The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

bahan ajar ini digunakan pada Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mery.ambarnuari, 2022-10-03 22:11:59

Bahan Ajar Dasar-Dasar Kepanditaan

bahan ajar ini digunakan pada Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Keywords: kepanditaan

Artinya
Pada hakekatnya adalah demikian ini; bukan perkataan yang tidak benar, bohong
namanya dan bukan perkataan yang benar itu, disebut kebenaran, melainkan
sesungguhnya, biarpun bohong kata- kata itu namun selalu menimbulkan kebaikan,
membuat akibat yang menyenangkan kepada semua makhluk hidup, itulah kebanaran
disebut; meskipun sesuai dengan apa yang terjadi jika tidak mendatangkan akibat yang
menyenangkan kepada semua mahluk hidup, dusta itu disebut

2. SANG APTA

Sang Apta artinya orang yang dapat dipercaya. Karena selalu berkata benar dengan cara
yang benar dan jujur. Seorang Pandhitapun semestinya orang yang dapat dipercaya. Untuk
memegang kepercayaan inilah seorang Pandhita tidak dibenarkan berbicara terlalu banyak.
Seorang Pandhita sebelum bicara dan berbuat harus memikirkan secara matang apa yang akan
dibicarakan dan apa pula yang akan diperbuatnya. Dengan demikian kemungkinan berkata dan
berbuat salah menjadi kecil, agar jangan sampai kena Ujar Ala dari orang lain. Ujar Ala artinya
kata- kata kasar (Wiana, 2001).

Untuk dapat dipercaya oleh umat maupun masyarakat, disamping telah memahami
hakikat kebenaran, mengetahui cara mencapai kebenaran itu, serta tahu cara menyampaikannya
maka ada kompetensi pendukung lain yang wajib dimiliki oleh seorang Pandhita yaitu:

1). Memiliki moralitas dan kepribadian yang luhur

Pandita merupakan figure panutan yang memiliki tugas pembina rohani atau mental
spiritual masyarakat, untuk itu ia harus dapat membangun kepercayaan rasa simpati masyarakat
terhadap dirinya, kepercayaan dan rasa simpati masyarakat akan tumbuh apabila seorang
Pandhita memiliki kepribadian utuh dan moralitas yang luhur. Kemuliaan dan kepercayaan itu
tidak akan muncul bila seseorang hanya tahu dan pintar berteori tentang kebenaran, oleh karena
itu dibutuhkan bukti yang riil, dalam bentuk tindakan nyata, yakni senantiasa berbuat kebajikan.

Gambaran idial prilaku Pandita yang dapat dijadikan panutan dinyatakan oleh pustaka
suci Bhagawad Gita XII sloka 13-19. Disini akandikutip sloka 13 dan 18, yang dapat dianggap
mewakili ketujuh sloka itu.

“Advesthaa sarva bhutaanaam, maitrah karuna eva ca, Nirmamo
nirahamkaarah, sama duhkha sukhah kshamii”
Artinya :

46

Dia yang tidak membenci semua mahluk, memiliki sikap bersahabat dan memiliki
cinta kasih, bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka dan rela
memaafkan.
“Samah satrau cha mitre cha, tatha maanaapamaanayoh Siitoshna
sukhaduhkheshu, samah sangavivarjitah”

Artinya :

Sama terhadap kawan dan lawan, sama dalam kehormatan dankecemaran, sama dalam
panas dan dingin, suka dan duka bebas dari belenggu keterikatan.

Disamping seperti apa yang telah dijabarkan di atas, seorang Pandita, yang secara idialnya

merupakan perwujudan para Dewa di bumi hendaknya memiliki sifat-sifat kedewataan/Daiwi

Sampad, seperti yang dinyatakan dalam pustaka yang sama Bab XVI sloka 1-3 yang berbunyi

sebagai berikut :

“Abhayam sattvasamsuddhir, jnanayoga vyavasthitih Danam damas cha
yajna cha, svadhyayas tapa arjavam.
Ahimsaa satyam akrodhas, tyaagah santir apaisunam,
Dayaa bhuuteshv aloluptvam, maardavam hriir achaapalam
Tejah kshamaa dhritih saucham, adroho naa’timaanitaaBhavanti sampadam
daiviim, abhijaatasya bhaarata”
Artinya :

Tak gentar suci hati, bijaksana, mendalami yoga dan ilmu Pengetahuan, dermawan,
menguasai indria, berupacara kebaktian Mempelajari kitab-kitab sastra, hidup sederhana
dan berbuatdengan kejujuran.
Tanpa kekerasan, benar, tanpa kemarahan, tanpa egoisme, tenang, tanpa mencari-cari
kesalahan, kasih sayang kepada sesama makhluk, tiada loba, lemah lembut, sopan dan
dalam keseimbanganjiwa.
Cekatan, suka memaafkan, teguh iman, budi luhur, tanpa iri hati Tanpa keangkuhan,
semua ini adalah milik dari dia yang dilahirkandengan sifat-sifat dewata, Oh Bharata.

Apabila isi sloka di atas dapat diterapkan dengan baik dalam kehidupan di masyarakat,

tak kan dapat diragukan lagi niscaya Pandita akan mendapat kepercayaan, kehormatan dan

kemuliaan serta dipuja di masyarakat. Bukan hanya itu saja, Tuhanpun akan senantiasa

melindungi kehidupannya membawakan kehidupannya, serta menjaga hak miliknya, seperti apa

yang telah dijanjikan oleh Tuhan Krisna dalam Bhagawad Gita, Bab IV.8 dan Bab IX.22.

Kaum Pandita dibebani tugas untuk melaksanakan apapun yang dipandang perlu demi

kemajuan spiritual masyarakat. Dengan demikian Pandita adalah golongan fungsional yang

47

memiliki ilmu pengetahuan suci (kerohanian) dan mempunyai bakat kelahiran untuk
mensejahterakan masyarakat, Negara dan umat manusia dengan jalan mengamalkan ilmu
pengetahuannya. Kemudian secara formal telah di Diksa atau di Dwijati sehingga yang
bersangkutan memiliki kewenangan menyelesaikan upacara.

Untuk dapat dijadikan panutan serta memiliki kredibilitas yangtinggi, seorang Pandita
wajib melaksanakan swadharmannya atau kewajibannnya tanpa terkecuali, seperti yang tersurat
dalam Manawa Dharma Sastra I.88 yang berbunyi sebagai berikut:

“Adhyapanam adhyayanam, yajanam yajanam tatha, danam
pratigraham caiwa bramananam akalpayat”.

Artinya :
Kewajiban-kewajiban seperti mempelajari dan mengajarkan Weda, melaksanakan
upacara yadnya baik untuk diri sendiri maupun untuk masyarakat memberi maupun
menerima dana ditentukan sebagai fungsi Brahmana (Pandhita)

Pustaka suci Bhagawad Gita XVIII, 42 menyatakan bahwa kewajiban seorang
Brahmana atau Pandhita adalah sebagai berikut:

“Samo damas tapah saucam, khantir arjavam eva cha Jnanam vijnanam
astikyam, brahmakarma svabhavayam”

Artinya:
Khusuk, menguasai indria, suci, tapabrata, tawakal, benar, luhur budhi,
berpengetahuan, dan percaya kepada agama, merupakan kewajiban kaum Brahmana
(Pandhita) yang terlahir dari sifat-sifat mereka
Hal senada juga ditegaskan oleh sastra suci Slokantara sloka 1, yang berbunyi sebagai

berikut :
“Brahmano vamanusyanamadityo vapi tejasam, Ciro Vasarya gatresu dharmesu
satyamuttamam. Kalingannya, nihan dharma rengon de sang mahyun wruheng
kawisesa ing janma. Yan manusya tan hana luwih kadi brahmana; brahmana
ngarannya sang kumawasaken kabrahmacaryan…”

Artinya :
Inilah ‘Dharma’ yang patut diperhatikan oleh mereka yang ingin mengetahui hakikat
sebagai manusia. Diantara manusia tak ada melebihi Brahmana; brahmana (Pandhita)
artinya, ialah orang yangtelah menguasai segala ajaran Brahmacarin…. (Agung Oka,
1995 : 1).

48

Sarasamuccaya sloka 56 dan 57 menyataka fungsi serta landasan moral yang patut

diperhatikan agar senantiasa memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Adapun bunyi sloka

tersebut adalah :

“Nya dharma sang Brahmana, mangajya, mayajna, maweha danapunya, magelema,
atirtha, amarahana, wikwaning yajna, mananggapa daana.
Nyang brata sang brahmana, rwa welas kwehnya, pratyeknaya, dharma, satya, tapa,
dama, wimatsaritwa, hrih, titiksa, anasuya, yajna, daana, dhriti, ksamaa, nahan
pratyekanyan rawelas, dharma, satya, pagwannya, tapa ngarannya sarira sang sosana,
kapanasaning sariira, pihara, kurangana wisaya, dama ngarannya upasama dening
tuturnya, wimatsaritwangrani haywa irsya, hrih ngaraning irang wruha ring irang wih,
titiksaa ngaraning haywa gong krodha, anasuyaangaraninghaywa dosagrahi, yajna
magelemamuja, daana, maweha dana punya, dhrti ngaraning maneb, ahning, ksama
ngaraning kelan, nahanbrata sang Brahmana”.
Artinya :

Berikut inilah dharma sang Brahmana (Pandhita), mempelajari Weda, mengadakan
upacara kebaktian atau pujaan, memberikan amal social, berkunjung ke tempat-tempat
suci, memberikan ajaran-ajaran (penerangan agama), memimpin upacara dan
dibenarkan menerima derma.
Inilah brata Sang Brahmana (Pandhita), dua belas banyaknya, perinciannya; dharma
satya, tapa, dama, wimarsaritea, hrih, titiksa, anasuya, yajna, dana, dhrti, ksama, itulah
perinciannya sebanyak dua belas; dharm adari satyalah sumbernya, tapa artinya dapat
mengendalikan jasmani dan mengurangi nafsu; dama artinya tenang dan sabar, tahu
menasihati diri sendiri, wimatsaritwa artinyatidak dengki irihati, hrih berarti malu,
mempunyai rasa malu, titiksa artinya jangan sangat gusar, anasuya berarti tidak
berbuat dosa, yajna adalah mempunyai kemauan untuk mengadakan pujaan, dana adalah
memberikan sedekah, dhrti artinya penenangan dan pensucian pikiran, ksama berarti
tahan sabar dan suka mengampuni; itulah brata Sang Brahmana.

2). Hindari Pelaku Yang Menyebabkan Patita

Guna mempertahankan kredibilitasnya, seorang Pandhita wajib melaksanakan

swadharmanya, serta dipantangkan untuk mengingkari (linyok mithya, mamurug) terhadap brata

serta sesana yang telah digariskan. Yama dan Niyama Brata secara ketat wajib dilaksanakan,

demikian pula mengenai sesana, seperti yang diuraikan dalam Sila Krama, Wretti Sesana, Siwa

Sesana dan lain-lainnya. Ingkar terhadap brata maupun sesana yang telah digariskan

menyebabkan seorang Pandhita Patita. Patita artinya jatuh. Jatuh yang dimaksud adalah batal

status Diksanya. Adapun hal-hal yang dapat menyebabkan seorang Pandhita mengalami Patita

adalah; masih dilekati oleh Klesa (noda pikiran) yang terdiri dari :

49

1) Awidya : artinya ketidaktahuan atau kebodohan

2) Asmita : artinya kesombongan atau keakuan

3) Raaga : artinya keterikatan dan kesukaan terhadap hal-halduniawi

4) Dwesa : artinya kemarahan, dendam, serta anti pati

5) Abhiniwesa : artinya ketakutan yang berlebihan akan kematian

Dari panca klesa ini menyebabkan lahirnya sifat-sifat keraksasaan Bhagawad Gita

Bab XVI. 4,7-24 menyatakan sifat-sifat tersebut dengan Asuri sampad, salah satu dari sloka

tersebut berbunyi :

“Dambho darpo’ bhimaanas cha, krodhah paarushyam eva chaAjnaanam chaa’
bhijaatasya, paartha sampadam aasuriim”
Artinya :
Berpura-pura, angkuh, membanggakan diri, marah, kasar, bodoh, semuanya ini
dimiliki oleh dia yang dilahirkan dengan sifat-sifat setan, wahai Partha.
Hal-hal lain yang menyebabkan Pandhita mengalami kejatuhan, apabila ia melakukan

prilaku yang disebut Duryasa dan Dursila (Memalukan, kejahatan) seperti yang tersurat dalam

naskah Siwa Sesana lembar 3b yang berbunyi sebagai berikut :

“……Acaryya duryyasa, nga, ambeknya mada moha karana durtta murkka madulur
katungka, irsya matsara kimbhuru, marta wada mitya sing wuwusnya, sinahajaring
kadusilan, durniti durwinaya, nawimuka ringayu, milik kagawayaning yasa, manasir
sakeng agama rasa, ninda ring hyang lawan ringbrahmana, drohi ri mitranya, talpaka
ring gurunya, masampaying yayah mwang bibinya, yapwan hana sira sadhakakumwa
kramanya, yeka sadhaka duryyasa, banda tan yukti gawayenn guru de sang pudgala
Artinya :
Acarya (Pandhita) duryasa artinya, menentang dharma, jahat, hina perbuatannya, angkuh, mabuk,
akhirnya kejam, pemarah, ditambah dengan curang, iri hati, dengki, cemburu, bohong,segala
ucapannya sepaham dengan perbuatan jahat, tidak sopan,tidak mengenal peraturan, menentang
perbuatan bijak, benciterhadap yang berbuat jasa, nyasar dari ajaran agama, menghina terhadap
leluhur, dan brahmana, curang terhadap sahabat, ingkar terhadap gurunya, melawan terhadap
orang tuanya. Kalau ada sadhaka yang demikian tabiatnya, itulah sadhaka duryasa, Ikat dan tawan,
tidak pantas dijadikan guru oleh calon Pandhita.

3. Sang Patirthan

Sang Patirthan artinya Pandita sebagai tempat untuk memohon penyucian diri bagi

umatnya. Sebagai orang suci beliau juga memiliki kewenangan untuk membuat air suci atau tirtha

sebagai sarana penyucian umat dan yang lebih utama adalah menuntun umat secara spiritual

untuk dapat menempuh hidup suci agar terhindar dari perbuatan yang tercela. Sebab hidup

suci merupakan modal dasar untuk dapat mewujudkan hidup bahagia.

50

Adapun kecakapan yang harus dipersiapkan oleh seorang Pandhita dalam fungsinya

sebagai Sang Patirthan adalah :

1). Mewujudkan Siddhi Dalam Diri
Pandhita adalah seorang Sadhu, yang artinya ‘suci, baik dan jujur’. Dari kata ini menjadi

Sadhaka. Seorang Sadhaka ia yang tak henti- hentinya mewujudkan suddha (kesucian) dalam

dirinya, sebagai landasan untuk mencapai kelepasan. Dalam fungsinya sebagai Patirthaning

jagat, maka suddha ini akan melahirkan Siddhis (kekuatan) demi tercapainya Siddha

(kebahagian). Maka untuk mewujudkan suddha, seorang Pandhita secara konskuen wajib

melaksanakan Satya (truth), dan secara ketat berpegang teguh pada kode etik (moralitas) Pandhita

yang dijabarkan dengan ajaran Brata dan Sesana. Satya, Brata dan Sesana sebagai landasannya

ditambah dengan pemahaman ajaran Jnana Siddhanta, seperti yang tersurat dalam sastra

Bhuvana Kosa VI, 3 yang berbunyi sebagai berikut :

“Sarwwa sastram adhiyita, tyajanti jnanam uttamam, jnana wyapi na windeta,. Aho
maya maya wimohitah. Hana sira sadhaka mangaji sarwwa sastra, ika sang hyang
siddhanta uttama inaryyaken ira. Jnana wyapi na cindeta. Ika ta sang sadhaka
mangkana. Tar wruh ring jananangku ika. Aho maya wimohitah. Apan kawenang dening
bancanangku, Sarwwa sastrasya yat param. Hana karih sastra lewih sangke rikang
sastra kabeh. Siddhanta jnanam uttamam. Sang Hyang Jnana Siddhanta sirawisanya.
Aditya manawe loke. Hana pwa wwang mangaji Sang Hyang Siddhanta jnana irikang
loka. Saphalam tasya jiwitam. Ya ta saphala huripnya haneng loka lingkungan Bhatara
mangkana pwa ya. Ihatraca maha dewi. Ring ihatra kala pwa ya, kapangguh tang suka
magong denya. Paratra siwasam brajet. Irikang dlaha pwa ya, sayogya pwa sira lawan
Bhatara Siwa saduga……
Artinya :
Bila ada Pandhita mengajarkan ilmu pengetahuan dengan melupakan ajaran suci
Siddhanta, Pandhita yang demikian itu, tidak mengetahui ajaranKu, karena ia dikuasai
oleh mayaKu, konon ada ajaran yang melebihi semua ajaran, itu ajaran Siddhanta yang
paling utama, bila di dunia ini ada orang yang mendalami ajaran Siddhanta, maka
hidupnya akan bersih, demikian sabda Bhatara, dalam hidupnya ia akan menemui
kesenangan yang besar, kelak kemudian, yang bersangkutan akan menyatu dengan Sang
Hyang Siwa.

Apa yang dinyatakan diatas, kiranya perlu mendapat perhatian yang serius dari para

Pandhita, khususnya dari madzab Siwa Siddhanta. Seorang Pandhita saat Muput Upacara, yang

diawali dengan ngarga tirtha,yakni pembuatan air suci, maka terlebih dahulu diawali dengan

proses Dagdi Karana (sakralisasi badan), Siwi Karana (menyemayamkan Siwa dalam diri) dan

Amrti Karana (Pembuatan Amrta), merupakan penjabarandari ajaran Jnana Siddhanta tentang

51

konsep Atma Lingga, yang artinya tahap jiwa bersatu dengan Siwa. Setelah menjadi Siwa di
bhuana alit kemudian barulah Siwa di Bhuana Agung diturunkan pada air yang ditempatkan pada
Siwamba. Proses ini disebut dengan Siwa Lingga. Dengan demikian barulah tirtha yang dibuat
tersebut memiliki ke Siddhian ataupun keampuhan. Oleh sebab itu ajaran tentang Atma Lingga
dan Siwa Lingga harus benar-benar dikuasai dan dipahami secara mendalam, karena kedua
konsep ini merupakan ciri paling penting ataupun puncak dari ajaran Siddhanta (Soebadio, 1985
: 28-29).

2).Menguasai dan Memahami Tantra.
Dalam fungsinya sebagai orang suci yang berwenang membuat air suci, seorang Pandhita

di samping memiliki daya siddhi (sebagai pemberi daya kekuatan magis pada tirtha), telah pula
memiliki hak penuh sebagai Wiku Loka Pala Sraya. Untuk memiliki hak Wiku Pala Sraya ini
secara umum, seorang Pandhita wajib menguasai dan memahami Tantra dimana komponennya
terdiri Yantra atau simbol, Mantra atau stawa, Mudra atau patanganan, Aksara atau huruf suci,
Mandala atau sukat dan Kala atau padewasan. Seperti yang disitir oleh Dr. R Goris (1986 : 6)
dalam disertasinya yang secara luas membahas Bhuvana Kosa, sebagai karya tertua yang bersifat
Siwa Siddhanta, menyatakan dalam pelaksanaan Yajna, urutan penghargaan dari yang terendah
sampai yang tertinggi; Arcana, mudra, mantra, kuta mantra, pranawa merupakan sebuah
kesatuan. Hal ini wajib dikuasai dan dipahami bagi seorang Pandhita.

Yang dimaksud dengan arcana adalah berbagai bentuk symbol- symbol keagamaan,
seperti upakara (bebanten) dan juga yantra, yakni benda-benda yang disucikan yang dijadikan
alat konsentrasi dan secara spiritual dijadikan sthana turunnya para dewa yang dipuja. Mudra
artinya sikap-sikap ketika memuja, dilakukan dengan posisi di tangan dan jari- jari. Tujuan dari
pada mudra ini adalah menyenangkan devata disamping itu mudra diyakini memberikan siddhi
dan pelaksanaannya dapatmemberikan keuntungan bagi tubuh seperti kestabilan kekuatan dan
penyembuhan penyakit. Mudra adalah hal yang sangat penting bagi para Pandhita di Bali dalam
melaksanakan yajna. Kemudian mantra disusun dengan aksara-aksara tertentu, diatur sedemikian
rupa sehingga menghasilkan suatu bentuk bunyi, sedangkan aksara-aksara itu sebagai
perlambang dari bunyi tersebut. Untuk menghasilkan pengaruh yang dikehendaki, mantra harus
disuarakan dengan suara yang tepat, sesuai dengan swara (ritme) dan warna (bunyi) (Agastia,
2001). Nama lain mantra adalah stawa atau stuti. Bagi seorang Pandhita penguasaan terhadap ini

52

adalah wajib, lebih-lebih dalam pembuatan air suci. Seorang Pandhita harus mampu menghafal
dan merafalkan dengan benar stawa- stawa yang ada dalam lontar Argha Paatra serta dalam
fungsinya sebagai Pemuput Yajna seorang Pandhita harus hafal stawa-stawa sesuai dengan jenis
yajna yang dipimpin. Untuk menghindari kesalahan ada baiknya para Pandhita membekali diri
dengan buku stuti and stava (Banddha, Saiva and Vaisnava) of Balinese Brahman priests,
susunan T Goudriaan and C Hooykaas.

Kemudian secara khusus dalam memberikan layanan muput (Ngeloka Pala Sraya) kepada
umat sesuai jenis dan tingkatan yajna, makaseorang Pandhita dalam kaitan pembuatan air suci
wajib menguasai semua jenis puja atau stuti seperti:

1) Puja Panglukatan dari Dewa sampai Rsi Yadnya, seperti Asta Pungku,Puja Sadewa, Puja
Padudusan, Puja Asta Maha Abhaya, Panca Gni, Gni Anglayang dan sebagainya.

2) Puja Gemana seperti; Wisnu Gemana, Wana Gemana, Buddha Gemana, Setra Gemana,
Giri Gemana dan sebagainya, sesuai ucap lontar Soda Siwi kerama.

3) Puja Khusus seperti; Puja Pagentas, Nawa Ratna dan sebagainya. Setelah mantra adalah
Kuta Mantra atau wija mantra seperti hrang,hring sah, tidak mempunyai arti dalam bahasa
sehari-hari. Tetapi bagi mereka yang telah menerima diksa mantra, mengetahui bahwa
artinya terkandung dalam perwujudannya itu sendiri (swarupa) yang adalah perwujudan
dewata yang dipuja. Kemudian Pranawa adalah OM, yang merupakan intisari semua mantra
dan wajib diketahui oleh para Pandhita, seperti yang disebutkan dalam Kitab Jnana Siddhanta
sebagai ‘…. Patemuning Tryaksara, ya matemahan Omkara. Kinavruhan sangSaadhaka,
artinya, luluhnya triaksara ini (MA, A, U) harus diketahui olehpara Pandhita.

3) Sang Penadahan Upadesa
Sang Penadahan Upadesa artinya, Pandhita memiliki swadharma memberikan pendidikan

moral kesusilaan agar masyarakat hidup harmonis dengan moral yang luhur. Karena itu Pandhita
disebut juga dengan Adi Guru Loka, yang artinya sebagai guru utama dalam lingkungan
masyarakatnya. Ataupun Narasumber, yakni tempat bertanya bagi umat.

Terkait dengan fungsinya sebagai Sang Penadahan Upadesa seorang Pandhita adalah
pendidik, guru ataupun Narasumber sehingga dapat dijadikan tempat untuk mohon tuntunan
ataupun perlindungan (mesayuban) bagi umat. Sebagai seorang Nara Sumber, idialnya seorang
Pandhita harus berpegang pada Satya (truth) seperti apa yang dijabarkan dalam point 1 (satu),
tidak ingkar terhadap Sesana dan Brata (moralitas), seperti apa yang terurai dalam point 2 (dua),
serta memiliki Siddhis (kemampuan batin), seperti apa yang dinyatakan dalam point 3 (tiga),
kemudian dapat memberikan contoh sehingga menjadi idola masyarakat. Disamping sebagai
orang Sadhu, yang tidak kalah pentingnya adalahseorang Pandhita haruslah meraga Wikan dan

53

Pradnyan (memiliki intelegensi yang tinggi, menguasai berbagai ilmu pengetahuan serta
memiliki sifat arif dan bijaksana). Guna menunjang fungsinya sebagai Sang Pendahan Upadesa
ini seorang Pandhita wajib memiliki kompetensi penunjang sebagai berikut :

A). Menguasai Weda dan Suplemennya
Sebagai seorang Guru dan Narasumber dalam dunia kerohanian, maka seorang Pandhita

tidak hanya lafal terhadap puja ataupun stawa, namun secara idialnya menguasai pula berbagai
ilmu pengetahuan keagamaan seperti: Sruti, yang terdiri dari Rg Veda, Yajur Veda, Sama Veda
dan Atharva Veda. Smerthi, disesuaikan dengan yuganya, Purana dan Itihasa. Akan pentingnya
purana dan itihasa untuk dipahami, hal ini dipertegas dalam kitab Sarsamuccaya 39 yang
berbunyi sebagai berikut :

“Ndan Sanghyang Weda, paripuurnakena sira makasaadhana Sanghyang Itihasa,
Sanghyang Purana, apan atakut SanghyangWeda ring akedik ajinya, ling nira, kamung
hyang, hyawa tikiumara ri kami, ling nir mangkana rakwa atakut”.
Artinya :
Adapun Weda itu untuk menjadi sempurnanya, melalui jalan mempelajari Itihasa,
Purana, sebab merasa takut Weda itu kepada yang sedikit ilmunya, sabdanya, “Engkau,
Tuan, jangan Engkau inimendekati kami,” sabdanya demikian sebab rasa takut.

Itihasa dan Purana merupakan mengejawantahan dari kandungan nilai yang ada dalam Weda
Sruti, baik menyangkut teologi, etik, moral maupun ritual. Melalui Itihasa (Ramayana dan
Mahabharata) serta Purana(18 Purana) akan banyak ditemukan bagaimana nilai-nilai luhur yang
terkandung dalam ajaran Weda diaktualisasikan serta direalisasikan dalam kehidupan nyata.

Selain itu hal pokok yang wajib diketahui adalah ilmu tentang Ketuhanan (teologi) yang
banyak tersirat dan tersurat dalam kitab-kitab Upanisad, Darsana, Tutur Tattwa seperti, Bhuana
Kosa, Wrhaspati Tattwa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana, Sanghyang Maha Jnana dan
sebagainya. Kemudian sebagai ilmu bantu yang wajib pula dikuasai adalah Wedangga, yang
terdiri dari : Siksa (ilmu fonetik Sanskerta), Wyakarana (Ilmu tata bahasa Sanskerta), Chanda
(aturan-aturan tentang lagu terkait dengan pembacaan mantra atau stuti), Nirukta (ilmu yang
mempelajari arti kata, penting dalam rangka penterjemahan), Jyotisa (Ilmu perbintangan atau di
Bali dikenal dengan Wariga, penting dalam menentukan hari baik atau subha divasa), Kalpa (Ilmu
yang membahas tentang Upacara, di Bali dikenal dengan Mpu Lutuk).

54

Pengetahuan lain yang perlu juga mendapatkan perhatian adalah Upaweda yang terdiri dari;
Ayur Weda (Ilmu kesehatan dan pengobatan menurut Weda atau di Bali dikenal dengan Usadha),
Dhanur Weda (Ilmu militer dan persenjtaan atau Tosan Aji), Gandharwa Weda (Ilmu tentang
seni; suara, musik dan tari), Artha sastra (Ilmu politik dan pemerintahan)

B). Memahami Perkembangan Jaman
Jika diibaratkan Kereta Api, Pandita merupakan lokomotif danumat adalah gerbongnya.

Untuk itu ke mana lokomotif bergerak ke sana jualah gerbongnya akan mengikutinya. Sedangkan
rel yang dilalui merupakan bentangan waktu yang harus dilalui. Bagaimana bentuk rel itu
lokomotif harus mengikutinya. Disamping itu dalam kedudukannya sebagai orang yang berada
pada front terdepan yang memiliki fungsi sebagai role model, maka seorang Pandhita wajib
memahami keberadaan zaman, untuk tetap eksisnya ajaran yang akan dikembangkan. Untuk itu
terhadap tradisi yang sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan zaman seorang Pandhita
harus berani merombaknya, seperti apa yang terjabar dalam konsep Nutana dalam pendahuluan.
Sehingga wujud dari ajaran senantiasa tampil remaja, sehat dan segar dengan hidangan spiritual
yang selalu menggairahkan atau kontekstual.

Disamping itu di dalam usaha menampilkan ajaran yang memiliki derajat kesehatan dan
segar dan menggairahkan itu, seorang Pandhita harus tetap berpegang pada visi Weda, dimana
menu baru yang diketengahkan semata-mata sebagai usaha pendalaman, jangan sampai terjadi
pendangkalan, seperti banyaknya tradisi upacara yang digelar dengan berbagai thema tetapi
miskin akan makna. Dan yang tidak kalah pentingnya dalam situasi zaman yang pluralistic ini,
adalah bagaimana para Pandhita berani mengambil sikap ataupun strategi, yang meliputi ;

a. Pembenahan internal agama melalui pemaknaan-pemaknaan ulang ajaran agama yang

dianggap anakronistik, seperti masih adanya perlakuan-perlakuan diskriminasi terhadap
umat atau golongan tertentu dalam ranah agama dengan dalih ajaran kitab suci.

b. Menghadapi kemajemukan beragama. Pandhita perlu mengadakan rekontruksi tafsir-tafsir

kebencian dengan dalih ayat-ayat yang ada dalam kitab suci, untuk kemudian dijadikan
suatu tafsir kemajemukan yang mampu membentuk sebuah mozaik yang indah.

c. Mengedepankan sinergis lintas agama, guna membangun kesapahaman bersama. Sehingga

tidak terjadi tumpang tindih antara kepentingan politik dan kepentingan agama.

d. Mengelemenir atau menghilangkan fanatisme buta melalui gerakan modernisasi agama

55

lewat rasionalisasi agama.
Semua upaya yang dilakukan di atas merupakan wujud pendalamanuntuk menumbuhkan suatu
sikap yang disebut dengan Religious Literacy (kemelekan beragama).

C. Memiliki Kemampuan Berdialog
Seorang Pandhita idialnya adalah seorang yang Humanis tulen yang memiliki kesediaan

dan kemampuan untuk melakukan dialog kepada umat sehingga umat memiliki sikap terbuka,
toleran serta demokratis. Agar dapat berdialog dengan baik, maka ada tiga hal yang wajib
dikuasai yaitu :

a. Kesiapan sebagai komunikator, yaitu kemampuan untuk menyampaikan sesuatu secara

bijaksana dengan bahasa yang lugas, dengan tidak menyertakan emosi yang mengakibatkan
pihak lain mengalami ketersinggungan. Maka dalam hal ini seorang Pandhita dituntut untuk
cakap dalam pemakaian variasi bahasa dengan unsur- unsurnya seperti; vocal yang jelas,
gaya bahasa yang segar, kosa kata yang cukup, kalimat yang bervariasi, menguasai
gramatikal, penggunaan intonasi yang tepat. Disamping itu harus menguasai metode secara
bervariasi, dan penyajiannya harus kontektualnya.

b. Kesiapan intelektual, yaitu memiliki pengetahuan yang holistik. Pandhita idialnya memiliki

wawasan serta cakrawala pemikiran yang luas, ia tidak hanya faham pengetahuan yang
berhubungan dengan keagamaan, namun lebih dari pada itu ia wajib mengetahui berbagai
cabang ilmu lainnya seperti sosiologi, psycologi, anthropologi, teologi, perbandingan
agama dan sebagainya. Sehingga dengandemikian wajah agama yang ditampilkan lebih
banyak mengangkat dimensi kemanusiaan (anthroposentris) ketimbang teosentris dan
dimensi ritual simbolik.

c. Memiliki sikap Apologetik (pemaaf) dalam bahasa agama Hindu disebut dengan

Ksamawan. Sikap ini sangat dibutuhkan, mengingat umat yang dihadapi memiliki berbagai
temparamen. Untuk dapat memasuki, mempengaruhi seseorang, sikap penyabar dan pemaaf
merupakan modal untuk mendapatkan simpati dari umat. Oleh sebab itu seorang Pandhita
idialnya menguasai ilmu jiwa agama. Sehingga dalam penyampaian ajaran tidak ada kesan
pemaksaan dan intimidasi. Lebih-lebih berbicara tentang Hindu, dimana muara dari
ajarannya adalah Pembebasan atau Kelepasan.

56

KESIMPULAN
Eksistensi pandita dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu : berdasarkan guna; berdasarkan

kadar kemelekatan; berdasarkan swadharma; berdasarkan orientasi menjadi pandita; sulinggih
menurut keahliannya; hakikat pandita; esensialitas sang sista (sang satya wadi, sang apta, sang
patirthan.

57

PAKET 4

A. PENDAHULUAN
Perkuliahan pada pertemuan ini difokuskan pada pemaparan tentang Pengertian dan latar

belakang diksa. Adapun hal-hal yang akan dibahas pada pertemuan ini yaitu Etimologi Diksa,
terminology diksa, Ide manusia dewani, Ajaran Panca sraddha sebagai dasar dari diksa, realita
manusia sudra, klesa atau dosa yang mengiringi kelahiran manusia serta doktrin ajaran siwaistik.
Materi ini akan memudahkan mahasiswa untuk memahami dan mengidentifikasi hal-hal yang
melatarbelakangi diksa.

Penyampaian materi ini dibantu dengan presentasi power poin yang dibawakan oleh dosen
dengan harapan, mahasiswa dapat mengerti dengan lebih baik etimologi dan terminology diksa
serta hal-hal yang melatarbelakangi pelaksanaan diksa.

B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran

A. CP Sikap
(1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
(2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan
etika;
(3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan
kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
(4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta
rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
(5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat
atau temuan orisinal orang lain;
(6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
(7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
(8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;
dan
(10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

58

B. CP Pengetahuan:
Mahasiswa memahami Etimologi dan terminology diksa, serta latar belakang pelaksanaan
diksa (Ide Manusia Dewani/ Manusia Surga); Ajaran Panca Sraddha sebagai dasar dari
diksa; realita manusia sudra; klesa atau dosa yang mengiringi kelahiran manusia; doktrin
ajaran siwaistik.

C. CP Keterampilan Umum:
Mahasiswa memahami pengertian serta latar belakang diksa

D. CP Keterampilan Khusus
Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis pengertian serta hal-hal yang melatar
belakangi diksa

2. Materi Pokok
a. Etimologi Diksa
b. Terminologi Diksa
c. Ide Manusia Dewani/Manusia Surgawi
d. Ajaran Panca Sraddha sebagai dasar dari Diksa
e. Realita manusia Sudra
f. Klesa atau dosa yang mengiringi kelahiran manusia
g. Doktrin Ajaran Siwaistik

3. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan
a. Mahasiswa memahami Etimologi Diksa
b. Mahasiswa memahami Terminologi Diksa
c. Mahasiswa memahami konsep Ide Manusia Dewani/manusia Surgawi
d. Mahasiswa memahami Ajaran Panca Sraddha sebagai dasar dari Diksa
e. Mahasiswa memahami Realita manusia Sudra
f. Mahasiswa memahami klesa atau dosa yang mengiringi kelahiran manusia
g. Mahasiswa memahami doktrin ajaran siwaistik

4. Pengalaman Belajar
Memahami etimologi dan terminology diksa serta latar belakang diksa

5. Waktu
2 x 50 menit

59

6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan awal (15 menit)
1. Menyiapkan fokus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembukaan, dilanjutkan dengan doa bersama
2. Melakukan absensi
3. Menyampaikan tujuan pertemuan 2
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1. Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2. Menyampaikan isu-isu terkait mengenai pokok perkuliahan yaitu latar belakang diksa
3. Memandu diskusi seputar isu-isu terkait latar belakang diksa
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1. Menyimpulkan materi perkuliahan
2. Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk memperbanyak sumber bacaan yang
terkait dengan mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan (Dharma Sasananing Pandita)
d. Kegiatan lanjutan (5 menit)
1. Mempersiapkan pertemuan berikutnya

C. URAIAN MATERI

PENGERTIAN DIKSA

Kata dîksa dikonstruksi dari kata dî dari akar kata dan, yang berarti memberi pengetahuan
spiritual (divya jnana) dan kata ksa yang berarti menghancurkan kegiatan yang berdosa. Maka kata
diksa secara etimologi memiliki arti menghancurkan kegiatan berdosa melalui pengetahuan
spiritual (divya jnana/agnijnana). Hal ini ditemukan dalam pengertian diksa dalam Visnu Yamala
sebagai berikut.

“Divyam jnanam yato dadyat kuryat papasya sanksyam, tasmat dikseti sa prokta desikais
tattva kovidaih.”
(Diksa adalah proses dengan mana seseorang dapat membangun pengetahuan rohaninya, dan
menghancurkan semua reaksi yang disebabkan oleh kegiatan yang berdosa. Orang yang ahli dalam
pengetahuan Veda mengenal proses ini sebagai diksa).

60

Terminologi

Diksa berasal dari kata bahasa Sanskerta “di” yang berarti memberi pengetahuan spiritual
dan “ksa” yang berarti menghancurkan kegiatan-kegiatan yang berdosa. Berdasarkan hal tersebut,
diksa dapat diartikan sebagai mencapai pengetahuan spiritual dan bebas dari segala reaksi dossa
(Suhandana 2007). Disamping itu ada juga yang menyatakan bahwa Diksa berasal dari dua kata
“diipani” yang berarti terang yang menyinari dan “papaksayam” yang berasal dari kata “papa”
yang berarti karma negatif dan “ksayam” yang berarti mengurangi. Dalam hal ini diksa diartikan
sebagai “terang yang menyinari dan mengurangi karma negatif” (Dhyanashakti, 2001).

Diksa diartikan pula sebagai suatu Upacara Madwijati dari seorang dari seorang walaka
untuk dinobatkan menjadi Sulinggih (orang suci). Kata diksa juga disepadankan dengan initiation
dalam bahasa Inggris yang berarti penyucian, pentahbisan, pelantikan. Secara terminologi
diartikan sebagai suatu upacara penerimaan seorang menjadi murid dalam dunia spiritual oleh
seorang Guru Spiritual/Acarya yang bonafide (kerta diksita). Kata diksa memiliki padanan yang
sama dengan dvijati yang berarti lahir kedua kalinya. Pertama lahir dari rahim ibu, kedua kelahiran
yang diperoleh dari Guru kerohanian atau Guru Nabe, di Bali disebut dengan istilah “Nabe”.
Pelaksanaan diksa tidak sekedar inisiasi formal atau ritual belaka, melainkan juga menunjukkan
terjalinnya hubungan yang mendalam dan bersifat pribadi antara anta Guru Nabe dengan Sisya,
dalam rangka melembagakan nilai- nilai ke Tuhanan pada diri Sang Sisya.

Di Bali istilah diksa disepadankan dengan mapodgala, masuci, mabersih, madwijati,
malinggih yang mengandung pengertian sama dengan samskara/askara. Namun dalam
penggunaannya istilah askara dan mabersih lebih populer digunakan dalam upacara pitra yajna.

Menurut kitab Maha Nirwana Tantra, proses diksa merupakan pemberian mantra yang
dilakukan oleh seorang guru. Saat diksa dilakukan sisya menyatukan diri dengan guru, yaitu
dengan menyerap pranasakti Guru yang berstana di Sahasrara padma cakra. Sebagai ciri
kehadiran Nya digunakan yantra yang dilekati daya sakti dewata. Kemudian daya sakti itu
merasuk kedalam diri sisya yang melaksanakan diksa. Sebagaimana halnya sebuah lampu dalam
diri sisya dinyalakan dengan menggunakan lampu dalam diri Sang Nabe.

Pelaksanaan diksa tidak sekedar inisiasi formal atau ritual belaka, sebagai penyaluran
daya sakti dalam wujud mantra dari pribadi guru Nabe kepada sisyanya, melainkan juga
menunjukkan terjalinnya hubungan yang mendalam dan bersifat pribadi antara anta Guru Nabe
dengan Sisya, dalam rangka melembagakan nilai- nilai ke Tuhanan pada diri Sang Sisya.

61

Kitab Atharvaveda XI. 5.3 menjelaskan, bahwa saat pelaksanaan diksa, seorang Guru Nabe
seakan menempatkan murid atau Sisya dalam badannya, seperti seorang ibu mengandung bayinya
dan setelah melalui brata selama tiga hari, secara simbolis murid dilahirkan sebagai orang yang
sangat mulia disaksikan oleh para deva. Dengan demikian pelaksanaan diksa merupakan transisi
dari gelap ke terang, dari kemanusiaan menuju ke Tuhanan, sehingga terkesan rahasia dan kental
dengan nuansa magis dan mistis.

Dalam buku The Nectar of Devotion, inisiasi itu dinyatakan sebagai sifat hubungan guru
kerohanian dengan murid. Guru kerohanian adalah wakil Tuhan (Acaryamam), maka diksa berarti
pendekatan diri kepada Tuhan dan sekaligus merealisasikan serta melembagakan sifat-sifat ke
Tuhan dalam ajusment dan behavior keseharian. Diksa juga berarti menerima pengetahuan
spiritual murni. Sedangkan upacara diksanya disebut Upaniti , upacara yang dimaksud untuk
mendekatkan calon murid kepada Guru kerohanian atau mendekatkan diri kepada Tuhan.

Lebih lanjut mengenai konsep diksa sebagai dwijati, ada lembaga yang memposisikan
sebagai penerimaan murid kerohanian /angalap sisyaatau sebagai inisiasi untuk mulai menuntut
ilmu /upanayana. Realita ini membawa konsekuensi, tanpa upacara diksa dwijati tidak
dibenarkan belajar dan diberikan pelajaran Weda, karena masih berstatus sudra, tan wenang
amarahaken sanghyang Weda ring wwang durung sudiksa. Agastyaparwa lebih lanjut
menyatakan “Apan tan dadi sang Siddhayogiswara amarahaken bhatara irikang wwang tanpa
diksa.” Pola ini diterapkan oleh lembaga diksa warga Trah Nirartha. Kemudian ada yang
memposisikan diksa dwijati ini sebagai pengukuhan/wisuda atau penamatan, mengingat
sebelumnya telah dilakukan diksa Brahmana menjadi Ida Bhawati, sehingga setelah diksa
dwijati langsung dilanjutkan dengan Ngelinggihang Weda dan Apulang Lingga.

Untuk diketahui bahwa mula Pandita adalah Diksa, maksudnya bahwa Pandita itu ada
sebagai suatu produk dari institusi atau lembaga Diksa yang dasar pemikirannya dilandasi oleh:

1. Ide Manusia Devani

Agama rumpun Abrahamic cikal bakal manusia, yakni Adam dan Hawa sesungguhnya
berasal dari surga/ Taman Firdaus. Kemudian tereliminasi di dunia. Kerinduan untuk kembali ke
kampung halamannya inilah yang mendorong dilaksanakannya upacara diksa/inisiasi/baptis untuk
mengkontruksi manusia devani yang memiliki sifat kudus (Nasrani), haniffiyah (Islam). Ide ini

62

jika dipadankan dengan agama manusia devani, ini sebagai prasyarat dalam rangka mewujudkan
cosmos/order di dunia ini.

Agama rumpun Arya (Hindu, Budha), mewujudkan manusia devani sebagai suatu
keharusan, mengingat hakekat kehidupan manusia mengalir dari Tuhan/Brahman yang disebut
dengan Atman ; Brahman Atman Aikyam, (sesungguhnya Brahman dan Atman itu tunggal), Aham
Brahma Asmi, (saya adalah Brahman) dalam Brhadaranyaka Upanisad I.4.10. Esa ma Atma antar
hrdaye, (Brahman adalah atman dalam diri kita)

2. Ajaran Panca Sraddha

Sebagaimana diketahui, Brahman adalah asas dari alam semesta, sementara atman
merupakan asas hidup mahluk yang menjadikan mahlukitu hidup, lahir, berkarma serta menerima
pahala. Menurut kitab-kitab Upanisad Atman adalah percikan dari Brahman yang mempunyai
sifat dan keadaan yang sama degan Brahman, bahkan hakikatnya tunggal; Atman Brahman
Aikyam. Brhadaranyaka Upanisad 4.4.5; sa va ayam atma brahma, yang artinya : “Sebenarnya
Brahman adalah Atman ini.”

Mengenai keberadaan Atman dan Brahman ini, kitab Mundaka dan Sweta Swatara
Upanisad menggambarkan Brahman dan Atman ini sepertidua ekor burung yang berkeadaan
sama hinggap pada sebatang pohon, yang satu asyik menikmati buah pohon itu, sedang yang lain
hanya menyaksikannya saja. Burung yang menikmati buah pohon adalah Atman sedangkan yang
hanya menyaksikan adalah Brahman. Karena asyiknya menikmati buah menyebabkan atman
terlena oleh rasa buah tersebut, kemudian mengakibatkan terlena serta lupa akan hakikat
sesungguhnya adalah Brahman. Maka lembaga diksa adalah tangga mengembali kesadaran akan
Brahman tersebut.

3. Manusia lahir Sudra
Manusia yang lahir dalam dunia material/prakrti adalah kelahiran Sudra, lebih-lebih di

jaman Kali ini setiap manusia adalah Sudra, kalau sudra sambhavah.

“Janmane jayate sudra, samskarairdvija ucyate,
Veda pathat bhavet viprah, brahma janati brahmanah.”
Terjemahan:

63

(Ketika lahir dari rahim ibu, seseorang dikatakan Sudra, dengan diksa/Samskara seseorang
menjadi dwijati, dengan mempelajari Veda seseorang mencapai kedudukan sebagai
seorang suci; dan siapapun mempunyai pengetahuan tentang Brahman disebut Brahmana)

Orang yang berstatus Sudra tidak dibenarkan belajar Veda, Maka untuk membangun

kesadaran Tuhan, setiap orang wajib didiksa untuk menciptakan sifat ke brahmanaan dalam

rangka mengumandangkan pengetahuan spiritual (Srimad Bhagavatam 4.12.48).

Parallel dengan pernyataan di atas kitab Gotama smerthi. 12 yang dikutip dalam Al Quraan

(40:1982/1983) menyatakan;

“Apabila orang sudra kebetulan mendengarkan Weda dibaca, maka adalah kewajiban raja
untuk mengecor cor coran timah dan malam pada kupingnya; apabila seorang sudra
membaca mantra mantra Weda, maka raja harus memotong lidahnya, dan apabila ia
berusaha untuk membaca Weda, maka raja harus memotong badannya. “

Maka pernyataan ini ada benarnya, sebelum proses diksa, dalam naskah Bongkol
Pangasrayan tentang Tingkahing Adiksa, ada yang namanya prosesi “Ndilah” dalam upacara

Diksa yang diterapkan oleh Wamsa Danghyang Nirartha. Prosesi ini dilaksanakan sebagai upaya

menghilangkan wangsa Sudra sang Sisya.

Dahulu kala sebelum zaman kali yang boleh lahir dua kali atau tiga kali hanyalah mereka

yang lahir di keluarga para Brahmana, seperti apa yang tersurat dalam naskah Siwa Sasana:
“Haywa Dhang Upadhyaya dumiksa samanya janma tan jatiningbrahmawangsa mwang
bhasmangkara. Brahma wangsa ngaran maka kula brahmana, putra potrakaning
wiprajati, ya brahmawangsa ngaran. Bhasmangkura nga, maka kula kula ta sadhaka
bhetning wiku saiwa sogata, anak putu, kapwanakan kuneng yeka sinangguh
bhasmangkara ngaran. Ikang wwang lyan sakeriya pwanya, yeka samanya janma
nga.ndatan yogya sangaskarantumuteprakrttining sadhaka.”

Artinya:
Janganlah Sang Sadhaka memberi diksa pada orang keturunan orang biasa, bukan
brahmanawangsa, dan bukan bhasmangkara. Brahmawangsa berarti keturunan
Brahmana, putra-putra pandita sejati itulah brahmawangsa namanya. Bhasmangkura
berarti memang keturunan Sadhaka, berasal dari pandita Siwa Buddha,apakah anak cucu
dan juga keponakan, itulah yang disebut bhasmangkara. Orang yang lain dari pada itu,
orang biasa namanya, tidak boleh diupacarai seperti yang berlaku bagi sadhaka.

“Kunang yan swi kahyunta magurwa, diksan de dhang guru tuhun haywa inudhara,
samanya sangskara kna kna, ambaru juga prayogyanya, kapunta caraka kasengguhnya,
tar ilwa sinangguh sadhaka, nda tan ilwa sikadhara, mwang tan panandanga
siwopakara, ndaya dosanya yang milwing sadhaka.”

64

Artinya:
Namun jika keras keinginannya berguru, didiksa juga oleh sang guru, namun jangan
dipudgala, upacara sederhana saja, hanya mendapat restu saja, Kapunta Caraka gelarnya,
tidak ikut disebut sadhaka. Tidak memakai sikadhara dan tidak mengenakan upacara
pandita Siwa. Betapa dosanya kalau menjadikannya sadhaka.

Pernyataan secara eksplisit naskah Siwa Sasana di atas sangat ekslusif dan sangat terkesan
menghegemoni serta monopoli atas kepemilikan modal. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan
spirit Weda dan nilai – nilai yang terkandung di dalam faham Saiwa Tattwa yang sangat bersifat
egaliter. Dengan demikian teks ini tidak terlepas dari pengaruh politik kekuasaan di wilayah
agama. Padahal adanya proses ndilah menyatakan bahwa calon diksita adalah sudra. Bahkan
sejak mulainya zaman Kali atau Kali Yuga, saat penobatan raja Parikisit 18 Februari tahun 3.102
sebelum masehi. Pendapat ini dikemukan oleh Aryabatta ahli astronomi Hindu. Sejak saat itu
semua orang merupakan kelahiran sudra (kaliyuga sudra sambhavah).

Adanya tahapan samskara Bhawati sebelum diksa Pandita Mpu merupakan jawaban
terhadap tidak dibolehkannya menjadikan calon diksita bagi sembarangan orang. Maka ketika
disamskara menjadi Bhawati sebagai pratamadiksa/diksa Brahmana, maka sahlah yang
bersangkutan menjadi keluarga brahmana. Berdasarkan dunia Babad, khususnya sejarah Pasek
dimana Mula Acharya-nya, sekaligus wamsakarta sebagai pendiri dinasti berpusat pada Mpu
Agnijaya, dengan tegas mengamanatkan dalam bhisama leluhur untuk mempertahankan serta
mengokohkan Dharma Kapanditan bagi keturunannya (prati santananya), sebagai bentuk
pemertahanan wangsa, suara dari atas ke bawah. Dengan demikian mengenai kepemilikan modal
kebrahmanaan dan kepanditaan, bukanlah sesuatu yang baru. Kemudian mengapa terputus, tentu
hal tersebut tidak lepas dari politik agama setelah Majapahit menguasai pulau Bali. Modal
simbolik ini kemudian berpindahpada wamsa lain.

4. Manusia lahir ternoda/Klesa

Kelahiran sebagai proses rohani menjasmani, Atma bhutasya (dari Atma ke bhuta)
menyebabkan Atma kehilangan jati dirinya, dari Atutur menjadi Aturu. Sang Atma dilekati oleh
noda/klesa. Menurut Samkya Darsana noda itu disebut dengan Panca Klesa yang terdiri dari;
Avidya (kegelapan) melahirkan kebodohan, Raga (keterikatan) melahirkan penderitaan, Dvesa
(kebencian) melahirkan dendam dan kehancuran, Abhinevesa (takut akan kematian) melahirkan

65

penjelmaan terus menerus, Asmita (ego) melahirkan kegilaan. Maka diksamerupakan ikhtiar umat
Hindu untuk menghapuskan Pancaklesa ini, sehingga terjadi suatu transformasi dari Aturu ke
Atutur, dari awidya ke widya, dari asat ke sat, dari gelap ke terang, dhanawa manawa twam,
manawa madhawa twam.

5. Doktrin Ajaran Siva
Dalam madzad Saiva Siddhanta yang memiliki sifat egaliter, memandang semua manusia

sama dan sederajat, sama-sama berasal dari Siva dan kembali ke Siva.
“ Sakwehning jagat kabeh, mijil sangkeng Bhatara Siva ika, lina ring Bhatara Siva ya.”

Artinya;
Seluruh alam ini muncul dari Bhattara Siwa lenyap kembalikepada Bhattara
Siwa juga (Bhuwanakosa III.80).
Pernyataan di atas mengalir dari isi upanisad sebagai puncak dari ajaran Veda

(Vedanta), Taittiriya Upanisad III.1 ;
“Yato va imani bhutani jayante, yena jatani jivanti,
Yat prayanty abhisam visanti, tad vijijnasasva tad brahmeti.”

Artinya ;
Dari mana semua ini lahir, dengan apa yang lahir ini hidup, kemanamereka masuk
setelah kembali, ketahuilah, bahwa itu adalah Brahman.

Kesederajatan itu akan terjadi jika semuanya menjadi Siva. Untuk menjadi Siva diksalah sebagai
Pintu Pembukanya. Siapakah Siva ?

KESIMPULAN
Diksa diartikan pula sebagai suatu Upacara Madwijati dari seorang dari seorang walaka

untuk dinobatkan menjadi Sulinggih (orang suci). Kata diksa juga disepadankan dengan initiation
dalam bahasa Inggris yang berarti penyucian, pentahbisan, pelantikan. Untuk diketahui bahwa
mula Pandita adalah Diksa, maksudnya bahwa Pandita itu ada sebagai suatu produk dari institusi
atau lembaga Diksa yang dasar pemikirannya dilandasi oleh: Ide Manusia Devani; Ajaran Panca
Sraddha; Manusia lahir Sudra; Manusia lahir ternoda/Klesa; Doktrin Ajaran Siva.

66

PAKET 5

A. PENDAHULUAN

Perkuliahan pada pertemuan ini difokuskan pada pemaparan tentang kapasitas diksa.
Adapun hal-hal yang akan dibahas pada pertemuan ini yaitu diksa sebagai dasar keyakinan; diksa
sebagai tangga menuju Tuhan; Diksa sebagai manifestasi dharma; serta diksa sebagai institusi
bersifat formal. Materi ini akan memudahkan mahasiswa untuk memahami dan mengidentifikasi
kapasitas dari diksa.

Penyampaian materi ini dibantu dengan presentasi power poin yang dibawakan oleh dosen
dengan harapan, mahasiswa dapat mengerti dengan lebih baik terkait kapasitas diksa.
Dikombinasikan juga dengan tanya jawab kepada mahasiswa terkait pemahaman yang telah
mereka dapatkan selama beberapa kali pertemuan sebelumnya.

B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap

(1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
(2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan

etika;
(3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan

kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
(4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta

rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
(5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat

atau temuan orisinal orang lain;
(6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan

lingkungan;
(7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
(8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;

dan
(10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

67

B. CP Pengetahuan:
Mahasiswa memahami kapasitas diksa sebagai dasar keyakinan, sebagai tangga menuju
Tuhan, sebagai manivestasi dharma, serta diksa sebagai institusi bersifat formal.

C. CP Keterampilan Umum:
Mahasiswa memahami kapasitas diksa sesuai dengan materi yang diberikan

D. CP Keterampilan Khusus
Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis kapasitas-kapasitas diksa.

2. Materi Pokok
a. Diksa sebagai dasar keyakinan
b. Diksa sebagai tangga menuju Tuhan
c. Diksa sebagai manifestasi dharma
d. Diksa sebagai institusi bersifat formal

3. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan
a. Mahasiswa memahami diksa sebagai dasar keyakinan
b. Mahasiswa memahami diksa sebagai tangga menuju Tuhan
c. Mahasiswa memahami diksa sebagai manifestasi dharma
d. Mahasiswa memahami diksa sebagai institusi bersifat formal

4. Pengalaman Belajar
Memahami kapasitas-kapasitas diksa

5. Waktu
4 x 50 menit

6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan awal (15 menit)
1. Menyiapkan fokus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembukaan, dilanjutkan dengan doa bersama
2. Melakukan absensi
3. Menyampaikan tujuan pertemuan 2
b. Kegiatan Inti (70 menit)

68

1. Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2. Menyampaikan isu-isu terkait mengenai pokok perkuliahan yaitu kapasitas diksa
3. Memandu diskusi seputar isu-isu terkait kapasitas diksa
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1. Menyimpulkan materi perkuliahan
2. Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk memperbanyak sumber bacaan yang

terkait dengan mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan (Dharma Sasananing Pandita)
d. Kegiatan lanjutan (5 menit)

2. Mempersiapkan pertemuan berikutnya

C. URAIAN MATERI

KAPASITAS DIKSA

Diksa Sebagai Dasar Keyakinan
Diksa sebagai salah satu unsur keimanan Hindu, yang berarti, inisiasi yang merupakan

landasan ajaran agama Hindu agar tetap ajeg dunia ini. Hal tersebut dinyatakan dalam Atharwa
Weda XII, 1.1, yang berbunyi sebagai berikut :

“Satyam brhad rtam ugram diksa tapo
Brahma yajna prthivim dharayanti”

(Sesungguhnya kebenaran, hukum, inisiasi, disiplin, doa, serta persembahan merupakan
penyangga dari bumi ini).

Diksa Sebagai Tangga Menuju Tuhan
Dalam ajaran agama Hindu, untuk dapat menyatukan diri dengan Tuhan, ada empat

tahapan yang mesti dilakukan oleh umat Hindu seperti pernyataan kitab Yajur Veda XX. 25
sebagai berikut :

“Vratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksinam
daksinam sraddham apnoti, sraddhaya satyam apyate”
(Dengan menjalankan brata (disiplin diri) seseorang mencapai diksa (penyucian diri), dengan
diksa seseorang memperoleh daksina (penghormatan), dengan daksina seseorang mencapai
sraddha (keyakinan yang teguh), melalui sraddha seseorang akan mencapai Satya (Tuhan)

69

Dari pernyataan mantra di atas, diksa adalah salah satu dari empat tangga yang mesti dilalaui oleh
umat Hindu dalam mewujudkan Satya atau Tuhan.

Diksa Sebagai Manifes Dharma
Dalam Wrhaspatti Tattva 25 dinyatakan bahwa usaha untuk menyucikan diri melalui diksa,

merupakan salah satu perwujudan dharma, yang terpilah menjadi tujuh terdiri dari; sila, yajna,
tapa, dana, pravjya, diksa dan yoga. Dengan demikian bagi yang ingin melaksanakan agama
secara utuh maka salah satu dari bagian dharma tersebut tidak boleh diabaikan termasuk diksa.

Diksa Sebagai Institusi Bersifat Formal
Sebagai institusi yang bersifat formal diksa akan membedakan seseorang antara kaum

awam dengan imam beserta atributnya yang terikat dengan aturan Catur Bandana Dharma;
amariaran (berganti nama), amarivesa (berganti atribut) , amarisasana (berganti pekerjaan) dan
amulahaken kagurususrusa (setia dan taat pada Guru Nabe). Kemudian melalui diksa memberikan
seseorang wewenang untuk melakukan tugas ngeloka pala sraya

Selain itu itu diksa merupakan wahana/media untuk menstransfer pengetahuan ke Tuhanan
(divya jnana) dari seorang Guru yang bonafide kepada sisya yang terlebih dahulu telah diuji (siksa)
atau diseleksi (pariksa). Sebagai lembaga yang bersifat formal maka pelaksanaan diksa hanya
boleh dilakukan melalui sistem Parampara atau aguron-guron. Mengingat hakekat ke Tuhanan
hanya boleh disampaikan apabila seseorang telah memperoleh diksa, seperti pernyataan
Agastyaparwa 391.20 sebagai berikut.
“Kunang hetuning diksa hinanaken ta wekasan, tinut sang guru maweh tattwa i sang sisya, apan
tan dadi sang siddhayogiswara amarahaken bhatara irikang wwang tan padiksa.”

(Adapun sebab munculnya diksa yang selanjutnya diteruskan kemudian, mengikuti jejak guru
memberikan ajaran tattwa kepada sisya. Oleh karena tidak boleh seorang yang sudah mencapai
tingkatan Yogiswara menguraikan hakekat keTuhanan kepada seseorang yang belum didiksa).

KESIMPULAN

Kapasitas diksa yang dibahas dalam paket ini adalah: Diksa sebagai dasar keyakinan;
Diksa sebagai tangga menuju Tuhan; Diksa sebagai manifes dharma; serta Diksa sebagai institusi
bersifat formal.

70

PAKET 6

A. PENDAHULUAN
Perkuliahan pada pertemuan ini difokuskan pada pemaparan tentang fungsi diksa. Adapun

hal-hal yang akan dibahas pada pertemuan ini yaitu Penyucian menuju penyelamatan;
pengorbanan menuju persembahan; serta penebusan menuju pembebasan. Materi ini akan
memudahkan mahasiswa untuk memahami dan mengidentifikasi fungsi dari diksa.

Penyampaian materi ini dibantu dengan presentasi power poin yang dibawakan oleh dosen
dengan harapan, mahasiswa dapat mengerti dengan lebih baik terkait fungsi diksa.
Dikombinasikan juga dengan tanya jawab kepada mahasiswa terkait pemahaman yang telah
mereka dapatkan selama beberapa kali pertemuan sebelumnya.

B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap

(1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
(2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan

etika;
(3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan

kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
(4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta

rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
(5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat

atau temuan orisinal orang lain;
(6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan

lingkungan;
(7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
(8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;

dan
(10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

B. CP Pengetahuan:
Mahasiswa memahami fungsi diksa sebagai penyucian menuju penyelamatan, pengorbanan
menuju persembahan, serta penebusan menuju pembebasan.

71

C. CP Keterampilan Umum:
Mahasiswa memahami fungsi diksa sesuai dengan materi yang diberikan

D. CP Keterampilan Khusus
Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis fungsi-fungsi diksa.

2. Materi Pokok
a. Diksa sebagai penyucian menuju penyelamatan
b. Diksa sebagai pengorbanan menuju persembahan
c. Diksa sebagai penebusan menuju pembebasan

3. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan
a. Mahasiswa memahami fungsi diksa sebagai penyucian menuju penyelamatan
b. Mahasiswa memahami fungsi diksa sebagai pengorbanan menuju persembahan
c. Mahasiswa memahami fungsi diksa sebagai penebusan menuju pembebasan

4. Pengalaman Belajar
a. Memahami fungsi-fungsi diksa

5. Waktu
2 x 50 menit

6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan awal (15 menit)
1. Menyiapkan fokus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembukaan, dilanjutkan dengan doa bersama
2. Melakukan absensi
3. Menyampaikan tujuan pertemuan 2
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1. Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2. Menyampaikan isu-isu terkait mengenai pokok perkuliahan yaitu fungsi diksa
3. Memandu diskusi seputar isu-isu terkait fungsi diksa
c. Kegiatan penutup (10 menit)
72

1. Menyimpulkan materi perkuliahan
2. Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk memperbanyak sumber bacaan yang

terkait dengan mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan (Dharma Sasananing Pandita)
d. Kegiatan lanjutan (5 menit)

3. Mempersiapkan pertemuan berikutnya

C. URAIAN MATERI

FUNGSI DIKSA

1. Penyucian/Purification Menuju Penyelamatan/Salvation
Lahir adalah sebuah kepapaan/samsara, dalam kelahiran pula papa itu harus dilenyapkan,

“Ksaya nikang papa nahan prayojana,” (lenyapnya penderitaan demikianlah tujuan menjelma).
Penderitaan serta papa muncul karena klesa/noda yang ditimbulkan oleh Panca Maha Bhuta.
Untuk melenyapkan itu penyucian harus dilakukan. Diksa secara implisit mengandung makna
penyucian atau pemurnian untuk mengembalikan manusia pada hakekat sifat-sifat ke Tuhanannya.
Dalam rangka merealisasikan kesucian ini eksistensi diksa berperan melebur dan membakar
karma-karma buruk baik yang melekat pada jasmani juga pada rohani. Prosesi pembakaran ini
disebut dengan Dagdikarana.

Kemudian secara eksternal semua aktivitas kehidupannya semata-mata diabdikan untuk
melayani Tuhan. Hanya pada tubuh yang telah mengalami penyucianlah Tuhan diyakini akan
merealisasi serta mengalirkan waranugrahanya seperti; petikan puja pancaparamartha berikut.

“Agni madhye rawis caiva, Ravi madye tu Candramah,
Candra madye bavet suklah, Suklah madye stitah Sivah.”
(Pada Agni bersemayam matahari, pada matahari bersemayam bulan, pada bulan
bersemayam kesucian, pada kesucian bersemayam Tuhan Siva).

Pelembagaan diksa yang benar serta dilaksanakan oleh seorang Guru yang bonafide/ Krta
Diksita akan membawa dampak yang luar biasa, terwujudnya sosok siva sakala atau manusia

73

devani/ilahi/hierofani sebagai pemilik modal simbolik, sebagai penghubung utama antara
masyarakat dengan Tuhan. Sebagai pemegang modal simbolik, para diksita/pandita ini
diidentikkan messias atau juru selamat membebaskan manusia dari penderitaan. Dalam tindakan
ritual dilakukan peleburan papa/noda umat serta menurunkan gangga serta amertha untuk
keselamatan umat.

2. Pengorbanan/Sacrifice Menuju Persembahan/Offering

Bagi yang melaksanakan diksa yajna yang paling mulia adalah mengorbankan semua
keterikatan duniawi adalah sebuah sikap mental yang harus diutamakan. Pelaksanaan Matiraga
sebagai pembuka dalam upacara padiksan bermakna bagaimana sang diksita tidak lagi pamrih dan
terikat pada kehidupan dunia. Seorang diksita adalah pertapa yang senantiasa mengendalikan
semua hawa nafsunya, umatendrya tan wineh ring wisayanya (mengendalikan segala nafsunya
serta tidak melampiaskan pada objek kenikmatan), tan agirang yang hana wwang ingalem tan
alara yang hana wwang aninda (tidak senang jika ada yang memuji dan tidak berduka jika ada
merendahkan). Semua dedikasi dipersembahkan untuk Tuhan, kerja yang dilakukan semata-mata
atas dasar nishkamakarma bukan wisayakarma. Dengan diksa secara formal manusia telah
memulai kehidupan sebagai orang suci dan menjadikan tubuhnya sebagai persembahan untuk
menstanakan Tuhan/Siva dan melepaskan ikatan atma untuk menjadi Siva, seperti pernyataan
Maitreyi Upanisad (2.1)

“Dehi devalayah proktah, sajiva kevalah sivah.”
(Badan jasmani adalah tempat suci, jiwa adalah Siva itu sendiri).

3. Penebusan/Redemption Menuju Pembebasan/Liberation

Tujuan tertinggi dalam kehidupan umat Hindu adalah moksa. Untuk mencapai moksa
manusia diwajibkan melakukan penebusan terhadap semua karma-karma buruk yang dilakukan di
masa lalu maupun saat ini. Diksa adalah wahana penebusan yang memungkinkan manusia lepas
dari reaksi kegiatan yang berdosa. Dengan diksa kesadaran rohani di bangun sehingga terbebas
dari pencemaran material. Karunia Tuhan hanya diperuntukkan bagi mereka yang di lahirkan dua
kali/dwijati. Dalam konteks ini Bagavadgita IV.9 menyatakan sebagai berikut.

“Janma karma ca medivyam evam yo vetti tattvatah
Tyaktva deham punar janma naiti mam eti so ‘rjna.”

74

(Ia yang mengetahui sifat rohani kelahiran dan kegiatan Ilahi Ku yang sejati, tak akan
menjelma kembali setelah menanggalkan badan jasmaninya dan datang kepada-Ku, wahai
Arjuna).

Tanpa memiliki pengetahuan rohani, akan menyebabkan manusia lahir kembali lagi ke
dunia ini. Oleh karena itu pengetahuan rohani menjadi pengetahuan yang sangat penting dalam
hidup sebagai media penebusan untuk mencapai pembebasan. Dimana diksa merupakan
persyaratan pokoknya. Kemudian dalam kitab Visnu Yamala dinyatakan.

“Adiksitasya vamoru krtam sarvam nivarthaham pasu, yonim avapnoti diksa virahito
janah.”

(Orang tanpa didiksa oleh guru kerohanian yang bonafide, semua pelayanan bhaktinya
tidak berguna. Orang yang tidak diinisiasi secara benar dapat merosot lagi ke dalam
berbagai species binatang).

Orang yang didiksa secara tidak benar saja dapat merosot, apalagi yang tidak didiksa tidak
perlu dipertanyakan lagi, kemana mereka. Bahkan Maha Nirwana Tantra menyatakan; tanpa
diksa segala, japa, mantra puja dan sebagainya yang dilakukan tidak ada gunanya atau sia – sia.
Bahkan dalam buku The Spiritual Master And The Deciple, menyatakan; meskipun lahir di
keluarga Brahmana, orang tidak dapat terlibat kegiatan ritual/yajna tanpa inisiasi dan
mempunyai benang suci.

KESIMPULAN

Beberapa fungsi dari pelaksanaan diksa yaitu: penyucian/purification menuju

penyelamatan/salvation; pengorbanan/sacrifice menuju persembahan/offering;

penebusan/redemption menuju pembebasan/liberation.

75

PAKET 7

A. PENDAHULUAN
Perkuliahan pada pertemuan ini difokuskan pada pemaparan tentang tujuan diksa dalam

perspektif Sivaistik. Adapun hal-hal yang akan dibahas pada pertemuan ini yaitu: diksa menuju
alam Siva; implementasi ajaran saiva sidhdhanta dalam diksa; implementasi ajaran astamurthi
siva; Kontruksi Ka-Bhujanggan; Kontruksi Ka-Bhodaan; Kontruksi Ka-Saivan.

Penyampaian materi ini dibantu dengan presentasi power poin yang dibawakan oleh dosen
dengan harapan, mahasiswa dapat mengerti dengan lebih baik terkait tujuan diksa dalam perspektif
Sivaistik. Dikombinasikan juga dengan tanya jawab kepada mahasiswa terkait pemahaman yang
telah mereka dapatkan selama beberapa kali pertemuan sebelumnya.

B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap

(1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
(2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan

etika;
(3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan

kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
(4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta

rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
(5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat

atau temuan orisinal orang lain;
(6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan

lingkungan;
(7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
(8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;

dan
(10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

B. CP Pengetahuan:
Mahasiswa memahami tujuan diksa dalam perspektif sivaistik yaitu diksa menuju alam siva;
implementasi ajaran saiva siddhanta dalam diksa; implementasi ajaran astamurthi siva;
konstruksi ka-bhujanggan; kontruksi ka-bhodaan; kontruksi ka-saivan.

76

C. CP Keterampilan Umum:
Mahasiswa memahami tujuan diksa dalam perspektif sivaistik sesuai dengan materi yang
diberikan

D. CP Keterampilan Khusus
Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis tujuan-tujuan diksa.

2. Materi Pokok
a. Diksa menuju alam Siva
b. Implementasi ajaran saiva siddhanta dalam diksa
c. Implementasi ajaran astamurthi siva
d. Kontruksi Ka-Bhujanggan
e. Kontruksi Ka-Bhodaan
f. Kontruksi Ka-Saivan

3. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan
a. Mahasiswa memahami tujuan diksa menuju alam saiva
b. Mahasiswa memahami tujuan diksa sebagai implementasi ajaran saiva siddhanta dalam
diksa
c. Mahasiswa memahami tujuan diksa sebagai implementasi ajaran astamurthi siva
d. Mahasiswa memahami kontruksi Ka-Bhujanggan
e. Mahasiswa memahami kontruksi Ka-Bhodaan
f. Mahasiswa memahami kontruksi Ka-Saivan

4. Pengalaman Belajar
a. Memahami fungsi-fungsi diksa

5. Waktu
4 x 50 menit

6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan awal (15 menit)
1. Menyiapkan fokus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembukaan, dilanjutkan dengan doa bersama
2. Melakukan absensi

77

3. Menyampaikan tujuan pertemuan 2
b. Kegiatan Inti (70 menit)

1. Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2. Menyampaikan isu-isu terkait mengenai pokok perkuliahan yaitu tujuan diksa
3. Memandu diskusi seputar isu-isu terkait tujuan diksa
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1. Menyimpulkan materi perkuliahan
2. Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk memperbanyak sumber bacaan yang

terkait dengan mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan (Dharma Sasananing Pandita)
d. Kegiatan lanjutan (5 menit)

1. Mempersiapkan pertemuan berikutnya

C. URAIAN MATERI

TUJUAN DIKSA

Tujuan Diksa secara umum adalah
a. Sebagai upaya penyucian diri seseorang baik lahir maupun bathin.
b. Untuk meningkatkan atau merubah status seseorang yang semula sebagai walaka menjadi

Sadhaka atau Sulinggih
c. Memberikan kewenangan kepada seseorang untuk mempelajari Kitab Suci Weda dalam

kapasitasnya sebagai seorang Sulinggih, yang selanjutnya dapat memberikan pelayanan di
bidang keagamaan kepada umat Hindu.
d. Untuk dapat melakukan Lokapalasraya dan Aguruloka atau menjadi Guru Nabe.

TUJUAN DIKSA PERSPEKTIF SIVAISTIK

1. Diksa Menuju Alam Siva
Diksa dalam teks dan konteks Sivaistik di Bali memiliki tujuan untuk mengkontruksi

seseorang sisya untuk menjadi Siva kemudian mencapai moksa; sisya-siksa-pariksa-diksa-
pandita-sista-siva-moksa, seperti apa yang termaktub dalam doktrin Sivaistik sebagai berikut.

78

“Sakwehning jagat kabeh, mijil sangkeng Bhatara Siva ika, lina ring Bhatara Siva ya.”

(Semua isi jagat raya ini muncul dari Bhatara Siva itu, kemudian kembali kepada Bhatara
Siva juga).

Makna petikan di atas secara implisit mengandung suatu amanat agar penganut faham
Saiva mempersiapkan diri untuk bersatu dan kembali ke Siva, seperti apa yang dijelaskan oleh
Atmalingga (Sakala – Sakalaniskala- Niskala) atau Dharma Kalepasan/Nirvrrti Kadharma.
Ajaran Atmalingga ini diterapkan sebagai suatu bentuk pengakuan terhadap dunia
nomena/metafisis ini yang bersifat kekal atau abadi dan dunia fenomena yang bersifat tidak kekal.
Unsur yang kekal (Sivatma) sebagai penyebab kehidupan ini wajib dimurnikan serta dikembalikan
pada sifat-sifat dasarnya yang niskala yakni Paramasiva. Pengembalian yang kekal tersebut tidak
hanya dilakukan manakala sang tubuh ini mati, namun dapat dilakukan semasih hidup, guna
terwujudnya Jivan Mukti.

Pengembalian yang kekal ini semasih hidup tidak dilakukan secara permanen, melainkan
bersifat temporal, saat-saat tertentu melalui Yoga maupun Sivi Karana beserta Catur Dasa Sivanya
dalam dunia kepanditaan.

Dengan demikian lembaga Diksa merupakan gerbang pembuka atau promosi manusia
untuk melakukan resepsi atau perjumpaan kemudian integrasi atau penyatuan dengan Siva atau
Brahman, mengingat melalui diksa sakralisasi di mulai serta transendensi dan imanensi akan
terjadi.
2. Implementasi Ajaran Saiva Siddhanta Dalam Institusi Diksa

Saivaisme yang berpengaruh di Indonesia adalah madzad Saiva Siddhanta, yang membagi
ajarannya ke dalam 3 (tiga) tahapan:
1. Siva Tattva (Niskala)/ Sunya, tanpa (wujud, awal akhir)

1).Parasakti/Santyatitasakti pencapaian Sat Cit Ananda Svarupa.
2).Adisakti/Santisakti kekuatan untuk menghancurkan maya, mala dan karma.
3).Ichachasakti/Widyasakti kekuatan yang menuntun jiwa untuk bebas dari ikatan maya,

mala, karma.
4).Jnanasakti/Prathistasakti kekuatan menuntun jiwa perlahan-lahan ke alam kedamaian /

santi.
5).Kriyasakti/Nirvritisakti kekuatan menimbulkan perasaan sadar dalam jiwa
2. Sadasiva Tattva (Niskala-Sakala)

79

1).Parasakti muncul Isana (I)
2).Adisakti muncul Tat Purusa (Ta)
3).Ichachasakti muncul Sadyojata (Sa)
4).Jnanasakti muncul Aghora (A)
5).Kriyasakti muncul Bamadewa (Ba)

3. Mahesa Tattva (Sakala)/Mahesamurti
1). Srsti/penciptaan – Brahma (Ang)
2). Sthiti/pemeliharaan- Visnu (Ung)
3). Pralina/peleburan- Rudra (Mang)

3. Implementasi ajaran Astamurthi Siva
Tiga Tattva di atas melahirkan konsepsi Astamurthi Siva yang terdiri dari;

1.Niskala-Prajnamatra-Yajamanamurthi ; Hotri, Pasupati, Diksita Brahmana atau Brahma (1)
2.Niskala-Sakala-Pranamatra-Suryamurthi ; Isana

-Candramurthi ; Mahadeva (2)
3.Sakala- Bhutamatra- Akasamurthi ; Bhima, Isana

Wayumurthi ; Ugra, Tatpurusa
Agnimurthi ; Aghora
Jalamurthi ; Bhava, Bamadeva
Prethivimurthi ; Sarva, Sadyojata (5)
Dalam institusi diksa ketiga tattvas serta Astamurthi Siva didistribusikan kepada Sang
Katrini Katon, yang kemudian lebih terkenal dengan Tri Sadhaka yakni;
Niskala untuk Saiva
Niskala-Sakala untuk Boddha/Sogata
Sakala untuk Bhujangga.
Padahal bagi penganut ajaran Saiva ketiga tattvas itu merupakan bagian yang tidak
terpisahkan /terintegrasi dalam diri Pandita, terutama dalam parikrama mempromosikan diri untuk
menjadi Siva seperti berikut.

80

Konstruksi Ka-Bhujanggan

Pada tahapan pertama seorang sulinggih atau Pandita merupakan wujud Siva. Siva dalam
Siva-tattva, sebagai wujud Sang Hyang Sivãtma, Sang Hyang Maya-sira-tattva,Sang Hyang
Dharma, San Hyang Jagat-karana. Sang Hyang Sivãtma atau Sang Hyang Maya-sira-tattva.
Beliau dipengaruhi oleh Maya-tattva atau Predhana-tattva, Beliau juga disebut Purusa-Predhana-
Tattva, karena pada saat itu Beliau diikat oleh hukum Rva-Bhineda, yang menimbulkan terjadinya
Tri-Guna, Citta, Budhi, Ahamkara, dan Satwam, Rajah dan Tamas, sampai terjadinya Panca-
Maha-Bhuta. Maka dari itu tahapan pertama yang dilakukan Pandita akan memulai pemujaan
adalah; memakai kampuh(kain) dan memakai sabuk (papetet), kemudian mulai duduk dengan
sikap Padmasana menghadap Siva-upha-karana, selanjutnya melaksanakan sakralisasi diri
dimulai dengan Ngili Atma dengan menuntun Sang Hyang Atma lalu disthanakan pada lingga-
atma di sebelah Sivambha. Selanjutnya melakukan An-Dagdig-Karana atau pembakaran
(Samhara) unsur Panca Maha Bhuta pada diri, dengan tujuan menguraikan, melebur pãpa-klesa,
tri-mala, panca-mala dan dasa-mala atau kekotoran-kekotoran yang terdapat pada diri demi
terjadinya pemurnian / kesucian diri. Ibarat emas yang masih bersintesa dengan bongkahan tanah,
untuk memperoleh emas murni perlu dilebur melalui pembakaran, mengingat masih dilekati oleh
tanah dan kotoran.

81

Setelah emas diperoleh, kemudian sisa-sisa kotoran itu ditenggelamkan disebut dengan
Amrthi Karana sebagai implementasi dari Tirobhava. Setelah itu dilakukan penciptaan; utpeti
sthiti disebut dengan proses Sivi Karana. Kemudian dilanjutkan dengan memperagakan
patanganan atau So-dasa-mudra. Tarian tangan atau patanganan yang dilakukan oleh Pandita
memiliki makna tertentu dan mempunyai kekuatan gaib yang sangat hebat, Petanganan atau mudra
adalah sebagai senjata sang Sadhaka, dalam melakukan penyucian diri dan kekuatan untuk
memancarkan vibrasi kesucian seorang Pandita.

Tahapan pertama yang merupakan kegiatan sakralisasi diri pada Pandita merupakan
manifes dari sebagai wujud Bhujangga, Sang Sulinggih atau Pandita melaksanakan Ka-
Bhujanggan amratisthaken angga-sarira mwah anunggalaken ikang Argha kalawan angga
sariranya sang Sadhaka (Melakukan penyucian diri dan menyatukan Siwa-upha-karana (argha)
dengan diri sang Sadhaka), panunggalaning Bhuwana-agung kalawan Bhuwana-alit. Sampai
terciptanya Atmalingga dan Sivalingga dalam diri sang Sadhaka.

Konstruksi Ka-Boddhan

Tahapan ke dua (kaping rwanya) sang Sulinggih atau mulai memakai Santog, mabhasma
tiga dan memakai sirowistha, selanjutnya kembali menuntun Sang Hyang Atma dengan
Saptongkarãtma mengembalikan pada sthanan semula (hreddhaya). Sang Pandita pada saat itu
berada dalam tahapan sebagi wujud dari Sang Hyang Sada Siva, meraga suksma suci-nirmala,
dipuja oleh semua makhluk hidup, Guruning Guru, yang menghidupi semua makhluk hidup di
jagat raya ini. Pada tahapan ini Pandita mulai melakukan puja Ksamaswamam Mahadewa.

Sebagai Sada Siva Beliau memiliki kesaktyan atau kekuatan siddha sakahyun, kekuatan
atau kesaktyan Beliau disebut Catur-Cadhu-Sakti, walaupun Beliau memiliki kekuatan yang maha
dasyat, tetapi Beliau tidak terikat oleh Ego dan Aku, Beliau bekerja hanya untuk kerja, tanpa
pamrih, sebagai kewajiban Beliau sebagai sang Pencipta. Dengan kekuatan kesaktyan Beliau,
yaitu; Jñana-Sakti, Wibhuh-Sakti, Prabhu-Sakti dan Kriya-Sakti. Pada fase mengimplementasikan
Sada Siva dalam diri, Pandita melembagakan Ka-Bodha-Sattvam. Bodha ngaranya Budhi, Budhi
ngaranya Idep, angidepi sarwa tumuwuh mwang sarwa wastu ring rat kabeh, meraga utpati,
Sthiti. Bodha berarti Budhi, Budhi artinya kekuatan pikiran (Intelektualitas yang tinggi), dari
pikiran menimbulkan daya penciptaan.

82

Pada fase Kaboddhan, Sadhaka mulai melaksanakan Ngutpati dan Sthiti tirtha serta
melaksanakan Arghapatra atau anglaraken tang Argha-Patra sesuai dengan tatanannya, serta
menciptakan kekuatan dan kehidupan maupun kesucian pada tirtha yang di pujanya, untuk
menyucikan segala sarana upakara atau pralingga sebagai sthana Ida Bhatara.

Konstruksi Ka-Saivan
Tahap ketiga (ka-trininya) Pandita, melakukan puja Ksama swa-mam Jagat-natha serta
memohon waranugraha kehadapan Sang Hyang Adhi-suksma (Tuhan Yang Maha Esa),
selanjutnya memakai bhusana agung, kemudian mensthanakan Sanghyang Catur-Dasa-Siva
(Empat belas manifestasi Siwa) dalam diri sang Sadhaka, dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Setelah berstana Sanghyang Catur Dasa Siva dalam diri, Pandita merupakan perwujudan dari Sang
Hyang Parama Siva, yang juga disebut sebagai Sang Hyang Siva Niskala oleh penganut ajaran
Siva atau Siwa-paksa, yang dianut oleh umat Hindu khususnya di Bali. Eksistensinya Parama-
suksma suci nirmala, Parama-rahasya, dan tidak terikat oleh hukum sukha dan duhka, tan
kagrehita dening manah mwang indriya, tidak terjangkau, tidak terbayangkan, tidak terjangkau
oleh daya pikir atau daya nalar manusia, tidak mengenal jauh maupun dekat, Beliau ada dimana-
mana, Beliau memenuhi alam raya ini, Beliau sebagai Sang Hyang Tuduh, Sang Hyang Titah, tan
kaweranan, langgeng tan keni obah.
Sebagai wujud Sang Hyang Parama Siva dengan dengan kelengkapan bhusana agung,
Pandita tidak dibenarkan turun dari tempat duduknya (singgasananya), kalau harus turun
hendaknya terlebih dahulu menanggalkan (ngelukar) bhusana agung yang dikenakannya serta
mengembalikan Sanghyang Catur-Dasa-Siva pada sthananya kembali.

83

Merujuk pada gambar bagan di atas, maka dapat dikemukakan beberapa hal yang
berkaitan tentang Pandita sebagai penampakan Tuhan di bumi berdasarkan perspektif Siva
Tattva. Pandita melalui diksa dapat dikatakan sebagai hoerofani dan teofani. Hal tersebut
didasarkan pada konsep bahwa dalam diri sang Pandita (bhuwana alit) terdiri dari dimensi
Niskala, Sekala-Niskala dan Sekala, dan Bhatara Siwa diyakini ada dalam diri. Agama timur,
seperti Hindu dan Budha mewujudkan manusia devani sebagai suatu keharusan, mengingat
hakekat kehidupan manusia mengalir dari Tuhan/Brahman yang disebut dengan Atman, seperti
mahavakyam; Brahman Atman Aikyam, (sesungguhnya Brahman dan Atman itu tunggal), Aham
Brahma Asmi, (saya adalah Brahman) dalam Brhadaranyaka Upanisad I.4.10. Esa ma Atma
antar hrdaye, (Brahman adalah atman dalam diri kita), Sarvam Kalu Idam Brahmam (semuanya
adalah Brahman), dan yang lainnya.

Dalam dimensi Niskala (bagian atas/kepala Pandita) disimbolkan melalui Panca
Tirtaaksara dengan wijaksara Nang, Mang, Sing, Wang dan Yang sebagai Siva berada di tengah
serta dalam Ongkara, disimbolkan dengan arda candra, nada dan bindu. Siva dalam dimensi
tersebut, yakni sebagai Sanghyang Paramasivatattva berada dalam kondisi hiper struktur, dan
beliaulah Ātman sebagai kesadaran yang murni. Melalui yajñamana mantra beliau disimbolkan
dalam kedudukannya sebagai hotri dan brahmana. Selanjutnya pada bagian tubuh Pandita
sebagai dimensi Sekala-Niskala terdapat Panca Brahma dengan wijaksara Sang, Bang, Tang,
Ang dan Ing, yakni Siva sebagai pusat. Dalam Ongkara, dimensi tersebut disimbolkan dengan
tedong. Siva dengan aksara Ing di pusat merupakan penguasa alam psikis (pikiran) dalam

84

tatanan Sadasiva tattva berada dalam kondisi super struktur, dan melalui prana mantra beliau
diposisikan sebagai Surya- Candra. Sedangkan dalam dimensi Sekala berada pada bagian
bawah sang Pandita yang disimbolkan dengan segitiga sama sisi terdapat Triaksara dengan
wijaksara Ang, Ung dan Mang sebagai Isvara atau Sivadalam posisi struktur. Melalui bhuta
mantra, beliau disimbulkan sebagai Sang Panca Maha Bhuta yang tediri dari pertiwi, apah,
teja, bayu dan akasa. Diskursus teologi yang dimunculkan melalui diksa tersebut, Pandita
sudah dapat dikatakan sebagai perwujudan Hyang Siva di alam semesta yang memiliki
kesadaran universal sebagai sebuah satu kesatuan (unity) dimensional yang ada dalam bhuwana
alit dan bhuwana agung.

Siva Tattva adalah Niskala/Sunya, tanpa wujud, awal akhir yang terdiri dari beberapa
tattva, seperti:

(1) Parasakti atau santyatitasakti yakni pencapaian Sat Cit Ananda Swarupa.
(2) Adi Sakti atau Santisakti yakni kekuatan untuk menghancurkan maya, mala dan karma,
(3) Icchasakti atau Widyasakti yakni kekuatan yang menuntun jiwa untuk bebas dari ikatan

maya,mala dan karma.
(4) Jñanasakti atauPrathitasakti merupakan kekuatan menuntun jiwa perlahan-lahan ke alam

kedamaian.
(5) Kriyaksakti atau Nirvisakti merupakan kekuatan menimbulkan perasaan sadar dalam jiwa.

Sedangkan Sadasiva Tattva adalah aspek Sakala-Niskala yang terdiri dari beberapa aspek tattva
yaitu:
(1) Parasakti muncul Isana wijaksara Ing,
(2) Adisakti muncul Tat Purusa wijaksara Tang,
(3) Icchasakti muncul sebagai Sadyojata wijaksara Sang,
(4) Jñanasakti muncul Aghora wijaksara Ang,
(5) Kriyasakti muncul BamaDeva wijaksara Bang.

Aspek Mahesa Tattva sebagaia Sakala atau Mahesa Murthi terdiri dari beberapa aspek,
yaitu:

(1) Srsthi yakni penciptaan sebagai Brahma (Ang),

85

(2) Sthiti pemelihara sebagai Visnu (Ung),

(3) Pralina atau peleburan sebagai Rudra (Mang).

Ketiga tattva tersebut juga melahirkan konsep Astamurthi Siva atau delapan wujud

(svabhava) dari Deva Siva. Tattva Niskala-Prajnamantra merupakan Siva dalam aspek sebagai

Yajamanamurthi, yakni pemimpin upacara, yakni sebagai hotri, pasupati, diksita brahmana atau

brahmana. Selanjutnya, tattva Niskala-Sakala-Pranamatra merupakan Siva dalam aspek sebagai

Suryamurthi, yakni Isana dan Candramurthi, yakni Mahadeva. Sedangkan Sakala-Bhutamatra

merupakan aspek Siva sebagaiAkasa murthi (Bhima, Isana), Wayumurthi (Ugra, Tatpurusa),

Agnimurthi (Aghora), Jalamurthi (Bhava, Bamadeva), dan Prethivimurthi (Sarva, Sadyojata).

Asta Murthi Siva dalam institusi diksa didistribusikan sebagai Sang Katrini epKaton; meliputi:

niskala untuk Siva, niskala-sakala untuk Boddha atau Soghata, dan sakala untuk Bhujangga

(dapat dilihat kembali pada gambar di atas).
Bahkan dalam pangeling – eling surya sevana bahwa, ketattwaning kapanditan ditegaskan

sebagai berikut;
“Iti tingkahing amuja angarcana Sanghyang Siwaditya, asalin sarira kita rumuhun, ndi
ta tingkahing asalin sarira, awakta angidep dadi visva, ikang pala angidep dadi
ardhacandra, ikang sirah inidep dadi windu, ikang rambut inidep dadi nada. Dadi
Ongkara sariranta, ika sarira mahottamam kang pinuja lawan kang amuja, ngaranya.
Nare/dulang inidep visva, tripada inidep ardhacandra, siwamba inidep windu, sasirat
inidep nada.”

Artinya:
Ini tatacara memuja meghormati Sanghyang Siwaditya, berganti badanlah anda terlebh
dahulu, bagaimana tata cara berganti badan tersebut; badanmu bayangkan menjadi
wiswa ( ) bahumu bayangkan menjadi ardhacandra ( ), kepalamu bayangkan
menjadi windhu ( ), rambutmu bayangkan menjadi nada ( ). Jadi Ongkaralah
badanmu, itulah badan yang sangat utama antara yang dipuja dengan yang memuja
namanya. Demikian pula dengansarana memuja; dulang dibayangkan menjadi wiswa (
), tripada bayangkan menjadi ardacandra ( ), siwamba dibayangkan menjadiwindu ( ),
dan sesirat bayangkan menjadi nada ( ).

Setelah sang Sadhaka berganti badan menjadi Ongkara, maka stanakan di kepala,

kemudian bawa di dalam empedu, dari sinilah anda memuja, berhasillah segala yanga dilakukan.

KESIMPULAN

Tujuan diksa secara umum adalah: sebagai upaya penyucian diri seseorang baik lahir

maupun bathin; untuk meningkatkan atau merubah status seseorang yang semula sebagai walaka

86

menjadi sadhaka atau sulinggih; memberikan kewenangan kepada seseorang untuk mempelajari
kitab suci weda dalam kapasitasnya sebagai seorang sulinggih, yang selanjutnya dapat
memberikan pelayanan di bidang keagamaan kepada umat hindu; untuk dapat melakukan
lokapalasraya dan aguruloka atau menjadi guru nabe

Tujuan diksa perspektif sivaistik: diksa menuju alam siva; implementasi ajaran saiva
siddhanta dalam institusi diksa; implementasi ajaran astamurthi siva (konstruksi ka-bhujanggan;
konstruksi ka-boddhan ; konstruksi ka-saivan

87

PAKET 8

A. PENDAHULUAN
Perkuliahan pada pertemuan ini difokuskan pada pemaparan tentang kontruksi diksa sebagai

institusi. Adapun hal-hal yang akan dibahas pada pertemuan ini yaitu: Eksistensi Guru; komposisi
guru; kewajiban guru; serta kualifikasi sisya.

Penyampaian materi ini dibantu dengan presentasi power poin yang dibawakan oleh dosen
dengan harapan, mahasiswa dapat mengerti dengan lebih baik terkait kontruksi diksa sebagai
institusi. Dikombinasikan juga dengan tanya jawab kepada mahasiswa terkait pemahaman yang
telah mereka dapatkan selama beberapa kali pertemuan sebelumnya.

B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap

(1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
(2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan

etika;
(3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan

kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
(4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta

rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
(5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat

atau temuan orisinal orang lain;
(6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan

lingkungan;
(7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
(8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;

dan
(10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.

B. CP Pengetahuan:
Mahasiswa memahami kontruksi diksa sebagai institusi yaitu terkait Eksistensi guru;
komposisi guru; kewajiban guru; serta kualifikasi sisya.

C. CP Keterampilan Umum:
Mahasiswa memahami kontruksi diksa sebagai institusi

88

D. CP Keterampilan Khusus
Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis kontruksi diksa sebagai institusi.

2. Materi Pokok
a. Eksistensi Guru
b. Komposisi Guru
c. Kewajiban Guru
d. Kualifikasi Sisya

3. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan
a. Mahasiswa memahami eksistensi guru
b. Mahasiswa memahami komposisi guru
c. Mahasiswa memahami kewajiban guru
d. Mahasiswa memahami kualifikasi sisya

4. Pengalaman Belajar
a. Memahami kontruksi diksa sebagai institusi

5. Waktu
2 x 50 menit

6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan awal (15 menit)
1. Menyiapkan fokus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembukaan, dilanjutkan dengan doa bersama
2. Melakukan absensi
3. Menyampaikan tujuan pertemuan
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1. Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2. Menyampaikan isu-isu terkait mengenai pokok perkuliahan yaitu kontruksi diksa
sebagai institusi
3. Memandu diskusi seputar isu-isu terkait kontruksi diksa
89

c. Kegiatan penutup (10 menit)
1. Menyimpulkan materi perkuliahan
2. Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk memperbanyak sumber bacaan yang
terkait dengan mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan (Dharma Sasananing Pandita)

d. Kegiatan lanjutan (5 menit)
2. Mempersiapkan pertemuan berikutnya

C. URAIAN MATERI

KONSTRUKSI DIKSA

EKSISTENSI GURU

Guru Diksa /Nabe merupakan pangkal mula dari diksa. Diksa merupakan pangkal mula
dari mantra, dan mantra merupakan pangkal mula dari devata. Sedangkan devata merupakan
pangkal mula dari siddhi. Dengan demikian kedudukan Guru Diksa/Nabe dalam lembaga diksa
begitu sentralnya, karena guru itu tidak hanya dipandang sekedar sebagai manusia biasa.
Sesungguhnya tidak ada perbedaan antara Guru, Mantra dan Deva. Guru itu adalah ayah, ibu dan
Brahman. Lebih jauh kitab Maha Nirvana Tantra menguraikan bahwa Guru tersebut dapat
menyelamatkan sisya dari kemarahan Deva Siva. Namun tidak ada seorangpun yang dapat yang
dapat menyelamatkan sisya dari kemarahan Guru. Kemudian Rsi Manu menyatakan ;

”Apabila dibandingkan antara orang yang menyebabkan terjadinya kelahiran biasa dengan
orang yang memberikan pengetahuan tentang Veda, maka orang yang memberikan
pengetahuan suci merupakan bapak yang lebih mulia. Karena kelahiran yang kedua atau
kelahiran suci memberikan kehidupan kepada dvijati itu baik di dunia ini maupun di dunia
yang akan datang.
KOMPOSISI GURU

1. Divyãngga Guru Devata (Guru Devata /Pramestiguru) :
(Siva, Sadasiva, Paramasiva)
Divyangga Guru merupakan guru devata atau Pramestiguru yang terdiri atas, Siva,
Sadasiva, Paramasiva sebagai Ista Dewata bagi setiap Pandita. Guru ini tidak saja dipuja
melalui stawa, juga dipuja dengan menggunakan Sanggar Guru Karaman saat

90

pelaksanaan upacara diksa. Selain dipuja bahkan seorang diksita yang telah melakukan
diksa paripurna dengan menyelesaikan tahapan mupulang lingga, wajib merealisasikan
divyangga guru dalam diri, melalui proses atmalingga- siwalingga

2. Siddhãngga Guru (Vamsakarta, Pendiri Parampara)
Siddhangga Guru merupakan guru yang telah mencapai alam siddha dewata, sebagai
Kula Devata dalam hal ini dalam warga Pasek adalah Ida Bhatara Mpu Agnijaya dan Ida
Bhatari Manik Agni. Beliau sebagai Kula Dewata ini merupakan Vamsakarta, pendiri
wamsa Pasek dan Bandesa sekaligus pendiri Parampara. Beliau dipuja melalui stawa,
dimuliakan di meru tumpang 3 (tiga) dan diikutsertakan dalam penepakan atau diksa.

3. Manavangga Guru (Guru Dalam Perwujudan Manusia) :
Guru Saksi, Guru Diksa, Guru Siksa/Vaktra
Manawangga Guru merupakan Guru dalam perwujudan manusia, yang terdiri atas ; Guru
Saksi, Guru Diksa/Tepak dan Guru Siksa atau Waktra. Dalam organisasi MGPSSR,
kedudukan ketiga guru tersebut berada pada level yang sama, dengan pembagian tugas :
Guru Saksi berperan pada urusan niskala, Guru Diksa pada urusan niskala-sakala
sekaligus memberikan diksa penepakan, sementara Guru Waktra pada urusan sakala,
memberikan materi pengajaran.

Menurut naskah Agastya Parwa, Manawangga Guru patut dipilih oleh calon sisya
dengan kualifikasi sebagai berikut;
’’Ndan amilihana tang mahapandia, ikang yogya maka gurwa sang wenang sumangaskara
riya. ’’
Artinya :
Maka hendaklah memilih maha pandita yang sewajarnya untuk dipakai Nabe yang hendak
menyucikannya.

Berdasarkah naskah Siwasasana, yang patut dijadikan Guru Nabe adalah Pandita
atau Acarya Krta Diksita yakni Pandita Guru yang sudah didiksa menjadi Nabe, oleh
gurunya Guru. Pada pandita inilah patutnya memohon diksa samskara. Lebih lanjut
naskah Agastya Parwa juga menyebutkan mengenai persyaratan pandita yang patut
dijadikan Nabe, memiliki 3 klasifikasi sebagai berikut:

91

a. Prathama Guru:

Pandita yang patut dijadikan guru adalah yang dapat menghilang papa, yaitu bila ia wiku
yang selalu melaksanakan 1) upawasa ; yang bersungguh sungguh mengurangi hawa
nafsu serta tingkah lakunya selalu suci. 2) Jitakrodha; yaitu tidak dikuasai oleh
kemarahan. 3) Boghanihsrtah, yaitu tidak tertarik oleh kesenangan dunia. 4) Sahisnu,
yakni rajin (berhias tingkah laku suci ditingkatkan), selalu tinggal di pertapaan, tidak
pergi ke rumah tetangga, kecuali ada permohonan. 5) Buddhisanta, yakni berhati tenang
kendati tidak pandai menghafalkan puja stawa. 6) Tarayati, yakni dapat melenyapkan
noda-noda orang yang didiksa.

b. Madyama Guru.

Bila ada pandita yang prilakunya: 1) Rupawan yakni berpenampilan baik, 2) Tanhana
kawikara, yakni tidak ada cacat, 3) sarwawidyawadata yakni banyak pengetahuan
seperti Wedanta yang merupakan intisari ajaran Catur Weda, asal usul para dewa serta
tujuan para dewa, aturan sodasatattwa, nawatma tattwa, widyatattwa, pradhana tattwa,
kalatattwa, prana tattwa dan segala tattwa beliau mahir akan hal itu. 4) Dhairyawan
yakni berpegang teguh pada perintah perintah Bhatara.

c. Uttama Guru

Bila ada seorang Pandita yang tingkah lakunya : 1) Nirdwandwah, yakni hatinya tidak
bercabang, sedikit pemikiran beliau terhadap semua yang ada, sudah habis sarananya
pada obyek kesenangan 2) Nirahamkara, yakni telah bebas dari rasa ego, 3) Niraga, tak
ada lagi yang beliau cintai , 4) Tan Keneng Sangsaya, bebas dari rasa khawatir, 5) Tan
Keneng Panas Hati, yakni bebas dari kesusahan hanya kesejukan dan keheningan karena
yoga beliau. 6) Nisprabyapara, tidak melibatkan diri dengan kesibukan orang lain, hanya
kejernihan hati beliau yang dilayani, jati diri adalah tujuan utama.7) Nissarana ring
wisaya, tidak ada keinginan untuk memenuhi obyek indriawi.

Kemudian menurut Siwasasana ada dijelaskan kreteria atau syarat-syarat calon Guru
Nabe sebagai berikut:

1. Sajjanah; orang bijak dan berbudhi pekerti yang luhur.
2. Wredaha wehasa; pandita senior, termasuk senior usia.

92

3. Sastrajnah; paham ilmu suara, mendalam ilmu agamanya.

4. Wedaparagah: ahli Weda dan caturanggaweda.

5. Dharmajnah: paham akan hakekat dharma.

6. Sila Sampanah; berbudhi luhur, suci tingkah lakunya.

7. Jitendriyah; menguasai hawa nafsu.

8. Drdha bratah ; taat melaksanakan brata.

Begitu besar peranan Guru dalam rangka menghilangkan papa calon pandita / nanak,
maka diwajibkan untuk tidak memilih guru yang berbudi rendah (bhangbhang guru),Sadhaka
yang bodoh yang tidak banyak mengetahui sastra, yang kurang berpengetahuan, kurang
pertimbangan, tidak bijaksana, mengetahui sedikit sedikit saja tentang sesuatu yang terkandung
dalam pengetahuan, sehingga ia bodoh, sering salah, ditambah lagi bebal, acuh tak acuh, linglung,
kaku, bingung. Selain itu jangan memilih Guru /Acarya Duryasa, yakni yang tidak melaksanakan
dharma, curang berbudhi hina, congkak, mabuk, akhirnya kejam, pemarah serta jahat, irihati,
cemburu, pembohong, sepaham dengan perbuatan jahat, tidak sopan, tidak mengenal peraturan,
menentang perbuatan bijak, benci terhadap yang berbuat jasa, nyasar dari ajaran agama,
menghina terhadap leluhur dan brahmana, curang terhadap sahabat, ingkar terhadap gurunya,
melawan terhadap orang tua. Jika ini dijadikan guru, sifat-sifat ini akan berpengaruh terhadap
murid serta dapatmenimbulkan kesengsaraan terseret jatuh ke Yama Loka.

KEWAJIBAN GURU

Naskah Siwasasana juga menguraikan bagaimana kewajiban seorang Nabe terhadap
sisyanya, sebagai berikut:

Majarana dharma ning sisya, yaitu mengajarkan kewajiban bagi sang sisya. Mawaraha
ring dasasila mwang pancasiksa, guru talpaka lawan trikaya paramartha, yaitu
mengajarkan dasasila, pancasiksa, guru talpaka serta trikaya paramartha. Mangajarana
kaling acarya mwang karma sila winaya, mengajarkan hakikat tingkah laku dan
perbuatan yang patut dijadikan pedoman. Mohuta ng apakrama ring agamanya yaitu
mencegah penyelewengan terhadap agama. Swikara pageh deyanya gumego sanghyang
siwabrata yaitu bersungguh-sungguh dan teguh usahanya mengamalkan brata
Sanghyang Siwa. Aywa wimarga sake kabhujangganya yaitu jangan menyimpang dari
tertib kependetaanya.

93

Kemudian pantangan serta sikap dan cara Guru Nabe mengajarkan sisyanya adalah

sebagai berikut;

Aywa sang guru nistura tumon sisya dina kalaran manmu duhka, yakni janganlah sang
guru tidak menaruh belas sayang terhadap muridnya yang hina menderita menanggung
duka. Aywa lwir tan uninga tumon sisya salah silanya mwang swabhawanya
maksudnya, janganlah acuh tak acuh melihat tingkah laku dan keadaan muridnya yang
salah. Aywa gigu mohut ri sisya magawe papakarma angde patitanya artinya, janganlah
ragu-ragu mencegah murid berbuat hina yang menyebabkan kejatuhannya.
Aywanangguh patita ring sisya mon tan byakta cihnaya patita, artinya janganlah
menuduh murid jatuh, bila tanda-tanda jatuhnya tidak jelas. Aywaagya kumaniscaya
pacarya ring sila mwang brataning sisya artinya jangan cepat percaya akan tingkah laku
danbratanya murid. Aywa tan parcaya yan kateher brataning silanya artinya janganlah
tidak percaya bila tingkah lakunya jernih terus menerus. Aywa manindya pracodya
artinya jangan mencela, Aywamucca sisya tan sayang akrama denda dosa artinya
janganlahmenyakiti sisya, tidak sayang pada yang berbuat salah dan dosa. Aywa mucca
sisya sulaksana artinya janganlah menyakiti sisyayang bertingkah laku baik. Aywa
krodha, jangan marah. Aywa lobha, jangan tamak. aywa parusya, jangan kasar. Aywa
irsya,jangan irihati. Aywa drohi, jangan berkhianat.

KUALIFIKASI GURU TARAYATI

1. Upavasa (mengurangi hawa nafsu, tingkah lakunya suci)
2. Jitakrodha (tidak dikuasai oleh kemarahan)
3. Bhoganihsrtah (tidak tertarik dengan kesenangan duniawi)
4. Sahisnu (rajin tinggal di pertapaan, bepergian jika ada yg memohon)
5. Buddhisanta (berhati tenang, walau tidak mahir dalam merafalkan mantra)

KUALIFIKASI SISYA

Selain calon murid memilih guru, calon gurupun wajib memilih sisya. Tidak boleh

sembarangan orang dijadikan sisya. Yang patut dijadikan sisya serta dapat didiksa adalah sebagai

berikut;

1) Punya janma yakni ; orang baik-baik,
2) Maha pajnana yakni ; arif bijaksana,
3) Satyawak yakni ; setia dengan kata-kata,
4) Sadhuyakni ; budiman,
5) Silawan yakni ; bertingkah laku yang baik,
6) Sthira yakni ; tangguh dan tahan uji,
7) Dhairya yakni ; pemberani,
8) Swamibhaktya yakni ; bakti kepada guru,
9) Dharmestha yakni ; senantiasa mengutamakan dharma,
10) Suddha janma yakni ;berjiwa bersih,

94

11) Mahapawitrakawangannya yakni ; dari keluarga tidak tercela/ suci,
12) Satyawacana yakni ; jujur dalam berkata-kata,
13) Sujana mahardika yakni ; orang baik dan tanpa ikatan,
14) Prajna wruh mangaji yakni ; pandai dan tajam dalam analisa,
15) Satwika sadhumahardika yakni ; sungguh-sungguh saleh bijaksana,
16) Susila pageh ring winaya yakni ; berbuat baik berketetapan hati,
17) Sthira sthiti ring abhipraya yakni ; tahan uji serta tujuan yang jelas,
18) Dherya dharaka angalaken sukha duhka yakni ; orang yang tahan uji dalam menghadapi

suka dan duka,
19) Asatya bhaktimatuhan yakni ; setia bakti pada junjungan,
20) Mahyun ringkagawayaning dharma karya yakni ; yang mau melaksanakan dharma,
21) Mapageh magawe tapa yakni teguh melaksanakan pengendalian diri.

Selanjutnya masih menurut naskah Siwasasana, orang yang tidak dapat diberikan diksa

adalah sebagai berikut:

Wwang cuntaka seperti ; orang memegang mayat, pernah dihukum,pernah dikencingi,
pernah dipukul kepalanya, dan sebagainya.
Wwang patita walaka seperti ; orang yang menyembah orang yang paling rendah
derajatnya, orang memikul usungan yang berisi orang, tikar, kasur dan sebagainya.
Wwang sadigawe seperti ; mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang hina.
Wwang banijakrama yaitu orang yang melakukan jual-beli.
Wwang wulu-wulu seperti membuat periuk, menjadi tukang dan sebagainya.
Wwang candala seperti menjadi jagal, tukang cuci dan sebagainya.
Wwang kuciangga seperti cebol, bungkuk, bulai dan sebagainya.
Wwang mahaduhka seperti orang yang menderita penyakit kusta,gila, ayan, buta, tuli,
bisu, pincang dan sebagainya.
Wwang huwus diniksan de Dang guru waneh, maksudnya orangyang telah didiksa,
tidak boleh didiksa lagi.

Bila syarat-syarat tersebut dilanggar maka baik guru maupun sisya, sama-sama akan

mendapat hukuman. Hukumannya antara lain nama diksanya harus ditarik lagi dan yang

bersangkutan harus dibuang ke luar pulau jawa. Namun bila syarat-syarat orang yang menjadi

sisya dipenuhi ia dapat didiksa.

Mencermati syarat-syarat sisya yang boleh didiksa berdasarkan naskah Siwasasana sangat

ideal sekali, tentu hal ini akan sulit menemukan sisya yang memiliki kualifikasi berdasarkan

naskah tersebut. Namun jika dikembalikan pada spirit serta nilai yang terkandung dalam institusi

diksa yang terurai pada latar belakang diksa, kedudukan diksa serta fungsi diksa, maka lembaga

diksa merupakan suatu kewajiban, sebagai ikhtiar manusia untuk membangun kesucian diri. Oleh

sebab itu hal yang patut menjadi pertimbangan adalah menjadikan diksa sebagai lembaga, tidak

95


Click to View FlipBook Version