berseri. Dia bahagia karena cintanya. Sayangnya, kelakuannya
menjadi kemanja-manjaan. Bila orang bertemu dia kebetulan
bersama anaknya perempuan, si mahasiswi itulah yang tampak lebih
dewasa daripada si ibu dosen. Darini juga lupa sikap rendah hati.
Dia berbangga serta bersombong, misalnya, “Eh, tahu enggak, saya
diundang ke Eropa sebagai hadiah ulang tahun. Setelah ujian, saya
keliling Eropa....”
“Eh, kalian tahu? Saya baru saja pulang dari Italia untuk cera-
mah. Hanya empat hari. Itu adalah ceramah paling mahal. Untuk
mendengarkan omongan saya dua jam, mereka mau mengeluarkan
uang sebegitu banyak. Hebat ya ....”
Darini lepas kendali.
Semakin bertambah lagi ketika dia pulang membawa gelar dok-
tor. Menjadi semakin ini semakin itu. Semakin suka berbicara karena
semakin yakin bahwa orang mendengarkan. Dan orang memang
harus mendengarkan. Karena jika orang lingkungannya menambah
sedikit jumlah kata-kata yang ditujukan kepadanya, dia
“menggosipkannya” kepada orang lain. Katanya,
“Ah, si itu sekarang tambah tua tambah cerewet!”
Kualitasnya sebagai dokter nyaris menguap sebab dia menjadi
kurang sabar mendengarkan. Sedangkan pasien datang bermaksud
menyampaikan keluhan. Padahal Darini harus mendapatkan uang,
terus mencari uang guna membiayai gaya hidup yang turut berubah.
Entah disengaja atau tidak, kini dia serba glamor, mengikuti cara
aktris-aktor atau peragawati yang sekali menyampaikan iklan di
televisi dibayar enam puluh juta.
Walaupun perceraian sudah beres, pembagian harta diatur oleh
bekas suami. Anak-anak yang turut bapak sekaligus turut ibunya
menderita, karena sang ayah lebih rela mengeluarkan uang buat
keperluan pacar daripada diberikan kepada anak. Sekolah anak-
anak keluar negeri pun bukan orang tua yang menanggung. Entah
bagaimana cara mainnya, Karyono berhasil mendapatkan bea siswa
perusahaannya bagi kedua anak lelaki.
Sementara berbahagia dengan gaya hidup baru, sekaligus
menjalani kerepotan huru-hara pembagian harta, petir menyambar
100
Darini di siang hari terang benderang: Si pacar keliling Amerika
bersama wanita lain. Wanita yang masih berstatus punya suami
punya anak.
Robohlah semua angan-angan yang dia bentuk akan dikerjakan
bersama kekasihnya. Runtuhlah bangunan idaman yang telah dia
pastikan akan terwujud, yaitu hidup bersama lelaki yang berkata
mencintainya itu.
Tetapi untunglah Darini bersifat ndableg. Kekacauan batin dia
alami paling lama satu bulan. Benar dia masih menangis di saat
menceritakan kembali ulah sang pacar yang mencampakkannya
kepada siapa pun yang dia temui. Karena tiba-tiba sekarang semua
orang menjadi teman “dekat”-nya. Dan dalam cerita itu, Darini
menyimpulkan harapannya sendiri, seolah-olah itu dikatakan oleh
orang-orang lain.
“Kata si Anu, tidak mungkin hubungan mereka bisa bertahan.
‘Kan dia masih bersuami. Sedangkan suaminya tidak akan mence-
raikannya karena anak-anak. Si itu juga mengatakan hal yang sama.
Suami istri itu adalah pasangan yang serasi. Di mana-mana, semua
orang menganggap mereka harmonis. Jadi, tidak mungkin mereka
bercerai.”
Darini sudah lupa bahwa dahulu, dia bersama Karyono dan
anak-anak pun selalu mendapat sebutan pasangan serasi maupun
keluarga yang bahagia.
Apa kekeliruannya maka kekasih meninggalkannya?
Darini tidak menyadari bahwa terbebas dari Karyono, tidak ada
lagi orang yang memerintah dan mengatur “kamu harus begini atau
begitu”. Darinilah yang sekarang mengatur dan menyuruh-nyuruh
orang lain. Barangkali seorang teman menganggapnya sebagai or-
ang yang baik hati. Namun sebegitu menginap, hidup bersama selama
beberapa hari, teman itu pasti akan tunggang langgang menjauhinya.
Karena bersama siswa, perawat atau pasien, Darini leluasa meng-
arahkan serta memerintah. Sedangkan terhadap teman, apalagi keka-
sih, Darini sering kali lupa bertenggang rasa maupun bersopan-sopan.
Kunjung-mengunjungi, bermalam di hotel atau bersama di ma-
sing-masing rumah mereka, Darini dan kekasihnya pasti tidak hanya
101
hidup bercintaan. Tentu berdiskusi, melewati waktu dengan kerja
serta kegiatan masing-masing sebagai anggota masyarakat yang layak.
Dan selama ini, sang pacar juga pasti melihat dan mengalami
bagaimana perilaku Darini sehari-hari. Lelaki itu mungkin merasa
bahwa Darini terlalu “memiliki”-nya. Barangkali justru laki-laki itu
menjauh karena dia tidak menyukai Darini yang baru bersama
setahun namun sudah membicarakan “tinggal bersama”, bahkan
menyebut-nyebut kemungkinan perkawinan mereka.
Betul, Darini bersikap bagaikan lintah terhadap sang pacar. Dia
melekat erat sehingga laki-laki itu sesak bernapas. Dia kekurangan
ruang gerak. Darini membelikan ini dan itu, ditinggal di rumahnya
sendiri dengan kata “supaya jika kamu datang, sudah ada keperl-
uanmu”. Laki-laki yang biasa melajang sampai setua kekasih Darini,
tentu saja kurang tanggap. Dia bergaul “intens” seperti katanya,
dengan sang pacar, namun tidak mengenalnya dengan baik: Laki-
laki itu hanya ingin bersama Darini sekali-sekali saja.
*
“Masih cantik saja.”
Itu ucapan orang di saat bertemu Darini sekarang. Dia memang
senang dengan kalimat tersebut. Tetapi bukan itu yang dia harapkan.
“Semakin cantik saja,” inilah yang sesungguhnya dikehendaki
Darini.
Manusia tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki. Dan
kalau Darini pernah berumah tangga, punya anak-anak yang masih
terus belajar serta sering mengunjunginya, bahkan dia nyaris mera-
yakan kawin perak dengan pesta seperti yang umum dirayakan ling-
kungannya, kini dengan kesendiriannya Darini masih berharap.
Itu baik. Harapan sering kali dilukiskan orang sebagai tanda
kehadiran semangat hidup.
Yang tidak baik ialah setiap kali bertemu dengan laki-laki baru,
Darini menjadi salah tingkah. Di seminar, di kongres, ceramah-cera-
mah, Darini pasang aksi. Sebegitu dia melihat ada seorang lelaki
yang menarik hatinya, tanpa sungkan dia melekat. Dan dia teruskan
102
sampai menelepon ke rumah atau tempatnya menginap. Sampai-
sampai melalui sambungan internasional sekalipun.
Terlalu kentara dia tunjukkan harapan ingin menemukan pacar
atau bahkan suami baru. Laki-laki lebih muda tidak sedikit yang
mengerumuninya. Tentu Darini menanggapi perhatian tersebut.
Beberapa kali bahkan dia terjerumus sampai ke pergaulan akrab.
Tidak apa-apa, dia memang memerlukannya. Darini selalu mem-
butuhkan seorang lelaki yang memujanya. Sebegitu besar kebutuhan
tersebut, sehingga sering kali akal sehatnya tersapu kabut, tersisihkan.
Anak-anaknya yang lebih waspada berkomentar: Mama sedang
menjalani kehidupannya yang kedua.
Dan kehidupan kedua itu sedemikian lepas, sedemikian long-
gar. Tiba-tiba saja Darini menjadi mitoman. Dia bercerita tentang
hal yang hanya hadir di benaknya. Tentang suami istri dia “pas-
tikan” bahwa si perempuan menteror sang suami, tentang seorang
yang terlalu kekanak-kanakan sambil lengkap memaparkan satu ke-
jadian yang berupa khayalannya sendiri.
Maka Darini mendapat julukan lagi, “itu lho, dokter yang suka
mengarang mengenai hal-hal yang tidak sebenarnya...”
Arti/Penjelasan Kata-Kata dalam Bahasa Daerah/Asing
Penenggak Pendawa : anak kedua dari lima bersaudara
Amit-amit : maaf; bisa juga diucapkan mengandung arti: se-
moga anak cucu saya tidak sama seperti dia
Lho : kata tambahan dalam bahasa Jawa, biasanya di-
pakai sebagai kata seru
Kok : kata tambahan dalam bahasa Jawa
Ndableg : masa bodoh, tidak peduli
EI (emotionally intelligent): kecerdasan emosional
Sono : sudah menjadi sifat atau pembawaan sejak lahir-
nya
Itungan : selalu memperhitungkan untung rugi dalam se-
gala hal
Enggak : tidak
103
Biografi Singkat
Nh. Dini dilahirkan di Semarang, 29 Februari 1936. Berpendidikan
SMA Bagian Sastra (1956), Kursus Pramugari Darat GIA Jakarta
(1956), dan Kursus B-I Jurusan Sejarah (1957). Tahun 1957-1960
ia bekerja di GIA Kemayoran, Jakarta. Setelah menikah dengan
seorang diplomat Prancis, berturut-turut ia bermukim di Jepang,
Prancis, dan Amerika Serikat. Sejak Tahun 1980, ia kembali ke In-
donesia, dan kini menetap di Semarang.
Ia mulai menulis sejak tahun 1951. Karya-karyanya antara
lain: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal
(1973), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), Namaku Hiroko
(1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang
Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981),
Amir Hamzah Pangeran dari Seberang (1981), Kuncup Bersen (1982),
Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Orang-Orang Tran (1985),
Pertemuan Dua Hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Tirai Menurun
(1993), Panggilan Dharma Seorang Bhikku (1997), Tanah Baru, Tanah
Air Kedua (1997), Kemayoran (2000), Jepun Negerinya Hiroko (2002),
Monumen (2002), Istri Konsul (2003), dan Dari Parangakik ke Kam-
puchea (2003). Terjemahannya: Sampar (karya Albert Camus, 1985).
Ia pernah menjadi pemenang Lomba Penulisan Naskah Skenario
untuk Radio se-Jawa Tengah (1955) dan mendapat hadiah pertama
untuk Lomba penulisan Cerita Pendek dalam bahasa Prancis se-
Indonesia untuk cerpennya “Sarang Ikan di Teluk Jakarta” (1988).
Ia pun mendapat Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI (1989) dan memperoleh Piagam Penghargaan Upa-
pradana dari Pemda Tingkat I Jawa Tengah (1991).
Studi mengenai Nh. Dini dan karyanya: Sariyati Nadjamuddin-
Tome, Isu Wanita dalam La Barka (1997) dan Th. Sri Rahayu Prihatmi,
Nh. Dini: Karya dan Dunianya (1999).
104