampur lalu
dipadatkan
4. Bahan yang
sudah padat
dibungkus
dengan kain
dan diikat
38
5. Setelah
dibungkus lalu
dikukus
6. Setelah dikukus
lalu dijemur 30
menit sampai
sedikit
mengeras
7. Lalu dipotong-
potong dan
diletakkan
diatas nampan
untuk
dikeringkan
8. Setelah ditata
rapi di atas
nampan/tempa
t untuk
menjemur lalu
dijemur hingga
benar benar
kering
39
9. Setelah benar
benar kering
kerupuk siap
dikemas
3. Teknik (Engineering)
a. Proses lamanya pengukusan dan besar kecil api
Proses pengukusan berlangsung 1 jam saja dengan air yang harus stabil
tidak boleh terlalu besar dan terlalu kecil supaya mendapatkan tekstur
yang di inginkan.
b. Proses Membungkus Adonan Kerupuk Dengan Kain
Membungkus adonan yang sudah diuleni harus benar-benar rapat supaya
tidak ada air yang masuk kedalam adonan yang membuat kerupuk lebih
padat dan mengembang ketika digoreng.
c. Proses Lamanya Penjemuran
Proses penjemuran harus benar benar kering dijemur dibawah sinar
matahari selama 6 jam atau lebih apabila cuaca tidak mendukung.
4. Matematika
a. Perhitungan Untung Rugi
Perhitungan keuntungan dihitung satu kali produksi satu adonan. Satu kali
produksi menghasilkan 50 kg kerupuk.Untuk penjualan per kilo atau
setengah kilo. Setiap kilo dijual dengan harga Rp40.000,- sampai Rp50.000,-
. Setiap bungkus berisi ½ kg.
Apabila terjual semua maka 50 kg x Rp40.000,- = Rp2.000.000,- dengan
modal awal Rp700.000,- Maka mendapatkan untung sekitar Rp1.300.000,-.
b. Penggunaan Komposisi Bahan
Komposisi bahannya merupakan Tepung Tapioka dan ikan Tenggiri segar
yang tidak lupa bumbu bumbu pelengkap.
5. Wawancara
Setelah saya melakukan praktek di desa Pengkol saya melakukan
wawancara dengan Bapak Hasyim pemilik usaha kerupuk.
40
Desy : “Bagaimana asal usul usaha kerupuk Bapak?”
Bapak Hasyim : “Awalnya di sini memang desa produksi kerupuk
ikan khususnya kerupuk tenggiri terus nenek saya juga
membuka usaha kerupuk tenggiri kecil kecilan. Setelah itu
nenek saya memasarkan ke pasar di Bangsi dan di Keling
sampai akhirnya kerupuk buatan nenek saya mulai dikenal
banyak orang dan diberi merk kerupuk Jeha.”
Desy :” Bahan utama pembuatan kerupuk ini apa Pak?”
Bapak Hasyim : “Bahan utama kerupuk ini tentu saja tepung tapioka
dan ikan tenggiri. Ikan tenggiri yang kami pakai ikan
tenggiri segar langsung dari nelayan. Jadi nelayan yang
mendapatkan ikan tenggiri langsung disetor ke kami.”
Desy : “Apakah ada campuran lainnya Pak?”
Bapak Hasyim : “Campuran lainnya hanya garam dan bumbu bumbu
yang lainnya mbak seperti penyedap rasa.”
Desy : “Berapa modal awal yang dibutuhkan dalam pembuatan
kerupuk tenggiri ini Pak?”
Bapak Hasyim : “Modal awal sendiri sekitar Rp. 700.000,-“
Desy : “Dengan modal segitu kira kira dapat berapa kilogram
kerupuk Pak?”
Bapak Hasyim :” Kalau sekali pembuatan biasanya jadi kira-kira 2 karung
atau 50 kilogram kerupuk Mbak.”
Desy : “Bapak menjualnya per karung, perkilo atau bagaimana
pak? Dan dengan harga berapa?”
Bapak Hasyim : “Kami menjualnya perkilo mbak sekilo biasa kami
jual Rp 40.000,-“
Desy : “Biasanya sekali produksi ada berapa pegawai Pak?”
Bapak Hasyim : “Untuk sekali produksi kami ada 4 orang yang
memiliki tugas masing masing.”
Desy : “Untuk pengeringan butuh waktu berapa lama ya Pak?”
Bapak Hasyim : “Pengeringan tergantung dengan cuaca kalo matahari
terik ya satu hari sekitar jam 8 pagi sampai jam 2 siang tapi
kalau cuaca mendung bisa 2-3 hari.”
Desy : “Selama menjalankan bisnis kerupuk apakah pernah ada
hambatan?”
Bapak Hasyim : “Hambatannya itu ya cuaca mbak kalo musim hujan
lama keringnya. Dan saat pandemi corona ini kita juga
41
kesusahan jualnya. Yang biasanya produksi setiap hari
sekarang produksi 3 kali sehari bahkan seminggu sekali
karena stok masih banyak.”
Desy : “Biasanya kerupuk tenggirinya dijual kemana Pak?”
Bapak Hasyim : “Kerupuknya kita jual di toko depan rumah, disetor
ke pasar dan kadang kadang ada orang yang ambil buat
dijual lagi Mbak.”
Desy : “Sekali produksi kira kira untung berapa Pak?”
Bapak Hasyim : “Kalo sekali produksi kira kira untung Rp.
1.300.000,- Mbak.”
Desy : “Apakah bapak pernah mengalami kerugian?”
Bapak Hasyim : “Alhamdulillah selama menjalani bisnis ini turun
temurun saya tidak pernah mengalami kerugian Mbak.”
Desy : “Terima kasih waktunya ya pak terima kasih saya sudah
diijinkan untuk melihat proses pembuatan kerupuk tengiri
khas Pengkol.”
Video proses pembuatan kerupuk ikan tenggiri:
https://www.youtube.com/watch?v=_-i7QGPbUNs
Gambar 3.1 Tampilan Video Pembuatan Ikan Tengiri di Youtube
42
TEMA 4
Pembelajaran Berbasis Etno-STEM dengan Tema
“Gatot Sumber Energi”
Oleh :
Dewi Nur Aini
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Aditya Perdana
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Hanifa Nurul Putriana
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Mukti Cahyo Lestari
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Na’im Khoirudin
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Ketika semester ini berlangsung pada saat pandemi, kelompok kami
mendapatkan pengalaman baru yaitu mengunjungi sebuah industri rumah
tangga mengenai pembuatan gatot. Materi yang diambil oleh kelompok
kami ialah kearifan lokal yang berada di lingkungan masyarakat tempat
tinggal kami di daerah Blora, Jawa Tengah. Tema yang diambil adalah
produk gatot. Produk tersebut sesuai apabila dihubungkan dengan
perangkat pembelajaran tematik pada sekolah dasar, khususnya pada kelas
IV Tema 2 subtema 1 (Selalu Berhemat Energi/Sumber Energi)
Gatot adalah salah satu jenis makanan yang bahan pembuatannya
dari ubi kayu (singkong) yang dikeringkan. Namun, seiring dengan
perkembangan zaman saat ini masyarakat telah meninggalkan makanan
tradisional salah satunya yaitu gatot. Karena, gatot dianggap sebagai
makanan yang kurang layak dikonsumsi, gatot makanan orang miskin,
gatot makanan yang dikonsumsi karena terpaksa akibat persediaan beras
habis.
Untuk itu pada mata kuliah Pengembangan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam SD ini, kelompok kami berusaha mengubah pandangan
43
masyarakat mengenai gatot yang dipandang sebelah mata. Sehingga gatot
dapat memiliki nilai konsumsi dan daya jual yang tinggi. Selain itu, dapat
digunakan sebagai bahan ajar pada materi IPA kelas tinggi. Menambah
wawasan generasi muda untuk mengenal serta melestarikan kearifan lokal
yang berada di lingkungan masyarakat sekitar, khususnya daerah Blora,
Jawa Tengah.
Gambar 4.1 Skema Etno-STEM Pembuatan Gatot
Ulasan Singkat Sesuai Tema
Negara Indonesia termasuk negara yang prioritas masyarakatnya
mengkonsumsi beras. Kurang lebih 60% karbohidrat yang dikonsumsi
rakyat Indonesia adalah padi-padian. Padahal banyak sekali sumber
karbohidrat di negeri ini yang dapat dikonsumsi selain beras. Seperti ubi
jalar dan singkong. Masyarakat Indonesia beranggapan bahwa "belum
makan" jika belum mengkonsumsi nasi. Mereka berpendapat makan
singkong/ ubi jalar adalah ngemil/ makanan pendamping bukan makanan
utama meskipun sama-sama mengandung karbohidrat.
Di wilayah Jawa terdapat bahan makanan pokok yang berasal dari
singkong yaitu gaplek. Ada 5 macam bentuk gaplek beserta fungsinya yaitu
gaplek gelondong dan gaplek pellet untuk pakan ternak, gaplek chips
untuk bahan industri dekstrin, pati glukosa, dan gaplek tepung untuk
44
bahan makanan. Lebih dari 88, 20 gram karbohidrat yang dimiliki oleh
tepung gaplek. Tepung gaplek sendiri mempunyai kadar glukosa (gula)
yang rendah serta serat cukup tinggi, hal tersebut menjadi keunggulan
tepung gaplek dari sekian banyaknya karbohidrat yang lain. Sehingga
sesuai untuk sistem pencernaan manusia. Kandungan kalsium, fosfor serta
zat besi yang dimiliki tepung gaplek juga cukup tinggi. Ketersediaan energi
dan protein pada setiap wilayah sebenarnya telah memenuhi batas minimal
kebutuhan yang ada. Hanya saja, pada sebagian masyarakat masih
mengalami kekurangan protein dan kalori, dikarenakan daya beli
masyarakat yang rendah, dan pemahaman yang kurang dalam
menganalisis keragaman sumber bahan pangan pada lingkungan sekitar.
Materi Pendukung
a. Materi dan Perubahannya
Bahan utama dalam pembuatan gatot adalah singkong. Singkong
biasanya didapatkan dari seorang petani yang menanamnya di kebun,
ladang atau bahkan sawahnya. Untuk membuat gatot yang bagus juga
harus memilih jenis singkong yang bagus dan berkualitas. Singkong yang
bagus akan mengembang dan terasa empuk, diantaranya mempunyai ciri
ciri seperti; jika dipotong masih basah dan mudah retak, daging umbi
berwarna putih bersih dan mengkilap, memiliki tekstur yang halus serta
tidak ada bagian umbi yang keras, tidak kering dan tidak layu. Singkong
merupakan termasuk dalam perubahan kimia. Kimia memiliki perubahan
zat yang menyebabkan terjadinya suatu zat jenis baru. Peristiwa perubahan
kimia pada pembuatan Gatot dikarenakan pengeringan. Pengeringan
merupakan reaksi kimia antara materi yang terbakar dan gas oksigen.
Pengeringan disebabkan adanya panas dari sinar matahari.
b. Gaya
Gaya adalah suatu bentuk tarikan atau dorongan yang
mempengaruhi perubahan suatu benda. Suatu gaya memiliki pengaruh
pada suatu gerak benda, bentuk benda dan arah gerak suatu benda. Suhu
adalah suatu besaran yang menyatakan ukuran panas, dinginnya benda.
Perubahan bentuk pada singkong terjadi karena adanya gaya. Gaya
digunakan untuk merubah bentuk singkong menjadi gatot yang dibantu
dengan alat pembuat Gatot.
c. Suhu dan Kalor
45