The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

bahan ajar ini digunakan pada Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mery.ambarnuari, 2022-10-03 22:11:59

Bahan Ajar Dasar-Dasar Kepanditaan

bahan ajar ini digunakan pada Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Keywords: kepanditaan

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena berkat
rahmat Beliau penulis dapat menyelesaikan Diktat untuk Mata Kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan
ini tepat waktu.

Tujuan penulisan diktat mata kuliah ini adalah untuk memberikan panduan dan
pemahaman tentang materi perkuliahan Dasar-Dasar Kepanditaan. Materi disampaikan secara
ringkas, jelas dan disesuaikan dengan lingkungan serta kehidupan sehari-hari para pembaca,
khususnya mahasiswa Fakultas Brahma Widya. Diktat ini diharapkan menjadi pemantik bagi
mahasiswa untuk berpikir kritis dan inovatif dalam menyikapi problematika terkait fenomena-
fenomena eksistensi Pandita Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Setelah membaca, mempelajari,
dan membuat beberapa latihan serta tugas, diharapkan mahasiswa mampu menggali lebih dalam,
mengembangkan dan menguasai pengetahuan terkait dengan latar belakang diksa, pengertian,
tugas fungsi, serta peran sulinggih dalam masyarakat.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu penulis
dalam menyelesaikan penulisan diktat ini. Akhirnya sumbang saran sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan diktat ini. Semoga diktat ini bermanfaat bagi seluruh pembaca, khususnya
mahasiswa dan dosen pengampu mata kulaih Dasar-Dasar Kepanditaan.

Denpasar, September 2022

Penulis

i

SAMBUTAN DEKAN FAKULTAS BRAHMA WIDYA

UNIVERSITAS HINDU NEGERI I GUSTI BAGUS SUGRIWA DENPASAR

Om Swastyastu

Pertama-tama saya sebagai Dekan menyambut baik terselesaikannya penulisan Diktat
Perkuliahan pada mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan yang dilakukan oleh saudari Mery
Ambarnuari, S.Ag., M.Ag sekaligus merupakan dosen Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu
Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar pada formasi Dasar-Dasar Kepanditaan. Kehadiran Diktat
Perkuliahan Dasar-Dasar Kepanditaan tentu akan sangat bermanfaat, khususnya di Program Studi
Kepanditaan yang resmi dibuka serta menerima mahasiswa angkatan pertamanya di tahun ajaran
baru 2022-2023 ini.

Materi-materi Kepanditaan merupakan hal yang masih awam dalam masyarakat dan
dipandang sebagai ajaran yang sangat pingit. Padahal sejatinya menyucikan diri merupakan hak
dan kewajiban bagi umat Hindu. Inisiasi atau penyucian dengan melakukan upacara diksa
merupakan hal yang sangat baik dilakukan semasih hidup dengan memperhitungkan syarat tertentu
misalnya tidak cacat fisik, mental, maupun sosial, serta syarat-syarat lainnya sesuai dengan
petunjuk sastra agama. Namun apabila tidak dapat dilaksanakan semasih hidup, inisiasi diksa tetap
akan dilaksanakan oleh seluruh umat Hindu yaitu saat melaksanakan upacara kematian pada
tahapan ngaskara.

Bahan ajar Kepanditaan sangat dibutuhkan karena ketersediaan buku-buku yang
berkaitan dengan ajaran kepanditaan masih sangat sedikit, sehingga adanya Diktat atau bahan ajar
yang sistematis sangat dibutuhkan oleh dosen pengampu mata kuliah dasar-dasar kepanditaan serta
mahasiswa untuk mempermudah proses perkuliahan di Program Studi Kepanditaan. Disamping
itu, Program Studi D3 Kepanditaan merupakan Program Studi baru yang harus menyediakan
instrument pemenuhan akreditasi, sehingga kehadiran bahan ajar yang sistematis tentu sangat
dibutuhkan oleh Program Studi dalam rangka pemenuhan instrument akreditasi.

Akhirnya saya berharap semoga diktat Dasar-Dasar Kepanditaan ini dapat menjadi kajian
akademik di perguruan tinggi maupun selanjutnya tersosialisasikan pula kepada masyarakat

ii

sehingga ajaran dasar tentang Kepanditaan diketahui oleh masyarakat luas. Disamping itu semoga
kerja keras Mery Ambarnuari, S.Ag., M.Ag dapat menstimulus penulis-penulis lain untuk berkarya
dalam bidang Kepanditaan maupun bidang lain, khususnya di lingkungan Fakultas Brahma Widya
Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Semoga diktat ini mampu melahirkan
beragam kebaikan.
Om Shantih Shantih Shantih Om

Denpasar 5 Oktober 2022
Dekan Fakultas Brahma Widya,
Dr. Drs. I Made Girinata, M.Ag
NIP. 19630609 199403 1 002

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i
SAMBUTAN DEKAN FAKULTAS BRAHMA WIDYA ........................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................. iv
SILABUS....................................................................................................................... 1
RPS ................................................................................................................................ 5
KONTRAK PERKULIAHAN....................................................................................... 10
PAKET 1........................................................................................................................ 16
PAKET 2........................................................................................................................ 19
PAKET 3........................................................................................................................ 32
PAKET 4........................................................................................................................ 58
PAKET 5........................................................................................................................ 67
PAKET 6........................................................................................................................ 71
PAKET 7........................................................................................................................ 76
PAKET 8........................................................................................................................ 88
PAKET 9........................................................................................................................ 98
Soal UAS ...................................................................................................................... 119
Daftar Pustaka................................................................................................................ 120

iv

SILABUS
I. IDENTITAS MATA KULIAH:

Program Studi : Kepanditaan
Mata Kuliah : Dasar-Dasar Kepanditaan
Kode :
Semester :2
SKS :2
Prasyarat :-
Dosen Pengampu : Mery Ambarnuari, S.Ag., M.Ag

II. CP MATA KULIAH:

A. CP Sikap:

1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral,

dan etika;
3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan

kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta

rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat

atau temuan orisinal orang lain;
6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan

lingkungan;
7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;

dan
10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

B. CP Pengetahuan:

(1) Mampu menguasai konsep dasar, ruang lingkup, manfaat, dan tujuan mempelajari
Dasar-Dasar Kepanditaan

(2) Mampu merumuskan terminologi kepanditaan hal-hal yang melatarbelakangi adanya
Pandita, Fungsi Pandita dan eksitensi Pandita di dalam Masyarakat;

(3) Mampu menganalisis proses Diksa yang melahirkan Pandita serta hak, Kewajiban
dan peran Pandita

(4) Mampu mengetahui bentuk, fungsi dan makna dari komponen perangkat pemujaan
sulinggih.

1

C. CP Keterampilan Umum:

(1) Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas dan menganalisis data dengan
beragam metode yang sesuai, baik yang belum maupun yang sudah baku;

(2) Mampu menunjukkan kinerja bermutu dan terukur;
(3) Mampu memecahkan masalah pekerjaan dengan sifat dan konteks yang sesuai

dengan bidang keahlian, penerapannya didasarkan pada pemikiran logis, inovatif,
dan bertanggung jawab atas hasilnya secara mandiri;
(4) Mampu menyusun laporan hasil dan proses kerja secara akurat dan sahih serta
mengomunikasikannya secara efektif kepada pihak lain yang membutuhkan;
(5) Mampu bekerjasama, berkomunikasi, dan berinovasi dalam pekerjaannya;
(6) Mampu bertanggung jawab atas pencapaian hasil kerja kelompok dan melakukan
supervisi dan valuasi terhadap penyelesaian pekerjaan yang ditugaskan kepada
pekerja yang berada di bawah tanggung jawab; dan
(7) Mampu melakukan proses evaluasi diri terhadap kelompok kerja yang berada di
bawah tanggung jawabnya, dan mengelola pengembangan kompetensi kerja secara
mandiri;
(8) Mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengamankan, dan menemukan kembali
data untuk menjamin kesahihan dan mencegah plagiasi.

D. CP Keterampilan Khusus:

(1) Mahasiswa mampu menerapkan konsep dasar Kepanditaan dalam aktivitas
keberagamaan;

(2) Mahasiswa mampu menguasai dan menganalisis Instrumen Kepanditaan
(3) Mahasiswa mampu melakukan analisis dan mensinergikan praktek-praktek

Kepanditaan secara teks dan konteks dalam ranah kehidupan sosial di Bali

III. GARIS BESAR RENCANA PEMBELAJARAN/ SILABUS:

No. Capaian Indikator Pencapaian Bahan Kajian/ Materi pokok

Pembelajaran (kemampuan akhir yang 1.1 Pengertian Pandita/Sulinggih
1.2 Ciri-Ciri, tugas dan
diharapkan)
kewajiban sulinggih
1. A5,6,7,8 1. Mampu memahami 1.3 Konsep Tri Sadhaka
1.4 Konsep Sarwa Sadhaka
B1 Gambaran Umum
2.1 Jenis Pandita didasarkan pada
C1 Kepanditaan Hindu di Bali Guna

D2 2.2 Jenis Pandita didasarkan pada
Kemelekatan;
2. A1,2,3,4,5,6,7,8 2. Mampu menjelaskan dan

B1,2,3 menganalisis Eksistensi

C2 Pandita

D2

2

2.3 Jenis Pandita didasarkan pada

Swadharma;

2.4 Jenis Pandita didasarkan pada

Orientasi

2.5 Hakikat Pandita

2.6 Esensialitas Sang Sista

3. A1,2,3,4,5,6,7,8 3. Mampu memahami 3.1 Etimologi Diksa
3.2 Terminologi Diksa;
B1,2,3 pengertian dan Latar 3.3 Ide Manusia Dewani/

C2 Belakang Diksa Manusia Surgawi;

D1

3.4 Ajaran Panca Sraddha

sebagai dasar dari Diksa;

3.5 Realita manusia Sudra;

3.6 Klesa atau dosa yang

mengiringi kelahiran manusia

3.7 Doktrin Ajaran Siwaistik.

4. A1,2,3,5,6 4. Mampu memahami Kapasitas 4.1 Diksa Sebagai dasar
B1,2,3 Diksa keyakinan;
C1,2,3
D1,2 4.2 Diksa Sebagai Tangga
Menuju Tuhan

4.3 Diksa Sebagai Manifestasi

Dharma

4.4 Diksa Sebagai Institusi

bersifat formal

5. A1,2,3,4,5,6,7,8 5. Mampu memahami Fungsi 5.1 Penyucian Menuju
B1,3 Diksa Penyelamatan
C1,2
5.2 Pengorbanan Menuju
D1,2 Persembahan

5.3 Penebusan Menuju

Pembebasan

6. A1,2,3,4,5,6,7,8 6. Mampu memahami tujuan 6.1 Diksa Menuju Alam Siva
B1,3 Diksa dalam Perspektif 6.2 Implementasi Ajaran Siva
C1,2 Sivaistik
D,2 Siddhanta dalam Diksa
6.3 Implementasi ajaran

Astamurthi Siva
6.4 Konstruksi Ka-Bhujanggan
6.5 Konstruksi Ka-Bhodaan
6.6 Konstruksi Ka-Saivan

3

7. A1,2,3,4,5,6,7,8 7. Mampu memahami 7.1 Eksistensi Guru
7.2 Komposisi Guru
B1,3 Konstruksi Diksa sebagai 7.3 Kewajiban Guru
7.4 Kualifikasi Sisya
C1,2,3 institusi
8.1 Bentuk,fungsi, makna dari
D1,2 Siwa Upakarana (Siwa)

8. A1,2,3,4,5,6,7,8 8. Mampu memahami 8.2 Bentuk,fungsi, makna dari
Pasilakranan/Tarparana
B1,2,3 komponen perangkat (bodha)

C1,2 pemujaan pandita (Siwa, 8.3 Bentuk,fungsi, makna dari
Siwakrana (Bhujangga
Baudha/bodha, bhujangga upakarana)

waisnawa)

Mengetahui: Denpasar, 14 September 2022
Ketua Jurusan/ Prodi Dosen Pengampu Mata Kuliah

Dr. I Nyoman Piartha, S.Ag., M.Fil.H Mery Ambarnuari, S.Ag., M.Ag
NIP. 19820914 201101 1 004 NIP. 19940329 202203 2 001

4

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)

I. IDENTITAS MATA KULIAH:

Program Studi : Kepanditaan
Mata Kuliah : Dasar-Dasar Kepanditaan
Kode :
Semester :2
SKS :2
Prasyarat :-
Dosen Pengampu : Mery Ambarnuari, S.Ag., M.Ag

II. CP MATA KULIAH:

A. CP Sikap:

1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral,

dan etika;
3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan

kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta

rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat

atau temuan orisinal orang lain;
6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan

lingkungan;
7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;

dan
10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

B. CP Pengetahuan:

(1) Mampu menguasai konsep dasar, ruang lingkup, manfaat, dan tujuan mempelajari
Dasar-Dasar Kepanditaan

(2) Mampu merumuskan terminologi kepanditaan hal-hal yang melatarbelakangi adanya
Pandita, Fungsi Pandita dan eksitensi Pandita di dalam Masyarakat;

(3) Mampu menganalisis proses Diksa yang melahirkan Pandita serta hak, Kewajiban
dan peran Pandita

(4) Mampu mengetahui bentuk, fungsi dan makna dari komponen perangkat pemujaan
sulinggih.

5

C. CP Keterampilan Umum:

(1) Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas dan menganalisis data dengan
beragam metode yang sesuai, baik yang belum maupun yang sudah baku;

(2) Mampu menunjukkan kinerja bermutu dan terukur;
(3) Mampu memecahkan masalah pekerjaan dengan sifat dan konteks yang sesuai

dengan bidang keahlian, penerapannya didasarkan pada pemikiran logis, inovatif,
dan bertanggung jawab atas hasilnya secara mandiri;
(4) Mampu menyusun laporan hasil dan proses kerja secara akurat dan sahih serta
mengomunikasikannya secara efektif kepada pihak lain yang membutuhkan;
(5) Mampu bekerjasama, berkomunikasi, dan berinovasi dalam pekerjaannya;
(6) Mampu bertanggung jawab atas pencapaian hasil kerja kelompok dan melakukan
supervisi dan valuasi terhadap penyelesaian pekerjaan yang ditugaskan kepada
pekerja yang berada di bawah tanggung jawab; dan
(7) Mampu melakukan proses evaluasi diri terhadap kelompok kerja yang berada di
bawah tanggung jawabnya, dan mengelola pengembangan kompetensi kerja secara
mandiri;
(8) Mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengamankan, dan menemukan kembali
data untuk menjamin kesahihan dan mencegah plagiasi.

D. CP Keterampilan Khusus:

(1) Mahasiswa mampu menerapkan konsep dasar Kepanditaan dalam aktivitas
keberagamaan;

(2) Mahasiswa mampu menguasai dan menganalisis Instrumen Kepanditaan
(3) Mahasiswa mampu melakukan analisis dan mensinergikan praktek-praktek

Kepanditaan secara teks dan konteks dalam ranah kehidupan sosial di Bali

III. DESKRIPSI MATA KULIAH :

Mata Kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk
memahami konsep dasar Pandita atau Sulinggih, Proses Diksa serta Fungsi Pandita dalam ritus
keberagamaan Hindu di Bali. Adapun hal yang wajib dikuasai oleh Mahasiswa adalah 1. Mampu
memahami Latar Belakang Diksa, 2. Mampu memahami pengertian Diksa, 3. Mampu memahami
Kapasitas Diksa, 4. Mampu memahami Fungsi Diksa, 5. Mampu memahami tujuan diksa dalam
perspektif sivaistik, 6. mampu memahai kontruksi diksa sebagai institusi, 7. mampu menjelaskan
dan menganalisis eksistensi pandita, 8. Mampu mengetahui dan memahami bentuk, fungsi, dan
makna dari komponen perangkat pemujaan pandita (Siwa, Baudha/Bodha, bhujangga waisnawa).

6

IV. RINCIAN KEGIATAN PERKULIAHAN

Minggu Capaian Bahan Kajian/Materi Kemampuan Akhir Metode Pengalaman Alokasi Referensi
/ Tatap Pembela Pokok/Rincian Materi yang diharapkan Pembelaj Belajar Waktu
Muka
jaran aran
ke
I 1. Pengantar Memahami materi Diskusi 2 x 50 Silabus dan
perkuliahan dan perkuliahan secara menit RPS
kontrak kuliah umum

II-III A5,6,7,8 2.1 Pengertian Mampu memahami Active Mengkaji 4x50 1. Dasar-
B1 Pandita/Sulinggih Gambaran Umum learning konsep menit Dasar
C1 Kepanditaan Hindu di berdasarka Kesulinggih
D2 2.2 Ciri-Ciri, tugas, dan Bali Active n sumber an “Suaru
kewajiban Sulinggih learning; serta Pengantar
peer pemahama bagi Sisiya
2.3 Konsep Tri Sadhaka theachin n sendiri calon
2.4 Konsep Sarwa g sulinggih”
methode Oleh : K.M
Sadhaka Suhardana

IV-V A1,2,3,4,5 3.1 Jenis Pandita Mampu menjelaskan Memahami 4x50 2. Ciwa-
,6,7,8 didasarkan pada dan menganalisis jenis-jenis Buddha Puja
VI B1,2,3 Guna Eksistensi Pandita pandita di Indonesia
C2 berdasarka Oleh
VII– D2 3.2 Jenis Pandita Mampu memahami n yayasan
VIII didasarkan pada pengertian dan Latar klasifikasi Dharma
A1,2,3,4,5 Kemelekatan; Belakang Diksa nya sastra
,6,7,8
B1,2,3 3.3 Jenis Pandita Mampu memahami Active Mengkaji 2x50 3.Penyatuan
C2 didasarkan pada Kapasitas Diksa learning; konsep dan menit Siwa-
D1 Swadharma; Ceramah membuat Buddha ”
Diskusi resume Pemikiran I
A1,2,3,5,6 3.4 Jenis Pandita hasil per- Gusti Bagus
B1,2,3 didasarkan pada kuliahan Sugriwa
C1,2,3 Orientasi secara Tentang
D1,2 individu Agama
3.5 Hakikat Pandita Hindu di
3.6 Esensialitas Sang Bali
Oleh
Sista Nyoman
4.1 Etimologi Diksa Rema
4.2 Terminologi Diksa;
4.3 Ide Manusia Active Menganali 4x 50 4.Bhujangga
learning; si menit Waisnawa
Dewani/ Manusia peer kapasitas dan Sang
Surgawi; teaching diksa Trini
4.4 Ajaran Panca methode Oleh Gede
Sraddha sebagai Sara Sastra
dasar dari Diksa;
4.5 Realita manusia 5.Siwa
Sudra; Sasana
4.6 Klesa katau dosa Oleh Gde
yang mengiringi Pudja
kelahiran manusia
4.7 Doktrin Ajaran
Siwaistik.
5.1 Diksa Sebagai dasar
keyakinan;
5.2 Diksa Sebagai
Tangga Menuju
Tuhan
5.3 Diksa Sebagai
Manifestasi Dharma

7

5.4 Diksa Sebagai 6. Brahmana
-Bauddha di
Institusi bersifat Bali
Oleh
Normal Hooykaas

IX UJIAN TENGAH SEMESTER 7. Kumpulan
X Weda Puja
A1,2,3,4,5 6.1 Penyucian Menuju Mampu memahami Active Memahami 2x50 Putra Siwa
XI- ,6,7,8 Penyelamatan Fungsi Diksa learning; Oleh Disbud
XII B1,3 peer fungsi menit Provinsi Bali
C1,2 6.2 Pengorbanan Mampu memahami teaching Rsi Sesana
XIII Menuju tujuan Diksa dalam methode diksa Catur Yuga
Persembahan Perspektif Sivaistik Oleh
Active Depdikbud
D1,2 6.3 Penebusan Menuju 1. Mampu memahami learning; Provinsi Bali
Pembebasan Konstruksi Diksa problem
sebagai institusi solving
A1,2,3,4,5 7.1 Diksa Menuju Alam Menganali 4x50
,6,7,8 Siva sis tujuan menit
B1,3
C1,2 7.2 Implementasi Ajaran diksa
D,2 Saiva Siddhanta
dalam Diksa

7.3 Implementasi ajaran

Astamurthi Siva 8.Rsi Sesana
Catur Yuga
7.4 Konstruksi Ka- Oleh
Depdikbud
Bhunjanggan Provinsi Bali

7.5 Konstruksi Ka-

Bhodaan

7.6 Konstruksi Ka-

Saivan 9.Wiku
Sesana dan
A1,2,3,4,5 8.1 Eksistensi Guru; Active Mengident 2x50 Dasar -dasar
,6,7,8 8.2 Komposisi Guru; learning; Pokok
B1,3 8.3 Kewajiban Guru peer ifikasi menit Ajaran
C1,2,3 8.4 Kualifikasi Sisya teaching Agama
methode diksa Hindu
Oleh Ketut
sebagai Pasek
Suastika
D1,2 institusi

10.Siwa
Buddha di
Bali Oleh IB
Putu
Suamba

XIV A1,2,3,4,5 9.1 Bentuk,fungsi, Mampu memahami Active Memahami 4x50
-XV ,6,7,8 makna dari Siwa komponen perangkap learning; bentuk, menit
B1,2,3 Upakarana (Siwa) pemujaan pandita peer fungsi dan
XVI C1,2 (Siwa, Baudha/bodha, teaching makna dari
9.2 Bentuk,fungsi, bhujangga waisnawa) methode; komponen
makna dari demonstr perangkat
asi pemujaan
Pasilakranan/Tarpar Sulinggih

ana (bodha)

9.3 Bentuk,fungsi,

makna dari

Siwakrana

(Bhujangga

upakarana)

UJIAN AKHIR SEMESTER

8

V. KRETERIA, INDIKATOR, DAN BOBOT):

A. Penilaian Proses (bobot 60 %):

1. Sikap (mengacu pada penjabaran deskripsi umum);
2. Partisipasi dan aktivitas dalam proses pembelajaran (perkuliahan, praktek

laboratorium, praktik, workshop);
3. Penyelesaian tugas-tugas.

B. Penilaian Produk (bobot 40 %):
1. Ujian Tengah Semester (UTS);
2. Ujian Akhir Semester (UAS).

Mengetahui: Denpasar, 14 September 2022
Ketua Jurusan/ Prodi Dosen Pengampu Mata Kuliah

Dr. I Nyoman Piartha, S.Ag., M.Fil.H Mery Ambarnuari, S.Ag., M.Ag
NIP. 19820914 201101 1 004 NIP. 19940329 202203 2 001

9

KONTRAK PERKULIAHAN

I. IDENTITAS MATA KULIAH:

Program Studi : Kepanditaan
Mata Kuliah : Dasar-Dasar Kepanditaan
Kode :
Semester :2
SKS :2
Prasayarat :-
Dosen Pengampu : Mery Ambarnuari, S.Ag., M.Ag

II. CP MATA KULIAH:

A. CP Sikap:

1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral,

dan etika;
3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan

kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta

rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat

atau temuan orisinal orang lain;
6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan

lingkungan;
7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;

dan
10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

B. CP Pengetahuan:

(1) Mampu menguasai konsep dasar, ruang lingkup, manfaat, dan tujuan mempelajari
Dasar-Dasar Kepanditaan

(2) Mampu merumuskan terminologi kepanditaan hal-hal yang melatarbelakangi adanya
Pandita, Fungsi Pandita dan eksitensi Pandita di dalam Masyarakat;

(3) Mampu menganalisis proses Diksa yang melahirkan Pandita serta hak, Kewajiban
dan peran Pandita

10

(4) Mampu mengetahui bentuk, fungsi dan makna dari komponen perangkat pemujaan
sulinggih.

C. CP Keterampilan Umum:

(1) Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas dan menganalisis data dengan
beragam metode yang sesuai, baik yang belum maupun yang sudah baku;

(2) Mampu menunjukkan kinerja bermutu dan terukur;
(3) Mampu memecahkan masalah pekerjaan dengan sifat dan konteks yang sesuai

dengan bidang keahlian, penerapannya didasarkan pada pemikiran logis, inovatif,
dan bertanggung jawab atas hasilnya secara mandiri;
(4) Mampu menyusun laporan hasil dan proses kerja secara akurat dan sahih serta
mengomunikasikannya secara efektif kepada pihak lain yang membutuhkan;
(5) Mampu bekerjasama, berkomunikasi, dan berinovasi dalam pekerjaannya;
(6) Mampu bertanggung jawab atas pencapaian hasil kerja kelompok dan melakukan
supervisi dan valuasi terhadap penyelesaian pekerjaan yang ditugaskan kepada
pekerja yang berada di bawah tanggung jawab; dan
(7) Mampu melakukan proses evaluasi diri terhadap kelompok kerja yang berada di
bawah tanggung jawabnya, dan mengelola pengembangan kompetensi kerja secara
mandiri;
(8) Mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengamankan, dan menemukan kembali
data untuk menjamin kesahihan dan mencegah plagiasi.

D. CP Keterampilan Khusus:

(1) Mahasiswa mampu menerapkan konsep dasar Kepanditaan dalam aktivitas
keberagamaan;

(2) Mahasiswa mampu menguasai dan menganalisis Instrumen Kepanditaan
(3) Mahasiswa mampu melakukan analisis dan mensinergikan praktek-praktek

Kepanditaan secara teks dan konteks dalam ranah kehidupan sosial di Bali

DESKRIPSI MATA KULIAH :

Mata Kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan menekankan pada kemampuan mahasiswa untuk
memahami konsep dasar Pandita atau Sulinggih, Proses Diksa serta Fungsi Pandita dalam
ritus keberagamaan Hindu di Bali. Adapun hal yang wajib dikuasai oleh Mahasiswa adalah
1. Mampu memahami Latar Belakang Diksa, 2. Mampu memahami pengertian Diksa, 3.
Mampu memahami Kapasitas Diksa, 4. Mampu memahami Fungsi Diksa, 5. Mampu
memahami tujuan diksa dalam perspektif sivaistik, 6. mampu memahai kontruksi diksa
sebagai institusi, 7. mampu menjelaskan dan menganalisis eksistensi pandita, 8. Mampu
mengetahui dan memahami bentuk, fungsi, dan makna dari komponen perangkat pemujaan
pandita (Siwa, Baudha/Bodha, bhujangga waisnawa).

11

III. METODA PEMBELAJARAN:
Metoda pembelajaran dalam mata kuliah ini menggunakan Active learning; peer teaching methode
ceramah dan diskusi, problem solving, serta demonstrasi.

IV. BAHAN BACAAN/ REFRENSI:
1. Agastia cs. 2001. Eksistensi Sadhaka dalam Agama Hindu. Denpasar: Manikgeni
2. Anandakusuma, Sri Reshi, 1986. Kamus Bahasa Bali. Denpasar: CV Kayumas Agung.
3. Dhyanashakti, Ananda T. 2001. Kriya Yoga. Jakarta: Gramedia.
4. Goris, R. 1986. Sekte-Sekte Di Bali. Denpasar: Bhratara.
5. Griffith. R.T.H. 2005. Samaveda Samhita. Surabaya: Paramira.
6. Griffith. R.T.H. 2005. Yajurveda Samhita. Surabaya: Paramira.
7. Hooykaas, C. 2019. Brahmana Bauddha di Bali. Denpasar: Udayana University press.
8. Hooykaas. 2002. Surya Sevana. Jalan Mencapai Tuhan dari Pandita untuk Pandita dan
Umat Hindu. Surabaya: Paramita.
9. Kajeng, I Nyoman. 1997. Sarasamuccaya. Surabaya: Paramita.
10. Mantra, Ida Bagus, Dkk. 2002. Ciwa-Buddha Puja di Indonesia. Denpasar: Yayasan
Dharma Sastra.
11. Maswinara, I Wayan. 1997. Bhagawad Gita (dalam Bahasa Inggris dan Indonesia).
Surabaya: Paramita.
12. Maswinara, I Wayan. 1999. Veda Sruti RG Veda Samhita (Sakala Sakha) Resensi Dari
Sakala Mandala I, II, II. Surabaya: Paramita.
13. Maswinara, I Wayan. 2004. Veda Sruti RG Veda Samhita (Sakala Sakha) Resensi Dari
Sakala Mandala IV, V, VI, VII Surabaya: Paramita.
14. Miartha, I Wayan. 2015. Diksanisasi (Teogenmeologis-Teoantropologis). Denpasar:
Yayasan Santha Yana Dharma MGPSSR.
15. Oka, I Gusti Agung. 1992. Slokantara. Jakarta: Hanuman Sakti.
16. Prabhakar, Machwe DKK. 2000. Kontribusi Hindu Terhadap Ilmu Pengetahuan dan
Peradaban. Denpasar: Widya Dharma.
17. Pudja, G dan Tjokorda Rai Sudharta. 1973. Manava Dharmasastra (Manu
Dharmasastra). Surabaya: Paramita.
18. Pudja, MA. 2013. Bhagawadgita (Pancama Weda). Surabaya: Paramita.
19. Puniyaatmadja, Ida Bagus Oka. 1967. Silakrama. Jakarta: Parisada Hindu Dharma Pusat.
20. Purwa Sidemen, Ida Bagus. 2019. Perangkat Pemujaan Sulinggih Saiwa, Baudha,
Bhujangga Waisnawa. Denpasar: UNHI Press.
21. Radhakrishnan. 2008. Upanisad-Upanisad Utama. Surabaya: Paramita.
22. Sastra & Sara. 2005. Pedoman Calon Pandita dan dharmaning Sulinggih. Surabaya:
Paramita.
23. Sayanacarya, Of Bhasya. 2005. Atharvaveda Samhita I. Surabaya: Paramita.
24. Soebadio, Haryati. 1985. Jnanasiddhanta. Yogyakarta: Djambatan.
25. Soebandi, Ketut. 1985. Berbakti Kepada Kawitan (Leluhur) adalah Paramo Dharmah.
Denpasar: Yayasan Adhi Sapta Kerthi.
26. Suhandana DKK. 2007. Diksa Pintu Menapaki Jalan Rohani. Surabaya: Paramita.
27. Suhardana. 2008. Dasar-Dasar Kesulinggihan Suatu Pengantar bagi Sisya Calon
Sulinggih. Surabaya: Paramita.
28. Sura, I Gede. 2002. Agastya Parwa Teks dan Terjemahan. Denpasar: Widya Dharma
UNHI.
29. Suratmini, DKK. 2002. Agama Hindu. Bandung: Ganesha.

12

30. Tim Penerjemah Kantor Dokumentasi Budaya Bali. 1994. Bhuwana Kosa Alih aksara dan
alih Bahasa. Denpasar: Upadasastra.

31. Titib, I Made. 1994. Pedoman Sembahyang Dan Tirtayatra Bagi Umat Hindu. Denpasar:
Upada Sastra.

32. Titib, I Made. 1996. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramita.
33. Titib, I Made. 2001. Teologi Dan Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya:

Paramita.
34. Wiana, I Ketut. 2001. Makna Upacara Yajna Dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.

V. TUGAS DAN KEWAJIBAN:
1. Anda diwajibkan untuk mengikuti test hasil belajar (UTS dan UAS) sesuai dengan jadwal.
2. Anda diwajibkan untuk membuat makalah/ meresume secara individual dan kelompok
dengan materi/tema yang akan ditentukan oleh dosen.
3. Anda diwajibkan mentaati ketentuan selama perkuliahan sebagai berikut :
a. Mengikuti perkuliahan dengan baik dan tertib (terlambat maks.15 menit);
b. Berpakaian dengan sopan dan tidak diperkenankan memakai kaos oblong dan sandal;
c. Dilarang berkomunikasi dengan HP di dalam kelas saat perkuliahan berlangsung dan
HP dimatikan atau di-set nada getar;
d. Setiap pelanggaran akan ketentuan tersebut akan diberikan sanksi berupa (1)
teguran, (2) peringatan, dan (3) tidak diperkenankan mengikuti kuliah pada saat
terjadi pelanggaran;
e. Jika ada hal yang mendesak (telepon) mahasiswa wajib minta ijin keluar;
f. Jika Dosen terlambat 20 menit tanpa pemberitahuan kepada mahasiswa, mahasiswa
boleh meninggalkan kelas;
g. Mahasiswa wajib hadir 75% dari jumlah jam tatap muka.

VI. PENILAIAN (KRITERIA, INDIKATOR, DAN BOBOT):

A. Penilaian Proses (bobot 60 %):
1. Sikap (mengacu pada penjabaran deskripsi umum);
2. Partisipasi dan aktivitas dalam proses pembelajaran (perkuliahan, praktek
laboratorium, praktek, workshop);
3. Penyelesaian tugas-tugas.

B. Penilaian Produk (bobot 40 %):
1. Ujian Tengah Semester;
2. Ujian Akhir Senester.

C. Acuan Penilaian:

1. Kisaran Skala Lima:

Skor Persentil Nilai Skala Nilai Huruf
85 – 100 4 A

13

70 – 84 3B
60 – 69 2C
40 – 59 1D
0 – 39 0E

VII. MATERI DAN JADWAL PERKULIAHAN:

Minggu/ Capaian Bahan Kajian/ Materi Pokok/ Rincian

Tatap Muka Pembelajaran Materi
ke…

12 3

I Pengantar perkuliahan dan kontrak kuliah

II-III A5,6,7,8 2.1 Pengertian Pandita/Sulinggih
IV-V B1 2.2 Ciri-Ciri, tugas dan kewajiban Sulinggih
C1 2.3 Konsep Tri Sadhaka
VI D2 2.4 Konsep Sarwa Sadhaka

A1,2,3,4,5,6,7,8 3.1 Jenis Pandita didasarkan pada Guna
B1,2,3 3.2 Jenis Pandita didasarkan pada
C2
D2 Kemelekatan;
3.3 Jenis Pandita didasarkan pada Swadharma;
A1,2,3,4,5,7,8 3.4 Jenis Pandita didasarkan pada Orientasi
B1,2,3 3.5 Hakikat Pandita
C1,3 3.6 Esensialitas Sang Sista
D2,3 4.1 Etimologi Diksa
4.2 Terminologi Diksa;
4.3 Ide Manusia Dewani/ Manusia Surgawi;
4.4 Ajaran Panca Sraddha sebagai dasar dari

Diksa;
4.5 Realita manusia Sudra;
4.6 Klesa atau dosa yang mengiringi kelahiran

manusia
4.7 Doktrin Ajaran Siwaistik.

VII-VIII A1,2,3,4,5,6,7,8 5.1 Diksa Sebagai dasar keyakinan;
B1,2,3 5.2 Diksa Sebagai Tangga Menuju Tuhan
C1,3 5.3 Diksa Sebagai Manifestasi Dharma
D2,3 5.4 Diksa Sebagai Institusi bersifat Normal

IX UTS (Ujian Tengah Semester)

14

X A1,2,3,4,5,6,7,8 6.1 Penyucian Menuju Penyelamatan
XI-XII B1,2,3 6.2 Pengorbanan Menuju Persembahan
C1,3 6.3 Penebusan Menuju Pembebasan
XIII D2,3
XIV-XV
A1,2,3,4,5,6,7,8 7.1 Diksa Menuju Alam Siva
XVI B1,2,3 7.2 Implementasi Ajaran Saiva Siddhanta
C1,2,3
D1,2,3 dalam Diksa
7.3 Implementasi ajaran Astamurthi Siva

7.4 Konstruksi Ka-Bhunjanggan

7.5 Konstruksi Ka-Bhodaan

7.6 Konstruksi Ka-Saivan

A1,2,3,4,5,6,7,8 8.1 Eksistensi Guru;

B1,2,3 8.2 Komposisi Guru;
C2 8.3 Kewajiban Guru

8.4 Kualifikasi Sisya

A1,2,3,4,5,6,7,8 9.1 Bentuk,fungsi, makna dari Siwa

B1,2,3 Upakarana (Siwa)
C1,2 9.2 Bentuk,fungsi, makna dari

Pasilakranan/Tarparana (bodha)

9.3 Bentuk,fungsi, makna dari Siwakrana

(Bhujangga upakarana)

UAS (UJIAN AKHIR SEMESTER)

Dosen Pengampu, Denpasar, ……………………
Kordinator Tingkat,

Mery Ambarnuari, S.Ag.,M.Ag. ………………...…….…………
NIP. 19940329 202203 2 001 NIM

15

PAKET 1

A. PENDAHULUAN
Perkuliahan pada pertemuan ini difokuskan pada kontrak kuliah dan pengenalan materi

mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan. Sebagai awal pertemuan, kontrak kuliah penting untuk
disepakati sebagai rambu-rambu pelaksanaan perkuliahan. Kontrak kuliah menjadi acuan dalam
penilaian dosen terhadap mahasiswa terutama terkait nilai sikap.

Mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan merupakan materi paling dasar yang wajib
dipelajari sebagai pondasi awal sebelum mempelajarai materi-materi terkait ajaran kepanditaan
lainnya. Pada pertemuan awal ini juga dilakukan pemaparan materi mata kuliah Dasar-Dasar
Kepanditaan secara umum dengan menjabarkan isi silabus dan RPS, sehingga mahasiswa memiliki
bayangan tentang materi yang akan mereka pelajari nantinya.

B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian pembelajaran:

A. CP Sikap

(1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
(2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral,

dan etika;
(3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan

kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
(4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta

rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
(5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat

atau temuan orisinal orang lain;
(6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan

lingkungan;
(7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
(8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;

dan
(10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

16

2. Materi pokok
a. Penjelasan tentang orang suci dalam agama Hindu, dari jenis dan bentuk hingga tingkat
upacara penyuciannya.
b. Pengenalan materi mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan; pengenalan kepanditaan Hindu
secara umum
c. Kontrak kuliah

3. Kemampuan akhir yang diharapkan
a. Memahami materi perkuliahan secara umum
b. Siap melanjutkan ke mata kuliah lanjutan

4. Pengalaman belajar
a. Berpikir kritis dan bermusyawarah mufakat

5. Waktu
2 x 50 menit

6. Kegiatan Perkuliahan
A. Kegiatan Awal (15 menit)
a. Menyiapkan fokus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembukaan, dilanjutkan dengan doa bersama
b. Melakukan absensi sekaligus perkenalan dosen dan mahasiswa
c. Menyampaikan tujuan pertemuan 1

B. Kegiatan Inti (70 menit)
a. Menyampaikan apersepsi
b. Menyampaikan silabus Wariga
c. Mendiskusikan kontrak kuliah

C. Kegiatan penutup (10 menit)
1. Menyimpulkan hasil kesepakatan kontrak kuliah
2. Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk mempersiapkan refrensi terkait materi
pokok perkuliahan.

D. Kegiatan Lanjutan (5menit)
a. Mempersiapkan pertemuan berikutnya

C. LEMBAR KEGIATAN
1. Tujuan
Mahasiswa dapat bermusyawarah dan bermufakat dalam menentukan aturan perkuliahan

17

2. Bahan dan Alat
Alat Tulis

3. Langkah Kegiatan
a. Dosen menyampaikan gambaran umum materi perkuliahan
b. Dosen dan mahasiswa berdiskusi mengenai tata tertib perkuliahan dan penilaian
c. Dosen dan mahasiswa membuat kesimpulan sebagai kesepakatan Bersama

D. URAIAN MATERI
Silabus dan RPS

E. LATIHAN DAN TUGAS
Mencari refrensi terkait mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan (Dharma Sasananing
Pandita)

18

PAKET 2

A. PENDAHULUAN
Materi pada paket 2 ini akan bahas dalam dua kali pertemuan. Perkuliahan pada pertemuan

ini difokuskan pada pemaparan tentang gambaran umum kepanditaan Hindu di Bali. Adapun hal-
hal yang akan dibahas pada pertemuan ini yaitu terkait dengan pengertian pandita atau sulinggih;
Ciri-Ciri Sulinggih; konsep Tri Sadhakan dan konsep sarwa Sadhaka. Materi ini akan
memudahkan mahasiswa untuk mengidentifikasi dan memahami Siapa itu Sulinggih, serta
bagaimana konsep dari keberadaan sulinggih di Bali kususnya dan Indonesia umumnya.

Penyampaian materi ini dibantu dengan presentasi power poin yang dibawakan oleh dosen
dengan harapan, mahasiswa dapat mengerti dengan lebih baik tentang gambaran umum
kepanditaan Hindu di Bali.

B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran

A. CP Sikap
(1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
(2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral,
dan etika;
(3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan
kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
(4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta
rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
(5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat
atau temuan orisinal orang lain;
(6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
(7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
(8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;
dan
(10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

B. CP Pengetahuan:
Mahasiswa menguasai konsep dasar kepanditaan, pengertian, ciri-ciri, serta konsep
kepanditaan Hindu

19

C. CP Keterampilan Umum:
Mahasiswa memahami konsep dasar kepanditaan Hindu di Bali

D. CP Keterampilan Khusus
Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis pengertian serta konsep kepanditaan
di Bali berdasarkan pada berbagai jenis sumber lontar ataupun kitab suci Hindu

1. Materi Pokok
a. Pengertian Pandita/Sulinggih
b. Ciri-Ciri Sulinggih
c. Konsep Tri Sadhaka
d. Konsep Sarwa Sadhaka

2. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan
a. Mahasiswa memahami pengertian Pandita/Sulinggih
b. Mahasiswa mengetahui ciri-ciri Sulinggih
c. Mahasiswa memahami konsep Tri Sadhaka
d. Mahasiswa memahami konsep Sarwa Sadhaka

3. Pengalaman Belajar
a. Memahami konsep awal Kepanditaan secara mendalam

4. Waktu
4 x 50 menit

5. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan awal (15 menit)
1. Menyiapkan fokus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembukaan, dilanjutkan dengan doa bersama
2. Melakukan absensi
3. Menyampaikan tujuan pertemuan 2
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1. Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2. Menyampaikan isu-isu terkait mengenaik pokok perkuliahan
3. Memandu diskusi seputar isu-isu terkait konsep tri sadhaka dan sarwa sadhaka
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1. Menyimpulkan materi perkuliahan

20

2. Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk memperbanyak sumber bacaan yang
terkait dengan mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan

d. Kegiatan lanjutan (5 menit)
1. Mempersiapkan pertemuan berikutnya

C. URAIAN MATERI

GAMBARAN UMUM KEPANDITAAN

1. Pengertian Pandita/ Sulinggih
Kata Pandita berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti terpelajar, sarjana, pengajar, guru,

khususnya orang yang mempelajari dan ahli di bidang spiritual; orang arif bijaksana, orang suci,
brahmana, wiku, rsi, pendeta. Dikenal pula dengan istilah Sadhaka yang berasal dari bahasa
Sanskerta yang berarti efektif, baik hasilnya, mempan, orang yang efisien atau pandai, khususnya
orang ahli, pemuja, orang yang melaksanakan praktik-praktik religi (sadhana) dan berusaha
mencapai kesempurnaan. Selain Pandita dan sadhaka, dikenal juga istilah Sulinggih, sebutan
Sulinggih merupakan sebutan yang paling popular dikalangan masyarakat Hindu khususnya di
Bali.

Kata Sulinggih berasal dari kata “su” dan “linggih”. Su artinya mulia atau utama dan
linggih berarti kedudukan, dengan demikian Sulinggih berarti orang yang mendapat kedudukan
yang mulia atau terhormat di masyarakat. Berdasarkan beberapa istilah beserta pengertiannya
tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Pandita adalah orang yang telah mampu menguasai
dirinya berdasarkan jnana agni. Jnana agni adalah kemampuan untuk menjadikan ilmu
pengetahuan suci Weda sebagai sumber penerangan jiwa sehingga awidya atau kebodohan
terhapuskan. Pengertian Pandita lebih ditekankan pada kedudukan sebagai guru kerohanian
membimbing masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya mencapai kebahagian rohani. Rsi
dan pandita sama-sama disebut seorang dwijati, artinya telah lahir untuk kedua kalinya dari rahim
Weda (Miartha, 2015).
Pustaka suci Bhagavadgita IV.19 menyatakan:

Yasyasarve samarambhab kamasamkalpa varjitah
Jnanagni dagdha karmanam tam ahuh panditam budhah

21

Terjemahan:
Orang yang melakukan pekerjaan tanpa pamrih, yang kegiatannya dibakar oleh api ilmu
pengetahuan dinamakan orang yang arif sebagai Pendeta Budiman (pudja MA, 2013)

Pustaka Suci Sarasamuccaya Sloka 500 menyatakan bahwa:
Jnanaveneva purusha sanyuktah paraya dhiya
Udayastamanajno hi na socati na hrsyati
Hana pwa tuturan mangkanang tattwa, yatika majnana ngaranya,
Yawat pwa ikang wwang majnana,
Tan raket ikang harga lawan prihati ri manahnya,
Ika ta sinanggah pandita ngaranira.

Terjemahannya:
Jika ada orang sadar akan keadaan yang hakiki itu, orang yang demikian itu dinamakan orang
yang Budiman; makin tinggi ilmu orang yang Budiman itu makin tidak dilekati kesenangan
dan kesedihan dlam pikirannya; orang yang demikian itu disebut pendeta. (kajeng, 2005)

Di masyarakat, Sulinggih tidak berstatus sebagai Walaka (Balaka artinya anak-anak), tetapi
sudah berubah status menjadi Sadhaka. Status ini diperoleh karena Sulinggih telah mengikuti
Upacara Diksa (mapudgala), dalam hal ini dikatakan bahwa beliau sudah madwijati atau terlahir
dua kali. Pertama lahir dari kandungan ibunya sendiri dan kedua lahir dari sulinggih yang menjadi
nabenya. Setelah mengikuti upacara diksa beliau sudah berubah nama atau diberi nama baru
(amari aran), merubah penampilan dan atribut (amari wesa) dan berubah aktivitas kehidupan
(amari wisaya). Perubahan ini menyebabkan adanya perubahan sikap, pandangan dan perilaku
masyarakat terhadapnya, sebagai pengakuan dan penghargaan terhadap kedudukan sulinggih yang
demikian mulia.

Karena kedudukan yang amat terhormat itu, maka sulinggih dibebaskan dari tugas dan
kewajiban social di masyarakat seperti ayahan desa atau banjar dan pekerjaan-pekerjaan lain yang
bersifat fisik. Sebagai sulinggih, beliau juga tidak terkena cuntaka dan juga tidak “nyuntakain”
atau menyebabkan orang lain cuntaka. Untuk menjaga dan meningkatkan kesucian dirinya, maka
sulinggih setiap hari wajib mlaksanakan pemujaan yang dinamakan Surya Sewana. Dalam hal ini
sulinggih mendoakan agar masyarakat dan alam semesta ini selalu dalam keadaan baik, aman
sejahtera, dan damai.

Disamping itu, sulinggih juga harus melaksanakan tapa, brata, yoga, samadhi dan harus
taat melaksanakan sasana dan dharmaning kawikon serta selalu menerapkan ajaran Dasa Dharma

22

Kepanditaan. Sulinggih harus benar-benar merupakan lambang kebenaran dan karena itu patut

menjadi penegak dharma di dunia. Hal ini karena kebenaran sudah menjiwai diri beliau. Semuai

ini menyebabkan sulinggih menjadi panutan dan titik pusat atau sentra taat keagamaan dan

aktivitas agama hindu.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai pengertian sulinggih, dibawah ini

disampaikan istilah-istilah yang mempunyai arti yang sama atau sepadan dengan kata Sulinggih

atau Sadhaka sebagaimana tercantum dalam Lontar Bhuwana Kosa, Lontar Widhisastra

Rogasanghara, Lontar Raja Purana, Kitab Babad Dalem, Kitab Dwijendra Tattwa, dan prasasti-

prasasti Bali (Agastya cs, 2001):

Lontar Bhuwana Kosa, sadhaka atau sulinggih itu dinamakan pula sebagai:

1. Resi; yang mencerminkan bahwa beliau berkewajiban memelihara sinar api suci dalam diri.
2. Yati; yang megingatkan tentang kewajibannya untuk mencapai keberhasilannya dalam

kehidupan rohaniah.
3. Wira; yang menyadarkan terhadap kewajiban untuk memelihara keteguhan iman.
4. Wiku; yang menunjukkan kewajibannya dalam memelihara kesucian hati, sehingga

senantiasa bersikap awas.
5. Widhwan; yang mengungkapkan bahwa ia memiliki wawasan luas dalam pengetahuan batin.
6. Yogi, mahayogi, yogiswara; yang mengemukakan bahwa beliau mampu menghubungkan

atman dengan paramaatman dalam usahanya untuk mencapai kelepasan.
7. Muni, mahamuni, muniswara; yang mengisyaratkan sebagai orang yang berkewajiban

menampilkan kehidupan saleh.
8. Pandita, mahapandita; yang mengungkapkan tentang kewajibannya untuk meningkatkan

penguasaan pengetahuan suci dalam kehidupan.
9. Dwijendra, dwijarajendra; yang mengisyaratkan bahwa beliau berkedudukan terhormat

karena kelahirannya dilengkapi dengan pengetahuan suci.
10. Sadhaka; yang mencerminkan bahwa beliau adalah orang yang berkewajiban melaksanakan

“sadhana” dalam menjalani kehidupan
11. Tattwawit yang mengisyaratkan bahwa beliau memiliki kewajiban untuk menguasai segala

macam tattwa.

Lontar Widhi Sastra Rogasanghara ada dua istilah yang dinyatakan mempunyai arti yang sama

dengan sadhaka atau sulinggih, yaitu:

1. Bhujangga yang mencerminkan kewajibannya sebagai pemuja Anantabhoga melalui sapta
patala di wilayah soring haribhawana.

2. Brahmiana yang mencerminkan kewajibannya sebagai pemuja brahman melalui sapta loka
di wilayah luhuring akasa.

Lontar Raja Purana ditemukan adanya istilah-istilah yang mempunyai arti sama dengan Sadhaka

atau Sulinggih, yakni:

23

1. Siwa yang mengisyaratkan bahwa Sadhaka atau Sulinggih itu adalah pemuja Siwa.
2. Bodha yang mengisyaratkan bahwa Sadhaka atau Sulinggih itu adalah pemuja Buda.
3. Sengguhu sebagai Sadhaka atau Sulinggih yang menjalankan kewajibannya membina

masyarakat.
4. Dukuh yang menekankan pada kehidupan yang cenderung kepada kesunyataan.
5. Resi Sewa Sogata yang menunjuk kepada kelompok Sulinggih atau Sadhaka dałam

"kesatuan tiga” yang populer dengan sebutan Tri Sadhaka.

Kitab Babad Dałem ditemukan juga istilah lain yang mempunyai pengertian yang sama dengan
Sadhaka atau Sulinggih, yaitu:

1. Pandya adalah Sadhaka atau Sulinggih yang menguasai pengetahuan kerokhanian yang
baik,

2. Mpu yang menekankan kedudukannya sebagai pengemban masyarakat.
3. Dang Hyang adalah Sadhaka atau Sulinggih dengan kedudukan yang terhormat berkat

penguasaannya dałam pengetahuan kerohanian yang tinggi

Dua istilah Iain yang mempunyai pengertian sama dengan Sulinggih atau Sadhaka, ditemukan pula
dalam Kitab Dwijendra Tattwa, yakni:

1. Pedanda adalah Sulinggih yang menggunakan tongkat, baik dalam pengertian sekala
(Sulinggih yang memakai tongkat) maupun dalam pengertian niskala (Sulinggih yang
bertongkatkan sastra). Perlu diketahui bahwa danda artinya tongkat.

2. Bhagawan adalah Sulinggih yang mampu mencapai kebahagiaan berkat penguasaan
pengetahuan kerokhanian yang tinggi.

Prasasti-Prasasti tua di Bali ditemukan juga istilah Iain untuk Sulinggih dimaksud, seperti
Bhiksu dan Mpu. Istilah Mpu terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok Kasaiwan dengan gelar
kehormatan Dang Acarya dan kelompok Kasogatan dengan gelar Dang Upadhayaya.
Demikianlah maka padanan kata Sulinggih itu ternyata banyak sekali. Meskipun padanan katanya
banyak, namun dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Sulinggih dapat diartikan sebagai
orang yang melaksanakan praktek-praktek religi atau sadhana dan berusaha mencapai
kesempurnaan. Sulinggih adalah orang yang "dituakan" berdasarkan "jnana" atau ilmu
pengetahuan yang dimilikinya dan bukan karena penampilan lahiriahnya, bukan juga berdasarkan
asal usul keturunannya. Dituakan dalam hal ini bukan karena usianya sudah lanjut, bukan karena
kumisnya panjang, bukan karena rambutnya gundul dan bukan juga karena keturunan bangsawan
Sebagaimana ditegaskan dalam Kitab Buwana Kosa V1.2 yang berbunyi sebagai berikut (Tim
Penerjemah, 1994: 81):

24

Tenajnane naheskanda, wreddha wredcla tara smretah, na clirggha na subhih kesa, na
swetam rupa jatibhih. Sangsiptan ika sang widhwan, saprayatna ring Sang Hyang
Sidclhantajnana sira, sira ta matuha temen , apan matuha deningjnana nira, mangkananaku
Sang Kumara, tan ikang madawa kumisnya tan ikang atisaya tuhanya, tan ikang madawa
rambutnya, tan ikang maparas alengis kesanya, tan ikang wwang aruhurjatinya, ikang
matuha, nga.

Artinya
Jelasnya para Sulinggih, orang yang memahami ajaran Siddhanta, Iltereka itu baru
sesungguhnya dikatakan tua, sebab tua karena ibnu pengetahuan. Demikianlah anakku Sang
Kumara. Bukan orangyang kuntisnya panjang, bukan orang yang tua renta, bukan orang
yang berantbut partjang, bukan orang yang rambutltya digundul bersih, bukan karena
keturunan bangsawan dikatakan tua.
Untuk menjelaskan betapa pentingnya arti, fungsi dan peranan Sulinggih atau Sadhaka
dalam masyarakat, maka Lontar Surya Sewana, menjelaskan bahwa Sadhaka itu pun
diberikan perumpanaan sebagai Raja, sebagai Tukang Cuci, sebagai Pedagang Kapur,
sebagai Tukang Gambar, bahkan sebagai Prajurit, sebagaimana ternyata dari uraian dibawah
ini (Agastia cs. 2001).

Diumpamakan sebagai Raja karena seorang Sulinggih itu harus memiliki tiga kemampuan
seperti halnya seorang Raja, yaitu penguasaan terhadap segala macam pengetahuan, kemampuan
dalam bersabar serta tahan uji terhadap suka maupun duka dan kemampuan untuk hidup dalam
kesunyian. Diandaikan sebagai Tukang Cuci sebab seorang Sulinggih harus mampu
menanggalkan segala macam kekotoran hati, sehingga tersisihkan segala macam penghalang bagi
tercapainya tujuan kelepasan. Diumpamakan sebagai Pedagang Kapur, sebab seorang Sulinggih
harus dapat menyatu dengan warna yang putih bersih, sebab hati yang putih bersih dapat
merupakan tali pengarah menuju sorga dan moksa, sedangkan kesadaran yang putih bersih akan
mendorong tercapainya keberhasilan dalam kesunyataan. Diibaratkan sebagai Tukang Gambar,
karena seorang Sulinggih harus mampu rncmelihara keputihan hatinya, karen; kesadaran yang
putih bersih mcrupakan sarana baginya menujl kelepasan. Diumpamakan scbagai Prajurit, karcna
seorang Sulinggih harus dapat mcnundukkan semua musuh yang ada dalam dirinya. Musuh-musuh
itu ada enam belas banyaknya dan ini terdapat pada mulut, tangan, kaki, dubur, kelamin, kemudian
pada kulit (sebagai perasa), lidah, hidung, dan telinga, selanjutnya pada keinginan, kemarahan,
kebingungan, kemabukan, kedengkian dan kekejaman. Setelah ke enam belas musuh itu dapat
dilenyapkan, maka timbullah kesenyapan dalam hati yang dapat menimbulkan adanya
keberhasilan dan kebahagiaan.

25

2. Ciri-ciri, tuhas dan kewajiban Sulinggih :
A. Ciri-Ciri Sulinggih.

Sebagai panutan masyarakat, seorang Sulinggih dapat dikenal dari ciri-ciri umum yang
dimilikinya yakni:
a. Ksama (pemaaf).
b. Mudita (berbudi tenang).
c. Santosa (sabar).
d. Upeksa ( toleran).
e. Mardawa (lemah lembut).
f. Sastrajna (berpengetahuan suci).
g.Wuwus nira amerta (ucapannya bagaikan air kehidupan).

Menurut Kitab Sarasamuccaya Sloka 40 (Agastia, 2001). Sulinggih dinyatakan sebagai
mempunyai empat ciri, yaitu:

1. Sulinggih selalu berbicara tentang kebenaran
2. Sulinggih adalah orang yang dapat dipercaya. Hal ini tentu ada kaitannya dengan butir a

diatas. Karena beliau selalu berbicara tentang kebenaran dan karena beliau sudah dikenal
sebagai orang yang jujur, maka beliau tentu dapat dipercaya.
3. sulinggih merupakan tempat untuk mohon penyucian diri. Tirta yang dibuat oleh Sulinggih
dapat menuntun masyarakat secara spiritual untuk dapat hidup suci dan terhindar dari
perbuatan tercela.
4. Sulinggih juga dikenal sebagai Adi Guru Loka yang memberikan pendidikan moral dan
kesusilaan kepada masyarakat, agar semua warga masyarakat dapat hidup harmonis dengan
moral yang luhur.
Keempat ciri Sulinggih itu sebenarnyalah merupakan Swadharma yang sangat berat baginya.
Karena itu warga masyarakat patut menjaga kesucian para Sulinggih. Disamping itu para Sulinggih
sendiri pun wajib menjaga kesucian dirinya, jangan sampai memberi kesempatan kepada orang
yang tidak bertanggung jawab untuk meremehkan kesucian dirinya.
Dari segi perilakunya, maka ciri-ciri Sulinggih itu dapat juga dipelajari dalam Kitab
Sarasamuccaya yang sama isinya dengan Kitab Manawa Dharmasastra, yaitu bahwa seorang
Sulinggih harus mampu melaksanakan 12 jenis brata. Ke dua belas jenis berata itu adalah:
1. Dharma (patuh pada aturan)
2. Satya (jujur)
3. Tapa (pengendalian diri)
4. Dama (tenang dan sabar)

26

5. Wimatsaritwa (tidak irihati)
6. Hrih (punya rasa malu)
7. Titiksa (tidak mudah marah)
8. Anasuya (tak melakukan dosa)
9. Yadnya (suka berkurban)
10. Dana (suka berderma)
11. Dhrti (suci pikiran)
12. Ksama (pemaaf)
Masalah ini dijelaskan lebih jauh dalam Bab Tentang Sikap dan Perilaku Sulinggih.

Dalam kehidupan sehari-hari seorang Sulinggih harus melaksanakan ajaran tentang norma

susila (sasana) atau perilaku sebagaimana ditentukan dalam Silakrama yang mengatur mana yang

boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Sulinggih (Suratmini, 2002), meliputi ajaran mengenai:

a. Yama Brata.
b. Niyałna Brata.
c. Dasa Dharma.
d. Catur Paramita dan
e. Tri Raya Parisuda.

Agar dapat dipandang terus sebagai panutan masyarakat, maka Sulinggih bukan saja

harus teguh mengikuti dan melaksanakan ajaran kebenaran dan ajaran-ajaran termaksud diatas,

tetapi juga tidak diperkenankan melanggar berbagai larangan, seperti tidak boleh ingkarjanji,

tidak boleh berbohong dan lain-lain sesuai sasana kawikon.

B. Tugas dan Kewajiban Sulinggih:

1. Mempergunakan nama baru (amari aran) atau mabhiseka pada saat upacara diksa.

2. Menggunakan pakaian Sulinggih (amari wesya);

3. Berprilaku sebagai sulinggih (amari wisaya)

4. Kewajiban dharmaning kawikon ((arcana: memuja atau ngarcana Ida Sang Hyang

Widhi Wasa saat melakukan surya sewana), (adhyaya: tekun belajar dan mendalami

Weda, Tattwa, dan Tutur-Tutur), (adhyapaka: suka mengajarkan tentang kesucian,

kerohanian, dan keagamaan), (swadhyaya: rajin belajar sendiri, mengulangi pelajaran,

terutama yang diberikan oleh guru nabe), (dhyana: meditasi untuk merenungkan

kebesaran Ida Sang Hyang Widhi)); memimpin umat dalam hidup dan kehidupannya

untuk mewujudkan kesejahteraan lahir bathin; melakukan pemujaan untuk

menyelesaikan upacara yadnya; dalam menyelesaikan upacara yadnya harus

berdasarkan sastra; membimbing para pinandita/pemangku; aktif mengikuti parum

dalam rangka penyelesaian dan pemantapan ajaran agama sesuai dengan perkembangan

27

masyarakat; serta memberikan bimbingan Upadesa melalui dharma wacana, dharma

tula, dll.

5. Tugas Lokapalasraya (Bertindak sebagai sandaran umat yaitu sebagai tempat

berlindung dan tempat bertanya)

6. Tugas dan Kewajiban sebagai Guru Loka/ Dang Acarya yang artinya gurunya

masyarakat.

3. Konsep Tri Sadhaka:

Tri sadhaka adalah pandita/pendeta yang tergabung dalam konsep Siwa Siddhanta serta
memiliki tugas “mapahayu” membersihkan jagat raya ini. Konsep Siwaistis ini disebut juga Sang

Trini, yaitu konsep Siwa yang terdiri atas tiga unsur yaitu Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa.

Ketiga golongan pandita dalam konsep Sang Trini ini terdiri atas

(1) unsur Siwa, kemudian disebut Sang Brahmana Siwa,

(2) unsur Sada Siwa, kemudian disebut Sang Boddha, dan

(3)unsur Parama Siwa, kemudian disebut Sang Bhujangga (Sastra, 2005).

Keberadaan Pandita Siwa, Boddha, dan Bhujangga dalam Sang Trini (tri sadhaka) sudah

dilakoni sejak dahulu. Hal ini disebutkan juga dalam Bhuwana Tatwa Maha Rsi Markandheya

sebagai berikut.
“……..mangke titanen Ida Bhujangga Alit Adiharsa, maring Gelgel, sira ta satata amuja
amrayastaning jagat. Yang pirang kulem wekasan, hana tumurun Ida Boddha ke Bali, saha sregep
angawa sanjata, lwirnya, brahma-anglayang, campur-talo, siwa mandala, kusuma-dewa, widhi
papincatan, sarwa-dresti, agama, dewa-gama, mwang adi-gama. Sira sang Brahmana Siwa putus,
putran sira Pranda Wawu Rawuh, mwah Rsi Bhujangga Alit Adiharsa, agemrasa ring Gelgel, sira
sinangeh Sang Trini, lwirnya : Siwa, Sada Siwa, mwang Parama Siwa……..”

Artinya:
“…….disebutkanlah keberadaan Ida Bhujangga Alit Adiharsa, yang berada di Gelgel, beliau
selalu melaksanakan pemujaan untuk membersihkan dunia ini, tak beberapa lama disebutlah
kedatangan Ida Boddha ke Bali, dengan membawa kelengkapan senjata pemujaan, seperti Brahma
Anglayang, Campur talo, Siwa-mandala, Kusuma-dewa, Widhi-papincatan, Sarwa-dresti,
Agama, Dewa-gama, dan Adi-gama. Ida Sang Brahmana Siwa anak Ida Pedanda Wawu Rawuh
serta Ida Rsi Bhujangga Alit Adiharsa, bersama-sama mengabdi di Puri Gelgel, beliau disebut
Sang Trini, terdiri atas Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa……”

Sadhaka berarti orang yang mampu melakukan sadhana. Sadhana berarti realisasi atau

mewujudkan. Siapa saja yang mampu merealisas. Orang yang sudah mampu merealisasikan

kebenaran Weda dalam hidupnya ini yang semestinya menjadi pandita yang disahkan melalui

28

suatu upacara dwijati (Titib, 1996). Lebih lanjut dijelaskan oleh Titib dkk. bahwa kata sadhaka
(bahasa Sanskerta) berarti efektif, baik hasilnya, mempan, orang yang efisien atau pandai,
khususnya orang ahli, pemuja, orang yang melaksanakan praktik-praktik religi (sadhana) dan
berusaha mencapai kesempurnaan. Di dalam Siwa Sasana (1b) dituliskan sebagai berikut.
“…..nihan sanghyang Siwa Sasana kayatnakna, de sang watek sadhaka makabehan, sahananira
para dhanga cariya saiwa paksa, lwir nira, saiwa siddhanta, wesnawa, pasupata, lepaka, canaka,
ratnahara, sambu, nahan lwir nira sang sadhaka saiwa paksa, pramuka sira dhangacarya wrddha
pandita, sri guru pata, dhangupadhyaya pita maha, prapita maha, bhagawanta, nahan lwir nira
kabeh, yatika kapwa kumayatnakna mrihakmitana sanghyang agama Siwa Sasana, maka don
karaksaning kathujangganira, mwang kawinayanira, pagehaning karmmanira, cela nira, mwang
kasudharmanira, nguwineh teguhaning tapa brata nira, ri tan hananing wimarga hamanasara
sakeng sanghyang kathujangan, nahan hetu sanghyang agama Siwa Sasana winakta de sang
purwwasarira wrddha pinandita, ndan lwir ra sang sadhaka dhangacarya sang yogya pinaka
pagurwan, mwang tan yukti pina-….

Uraian tersebut menjelaskan pengertian sadhaka, yaitu pandita, baik Pandita
Saiwasiddhanta, Waisnawa, Pasupata, Lepaka, Canaka, Ratnahara, maupun Sambu, merupakan
istilah-istilah yang dipakai untuk sekte-sekte dalam mazhab Siwa.
Adapun bidang tugas dari Tri Sadhaka yaitu:

1. Sulinggih Siwa berwenang untuk menghaturkan yajna dengan pesaksi Sanggar Surya guna
menyucikan alam atas dan menurunkan kekuatan Tuhan

2. Sulinggih budha berwenang untuk menghaturkan yajna guna menyucikan alam tengah yang
mempertemukan kekuatan suci Tuhan dengan kekuatan bhuta kala yang telah di somia

3. Sulinggih bhujangga berwenang untuk menghaturkan yajna guna membersihkan alam
bawah yakni untuk nyupat bhuta kala sehingga menjadi somia.

4. Konsep Sarwa Sadhaka:
Menurut I Ketut Wiana (Agastya cs, 2001) istilah Sarwa Sadhaka muncul sejak Upacara

Panca Walikrama di Pura Besakih tajun 1999. Istilah ini timbul ketika panitia Karya ngotot
menggunakan Bhujangga diikut sertakan semata-mata sebagai pelengkap. Istilah itu timbul bukan
dengan maksud agar upacara itu dipimpin secara beramai-ramai oleh Sulinggih dari semua
wangsa. Upacara selayaknya dipimpin oleh sulinggih dari wangsa manapun karena semuanya
memiliki hak dan wewenang yang sama. Untuk menghapuskan sistem kewangsaan dalam
menentukan sulinggih pemuput harus diawali dengan menggunakan konsep rohani, dimana

29

sulinggih itu tidak ditentukan dengan melihat asal wangsanya. Sejak zaman dahulu sulinggih
pemuput selalu dimonopoli oleh wangsa tertentu, maka sekarang berikanlah kesempatan kepada
wangsa lain untuk berpartisipasi. Maksudnya adalah agar umat tidak membeda-bedakan sulinggih
dari sudut pandang kewangsaannya, selain itu untuk menghilangkan monopoli dari wangsa
tertentu yang dapat merusak persatuan dan kesatuan umat Hindu.

Adanya sulinggih dari berbagai golongan diluar wangsa Brahmana, maka konsep Tri
Sadhaka mulai direkontruksi sehingga yang tergolong dalam tri sadhaka tidak hanya sulinggih
dari wangsa Brahmana. Istilah Sarwa Sadhaka digunakan untuk menyebutkan sulinggih dari
berbagai wangsa baik yang bergelar Pedanda, Pandita, Pendeta, Resi, Bhagawan, Empu,
Sengguhu, Dukuh, dan lain-lain. Gelar Pedanda digunakan oleh wangsa Brahmana, Rsi dan
Bhagawan adalah gelar sulinggih dari wangsa Ksatria, Empu merupakan sulinggih dari wangsa
Pasek dan Pande, Sengguhu adalah gelar sulinggih yang ahli dalam muput upacara Bhuta Yajna,
sedangkan dukuh merupakan gelar sulinggih yang umumnya berasal dari warga Bali Mula.
Dengan konsep sarwa sadhaka, Semua sulinggih dari manapun asalnya mempunyai hak dak
wewenang yang sama untuk muput karya.

5. RANGKUMAN

Pandita adalah orang yang telah mampu menguasai dirinya berdasarkan jnana agni.
Sulinggih berarti orang yang mendapat kedudukan yang mulia atau terhormat di masyarakat.
Pengertian Pandita/Sulinggih lebih ditekankan pada kedudukan sebagai guru kerohanian
membimbing masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya mencapai kebahagian rohani. Rsi
dan pandita sama-sama disebut seorang dwijati, artinya telah lahir untuk kedua kalinya dari rahim
Weda.

Sulinggih dapat dikenal dari ciri-ciri umum yang dimilikinya yakni: Ksama (pemaaf),
Mudita (berbudi tenang), Santosa (sabar), Upeksa (toleran), Mardawa (lemah lembut), Sastrajna
(berpengetahuan suci), Wuwus nira amerta (ucapannya bagaikan air kehidupan). Menurut
Sarasamuccaya terdapat empat ciri sulinggih yakni: Sulinggih selalu berbicara tentang kebenaran;
Sulinggih adalah orang yang dapat dipercaya; Sulinggih merupakan tempat untuk mohon
penyucian diri; Sulinggih juga dikenal sebagai Adi Guru Loka yang memberikan pendidikan moral
dan kesusilaan kepada masyarakat, agar semua warga masyarakat dapat hidup harmonis dengan
moral yang luhur.

30

Tri sadhaka adalah pandita/pendeta yang tergabung dalam konsep Siwa Siddhanta serta
memiliki tugas “mapahayu” membersihkan jagat raya ini. Konsep Siwaistis ini disebut juga Sang
Trini, yaitu konsep Siwa yang terdiri atas tiga unsur yaitu Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa.
Ketiga golongan pandita dalam konsep Sang Trini ini terdiri atas (1) unsur Siwa, kemudian disebut
Sang Brahmana Siwa; (2) unsur Sada Siwa, kemudian disebut Sang Boddha, dan (3)unsur Parama
Siwa, kemudian disebut Sang Bhujangga.

Adanya sulinggih dari berbagai golongan diluar wangsa Brahmana, maka konsep Tri
Sadhaka mulai direkontruksi sehingga yang tergolong dalam tri sadhaka tidak hanya sulinggih dari
wangsa Brahmana. Istilah Sarwa Sadhaka digunakan untuk menyebutkan sulinggih dari berbagai
wangsa baik yang bergelar Pedanda, Pandita, Pendeta, Resi, Bhagawan, Empu, Sengguhu, Dukuh,
dan lain-lain. Dengan konsep sarwa sadhaka, Semua sulinggih dari manapun asalnya mempunyai
hak dak wewenang yang sama untuk muput karya.

31

PAKET 3

A. PENDAHULUAN
Perkuliahan pada pertemuan ini difokuskan pada pemaparan tentang eksistensi pandita.

Adapun hal-hal yang akan dibahas pada pertemuan ini yaitu: Jenis Pandita didasarkan pada Guna;
jenis pandita didasarkan pada Kemelekatan; Jenis Pandita didasarkan pada Swadharma; Jenis
Pandita didasarkan pada Orientasi; Hakikat Pandita; serta Esensialitas Sang Sista.

Penyampaian materi ini dibantu dengan presentasi power poin yang dibawakan oleh dosen
dengan harapan, mahasiswa dapat mengerti dengan lebih baik terkait eksistensi pandita.
Dikombinasikan juga dengan tanya jawab kepada mahasiswa terkait pemahaman yang telah
mereka dapatkan selama beberapa kali pertemuan sebelumnya.

B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran

A. CP Sikap
(1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
(2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan
etika;
(3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan
kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
(4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta
rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
(5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat
atau temuan orisinal orang lain;
(6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
(7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
(8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;
dan
(10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

B. CP Pengetahuan:
Mahasiswa memahami eksistensi pandita yaitu: jenis pandita didasakan pada guna,
kemelekatan, swadharma, serta orientasi; hakikat pandita; serta esensialitas sang sista.

C. CP Keterampilan Umum:

32

Mahasiswa memahami eksistensi pandita sesuai dengan materi yang diberikan
D. CP Keterampilan Khusus

Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis eksistensi pandita.
2. Materi Pokok

a. Jenis pandita didasarkan pada guna
b. Jenis pandita didasarkan pada kemelekatan
c. Jenis pandita didasarkan pada swadharma
d. Jenis pandita didasarkan pada orientasi
e. Hakikat Pandita
f. Esensialitas Sang Sista
3. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan
a. Mahasiswa memahami jenis pandita berdasarkan pada gunanya
b. Mahasiswa memahami jenis pandita berdasarkan pada kemelekatannya
c. Mahasiswa memahami jenis pandita berdasarkan pada swadharmanya
d. Mahasiswa memahami jenis pandita berdasarkan pada orientasinya
e. Mahasiswa memahami hakikat pandita
f. Mahasiswa memahami esensialitas sang sista
4. Pengalaman Belajar
a. Memahami eksistensi pandita
5. Waktu
4 x 50 menit
6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan awal (15 menit)

1. Menyiapkan fokus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembukaan, dilanjutkan dengan doa bersama

2. Melakukan absensi
3. Menyampaikan tujuan pertemuan 2
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1. Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2. Menyampaikan isu-isu terkait mengenai pokok perkuliahan yaitu menganalisis

eksistensi pandita
3. Memandu diskusi seputar isu-isu terkait eksistensi pandita

33

c. Kegiatan penutup (10 menit)
1. Menyimpulkan materi perkuliahan
2. Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk memperbanyak sumber bacaan yang
terkait dengan mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan (Dharma Sasananing Pandita)

d. Kegiatan lanjutan (5 menit)
1. Mempersiapkan pertemuan berikutnya

C. URAIAN MATERI

EKSISTENSI PANDITA

Istilah Pandita merupakan gelar yang diberikan kepada umat Hindu yang telah
melaksanakan diksa dwijati, lahir untuk kedua kalinya. Pertama lahir dari kandungan ibu, sebagai
kelahiran fisik, yang kedua lahir dari Guru Nabe sebagai kelahiran di dunia rohani. Mengenai
istilah pandita ini ternyata memiliki varian yang beraneka ragam, khusus di Bali disesuaikan
dengan wamsanya. Ada yang memakai gelar: Mpu, Pedanda, Rsi, Bhagawan, Dukuh dan
sebagainya. Selain itu dikenal pula istilah; Sulinggih, Wiku, Dwijati, Diksita dan Sadhaka.

Untuk membuka tabir tentang konsep Pandita ini, kitab suci Bhagawadgita IV. 19
menyatakan sebagai berikut;

“Yasya sarwe samarambhah, karma samkalpa warjitah
Jnana agni dagdha karmanam, tam ahuh panditambuddhah.”

Artinya:
Ia yang melakukan pekerjaan tanpa pamrih, yang kegiatannya dibakar oleh api ilmu
pengetahuan dinamakan sebagai Pandita yang telah mencapai pencerahaan.

Kemudian dalam Mahabharata bagian wanaparwa sloka 108 dijelas, bahwa seseorang
dikatakan sebagai dwijati atau pandita terletak pada perbuatannya,

“Nayonir napi samskara, nasrutam naca santatih Karanani
dwijatwasya, wrttam ewa tukaranam.”

Artinya;

34

Bukan karena keturunan, bukan karena upacara semata, bukan pulakarena mempelajari
weda semata, bukan pula karena jabatan yang menyebabkan seseorang disebut dwijati.
Hanya karenaperbuatannyalah seseorang dapat disebut sebagai dwijati.

Lebih lanjut kitab Saramuccaya 500 menyatakan bahwa yang dinyatakan sebagai Pandita adalah
orang yang telah sadar akan keadaan yang hakiki.

“Hana pwa tuturan mangkanang tattwa, yatika majnana ngaranyayawat pwa ikang
wwang majnana, tan raket ikang harsa lawan prihati ri manahnya, ika ta sinanggah
pandita ngaranya.”
Artinya :
Jika ada orang yang sadar akan keadaan yang hakiki itu, orangyang demikian itu
dinamai orang yang budiman, makin tinggi ilmu orang yang budiman itu makin tidak
dilekati kesenangan dan kesedihan dalam pikirannya, orang yang demikian itulah
disebut pandita.

Dengan merujuk sumber sastra di atas bahwa seorang Pandita merupakan entitas atau
kesatuan yang mewujud dalam tattwa, jnana dan karma sebagai sebuah hierofani/penampakan
dewani, teofani/manusia dewani sekaligus aksismundi yaitu sebagai pusat cosmos memohon
petunjuk demi keselamatan jagat. Untuk itu struktur dan kontruksinya benar - benar dibangun
dengan cara - cara yang suci melalui pelembagaan tattwa, jnana dan karma.

Namun demikian dalam realita tidak dapat dihindari terjadinya pembiasan maupun
penyimpangan terhadap entitas mengenai kepanditaan ini. Akibatnya akan banyak ditemukan
kualifikasi pandita berdasarkan guna, swadharmanya/profesinya, serta orientasi hidup maupun
kadar keterikatan terhadap materi.

BERDASARKAN GUNA
Berdasarkan kandungan tri guna, pandita dibedakan menjadi tiga katagori, yakni;

1). Pandita Sattwika, yakni pandita yang memiliki kadar guna sattwam yang dominan ,

sehingga guna ini terpancar sebagai sifat yang tenang, seimbang, harmoni serta penuh
kesucian.

2). Pandita Rajasika, yakni pandita yang memiliki kadar guna rajas yang dominan, sehingga

penuh aktivitas, bergerak lincah, dinamis selalu aktif dan tidak senang berdiam diri.

3). Pandita Tamasika adalah pandita yang memiliki kadar tamas yang menonjol dengan ciri-

ciri; lamban, kurang bergairah, malas, suka tidur, kurang gerak dan pribadinya kurang
seimbang.

35

BERDASARKAN KADAR KEMELEKATAN.

Jika ditinjau dari kadar keterikatan dengan keduniawian, maka pandita itu dapat dibedakan
sebagai berikut;

1). Deha Pandita adalah pandita yang hanya penampilan luar secara fisik saja terlihat seperti

pandita, belum memiliki jiwa yang mantap sera kesadaran batin masih berorientasi pada
kemewahan duniawi.

2). Mano Pandita adalah pandita yang telah melembagakan tattwajnana dalam hidup serta

memberi tuntunan kepada umat, tidak terikat lagi pada kemewahan duniawi, tenang dan
penuh kesabaran melayani umat.

3). Atma Pandita adalah pandita yang benar-benar telah melepaskan diri dari kehidupan

duniawi, dengan menyadari sepenuhnya diri ini bukan badan melainkan atman yang sama
dengan Tuhan seperti kehidupan parasadhu dan nagababa di India, lepas dari ikatan
keluarga.

BERDASARKAN SWADHARMA

Ditinjau dari ruang lingkup swadharmanya, maka pandita dapat dibedakan menjadi tiga
sebagai berikut:

1). Pandita Ngeraga, adalah sulinggih yang kegiatannya untuk menyucian diri semata tidak

melayani umat dalam bentuk ngeloka palasraya.

2). Pandita Lokapalasraya, merupakan sulinggih yang memiliki tujuan penyucian diri juga

melayani umat untuk menyelesaikan upacara,serta menjadi sandaran bagi umat.

3). Pandita Acharya adalah sulinggih selain meningkatkan kesucian diri, juga muput upacara,

sekaligus memberikan pencerahan, bimbingan dan tuntunan kepada masyarakat.

BERDASARKAN ORIENTASI MENJADI PANDITA.
Naskah Purbhasomi, Rsi Sasana Caturyuga, Wasista Tattwa menjabarkan bahwa ada 12

jenis pandita atau wiku berdasarkan profesi dan tujuan/orientasi menjadi pandita; Berdasarkan
naskah Purbasomi atau Catur Yuga di atas, 8 jenis Pandita tersebut dinyatakan sebagai Pandita
yang mempunyai prilaku yang dianggap cacat. Oleh sebab itu patut dihindari oleh orang-orang

36

yang telah didiksa dwijati pudgala menjadi Pandita, karena tidak dibenarkan menjadi

patirthaning sarat.

1). Wiku Panjer atau Wiku Panjer, adalah pandita yang melakukan layanan siang malam

dengan orientasi dana dan daksina, banyak memilikisisya.

2). Wiku Candana, adalah pandita yang mengatasi sastra, meremehkan guru, menduduki candi

prasada, menikam dari belakang, menguasai tempat kedudukan pandita Siwa dan Buddha.

3). Wiku Ambeng /Mangambong, adalah pandita yang berlayar, ikut bekerja sebagai

pedagang/saling bersaing dalam bisnis, dan berjualan ilmu pengetahuannya.

4). Wiku Pangkon adalah pandita keturunan pesuruh yang bertugas memelihara tanah

perdikan.

5). Wiku Palang Pasir adalah pandita yang mengajarkan ilmu pada orang lain dengan memikat

hati masyarakat dengan maksud mendapatkan dana dan daksina.

6). Wiku Sabha Wukir adalah pandita yang senantiasa menyelesaikan pitra yajna dalam rangka

memperoleh dana dan daksina.

7). Wiku Sanghara adalah pandita yang mengawini wanita walaka.
8). Wiku Grahita adalah pandita yang memiliki Nabe lebih dari satu orang (Nabe Tepaknya lebih

dari satu orang) sehingga terjadi numpuking diksa.

Selanjutnya Pandita atau Sulinggih yang termasuk Wiku Catur Asrami, dikatagorikan

sebagai Sulinggih yang ideal serta teguh melaksanakan dharmaning kawikon, seperti berikut ;

1). Wiku Brahmacari, adalah Pandita yang tidak menikah selama hidupnya, tidak mementingkan

harta benda, hidup sederhana, bebas dari segala suka dan duka dalam pergaulan
dimasyarakat.

2). Wiku Grahasti, adalah Pandita yang hidup berkeluarga, beristri dan punya anak tinggal di

tengah-tengah masyarakat, melayani masyarakat, melaksanakan surya sewana secara rutin
serta ngeloka pala sraya.

3). Wiku Wanaprasti, adalah Pandita yang telah meninggalkan hidupkeduniawian, tinggal di

hutan dengan membangun pertapaan atau padukuhan. Pandita ini sering dijuluki Dukuh.
Tekun melaksanakan yoga samadhi, merealisasikan rasatattwa agar lepas dari bhagatattwa
sertamelembagakan ajaran Siddhanta dari ramya ke sunia.

4). Wiku Sanyasi adalah pandita yang benar benar meninggalkan hidup keduniawiaan, lepas dari

berbagai ikatan, hidupnya senantiasa mengembara, dalam menyambung hidup disedekahi
oleh umat, taat melaksanakan yoga.

SULINGGIH MENURUT KEAHLIANNYA:

Lebih lanjut dapat dijelaskan pula bahwa berdasarkan keahliannya, sulinggih dapat dibedakan

sebagai berikut:

37

1. Ahli weda (ahli tentang weda yang mengandung tiga unsur yakni Karma kanda, upasana
kanda, dan jnana kanda)

2. Ahli mimamsa (pandai menafsirkan mantra weda)
3. Ahli nirukta (ahli tentang asal-usul kata-kata yang terdapat dalam mantra weda)
4. Ahli logika atau Nyaya Darsana (ahli dalam memberikan pertimbangan yang logis)
5. Ahli Lembaga dharma (ahli dalam memahami sistem social dan kenegaraan)

HAKIKAT PANDITA
Kitab suci Bhagawadgita IV, 19 menyebutkan bahwa hakekat kepanditaan adalah untuk

mendapatkan pencerahaan atau Panditam Budhah yang merupakan jalan untuk menuju kelepasan
/moksa. Struktur dan konstruksinya dibangun melalui jnana agni (api ilmu pengetahuan) untuk
mewujudkan jnana alam bhyudreha (lihat Wrhaspati Tattwa) serta kama samkalpa warjitah/
niskamakarma (berbuat tanpa motif hasil) seperti Trsnadosaksaya, serta indrya yogamarga.

Sebagai seorang Pandita yang dikonstruk oleh Jnana Agni, merupakan pengetahuan
Brahmawidya dan Atmawidya sebagai dasar utama dalam menjalani kehidupan (Brahmawid
Brahma Ewa Bhawati, siapa yang memahami dan dicerahi oleh Brahman, Ia akan menjadi
Brahman). Demikian pula Sarasamuccaya sloka 500, menyatakan seorang Pandita adalah orang
yang Majnana menjadikan Pandita seorang Sista. Sista dalam Manawa Dharmasastra XXI.108
memiliki arti, ahli atau memiliki kompetensi dalam implementasi atau acara/tradisi yang
termaktud dalam kitab suci Weda. Maknanya hidup suci tidaknya hanya sebagai pernyataan
hidup namun sudah menjadi kenyataan hidup sehari- hari. Inilah yang disebut dengan Sang Sista.

Hakikat ini merupakan filosofi yang membangun nilai pada diri seorang pandita sekaligus
dijabarkan menjadi ideologi, norma, instrumen sehingga menjadi kenyataan, bukan sekedar
pernyataan. Akibatnya jiwa welas asih ksamawan adalah landasan etik. Bagi yang masih kuat
pamrihnya seperti; ingin dihormati, merasa diri paling suci dari yang lain,menganggap orang lain
lebih rendah, masih terikat akan gemerlapan hartabenda, masih membedakan harkat martabat
berdasarkan keturunan belumlah dapat dinyatakan sebagai Pandita yang ideal menurut ketentuan
kitab suci Bhagawadgita.

38

ESENSIALITAS SANG SISTA.

Pandhita yang telah menjadi Sang Sista merupakan perwujudan Dharma. Jika berbicara
mengenai dharma, tidak ada yang lebih utama dari Satya (“yapwan ring dharma, nghing
kasatyan wisesa”), demikian ucap Sarasmuccaya sloka 130. Kemudian Slokantara sloka 3,
menyatakan, “Kalinganya, tan hana dharma lewiha sangkeng Kasatyan, matangyan haywa lupa
ring Kasatya ikang wwang” artinya : tidak ada dharma yang lebih tinggi dari Satya
(kebenaran), oleh karena itu jangan lupa bahwa manusia harus melakukan kebenaran. Untuk itu
ada empat kompetensi atau kecakapan yang harus diaktualisasikan oleh Pandhita dalam
kehidupan sehari-hari, dalam membimbing umatnya. Hal ini dipertegas oleh bunyi kitab
Sarasamuccaya sloka 40 dengan rincian sebagai berikut:

1. SANG SATYA WADI

Sang Satya Wadi artinya, seorang Pandita senantiasa mewartakan kebenaran dengan cara
yang baik dan benar. Satya Wadi berasal dari kata Satya artinya kebenaran yang tertinggi, atau
Tuhan itu sendiri, juga berarti jujur. Sedangkan Wadi artinya, mengatakan. Selain itu, Satya
Wadi juga memiliki pengertian, bahwa seorang Pandita wajib mewartakan kebenaran dan
mengatakan yang benar dengan cara yang benar dan jujur, seperti yang tersurat dalam Kakawin
Nitisastra, Sargah. VI.2 yang berbunyi sebagai berikut :

“Tan hana sudharma manglewihane kasatyan usiren tekap parajana Tanhana kawah
mahaanglewihanerikang mresa tilarkenekang alenok. Hyang Anala Surya Candra yama
bayu satyasira sakyaning bhuwana. Mara ninamaskara hyang isanekang bhuwana
matya satya wacana”.
Artinya :
Tidak ada kesanggupan yang lebih baik dari pada cinta kepada kebenaran; wajiblah
orang berusaha menepati kebenaran itu. Tidak ada kawah yang lebih mengerikan dari
pada kawah tempat menghukum pembohong; dari itu jangan berdusta. Dewa Agni,
Surya, Candra, Yama dan Bayu menjadi saksi tiga jagat ini. Jika ingin tetap dipuji oleh
seluruh dunia berkatalah yang benar, biarpunsampai mendatangkan ajal.

Demikianlah patutnya seorang Pandita, lebih-lebih sebagai Acharya (Guru Rohani) harus
mewartakan kebenaran, karena beliau adalah perwujudan Tuhan atau Siva Sakala di bumi, sesuai
dengan pernyataan Taittiriya Upanisad I.11 yang berbunyi, “Acharya devo bhavo” (seorang
pandhita atau guru adalah perwujudan Dewata). Sebagai perwujudan Dewata ia dituntut untuk
mewartakan kebenaran dan mengatakan sesuatu yang benar. Sebab kebenaran itu adalah Sabda

39

Tuhan. Maka Swadharma seorang pandita sangatlah berat, lebih-lebih mengatakan kebenaran di
zaman kali sungguhlah tidak mudah.

Adapun kompetensi pendukungnya adalah sebagai berikut:
1).Seorang Pandhita wajib memahami hakikat Satya itu

Satya sebagai salah satu unsur keimanan Hindu, yang berarti, kebenaran atau Tuhan itu
sendiri, yang merupakan landasan ajaran agama Hindu, sesuai dengan pernyataan Atharwa Weda
XII, 1.1, yang berbunyi sebagai berikut:

“Satyam brhad rtam ugram diksa tapoBrahma yajna
prthivim dharayanti”
Artinya :
Sesungguhnya kebenaran, hukum, inisiasi, disiplin, doa,Serta
persembahan merupakan penyangga dari bumi ini.

Kata Satya dalam bunyi mantra Atharwa Weda di atas dapat diartikan sama dengan
kebenaran atau Truth atau sama dengan ajaran mengenai kepercayaan kepada Tuhan. Di dalam
mantra Rg Veda VIII. 62. 12, kata Satya disamakan dengan ke Tuhan dengan mengatakan bahwa
Satya adalah sifat dari Tuhan (Pudja, 1973). Selain Satya sebagai Tuhan, kitab Sarvopanisatsara,
21 menyatakan pula, Jnanam (pengetahuan atau sumber pengetahuan), Anantam (tidak terbatas),
dan Ananda (kebahagiaan sejati) sebagai perwujudan Tuhan (Titib, 1994).

Untuk itu seseorang yang memiliki kedudukan sebagai pandita sebelum mengucapkan
kebenaran itu (satyawadi), maka yang bersangkutan harus memahami kebenaran itu sendiri, atau
faham tentang sifat-sifat Tuhan itu, kemudian merealisasikannya dalam diri, baru diamalkan
dalam bentuk wacana maupun perbuatan Sebab bagi seorang. Pandhita tidak ada keimanan atau
sraddha yang lebih utama selain Satya dengan Satya pula sebagai landasannya. Sraddhaya
Satyam Apyati (dengan sraddha seorang akan mencapai Tuhan).

Satya, atau kebenaran tentang Tuhan dalam madzab Siwa Siddhanta yang berkembang
di Bali adalah Siwa itu sendiri, artinya hakikat dari kebenaran itulah yang disebut dengan Siwa,
itulah sebabnya seseorang yang telah melaksanakan diksa disebut Ngalinggihang Siwa ring
Sarira atau Meraga Siwa Sakala, serta mampu memahami hakikat ajaran Siwa Lingga dan Atma
Lingga seperti yang diterangkan oleh ajaran Kadhyatmikan Janan Siddhanta. Kedua istilah itu
secara tersirat menunjukkan “arah” penyatuan dengan Kehampaan atau Siwa. Adapun Siwa

40

Lingga merupakan tahap Siwa memasuki badan manusia, sedangkan Atma Lingga merupakan
tahap jiwa bersatu dengan Siwa, lewat ubun-ubun (Haryati Soebadio, 1985).

Menurut Agastya Parwa, yang diterjemahkan oleh I Gede Sura (2002:117), bagi yang
meraga Siwa ini, memiliki kewajiban untuk mewartakan ajaran kebenaran,”……… tinut sang
guru maweh tattwa i sang sisya,” (…diteruskan kemudian, mengikuti jejak guru mewartakan
ajaran tattwa/kebenaran kepada murid) Maka untuk dapat mewartakan atau mengatakan
kebenaran tersebut, seorang Pandita wajib mengetahui wujud dan hakikat kebenaran itu.
Kebenaran dalam faham SiwaSiddhanta disebut dengan Tattwa. Untuk itu bagi seorang Pandhita
di Baliwajib menguasai sarwawidyaavadata, yakni tahu banyak pengetahuan agama, memahami
pustaka suci Weda, Brahmana, Upanisad disamping ajaran Siwa Tattwa, yang banyak tersurat
dalam pustaka lontar, seperti Bhuana Kosa, Bhuana Mabah, Wrhaspati Tattwa, Ganapati
Tattwa, Tattwa Jnana, Sanghyang Maha Jnana, Jnana Siddhanta, serta yang tidak kalah
pentingnya adalah wajib memahami ajaran Wedanta, yang merupakan intisari ajaran Catur
Weda dan asal usul para dewa, tujuan dewa, aturan-aturan Sodasatattwa, Nawaattwa,
Widyatattwa,Pradaanattwa, Kaalatattwa, Praanatattwa dan segala macam Tattwa.

2). Seorang Pandhita wajib mengetahui cara mewujudkan Satya
Bagaimana mewujudkan kebenaran atau Satya tersebut dalam diri seseorang? Kitab

Yajur Weda XIX. 36 menyatakan sebagai berikut:

“Vratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksinam daksinam sraddham
apnoti, sraddhaya satyam apyate”
Artinya:
Dengan menjalankan brata (disiplin diri) seseorang mencapai diksa(penyucian diri),
dengan diksa seseorang memperoleh daksina (penghormatan), dengan daksina
seseorang mencapai sraddha (keyakinan yang teguh), melalui sraddha seseorang akan
mencapai Satya (Tuhan) (Titib, 2001: 43).
Dari pernyataan mantra di atas, ada empat tahapan, yang mesti dilakukan oleh seorang
Padita dalam mewujudkan Satya atau kebenaran itu, yakni:

a. Melaksanakan Vrata/Brata

Brata atau disiplin menurut naskah Silakrama yang ditulis oleh I.BOka Puniyaatmadja
(1976) dirinci menjadi lima dan dua jenisnya,yaitu, Panca Yama Brata yang terdiri dari:

41

Ahimsa, Brahmacari, Satya,Awyawaharika, Astainya dan Panca Niyama Brata, yang terdiri dari:
Akrodha, Guru Susrusa, Sauca, Aharalaga dan Apramada.

Kemudian Brata atau disiplin menurut naskah Sarasamuccaya sloka 258-260 yang
disusun oleh I Nyoman Kajeng, dkk (1997) dirinci menjadi sepuluh dan dua jenisnya, yaitu:
Dasa Yama Brata, yang terdiri dari: Anrsangsya, Ksama, Satya, Ahimsa, Dama, Arjawa, Priti,
Prasada, Madurya, Mardawa. Serta Dasa Niyama Brata, yang terdiri dari: Dana, Ijya, Tapa,
Dhyana, Swadyaya, Upasthanigraha, Brata, Upawasa, Mona, Snana.

b. Melaksanakan Diksa atau Samskara

G. Pudja (2013), mengartikan kata Diksa sebagai pensucian atau penyucian, pentasbihan

atau inisiasi. Diksa atau Samskara sebagai institusi merupakan dasar keimanan yang wajib

dilaksanakan oleh seseorang untuk memperoleh gelar ke Brahmanaannya tanpa adanya suatu

pengesahan yang disebut Diksa, Samskara atau Dwijati, seperti bunyi pernyataan berikut.
“Janmana jayate Sudrah Samskarairdwija ucyate,” yang artinya, “Semuanya lahir sebagai

orang- orang Sudra hanya melalui ritus-ritus tertentu atau pelatihan bathin seseorang menjadi
seorang Brahmana atau orang lahir dua kali”(Prabhakar Machve, 2000: 83).

Di samping itu diksa yang berarti penyucian atau suddha memiliki makna bahwa seorang

Pandhita wajib menumbuhkembangkan kesucian menyucikan diri atau asuci laksana. Tentang

asuci laksana atau penyucian diri ini, kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyatakan:
“Adbhirgaatraani suddhyanti, manah satyena suddhyanti
Vidyaa tapobhyaam bhuutaatma, buddhir jnaanena suddhyati”

Artinya
Sauca hendaknya anda melakukan pembersihan, senantiasa mandi, berhias, memakai
bhasma (bedak serbuk cendana sebagai tanda peleburan dosa) air pembasuh Sivaambha
(tempat air suci), doa suaca : Om Sa, Ba, Ta, A, I

Di dalam Slokantara 41 yang ditulis oleh I Gusti Agung Oka (1994: 89) terdapat kata suddha
yang maknanya sama dengan diksa atau sauca yang dijelaskan dengan kalimat sebagai berikut:

“Suddha ngarannya enjing-enjing madyus asuddha sarira,masurya
sewana, mamuja, majapa, mahoma”.

Artinya :

Bersihlah namanya, tiap hari mandi, membersihkan diri, sembahyang kepada Hyang

Surya, melakukan pemujaan, melakukan japa dan berhoma/Agnihotra.

42

c. Mewujudkan dan Menerima Daksina

Daksina dalam kamus bahasa Sanskerta berarti; mampu, cakap, tangkas, kanan, bagian
selatan (Semadi Astra, 1986 : 187). Secara Maknawi kata ini dapat berarti, kemuliaan,
penghormatan, honorarium atau semacam simbol penghormatan sebagai sthana Hyang Widhi
dalam upacara yang mempunyai fungsi sebagai Yajna Patni, artinya sebagai saktinya/kekuatan
suatu upacara, sesuai ucap sastra Parimbon Bebanten.

Inilah kekuatan/sakti yang dimiliki oleh seorang Pandhita baik dalam arti sosiologis
psikologis maupun dalam arti ritual formal dalam bentuk banten dengan bahan dasar kelapa,
telor, beras, dan lain-lainnya sebagai wujud yajna patni. Konsekwensi dari pribadi yang mampu
mewujudkan kemuliaan dalam masyarakat ini, akan melahirkan rasa hormat masyarakat kepada
Pandhita, dalam wujud Rsi Yajna. Sesuai ucapsastra Agastya Parwa dinyatakan, “Rsiyajna
ngaranya kapujan sang pandita mwang sang wruh ri kalingan ing dadi wwang, (Rsi yajna ialah
penghormatan kepada para Pandhita dan orang yang mengetahui hakikat kelahiran menjadi
manusia”, maka kepadanya wajib dipersembahkan Santun Gede (penghormatan utama) atau
Banten Daksina Gede setelah Beliau Muput Yajna atau Ngerahayunin.

d. Menumbuhkan Sraddha

Bagi seorang Pandhita menumbuh kembangkan sraddha atau keyakinan umat terhadap
ajaran agamanya merupakan suatu tugas pokok yang harus didahulukan. Karena Tuhan telah
menetapkan dengan Sraddha seseorang akan menuju Satya (Sraddham Satye Prajapatih). Kata
Sraddha mengandung makna yang sangat luas yakni ‘keyakinan ataukeimanan’. Dr. Made Titib
(1996 : 166) dalam buku Veda Sabda Suci mengartikan kata sraddha, yang dipetik dari The
Practical Sanskrit- English Dictionary, karya V.S Apte halaman 939 tahun 1978, sebagai berikut:

- Kepercayaan, ketaatan, ajaran, keyakinan
- Kepercayaan kepada sabda Tuhan Yang Maha Esa, keimananagama
- Ketenangan jiwa, kesabaran dalam pikiran
- Akrab, intim, kekeluargaan
- Kuat penuh semangat
- Kandungan ibu yang berumur lama

Menyimak arti dari konsep sraddhaa di atas ternyata memiliki pengaruh yang begitu
penting dalam kehidupan manusia. Tanpa sraddha manusia tidak akan bisa mendekatkan diri
dengan Tuhan. Pandhita yang memiliki fungsi sebagai mediator atau pemandu umat untuk

43

mendekat dengan Tuhan, wajib menumbuhkembangkan sraddha dalam dirinya sebelum ia
meyakinkan orang lain. Sraddha yang tumbuh subur dalam diri akan mengantarkan seseorang
mewujudkan hidup bahagia. Banyaknya terjadi masalah dewasa ini, hal itu semua disebabkan
oleh kurangnya pemahaman akan konsep-konsep sraddha, akibatnya hidup menjadi gelisah, tidak
percaya diri, tidak memiliki tujuan yang pasti.

Dalam Veda dikatakan jika seseorang hanya hafal mantra dan artinya, namun tidak
mempunyai sraddha, maka bagi orang tersebut, mantra itu tidak akan berfaedah atau berguna.
Tetapi jika semua mantra yang diucapkan sraddha sebagai landasannya niscaya orang tersebut
akan berhasil berhubungan dengan Tuhan. Demikian pula halnya dalam berbagai tataran
kehidupan seperti: hubungan suami istri, yang hidup tanpa dilandasi sraddha, maka rasa curiga
senantiasa tumbuh subur, suamitidak akan percaya kepada istri begitu sebaliknya. Guru tidak
percaya kepada murid. Presiden tidak percaya kepada menteri-menterinya, dan lain-lain, ini
menandakan hubungan duniawi tidak harmonis pertandakehancuran segera akan tiba. Untuk itu,
Veda dengan tegas menyarankan agar setiap orang menghadirkan sraddha agar dapat hidup
bahagia dan hubungan duniawi dan rohani dapat berjalan dengan baik (Somvir, 2001 : 120).

Dalam fungsinya sebagai Wiku Pala Sraya, yakni sebagai pemuput upacara yajna dengan
doa sebagai instrumennya maka sraddha yang mantap sangat dibutuhkan bagi para Pandhita,
sebab tanpa sraddha yang mantap semua kegiatan itu akan sia-sia. Hal ini dipertegas oleh
pernyataan Sarasamuccaya 211, yang berbunyi sebagai berikut:

“Upalaksana tika, ring ahuti, weweh, tapa, salwiring ulah dharma,yan tan padulur
sraddhaning manah, kanista ngaranika, tan phala ring ihatra paratra”.
Artinya :
Syarat pada kurban kebaktian, sedekah, pelaksanaan tapa, segala macam perbuatan
mengenai dharma, jika tidak disertai keikhlasan hati berdasarkan keyakinan yang
mantap, maka perbuatan itu disebut hina tingkatannya, tidak berpahala, baik di dunia
maupundi akhirat (Kajeng, 1997).
Senada dengan pernyataan sloka di atas, pustaka suci Bhagawad Gita, XVII menyatakan pula
sebagai berikut :

“Asraddhayaa hutam dattam, tapas taptam kritam cha yatAsad ity uchyate
Paartaha, na cha tat pretya no iha”

Artinya:

44

Apapun yang dipersembahkan, disedekahkan dan disiplin apapun yang dilaksanakan,
tanpa kepercayaan disebut ‘Asat’ Oh Partha ini tidak ada artinya, di sini maupun di dunia
sana
Sesungguhnya keyakinan yang ada pada diri tiap-tiap orang, yang dinyatakan dalam
kehidupan sehari-hari dengan perbuatan dan pola- pola sikap hidupnya merupakan sesuatu yang
bersifat subyektif dan abstraktif. Dan keyakinan yang dimaksud itu, adalah suatu kekuatan yang
dapat memberikan kepastian, rasa aman, serta mendorong manusia mengarah ke hal-hal yang
lebih baik dalam menapaki perjalanan hidupnya di dunia ini, menuju kebenaran yang dicita-
citakan. Walaupun atas nama spritual, betapapun subyektifnya dan abstraktifnya keyakinan
seseorang, kalau tanpa diwujudkan dengan hal-hal yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, maka
keyakinan tersebut masih diragukan. Maka itu, peran Pandhita dengan tetap teratur melakukan
disiplin/tapa, menjalankan brata atau sesananya akan memberikan penguatan keyakinannya itu.

Akan pentingnya sraddha bagi seorang Pandita kitab Rg Veda X.151.4 menyatakan,
“………..Saraddhaaya vindate vasu, yang artinya, dengan keyakinan yang teguh (sraddha) orang
akan menerima karunia istimewa untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi dan rohani” (Somvir,
2000 : 120).

e. Seorang Pandhita wajib mengetahui cara menyampaikan Satya

Menyampaikan kebenaran tidaklah mudah, ada kalanya ucapan yang jujur mengakibatkan
seseorang menemui ajalnya. Oleh sebab itu seorang Pandhita yang memiliki tugas memuliakan
harkat manusia, di dalam menyampaikan kebenaran hendaklah menempatkan kebahagiaan semua
mahluk sebagai muaranya. Untuk itu patut direnungkan apa yang tersirat dalam pernyataan
berikut ini, “Riastu tuhu ikang ujar yan tan magawe hita wasana dudu ngaran, riastu tan tuhu
ikang ujar yan sampunmagawe hita wasana sadhu ngaran’, (Walaupun berkata-kata yang benar,
jika tidak meninggalkan atau membuat kebajikan bagi semua yang ada, itu merupakan suatu
kejahatan. Meskipun tidak berkata benar tetapi dapatmenciptakan kebahagiaan bagi semua yang
ada, itu adalah mulia namanya). Pernyataan ini dipertegas lagi oleh bunyi kitab Sarasamuccaya
sloka 134 sebagai berikut :

“Kuneng paramaarthanya nihan, tan ikang ujar adwa ktikang mithya ngaranya, tang
ikang si tuhu satya ngarannya, kuneng prasiddhanya, mon mitya ikang ujar, teher
mangde hita juga, magawe sukha wasana ring sarwabhawa, ya satya ngaranika, mon
yathabhuta towi, yan tan pangede sukha wasana ring sarwabhawa,mithya ngaranika.”

45


Click to View FlipBook Version