The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by chickenshihlin.20, 2021-04-26 00:15:23

himpunan riset covid19

himpunan riset covid19

ix. Lama perawatan subyek menjadi Endpoint Sekunder.
x. Obat uji diberikan minimal 7 hari dan maksimal 14 hari selama subyek dirawat di Rumah Sakit

Bagan 3. Evaluasi Efikasi Azithromycin (7) negatif tetapi gejala klinis masih
Pada Obat SoC (Endpoint primer)1 (bagan 2): ditemukan mulai hari ke delapan (8)
hingga hari ke sepuluh (10), maka
i. Jika tidak ditemukan gejala klinis pada dinyatakan tidak sembuh dan dilakukan
hari ke empat (4) hingga hari ke enam(6) pengobatan lanjutan berdasarkan
dan hasil pemeriksaan RTPCR pada hari protokol rumah sakit untuk Covid- 19.
ke tujuh (7) negatif, maka pasien iv. Obat SoC diberikan 5 hari selama subyek
dinyatakan sembuh dan dapat pulang dari dirawat di Rumah Sakit
Rumah Sakit pada hari ke tujuh (7)
3.11.2 Evaluasi Klinik
ii. Jika ada ditemukan gejala klinis pada hari Evaluasi klinik didasari pada perubahan
ke empat (4) hingga hari ke enam(6) manifestasi klinik yang ditemukan selama
namun pemeriksan RTPCR pada hari ke penelitian dilaksanakan di RS terpilih. Semua
tujuh (7) dinyatakan negatif dan tidak manifestasi klinik tersebut dicatat pada CRF
ditemukan gejala klinis mulai hari ke sesuai dengan waktu rawat inap subyek.
delapan (8) hingga hari ke sepuluh (10), Manifestasi klinik yang dicatat di CRF harus
maka pasien dinyatakan sembuh dan sesuai dengan pencatatan dari dokter yang
dapat pulang dari Rumah Sakit pada hari bertanggung jawab.
ke sebelas (11) Parameter keamanan merujuk pada IB yang ada
pada penelitian pada fase 1, 2 dan 341 adalah
iii. Jika ada ditemukan gejala klinis pada hari peningkatan asam urat, peningkatan ALT,
ke empat (4) hingga hari ke enam(6) dan
hasil pemeriksaan RTPCR hari ke 7
masih positif, atau RTPCR hari ke tujuh

peningkatan AST, exanthema, nausea, muntah, melalui perawakan vertikal maksimum
sinusitis, sakit kepala, bronchitis, diare, infeksi untuk orang yang dapat berdiri tanpa
saluran nafas kemih, colitis, gangguan bantuan. Hiasan rambut, jepit rambut,
metabolisme dan nutrisi, gangguan kulit dan kepang, perhiasan, harus dipindahkan
jaringan subkutan, gangguan otot dan jaringan, dari bagian atas kepala sebelum
gangguan ginjal dan saluran kemih, gangguan pengukuran dilakukan.
vaskuler. Manifestasi klinik tersebut dilaporkan • Berat badan
ringan.41 Beberapa SAE (Severe Adverse Berat badan harus diukur dengan
Event) ditemukan pada saat uji klinik pada fase melepas alas kaki, hanya mengenakan
1, 2, dan 3 seperti pneumonia, kanker pakaian diberikan pada saat perawatan
payudara, asma, hipertensi krisis, kanker untuk mengurangi variabilitas dan untuk
melanoma yang berdasarkan hasil pemeriksaan menjaga konsistensi.
dan tatalaksana tidak berhubungan dengan • Jika pada saat pemeriksaan fisik tidak
pemberian favipiravir. Efek samping berat yang dapat dilakukan maka hasil pemeriksaan
pernah dilaporkan lainnya adalah perilaku dinyatakan not applicable.
abnormal (frekuensi tidak diketahui), kelainan
klinik lainnya yang dilaporkan sama dengan 3.11.4 Tanda Vital
antivus lainnya seperti syok anafilaktik, Tekanan darah/denyut nadi diukur pada saat
pneumonia, hepaptitis fulminant, toxic epidermal duduk atau tidur, dan denyut nadi diukur dengan
necrolysis, cedera ginjal, penurunan sel darah menggunakan tensimeter digital yang
putih, gangguan saraf dan jiwa, perdarahan terstandar. Selama uji klinik dilakukan,
colitis.42 pengukuran harus dilakukan pada lengan subjek
Efek samping yang pernah dilaporkan dengan konsisten. Pengukuran Suhu dilakukan
berdasarkan laboratorium adalah peningkatan secara axilla. Untuk pengukuran pernafasan
asam urat (4,79%), diare (4,79%), penurunan dinilai permenit.
jumlah neutrophil (1,8%), peningkatan SGOT
(1,8%), peningkatan SGPT (1.6%). 3.11.5 Evaluasi Laboratorium, Radiologi
Evaluasi laboratorium disesuaikan dengan
3.11.3 Evaluasi Pemeriksaan Fisik pemeriksaan yang ditetapkan sesuai standar
pemeriksaan dari perkumpulan dokter patologi
• Evaluasi pemeriksaan fisik didasari pada klinik dan disesuaikan dengan pelaksanaan di
hasil pemeriksaan fisik dokter Rumah Sakit. Berdasarkan pertimbangan
penanggungjawab yang dicatatkan pada pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh rumah
rekam medik. Evaluasi dilakukan setiap sakit maka pemeriksaan yang mungkin dapat
hari hingga pasien pulang. dilakukan adalah sebagai berikut:

• Tinggi badan
Tinggi pada saat berdiri akan dinilai

Tabel 1. Rencana Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan ml WB/S/P Tabung
WB EDTA
Darah Lengkap 2
S Tutup Kuning
Hematocrit P Sitras / Biru Muda
WB Spuit 2 ml isi heparin
Haemoglobin S Tutup Kuning

Red Blood Cells/Erytrocyte

White Blood Cells/leuko

PLT / Trombosit

Neutrophil

Lymphocyte

Eosinophil

Basophil

Hitung Limfosit absolut/ALC

Neutrofil Lymphocyte ratio
/NLR

Imunologi 8,5 sm
KK
CRP
PCT/Procalcitonin 2,7
IL-6
Feritin 1
Hemostasis 8,5 sm
PT Imuno
APTT
D-Dimer
Pemeriksaan lain
Analisa Gas Darah
Blood sampling biochemistry

Fungsi hati
Total Bilirubin
Albumin
ALT (SGPT)
AST (SGOT)

LDH milik bersama antara Badan Litbangkes dan
rumah sakit penelitian. Spesimen tersebut
Fungsi Ginjal hanya dapat diakses oleh pihak yang diizinkan
oleh BadanLitbangkes sesuai dengan peraturan
Creatinine yang berlaku.
Untuk menjamin validitas laboratorium tiap
Urea rumah sakit akan dimonitoring jadwal dan
pelaksanaan kalibrasi dari laboratoium.
Uric acid Pelaksanaannya akan dilakukan oleh tim
monitoring. Pemeriksaan radiologi juga
Fungsi Jantung dilakukan dilakukan sebelum pasien dinyatakan
memenuhi kriteria ekslusi dan inklusi penelitian
Troponin I dan setelah masuk sebagai subyek penelitian
akan dianggap sebagai baseline data penelitian.
CKMB Pemeriksaan lanjutan sesuai dengan
pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter di
Electrolyt Rumah Sakit penelitian.

Sodium 3.11.6 Evaluasi Keamanan
Keamanan akan dievaluasi melalui pemeriksaan
Potasium klinik dan laboratorium yang dilakukan pada
saat studi berlangsung. Pemeriksaan klinik
Clorida untuk menilai keamanan dan tolerabilitas dari
Favipiravir meliputi monitoring kejadian yang
*WB = whole Blood; P= Plasma; S= serum tidak diinginkan dan evaluasi klinik (termasuk
tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik).
Pemeriksaan tersebut diatas diambil pada saat Pemeriksaan laboratorium darah akan dilakukan
subyek setelah menandatangani inform consent, pada hari yang ditentukan. Semua pemeriksaan
diambil sebagai namun pengambilannya akan dilakukan di laboratorium milik RS yang
dilakukan sebelum pasien dinyatakan memenuhi menjadi tempat penelitian. Efek samping yang
kriteria ekslusi dan inklusi penelitian. Jika sudah berkaitan dengan obat akan dinilai oleh dokter
masuk sebagai subyek penelitian maka data
laboratorium telah menjadi baseline data
penelitian. Pengambilan data laboratorium
selanjutnya akan dilakukan sesuai pemeriksaan
yang dilakukan di Rumah Sakit. Pemeriksaan
RTPCR dilakukan sesuai dengan jadwal
evaluasi efikasi penelitian.
Pada saat pemeriksaan laboratorium akan
diambil sediaan darah yang akan diperiksa oleh
rumah sakit penelitian. Jumlah volume darah
yang diambil sesuai dengan kebutuhan standar
pemeriksaan darah seperti pemeriksaan diatas
(20 ML) dengan frekuensi waktu yang sesuai
dan atas permintaan dokter penanggung jawab
pasien. Cara pengambilan melalui vena
mediana/fossa cubuti yang dilakukan oleh
tenaga laboratorium terlatih. Efek pengambilan
darah tersebut dapat menimbulkan rasa sakit
yang minimal dan hematom. Tim peneliti akan
melakukan pencatatan terhadap hasil
pemeriksaan tersebut ke dalam CRF. Spesimen
darah yang diambil akan digunakan untuk
penilaian laboratorium pada penelitian ini dan
sebagian disimpan (2 ml serum) untuk penelitian
yang berhubungan dengan penelitian ini dimasa
mendatang dan sampel tersebut merupakan

penanggung jawab dengan menggunakan Serius (KTDS) dilaporkan ke Komisi Etik
kuesioner terstandar dan dianalisa setelah tempat pengajuan etik penelitian paling
pemberian obat. Evaluasi kejadian yang tidak lambat dalam 72 jam (3 hari).
diinginkan akan dilakukan dengan 3. Pelaporan Efek Samping Obat yang Serius
menggunakan Algoritma Naranjo oleh kliniki yang membahayakan jiwa dan/atau kematian
yang bertanggung jawab pada penelitian ini dilaporkan oleh sponsor kepada Badan POM
(Lampiran)43. paling lambat 7 (tujuh); sementara untuk efek
samping serius lainnya dilaporkan dalam 15
3.11.7 Kejadian Tidak Diinginkan yang Serius (lima belas) hari.
(KTDS)
Kejadian tidak diinginkan yang serius adalah 3.11.9 Manfaat/Risiko
segala kejadian yang tidak diinginkan yang Subjek dari uji klinik secara umum tidak dapat
terjadi pada berbagai dosis atau selama mengharapkan menerima manfaat langsung dari
menggunakan produk sponsor yang terapi selama berpartisipasi, karena uji klinik
mengakibatkan: dirancang untuk memberikan informasi tentang
keselamatan dan efektivitas obat investigasi.
a. Kematian Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk
b. Kejadian Mengancam jiwa menilai keamanan dan efektivitas dalam studi
c. Kejadian medis lain yang penting paralel terbuka. Dalam penelitian ini tidak ada
lengan plasebo (placebo arm) selama masa
3.11.8 Pelaporan Kejadian Tidak Diinginkan pengobatan, sehingga seluruh subjek tetap
Serius (KTDS) mendapatkan terapi penunjang standar.
Pelaporan disesuaikan dengan standar GCP
yaitu: 3.11.10 Monitoring Kepatuhan Pengobatan
1. Kasus dengan Kejadian Tidak Diinginkan Pemberian obat kepada subjek harus tercatat
pada form pemberian obat harian oleh petugas
Serius (KTDS) dilaporkan oleh peneliti yang ditunjuk. Petugas harus memastikan
kepada sponsor paling lambat 24 (dua puluh bahwa obat tersebut benar- benar dikonsumsi
empat) jam sejak informasi pertama sekali oleh subjek (lampiran).
diketahui
2. Kasus dengan Kejadian Tidak Diinginkan

3.12 Pengumpulan Data
3.12.1Diagaram Perekrutan Subyek Penelitian

3.12.2 Follow Up Penapisan dilakukan untuk menilai apakah
Sebelum responden menjadi subyek penelitian pasien calon subyek masuk kedalam kriteria
maka dilakukan pre-penapisan yaitu menilai inklusi dan ekslusi. Jika masuk dalam kriteria ini
catatan medis pasien yang bisa memenuhi maka dilakukan randomisasi obat yang akan
kriteria inklusi dan ekslusi oleh tim peneliti, diterima dan disebut subyek penelitian. Subyek
dimana jika tidak memungkinkan untuk direkrut penelitian adalah pasien rawat inap di RS
maka tidak perlu dilanjutkan ke proses terpilih dan pada saat perekrutan dilakukan
Penapisan. maka waktunya disebut D1.
Calon subyek yang kemungkinan dapat masuk Setelah dirandom subyek belum diberikan obat
penelitian akan dimasukkan ke tahap Penapisan terlebih dahulu, diharapkan subyek diperiksa
dengan terlebih dahulu dilakukan persetujuan kembali manifestasi kliniknya dan pemeriksaan
setelah penjelasan (PSP)/ Inform Consent. laboratoriumnya. Kemudian subyek baru
Pelaksanaan PSP dilakukan oleh tim peneliti, diijinkan minum obat penelitian yang ditetapkan.
dengan penjelasan yang sesuai dan jelas Selama pemberian obat, jika ada dilakukan
sehingga pasien dapat dengan sukrela pemeriksaan klinik dan laboratorium diharapkan
mengikuti penelitian. dilakukan pada saat sebelum minum obat

penelitian. penelitian
Subjek penelitian yang direkrut akan menerima 4. Pindah Rumah Sakit
obat sesuai protokol penelitian yang 5. Subyek mendapatkan antiviral lainnya
pemberiannya akan dipantau langsung oleh tim
peneliti. Obat diberikan sesuai dosis yang pada hari setelah jadwal minum obat
ditetapkan selama 5 hari untuk obat 6. Subyek mendapatkan obat yang dilarang
ekeperimen, dan untuk obat kontrol akan
diberikan sesuai dosis standard of care Rumah diberikan yaitu Pyrazinamide,
Sakit. Repaglinide, Theophylline, Famciclovir,
Follow up akan dilakukan mulai hari pertama dan Sulindac
perekrutan (D1), minum obat hingga maksimal 7. Protocol Violation
hari ke D14 . Pencatatan manifestasi klinik akan
dilakukan mulai hari D1, hingga maksimal hari 3.12.3 Protocol Violation
D19. Setiap hari hasil manifestasi klinik akan Kemudian subyek dapat dikeluarkan dari
dinilai oleh tim peneliti Rumah Sakit apakah ada penelitian akibat protocol violation yang
masalah pada keamanan subyek penelitian. didefinisikan sebagai kesalahan yang terjadi
Semua hasil akan dicatat ke dalam case report pada saat perekrutan pasien menjadi subyek
form, dan jika ditemukan kasus manifestasi penelitian oleh karena tidak sesuai dengan
klinik berat maka akan dituliskan pada adverse protokol penelitian. Adapun yang termasuk
case report form dan segera dilaporkan sesuai protocol violation adalah:
prosedur standar GCP.
Adapun pemeriksaan laboratorium akan 1. Gagal menyelesaikan minum obat terapi
mengikuti pemeriksaan standar Rumah Sakit. oleh karena muntah yang persisten pada
Semua hasil pemeriksaan akan dicatat ke dalam saat minum obat Favipiravir atau obat
case report form, dan jika ditemukan kasus efek standard of care(SoC) Rumah Sakit.
samping berat akan dituliskan pada adverse Subyek yang dikeluarkan akan
case report form dan segera dilaporkan sesuai mendapatkan pengobatan standar dari
prosedur standar GCP. rumah sakit. Jika diputuskan hal ini
Namun demikian, subyek dapat didrop-out atau berkaitan dengan efek obat yang berat
dikeluarkan dari penelitian karena penghentian maka pelaporan harus segera dilakukan
follow up dan protocol violation. Subyek sesuai dengan standar GCP.
dihentikan follow up- nya jika memenuhi kriteria
sebagai berikut: 2. Salah rekrutmen karena tidak sesuai
dengan kriteria inklusi dan ekslusi
1. Penyakit Subyek menjadi berat/kritis,
yaitu pasien dengan tanda klinis 3. Kasus berat pada saat perekrutan
pneumonia (demam, batuk, sesak, napas dilakukan
cepat) ditambah satu dari: frekuensi
napas > 30 x/menit, distres pernapasan 4. Mendapat obat antiviral lain pada saat
berat, atau SpO2 < 93% pada udara masih periode pemberian obat penelitian
ruangan. Selain itu subyek dengan Acute
Respiratory Distress Syndrome (ARDS), 3.12.4Instrumen Penelitian
sepsis dan syok sepsis juga masuk ke Untuk membantu pengumpulan data digunakan
derajat keparahan berat/kritis. instrument sebagai berikut:

2. Subyek meninggal • Case Report Form (CRF)
3. Withdrawal Consent dari subyek atau dari • Log book untuk pre-penapisan, penapisan

dokter penanggungjawab dengan dan perekrutan subyek
pertimbangan keselamatan subyek • Rekam medis dan laporan hasil

laboratorium
• Peralatan medis rumah sakit untuk

menunjang pemeriksaan medis

3.12.5 Strategi Perekrutan Subyek
Subyek yang direkrut adalah pasien yang dirawat di rumah sakit yang berasal dari ruang unit gawat
darurat, rawat jalan/poliklinik Rumah Sakit terpilih. Sebelum dilakukan perekrutan, seluruh tim
penelitian akan sosialisaikan dan dilatih untuk melakukan pre-penapisan, penapisan dan perekrutan
subyek.

3.12.6 Jadwal Kegiatan
Tabel 2. Jadwal kegiatan:

* (#) Dikumpulkan bila ada data, (x*) dilakukan sebelum pemberian obat uji atau SoC, (x) dilakukan jika
memenuhi kriteria

3.13 Data Mangement tim peneliti RS terpilih, yang mana hasil tersebut
PI bertanggungjawab terhadap semua akan menjadi database, yang akan diklarifikasi
pelaksanaan penelitian dan akan memastikan sebelum digunakan sebagai bahan analisis
penelitian sesuai dengan standar penelitian data. Data akan disimpan di lokasi tersendiri
yang telah ditetapkan termasuk pengumpulan dengan sistem komputerisasi di manajemen
dan pencatatan data pada case report form data penelitian dan menjadi tanggungjawab
(CRF). Hasil pemeriksaan klinik dan ketua pelaksana untuk memastikan data aman
laboratorium akan dicatat sesuai dengan waktu dan hanya digunakan untuk tujuan penelitian ini.
pemeriksaan penelitian pada CRF. Ketua Kepemilikan data adalah bersama – sama untuk
pelaksana dan tim penelitian juga akan semua peneliti dan institusi yang terlibat, namun
memastikan bahwa data yang dipakai sesuai akses terhadap data selama penelitian
antara dokumen sumber data di rumah sakit berlangsung ajan dimiliki oleh Balitbangkes.
dengan CRF, dan jika ada perbedaan maka Pelaporan kemajuan akan dilaporkan secara
akan segera diklarifikasi. Setiap perubahan atas kumulatif dan berkala. Akses terhadap data
hasil klarifikasi yang dimaksud harus disertai masing – masing Rumah Sakit akan diberikan
dengan tanda tangan, tanggal klarifikasi dan setelah data dinyatakan clean oleh tim
nama dari peneliti yang melakukan klarifikasi. manajemen data Balitbangkes di akhir
Semua data akan dilakukan pemeriksaan ulang penelitian. Permintaan penggunaan data akan
hingga akhir kasus. Semua CRF akan diisi oleh dikelola oleh Balitbangkes melalui surat resmi

terhadap Kepala Badan Penelitian dan numerik. Analisis Efikasi dinilai dari uji
Pengembangan Kesehatan. Publikasi penelitian kesintasan menggunakan kurva Kaplan
ini wajib mencantumkan acknowledgement Meier dan Hazard Rasio. Analisis akan
terhadap semua institusi yang terlibat dan dibagi menjadi yaitu analisis efikasi
Balitbangkes. membandingkan Favipiravir dengan
Standard of Care (SoC). Analisis
3.14 Pengawasan dan Monitoring Penelitian tambahan dilakukan untuk menilai
Pengawasan akan dilakukan oleh tim penelitian perbandingan efikasi keduanya pada
terhadap pemberian obat, manifestasi klinik dan derajat keparahan ringan dan derajat
laboratorium dari subyek penelitian. Proses ini keparahan sedang.
akan dilakukan oleh tim peneliti RS dan peneliti c. Analisis Interim
Balitbangkes yang ditugaskan sesuai dengan Analisis interim dilakukan untuk
protocol penelitian. Tim peneliti akan menentukan apakah perlu dilakukan revisi
melaporkan semua kejadian serius yang tidak terhadap protocol, pengehentian lebih
diinginkan kepada regulator sesuai prosedur awal atau melanjutkan penelitian. Analisis
GCP. ini dilakukan satu kali yaitu pada saat
Monitoring penelitian akan dilakukan sesuai pasien mencapai 50% untuk kedua
dengan protocol penelitian, prinsip GCP dan kelompok penelitian.
segala persyaratan etik. Tim monitoring d. Menggunakan program pengolah data
independen akan mengembangkan Rencana SPSS
Pemantauan dan memantau pelaksanaan
penelitian. Adapun proses monitoring yang 3.16 Etik Penelitian
dilakukan adalah: pada awal penelitian: Etik penelitian akan diajukan ke Komisi Etik
mengkaji data subyek uji klnik (kelayakan Badan Penelitian dan Pengembangan
subyek awal rekrut), pada pertengahan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik
penelitian uji klinik (50% kasus kedua kasus), Indonesia. Selama penelitian, tim peneliti akan
akhir penelitian terkait semua laporan yang melaporkan kemajuan penelitian dan temuan
dimiliki dan saat kapanpun dibutuhkan KTDS atau lainnya jika ada.
monitoring ketat terhadap subyek penelitian. Persetujuan setelah penjelasan (PSP)/Inform
Monitoring ekternal juga akan dilakukan oleh Consent wajib diberikan kepada subyek
Data Safety Monitoring Board (DSMB) atau penelitian dan memberikan keterangan rinci
Komite etik. terkait tujuan penelitian, durasi, potensi risiko,
manfaat penelitian,kerahasiaan, tidak adanya
3.15 Analisis kualitas pelayanan kesehatan yang bebeda, jika
a. Analisis Keamanan tidak jadi direkrut serta kompensasi. Untuk
Hasil pemeriksaan laboratorium dianalisis subyek yang tidak bisa membaca, sakit
deskriptif untuk menilai karakteristik dari sehingga tidak bisa memberikan tanda tangan,
subyek penelitian. Penilaian yang maka dimintakan saksi untuk menandatangai
dilakukan per pengobatan yang PSP. Satu lembar PSP akan menjadi milik
dilakukan. subyek, satu lembar lagi disimpan oleh tim
b. Analisis Efikasi peneliti dan tidak digabungkan dengan CRF.
Data numerik digambarkan dengan nilai Adapun penelitian ini menggunakan obat Hibah
rata-rata ± standar deviasi, atau median, yaitu favipiravir yang diberikan pemerintah
nilai minimum dan maksimum. Data Jepang kepada pemerintah Indonesia melalui
katagorik dijelaskan oleh jumlah kasus Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
(proporsi,%). Karakteristik pasien dan menggunakan anggaran biaya dari Badan
dibandingkan dengan menggunakan uji Penelitian dan Pengembangan Kementerian
χ2 atau Fisher’s exact untuk data Kesehatan yang merupakan anggaran
kategorik, dan uji peringkat-jumlah Pemerintah Republik Indonesia. Berdasarkan
Wilcoxon atau uji t Student untuk data hal ini kepemilikan data dari penelitian ini adalah

milik bersama yang lebih lanjut diatur dalam Pengembangan Kementerian Kesehatan selaku
suatu perjanjian kerjasama antara pemerintah pihak yang bertanggung jawab melaksanakan
Indonesia dan Jepang dimana authorship penelitian dengan Rumah Sakit penelitian yang
terbesar dimiliki oleh Badan Litbangkes. Selain ditunjuk sebagai kolaborator untuk mengatur
itu, perjanjian kerjasama kolaborasi akan dibuat secara detail teknis pelaksanaan dan
antara Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan tanggungjawab dari masing – masing pihak
Kesehatan, Badan Penelitian dan selama penelitian berlangsung.

3.17 Jadwal Penelitian
Tabel 3. Jadwal penelitian 2020

BAB 4. HASIL PENELITIAN

4.1 Laporan Kegiatan penelitian yaitu uji klinis yang dilakukan oleh
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hibah obat Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan
favipiravir dari pemerintah Jepang melalui kesehatan. Berdasarkan hal tersebut disusunlah
Kementerian Luar Negeri Indonesia yang protokol penelitian dan rencana anggaran biaya
diserahkan ke Kementerian Kesehatan melalui yang dibutuhkan. Prosesnya dimulai pada akhir
Balitbangkes untuk dapat digunakan dalam Mei 2020, termasuk melakukan identifikasi dan
tatalaksana Covid-19 komunikasi dengan calon rumah sakit penelitian
Berdasarkan tupoksi Balitbangkes maka obat Penyusunan protokol penelitian disusun sesuai
yang dihibahkan hanya dapat digunakan melalui dengan kebutuhan dan kemampuan kapasitas

RS yang melayani Covid-19. Tim melakukan subyek penelitian dengan gejala ringan karena
RSJ Soeroso merupakan RS rujukan yang
beberapa kali pertemuan dan berdiskusi terkait hanya merawat pasien dengan gejala sedang.
Permintaan ini ditindaklanjuti dengan melakukan
metodologi penelitian yang rencananya akan amandemen penelitian ke komite etik dan
mendapat persetujuan pada akhir Oktober 2020
dilaksanakan. Kemudian tim juga melakukan sehingga perekrutan subyek dapat dilakukan di
2 RS tambahan tersebut. Tantangannya ada
komunikasi dengan calon ketua pelaksanan di dalam melakukan koordinasi dimana masing –
masing RS harus bekerja sama namun
RS yang direncanakan sebagai tempat terkoordinir di RS Soeroso, dimana pengiriman
obat dan kontrol data menjadi salah satu
penelitian. Diskusi dilakukan untuk masalah.
Pada penelitian ini dilakukan supervisi dan
menyelaraskan kegiatan tatalaksana Covid-19 di monitoring yang dilakukan secara periodik yang
bertujuan untuk menjamin semua proses
RS setempat sehingga bisa dituangkan dalam kegiatan sesuai dengan protokol penelitian.
Pelaksanaan dilakukan 4-5 kali pada satu lokasi
metodologi penelitian. untuk mendapatkan hasil pengumpulan data
yang baik dan tepat. Hasil kegiatan tersebut
Protokol penelitian diajukan ke Panitia Pembina didapatkan bahwa pemahaman masih sering
keliru sehingga diperlukan bimbingan dan
Ilmiah (PPI) Puslitbang Sumber Daya dan diskusi ulang terkait isi protokol penelitian, cara
merekrut subyek dan follow up subyek
Pelayanan Kesehatan untuk mendapatkan reviu. penelitian. Beberapa perbaikan dilakukan
selama melakukan monitoring dan supervisi,
Kemudian setelah melalui diskusi dan proses seperti melatih kembali, membuat pedoman
yang memudahkan sesuai dengan protokol
menjawab riview PPI dan mendapatkan penelitian dan situasi di Rumah sakit, berdiskusi
dengan tim yang terkait permasalahan dalam
persetujuan maka pengajuan persetujuan etik tatalaksana dan pemeriksaan laboratorium.
Adapun hasil dari kegiatan supervisi dan
dilakukan, dan setelah 2 kali reviu dari komisi monitoring adalah sebagai berikut:

etik didapatkan persetujuan etik pertama sekali A. Supervisi dan Monitoring RSPI Prof Sulianti
Saroso
pada bulan Agustus 2020, walaupun penelitian
• Kegiatan 1. Tanggal 14 – 16 Oktober 2020
belum dapat dilakukan karena rencana Tim Balitbangkes bertemu dengan berdiskusi
dengan tim RS yaitu Co-PI dr. Adria, dr. Maria,
anggaran belum mendapatkan dr, Debby dan ibu Farida. Tim Balitbangkes
menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan yang
persetujuan/masih berproses. Sambil menunggu kemudian dilanjutkan dengan site assessment.
Kegiatan assessment dimulai dari kunjungan ke
persetujuan anggaran dilakukan proses laboratorium, disana tim melihat alat
pemeriksaan yang digunakan dan fasiltas dari
permohonan persetujuan PPUK ke BPOM dan laboratorium. kemudian kunjungan dilanjutkan
ke ruang penelitian dan ruang rawat pasien
setelah mendapat masukan reviu yang berkaitan covid yaitu ruang nusa indah 1, nusa indah II,
Mawar 1 dan Mawar 2, selain itu juga tim
dengan perubahan dosis obat, kemudian mendatangi ruang apotek. Disana tim RS juga

dilakukan amandemen etik pertama dan menjadi

dasar untuk perbaikan riview BPOM agar

mendapatkan persetujuan PPUK.

Kemudian pada awal September 2020,

didapatkan kejelasan bahwa anggaran disetujui

serta dapat digunakan sekitar akhir September,

yang dilanjutkan dengan dikeluarkannya

pesetujuan etik amandemen dan persetujuan

penggunaan obat favipiravir dari BPOM (PPUK).

Setelah mendapatkan persetujuan kemudian

dilakukan pelatihan dan kegiatan yang

mendukung penelitian yaitu cara pengisian CRF,

dokumen dan merekrut subyek yang dilakukan

secara daring.

Perekrutan subyek dimulai tanggal 13 Oktober

setelah diaktifkannya site notification (surat

notifikasi) penelitian di RSPI Sulianti Saroso,

RSUD Karyadi dan RSJ Prof Soeroso. Pada

saat pelaksanaan supervisi dan monitoring

maka atas permintaan RSJ Soeroso dilakukan

penambahan lokasi penelitian yaitu RSUD

Merah Putih dan RST Soedjono yang diaktifkan

pada bulan November 2020, sehingga total ada

5 site penelitian. Tujuannya untuk mendapatkan

melakukan pre-screening dan screening pasien. Balitbangkes berkoordinasi kembali dengan RS
Jumlah pasien yang bisa direkrut yaitu 1 orang mengecek kembali hasil feedback dari Form
laki-laki, pasien menderita covid-19 derajat CRF dan AE. Kemudian kegiatan dilanjutkan
sedang. Co-PI dr. adria masuk ke ruang isolasi dengan pemeriksaan dokumen manajemen
untuk memberikan penjelasan informed consent obat. Setelah itu, dilakukan refereshing entri
terhadap subyek, setelah itu tim pusat dan tim data pada kasus yang telah selesai diamati.
RS berkoordinasi kembali tentang alur penelitian
dalam merekrut subyek, hal- hal apa saja yang • Kegiatan III. 24 – 26 November 2020
perlu dilakukan antara lain cek kesedian obat Tim Balitbangkes bertemu dengan tim RS site
dan randomisasi pengobatan. Setelah dirandom, yaitu Co-PI dr. Maria L Tampubolon Sp.S dan
subyek mendapatkan terapi obat Favipiravir. dr. Dian. Tim memantau dan
Setelah berdiskusi dan berkoordinasi tentang mendokumentasikan penyimpanan cryotube
alur penelitian. Hari berikutnya, tim berdiskusi sampel dan penempatannya dicryobox didalam
tentang pasien yang telah direkrut pada hari freezer. Mengecek pengisian dan kesesuaian
sebelumnya. Ternyata tim menemukan spesimen log bersama. Membahas jalan keluar
permasalahan terkait prosedur penelitian dengan dr. Dian, ketika ada cryotube yang
sehingga tim pusat dan tim RS menelisir berbeda ukuran dan cara mengunduh hasil
kembali prosedur penelitian, tim Pusat membuat pemeriksaan lab dengan menutupi identitas
point -point penting yang perlu disepakati subjek. Tim juga mengecek pengisian dan
dengan tim RS dalam pelaksaaan penelitian, kesesuaian master participation log, subject
mulai dari informed conset hingga follow up dispensing log dan IP accountability log,
pasien, tim juga berkoordinasi tentang bagan bersama tim farmasi RS yaitu Ibu Anita, S.Farm.
yang tepat dalam merekrut pasien dan hal-hal Apt. Menyampaikan hasil masukan clinical
lain yang kemungkinan terjadi di lapangan yang monitoring mengenai pengunduhan formulir
mungkin dapat menghambat dalam perekrutan farmasi tersebut secara berkala. Tim juga
pasien. Hari berikutnya kegiatan diawali dengan melakukan pendampingan dan pengecekan
ketua pelaksana dr. Armedy memaparkan pengisian eCRF bersama dengan tim
tentang hasil kesepakatan dengan Tim RSPI manajemen data RS. Sulianti, yaitu Ibu Farida
sulianti Saroso. Kemudian dilanjutkan dengan dan Ibu Siti Maimun.
pengecekan dokumen-dokumen yang perlu
dilengkapi oleh RSPI. Koordinasi juga • Kegiatan IV. 10 -11 Desember 2020
dilanjutkan dengan tim IGD yang nantinya akan Tim Balitbangkes bertemu dengan tim RS yaitu
merekrut pasien pertama kali. Tim RS juga Co-PI dr. Adria Rusli, Sp. P dan dr. Maria. L.
berkoordinasi kembali tentang hal- hal yang Tampubolon Sp.S dan dr. Deby yang
harus dilakukan setelah pasien pertama direkrut. memberitahukan yang direkrut berjumlah 14
kemudian tim melanjutkan kegiatan preskring- subjek dan membahas waktu untuk penutupan
dan skirining untuk penelitian ini. rekrut subjek. Tim melakukan pengecekan
formulir farmasi bersama tim farmasi RS yaitu
• Kegiatan II tanggal 2 – 4 November 2021 Ibu Anita, S.Farm, Apt mengenai pengisian dan
Tim Balitbangkes bertemu dengan tim RS yaitu kesesuaian formulir pencatatan bagian farmasi,
Co-PI dr. Adria, dr. Maria, dr, Debby dan dr. antara lain master participation log, subject
Nina. Tim Balitbangkes menjelaskan maksud dispensing log dan IP accountability log. Tim
dan tujuan kegiatan yang kemudian dilanjutkan membahas mengenai waktu untuk serah terima
dengan Monitoring. Kegiatan monitoring diawali obat yang sesuai dengan selesainya follow up
dengan membahas kasus SAE sebanyak 1 subjek yang terakhir direkrut bersama Kasubid.
kasus. Kemudian dilanjutkan dengan kasus AE
sebanyak 1 kasus. Selain itu, tim juga Melakukan pengecekan kelengkapan dan
membahas jadwal pemeriksaan asam urat. kesesuaian formulir Laboratorium bersama tim
kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan form RSPI. Sulianti Saroso yaitu dr. Dian, Sp.PK
CRF dan dokumen ASDL. Hari berikutnya, tim mengenai pengisian specimen log. Hari

berikutnya melanjutkan kegiatan pengecekan • Kegiatan III. 24-27 November 2020
dan kesesuaian formulir kejadian yang tidak Pelaksanaan kegiatan sudah berlangsung
diinginkan baik serius ataupun tidak. Kemudian dengan total subyek yang direkrut adalah 8
tim melakukan kembali pengecekan subyek penelitian. Perekrutan subyek masih
kelengkapan CRF dan kesesuaian pengisian e mengalami kendala khususnya terkait kriteria
CRF, mengingatkan kembali tim RS. Sulianti inklusi dan eklusi penelitian. Pasien Covid-19
untuk melengkapi eCRF, mengunduh hasil secara umum ternyata sudah mendapatkan obat
pemeriksaan laboratorium dan formulir yang Azitromisin dari luar RS yang merupakan protap
sudah diisi secara berkala. Hari berikutnya tim Kemenkes sehingga menyulitkan dalam
mendampingi tim Peneliti untuk melanjutkan perekrutan subyek. Terbukti hasil pre-
kegiatan pengecekan dan kesesuaian formulir penapisan yang mencapai 35 subyek tetapi
kejadian dan lainnya agar sesuai dengan yang dipenapisan 9 orang dan 7 orang di rekrut
protokol penelitian. menjadi subyek penelitian dengan alasan
terbanyak sudah mendapatkan obat azitromisin.
B. Supervisi dan Monitoring RSUP Dr Kariadi Hasil temuan lain juga mendapatkan
• Kegiatan I. 14-17 Oktober 2020 penggunaan obat yang tidak sesuai dengan
Berkoordinasi dengan site PI, perawat, protokol yang ditetapkan yaitu 1 kotak obat
apoketer, dan petugas laboratorium terkait hanya 1 pasien. Hal ini diketahui karena tidak
pemahaman terhadap protokol beserta adanya kesepahaman dalam pelaksanaan
pengisian informed consent, case report form, sehingga langsung dilakukan perbaikan.
dan semua berkas penelitian sesuai dengan Penyimpanan juga masih sementara sehingga
Good Clinical Practice. Tim melakukan dibutuhkan kepastian tempat untuk ruang
kunjungan terhadap ruangan penyimpanan obat penelitian. nelain ada beberapa dokumen yang
dan penelitian di lokasi penelitian di RS. Acara belum selesai dikerjakan. Dokumen – dokumen
kemudian dilanjutkan dengan koordinasi terkait tersebut diantaranya terkait dengan tugas dan
administrasi penelitian. Pendalaman materi tanggungjawab (ASDL), dokumen farmasi,
mengenai Informed Consent, Case Report form dokumen CRF yang belum diselesaikan,
serta diskusi tentang kemungkinan kendala- dokumen Kejadian Tidak Diinginkan yang belum
kendala penelitian yang kemungkinan dihadapi. dilengkapi. Pada saat monitoring ini tim diminta
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan untuk segera melengkapi dokumen- dokumen
perencanaan mendetail terkait perekrutan dan segera mengirimkan/upload dokumen.
pasien dengan masing-masing derajat Melakukan kegiatan pertemuan dengan clinical
penyakitnya. monitoring membahas semua kegiatan yang
dilakukan serta identifikasi dokumen – dokumen.
• Kegiatan II. 2 – 5 November 2020 Ditemukan masih banyak informasi pengisian
Berkoordinasi dengan site PI, perawat, dokumen yang keliru atau tidak diketahui
apoketer, dan petugas lab terkait pelaksanaan sehingga dibutuhkan pendampingan lebih lanjut.
protokol penelitian dan kendala-kendala yang Dilakukan observasi ke apotik dan gudang
ditemui dalam rekrutmen maupun pengisian farmasi terkait tempat penyimpanan obat. Hasil
case report form. Acara kemudian dilanjutkan pemantauan diperlukan perbaikan penyimpanan
dengan penyamaan persepsi dan praktek data obat khususnya obat yang digunakan untuk
entry secara digital dengan menggunakan subyek penelitian. Yang mana dapat
software. Kemudian tim melakukan pemeriksaan disimpulkan Kesimpulan: Masih dibutuhkan
terhadap semua isian blanko/dokumen pendampingan dan pelatihan untuk menjamin
penelitian serta melengkapi isian yang belum validitas penelitian, Pengisian CRF dan
lengkap. Acara kemudian dilanjutkan dengan dokumen lainnya harus segera dilakukan
diskusi dan tindak lanjut terkait hal-hal teknis dengan di monitoring oleh tim penelitian lainnya,
menyangkut kelengkapan data. Berdasarkan diperlukan perubahan kriteria inklusi dan ekslusi
hasil temuan dilakukan pelatihan ulang terhadap untuk membantu perekrutan subyek penelitian.
tim Kariadi

• Kegiatan IV. 10 – 14 Desember 2020 koordinator RSJ Soerojo, dr. Hadjar dan Co-PI,
Tim melakukan pengecekan semua CRF, Cek dr. H. Harli Amir M., SpPD- KEMD dan anggota
hasil entri data, pengecekan kelengkapan tim lainnya terkait perekrutan subyek,
dokumen penelitian. Hasil supervisi menilai 12 randomisasi, laboratorium, inform consent, case
subyek penelitian dimana 1 diantaranya sedang report form, pemberian obat, barcode, visite log
berjala atau belum selesai. ditulis, training log, ASDL, dan administrasi
Tim juga melakukan pengecekan tempat keuangan. Kesepakatan di tanda tangani oleh
penyimpanan dokumen penelitian, melakukan kedua belah pihak antara tim pusat dan tim RSJ
Inventarisasi obat sisa penelitian, melakukan Soerojo.
Inventarisasi alat dan bahan penelitian yang
akan dikembalikan. Kemudian tim melakukan • Kegiatan II. 2-6 November 2020
pengepakan obat untuk disimpan kembali Kegiatan ini difokuskan pada pertemuan
menunggu lanjutan penelitian di tahun 2021, pelatihan dan pendampingan di RSUD Merah
termasuk pengepakan alat dan bahan kontak Putih dan RST Soedjono.Pelatihan dibagi
penelitian. Tim juga melakukan penyelesaian menjadi 2 kelas: kelas protokol penelitian (dr.
adminitrasi untuk periode 2020. Armedy dan dr. Hadjar) dan kelas manajemen
data penelitian (Agus Dwi Harso). Selain itu
C. Supervisi dan Monitoring RSJ Soeroso, dilakukan diskusi terkait aktivitas penelitian
RSUD Merah Putih, RSJ Soeroso dengan RST dan Merah Putih diantaranya
mengirimkan pre-penapisan log, penapisan log,
• Kegiatan I. 14 – 18 Oktober 2020 ICF pada hari Rabu setiap Minggu untuk dicek
Tim menjelaskan maksud kedatangan tim pusat dulu oleh RSJ sebelum di upload ke google
dengan dr. H. Harli Amir M., SpPD-KEMD drive oleh bu Inti. Pelatihan GCP peneliti site
selaku Direktur SDM, Pendidikan dan Umum akan difasilitasi oleh RSJ Soerojo bagi tim
dan anggota tim penelitian. Diskusi terkait peneliti favipiravir. Tim tidak akan memberikan
permasalahan pendampingan dan monitoring obat Azithromisin kepada calon subyek saat
awal perekrutan subjek peneitian sesuai perawatan dibangsal sebelum randomisasi. RSJ
protokol dan prinsip GCP, dan SOP yang sudah Soerojo hanya merekrut subyek favipiravir
dilatih sebelumnya serta pertanggungjawaban dengan derajat sedang, kemudian RST Soejono
anggaran yang diberikan dari penelitian ini. dan RS Merah Putih khusus merekrut hanya
Diskusi dilanjutkan esok hari dan kunjungan derajat ringan. Pemberian ICF hanya dilakukan
diakhiri pada pukul 16.00. Hari berikutnya Pukul oleh tim penelitian yang tercantum dalam ASDL
09.00 berangkat berdiskusi terkait perekrutan dan akan dibuatkan SK oleh Puslitbang SD dan
subyek, randomisasi, laboratorium, inform Yankes.
consent, case report form, pemberian obat, Selain pelatihan dilakukan pendampingan
barcode, visite log ditulis, training log, ASDL, pengisian dokumen dan CRF di RS Soeroso.
dan administrasi keuangan untuk mencapai Bagaimana cara pengisian pre penapisan dan
kesepakatan antara tim pusat dan RSJ Soerojo penapisan log sebelum diupload pada hari jumat
hingga pukul 16.00 WIB. Pukul 09.30 menuju setiap minggu. Kemudian hasil diskusi satu
RSJ Soerojo, berdiskusi dengan tim penelitian subyek 3201: dengan obat azithromicyn, hasil
RSJ Soerojo terkait agar tercapainya subjek pcr hari ke-7 telah negatif namun dipulangkan
penelitian sejumlah 75 subjek, karena pada hari ke-9 meskipun masih ada gejala klinis,
kekurangan subjek penelitian di RSJ Soerojo. hal ini sudah sesuai dengan protokol dengan
Maka diusulkan ada tambahan RS kerjasama outcome tidak sembuh. Pada saat penapisan,
dengan RST dr. Soedjono dan RSUD Merah ada 3 calon subyek telah minum azitromisin
Putih dalam perekrutan calon subjek. Diskusi sehingga tidak bisa merekrut calon tersebut.
berakhir pukul 15.00 WIB. Berangkat menuju Pada lembar ke-2 CRF diperbaiki dengan
RSJ Soreojo pukul 09.00 WIB terkait penambahan kolom pada follow-up tanda vital.
kesepakatan selama kegiatan yang sudah Pada pengisian penapisan form ditambahkan
berlangsung. Sudah di sepakati antara dengan form untuk deskripsi proses pemberian

ICF. diketahui RS baru beroperasi bulan Mei 2020,
Saat pendampingan/pelatihan Manajemen Data: pasien 15, 18, 19, 37 pasien di oktober 2020
Peserta berasal dari RSJ Soerojo (Inti), RST terkait Covid-19. Pada prinsipnya RS
Soedjono (Nurhayati) dan RSU Merah Putih mendukung kegiatan penelitian favipirafir.
(Dhini). Peserta dari RST Soedjono dan RSU Adapun DPJP yang bternatnggung jawab
Merah Putih tidak membawa laptop. Pelatihan adalah dr. Ratna. Setelah dilakukan Overview
manajemen data meliputi: syarat spesifikasi oleh dr. Armedy dilanjutkan dengan Paparan
laptop yang akan digunakan, cara setting laptop, tentang Protokol Penelitian oleh dr. Hadjar. Hasil
cara install program, cara entri data dan cara informasi sebelumnya RSUD Merah putih hanya
kirim data. Program entri data yang disampaikan akan merekrut subyek penelitian penderita covid
masih ada perbaikan. Tim Manajemen Data dari ringan.Perekrutan pasien direncanakan di
masing-masing RS tersebut dimasukkan ke bangsal. Repackage obat sesuai kebiasaan
dalam grup WA Tim Mandat Favipirafir. rumah sakit. Pengalaman farmasi RSJ: obat yg
Pada hari ketiga dilakukan pertemuan di RST udah tidak dipake, dipaking ulang jika nanti
Soedjono. Pembukaan dan Sambutan Direktur dikembalikan ke Balitbangkes. Akan diberikan
RST Soedjono yang diwakili oleh dr. Agung. obat favipirafir 2 box terlebih dahulu untuk jaga2
Selain itu diinformasikan bahwa Sudah punya jika ada rekrutment pada hari libur.
PCR, sehari bisa 100. Rata-rata 120 sehari Azythromycin disesuaikan dengan SOC RS dan
dengan sehari bisa keluar hasil PCR. Rata – berupa tablet.
rata sehari Pasien Covid berjumlah 34 pasien.
Untuk DPJP di RS Soedjono: Dr. Dwi Hartanto • Kegiatan III.23-27 November 2021
Sp. Paru, Dr. lnge SpPK, apoteker, bu Nurhayati Tim menuju RS dr. Soerojo dan diterima oleh dr.
(kepala ruangan perawatan). Kemudian Harli Amir Mahmudji, Sp.PD- KEMD beserta tim
dilakukan Paparan dr. Armedy, tentang overview peneliti site. Tim melakukan pemeriksaan SRB
penelitian Favipiravir. Diskusi dengan dr. Dwi terkait pelaksanaan monitoring penelitian.
didapatkan hasil kebanyakan pasien merupakan Ditemui beberapa berkas yang belum lengkap
rujukan dari RS lain sehingga ada beberapa dan pengisian Case Report Form yang masih
pasien sudah mendapat Azitromycin, karena belum sesuai. Setelah selesai dari RS dr.
standarnya diberikan Levofloxasin dan Soerojo Tim Menuju RS Merah Putih. Tim
Azithromysin sehingga menjadi tantangan untuk melakukan pemeriksaan SRB dan ditemui
melakukan penelitian. Kesiapan tim RST terkait beberapa berkas yang belum lengkap dan
penelitian juga dinilai dan didapatkan jumlah pengisian Case Report Form yang masih belum
pasien sekitar 300 orang per hari, PCR rata-rata sesuai. Tim menghubungi RS Merah Putih dan
100 spesimen per hari. Untuk penelitian obat Rumah Sakit Tentara dr. Soedjono untuk
dirandom oleh Tim dari RS Soerojo, obat 1 mengirimkan perwakilan tim agar dapat
pasien 1 box, jika masih ada sisa obat, tidak mengikuti monitoring dan evaluasi (Monev) yang
digunakan. RSJ Soerojo, Pemberian obat antara akan dipusatkan di RS dr. Soerojo pada tanggal
jam 8 pagi-jam 8 malam. Pengumpulan form 25 November Pkl 13.00 WIB. Dari hasil monev
pre-screening, screening dan enrollment log ke ketiga site, SRB dijumpai beberapa kekurangan
RSJ setiap hari Rabu, maksimal jam 11. berkas seperti CV dan GCP dan pengisian Case
Kemudian diharuskan salah satu dokter Report Form yang masih belum sesuai.Dari
mempunyai sertifikat GCP. Penyerahan logistik hasil monitoring diketahui beberapa berkas yang
penelitian favipiravir oleh tim peneliti RSJ harus dilengkapi dan memperbaiki cara
Soerojo. Selain itu dilakukan kunjungan melihat pengisian Case Report Form yang belum
fasilitas penyimpanan obat penelitian di bagian sesuai. Tim berdiskusi dan memberikan arahan
farmasi. kepada tim peneliti site terkait perbaikan-
Hari berikutnya dilakukan diskusi di Rumah perbaikan yang harus dilakukan berdasarkan
Sakit Merah Putih. Kegiatan dimulai dengan hasil yang didapatkan pada saat monitoring site
Sambutan dari Direktur RSUD Merah Putih dr. terkait cara-cara pengisian Case Report Form
Leli Puspitowati, MM , dari paparan direktur yang baik dan benar dan tim juga mengatur

jadwal secepatnya untuk mengikuti pelatihan adalah persiapan dan koordinasi internal tim
dalam rangka mendapatkan sertifikat GCP. Tim untuk kegiatan di Magelang, pertemuan dalam
menuju site Rumah Sakit Tentara dr. Soedjono, rangka pembukaan inspeksi BPOM, kemudian
diterima dan berdiskusi dengan PI Site dr. Dwi tim mendampingi tim studi favipiravir RSJ pada
Hartanto Sp.P dan tim peneliti terkait kendala saat BPOM telusur ke ruangan IGD dan Farmasi
yang dihadapi saat pengumpulan data sekaligus RS. Siang hingga sore hari, tim melakukan
menginformasikan hasil monitoring yang pendampingan tim studi favipiravir RSJ pada
dilakukan sehari sebelumnya. Dari hasil diskusi saat BPOM telusur dokumen-dokumen
ditemukan kendala terkait meningkatnya jumlah penelitian. Masukan BPOM dari hasil telusur
pasien Covid 19 di site sehingga tim tidak dokumen penelitian adalah perbaikan terhadap
maksimal dalam melakukan pengumpulan data log prepenapisan, penapisan dan enrolment, log
dikarenakan terbatasnya jumlah tenaga randomisasi, ICF dan CRF subyek penelitian.
kesehatan. Kegiatan hari berikutnya di Ruangan Pertemuan
Aula Komdik RST Soedjono. Pagi hari,
• Kegiatan IV.8-12 Desember 2020 pertemuan dihadiri oleh Letkol Bambang, Letkol
Koordinasi dengan bagian Diklat RSJ Soerodjo Widya, dr. Dwi, bu Nurhayati, bu Sukma, tim
Magelang (Ibu Inti). Kemudian dilakuka Koreksi BPOM. Tim melakukan pendampingan terhadap
file hasil scanning CRF RSJ Soerodjo tim studi RST pada saat dilakukan inspeksi
Magelang. Selain itu dilanjutkan dengan koreksi dokumen-dokumen penelitian oleh BPOM. Sore
file hasil scanning CRF RSJ Soerodjo hari untuk kegiatan penutupan, acara dibuka
Magelang. Hasil didapatkan RSJ Soerodjo oleh dr. Harli. Paparan ringkasan hasil inspeksi
Magelang diperoleh 16 subjek, dilakukan uji klinis. Hasilnya: perjelas definisi operasional
Koreksi CRF RST Soedono : 4 subjek, Cek form protokol violation, bagaimana penentuan nomor
prepenapisan dan penapisan RST Soedjono penapisan, belum ada persamaan persepsi,
dan RSJ Soerodjo,, Cek kelengkapan dokumen ASDL 5 org RSJ belum TTD, DPJP dimasukkan
KTD RST Soedono dan RSJ Soerodjo, Cek dalam ASDL, ada beberapa form yang belum
kelengkapan dokumen ASDL RST Soedono dan diisi. Prosedur randomisasi blm dicatat secara
RSJ Soerodjo dan Penyelesaian administrasi konsisten oleh tim peneliti, media WAG harus
RST Soedono dan RSJ Soerodjo. tetap didokumentasikan dengan baik shg
Kemudian tim juga melakukan koreksi CRF penelusuran balik menjadi jelas.Parmasist
RSUD Merah Putih : 5 subjek, Cek form dosisnya dimulai sore hari agar mudah
prepenapisan dan penapisan RSUD Merah pemantauan, diberi pemahaman tentang cara
Putih, Cek kelengkapan dokumen KTD RSUD pemberian dosis obat (diagram).Penyimpanan
Merah Putih, Cek kelengkapan dokumen ASDL serum darah akan dikumpulkan, belum ada
RSUD Merah Putih, Penyelesaian administrasi penjelasannya dalam ICF. Rekam medis bisa
RSUD Merah Putih dan dilanjutkan dengan ditambahkan kode/ label khusus penelitian
pertemuan persiapan clinical monitoring Badan secara permanen. Belum ada subjek
POM via daring (zoom meeting) dengan identification log, penulisan inisal konsisten,
narasumber Ibu Aini. Pertemuan ini membahas belum ada form alokasi pengobatan, masih
segala dokumen dan kelengkapannya serta menggunakan pensil, tidak dilakukan pengisian
koreksi dari hal – hal yang penting dilakukan nomor subjek, pada CRF belum ada justifikasi
dalam penelitian Favipiravir. Koreksi diperlukan kriteria covid, 3207 pemeriksaan RTPCR hari
untuk menjamin kegiatan berlangsung dengan ke5. 3139 tidak konsisten, 3136 dibuat catatan,
baik dan sesuai dengan GCP. belum ada catatan outcome 3102,3103 dan
3105. Penyimpanan obat uji klinik dibedakan
• Kegiatan V. 17 – 20 November 2020 dari penyimpanan obat umum. Akhirnya ditutup
Adapun kegiatan ke 5 dilakukan untuk dengan arahan dan closing oleh direktur BPOM
pendampingan kegiatan inspeksi BPOM . Hari ketiga Tim melakukan verifikasi CRF.
sekaligus kegiatan Supervisi dan Monitoring Berdasarkan evaluasi yang dilakukan,
penelitian. Adapun kegiatan yang dilakukan perekrutan sering terkendala masalah

penolakan subyek dan riwayat penggunaan obat grup penyakit, dinilai bagaimana
SoC yang tidak memenuhi syarat penelitian manifetasi klinis dari masing – masing
serta kondisi lainnya seperti hasil laboratorium kelompok. Jika dianalisis secara statistik
yang menunjukan asam urat yang tinggi atau malah akan banyak menimbulkan false
pemeriksaan lainnya yang mengarah kearah positif. Termasuk untuk analisis Kaplan
gejala diagnosis yang berat. Merujuk hasil meier harus diperjelas untuk menganalsis
penapisan/screening penelitian mencapai apa yang diperlukan. Untuk sponsor
ratusan calon subyek tetapi sulit memenuhi adalah Puslitbang Sumber Daya dan
kriteria penelitian agar penelitian uji klinik sesuai Pelayanan Kesehatan harus diyakini
dengan GCP/standar uji klinik terlebih dilakukan bahwa para tim punya kemampuan yang
hanya dalam 2 bulan terakhir. Oleh karenanya baik dan siduah dilatih, sebaiknya
diharapkan perpanjangan penelitian dapat dilakukan inisiasi, dicek lagi ada tidaknya
dilakukan. GCP dari setiap tim penelitian. Tujuannya
Selain itu dilakukan juga pertemuan dengan supaya tidak terjadi kesalahan. Kemudian
Calon tim Data Safety Monitoring Board secara untuk DSMB merupakan badan
online. Hasil pertemuan didapatkan masukan independen yang tidak terlibat sama
untuk menjadi pertimbangan kedepan untuk sekali dengan tim penelitian. Jika ada
mengajukan protokol penelitian pada 18 informasi terkait permasalahan keamanan
November 2020. Hasil pertemuan itu didapatkan penelitian maka DSMB akan raat secara
beberapa poin penting untuk dipertimbangkan : mandiri.

• Menurut Prof Rianto Setiabudi sebaiknya • Menurut Prof Emiliana Tjitra, penjelasan
hanya menggunakan satu kriteria bukan dari kerangka konsep yang tidak
dua yaitu bebas klinis dan RTPCR. Hal ini memasukan derajat subyek dalam
didasari pada konsep uji klinik yang harus penelitian harus dipertimbangkan. Derajat
jelas dimana luaran harus satu seperti ringan – sedang bisa menjadi faktor
dari sakit ke sembuh, meninggal, konfonding dari penelitian ini sehingga
perbaikan klinis. Sementara secondary harus dimasukkan dalam konsep
endpointnya bisa banyak termasuk penelitian. Selain itu pertanyaan di
pemeriksaan RTPCR berbasis fokuskan pada besar sampel dan
pemeriksaan laboratorium. Jika merujuk randomisasi, bagaimana sebaiknya
RTPCR maka judul penelitian sebaiknya randomisasi dilakukan dengan adanya 5
bukan yang saat ini diajukan tetapi judul Rumah Sakit dan strata derajat ringan
berfokus pemeriksaan laboratorium dan sedang agar tidak terjadi
seperti efek obat pada konversi ketimpangan dalam perekrutan subyek
Favipiravir. Kemudian untuk clearance penelitian. Kemudian keseimbangan
virus melalui pemeriksaan PCR pengobatan studi harus dipertimbangkan
sebaiknya tidak dilakukan, karena harus karena obat uji bisa mencapai 14 hari
mempertimbangkan kenyamanan subyek sementara obat azythromysin diberikan 5
untuk diambil setiap waktu sehingga hari, dengan demikian jika memang obat
pertanyaan dan hipotesis. Berdasarkan uji sembuh di waktu lebih lama, maka ini
hal ini sulit mewujudkan atau menjawab tidak fair bagi Azythromycin. Sebaiknya
pertanyaan terkait tujuan sekunder yang dibuat cut off yang jelas karena dari sini
ada di protokol penelitian. Dampaknya tidak jelas cut off yang diinginkan agar
bisa mempengaruhi validitas penelitian, bisa menjawab masalah penelitian. Selain
karena dalam pemeriksaan PCR bisa itu seharusnya dengan penggunaan
sangat bervariasi. Kemudian data favipiravir sembuhnya dibawah 5 hari,
keamanan yang akan dilakukan dan bukan ditambah menjadi 14 hari
sebaiknya tidak dianalisis secara anova pengobatan. Jika memang superior,
tetapi deskriptik. Dipaparkan saja per Favipiravir harus segera menyembuhkan
subyek penelitian. Kemudian untuk efikasi

memang harus dipertimbangkan pada bagan 3.
Hasil penelitian mendapatkan total 185 subyek
penyembuhan klinis sekaligus PCR sudah yang dilakukan pre-penapisan yaitu menilai
tanpa melakukan kontak dengan calon subyek
menunjukkan negative sehingga jelas namun hanya melihat dari rekam medis.
Penilaian pre-penapisan dilakuan untuk
apakah memnag sudah benar –benar mendapatkan informasi pendahuluan sehingga
tidak perlu seluruh pasien di rumah sakit dengan
sembuh. Untuk perekrutan lebih Covid-19 dilakukan penapisan, adapun
informasi yang dijadikan dasar adalah kriteria
diperjelas waktu Day nya kapan, D1 itu inklusi dan ekslusi. Berdasarkan hasil pre-
penapisan tersebut yang bisa dilakukan untuk
apa, D2 itu apa, kapan disebut minum rencana penapisan hanya 51,9% pasien. Alasan
kenapa tidak masuk kedalam rencana
obat dan sebagainya. Hal ini harus penapisan adalah pasien sudah minum
Azithromycin, hasil pemeriksaan PCR lebih dari
diperjelas dan mudah dimengerti, day seminggu, ada riwayat pernaha minum
Favipiravir sebelumnya, pasien minum antivirus
klinis dan day periksa viral sebaiknya lainnya, pasien dengan tanda – tanda berat.
Kemudian subyek yang masuk pre-penapisan
disaat atau waktu yang sama. Untuk dimintakan persetujuan penapisan yang
didahului dengan penandatangan persetujuan
pemberian obatnya setelah makan 30 mengikuti penelitian (PSP). Hasil penapisan
didapatkan hanya 60,8% yang direkrut menjadi
menit, padahal harus secepatnya subyek penelitian. Adapun alasan yang tidak
direkrut menjadi subyek penelitian disebabkan
diberikan, mohon diperhatikan. Kasus alasan hasil PCR negatif, sudah minum
Azithromycin, tidak masuk kriteria penelitian dari
meninggal di drop out atau tidak sembuh, awal prepenapisan dan penapisan, menolak ikut
serta dalam penelitian, mengundurkan diri
ini harus diperjelas. RTPCR tidak duplo setelah tanda tangan PSP.
Total subyek yang direkrut mulai pertengahan
sesuai peraturan, mohon Oktober hingga 16 Januari 2020 berjumlah 59
subyek dari total yang dilakukan penapisan.
dipertimbangkan. Pada bagan profile dapat dilihat sebaran dari
kasus di 5 Rumah Sakit penelitian. Total subyek
• Menurut Dr Iwan Ariawan, harus di RST Soedjono dan RSUD Merah Putih adalah
pasien ringan dan pada penelitian ini baru
diperhatikan apakah dengan ringan- diikutsertakan pada bulan November 2020
sehingga total subyek masih lebih sedikit
sedang, apakah gejala masuk yang dibandingkan RS lainnya. Sementara RSPI
Sulianti Saroso, RSUP Karyadi, RSJ Soeroso
ringan sehingga menjadi tinggi tingkat merekrut hanya subyek pasien sedang.
Berdasarakan hasil cleaning data maka subyek
kesembuhan. Kemudian sampel, harus yang dapat dianalisis untuk sementara
berjumlah 59 orang. Adapun karakateristik
dipastikan kriteria kesembuhan dengan subyek penelitian adalah rerata berumur 43,2
(kisaran: 20-59) tahun, dengan jumlah laki – laki
referensi harus sama. Analisis tentang 26 subyek dan perempuan 33 subyek.
Berdasarkan tabel 5 dipaparkan gejala – gejala
efikasi, apakah hanya akan dilakukan

Intention To Treat atau Per Protocol. Efek

samping harus menggunakan analisis

deskriptif.

Pada pertengahan Desember, BPOM
melakukan inspeksi uji klinik untuk menilai
kelayakan pelaksanaan penelitian dengan GCP
di 3 RS Magelang. Hasil penelitian
mendapatkan ada beberapa perubahan yang
harus diperbaiki mulai dari dokumen CRF dan
pendukungnya (Lampiran). Sementara untuk
fasilitas pelayanan dan tim peneliti site sudah
cukup memadai untuk melakukan uji klinis,
walaupun tetap perlu di optimalkan.

4.2 Laporan Hasil Penelitian Sementara
Perekrutan subyek penelitian ini dihentikan
sementara pada akhir tahun anggaran 2020 dan
akan dilanjutkan pada tahun 2021, penelitian ini
juga baru dimulai pada pertengahan Oktober
2020. Jumlah subyek yang direkrut sampai
dengan akhir Desember 2020 berjumlah 55
orang dari 5 lokasi penelitian. Adapun profil
subyek penelitian yang telah direkrut dipaparkan

yang muncul pada saat subyek penelitian masuk – 6 gejala klinis yang muncul dengan rerata 2,3
ke rumah sakit. Gejala Deman, Batuk, Sesak gejala per orang, dengan rata – rata gejala
merupakan gejala yang paling sering ditemukan terjadi 5,3 hari (kisaran 1 – 14) hari dengan
sebagai alasan subyek datang dan dirawat di median 4,0 hari dan SD 3,8 hari.
rumah sakit. Kisaran gejala per subyek antara 1

Bagan 5. Profile subyek penelitian

Tabel 4. Karakteristik gejala klinis yang muncul sebelum dirawat di Rumah Sakit
Laporan komorbid subyek yang masuk ke Rumah Sakit dilaporkan sebagai berikut:

Tabel 5. Karakteristik status komorbid subyek penelitian

Berdasarkan tabel diatas didapatkan Diabetes tercatat sebagai subyek penelitian dipaparkan

Mellitus, Hipertensi, kebiasan merokok, kanker, pada tabel 6. Hasil penelitian sementara

penyakit jantung merupakan penyerta atau mendapatkan gejala klinis subyek penelitian

komorbid dari subyek yang dirawat di Rumah pada hari pertama (1/satu) direkrut dimana

Sakit. Hasil ini juga mendapatkan tidak adanya secara umum batuk merupakan manifestasi

kasus HIV, Tuberkulosis, Asma, penyakit hati klinis yang sering ditemukan. Perbedaan terjadi

kronik sebagai penyerta penyakit Covid-19. dengan gejala klinis di hari awal alasan masuk

Saat subyek telah masuk direkrut sebagai rumah sakit yang lebih didominasi gejala klinis

subyek penelitian, maka gejala awal yang demam.

.

Tabel 6. Karakteristik subyek penelitian hari pertama perekrutan subyek

Tabel 7. Karakteristik subyek penelitian hari kedua perekrutan subyek

Pengamatan dilakukan lebih lanjut dengan menilai gejala klinis hari kedua (2) subyek masuk dalam
penelitian (tabel 7). Hasil menunjukkan adanya perubahan manifestasi klinis dari hari sebelumnya,
terlihat dari fase demam yang sudah tidak ditemukan pada kelompok favipiravir, demikian juga pada
manifestasi klinis lainnya terjadi penurunan dari fase sebelumnya.

Tabel 8. Karakteristik subyek penelitian hari ketiga perekrutan subyek

Pengamatan pada hari ketiga (3) menunjukkan Namun demikian masih ditemukan gejala –
penurunan gejala klinis dari pengamatan hari gejala yang muncul.
sebelumnya (tabel 8). Perubahan penurunan Pada pengamatan hari kelima dapat dinilai
yang terjadi, namun ada gejala yang muncul terjadi penurunan manifestasi klinis, dimana
pada hari ketiga yang tidak ditemukan pada hari jumlah kasus yang punya gejala klinis semakit
sebelumnya atau ditemukan pada hari pertama, sedikit (tabel 10). Namun demikian pada
tidak dikeluhkan pada hari kedua namun muncul beberapa subyek ditemukan kasus demam yang
pada hari ketiga seperti anosmia, diare. Namun masih terjadi, sementara batuk walaupun sudah
demikian rasa sesak masih ditemukan pada berkurang masih belum benar – benar hilang.
kedua kelompok. Kemudian pada tabel 9 Gejala anosmia masih ditemukan hilang timbul
dipaparkan manifestasi klinis pada hari kempat pada beberapa subyek, semetara masalah
yang menunjukkan manifestasi klinis yang gangguan pada pencernaan masih juga menjadi
semakin berkurang dari subyek penelitian. manifestasi klinis yang sering ditemukan.

Tabel 9. Karakteristik subyek penelitian hari keempat perekrutan subyek

Tabel 10. Karakteristik subyek penelitian hari kelima perekrutan subyek

Hasil pengamatan pada hari keenam menunjukkan semakin menurunnya manifestasi klinis dari subyek
penelitian, dimana beberapa gejala sudah tidak ditemukan lagi (tabel 11). Namun demikian untuk
kejadian batuk masih terus ditemukan lebih banyak dibandingkan gejala klinis lainnya. Selain itu rasa
sesak yang juga masih banyak dirasakan oleh subyek penelitian.

Tabel 11. Karakteristik subyek penelitian hari keenam perekrutan subyek

Tabel 12. Karakteristik subyek penelitian hari ketujuh perekrutan subyek

Manifestasi klinis pada hari ke 7 masih ditemukan pada beberapa subyek penelitian. Selama satu
minggu sebagai subyek penelitian secara umum semua manifestasi turun, namun demikian masih
ditemukan 2 subyek yang diketahui demam pada kelompok Azythromycin.

Gambar 1. Bebas gejala klinis

Selanjutnya, manifestasi klinis hari berikutnya penelitian mendapatkan beberapa subyek
dinilai namun bergantung apakah subyek tetap penelitian tetap dirawat karena tidak sesuai
dirawat inap atau sudah dapat dinyatakan dengan kriteria diatas. Subyek tersebut
pulang berdasarkan hasil bebas manifestasi selanjutkan diperiksa PCR pada hari ke 11 dan
klinis dan pemeriksaan PCR negatif. Hasil hari ke 15 atau dinilai masih adakah gejala

klinisnya. terjadi pada sebagian kecil subyek penelitian.
Berdasarkan analisis data terhadap 59 subyek Hasil penelitian menunjukkan hasil positif masih
penelitian saat ini, didapatkan 29 kasus dengan ditemukan pada pemeriksaan hingga hari ke -19
obat uji klinik dan 30 kasus dengan obat SoC yang dipaparkan pada tabel 13. Beberapa
(Standart of care). Hasil sementara penelitian ini pemeriksaan dilakukan diluar jadwal yang
juga mendapatkan bahwa bebas gejala klinis ditetapkan, namun demikian dapat terlihat hasil
selama 3 hari terakhir tidak benar – benar hanya positif yang masih ditemukan hingga hari ke-19.

Tabel 13. Hari pemeriksaan PCR subyek penelitian

Hasil karakteristik laboratorium subyek penelitian di paparkan pada tabel 14. Karakteristik ini
menggambarkan subyek masuk ke Rumah sakit dengan keluhan atau manifestasi klinis Covid-19. Hasil
menunjukkan secara mayoritas hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan limfositopenia, penurunan
jumlah sel darah putih.

Tabel 14. Hasil Pemeriksaan laboratorium saat perekrutan subyek penelitian

BAB 5. PEMBAHASAN

Kegiatan penelitian tahun 2020 telah dihentikan Hasil Inspeksi BPOM memunjukkan
sesuai dengan tahun anggaran yang berakhir diperlukannya perbaikan pada semua proses
sehingga belum terjawab pertanyaan penelitian penelitian. Hal ini diperlukan untuk tetap
yang sangat dibutuhkan untuk alternatif menjamin has ail penelitian yang valid.
pengobatan Covid-19. Hasil penelitian ini hanya Beberapa hal yang perlu diperbaiki diantaranya
mendapatkan berkisar 25% dari kasus yang cara mengisi dokumen – dokumen pendukung
dibutuhkan sehingga belum valid untuk yang sangat diperlukan untuk melakukan
menyatakan efikasi dan keamanan subyek pencarian subyek penelitian di rekam medis jika
penelitian. Oleh karenanya dibutuhkan lanjutan diperlukan oleh pejabat yang berkepentinga
studi ini untuk dapat menjawab secara pasti terkait uji klinik. Selain itu cara pengisian CRF
efikasi dan keamanan. Selain itu sesuai hasil dan entri data juga harus dilakukan. Kemudian
evaluasi, monitoring dan inspeksi BPOM maka konsistensi terhadap protokol dan bagan harus
dibutuhkan perbaikan dari sisi kualitas dan diperkuat dan koreksi – koreksi yang berkaitan
protokol penelitian serta dokumen penyerta. dengan pencatatan obat dan lainnya. Selain itu

ada juga temuan kritikal terkait uji klinik ini yaitu bermakna, hanya yang perlu diperhatikan
adanya obat yang dibawa pulang oleh subyek adalah adanya perbedaan imun respon yang
penelitian. Hal – hal seperti ini harus diperbaiki terjadi pasca SARS-COV2 melekat pada ACE2
kedepannya sehingga penelitian sesuai dengan antara kelompok usia muda dan tua ternyata
hasil yang diharapkan. Hasil supervisi dan ada perbedaan yang signifikan.48
monitoring mendapatkan bahwa kasus Hasil penelitian sementara ini juga mendapatkan
pemberian azithromycin sudah dilakukan sejak bahwa perbedaan jenis kelamin dapat
di fasilitas kesehatan tingkat I. Oleh karenannya berpengaruh terhadap kejadian berat ringannya
tantangan ini menjadikan sulitnya mendapatkan infeksi SARS-COV2. Hasil kajian menyebutkan
subyek yang sesuai dengan protokol penelitian. bahwa laki – laki lebih sering terinfeksi Covid-19
Kedepannya diharapkan adanya perbaikan dengan gejala berat, yang dihubungkan dengan
protokol yang dapat mengatasi permasalahan keberadaan ACE2 yang lebih banyak ditemukan
ini. Azithromycin pada prakteknya dapat pada laki – laki.16 Namun jika dinilai
digunakan selama 7 – 10 hari pada penyakit berdasarkan banyaknya ACE2 di organ tubuh
infeksi dan COVID-19. 44 Oleh karenanya seperti di paru – paru, darah, usus ternyata baik
upaya perbaikan protokol dapat dilakukan untuk laki – laki ataupun perempuan tidak mengalami
mempercepat proses perekrutan subyek. perbedaan.48 Jadi kemungkinan adanya
Hasil penelitian menunjukkan Subyek Ringan perbedaan tersebut bisa karena adanya
sangat sedikit didapatkan di RS Soedjono dan perbedaan perilaku yang terjadi seperti
RS Merah Putih. Hasil ini tentunya tidak kebiasaan merokok, gaya hidup tidak sehat,
diharapkan, karena pada penelitian ini yang masalah expresi kromosom ACE2, hormon
dinilai adalah gejala ringan dan sedang. seksual dan termasuk defisiensi ACE2.16,49
Hal ini terjadi karena RSPI Sulianti Saroso, RS Defisiensi ACE2 juga ternyata menjadi salah
Karyadi dan RSJ Soerojo merupakan RS satu penyebab kejadian inflamasi hingga
rujukan yang hanya merawat subyek sedang. masalah koagulasi pada penderita.49 Pada
Untuk perekrutan subyek gejala ringan penelitian ini belum dapat ditentukan apakah
dilakuakn di RS Soedjono dan RST Merah Putih beda jumlah laki – laki dan wanita bermakna,
yang sejauh ini perekrutannya masih sedikit. namun dapat dinyatakan bahwa untuk terinfeksi
Harapannya kedepan perekrutan dapat SARS-CoV2 kemungkinan laki – laki dan wanita
dilakukan lebih banyak lagi pada kedua RS tidak berbeda, semua bisa terinfeksi Covid-19.
tersebut. Hasil dari 30 subyek yang dianalisis Demam, batuk dan sesak merupakan gejala
sementara mendapatkan subyek yang terinfeksi yang terjadi yang tersering ditemukan dan
berumur 21-58 tahun dengan rerata 43,2 tahun. kemungkinan berkaitan dengan infeksi di paru –
Umur disebutkan berhubungan dengan berat paru yang merupakan tempat utama SARS-
ringannya penyakit Covid-19. CoV2, namun demikian manifestasi klinis Covid-
Seperti diketahui bahwa ACE2 merupakan 19 sangat bervariatif. Hasil ini konsisten dengan
tempat menempelnya SARS-COV2, dimana berbagi manifestasi klinis di berbagai studi di
jumlahnya meningkat seiring penambahan belahan dunia termasuk kejadian anosmia.50
usia.16,45 Hal ini menjelaskan mengapa kasus Manifestasi klinis ini muncul pada saat virus
berat/kritis lebih banyak diderita oleh penderita telah mencapai saluran pernafasan atas yang
usia tua sementara sebaran kasus pada terjadi setelah beberapa hari terinfeksi SARS-
penelitian ini pada usia muda.46 Faktor lainnya Cov2. Pada stadium awal (1-2 hari setelah
adalah kemungkinan dihubungkan dengan terinfeksi) gejala klinis sering tidak terlihat oleh
sistem imun yang sudah menurun dan karena virus masih menginfeksi bagian sel epitel
regenerasi sel epitel yang lambat pasca infeksi di rongga hidung, disebutkan kemungkinan
sel yang dilakukan SARS-Cov2.47 Namun rendahnya jumlah reseptor ACE2 di lokasi
demikian pada penelitian terkait ekspresi ACE2 berhubungan dengan asimtomatisnya pasien
disebutkan pada kelompok umur diatas atau Covid-19.47 Manifestasi klinis baru muncul
dibawah 49 tahun tidak ada perbedaan setelah masuknya virus ke saluran pernafasan

dibawahnya dan memicu respon imum alami berbagai hasil penelitian atau observasi kasus –
host, dimana respon imun ini dapat menjadi kasus Covid-19 yang pernah dilaporkan seperti
prediksi perkembanga klinis lebih lanjut dari di Wuhan, Henan China55,56, Mesir46,
Covid-19. Virus akan semakin masuk kedalam Singapore57, Nepal58, Vietnam59.
dan menginflitrasi paru – paru yang dapat Untuk keluhan seperti nyeri tenggorokan juga
menjadi klnis berat/kritis bagi beberapa pasien. ada dilaporkan namun jumlah kasusnya jarang
Jika virus sudah masuk kedalam paru terjadi dimana disebutkan terjadi 5 – 17%
disebutkan akan menginfeksi sel alveolar tipe 2 kasus.60 Hasil sementara dari penelitian ini
yang banyak ditemukan di paru – paru dan menunjukkan rendahnya kasus nyeri
akhirnya sel yang terinfeksi tersebut tenggorokan dilaporkan yang sesuai dengan
melepaskan virus baru ke host dan sel terinfeksi berbagai laporan yang ada. Namun demikian
tadi akan mengalami proses apotosis.47 Hal ini disebutkan kemungkinan nyeri tenggorokan
secara pathogenesis ditandai dengan adanya bukan kasus jarang karena pada proses swab
kerusakan alveolar dengan adanya fibrin rich untuk RTPCR diambil di nasal dan
hyaline membranes dan beberapa sel raksasa oropharingeal yang merupakan tempat infeksi
dengan inti banyak, dan secara radiologis awal.60 Hasil modeling dari suatu modeling
terlihat gambaran scar dan fibrosis yang luas.47 mendapatkan bahwa kejadian nyeri tenggorokan
Sel alveolar tipe 2 mempunyai fungsi sering terjadi setelah kejadian demam dan
memproduksi surfatan paru – paru untuk batuk, makan kejadian nyeri tenggorokan, sakit
menjaga epitel alveolar pada saat normal kepala dan myalgia lebih banyak dilaporkan.61
ataupun terganggu, menjaga cairan di alveolar, Terjadinya nyeri tenggorokan akibat infeksi virus
pergantian gas di paru dan berperan penting yang melalui saluran pernafasan dan terjadi
dalam peran sel imun alamiah dimana kaya proses pelekatan atau invasi dengan reseptor
akan phospholipid dan metabolism lemak.51 yang ada sehingga menghasilkan iritasi,
Perubahan pada phospolipid dan metabolism ini pembengkakan hingga terjadi sekresi yang
juga menjadi salah satu penanda bagi beratnya berlebihan.62 Kemudian manifestasi gangguan
infeksi SARSCoV-2.52,53 Sementara Fungsi mual-muntah-diare juga terjadi pada beberapa
imun alamiah yang dimaksud adalah dengan pasien Covid-19 yang disebabkan oleh infeksi
melepaskan sitokin seperti interferon, IL-6, langsung SARS-CoV2 ke organ gastrointestinal
CLCX10, dan lainnya untuk aktivasi sel yang punya ekspresi ACE2 dan TMPRSS2.16
makrofag, monosit dan memicu sistem imun Bukti adanya infeksi virus di usus secara
didapat (adaptif) yang bertugas menghadapi langsung dapat dilihat dari ditemukannya isolasi
berbagai penyebab infeksius termasuk virus SARS- CoV2 dalam sampel tinja.16 selain itu
SARS-CoV2.51 Kejadian demam yang terjadi SARS-CoV2 lebih mudah tertransfer
disebabkan telah terjadinya viremia dimana (transmissible) kedalam host termasuk di usus
SRAS-CoV2 masuk kedalam pembuluh darah, dan mampu melekat lebih dari 10 – 20 kali,
sementara batuk berkaitan dengan infeksi pada sesuatu yang berbeda dengan tipe coronavirus
paru yang terjadi setelah virus masuk ke paru – lainnya.63 Dampaknya dapat terjadi penurunan
paru.16,47 Sementara menggigil merupakan kemampuan absorpsi usus dan menghancurkan
bagian yang terpisahkan dengan demam, yang flora usus, menyebabkan inflamasi, penurunan
dijumpai sebagai mekanisme tubuh produksi ACE2 sehingga proteksi sistem
menginformasikan adanya infeksi atau gastrointesinal terganggu.63,64 Selain itu ada
penyebab peradangan lainnya. Hasil penelitian mekanisme gut-lung axis yang dapat menjadi
menunjukkan kasus menggigil yang banyak penyebab munculnya manifestasi klinis di
ditemukan sebelum demam pada pasien Covid- bagian gastrointestinal.63
19.54 Sesak nafas terjadi karena adanya Pada mekanisme ini, sel CD4 efektor akan
gangguan pertukaran udara di paru akibat masuk kedalam usus berikatan dengan reseptor
adanya kerusakan sel epitel paru. Ketiga CCR9 dan menyebabkan gangguan diatas
kejadian diatas dominan dan konsisten dengan sehingga menimbulkan manifestasi diare.

Sementara kejadian mual – muntah disebabkan berikatan di lokasi sialic acid yang merupakan
adanya pelepasan hormone dari sel komponen salivary mucin, dan mendegradas
enteroendokrin di mukosa saluran partikel gustatory yang berperan dalam rasa
gastrointestinal atas atau setelah masuk ke atau pengecapan.
dalam darah, dimana disampaikan perintah dari Selain anosmia kejadian sakit kepala sering
vagal terminal ke otak untuk memicu informasi dilaporkan pada penderita Covid-19. Kejadian
mual-muntah.65,66 Selain mekanisme diatas sakit kepala yang pernah dilaporkan akibat
faktor stress menderita Covid-19 dan efek SARS-CoV2 adalah akibat meningkatnya
samping obat yang diminum bisa menjadi tekanan intracranial. Hal ini terjadi dimungkinkan
penyebab nausea – muntah.64 Sebagai adanya interaksi pada sel endotelial yang
tambahan, nausea yang terjadi sering mengandung ACE2 dengan SARS-CoV2 yang
dilaporkan pada berbagai penyakit dan mengaktifkan trigeminovascular, peningkatan
penyebab dimana penyebabnya adalah gastric produksi CSF, peningkatan tekanan intracranial,
dysritmia.65 Pada penelitian ini mual – muntah - edema dan pelepasan sitokin, yang dampaknya
diare tersebut ditemukan dan menjadi salah satu terjadi sakit kepala.69 Disebutkan bahwa sakit
manifestasi klinis yang ditemukan pada subyek kepala akibat peningkatan intracranial ini dapat
penelitian yang dikeluhkan pertama sekali. terjadi hingga tekanan 40 mmHg dan bisa tidak
Kejadian mual-muntah juga merupakan respon dengan analgesik.69 Oleh karenanya
manifestasi klinis yang sering dilaporkan dan walaupun sering menjadi keluhan bagi banyak
konsisten dengan berbagai penelitian yang penyakit, adanya sakit kepala tidak dapat
ada.55,64 Manifestasi lainnya yang juga sering diabaikan dari setiap kejadian Covid-19, dan hal
dilaporkan dengan Covid-19 adalah anosmia ini konsisten dengan penelitian ataupun laporan
yang berhubungan dengan sistem neurologi. yang ada sebelumnya.55,70,71 Pusing juga
Hasil kajian menyebutkan adanya kemungkinan merupakan gejala yang muncul pada pasien
terjadi infeksi sistem saraf pusat yang Covid-19, sama dengan yang ditemukan pada
melibatkan brainsteam dimana keterlibatan subyek penelitian. Pada prosesnya sama
ACE2 juga disebutkan.16 Adanya interaksi dengan kejadian anosmia dan sakit kepala,
SARS-CoV2 dengan ACE2 di cerebral vascular dimana terjadi ikatan dengan ACE2 di kapiler
endothelium memicu kerusakan endotel yang endothelium dan reaksinya menimbulkan
membuat virus masuk ke otak. Proses pusing.72
masuknya disebutkan masuk melalui olfactory Satu gejala lagi yang berkaitan dengan Covid-19
bulb diikuti penyebaran transneuronal yang bisa adalah badan lemas (fatigue). Fatigue dapat
menjadi penyebab terjadinya anosmia.16 Target ditemukan pada awal kasus Covid-19 dan
dari SARS-CoV2 sendiri adalah organ yang ada setelah sembuh dari Covid-19, dimana bisa
ekspresi ACE2 seperti olfactory bulb, sel terjadi sampai beberapa minggu, bahkan lebih
mikrovilar, sel kelenjar Bowman daripada bagian 50% penderita tidak merasa pulih seperti sedia
sel saraf lainnya, namun dengan terjadinya kala.73 Mekanisme terjadinya fatigue pada saat
infeksi menyebabkan fungsi dari sel – sel dan sebelum Covid-19 belum jelas namun
tersebut terganggu dimana salah satunya disebutkan terjadi akibat adanya gangguan pada
adalah olfactory bulb. 67 Seperti kita ketahui sistem neurologi. Untuk terjadinya fatigue
fungsi dari bulb ini berkaitan dengan banyak mekanisme yang terjadi pada central
menyampaikan atau mentransformasikan bau motorneuron dimana salah satunya adalah
yang ditangkap oleh neuron.68 Pada spekulasi terjadinya infeksi SARS-CoV2 yang
manifestasi klinis lidah pahit, dapat terjadi mempengaruhi aferen III/IV yang berinteraksi
kemungkinan karena ada kaitan dengan dengan sistem kardiovaskular dan pernafasan
peningkatan asam lambung yang memicu melalui sistem saraf otonom.74 Seperti diketahui
naiknya asam lambung atau tanda – tanda ACE2 terdistribusi hingga CNS, dimana
ageusia dimana terjadi gangguan kemungkinan SARS-CoV2 melekat sama seperti
pengecapan.67 SARS-CoV2 disebutkan SARS-CoV1. Adanya reaksi imunologi akibat

interaksi itulah inilah yang diduga menyebabkan pada masih terdeteksinya SARS-CoV2 di tubuh
fatigue yang terjadi di saat dan sesudah
terinfeksi Covid-19. Satu bagian tubuh lagi yang penderita yang sudah sembuh sekalipun.
saat ini dihubungkan dengan Covid-19 adalah
gangguan kulit. Beberapa kasus yang pernah Setelah dinilai manifestasi klinis awal, kemudian
dilaporkan adalah ruam kulit, ruam kemerahan,
urtikaria, purpura seperti vesikel cacar.16 dinilai manifestasi klinis saat direkrut menjadi
Kondisi ini dapat terjadi karena adanya infeksi
langsung SARS-CoV2 ke small skin vessels, subyek. Hasil penelitian mendapatkan adanya
yang bisa terjadi karena adanya ACE2 di lapisan
basal epidermal dan kelenjar keringat eccrine, manifestasi klinis yag berkurang dan bertambah
stratum basale, stratum corneum. Masuknya
virus sampai ke level tersebut kemungkinan setelah subyek direkrut. Hal ini dikaitkan dengan
disebabkan banyak faktor seperti rusaknya
jaringan kulit. Pada penelitian ini didapatkan perjalanan penyakit dari subyek penelitian yang
kasus subyek dengan badan gatal merah, yang
konsisten dengan berbagai temuan terkait berbeda – beda tergantung dari imunitas masing
manifestasi klinis Covid-19. Selain gejala klinis
diatas, subyek datang dengan keluhan hanya – masing individu. Berdasarkan penilaian harian
nyeri di jari tangan atau dengan sudah masuk
dengan covid-19 dimana informasi onset sangat yang didapatkan maka terlihat adanya
terbatas. Merujuk hal ini manifestasi klinis
kedepannya dari Covid-19 bisa saja terus penurunan manifestasi klinis dari masing –
berkembang karena adanya reseptor ACE2
sebagai tempat melekatnya virus Covid-19. masing subyek.Berdasarkan evaluasi klinis saja
Kemudian pilek, juga ditemukan pada subyek
Covid-19, walaupun jarang dilaporkan namun didapatkan hasil hanya 43,3% kasus yang benar
tetap harus diperhatikan dan di test apakah
seseorang pilek akibat SARS-CoV2. bebas gejala 3 hari berturut – turut, sementara
Pada penelitian ini ditemukan pilek untuk Covid-
19 dan hal ini masih sesuai dengan penelitian kasus lainnya gejala silih berganti. Namun
lainnya. 55 Penyakit Komorbid merupakan salah
satu penyebab tingginya kasus berat hingga demikian, secara umum hanya 4 kasus
kematian pada Covid-19. Penyakit Komorbid
penduduk belum secara keseluruhan dapat dilaporkan berat dengan 2 diantaranya belum
dinilai tapi menurut data Riskesdas kasus
Hipertensi dan Diabetes adalah yang tertinggi. minum obat, dan selebihnya walaupun
Berdasarkan hasil temuan sementara dari
penelitian ini didapatkan kasus diabetes dan disebutkan gejala masih hilang timbul, tetapi
hipertensi merupakan komorbid terbanyak. Hasil
ini konsisten dengan kasus – kasus yang sudah dipulangkan dengan indikasi rumah sakit
ditemukan sebelumnya dimana komorbid diatas
ditemukan.75–77 Kedepannya komorbiditas yang menyatakan sembuh. Walaupun demikian,
dapat dianalisis menjadi salah satu faktor yang
berperan terhadap lama sembuhnya atau secara penelitian ini belum dapat disebut
lamanya virus dalam tubuh, hal ini dipandang
perlu karena satu komorbid berperan terhadap sembuh karena secara klinis diharapkan tanpa
beratnya penyakit dan lamanya manifestasi
klinis hilang, yang kemungkinan berdampak gejala selama 3 hari berturut.

Hasil ini konsisten dengan penelitian lainnya

yang menunjukkan bebasnya gejala klinis trjadi

bervariasi.78 Faktor –faktor seperti umur, jenis

kelamin dan yang sudah dijelaskan sebelumya

termasuk reaksi imun mempengaruhi seseorang

bebas demam. Namun perlu diperhatikan bahwa

manifestasi klinis pada kelompok yang tidak

bebas, pada penelitian ternyata terjadi hanya 1

hari, tidak menjadi berat dan pasien bisa pulang

dari Rumah Sakit untuk melakukan isolasi

mandiri.Hasil pemeriksaan RTPCR

menunjukkan baik pada kelompok obat

Favipiravir dan Azithromycin masih ditemukan

hasil positif dalam 7 hari bahkan pada hari – hari

berikutnya. RTPCR merupakan sebuah

pemeriksaan molekuler yang dapat mendeteksi

keberadan SARS-CoV2 dan sangat bermanfaat

untuk mendeteksi Covid-19 selama pandemi ini.

Hasil tersebut di tabel 13 menjelaskan kepada

kita betapa berisikonya infeksi Covid-19 karena

masih ditemukan hingga hari ke -19 dengan

pengobatan uji atau standar sekalipun. Namun

demikian disebutkan bahwa jikapun hasilnya

masih ditemukan positif setelah hari ke 7 hingga

hari ke -19 , belum dapat disebutkan periode ditemukannya kasus positif hasil RT-PCR
positif tersebut sebagai masa infeksius dan dengan gejala klinis yang membaik atau sudah
sebaliknya, dimana kejadian negatif palsu tidak ada adalah perjalanan manifestasi klinis
meningkat setelah 8 hari.79 Informasi subyek yang lama, fragment RNA virus yang
manifestasi klinis masih menjadi bagian penting persisten, potensi kegagalan antibody untuk
yang tak terpisahkan dari test RTPCR ini dalam membersihkan virus dalam tubuh.82
menyatakan sesorang sembuh atau tidak dari Hasil pemeriksaan laboratorium mendapatkan
Covid-19.Hasil sementara penelitian ini juga bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan nilai
mendapatkan pada hari ketujuh adanya limfositopenia dan penurunan sel darah putih.
favipiravir belum menurunkan angka positif Hasil ini konsisten dengan temuan – temuan
covid-19 dari hasil RTPCR. lainnya yang menunjukkan tingginya kasus –
Berdasarkan hasil pemeriksaan RTPCR kasus leukopenia, dan disebutkan berpotensi
kejadian positif setelah hari ke 7 mempunyai sebagai penanda Covid-19 ke arah berat.83–85
hasil negatif palsu yang rendah, artinya Sementara hasil laboratorium lainnya masih
kemungkinan masa infeksius masih terjadi, dan menunjukkan nilai dalam batas normal, yang
hal ini sesuai dengan patofisiologis dari penyakit kemungkinan berkaitan dengan gejala yang
Covid-19 itu sendiri.79 Namun demikian, normal dan sedang.
dengan kondisi subyek adalah pasien ringan –
sedang dan pasien yang mengarah berat sudah
dikeluarkan dari penilaian, maka pengobatan
yang diberikan masih menjadi tanda tanya untuk
efikasinya. Hasil penelitian sementara ini
memang belum valid dari sisi sampel atau
subyek penelitian, oleh karennya untuk bisa
mendapatkan jawaban atas kemungkinan
hipotesis ini maka masih dibutuhkan lanjutan
penelitian ini. Selain dari sisi efikasi, menjadi
pertanyaan juga bagaimana dengan positif –
palsu yang terjadi berdasarkan hasil
laboratorium RTPCR. Pada tabel 13 ditemukan
kasus positif hingga hari ke-19, padahal secara
klinis tidak ada gejala menuju berat pada subyek
yang dinilai, dan sesuai hasil penelitian
ditunjukkan setelah hari ke 8, virus sudah tidak
infeksius lagi.79 Negatif-palsu sering menjadi
fokus utama, namun demikian bisa saja kejadian
positif-palsu terjadi. Hasil riviu mendapatkan
bahwa false positif dapat terjadi karena
kontaminasi pada reagen, reaksi silang,
amplikon, pengambilan sampel.80 Namun
demikian kondisi ini terjadi secara umum pada
pasien – pasien yang diperiksa pertama sekali,
bagaimana dengan yang sedang di follow up,
kejadian positif setelah dianggap tidak ada
gejala ini sudah sering ditemukan bahkan pada
awal – awal merebaknya kasus Covid-19.81
Berdasarkan kejadian masih ditemukannya
kasus positif pada pasien yang sudah pulang
dari rumah sakit, maka kemungkinan

BAB 6. RINGKASAN DAN SARAN

6.1 Ringkasan d. Komorbid dipertimbangkan menjadi
a. Penelitian masih belum selesai bagian tak terpisahkan dari analisis
dilaksanakan karena berkaitan dengan yang berhubungan dengan gejala dan
tahun anggaran dan tantangan dalam RT-PCR jika dilakukan pengajuan revisi
mendapatkan subyek penelitian yang protokol penelitian.
ideal sesuai dengan protokol penelitian.
Dibutuhkan perbaikan/revisi protokol e. Perbaikan protokol penelitian merujuk
untuk dapat merekrut subyek penelitian hasil inspeksi BPOM dan hasil supervisi
sesuai dengan hasil supervise, monitoring dan monitoring sangat diperlukan untuk
dan inspeksi BPOM. menjamin kualitas dan meningkatkan
b. Jumlah kasus yang direkrut pada perekrutan subyek penelitian.
penelitian ini hingga 14 Desember 2020
adalah 51 subyek penelitian dengan 25 f. Peningkatan kemampuan peneliti harus
kasus dengan obat uji dan 26 kasus ditingkatkan kembali agar kualitas data
dengan obat standar of care (SoC) dari 5 dan proses pengumpulan data dapat
Rumah Sakit Lokasi Penelitian. berjalan maksimal sesuai prinsip Good
c. Subyek dengan kasus Covid-19 gejala Clinical Practice (GCP).
ringan berjumlah 15 orang,
sementaragejala sedang 44 subyek. DAFTAR PUSTAKA
d. Rerata umur yang terinfeksi Covid-19
adalah 42,3 tahun 1. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman
e. Manifestasi klinis Demam, batuk, sesak
nafas yang ditemukan merupakan gejala Pencegahan dan Pengendalian
khas subyek Covid-19 ditambah dengan
manifestasi klinis lainnya Coronavirus Disease (Covid-19). 2020.
f. Komorbid terbanyak yang ditemukan
pada laporan sementara ini adalah 2. Ahmad T, Khan M, Haroon, Musa TH,
hipertensi, diabetes mellitus, penyakit
jantung coroner, dan kebiasan merokok Nasir S, Hui J, et al. COVID-19: Zoonotic
g. Bebas gejala klinis hanya mencapai 43%
h. Hasil pemeriksaan RT-PCR menunjukkan aspects. Travel Med Infect Dis [Internet].
hasil positif RT-PCR masih ditemukan
setelah hari ke 7. 2020;(February):101607.
i. Limfositopenia terbanyak ditemukan pada
hasil pemeriksaan laboratorium Available from:

6.2 SARAN http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3211
a. Untuk menjawab pertanyaan penelitian
maka uji klinis ini akan dilanjutkan agar 2857
jumlah subyek yang ideal terpenuhi
sesuai dengan kaidah ilmiah 3. Susilo A, Rumende CM, Pitoyo CW,
b. Perubahan protokol diperlukan terutama
berhubungan dengan lama penggunaan Santoso WD, Yulianti M, Herikurniawan
obat Azithromycin yang dapat diterima.
c. Perubahan protokol juga perlu H, et al. Coronavirus Disease 2019:
dipertimbangkan untuk merekrut subyek
dengan Covid-19 gejala ringan Tinjauan Literatur Terkini. J Penyakit

Dalam Indones. 2020;7(1):45.

4. Zhang Y, Xu J, Li H, Cao B. A novel

coronavirus (COVID-19) outbreak: a call

for action. Chest [Internet].

2020;(February):19–21. Available from:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3208

7216

5. Wang T, Du Z, Zhu F, Cao Z, An Y, Gao

Y, et al. Comorbidities and multi- organ

injuries in the treatment of COVID-19.

Lancet [Internet]. 2020;6736(20):30558.

Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/S0140-

6736(20)30558-4

6. Pan Y, Zhang D, Yang P, Poon LLM,

Wang Q. Viral load of SARS-CoV-2 in

clinical samples. Lancet Infect Dis al. Angiotensin-converting enzyme 2

[Internet]. 2020;1(C):1–2. Available from: (ACE2), SARS-CoV-2 and the

http://dx.doi.org/10.1016/S1473- pathophysiology of coronavirus disease

3099(20)30113- 2019 (COVID-19). J Pathol.

4%0Ahttps://linkinghub.elsevier.com/retrie 2020;251(3):228–48.

ve/pii/S1473309920301134 17.Yuki K, Fujiogi M, Koutsogiannaki S.

7. Kementerian Kesehatan Republik COVID-19 pathophysiology : A review.

Indonesia. Clin Immunol. 2020;215(108427).

Pedoman Pencegahan dan Pengendalian 18.Xia S, Lan Q, Su S, Wang X, Xu W, Liu Z,

Coronavirus Disease (COVID-19). et al. The role of furin cleavage site in

Direktorat Jenderal Pencegahan dan SARS-CoV-2 spike protein-mediated

Pengendalian Penyakit. 2020. membrane fusion in the presence or

8. Badan Pengawasan Obat dan Makanan. absence of trypsin. Signal Transduct

Informatorium Obat COVID-19 di Target Ther. 2020;5(1).

Indonesia. 2020. 19.Vabret N, Britton GJ, Gruber C, Hegde S,

9. Cai Q, Yang M, Liu D, Chen J, Shu D, Xia Kim J, Kuksin M, et al. Immunology of

J, et al. Experimental Treatment with COVID-19: Current State of the Science.

Favipiravir for COVID-19: An Open-Label Immunity. 2020;52(6):910–41.

Control Study. Engineering [Internet]. 20.Tay MZ, Poh CM, Rénia L, MacAry PA,

2020; Available from: Ng LFP. The trinity of COVID-19:

https://doi.org/10.1016/j.eng.2020.03.007 immunity, inflammation and intervention.

10.The Japanese Association Disease. Nat Rev Immunol [Internet].

Guidance for antiviral drug treatment for 2020;20(6):363–74. Available from:

COVID-19 1st edition. http://dx.doi.org/10.1038/s41577-020-

11.Perhimpunan Dokter Spesialis 0311-8

Farmakologi KlinikIndonesia. Kajian 21.Elezkurtaj S, Greuel S, Ihlow J, Michaelis

Farmakoterapi Pengobatan Covid-19. Vol. E, Bischoff P, Kunze CA, et al. Causes of

2. 2020. Death and Comorbidities in Patients with

12.MedChem Express. T-705RTP [Internet]. COVID-19. 2020;1–18.

[cited 2020 May 27]. Available from: 22.Rodriguez-morales AJ, Cardona-ospina

https://www.medchemexpress.com/t- JA, Gutiérrez-ocampo E, Holguin- rivera

705rtp.html Y, Escalera-antezana JP, Alvarado-arnez

13.Sangawa H, Komeno T, Nishikawa H, LE, et al. Clinical , Laboratory and

Yoshida A, Takahashi K, Nomura N, et al. Imaging Features of COVID-19 : A

Mechanism of action of T-705 ribosyl systematic review and meta-analysis.

triphosphate against influenza virus RNA Preprint [Internet].

polymerase. Antimicrob Agents 2020;(2020020378):101623. Available

Chemother. 2013;57(11):5202–8. from:

14.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman https://doi.org/10.1016/j.tmaid.2020.1016

Pencegahan dan Pengendalian 23

Coronavirus Disease (COVID-19). 23.Kementerian Kesehatan RI. Buku Saku

Kementrian Kesehatan Republik Protokol Tatalaksana Covid-19 [Internet].

Indonesia. 2020;1–115 2020.

15. Pascarella G, Strumia A, Piliego C, Available from:

Bruno F, Del Buono R, Costa F, et al. http://library1.nida.ac.th/termpaper6/sd/25

COVID-19 diagnosis and management: a 54/19755.pdf

comprehensive review. J Intern Med. 24.Tjahyadi RM, Astuti T, Listyoko AS.

2020;288(2):192–206. COVID-19 :Correlation Between CRP and

16.Bourgonje AR, Abdulle AE, Timens W, LDH to Disease Severity and Mortality In

Hillebrands JL, Navis GJ, Gordijn SJ, et Hospitalized COVID-19 Patients. Medica

Hosp J Clin Med. 2020;7(1A):144–9. Evidence and Prescribing Guidelines.

25.Bhagat DS, Suryawanshi M, Suryawanshi Drug Saf [Internet]. 2020;43(8):691–8.

I. A Systematic Review of Antiviral Drugs Available from:

for the Treatment of the COVID-19 https://doi.org/10.1007/s40264-020-

Pandemic. 2020;(December). 00976-7

26.Seneviratne SL, Abeysuriya V, Mel S De, 33.Guérin V, Lévy P, Thomas J-L, Lardenois

Zoysa I De, Niloofa R. Favipiravir in T, Lacrosse P, Sarrazin E, et al.

Covid-19. Int J Progress Sci adn Technol. Azithromycin and Hydroxychloroquine

2020;19(2):143–5. Accelerate Recovery of Outpatients with

27.Tu YF, Chien CS, Yarmishyn AA, Lin YY, Mild/Moderate COVID-19. Asian J Med

Luo YH, Lin YT, et al. A review of sars- Heal. 2020;(May):45–55.

cov-2 and the ongoing clinical trials. Int J 34.Indonesia PDP, (PERKI) PDSKI, (PAPDI)

Mol Sci. 2020;21(7). PDSPDI, (PERDATIN) PDA dan TII,

28.Du Y-X, Chen X-P. Favipiravir: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Pharmacokinetics and Concerns About Protokol Tatalaksana Covid-19. 2020.

Clinical 35.Pani A, Lauriola M, Romandini A,

Trial for 2019-nCoV Infection. Clin Scaglione F. Macrolides and viral

Pharmacol Ther [Internet]. infections: focus on azithromycin in

2020;108(2):242–7. Available from: COVID-19 pathology. Int J Antimicrob

http://library1.nida.ac.th/termpaper6/sd/25 Agents[Internet] 2020;56(2):106053.

54/19755.pdf Available from:

29.Shrestha DB, Budhathoki P, Khadka S, https://doi.org/10.1016/j.ijantimicag.2020.

Shah PB, Pokharel N, Rashmi P. 106053

Favipiravir versus other antiviral or 36.RDIF and ChemRar Launch Final Stage

standard of care for COVID-19 treatment: of Favipiravir Clinical Trial. RDIF and

a rapid systematic review and meta- ChemRar

analysis. Virol J [Internet]. Launch Final Stage of Favipiravir Clinical

2020;17(1):141. Available from: Trial

https://doi.org/10.1186/s12985-020- https://www.prnewswire.com/ae/news-

01412-z releases/rdif-and-chemrar-launch-...

30.Bleyzac N, Goutelle S, Bourguignon L, [Internet]. RDIF. 2020 [cited 2020 Jul 23].

Tod M. Azithromycin for COVID-19: More p. 2–7. Available from:

Than Just an Antimicrobial? Clin Drug https://www.prnewswire.com/ae/news-

Investig [Internet]. 2020;40(8):683–6. releases/rdif-and-chemrar-launch-..

Available from: 37.FUJIFILM Toyama Chemical Co.Ltd.

https://doi.org/10.1007/s40261-020- Influenza Antiviral Agent. Avigan Tablets

00933-3 200mg. Favipiravir. 2019.

31.Echeverría-Esnal D, Martin-Ontiyuelo C, 38.Damle B, Vourvahis M, Wang E, Leaney

Navarrete-Rouco ME, De-Antonio Cuscó J, Corrigan B. Clinical Pharmacology

M, Ferrández O, Horcajada JP, et al. Perspectives on the Antiviral Activity of

Azithromycin in the treatment of COVID- Azithromycin and Use in COVID-19. Clin

19: a review. Expert Rev Anti Infect Ther Pharmacol Ther. 2020;0(0):1–11.

[Internet]. 2020;00(00):1–17. 39.Smith T, Bushek J PT. COVID-19 Drug

Available from: Therapy-Potential Options. Elsevier.

https://doi.org/10.1080/14787210.2020.18 2020;

13024 40.Gautret P, Lagier J, Parola P et al.

32.Sultana J, Cutroneo PM, Crisafulli S, Hydroxychloroquine and Azitromisin as a

Puglisi G, Caramori G, Trifirò G. treatment of COVID-19: results of an

Azithromycin in COVID-19 Patients: open-label non-randomized clinical trial.

Pharmacological Mechanism, Clinical Int J Antimicrob Agents. 2020;20.

41.Fujifilm Pharmaceuticals USA. investigational therapeutics. New

Investigator ’ S Brochure. 2020. Microbes New Infect [Internet].

42.FUjiFilm Toyama Chemical Co.Ltd. 2020;37(M):100738. Available

Avigan Tablets 200 mg. 2014. from:

43.Badan POM RI. PEDOMAN https://doi.org/10.1016/j.nmni.2020.10073

MONITORING EFEK SAMPING OBAT 8

(MESO) BAGI TENAGA KESEHATAN. 51.Mason RJ, Dobbs LG. Alveolar Epithelium

Jakarta; 2012. and Pulmonary Surfactant [Internet]. Sixth

44.Furtado RHM, Berwanger O, Fonseca Edit. Murray and Nadel’s Textbook of

HA, Corrêa TD, Ferraz LR, Lapa MG, et Respiratory Medicine. Elsevier Inc.; 2016.

al. Azithromycin in addition to standard of 134-149.e5 p. Available from:

care versus standard of care alone in the http://dx.doi.org/10.1016/B978-1-4557-

treatment of patients admitted to the 3383-5.00008-7

hospital with severe COVID-19 in Brazil 52.Pimentel LL, Rodríguez-alcalá LM. Since

(COALITION II): a randomised clinical January 2020 Elsevier has created a

trial. Lancet. 2020;396(10256):959–67. COVID-19 resource centre with free

45.Devaux CA, Rolain JM, Raoult D. ACE2 information in English and Mandarin on

receptor polymorphism: Susceptibility to the novel coronavirus COVID- 19 . The

SARS-CoV-2, hypertension, multi-organ COVID-19 resource centre is hosted on

failure, and COVID- 19 disease outcome. Elsevier Connect , the company ’ s public

J Microbiol Immunol Infect [Internet]. news and information . 2020;(January).

2020;53(3):425–35. Available from: 53.Abdalla M. Plasma Levels of

https://doi.org/10.1016/j.jmii.2020.04.015 Phospholipids in Patients With COVID-

46.Ghweil AA, Hassan MH, Khodeary A, 19 ; A Promising Simple Biochemical

Mohamed AO, Mohammed HM, Parameter to Evaluate the Disease

Abdelazez AA, et al. Characteristics, Severity. 1811;1–28.

outcomes and indicators of severity for 54.Grant MC, Geoghegan L, Arbyn M,

covid-19 among sample of esna Mohammed Z, McGuinness L, Clarke EL,

quarantine hospital’s patients, egypt: A et al. The prevalence of symptoms in

retrospective study. Infect Drug Resist. 24,410 adults infected by the novel

2020;13:2375–83. coronavirus (SARS-CoV-2; COVID-19): A

47.Mason RJ. Pathogenesis of COVID-19 systematic review and meta- analysis of

from a cell biology perspective. Eur 148 studies from 9 countries. PLoS One

Respir J [Internet]. 2020;55(4):9–11. [Internet]. 2020;15(6 June). Available

Available from: from:

http://dx.doi.org/10.1183/13993003.00607 http://dx.doi.org/10.1371/journal.pone.023

-2020 4765

48.Li M, Li L, Zhang Y, Wang X. An 55.Chen N, Zhou M, Dong X, Qu J, Gong F,

Investigation of the Expression of 2019 Han Y, et al. Epidemiological and clinical

Novel Coronavirus Cell Receptor Gene characteristics of 99 cases of 2019 novel

ACE2 in a Wide Variety of Human coronavirus pneumonia in Wuhan, China:

Tissues. 2020;1–7. a descriptive study. Lancet [Internet].

49.Verdecchia P, Cavallini C, Spanevello A, 2020;395(10223):507– 13.

Angeli F. The pivotal link between ACE2 Available from:

deficiency and SARS-CoV-2 infection. Eur http://dx.doi.org/10.1016/S0140-

J Intern Med [Internet]. 2020;76(April):14– 6736(20)30211-7

20. Available from: 56.Li J, Chen Z, Nie Y, Ma Y, Guo Q, Dai X.

https://doi.org/10.1016/j.ejim.2020.04.037 Identification of symptoms prognostic of

50.Azer SA. COVID-19: pathophysiology, COVID-19 severity: Multivariate data

diagnosis, complications and analysis of a case series in Henan

Province. J Med Internet Res. Available from:

2020;22(6):1–11. https://doi.org/10.1016/j.jmii.2020.10.005

57.Yan G, Lee CK, Lam LTM, Yan B, Chua 65.Singh P, Yoon SS, Kuo B. Nausea: A

YX, Lim AYN, et al. Covert COVID-19 and review of pathophysiology and

false-positive dengue serology in therapeutics. Therap Adv Gastroenterol.

Singapore. Lancet Infect Dis [Internet]. 2016;9(1):98–112.

2020;20(5):536. Available from: 66.Andrews PLR, Cai W, Rudd JA, Sanger

http://dx.doi.org/10.1016/S1473- GJ. Covid-19,nausea, and vomiting. J

3099(20)30158-4 Gastroenterol Hepatol [Internet]. 2020;

58.Bastola A, Sah R, Rodriguez-Morales AJ, Available from:

Lal BK, Jha R, Ojha HC, et al. The first http://library1.nida.ac.th/termpaper6/sd/25

2019 novel coronavirus case in Nepal. 54/19755.pdf

Lancet Infect Dis [Internet]. 67.Vaira LA, Salzano G, Fois AG, Piombino

2020;20(3):279–80. Available from: P, De Riu G. Potential pathogenesis of

http://dx.doi.org/10.1016/S1473- ageusia and anosmia in COVID-19

3099(20)30067-0 patients. Int Forum Allergy Rhinol.

59.Van Cuong L, Giang HTN, Linh LK, Shah 2020;10(9):1103–4.

J, Van Sy L, Hung TH, et al. The first 68.Purves D, Augustine GJ, Fitzpatrick D, et

Vietnamese case of COVID-19 acquired al., editors. Neuroscience. 2nd edition.

from China. Lancet Infect Dis [Internet]. Sunderland (MA): Sinauer Associates;

2020;20(4):408–9. Available from: 2001. The Olfactory Bulb.

http://dx.doi.org/10.1016/S1473- Available from:

3099(20)30111-0 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK1

60.Lovato A, Rossettini G, de Filippis C. Sore 1158/.

throat in COVID-19: Comment on “Clinical 69.Seth V, Kushwaha S. Headache Due to

characteristics of hospitalized patients COVID-19: A Disabling Combination.

with SARS-CoV-2 infection: A single arm Headache. 2020;60(10):2618–21.

meta-analysis.” J Med Virol. 70.Tian S, Hu N, Lou J, Chen K, Kang X,

2020;92(7):714–5. Xiang Z, et al. Characteristics of COVID-

61.Larsen JR, Martin MR, Martin JD, Kuhn P, 19 infection in Beijing. J Infect.

Hicks JB. Modeling the Onset of 2020;(xxxx):0–5.

Symptoms of COVID-19. Front Public 71.Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J,

Heal. 2020;8(August). Hu Y, et al. Clinical features of patients

62.Wolford RW, Goyal A, Yasin S, Syed B, infected with 2019 novel coronavirus in

Hospital MM. Pharyngitis. [Updated 2020 Wuhan, China. Lancet.

Nov 20]. In: StatPearls [Internet]. 2020;395(10223):497–506.

Treasure Island (FL): 72.Saniasiya J, Kulasegarah J. Dizziness

Available from: and COVID-19. Ear, Nose Throat.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK5 2020;1–2.

19550/ StatPearls Publishing; 2020 Jan-. 73.Townsend L, Dyer AH, Jones K, Dunne J,

p. 1–5. Mooney A, Gaffney F, et al. Persistent

63.Ye Q, Wang B, Zhang T, Xu J, Shang S. fatigue following SARS-CoV-2 infection is

The mechanism and treatment of common and independent of severity of

gastrointestinal symptoms in patients with initial infection. PLoS One [Internet].

COVID-19. Am J Physiol - Gastrointest 2020;15(11 November):1–12.

Liver Physiol. 2020;319(2):G245–52. Available from:

64.Zhang T, Liu D, Tian D, Xia L. The roles http://dx.doi.org/10.1371/journal.pone.024

of nausea and vomiting in Covid-19: did 0784

we miss something? J Microbiol Immunol 74.Wan JJ, Qin Z, Wang PY, Sun Y, Liu X.

Infect [Internet]. 2020;(October):19–21. Muscle fatigue: General understanding

and treatment. Exp Mol Med [Internet]. hidden problems and costs. Lancet Respir

2017;49(10):e384-11. Med [Internet]. 2020;8(12):1167–8.

Available from: Available from:

http://dx.doi.org/10.1038/emm.2017.194 http://dx.doi.org/10.1016/S2213-

75.Yang J, Zheng Y, Gou X, Pu K, Chen Z, 2600(20)30453-7

Guo Q, et al. Prevalence of comorbidities 81.Lan L, Xu D, Ye G, Xia C, Wang S, Li Y,

and its effects in coronavirus disease et al. Positive RT-PCR Test Results in

2019 patients: A systematic review and Patients Recovered from COVID-19.

meta-analysis. Int J Infect Dis. JAMA - J Am Med Assoc.

2020;94:91–5. 2020;323(15):1502–3.

76.Zhou F, Yu T, Du R, Fan G, Liu Y, Liu Z, 82.Landi F, Gremese E, Rota E, Carfi A,

et al. Clinical course and risk factors for Francesca B, Ciciarello F, et al. Positive

mortality of adult inpatients with COVID- RT-PCR nasopharyngeal swab in patients

19 in Wuhan, China: a retrospective recorvered from COVID-19 disease:

cohort study. Lancet [Internet]. When does quarantine really end? J

2020;395(10229):1054–62. Available Infect. 2020;81(January):e1-3.

from: http://dx.doi.org/10.1016/S0140- 83.Vafadar E, Teimouri A, Rezaee R,

6736(20)30566-3 Morovatdar N, Foroughian M. Increased

77.Susilo A, Rumende CM, Pitoyo CW, age, neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR)

Santoso WD, Yulianti M, Herikurniawan and white bloodcells count are associated

H, et al. Coronavirus Disease 2019: with higher COVID-19 mortality. Am J

Tinjauan Literatur Terkini. J Penyakit Emerg Med. 2020;40(January):11–4.

Dalam Indones. 2020;7(1):45. 84.Stegeman I, Ochodo EA, Guleid F,

78.Chang D, Mo G, Yuan X, Tao Y, Peng X, Holtman GA, Yang B, Davenport C,

Wang FS, et al. Time Kinetics of Viral Deeks JJ, Dinnes J, Dittrich S, Emperador

Clearance and Resolution of Symptoms in D, Hooſt L, Spijker R, Takwoingi Y, Van

Novel Coronavirus Infection. Am J Respir den Bruel A, Wang J, Langendam M,

Crit Care Med. 2020;201(9):1150–2. Verbakel JY LM. Routine laboratory

79.Rattan A, Ahmad H. Can quantitative RT- testing to determine if a patient has

PCR for SARS-CoV-2 help in better COVID-19 (Review) Stegeman.

management of patients and control of Chocran Libr. 2019;53(9):1689–99.

coronavirus disease 2019 pandemic. 85.Zaki AM, van Boheemen S, Bestebroer

Indian J Med Microbiol. 2020;38(3– TM, Osterhaus ADME, Fouchier RAM.

4):284–7. Isolation of a Novel Coronavirus from a

80.Surkova E, Nikolayevskyy V, Drobniewski Man with Pneumonia in Saudi Arabia. N

F. False-positive COVID-19 results: Engl J Med. 2012;367(19):1814–20.

LAMPIRAN
INFORM CONSENT

Saya (Nama tim peneliti), dan saya bekerja lain. Jika ada kata-kata yang Anda kurang
untuk (Tim penelitian Favipiravir, Nama RS) mengerti, silakan meminta saya untuk berhenti
Saat ini, anda mengalami penyakit saluran lalu menjelaskannya. Jika Anda punya
pernafasan yang disebut COVID-19 (selanjutnya pertanyaan setelahnya, saya dan tim peneliti
akan dinamai COVID) yang baru-baru ini dalam studi ini dapat menjawab pertanyaan-
menyebar ke seluruh dunia. Penderita COVID pertanyaan tersebut.
dapat sembuh tanpa perawatan di rumah sakit
atau masuk rumah sakit namun sembuh, Tujuan Penelitian
meskipun mereka mungkin sempat merasa Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
semakin parah dulu. Sebagian besar orang yang menentukan efikasi dan keamanan Favipiravir
mengalami penyakit ini sembuh total, tetapi terhadap obat standar Rumah Sakit untuk
sebagian kecil tidak bertahan hidup. Hingga saat pengobatan pasien terkonfirmasi Covid-19 di
ini belum ada pengobatan yang ber-lisensi / Rumah Sakit. Total sebanyak 210 pasien
memiliki ijin untuk COVID. Meskipun beberapa COVID-19 akan diminta untuk berpartisipasi
obat untuk penyakit lain diduga merupakan dalam penelitian ini.
kandidat obat untuk COVID, namun bisa juga
obat ini tidak dapat mengobati COVID. Karena Risiko Dan Manfaat
itu, Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan Setiap obat studi yang diberikan kepada Anda
RI berkolaborasi dengan rumah sakit di mungkin membantu tetapi mungkin juga tidak.
Indonesia melakukan penelitian/uji klinik untuk Namun, penelitian ini dapat membantu pasien-
menilai obat sebagai terapi COVID. pasien di masa mendatang. Apabila efek
Saya akan menyampaikan informasi tentang samping terjadi, anda harus melaporkan pada
penelitian ini kepada Anda, kemudian saya akan dokter penelitian. Dokter akan melakukan
mengundang Anda untuk ikut berpartisipasi pemeriksaan tertentu pada Anda untuk menilai
dalam penelitian ini. Sebelum Anda mengambil adanya perubahan yang tidak diharapkan dan
keputusan, Anda dapat berdiskusi dengan orang tidak disadari oleh anda. Kami akan

memberitahu hasil apa saja yang dapat Pemeriksaan terkait adanya virus dilakukan
mempengaruhi kesehatan Anda. menggunakan metode yang disebut RTPCR
atau saat anda dirawat pertama sekali dan hari
Kriteria Ikut Serta Studi Ini ke -7 atau hari ke 11, hari ke 15 bergantung
Pasien dewasa yang berusia 18 tahun – 59 dengan hasil pemeriksaan virus hari
tahun yang didiagnosis Covid dan pasien yang sebelumnya. Pemeriksaan klinik atas diri anda
belum pernah menerima antivirus. akan dilakukan oleh dokter yang anda selama
perawatan di rumah sakit. Pengambilan darah
Tata Cara akan dilakukan beberapa kali sesuai dengan
Bapak/Ibu/Saudara diminta kesediannya untuk kondisi dan indikasi yang ditentukan oleh dokter
dapat berpartisipasi dalam penelitian ini. Anda anda. Pemeriksaan yang akan dilakukan hanya
akan dimohon untuk menandatangani terkait dengan penyakit anda saat ini. Total
pernyataan bahwa Anda mengerti ada sekitar +/- 17 – 20 ml (lebih kurang 2 sendok
kemungkinan risiko dan manfaat serta setuju makan) akan diambil untuk sekali pemeriksaan
untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Dokter sesuai indikasi. Pengambilan darah dilakukan di
Anda akan memeriksa apakah Anda memenuhi lengan bagian dalam (fossa cubiti) dan mungkin
kriteria penelitian dan memastikan bahwa tidak akan sedikit menimbukan rasa tidak nyaman,
ada kontraindikasi obat uji pada diri Anda. Bila akibat suntikan. Sebagian darah dalam bentuk
Anda bersedia ikut berpartisipasi dalam serum akan disimpan untuk dilakukan
penelitian ini maka kami akan meminta informasi pemeriksaan lanjutan yang hanya berkaitan
singkat tentang diri Anda, dan kondisi Anda, dan dengan penyakit COVID-19. Partisipasi Anda
semuanya akan dimasukkan ke dalam formulir bersifat sukarela dan tidak akan berdampak
pengumpulan data penelitian dan disalin ke pada pelayanan yang Anda dapatkan di rumah
dalam lembar pencatatan, kemudian tim peneliti, sakit ini. Anda tidak perlu membayar untuk ikut
akan memberikan obat secara acak sesuai dalam penelitian ini, namun Anda juga tidak
dengan kondisi Anda. Melalui proses ini, Anda akan menerima imbalan apapun atas partisipasi
berkesempatan diberi obat yang diteliti, atau Anda.
diberi obat yang sudah digunakan di RS saat ini.
Anda maupun tim penelitian disini (kami) tidak Informasi Obat Uji
dapat memilih obat mana yang akan diberikan Jika anda dapat berpartisipasi dalam penelitian
kepada Anda, karena pemberian obat dilakukan ini, anak anda/Anda akan mendapatkan obat Uji
berdasar jenis obat yang dituliskan di amplop (favipiravir) atau obat sesuai standar rumah
yang telah dilakukan secara acak. Pengobatan sakit. Jika Anda mendapatkan obat Favipravir
akan segera mulai diberikan dan diteruskan maka Anda akan meminum obat maksimal 14
sesuai ketentuan pemberian pengobatan, hari. Obat favipiravir adalah obat antivirus yang
kecuali jika Anda atau dokter Anda memutuskan diduga bermanfaat untuk pengobatan Covid-19.
harus menghentikannya untuk alasan apapun. Namun demikian ada ditemukan efek samping
Walaupun demikian, Anda akan tetap yang ringan yang pernah ditemukan seperti
mendapatkan perawatan yang memang nausea, muntah, sinusitis, sakit kepala, diare,
diberikan untuk pasien-pasien COVID-19 di peningkatan kadar fungsi hati, dan belum ada
rumah sakit ini. Lamanya perawatan bergantung dilaporkan adanya kasus yang fatal. Jika Anda
dengan hasil pemeriksaan adanya virus dan mendapatkan obat standar rumah sakit, maka
gejala klinis yang tidak ditemukan selama tiga obat diberikan sesuai dosis masing-masing obat
(3) hari berturut - turut. Pada penelitian ini Anda selama 5 hari. Subjek diharapkan tidak
tidak perlu melakukan kunjungan tambahan ke melakukan hubungan seksual selama penelitian
klinik/rumah sakit ini setelah pulang. Anda atau hingga 7 hari setelah minum obat uji terakhir
dokter kami dapat menghentikan pengobatan atau menggunakan alat kontrasepsi selama
yang belum teruji setiap saat, sebelum selesai penelitian.
diberikan dan Anda bebas untuk berubah pikiran
dan berhenti berpartisipasi kapan pun. Kompensasi

Bapak/ibu/saudara sebagai kompensasi atas akan teridentifikasi. Anda dapat mulai
waktu yang diberikan untuk mengikuti aktivitas berpartisipasi dalam penelitian ini dan segera
penelitian, kami memberikan kompensasi mengetahui obat yang akan Anda terima,
berupa bahan kontak yaitu alat pelindung muka. kemudian memutuskan apakah Anda mau
Kompensasi atas kejadian yang tidak diinginkan menerima obat itu atau tidak. Penelitian ini telah
yang berhubungan dengan obat tetapi tidak dikaji dan disetujui oleh Komisi Etik Penelitian
terdaftar dalam informasi obat akan ditanggung Kesehatan Balitbangkes, yang merupakan suatu
oleh sponsor dalam hal ini Pusat Penelitian dan komite yang didirikan untuk memastikan bahwa
Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan peserta-peserta penelitian dilindungi. Jika ada
Kesehatan. pertanyaan Anda dapat menghubungi tim
peneliti di Rumah Sakit atau tim Balitbangkes
Kerahasiaan yang ditunjuk untuk koordinasi di RS ini.
Kami akan menjaga informasi keikutsertaan
Anda pada penelitian ini sebaik mungkin sesuai Nama & no. kontak peneliti RSPI Sulianti
kemampuan informasi detail tentang diri Anda, Saroso , Jakarta dr.Adria Rusli SpP(K) : Hp.
beserta informasi tentang perkembangan 087887108928
penyakit Anda, akan dibagikan dengan tim
peneliti namun kami akan tetap menjaga Nama & no. kontak peneliti RSUP Dr Karyadi,
kerahasiaan data diluar dari tim peneliti (yang Semarang,: dr.Sofyan Budi Raharjo,SpP
sudah diubah dalam bentuk kode identifikasi/ID). FISR : Hp. 08122938906
Pejabat Komisi Etik atau Pejabat Kesehatan
yang berwenang juga dapat melihat catatan Nama & no. kontak peneliti RSJ Soerodjo,
medis Anda. Kami perlu menggunakan informasi Magelang, dr Dr Harli Amir Mahmudji SpPD
tentang diri Anda ini untuk menghubungkan KEMD: Hp.081227187186
pengobatan yang Anda terima dengan catatan
medis Anda untuk memperoleh data medis, Nama & no. kontak peneliti litbangkes Dr. dr.
termasuk kesembuhan. Nantinya Informasi Armedy Ronny Hasugian, M. Biomed,
mengenai penemuan pada penelitian ini akan Puslitbang Sumber daya dan Pelayanan
tersedia secara luas dan diharapkan hasilnya Kesehatan, Balitbangkes Kementerian
dapat membantu pasien-pasien di masa Kesehatan, Jl Percetakan Negara no 29, Jakarta
mendatang. Namun jangan khawatir, informasi pada Hp : 08159747536 dan email :
mengenai partisipan penelitian (Anda) tidak [email protected]

*Peserta yang buta huruf memberi cap jempol, dan seorang saksi yang dapat membaca turut
menandatangani formulir ini.

Pernyataan peneliti/penerima persetujuan
Saya telah membacakan dengan akurat lembar informasi kepada peserta dan memastikan bahwa
peserta memahami isi dan akibat penelitian ini. Peserta dapat bertanya tentang penelitian ini, dan
semua pertanyaan yang ditanyakan dijawab dengan tepat sejauh kemampuan saya. Persetujuan
diberikan tanpa paksaan dan dengan sukarela, dan sebuah salinan formulir ini telah diberikan kepada
peserta.
















Click to View FlipBook Version