hanya sebagai inisiasi. Maka setelah penerimaan sebagai sisya, Guru Nabe wajib menggembleng
atau siksa, memberi pengetahuan,kemudian dilakoni, dihargai dan ditaati. Selanjutnya melakukan
pariksa , latihan, ujian seperti prilaku yang diterapkan Bhagawan Domya terhadap muridnya,
kemudian jika telah layak barulah memberikan diksa atau pembaptisan/ inisiasi, kemudian
menjadi pandita serta meningkatkan diri untuk menjadi sista (pandita ahli), sebagai perwujudan
Siwa untuk mencapai Moksa atau kemahardikaan sebagai tujuan akhir.
Mengenai kualifikasi sisya ini patut kiranya ditelusuri tentang biografi para Maha Rsi
kita, seperti; Rsi Parasara sebagi anak seorang pelacur, Rsi Walmiki yang semula bernama
Ratnakara seorang bandit, Rsi Satyakamajabala juga anak seorang pelacur. Dengan demikian
yang patut menjadi renungan bagi para sisya yang ingin melaksanakan diksa, demikian juga bagi
para pandita adalah, adanya transformasi diri dari gelap ke terang (dari awidya ke widya). Pandita
dalam teori generatif merupakan pemilik modal simbolik (sebagai Siwa) yang bisa dipertukarkan
dengan modal-modal yang lain. Konsekuensinya tanpa adanya trasformasi diri, modal simbolik
tersebut tidak akan memberikan manfaat bagi kehidupan ini, justru membahayakan diri sendiri
dan orang lain.
Untuk menguatkan essensi dari pada diksa tersebut, ada baiknya dikutip kakawin Arjuna
Wiwaha sebagai berikut ;
’’Wyarthekang japa mantra yan kasalimur dening rajah mwang tamah, nging yan
langgeng ikang siwasmerti dateng sraddha bhatareswara.’’
Artinya:
Jauhlah dari tujuannya semua puja stawa yang dilantunkan, apabila batin masih
diselimuti oleh rajah dan tamah ; namun jika pikiran teguh ngarcana Dewa Siwa, maka
yakinlah beliau Bhatara Siwa akan mendatanginya.
Demikianlah suatu pratiwimbha atau analogi yang dapat diambil dalam konteks ini. Oleh
karena Lembaga Diksa itu adalah lembaga sakral atau suci, maka struktur dan konstruksinya
wajib dibangun dengan cara-cara yang suci. Seorang Wiku adalah hierofani penampakan suci,
teofani manusia suci, sekaligus axismundi yakni pusat orientasi bagi kehidupan umat. Maka dari
itu sisya diksa tidak henti-hentinya mengusahakan kesucian.
1. Suddhatma (berasal dari keluarga baik-baik, berjiva bersih)
Nayonir, na srutam, na samskara, na ca santatih, karanani dvijatasya vrttam eva tukaranam
2. Purusartha Parayanah (berusaha mewujudkan kebebasan dari ikatan)
3. Jitendriyah (Senantiasa mengendalikan indrianya)
96
Lebih lanjut baca Sivasasana, Wretti Sasana, Catur Yuga, Rsi sesana, Silakrama dsb !
Diskualifikasi
1. Kamuka (pemalas dan jorok)
2. Paradaratura (penzinah)
3. Sada papa kriya (selalu berbuat nista)
4. Avidya ( ceroboh, bodoh)
5. Nastika (tidak beriman)
Hubungan Guru-Sisya Maala Ayu Tunggal
KESIMPULAN
KONSTRUKSI DIKSA terdiri dari : eksistensi guru (nabe), komposisi guru (divyangga
guru, saddhangga guru, manavangga guru) ; kewajiban guru, kualifikasi guru tarayati, Kualifikasi
guru, Kualifikasi Sisya
97
PAKET 9
A. PENDAHULUAN
Perkuliahan pada pertemuan ini difokuskan pada pemaparan tentang bentuk, fungsi dan
makna dari komponen perangkat pemujaan pandita (Siwa, Baudha/bodha, bhujangga waisnawa).
Adapun hal-hal yang akan dibahas pada pertemuan ini yaitu: bentuk, fungsi dan makna dari Siwa
upakarana, pasilakranan, serta bhujangga upakarana.
Penyampaian materi ini dibantu dengan presentasi power poin yang dibawakan oleh dosen
dengan harapan, mahasiswa dapat mengerti dengan lebih baik terkait eksistensi pandita.
Dikombinasikan juga dengan tanya jawab kepada mahasiswa terkait pemahaman yang telah
mereka dapatkan selama beberapa kali pertemuan sebelumnya.
B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap
(1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
(2) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral, dan
etika;
(3) Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan
kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
(4) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta
rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
(5) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat
atau temuan orisinal orang lain;
(6) Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
(7) Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
(8) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(9) Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya secara mandiri;
dan
(10) Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan.
B. CP Pengetahuan:
C. Mahasiswa memahami CP Keterampilan Umum:
Mahasiswa memahami bentuk, fungsi dan makna dari komponen perangkat pemujaan pandita
(Siwa, Baudha/bodha, bhujangga waisnawa).
98
D. CP Keterampilan Khusus
Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis bentuk, fungsi dan makna dari komponen
perangkat pemujaan pandita (Siwa, Baudha/bodha, bhujangga waisnawa).
.
2. Materi Pokok
a. Bentuk, fungsi, makna dari siwa upakarana (siwa)
b. Bentuk, fungsi, makna dari Pasilakranan/Tarparana (bodha)
c. Bentuk, fungsi, makna dari Siwakrana (bhujangga upakarana)
3. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan
a. Mahasiswa memahami Bentuk, fungsi, makna dari siwa upakarana (siwa)
b. Mahasiswa memahami Bentuk, fungsi, makna dari pasilakranan/tarparana (bodha)
c. Mahasiswa memahami Bentuk, fungsi, makna dari siwakarana (bhujangga upakarana)
4. Pengalaman Belajar
a. Mengetahui dan memahami Bentuk, fungsi, makna dari komponen perangkat pemujaan
pandita (Siwa, bodha, dan bhujangga waisnawa).
5. Waktu
2 x 50 menit
6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan awal (15 menit)
1. Menyiapkan fokus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembukaan, dilanjutkan dengan doa bersama
2. Melakukan absensi
3. Menyampaikan tujuan pertemuan 2
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1. Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2. Menyampaikan isu-isu terkait mengenai pokok perkuliahan yaitu memahami bentuk,
fungsi dan makna dari komponen perangkat pemujaan sulinggih.
99
3. Memandu diskusi seputar isu-isu terkait bentuk, fungsi dan makna dari komponen
perangkat pemujaan sulinggih.
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1. Menyimpulkan materi perkuliahan
2. Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk memperbanyak sumber bacaan yang
terkait dengan mata kuliah Dasar-Dasar Kepanditaan (Dharma Sasananing Pandita)
d. Kegiatan lanjutan (5 menit)
1. Mempersiapkan pertemuan berikutnya
C. URAIAN MATERI
1. BENTUK DAN JENIS PERANGKAT PEMUJAAN PANDITA SIWA
(SIWOPAKARANA)
Perangkat pemujaan pandita dari Siwa Paksa disebut dengan Siwopakarana. Kata
Siwopakarana (Siwa+Upakarana) berasal dari kata Siwa yang berarti Bhatara Guru (Siwa),
sedangkan karana berarti perlengkapan. Jadi, Siwopakarana berarti sarana-sarana perlengkapan
pendeta
Di dalam kitab Surya Sevana oleh C. Hooykaas (2002:107), istilah Siwopakarana tidak
ditemukan, tetapi di dalam buku tersebut istilah Siwopakarana disebut Saguan. Hal ini diuraikan,
yaitu saat pandita memasuki bale pawedan dari sisi barat. Di bale pawedan telah disediakan dua
lembar kain bersih berwarna putih yang akan dipakai oleh pandita untuk mengganti baju yang
dipakai dari rumah. Pandita duduk di tepi bale menghadap ke barat, kaki tergantung ke bawah,
kemudian mencuci kaki, tangan, dan berkumur. Setelah bagian fisiknya bersih pandita berputar
menghadap ke timur dan duduk bersila menghadap saguan, tempat semua perlengkapan upacara
yang terdiri atas bunga, bija, dhupa dan dhipa yang harus selalu menyala selama upacara, genta,
anglo perapian, dan siwambha (tempat tirtha suci) dengan duduk bersila, pandita melakukan
pemujaan sampai berakhirnya upacara.
Siwopakarana terdiri atas hal-hal berikut:
1. Dulang (dulang kuningan atau dulang kayu). Dulang sebagai tatakan atau tempat (wadah)
semua perangkat pemujaan siwopakarana yang digunakan oleh pandita siwa pada saat mapuja
100
atau muput sebuah upacara. Bentuknya yang bulat memiliki makna bahwa bulat atau bundar
adalah perlambang windu dan yang hadir dalam windu adalah sada siwa.
2. Tripada; Sebuah perangkat sebagai alas berkaki tiga disebut dengan tripada. Tripada
digunakan sebagai tempat menyangga siwambha atau argha. Wedaparikrama Bab III. 1.101
menyebutkan bahwa tripada adalah “simbol untuk Ongkara (OM) yang merupakan lambang
Tri Sakti, yaitu sebagai pencipta, pemelihara dan pamrelaya” (utphati, stithi, pralina) Ketiga
bentuk saksi itu dalam mantra disimbolkan dalam bentuk triaksara, Ang – Ung – Mang.
101
3. Siwambha merupakan wadah atau tempat air suci (tempat pendeta ngarga – membuat –tirtha).
Oleh karena itu, siwambha disebut juga argha. Dalam hal ini pendeta memuja air suci yang
terdapat di dalam siwambha supaya nantinya bernama tirtha. Hal ini juga disebut ngarga
tirtha, disertai dengan puja mantra, kemudian ditulis dengan aksara suci dalam siwambha
tersebut dan mengikat siwambha dengan sirowista. Siwambha bermakna bhakti kepada Tuhan
dalam bentuknya yang pertana (windhu) (Pudja, 1991).
4. Penuntun Surya; Pada bagian cawan kecil yang ada pada bagian atas penuntun surya ini
biasanya diletakkan kalpika yang sudah diberikan puja mantra “Pasang Lingga” dan ditaruh
selama prosesi upacara berlangsung. Dengan penuntun surya ini pandita dari golongan Siwa
Paksa tidak boleh turun dari tempat beliau mepuja (pawedan). Bilamana diperlukan untuk
berubah tempat atau turun dari pawedan, beliau harus dibopong (diusung) karena tidak boleh
menyentuh pertiwi (tanah). Penuntun surya bermakna Menghadirkan Sang Hyang Parama
Siwa selama Sang Pandita mepuja, sbg pertanda upacara sudah diberkati atas kehadiran beliau.
102
5. Pawijan sebagai tempat biji-biji beras yang masih utuh yang disebut dengan bija. Bija yang
digunakan sebelumnya sudah melalui proses pembersihan (penyucian) dengan air kembang
atau air kumkuman Wija adalah lambang Dewa Kumara, yaitu putra Dewa Siwa.
mewija/mebija mengandung makna yang amat mendalam, yaitu menumbuh kembangkan
benih ke-Siwaan di dalam diri manusia.
103
6. Gandhaksata berupa tempat air yang berbau wangi (ganda). Wanginya air berasal dari gosokan
kayu cendana. Gandhaksata memiliki makna bahwa semua proses pemujaan berlangsung dalam
kondisi yang bersih dan suci. Wewangian cenderung memberikan pengaruh baik, seperti
pikiran menjadi tenang, damai, dan suci. Cendana yang berbau harum bermakna sebagai simbol
keabadian atau kehidupan yang abadi.
7. Sirowista terbuat dari alang-alang (ambengan/kusa) memiliki arti pengikat indria agar
selalu dalam keadaan terkendali. bertujuan untuk menyucikan segala noda dan kekotoran
baik yang melekat pada diri manusia maupun pada sarana-sarana upacara lainnya.
104
8. Saet mingmang merupakan perangkat penting yang digunakan atau diletakkan pada sesirat,
bermakna sebagai kekuatan pelebur segala hal yang bersifat negatif atau mala. Selama proses
pemujaan atau mepuja berlangsung saet mingmang digunakan untuk menuliskan aksara pada
tirtha dan memercikkan air suci (tirtha) yang terdapat di dalam siwamba.
9. Padhupan/pasepan untuk menghasilkan asap yang didapat dari bahan kayu, seperti kayu
dapdap (kayu sakti), kayu majegau, kayu mangga, dan kayu kering lainnya. Padhupan atau
pasepan adalah simbol dari Bhagawan Agni (api) sebagai Dewa perantara karena asap akan
menghubungkan segala kegiatan Yoga dengan Sang Hyang Parama Siwa. Di India Bhagawan
Agni adalah pemimpin upacara, sedangkan di Bali Agni (api) adalah sebagai
105
pengantar/penyampai pesan. Sehingga, dupa melambangkan Api suci pengusir dan pembakar
segala kekotoran dunia dan saksi suci yadnya.
10. Padhipan/Dipha/ Padamaran. Dhupa berarti api yang mengeluarkan asap sebagai lambang
magma dan energi, sedangkan dhipa adalah api yang tidak mengeluarkan asap sebagai lambang
planet-planet bumi. Kedua alat-alat pawedan itu disebut padamaran“ Sama seperti dhupa,
dipha sebagai saksi agung di dalam ber-yadnya. dhupa adalah lambang akasa tattwa dan dhipa
merupakan sakti tattwa. Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa dhupa dan dhipa
memberikan seruan kepada Agni untuk menyukseskan semua upacara.
11. Genta; Pandita Siwa menggunakan Sebuah genta, yaitu genta padma. Genta ini dipilah menjadi
tiga bagian 1. bajra, ada juga yang menyebutkan dengan ganjiran atau kukukawangan 2. katik
106
genta (katik bajra). palet pada bajra yang sesuai adalah yang berjumlah tujuh yang merupakan
ciri atau simbol sapta padma, sapta ongkara, sapta petala, sapta loka, genta pinara pitu. 3.
kelung genta, yang menimbulkan suara karena dibenturkan dengan pemukul (palit) genta.
Benturan antara pemukul (palit) genta inilah memunculkan suara yang dapat diperdengarkan
selama proses upacara berlangsung, yang digunakan oleh pandita. Suara genta tersebut
menggambarkan suara genta pinara pitu (lontar Kundalini) yang melambangkan bhuwana
agung. Genta tersebut bermakna sebagai penghubung bhuwana agung dengan pikiran bhuwana
alit..
12. Kalpika; terbuat dari daun kembang sepatu (don pucuk), serta bunga putih dan merah. Fungsi
kalpika adalah untuk me-lingga-kan Sanghyang Tri Murti di dalam diri pemakainya, dalam hal
ini pada saat mepuja, dalam diri (angga) Pandita Siwa. Melalui kalpika yang merupakan
penyatuan tiga aksara suci, yaitu tri aksara, Ang- Ung-Mang disandisuarakan menjadi Om
merupakan wujud riil Omkara yang melambangkan Tuhan. Perwujudan warna pada kalpika,
yaitu merah, putih, dan hitam (hijau) juga merupakan perlambang wujud Tri Murti, yaitu
Brahma, Wisnu, dan Siwa. Om adalah sumber terciptanya dunia, terjaga, dan terpeliharanya
dunia serta pralaya-nya dunia.
13. Sesirat terbuat dari beberapa lembar alang-alang yang diikat atau dimasukkan kedalam sebuah
wadah pipih Panjang menyerupai pipet yang merupakan pegangan bagi alang-alang. Fungsinya
adalah untuk memercikkan air suci (tirtha) yang ada dalam siwambha, yg bermakna sangat suci
dan memiliki kekuatan sakral. Sehingga, harus dipercikkan dengan perangkat pemujaan yang
memiliki kekuatan besar, yaitu sesirat.
107
14. Penastan diletakkan di bawah Siwopakarana atau di kanan patarana (lungka-lungka).
Penastan berisikan air yang dipakai oleh pandita pada awal pemujaan sebagai pembersih.
Selain penastan biasanya juga disediakan ceret untuk toya wangsuhpada pandita, air bersih
ukupan (toya kumkuman) untuk persediaan membuat tirtha, dan payuk untuk tempat tirtha
pengelukatan. Penastan bermakna sebagai pembersihan.
15. Canting; Fungsi canting adalah untuk mengambil air suci (tirtha) yang digunakan selama proses
pemujaan. Selanjutnya, dipakai memercikkan dan menuangkan air suci (tirtha) kepada yang
memohon (nunas). maknanya adalah sebagai salah satu perangkat suci yang digunakan untuk
menjaga kesyucian tirtha yang akan diberikan kepada yang nunas.
108
16. Saab adalah alat penutup perangkat pemujaan Pandita Siwa (Siwopakarana). Maknanya adalah
perangkat pemujaan sulinggih memiliki nilai kesucian sehingga harus dilindungi dengan alat
yang suci juga.
17. Lungka-lungka/ Patarana Siwa yogiswara adalah sikap seorang yogi yang sedang beryoga,
bersemadi untuk mendapatkan kemurnian dan penyatuan dengan sang Penguasa.
Perkembangan agama Hindu diawali di Lembah Sungai Sindhu terdapat peradaban orang-orang
Dravida sangat tinggi. Salah satu yang menjadi temuan adanya bukti sejarah berupa seal
(meterai) berbahan tanah liat dengan gambaran seorang yogi sedang beryoga. Para ahli sejarah
meyakini bahwa sikap yogi yang sedang beryoga dan atribut yang dikenakan tersebut adalah
ciri-ciri atribut Siwa. Salah satu di antaranya adalah adanya alas duduk berbentuk segi empat.
Jadi, lungka-lungka atau patarana tidak hanya sekadar alas duduk, tetapi juga bermakna
sebagai alas sikap Siwa yogiswara.
109
Satu hal yang tidak termasuk dalam Siwopakarana, tetapi sering digunakan oleh seorang
sulinggih saat mapuja adalah ali-ali atau cincin yang dipakai pada jari-jari tangan kanan dan
tangan kiri seorang pendeta. Penggunaan cincin atau ali-ali ini tidak mutlak terdapat dalam
Siwopakarana sebagai syarat yang harus dipakai atau dikenakan pandita dalam pemujaan. Namun,
lebih ditekankan pada rasa keyakinan akan nilai magis dan kekuatankekuatan positif yang terdapat
pada cincin yang dipakai selain memenuhi unsur keindahan. Untuk lebih jelasnya di bawah ini
dijelaskan bentuk perangkat pemujaan Siwopakarana tersebut. (Purwa Sidemen, 2019).
2. BENTUK DAN JENIS PERANGKAT PEMUJAAN PANDITA BUDHA
(Budhopakarana/Budha Upakarana)
Praktik keagamaan agama Hindu di Bali, dengan konsep Siwa Sidhanta seorang Pandita
Budha merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan. Untuk itu, pada saat melakukan
pemujaan, seorang pandita dari golongan Budha dilengkapi dengan perangkat pemujaan.
Perangkat pemujaan seorang Pandita Budha disebut dengan istilah Budhopakarana, Tarparana,
Pasilakranan, atau juga Budha Upakarana (Purwa Sidemen, 2019). Beberapa perangkat pemujaan
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Rarapan; Rarapan adalah tempat dudukan sebagai tempat perangkat pemujaan berupa meja
kecil, memiliki empat buah kaki. sarana pemujaan berupa rarapan tersebut merupakan tempat
untuk meletakkan keseluruhan (lengkap) perangkat pemujaan bagi Pandita Budha. Rarapan
merupakan symbol pertiwi, pijakan dalam menapaki kehidupan di dunia ini.
110
(Purwa Sidemen, 2019)
2. Pemandyangan adalah perangkat pemujaan berupa cawan atau berbentuk guci kecil yang
terbuat dari bahan logam seperti perak atau kuningan dengan kaki tunggal. Fungsinya adalah
untuk tempat tirtha. Pemandyangan merupakan symbol padma yang bermakna sebagai
tempat bersemayamnya Sang Hyang Budha
(Purwa Sidemen, 2019).
3. Santi adalah perangkat pemujaan berupa lingga (tiang) berbahan logam kuningan dengan
bagian ujung atasnya berisikan ornamen berupa padma atau Acintya dengan ukiran (pepatran)
111
bunga dan daun. Berfungsi sebagai tempat mensthanakan Ida Sang Hyang Budha dan Sang
Hyang Acintya selama mapuja. Maknanya adalah sebagai saksi sekaligus pengharapan
kesejahteraan bagi umat.
(Purwa Sidemen, 2019).
4. Ghanta/Genta dan bhajara digunakan secara Bersama-sama oleh pandita bhuda karena
merupakan symbol dualistis kosmos. Genta dipegang pada tangan kiri setinggi dada, Genta
merupakan symbol pradana. Genta berfungsi untuk menimbulkan suara pemujaan kepada Ida
Sang Hyang Widhi diiringi puja mantra dan bermakna sebagai pengusir hal-hal yang tidak
baik.
5. Bhajra dipegang dengan tangan kanan setinggi pinggang. Bhajara merupakan symbol purusa.
bhajra mengeluarkan suara nyaring yang bermakna memohon keselamatan dunia. Bhajra
diputar sebagai symbol perputaran kedamaian di alam semesta. Penggunaan Bhajra yang
selalu Bersama-sama dengan gentha diharapkan dapat menimbulkan kekuatan untuk
membangkitkan asta dewata sehingga upacara yang dilaksanakan berhasil dengan selamat.
Bajra bermakna sebagai kekuatan jnana maha suci yang mampu melebur segala dosa dan
kekotoran.
112
6. Wanci Kembang Ura; Wanci kembang ura, berupa cawan berbahan logam kuningan atau
bahan campuran perak dengan perunggu untuk tempat kembang ura, yaitu bahan irisan bunga
berwarna kuning. Maknanya adalah sebagai alat untuk menyucikan diri.
7. Wanci Wija; Bentuk dan bahan wanci wija sama dengan wanci-wanci lainnya, tetapi memiliki
ukuran yang lebih kecil. Wanci wija digunakan sebagai tempat wija/bija atau biji beras utuh
yang telah dicuci atau dibersihkan dengan air kembang dan air cendana. Bermakna sebagai
symbol keabadian atau kehidupan yang abadi. Wanci bija juga diletakkan di atas rarapan
berjajar dengan wanci kembang ura, wanci ghanda, dan wanci samsam.
8. Wanci Ghanda Wanci ghanda ini merupakan tempat air cendana (ghanda) yang berbau harum
atau wangi. Bermakan sebagai symbol keabadian.
113
9. Wanci Samsam Samsam itu sendiri adalah bahan irisan dari daun pandan atau pudak. Yang
berfungsi sbagai tempat bersthananya atau Lingga Ida Sang Hyang Kawi Swara. Juga
bermakan sebagai symbol bersthananya Sang Hyang Parama Kawi.
10. Dhupa atau disebut juga padhupan yang dipakai oleh seorang Pandita Budha sama dengan
yang dipakai oleh Pandita Siwa dan Pandita Bhujangga Waisnawa.
11. Dhipa yang digunakan memiliki bentuk, fungsi dan makna yang sama dengan dhipa pada
siwapokarana
12. Genitri adalah semacam biji yang didapatkan dari tanaman genitri. Bijinya juga dikenal
dengan nama rudhraksa. Rudhra berarti Dewa, aksa berarti mata. Di Indonesia yang dikenal
dengan julukan “Mata Dewa” adalah “Dewa Siwa”. Tanaman genitri berasal dari India dan
tumbuh subur dengan baik di Indonesia. Genitri merupakan perangkat pemujaan Pandita
Budha, dibuat sedemikian rupa, dirangkai dengan jumlah 108 buah biji genitri, dan pada
pertemuan ujung ikatan tersebut ditandai dengan pucuk cempaka terbuat dari kristal. Genitri
diletakkan pada sebuah wadah dengan bentuk serupa dengan wanci dan diletakkan di atas
rarapan bersama dengan wanci lainnya. Fungsinya adalah sebagai symbol kekuatan Siwa dan
Bhuda. Maknanya adalah sebagai symbol kesaktian, pengetahuan, dan keahlian bagi seorang
pandita.
114
13. Kereb/Saab; memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana.
14. Penastan memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana
15. Canting memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana
16. Lungka-Lungka atau Patarana; memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan
siwopakarana
3. PERANGKAT PEMUJAAN PANDITA BHUJANGGA WAISNAWA
(SIWAKRANA/BHUJANGGA UPAKARANA)
Perkembangan warga Bhujangga Waisnawa di Bali hingga kini masih bagus, tidak lepas
dari konsep Siwa Sidhanta dalam pelaksanaan keagamaan Hindu di Bali. Pandita Bhujangga
Waisnawa merupakan bagian dari tri sadhaka, yaitu tiga pemimpin besar umat Hindu dalam
upacara-upacara besar yang ada di Bali. Para pendeta tersebut melakukan puja mantra (mepuja)
dalam konsep tri lingga terdapat perbedaan tata cara pemujaannya. Ada yang memuja pada alam
bawah, alam tengah, dan alam atas.
Bentuk dan jenis perangkat pemujaan sadhaka dari golongan Bhujangga Waisnawa
dijelaskan sebagai berikut:
1. Genta Padma; Genta adalah perangkat pemujaan utama yang dipakai oleh pandita pada saat
ngelokapalasraya atau muput sebuah upacara. Bentuk, fungsi, dan makna Genta yang dipakai
sama dengan pandita dari golongan Siwa Paksa (Saiwa) dan Budha Paksa (Baudha).
2. Genta Uter, dilihat dari bentuk dan cara membunyikannya, genta uter adalah perangkat genta
yang sangat istimewa, yaitu dibunyikan dengan cara memukulkan kayu atau tongkat pemukul
genta kemudian kayu atau tongkat pemukul tersebut diputar berlawanan arah perputaran jarum
115
jam di sepanjang bibir genta. Hal ini menimbulkan bunyi yang sangat unik dan istimewa
dengan vibrasi suara yang dapat menimbulkan aura magis. Genta uter hanya boleh digunakan
oleh pandita istri, yang fungsinya untuk menurunkan Dewata Nawa Sanga agar menyaksikan
bhuta-bhuti menerima labaan/caru. Bermakna sebagai penetralisir energi negatif agar berubah
menjadi positif.
3. Genta Orag berupa genta-genta dengan ukuran lebih kecil dan bunyi yang lebih nyaring,
disatukan dalam rangkaian atau satu kesatuan sedemikian rupa dan dibunyikan bersamaan
dengan cara digoyangkan. Berbeda dengan genta padma, pada bagian kelung genta orag
terdapat lima buah genta kecil. Empat buah genta pada posisi empat arah mata angin dan satu
buah genta di tengah. Kelima genta kecil ini diikat menjadi satu kesatuan dengan bahan
material kuningan berbentuk cakra (cakram). Bentuk bagian atas yang disebut bajra dan
bagian tengah (katik bajra atau katik genta) sebagai pegangan genta orag, sama dengan bentuk
pada bagian genta padma. Fungsinya adalah untuk mengundang bhuta-bhuti yang
menyebarkan bisa, racun, penyakit, dll untuk diberikan caru sehingga tidak mengganggu umat
dalam pelaksanaan upacara. Hal ini bermakna bahwa manusia harus menjaga keseimbangan
dan keharmonisan alam baik bhur,bwah dan swah dengan melaksanakan upacara yadnya
sesuai peruntukkannya.
116
4. Sungu/Sangka merupakan terompet dari material kerang laut. Alat ini berfungsi untuk
memanggil atau mengundang bhuta-bhuti, kala dengen, tonyan alas, tonyan jurang, bhuta-
bhuti diperempatan agung dan di setra, untuk diberikan labaan caru. Maknanya adalah untuk
menetralisir segala keburukan dan aura negatif agar menjadi kekuatan positif sehingga terjadi
keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan.
5. Ketipluk/Damaru Ketipluk atau disebut juga dengan damaru sebagai bagian perangkat
pemujaan lainnya bagi seorang Pandita Bhujangga Waisnawa adalah alat berbentuk kendang
kecil. Fungsinya adalah untuk memanggil para preta atau roh-roh (atma) kesasar, roh binatang
yang mengganggu umat manusia untuk diberikan yadnya agar tidak mengganggu
berlangsungnya upacara. Maknanya adalah suara yang ditimbulkan oleh ketipluk untuk
menciptakan keseimbangan sekala dan niskala.
6. Siwambha (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
7. Tripada(memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
8. Pengili Atma (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
117
9. Genah Bija (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
10. Genah Gandaksata (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
11. Sirawista (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
12. Kalpika (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
13. Padhupan (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
14. Padhipan (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
15. Sesirat (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
16. Penastan (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
17. Canting (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
18. Dulang (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
19. Saab (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
20. Lungka-lungka (memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang sama dengan siwopakarana)
KESIMPULAN
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa Siwopakarana berarti perangkat pemujaan atau
sarana perlengkapan Pandita Hindu yang digunakan pada waktu memuja untuk menyucikan badan
(dunia) dan menyemayamka Bhatara Siwa (Guru). Perangkat pemujaan Siwopakarana ini juga
dipakai oleh Pandita Hindu Bali dari golongan Bhujangga Waisnawa pada saat melakukan
pemujaan. Dari jenis perangkat pemujaan, jumlah dan tatanan letak saat mapuja, sama persis
antara pandita Siwa Paksa dan Bhujangga Waisnawa Paksa. Namun, yang membedakan antara
perangkat pemujaan Pandita Siwa dan Pandita Bhujangga Waisnawa, yaitu adanya perangkat
tambahan yang dipakai oleh Pandita golongan Bhujangga Waisnawa berupa panca genta, yaitu
genta padma, genta uter, genta orag, sungu, dan ketipluk. Demikian juga halnya dengan pandita
dari golongan Budha, terdapat beberapa persamaan dan perbedaan dengan perangkat pemujaan
Siwopakarana. Namun, baik Siwopakara yang dipakai oleh Pandita Siwa dan Bhujangga
Waisnawa maupun perangkat Budha Upakarana yang dipakai oleh Pandita Budha masing-masing
memiliki fungsi dan makna penting sebagai perangkat pemujaan atau sarana perlengkapan pandita
yang digunakan pada waktu memuja untuk menyucikan badan dan dunia.
118
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
UNIVERSITAS HINDU NEGERI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
DENPASAR
FAKULTAS BRAHMA WIDYA
Alamat: Jl. Ratna No. 51 Tatasan Denpasar Telp/Fak (0361) 226656
Jl. Nusantara Kubu Bangli Telp. (0361) 93788
Jl. Kenyeri Gang Sekar Kemuda No. 2 Denpasar Telp (0361) 228665
Website: http://www.uhnsugriwa.ac.id
TES UJIAN AKHIR SEMESTER
Mata Kuliah : Dasar-Dasar Kepanditaan
Jurusan : D3 Kepanditaan
Semester : II
Kampus : Denpasar/Pagi
Tanggal :
Waktu :
Pengampu : Mery Ambarnuari, S.Ag., M.Ag
Petunjuk:
a. Berdoa sebelum mulai mengerjakan soal!
b. Kerjakan soal dengan baik dengan jawaban yang jelas!
c. Dilarang mencontek dan copy-paste!
SOAL UAS
1. Bagaimana peran serta fungsi Pandita dalam dimensi sosial sesuai dengan fenomena zaman saat
ini ?
2. Apa makna tentang konstruksi serta struktur Pandita dikontrol oleh realitas yang suci ?
3. Mengapa Pandita dinyatakan sebagai teofani ?
4. Dalam era modern dan posmo kompetensi apa yang harus dikuasai oleh seorang Pandita ?
5. Bagaimana pandangan anda tentang pelaksanaan diksa yang bersifat diskriminatif kewargaan ?
119
DAFTAR PUSTAKA
Agastia cs. 2001. Eksistensi Sadhaka dalam Agama Hindu. Denpasar: Manikgeni
Anandakusuma, Sri Reshi, 1986. Kamus Bahasa Bali. Denpasar: CV Kayumas Agung.
Dhyanashakti, Ananda T. 2001. Kriya Yoga. Jakarta: Gramedia.
Goris, R. 1986. Sekte-Sekte Di Bali. Denpasar: Bhratara.
Griffith. R.T.H. 2005. Samaveda Samhita. Surabaya: Paramira.
Griffith. R.T.H. 2005. Yajurveda Samhita. Surabaya: Paramira.
Hooykaas, C. 2019. Brahmana Bauddha di Bali. Denpasar: Udayana University press.
Hooykaas. 2002. Surya Sevana. Jalan Mencapai Tuhan dari Pandita untuk Pandita dan Umat
Hindu. Surabaya: Paramita.
Kajeng, I Nyoman. 1997. Sarasamuccaya. Surabaya: Paramita.
Mantra, Ida Bagus, Dkk. 2002. Ciwa-Buddha Puja di Indonesia. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.
Maswinara, I Wayan. 1997. Bhagawad Gita (dalam Bahasa Inggris dan Indonesia). Surabaya:
Paramita.
Maswinara, I Wayan. 1999. Veda Sruti RG Veda Samhita (Sakala Sakha) Resensi Dari Sakala
Mandala I, II, II. Surabaya: Paramita.
Maswinara, I Wayan. 2004. Veda Sruti RG Veda Samhita (Sakala Sakha) Resensi Dari Sakala
Mandala IV, V, VI, VII Surabaya: Paramita.
Miartha, I Wayan. 2015. Diksanisasi (Teogenmeologis-Teoantropologis). Denpasar: Yayasan
Santha Yana Dharma MGPSSR.
Oka, I Gusti Agung. 1992. Slokantara. Jakarta: Hanuman Sakti.
Prabhakar, Machwe DKK. 2000. Kontribusi Hindu Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Peradaban.
Denpasar: Widya Dharma.
Pudja, G dan Tjokorda Rai Sudharta. 1973. Manava Dharmasastra (Manu Dharmasastra).
Surabaya: Paramita.
Pudja, MA. 2013. Bhagawadgita (Pancama Weda). Surabaya: Paramita.
120
Puniyaatmadja, Ida Bagus Oka. 1967. Silakrama. Jakarta: Parisada Hindu Dharma Pusat.
Purwa Sidemen, Ida Bagus. 2019. Perangkat Pemujaan Sulinggih Saiwa, Baudha, Bhujangga
Waisnawa. Denpasar: UNHI Press.
Radhakrishnan. 2008. Upanisad-Upanisad Utama. Surabaya: Paramita.
Sastra & Sara. 2005. Pedoman Calon Pandita dan dharmaning Sulinggih. Surabaya: Paramita.
Sayanacarya, Of Bhasya. 2005. Atharvaveda Samhita I. Surabaya: Paramita.
Soebadio, Haryati. 1985. Jnanasiddhanta. Yogyakarta: Djambatan.
Soebandi, Ketut. 1985. Berbakti Kepada Kawitan (Leluhur) adalah Paramo Dharmah. Denpasar:
Yayasan Adhi Sapta Kerthi.
Suhandana DKK. 2007. Diksa Pintu Menapaki Jalan Rohani. Surabaya: Paramita.
Suhardana. 2008. Dasar-Dasar Kesulinggihan Suatu Pengantar bagi Sisya Calon Sulinggih.
Surabaya: Paramita.
Sura, I Gede. 2002. Agastya Parwa Teks dan Terjemahan. Denpasar: Widya Dharma UNHI.
Suratmini, DKK. 2002. Agama Hindu. Bandung: Ganesha.
Tim Penerjemah Kantor Dokumentasi Budaya Bali. 1994. Bhuwana Kosa Alih aksara dan alih
Bahasa. Denpasar: Upadasastra.
Titib, I Made. 1994. Pedoman Sembahyang Dan Tirtayatra Bagi Umat Hindu. Denpasar: Upada
Sastra.
Titib, I Made. 1996. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramita.
Titib, I Made. 2001. Teologi Dan Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.
Wiana, I Ketut. 2001. Makna Upacara Yajna Dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.
121