Monumen
Kenangan kepada
Ir. Edith Budiman, Hesty Utami, S.H., Lenie Loebis, S.H.,
Dr. Kusmiyati, dan Ir. Ninditarini
Monumen
Kumpulan Cerita Pendek
Nh. Dini
MONUMEN
Kumpulan Cerita Pendek
Karya Nh. Dini
Diterbitkan oleh
PT Dunia Pustaka Jaya
Jl. Gumuruh No. 51, Bandung 40275
Telp. 022-7321911 Faks. 022-7330595
Email: [email protected]
Anggota Ikapi
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Desain sampul: Ayi R. Sacadipura
Cetakan pertama, 2002 oleh Grasindo,
EDISI PUSTAKA JAYA
Cetakan pertama, 2014
ISBN 978-979-419-422-5
Kata Pengantar
Cerpen “Monumen” yang saya susun menurut gaya dan cara
saya ini adalah 100% realita yang saya hidupi pada suatu kurun
waktu.
Pada suatu ketika di tahun 1991 tercetus gagasan untuk
membentuk cabang Rotary Club di Semarang dengan semua
anggota hanya kaum perempuan berkarier. Hesty Utami, S.H.
yang telah menjadi anggota salah satu club tersebut, tetapi cam-
puran pria dan wanita, ingin melibatkan saya. Maka ketika akhir-
nya perkumpulan terbentuk dengan nama Rotary Club Sema-
rang Kunthi, selama hampir tiga tahun lebih saya turut memban-
tu kelancaran roda organisasi sosial bertaraf internasional itu.
Di antaranya ialah dengan keberhasilan saya memasukkan dana
dari luar Indonesia untuk pengadaan air bersih di sebuah desa.
Kami kaum perempuan tidak bermaksud menyaingi para
rekan seperjuangan di bidang sosial tersebut. Hanya kami ber-
pendapat, mungkin kaum kami memiliki kelenturan dalam
menelusup ke sana atau kemari. Baik untuk mencari dana mau-
pun dalam hal pendekatan terhadap mereka yang dinamakan
“rakyat jelata”.
Pembaca yang berwawasan luas tentu sudah bisa menafsirkan
bahwa yang saya tulis sebagai cina lemu adalah budayawan Jaya
Suprana. Untuk waktu yang lama, dialah yang memegang pucuk
pimpinan organisasi bertaraf internasional itu di Indonesia. Se-
5
perti kebanyakan anggota Rotary Club Semarang Kunthi, dia
bersama istrinya saya anggap sebagai adik spiritual saya.
Cerpen-cerpen lain yang nyaris seluruhnya berdasarkan ke-
jadian nyata di kampung Sekayu (Semarang) adalah “Si Pencit”,
“Beduk”, dan “Ayam”.
Cerpen “Kampung Kuning” dan “Hanya Seorang Ibu” juga
berdasarkan kenyataan, saya tulis di rumah anak saya di Paris
tahun 1990-an setelah saya membaca banyak artikel/ berita di
koran mengenai peristiwa-peristiwa kebengisan yang dipicu oleh
kaum ekstrem sesuatu agama, baik di Afrika Utara maupun di
kota-kota di Eropa.
Cerpen “Perumnas” mempunyai latar belakang Perumahan
Beringin Indah, tempat saya tinggal sejak tahun 1994. Bibit cerpen
“Yustina” dan “Kawin Perak” sebetulnya sudah tersimpan di dalam
salah satu map ketika pada suatu hari Marulina Pane (juga adik
spiritual bagi saya) dari majalah Femina bertanya apakah saya
mempunyai cerpen yang bertema “begini-begini”, tepat seperti
catatan yang telah saya kumpulkan. Kebetulan pada waktu itu,
saya sangat terdesak, memerlukan dana untuk perawatan kese-
hatan. Setelah kami saling setuju mengenai honorarium, kedua
cerpen itu pun diumumkan majalah Femina tahun 1990-an.
Cerpen “Pulau” saya anggap sebagai cerpen yang paling isti-
mewa karena lahir berkat omong-omong bersama almarhum
Kang Amang Rachman di depan salah satu lukisannya. Gagasan-
nya berasal dari pelukis senior itu, sedangkan rangkaian “kem-
bangan” atau hiasan untuk memadati cerita merupakan kejadian
sesungguhnya yang saya dengar dari sana-sini di antara teman
dan relasi saya.
Beringin Indah (Semarang), Juni 2002
Nh. Dini
6
Daftar Isi
Kata Pengantar — 5
Si Pencit — 9
Beduk — 17
Pulau — 22
Ayam — 31
Hanya Seorang Ibu — 39
Kampung Kuning — 48
Perumnas — 59
Monumen — 70
Yustina — 77
Kawin Perak — 92
Biografi Singkat — 104
7
8
Si Pencit
“Ciklet, Ciklet.”
Bus malam sudah penuh. Ini yang terakhir akan berangkat
ke barat. Gito menyeret kaki melangkahi tas, bungkusan dan
kardus yang bergeletakan di antara tempat duduk.
“Ciklet, Mas, Bu, Ciklet,” serunya lagi, “rasanya segar kenyal.
Ciklet dari karet tapi bukan sandal. Mas, Ciklet. Semarang-
Tegal ditanggung awet.”
Seluruh terminal mulai mengenal bayangan Gito sejak awal
tahun. Anak Mak dan Bapak yang paling muda sudah berumur
dua belas tahun ketika tersusul Gito lahir. Gito anak Mak yang
dikatakan jatuh dari perut dan diterima ke dalam pelukan
Paryah. Sewaktu dukun datang, bayi sudah dibersihkan dengan
lap dilembapi air hangat.
Sebelumnya, selama tiga pasaran Mak sakit keras. Badannya
membara penuh bintik-bintik merah seperti gigitan nyamuk. Air
kelapa dan madu dapat menurunkan panas, tetapi tubuhnya nyeri
serta lemah. Dalam keadaan demikianlah perutnya mulai sakit.
Setelah dukun datang, memotong tali pusat dan membenahi
ari-ari, barulah Paryah dan Bapak menyadari bahwa Mak sudah
tidak bernapas. Penanaman ari-ari dibarengi dengan penguburan
Mak yang tidak mengenal wajah Gito bayi. Dia menjadi boneka
Paryah, satu-satunya anak yang tinggal di rumah. Enam saudara
lainnya terpencar menjadi buruh di kota.
9
Antara tetangga, dukun, Bapak dan Paryah, Gito tumbuh
melewati bulan-bulan pertama. Merekalah yang menyusun cam-
puran makanan bayi. Yang tetap ialah air tajin dan gula batu
atau gula aren. Bergantian kadang-kadang ditambah susu kerbau
atau susu kambing, tergantung apa yang kebetulan tersedia di
dekat-dekat sana. Dukun pulalah yang pertama mengetahui
bahwa satu telapak kaki si anak tidak lurus mendatar. Mula-
mula rasa kecewa dan kecemasan mencekam hati Bapak dan
Paryah. Tetapi segera melumat oleh wajah Gito bocah yang selalu
cerah. Tangisnya jarang, hanya berlangsung sebentar.
Dia terus tumbuh, menjadi asuhan semua orang, termasuk
dua saudaranya lelaki yang pulang dari kota. Mereka menjadi
buruh pabrik minuman botolan yang baru didirikan di tepi jalan
besar. Bapak tetap menjaga kebun orang, menggarap tanah
sendiri yang lumayan lebarnya dan memelihara ternak apa saja
yang dititipkan kepadanya. Selesai makan petang, dia menga-
nyam bakul, keranjang atau tampah. Pohon bambu di pedalaman
desa mereka masih ada beberapa yang selamat, terhindar dari
tebangan tukang pemasang listrik. Seperti rumput makanan
ternak, bambu menjadi sumber alam yang makin berharga. Bah-
kan di desa-desa pesisiran, bambu yang tua sukar didapatkan
tanpa biaya cukup tinggi.
Hari berlalu, Gito mulai belajar berjalan. Tak sekilas pun dia
tampak terganggu oleh kakinya yang cacat. Seolah-olah selama-
nya dia telah belajar berjalan dengan satu kaki yang menyeret
kaki lainnya. Anak-anak desa menggoda serta mengejek. Mereka
yang melempari batu dan kata-kata menusuk akhirnya tidak
berdaya menghadapi ketidakpedulian Gito.
Lalu Gito mendapat tambahan nama Pengkor.
Kata Bapak, dia diberi nama Gito karena cepat lahir tanpa
menunggu bantuan dukun. Tetapi sekarang, Gito Pengkor sering
dicaci orang karena jalannya tidak cepat, karena gerakannya
tidak sealur dengan manusia lingkungannya.
Gito bocah tujuh tahun terlalu sering kencing di waktu tidur.
Syaratnya hanya satu, kata dukun: Gito harus disunat. Ketika
10
ditanya berani atau tidak, Gito Pengkor berkata tegas: berani.
Bersama beberapa anak desa yang berumur empat atau lima
tahun di atasnya, Gito “dibersihkan” oleh dukun.
Sembuh dari khitanan, dia langsung belajar naik sepeda ka-
kak yang bekerja di pabrik. Semua orang tertawa memegangi
perut kegelian melihat ulahnya. Paryah menuntun sepeda, Gito
yang berkaki pengkor serius tegang. Keduanya tidak mengacuh-
kan sekelilingnya. Bapak terpaksa campur suara jika si pemilik
sepeda menakut-nakuti dengan gertakan agar pelajaran dihen-
tikan karena dia malu saudaranya ditertawakan.
Lalu tibalah hari penemuan: Gito dapat duduk di atas pelana.
Bumi yang tidak rata bagi kaki cacat ternyata tidak merupakan
masalah sebegitu roda-rodalah yang langsung berurusan dengan
tanah. Kendaraan meluncur bagaikan mengalir dengan sendiri-
nya. Pengayuh utama adalah kaki kiri. Dialah motornya. Yang
kanan mengikut, sekali-sekali meneruskan gerakan yang telah
terbentuk. Penemuan ini memberi rasa percaya diri yang luar
biasa pada si Pengkor.
Anak umur delapan tumbuh pesat. Seolah-olah dari kedalaman
jiwanya membersit sumber air yang menyuburkan badannya. Maka
Gito Pengkor menjadi longgor, meninggi dan meninggi mendahului
umurnya. Dia mendapat tambahan julukan “Gito Pencit”.
Tubuhnya kerempeng, tetapi tidak kering. Campuran tajin dan
susu kerbau atau susu kambing telah mendasarinya dengan
kekuatan otot serta daya tahan terhadap penyakit. Yang dikatakan
anak ingusan tidak pernah dia alami. Di waktu-waktu orang lain
terkena batuk atau selesma, Gito yang berkaki tidak lurus berbadan
tinggi meliuk dan melenggang dengan santainya.
Dalam beberapa hal, dialah anak yang paling diperhatikan.
Dia si Kecil di rumah. Tetapi perhatian tidak berarti membiarkan
dia bermalas-malas. Gito diajar mengerjakan segalanya. Menim-
ba dan mengusung air, menyapu dan menyiram pekarangan,
membawa ternak mandi atau mencari makanan mereka, meng-
anyam peralatan rumah tangga. Bahkan menanak nasi.
Dia ditumbuhkan sama seperti anak-anak desa lainnya, ke-
11
cuali panggilannya saja yang bertambah-tambah. Sebutan itu
tumbuh bersama dia, menjadi nama yang melekat senilai dengan
Gito yang pernah lahir cepat, tanpa menunggu dukun.
“Jangan habiskan sayurnya! Pengkor belum makan,” kata
Bapak kepada anak-anaknya yang lain.
“Siapa yang bawa anyaman ke pasar?”
“Si Pencit,” sahut seseorang di rumah.
“He, Pengkor! Kok pagi-pagi sudah berangkat bawa kambing?
Cari rumput ke mana?” seorang tetangga berteriak dari pintu
rumahnya.
Bapak tidak pernah bisa membaca, apalagi menulis. Asal
sudah terampil menghitung, mengenali beberapa gabungan hu-
ruf, meneliti tanda-tanda di langit dan membaca isyarat alam,
bagi dia sudah mencukupi. Tetapi anak-anaknya diharuskan
dapat membaca dan menulis. Hanya Gito yang tidak bersekolah.
Modin di langgar mengajar dia mengaji dan pengetahuan
dasar tulis-baca-hitung sehingga segalanya gamblang. Buktinya,
ketika Gito berangkat ke kota turut saudaranya, dia lancar mem-
baca surat keterangan yang dibekalkan Lurah kepadanya. Berkala
menuruti musim, dia menjadi buruh di pasar kota sedari dini
hari hingga siang. Lalu di waktu petang mengayuh becak. Tiga
bulan kemudian pulang untuk ikut panen, menunggu hingga
musim tandur. Kemudian balik ke kota.
Gito menjadi dewasa terlalu cepat. Otot-otot mengembang,
badan kekar berbahu bidang. Muka yang selalu cerah kelihatan
matang oleh mata yang memancarkan ketekunan. Ketika mendo-
rong becak dia dipanggil Pak. Tetapi di saat mengusungi dagang-
an di pasar, orang memanggilnya Nang, yang berarti anak laki-
laki. Silih berganti menjelma sebagai bapak yang membecak
atau anak lelaki yang memburuh, Gito puas. Dan sewaktu pulang
membawa sisir dan bedak buat Paryah serta ikat pinggang untuk
Bapak, dadanya meluapkan rasa bahagia.
Pada salah satu kesempatan pulang demikian, dia tidak
menemukan Paryah. Mbakyu dan ibunya itu terbujuk oleh kenalan
dari pabrik, mendaftarkan diri berangkat ke Maluku sebagai tenaga
12
kerja tani. Kabarnya, pemetikan cengkih harus dilakukan cepat.
Sedangkan buruh di sana sangat kurang, selalu didatangkan dari
Jawa dan Bali. Tenaga perempuan lebih disukai karena teliti dan
sabar. Belum ada mesin modern yang mampu menggantinya.
Paryah belum pernah meninggalkan dusun. Bahkan si Peng-
kor pun dibiarkan merantau mencari uang saku. Kini Paryah
menuntut haknya, dan Bapak terpaksa melepasnya. Apalagi yang
mencari tenaga dikenal baik oleh penduduk desa. Mereka per-
caya kepada laki-laki itu. Jaminan keuangan hebat, penginapan
juga disediakan di Surabaya sementara menunggu kapal.
Baru kali itulah Gito ditinggal Paryah. Kerinduan selama
dia berada di kota dapat diatasi dengan janji akan bertemu kem-
bali tiga bulan kemudian. Namun kali itu, perpisahan terentang
sampai delapan bulan. Ketika Gito pulang lagi, yang dia temukan
bukan mbakyu sekaligus ibu yang ia kenal selama itu. Paryah
yang sekarang pendiam. Sebentar-sebentar terkejut geragapan.
Tangannya gemetar mengerjakan anyaman yang tak kunjung
usai.
Peraturan paling baru di kota tidak mengizinkan becak mela-
lui jalan-jalan besar. Di berbagai tempat, bahkan menyeberang
pun dilarang. Gito tidak mengerti. Rupanya kalau kehidupan
dikatakan modern, rakyat kecil seperti dia harus disingkirkan.
Orang bepergian di kota yang menyesuaikan diri dengan pem-
bangunan, kabarnya hanya dibenarkan jika naik bus dan semua
kendaraan yang mengeluarkan asap. Padahal selama Gito mem-
becak, beratus kali dia mengangkut barang berbagai bentuk mau-
pun ukuran. Becak sangat luwes. Bisa mematutkan diri menuruti
keperluan. Dengan pengayuh cukup berakal mampu mengusung
seisi rumah atau seisi pasar. Sedangkan bus dan kendaraan ber-
motor lain tidak mungkin, kecuali jika disewa seluruhnya. Rak-
yat kecil di pasar dan penghuni kampung tidak cukup kaya
untuk pindah dengan menyewa kendaraan semacam itu.
Disebabkan peraturan kota, ditambah oleh keadaan Paryah,
Gito memutuskan meninggalkan pekerjaan sebagai tukang
becak. Meskipun yang sesungguhnya dia menyukai pekerjaan
13
yang dikatakan biadab oleh para petinggi penata kota. Gito mera-
sa menuruti jalan yang benar. Kata Bapak, orang-orang yang
menengadahkan tangan tanda meminta itulah yang biadab dan
seharusnya disingkirkan. Bukan pendorong becak.
Selama setahun Gito di kota, dia semakin mengerti apa itu
kehidupan. Dan Gito yang berkaki tidak rata juga mengenal
hakikat pergaulan antara lelaki-perempuan. Di desa tidak ada
video. Pertunjukan film keliling yang dinamakan “misbar” karena
kalau gerimis bubar menyuguhkan tontonan dibintangi muka-
muka setengah Belanda dan yang buka baju dalam adegan
mandi-mandi yang mengasyikkan. Tetapi tumbuh di desa, Gito
menyaksikan ajaran alam yang lebih langsung. Di pasar kota,
kalangannya memperkenalkan dia kepada perempuan-perem-
puan yang bisa dijadikan pasangan sesaat tanpa mempedulikan
kakinya rata atau tidak.
Sekarang, dia tetap berada di pasar dari subuh hingga tengah
hari. Setelah tugas dilunasi, Gito melenggang meliuk ke arah
selatan. Menurut Bapak, dulu di situ ada gedung Kabupaten
anggun dan indah. Kini menjadi deretan kios.
Gito tinggal memilih mana yang akan dijadikan tempat ber-
baring. Di bagian atas hampir semuanya kosong. Jam tiga atau
setengah empat, Gito bangun, mencari truk yang bisa dia tum-
pangi menuju terminal. Lengan kiri terlipat ke dada, dia menjin-
jing kotak berisi aneka merek gula-gula dan minyak gosok. Tangan
kanan digerak-gerakkan menyuarakan sentuhan isi dua bungkus
permen sambil disorong-sorongkan ke wajah penumpang.
Inilah kerjanya di stasiun bus. Penumpang yang sopan meng-
geleng, kebanyakan lainnya tidak peduli. Gito masuk ke dalam
bus. Penumpang di deretan tengah mengumpat. Bus tidak hanya
digunakan sebagai pengangkut orang. Itu juga melayani pengi-
riman barang. Tempat bagasi begitu penuh sehingga bawaan
penumpang berjubelan di antara bangku atau di bawah tempat
duduk. Kaki utuh dan sehat pun memerlukan keseimbangan
untuk melangkahi bermacam bentuk aneka bungkusan itu.
“Ciklet, Bu, Mas, Ciklet. Semarang-Tegal ditanggung awet.”
14
Gito menyeret kaki kanan, mencoba menempatkan langkah di
sela-sela barang.
“Sudah akan berangkat kok masih naik,” gerutu seorang pe-
numpang di tengah. Kernet melongokkan kepala ke dalam.
“He, Pencit! Turun!” serunya galak. Sopir telah duduk di
belakang setir, mengintip kaca spion, berseru,
“Ini 4536, Dir. Ingat pintu belakang agak rewel!”
Kernet menghilang, muncul di mulut pintu belakang, ber-
teriak,
“Ayo, Pengkor, cepat! Nanti kalau bus sudah jalan mana
mungkin kamu melompat dengan kaki yang peyok itu!”
Tubuh Gito mendekati pintu, terlenggok dan terliuk.
“Sabar, Mas, sabar. Belajar sabar banyak manfaatnya,” ka-
tanya.
Kernet menyisih membiarkan Gito turun. Tangan yang ter-
genggam gemas perlahan hendak dia tolakkan pada tengkuk si
Pengkor. Gito meringis, sigap mengelak.
“Aaah, jangan marah, Mas.”
Kernet geram. Seakan-akan kejengkelannya hendak dia lam-
piaskan pada pintu, badan bus bergetar mengikuti kegaduhan
suara kayu yang berbenturan. Gito memandang bus bergerak
maju. Berdiri begitu di peron, tubuhnya tetap melenggok. Berat
badan tertumpu ke kiri. Tinggal menyeberang, bus terakhir ke
Selatan akan membawanya pulang. Setiap petang dia menemu-
kan Bapak dan Paryah.
Hari itu dia mendengar berita dari mulut ke mulut bahwa
petugas pabrik yang menjadi calo pekerja wanita ketahuan naik
Colt jurusan Juana. Laki-laki itu menghilang dari pabrik dengan
membawa daftaran buruh paling akhir bersama isi kas koperasi.
Buruh perempuan yang wajahnya cukup manis tidak pernah
sampai ke tujuan. Seorang daripadanya adalah penduduk desa
tetangga. Dia berani mengadu ke kelurahan, terus ke polisi. Se-
mentara diberi dalih menunggu kapal, perempuan-perempuan
itu disuguhkan kepada laki-laki segala bangsa di sebuah tempat
yang nyaman dan berbau wangi.
15
“He, Pencit! Ikut pulang apa enggak?” seorang melambai
dari bus hijau di seberang.
Gito turun ke aspal, melenggang meliuk. Kotak dagangan
tertekan ke dadanya. Matanya bersinar aneh. Gigi-gigi digegat-
kan. Jangan sampai polisi mendahului menangkap orang itu,
katanya di dalam hati. Gito mempunyai rencana sendiri. Tidak
peduli uang penduduk atau pegawai pabrik yang dilarikan or-
ang itu. Masa bodoh dia memalsu nota pembelian bahan
bangunan. Bagi Gito, masalahnya adalah Paryah.
Si Pencit melompat gesit, naik bus jurusan Rembang.
“Awas kau, germo! Mentang-mentang kakiku peyok! Jangan
dikira aku tidak bisa menghajarmu!”
16
Beduk
Bertambah umur berarti yang tersisa semakin sedikit. Akhir-
akhir itu Pak Lurah semakin merenungkannya. Zaman-zaman
yang telah dia lewati amatlah beragam. Tidak banyak yang dia
sesali. Tetapi yang satu itu, ah, selalu mengiris jantungnya di
saat dia mengingatinya.
Jika Pak Lurah termenung dan Indun melihatnya, wanita
itu tahu mengundurkan diri. Dengan penuh rasa terima kasih,
Pak Lurah menyadari bahwa pengertian itu tidak dimiliki oleh
semua istri. Indun tidak merengek atau mendesak. Melalui sikap
atau satu dua kalimat, istri itu memperlihatkan bahwa dia tahu
suaminya sedang berusaha mengurai jeratan masalah. Apakah
penyelesaiannya harus dirundingkan berdua ataukah akan
ditangani sendirian, keputusan diserahkan kepada Pak Lurah.
Pendamping yang renta oleh kelahiran tiga belas anak itu mem-
punyai sifat yang kena sebagai pelengkap diri Pak Lurah. Sungguhlah
dia tidak salah memilihnya lima puluh tahun yang silam. Dua kakak
beradik diajukan orang tuanya sebagai calon istri. Terus terang dia
bingung menentukan, mana dari keduanya yang paling dia sukai.
Hari Raya Besaran, kedua keluarga bertemu di Masjid De-
mak. Anak-anak yang sudah saling mengenal sejak kecil, wak-
tu itu mendapat kesempatan bersentuhan ujung jari sebagai
salam mereka. Sudah akil balig. Salaman dan teguran tidak
lagi berlangsung seperti zaman kanak-kanak. Malam harinya,
17
Syahdi yang belum menjadi lurah mendengar pendapat ayahnya
memuji kecantikan kedua anak gadis Pak Tohari.
Syahdi sudah cukup umur. Dua tahun lagi akan dicalonkan
mengganti ayahnya. Kepala kampung harus mempunyai istri.
Anak Pak Tohari tentulah cukup berpendidikan. Berasal dari
Kudus Kulon menjamin keimanan mereka. Pastilah tahu mengaji
dengan alunan suara membelai langit. Siapa tahu yang besar
barangkali sudah khatam Al-Qur’an.
Gosokan dan desakan orang tua menghasilkan kunjungan
mereka ke keluarga Tohari. Maka berulanglah pengenalan Syahdi
terhadap makam Sunan Kudus, jam besar di menara merah dan
rumah kapal milik raja pabrik rokok Nitisemita. Lebih-lebih
lagi pengenalannya terhadap Masnun dan Indun. Tetapi waktu
itu tidak bergantian dibonceng sepeda berkeliling halaman se-
perti ketika masih ingusan.
Empat hari di sana, Syahdi hanya melihat kedua gadis itu
sekilas-sekilas. Di saat akan pulang, barulah dia berhasil berbicara
agak lama dengan mereka. Baru waktu itu pula Syahdi menen-
tukan pilihannya. Dia lebih menyukai Indun.
“Mengapa?” tanya ayahnya. “Dua-duanya cantik. Sama-sama
putihnya. Muka mereka tidak berbeda, sama-sama mempunyai
cetakan kelurahan Kudus Kulon.”
Ditambahkan lagi bahwa kalau Syahdi mau ganti pikiran,
segalanya bisa lebih cepat dan mudah dilaksanakan tahun itu
juga. Syahdi tetap pada pendiriannya.
“Mengapa?” tanya ayahnya lagi. “‘Kan sama saja! Asal anak
dari keluarga baik-baik dan cantik supaya anak-anakmu juga tam-
pan!”
Namun buat Syahdi, pandang matalah yang membedakan kedua
anak gadis Pak Tohari. Indun selalu memandang kepadanya dengan
kecerahan yang langsung. Sebagai kanak-kanak, dulu dia juga tidak
ceriwis, meskipun tetap berani berebutan mempertahankan hak
gilirannya diboncengkan dari tepi dinding satu ke dinding lain di
halaman.
Maka repot bukan kepalang orang tua Syahdi mencarikan calon
18
suami gadis pertama. Kalau Masnun cepat kawin, akan mudahlah
melamar Indun. Orang tua Syahdi mendengar si Anu di kampung
Melayu yang punya jejaka sebaya dengan anak mereka. Tapi jangan,
kata kenalannya. Pemuda itu penjudi. Kasihan Tohari mendapat
menantu seperti itu. Di Kauman ada yang mungkin lebih cocok.
Anak si Itu yang baru pulang dari naik haji. Terampil dia! Sendirian
menjalankan tokonya sewaktu orang tuanya pergi. Siapa lagi? Coba
cari lainnya untuk cadangan.
Sibuk hingga ke Tegal, ke Pekalongan mereka mencari. Tidak
sampai tiga bulan, bapaknya Syahdi berangkat ke Kudus mene-
mani seseorang mengajukan lamaran buat anak gadis pertama. Dan
belum lewat satu tahun setelah kakaknya menikah, Indun diboyong
ke kota pelabuhan, menjadi pendamping Syahdi calon lurah.
Di depan rumah Pak Lurah, masjid kampung menempati te-
ngah-tengah empat lorong yang berjuluran menghubungkan empat
penjuru desa. Itulah satu-satunya bangunan dari batu. Ketika Syahdi
masih anak-anak dia sudah melihatnya berdiri gagah di situ.
Menurut cerita, sedari dahulu sudah demikian, karena peme-
rintah Hindia Belanda menghormati sejarahnya sebagai salah
satu cikal bakal tempat beribadah yang didirikan kaum ulama
di tanah Jawa. Pintu jeruji dari kayu tidak pernah terkunci. Dia
berada di sana hanya untuk menghalangi ayam yang berkeliaran.
Sesuai dengan keterbukaannya, selain sebagai tempat berjamaah
orang sekampung, dia juga menerima musafir yang memerlukan
tempat sesudut buat bermalam. Air di bak luber berlimpahan.
Dan beduknya, wah, beduknya sungguhlah hebat.
Kegendutannya kelihatan memakan ruang di serambi kanan.
Penjalin yang melingkari dan merengkuhnya adalah rotan utuh
setebal dua ibu jari Syahdi-dewasa. Kulit yang terentang tempat
menerima pukulan sudah dua kali dibalik ke sebelah luar. Hingga
pada suatu ketika, kedua sisi mengkilat, berwarna aus. Tetapi itu
tidak mengurangi kewibawaan yang terpancar dari kenyaringan
suaranya.
Di masa muda, Pak Lurah menyaksikan satu kali perbaikan
gendang tersebut. Orang berkata bahwa kerangkanya berasal dari
19
zaman para wali ketika mereka dalam perjalanan ke Demak. Untuk
memperbaiki kulitnya, seseorang didatangkan dari jauh. Pada waktu
penurunan, dari pintu masjid Syahdi mendengar ahli gendang
menggumamkan doa Islam dan Jawa. Enam orang yang menopang,
lalu menggotong beduk untuk dibaringkan di atas tikar. Sesuai
dengan adat, sebagai selamatan tolak bala, satu nyiru penuh nasi
gudangan disuguhkan. Perbaikan dikerjakan di serambi dan halaman
masjid. Itu adalah tontonan yang luar biasa bagi penduduk kampung.
Lebih-lebih ketika tiba saat melemaskan penjalin supaya dapat
dilekuk dipatutkan pada rentangan kulit yang baru. Nyala api jingga
kebiruan meliuk-liuk berkobar di ujung mulut sebuah obor. Anak-
anak dan orang dewasa berkerumun berdesakan. Namun, semua
tenang. Suara busikan menandakan rasa segan dan hormat mereka.
Selain beduk besar, masjid juga mempunyai beduk lain ber-
bentuk ramping. Panjangnya satu depa, beduk itu digantung
berdiri di samping beduk besar. Ini adalah sumbangan ayah ka-
keknya Syahdi ketika diangkat menjadi lurah. Empat generasi
berlangsung, dua beduk itu berpasangan tanpa sengketa tanpa
menimbulkan masalah pada warga kampung.
Ketika tiba zaman pendudukan Jepang, beduk besar hampir
dipaksa meninggalkan rumahnya. “Perkosaan” itu dilaksanakan
atas nama pejabat militer yang berkuasa.
Pertama kali ketika beduk sudah ditaruh di atas gerobak,
roda alat pengangkut itu mendadak menggelinding lepas. Beduk
dikembalikan naik ke gantungannya.
Kedua kali, beduk dibawa gerobak menuju ujung kampung
untuk dimuatkan ke atas truk. Barangkali karena sempitnya
jalan kampung, sopir yang bermata sipit dan berkaki bengkong
itu tiba-tiba tersandung sesuatu. Dia dipapah naik becak, kata-
nya akan mengirim sopir yang lain. Hingga sore tak ada petugas
datang, maka beduk dipulangkan ke masjid.
Ketiga kalinya, pejabat militer itu sendiri yang masuk kam-
pung. Semua berjalan mulus. Untuk menaikkan ke dalam truk,
lima orang mendorong dari bawah, lima lainnya menarik, berdiri
di atas truk. Pada sepertiga kepanjangan papan, seolah-olah ter-
halang sesuatu, beduk tidak bergerak. Tenaga ditambah, beringsut
20
pun tidak. Akhirnya sepuluh mendorong, sepuluh menarik, tali
tiba-tiba rantas dan beduk meluncur berlumuran debu kampung.
Ketika magrib, beduk itu kembali dipukul sebagai tanda per-
mulaan panggilan sholat. Pekan itu juga Pak Lurah mendengar
kabar bahwa pejabat militer yang sama dipindah ke kota lain.
Perang revolusi membawa tentara pendudukan yang lain.
Pak Lurah waswas. Maka beduk besar diangkut ke belakang
masjid. Dia ditimbuni gulungan dan lipatan tikar. Di atasnya
ditaruh keranda serta peralatan lain milik kampung.
Kemudian, pekik merdeka mengantarkan beduk besar pulang
ke gantungannya menemui pasangannya. Cukup lama Pak Lurah
berbangga bisa meneruskan tradisi mengumandangkan gelegar
suara benda itu ke seluruh penjuru kampung. Tetapi tidak semua
orang menyukai tradisi. Lebih-lebih jika mendadak ada lurah
lain karena zaman berganti nama: Orde Baru.
Dia ini tidak dipilih. Tidak berasal dari kampung itu. Dia ini
juga meneruskan tetap tinggal di tempat lain. Istilah barunya, diter-
junkan dari Pemerintah Daerah; tiba-tiba saja menjadi lurah di sana.
Meskipun warga kampung tetap memanggil Syahdi “Pak Lurah”,
dia sudah tersepak dari pengaturan kampung yang dia cintai.
Dan pukulan beduk yang meninggalkan dengung khusyuk
namun akrab pun menghilang. Disusul kedatangan orang-orang
ke masjid tersebut memanjat ke sini, mengulur dan menarik ka-
bel ke dalam maupun ke atap bangunan. Lalu sayup-sayup azan
yang meluruhkan hati pun berganti menjadi bentakan pengeras
suara yang dialirkan dari satuan listrik atas biaya isi saku
penduduk kampung.
Pada suatu hari, beduk besar diturunkan, menghilang entah ke
mana. Kemudian tersebar berita bahwa lurah yang baru membikin
rumah baru. Bahwa dia membeli kendaraan buat dirinya sendiri
dan empat anaknya yang sudah besar. Semua dibayar lunas.
“Sampeyan sedang memikirkan hal itu lagi, Pakne,” tegur
Indun di samping Pak Lurah Syahdi. “Sudah! Direlakan saja!
Suatu hari kelak dia pasti kuwalat.”
Pak Lurah tersenyum membalas pandang istrinya. Dia tidak
menyesal memilih Indun yang berani menatap matanya.
21
Pulau
Hidup Darsan berhasil. Inilah yang sering terdengar di sekitar
tempat tinggalnya. Lebih sering diiringi nada iri daripada keka-
guman. Dari mereka itu tidak banyak yang mengetahui lara-
lapa pengusaha besar Sudarsan asal Jawa Timur. Tidak banyak
yang mendapatkan angin mengenai masa lampaunya.
Semua pekerjaan pernah dia lakukan, yang dihalalkan me-
nurut pendidikan yang pernah dia terima. Sebenarnya, dia tidak
mempunyai latar belakang pendidikan yang dianggap pantas
untuk menjadi orang. Sejak kecil dia berada di jalanan. Tanpa
bisa memilih, dia memang pernah dingengerkan di sebuah pe-
santren. Dua tahun, dia lari dari sana. Tetapi masa itu membe-
kalinya kecakapan membaca dan menulis. Lalu tanpa sengaja
dia bisa berbahasa Jepang karena bekerja di kandang kuda tentara
pendudukan. Di zaman revolusi, tanpa sengaja lagi dia turut
menggempur tangsi musuh, menjadi kurir pembawa kata-kata
sandi dan pistol, menyelundup masuk keluar kota. Itu dia kerja-
kan lebih dengan semangat petualangan daripada kesadaran mut-
lak berjuang untuk negara.
Ketika kemerdekaan tiba, tak seorang pun dari mereka yang
pernah dia layani mempertaruhkan nyawa mengingati Darsan.
Dan dia kembali ke jalanan, tanpa pekerjaan tetap. Supaya bisa
makan agak teratur, malam mengayuh becak, siang menjadi tu-
kang. Paling sering, dia gogo di sungai. Bersama seorang kawan,
22
berbagai benda dia bebaskan dari cengkeraman lumpur kali di
luar dan di dalam kota kelahirannya. Mereka tumpuk barang di
tepian, mereka pilihi dan tawarkan. Potongan pedang, mata
tombak atau anak panah, bermacam benda utuh atau aus dan
uang logam. Kesemuanya itu tidak membikin mereka kaya. Tapi
mereka bisa membeli baju di rombengan serta makan hampir
setiap kali merasa lapar.
Kenalan dan teman dari Ibu Kota berdatangan menyampai-
kan cerita menggiurkan: Uang mudah dicari di sana. Darsan
berangkat bersama kawannya. Setiap dinihari, bergiliran mereka
ke Stasiun Senen kulakan telur. Setelah menitipkannya di bebe-
rapa warung, mereka turun ke sungai. Petang tiba, Darsan me-
ngayuh becak. Supaya tidak dikenali orang, malam pun dia me-
ngenakan topi.
Sungai di Ibu Kota berbeda dari yang mereka kenal di daerah.
Tidak banyak yang mereka keluarkan dari lumpurnya. Plastik
dan sampah menggunung menyumbat aliran. Tetapi besi tua
yang sedikit selalu bisa dijual untuk menambah uang makan
dan sewa kamar yang bocor. Antara telur, becak, dan besi tua,
Darsan bertekad untuk tidak ditelan bulat-bulat oleh kota besar
itu. Berangsur dengan jalannya bulan dan tahun, isi sungai ber-
ubah. Kulit Darsan begitu pula. Kalau dahulu hitam berminyak,
kini menjadi keriput kering. Lalu tumbuh busul-busul kecil di
bagian tubuh yang peka dan terlipat. Bila tersentuh rasanya
ngilu membakar. Dia oleskan air kapur. Rasa ngilu dan bintik
menghilang, tetapi kulit semakin kering. Setiap kali anggota
badan digerakkan, seperti tertarik dan teriris. Satu tempat sem-
buh, tumbuh di bagian lain. Tubuh Darsan bagaikan kacang
panjang yang tua merekah, terkelupas kaku dengan biji-biji siap
untuk ditanam.
Darsan berhenti gogo. Dia menunggui temannya di pinggir
kali sambil membersihkan barang yang ditemukan. Beberapa
waktu berlalu.
Suatu sore, sedemikian kawannya keluar dari air, dia pegang
perutnya dan berguling di tanah. Begitu matanya terbuka, isi
23
perutnya mendesak keluar. Tanah bergoyang, tanah bergerak,
katanya. Dia berusaha berdiri, tapi sempoyongan terjatuh kem-
bali. Air sungai beracun.
Kali di Ibu Kota tidak menghendaki mereka. Lama Darsan
menganggur di siang hari. Bersepeda ke sana kemari, berusaha
menemui kenalan dan teman. Setengah parasit, dia turut minum
atau makan di mana saja. Dan dia bertahan tidak menggadaikan
sepedanya. Untuk membuka ban yang akan ditambal, dia pergi
ke bengkel berdekatan dengan jalan tempat tinggalnya. Dia
ditawari pekerjaan membantu apa saja. Bagaikan telah diatur,
keesokan harinya, di situ dia bertemu kembali dengan orang
yang memimpin penyerangan tangsi musuh. Darsan ditanya
apakah masih ingat berbahasa Jepang. Sambil tertawa, dia men-
jawab dalam bahasa tersebut.
Itulah kunci ke masa barunya yang panjang. Orang tersebut
menanggungnya, Darsan bersekolah satu tahun. Tiba-tiba pakai-
annya lebih dari tiga setelan celana panjang dan hem. Sepatu
berkilau harus selalu dia kenakan meskipun kakinya sakit
terpencet. Penampilannya bersih dan rapi, dia berangkat men-
jadi juru bicara di sebuah perwakilan RI. Sejalan dengan nasib-
nya yang membaik, dompetnya selalu berisi. Pendidikan dari
jalanan yang menumbuhkannya sempat menggariskan patokan
bahwa orang yang baik itu tidak mencuri dan tidak membunuh.
Untuk seterusnya, keduanya menjadi pokok hidup Darsan. Dia
tidak mencuri, hanya mengambil yang menjadi haknya. Dia
tidak membunuh, hanya makan binatang yang telah berupa
masakan. Dan sejalan pula dengan perbaikan keberuntungan
itu, Darsan melengkapi pendidikan diri sendiri.
Rasa ingin tahunya sangat membantu. Sejak mulai bisa mem-
baca, Darsan rajin mencari. Dulu, bila dia temukan rentetan
huruf, dengan semangat besar dia mengungkapkan kata-kata
yang terbentuk. Gedek di kakus pesantren penuh dengan tulisan.
Ketika hidup bergelandangan, tembok kota menjadi papan
tulisnya. Sesobek halaman surat kabar atau buku amatlah ber-
harga baginya.
24
Kini, karena mempunyai uang, Darsan mampu menyewa
dan membeli buku. Dia banyak membaca. Dia bertanya dan
mendengarkan jawaban serta pendapat orang. Bahasa Jepang
ditambah dengan bahasa Inggris. Menyusul bahasa Belanda,
Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia. Ketika kesempatan ter-
suguh, dia masuk sekolah lagi. Karier pegawai negeri tertinggi
diraih sebagai konsul. Hanya dialah pegawai tinggi di negeri ini
yang mampu berbicara dan membaca tujuh bahasa asing. Dia
memang unik. Sudarsan, orang Jawa Timur bekas tukang becak,
tukang gogo dan tengkulak telur.
Meskipun tidak sempat memikirkan masa lalunya sebagai
sesuatu yang aib, dia tidak suka membicarakannya. Apabila anak
orang-orang yang pernah kenal dia di tempat asal mendadak
muncul, dia tidak mau disebut Pak Darsan. Panggil oom saja,
katanya. Dia suka disebut oom, karena bagi Darsan, Pak dan
Bu sudah kabur pengertiannya. Kepada tukang becak, penjaja
makanan, sopir, pengemis, dua perkataan itu tidak lagi berisi
arti perbedaan umur yang muda memanggil yang tua. Pada
zaman sekarang, itu mengandung penudingan: mereka termasuk
tingkatan paling rendah. Sama seperti mang dan bibi yang digu-
nakan Darsan jika berbicara kepada penjaga kebun rambutannya
di Pasar Minggu dan Ciputat. Sebaliknya, kalau Pak dan Bu
dikenakan sebagai panggilan terhadap hansip yang berwajah
bocah, polisi yang baru praktek kerja, kepada para menteri serta
pegawai tinggi semua instansi, itu berarti bahwa pekerjaan
merekalah yang dihormati. Pangkat, kedudukan, golongan, telah
merampas arti panggilan kedekatan yang maunya akrab itu.
Maka Darsan lebih suka bersembunyi di balik perkataan
oom. Dia merasa aman dalam pengkhianatan pemakaian bahasa
asing itu. Panggil aku Oom Darsan. Dia terkenal di antara keme-
nakan-kemenakan yang tidak sedarah tersebut. Oom Darsan
dermawan, baik hati, suka menolong. Karena dia punya uang,
kini berpuluh, beratus orang menjadi parasitnya. Pengatur rumah
tangganya setiap hari bertanggung jawab mengadakan makanan
buat paling sedikit tiga puluh mulut. Mereka itu setengah
25
bekerja, setengah sekolah. Setiap bulan harus dibayari berbagai
kebutuhannya. Darsan tidak berkeberatan.
Dia memang menganggap diri berhasil. Dia tidak beragama,
tetapi mempunyai Tuhan. Dia ber-aku-Kau dengan-Nya.
Katanya, “Berkat Kau aku sekarang menjadi orang, mendapat
keberuntungan.” Di kala para pegawai perwakilan ulang-alik
memperdagangkan barang porselin dan kristal, Darsan tidak
seperti mereka. Dia merasa tidak berhak. Tetapi dia memper-
gunakan haknya, pulang pensiun membawa mobil Mercedes
putih. Sampai di tanah air dijual. Uangnya dibelikan tanah di
empat penjuru pinggiran Jakarta dan kota kelahirannya.
Darsan tahu memilih. Belum dua tahun kemudian, harganya
melesat melonjak. Sebagian demi sebagian dijual lagi. Dia beli
tiga usaha besar. Dia sebarkan ratusan modal kepada petani
anggrek, pedagang sayur serta petani buah di daerah kelahir-
annya. Dia berdiri di belakang yayasan A dan yayasan B sebagai
pemberi beasiswa kepada anak-anak pengusaha kecil itu. Mereka
disekolahkan ke jurusan yang praktis dan menghargai kema-
nusiaan. Darsan suka membagikan rezeki yang telah diberikan
Tuhan kepadanya.
Tapi dia melarang keras lingkungannya memberi uang kepada
pengemis. Pengemis itu orang yang malas, katanya. Mereka
punya rumah lebih baik dari pada gubuk tukang becak. Mereka
punya kelompok, bahkan tidak sedikit yang diam-diam memiliki
tabanas atau rekening di giro pos atau bank. Naiklah becak
sebentar, lalu beri uang. Tambahnya lagi, di saat tukang becak
berangkat dari kamarnya yang berbau apek buat menantang
kerasnya kerja dan teriknya matahari, pengemis juga mening-
galkan rumah mereka diboncengkan kendaraan bermotor oleh
anaknya, lalu ngepos di pojok jalan. Pura-pura buta atau lumpuh,
menengadahkan telapak tangan buat meminta.
Itulah kata Darsan, dan dia yakin bahwa dia benar.
Pastilah Tuhan setuju, karena segalanya berjalan lancar, semua
baik-baik. Perkawinannya dengan wanita manis dan penurut
pun tanpa halangan. Keempat anaknya sudah menjadi orang
26
pula, mampu menghidupi anak-istri masing- masing,
mempergunakan gelar kesarjanaannya dengan tepat di bidang
masing-masing.
Darsan baru mendapatkan cucu ketujuh ketika tiba-tiba istri-
nya meninggal. Mengapa begitu cepat? Dia tahu bahwa dunia
ini tidak langgeng. Tetapi dia ingin mati lebih dulu dari istrinya.
Bagaikan ada sesuatu yang terputus dalam dadanya: Apakah
Tuhan tidak berkenan dengan tindakannya yang paling akhir? Yang
mana? Mengapa dia dihukum ditinggalkan teman hidupnya?
Ekspor kayu ke Jepang memang benar, dia melipatgandakan
harganya. Tetapi laba berjumlah luar biasa itu sudah langsung dia
bagikan untuk memperbaiki katedral dan pendirian masjid baru
di kota kelahirannya. Perbuatan terhadap istrinya? Rasa-rasanya
tidak ada tindakan yang lain dari kebiasaan lampau. Sedari mula
perkawinan, Darsan tidak pernah mengabaikan kesempatan-
kesempatan yang tersuguh. Pelayanan perseorangan atau
perusahaan yang berupa gadis-gadis dan wanita muda selalu dia
manfaatkan. Dia lelaki beruang. Dia merasa berhak memanfaatkan
kodrat yang diberikan Tuhan bahwa laki-laki tidak berisiko hamil
seberapa kali pun bercengkerama dengan seberapa perempuan pun.
Tapi dia tidak pernah melupakan istrinya. Permintaan oleh-
oleh besar dan kecil selalu dia lunasi. Lalu perbuatan mana yang
dihukum Tuhan? Istrinya pernah tidak menyetujui tindakan
yang mana?
Ah, ya! Teman hidupnya itu tidak menyetujui Darsan men-
calonkan dirinya sebagai wakil rakyat. Terbujuk oleh kawannya
bekas pejuang, memang dia sudah terdaftar masuk ke pemilihan
umum. Kamu menolong banyak orang, itu sangat baik dan aku
turut senang, kata pendamping hidupnya. Kamu membangun
kembali masjid reyot dan memperbaiki gereja tanpa orang
mengetahui namamu secara besar-besaran. Itu amat membantu
orang lain menjalankan ibadahnya dan aku ikut bangga. Tetapi
kalau kamu menjadi anggota DPR, kamu akan mulai menjadi
munafik. Dari saat itulah kamu akan berhenti menolong orang
dalam arti sesungguhnya.
27
Darsan terpukul, karena dia yakin bahwa itulah sebab kema-
tian istrinya terlalu cepat. Maka Darsan mengundurkan diri.
Dia bersembunyi di pulaunya. Dia beli tanah itu memang buat
menyepi. Segala kepraktisan dibangun dan diadakan. Cadangan
air dan makanan selalu diperbarui. Kebun sayur dan bunga ter-
lindung di bawah atap kaca. Tambak ikan laut langsung mencapai
tepian pasir merupakan tempat yang paling dia sukai. Tombol
berbagai macam alat elektronik dan radio terdapat di mana-
mana. Sewaktu-waktu bila dikehendaki, dia bisa berhubungan
kembali dengan dunia luar.
Kini, Darsan sudah empat bulan di pulaunya tanpa merasa
kesepian. Tanpa merasa terganggu. Hingga siang itu.
Setelah menyemprot tanaman dan memasang alat penanak
nasi, dia menimba air buat bak kamar mandi. Dia senang
mengerjakan semua urusan itu. Lalu dia berenang sebentar dan
langsung ke tambak untuk memilih ikan.
Pada waktu itulah dia melihat orang itu. Cepat serok diletak-
kan. Darsan berteriak memanggil dan akan memburu. Orang
itu menghilang. Setengah kesal setengah heran, Darsan menge-
rutkan kening. Siapa? Dia tahu bahwa dia sendirian di sana.
Orang itu tidak mengenakan apa-apa selain celana dalam hijau,
basah kuyup.
Darsan lapar. Dia bergegas pulang, menyiapkan ikan lalu
makan. Selesai membenahi dapur, dia berbaringan di kebun kaca.
Bukunya tidak disentuh, dia merenung memandangi laut lepas
yang menggaris lewat dinding kaca. Lalu kosong.
Ketika sadarkan diri, dia menoleh ke jam di samping pintu.
Hanya tujuh menit dia tertidur. Lengannya merasa gatal. Dia
lihat bintik-bintik kecil merah berderet ke arah pergelangan.
Apa ini? Sudah lama dia tidak mempunyai keluhan mengenai
kesehatannya. Selama hidup kaya dia tahu mengimbangi gizi
dengan segala vitamin. Dia tidak diet karena merasa sayang:
Sekarang dia bisa membeli semua jenis makanan yang dikehen-
daki, mengapa membatasi ini dan itu!
Darsan minum pil antialergi, lalu berangkat mengitari
28
pulaunya, menelusuri pantai pasir dan berhenti di rawa yang
penuh pepohonan.
Burung-burung mulai berdatangan pulang. Darsan duduk
di tempat kesukaannya mengamati mereka. Beberapa saat ber-
lalu, mendadak hatinya berdebar kaget. Dia melihat seorang
lelaki berpakaian lengkap, dengan jaket, berdiri di tepian yang
berseberangan. Mereka sempat bertatapan pandang. Tiga detik?
Empat detik? Orang itu berbalik dan pergi.
He! Darsan berteriak. Kali ini nadanya keras menghardik.
Tapi dia tidak bergerak karena sadar tidak akan bisa mengejarnya
cepat-cepat.
Sebelum hari gelap, dia menuju ke rumahnya. Siapa tahu
orang itu mencari dia di sana. Sampai dia berangkat tidur malam
itu, tak ada yang mengganggu Darsan.
Keesokannya, dia hampir tidak bisa berjalan. Tiba-tiba ka-
kinya kanan sakit sekali. Dia tidak jatuh ataupun terkilir kema-
rin. Sambil minum kopi, pandangnya untuk kesekian kalinya
lepas melintasi kebun, menggapai cakrawala yang perak berki-
lauan. Ingatannya melayang.
Hari itu dia tidak pergi jauh. Tetapi dia melihat kembali dua
lelaki yang kemarin, ditambah seorang lagi yang berpakaian sport
putih-putih sambil berjalan mengayunkan tongkat golf. Mereka
muncul tiba-tiba di suatu tempat dan hanya selama beberapa
kejapan pandang.
Kejadian itu berulang pada hari-hari selanjutnya. Semakin
hari, Darsan semakin gelisah. Terhitung lima orang yang terkum-
pul di pulaunya.
Kemudian sore kemarin ketika kembali dari bukit memetik
kelapa muda, Darsan melihat seseorang sedang berjongkok be-
kerja di halaman. Mendengar suara pintu, orang itu menegakkan
badan dan membalik ke arah luar.
Seketika itu Darsan terlonjak hampir pingsan: orang itu ba-
gaikan kembarnya. Itu pakaiannya! Itu wajahnya! Sejenak orang
itu memandanginya, tetapi segera melihat ke belakang Darsan
sambil menggerakkan kepala seolah-olah menyalami. Darsan
29
menoleh. Kelima laki-laki lain yang sehari-hari telah membuntuti-
nya berdiri tidak jauh. Mereka berpenampilan sama seperti di
masa lampau. Darsan pakai topi merang, tangan hitam penuh
lumpur. Darsan bercelana, berkaos dan mengenakan sandal jepit.
Itu adalah pakaian dinasnya sebagai tukang becak.
Kepala Darsan pusing. Dia mengarahkan pandang ke hala-
man lagi. Orang itu telah lenyap. Dia menoleh, lima laki-laki
lainnya juga menghilang. Darsan terduduk dan merenung di
bangku kebun.
Jadi, semuanya adalah bayangan dirinya sendiri.
Dimulai dari saat dia mengenangkan masa lampaunya,
bermunculan wakil-wakil dari masa yang telah menggembleng-
nya ke arah kehidupan sekarang. Gogo di sungai yang membuah-
kan busul membakar ngilu, puluhan akhir pekan di gunung di
kala dia mengantar tamu asing berlintas alam jalan kaki, bermain
golf sebagai ukuran gengsi konglomerat.
Darsan sadar. Di waktu berada di dunia ramai dia tidak sem-
pat memikirkan dirinya secara berkesinambungan. Tidak sempat
sakit karena waktunya tersita mengurusi perusahaan, memikir-
kan penambahan laba, bersenam otak menemukan lapangan
kerja dengan menggunakan laba tersebut. Berupaya agar ling-
kungannya dapat turut memanfaatkan hidup baik dan sejahtera.
Menyepi di suatu tempat mungkin baik untuk beberapa waktu.
Tapi dia tidak berhak meninggalkan tugasnya memikirkan orang
lain. Dia tidak berhak membentuk kekosongan arti kehadirannya.
Pulau kehidupannya yang sesungguhnya bukanlah di bong-
kahan tanah yang telah dia beli itu. Walaupun dia tidak merasa
kesepian, ternyata bawah sadarnya menderita, menghayati ke-
sengsaraan orang lain di lingkungannya.
Darsan harus pulang. Rumahnya adalah di tengah-tengah
manusia yang membutuhkan bantuannya. Di sana itu pula pu-
launya yang sesungguhnya.
30
Ayam
“Pilih bambu yang tua, Pak. Yang lurus dan tua. Beli lebih.
Biar tersisa tidak apa-apa. Biasanya kalau musim hujan tiba,
tidak akan ada kiriman lagi dari desa. Sewaktu-waktu kita me-
merlukan buat cagak atau palang, sudah ada cadangan di ru-
mah.” Sumantri memberikan uang kepada pekerja.
Sekarang, kandang sudah selesai. Empat puluh ayam kam-
pung berbagai umur terlindung di dalamnya. Di sekat-sekat ber-
isi campuran yang sesuai, pasangan atau keluarga. Setiap pagi
mereka akan dilepas, dibiarkan keluar bergerak dalam ling-
kungan yang berpagar. Panjang dan lebarnya tidak kurang dari
dua puluh lima langkah. Di situ mereka bisa mengais atau terjun
ke selokan. Air dari dapur selalu membawa butir-butir nasi atau-
pun makanan lain yang tidak turut terbuang ke dalam sampah.
Sumantri puas memandangi kenyataan impiannya. Dua puluh
tahun dia sudah setia menunaikan tugas sebagai pegawai negeri.
Di zamannya, tidak ada istilah “tempat yang basah” untuk
menyebutkan sesuatu bagian sebuah instansi yang memberi ke-
untungan pribadi. Sebagai kepala kantor, dulu Sumantri dikenal
keterlaluan menuruti kelurusan jalannya. Semua dia sangkutkan
pada keadilan dan harga dirinya. Pantang dia meminta. Me-
nerima yang bukan haknya pun dia malu.
Tak sudi. Orang seangkatan, atau yang berada sedikit di ba-
wahnya, bila berhenti bekerja sudah mampu membeli rumah
batu. Sumantri tidak.
31
Rumah papan milik orang tuanya yang berada di kampung
tidak ada yang menunggui. Maka dia bawa istri beserta tujuh
anaknya pulang ke sana. Karena dia tidak pernah menjadi ang-
gota sesuatu partai buruh pun, pesangonnya penuh. Hampir
lima juta rupiah waktu itu.
Ketika menerimanya, dari kantor dia langsung ke toko, mem-
beli salah satu idamannya: televisi berwarna. Di kompleks per-
mukiman instansinya, hanya dia yang masih menggunakan ko-
tak berlayar kecil dengan gambar hitam-putih.
Sumantri memang sangat meneguhi sikap hidup yang lurus.
Ketaatan pada kejujuran menyebabkan dia menolak semua ha-
diah pribadi berbentuk benda yang dianggap terlalu berharga. Ma-
kanan dan barang kecil-kecil lainnya dia terima. Itu pun segera dia
bagi kepada mereka yang kebetulan ada di dekatnya. Dia juga
bukan kepala kantor yang tidak bergerak. Kota-kota di pesisir utara
dia kenal. Jaringan instalasi telepon hingga ke pelosok pernah dia
tangani. Tidak ada tukang atau sopir kantor telepon yang tidak
mengenal namanya di zaman itu. Karena Sumantri tidak pernah
ragu-ragu memanjat tiang dan menarik kabel sendiri.
Setelah mapan di dalam kampung, rumah menjadi kan-
tornya. Tiada hari berlalu tanpa dia mengerjakan pertukangan.
Kerusakan apa pun selalu dia bereskan sendiri. Halaman depan
asri, berisi tanaman hias. Bersama istrinya dia menggarap sendiri
semuanya.
Setelah sembahyang subuh, pekerjaan pertama baginya ialah
membuka pintu-pintu kandang. Di saat itulah kepuasan batin
seorang pensiunan menghangati jantungnya. Sumantri berdiri
di tengah-tengah latar berpagar, memandangi ternaknya yang
bertambah dari waktu ke waktu. Dia sanggup menelan sekaligus
empat hingga lima telur ayam kampung setiap hari. Kenikmatan
yang dia rasakan jauh berbeda dari masa-masa sebelumnya. Di
dapur, tiada bosannya dia melayangkan pandang ke keranjang
tempat butir-butir itu bertumpuk. Indah sekali. Pertemuan apa
pun yang dia hadiri, selalu menjadi dalih untuk menawarkan
hasil kandang di halaman tempat tinggalnya.
32
Dulu dia malu menjual. Dia bukan keturunan pedagang.
Apalagi saudagar. Sejauh dia ingat, leluhurnya selalu menjabat
sebagai patih, kanjeng atau bupati. Bapaknya sendiri adalah
wedana yang dihormati. Sejak kecil, Sumantri dijubeli dengan
cita-cita mengabdi pemerintah dengan jalan yang sama. Pen-
jualan hanya dilakukan oleh kasta lain. Bukan oleh keturunan
kanjeng atau patih seperti dia.
Tapi, sejak perantauannya ke Irian, Sumantri mengurangi
kekakuan sikap dalam hal itu.
Benar. Dia pernah menjadi tenaga perintis, turut membangun
serta mengembangkan jaringan telepon di wilayah yang waktu
itu baru jatuh ke pangkuan RI. Ketika atasannya bertanya apa-
kah dia mau berangkat, Sumantri ganti bertanya kepada istrinya.
Ibu tujuh anak, dari umur remaja turun ke satu tahun itu tegas
menjawab: berangkat.
Kehidupan di rantau sederhana sekaligus berlebihan. Tidak ada
pembantu. Semua urusan rumah tangga dan kantor harus langsung
dirampungkan sendiri. Kebalikannya, makanan dalam kaleng yang
merupakan kemewahan di Jawa, di sana mudah dibeli. Di saat-saat
kapal datang berlabuh, orang bisa mendapatkan daging segar dan
semua perbekalan. Beras yang sesungguhnya termasuk bahan pangan
mahal di Irian tidak menjadi masalah, karena Sumantri mendapat
jatah dari kantor. Secara berkala, ada toko yang mau menjual ketan.
Semua itu dengan mudah terbeli oleh gaji Sumantri. Hal itu tidak
masuk di akal seandainya dia berada di Jawa.
Lebih-lebih yang gampang terbeli setiap saat ialah ikan laut.
Membeli seekor ikan sama seperti menyembelih seekor anak
sapi. Harus seminggu menghabiskannya.
Pada waktu itu, istri Sumantri segera tanggap. Dia mengerti
bahwa penghuni kota yang kebanyakan terdiri dari pendatang
itu membutuhkan suguhan makanan tertentu. Dia tukang masak
unggul bagi keluarganya. Lalu keunggulan itu dimanfaatkan
untuk dijual. Dia bikin risoles dan kroket. Isi makanan diganti
dengan ragout ikan laut. Rempah-rempah ditambah lebih banyak
guna mengurangi keamisannya.
33
Tidak sukar menitipkan dagangan tersebut di sebuah toko.
Yang sulit ialah membujuk suaminya keturunan wedana itu
supaya sudi mengantarkan makanan ke tempat penjualan.
Namun, berkat kegigihannya dalam mengatasi kerepotannya,
istri pegawai negeri itu bisa menyampaikan masakannya ke toko.
Dua bulan lewat. Di situlah Sumantri menyatakan bahwa
gajinya utuh. Keluarga dapat hidup dari hasil masakan ibu rumah
tangga. Barulah mata hati keturunan patih dan bupati itu
terbuka. Untuk selanjutnya, gaji bisa digunakan sebagai peng-
angsur mobil dan lemari es. Dan setiap pagi, dengan hati ringan,
wajah cerah, Sumantri tidak hanya mengantar anak-anak ke
sekolah, melainkan juga keranjang berisi berbagai makanan. Keti-
ka mereka pulang ke Jawa, di seluruh permukiman instansinya,
hanya mereka yang memiliki lemari es dan mobil pribadi.
Kepuasan mapan di rumah kayu yang telah diperbaiki de-
ngan uang pesangon agak tergoncang sewaktu beberapa kenalan
memberikan pendapat. Mengapa Sumantri tidak membeli rumah
sendiri? Atau, dia sebenarnya bisa membeli tanah, lalu mendirikan
rumah sederhana di atasnya. Kemudian rumah itu dikontrakkan.
Sambil menempati rumah di kampung, dengan uang kontrakan,
secara berangsur-angsur Sumantri dapat mengadakan perbaikan.
Terus terang, gagasan itu tidak pernah terlintas di kepala Sumantri.
Maklumlah dia bukan keturunan orang yang biasa memperhi-
tungkan untung-rugi. Pada saat itu, hampir-hampir dia menyesali
nasib tidak lahir di keluarga pedagang. Namun, kegelisahan
hatinya menghilang berkat hiburan istrinya: sisa pesangon masih
ada, ditabung untuk sekolah dua anak yang bakal keluar SMA.
Dan Sumantri meneruskan kelangenannya memelihara
ayam. Cukup banyak kenalan yang memesan telur. Konon, telur
ayam kampung lebih manjur sebagai campuran ramuan obat.
Menuruti usul istrinya, Sumantri menyekat kandang yang
dikhususkan bagi ayam-ayam berbulu hitam saja atau putih saja.
Keduanya sering dicari orang. Itu diperlukan untuk melengkapi
persyaratan dalam kenduri kaulan atau ruwatan.
Kemapanan Sumantri di kampung disyukuri orang banyak.
34
Sehabis Jumatan, tabungan kaleng di masjid dibuka. Kalau ada
lembaran uang ribuan, orang dapat memastikan bahwa itu
adalah sumbangan Sumantri dan istrinya. Anak-anak mereka
juga selalu kelihatan memasukkan kepingan ratusan, bahkan
lembaran lima-ratusan. Di waktu RT mencari sumbangan buat
kegiatan lingkungan, dari ketukan pintu di rumah Sumantri
selalu menghasilkan dana yang tidak mengecewakan.
Dan yang lebih-lebih lagi merasakan keuntungan kepindahan
tersebut adalah tetangga yang tinggal di belakang rumahnya.
Sumantri memang agak menganggap enteng perbaikan pagar
yang membatasi halamannya dengan deretan permukiman di
bagian belakang. Antara tetangga, apalagi di kampung, apalah
masalahnya. Tidakkah terkenal bahwa rasa kedekatan dan go-
tong royong masih mendalam di desa dan kampung? Sumantri
hanya membeli gedek, anyaman bambu sebagai pagar. Kemudian
supaya kuat, digapit dengan batangan bambu lain, diselingi
perdu-perdu yang menghasilkan dedaunan untuk lalapan.
Setahun Sumantri tidak terganggu oleh keputusannya itu.
Dia tenang menikmati kehidupan bekas pegawai negeri kantor
telepon yang puas dengan seratus ribu uang pensiun bersama
ternak ayamnya.
Tiba-tiba di suatu pagi buta, dia menemukan dua ayam asing
berjalan santai di lingkungan kandang besar. Petak-petak ayam-
nya sendiri belum dibuka. Suara berkotek mengundangnya
untuk mengangkat kepala. Tiga ayam lain bertengger di pagar
setinggi satu setengah meter, siap akan terjun ke halamannya.
Maka sejak hari itu, perang dingin yang sebenarnya telah
dimulai dari masa perbaikan rumah, meningkat dalam bentuk
kebekuan yang menguasai pikiran Sumantri setiap saat setiap
waktu.
Tidak seperti tetangga-tetangga lain, penghuni di belakang
rumahnya termasuk golongan orang kaya baru yang nyata di-
ciptakan Tuhan untuk menggoda keteguhan orang beriman. Teta-
pi rupa-rupanya Sumantri tidak menyadari hal itu. Ketika dia
memulai perbaikan rumah orang tuanya, dari kelurahan datang
35
petugas untuk memeriksa. Katanya, lurah menerima laporan
bahwa Sumantri sedang membangun rumahnya menjadi ber-
tingkat. Itu akan mengganggu keselarasan kampung. Apakah
ada izinnya?
Seumur hidup pengabdiannya kepada pemerintah, Sumantri
selalu jujur. Dia mengetahui dan menganut semua aturan. Agak
tersinggung, dia menjawab, bahwa dalam perbaikan itu dia
menuruti pola lama. Tidak dibutuhkan izin apa pun. Tetapi
karena kelurahan tetap merongrong, mengikuti petunjuk istrinya
yang tanggap, Sumantri terpaksa memberi amplop kepada kepala
kampung.
Baru kemudianlah Sumantri mengetahui dari para tetangga
lain bahwa sering kali orang di belakang itu bersekongkol dengan
lurah mereka.
Tidak lama dari kejadian tersebut, seolah-olah takut dida-
hului, orang kaya baru itu justru menambah bangunan di atas
atapnya, menjadi tingkat dua. Meskipun bahannya dari seng,
ketinggiannya menutupi kelepasan pandang dari halaman
Sumantri.
Hati pensiunan pegawai negeri yang tak pernah mengambil
jalan menyimpang itu tertekan dua kali: karena telah menyuap
dan karena kelepasan pandangnya tersumbat. Dan itu belum
sembuh ataupun reda, kini dia menyatakan bahwa tetangga
belakang menggoda dengan ternak barunya. Setengah bermental
orang kampung setengah desa, meskipun tidak memiliki hala-
man pun mungkin dia pikir bisa beternak seperti Sumantri.
Jadi, dia mengharap ayam-ayamnya mencari makan di rumah
tetangganya.
Menempel pada pagar Sumantri, dia bangun sebuah kandang
dari bahan bekas bangunan dan kotak sabun, beratap se-
jangkauan loncatan ayam.
Pagi-pagi Sumantri mengintip. Dia memperhatikan ulah si
binatang bersama yang empunya. Terdengar suara orang itu
menggusah, mengusir. Ayam muncul dari bawah lindungan, lalu
diarahkan supaya naik ke atap setengah kandang tersebut. Diusir
36
lagi supaya naik ke pagar. Sampai di sana disorong-sorong de-
ngan tangkai sapu. Tentu saja binatang-binatang itu turun ke
tempat Sumantri.
Ketika sore, suara tetangga itu memanggil-manggil. Anehnya,
binatang berkepala kecil itu menurut. Mereka mengadakan perja-
lanan pulang, melewati loncatan-loncatan ke batang jambu, ke-
lapa gading yang baru tumbuh, ke perdu, terus ke ujung pagar.
Lalu menghilang di sebaliknya.
Sumantri memotong semua cabang yang menyentuh atau
berdekatan dengan pagar. Tetapi ayam-ayam terlanjur mahir
terbang. Kebanyakan kabur lenyap. Yang masih muda kurang
pengalaman, tersangkut tidur di cabang dan dahan yang masih
ada. Rupanya si pemilik tidak khawatir. Barangkali dia yakin
bahwa Sumantri tidak akan berbuat sesuatu yang menyalahi
kelurusannya.
Namun, kebekuan yang menggumpal di dada semakin me-
nekan. Terjadi perbantahan sendiri: Sumantri “harus” menga-
lahkan harga dirinya, merunduk merendahkan diri, membicara-
kan semuanya baik-baik ke rumah tetangga. Atau, dia harus
berbuat penyimpangan. Tapi benarkah ini penyimpangan?
Bukankah ada peraturan, jika dahan pohon orang lain meng-
gelayut ke halamannya, dia berhak memotong dahan tersebut?
Dia pikir, binatang sama saja!
Belum mengambil sesuatu tindakan, tersusul munculnya se-
ekor induk yang dikerumuni delapan bulatan kecil coklat keku-
ningan. Tidak mungkin mereka terbang melewati pagar! Su-
mantri melangkah menyelidiki. Dia meniru polisi-polisi dalam
film yang disiarkan TVRI. Dia memeriksa bawah pagar sejengkal
demi sejengkal. Ah, ada satu bagian yang tersobek, diganjal de-
ngan batu. Hanya benda tajam yang bisa membikin kerataan
potongan itu.
Lalu mulailah perburuan. Dia kejar, dia usir ayam-ayam itu.
Binatang yang kelihatan tenang tanpa dosa itu ternyata sigap,
tidak mudah ditangkap. Satu kali, Sumantri berhasil menjebak
seekor jantan. Gagah, berbulu hitam, dan merah-hijau mengkilat.
37
Dia masukkan ke dalam tas, dia buang ke jalan besar. Makanan
beracun disebar di sekitar. Ayamnya sendiri dikurung. Tetapi
ayam tetangga tidak sudi menyentuhnya. Bahkan semakin
kurang ajar. Jago-jago kecil berani menggigiti mencoba
mematahkan bambu kandang ayam hitam dan ayam putih
mulus. Kemurnian rasnya terancam!
Di saat itulah Sumantri kehilangan akal jernihnya.
Dia keluarkan senapan angin yang telah lama tertidur di
gudang sejak dia sekeluarga kembali dari Irian. Ketika petang
mulai mengembangkan sayapnya, dia duduk di tempat yang
tersembunyi. Sambil menunggu, mulutnya bergerak-gerak,
menggerutu tanpa ujung pangkal. Seekor demi seekor, ayam
mengikuti nalurinya, mulai berpulangan tanpa dipanggil.
Sumantri mengangkat bedil. Begitu ayam mencapai pagar,
dia membidik. Satu kali, dua kali, terdengar bunyi “klang”.
Tembakannya meleset, menghantam dinding tingkat atas.
Tetapi tidak jarang dia mengenai sasaran. Dan di saat tubuh
ayam tetangga itu terjatuh ke balik pagar, Sumantri meringis.
Di matanya menari-nari sinar giras yang belum pernah
terlihat di sana.
38
Hanya Seorang Ibu
Mataku silau. Ya Allah. Mengapa aku begini berani menyanggupi
berbicara di depan kamera! Apa yang mendorongku mau menerima
ajakan wartawati asing ini? Bayaran dinar, ya benar! Itulah yang
menggiurkanku. Kami tidak pernah memiliki uang cukup untuk
bisa menabung. Ada saja kebutuhan yang mengejar kami. Tetapi
bujukan wartawati berupa pemberian sejumlah dinar sebagai bayaran
ceritaku sebenarnya juga ditambah sebab yang lain. Aku melihat
dia mengusap matanya berkali-kali ketika meliput berita peledakan
tangsi perwira Prancis di Skikda. Dia turut menyaksikan istri-istri
bersama anak mereka berangkulan tersedu-sedu meratapi kematian
suami dan ayah mereka. Di dalam tangsi juga terdapat tentara Aljeria
yang sedang belajar. Ibu-ibu berkerudung berkerumun di trotoar,
harap-harap cemas menunggu berita mengenai anak-anak mereka.
Semoga Tuhan memaafkan aku. Uang yang akan kuterima
adalah halal. Aku disuruh bercerita di depan alat perekam
gambar. Janji sejumlah dinar itu bukanlah godaan setan. Kami
benar-benar memerlukannya untuk membayar pemakaman dan
perawatan rumah sakit.
“Arahkan lampu ke samping!” wartawati itu agak keras ber-
bicara. “Tidakkah kalian lihat matanya berkedip?”
Lalu dia mendekatiku, katanya, “maaf, Nyonya,” sambil me-
narik cadar di kepalaku ke depan sehingga lebih melindungi
bagian kanan wajahku.
39
“Begini lebih nyaman? Kurang silau?”
Dia melabuhkan pandangnya yang biru seindah perbukitan
Djeffa tempat kelahiranku, tepat di mataku. Manisnya anak
ini. Barangkali kepribadiannya yang ditopang kebiruan cahaya
itu pulalah yang memicu keberanianku hingga sanggup menu-
turkan semuanya di hadapan orang-orang ini.
Kutundukkan mukaku. Terasa ada gumpalan membara me-
landa tenggorokan, mendesak naik sampai ke wajahku. Genang-
an air membanjiri mataku. Hafiyah. Hanya dia dari sembilan
anakku yang memiliki mata biru seperti neneknya. Hafiyah dela-
pan belas tahun. Gadis calon guru, sekolahnya tinggal setahun
lagi. Dia akan menjadi wanita lebih baik dari neneknya, dari
diriku, dari semua kakaknya. Hafiyah. Mendadak kurasa ada
sesuatu menyentuh tanganku. Jari-jari wartawati itu menekannya
lembut.
Kutegakkan kepalaku. Kutelan kembali air asin yang melanda
hidung dan pelapukan. Kami berpandangan. Tanpa ucapan satu
kata pun, kami berdua saling memahami. Aku harus meneruskan
langkah ini, di antaranya juga demi Hafiyah, demi ibu-ibu lain,
demi perempuan-perempuan lain.
Seorang laki-laki mendekati kami. Dia memegang satu alat,
diarahkan pada sisi telingaku.
“Saya mengukur kepadatan sinar, Nyonya.”
Aku tahu. Aku mengenali jenis benda tersebut. Salah seorang
majikanku juga suka memotret dan memiliki benda semacam
itu. Aku diajari membenahi dan merapikan peralatannya, mana
yang masuk ke kopor logam, mana yang masuk ke dalam tas.
Kalau aku melihat barang-barang itu di meja atau di sofa, harus
segera disimpan baik. Karena anak-anaknya masih kecil, belum
tahu nilai dan kegunaannya.
“Nyonya jangan sungkan-sungkan,” wartawati itu meng-
ulangi arahannya sekali lagi, “Anda hanya bercerita apa saja yang
ingin Anda katakan.”
“Saya agak gugup. Mudah-mudahan saya tidak akan melu-
pakan hal-hal yang penting.”
40
“Jangan khawatir. Saya akan mengingatkan Anda. Suara saya
tidak akan masuk rekaman.”
Demikianlah, selama lebih dari satu jam kemudian, aku
berbicara seorang diri. Berkali-kali aku terhenti karena rasa keha-
ruan. Kupaparkan peristiwa-peristiwa dalam hidupku, dari awal
pernikahan sampai saat-saat kerunyaman yang menghancurkan
keluarga kami. Saat-saat yang selalu membangunkanku di waktu
malam, yang mengusikku di sela-sela kesibukanku ketika pagi,
siang atau sore.
“Skikda kota pantai yang hangat. Seperti tempat-tempat lain
di tepi Laut Tengah, daerah permukimannya mengelompok ber-
warna putih kekuningan, tersusun naik menjauhi pantai. Ke sa-
nalah saya diboyong laki-laki dengan siapa saya menikah dua
puluh empat tahun yang silam. Segera setelah mengunjungi mer-
tua, kami berpindah dari kota ke kota pinggiran Laut Tengah.
Bahkan ke ibu kota Aljir. Bahkan ke tepian seberang di negeri
Prancis, di mana selama dua tahun suami saya menjadi buruh di
sebuah peternakan. Tetapi ketika mertua lelaki saya meninggal,
tokonya terbengkalai. Saudara-saudara suami saya tidak ada yang
sanggup mengelola atau meneruskan usaha ayah mereka.
“Buat apa menjadi pedagang kacang-kacangan dan gandum?
Kacang shish, cabe kalengan harissa dan nasi kuskus bisa dibeli di
mana saja! Mempunyai toko begitu berarti hidup kita tersekap
terus di sana!” kata seorang saudara iparku.
Maka diputuskan bahwa siapa yang mau mengelola toko
tersebut juga akan memilikinya bersama rumah tempat tinggal
yang bergandengan di sisinya.
Sebagai istri, jarang sekali saya bisa mempengaruhi suami saya.
Tetapi untunglah, dalam hal toko itu saya berhasil melunakkan
kekerasan kepalanya. Saya katakan bahwa tempat tinggal dan toko
merupakan kesempatan luar biasa. Artinya, kami bisa menetap,
dan anak-anak bisa bersekolah mantap di negeri sendiri.
“Ternyata pengalaman bekerja di Prancis juga dapat saya man-
faatkan. Selagi suami mengelola toko, saya menjadi pembersih
rumah-rumah orang asing terdekat dengan permukiman kami.
41
Dibantu anak-anak yang menerima pelajaran bahasa Prancis, saya
bisa menulis dan berbicara bahasa tersebut. Yang tertulis tidak
banyak, cukup untuk membaca dan menyampaikan pesan belanja.
Maka tidak sedikit majikan saya yang juga menjadi langganan
toko kami.”
“Anak Nyonya berapa?” bisik wartawati kepadaku dari ke-
jauhan.
“Di Skikda itulah kami menetap. Anak kami sembilan. Tetapi
pada kejangkitan wabah demam, Tuhan mengambilnya empat
orang. Ibu mertua saya juga meninggal pada musibah itu. Lalu
saya mendatangkan ibu saya dari Djeffa, karena di sana dia
juga sendirian. Hidup kami senang. Anak saya tinggal lima, tiga
perempuan, dua laki-laki. Karena merasa cukup dalam hal
keuangan, anak-anak kami sekolahkan semua. Mereka menye-
lesaikan sekolah dasar. Yang laki-laki bisa dua tahun di sekolah
teknik, lalu tidak mau meneruskan. Sedangkan yang perempuan,
hanya Hafiyah yang mampu lulus sekolah dasar, sekolah me-
nengah, lalu meneruskan ke pendidikan guru.”
Aku berhenti. Sekali lagi ada bongkahan yang menekan
dadaku. Kulihat wartawati bangkit, pandangnya bertanya. Seba-
gai jawaban, cepat-cepat aku meneruskan ceritaku. Aku harus
kuat menaklukkan kecengenganku.
“Mempunyai anak lelaki rasanya berbeda dari mempunyai anak
perempuan. Bagi bangsa kami, anak laki-laki adalah penerus
keluarga, gantungan cita-cita dan nasib keluarga. Entah mengapa
demikian. Padahal, anak-anak perempuan yang sudah kawin
terbukti juga mampu mencari nafkah membantu belanja rumah
tangga. Padahal semua orang lahir dari rahim wanita. Raja yang
paling kuasa sekalipun tidak akan bisa menjadi raja jika tidak
dilahirkan oleh ibunya. Bersama Hafiyah, saya sering mem-
perbincangkan hal itu. Dia adalah satu-satunya anak perempuan
saya yang serba memprotes jika merasa kami membedakan
perlakuan terhadap kakak-kakaknya lelaki dan yang perempuan
atau dirinya. Tidak hanya kami yang diprotes. Rupanya guru agama
pun begitu pula. Menurut ceritanya, guru agama itu selalu menakut-
42
nakuti anak-anak perempuan yang tidak rajin mengenakan cadar.”
“Kalian akan masuk neraka, menjadi hamba-hamba syaitan
di kerajaan api!” demikian ajarannya. Maka karena takut men-
jadi penghuni neraka, siswa-siswa perempuan patuh mengenakan
jilbab di atas kaftan mereka. Dan ketika saya bertanya apakah
dia mengenakan cadar juga karena sebab yang sama, sambil ter-
tawa, anak saya Hafiyah menjawab, dia suka mengenakan pakaian
tertutup demikian karena ingin memiliki kulit putih bersih.
“Kalau terkena matahari setiap saya keluar, kulitku bisa se-
hitam Kak Syuhdi atau Mukdin,” katanya sambil terus tertawa.
Ingatan terhadap suara dan ketawa ringan Hafiyah itu mem-
beri kecerahan di hatiku. Sambil agak tersenyum, kulanjutkan
ceritaku betapa anakku yang satu itu tidak tahan lagi berdiam
diri ketika gurunya mengatakan bahwa penghuni surga keba-
nyakan kaum lelaki. Anakku bertanya mengapa. Sahut gurunya
ialah karena banyak wanita yang gagal menyelesaikan puasanya
di bulan Ramadan disebabkan oleh masa haid mereka, dan
karena banyak istri yang tidak cukup meminta maaf kepada
suami mereka. Hafiyah membantah; katanya, Tuhan yang Maha
Adil tidak mungkin membikin umat-Nya perempuan tersiksa
semacam itu.
Bukankah Dia pula yang membikin kaum wanita mendapat
haid? Apalagi, banyak wanita yang membayar utang puasa me-
reka setelah bulan Ramadan usai. Guru agama belum pernah
pergi ke surga. Di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan tentang
sensus penduduk surga. Bagaimana dia dapat mengatakan me-
ngenai banyak sedikitnya orang perempuan di sana! Gurunya
mengatakan istri-istri setiap malam harus bersikap rendah hati
sambil meminta maaf kepada suami mereka. Mengapa tidak
kedua suami-istri yang saling meminta maaf? Atau meminta
maaf kepada Allah, Yang Paling Kuasa dan Akbar dari segalanya?
Anakku Hafiyah selalu bersemangat menyampaikan kekesalan
hatinya kepadaku. Katanya, semuanya itu disebabkan karena
disebutkan di Kitab Suci bahwa lelaki bertingkat satu derajat
lebih tinggi dari wanita. Konon karena Hawa diciptakan sesudah
43
Adam. Di dalam Al-Qur’an tidak tertulis tentang Allah meng-
ambil tulang rusuk Adam sebagai bahan pembuatan Hawa. Itu
hanya legenda yang memitoskan.
Lalu anakku itu sampai kepada keputusan yang menakutkan,
yaitu karena Kitab Suci itu sedari berabad-abad disalin terus-
menerus oleh tangan-tangan manusia, maka kemungkinan besar,
di waktu menyalin, terjadi perubahan-perubahan dan tambahan.
Bukankah para penyalin itu kaum pria? Besar praduga anakku
Hafiyah bahwa banyak kata-kata yang dimaksudkan agar kaum
perempuan selalu berada di pihak yang terkalahkan, dirugikan.
“Saya sering kali merasa capek mendengarkan omelan anak
yang saya anggap paling pandai dan paling cerdas itu. Apa pun
yang dia katakan, perhatian saya tetap lebih besar terhadap anak-
anak lelaki. Syuhdi semakin jarang berada di rumah. Apabila
saya mengeluhkan kerinduan saya kepada Syuhdi, ayahnya
membelanya,
“Biarkan dia! Anak laki-laki! Ke mana pun dia pergi, kita
tidak akan mendapatkan aib karena tingkahnya!”
“Saya memang mempercayai suami saya. Lelaki bisa memper-
tahankan diri. Dia tidak bakal pulang membawa janin di perut-
nya. Jika anak lelaki tertua kami itu muncul, selalu menjadi
lebih kurus, rambut kusut. Lalu saya repot berusaha menyenang-
kan hatinya. Saya juga tega mengambil uang di kas toko untuk
berbelanja apa saja yang dia perlukan atau ingin makan. Setelah
tinggal bersama kami beberapa hari, Syuhdi menghilang kembali
entah ke mana. Oleh karena itu, Mukdin yang lebih muda pun
saya manja-manjakan, karena saya khawatir, dia juga tidak akan
lama selalu bersama kami. Namun, ternyata Mukdin berlainan
dari kakaknya. Walaupun tidak mau melanjutkan sampai kelas
penghabisan di Sekolah Teknik, dia cepat mendapat pekerjaan
di sebuah bengkel perbaikan alat elektronik rumah tangga. Setiap
menerima gaji, tidak pernah lupa memberi hadiah kepada adik-
adik dan kakaknya. Bahkan ketika pulang dari Aljir, dia mem-
bawakan kaftan bagus untuk ayahnya dan sebuah peniti hias
berukir dari perak untuk saya. Indah sekali!”
44
Tentulah wartawati itu melihat wajahku bersinar bahagia.
Tampak dia tersenyum kepadaku sambil mengangguk.
“Dari kedua anak kami perempuan, yang tertua sudah mem-
berikan tiga cucu. Yang seorang di Annaba bersuamikan seorang
tukang kayu, bekerja di pelabuhan; yang seorang lagi tinggal di
Paris. Suaminya pembersih sebuah perusahaan besar. Dia sendiri
bekerja di beberapa rumah tangga. Penghasilan mereka cukup
sehingga setiap tahun mereka dapat pulang menengok kami
dan keluarga suaminya. Pendek kata, hidup kami biasa: makan,
berpakaian, membiayai anak sekolah. Tanpa bisa menabung,
tetapi juga tidak tercekik oleh para rentenir yang serakah itu.”
Tuhan Maha Pemurah. Setiap kali bersembahyang, aku bisik-
kan rasa terima kasihku kepada Allah Yang Maha Akbar karena
mengaruniai kami kehidupan keluarga yang bahagia. Hanya
Syuhdi yang tetap kucemaskan. Kumohon agar Tuhan selalu
melindungi anak-anakku di mana pun mereka berada.
Sudah lebih dari dua bulan Syuhdi tidak muncul. Sungguh hatiku
kecut bila memikirkan dia. Tahun itu, negeri diguncang oleh pen-
culikan-penculikan anggota pemerintah dan orang-orang Prancis
yang bertugas di Aljir. Disusul ledakan kantor-kantor penting di
kota-kota besar. Bahkan sekolah-sekolah. Semua itu mengorbankan
nyawa tentara, wanita, dan anak-anak. Di televisi disiarkan berita
kekacauan tersebut. Kabarnya golongan Islam fundamentalis yang
amat kejam dan kaku itulah penanggung jawab segala tindakan ke-
kerasan. Hafiyah semakin gencar mengkritik golongan yang memang
sedari dulu dia anggap melecehkan kaum wanita, tidak manusiawi,
hanya mementingkan aliran agama dan kelompoknya.
Lalu tibalah saat musibah itu.
Hari itu aku bekerja membersihkan hanya dua rumah tangga.
Sebelum pulang, aku sempat belanja sayuran untuk kuah nasi
kuskus. Sisa panggang domba masih ada; itu dapat dicampurkan
di dalam kuah, dan kuskus dikukus di atasnya sehingga menda-
pat uap yang berbau sedap. Sebelum pukul dua belas, aku sudah
tiba di rumah. Kemarin Hafiyah mengatakan juga akan pulang
lebih awal karena tes-tes kelas yang lebih rendah. Begitu pintu
45
depan terbuka, aku melihat Syuhdi duduk di tikar menghadapi
dua wadah makanan. Dia selalu kelaparan jika pulang. Suamiku
tampak di sana pula, di depan agak ke samping. Kudengar suara
anakku perempuan melayani seorang langganan di toko. Kuucap-
kan salam dengan ringan hati. Sungguh aku berterima kasih
kepada Allah karena membawa anakku pulang. Kemudian aku
menyingkap korden ruangan tidur, membuka kerudung dan
meletakkan tas. Kudengar ada ucapan salam yang keras dari
luar. Kuduga suamiku bangkit ke pintu untuk melihat siapa
yang berkunjung. Seketika itu pula terdengar ribut-ribut, disusul
tembakan satu kali, dua kali, tiga kali, kemudian berentetan
diiringi teriakan dan jeritan Hafiyah. Lalu sepi.
Aku berhenti lagi bercerita, mengatur pikiran, menata napas.
Aku cepat melanjutkan karena khawatir akan kehilangan rantai
kisahku,
“Ketika saya menguakkan korden mengintip ke ruang tengah,
tampak Syuhdi tersungkur di dekat jendela, tangannya meme-
gang pistol. Di dekat pintu masuk, ayahnya terduduk pada din-
ding, nyata dadanya berlumuran darah. Anak saya Hafiyah ma-
sih berdiri, bersandar di ambang pintu yang datang dari toko.
Tangannya memegangi bawah dada. Warna merah tua jelas
mengacaukan kerudung putihnya. Tiga atau entah berapa laki-
laki hilir mudik, ke atau dari toko. Yang lain mendorong saya,
masuk ke kamar, melongok ke setiap sudut. Bau mesiu me-
nyesakkan hidung.”
Lalu bagaikan menyitir hafalan, kubuka hatiku menyampaikan
kesedihanku ditinggal mati suami dan anak lelakiku Syuhdi. Hafiyah
luka parah. Pihak tentara yang berpakaian biasa hanya bertugas
menangkap Syuhdi. Tetapi karena anakku melepaskan tembakan
ke arah mereka dan malahan membunuh ayahnya sendiri, maka
tentara terpaksa membalas. Hafiyah yang baru akan masuk dari
toko turut terlibat, terjebak dalam kegentingan tembak-menembak.
Iga-iganya hancur, satu peluru bersarang di paru-parunya. Tetapi
dia masih bernapas.
Air mata tidak tertahankan lagi, panas berdesakan kubiarkan
46
mengaliri pipiku. Aku merasa menjadi seorang wanita yang
paling sengsara di dunia. Tanpa rasa malu dan sungkan, aku
menangis sambil terus berbicara,
“Saya diberi penjelasan oleh para petugas bahwa Syuhdi sudah
empat tahun menjadi anggota aktif Islam fundamentalis. Dia
merakit bom dan bahan pembakar atau peledak lain, berkelana ke
sana kemari memusnahkan gedung dan membunuh orang di
dalamnya. Dia bahkan sering turut menculik orang dewasa maupun
anak-anak, suster dan anggota gereja lain. Inilah anak lelaki kami,
yang kami anggap tidak bakal memberi aib kepada keluarga. Mati
pun dia tidak sendirian, malahan membawa ayahnya. Mukdin tidak
terhindar dari bencana. Karena dicurigai terpengaruh kakaknya,
sekarang disekap entah di penjara mana. Sejak kejadian itu, saya
bolak-balik ke kantor yang berwajib, bertanya mengenai nasib anak
lelaki saya itu. Namun, tidak ada yang bisa memberi keterangan.
Saya hanya seorang ibu. Hanya seorang perempuan rakyat jelata.
Tidak mengerti urusan partai, golongan ataupun pemerintahan.
Keinginan saya hanya berkumpul dengan sisa keluarga yang masih
ada. Allah menjadi saksi, agama saya bukan untuk membunuh atau
mencelakakan umat Tuhan yang mana pun. Saya bersumpah hanya
ingin supaya anak saya lelaki satu-satunya dikembalikan kepada
saya. Saya bersaksi atas nama Allah, Mukdin tidak seperti kakaknya.
Dia orang yang suka tinggal di rumah, sayang kepada makhluk
hidup walau binatang sekalipun. Kembalikanlah dia kepada saya,
ibunya ini! Kembalikanlah dia kepada saya....”
Sesak dadaku. Seluruh tubuhku diguncang oleh perasaan yang
tidak bisa kukendalikan lagi.
Arti/Penjelasan Kata-Kata dalam Bahasa Asing
Kacang Shish : sejenis kacang bogor
Harissa : cabe yang digiling, kering atau dilembekkan dengan
minyak dan air
Kuskus : gandum yang ditumbuk menjadi butiran kecil-kecil
seperti nasi jagung
47
Kampung Kuning
Dulu ketika Meiling baru tiba dari barak pengungsian di Hong
Kong, bibinya pernah bercerita.
“Pamanmu pintar dalam urusan tanah, properti, jual-beli di bi-
dang itu. Hampir seluruh Paris 13 ini menjadi kawasan masyarakat
kita adalah berkat pamanmu bersama kelompoknya. Secara ber-
angsur, perlahan tetapi pasti, mereka menawarkan pembelian usaha-
usaha dan apartemen penduduk asli di Paris 13. Ketika kami baru
menetap di sini, harga tawaran itu cukup standar. Sekaligus, para
pemilik diberi prakiraan harga pada masa mendatang, ialah pasti
menurun. Sebab, penghuni sudah bukan asli Prancis lagi, melainkan
orang-orang kulit berwarna. Sebelum terlanjur, kalau mau menjual,
harga bisa dikatakan masih menguntungkan.”
Setelah bekerja dan tinggal satu tahun di Paris 16, mulai tiga
bulan lalu, setiap hari Meiling menuju ke bagian kota Paris yang
kini disebut Pecinan. Atau Kampung Kuning bagi masyarakat pen-
datang itu sendiri.
Keluar dari kereta bawah tanah yang datang dari Rue de La
Pompe, Meiling menerobos desakan penumpang menuju tangga.
Stasiun Chatelet mempunyai lorong-lorong dan tangga berliku naik-
turun amat panjang. Tetapi Meiling tidak dapat menghindari, setiap
hari harus melewati tempat itu untuk mengejar lanjutan metro yang
menuju ke Place d’Italie. Kemudian dari stasiun tersebut, dia berjalan
di udara terbuka guna mencapai flat dan restoran bibinya.
48
“Dua franc, Nona! Buat tambah-tambah,” lelaki berpakaian lusuh
itu mencegat, mengulurkan telapak tangan. Seperti penumpang-
penumpang lain, Meiling menghindar. Kerumunan pejalan di lorong
itu pun tersibak bagaikan air yang terhalang oleh batu atau dahan
besar. Karena melewati stasiun itu dengan rute pergantian kereta
yang selalu sama, Meiling mengenali laki-laki berkulit putih tersebut.
Nanti di Place d’Italie ada lagi seorang lelaki peminta-minta bangsa
Vietnam.
Dua franc memang bukan jumlah yang besar. Meiling punya
recehan itu di dompetnya. Memberilah jika kamu berkecukupan,
dulu ibunya sering mengulang-ulanginya kepada lingkungannya.
Tetapi di negeri adopsi itu, Meiling harus memperhitungkan benar
tentang perkataan berkecukupan. Dua franc bisa untuk satu perja-
lanan dengan kereta bawah tanah sampai ke tujuan mana pun; dan
selama dia tidak keluar dari batas jaringan metro, seharian pun dia
bisa tetap tinggal di dalam stasiun. Demikian yang sering kali dilaku-
kan para gelandangan. Pagi-pagi mereka meninggalkan panti penam-
pungan, makan pagi hasil pengorekan sampah, kemudian masuk ke
salah satu stasiun dengan menggunakan satu karcis kereta bawah
tanah atau metro. Kalau beruntung tidak diusir petugas, seharian
bisa tinggal di hanya satu perhentian metro. Tetapi jika ketahuan
petugas, mereka naik kereta yang menuju ke mana pun. Biasanya
stasiun-stasiun lain sama hangatnya di waktu musim dingin. Bagai-
manapun juga selalu lebih lumayan 2 atau 3 derajat dari udara me-
nyengat di jalanan luar. Kemudian, di saat hampir penutupan pintu
stasiun, gelandangan-gelandangan itu keluar lagi ke arah pos-pos
dapur umum yang diorganisir oleh Pemda atau yayasan sosial lain.
Dari sana mereka kembali ke tempat penampungan yang mereka
kenal.
Ibunya. Tiba-tiba Meiling merasakan cubitan nyeri di dadanya.
Di manakah orang tua dan ketiga adiknya sekarang? Perjalanan
mereka sekeluarga yang membahagiakan paling akhir ialah meng-
hadiri syukuran di rumah bibi Meiling di Phnom Penh. Dari Battam-
bang mereka naik kereta api ke ibu kota. Adik-adiknya amat gembira
walaupun gugup karena mereka baru kali itu bepergian dengan
49