The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by emajulisetyawati, 2021-06-21 07:30:19

Monumen by Nh. Dini (z-lib.org)

Monumen by Nh. Dini (z-lib.org)

gerbong-gerbong berkepala aneh yang disebut loko. Itu adalah
pertemuan berpesta terakhir dengan saudara-saudara dan teman
dekat ibu Meiling. Acaranya sungguh menakjubkan bagi anak-anak
kecil: bibinya sekeluarga menjadi kewarganegaraan Prancis. Anak-
anak Bibi yang menuntut ilmu di Singapura bahkan hadir pula hari
itu. Setelah tinggal beberapa waktu liburan di ibu kota, Meiling
sekeluarga kembali naik kereta menuju Battambang. Pada kesem-
patan itu, ayah Meiling menjelaskan rasa heran Meiling dan adik-
adiknya mengapa orang harus mempunyai kewarganegaraan. Me-
ngapa Bibi dan Paman justru mengambil negeri asing, bukan Kam-
boja atau Vietnam yang telah begitu mereka kenal tata cara kehi-
dupannya? Meiling mengerti penjelasan ayahnya. Begitu pula mung-
kin adiknya yang duduk di sekolah dasar. Sedang dua lainnya tentu
masih kebingungan.

Bagaimanapun juga, kira-kira sebulan dari perjalanan yang me-
ngesankan itu, pada suatu pagi mereka diseret keluar rumah oleh
pasukan revolusi. Nama itu asing, baru pagi itu mereka dengar.
Seragam lelaki dan perempuan yang menggedor rumah dan
menggiring bahkan memukuli penduduk itu berwarna merah,
berloreng-loreng seperti pakaian tentara. Semua membawa senjata,
tetapi tidak hanya satu jenisnya. Senapan, kelewang, tongkat besi,
juga potongan-potongan bambu panjang.

Dari sanalah awal perjalanan panjang Meiling sebelum terdam-
par di barak penampungan di perbatasan Siam-Kamboja, kemu-
dian diangkut ke tangsi pengelompokan lain di Bangkok. Terpisah
dari ayah-ibu dan adiknya, diperkosa entah berapa puluh kali oleh
anak-anak belasan tahun dari pasukan berkelakuan serigala, Meiling
tidak juga menyadari bahwa itu benar-benar terjadi. Dia jalani semua
hinaan, penderitaan dan kemeranaan dengan rasa tidak percaya.
Dia selalu menyebut nama Buddha Sang Pengasih dan Penyayang
penuh harapan bahwa suatu pagi dia akan terbangun, berada di
rumah mereka bersama ayah-ibu serta tiga adiknya.

Lalu pada suatu ketika, tanpa rencana, bahkan tanpa sengaja,
dia berada terlalu jauh dari barak tahanan. Tidak mengetahui mana
utara mana selatan, dia meneruskan berjalan mengikuti sumber suara
50

aliran air. Buddha Yang Agung mengarahkan langkahnya ke
kelompok pelarian yang sedang bersembunyi di semak-semak, me-
nunggu matahari terbenam. Seperti dalam mimpi, Meiling mengikuti
rombongan itu menelusuri sungai ke arah hulu sambil menghindari
ranjau, peluru dan berbagai jebakan tentara Khmer Merah. Sambil
sekaligus berusaha dan berdoa agar tidak terpisah dari kelompok
yang telah sudi menerimanya.

Meiling terbangun. Tidak terbangun di Battambang di dalam
rumah keluarga yang kecil dan sejuk karena lindungan pohon-po-
hon kelapa, melainkan di barak pengungsian Hong Kong. Dia sadar,
sungguh sadar, ketika petugas Palang Merah Internasional me-
nyodorkan daftar nama orang-orang Kamboja dan Vietnam yang
sudah mapan di berbagai negara. Meiling disuruh membaca, kalau-
kalau ada yang dia kenali, supaya bisa diberi tahu mengenai keha-
dirannya di pengungsian tersebut.

Dua setengah tahun dia menunggu. Selama itu dia hidup dan
bergerak dalam kesadaran sepenuhnya. Selama itu pula dia tidak
meninggalkan monolognya kepada Buddha Yang Agung.

Karena suka memasak, dia langsung diperbantukan di dapur
tangsi. Di sana dia segera menjadi sahabat satu keluarga yang se-
dikit banyak bertanggung jawab atas makanan bagi barak sebelah
barat, namanya Engsrun. Alangkah baiknya mereka berempat ter-
hadap dirinya.

Sebegitu bibinya mengenali namanya, Palang Merah langsung
mengurus tiket perjalanan Meiling ke Prancis. Keluarga bibinya
kehilangan seorang anak perempuan seumur Meiling. Sebab itulah
secara berkala dia atau kerabatnya mencari informasi di cabang
organisasi sosial itu di Prancis.

Sejak liburan Hari Raya Tet tiga bulan lalu, Meiling mendapat
kegairahan hidup yang lain. Setiba di Paris, bibinya mendapatkan
pekerjaan untuknya di sebuah rumah makan milik orang Kamboja
juga di Paris 16. Untuk liburan, Bibi meminta agar dia menginap di
Paris 13. Rupanya ada pembicaraan serius yang dilaksanakan: bibinya
akan membuka restoran kedua di Porte de Choisy, tidak jauh dari
apartemen dan usaha pertamanya.

51

“Sudah setahun kamu bekerja pada orang lain. Umurmu cukup
matang untuk memegang usahamu sendiri. Menjadi buruh orang
lain memang bukan merupakan kesalahan. Hanya, aku tidak rela
kau terus-menerus bergantung kepada orang lain. Harus ada
peningkatan.”

“Mengapa saya yang disuruh memegang rumah makan itu?
Anak-anak Bibi dan Paman bagaimana? Mengapa tidak memanggil
Seulan dari Amerika? Atau Builong dari Belanda?”

Meiling berusaha menghindar dari tanggung jawab yang dia ang-
gap terlalu berat baginya. Bayangkan! Mengelola restoran dengan
paling sedikit sepuluh atau dua belas meja. Harus siap pukul tujuh
hingga tengah malam. Harus mengurusi uang yang tidak sedikit,
belanja makanan, menu, orang gajian. Belum mengerjakan saja, dia
sudah khawatir dan merasa capek!

“Tidak mungkin,” bibinya menyahut, “kau sendiri tahu bahwa
mereka mempunyai dasar pendidikan Inggris. Apalagi, Seulan sudah
nyaman hidupnya di Los Angeles. Anak-anaknya mapan bersekolah,
restorannya berjalan mulus. Builong di Scheveningen juga kurang
pintar berbahasa Prancis. Laican di Sydney ikut suaminya yang
berpenghasilan cukup. Ciwen begitu pula, suami istri menjadi dosen
di Melbourne, sudah senang. Mereka tidak bisa kita ganggu.
Saudaraku terdekat tinggal kamu yang belum mapan. Kamu sudah
kuanggap seperti anakku sendiri.”

Meiling merasa matanya memanas. Berusaha menekan keha-
ruannya, dia bertanya kepada pamannya,

“Paman bagaimana?”
“Kau tidak berurusan dengan pamanmu melainkan dengan aku.
Restoran adalah busnisku pribadi. Kalau perumahan, tanah, ya kamu
bertanya kepadanya. Itu uangnya sendiri.”
“Aku setuju, Mei,” kata paman itu singkat.
Meiling masih perlu didorong lagi, bertanya,
“Apa saya mampu, Bi? Saya takut....”
“Takut apa?”
“Mengurus uang begitu banyak, orang gajian, belanja besar....”
“Belum soal pajaknya...,” pamannya menyela.
52

Meiling menoleh ke arah pamannya. Walaupun pipanya telah
padam, lelaki itu masih terus mengisap-isap benda tersebut.

Bibi Meiling melambaikan tangannya, berteriak lembut,
“Jangan kamu takut-takuti dia! Belum-belum sudah merasa ter-
ancam dia karena kau!”
Kemudian ganti memandangi Meiling, Bibi meneruskan,
“Memang kau harus bekerja lebih keras karena kamu juragan.
Memimpin sesuatu tidak berarti hanya bisa memerintah. Kamu
harus bisa mengerjakan semuanya, tetapi ada orang yang kaugaji
untuk melaksanakan semua itu. Tentu kau mampu. Nanti kau segera
magang di sini beberapa bulan. Di dapur, turut belanja, menyiap-
kan menu, di kasa, melayani atau menemui dan berbicara ramah-
tamah dengan para tamu. Pendeknya, kamu harus dapat menangani
semua dengan luwes dan benar sehingga pegawaimu tidak bisa
mengelabui kamu kelak.”
“Bibi akan terus membimbing saya?”
“Mana mungkin aku akan tega melepasmu. Nanti sore kubawa
kau melihat lokasinya, restoran dan apartemen di atasnya. Pemiliknya
juga setuju meninggalkan beberapa barang pokok seperti lemari
dinding, tempat tidur, beberapa meja-kursi serta peralatan dapur.
Untuk restoran, aku sudah memesan peralatan lengkap sebagai
pengisi ruangan. Tinggal membikinkan kamar MCK, biar praktis.”
Bibi adalah satu-satunya saudara ibu Meiling. Dan dia kini
memikirkan semuanya itu untuk Meiling. Semakin besar cintanya
kepada wanita itu. Dan Meiling merasa bahwa ikatan kedekatan
yang tulus terjalin erat di antara mereka berdua.
“Kalaupun seandainya aku tidak ada, urusan rumah makan dapat
kautanyakan kepada Bibi Susan, istri notarisku. Dia memegang
kantin mahasiswa di Paris 7. Besok aku kenalkan,” tambah Bibi
yang bijaksana itu.
Sejak sore itu, segalanya berjalan cepat. Sangat cepat. Diputus-
kan bahwa Meiling segera dibantu kendaraan dengan bak terbuka
untuk memindah barang-barang besar. Dia tidak dapat hidup tanpa
tanaman. Sebab itu, pot-pot besar kecil sudah berdesakan di dalam
kamar sewaan di Paris 16. Menurut bibinya, itu malahan bagus.

53

Karena untuk sementara akan digunakan menghias ruangan restoran.
Kemudian, secepatnya, Meiling harus menempati apartemen di
atasnya.

Hari-hari berikutnya, sambil magang, Meiling dibawa berkenalan
dengan banyak relasi bibinya. Menurut Meiling, wanita itu sangat
hebat. Bibinya mengetahui semua gudang dan toko penjual berbagai
alat elektronik, barang-barang biasa maupun tradisional. Untuk me-
nata ruangan, Meiling memberikan usul sentuhan artistik. Lalu dia
melihat bahwa bibinya sangat senang dengan pilihan-pilihannya itu.

“Restoran itu akan kita beri nama Mekhong. Kamu setuju?”
tanya Bibi.

Di Place d’Italie, rumah makan bibinya dinamakan Phnom Penh.
Untuk yang kedua, Meiling kira juga akan bernama sama. Tetapi
Mekhong memang sangat cocok, karena sungai itu melewati ibu
kota Kamboja sebelum memanjang terus ke timur memasuki wilayah
Vietnam.

Semua kenangan itu membantu Meiling merasa cepat tiba di
stasiun tujuan. Sebelum menapak di tangga listrik ke arah mulut
metro di jalan Bobillot, Meiling mengeluarkan logam 5 franc. Itu
dia berikan kepada lelaki Vietnam yang selalu mengemis pejalan di
keliling tangga.

Tiba di udara terbuka, Meiling menyebut nama Buddha Yang
Suci, berterima kasih karena perjalanannya pagi itu lancar dan sela-
mat. Akhir-akhir itu, kota Paris menjadi sasaran teroris penuntut
pembebasan rekan-rekan yang berada di penjara di seluruh Eropa.
Kereta bawah tanah, toko besar, perusahaan penerbangan serta kan-
tor-kantor pemerintah selalu menjadi incaran golongan yang biadab
itu.

Lima franc banyak sekali. Tetapi Meiling merasa harus mem-
bagikan rezeki dan kebaikan hati bibinya kepada orang dengan siapa
dia merasa dekat. Vietnam, Kamboja, Laos merupakan ras pengungsi
dengan siapa Meiling merasa sepenanggungan dulu.

Seperti biasa, dia menuju ke apartemen bibinya sebelum ke Rue
de Choisy. Ketika pintu flat terbuka, di luar dugaannya, bukan Cihaai
yang berdiri di depannya. Dia tidak segera mengenali suami bibinya.
54

“Tidak ada orang di rumah,” kata lelaki itu, “makanan disiap-
kan di dapur. Lihatlah sendiri! Kata Cihaai, kamu sudah biasa.”

Setelah mencuci tangan dan mengambil makanan, Meiling duduk
di arah depan pamannya. Laki-laki itu berubah. Tidak hanya
rambutnya yang dicat terlalu hitam, ya betul, pakaiannya pun tidak
seperti dulu. Baju hemnya bukan model klasik biasa, melainkan
berkerut-kerut di kanan-kiri kancing. Lengannya menggembung,
dihiasi saku-saku panjang sempit di bagian atas. Keseluruhan bentuk
baju

itu seperti kostum pangeran yang dikenakan di saat pentas tea-
ter. Satu detil lagi: kancing baju dibiarkan terbuka sampai bagian
dada di mana bulu-bulu panjang mulai tumbuh. Leher dilingkari
rantai emas sangat tebal.

Memang telah lama Meiling tidak melihat pamannya. Betul,
sejak Hari Raya Tet, tiga bulan lalu. Kalau dia bertanya, Bibi atau
pembantu yang sudah bagaikan anggota keluarga itu menyahut bah-
wa suami Bibi sering ke luar kota, atau sedang ada urusan. Sambil
makan, Meiling mencuri mengamati lelaki di hadapannya. Untung-
lah, kenorakan penampilan yang sama sekali tidak cocok menuruti
seleranya itu segera berakhir.

“Bibimu berpesan, dia membayar tiket pesawat Engsrun hari
ini. Jadi dapat diharapkan, mereka datang pekan depan. Sekarang
kamu kutinggal. Jangan lupa mengunci pintu sebelum pergi.”

Bau wangi yang terlalu manis masih menyebar di ruangan wa-
laupun paman itu telah keluar. Meiling bergegas. Pagi itu akan datang
beberapa barang yang dipesan. Mulai malam itu, dia akan tidur di
apartemen Rue de Choisy.

Keluarga Engsrun akan segera datang dari Hong Kong. Derita
mereka di barak pengungsian akan segera berakhir. Berkat Bibi,
Engsrun akan bekerja di restoran Mekhong.

*
Alangkah rapuhnya kehidupan. Betapa hina dan kecilnya ma-
nusia ini. Belum sampai seminggu berlalu Meiling bergairah meng-

55

ikuti bibinya, bergantian menyetir mobil memesan dan memilih
barang. Semuanya telah dibayar dilengkapi kontrak tanggungan tukar
atau perbaikan. Sebagian sudah datang serta ditata di tempat masing-
masing. Meiling bergairah akan mengelola sebuah restoran, berjanji
kepada Buddha Yang Agung akan semakin membantu para
pengungsi. Namun, tiba-tiba kini dia kembali pada pertanyaan
semula: akan mampukah dia menjalankan usaha bibinya itu?

Yang Mahakuasa mempunyai pola sendiri dalam menentukan
takdir setiap manusia. Saudara satu-satunya ibu Meiling itu
mendadak dihempaskan oleh ketentuan nasib. Dia bersama saha-
batnya Susan membayar tiket yang sudah dikirim guna menjemput
keluarga Engsrun. Setelah urusan selesai, Susan menyeberang jalan
akan membeli sesuatu sebagai makan siang mereka. Bibi antre untuk
mendapatkan uang tunai di salah sebuah ATM. Di saat yang naas
itu bom meledak, menghancurkan salah satu perwakilan perusahaan
penerbangan besar di Prancis. Bibi Meiling mati seketika bersama
sebelas korban lainnya.

Belum lepas dari kejutan ditinggal Bibi tercinta, keesokan upacara
di kuil dan kremasi, paman Meiling datang ke bakal restoran di Rue
de Choisy. Meiling mengira suami mendiang Bibi itu menjenguk
dia. Ingin mengetahui sampai di mana Meiling menangani penataan
dan dekorasi. Malahan dia mempunyai praduga kemanjaan,
mungkin paman itu melakukan pendekatan karena mereka baru
ditinggal oleh wanita yang sama-sama mereka cintai. Bukan main
senangnya Meiling menerima kunjungan itu.

“Kuperkenalkan ini Sibao, kawanku,” langsung paman itu berkata
sambil mengedarkan pandangnya, meneruskan, “Wah, bagus sekali!”

Memang persiapan hampir selesai. Tinggal memasang korden
dan membersihkan kamar mandi. Tukang yang mengerjakan ka-
mar kecil hilir mudik membereskan tugasnya.

“Silakan naik, Paman. Saya buatkan teh.”
“Ada teh? Sudah punya peralatan dapur?”
“Sudah lengkap. Saya sudah hampir seminggu tinggal di sini,”
sahut Meiling, “telepon juga ada.”
Meiling melihat pamannya berpandangan dengan teman yang
56

bernama Sibao itu. Dia merasa ada kata-kata yang tidak diucapkan.
Waktu itu dia baru sadar bahwa kedua lelaki itu mempunyai
kesamaan, sekaligus berbeda. Sibao berumur paling banyak 22-23
tahun. Pamannya mendekati 70 tahun. Tetapi keduanya berbadan
dan berpakaian secara identik. Hanya Sibao lebih berkilau karena
selain mengenakan kalung, dia juga memakai gelang, dua giwang di
satu telinga, dan empat entah lima jari dilingkari cincin.

“Kami hanya sebentar. Di sini saja,” kata paman itu.
Seolah-olah merupakan isyarat, Sibao keluar ke patio. Tanaman
Meiling ditempatkan di sana. Benar seperti kata Bibi, menghias
keliling halaman kecil itu. Udara bulan April sejuk, kadang-kadang
dingin dan berhujan. Pagi itu matahari bersinar temaram, curahan
sinar kuning menguatkan daun-daun dan sisa rumput yang tahan
musim dingin.
“Aku mempunyai gagasan, Mei,” kata paman Meiling setelah
mereka duduk, “lebih mudah bagimu kalau yang memegang res-
toran ini Sibao. Kamu sudah terlanjur pindah tempat tinggal, itu
tidak apa-apa buat sementara. Nanti aku carikan pondokan lain,
mudah di dekat-dekat sini. Tentu saja kau bisa bekerja di sini juga.”
Meiling terkejut. Tetapi mengapa dia tidak heran pamannya
mempunyai gagasan itu? Cepat komputer di kepalanya mengemu-
kakan prakiraan-prakiraan. Jelas sekali hubungan apa yang terjalin
antara paman itu dengan anak semuda Sibao. Meiling mengira dia
bukan orang Vietnam maupun Kamboja. Laos? Siam? Sebentar
Meiling gugup. Tidak tahu harus menjawab bagaimana.
Sekilas, terbayang wajah bibinya, lalu Tante Susan. Secepat itu
pula Meiling berkata,
“Ini dapat dirundingkan tentu saja, Paman. Apakah tidak lebih
baik jika kita menunggu pembacaan surat wasiat? Bukankah kita
disuruh berkumpul di kantor notarisnya Bibi besok pukul sepuluh
pagi?”
Meiling tidak mengharapkan sesuatu warisan pun dari saudara
ibunya itu. Walaupun begitu, bibinya selama lebih dari setahun
bertemu kembali dengan kemenakannya itu, sering sekali mengulang-
ulangi bahwa kalau bukan atas usul ibunya Meiling, Bibi tidak

57

mungkin berani melangkah memulai berusaha di bidang
perdagangan. Ketika rumah dan tanah warisan Kakek di Battambang
dijual, ibu Meiling memberikan sebagian besar bagiannya kepada
adiknya agar dimasukkan ke dalam usaha perhiasan emas. Toko itu
akhirnya jadi di Phnom Penh. Terkenal di antara para pribumi dan
penduduk orang asing. Setiap bulan, ibu Meiling menerima jatahnya,
semacam bunga dari tabungan yang sangat lumayan jumlahnya.

Namun, Meiling semalam suntuk tidak tidur. Pikiran saling ber-
bantahan mengganggu ketenangan jiwanya. Benar juga paman itu.
Ada sedikit kelegaan di hati Meiling seandainya dia tidak jadi
mengelola restoran. Sangat tenang menjadi karyawati saja.
Sebaliknya, semangat yang ditanamkan bibinya di bidang jasa boga
pun telah berakar di sudut hati Meiling. Tetapi, walau ada semangat,
kalau tidak ada modal bagaimana? Bibi meninggal, pastilah semua
jatuh ke tangan suami dan anak-anaknya. Seandainya Meiling ter-
masuk di dalam surat wasiat, jumlah uang bagiannya pasti tidak
bakal mencukupi untuk modal sesuatu usaha.

Maka malam itu, Meiling mulai mengemas kembali barang-
barangnya. Keputusannya ialah dia tidak akan mampu menjalan-
kan restoran bibinya karena yang memegang modal adalah pa-
mannya. Oh, Sang Maha Suci, lindungilah semua pengungsi di dunia
ini. Termasuk diri Meiling. Begitu dia terus menggumamkan doanya
sambil mengumpulkan pakaian, kaset, dan buku-bukunya. Tanpa
dikehendaki, air mata membanjir, deras berderai di pipi Meiling.
Bertahun-tahun bertapa di barak pengungsian setelah terlepas dari
aniaya Khmer Merah, sebenarnya sudah sangat baik nasib Meiling:
menjadi pelayan rumah makan. Bahkan sebentar dapat menikmati
kasih sayang seorang bibi.

Ya, benar. Masih banyak pengungsi yang bernasib jauh lebih
buruk.
58

Perumnas

Sebenarnya itu bukan Perumnas. Tapi orang-orang desa menye-
but demikian semua permukiman yang mengelompok, rumah
dibikin dari batu dan semua penghuni dianggap punya mobil.
Kebalikannya, penduduk perumahan mewah dan setengah mewah
itu memanggil warga desa-desa lingkungan sana “orang bawah”.
Bukan karena maksud merendahkan. Hanya karena memang letak
desa-desa tersebut kurang tinggi jika dibandingkan beberapa
kelompok hunian yang secara beruntun terus dibangun di pinggiran
ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu.

“Eh, sssttt diam! Itu pacarnya Kino datang.”
“Yang mana? Yang mana?”
“Yang mana, No?” pemuda pertama yang menggugah rasa ingin
tahu kaum muda di depan masjid itu malahan ganti bertanya.
“Kamu ini! Bilang sendiri, sekarang tanya.”
“Masalahnya, Kino ganti lagi. Tahu-tahu, yang dulu dia incar
orang Kristen. ‘Kan haram!”
“Tidak haram kalau dia mau ganti agama, masuk Islam. Justru
Kino mendapat pahala karena menarik satu umat,” pemuda lain
menjelaskan.
Di sebelah lain, ibu-ibu tua dan muda berbisikan,”Itu! Itu babu-
babu Perumnas!”
“Biarkan! Biarkan! Mereka biar di belakang situ. Ayo kita pe-
nuhi bagian sini!” kata seorang perempuan sambil mendorong-
dorong kelompoknya supaya menyebar. “Lik, sampeyan ke sana.

59

Duroh maju, biar kelihatan penuh.”
“Benar. Mereka selalu ribut melulu.”
“Mereka datang bukan untuk tarawih.”
“Itu ada tempat bolong di tengah. Cepat diisi. Biar mereka sam-

pai di tiang itu saja,” kata ibu lain lagi.
“Mengapa mereka masih kemari? Padahal mushola Perumnas

sudah dibesarkan. Terataknya seperti panggung. Bawah pakai papan,
supaya kalau rumput digenangi air, aman buat sholat.”

“Lalu kenapa mereka masih terus kemari?”
“Barangkali karena khotbahnya bagus.”
“Ah, yang ceramah di mushola itu juga datang dari Pondok. Pak
Kiai sendiri yang bilang, setiap malam mereka bergilir ke Perumnas-
Perumnas.”
“Ah, tentu saja babu-babu itu memilih kemari. Mereka ‘kan cari
suami!”
Dan seolah-olah jawaban itu merupakan kebenaran mutlak, ibu-
ibu di sana terdiam.
Sesungguhnya Siti tidak suka ikut tarawih ke “bawah”. Satu
rombongan bersama pembantu-pembantu lain seperti arak-arakan.
Pernah dia hitung, semuanya empat belas. Seperti akan kondangan
saja! Semua memakai kerudung dan baju atau celana panjang bagus-
bagus. Penutup kepalanya saja berwarna-warni. Ada yang berkerlipan
ditempeli merjan. Siti paling ingin yang dimiliki Sadiyah, merah
bata disulami benang berkilauan seperti perak. Di tepi dipasang
renda bulat-bulat kaca, juga merah tua. Katanya itu dibeli di Pasar
Johar. Sejak dua tahun di kota, Siti belum pernah ke pasar besar itu.
Dia pasti ke sana untuk mencari kerudung yang diidamkan jika
gajinya diberikan kepadanya lagi.
Karena mulai bulan itu dia tidak menerima upah kerjanya. De-
mikian seterusnya, akan berlangsung setengah tahun lamanya.

*
Beberapa hari sebelum Puasa, pagi-pagi bapaknya muncul di
tempatnya bekerja. Begitu melihatnya, badan Siti lemas karena
khawatir.
60

“Ada apa, Pak? Siapa yang sakit? Simbah? Simbok?”
Bapaknya ketawa-ketawa tanpa suara. Gigi-gigi merongos serta
ternodakan nikotin itu menonjol di wajah hitam penuh kerutan.
“Tidak. Tidak. Tenang saja. Tenang saja.”
Lega hati Siti.
Biasanya, kalau orang tua pembantu datang ke perumahan ialah
untuk menjemput anak karena ada anggota keluarga yang sakit,
kecelakaan atau meninggal. Selama bekerja di sana, Siti mengetahui
dua pembantu yang dijemput untuk dikawinkan. Mimah setengah
dijual bapaknya kepada seorang lelaki berumur dua kali usianya
sendiri, lalu berangkat ke Irian bertransmigrasi. Asnah disusul
kakaknya, dibohongi. Katanya nenek sakit dan ingin melihat cucunya
yang bekerja di kota. Kemudian Siti tahu dari penjual sayur bahwa
temannya itu dikawinkan dengan buruh tani, karena orang tuanya
tidak bisa membayar utangnya kepada laki-laki itu.
Siti baru menjalin perkenalan baik dengan Supri, pembantu
sebelah majikannya. Tiba-tiba teman barunya itu dijemput bapaknya.
Dia juga akan dikawinkan. Alasannya ialah Supri sudah cukup umur.
Menangis-nangis Supri berpamitan kepada Siti.
“Apa kamu tidak bisa menolak?”
“Aku sudah menolak. Kukatakan bahwa aku masih ingin be-
kerja di kota dan hidup sendirian. Padahal, kalau aku kerja, hasilnya
juga buat mereka. Aku tidak menikmati gajiku sendiri.”
“Berarti, kalau kamu kawin, bapakmu tidak menerima uang lagi
dari sini.”
“Itu sudah kukatakan. Tapi dia bilang, aku harus berbakti.
Kalau membantah, aku anak durhaka. Katanya aku pasti masuk
neraka. Sebagai anak, dia bilang aku harus membayar budi or-
ang tua dengan menuruti perintahnya. Sejak kecil dipelihara,
dikasih makan. Katanya, tidak berguna aku sembahyang kalau
tidak menuruti kata orang tua.”
Siti merasa iba. Pembantu-pembantu di sana banyak yang keku-
rangan wawasan, seperti Supri. Lancar membaca tulisan Arab, ter-
tegun-tegun mengenali huruf-huruf Latin. Untunglah Siti suka cerita,
sehingga meskipun hanya keluaran kelas empat SD, dia baca semua
koran dan majalah milik majikannya dengan penuh perhatian. Dan

61

dia merasa bisa berpikir lebih mudah daripada dulu ketika masih
terkurung mengurusi adiknya dan serba kesibukan rumah bersama
Simbok. Dia berterima kasih kepada tukang sayur Perumnas. Berkat
wanita pedagang itulah Siti berangkat ke kota dan menjadi pembantu.

“Mengapa Bapak kemari kalau di rumah tidak ada yang sakit?”
Siti mendesak, hatinya kurang enak.

Pasti ada apa-apanya maka orang tuanya datang.
“Mau ketemu sama Bu Agus.”
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa. Urusan orang tua. Kamu tidak usah turut
campur.”
Tidak usah turut campur ini berakibat enam bulan gaji Siti di-
bawa bapaknya yang beralasan “buat membayar utang”. Seolah-
olah Siti tidak tahu bahwa utang itu disebabkan karena kalah berjudi.
Sedih Siti memikirkan Simbok dan Simbah Wedok. Mengapa sela-
lu laki-laki yang membikin perempuan hidup merana? Dulu, Simbah
Lanang juga sering merongrong dada Nenek karena ulahnya yang
mata keranjang. Berapa kali saja lelaki itu tidak menyerahkan hasil
penjualan sayur untuk keperluan rumah tangga. Di Hari Raya
Besaran, kambing dijual untuk kurban, tetapi uangnya habis buat
bergila-gilaan bersama pelacur kota.
Tanpa meminta pendapat Siti, majikan berkata,
“Bapakmu datang minta gajimu enam bulan. Kabarnya desa
terkena celeret. Banyak rumah yang rusak. Kalian beruntung, karena
hanya bagian belakang rumah kalian yang disambar. Atapnya harus
diperbaiki.”
Siti hanya diam. Celeret adalah angin ribut mendadak dan ha-
nya menyerang satu desa. Itu sering terjadi di kerumunan desa-desa
Godong, Grobogan, sekitar Purwodadi. Tetapi di bulan-bulan terakhir
itu tidak terdengar kabar apa pun tentang bencana tersebut. Men-
tang-mentang menjadi orang tua, bapaknya gampang sekali
menguras hak milik Siti. Musnahlah gaji enam bulan. Dari sebelum
subuh mengepel, mencuci pakaian tiga anak dan dua dewasa,
menyapu rumah dan halaman, memasak, dipukul dan dijambak
anak sulung majikan. Bila petang tertidur kecapekan, masih dipanggil
disuruh ini atau itu.
62

Dia yang bekerja, hasilnya diambil dengan semena-mena. Amat
sakit hati Siti, karena majikannya juga kebangeten. Sekurang-
kurangnya, Siti harus diminta pendapatnya. Tentu Siti akan terpaksa
berkata “ya”. Tetapi dia juga bisa meminta sebagian untuk dirinya.
Dasar orang sabrang, tidak tahu menghargai perasaan orang.

Di rumah itu ada dua kamar. Siti tidur bersama anak-anak.
Malam, sewaktu bapaknya membaringkan diri di tikar di depan
lemari, Siti berkata,

“Tinggali aku sepuluh ribu, Pak.”
“Buat apa,” suara bapaknya tidak bertanya, tapi kesal. Aneh.
Malahan bapaknya yang kesal.
“Buat pegangan.”
“Kamu tidak perlu apa-apa. Makan dikasih. Pakaian sudah pu-
nya. Buat apa pegang uang. Malah akan kamu boroskan saja!”
Ingin sekali Siti mengatakan unek-unek yang menyumpal di
dadanya. Boros apa! Judi laknatmu itu yang boros. Dasar orang tua
yang tidak bisa di-tua-kan. Tapi Siti ingat. Dia eling, seperti yang
selalu diajarkan oleh Simbok dan Simbah. Eling, Nduk. Baca
Astagafirullah.
Siti menarik napas. Dua detik, terdengar dengkuran bapaknya
yang masa bodoh.
Rengekannya tegas dia ulangi keesokan pagi sebelum bapak itu
pulang ke desa. Dia hanya berhasil mendapatkan dua lembar uang
ribuan kumal yang berbau keringat. Dengan ucapan minta maaf
lagi kepada Tuhan, di dalam hati dia berseru, “Aku tidak pernah
menyukaimu, Pak. Aku selalu mencintai Simbok dan Simbah Wedok.”

*
“Itu lho Mak, pembantu yang bekerja di perpustakaan, rumah
dekat tengki air. Badannya bagus. Tinggi, tidak gemuk. Rambutnya
panjang.”
“Yang mana? Ada dua. Keduanya rambutnya panjang dan ba-
dannya bagus.”
“Yang mana saja, saya mau.”
“Eeeeh, jangan!” perempuan yang agak tua menopang, “Haram!

63

Mereka kafir, orang-orang Kristen itu! Apa kalian tidak pernah lihat
kalau hari Minggu selalu pergi membawa kitab sucinya, dandanannya
rapi. Itu mereka berangkat ke gereja.”

“Benar?”
“Benar. Masa aku berbohong kepadamu? Dulu ketika aku ma-
sih jualan sayur keliling, rumah itu langgananku. Nama mereka Yani
dan Yanti, kakak beradik. Baik sebetulnya. Tapi Kristen.”
Kino terdiam. Kedua ibu di sana juga tidak bersuara.
“Yang lain saja,” akhirnya salah seorang wanita itu berkata.
“Tidak tahu. Lain-lainnya tidak bisa disawang. Muka tidak manis,
badan juga. Kalau kurus, terlalu kerempeng. Kalau gemuk sedikit,
malah bentek.”
“Jangan hanya dilihat luarnya saja. Kalau hatinya baik, sifat lahir
tidak penting.”
“Alllllaaaaaah Mak ini! Apa Mak mau punya menantu yang ma-
tanya juling bibirnya sumbing!”
“Yaaaa, bukan begituuuuu,” sahut Mak Munah sambil meng-
awasi anak lelakinya.
Kino berbadan tinggi bagi ukuran orang biasa. Walaupun hi-
tam, wajahnya cukup tampan karena hidung yang mancung. Dia
sendiri, bukankah dulu pernah dikenal sebagai Munah kembang
desa Duwet? Jadi, kalau Kino menginginkan istri “yang bisa
dipandang”, itu pantas saja.
“Hati dan sifat baik itu namanya cantik dalamnya,” bekas pen-
jual sayur berkata lagi.
“Bagaimana tahu cantik dalamnya kalau belum kenalan!” suara
Kino setengah putus asa.
“Yaaah kenalan dulu,” sekali lagi mantan tukang sayur menyahut,
lalu meneruskan, “Puasa nanti ‘kan banyak babu-babu Perumnas
ikut tarawih ke sini. Kabarnya banyak pendatang baru. Itu Perumnas
yang di sebelah barat sudah banyak penghuninya. Semua mesti
punya pembantu. Kamu lihat saja nanti!”
“Untuk berkenalan, gampang. Pokoknya kamu pilih-pilih dulu,”
Mak Munah menambahkan.
Tiba-tiba, dari samping terdengar,
“Cari yang pantatnya besar, No. Itu artinya kuat main di tempat
64

tidur.”
“Dasar lelaki!” ibunya Kino memaki perlahan.
Matanya membelalak tertuju keluar jendela, di balik mana

suaminya sedang memasah sebatang kayu.
Begitulah caranya laki-laki di “bawah” mencari korbannya.

Pembantu dan pendatang perempuan merupakan sumber pilihan
sebagai calon istri ataupun objek penipuan. Sebaliknya, penduduk
“bawah” menampung buruh-buruh bangunan yang berdatangan dari
tempat lain dan memerlukan pondokan sementara. Secara berkala
terbentuklah pasangan-pasangan yang diresmikan dengan
pernikahan. Namun, tidak jarang terjadi juga hubungan gelap, nista,
membuahkan perkelahian dan corengan di muka.

Selama hampir dua tahun Siti bekerja di sana, sudah terdengar
tiga kali siswa Pondok berasal Jawa Timur yang dicari polisi karena
mendodosi toko-toko swalayan di kota. Empat kali pembantu
“kecelakaan”, dihamili buruh bangunan dan penduduk “bawah”.
Satu kali seorang istri desa di “bawah” mencoba bunuh diri karena
suami keterlaluan bermain mata dengan pembantu Perumnas yang
satu lalu ganti lainnya. Dan entah berapa kali Siti mendengar perkara
laki-laki menipu babu-babu Perumnas: uang atau perhiasan menguap
tak ketahuan ke mana, janji dinikahi juga hilang bersamanya.

Tapi semua keonaran itu cepat berlalu. Cepat terlupakan oleh
datangnya orang-orang baru, karena perumahan masih terus
bermunculan. Karena lelaki dan perempuan di “bawah” atau di Pe-
rumnas serta keduanya akan melanjutkan saling mendekat, untuk
saling berbuat kebaikan ataupun saling menyakiti.

Tidak ada istilah cinta bagi orang di “bawah” dan babu-babu di
Perumnas. Kalau cocok, bisa bergaul dan bergurau bersama, jadilah
perjodohan itu. Pemikiran itu amat memudahkan hidup. Orang-
orang yang sederhana demikian tidak bersusah payah melewati
kerumitan cinta untuk membentuk pasangan. Tapi kecemburuan
hadir di sana. Itu didorong oleh emosi dan harga diri.

Yang utama ialah, bagi perempuan, sebaiknya sudah kawin pada
usianya yang kedelapan belas. Lain halnya buat lelaki. Tidak punya
pasangan atau istri bukan merupakan cacat. Itu juga bukan satu
kekurangan, karena dia bisa jajan di pinggir-pinggir jalan Tanahmas

65

atau pelabuhan. Kendaraan ulang-alik seribu rupiah, kepuasan
sejenak tiga ribu, paling mahal lima. Jumlah tidak mencapai upah
sehari seorang buruh bangunan.

Sesungguhnya, Siti ingin tarawih di masjid Perumnas saja. Tapi
dia diseret-seret Mbak Ronah, pembantu paling lama di permukiman
itu.

“Kalau ke ‘bawah’, kamu bisa tambah kenalan. Banyak jejaka di
sana. Ditambah lagi ada dua Pondok. Siapa tahu ada guru-guru
yang belum punya istri.”

“Walaupun terkait sama yang sudah kawin juga tidak apa-apa.
Itu Pak Musal, Pak Subir, istrinya dua. Masing-masing dibikinkan
rumah, diberi dadah,” kata pembantu lain.

Maka Siti turut aliran arus.
Ini adalah Puasa kedua dia bekerja di tempat yang sama. Tahun
lalu dia tidak tarawih ke “bawah”. Karena baru datang, kenalan
baiknya hanyalah pembantunya Direktur Perumahan yang sudah
agak berumur. Ibu itu berkata, daripada pergi jauh-jauh, lebih baik
mengikuti sholat tarawih di lokasi saja.
Bersama rekan dan teman pembantu, biasanya Siti adalah yang
paling diam. Dia tidak setuju bila rombongannya cerewet sendiri
sementara da’i menyampaikan ceramahnya.
“Lihat itu Pak Sabir, duduk di sana. Wah, ganteng ya,” kata
seorang pembantu.
Cepat temannya menopang,
“Pantas saja istrinya dua.”
“Kamu mau jadi yang ketiga? Ngunggah-unggahi sana!”
“Katanya, kalau perempuan melamar lelaki, petukonnya lebih
banyak. Harus punya duit,” pembantu lain berbusik.
“Pak Sabir tidak memerlukan uang. Dia sendiri sudah kaya.
Kabarnya, sapi dan sawahnya banyak di Ambarawa.”
“Ssssstttt! Jangan berisik!”
“Ini Mbak Ronah melirik Pak Sabir terus.”
“Bukan dia yang aku awasi. Kino itu lho. Sedari tadi bolak-balik
menengok ke sini. Siapa yang dia incar ya?”
“Jangan-jangan Mbak Ronah sendiri.”
“Iiih, anak ingusan. Aku jauh lebih tua dari dia. Lagi pula,” Mbak
66

Ronah memanjangkan leher ke arah depan, lalu meneruskan, “aku
pernah kawin dua kali, sudah tahu bagaimana laki-laki! Bosan. Lebih
baik hidup sendirian. Tidak ada yang mengomeli.”

“Ada majikan yang mengomeli.”
“Ya, tapi dia membayar, menggaji kita. Sedangkan suami? Dia
kasih uang sedikit, maunya makan dengan lauk daging-dagingan!
Kalau diberi tahu-tempe, marah. Mana tidur gratis lagi dengan kita!”
“Ssssssstttttt,” Siti tidak tahan lagi, turut campur mengingatkan
rombongannya.
Dia juga memperhatikan ulah Kino.
Pemuda itu sebenarnya sudah agak lama mengenal Siti. Gadis
itu biasa saja. Tidak cantik, tidak seksi. Orangnya hitam, rambut-
nya hanya sebatas bahu. Keseluruhannya, yaaa, bisa dipandanglah.
Sayang giginya besar-besar, sehingga kalau tertawa pemandangan
menjadi agak kacau.
Ujian SMP gagal, Kino magang menjadi buruh bangunan tujuh
tahun silam. Sekarang dia dipercaya memegang kunci gudang salah
satu Perumnas. Siti sudah kenal dengan pemuda itu. Kino berbaik
hati sering memboncengkan anak-anak asuhan Siti berkeliling taman.
Dia sendiri juga tidak jarang meminjam sepeda Kino untuk pergi ke
warung di “bawah”. Gudang dan tempat kerja Siti nyaris berhadapan,
hanya berantarakan sebuah taman kecil. Di mana ada waktu, Kino
bersandar ke pagar memanggil-manggil anak asuhan pembantu itu.
Mereka semua keluar, begitu pula Siti. Lalu pertemuan dilanjutkan
dengan perbincangan.
Dari situlah Siti tahu bahwa sesungguhnya seluruh penduduk
desa “bawah” masih mempunyai hubungan keluarga satu dengan
yang lain. Dan bahwa walaupun tampak miskin, setiap keluarga
mempunyai tabungan penting berupa sawah, kebun jambu kelu-
tuk, kebun durian atau nangka maupun rambutan. Milik tersebut
kemudian dibagi-bagikan kepada setiap anak-cucu yang memisahkan
diri untuk berkeluarga.
“Seperti aku misalnya,” kata Kino pada suatu waktu, “kalau aku
kawin, sudah ada rumah yang dibikinkan Nenek untukku. Kakakku
dulu juga begitu. Dia kawin diberi sawah di Weleri. Sebagian dia
jual, uangnya ditaruh di bank untuk sekolah anak-anaknya. Sekarang

67

dia bekerja sebagai Satpam, tapi juga punya sawah.”
Siti berharap. Namun, dia takut memberi bentuk dan nama

harapan tersebut. Dia usir dan dia enyahkan agar dia tidak dihantui
olehnya.

Dan petang itu, ketika tarawih usai, kelompok pembantu ribut
berbicara dan berkelakar sambil mengemasi sajadah serta mukenah.
Siti mendahului siap, keluar dari masjid.

“Lebaran pulang, Ti?”
Siti menoleh. Kino tiba-tiba saja berada di sampingnya.
“Belum tahu.”
“Lho kenapa?”
“Tidak punya sangu.”
Lalu, tanpa kendali, dia ceritakan bagaimana gajinya terkuras
habis. Puas sekali dia bisa mengadukan nasibnya sebagai sapi pe-
rahan kepada seseorang. Apalagi kepada Kino.
“Bosan aku hidup begini. Kalau ada modal, aku ingin ke Jakarta
saja, biar jauh. Kabarnya di sana dicari orang untuk mengganti
pembantu yang pulang Lebaran.”
“Kamu berani ke Jakarta?” suara Kino penuh keheranan.
“Supaya bebas dari bapakku, aku berani ke mana saja!”
Kino menunduk. Kaki kanannya mengais pasir di halaman
masjid, membentuk bulatan kecil, memberi teman bulatan lain di
sisinya. Kemudian mukanya ditegakkan, menatap Siti.
“Kalau kubayari busnya, kita bersama pulang ke desamu mau?
Aku ingin dolan ke tempatmu.”
Darah di seluruh tubuh Siti mengalir deras. Dadanya berde-
gupan. Siti mau menjawab, tapi tidak ada kata-kata yang siap keluar
dari bibirnya. Memang beberapa kali Kino memberi tahu dia bahwa
ingin dolan ke desa Siti, berkenalan dengan Simbok dan Simbah.
Tidak dikira sekarang pemuda itu mengulanginya lagi.
Kepala Kino merendah, berkata lirih,
“Jangan bilang-bilang kepada orang lain. Kalau kau setuju, tiba-
tiba saja kita pergi. Boleh menginap di rumahmu? Ada tempat?”
Tidak sukar. Di pondok Simbah Wedok banyak tempat.
Siti mengangguk, tersenyum. Namun, mulutnya tetap mem-
bungkam.
68

Pembantu-pembantu lain keluar, mendekat. Kino sudah pergi.
“Ada apa?” tanya Mbak Ronah, suaranya curiga.
“Tidak ada apa-apa,” sahut Siti.
Kepalanya penuh, serasa akan terbelah dan mengeluarkan butir
kata-kata yang bersinar berkilauan.
Tapi Siti diam dalam kegugupannya. Dia tidak hendak meng-
ungkapkan rahasia itu kepada siapa pun.
Sambil berjalan mengikuti rombongan, bibirnya masih mem-
bentuk senyum.

Arti/Penjelasan Kata-Kata dalam Bahasa Daerah
Lik : panggilan kepada wanita atau lelaki yang diang-
gap lebih tua dari si pemanggil.Pak Lik, Bu Lik
Sampeyan : Anda
Simbah : Kakek atau nenek.
Simbah Lanang ; Kakek. Lanang = laki-laki.
Simbah Wedok = Nenek. Wedok= perempuan.
Hari Raya Besaran : Hari Raya Kurban; Besar = nama bulan.
Sabrang/seberang : orang luar Pulau Jawa.
Eling : ingat
Disawang : dipandang
Bentek : gemuk dan pendek
Nduk : dari perkataan Genduk = anak perempuan.
Dadah : kebun dalam arti ladang, tidak di lingkungan
tempat tinggal. Sinonim: dagi
Ngunggah-unggahi : si pelamar adalah perempuan = melamar
Petukon : emas kawin; tuku = beli
Sangu : bekal, bisa berupa uang atau makanan, untuk
keperluan di jalan
Dolan : pergi ke suatu tempat untuk bermain-main,
berkunjung.

Mbak : dari perkataan Mbakyu = kakak perempuan

69

Monumen

“Ana Cina lemu, ana Cina lemu” anak-anak berlarian sambil
berseru-seru.

Semakin jauh ke dalam desa rombongan itu berjalan, semakin
banyak anak yang mendahului atau mengiringkan. Satu demi
satu, rumah yang berpenghuni memuntahkan lelaki atau pe-
rempuan tua, ibu-ibu menyusui bersama asuhan mereka ke arah
depan. Mereka mengumpul, bertanya dan berbicara,

“Ada apa?”
“Siapa Cina gendut?”
“Di mana?”
Desa yang biasa sepi peristiwa, yang tampak ditaburi pohon-
pohon pisang nyaris gundul serta jambu batu terlalu kering tak ter-
pelihara, sejak hari itu menjadi tempat kunjungan nyonya-nyonya
cantik, mengiringkan lelaki berkulit putih berambut emas keperakan.
Secara berkala, di muka kantor Kepala Desa bertenggerlah dua atau
tiga kendaraan jenis Kijang, jip bahkan sedan yang berkilat berkilau
karena kebersihan serta kemulusan catnya.

*
Tanpa penghasilan kecuali buah-buah dari halaman sendiri
maupun tetangga, penduduk di pinggiran Semarang itu setiap
hari mencegat bus atau kendaraan omprengan yang lewat dari
70

Boja menuju tengah kota atau Tanjungmas. Lelaki menjadi buruh
pelabuhan, bangunan dan pabrik-pabrik yang tersebar di kawasan
Tugu dan Tambakaji. Para wanita tersuruk-suruk, punggungnya
dibebani apa saja yang waktu itu berkenan keluar dari pepohonan.
Kluwih, sukun, ace, namun yang paling sering adalah lipatan rapi
lembaran daun pisang klutuk dan buah jambu klutuk. Barangkali tidak
pernah ada yang mengajari mereka bahwa pohon pun memerlukan
perawatan. Nyatanya semua yang tumbuh di sana kelihatan me-
rana. Hampir semua tua, ranting dahannya kerempeng. Tidak ada
pula tanda-tanda peremajaan. Penghuni desa hanya menunggu ke-
luar dan masaknya buah, memetik serta mengangkutnya ke pasar
Ngalian atau Jrakah. Buah-buah nangka dan durian tampak langka,
dibungkus plastik atau kain tua, diikat pada batang-batang yang
ditumbuhi. Pelepah daun-daun pisang batu yang tertinggal tegak
menunjukkan gapaiannya ke langit. Satu daun muda melindungi
gulungan pupus di tengah-tengah.

Di dalam desa terdapat tiga sumber air, hanya satu yang
cukup besar dan berarti. Jika dibiarkan, dapat memenuhi kolam
dua puluh kali dua puluh depa luasnya. Mungkin karena kemis-
kinan, warga desa hanya membuatkan kolam atau bak penam-
pungan tanpa semen. Tidak ada dinding atau sekatan yang me-
lindungi paha-paha dan punggung wanita yang mandi di sana.
Sumber yang muncul bening segar itu kemudian berubah penuh
ganggang, warnanya hijau. Jika udara bergerak di dekatnya, nya-
muk serta aneka serangga beterbangan menghindar.

Meskipun begitu, orang-orang antre untuk mendekat untuk
mendapatkan air. Mandi dan mencuci ataupun buang air seni
dilakukan tidak jauh dari penampungan. Limbah buih dan lain-
nya mencari jalan sendiri, menemukan sendiri lekukan bebera-
pa langkah dari bak itu, lalu mendekam di sana berbentuk com-
beran. Tidak mengherankan jika kebanyakan penduduk, lebih-
lebih kaum tua dan kanak-kanak secara rutin bergantian men-
derita sakit perut.

Namun, penghuni desa yang bermukim di dekat-dekat sum-
ber itu merasa bersyukur. Bagaimanapun rupanya, air itu berasal

71

dari sumber dan terletak di dalam desa. Untuk memperoleh air
yang betul-betul bersih, harganya sangat mahal, karena harus dipi-
kul dari ngarai di bawah sana. Jauh di sebelah timur desa, turun
lima puluh meter, kembali naik lebih dari 70 meter ke desa.

Menuruti petunjuk Bu Dokter Massai, petugas Puskesmas di
Mijen, kelompok wanita anggota organisasi sosial internasional
memilih desa tersebut sebagai anak asuh atau desa binaan. Jelas
yang paling penting dari segalanya ialah menarik air bersih dari
ngarai sampai ke tanah datar di dalam desa. Biayanya amat besar:
harus dibikin beberapa tandon air, pompa berkekuatan tinggi,
mesin pembangkit tenaga listrik, pipa ratusan meter.

Maka seperti yang lazim dilakukan organisasi itu, kelompok
ibu-ibu cantik mengirim usulan rencana anggaran ke sesama
organisasi di luar negeri. Tanpa diduga, dari Australia segera
mendapat sambutan.

Sebab itulah, desa yang di waktu siang nyaris tanpa penghuni,
dan tidak pernah diinjak bangsa asing selama lima puluh tahun
itu tiba-tiba melihat Tuan Gibbson yang tampak selalu sibuk
mengusap peluhnya.

*
Untuk tidak dikatakan lancang, namun karena kepentingan
publikasi, wakil nyonya-nyonya cantik digiring ketua organisasi
kawasan Nusantara mengunjungi petinggi pemerintahan. Istilah
umum ialah untuk melapor serta meminta pengarahan. Padahal
yang sesungguhnya, wanita-wanita berkarier penuh di rumah
tangga maupun di masyarakat itu sudah tahu sendiri apa yang
harus dikerjakan.
Wartawan koran lokal terbesar diundang untuk meliput. Dia
akan menerima sampul berisi puluhan ribu rupiah.
“Jangan memalukan begitu! Itu artinya kita menjual kemis-
kinan kepada bangsa asing!” pejabat tertinggi wilayah itu ber-
suara dan bersikap berang.
Terkejut bukan kepalang nyonya-nyonya cantik mendengar
72

komentar bapak yang paling terhormat di wilayah mereka itu.
Sejenak tidak ada yang menanggapi, hanya saling berpandangan.

Tetapi Cina gendut ketua organisasi internasional bagi kawa-
san tanah air itu tidak pernah kehilangan akal. Selama tumbuh
dan menjadi dewasa, dia digembleng filsafat serta pendidikan
Bali-Jerman-Jawa. Batin dan pikirannya kaya dengan kesiapan
guna menghadapi aneka serangan dalam hidup yang fana ini.
Sadar dan tenang dia berkata,

“Kami tidak akan menerima bayaran karena menjual kemis-
kinan bangsa sendiri, Pak. Tetapi kami akan menerima bantuan
dana, sumbangan guna membangun cadangan air bersih. Prin-
sipnya sama dengan bantuan-bantuan Bank Dunia yang diberi-
kan kepada Pemerintah RI, Pak” dan hampir saja dia menam-
bahkan, “Kalau begitu, bisa dikatakan pula pemerintah kita men-
jual kemiskinan kepada bangsa asing. Malahan pihak tertentu
pastilah menyunat bantuan itu di beberapa tempat. Sedangkan
organisasi kami, Tuhan menjadi saksi, tidak pernah mengambil
satu rupiah pun bantuan yang dikirim dari segala penjuru dunia.”

Tetapi kelapangan dada manusia Cina-Jerman-Jawa itu sama
luasnya dengan ketiga tanah tempat dia tumbuh dan dibesarkan.
Kemahirannya berbicara sama pastinya seperti kemantapan jari-
jarinya di saat menggubah tembang serta memainkan piano.
Tuhan segala etnis manusia selalu memantau umatnya yang ber-
buat baik. Yang Mahakuasalah yang mengarahkan dia. Bukan
pejabat tertinggi atau siapa pun lainnya.

Mata bapak pejabat berkedip-kedip memandangi si Cina
gendut, ganti melirik ke arah wakil wanita-wanita cantik.

*
Terjadikah penolakan atau penerimaan penalaran yang logis
itu? Dia mengganti posisi duduknya, bersandar, beringsut, lalu
balik lagi maju merentangkan tangan di atas meja kayu besar
serta berkilauan. Ruangan dingin. Sangat dingin. Sinar pagi yang
menerobos kaca jendela tidak mampu mengirim kehangatan.

73

Pendek kata, para wakil organisasi sosial itu keluar dari ruang
pertemuan sedingin lemari es di gedung megah dengan hati lega.
Pekerjaan akan segera bisa dilaksanakan. Dua nyonya cantik
insinyur menjadi perancang sekaligus mandor proyek mereka
guna menolong desa tertinggal. Sebagai dasar bangunan, pen-
duduk desa yang dipilih harus berpartisipasi kerja bakti me-
ngumpulkan batu-batu di Sungai Gondorio, yang mengalir turun
dari Gunungpati dan melintasi pinggir desa. Pasir diambil dari
tepian sungai tersebut, terletak di batas dukuh paling timur.

Maka selama beberapa waktu, lima belas buruh yang biasa
harus ke kota untuk mencari nafkah, bisa tinggal di dekat rumah
mereka. Semua tugas dilakukan dengan rapi dan riang hati, lebih-
lebih karena mandornya cantik-cantik. Yang terberat sekalipun!
Ialah ketika harus menurunkan pompa dan mesin disel pem-
bangkit listrik jauh ke dalam ngarai.

Semua baik dan menuruti rencana. Namun, ketika sampai
pada pembikinan kamar-kamar mandi beserta kakus, nyonya-
nyonya cantik mendapat ganjalan: di mana? Dana empat puluh
juta rupiah pas saja, tidak cukup buat membeli tanah lagi untuk
MCK. Untunglah ada Pak Bayan dan istrinya.

“Bagaimana kalau dadah di sebelah barat itu kita berikan
supaya dibikin MCK, Makne?”

“Semua, Paknel”
“Tidak tahu. Kita persilakan ibu-ibu itu mengukur, meng-
ambil yang diperlukan.”
“Terserah, Pakne!’
“Kita semakin tua. Anak-anak sudah mapan semua. Tidak
ada yang mau tinggal di desa. Dadah di Silayur masih ada tiga
ribu depa. Di Sulanji, rumah yang kita kontrakkan ada empat.”
“Benar, Pakne. Apalagi sampeyan dan saya amat repot meng-
urusi dadah di depan. Yang di belakang tidak kepegang lagi.
Jadi jembrung, singup!’
“Jadi kamu setuju, Makne?”
“Silakan, Pakne, silakan!”
Sealur dengan perkembangan pembangunan tandon air dan
74

delapan MCK di tanah yang dihibahkan Ibu dan Pak Bayan,
merayaplah busik-busik di antara penghuni desa.

“Orang bule itu Kristen. Ibu-ibu cantik itu pasti juga ber-
agama Kristen.”

“Jangan-jangan mereka akan menjajah kita dengan agamanya.”
“Kita diberi tempat berak, tetapi harus masuk Kristen!”
“Ah, tidak usah saja!”
Maka Pak Lurah didampingi Pak Bayan memerlukan mene-
mui salah seorang anggota kelompok ibu-ibu cantik yang tinggal
di perumahan dekat Ngalian. Mereka menyampaikan unek-unek
warga desa binaan.
“Ibu-ibu itu banyak yang Jawa asli, Pak. Memang ada yang
beragama Katolik atau Protestan. Tetapi tidak sedikit yang sem-
bahyang lima waktu sehari, berpuasa di bulan Ramadan. Malah
sudah ada tiga yang hajjah. Seorang dari insinyurnya beragama
Buddha. Dua ibu berasal dari Bali, keduanya pengikut agama
Hindu Bali. Kami Pancasila, Pak!”
Mendengar Pancasila disebut, bersinarlah wajah Pak Lurah.
Bukankah para Bapak di Jakarta sering kali menggunakan kata
itu pula dalam pidato-pidatonya? Pak Lurah akan bisa menyi-
tirnya juga kepada warga desanya!
Kini semua itu sudah berlalu. Pembukaan berlangsung kaku,
tetapi kemudian disantaikan oleh Cina gendut yang berlomba
dengan Pak Bayan, siapa paling keras melontarkan air seni ke
dalam kakus. Kelakar dan tawa akhirnya dapat mengeluarkan
air mata geli mengaliri pipi ibu-ibu cantik. Istri Walikota bahkan
berkenan turut menyumbangkan kehadiran dan keramaian jerit-
kegeliannya.
Satu bulan kemudian, beberapa wakil nyonya-nyonya cantik,
termasuk seorang insinyurnya menengok proyek mereka. Se-
belum berkunjung ke rumah Pak Bayan, ibu-ibu cantik lang-
sung menuju ke MCK. Kedelapan pintu kamar mandi dan kakus
digembok. Di bangunan tanpa atap yang berisi tandon air dan
tempat mencuci, mereka bertemu ibu-ibu warga desa.
“Ya, digembok semua oleh Pak Bayan, Bu. Dia dan warga

75

terdekat pada terganggu karena pengguna MCK tidak mau
membersihkan setelah berak atau kencing. Baunya busuk dan
sengak! Karena orang-orang diberitahu tidak menurut, tidak ada
yang patuh, ya lalu dikunci saja oleh Pak Bayan! Katanya: biar
kamar dan kakus-kakus itu menjadi monumen saja daripada bau-
nya mengganggu keluarganya yang tinggal paling dekat. Kasihan
dia! Padahal mereka sudah baik hati memberikan tanahnya ...”

“Lalu warga desa ke mana kalau buang air besar?”
“Ya ke mana-mana saja seperti dulu. Bisa ke kebun, ke ngarai
kalau dekat, bisa ke pinggir sungai!”
“‘Kan alir air sungai kecil sekali kalau tidak hujan?”
“Betul. Tapi kalau kelak hujan, ‘kan kotorannya terbawa ha-
nyut sendiri!”
Sementara itu, lalat beterbangan dan hinggap di mana-mana,
sebelum lari tertarik oleh suguhan makanan apa saja!
Masing-masing nyonya cantik itu menoleh, saling berpan-
dangan. Di hati mereka menyebut, “Ya, Tuhan! Bagaimana cara-
nya mendidik orang-orang ini?”

Arti/Penjelasan Kata-Kata dalam Bahasa Daerah
Cina lemu : Cina gemuk sekali
Pisang klutuk : pisang batu
Jambu klutuk : jambu batu
Dadah : kebun/halaman
Sampeyan : anda
Jembrug : kotor, lembap

Singup : agak gelap, mengerikan

76

Yustina

“Mengapa Anda ingin bekerja?”
Yustina mengira telah menjawab pertanyaan-pertanyaan ter-
dahulu dengan baik. Kedua pejabat Kedutaan RI di hadapannya
tampak jelas berpengalaman. Usianya pasti jauh di atas umur
Yustina sendiri. Seorang wanita, lainnya pria, keduanya tenang
dan tidak memburu atau mendesak. Tetapi kalimat paling akhir
itu agak mengejutkan Yustina.
“Saya ingin mandiri dalam hal keuangan,” sahutnya.
Lalu terpikir mungkin orang tidak akan mempercayainya
bila ketahuan siapa ayah-ibunya. Cepat dia menambahkan,
“Lagi pula anak saya sudah besar. Waktu pendaftaran sekolah
nanti dia cukup umur untuk masuk TK.”
“TK hanya setengah hari,” kata pejabat wanita itu.
Mungkin dia juga seorang ibu,
“Bagaimana Anda akan mengatur waktu?”
“Di surat lamaran saya sebutkan bahwa untuk sementara,
saya memohon pekerjaan paruh waktu. Misalnya, dari pagi
sampai pukul satu siang. Kebetulan tetangga saya juga mempu-
nyai anak yang akan masuk TK. Dia sanggup menjaga anak
saya sampai saya pulang.”
“O, bagus kalau begitu.”
Kemudian Yustina dipersilakan menunggu di luar. Tidak
mencapai sepuluh menit, dia dipanggil kembali. Dia sudah men-

77

duga akan dites menggunakan komputer. Di Indonesia dia sudah
pernah kursus menggauli alat elektronik canggih tersebut. Na-
mun, hard ware atau soft dan berbagai kuncinya berlainan dari di
Prancis. Untunglah kadangkala dia berkesempatan “bermain-
main” dengan komputer suaminya untuk mengirim e-mail atau
membantu menuliskan terjemahan surat dalam bahasa Inggris
buat kantor suaminya. Dia tetap sarjana di bidang bahasa asing
itu walaupun keseluruhannya didukung skripsi yang ditulis oleh
orang lain.

Beberapa saat berlalu, lembaran contoh kemampuannya dipe-
riksa. Selesai. Dia dipersilakan pulang, Kedutaan akan memberi
kabar mengenai keputusan mereka.

*
Ayah Yustina sudah pensiun sejak lama, dengan tabungan
berjubel di bank-bank Tokyo, Jerman, Swiss, dan beberapa lain-
nya di Asia Tenggara. Sehubungan dengan penyakit kolesterol
dan darah tinggi, dokter menyarankan agar lelaki itu tidak beper-
gian terlalu jauh sehingga kelelahan.
“Jangan capek-capek. Kalau tidak periksa di Jakarta, ya ke Singa-
pura atau Australia. Itu paling aman. Dekat. Banyaklah jalan kaki.
Ciputat bagus. Periksalah kebun-kebun buah Anda sesering mungkin
sekalian berolahraga. Perusahaan bonsai Anda yang di Tugu juga
pas buat kesibukan,” begitu nasihat dokter keluarga.
Bapak itu adalah orang yang di dunia Barat bisa disebut gold
finger. Apa pun yang dia sentuh bisa menghasilkan uang. Seluruh
umur kariernya sebagai pejabat di luar negeri, tidak satu kali
pun dia menyeleweng dari garis kejujuran. Ketika kembali pal-
ing akhir ke Tanah Air sebagai pejabat RI, seseorang menawarkan
tanah. Karena kasihan, dia membelinya. Disusul saudara pem-
bantunya yang terdesak memerlukan uang, menjual tanah. Ba-
pak Yustina juga membelinya. Begitu seterusnya, sampai-sampai
saudaranya atau ayahnya pembantu tetangga sekalipun menda-
tangi rumah Yustina karena mendengar bahwa si Bapak bisa
78

“menolong” membeli tanah, kebun, sawah mereka yang berada
di tempat-tempat pinggiran Jakarta, Bogor serta berbagai kota
kecil dengan pendahuluan nama Ci-.

Tidak pernah diperhitungkan kepentingan lokasi. Ayah Yus-
tina membeli dan terus saja membeli jika ditawari dan dia me-
nyukainya. Tanpa menunggu lima tahun, menyusul sepuluh ta-
hun, harga tanah yang telah pindah ke tangannya itu berlipat
ganda hingga ratusan, bahkan ribuan persen. Kota mendesak
daerah pinggiran, terus masuk ke pedalaman sehingga tidak ada
lagi yang menjadi tepiannya.

Si Bapak menyisakan cukup banyak untuk dirinya dan empat
anaknya.

Hanya Yustina yang perempuan. Hanya Yustina yang berta-
hun-tahun bertengger di sebuah universitas tanpa ketahuan ka-
pan akan selesai. Sampai pada suatu saat ibunya memutuskan
akan menuliskan skripsi anak itu. Tetapi dia sudah terlalu lama
meninggalkan kuliahnya sendiri. Dia tidak pernah menginjak
tahun ketiga karena memang kuliah dia anggap sebagai batu
loncatan untuk mencari suami. Barulah si ibu itu menyadari
bahwa berbicara dan membaca bahasa Inggris dengan lancar
bukan berarti gampang menulis skripsi. Padahal bukunya bacaan
menumpuk di kamar-kamar empat atau lima rumahnya di Men-
teng, Kebayoran atau Parung. Setiap pergi berbelanja ke Singa-
pura atau Bangkok, tidak pernah dia pulang tanpa membawa
tambahan buku bacaan berbahasa Inggris.

“Yustina tentu lulus. Tulis skripsi orek-orekan saja! Itu hanya
sebagai syarat. Asal ada kertas kerjanya, bagaimanapun bentuk-
nya, pasti lulus!” begitulah kata kawan-kawan dosen yang dekat
dengan keluarga miliarder itu.

Keputusan lain pun menyusul: harus ditemukan orang lain yang
mau menuliskan skripsi. Tidak mudah, tetapi ada. Di Indonesia
masih banyak orang pandai, namun kekurangan biaya hidup. Dan
akhirnya Yustina mendapatkan gelar Dra-nya. Bukan hanya hadiah
berupa barang yang dia terima. Dia juga dibawa berjalan-jalan ke
setengah lingkaran bumi oleh ibunya. Nomor satu adalah Jepang

79

karena Yustina lahir di sana, lalu di usianya yang keenam keluarganya
pulang ke Tanah Air. Perjalanan diteruskan ke Eropa. Di setiap tempat
yang dituju, Kedutaan menyediakan tenaga khusus sebagai pengantar
dan mengurusi segalanya.

Mereka ke negeri Prancis, tentu ke Lourdes untuk berziarah.
Sebagai umat Katolik, si ibu khusyuk berterima-kasih kepada
Tuhan dan nabinya karena keempat anaknya telah menyelesai-
kan perguruan tinggi. Kini yang dia inginkan ialah satu-satunya
anaknya perempuan segera mendapatkan jodoh. Dia bersembah-
yang sambil membayangkan betapa akan hebat dan ramainya
perhelatan luar biasa yang bakal diselenggarakannya di ibu kota
RI untuk mengawinkan si bungsu tersebut.

Sebelum ke Roma, mereka beberapa hari bersantai di bebe-
rapa kota wisata Prancis. Yustina jatuh cinta kepada Paris. Hanya
dengan susah payahlah ibunya bisa membujuknya untuk mene-
ruskan perjalanan mereka.

Sepulang dari keliling setengah dunia itu, Yustina langsung
mendaftarkan diri kursus bahasa Prancis. Orang rumah dan
lingkungannya belum pernah melihatnya serajin itu. Gadis yang
dulu selalu berbaringan di kamar sambil menonton televisi acara
film apa pun, kini giat belajar. Memang televisi masih dibiarkan
menyala, tetapi siaran yang terdengar adalah CNN atau berba-
hasa Prancis.

Tidak hanya itu perubahan di rumah tersebut. Yang mene-
lepon juga bertambah. Di antaranya bahkan pernah tersesat
menyelonong ke rumah bagaikan kastil di Ciputat yang berka-
mar dua puluh. Di waktu itu, ayah Yustina sedang “dinas” meng-
awasi panen rambutan. Turun dari mobil, barulah dia tahu bahwa
topinya ketinggalan di rumah Menteng. Dia memasuki “kastil”-
nya untuk mencari topi lain. Dia terima telepon di dekatnya.

“Yustina tidak ada di sini. Ini bapaknya,” kata si ayah dengan
kesal karena merasa terganggu, maka langsung mengutarakan
siapa dirinya.

“Maaf, Pak. Perkenalkan, saya Erik. Apakah Tina tidak kursus
bahasa Prancis hari ini?”
80

Tina? Tadi menanyakan Yustina, sekarang berganti menjadi
Tina.

“Masuk! Dia kursus setiap hari,” kata si bapak lagi.
Kini ada nada kebanggaan karena anaknya rajin.
“Kami menunggunya. Pelajaran akan dimulai, tapi dia belum
datang,” suara di ujung lain menjelaskan, lalu segera disusul
ucapan terima kasih dan kata-kata sopan lain sebagai permintaan
maaf.
Tina? Keluarga memanggil satu-satunya anak perempuan
itu Yustina, Yus atau Yustin. Tiba-tiba sekarang ada nama baru.
Begitu sampai kembali di rumah Menteng, si ayah masih mem-
persoalkan siapa yang namanya Erik itu. Istrinya tidak bisa mem-
beri informasi. Dia terlalu sering keluar arisan berlian atau mobil,
kerapkali mencoba restoran atau kafe yang baru buka bersama
kawan-kawan berharta lain sehingga jarang mengurus telepon-
menelepon. Pembantu justru lebih bisa memberi penerangan.
Pak Erik sudah sering menelepon. Pagi, siang, sore.
“Mengapa pakai Pak?” tanya ayah Neng Yustin.
“Karena dia menyebut dirinya begitu.”
“Bagaimana?”
“Yaaa, waktu telepon, saya tanya dari siapa. Dia menjawab
dari Pak Erik. Begitu.”
“Kalau mendengar suaranya, orangnya pasti ganteng,” kata
pembantu lain yang tidak ditanyai tapi mengikuti percakapan
di pintu.
Kelihatan bangga bisa memberikan pendapat.
Seperti biasa, Yustina pulang larut malam. Seperti biasa, lang-
sung masuk ke kamarnya tanpa bertemu dengan orang tuanya.
Di rumah orang-orang berharta, masing-masing anggota keluarga
mempunyai kendaraan, di kamar tersedia semua fasilitas perseo-
rangan untuk membangun individu-alisme. Baru keesokannya
si bapak berkesempatan berbicara dengan satu-satunya anak
perempuan tersayang.
“Ooo, Erik!” Yustina berseru kecil menjawab pertanyaan
ayahnya, “Dia pengajar di tempat kursus. Sebetulnya bukan

81

dosen atau guru, melainkan coopérant, tenaga sukarela yang mau
ditempatkan di luar Prancis. Calon insinyur, tapi bisa mengajar
Prancis.”

Dan itu merupakan awal dari masuknya nama Erik ke dalam
cerita-cerita Yustina yang dibawa ke tengah keluarganya. Dari
hari ke hari, makin banyak cerita itu. Sampai pada suatu hari,
Yustina membawa pemuda itu pulang. Karena Bapak senang
berbincang-bincang dengan dia dan si ibu memahami pancaran
mata anak perempuannya, Erik ditahan untuk makan malam.
Cepat-cepat ibu itu masuk ke dapur. Membuka kaleng ini-itu,
menggoreng bumbu dan bahannya. Dalam sekejap, di meja
sudah ada tambahan tiga lauk.

Pada suatu hari, Volvo manis yang biasa dikendarai Yustina
tidak kelihatan di garasi. Ayahnya bertanya di mana kendaraan
itu. Santai dan yakin, anak satu-satunya perempuan itu menja-
wab Erik yang membawanya. Dan itu tidak dipersoalkan. Neng
Yustin bisa diantar sopir dengan mobil lain kalau perlu. Dan
bukankah setiap sore Pak Erik menjemput untuk pergi bersama
ke kursus? Bila tanggalan memuat warna merah, sudah pasti
Yustin menginap di salah satu rumah di luar kota. Dan Erik
tentu bersamanya. Yang diributkan orang tua Yustina hanyalah
bagaimana mereka makan. Harus bawa ini ataukah itu? Beli
saja! Atau, ambil uang di laci secukupnya, ajak Erik ke rumah
makan yang itu. Tentu dia belum pernah ke sana. Dan seterusnya
dan sebagainya.

Tiba-tiba ayah dan ibu itu ikut-ikutan memanggil anak pe-
rempuan mereka Tina. Itu nama yang bagus. Bukankah dalam
keluarga miliarder Onasis si raja kapal Yunani juga ada yang ber-
nama demikian? Berdua mulai membayangkan mempunyai
menantu lelaki Barat. Sama-sama Katolik, tidak apa-apa. Orang
Yogya Katolik terkenal berwawasan luas sesama umat. Melampaui
batas negeri maupun bangsa. Diam-diam mereka malahan bangga.
Sudah beberapa lingkungan orang kaya sahabat mereka yang
mempunyai menantu bangsa asing. Dengan perkawinan Tina dan
Erik, keluarga itu tidak ketinggalan zaman!
82

Belum setahun Erik dan Tina berkenalan, masa kontrak
pemuda itu habis.

Dia akan memperbaruinya, tapi harus pulang dulu ke ne-
gerinya. Maka disepakati, sekembalinya ke Jakarta, Erik akan
menempati rumah keluarga di Menteng atau Kebayoran yang
belum dikontrak orang. Kendaraan juga akan disediakan. Erik
akan banyak menulis, karena dia akan menyelesaikan studinya.

Benarlah perkawinan Yustina menjadi berita besar di ibu
kota RI. Semua anggota keluarga datang dari Prancis. Ayah Yus-
tina menyewa satu lantai sebuah hotel bergengsi. Kontrak perka-
winan adalah gono-gini. Semuanya adalah milik bersama walau-
pun apartemen lima ruang di Paris ayah Yustinalah yang mem-
bayari. Meskipun perjalanan pengantin diiringkan keluarga ke
Bali dan Lombok atas tanggungan ayah Yustina.

*
Yustina menikmati menata rumahnya.
Sesungguhnya Erik juga mempunyai sebuah studio, atau
apartemen beruang satu. Itu dia beli dengan uang warisan
neneknya ditambah tabungan perumahan yang sejak kecil disim-
pankan ayahnya. Tetapi Yustina membutuhkan ruang tamu yang
besar, kamar tidur besar, gudang yang besar pula.
Keenakan berumah tangga sendiri hanya beberapa waktu dia
rasakan. Karena di Paris, semua harus dikerjakan sendiri. Untung-
lah punya uang. Ketika dia mulai merasa mual-mual mengidam,
segera didatangkan wanita Spanyol sebagai pembersih rumah. Pada
awalnya, Yustina bangun pagi menemani suami minum kopi. Tapi
itu hanya sebentar berlangsung. Dia biarkan Erik bangun dan
membuat kopinya sendiri. Suami itu menciumnya sekilas sebelum
turun menuju tempat kerjanya. Sambil lalu, dia juga membawa
sampah ke ruang bawah tanah.
Di dalam barang pindahan, Yustina tidak membawa bumbu-
bumbu masakan Jawa. Dia tidak pernah berpikir akan membu-
tuhkan gula merah untuk membuat sambal rujak ataupun terasi

83

serta petis untuk dicampurkan pada tahu goreng. Ibunya tidak
pernah memberinya pengarahan, kecuali harus memilih kain
batik Iwan Tirta buat korden, memesan sutra batikan untuk
dijadikan hadiah-hadiah. Apalagi memasak; menyambal, me-
numbuk cabe dan terasi saja Yustina tidak pernah.

Maka jalan satu-satunya yang ditempuh adalah menelepon
meminta kiriman.

Sementara menunggu, bukankah di Kedutaan ada seorang
karyawati yang dulu membantu mereka? Ibu Puji menawarkan
jasanya jika Yustina memerlukan sesuatu. Dan segera itu dilaku-
kan. Ah, hanya berkabar, katanya. Setelah berbasa-basi ini dan
itu, sampailah pada keluhan ingin makan segala masakan yang
mentradisi: rujak, tahu petis, klepon, bubur candil dan seterus-
nya lagi. Seperti yang diharapkan Yustina, Ibu Puji yang baik
menyilakan datang ke Kedutaan. Kebetulan dia mempunyai
cobek yang tidak dipakai. Kebetulan banyak gula merah, kebe-
tulan ini itu dan semuanya serba kebetulan.

Belum pernah Tina, Neng Yustin merasa kaya hanya karena
mempunyai cobek dan muntu sebagai pasangannya. Sepulang
dari Kedutaan, dia suruh taksinya singgah ke toko makanan
Vietnam di Mauberg Mutualité. Bu Puji bahkan memberinya
sebuah buku masakan lama yang katanya difotokopi berkali-
kali karena keaslian resepnya. Sopir taksi menerima pourboir
besar. Maka dengan serta-merta menawarkan jasa mengantarkan
belanjaan sampai ke tingkat enam hingga di depan pintu rumah.

“Akan berpesta, Madame? Wah, pasti enak masakan Asia,
ya!” katanya berkelakar, lalu mengucapkan “Bonne Fête” dan tu-
run.

Yustina pernah memberi tahu Erik bahwa dia tidak bisa me-
masak.

“Tidak perlu memikirkan masakan. Bikin stek dan kentang
goreng saja. Kalau ingin makan lainnya, kita ke restoran,” demi-
kian tanggapan suaminya.

Kebalikannya, ibu mertua berkata,
“Belajarlah memasak! Lelaki harus dipegang lewat perutnya.
84

Kalau dia tidak puas makan di rumah, pasti cari lainnya di luar.
Erik gemar Le mouton Grillé Aux Petits Oignons. Resepnya ada di
buku ini,” lalu ibu mertua itu memberikan sebuah buku ma-
sakan.

Sungguh membingungkan. Mana yang harus diikuti. Tapi
sekarang Yustina akan menjadi tukang masak karena mual-mual
di perut hanya dapat hilang jika dia makan masakan Jawa. Kalau
tidak, dengan mata terpejam pun, bayangan makanan yang dia
inginkan menari-nari di pelapukannya.

Di hari pertama Neng Tina memasak, sudah terjadi peru-
bahan.

“Di mana kamu, Chéri?” seru suaminya sambil menutup pin-
tu kembali.

Yustina belum sempat keluar menyongsong, dia hanya men-
jawab dari dapur,

“Sebentar, Chéri. Aku cuci tangan dulu.”
Keduanya saling memanggil dengan kata Sayang, sehingga
nama mereka tidak pernah lagi diucapkan. Di mana pun berada,
Sayang sudah menyatu menjadi ganti Tina dan Erik.
Yustina mendekati suaminya, menguncupkan diri untuk di-
rengkuh ke dalam pelukan.
“Uhhh, baumu bumbu-bumbu!” seru Erik sambil menolak-
kan kepala istrinya, memandang dari jarak tiga puluh centi dan
meneruskan,
“Aku seharian tidak melihatmu! Kalau bertemu, inginku men-
ciummu seluruh tubuh. Tapi jangan berbau seperti ini!”
Hari kedua, Yustina tanggap. Sebelum pukul lima, dia sudah
mandi dan bersolek ringan. Lebih-lebih yang paling penting,
Erik tidak suka mencium bibir istrinya bila dipolesi gincu. Dia
juga tidak boleh mengenakan celana panjang, karena gaun lebih
terbuka untuk belaian dan jangkauan.
Masa mengandung tidak mengurangi waktu percumbuan.
Hanya caranya saja yang berbeda. Erik tahu menata dan meng-
arahkan istrinya hingga mencapai ujung perjalanan yang mele-
lahkan namun memberi kepuasan.

85

*
Tapi benarkah Yustina puas hingga ke kedalaman lubuk hatinya?
Di tahun ketiga perkawinan, walaupun dibantu oleh seorang
pengasuh anak khusus berijazah negara, Yustina benar-benar
bosan tinggal di rumah. Dasarnya dia memang tidak pernah
suka anak-anak. Tetapi anaknya lucu, perempuan. Pas untuk
dijadikan boneka. Kunjungan saudara dan teman dari Indone-
sia tidak berkeputusan menyebabkan Yustina semakin jarang
tinggal di rumah seharian. Maka sekali-sekali menggendong dan
mencium anaknya membikin dia lupa pahit getirnya orang beru-
mah tangga. Karena dia sudah merasakan ketidakenakannya
hidup bersama Erik.
Baru tahun lalu suami itu mencapai usia yang berkepala tiga.
Tetapi kini perutnya buncit. Dahi yang dulu terlindung oleh
rambut pirang, sekarang kelihatan menonjol telanjang sehingga
tampak terlalu lebar. Itu semua membikin rusak garis-garis har-
monis yang dulu menyebabkan Yustina tertarik kepadanya.
Perut gendut menandakan kemapanan.
“Biar saja!” kata mertua perempuan Yustina. “Itu tandanya
kamu memberinya makanan enak-enak, dapurmu terus berasap.
Laki-laki boleh gemuk. Tapi kita perempuan harus menjaga daya
tarik kita supaya suami tidak melirik ke arah lain.”
Yustina tidak mendapatkan kegairahan bercinta lagi dari su-
aminya.
Meskipun kepadatan nafsunya sama, tetapi kemapanan juga
memasuki gairah percumbuannya. Tidak ada lagi belaian mema-
naskan yang begitu disukai Yustina. Tahap awal sekarang dihi-
langkan, langsung saja Yustina dipaksa suaminya ke tengah per-
jalanan. Dulu mereka berdua berjalan ibaratkan bergandengan,
perlahan, selalu seirama. Selangkah demi selangkah hingga sam-
pai pada taraf kecepatan yang dipadu untuk berdua. Inilah yang
disukai Yustina. Tapi kini, itu sudah menguap entah ke mana.
Tidak dibisikkan lagi kata-kata lembut, panggilan-panggilan ke-
sayangan yang menyertai pemanasan ataupun perjalanan.
86

Bercinta dengan suaminya sekarang hanyalah merupakan
sport berlari untuk mencapai tujuan. Itu saja. Benar Yustina
memang mencapai tujuan tersebut, sama seperti Erik. Namun,
dia tidak menikmatinya. Itu hanya merupakan pelampiasan
kebutuhan biologis saja.

Tidak hanya itu yang membuat Yustina kecewa berumah
tangga.

Dilihat selintas, keluarga besan sayang kepadanya. Tetapi
yang sesungguhnya, Yustina merasakan iri hati di bidang segala-
nya. Kakak Erik tidak kawin, hidup serumah dengan seorang
aktivis politik golongan oposisi. Seolah-olah peduli lingkungan,
selalu ikut serta di mana pun terjadi kegiatan ekstrem yang me-
nyerempet mendekati soal ekologi. Tetapi bila dicari namanya,
tak satu pun organisasi lingkungan hidup yang mencatatnya
sebagai anggota. Dia hanya ikut-ikutan. Yang pasti, dia memang
mempunyai kartu tanda anggota Partai Sosialis negeri itu. Peker-
jaan yang menopang hidupnya adalah Tata Kota di sebuah pro-
vinsi terdekat dengan Paris. Maka tidak jarang dia tiba-tiba mun-
cul, sendirian atau didampingi kakak perempuan Erik. Mereka
sengaja datang untuk turut bersama makan siang di hari libur,
atau makan malam di hari biasa. Tetapi bukan itu yang meng-
ganjal bagi Yustina.

Kalimat-kalimat yang diucapkan orang tua dan saudara-sau-
dara Erik selalu siap menunjam dada anak perempuan satu-
satunya si bapak bertangan emas itu. Yustina dan kakak-kakak-
nya memang terpelajar karena mempunyai gelar sarjana. Tetapi
pengetahuan mereka terbatas. Mereka tidak tertarik kepada hal-
hal di luar bidang masing-masing. Apalagi Yustina. Bahasa Pran-
cisnya maju karena dia menggunakannya untuk berbicara sehari-
hari. Tetapi jika harus menulis atau membaca, matilah dia. Dia
juga berbicara bahasa Inggris. Tetapi ilmunya memudar terdesak
oleh tahun-tahun yang hilang. Maka dalam perbincangan
bersama saudara, orang tua atau lingkungan besan itu, Yustina
hanya diam. Nyata lingkungan barunya tidak mempedu-
likannya. Mereka tidak menganggapnya sejajar karena setiap

87

kali diminta pendapat, jawabannya kekanak-kanakan atau
meleset jauh dari pokok persoalan. Bahkan dua atau tiga kali
terluncur kata-kata kakak Erik yang jelas ditujukan kepadanya.

“Orang-orang kaya di dunia inilah yang memelihara kemis-
kinan. Karena kalau mereka memang rela menghapus kemela-
ratan, sebenarnya bisa. Kaulihat misalnya ayah Tina, dia menjadi
tuan tanah ukuran raksasa. Apakah dia menjamin sekolah buruh-
buruhnya supaya lebih pandai? Tidak bukan? Karena bila buruh
diberi tambahan pengetahuan, mereka akan meninggalkan ke-
bun, bekerja pada orang lain!”

Lalu di kesempatan yang berbeda, sedang asyiknya mereka
minum kopi sesudah makan, ayah Erik melirik ke arah menan-
tunya wanita Indonesia itu.

“Aaaah, kopi dari Jawa! Inilah nikmatnya mempunyai me-
nantu orang berasal dari Jawa. Anak orang kaya pula! Jadi, sim-
panan kopi tidak bakal habis karena selalu menerima kiriman.”

“Ya, benar,” adik Erik yang juga bekerja sebagai insinyur me-
nopangi, “tahukah Ayah, Tina sering menerima kiriman langsung
dari Jakarta dibawa pesawat sehari semalam tiba di sini? Begitu
itu kalau menjadi anaknya orang kaya! Seperti Duta Besar saja!”

Nada-nada suara mereka bukannya bercanda, melainkan
diselubungi iri hati. Walaupun semula Yustina menanggapinya
serius, kemudian ganti dengan sikap ringan seolah-olah tidak
memperhatikan, lama-kelamaan dia merasa kesal juga. Hingga
pada suatu ketika, keluarlah kalimat lain,

“Kita ini ‘kan kaum pekerja yang harus berkeringat untuk
menutupi kebutuhan kita. Bukan begitu Ayah?” dan adik Erik
melayangkan pandang ke arah suami Yustina sekaligus mencari
di mana si nyonya rumah duduk, kemudian meneruskan, “Tidak
seperti Erik. Sesungguhnya dia tidak perlu ke kantor setiap hari.
Hidupnya sudah dijamin sang mertua!”

Ibunya Erik menyahut,
“Kalau Erik tidak bekerja, bayangkan, badannya akan meng-
gelembung seperti disengat lebah karena semakin tidak bergerak,
hanya makan melulu kegiatannya.”
88

“Ya, Ibu benar,” ipar itu setuju.
Dia sudah melihat di mana Yustina duduk, maka katanya
kepada istri Erik itu, “dan kamu, Tina, kapan kamu akan mulai
bosan sehari-hari berbelanja, bersolek dan bersenam saja? Kapan
kamu akan mulai bekerja seperti orang-orang lainnya?”
Kali itu Tina, Neng Yustin atau Yus tidak bisa lagi menahan
dirinya. Santai dia menjawab,
“Kalau aku bekerja, namanya bukan lagi anaknya orang kaya.
Anda mestinya juga tahu, bahwa orang tuakulah yang membayari
belanja kebutuhan pokok kami yang selalu Anda makan baik
siang atau malam di sini. Padahal Anda semua bukan orang-
orang miskin peliharaan ayahku!”
Malam itu Yustina tidak keluar lagi mengucapkan selamat
jalan kepada keluarga Erik. Langsung terjadi pertengkaran hebat
pertama di antara suami istri. Di lain waktu telah pernah ada
perselisihan. Namun, masih bisa dianggap kecil. Sepele. Lumrah,
karena “hanya” mengenai anak sakit, anak menangis, anak tidak
mau makan. Hingga saat itu, pertengkaran agak gawat adalah
tentang cara Erik bercinta. Yustina nyaris “mogok” tidak mau
disentuh lagi oleh suaminya. Alasannya ialah Erik tidak romantis
lagi. Yustina menginginkan kelembutan seperti dulu. Erik men-
jawab bahwa dia capek karena seharian bekerja di kantor. Tetapi
nyatanya, pada hari-hari libur pun kelembutan yang diharapkan
isterinya tidak pernah hadir lagi. Yustina menuduh adanya pe-
rempuan lain. Erik menuduh Yustina terlalu manja, selalu ingin
dituruti kehendaknya. Dan sebagainya dan sebagainya, dan seba-
gainya.
Dua hari kemudian, ibu Yustina datang menghibur. Mudah
sekali karena membayar tiket bukan merupakan masalah. Hanya
sayang harus meninggalkan undangan acara pembukaan hotel
besar di Bali.
Itu juga bukan kali pertama ibunya datang berusaha mene-
tralkan suasana rumah tangga. Usaha yang sebenarnya justru
menampilkan kenyataan yang berbalikan. Karena kehadiran si
ibu malahan menyodorkan pemandangan kemewahan perhiasan

89

yang bergelantungan serta menempel pada badan orang setengah
keriput itu. Aksesori logam mulia dan permata asli memang
bagus jika dikenakan oleh wanita-wanita muda ataupun dipakai
secara sederhana. Tetapi kalau keterlaluan banyaknya, kalau
bertumpuk dan bersusunan, kelihatan si pemakai seperti toko
berjalan.

Diam-diam Yustina menyimpan rahasia penyesalannya
kawin dengan lelaki bangsa lain. Seandainya suaminya orang
Jawa, pastilah tidak akan keluarga besan berkelakuan seperti
itu. Orang Jawa senang jika semuanya dibayari, jika menantunya
mempunyai kekayaan. Tapi apakah suami Jawa dapat mencumbu
dan membelai seperti Erik? Yustina pernah hampir berpacaran
dengan dua pemuda dulu. Seorang dari suku Batak. Satunya
lagi dari Jawa Timur. Tetapi akhirnya keduanya tidak menarik
bagi Yustina. Namun, kawin dengan bangsa sendiri sekurang-
kurangnya Ayah atau Ibu bisa langsung berhubungan dengan
keluarga besan jika terjadi ketidaksepakatan di rumah tangga.
Sedangkan sekarang, walaupun ibu Yustina datang, seolah-olah
hanya bisa bertindak sebagai batang penengah percekcokan. Hu-
bungan suami istri tampak membaik, tapi lamis saja.

“Ayo ikut pulang ke Jakarta bersamaku!” ibunya Yustina
mengajak. “Tinggalkan suamimu selama satu atau dua bulan.
Bawa anakmu bersama pengasuhnya sekalian. Biar Erik kela-
bakan.”

Yustina tidak menjawab. Bukannya Erik malahan akan terlalu
senang mempunyai seluruh apartemen buat dirinya sendiri?
Siapa tahu, keluarganya justru akan berpesta dan mondok di
sana.

“Aku sungguh tidak tahan lagi mendengarkan sindiran-sin-
diran mereka,” Yustina melampiaskan kekesalan hatinya kepada
sang ibu, “seolah-olah mereka tidak turut menikmati uang Ayah.”

“Jangan didengarkan!”
“Bagaimana bisa! Meskipun Ibu tidak pernah mengajarku
bertengkar, akhirnya kesopananku runtuh. Aku membalas ting-
kah mereka yang menjengkelkan. Apalagi si sosialis! Sementara
90

mengkritik terus, perutnya sendiri selalu kenyang dan makan
enak!”

“Sekarang mereka masih kemari? Makan di sini?”
“Sudah seminggu ini tidak. Aku sudah menyiapkan kalimat
jawaban bila ada yang telepon mengatakan akan makan di sini.”
“Apa yang akan kaukatakan?”
“Akan kuberi tahu mereka bahwa aku sekarang bekerja men-
cari nafkah. Bahwa uang dari Bapak tidak kugunakan buat mem-
beli kebutuhan bahan pokok. Oleh karenanya, jika mereka akan
kemari, sebaiknya membawa urunan makanan sendiri-sendiri.”
“Ah, kau ada-ada saja! Mana mereka percaya kamu akan
bekerja!”
“Mereka harus percaya, karena aku memang akan bekerja!”
Ibu itu mengerutkan kening mendengar suara anaknya. Dia
amati baik-baik mata satu-satunya anak perempuan yang dia
miliki itu.
“Benar, Mah! Aku akan bekerja. Hari Selasa depan aku di-
panggil ke Kedutaan sambil membawa surat lamaran.”

Arti/Penjelasan Kata-Kata dalam Bahasa Daerah/Asing
Coopérant : mahasiswa yang magang sebagai tenaga sukarela
Muntu : pasangan cobek untuk menggerus bumbu/rempah
Pourboir : upah
Madame : Nyonya
Le mouton Grillé Aux
Petits Oignons : kambing bakar dengan sejenis bawang Bombay kecil-
kecil sebesar kelereng
Chéri : tersayang, terkasih

91

Kawin Perak

Petugas di kantor itu segera mengenalinya. Wanita seperti dia
cepat diingat orang. Walaupun badannya tidak tinggi, kulitnya terang
berkat darahnya yang campuran. Ibunya sendiri tidak cantik.
Ayahnyalah yang tampan. Maka Darini, setengah Jawa setengah
Belanda, memiliki penampilan yang lebih dari lumayan.

“Bapak sudah menunggu, Bu,” kata Satpam sebegitu melihat
dia.

Percakapan dengan Hakim Pengadilan Agama lancar, karena
pejabat tersebut telah membaca “sejarah hidup” Darini yang dise-
rahkan kira-kira sepuluh hari lalu.

“Anda hebat. Bisa tahan sampai dua puluh lima tahun,” demikian
pujian Hakim kepada Darini, lalu dilanjutkan, “barangkali, istri-
istri lain, kalau mengalami kejadian yang sama, sudah lari dulu-
dulu.”

Laki-laki itu menunjukkan rasa simpatinya. Darini senang men-
dengarnya. Meskipun dia tidak yakin bahwa omongan pejabat itu
delapan puluh persen benar. Karena Darini mengira, banyak istri
yang tetap tinggal bersama suami walaupun diperlakukan secara
semena-mena.

“Saya membaca berkas Anda terus-menerus, satu kali selesai
tanpa berhenti. Ini betul-betul seperti novel saja.”

Kali itu Darini terpaksa membuang muka, khawatir Hakim akan
melihat warna semburat merah yang menandakan emosinya. Dia
92

tidak tahu apa yang bisa dikatakan sebagai jawaban tanggapan baik
tersebut.

“Dengan berkas seperti ini, tidak akan ada kesulitan. Perceraian
mudah Anda dapatkan.”

Bagus. Darini semakin senang.
“Berapa lama?”
“Normal saja.”
“Tiga bulan?”
“Barangkali kurang. Tapi, yaaaa, maksimum begitulah, tiga
bulan.”
Itu memang jangka waktu yang dia prakirakan. Sementara sam-
bil menunggu, dia menyelesaikan revisi disertasinya yang harus
secepatnya dikirim ke Universitas Antwerpen, Belgia. Untuk menjadi
doktor saja antre. Harapannya ialah ketika menerima panggilan maju
mempertahankan kertasnya itu di luar negeri nanti, urusan cerai
sudah usai. Sehingga dia bisa merasakan kegagahan menyandang
gelar tanpa suami yang munafik selalu membanggakan istri namun
bersikap kebalikan, melecehkan dan menghina dirinya. Tetapi Darini
tetap harus berpikir baik-baik tentang nama yang bakal dia pakai.
Apalah arti sebuah nama. Demikian kata seorang pujangga ter-
kenal bangsa Inggris. Bagi Darini, besar sekali arti nama itu. Dia
harus mengambil keputusan nama siapa yang akan dicantumkan,
nama keluarga bekas suami ataukah nama ayahnya.
Ya, barangkali dia akan menggunakan nama orang tuanya saja
di belakang namanya sendiri Darini. Tetapi, orang tidak akan melihat
hubungannya dengan anak-anaknya.
Ketiganya sedang menuntut ilmu. Pada suatu hari kelak, me-
reka akan berkarier. Sekarang pun, di paspor mereka digunakan
nama keluarga yang sama seperti ayah mereka. Jika orang melihat
persamaan nama di belakang Doktor Darini dengan anak-anaknya,
sekurang-kurangnya orang itu akan menanyakan apa hubungan
mereka.
Rasa bangga punya anak yang berhasil apakah hanya legal dipu-
nyai si ayah saja? Ibu anak pun berhak berbahagia dalam hal itu. Di
negeri Barat, dalam sejarah budaya atau politik, selalu nama kedua

93

orang tua yang disebut dan dilibatkan. Apa peranan ibu pelukis
Renoir atau Descartes dalam kesuksesan putra atau putri mereka.
Di Indonesia, ibu-ibu dimasabodohkan. Disebut namanya saja pun
tidak. Selalu hanya ayah yang mendapat nama baik.

Ah, sungguh sulit memutuskan. Akhirnya, Darini harus me-
nentukan juga. Baiklah. Demi anak-anak dan rasa kebanggaannya
terhadap mereka, dan hanya demi itu, Darini akan menggunakan
dua nama keluarga. Di belakang namanya sendiri dicantumkan nama
keluarga bekas suami, disambung dengan nama ayahnya.

“Kamu selalu merasa lebih pandai ya. Merasa paling pandai sen-
diri!” Karyono berteriak.

Waktu itu mereka sekeluarga berada di dalam kendaraan ber-
merek, di jalan Tol Jagorawi, akan kembali ke Bogor. Sejak beberapa
waktu, Karyono berusaha mendahului mobil yang ada di depannya.
Yang lain-lain sudah tertinggal jauh. Karena sesuai dengan sifatnya,
Karyono selalu menjalankan kendaraan ekstra cepat dan tidak mau
bila orang lain meluncur di hadapannya. Dia harus yang paling
depan.

Dengan suaranya yang amat biasa, perlahan dan halus, Darini
mencoba mengingatkan bahwa jalan licin, baru hujan deras. Jarak
Jakarta-Bogor tidak terlalu jauh. Tidak perlu tergesa-gesa. Sebetulnya,
Darini dan anak-anak ingin cepat pulang sebegitu acara makan siang
di rumah kakak Karyono selesai. Namun, si suami dan ayah itu
mungkin merasa malu bila menyetujui permintaan istri serta anak-
anaknya. Dia bersikeras menonton pameran mobil-mobil baru.

Karena Karyono selalu mengganti kendaraan pribadinya dengan
merek yang paling bergengsi.

“Bukan begitu, Mas Kar. Aku hanya....”
Belum sempat Darini menyelesaikan kalimatnya, satu tamparan,
disusul satu lagi datang dari samping. Anak terkecil menjerit. Yang
sulung berseru,
“Ada apa sih, Papa? Mengapa tiba-tiba Mama dipukul?”
“Diam! Apa kamu juga mau ya. Ini, rasakan...!”
Tangan kanan tetap memegang setir, yang kiri terulur ke belakang,
menjangkau, meraih, hendak menyentuh dengan genggaman kepala
94

anak sulung. Anak-anak yang waktu itu masih duduk di bangku SD
menjadi ribut. Semua bertindihan memojok untuk menjauhi tangan
bapak jahanam itu. Sebentar kendaraan oleng. Meleot ke kanan,
berombak ke kiri. Anak yang paling kecil menjerit lagi. Lalu mobil
berhenti.

“Kamu keluar! Sana! Keluar!” Karyono menghardik sambil men-
dorong-dorong Darini keluar dari kendaraan.

“Papaaaaaa.... Kenapa Papa jahat kepada Mama....”
Darini terhuyung keluar. Mobil berjalan lagi.
Jalan basah. Hujan masih turun, titikan kecil-kecil kerap dan
tajam. Di dalam mobil, Darini sudah menanggalkan jaketnya. Seka-
rang dia mendekapkan kedua tangan ke dada, berdiri di tepi. Dia
belum sadar apa yang terjadi. Kepalanya pusing terkena hantaman
suami laknat.
Peristiwa itu hanya salah satu pengalaman padat yang meng-
gambarkan bagaimana lelaki bergelar doktor insinyur itu memper-
lakukan dirinya sebagai istri. Laki-laki yang dalam pergaulan ter-
lihat selalu ramah, tersenyum, merunduk-runduk terlalu sopan itu
menjadikan istri dan anaknya objek pelampiasan “kejantanannya”.
Setelah memukul, beberapa saat berselang, sementara si korban masih
menangis, karena sakit dan terhina, suami dan ayah itu datang
memeluk-meluk membelai-belai. Lalu katanya, suaranya biasa, tanpa
nuansa penyesalan,
“Aku ini ‘kan seperti Bima. Aku suka marah, suka memukul,
tapi hatiku sangat baik. Sudah, diam. Aku cinta kepadamu.”
Sebagai bukti kebenaran kata-kata itu, di ruang tamu, terpam-
pang sebuah lukisan batik murahan tapi berbingkai ratusan ribu
rupiah, tokoh wayang tersebut sedang bergulat dengan seekor naga
di tengah samudra. Lalu kepada siapa pun yang datang, tidak pernah
terlupakan dia berkata,
“Itu simbol saya. Saya ini seperti Bima,” sambil mulutnya
meringis, kepalanya berangguk-angguk, Karyono menatap sang ta-
mu.
Dan bagi pengunjung yang mengenal dia sebagai pemukul istri,
dia bukan Bima. Karena Panenggak Pendawa itu hanya memukul or-

95

ang yang bersalah, tidak sombong ataupun semena-mena. Di dalam
hati, tamu pengenal itu berbisik sendirian: Kamulah Rahwana, si
Muka Sepuluh, karena kamu bisa tersenyum-senyum selagi hatimu
dihuni ulat.

Amit-amit, Darini muak jika mengingat kembali semua itu.
Celakanya, itulah suami pilihannya sendiri. Waktu itu, Karyono
baru kembali dari Amerika, meraih gelar doktor termuda Indonesia
lulusan negeri itu. Darini baru saja ditinggal kawin pemuda yang
selama setahun mengencani dia. Kencan di masa itu. Hanya pegang-
pegangan tangan dan cium-cium di pipi. Karyono belum botak.
Pandai bicara lagi! Keruan Darini cepat terpikat.
Dari agama Katolik, Darini menyeberang ke Islam. Foto besar
perkawinan adat Jawa masih tergantung pada dinding ruang tamu.
Itu menjadi saksi ratusan kali pertengkaran, yang aslinya hanyalah
berupa perbantahan tak seimbang. Menjadi saksi lebih-lebih ratusan
pukulan serta teriakan si pengantin lelaki kepada pasangannya yang
kemudian memberinya tiga anak manis-manis. Ruang tamunya ala
Amerika, dengan bar penyekat yang menghubungkan dapur. Maka
jika berkali-kali suami itu memukul kepala sang istri dengan alat
dapur sampai patah pun, foto itu tetap mengawasi. Karena Karyono
tidak memilih tempat, waktu atau hadirin jika kehendak memukul
itu muncul dari sarang ulat-ulat di hatinya.
Anehnya, selama dua puluh lima tahun, Darini tidak pernah
merasa malu kalau ketahuan orang bahwa suaminya ringan ta-
ngan. Pada awal hidup bersama, mereka tinggal di kompleks
rumah dosen. Tentu saja mulut pembantu merupakan corong
berita yang ampuh. Seluruh kampung mengetahui, namun keso-
pananlah yang menahan keusilan ibu-ibu untuk tidak bertanya
mengapa muka Darini tembam bengkak. Atau apa yang dialami
dokter wanita muda itu sehingga sebelah matanya biru-hitam
seperti bekas benturan. Waktu itu PKK dan RT belum segalak
sekarang. Masing- masing keluarga diam bila masalah percekcokan
timbul di rumah. Namun sebaliknya, di luar orang-orang yang
bersangkutan, berita menjalar dari kampung ke kampus, ke
seluruh fakultas, universitas, hingga seluruh kota mengetahui.
96

Karyono? Yang insinyur doktor mana? Oooh, itu, yang suka
memukuli istri.

Demikianlah, tukang pukul istri melekat menjadi predikat Kar-
yono. Juga kalau orang menyebut nama dokter Darini. Siapa dia?
Yang mana? Orang biasa menjawab: Itu lho, wanita cantik putih
yang sering kelihatan mukanya bengkak karena sering dipukuli
suaminya.

Tentu saja macam-macam reaksi rekan atau kawan sepergaulan.
Masya Allah! Wanita cantik dan pintar seperti dia kok sudi-sudinya
hidup bersama monster seperti Karyono. Dasar laki-laki sialan! Ada
reaksi lain. Biasanya ini datang dari kalangan pemraktek agama
Islam paling tekun. Katanya: Habis mau bagaimana? Karyono itu
‘kan suaminya. Istri harus patuh....

Ibu Darini sendiri tidak mampu mempengaruhi anaknya. Per-
nahkah dengar seorang ibu intelek mengajarkan kepada anaknya
yang dua kali lipat inteleknya agar minta cerai? Ya ini, ibunya Darini.

“Cerai saja. Kita urus semua. Kamu pulang ke kota kami, buka
praktek, lalu ambil spesialisasi. Kamu masih muda. Pasti banyak
lelaki layak yang akan mencintai kamu.”

Barangkali Karyono sendiri tidak pernah mendengar bahwa di-
rinya disebut monster pemukul istri. Mungkin dia merasa berwenang
memperlakukan sang istri semau hati gelapnya karena agamanya
memperbolehkannya. Untung saja Darini ndubleg, masa bodoh.
Bukan agama yang menyebabkan Darini tahan hingga dua puluh
lima tahun berdampingan dengan lelaki seperti Karyono. Cintanya
kepada anak-anaknyalah yang membikin dia terus berumah tangga
dengan si monster itu.

Yang sulung laki-laki. Sifatnya banyak seperti ibunya. Dan acuh
tak acuh ini menyelamatkannya dari ratusan kali pukulan. Dibentak
atau disuruh apa saja oleh si ayah, dia menurut, dia diam. Atau,
kalau kesal, pergi dari hadapan sang bapak.

Anak kedua juga lelaki. Tapi aduuuuh, anak ini memiliki sifat
amat sangat peka. Sedikit-sedikit hatinya tersinggung. Apabila dia
disuruh-suruh atau disalahkan pada hal memang dia berkelakuan
baik, dia membantah. Inilah yang fatal. Maka begitu saja “plek”,

97

tangan sang ayah mendarat dengan kecepatan suara di kepalanya.
Karena membantah atau menjawab Karyono di saat hatinya yang
gelap sedang kecewa di kantor maupun dalam perjalanan pulang,
tahulah akibatnya! Dia paling gemar menjadikan istri dan anaknya
sebagai sasaran pelampiasan ulah orang di kantor atau di jalanan.

Sampai anak kedua berusia kuliah sekalipun, Karyono tidak
ragu maupun sungkan meneruskan kebiasaan main pukul terhadap
siapa yang dia sebut “pantas” menerima hantamannya.

Dari waktu ke waktu para pembantu berharap, mereka berbisik-
bisik,

“Cepatlah datang hari di mana anak-anak itu berbalik, ganti
menggampar ayahnya!”

Anak terakhir perempuan. Tampaknya ini disayang-sayang oleh
Karyono. Tetapi anak ini melihat dan menyaksikan betapa sayang-
sayang itu entah kapan akan mendadak berubah menjadi pukulan
yang menyakitkan serta menghina. Maka, tanpa hasutan, Darini
yakin bahwa anak-anak merasa lebih dekat dengan ibunya daripada
dengan ayahnya.

Begitu anak ketiga lahir, Darini nyaris tidak disentuh lagi oleh
suaminya. Kebetulan waktu itu, kebahagiaan dokter wanita Darini
memang tidak bergantung pada tempat tidur. Dia bersama anak-
anaknya merundingkan kegiatan apa yang bakal dilaksanakan selama
liburan sekolah, kapan mencoba makanan di warung tegal yang
baru buka, itulah isian hidupnya.

Lalu, pada suatu siang, Karyono pulang membawa salah seorang
siswanya. Mereka makan siang sekeluarga. Dan begitu saja, pemuda
studen itu menjadi langganan. Datang sore, datang siang, bahkan
pagi untuk berangkat bersama ke kantor. Dan setiap saat ketika
bersama keluarga, mulut Karyono hanya dipenuhi cerita tentang
siswanya yang ganteng itu.

Darini ndableg, cantik, hebat di bidangnya, tetapi dia juga “bo-
doh”. Dia tidak memiliki kepekaan emosional untuk membaca
suasana. Dia inilah tipe orang yang pintar ber-IQ tinggi. Bukan jenis
manusia yang ber-EI. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Sampai pada
suatu siang, di tempat yang terang benderang dan dilihat anak-
98

anak, Karyono membelai-belai tengkuk siswanya si ganteng. Darini
sendiri tidak merasakan cemburu selagi melihat suaminya
membetulkan sikap duduknya, tanpa memperlihatkan rasa sungkan
ataupun bersalah.

Terang-terangan Karyono telah membongkar asal keasliannya,
siapa dia yang sesungguhnya. Dua anak lelaki saling berbisik,

“Pantas saja dulu ketika kita kecil, Papa selalu mendesak me-
mandikan kita. Lalu kau ingat? Kalau menggosok kita dengan was-
lap, dengan sabun ....”

Darini mendengar bisik-bisik itu. Dia bukannya sedih. Dengan
besar kepala dia berkata kepada diri sendiri, “Aku akan me-
nyembuhkan dia.”

Tapi Darini bukan psikiater. Dalam beberapa hal, sebenarnya,
malahan dia juga memerlukan bantuan ahli jiwa buat dirinya, buat
batin dan nuraninya.

Suaminya semakin menjadi-jadi homonya. Darini semakin digen-
cet. Tidak hanya semakin dipukuli, melainkan juga masalah ke-
uangan menambah lagi keruncingan hubungan. Karena suami yang
punya pacar selalu menjadi semakin pelit. Apalagi jika memang
dasarnya, dari sono-nya memang mempunyai bakat itungan.

*
Darini baru mengerti kenikmatan bercinta setelah bertemu de-
ngan seorang lelaki lain.
“Dia luar biasa. Dia menakjubkan. Dia memanjakanku dengan
perilaku bercinta yang tidak bisa kaubayangkan. Pendek kata, laki-
laki yang berbuat demikian, pasti mencintaimu,” dengan penuh
semangat Darini memberi tahu teman-teman dekatnya.
Dan bila Darini mempunyai teman dekat, pasti jumlahnya me-
lebihi hitungan jari di tangan dan kaki.
Revisi disertasi dikerjakan sambil berpacaran. Demikian gencar
dan dahsyat hubungan mereka. Darini mendekati usia setengah
abad, namun tidak tampak tua. Wanita zaman sekarang kelihatan
tua pada umur ketujuh puluh. Wajah Darini tambah bersinar dan

99


Click to View FlipBook Version