Pembuatan Gatot dipengaruhi oleh suhu dan kalor. Suhu adalah
suatu besaran yang menyatakan ukuran panas, dinginnya benda. Pada saat
pengeringan, Singkong yang sudah semi kering memerlukan kalor dari
panas matahari untuk membuat Gatot benar‐benar kering sebelum masuk
pada tahap pemasakan menjadi gatot. Pemberian kalor menyebabkan suhu
benda berubah karena kalor merupakan bentuk energi yang pindah karena
adanya perbedaan suhu. Semakin banyak kalor yang diberikan pada suatu
benda, maka suhu benda tersebut semakin tinggi. Hal ini berarti kalor
sebanding dengan perubahan suhu. Masa suhu dan perubahan suhu
bergantung pada suatu kalor yang diperlukan agar suhu pada benda naik
bergantung pada jenis zat.
d. Kewirausahaan
Kewirausahaan adalah kemampuan dan usaha seseorang dalam
menghasilkan suatu hal yang dapat memberikan nilai jual serta manfaat.
Untuk gatot, selain dapat konsumsi secara pribadi juga dapat dijual kepada
khalayak umum. Gatot dapat diolah menjadi tepung gatot. Apabila ketela
pohon tersebut diolah menjadi produk lain, otomatis nilai jualnya pun akan
meningkat dibandingkan dengan bahan mentahannya. Karena, dengan
dibuat untuk olahan yang berbeda akan tahan lama. Masyarakat di desa
gadung kerap menanam ketela pohon untuk bahan baku pembuatan gatot.
Dikarenakan, omset penjualan ketela pohon sebagai bahan baku makanan
sangat menguntungkan petani.
Uraian Keterkaitan
a. Etno-Sains
1. Nama Ilmiah Singkong
Singkong atau disebut ubi kayu adalah makanan pokok yang mengandung
atau menghasilkan karbohidrat. Singkong tersebut dapat dijadikan
makanan tradisonal seperti Gatot, yang mempunyai nama lain yaitu
manihot utilissima.
2. Nama Ilmiah Air
Air digunakan untuk mencuci singkong yang telah dikupas, merendam
singkong ketika akan dimasak, dan digunakan ketika mengukus gaplek.
Nama latin dari air Dihidrogen oksida.
3. Nama Ilmiah Garam
Natrium klorida (NaCl) digunakan ketika proses pengolahan gaplek agar
lebih enak.
46
4. Nama Ilmiah Kelapa
Parutan kelapa dapat menambah cita rasa dari gatot. Nama ilmiah kelapa
adalah Cocos nucifera.
b. Teknologi
Tabel 4.1 Proses Pembuatan Gaplek
No Tahap Proses Pembuatan Gambar
1. Mengumpulkan singkong
2. Proses pengupasan singkong
menggunakan pisau
3. Memotong singkong yang telah dikupas
menjadi bagian kecil kecil
4. Menjadikan satu ketela yang telah
terpotong kecil-kecil untuk dijemur
5. Penjemuran dibawah terik matahari
secara langsung selama kurang lebih
selama 3-4 hari
47
6. Setelah singkong kering , dapat disebut
dengan gaplek
Sumber Gambar: Koleksi Pribadi
Sedangkan cara pembuatan Gatot
Tabel 4.2 Proses Pembuatan Gatot
No Tahap Pembuatan Gatot Gambar
1. Rendamkan gaplek selama 2 hari dua
malam agar empuk dan terlihat
mengembang
2. Cuci berulang ulang gaplek yang telah
direndam hingga bersih dan air terlihat
putih
48
3. Berikan sedikit garam atau selera
masing masing
4. Kukus gaplek tersebut di air yang
sudah mendidih, kemudian tunggu
beberapa menit hingga matang
5. Kemudian setelah beberapa menit
kemudian gaplek tersebut sudah terlihat
matang dan siap untuk ditiriskan di
suatu wadah
49
6. Setelah itu , campurkan kelapa parut
kedalam wadah yang berisi gaplek
matang, aduk hingga rata
dan Kemudian siap disajikan menjadi
gatot
Sumber Gambar: Koleksi Pribadi
c. Engineering
1. Pengambilan dan Pengupasan Singkong
Proses pengambilan singkong berawal dari sawah, kebun atau
bahkan ladang dari seorang petani. Saya disini mengambil contoh dari
salah satu seorang petani singkong yang berada di desa Gadung. Ia
mengambil singkong dari sawah menggunakan alat yang disebut cangkul.
Cangkul merupakan sebuah alat untuk mencangkul tanah. Kemudian
petani itu dapat mengambil singkong dengan mencangkuli tanah yang ada
50
di sekitar singkong. Sedangkan setelah singkong terkumpul maka singkong
– singkong tersebut dapat dikupas menggunakan alat pisau.
2. Proses Pengeringan Singkong Menjadi Gaplek
Masih sering dijumpai di kalangan masyarakat Desa Gadung, Kec.
Jati, Kab. Blora di musim kemarau tiba adalah nggaplek sudah cukup
familiar di kalangan masyarakat yang tinggal di pedesaan seperti halnya di
Desa Gadung ini. Nggaplek adalah proses pengeringan umbi-umbian seperti
ubi singkong. Proses nggapek itu sendiri sebenarnya sangat mudah dan
sederhana. Mula-mula tanaman umbi-umbian yang dirasa sudah cukup
umur untuk dipanen, setelah terkumpul umbi-umbian itu dikupas, dan
setelah umbi-umbian dikupas langkah selanjutnya yaitu penjemuran
dibawah terik sinar matahari secara langsung. Penjemuran dibawah sinar
matahari bertujuan untuk mengurangi kadar air dari singkong. Jika cuaca
bagus biasanya petani memerlukan waktu selama 3-4 hari untuk
mendapatkan hasil gaplek yang baik. Apabila cuacanya kurang
mendukung, proses pengeringan singkong dapat dipanggang
menggunakan oven. Nggaplek itu sendiri dilakukan selain untuk
meningkatkan nilai jual umbi yang dipanen, juga merupakan proses
pengawetan bahan pangan agar tetap bisa dikonsumsi diwaktu yang akan
datang, hal ini berlaku untuk gaplek singkong. Seperti sudah banyak
diketahui, gaplek singkong merupakan bahan baku pembuatan nasi tiwul
selain itu juga dapat dijadikan sebagai makanan tradisional seperti Gatot.
3. Pemasakan Gaplek Menjadi Gatot
Sebelum gaplek menjadi gatot pastinya ada proses pemasakan yaitu
dengan cara rendam gaplek selama 2 hari 2 malam, ganti air bersih
rendaman setiap hari, lalu jika gaplek sudah empuk dan kelihatan
mengembang kemudian potong menjadi bagian yang kecil- kecil,
selanjutnya yaitu berikan sedikit garam sesuai selera masing masing,
kemudian langkah selanjutnya kukus hingga empuk dan kenyal-kenyal,
setelah matang angkat ke suatu wadah kemudian sajikan dengan kelapa
parut.
d. Matematika
1. Perhitungan Untung Rugi
Keuntungan dihitung dari satu kali produksi setiap harinya. Dalam
satu kali produksi dapat mencapai 140 bukus kecil, 100 bungkus sedang
dan 80 bungkus besar. Untuk bungkus kecil dijual dengan harga Rp3.000,-
51
bungkus sedang Rp6.000,- dan besar Rp8.000,-. Pendapatan yang
didapatkan dalam satu kali produksi setiap harinya dapat mencapai
Rp1.660.000,- namun, itu adalah pendapatan kotornya saja dan belum
dikurangi oleh biaya bahan baku, tenaga kerja serta biaya lain- lain.
Dapat dihitung bahwa satu kali produksi menghabiskan biaya
bahan Rp332.000,- tenaga kerja Rp400.000,- dan biaya lain lain Rp100.000,-
jadi total semua biaya sebanyak Rp832.000,-. Kemudian dapat dihitung lagi
untuk mendapatkan laba bersih dengan cara mengurangkan hasil
pendapatan jual dan buaya bahan yaitu: Rp1.660.000 – Rp832.000 =
Rp828.000,-. Jadi laba yang diperoleh dalam satu kali produksi setiap
harinya dapat mencapai Rp828.000,-.
Untuk masalah kerugian di usaha ini sangat minim atau bahkan
tidak terjadi kerugian dikarenakan usaha ini sudah pancet dan pesanan
setiap harinya untuk pedagang kaki lima.
2. Penggunaan Komposisi Bahan
Komposisi bahan yang digunakan adalah 100% dari singkong (ubi
kayu) serta ditambahkan kelapa sebanyak 39 buah dalam satu kali
produksi, garam sebanyak 10 bungkus setiap satu kali produksi dan daun
pisang 20 gebok serta 16 gebok daun jati. Jadi dalam satu kali produksi
menghabiskan gaplek atau yang disebut singkong kering sebanyak 39 kg.
Wawancara
Saya di sini mewawancarai salah satu seorang petani dari Desa Gadung,
Kecamatan Jati, Kabupaten Blora yang bernama Laminah.
Saya : “Assalamualaikum wr.wb, permisi Bu maaf mengganggu waktunya
sebentar. Bolehkah saya disini bertanya tanya mengenai cara
pembuatan gatot dari awal sampai akhir?”
Laminah: “Waalaikumussalam wr.wb. baik Mbak monggo.”
Saya : “Baik Ibu terima kasih. Sejak kapan ibu melakukan kegiatan
sebagai petani singkong serta memproduksinya sebagai makanan
tradisional gatot ini Bu?”
Laminah: “Begini Mbak, saya mulai merintis usaha kecil kecilan ini
dimulai sejak\
saya berumur 38 tahun dan kemudian saya sekarang berumur
43 tahun. Jadi sudah sejak 5 tahun yang lalu.”
52
Saya: “Sudah sejak lama nggih Bu, baik apakah Ibu mempunyai tenaga
kerja untuk membantu Ibu dalam usaha ini?”
Laminah: Saya mempunyai tenaga kerja kurang lebih 4 orang untuk
menjalankan usaha ini, namun dalam pertanian singkong hanya ibu
dan suami ibu yang mengolahnya.
Saya: “Kenapa bukan ibu dan suami Ibu saja yang menjalankan
usahanya? Dan bagaimana nanti soal laba dan ruginya Ibu?”
Laminah: “Bukan Mbak, saya lebih memilih untuk bertani dengan suami
saya karena menurut saya bertani akan lebih menyehatkan badan,
seperti halnya mendapatkan keringat serta dapat mendapatkan
vitamin D ketika terkena sinar matahari di pagi hari. Soal laba dan
rugi sudah saya serahkan kepada tenaga kerja yang dapat
dipercaya yaitu adik kandung saya sendiri.”
Saya: “Seperti itu nggih Bu. Kalau boleh tau apakah ibu dapat mengalami
kerugian saat berjualan gatot ini?”
Laminah: “Saya pernah mengalami kerugian, namun tidak terlalu besar
ketika masih awal awal membuka usaha ini, namun saya dan suami
saya tidak pernah putus asa untuk bangkit kembali usaha ini. Yang
akhirnya saya mencari tenaga kerja untuk membantu saya dalam
usaha ini. Dan alhamdulilah sampai saat ini usaha saya semakin
meningkat karena terdapat banyak pelanggan dari desa desa lain.”
Saya: “Waah… Alhamdulilah sekali ya bu. Ngomong- ngomong berapa
harga jual gatot ini?”
Laminah: Harga jual gatot ini berbeda beda sesuai ukurannya mba. Kalo
yang kecil saya jual dengan harga Rp3.000, sedang Rp6.000 dan
yang gede ini Rp8.000 mba.
Saya: Setiap harinya ibu membuat berapa pcs gatot nggih bu? Lalu apakah
setiap harinya juga akan terjual semua?
Laminah: “Alhamdulilah mba dalam setiap harinya semua terjual secara
laris. Saya membuat pcs kecil sebanyak 140, sedang, 100 dan besar
80. Karena gatot ini langsung diambil oleh pedagang pedagang
keliling dari desa lain.”
Saya: “Wah banyak sekali ya bu padahal di desa kecil seperti ini, namun
tidak kalah dengan desa atau kota-kota besar di luar sana. Semoga
usaha ibu yang tidak pernah meninggalkan makanan tradisional ini
semakin maju, laris serta sukses. Terimakasih atas waktunya, sudah
mengganggu ibu bekerja hehe.”
53
Laminah: “Iya tidak apa-apa Mbak, saya malah senang, barangkali nanti
membawakan usaha saya lebih terkenal.”
Saya: “Baik bu... Assalamualaikum wr.wb”
Laminah: “Waalaikumsalam wr.wb”
Link video YouTube
Sumber: https://youtube/84ifpdKxIMk
Gambar 4.2 Video Pembuatan Gatot
TEMA 5
54
Pembelajaran Berbasis Etno-STEM dengan Tema
“Tauco Khas Pekalongan”
Oleh :
Nadia Amalia
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Rizky Amalia Safitri
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Fadhilah Cahyaningrum
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Sinta Dina Afiana
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Sinta Oliviana
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Sekar Anggun Tilaras
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Sudah menjadi hal yang wajar apabila manusia ketergantungan
pada sumber daya yang dihasilkan oleh alam. Bahkan sudah sepatutnya
kita sebagai bangsa Indonesia bersyukur dilahirkan di tanah Indonesia,
karena sumber daya alam yang dimiliki sangatlah melimpah. Sumber daya
alam yang ada di Indonesia meliputi: sumber daya pertanian, perkebunan,
hingga hewani. Kali ini, kami dari kelompok praktikum Pengembangan
Pembelajaran IPA di SD domisili Pemalang-Pekalongan akan mengulas
salah satu jenis sumber daya pada sektor pertanian. Sektor pertanian
memiliki peranan sangat penting dalam upaya mempertahankan
ketahanan pangan dan ekonomi nasional. Direktur Jenderal Prasarana dan
Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy pada tahun 2019
menyampaikan bahwa total luas baku lahan pertanian Indonesia mencapai
7,46 juta hektar. Salah satu hasil pertanian yang memiliki nilai jual tinggi
yaitu kedelai. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) kota Pekalongan
pada 6 tahun terakhir, menyatakan bahwa tanaman kedelai menempati
komunitas produksi tertinggi ketiga setelah padi dan jagung. Kota
Pekalongan sendiri memiliki output pada hasil panen tanaman kedelai,
yaitu bahan pangan tradisional yang bernama tauco.
55
Gambar 5.1 Skema Skema ETNO-STEM pada pembuatan tauco
Tauco merupakan olahan makanan tradisional yang terbuat dari
kedelai yang memiliki aroma khas, karena proses pembuatanya yang
difermentasi. Tauco sendiri berperan sebagai bumbu alami yang
ditambahkan pada makanan, misalnya pada daging dan soto. Di setiap
daerah di Jawa Tengah memiliki ciri khas pada tampilan tauco itu sendiri,
meski sebagian besar proses pembuatanya terbilang hampir sama.
Tauco dapat dikatakan sebagai salah satu kearifan lokal yang
dimiliki kota Pekalongan yang berbentuk makanan tradisional. Namun
dengan seiring perkembangan zaman, makanan tradisional seperti tauco
mengalami pergeseran minat terutama di kalangan remaja. Justru makanan
yang banyak beredar di pasaran yaitu makanan dengan ciri khas kearifan
luar negeri. Padahal makanan tradisional memiliki nilai estetika yang lebih
tinggi, seperti halnya pada tauco yang akan sangat cocok apabila dinikmati
di siang hari dengan ditemani soto sebagai makanan utama, serta lontong
sebagai makanan pendamping.
Dengan demikian, kami akan melakukan sebuah pelestarian
makanan tradisional seperti tauco ini, dengan cara mengulas berdasarkan
metode Etno-STEM yang menggambarkan proses awal hingga proses
perhitungan matematika pada pengolahan kedelai menjadi tauco. Metode
Etno-STEM ini cocok dilakukan karena Etno-STEM sendiri memiliki arti
yaitu pendekatan dalam mempelajari ilmu sains (IPA) dengan dengan
mengacu budaya atau kearifan lokal pada suatu daerah. Hal ini dikuatkan
pada pernyataan Khusniati (2014) yang menyatakan bahwa etnosains
56
merupakan ilmu yang mendalami sains berdasarkan budaya pada suatu
bangsa. Etno-STEM lahir dari proses menerjemahkan fenomena yang
dialami masyarakat sesuai dengan kepercayaan yang berkembang di
lingkungan masyarakat tersebut.
Uraian Lengkap
a. Materi dan Perubahanya
Pada hakikatnya, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
adalah mata pelajaran yang membahas segala aspek yang ada di alam
semesta seluruh bagian dari alam semesta, karena memiliki tujuan
mendapatkan petunjuk dalam mengolah dan mengembangkan suatu
fenomena, hingga sumber daya alam (SDA) dengan mengemukaan
dampak yang terjadi alam semesta dengan mencari solusi yang tepat. Oleh
karenanya, dengan adanya IPA kita dapat meneliti pada suatu benda di
alam semesta dengan melakukan pengembangan metode – metode
pengembanganya guna menciptakan alternatif lainya berupa produk yang
dapat dikembangkan atau dialihkan fungsinya. Seiring dengan
perkembangan zaman, inovasi – inovasi dalam mengembangkan pada IPA
itu sendiri mengalami keragaman, dengan menyesuaikan perkembangan
zaman dan industri, salah satunya adalah adalah berkembangnya proses
fermentasi pada tumbuhan. Inovasi pada Ilmu Pengetahuan Alam itulah
yang disebut dengan fenomena materi dan perubahanya.
Fermentasi merupakan salah satu bentuk bukti inovasi
perkembangan zaman pada Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang
melibatkan materi dan perubahanya dengan konsep pelaksanaan
pengubahan bahan baku menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual yang
tinggi dengan manfaat atau fungsi yang berbeda seperti halnya berubah
menjadi bahan makanan. Seperti halnya pada pembuatan tauco, proses
pada pembuatan tauco juga memerlukan suatu perubahan bahan baku
berupa kedelai yang difermentasi dengan tahapan peragian yang
dilakukan menggunakan zat yang mengandung karbohidrat/protein
dengan bantuan mikroorganisme/bakteri sehingga dapat berubah menjadi
zat-zat lain. Perubahan ini sendiri disebabkan karena adanya reaksi pada
enzim aktif oleh mikroba. Proses pembuatan tauco itu sendiri memerlukan
57
fermentasi yang berlangsung selama 3-5 hingga kedelai keluar kapangnya.
Kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang dapat ditindaklanjuti
pada proses pengolahannya menjadi bahan makanan yang lebih kompleks
dan memiliki nilai fungsi sebagai bahan makanan siap saji. Pengolahan
kedelai sendiri merupakan salah satu perubahan wujud benda pada
makanan yang sederhana, mulai dari alat dan bahan hingga prosedur
pembuatanya.
b. Suhu dan Kalor
Suhu dan kalor merupakan salah satu materi pada perkembangan
Ilmu Pengetahuan Alam yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini dikarenakan
bahwa kalor merupakan suatu fenomena alam berupa panas, yang dapat
berpindah tempat satu ke tempat lainya, dengan memiliki suhu yang
didapatnya setiap berpindah tempat. Hal tersebut juga dibuktikan pada
pernyataan Mahmudah (2013) yang mengemukakan suhu dan kalor
dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan, karena masing – masing suhu
pada suatu benda, baik suhu panas maupun suhu dingin yang terjadi
masing – masing mengalami perubahan atau perpindahan kalor, yaitu
perubahan kalor panas menjadi kalor dingin.
Pada proses pembuatan tauco sendiri, perubahan suhu dan kalor
yang terjadi yaitu saat proses memasak atau mengolah bahan baku
(kedelai) menjadi tauco yang terjadi saat proses memasak pada kompor
yang dihasilkan dari api untuk menghasilkan perubahan wujud matang
pada bahan baku tersebut. Pada proses pengolahan ini terjadi apabila
semakin banyak atau semakin lama kalor yang keluar pada suatu zat
benda, maka suhu yang dihasilkan semakin banyak atau tinggi, yang
ditunjukan pada suhu yang dimiliki saat bahan baku sebelum dimasak
memiliki suhu yang lebih rendah dibandingkan saat bahan baku setelah
dimasak dengan bantuan api.
c. Kewirausahaan
Kewirausahaan merupakan kegiatan yang mengupayakan
pemenuhan kebutuhan pokok pada suatu komunitas atau kelompok yang
menghasilkan suatu produk berupa barang atau jasa. Seiring dengan
adanya perkembangan zaman, aktivitas berwirausaha sudah memasuki di
kalangan petani dalam mengoptimalkan fungsi sumber daya alam,
terutama pada bahan pangan yang berprinsip pada pengembangan inovasi
pada proses pengolahan hasil sumber daya alam. Menurut (Suryana 2006)
pada proses kewirausahaan dapat dilaksanakan dengan proses
58
pengembangan pada kewirausahaan itu sendiri dengan cara melihat
perilaku, atau karakter pada diri seseorang yang mampu menciptakan
gagasan pikiran yang dapat memberikan perubahan fungsi, fisik maupun
karakter pada suatu benda. Adanya proses inovatif pada pengoptimalan
kedelai di Kabupaten Pekalongan ini dapat menghasilkan sumber daya
manusia pada kalangan masyarakat pedesaan mampu mengikuti
perubahan dan perkembangan zaman yang sudah terbawa arus globalisasi.
Hasil dari adanya upaya tersebut juga diperkuat dengan adanya hasil
keterampilan yang berupa keahlian atau keterampilan mengolah bahan
baku mentah menjadi bahan pangan yang siap saji.
Uraian EtnoSTEM (Etno-sains, Etno-Technology, EtnoEngineering,
Etno-Mathematics
A. Sains ilmiah
1) Nama Ilmiah Kedelai
Kedelai yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan tauco
mempunyai nama latin Glycine max
2) Teknologi
Tabel 5. 1 pembuatan tauco
No. Keterangan Gambar
1. Siapkan kedelai yang akan diolah menjadi tauco,
lalu cuci bersih kedelai yang akan digunakan;
59
2. Rebus kedelai yang sudah bersih hingga
mendidih (mengalami perubahan suhu dan
kalor);
3. Tiriskan kedelai yang sudah matang ke dalam
wadah;
4. Siapkan tepung beras, tepung ketan, dan ragi,
lalu sangrai ketiga bahan di atas hingga terjadi
perubahan warna menjadi menguning;
5. Campurkan adonan yang sudah disangrai
dengan kedelai. Diamkan selama 3 hari;
60
6. Kemudian, pisahkan kedelai dengan adonan
yang menggumpal;
7. Rebus kembali kembali kedelai dengan
campuran air garam lalu peram selama kurang
lebih 3 minggu;
8. Siapkan gula merah, jahe, dan lengkuas sebagai
bumbu penyedap pada tahap proses akhir
pembuatan tauco, sebagai berikut:
a. Olah ketiga bahan tersebut menjadi bumbu
penuedap tauco dengan cara: mengiris gula
merah yang nantinya akan dilarutkan ke
dalam air sebanyak kurang lebih 250 gram
dengan konsentrasi air sebanyak 25 ml.
Setelah itu, tambahkan potongan jahe dan
lengkuas yang sudah ditumbuk sebanyak 20
gram pada masing-masing bahan;
b. Masukan ketiga bahan tersebut dengan cara
dicampur dan dipisahkan dengan ampasnya;
61
9. Terakhir, masak kedelai yang sudah tercampur
dengan bumbu hingga mendidih selama kurang
lebih 3-4 jam, dan tauco sudah bisa disajikan atau
digunakan sebagai penyedap rasa pada
makanan.
Sumber: Koleksi Pribadi
b) Alat dan Bahan
1) Alat: panci, wajan, sendok, pengaduk makanan, wadah, kompor.
2) Bahan: kedelai, ragi, air, gula merah, jahe, lengkuas, garam
B. Proses pembuatan tauco sesuai aturan
1) Siapkan kedelai yang akan diolah menjadi tauco;
2) Cuci bersih kedelai yang akan digunakan;
3) Rebus kedelai yang sudah bersih hingga mendidih (mengalami
perubahan suhu dan kalor);
4) Tiriskan kedelai yang sudah matang ke dalam wadah;
5) Siapkan tepung beras, tepung ketan, dan ragi
6) Sangrai ketiga bahan di atas (nomor 3) hingga terjadi perubahan warna
menjadi menguning;
7) Campurkan hasil sangraian dari ketiga bahan bersama dengan kedelai.
Lalu, diamkan selama 3 hari;
8) Kemudian, pisahkan kedelai dengan adonan yang menggumpal;
9) Rebus kembali kembali kedelai dengan campuran air garam lalu
simpan selama kurang lebih 3 minggu:
10) Siapkan gula merah, jahe, dan lengkuas sebagai bumbu penyedap pada
tahap proses akhir pembuatan tauco;
11) Olah ketiga bahan tersebut menjadi bumbu penyedap tauco dengan
cara: mengiris gula merah yang nantinya akan dilarutkan ke dalam air
sebanyak kurang lebih 250 gram dengan konsentrasi air sebanyak 25 ml.
Setelah itu, tambahkan potongan jahe dan lengkuas yang sudah
ditumbuk sebanyak 20 gram pada masing-masing bahan;
62
12) Masukan ketiga bahan tersebut dengan cara dicampur dan dipisahkan
dengan ampasnya;
13) Masak kedelai yang sudah tercampur dengan bumbu hingga mendidih
selama kurang lebih 3-4 jam;
14) Tauco sudah bisa disajikan atau digunakan sebagai penyedap rasa pada
makanan.
C. Teknik
1) Perebusan kedelai
Pada saat perebusan tauco, dibutuhkanya tingkat kematangan yang
sesuai proporsi keadaan tauco semestinya. Semakin banyak waktu yang
dibutuhkan dalam proses merebus, maka akan semakin lunak tekstur yang
didapatkan pada bahan yang direbus. Seperti halnya pada proses
perebusan kedelai, agar mendapatkan hasil yang sesuai standar pada hasil
olahan kedelai berupa tauco diperlukanya 4 kali proses perebusan, di
antaranya meliputi:
perebusan yang pertama membuat kedelai menjadi matang;
perebusan yang kedua digunakan untuk melakukan proses fermentasi;
perebusan yang ketiga dengan dicampur air garam yang selanjutnya
melalui proses peram selama kurang lebih 3 minggu, dan perebusan yang
terakhir dicampur dengan gula sampai mendidih hingga matang menjadi
tauco. Proses perebusan itu sendiri, diperlukannya penambahan rempah
yang menyerap ke bahan baku, sebagai penanda identitas pada olahan
tauco.
2) Waktu fermentasi kedelai
Tahapan dalam pembuatan tauco yaitu, mula-mula tanaman kedelai
dibersihkan menggunakan air bersih agar terbebas dari kotoran. Setelah itu
akan dilakukan pendiaman kedelai yang sudah bersih selama 1 hari. Hal
tersebut dilakukan agar pada esok hari kulit kedelai dikupas dengan
sendirinya. Setelah itu, baru kedelai dapat direbus kemudian didinginkan
agar dapat menuju proses fermentasi. Proses fermentasi yang terjadi pada
kedelai dengan menggunakan bantuan ragi yang ditaburkan di atas wadah
tertutup. Cara seperti itu bertujuan agar hasil fermentasi menghasilkan
substrat yang ditumbuhi oleh kapang atau yang biasa dikenal dengan nama
spora. Supaya menghasilkan kapang yang maksimal, proses fermentasi itu
sendiri dilakukan selama 2 hari pada ruangan yang tertutup. Pada proses
fermentasi, dapat dilihat tingkat protein yang dihasilkan oleh tauco, yakni
63
pada jumlah atau banyaknya pertumbuhan kapang, karena pada proses
tumbuhnya kapang membuat kapang mampu menguraikan protein pada
kedelai menjadi asam amino, yang membuat nitrogen yang terlarut
mengalami peningkatan. Setelah memperoleh hasil yang diinginkan, maka
langkah berikutnya yaitu kapang (hasil fermentasi) dijemur agar biji
kedelai yang berbentuk gumpalan dihancurkan. Setelah itu direndam ke
dalam larutan garam yang mengandung natrium klorida selama 2 x 24 jam
pada wadah tertutup dengan ruangan yang terbuka agar keledai terkena
sinar matahari. Menurut (Muchtadi, 2010), hasil fermentasi yang terjadi
pada larutan garam disebut dengan tauco mentah yang membuat bahan
pangan baku menjadi terjaga kualitas dan keamanannya dengan cara
penekanan biaya yang baik. Selain itu, proses fermentasi juga dapat
membunuh mikroorganisme yang bersifat patogen dan pembusuk.
Matematika
a. Perhitungan Untung Rugi
Keuntungan yang diperoleh dihitung dari satu kali produksi.
Sebanyak kurang lebih 50 bungkus kecil tauco dihasilkan setiap satu kali
pembuatan. Pada satu kali pembuatan bisa menghabiskan biaya sebanyak
Rp42.000,- yang terdiri dari 1 kg kedelai (Rp9000,-), ½ kg tepung ketan
(Rp12000,-), ½ kg tepung beras (Rp11000,-), gula jawa (Rp 5000,-), dan ragi
(Rp 5000,-). Satu bungkus tauco biasa di jual seharga Rp1.500,-. Maka
pendapatan yang diperoleh dari 50 bungkus tauco adalah Rp1.500 x 50 =
Rp75.000,-. Rp75.000 – Rp42.000 = Rp33.000,- Jadi, keuntungan yang
diperoleh produsen untuk sekali pembuatan tauco sebanyak Rp33.000,-.
Sedangkan perhitungan kerugian juga dihitung dari satu kali
pemasakan tauco. Pada saat musim sepi, tauco hanya laku separo dari hasil
produksi, bahkan nyaris tidak laku. Pada saat seperti ini, tauco dijual hanya
seharga Rp 1000. Sehingga jika dibandingkan dengan keuntungannya,
75.000,- - 50.000,- kerugian dapat mencapai Rp25000,- yang mana dari harga
modal sebesar 42.000 hanya untung Rp8.000,-.
b. Perhitungan Komposisi bahan
Komposisi bahan utama yang digunakan adalah 67% kedelai (500
gram) dan 33% lainnya campuran tepung ketan (25 gram), tepung beras
(25 gram), dan ragi (25 gram).
64
Lalu untuk pemasakan hingga menjadi tauco dibutuhkan bahan
tambahan yaitu garam 4-5 sendok dan gula aren sebanyak ½ kg-1 kg maka
persentasenya, garam 40%, dan gula 60%.
Hasil Wawancara
Dhila : “Ibu, untuk membuat tauco bahan apa saja yang dibutuhkan?”
Ibu : “Bahan yang dibutuhkan adalah kacang kedelai, tepung beras,
tepung ketan, ragi, dan gula merah, Dhila.”
Dhila : “Fermentasi yang dilakukan pada kedelai berlangsung berapa
lama?”
Ibu : “Fermentasi pertama berlangsung selama 3-4 hari dan yang kedua
berlangsung 3-4 minggu.”
Dhila : “Apakah proses membuat tauco itu sulit, Bu?”
Ibu : Tidak, tapi harus memerlukan waktu yang cukup lama”
Dhila : “Apakah di daerah kita ini apakah tauco banyak dicari Bu?”
Ibu : “Iya, karena di daerah kita ini banyak orang membuat tauto jadi
banyak rumah makan-rumah makan yang mencari tauco sebagai
bahan utama membuat tauco.”
Video dan Foto Pembuatan Tauco
Proses pembuatan tiwul bisa dilihat di laman youtube berikut :
https://youtu.be/oqlBB399yu0
Gambar 5.2 Tampilan proses pembuatan tauco di YouTube
65
TEMA 6
Pembelajaran Berbasis Etno-STEM dengan Tema
“Pembuatan Tiwul Khas Rembang”
Oleh :
Novita Ramadani Purnama Sari
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Rizki Septy Nur Intan
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Rindi Artanti
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Annisak Miftakhul Hidayah
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Neneng Oktaviani Sugiyanto
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Dunia pendidikan merupakan salah satu yang terdampak oleh
adanya pandemi covid-19. Baik dari jenjang SD, SMP, SMA dan tentunya
Universitas. Akibatnya kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring,
dimana sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Setelah dikeluarkannya kebijakan tersebut, pihak universitas juga
mengeluarkan suarat edaran. Sehingga pada semester ini, kami selaku
mahasiswa diharapkan bisa melaksanakan perkuliahan secara daring.
Diberlakukannya surat edaran tersebut bertepatan pada semester
yang kami jalani ini, dimana kami mahasiswa dari progam studi PGSD
semester 4 mendapatkan tugas untuk mengunjungi salah satu industri
rumah tangga yang bergerak dalam pembuatan makanan tradisional.
Disini kami berkesempatan untuk mengunjungi industri rumah tangga
66
pembuatan tiwul. Pembuatan tiwul merupakan salah satu bagian dari
kearifan lokal masyarakat di wilayah Kota Rembang, Jawa Tengah. Tiwul
merupakan salah satu makanan tradisional yang bahan utamanya adalah
ubi kayu. Makanan tiwul sebenarnya bukan makanan tradisional yang
berasal dari wilayah kota Rembang, Jawa Tengah, melainkan makanan
tradisional dari daerah Yogyakarta tepatnya di kawasan Gunung Kidul.
Menurut kami dengan memilih makanan tiwul sangat tepat apabila kami
kaitkan dengan salah satu tema yang berada di kelas 5 Tema 6: Panas dan
Perpindahannya Subtema 1 : Suhu dan Kalor. Alasan kami memilih tema
tersebut pada kelas 5 yaitu pada proses pembuatan tiwul tentu melibatkan
adanya suhu dan kalor. Penggunan suhu disini yaitu pada tahap proses
pemasakan tiwul, sedangkan penggunaan kalor yaitu pada proses
pengeringan atau penjemuran ubi kayu.
Gambar 6.1 Skema Etno-STEM Pembuatan Tiwul
Ulasan Pengantar
67
Makanan tradisional merupakan makanan yang berkembang
dikalangan masyarakat daerah yang terdiri dari makanan, minuman, dan
bahan campuran tradisional lainnya. Makanan tradisional merupakan
cerminan dari kebutuhan dan budaya suatu masyarakat. Dalam
pengolahannya, makanan tradisional terdapat kriteria yaitu menggunakan
bahan-bahan yang sudah menjadi turun temurun, bahan yang digunakan
berasal dari daerah setempat, proses pengolahannya menggunakan cara
yang sudah berkembang di daerah setempat. Salah satu contoh makanan
tradisional yang cukup familiar yaitu tiwul.
Tiwul merupakan makanan tradisional dari daerah Yogyakarta
tepatnya di kawasan Gunung Kidul. Tiwul termasuk makanan tradisional
yang bahan utamanya adalah ubi kayu atau orang jawa menyebutnya
gaplek. Gaplek merupakan olahan ubi kayu kering yang dijadikan tepung.
Tiwul makanan yang berbentuk butiran yang berwarna kuning kecoklatan.
Tiwul merupakan makanan yang bisa dijadikan sebagai makanan
pengganti. Berbahan dasar ubi kayu menjadikan tiwul kaya akan
karbohidrat dan rendah akan protein jika dibandingkan dengan beras.
Tiwul juga rendah akan kalori sehingga mampu memberikan rasa kenyang
yang cukup lama.
Seiring dengan perkembangan zaman membuat makanan tradisional tiwul
menjadi makanan yang minim akan penikmatnya karena sudah tidak
praktis dan tidak menarik sehingga tiwul tergantikan dengan makanan-
makanan yang lebih praktis lainnya. Tergantikannya tiwul dengan
makanan lainnya juga dikarenakan proses pembuatannya yang memakan
waktu yang cukup lama.
Selama proses pembuatan, tiwul memerlukan waktu yang cukup
lama karena harus melewati beberapa tahapan terlebih dahulu. Proses
pembuatan tiwul diawali dengan menjadikan ubi kayu menjadi gaplek.
Pada umumnya, gaplek dibuat oleh masyarakat dengan cara yang
sederhana. Gaplek terdiri dari dua jenis yaitu gaplek yang berwarna hitam
dan gaplek yang berwarna putih. Gaplek yang berwarna hitam dapat
dibuat menjadi tiwul sedangkan gaplek yang berwarna putih dapat dibuat
menjadi gatot.
Uraian Lengkap
a. Materi dan Perubahannya
68
Materi merupakan sesuatu yang mempunyai massa, dan dapat
menempati sebuah ruang. Materi mempunyai sifat tertentu dan khas guna
mempermudah untuk mengenali dan membedakan zat lainnya. Materi bisa
saja terjadi perubahan. Perubahan tersebut dikenal dengan perubahan
materi. Perubahan fisika serta perubahan kimia merupakan perubahan dari
materi. Perubahan fisika merupakan perubahan materi dimana bentuk
serta ukuran zat dapat mengalami perubahan, tetapi tidak menimbulkan
adanya zat baru. Sedangkan Perubahan kimia merupakan perubahan pada
materi dimana bentuk serta ukuran dapat mengalami perubahan, tetapi
menimbulkan adanya zat baru.
Dalam pembuatan tiwul, bahan utama yang digunakan yaitu ketela
pohon yang dikenal dengan sebutan singkong. Pada pembuatan tiwul,
proses penjemuran singkong hingga kering merupakan proses yang paling
penting ketika seseorang akan membuat tiwul. Pada proses ini singkong
yang telah dicuci dan dipotong hingga menjadi bentuk yang kecil akan
dijemur hingga singkong kering, kemudian dihaluskan hingga menjadi
tepung. Proses pembuatan tiwul inilah yang menyebabkan tiwul
mengalami perubahan kimia, dimana singkong yang awalnya segar
kemudian dijemur dibawah terik matahari tentu akan mengubah tekstur,
warna, aroma pada singkong. Selain itu, dalam proses pengeringan tiwul
tentu akan menimbulkan adanya zat baru dari singkong.
b. Suhu dan Kalor
Suhu dan kalor berpengaruh dalam pembuatan tiwul. Suhu adalah
suatu besaran yang menyatakan akan ukuran atau dinginnya suatu benda.
Sedangkan kalor adalah perpindahan panas dari benda yang memiliki
kalor lebih tinggi ke kalor yang lebih rendah. Kalor dinyatakan dengan
suhu. Kalor diperlukan pada saat proses pengeringan ubi kayu yang
setengah kering. Kalor disini yang diperlukan berasal dari terik panas
matahari. Ubi kayu harus dipastikan kering terlebih dahulu sebelum
berlanjut ke tahap berikutnya yaitu penghalusan. Pada tahap
menghaluskan ubi kayu dipastikan harus betul-betul kering agar mudah
diolah menjadi tepung. Apabila ubi kayu tidak melalui proses pengeringan
terlebih dahulu, ubi kayu tidak dapat diolah secara sempurna menjadi
tepung. Suhu yang diperlukan untuk membuat tiwul harus betul-betul
panas agar matang dengan sempurna.
69
c. Bioteknologi
Bioteknologi berasal dari tiga kata, bios artinya hidup, teuchos
artinya alat, dan lacos artinya ilmu. Bioteknologi merupakan cabang ilmu
yang didalamnya mempelajari pemanfaatan makhluk hidup seperti fungi,
bakteri, dan virus atau produk dari makhluk hidup yang saat melakukan
proses produksi bertujuan untuk menghasilkan suatu barang dan jasa
dalam meningkatkan kesejahteraan pada diri manusia. Bioteknologi dapat
berkembang karena mendapat pengaruh dari ilmu-ilmu dasar. Contoh
ilmu-ilmu dasar tersebut yaitu mikrobiologi, genetika, dan biokimia. Ketiga
ilmu tersebut secara tidak langsung menjadi pendukung dari lahirnya
biologi molekuler sehingga menjadi dasar dari bioteknologi modern.
Bioteknologi memiliki banyak jenisnya seperti Bioteknologi konvensional,
bioteknologi modern, bioteknologi Bidang Industri, bioteknologi
reproduksi, bioteknologi kedokteran / farmasi / obat-obatan, bioteknologi
bidang pertanian, dan bioteknologi bidang industri pertambangan.
Pada pembuatan tiwul bioteknologi berpengaruh pada saat tahap
pengeringan ubi kayu menjadi gaplek. Pengeringan ubi kayu memerlukan
suhu yang panas sekali dari sinar matahari. Jika ubi kayu pada saat dijemur
tidak mendapatkan sinar matahari yang panas maka ubi kayu bijadi
menjadi tempat bertumbuhnya bakteri dan menjamur sehingga warnanya
berubah kehitaman.
d. Kewirausahaan
Kewirausahaan merupakan kemampuan atau perilaku dari
seseorang dalam menciptakan sesuatu yang bermanfaat sehingga memiliki
daya nilai jual tinggi. Pengalaman langsung yang dilakukan dilapangan
dan menjadi bakat yang sudah ada pada diri manusia sejak lahir serta suatu
ilmu yang tidak dapat diajarkan atau dipelajari merupakan anggapan awal
dari kewirausahaan. Akan tetapi pada kenyataannya kewirausahaan
adalah suatu ilmu yang dapat diajarkan dan dapat dipelajari sendiri serta
tidak hanya menjadi bakat yang sudah ada sejak lahir. Seseorang yang
mengaku dirinya sebagai seorang wirausaha adalah orang yang mampu
mengenal dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sehingga
mampu menangkap suatu peluang usaha yang nantinya dapat
dijadikannya peluang tersebut untuk merealisasikan cita-citanya. Seorang
wirausaha harus memiliki jiwa tekun yang tinggi.
70
Kewirausahaan sudah ada dan dikenalkan oleh orang-orang Eropa.
Mengambil keputusan merupakan suatu tanggung jawab yang dimiliki
oleh kewirausahaan. Kreatif dan inovatif harus ada pada diri seorang
wirausaha karena dengan begitu mampu menjadikan nilai suatu barang itu
bertambah. Dalam menciptakan nilai suatu barang yang tinggi seorang
wirausaha harus berani mengambil suatu resiko.
Pada pembuatan makanan tradisional tiwul diperlukan jiwa-jiwa
yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha apabila ingin menciptakan
daya nilai jual yang tinggi pada makanan tradisional tiwul. Berbahan
utama ubi kayu menjadikan tiwul sebagai makanan yang bahan utamanya
dapat ditemukan dengan mudah karena sebagian besar masyarakat
memiliki lahan yang ditanami dengan ubi kayu atau singkong. Banyaknya
masyarakat yang menanam ubi kayu atau singkong tentunya menjadikan
para produsen tiwul mampu memproduksi tiwul dalam jumlah yang besar.
Uraian Lengkap Berdasarkan Etno System
a. Sains Ilmiah
1. Komposisi Tiwul
Komposisi tiwul yaitu terdiri dari singkong yang telah di keringkan lalu di
haluskan atau diselep, gula merah di sisir tipis-tipis, garam, air, tanpa
bahan pengawet dan tanpa bahan pewarna.
2. Nama Ilmiah Ubi Pohon
Ubi pohon atau dikenal dengan sebutan singkong merupakan bahan utama
dalam pembuatan tiwul. Nama ilmiah dari singkong adalah Manihot
esculenta.
3. Nama Ilmiah Gula Merah
Gula merah merupakan komposisi dari pembuatan yang berfungsi sebagai
pemberi rasa manis pada tiwul. Selain itu, gula merah juga berfungsi
sebagai pemberi warna alami pada tiwul. Gula merah ini sendiri terbuat
dari pohon aren. Nama ilmiah aren adalah Arenga pinnata.
4. Nama ilmiah garam
Garam merupakan komposisi dari pembuatan tiwul yang berfungsi
sebagai pemberi rasa gurih pada tiwul. Nama ilmiah dari garam
adalah Natrium klorida.
b. Teknologi
Tabel 6.1 Proses Pembuatan Tiwul
71
No. Tahapan Proses Pembuatan Gambar
1 Proses penyiapan bahan yaitu singkong,
tepung dari singkong,gula
merah,garam,air,pisau.
2 Proses pengupasan singkong.
3 Proses pencucian singkong.
4 Proses pemotongan singkong dipotong
agak kecil-kecil.
5 Setelah proses pemotongan selesai lanjut
dengan penjemuran kira-kira proses
penjemuran sekitar 5 hari kalau sinar
mataharinya mendukung atau panas,
kalau sinar matahari tidak ada atau
mendung kira-kira proses
penjemurannya sekitar 10 hari.
72
6 Hasil singkong setelah di jemur.
7 Setelah singkong kering lalu di haluskan
atau di selep.
8 Setelah singkong sudah dihaluskan kita
siap olah tepung singkong tersebut kita
masak menjadi tiwul.
9 Lalu kita berikan air sedikit demi sedikit
ke tepung singkong.
10 Setelah tepung sudah tercampur rata
dengan air lalu masukkan gula dan
garam.
73
11 Setelah tepung gulah merah dan garam
sudah tercampur rata lalu kita masukkan
saja adonannya kedalam panci.
12 Setelah adonan sudah dimasukkan
kedalam panci lalu siap untuk
dikukus.dalam pengukusan kita dapat
menunggu waktu sampai 30 menit agar
proses pematangannya bisa jadi
sempurna dan tidak mentah.
13 Dan yang terakhir inilah hasil dari
pengukusan selama 30 menit
c. Teknik
1. Penggunaan Alat Pisau
Penggunaan pisau dalam pengupasan ketela akan mempermudah
ketela ketika dikupas. Pisau yang digunakan untuk mengupas pun ketela
harus benar-benar tajam. Cara untuk mengupas ketela yaitu pisahkan
ketela dari bagian kulitnya dengan menggunakan pisau. Kupas kulit ketela
secara tipis agar tidak banyak daging ketela pohon yang terbuang.
2. Proses Lamanya Penjemuran Ketela
Saat proses penjemuran ketela kita dapat menjemurnya selama 5
hari apabila kondisi cuaca nya mendukung dan tidak mendung-mendung,
namun ketika kondisi cuaca kurang mendukung atau sering tidak panas
atau sering mendung kita dapat menjemurnya selama 10 hari bahkan lebih
sampai ketela itu benar-benar kering.
3. Proses Lamanya Pemasakan
74
Dalam proses pemasakan akan membuat tiwul kita harus
membutuhkan waktu selama 30 menit dalam proses pemasakan agar apa
yang kita masak ini matang dengan sempurna dan tidak mentah.
d. Matematika
1. Penggunaan Komposisi Bahan
Komposisi bahan yang digunakan adalah singkong, penambahan air, gula
merah dan garam itu hanya secukupnya saja supaya nanti rasanya enak
dan lezat.
2. Perhitungan Untung Rugi
Pengeluaran
1) Pembelian tiwul per kilogram : 50 kg = Rp200.000,-
2) Plastik 2 pack = Rp15.000,-
3) Staples = Rp10.000,-
4) Isi staples 2 pack = Rp4.000,-
5) Fotocopy label 480 lembar = Rp8.000,-
6) Biaya transportasi dan makan = Rp100.000,-
Setiap 50 kg tiwul dapat menjadi 125 pack tiwul. Harga perpak tiwul =
Rp4.500,-
Dalam 1 minggu 2 sampai 3 kali berangkat untuk memasarkan dapat
menjual sekitar 65 pack tiwul, jadi dalam 2 minggu barang sudah dapat
terjual habis dengan kalkulasi:
Dalam 2 minggu dapat berangkat sekitar 6 kali
1) Untuk tiwul Rp4.500,- X 125 = Rp562.500,-
2) Biaya transportasi dan makan Rp25.000.- sekali berangkat, jadi jika 5 kali
yaitu Rp25.000,- X 5 = Rp125.000,-
Pendapatan bersih = Total harga jual tiwul – total harga pokok tiwul @50
kg
= Rp562.500 – Rp400.000
= Rp162.500,-
Laba bersih = Pendapatan – Total Biaya
= Rp165.500 + Rp165.500 – Rp125.000
= Rp200.000,-
Jadi modal awal akan kembali dalam waktu kira-kira 2 minggu dengan
pendapatan bersih dalam perbulan jika mampu menjual tiwul 200 kg
75
adalah Rp200.000,-
Hasil Wawancara
Saya : “Kak bagaimana cara pertama saat membuat tiwul?”
Kakak : “Caranya yang pertama dek yaitu tuangkan air sedikit demi
sedikit ke tepung singkongnya ya.”
Saya : “Apakah setelah itu ada penambahan bahan lagi kak?”
Kakak : “Ada dek. Setelah tepung sama air tercampur rata kita dapat
memasukkan garam dan gula merah ke adonan ya.”
Saya : “Mengapa harus di kasih gula merah sama garam kak?”
Kakak : “Karena dengan adanya paduan rasa garam sama gula merahnya
nanti akan menjadikan rasa tiwul ini menjadi enak dan lezat.”
Proses pembuatan tiwul bisa dilihat di laman youtube berikut :
https://youtu.be/1HAAa6uoQsU
Gambar 6. 2 Tampilan Pembuatan Tiwul di YouTube
76
TEMA 7
Pembelajaran Berbasis Etno-STEM dengan Tema
“Pembuatan Apem Kukus Khas Bantarbolang”
Oleh :
Mukti Lestari
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Larasati Kusuma Dewi
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Janatun Musribatun
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Adinda Dwi Sekartaji
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Alri Purtika Megalely
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Harnum Ayu Aningdia
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Semenjak diberitakan adanya virus covid-19, kegiatan pembelajaran
di kelas dialihkan menjadi pembelajaran DARING (Online). Masa pandemi
merupakan masa yang tepat bagi kami untuk menambah pengetahuan
baru di lingkungan sekitar. Kelompok kami mendapatkan kesempatan
untuk mengunjungi salah satu tempat produksi makanan yang dikatakan
sebagai salah satu kearifan lokal di wilayah Kabupaten Pemalang, yaitu
Apem Comal. Makanan khas tersebut sangat tepat dikaitkan dengan salah
77
satu materi IPA di Sekolah Dasar, yaitu Kelas 5 pada Tema 3 “ Makanan
Sehat “, Sub Tema 2 “ Pentingnya Makanan Sehat bagi Tubuh “
Pembelajaran 2. Pada pembelajaran tersebut membahas seberapa
pentingkah makanan sehat bagi tubuh.
Makanan disebut sebagai makanan sehat jika tidak adanya
kandungan bahan kimia pada makanan tersebut. Saat ini, banyak dijumpai
makanan cepat saji di pasaran. Masyarakat sebagian besar menjadi peminat
makanan cepat saji. Untuk mencegah dampak yang membahayakan bagi
tubuh, kita dapat mengonsumsi makanan sehat, misalnya makanan khas
daerah. Perkuliahan yang tidak dilaksanakan secara tatap muka
mendorong kami untuk melakukan pengamatan terhadap salah satu
makanan khas daerah Pemalang, Apem Comal namanya. , bentuk, aroma
dari Apem Comal. Makanan khas Pemalang dikatakan sebagai “Apem
Comal”, sebenarnya bukan berasal dari daerah Comal, melainkan dari Desa
Wanarata Kabupaten Pemalang, tepatnya di Dukuh Lenggak. Keadaan
geografis Dukuh Lenggak sangat mendukung kegiatan pembuatan Apem
Comal, mengingat kondisi mata air yang sangat baik, sehingga
memberikan rasa yang enak pada hasil akhir Apem Comal. Meskipun
demikian, saat ini telah banyak dijumpai pedagang di berbagai daerah di
Pemalang yang menjual makanan Apem Comal.
Gambar 7. 1 Skema Etno-STEM Pembuatan Apem Kukus
Materi Pendukung
78
a. Materi dan Perubahannya
Bahan utama dalam pembuatan Apem Kukus adalah tepung beras
yang berasal dari tanaman padi. Jenis tepung beras ini memiliki tekstur
yang lebih halus dibandingkan dengan tepung ketan. Ciri-ciri tepung beras
yaitu : berwarna putih, berbentuk bubuk, teksturnya lembut. Tepung beras
termasuk dalam benda padat namun berbentuk butiran halus dan massa
nya sama, hanya karena melalui proses pembuatan tepung, bentuknya
diperkecil. Pada saat pembuatan Apem Kukus, tepung beras megalami
perubahan kimia. Perubahan kimia adalah perubahan zat yang terjadi
karena reaksi kimia hingga menimbulkan zat baru. Peristiwa perubahan
kimia pada pembuatan Apem dikarenakan pengukusan. Pengukusan
merupakan cara pengolahan bahan pangan melalaui pemanasan
menggunakan uap air dalam wadah. Suhu pengukusan memperngaruhi
sifat fisika dan kimia bahan yang dikukus dan suhu pengukusan
yang berlebih dapat merusak bahan yang dikukus.
Makanan yaitu bahan yang biasanya berasal dari hewan atau
tumbuhan, yang dimakan oleh makhluk hidup untuk mendapatkan tenaga
dan nutrisi. Makanan diklasifikasikan menjadi 2 menurut bahan
pembuatannya, yaitu makanan tradisional dan modern. (Anonim, 1996),
makanan tradisional adalah makanan maupun jajanan dan minuman serta
bahan-bahan campuran yang secara tradisional telah digunakan dan
berkembang di kalangan masyarakat Indonesia. Salah satu contoh
makanan tradisional yang ada di Indonesia adalah Apem. Apem adalah
makanan tradisional yang berbahan dasar tepung beras yang cukup banyak
dikenal masyarakat. Diperlukan suatu cara untuk mengembangkan
makanan tradisional melalui teknologi. Pembuatan apem dengan tepung
beras kemudian diperkenalkan kepada masyarakat untuk melestarikan
makanan tradisional untuk mendukung dan meningkatkan ketahanan
pangan nasional.
b. Gaya
Gaya adalah suatu kekuatan (tarikan atau dorongan) yang
mengakibatkan benda yang dikenainya akan mengalami perubahan posisi
atau kedudukan (bergerak) serta berubah bentuk. Perubahan bentuk pada
tepung beras terjadi karena adanya gaya. Gaya digunakan untuk merubah
79
bentuk tepung beras menjadi Apem kukus yang dibantu dengan alat leger
atau panci pengukus.
c. Suhu dan Kalor
Suhu dan Kalor salah satu faktor yang berpengaruh dalam
pembuatan Apem kukus. Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat
panas maupun dingin dari suatu benda. Alat pengukur suhu adalah
termometer. Suatu proses fermentasi menyebabkan adonan menjadi
berbusa. Sebelum dikukus, adonan dimasukkan ke dalam cetakan Apem
sehingga ketika apem sudah matang maka apem akan memiliki bentuk
yang menarik. Pengukusan Apem diperlukan suhu kisaran 70℃ - 80℃.
Ketika proses pengukusan, terjadi perpindahan kalor dari api menuju Panci
kukus. Adanya pemberian kalor oleh api menyebabkan suhu air kukusan
dalam panci semakin tinggi dan mendidih hingga beruap. Hal ini berarti
kalor sebanding dengan perubahan suhu. Selain bergantung pada massa
dan perubahan suhu, kalor yang diperlukan agar suhu benda naik juga
bergantung pada jenis zat.
d. Kewirausahaan
Kewirausahaan adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan
sesuatu yang yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Pembuatan Apem
Kukus memiliki nilai jual yang cukup tinggi untuk sekali produksinya.
Pembuatan Apem dalam sekali produksinya dapat memperoleh
keuntungan mencapai Rp174.000,- . Saat ini telah mengalami
perkembangan kreasi dan inovasi dalam produksi apem kukus, sehingga
dapat dijadikan salah satu peluang usaha, karena Apem Kukus mengalami
perkembangan inovasi dalam pembuatannya. Apem kukus memiliki
tekstur lembut kenyal dan memiliki nilai jual yang tinggi.
3. Materi Pendukung ETNO - STEM
a. Sains Ilmiah
1. Komposisi Tepung Beras
Bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia
disebut Tepung Beras. Tepung ini mengandung 364 kilo kalori,
mengandung 7 gram protein, mengandung 80 gram karbohidrat,
mengandung 0,5 gram lemak, kalsium 5, mengandung Vitamin A sebanyak
0 IU, mengandung Vitamin B1 sebanyak 0,12 miligram dan mengandung
80
Vitamin C sebanyak 0 miligram. Sehingga tepung ini sangat cocok untuk
menjadi bahan utama dalam membuat apem kukus. Dalam pembuatan
apem hanya digunakan sedikit campuran minyak goreng ke dalam adonan
tepung beras tidak lengket.
2. Nama Ilmiah Padi
Tepung beras berasal dari padi yang memiliki nama latin Oryza Sativa L.
3. Nama Ilmiah Pohon Pisang
Daun pisang yang digunakan menjadi alas bawah apem yang
berasal dari pohon pisang yang memiliki tiga nama latin yaitu : Musa
Acuminata , M. Balbisiana , dan M. Xparadisiaca.
4. Nama Ilmiah Gula Merah
Gula aren atau Gula merah dengan nama latin Arenga Pinnata adalah
bahan pemanis yang terbuat dari nira yang berasal dari tandan bunga
jantan pohon enau. Gula merah dalam pembuatan apem kukus dicairkan
terlebih dahulu. Gula merah yang sudah dicairkan dan siap dicampurkan
ke adonan Apem.
b. Teknologi “Proses Pembuatan Apem Kukus”
Tabel 7. 1 Proses Pembuatan Apem Kukus
81
82
83
2) Proses Pengukusan menurut aturan
Proses pengukusan Apem diawali dengan memanaskan panci
pengukus. Dengan memanaskan panci kukus, maka kalor akan merambat
dan menimbulkan panas, sehingga air dalam panci kukusan akan
mendidih. Adonan Apem yang sudah dicetak kemudian di letakkan dalam
panci pengukus. Cetakan bambu dapat ditumpuk ketika apem yang sudah
berada dalam panci sebelumnya sudah mengembang. Ketika semua apem
sudah dimasukkan kedalam panci pengukus, maka panci harus ditutup
dengan rapat. Poses pengukusan apem membutuhkan waktu kurang lebih
1 jam.
c. Teknik
1. Proses Pembuatan Apem menurut aturan
Pembuatan apem dilakukan dengan menggunakan cetakan bambu.
Digunakannya bambu sebagai cetakan merupakan hal yang
sederhana.Tepung beras yang sudah menjadi adonan dituangkan satu per
satu ke dalam cetakan bambu yang telah disiapkan. Ketika cetakan sudah
diisi oleh adonan, maka sudah dapat di kukus menggunakan panci
pengukus.
2. Proses Pengukusan Apem menurut aturan
Teknik pengolahan makanan yang dilakukan melalui
proses pemanasan menggunakan uap air dalam suatu wadah tertutup
84
dinamakan pengukusan. Alat yang digunakan untuk mengukus disebut
sebagai sebagai kukusan. Teknik pengukusan dapat disebut salah satu cara
terbaik dalam mengolah suatu bahan makanan karena menekan adanya
pengurangan nilai gizi dari suatu bahan makanan. Pengukusan dinilai
lebih baik dan dalam menjaga kandungan gizi dan lebih menyehatkan jika
dibandingkan dengan proses pengolahan makanan melalui perebusan dan
penggorengan. Proses pengukusan apem kukus membutuhkan waktu
kurang lebih 1 jam.
d. Matematika
1. Penghitungan Untung Rugi
Perhitungan keuntungan dihitung dari satu kali produksi untuk satu
kali pengukusan. Satu kali produksi bisa memproduksi 375 apem yang
dimasukan ke dalam panci kukus. Untuk penjualan dalam satu kali
penjualan bisa menjual 375 apem. Harga satu apem berkisar Rp1.000,-.
Sehingga jika ditotal keuntungan bersih mencapai Rp174.000,-.
Perhitungannya, apabila bisa menjual 375 apem dalam sekali
produksi dengan harga Rp1.000,- . Keuntungan bersih setelah dikurangi
biaya produksi kira-kira Rp174.000,- keuntungan yang di dapat hanya
Rp174.000,- tetapi jika harga apem satunya Rp1/000,- maka
keuntungannya Rp174.000,-
375 ×1.000 = Rp375.000 – Rp201.000 = 174.000,-
Perhitungan kerugian dihitung juga dari satu kali produksi untuk
satu pengukusan. Satu buah Apem dijual dengan harga Rp1.000,-
perbuahnya, baik dalam keadaan sepi pembeli maupun ramai. Ketika
penjualan Apem kukus benar benar tidak ada yang membeli maka total
kerugian dalam sekali pembuatan Apem kukus adalah Rp27.000,-.
2. Penggunaan Komposisi Bahan
Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan Apem kukus
adalah tepung beras. Adapun yang digunakan sebagai bahan tambahan
dalam pembuatan apem kukus adalah gula merah, air putih, minyak
goreng. Gula merah yang dibutuhkan tergantung tepung beras. Jika tepung
beras yang dibuat 1kg dan gula merah nya pun 1kg. Air putih digunakan
untuk mencampurkan adonan. Minyak goreng dibutuhkan dalam
pembuatan apem kukus, karena agar mengurangi lengketnya adonan apem
ketika akan dimasukkan ke cetakan.
85
Wawancara
Janatun : “Assalamu’alaikum wr.wb. Sebelumnya saya mau meminta
izin mewawancarai ibu. Apakah diperbolehkan Bu? ”
Penjual : “Wa’alaikumsallam wr.wb. Boleh Mbak”
Janatun : “Perkenalkan saya Janatun Musribatun dari Universitas
PGRI Semarang Prodi PGSD. Dengan datangnya saya disini
untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Perkembangan Konsep
Dasar IPA terkaitnya dengan proses pembuatan Apem Kukus
di Desa Wanarata. Boleh memperkenalkan diri Bu
sebelumnya?”
Penjual : “Saya ibu Beny seorang penjual apem kukus.”
Janatun : “Asal mula merintis pembuatan apem kukus sejak kapan
Bu?”
Penjual : “Baru 3 bulan Mbak. Awalnya saya iseng-iseng membuat
apem, lalu semakin bertambahnya hari saya berminat untuk
melanjutkan usaha kecil ini.”
Janatun : “Bahan utama pembuatan apem kukus gimana nggih Bu?”
Penjual : “Bahan utama pembuatannya itu tepung beras
Mbak.”
Janatun : “Apakah ada bahan campuran lainnya Bu?”
Penjual : “Bahan campuran tersebut yaitu gula merah dan minyak
goreng, kami hanya menggunakan sedikit minyak goreng
agar adonan tidak lengket.”
Janatun : “Saat pengukusan media apa yang digunakan dalam
pengukusan Bu?”
Penjual : “Saya menggunakan kompor gas Mbak.”
Janatun : “Berapa perbandingan pemakaian antara tepung beras
dengan gula merah Bu?”
Penjual : “Perbandingan antara keduanya 1 : 1, masing masing
5 kg.”
Janatun : “Mengapa Ibu lebih memilih menggunakan kompor gas
dibandingkan menggunakan tungku?”
Penjual : “Saya memilih kompor gas karena lebih praktis
Mbak.”
Janatun : “Bagaimana cara mendapatkan bahan pembuatan apem
kukus tersebut Bu?”
86
Penjual : “Ada penjualnya sendiri Mbak, kecuali daun pisang saya
memetik sendiri.”
Janatun : “Modal awal yang digunakan berapa bu dalam pembuatan
apem kukus ini?”
Penjual : “Untuk membeli berasnya sendiri Rp10.000,- per-kg nya,
penggilingnya Rp10.000,- dan gula merah 1 kg Rp23.000,-.
Jadi kurang lebih totalnya Rp43.000,- untuk modal awal.”
Janatun : “Bagaimana proses cara pembuatan apem kukus ini Bu?”
Penjual : “Pertama ya siapakan tepung beras, campurkan dengan air
putih terus, uleni sampai merata dan muncul gelembung-
gelembung kecil. Jika sudah muncul gelembung kecil itu bisa
dicampurkan dengan Gula merah yang sudah dicairkan aduk
hingga tercampur semua. Setelah itu pindahkan ke dalam
wadah dan diamkan selama kurang Lebihnya 5 jam hingga
adonan tersebut berbusa.”
Janatun : “Untuk lamanya pengukusan berapa jam nggih bu dan
untuk 1 kg tepung, berapa apem kukus yang dihasilkan?”
Penjual : “Lamanya pengukusan 1 jam mba, menghasilkan 75
buah apem.”
Janatun : “Berapa keuntungan yang diperoleh dalam sekali
penjualan?”
Penjual : “Sekali jualan biasanya 375 apem, satu apem nya Rp1.000,-.
Keuntungan yang saya dapatkan Rp108.000,-.
Janatun : “Pernahkah ibu mengalami kerugian? Totalnya mencapai
berapa Bu?”
Penjual : “Pernah mba untuk kerugiannya Rp27.000,- kalau pasar
sedang sepi.”
Janatun : “Terimakasih bu atas waktunya mohon maaf sudah
mengganggu Ibu nggih.”
Penjual : “Nggih Mbak sami-sami.”
Proses Pembuatan Apem Kukus
Tampilan di youtube : https://youtu.be/eKO2cl509UE
87
Gambar 7.2 Tampilan Pembuatan Apem Kukus di YouTube
TEMA 8
Pembelajaran Berbasis Etno-STEM dengan Tema
“Pembuatan Getuk Singkong Khas Wirosari”
Oleh :
Rizky Al Maulana
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Rega Aji Sajiwo
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Rizky Dian Nova
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
88
Pravita Hasna Nabila
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Nila Pramesti Rahayu
Mahasiswa PGSD FIP Universitas PGRI Semarang
Gethuk merupakan makanan pokok Indonesia, gethuk singkong
melambangkan kesederhanaan yang mempergunakan potensi kita miliki
secara aktif dan kreatif sehingga mempermudah semua orang untuk
berinovasi dengan ketela untuk menjadi satu makanan yang menarik untuk
dihidangkan dan tak membosankan untuk dimakan. Dengan demikian
singkong menjadi pilihan yang tepat untuk bertahan karena memang
harganya yang murah meriah dan bisa didapatkan dimana saja. Singkong
digemari masyarakat Indonesia. Bukan semata umbinya yang bercita rasa
khas, kemudian tentang singkong yang telah mengajarkan kita bahwa
kesederhanaan dan kerendah-hatian dan dibarengi dengan berbagai
macam potensi diri yang memadai, akan menjadikan hidup kita lebih
acceptable di segala ruang dan waktu.
Gambar 8. 1 Skema Etno-STEM dengan tema Getuk Singkong
Ulasan pengantar singkat tentang tema yang dibuat.
89
Pada dasarnya bahan utama untuk pembuatan gethuk adalah
singkong yang memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Bahan yang
akan saya gunakan untuk membuat gethuk kali ini adalah singkong, karena
singkong masuk dalam kategori bahan pangan yang mengandung
karbohidrat tinggi. Dan selain itu singkong harganya terjangkau dan
mudah untuk ditemui dipasar tradisional maupun bisa menanam sendiri
di halaman rumah jika mempunyai halaman yang cukup luas atau
memadai.
Uraian lengkap
a. Gaya
Gaya adalah suatu bentuk tarikan atau dorongan yang
mempengaruhi perubahan suatu benda. Gaya dapat berpengaruh terhadap
bentuk benda, gerak benda, dan arah gerak benda. Perubahan bentuk pada
Gethuk Tela Singkong terjadi karena adanya gaya. Gaya digunakan untuk
merubah bentuk Singkong yang awalnya keras menjadi gethuk yang halus
merata dibantu dengan alat Tradisional.
b. Suhu dan Kalor
Pembuatan Gethuk Singkong Kayu ini di pengaruhi oleh suhu dan
kalor. Suhu merupakan besaran yang menyatakan ukuran panas atau
dinginya suatu benda. Dalam proses pengukusan Singkong ini juga terjadi
perpindahan kalor secara konduksi, seperti tutup panci terasa panas saat
panci di gunakan untuk mengukus dan air akan mendidih pada saat di
panaskan menggunakan panci logam saat terjadinya pengukusan. Lalu
pada saat pengukusan Singkong ini di kukus pada suhu di atas 100°C
selama 35 menit agar tektsturnya semakin empuk dan mudah untuk di
tumbuk.
c. Kewirausahaan
Kewirausahaan adalah sebuah proses dalam mengerjakan dan
menciptakan suatu yang baru dengan kreatif dan penuh inovasi dengan
tujuan agar bermanfaat bagi orang lain serta memiliki nilai jual yang lebih.
Gethuk singkong merupakan alternative bagi konsumen untuk tetap
memenuhi kebutuhan bergizi mereka. Gethuk merupakan salah satu
bentuk olahan atau makanan tradisional yang dapat dikembangkan,
90
bentuk olahan ini banyak disukai oleh anak muda maupun orang dewasa
karena rasanya yang ngangeni dan mengundang selera selain itu Gethuk
juga makanan yang sangat praktis seperti di pasar wirosari. Respon
konsumen terhadap Gethuk Singkong cukup bagus mengingat sekarang ini
sulit dijumpai makanan tradisional ini. Dalam proses produksinya
pembuatan Gethuk Singkong bisa menghasilkan keuntungan Rp350.000,- ,
sampai dengan Rp.400.000,- dalam sehari dengan harga jual Rp.3.000,
sampai dengan Rp.5.000. Oleh karena itu pembuatan Gethuk Singkong
bisa dijadikan peluang usaha masyarakat dengan tujuan agar makanan
tradisional tidak punah dari daftar makanan tradisional di indonesia ini.
Sains ilmiah
a. Komposisi Tela Singkong (manihot esculenta)
Singkong kayu adalah bahan baku utama dalam pembuatan produk
Gethuk. Singkong dipotong menjadi beberapa bagian kemudian dikupas
dari kulitnya, hal ini dipengaruhi dalam cita rasa dalam pembuatan
Gethuk. Dalam memilih singkong untuk diproduksi menjadi Gethuk
supaya memilih singkong yang merah, supaya mudah untuk ditumbuk
dan gurih rasanya.
b. Nama Ilmiah Kelapa (Cocos nucifera)
Kelapa yang digunakan untuk menambahkan citarasa gurih pada
pembuatan Gethuk singkong. Kelapa muda yang dikupas kulitnya
kemudian diparut juga ikut di kukus agar tidak mempermudah basi
Gethuk, peran kelapa ini menjadi pengawet Gethuk bisa awet 1 sampai 2
hari.
c. Nama Ilmiah Gula Merah (Aren)
Gula merah atau gula jawa merupakan salah satu gula yang kerap
dipakai dalam masakan kuliner Indonesia salah satunya Gethuk Singkong.
Warnanya khas yaitu cokelat gelap kemerah-merahan dan jenis gula ini
sering disebut sebagai gula merah. Gula Jawa banyak dijual dalam bentuk
silinder kecil yang padat. Gula ini terbuat dari sari pohon kelapa atau getah
palma. Biasanya gula Jawa banyak ditemukan pada jajanan tradisional
Indonesia seperti, gethuk dan gemblong.
91
d. Nama Ilmiah Garam (Sodium chloride)
Garam di gunakan dalam proses akhir pengolahan pembuatan
Gethuk Singkong. Garam digunakan dalam proses akhir pembuatan
Gethuk dengan tujuan menambahkan sdikit rasa keasaman pada gethuk
menambahkan rasa gurih.
Tabel 8. 1 Proses Pengamatan Gambar
No Keterangan
1. Tahap proses persiapan
bahan - bahan pembuatan
gethuk singkong, kelapa, gula
merah dan garam.
92
2. Proses pemotongan singkong
dan pengupasan dari
kulitnya.
3. Singkong yang telah melalui
proses dipotong, kemudian di
cuci terlebih dahulu sebelum
di kukus.
4. Singkong yang sudah sudah
dipotong menjadi kecil – kecil
dan sudah di cuci siap untuk
proses mengukus pada
kompor.
Mengenai kelapa yang sudah
diparut kemudian ikut
dikukus bersama singkong.
93
5. Setelah mengukus singkong
dan parutan kelapa,
kemudian proses memotong
Gula merah dan dipanaskan
di teplon.
6. Setelah menunggu 35 menit,
singkong yang di kukus
sudah matang, dan kemudian
proses perataan (ditumbuk).
7. Gula merah yang sudah
dipanaskan menjadi cair
kemudian di campurkan
dalam proses menumbuk
bersama singkong hingga rata
agar manisnya merata.
Dan garam juga dicampurkan
bersama gula merah.
8. Setelah melalui beberapa
proses Gethuk Singkong
sudah jadi. Dibuat dengan
cara praktis dan tradisional.
Makanan gethuk ini bisa
disajikan atau dibuat untuk
makanan keseharian dirumah
sendiri maupun.
Sumber : Koleksi Pribadi
Teknik (Engineering)
a. Penggunaan Alat Dapur
94
Penggunaan alat dapur dalam pembuatan gethuk singkong
sangatlah sederhana. Singkong dipotong – potong menjadi beberapa
bagian dan dikupas kulitnya, kemudian dicuci hingga bersih. Lalu siapkan
panci besar yang ada (sarangan) dan isilah air sedikit kemudian singkong
dimasukan dan taruh diatas kompor gas dan nyalakan.
b. Proses Lamanya Mengukus Singkong
Dalam proses mengukus singkong berlangsung selama 35 hingga 40
menit. Dalam proses mengukus singkong dipastikan dengan suhu yang
stabil agar tingkat kematangan singkong sempurna dan mudah untuk
ditumbuk.
c. Proses Pencampuran Gula Merah dan Garam
Gula merah dan garam digunakan dalam menambahi citarasa yang
manis dan sdikit keasaman dalam pembuatan gethuk. Pencampuran ini
dilakukan dalam penumbukan berlangsung.
d. Proses Penumbukan Singkong
Proses terakhir dalam pembuatan gethuk singkong adalam
ditumbuk. Penumbukan berlangsung setelah singkong dan parutan kelapa
sudah selesai melalui proses mengukus. Dengan alat sederhana seperti
(baskom dan cantuk) singkong yang telah dikukus kemudian ditumbuk
dengan bantuan alat tersebut, dan disaat proses penumbukan berlangsung
pencampuran gula merah dan garam di tuangkan sedikit- sedikit hingga
rata. Dan gethuk singkong pun sudah jadi.
Matematika
a. Perhitungan Untung Rugi
Perhitungan keuntungan dihitung dari satu kali produksi untuk
sekali pemasaran. Keuntungan tersebut diperoleh dari sekali pemasaran
bisa memperoleh Rp350.000,- sampai dengan Rp4.000.000,-. Dari
keuntungan tersebut belum dipotong dari bahan – bahan yang digunakan
untuk membuat gethuk. Perhitungan missal memperoleh keuntungan
Rp400.000,- sekali pemasaran dengan harga berkisar dari Rp3.000,- sampai
dengan Rp5.000,- perpotongan Gethuk tergantung dengan jenisnya.
95