BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang (SARS-CoV-2) dan WHO mengumumkan
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) wabah penyakit yang disebabkan oleh
adalah penyakit menular yang disebabkan SARS-CoV-2 sebagai penyakit coronavirus
oleh Severe Acute Respiratory Syndrome 2019 (COVID-19). Saat ini sudah banyak
Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Dimana tanda penelitian tentang SARS-CoV-2 dan COVID-
dan gejala umum infeksi COVID-19 antara 19. Ulasan ini membuat pengenalan yang
lain gejala gangguan pernapasan akut komprehensif tentang penyakit ini, termasuk
seperti demam, batuk dan sesak napas . struktur genom dan reseptor SARS- CoV-2,
Masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan epidemiologi, gambaran klinis, diagnosis,
masa inkubasi terpanjang 14 hari. Pada pengobatan, dan prognosis COVID-19.
kasus COVID-19 yang berat dapat
menyebabkan pneumonia, sindrom Berdasarkan standar yang ditetapkan WHO
pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan deteksi untuk virus ini menggunakan
kematian. metode Real time PCR. Namun ketersediaan
pemeriksaan tersebut masih sangat terbatas
Penemuan kasus pertama pada tanggal 31 di Indonesia dapat dilakukan pemeriksaan
Desember 2019, WHO China Country Office rapid test sebagai skrining awal. Rapid test
melaporkan kasus pneumonia yang tidak sangat dibutuhkan mengingat penyebaran
diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi penyakit yang sangat cepat. Namun, WHO
Hubei. Pada tanggal 30 Januari 2020 WHO menegaskan bahwa pemeriksaan ini tidak
menetapkan kejadian tersebut sebagai untuk menegakkan diagnosis klinis COVID-
Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang 19 dan tidak direkomendasikan untuk triase
Meresahkan Dunia (KKMMD)/Public Health pasien dengan dugaan COVID-19.
Emergency of International Concern (PHEIC) Rapid test hanya merupakan skrining awal,
dan pada tanggal 11 Maret 2020, WHO hasil pemeriksaan harus tetap dikonfirmasi
sudah menetapkan COVID-19 sebagai dengan Real-Time Reverse-Transcriptase
pandemi. Peningkatan jumlah kasus Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).
berlangsung cukup cepat, dan menyebar ke Rapid test atau imunokromatografi menjadi
berbagai negara dalam waktu singkat. bermanfaat karena hasil keluar lebih cepat
Sampai dengan tanggal 9 Juli 2020, WHO dan membutuhkan biaya lebih murah. Rapid
melaporkan 11.84.226 kasus konfirmasi test sebagai penapisan coronavirus disease
dengan 545.481 kematian di seluruh dunia in 2019 di Indonesia terdiri dari rapid test
(Case Fatality Rate/CFR 4,6%) sedangkan antibodi dan/atau rapid test antigen.
Indonesia melaporkan kasus pertama pada Pemeriksaan rapid test untuk skrining
tanggal 2 Maret 2020. Kasus meningkat dan COVID-19 memiliki beberapa kelebihan yaitu
menyebar dengan cepat di seluruh wilayah lebih menghemat waktu dan tidak
Indonesia. Sampai dengan tanggal 9 Juli membutuhkan peralatan yang banyak, lebih
2020 Kementerian Kesehatan melaporkan mudah untuk dilakukan dan hanya
70.736 kasus konfirmasi COVID-19 dengan membutuhkan training singkat. Kelebihan
3.417 kasus meninggal (CFR 4,8%). lain dari pemeriksaan rapid test untuk
COVID-19 adalah kemampuannya dalam
Virus ini kemudian dinamai sebagai 2019 mendeteksi antibodi IgG dan IgM pada
nCoV oleh Organisasi Kesehatan Dunia carrier SARS-CoV-2 yang asimtomatis,
(WHO). Pada 11 Februari 2020, Komite sehingga dapat digunakan untuk mengontrol
Internasional Taksonomi Virus mengganti penyebaran. Adapun kekurangan dari rapid
nama virus tersebut menjadi sindrom test untuk COVID-19 adalah bahwa
pernapasan akut parah coronaviruse-2
pemeriksaan ini tidak dapat mengkonfirmasi pada pasien terinfeksi pada hari ke- 2
keberadaan virus SARS-CoV-2, namun munculgejala klinis), menjadi 79 % pada hari
hanya menyediakan info adanya reaksi ke-11 setelah infeksi muncul. Akurasi
imunitas. diagnosis COVID- 19 pada pemeriksaan X-
Pencitraan X -Ray dapat dijadikan alternatif Ray serial mendekati akurasi pemeriksaan
dalam mempelajari COVID -19. X-Ray CT-Scan. Dengan di ketahui dan
dianggap mampu menggambarkan kondisi dipahaminya sensitivitas dan spesifitas
paru-paru pada pasien Covid-19 dan dapat Rapid test dan X-Ray Toraks, diharapkan
menjadi pendukung penegakan diagnosis. dapat membantu mempercepat penegakan
Berdasarkan penelitian Stephanie dkk, diagnosis, dan meningkatkan efektivitas
didapatkan kesimpulan bahwa sensitivitas X- terapi khususnya di RS. Paru Dr. H.A
Ray pada COVID-19 meningkat dari 55% Rotinsulu dan di masyarakat luas.
1.2 Rumusan Masalah berdasarkan pemeriksaan Rapid di RS.
Berdasarkan latar belakang diatas, disusun Paru DR. H.A Rotinsulu Bandung.
permasalahan penelitian sebagai berikut : 4. Bagaimana Perbandingan sensitivitas
1. Bagaimana karakteristik pasien Covid 19 deteksi pada pemeriksaan klinis,
secara klinis di RS. Paru DR. H.A Radiologis (X ray toraks) dan
Rotinsulu Bandung. laboratorium (rapid tes antibodi) pada
2. Bagaimana karakteristik pasien covid 19 pasien terkonfirmasi berdasarkan
secara radiologis (berdasarkan pemeriksaan PCR covid di RS. Paru dr.
pemeriksaan x Ray thorax) di RS Paru H.A Rotinsulu Bandung.
DR. H.A Rotinsulu Bandung.
3. Bagaimana karaketristik pasien covid 1.3.2 Tujuan khusus penelitian adalah :
Mengetahui Gambaran karakteristik pasien
1.3 Tujuan Penelitian terkonfirmasi covid-19 berdasarkan
1.3.1 Tujuan umum penelitian pemeriksaan radiologis dan Laboratorium
Tujuan umum penelitian adalah untuk (dalam hal ini Rapid test). Menganalisa
mengetahui perbandingan sensitivitas perbandingan sensitivitas pemeriksaan
pemeriksaan klinis, Radiologis dan radilogis dan laboratorium pada penegakkan
laboratoris terhadap pasien Covid di R.S diagnosis Covid 19 di RS. Paru DR.H.A
Paru Dr.H. A Rotinsulu Bandung. Rotinsulu.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.2 Manfaat untuk ilmu pengetahuan
1.4.1 Manfaat untuk pelayanan kesehatan Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat
(untuk pasien) menjadi tambahan pengetahuan tentang
Dengan diketahuinya tingkat sensitivitas karakteristik pasien covid 19 di RS Paru
pemeriksaan klinis, radilogis (x ray toraks) rotinsulu dan efektivitas masing-masing
dan laboratoris (rapid tes antibodi) pada pemeriksaan radiologis dan laboratorium.
pasien Covid 19 di RS Paru DR.H.A 1.4.3 Manfaat untuk penelitian
Rotinsulu, diharapkan dapat meningkatkan Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat
efektifitas dan efisiensi penegakan diagnosis menjadi landasan penelitian lain, khususnya
di RS. Paru DR.H.A Rotinsulu khususnya, karakteristik pasien dan efektivitas
dan RS lain secara umum. pemeriksaan dalam penegakan diagnosis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Corona Virus -19 manifestasi klinis COVID-19 luas 1,13.
Nama resmi penyakit ini adalah COVID-19 Gejala dan tanda tidak spesifik 68 :
(kependekan dari COronaVIrus Disease-19)
dan disebabkan oleh "virus corona 2" Umum
(SARS-CoV-2) 16,22,46. Nama penyakit dan • Demam (85-90%)
virus harus menggunakan huruf besar • Batuk (65-70%)
seluruhnya, kecuali huruf 'o' pada nama • Anosmia (dan gangguan rasa dan / atau
virus, dengan huruf kecil. Covid -19 memiliki
nama resmi SARS-CoV-2, tetapi ini sulit bau lainnya) (40-50%)
dibedakan dengan SARS-CoV- 1, strain • Kelelahan (35-40%)
virus yang menyebabkan wabah sindrom • Produksi dahak (30-35%)
pernafasan akut parah (SARS) pada 2002- • Sesak napas (15-20%)
2004, hal ini berpotensi menimbulkan
kerancuan. Maka Organisasi Kesehatan Kurang Umum
Dunia (WHO) telah menyatakan akan • Mialgia / artralgia (10-15%)
menggunakan "COVID -19 virus "atau" virus • Sakit kepala (10-36%) 121
yang menyebabkan COVID-19. • Sakit tenggorokan (10-15%)
• Menggigil (10-12%)
2.2 Gejala dan pemeriksaan klinis pasien • Nyeri pleuritik
Corona Virus 19 • Diare (3-34%)
COVID-19 biasanya muncul dengan
manifestasi sistemik dan / atau pernapasan. Langka
Beberapa kasus juga muncul gejala • Mual, muntah, nyeri perut, perdarahan GI
gastrointestinal atau kardiovaskular ringan,
meskipun ini kurang umum. Orang lain 93,171
mungkin datang hanya dengan penyakit • Hidung tersumbat (<10%) 93
mirip gastroenteritis, yang mungkin awalnya • Palpitasi, dada sesak 50
tidak dikenali sebagai COVID-19. Sebagian • Hemoptisis (<5%) 134
kecil orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 • Kebingungan 137, kejang, paresthesia,
tetap tidak menunjukkan gejala selama
terjangkit penyakit, tetapi orang ini akan kesadaran yang berubah 121
menjadi karier/ pembawa. Spektrum penuh • Stroke 149-151 (paling sering kriptogenik)
2.3 Pemeriksaan Laboratorium pencitraan lini pertama yang digunakan
Berdasarkan rekomendasi dari WHO, bahwa untuk deteksi pada pasien dengan dugaan
pemeriksaan laboratorium yang bisa di COVID-19. Radiografi dada mungkin normal
lakukan untukuntuk diagnosis dan screening pada penyakit awal / ringan. Dalam kasus
covid -19 yaitu : COVID-19 yang membutuhkan rawat inap,
a. RT –PCR ( Gold standar) 69% memiliki foto rontgen dada yang tidak
b. TCM –PCR normal pada saat awal masuk, dan 80%
c. Rapid ANTIGEN memiliki kelainan radiografi selama rawat
d. Rapid Anti bodi inap . Temuan paling luas sekitar 10-12 hari
ditemukan kelainan gambaran Rotngen
2.4 Gambaran radiologis pada pemeriksaan X toraks setelah onset gejala. Temuan yang
ray CoronaVorus 19 paling sering adalah infiltrat halus, baik yang
Meskipun X ray kurang sensitif dibandingkan digambarkan sebagai konsolidasi atau, yang
CT dada, tetapi merupakan modalitas lebih jarang berupa GGO (Ground Glass
appearance). Distribusi paling sering umum pada pasien, adalah sebagai berikut :
bilateral, perifer, dan zona bawah dominan. • Limfopenia
Berbeda dengan kelainan parenkim, efusi • Trombositosis
pleura jarang terjadi. (rodrigues). Meskipun • peningkatan waktu protrombin (PT)
terdapat manifestasi jantung pada pasien • peningkatan dehidrogenase laktat
COVID-19 sudah diketahui dengan baik,
tidak ada bukti yang dipublikasikan tentang Kelainan lain yang sering diidentifikasi
penyakit jantung pada foto rontgen. termasuk penanda inflamasi ringan yang
meningkat (CRP 89 dan ESR) dan D-dimer
Perkembangan pemeriksaan saat ini tinggi. Peningkatan sedikit serum amylase
merekomendasikan agar CT Scan-toraks 17% (studi terhadap 52 kasus). Pankreatitis
tidak digunakan untuk mendiagnosis COVID- akut telah dilaporkan, tidak jelas apakah ada
19, tetapi dapat membantu dalam menilai hubungan kausal dengan SARS-CoV-2 atau
komplikasi. Temuan pencitraan non-spesifik epiphenomenon. Tes fungsi hati dengan
pada CT Scan paling sering dari pneumonia gangguan ringan sering terjadi, terutama
atipikal atau organizing, seringkali berupa peningkatan alanine aminotransferase (ALT)
distribusi dominan bilateral, perifer, dan dan aspartate aminotransferase (AST).
basal. (misbah durani). Peningkatan bilirubin umumnya ringan.
Tingkat alkalin fosfatase (AKP) dan gamma ‐
Gambaran laboratoris glutamyltransferase (GGT) tetap normal.
Temuan laboratorium tambahan yang paling
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Ruang lingkup 3.4 Populasi dan sample penelitian
Ruang lingkup penelitian adalah multidisiplin Populasi penelitian adalah : Penderita
ilmu yaitu melingkupi Ilmu Penyakit paru, pneumonia covid-19. Populasi terjangkau
Radiologidan Patologi klinik. adalah penderita pneumonia yang
terkonfirmasi covid-19 yang diperiksa X ray
3.2 Tempat dan waktu penelitian toraks dan rapid test.
Penelitian dilaksanakan secara Retrospektif di
RS. Paru Dr. H. A Rotinsulu, data diambil 3.5 Cara pemilihan sample penelitian
sejakbulan Maret 2020 – Desember 2020. Sampel diambil dari semua data sekunder
pasien terkonfirmasi covid-19 yang telah
3.3 Jenis dan rancangan penelitian dilakukan pemeriksaan X ray toraks dan
Penelitian ini berupa penelitian retrospektif Rapid.
yang menyertakan semua pasien terkonfirmasi Kriteria inklusi :
covid-19 berdasarkan pemeriksaan Rapid test, • Pasien terkonfirmasi Covid-19
dan telah di lakukan pemeriksaan X ray. • Mengalami gejala klinis
Sensitivitas test X Ray dan Rapid kemudian
dibandingkan dan dievaluasi. • Telah diperiksa X Ray toraks
• Telah diperiksa rapid-test antibodi
• Selain kriteria inklusi, kecuali data bisa
disusulkan
3.6 Alur Penelitian
dilakukan analisa.
3.7 Bahan dan Cara Kerja
Bahan penelitian : catatan rekam medis. Cara 3.8 Besar Sampel
kerja : data pasien terkonfirmasi Covid 19 di Jumlah seluruh pasien dari Maret sampai
RS. Paru Rotinsulu Bandung dicatat dan September 2020 adalah 152 orang yang
memenuhi criteria inklusi adaah 91 orang.
3.9 Definisi Operasional Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Variabel Pneumonia Nominal
• Ringan
Gejala klinis Pneumonia Akibat Covid-19 • Sedang Nominal
• Berat Nominal
Gambarann Karakteristik dan derajat penyakit Broncho Pneumonia
Radiologis berdasarkan pemeriksaan X Ray (bilateral/ unilateral)
pada CXR • Ringan
• Sedang
• Berat
Rapid test Hasil Pemeriksaan Rapid IgM Hasil • Reaktif
pasien Covid Pemeriksaan • Non reaktif
Lab
3.10 Pengolahan data dan Analisa Data
Data yang terkumpul diolah secara manual dan komupterisasi untuk mengubah data menjadi
informasi. Analisa data menggunakan nilai sensitifitas dan spesifisitas.
3.11 Etika Penelitian
Penelitian ini akan di ajukan pada Tim etik RS Paru dr. H.A Rotinsulu Bandung.
3.12 Jadwal Penelitian Mar Apr Mei Juni Juli Agt Sept Okt Nop Des
No Kegiatan
1 Penyusunan proposal
2 Pengajuanproposal
3 Ethical Clearance
4 Pengumpulan data
5 Analisan data
6 Penyusunan laporan
7 Seminar hasil
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
HASIL LAB HASIL RADIOLOGI JUMLAH
POS NEG
64 21
REAKTIF L : 26 org (19 thn – 71 thn) L : 12 org (32 thn -64 thn) 85
RAPID NON P : 38 org (21 thn – 33 thn) P : 9 org (38 thn – 79 thn) 6
TES REAKTIF 5 1
L : 3 org (33 thn – 55 thn) Laki-laki, 60 thn
P : 2 org (26 thn – 33 thn)
69 22 91
Table 4.1. Hasil Penelitian antara rapid test dan radiologi
Data yang diambil pada penelitian ini adalah didapatkan lesi sama sekali pada X Ray
seluruh pasien yang di rawat di ruang toraks pasien penderita COVID-19.
isolasi RS Paru Dr H A Rotinsulu dari bulan
Pebruari sd September 2020. Data yang Penelitian uji diagnostik dan skrining sangat
diambil sesuai dengan kriteria inklusi. penting di dunia kedokteran dan kesehatan
Jumlah seluruh sampel penelitian adalah 91 masyarakat. Penelitian uji diagnostik dan
orang, dengan hasil Rapid reaktif sebanyak skrining mempunyai tujuan yang sama yaitu
85 orang (93.41%) dan test non reaktif 6 untuk menilai validitas dan reliabilitas suatu
orang (6.59%). test dalam mendeteksi kemungkinan adanya
suatu penyakit secara lebih dini (deteksi
Hasil pemeriksaan X Ray didapatkan positif dini). Validitas meliputi sensitifitas dan
sebanyak 69 orang dan negative sebanyak spesifisitas. Sensitifitas adalah kemampuan
22 orang dari 91 orang. Yang dimaksud suatu test untuk menyatakan positif pada
postif pada pemeriksaan Radiologi adalah orang-orang yang sakit, sedangkan
ditemukan lesi pneumonia classic atau khas spesifisitas adalah kemampuan suatu test
pada COVID-19, sedangkan negative untuk menyatakan negatif orang-orang yang
radiologi pada penelitian ini adalah tidak tidak sakit. Nilai sensitifitas dari hasil
didapatkan gambaran classical covid (grond penelitian ini adalah. 92.75%, spesifisitasnya
glass ataupun pneumonia pada daerah adalah 4.55% sedangkan nilai akurasinya
predileksi) ataupun memang tidak yaitu 71.43%.
4.2 Pembahasan ke-11 setelah infeksi muncul. Akurasi
Pencitraan X -Ray dapat dijadikan alternatif diagnosis COVID-19 pada pemeriksaan X-
dalam mempelajari COVID -19. X-Ray Ray serial mendekati akurasi pemeriksaan
dianggap mampu menggambarkan kondisi CT-Scan.
paru-paru pada pasien Covid-19 dan dapat
menjadi pendukung penegakan diagnosis. Pada penelitian Stephanie dkk, pasien
Berdasarkan penelitian Stephanie dkk, terkonfirmasi COVID-19 dengan gambaran
didapatkan kesimpulan bahwa sensitivitas X- X-Ray normal mempengaruhi kesalahan
Ray pada COVID-19 meningkat dari 55% berupa negative palsu pada intrepretasi dari
pada pasien terinfeksi pada hari ke- 2 Radiolog. Hal ini menjelaskan cukup
muncul gejala klinis, menjadi 79 % pada hari
tingginya angka negative atau tidak timbulnya gejala.
ditemukan gambaran khas COVID-19
sebanyak 21 orang dari 91 orang pasien, Nilai akurasi dari rapid test yang
kurang lebih 23%. Pada pasien COVID di dibandingkan dengan hasil radiologi yaitu
RSP DR. H.A Rotinsulu sebanyak 23 % ini sebesar 71.43%. Beberapa penelitian yang
terdapat beberapa kemungkian yaitu sudah dilakukan kami belum menemukan
memang tidak didapatkan adanya lesi pada penelitian yang membandingkan rapid tes
paru berupa pneumonia atau terdapat dengan radiolgi/X ray, tetapi ada penelitian
pneumonia ringan, hal ini juga dipegaruhi yang sudah dilakukan oleh He et al., 2020
olehwaktu pemerikaan, dimana pemeriksaan yang membandingkan akurasi PCR dengan
yang dilakukan lebih awal sensitivitasnya radiologi/X ray yaitu sebesar 92% karena
lebih rendah. pemeriksaan PCR memang yang menjadi
gold standar sesuai dengan rekomendasi
Hasil penelitian Jie., et al., 2020 tentang WHO.
rapid tes IgM nilai sensitifitas 88,66%,
dibandingkan dengan hasil penelitian ini nilai Gejala klinik pada penderita penyakit covid-
sensitifitas dari hasil penelitian RS Rotinsulu 19 di Indonesia yang paling banyak adalah
adalah 92.75%, nilai ini cukup tinggi batuk (53.5%), sesak nafas (73.3%), demam
kemungkinan disebabkan karena pasien- (33.3%), fatidue/lelah (33.3%), mual (16.6%),
pasien yang terkonfirmasi positif dengan anosmia (6.6%). Sedangkan dari hasil
rapid test sudah lama terinfeksi melebihi 7 penelitian di Rumah Sakit Paru Dr H A
hari karena peningkatan antibody dalam Rotinsulu keluhan yang terbanyak dari
darah menunjukkan < 40% dalam 7 hari penderita covid-19 adalah dapat dilihat di
pertama terinfeksi dan kemudian meningkat table berikut :
cepat menjadi 100% pada hari ke 15 setelah
Keluhan Jumlah Prosentase
Batuk 11 12.94%
Batuk, Demam 9 10.59%
Batuk, Sesak 26 30.59%
Demam 2 2.35%
Nyeri Dada 2 2.35%
Batuk, Lemas 2 2.35%
Sesak, Nyeri Tenggorok 2 2.35%
Batu, Demam, Mual 1 1.18%
Demam, Batuk, Nyeri Nelan 2 2.35%
Batuk, Pilek, Demam, Sakit Tenggorok 2 2.35%
Batuk, Sakit Tenggorok 2 2.35%
Batuk, Sesak, Diare 1 1.18%
Demam, Batuk, Anosmia 1 1.18%
Demam, Sakit Kepala 2 2.35%
Demam, Sesak, Batuk 11 12.94%
Mencret 1 1.18%
Sakit Tenggorok 1 1.18%
Sesak 7 8.24%
Jumlah 85
Tabel 4.2. Prosentase Keluhan
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
• Sensitivitas pemeriksaan Rapid test antibodi dibandingkan dengan pemeriksaan
radiologi/rontgen thorax di RS Paru Dr. H.A Rotinslu Bandung sebesar 92,75%.
• Negative palsu sebesar 23 %.
• Akurasi nilai sebesar 71.43%.
Dengan didapatkannya sensitivitas yang cukup tinggi pada pemeriksaan Rapid dan X-Ray
Toraks, maka dapat diharapkan kualitas penegakan diagnosis COVID-19 di RS Paru
DR.H.ARotinsulu cukup baik.
5.2 Saran
• Dapat dilanjutkan penelitian lebih jauh tentang COVID-19 di RS Paru DR.H.A Rotinsulu untuk
meningkatkan kuantitas dan kualitas diagnosis dan terapi.
•COVID-19 merupakan jenis penyakit baru yang masih terus berkembang, maka diperlukan
penelitian lanjutan seiring dengan perkembangan penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Zhu N., Zhang D., Wang W. A Novel Coronavirus from Patients with Pneumonia in China, 2019. N Engl
J Med. 2020 [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
Chen N, Zhou M, Dong X, Qu J, Gong F, Han Y, et al. Epidemiological and clinical characteristics of 99
cases of 2019 novel coronavirus pneumonia in Wuhan, China: a descriptive study. Lancet.
2020;395:507–513. doi: 10.1016/S0140-6736(20)3021
World Health Organization(2020) Rationaluse of personalprotectiveequipment for coronavirus disease
(COVID-19):Interim guidance, 27 February 2020. World Health Organization
Notice of the National Health Commission of the People’s Republic of China on revising the
englishname of novel coronavirus pneumonia
Rodrigues JC, Hare SS, EdeyA, DevarajA, Jacob J, et al. (2020)An update on COVID-19 for the
radiologist- A Britishsociety of Thoracic Imaging statement. Clinical Radiology 75:323-325
Misbah Durrani, Inam ul Haq, Ume Kalsoom, and Anum Yousaf Chest X-rays findings in COVID
19 patients at a University Teaching Hospital - A descriptive study, Pak J Med Sci. 2020 May;
36(COVID19- S4): S22–S26.
Stephani et all, Determinants of Chest X-Ray Sensitivity for COVID-19 : A multi-InsitutionalStdy in The
United States.
PROFIL PASIEN TERSANGKA CORONA VIRUS DISEASE (COVID-19) DI RUMAH
SAKIT PUSAT OTAK NASIONAL PROF. DR.dr. MAHAR MARDJONO JAKARTA
Lyna Soertidewi, Anna Mardiana Ritonga, Rizka Lidya Savitri, Andi Basuki Prima Birawa, Mursyid Bustami, Adin
Nulkhasanah
ABSTRACT
National Brain Center (NBC) is a national brain and nerve referral hospital that treats patients with
suspect COVID-19 in Jakarta. This study aims to determine the profile, comorbidities and outcome of
suspect COVID-19 cases in NBC. This study was conducted between 1 March 2020 and 30 April 2020.
This study used retrospective cohort design. The number of research subject used in this study was 107
patients (total sampling). Variables in this study include patient outcomes, age, sex, comorbidities, and
causes of death. Data analysis was performed in the form of univariate and bivariate analysis using
mann-whitney test and chi-square test. The result of this study indicate that the highest distribution of
suspect COVID-19 patients in NBC were at the age ?66 years old, male, discharge home, presence of
comorbidities, the most comorbid were ischemic stroke, hypertension, and diabetes mellitus and the
most causes of death was pneumonia. Variables that related statistically significant with mortality in
suspect COVID-19 cases in NBC is presence of comorbidities.
Keywords: COVID-19, National Brain Center, Profile
ABSTRAK
Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr.dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON) merupakan rumah
sakit rujukan khusus otak dan saraf yang merawat pasien tersangka COVID-19. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui profil, komorbid dan luaran pasien tersangka COVID-19 di RSPON. Penelitian ini
dilakukan antara 1 Maret 2020 hingga 30 April 2020. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif.
Jumlah subjek penelitian sebanyak 107 pasien (total sampling). Variabel penelitian meliputi luaran
pasien, usia, jenis kelamin, komorbid, serta penyebab kematian. Analisis data yang dilakukan berupa
analisis univariat dan bivariat dengan uji mann-whitney dan uji chi-square. Hasil penelitian
menunjukkan distribusi pasien tersangka COVID-19 di RSPON terbanyak usia > 66 tahun, laki-laki,
luaran pulang, komorbid terbanyak stroke iskemik, hipertensi, dan diabetes mellitus serta penyebab
kematian terbanyak pneumonia. Variabel yang signifikan secara statistik terhadap kematian pada pasien
tersangka COVID-19 di RSPON adalah adanya komorbid.
Kata Kunci: COVID-19, RSPON, Profil
PENDAHULUAN METODE
Pada 12 Februari 2020, World Health Desain studi pada penelitian ini menggunakan
Organization (WHO) resmi menetapkan penyakit metode kohort retrospektif. Sumber data
novel corona virus pada manusia ini dengan penelitian ini adalah data surveilans tim COVID
sebutan Coronavirus Disease (COVID-19) RSPON dan data rekam medis elektronik pasien.
(WHO, 2020). Pada 2 Maret 2020 Indonesia Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah seluruh
telah melaporkan dua kasus konfirmasi COVID- pasien dengan status Pasien Dalam
19 (Dirjen P2P, 2020). Pada 11 Maret 2020, Pemantauan (PDP) COVID-19 di RSPON dan
WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi ditetapkan status tersangka COVID-19
(PDPI,2020). Virus SARS-CoV-2 sudah berdasarkan skoring COVID-19 yaitu demam
menginfeksi 5.609.079 orang di 215 negara per atau riwayat demam ? 38 0C 7-14 hari sebelum
tanggal 27 Mei 2020, dengan jumlah kematian masuk rumah sakit (Skor 1), batuk/pilek/nyeri
mencapai 350.876 orang (WHO, 2020). Kasus tenggorokan (skor 1), sesak nafas (skor 1),
COVID-19 di Indonesia pada tanggal 27 Mei riwayat kontak erat (skor 3), gambaran rontgen
2020, sebanyak 23.851 orang, dan jumlah thoraks (infiltrat perifer bilateral (skor 3), infiltrat
kematian sebanyak 1.473 orang (Gugus perifer unilateral (skor 2), infiltrat lain (skor 1)),
Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, serta nilai Absolute Lymphocyte Count (ALC) <
2020). Pada bulan April 2020 terjadi peningkatan 1000 (skor 1). Nilai skor ?7 ditetapkan sebagai
jumlah pasien tersangka COVID-19 di RSPON PDP. Subjek adalah seluruh pasien tersangka
sebesar 2,75 kali lipat dibandingkan bulan Maret COVID-19 pada bulan Maret - April 2020 di
2020. RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta
(total sampling) sejumlah 107 pasien.
Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr.
Mahar Mardjono Jakarta (RSPON) merupakan Variabel dependen penelitian ini adalah status
rumah sakit rujukan nasional di Jakarta yang luaran pasien tersangka COVID-19 di RSPON,
khusus dan secara komprehensif menangani sedangkan variabel independen penelitian ini
masalah kesehatan otak dan saraf yang juga meliputi usia, jenis kelamin, serta komorbid
merawat pasien tersangka COVID-19. Penelitian pasien. Analisis data yang dilakukan berupa
deskriptif pasien tersangka COVID-19 belum analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat
pernah dilakukan di RSPON. Penelitian ini dengan memaparkan jumlah dan presentasi
bertujuan untuk mengetahui profil, komorbid dan dalam bentuk tabel maupun grafik. Analisis
luaran pasien tersangka COVID-19 di RSPON. bivariat dengan melakukan uji mann- whitney
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dan uji chi-square dengan mencantumkan nilai
informasi dasar dalam pengembangan penelitian p- value, nilai risk rasio (RR) dengan interval
selanjutnya. kepercayaan 95%. Penelitian ini telah
memperoleh izin etik dari RS Pusat Otak
HASIL DAN PEMBAHASAN Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta
A. Analisis Univariat dengan nomor UM.01.05/12/053/2020.
Hasil penelitian menunjukkan distribusi pasien
tersangka COVID-19 di RSPON terbanyak usia?
66 tahun, laki-laki, luaran pulang, komorbid
terbanyak stroke iskemik, hipertensi, dan
diabetes mellitus serta penyebab kematian
terbanyak pneumonia.
(55,8 %). Hal ini berbeda dengan penelitian
sebelumnya yang menyatakan bahwa 34,1%
pasien pulang, angka kematian keseluruhan
4,3%, tetapi pasien yang tersisa masih dirawat di
rumah sakit (Wang D et al, 2020).
Dari Tabel 1 terlihat bahwa distribusi pasien Grafik 1. Distribusi Komorbid Terbanyak pada
Pasien Tersangka COVID-19 di RSPON
tersangka COVID-19 di RSPON berdasarkan
Dari Grafik 1 terlihat bahwa distribusi pasien
usia, terbanyak pada usia > 66 tahun. Hal ini tersangka
sesuai dengan penelitian sebelumnya yang COVID-19 di RSPON berdasarkan komorbid
terbanyak adalah stroke iskemik, hipertensi, dan
menyatakan bahwa usia tua merupakan salah diabetes mellitus. Hal tersebut dikarenakan
RSPON merupakan rumah sakit rujukan untuk
satu faktor terhadap prognosis buruk pada stroke sehingga temuan komorbid terbanyak
sesuai dengan kekhususan rumah sakit dengan
pasien COVID-19 (Zhou et al, 2020). Distribusi pasien rawat inap terbanyak stroke iskemik,
hipertensi dan diabetes mellitus sebagai
pasien tersangka COVID-19 di RSPON komorbid terbanyak terkait erat dengan faktor
risiko utama dari stroke. Hal ini sesuai dengan
berdasarkan jenis kelamin terbanyak pada laki- penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa
pasien yang terinfeksi COVID-19 memiliki
laki sebanyak 67,4%. Hal ini sesuai dengan penyakit yang mendasarinya diantaranya
diabetes mellitus, hipertensi dan penyakit
penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kardiovaskular (Huang et al, 2020). Dalam studi
lainnya pasien dengan COVID-19 memiliki
54, 3% pasien COVID-19 berjenis kelamin laki- komorbiditas hipertensi (23,7%), diabetes
mellitus 16,2%), penyakit jantung coroner(5,8%),
laki (Wang D et al, 2020). Distribusi jenis kelamin dan penyakit serebrovaskular(2 - 3% ) (Fang et
al, 2020)
yang lebih banyak pada laki-laki diduga terkait
dengan prevalensi perokok aktif yang lebih
tinggi. Pada perokok, hipertensi, dan diabetes
melitus, diduga ada peningkatan ekspresi
reseptor ACE2 (Fang et al, 2020; Cai et al,
2020). Peningkatan ekspresi ACE2 akan
memfasilitasi infeksi dengan COVID- 19
sehingga meningkatkan risiko
pengembangan COVID-19 yang parah dan fatal
(Wan et al, 2020). Distribusi pasien tersangka
COVID-19 di RSPON berdasarkan luaran
pasien, terbanyak pada kelompok pasien pulang
Dari Grafik 2 terlihat bahwa distribusi pasien utama infeksi COVID-19, penargetan virus pada
tersangka COVID-19 di RSPON berdasarkan sistem pernapasan menyebabkan
penyebab kematian terbanyak adalah pneumonia berat (Huang et al, 2020).
pneumonia. Hal ini sesuai dengan patogenesis
Grafik 2. Distribusi Penyebab Kematian Terbanyak pada Pasien Tersangka COVID-19 di RSPON
B. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat
besarnya hubungan antara variabel independen
dengan variabel dependen. Untuk melihat ada
tidaknya hubungan tersebut dilakukan uji Chi-
square dengan nilai p yang di teliti, dengan
interval kepercayaan atau confident interval (CI)
yang ditetapkan pada tingkat kepercayaan 95%.
Tabel 2. Perbedaan Secara Statistik antara
Pasien dengan Luaran Meninggal dan Hidup
berdasarkan Status Pasien, Usia, Jenis
Kelamin, serta Komorbid.
Dari analisis bivariat, variabel yang signifikan (1,45 - 2,11) dibandingkan dengan pasien tanpa
secara statistik terhadap kematian pada pasien komorbid. Tidak didapatkan kematian pada
tersangka COVID-19 di RSPON adalah adanya kelompok pasien tanpa komorbid. Hal ini sesuai
komorbid (terlihat pada Tabel 2). Pada dengan penelitian sebelumnya yang
penelitian didapatkan pasien dengan menyatakan bahwa faktor risiko kematian pada
komorbid meninggal 42,7% dengan RR 1,75 pasien COVID-19 antara lain adalah memiliki
komorbiditas seperti hipertensi, diabetes,
penyakit kardiovaskular atau penyakit paru- SIMPULAN DAN SARAN
paru kronis. CFR meningkat di antara mereka RSPON merupakan rumah sakit rujukan
dengan kondisi komorbiditas yang sudah ada nasional di Jakarta yang khusus dan secara
sebelumnya yaitu 10,5% untuk penyakit komprehensif menangani masalah kesehatan
kardiovaskular, 7,3% untuk diabetes, 6,3% otak dan saraf yang juga merawat pasien
untuk penyakit pernapasan kronis, 6,0% untuk tersangka COVID-19. Distribusi pasien
hipertensi (Wu Z, 2019; Wang D, Hu B, Hu C, et tersangka COVID-19 di RSPON terbanyak usia
al, 2019). ?66 tahun, laki-laki, luaran pulang, komorbid
terbanyak stroke iskemik, hipertensi, dan
Virus SARS-CoV-2 mengikat sel target mereka diabetes mellitus serta penyebab kematian
melalui enzim pengonversi angiotensin 2 terbanyak pneumonia. Variabel yang signifikan
(ACE2), yang diekspresikan oleh sel epitel paru- secara statistik terhadap kematian pada pasien
paru, usus, ginjal, dan pembuluh darah (Wan et tersangka COVID-19 di RSPON adalah adanya
al, 2020). Ekspresi ACE2 secara substansial komorbid. Diperlukan penelitian lebih lanjut
meningkat pada pasien dengan diabetes tipe 1 dengan jumlah subjek penelitian yang lebih
atau tipe 2, yang dirawat dengan penghambat banyak untuk membuktikan jenis komorbid lain
ACE dan penghambat reseptor tipe-I angiotensin yang signifikan secara statistik.
II (ARB) (Wan et al, 2020). Hipertensi juga
diterapi dengan penghambat ACE dan ARB, DAFTAR PUSTAKA
yang menghasilkan upregulasi ACE2 (Li et al, Cai H. 2020. "Sex Difference and Smoking
2020). Data ini menunjukkan bahwa ekspresi Predisposition in Patients with COVID-19.
ACE2 meningkat pada diabetes dan Lancet Respir Med.; published online March
pengobatan dengan inhibitor ACE dan ARB 11. DOI: 10.1016/S2213-2600(20)30117-X
meningkatkan ekspresi ACE2. Peningkatan
ekspresi ACE2 akan memfasilitasi infeksi Direktorat Jenderal Pencegahan dan
dengan COVID-19, sehingga pengobatan Pengendalian Penyakit. 2020. Pedoman
diabetes dan hipertensi dengan obat Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus
perangsang ACE2 meningkatkan risiko Disease (COVID- 19). Kementerian Kesehatan
pengembangan COVID-19 yang parah dan fatal Republik Indonesia.
(Wan et al, 2020).
Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-
Secara keseluruhan didapatkan gambaran data 19. 2020. "Situasi Virus COVID-19 di Indonesia,
hasil analisis bivariat, persentase kelompok dari https://covid19.go.id. Diunduh 28 Mei 2020,
pasien yang meninggal lebih banyak pada pukul 09.00 WIB.
kelompok usia ?66 tahun, jenis kelamin laki-laki
dengan komorbid (stroke iskemik, stroke Fang L, Karakiulakis G, Roth M. 2020. "Are
perdarahan, hipertensi, diabetes mellitus, Patients with Hypertension and Diabetes Mellitus
gangguan jantung, gangguan ginjal, dan at Increased Risk for COVID-19 Infection?",
infeksi). Hal ini sesuai dengan penelitian Lancet Respir Med; published online March 11.
sebelumnya yang menyatakan bahwa pasien DOI: 10.1016/S2213-2600(20)30116-8.
dengan penyakit yang paling parah lebih
mungkin memiliki hipertensi (OR 2,36 (1,46- Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et
3,83)), penyakit pernapasan (OR 2,46 (1,76- al. 2020. "Clinical Features of Patients Infected
3,44), dan penyakit kardiovaskular (OR 3,42 with 2019 Novel Coronavirus in Wuhan,
(1,88-6,22) (Yang J, Zheng Y, Gou X , et al, China.Cite". Lancet. 2020; 395(10223):497-506.
2020). Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan
jumlah subjek penelitian yang lebih banyak Li XC, Zhang J, Zhuo JL. 2017."The
untuk membuktikan jenis komorbid lain yang Vasoprotective Axes of the Renin- angiotensin
signifikan secara statistik berhubungan dengan System: Physiological Relevance and
kematian pada pasien tersangka COVID-19. Therapeutic Implications in Cardiovascular,
Hypertensive and Kidney Diseases". Pharmacol http://www.who.int. Diunduh 27 Mei 2020, pukul
Res.; 125:21-38. 08.00 WIB.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2020. Wu Z, Mc. Googan JM. 2019. "Characteristics of
Panduan Praktek Klinis : Pneumonia 2019-
nCOV. and Important Lessons from the Coronavirus
Wang D, Hu B, Hu C, et al. 2020. "Clinical Disease 2019 (COVID-19) Outbreak in China:
Characteristics of 138 Hospitalized Patients with
2019 Novel Coronavirus-Infected Pneumonia in Summary of A Report of 72314 Cases from the
Wuhan, China". JAMA 2020 ; 323 : 1061 - 9 .
doi: 10 . 1001 / jama. 2020 . 1585 Chinese Center for Disease Control and
pmid:32031570
Prevention". JAMA2020.
Wan Y, Shang J, Graham R, Baric RS, Li F.
2020."Receptor Recognition by Novel Doi:10.1001/jama.2020.2648 pmid:32091533
Coronavirus from Wuhan: An analysis Based on
Decade-Long Structural Studies of SARS". J Yang J, Zheng Y, Gou X , et al. 2020.
Virology. doi: 10.1128/JVI.00127-20. Published "Prevalence of Comorbidities and Its Effects in
online Jan 29. Patients Infected with SARS-CoV-2: A
Systematic Review and Meta-analysis". Int J
World Health Organization (WHO). 2020. WHO Infect Dis 2020; S1201-9712 (20) 30136-3. doi :
Coronavirus Disease (COVID-19) ,dari 10.1016/j.ijid.2020.03.017 pmid : 32173574
Zhou et al. 2020. "Clinical Course and Risk
Factors for Mortality of Adult Inpatients with
COVID-19 in Wuhan, China: A Retrospective
Cohort Study". The lancet. Vol 395 (10229),
pages: 1054 - 1062.
PROFIL HASIL PEMERIKSAAN PENAPISAN COVID-19 DI INSTALASI GAWAT
DARURAT RUMAH SAKIT PUSAT OTAK NASIONAL PROF. DR. dr. MAHAR
MARDJONO JAKARTA PERIODE MARET – APRIL 2020
Andi Basuki Prima Birawa, Anna Mardiana Ritonga, Rizka Lidya Savitri
ABSTRACT
Screening for COVID-19 patients plays an important role in preventing transmission and management
of patients proportionally according to their health status. The National Brain Center Hospital Prof. Dr. dr.
Mahar Mardjono Jakarta uses the COVID-19 scoring method for screening patients who enter the
emergency department. The study design was a retrospective cohort with the inclusion criteria of the
subjects was all patients who were screened for COVID-19 at the ED RSPON. The purpose of this
study was to analyze the screening results compared to the results of the rapid test and PCR swab in
patients under COVID-19 surveillance (PDP). There were 63 patients (total sampling) with research
variables are age, sex, patient outcomes, rapid test results and PCR swab results. Univariate analysis
and sensitivity and specificity were analyzed. There were 6 (9.52%) patients with positive swabs, with a
sensitivity score of 83.3% and a specificity of 15.1%. Further research is needed regarding the
evaluation of the COVID-19 scoring method in RSPON with a greater number of research subjects to get
better accuracy and sensitivity analysis.
Keywords : COVID-19, Emergency Department, Screening.
ABSTRAK
Penapisan pasien COVID-19 berperan penting dalam upaya pencegahan transmisi dan
penatalaksanaan pasien secara proporsional sesuai status kesehatannya. Rumah Sakit Pusat Otak
Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON) menggunakan metode skoring COVID-19 untuk
penapisan pasien yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Desain studi penelitian ini adalah
kohort retrospektif dengan kriteria inklusi subjek penelitian adalah semua pasien yang dilakukan
penapisan COVID-19 di IGD RSPON. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hasil penapisan
dibandingkan hasil pemeriksaan tes rapid dan swab PCR pada pasien dalam pengawasan (PDP)
COVID-19. Terdapat 63 pasien (total sampling) subjek penelitian dengan variabel penelitian yaitu usia,
jenis kelamin, luaran pasien (outcome), hasil tes rapid dan hasil swab PCR. Dilakukan analisis univariat
serta analisis sensitivitas dan spesifitas. Terdapat 6 (9,52%) pasien dengan hasil swab positif, dengan
nilai sensitivitas tes penapisan 83,3% dan nilai spesifisitas 15,1%. Diperlukan penelitian lebih lanjut
mengenai penilaian metode skoring COVID-19 di RSPON dengan jumlah subjek penelitian yang lebih
banyak untuk mendapatkan akurasi analisis sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik.
Kata Kunci : COVID-19, IGD, Penapisan
PENDAHULUAN neutrofil limfosit (RNL) sebagai parameter yang
Angka kejadian dan kematian pasien dinilai. Nilai skor COVID-19 EWS miminal 10
Coronavirus Disease (COVID-19) akibat infeksi menunjukkan nilai prediksi yang baik untuk
Severe Acute Respiratory Syndrome dugaan awal pasien COVID-19 (Song et al,
Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) di Indonesia 2020).
masih tergolong tinggi. Data resmi pemerintah
(Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID- RSPON merupakan rumah sakit rujukan
19, 2020) pada tanggal 5 Juni 2020, nasional di Jakarta yang khusus dan secara
menunjukkan kasus COVID-19 di Indonesia komprehensif menangani masalah kesehatan
sebanyak 28.818 orang, dengan kasus sembuh otak dan saraf yang juga merawat pasien
8.892 orang, dan kematian 1.721 orang (CFR tersangka COVID-19. Penapisan pasien COVID-
5,97%). Manifestasi klinis infeksi SARS-CoV-2 19 yang efektif penting untuk mendiagnosis dini
sangat beragam dan outcome penyakit serta dan membatasi penularan di komunitas. RSPON
prognosis sulit diramalkan. Sekitar 80% kasus menggunakan metode skoring COVID-19 untuk
tergolong ringan atau sedang, 13,8% mengalami mengidentifikasi pasien yang diduga pasien
sakit berat, dan sebanyak 6,1% pasien jatuh ke COVID-19 di IGD RSPON. Ruang perawatan
dalam keadaan kritis. Berapa besar proporsi pasien akan ditetapkan berdasarkan hasil
infeksi asimtomatik belum diketahui (WHO, skoring, apakah di ruang isolasi atau di ruang
2020). rawat biasa. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis hasil penapisan dibandingkan
Lebih dari 40% pasien COVID-19 mengalami hasil pemeriksaan tes rapid dan swab PCR
demam dengan suhu puncak antara 38,1-39°C, pada pasien PDP COVID-19. Penelitian ini dapat
sementara 34% mengalami demam dengan menjadi informasi dasar dalam pengembangan
suhu lebih dari 39°C (Huang C et al, 2020). penelitian selanjutnya.
Sebagian besar pasien COVID-19 menunjukkan
gejala- gejala pada sistem pernapasan seperti METODE
demam, batuk, bersin, dan sesak napas (Rothan Surveilans tim COVID-19 RSPON dan data
dan Byrareddy, 2020). Gejala lain yang dapat rekam medis pasien. Kriteria inklusi pada
ditemukan adalah batuk produktif, sesak napas, penelitian ini adalah seluruh pasien yang
sakit tenggorokan, nyeri kepala, dilakukan pemeriksaan penapisan dengan
mialgia/artralgia, menggigil, mual/muntah, metode skoring COVID-19 di IGD RSPON,
kongesti nasal, diare, nyeri abdomen, ditetapkan status PDP COVID-19 saat di IGD
hemoptisis, dan kongesti konjungtiva (WHO, atau di ruang rawat, dan di rawat inap di
2020). RSPON. Pasien PDP akan dirawat di ruang
isolasi, sedangkan pasien ODP akan dirawat di
Diagnosis pasti infeksi virus SARS-CoV-2 ruang biasa. Adapun, pasien yang selama
dengan metode Polymerase Chain Reaction perawatan di ruang rawat biasa mengalami
(PCR), yang saat ini dianggap sebagai baku gejala COVID-19 dan ditetapkan PDP oleh tim
emas (gold standard) untuk diagnosa SARS- COVID akan langsung dipindahkan ke ruang
CoV-2, namun memiliki keterbatasan dalam hal isolasi. Seluruh penelitian yang digunakan
biaya dan teknis pengerjaannya (WHO, 2020). sebanyak 63 pasien (total sampling). Variabel
Song, dkk.mencoba membuat skor COVID-19 pada penelitian ini adalah usia, jenis kelamin,
Early Warning Score (COVID-19 EWS) luaran pasien (outcome), hasil pemeriksaan
berdasarkan 1311 orang yang melakukan rapid test, dan hasil pemeriksaan swab test.
pemeriksaan SARS-CoV-2 RNA di China (Song Analisis data yang dilakukan berupa analisis
et al, 2020). Skor ini memasukkan gambaran univariat serta analisis sensitivitas dan spesifitas.
pneumonia pada CT scan toraks, riwayat Analisis univariat dengan memaparkan jumlah
kontak erat, demam, gejala respiratorik dan presentasi dalam bentuk tabel dan
bermakna, suhu tertinggi sebelum masuk rumah menampilkan gambaran rinci alur pemeriksaan
sakit, jenis kelamin laki-laki, usia, dan rasio penapisan COVID-19 di RSPON.
HASIL DAN PEMBAHASAN klinis COVID-19 sehingga dikategorikan sebagai
Pada periode Maret-April 2020 terdapat 107 PDP dan pindah ke ruang rawat isolasi.
kasus tersangka COVID-19 di IGD RSPON Berdasarkan hasil penapisan COVID-19 di IGD
dansebanyak 63 orang diantaranya dirawat. RSPON periode Maret - April 2020, karakteristik
Lima puluh tiga orang dinyatakan PDP di IGD dan 63 pasien PDP yang di rawat inap di RSPON
dirawat di ruang isolasi, sementara 10 orang terlihat pada tabel 1.
sebelumnya dirawat di ruang non-isolasi dan
dalam masa perawatan menunjukkan gejala
Tabel 1 Karakteristik Demografi Pasien PDP Rawat Inap di RSPON Periode Maret - April 2020
Pasien meninggal dalam perawatan sebanyak 21 orang (33,33%) yang terdiri dari 15 pasien laki-laki
dan 6 orang pasien perempuan (Tabel 2)
Tabel 2 Data kematian pada PDP Covid -19
Periode Maret – April 2020 berdasarkan jenis kelamin dan usia
Lampiran 1 Data kasus pasien dengan status PDP Covid-19
No kasus Jenis Kelamin Usia Luaran Pasien (Outcome)
1 L 61 Meninggal
2 L 56 Pulang
3 P 51 Pulang
4 L 75 Pulang
5 P 76 Pulang
6 L 54 Pulang
7 P 63 Pulang
8 L 59
9 L 73 Meninggal
10 P 41 Meninggal
11 P 64 Pulang
Pulang
12 L 77 Meninggal
13 L 81 Pulang
14 L 66 Pulang
15 L 76 Pulang
16 L 59 Pulang
17 L 48 Pulang
18 L 46 Pulang
19 L 46 Pulang
20 L 82 Meninggal
21 L 54 Meninggal
22 L 60 Meninggal
23 L 67 Pulang
24 L 70 Pulang
25 L 39 Pulang
26 L 51 Pulang
27 P 81 Pulang
28 P 48 Pulang
29 L 75 Meninggal
Meninggal
30 P 28 Meninggal
Pulang
31 L 48 Pulang
32 P 63 Meninggal
33 L 49 Pulang
34 L 67 Pulang
35 L 66 Meninggal
Pulang
36 L 19 Pulang
37 L 81 Pulang
38 P 69 Meninggal
39 P 57 Meninggal
40 L 56 Meninggal
41 L 79 Meninggal
42 L 57 Pulang
43 L 61 Pulang
44 P 9 Pulang
45 L 64 Meninggal
46 L 50 Meninggal
47 L 50 Meninggal
48 L 16 Pulang
Pulang
49 P 74 Rujuk
Pulang
50 P 47 Meninggal
51 L 39 Pulang
Pulang
52 L 66 Pulang
Pulang
53 P 81 Pulang
Pulang
54 L 50 Meninggal
55 P 85 Pulang
56 L 74
57 L 66
58 L 68
59 P 84
60 L 72
61 P 67
62 P 56
63 P 8
Gambar 1 Alur Pemeriksaan Penapisan COVID-19 di IGD RSPON
Nilai skor >7 ditetapkan sebagai PDP, nilai skor akan adanya gejala klinis yang mendukung
5-6 perlu dikonfirmasi dengan CT Thoraks dan meskipun pada akhirnya hasil swab negatif;
nilai ?4 ditetapkan sebagai ODP. Berdasarkan terdapat 4 pasien yang langsung dilakukan
hasil penapisan tersebut, pasien akan ditetapkan pemeriksaan swab sebagai pemeriksaan gold
untuk di rawat di ruang isolasi atau ruang rawat standard di RSPON (dengan 1 pasien
biasa. Selain itu, terdapat 432 pasien (27, 2%) menunjukkan hasil positif); serta terdapat satu
yang tidak di rawat inap (pasien langsung di pasien yang tidak dilakukan pemeriksaan rapid
rujuk ke rumah sakit lain karena memiliki kondisi dan swab dikarenakan sebelum pemeriksaan
kesehatan khusus, pasien meninggal di IGD dilakukan pasien sudah meninggal dunia.
RSPON, serta pasien dalam kondisi stabil
sehingga tidak memerlukan untuk di rawat inap. Terdapat hal yang perlu dipelajari lebih lanjut
pada kasus yang menunjukkan hasil positif
Terdapat 1.101 pasien (69,4%) di rawat di ruang (kasus nomor 48), pasien tersebut pada saat
ranap biasa. Namun, terdapat 10 pasien (0,9%) penapisan mendapat skor 1, sehingga dirawat di
yang menunjukan gejala positif COVID-19 ruang rawat biasa (non-isolasi), tidak dilakukan
selama masa perawatan di ruang rawat biasa pemeriksaan rapid test dan swab. Dalam
sehingga dilakukan pemindahan ke ruang isolasi. perjalanan perawatan, DPJP melihat adanya
Pada pasien yang dipindahkan ke ruang isolasi gejala klinis yang mendukung ke arah
yang berasal dari ruang rawat biasa akan COVID-19 sehingga dilakukan pemindahan
dilakukan pemeriksaaan swab. Namun, terdapat ruangan ke ruang isolasi dan dilakukan
beberapa temuan yang berbeda dengan alur pemeriksaan swab. Pasien tersebut merupakan
penapisan COVID-19 pada umumnya, yaitu kasus konfirmasi positif. Terdapat risiko
terdapat 4 pasien dengan hasil rapid non- penularan pada saat pasien dirawat di ruang
reaktif tetap dilakukan pemeriksaan swab biasa sebelum dipindahkan ke ruang isolasi .
karena pertimbangan DPJP dan tim COVID-19
Terdapat 53 pasien (5%) dari total pasien yang Pada awal periode perawatan PDP COVID-19
di rawat inap yang sudah ditetapkan untuk di RSPON masih memiliki alat rapid test yang
rawat di ruang isolasi setelah dilakukan terbatas, sehingga pemeriksaan rapid tidak
pemeriksaan penapisan di IGD RSPON. dikerjakan pada semua pasien PDP. Sehingga
Terdapat beberapa temuan yang berbeda yang menjadi pemeriksaan gold standard
dengan alur penapisan pada umumnya, yaitu COVID-19 di RSPON adalah pemeriksaan
terdapat 7 pasien dengan hasil rapid non- swab. Kekurangan dari pemeriksaan ini adalah
reaktif tetap dilakukan pemeriksaan swab dan hasil keluar dalam waktu yang lama sehingga
menunjukan hasil negatif; terdapat 41 pasien pasien yang hasil swab negatif berisiko saat
yang langsung dilakukan pemeriksaan swab pulang dari RS dan belum menerima hasil swab,
(dengan 5 pasien menunjukkan hasil positif); status PDP masih melekat dengan segala
serta terdapat 3 pasien yang tidak dilakukan protokoler COVID-19; pada pasien meninggal
pemeriksaan tersebut dikarenakan pasien dimakamkan dengan ketentuan pemulasaran
meninggal dunia. jenazah pasien COVID-19; serta tingginya biaya
perawatan di ruang isolasi yang seharusnya bisa
dirawat di ruang rawat biasa.
Tabel 3. Sensitivitas dan Spesifisitas Pemeriksaan Penapisan COVID-19 di IGD RSPON Periode Maret
- April 2020
Berdasarkan Tabel 3 didapatkan nilai positif ruang isolasi. Nilai spesifisitas yang rendah
benar sebanyak 5 pasien, positif palsu secara tidak langsung berdampak terhadap
sebanyak 45 pasien, negatif benar 8 pasien, biaya rawat yang tinggi di ruang isolasi yang
dan negatif palsu sebanyak 1 pasien. Sehingga ditanggung oleh pemerintah.
diperoleh nilai sensitivitas 83, 3 % dan spesifitas
15, 1%. Nilai sensitivitas cukup baik namun nilai SIMPULAN DAN SARAN
spesifisitas relatif rendah. Salah satu kesulitan Terdapat 63 pasien PDP yang di rawat inap di
utama dalam melakukan penapisan adalah RSPON periode Maret - April 2020 (4% dari
memastikan negatif palsu, karena perlu pasien admisi IGD RSPON). Terdapat 13
mempertimbangkan onset paparan dan pasien berusia diatas 50 tahun (61,9%), laki-
durasi gejala sebelum dilakukan penapisan. laki (68,3%), dan luaran pasien pulang (65,1%).
Pada penelitian Farooq dan Hafeez (2020) Terdapat 6 (89,5%) pasien dengan hasil swab
didapatkan tingkat akurasi sebesar 83,5% positif dan 1 (1,6%) pasien dengan hasil rapid
dengan sensitivitas 100% dengan metode positif. Didapatkan nilai sensitivitas yang baik
klasifikasi CT- Thorax (COVID-ResNet). (83,3%) namun nilai spesifisitas yang relatif
Kesempurnaan sensitivitas pada penelitian ini rendah (15,1%). Perlu dilakukan pemeriksaan
ditunjang oleh 3 faktor utama yaitu alat rapid test segera setelah pasien ditetapkan
diagnostik yang baik, sumber daya manusia sebagai PDP di RSPON untuk menghindari
terlatih, dan teknik pengambilan CT-Thorax risiko penularan pada pasien lain, dibentuk
yang baik. Pada studi lain yang dilakukan oleh regulasi terkait pemeriksaan swab setelah rapid
L.Wang & A. Wong (2020) hanya 3,7% terjadi untuk cost-effective (karena pada penelitian ini
misklasifikasi (akurasi 96,3%) dengan hanya menunjukkan bahwa dari 11 pasien dengan
menggunakan penilaian pada CT-Thorax. Nilai hasil rapid negatif yang dilakukan pemeriksaan
sensitivitas tinggi yang berarti bahwa pasien swab tetap menunjukkan hasil negatif), serta
yang positif dan memiliki risiko penularan sudah perlu dibentuk regulasi/kebijakan untuk
ditetapkan dengan benar untuk di rawat di pelaporan segera pasien yang dicurigai memiliki
gejala COVID-19 agar dapat segera Design for Detection of COVID-19 Cases from
dipindahkan ke ruang isolasi dan untuk segera Chest Radiography Images," ArXiv200309871
memindahkan pasien swab negatif dari ruang Cs Eess, Mar. 2020, dari
isolasi ke ruang rawat biasa untuk menghindari http://arxiv.org/abs/2003.09871. Diunduh 29
terjadinya penularan di ruang rawat. Diperlukan Maret 2020.
penelitian lebih lanjut mengenai penilaian
metode skoring COVID-19 di RSPON dengan Rothan HA, Byrareddy SN. "The Epidemiology
jumlah subjek penelitian yang lebih banyak and Pathogenesis of Coronavirus Disease
untuk mendapatkan akurasi perhitungan (COVID-19) Outbreak". J Autoimmun. 2020;
sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik. published online March 3. DOI:
10.1016/j.jaut.2020.102433.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Song CY, Xu J, He JQ, Lu YQ. 2020."COVID-19
Pengendalian Penyakit. 2020. Pedoman Early Warning Score: A Multi- Parameter
Kesiapsiagaan Menghadapi Coronavirus Screening Tool to Identify Highly Suspected
Disease (COVID-19) Maret 2020. Jakarta: Patients". medRxiv preprint. Published online
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mar 8. doi: 10.1101/2020.03.05.20031906.
Farooq, M., & Hafeez, A. 2020. COVID-ResNet: World Health Organization. 2020.Clinical
"A Deep Learning Framework for Screening of Management of Severe Acute Respiratory
COVID19 from Radiographs". ArXiv, Infection when Novel Coronavirus (nCoV)
abs/2003.14395. Infection is Suspected. Geneva: World Health
Organization;.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-
19. 2020. "Situasi Virus COVID-19 di World Health Organization. 2020.Report of the
Indonesia", dari https://covid19.go.id/ . Diunduh
5 Juni 2020, pukul 02.00 WIB. WHO-China Joint Mission on Coronavirus
Wang and A. Wong. 2020. "COVID-Net: A Disease 2019 (COVID-19). Geneva: World
Tailored Deep Convolutional Neural Network
Health Organization.
ABSTRACT SUBMISSION FOR NON DESIGNATED SPEAKERS
No.1001126
[Conflict of Interest] No (I don't have)
[Title]
COVID-19 survival among patients with acute ischemic stroke: case reports from
developing country
[Author(s)]
Nazla Ananda Rachmi Puti 1,2, Ita Muharram Sari 1,2, Mursyid Bustami 1,2, Eka
Musridharta 1,2, Sardiana Salam1,2, Iswandi Erwin1,2
[Affiliation(s)]
1National Brain Centre Hospital Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, 2Faculty of Medicine
Airlangga University
Objective: The purpose of this of the oropharyngeal samples were
presentation was to report the positive in both cases. These patients
neurocritical management for patients were intubated within 24 hours of
with acute ischemic stroke (AIS) with admission and treated for Acute
confirmed COVID-19 infection. Respiratory Distress Syndrome along
with anticoagulant treatment. Both
Methods: The data for this case reports patients were discharged with recovery
were gathered from patient medical from the infection and their mRS scale on
records. 1 month after discharged was 2-3.
Results: We reported two cases of Conclusion: AIS can be found in patients
COVID-19 survival among patients with with COVID-19 infection, but there is no
AIS. Case 1 is a 58 years old woman, specific clinical guidelines for
with acute right hemiparesis and management of AIS among COVID-19
dysarthria since 1 hour before admission, positive patients. From our case, the
without any symptoms leading to patient showed clinical improvement by
infectious disease. Case 2 is a 53 years early recognition of ARDS, strictly
old man with left hemiparesis and monitoring for the hemodynamic status
dysarthria since 1 day before submitted, and supportive treatment for the
with history of febrile and dyspnea 1 day reperfusion of tissue vascularization and
before admission. Both of them had a organ function. More studies are required
history of uncontrolled type II diabetes to establish the management protocol for
mellitus and hypertension. Real time PCR AIS patients with COVID-19 infection.
PENELITIAN
GAMBARAN KADAR DARI C.REAKTIF PROTEIN PADA
PASIEN TERKONFIRMASI COVID 19 YANG DIRAWAT
DI RUMAH SAKIT OTAK DR. Drs. M. HATTA
BUKITTINGGI
Autor
Mairina, SKM, M.Biomed
Co Autor
DR.dr.H.M. Alsen Arlan, Sp.B.KBD.MARS,.
dr. Ruhaya Fitrina, Sp.S,.
dr. Elhuriyah, Sp.PK
RUMAH SAKIT OTAK DR. Drs. M. HATTA
BUKITTINGGI
2021
GAMBARAN KADAR DARI C.REAKTIF PROTEIN PADA PASIEN
TERKONFIRMASI COVID 19 YANG DIRAWAT
DI RUMAH SAKIT OTAK DR. Drs. M. HATTA
BUKITTINGGI
Oleh : Mairina, SKM, M. Biomed
Dibawah bimbingan :
DR.dr.H.M. Alsen Arlan, Sp.B.KBD.MARS,
dr. Ruhaya Fitrina, Sp.S,
dr. Elhuriyah, Sp.PK
ABSTRAK
Latar Belakang : Pandemi virus corona (COVID-19) merupakan krisis kesehatan secara global. Saat
ini merupakan ancaman terbesar dalam menghadapinya. Covid 19 Sebagai virus yang sangat menular.
Pemantauan klinis dan strategi pengobatan yang tepat sangat penting untuk memperbaiki fatalitas
kasus. Indikator sensitif lainnya yang dapat menggambarkan perubahan lesi paru dan keparahan
penyakit harus dieksplorasi. Kadar protein C-reaktif (CRP) dapat digunakan dalam diagnosis awal
pneumonia, dan pasien dengan pneumonia berat memiliki kadar CRP yang tinggi. C-Reaktif Protein
secara signifikan terkait dengan perkembangan penyakit dan kenaikan nilainya merupakan suatu
prognosis buruk. C-Reaktif Protein menunjukkan pada tahap awal penyakit COVID-19 berkorelasi
positif dengan lesi paru. Kadar C-Reaktif Protein dapat menggambarkan tingkat keparahan penyakit
dan digunakan sebagai indikator utama untuk pemantauan penyakit. secara signifikan pada tahap awal
pasien COVID-19 yang parah dan dikaitkan dengan perkembangan penyakit yang menunjukkan
penanda yang baik dalam memprediksi keparahan pada tahap awal penyakit COVID-19.
Metode : Desain penelitian adalah retrospektif dengan pengambilan data dengan menggambarkan
kadar C.Reaktif Protein pada pasien terkonfirmasi covid 19 yang dirawat di Rumah Sakit Otak DR. Drs.
M. Hatta Bukittinggi. ditetapkan dengan ditetapkan dengan pemeriksaan Real Time PCR yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kadar C.Reaktif Protein (C.RP) diperiksa dengan metode
Dengan Metoda spektrofotometer. Data diuji dengan Data dianalisis secara tabulasi dengan
menggunakan analisis distribusi frekuensi disajikan dalam bentuk tabel.
Hasil : Berdasarkan jenis kelamin 14 orang (36,8%) laki-laki dan 24 orang (63,3%) perempuan.
Berdasarkan Umur minimal umur 33 tahun dan maximal umur 73 tahun (rata- rata umur 55 tahun).
Berdasarkan kadar C.Reaktif 67,4 mg/dl (1-178 mg/dl).
Kesimpulan : Kadar C.Reaktif Protein pada pasien terkonfirmasi covid 19 yang dirawat di Rumah Sakit
Otak DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi adalah 67,4 mg/dl (1-178 mg/dl)
Kata Kunci: C.Reaktif Protein, Terkonfirmasi Covid 19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Pada tahap awal penyakit, terjadi gejala
Pandemi virus corona (COVID-19) infeksi pernapasan akut yang parah, dan
merupakan krisis kesehatan secara global. pada beberapa pasien dengan cepat
Saat ini merupakan ancaman terbesar dalam berkembang menjadi sindrom gangguan
menghadapinya. Covid 19 Sebagai virus pernapasan akut (ARDS) dan komplikasi
yang sangat menular, penyebarannya serius lainnya, yang akhirnya diikuti oleh
muncul di China pada Januari 2020 (Phelan, kegagalan organ multipel. Oleh karena itu,
2020). Setelah Asia, kemudian menyebar diagnosis dini dan pengobatan tepat waktu
dengan cepat secara global seperti amerika untuk kasus-kasus kritis sangat penting (Gao
Serikat, brasil, rusia, dan eropa merupakan et al., 2020). Beberapa parameter darah dan
wilayah yang paling terpengaruh saat ini. serologis rutin telah disarankan untuk
membuat stratifikasi pasien yang mungkin
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) berisiko lebih tinggi untuk mengalami
adalah penyakit yang disebabkan oleh komplikasi. Penanda serologis dari
coronavirus yang dikenal sebagai Severe pemeriksaan darah rutin dilaporkan dengan
Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 membandingkan pasien dengan gejala
(SARS-CoV-2). pada tanggal 11 Maret 2020 ringan atau sedang dengan pasien yang
WHO mengumumkan COVID-19 sebagai memiliki gejala berat. Termasuk pemeriksaan
pandemik (WHO, 2020). Pada 13 Juli 2020, protein fase akut seperti C-Reaktif Protein
lebih dari 12,7 juta orang telah terinfeksi dan (CRP). Peningkatan C-Reaktif Protein (CRP)
dinyatakan positif COVID-19, dengan lebih sering terjadi pada kasus COVID-19 yang
dari 500.000 kematian di seluruh dunia parah dan tampaknya berkorelasi dengan
(WHO,2020). Sementara di Indonesia, lebih keparahan gejala dan hasil klinis (Vabret et
dari 75.000 kasus terkonfirmasi dan 3.606 al., 2020).
kasus kematian (PHEOC Kemenkes, 2020).
Pemantauan klinis dan strategi pengobatan
SARS-CoV-2 adalah virus RNA berselubung, yang tepat sangat penting untuk
tidak bersegmen dan termasuk dalam memperbaiki fatalitas kasus. Indikator sensitif
subgenus Sarbecovirus yang umumnya lainnya yang dapat menggambarkan
tersebar pada manusia dan mamalia lainnya. perubahan lesi paru dan keparahan penyakit
Penyebaran virus dari manusia ke manusia harus dieksplorasi. Kadar protein C-reaktif
terjadi karena kontak erat dengan orang (CRP) dapat digunakan dalam diagnosis
yang terinfeksi, terkena batuk, bersin, droplet awal pneumonia, dan pasien dengan
atau aerosol. Manifestasi klinis yang umum pneumonia berat memiliki kadar CRP yang
berupa demam (88,7%), batuk (67,8%), tinggi (Wang, 2020).
fatigue (38,1%), batuk berdahak (33,7%),
sesak napas (18,6%), sakit tenggorokan C-reaktif protein merupakan protein fase akut
(13,9%), dan sakit kepala (13,6%) (Guan et yang diproduksi oleh hati sebagai respon
al., 2020). Dalam waktu 5 hingga 6 hari terhadap peningkatan kadar sitokin inflamasi
setelah timbulnya gejala, pasien dengan terutama inteleukin- 6 (IL-6) dan tumor
COVID-19 telah menunjukkan viral load yang necrosis factor-alpha (TNF- α). Kadar C-
tinggi di saluran pernapasan bagian atas dan reaktif protein diketahui meningkat sebagai
bawah. Swab nasofaring dan/atau swab respon terhadap kerusakan jaringan, infeksi
orofaring sering direkomendasikan untuk dan peradangan serta konsentrasinya akan
skrining atau diagnosis infeksi dini (Tang et meningkat dalam sirkulasi selama kejadian
al., 2020). inflamasi. C-Reaktif protein bukan hanya
sekedar penanda peradangan tetapi juga
berperan aktif dalam proses peradangan Reaktif Protein dapat digunakan sebagai
(Sproston and Ashworth, 2018).Pasien yang prediktor keparahan COVID-19. Banyak
mengalami COVID-19 menunjukkan jumlah penanda yang lain yang dapat digunakan
leukosit yang lebih tinggi dan peningkatan baik klinis maupun laboratoris untuk
kadar sitokin pro-inflamasi seperti interleukin- memprediksi prognosis, salah satu
6 (IL-6), IL-10, granulocyte colony stimulating digunakan adalah kadar C-Reaktif Protein.
factor (G-CSF), monocyte chemoattractant C-Reaktif protein dianggap sebagai respon
protein 1 (MCP1), macrophage inflammatory peradangan fase akut yang murah dan
protein (MIP)1α, dan tumor necrosis mudah untuk diperiksa.
factoralpha (TNF-α). Kadar Interleukin-6 (IL-
6) juga berhubungan dengan keparahan Untuk itu peneliti ingin mengetahui
kondisi pasien, semakin parah kondisi bagaimana kadar C.Reaktif Protein pada
pasien, maka semakin tinggi tingkat IL-6 dan pasien terkonfirmasi covid 19 yang dirawat di
hal ini akan menstimulasi hati untuk Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta
memproduksi CRP (Yuki et al., 2020). Bukittinggi, dan diharapkam hasil penelitian
ini bermanfaat dalam penatalaksanaan
Pada penelitian yang dilakukan oleh Liu dkk. pasien Covid 19 dan meningkatkan
(2020) menunjukkan bahwa C-Reaktif manajemen pasien covid 19 terutama yang
Protein secara signifikan terkait dengan dirawat di Rumah Sakit Otak DR. Drs. M.
perkembangan penyakit dan kenaikan Hatta Bukittinggi.
nilainya merupakan suatu prognosis buruk.
1.2Rumusan Masalah
Penelitian Wang dkk. (2020) menunjukkan Bagaimana kadar C.Reaktif Protein pada
pada tahap awal penyakit COVID-19, kadar pasien terkonfirmasi covid 19 yang dirawat di
C-Reaktif Protein berkorelasi positif dengan Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta
lesi paru. Kadar C-Reaktif Protein dapat Bukittinggi.
menggambarkan tingkat keparahan penyakit
dan digunakan sebagai indikator utama 1.3Tujuan Penelitian
untuk pemantauan penyakit. Pada penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
yang dilakukan oleh Tan dkk. (2020) Melihat gambaran kadar C.Reaktif Protein
didapatkan peningkatan kadar C-Reaktif pada pasien terkonfirmasi Covid 19 yang
Protein secara signifikan pada tahap awal dirawat di Rumah Sakit Otak DR. Drs. M.
pasien COVID-19 yang parah dan dikaitkan Hatta Bukittinggi.
dengan perkembangan penyakit yang
menunjukkan penanda yang baik dalam 1.3.2 Tujuan Khusus
memprediksi keparahan pada tahap awal Mengetahui gambaran kadar C.Reaktif
penyakit COVID-19. Protein pada pasien terkonfirmasi Covid 19
yang dirawat di Rumah Sakit Otak DR. Drs.
Berdasarkan penelitian- penelitian yang telah M. Hatta Bukittinggi.
dilakukan mengenai pemeriksaan kadar C-
digunakan sebagai salah satu informasi
1.4Manfaat Penelitian atau referensi untuk menetapkan tata
1. Penelitian ini diharapkan dapat laksana pasien terkonfirmasi covid 19.
memberikan gambaran kadar C.Reaktif 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
Protein pada pasien terkonfirmasi Covid menjadi masukan bagi penelitian
19 yang dirawat di Rumah Sakit Otak DR. selanjutnya.
Drs. M. Hatta Bukittinggi, sehingga dapat
BAB II
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP
2.1KERANGKA TEORI menunjukkan jumlah leukosit yang lebih
C-reaktif protein merupakan protein fase akut tinggi dan peningkatan kadar sitokin pro-
yang diproduksi oleh hati sebagai respon inflamasi seperti interleukin-6 (IL-6), IL-10,
terhadap peningkatan kadar sitokin inflamasi granulocyte colony stimulating factor (G-
terutama inteleukin- 6 (IL-6) dan tumor CSF), monocyte chemoattractant protein 1
necrosis factor-alpha (TNF- α). Kadar C- (MCP1), macrophage inflammatory protein
reaktif protein diketahui meningkat sebagai (MIP)1α, dan tumor necrosis factoralpha
respon terhadap kerusakan jaringan, infeksi (TNF-α). Kadar Interleukin-6 (IL-6) juga
dan peradangan serta konsentrasinya akan berhubungan dengan keparahan kondisi
meningkat dalam sirkulasi selama kejadian pasien, semakin parah kondisi pasien, maka
inflamasi. C-Reaktif protein bukan hanya semakin tinggi tingkat IL-6 dan hal ini akan
sekedar penanda peradangan tetapi juga menstimulasi hati untuk memproduksi CRP
berperan aktif dalam proses peradangan. (Yuki et al., 2020).
Pasien yang mengalami COVID-19
2.2KERANGKA KONSEP Variabel Dependen
Variabel independen
TERKONFIRMASI COVID 19 KADAR
C. REAKTIF PROTEIN
Berdasarkan kerangka konsep diatas, yang menjadi variabel indevenden pada penelitian ini adalah
Terkonfirmasi Covid 19. Variabel dependen pada penelitian ini adalah Kadar C.Reaktif Protein.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1Jenis Penelitian sampel yang diambil memenuhi kriteria
Jenis penelitian ini adalah retrospektif inklusi dan eksklusi.
dengan pengambilan data dengan Kriteria inklusi :
menggambarkan kadar C.Reaktif Protein • Pasien dengan RT PCR positif
pada pasien terkonfirmasi covid 19 yang • Pasien yang dirawat di ruang isolasi
dirawat di Rumah Sakit Otak DR. Drs. M.
Hatta Bukittinggi. Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta
Bukittinggi
3.2Tempat dan Waktu Penelitian • Pasien yang diperiksa kadar C.Reaktif
Tempat penelitian di Rumah Sakit Otak DR. Protein
Drs. M. Hatta Bukittinggi, pemeriksaan kadar Kriteria ekslusi :
C.Reaktif Protein dilakukan di Laboratorium • Pasien RT PCR negative
Klinik Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta • Pasien yang terkonfirmasi covid 19 yang
Bukittinggi dari bulan November 2020 tidak dirawat inapdi Rumah Sakit Otak
sampai bulan Februari 2021. DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi
3.3Populasi dan Sampel 3.4Besar Sampel
Populasi penelitian ini adalah pasien yang Besar sampel untuk penelitian adalah semua
dirawat di Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. pasien yang terkonfirmasi covid 19, yang
Hatta Bukittinggi yang di diagnosa secara dirawat diruang isolasi dan yang lakukan
klinis dengan terkonfirmasi covid 19. pemeriksaan C.Reaktif Protein dari bulan
Diagnosis covid 19 ditetapkan dengan November 2020 sampai bulan Februari 2021
pemeriksaan Real Time PCR, sedangkan sebanyak 38 orang.
3.5Alur Penelitian
3.6Definisi Operasional Skala Ukur : Nominal
1. C.Reaktif Protein.
Defenisi : Suatu protein fase akut yang 3.7Bahan Penelitian
diproduksi oleh hati terutama saat terjadi Bahan penelitian adalah serum untuk
infeksi atau inflamasi di dalam tubuh. pemeriksaan C.Reaktif Protein ( Darah vena
Cara Ukur : Dengan Metoda sebanyak 5 ml dimasukan ke dalam tabung
spektrofotometer vacutainer, dibiarkan darah membeku dalam
Alat Ukur : BA 200 Biosytem 15 menit. dilakukan sentrifuge 4.000 rpm
Hasil Ukur : Dinyatakan dalam mg/dl. selama 10 menit). Serum diperiksa dengan
Skala Ukur : Rasio alat otomatis BA 200 Biosytem.
2. Terkonfirmasi Covid 19 3.8Analisis Hasil Penelitian
Defenisi : Pasien yang dinyatakan positif Data dianalisis secara tabulasi dengan
terinfeksi virus corona berdasarkan hasil menggunakan analisis distribusi frekuensi
pemeriksaan laboratorium Real Time disajikan dalam bentuk tabel.
PCR.
Cara Ukur : Dengan Metoda RT PCR 3.9Cara Kerja
Alat Ukur : RT PCR Pemeriksaan C.Reaktif Protein diperiksa
Hasil Ukur : Positif dengan alat BA 200 Biosystem.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1Hasil Penelitian Penelitian ini di lakukan pada 38 subjek
4.1.1 Karateristik Umum Subjek penelitian( Pasien terkonfirmasi Covid
Penelitian 19 yang dirawat di Rumah Sakit Otak
Penelitian ini telah di lakukan sejak DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi yang
bulan November 2020 sampai bulan ditetapkan dengan pemeriksaan Real
Februari 2021 di Rumah Sakit Otak Time PCR).
DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi.
Tabel 4.1.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, Kadar CRP Pasien
Terkonfirmasi Covid 19
Umur ( tahun ) Mean Minimal Maksimal Frekuensi Persentase (%)
Jenis Kelamin 55 33 73
Laki-Laki
Perempuan 67,4 14 36,8
Kadar CRP (mg/dl) 24 63,2
1 178
4.2Pembahasan Reaktif Protein secara signifikan terkait
Berdasarkan jenis kelamin Pasien dengan perkembangan penyakit dan
terkonfirmasi Covid 19 yang dirawat di kenaikan nilainya merupakan suatu
Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta prognosis buruk.
Bukittinggi adalah 14 orang (36,8%) laki-laki
dan 24 orang (63,3%) perempuan. Berdasarkan penelitian Wang dkk. (2020)
Berdasarkan Umur Pasien terkonfirmasi menunjukkan pada tahap awal penyakit
Covid 19 yang dirawat di Rumah Sakit Otak COVID-19, kadar C-Reaktif Protein
DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi adalah minimal berkorelasi positif dengan lesi paru. Kadar C-
umur 33 tahun dan maximal umur 73 tahun Reaktif Protein dapat menggambarkan
(rata- rata umur 55 tahun). tingkat keparahan penyakit dan digunakan
sebagai indikator utama untuk pemantauan
Berdasarkan kadar kadar C.Reaktif Protein penyakit. Pada penelitian yang dilakukan
pada pasien terkonfirmasi Covid 19 yang oleh Tan dkk. (2020) didapatkan peningkatan
dirawat di Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. kadar C-Reaktif Protein secara signifikan
Hatta Bukittinggi adalah 67,4 mg/dl (1-178 pada tahap awal pasien COVID-19 yang
mg/dl). parah dan dikaitkan dengan perkembangan
penyakit yang menunjukkan penanda yang
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh baik dalam memprediksi keparahan pada
Liu dkk. (2020) menunjukkan bahwa C- tahap awal penyakit COVID-19.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan B. Saran
Kadar C.Reaktif Protein pada pasien Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan
terkonfirmasi covid 19 yang dirawat di hubungan kadar C.Reaktif Protein dengan
Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta klinis pasien yang lain.
Bukittinggi adalah 67,4 mg/dl (1-178 mg/dl).
MASTER TABEL KADAR CRP PASIEN TERKONFIRMASI COVID 19
NO NAMA MR TTL UMUR JENIS KADAR CRP
(TAHUN) KELAMIN (mg/dl)
1 MARNIS 093967 05/03/1948 128
2 MELIANA 134489 20/01/1964 73 P 1,4
3 MOONA CHADER 134489 03/02/1971 57 P 3,2
4 IRNAWATI 134662 15/02/1969 50 P 1,8
5 DEWI PUSPITA 115322 07/09/1970 52 P 1,2
6 SALMIDAR 52201 19/09/1970 51 P 116
7 ISNEL DWI 67495 16/12/1984 51 P 126
8 RUWAIDA 4754 12/08/1952 37 P 136
9 ZULKIFLI 44156 22/07/1963 69 P 3,0
10 TETNI 2085 09/11/1978 58 L 78
11 OPIDAHLIA 134488 20/08/1988 43 P 1
12 ZULFIKRI 135013 23/03/1965 33 P 1
13 HARDY HANUM 135250 01/01/1958 56 L 75
14 TASNIDAR 135304 03/08/1962 63 L 3
15 SARBIAH 135305 01/02/1950 59 P 2
16 JUMIONO 135479 13/06/1968 51 P 4,7
17 NURSAL NURDIN 106727 23/11/1953 53 L 91
18 DESI HARTATI 60974 27/12/1973 68 L 68
19 HABIZAR 136053 05/02/1962 48 P 109
20 ZAINAL HABIDIN 16389 06/07/1972 9 L 67
21 APRI ANGGRAINI 136047 12/04/1949 49 L 6
22 ASPENDI 36073 06/07/1973 72 L 65
23 ROSLAN 136295 27/02/1973 48 L 138
24 SUWARDI 130541 27/11/1962 48 L 97
25 DARDANELI 25727 07/06/1952 9 L 59
26 DEVI ASMITA 136482 27/07/1970 69 P 10
27 DESWITA 136433 11/12/1968 51 P 1,4
28 KATUTI 136574 14/02/1978 53 P 92
29 YONEDI 136574 01/04/1974 43 P 1,7
30 JASNAWATI 137090 02/07/1965 47 L 28
31 YULIOVA 119723 11/07/1982 56 P 3,0
32 SAMSIAR 137139 23/06/1967 39 P 2,7
33 NOVITA DARWIN 60402 10/11/1971 54 P 11
34 RENITA 137150 24/09/1960 50 P 29
35 AIDIL FITRI 137183 31/12/1948 61 P 178
36 HARI GUSTIANTO 137298 15/02/1973 73 L 26
37 ELEN 31736 23/09/1970 48 L 81
38 ZUMIATY 137806 26/06/1951 51 P 82,7
70 P
DAFTAR PUSTAKA Malle, L., Moreira, A., Park, M. D., Pia, L.,
Risson, E., Saffern, M., Salomé, B., Esai
1. Phelan AL, Katz R, Gostin LO. The novel Selvan, M., Spindler, M. P., Tan, J., van der
coronavirus originating in Wuhan China: Heide, V., Gregory, J. K., Laserson, U. 2020.
challenges for global health governance. Immunology of COVID-19: Current State of
JAMA 2020; 323 (8): 709–10. the Science. Immunity, 52(6), 910-941.
(https://doi.org/10.1016/j.immuni.2020.05.002
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. , Diakses pada tanggal 15 Juli 2020.
2020. Pedoman Pencegahan dan
Pengendalian Coronavirus Disease (COVID- 6. Wang, L. 2020. C-reactive protein levels in
19) Revisi Ke-5. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta, hal. 89-112. the early stage of COVID-19. Med. Mal.
Infect. 50(4), 332–334.
(https://doi.org/10.1016/j.medmal.2020.03.00
3. WHO. Novel coronavirus disease named 7, Diakses pada tanggal 15 Juli 2020).
COVID-19.Available at:
https://www.who.int/emergencies/diseases/n 7. Yuki, K., Fujiogi, M., & Koutsogiannaki, S.
2020. COVID-19 pathophysiology : A review.
ovel-coronavirus-2019/events-as-they- Clin. Immunol. 21
(https://doi.org/10.1016/j.clim.2020.108427,
happen. Accessed 1 Mar 2020. Diakes pada tanggal 12 Juli 2020).58
4. Tang, Y., Schmitz, J. E., Persing, D. H., & 8. Wang D, Hu B, Hu C, et al. Clinical
Stratton, C. W. 2020. Laboratory Diagnosis characteristics of 138 hospitalized patients
of COVID-19: Current Issues and with 2019 novel coronavirus-infected
Challenges. J. Clin. Microbiol. 58(6), 1–9. pneumonia in Wuhan, China. JAMA 2020;
(https://doi.org/10 .1128/JCM.00512-20, 323(11): 1061-1069
Diakses pada tanggal 17Juli 2020).57
5. Vabret, N., Britton, G. J., Gruber, C., Hegde,
S., Kim, J., Kuksin, M., Levantovsky, R.,
DISCORDANCE BETWEEN CLINICAL STATUS AND CHEST X-RAY(CXR) INCOVID-19
PATIENTWITHASYMPTOMATIC TRANSMISSIONIN JAKARTA
Erlina Burhan1, Heidy Agustin1, Agus D. Susanto1, Ibrahim Dharmawan2, Markus Meyer2, Rita
Rogayah1
1 Department of Pulmonology, Faculty of Medicine Universitas Indonesia - Persahabatan Hospital, Jakarta,
Indonesia.
2 Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia.
Corresponding Author:
Erlina Burhan, MD., PhD. Department of Pulmonology, Faculty of Medicine Universitas Indonesia - Persahabatan
Hospital. Jl. Persahabatan Raya No.1 Jakarta 13230, Indonesia. Email: [email protected].
Figure 1. Series of CXRs starting from day 1 up to 7 of hospitalization. CXRs at day 1 (1), day 3 (2), day 4
(3), day 5 (4), day 6 (5), and at day 7 of hospitalization (6), each. According to the CXRs, the patient’s
pneumonia and infiltration improved.
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) symptoms COVID-19 and whether its pneumonia follow the
are highly various in each patient. Patients with pattern of pneumonia caused by other
COVID-19 may show severe symptoms with severe microorganism. Chest X-ray (CXR) is an affordable
pneumonia and ARDS, mild symptoms and simple radiology modality routinely used to
resembling simple upper respiration tract monitor patient with COVID-19. It is not known
infection, or even completely asymptomatic.1 whether CXR is useful for monitoring COVID-19
Few are known about the natural progression of patient. Male, 55 years-old, Mr. F, experienced
symptoms of respiratory disease. On the first day of CXR finding in this patient does not correlatewell with
symptoms, the patient developed fever of 38 oC, improvement of clinical condition. On the day 8 of
gradually followed by dry cough and sore throat. On symptoms (day 1 of hospitalization), CXR showed a
day 7 of symptoms, patient experienced mild wide bilateral infiltrate. However, patient only
dyspnea. The patient underwent CXR leading to the experienced mild dyspnea. CXR was conducted on
diagnosis of severe pneumonia. Hence, the patient the first day of hospitalization and started improving
was admitted to emergency room at department of on day 2 and the following day. However, the patient
pulmonology of the Persahabatan Hospital, Jakarta, continued to clinically deteriorate as well as
on day 8 of symptoms (day 1of hospitalization). developed severe dyspnea requiring higher level of
oxygen therapy on day 4 of hospitalization. This
The patient had no history of contact with confirmed discordance between CXR finding and clinical
or presumed COVID-19 patients, nor any known status may be caused by cytokine storm leading to
travel history. Patient’s wife had close contact to acute respiratory distress syndrome (ARDS).3 It
confirmed COVID-19 patients. The wife was may also causedby fibrosis formation that develop at
reported to be healthy with no symptoms. However, the late stage of COVID-19 infection.4Asymptomatic
she refused to be tested for COVID-19. transmission is possible in COVID-19. Clinician
attending COVID-19 patient must rely on monitoring
During 8 days of hospitalization, the patientreceived the clinical presentation of the patient and not solely
CXR daily. (Figure 1) There was a gradual on CXRimprovement.
improvement of lung lesion seen on CXR starting
from the first day of hospitalization. However, patient ACKNOWLEDGMENTS
clinically deteriorate and suffered from severe COVID-19 Commando Team Persahabatan
dyspnea on the fourth dayof hospitalization. General Hospital
The patient required oxygen therapy deliveredthrough
high flow nasal canule and Optiflow. In addition, the REFERENCES
patient was treated with Oseltamivir 2 x 75 mg, 1. Q&A on coronaviruses (COVID-19)
chloroquin 2 x 500 mg, Levofloxacin 1 x 750 mg,
Vitamin C 2 x 1000 mg, Vitamin B11 x 100 mg, [Internet].[cited 2020 Apr 3]. Available from:
Vitamin B6 1 x 100 mg, and VitaminB12 1 x 200 mcg. https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-
The patient was discharged after 15 days of acoronaviruses.
hospitalization following two negative RT-PCR 2. Ye F, Xu S, Rong Z, et al. Delivery of infection
COVID-19 tests. It is important to note that COVID- from asymptomatic carriers of COVID-19 in a
19 are highly variable. Patients may show severe or familial cluster. Int J Infect Dis. 2020 May;
mild symptoms, or just be asymptomatic.2Ye, et 94:133–8.
al. 2 reported about case series including a 3. Xie P, Ma W, Tang H, Liu D. Severe COVID-19:
familial cluster with asymptomatic transmission. In A review of recent progress with a look toward the
our study, patient never had contact with COVID-19 future. Front Public Health. 2020; 8: 189.
patient. In this case, wife might acted as 4. Ye Z, Zhang Y, Wang Y, Huang Z, Song B.
asymptomatic carrierfor our patient. Chest CT manifestations of new coronavirus
disease 2019 (COVID-19): a pictorial review.
Eur Radiol. 2020; 19: 1–9.
PENYAKIT VIRUS CORONA 2019
Diah Handayani, Dwi Rendra Hadi, Fathiyah Isbaniah, Erlina Burhan, Heidy Agustin
Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,Rumah
Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta
Abstrak
Penyakit virus corona 2019 (corona virus disease/COVID-19) sebuah nama baru yang diberikan oleh Wolrd Health
Organization (WHO) bagi pasien dengan infeksi virus novel corona 2019 yang pertama kali dilaporkan dari kota Wuhan, Cina
pada akhir 2019. Penyebaran terjadi secara cepat dan membuat ancaman pandemi baru. Pada tanggal 10 Januari 2020,
etiologi penyakit ini diketahui pasti yaitu termasuk dalam virus ribonucleid acid (RNA) yaitu virus corona jenis baru,
betacorona virus dan satu kelompok dengan virus corona penyebab severe acute respiratory syndrome (SARS) dan middle
east respiratory syndrome (MERS CoV). Diagnosis ditegakkan dengan risiko perjalanan dari Wuhanatau negara terjangkit
dalam kurun waktu 14 hari disertai gejala infeksi saluran napas atas atau bawah, disertai bukti laboratorium pemeriksaanreal
time polymerase chain reaction (RT-PCR) COVID-19. Wolrd Health Organization membagi penyakit COVID-19 atas kasus
terduga (suspect), probable dan confirmed, sedangkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI)
mengklasifikasikan menjadi orangdalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), orang tanpa gejala (OTG)
dan pasien terkonfirmasi bila didapatkan hasil RT- PCR COVID-19 positif dengan gejala apapun. Bahan pemeriksaan dapat
berupa swab tenggorok, sputum dan bronchoalveolar lavage (BAL).Hingga saat ini belum ada antivirus dan vaksin spesifik
sehingga diberikan terapi suportif sesuai dengan derajat penyakit. Penyebaran penyakitdiketahui melalui droplet dan kontak
dengan droplet. Prognosis pasien sesuai derajat penyakit, derajat ringan berupa infeksi saluran napas atas umumnya
prognosis baik, tetapi bila terdapat acute respiratory distress syndrome (ARDS) prognosis menjadi buruk terutama bila
disertaikomorbid, usia lanjut dan mempunyai riwayat penyakit paru sebelumnya. Pencegahan utama sekaligus tata laksana
adalah isolasi kasus untuk pengendalian penyebaran. Masih diperlukan berbagai riset untuk mengatasi ancaman pandemi
virus baru ini. (J Respir Indo. 2020; 40(2): 119-29)
Kata kunci: COVID-19, pandemi, SARS-CoV-2
CORONA VIRUS DISEASE 2019
Abstract
Corona virus disease 2019 (COVID-19) is a new name given by World Health Organization (WHO) of 2019 novel corona virus
infection, reportedat the end of 2019 from Wuhan, Cina. The spread of infection occurs rapidly and creates a new pandemic
threat. Etiology of COVID-19 was identified in 10 January 2020, a betacorona virus, similar with severe acute respiratory
syndrome (SARS) and middle east respiratory syndrome(MERS CoV). The clue diagnosis pathway of COVID-19 were history
of travel from Wuhan or others infected countries within 14 days prior, and symptoms of acute respiratory illness (ARI) or
lower respiratory infection (pneumonia) with the result of real time polymerase chain reaction (RT-PCR) specific for COVID-
19. The WHO classified COVID-19 into suspect case, probable case and confirmed case. Indonesia Ministry of Health
classified the case into in monitoring (ODP), patient under surveillance (PDP), people without symptom (OTG) and
confirmed case. Specimens for detection COVID-19 could be acquired from nasal and nasopharynx swab, sputum and
another lower respiratory aspirate including broncoalveolar lavage (BAL). Management of COVID-19 consist of isolation and
infection control, supportive treatment according to the disease severity which could be mild (acute respiratory infection) to
severe pneumonia or acute respiratory distress syndrome (ARDS). Disease transmission is via droplets and contact with
droplets. Currently, there is no antiviral and vaccine. Prevention is very important for this disease by limitation of
transmission, identification and isolate patients. Prognosis is determined by severity of the disease and patient comorbidity.
Information about this novel disease remains very few, studies are still ongoing and is needing further research to fight with
this new virus. (J Respir Indo. 2020; 40(2): 119-29)
Keywords: COVID-19, pandemic, SARS-CoV-2
PENDAHULUAN pasien tanpa ada riwayat berpergian ke pasar
Di awal tahun 2020 ini, dunia dikagetkan dengan yang sudah ditutup.2-6Laporan lain menunjukkan
kejadian infeksi berat dengan penyebab yang penularan pada pendamping wisatawan Cina
belum diketahui, yang berawal dari laporan dari yang berkunjung ke Jepang disertai bukti lain
Cina kepada World Health Organization (WHO) terdapat penularan pada kontak serumah pasien
terdapatnya 44 pasien pneumonia yang berat di di luar Cina dari pasien terkonfirmasi dan pergi
suatu wilayah yaitu Kota Wuhan, Provinsi Hubei, ke Kota Wuhan kepada pasangannya di
China, tepatnya di hari terakhir tahun 2019 Cina. Amerika Serikat. Penularan langsung antar
Dugaan awal hal ini terkait dengan pasar basah manusia (human to human transmission) ini
yang menjual ikan, hewan laut dan berbagai menimbulkan peningkatan jumlah kasus yang
hewan lain. Pada 10 Januari 2020 penyebabnya luar biasa hingga pada akhir Januari 2020
mulai teridentifikasi dan didapatkan kode didapatkan peningkatan 2000 kasus
genetiknya yaitu virus corona baru. terkonfirmasi dalam 24 jam.
Penelitian selanjutnya menunjukkan hubungan Pada akhir Januari 2020 WHO menetapkan
yang dekat dengan virus corona penyebab status Global Emergency pada kasus virus
Severe Acute Respitatory Syndrome (SARS) Corona ini dan pada 11 Februari 2020 WHO
yang mewabah di Hongkong pada tahun 2003,1 menamakannya sebagai COVID-19.2-6 Gambar
hingga WHO menamakannya sebagai novel 1 menunjukkan alur waktu kejadian virus corona
corona virus (nCoV- 19).2 Tidak lama kemudian di dunia. Informasi tentang virus ini tentunya
mulai muncul laporan dari provinsi lain di Cina masih sangat terbatas karena banyak hal masih
bahkan di luar Cina, pada orang- orang dengan dalam penelitian dan data epidemiologi akan
riwayat perjalanan dari Kota Wuhan dan Cina sangat berkembang juga, untuk itu tinjauan ini
yaitu Korea Selatan, Jepang, Thailand, Amerika merupakan tinjauan berdasarkan informasi
Serikat, Makau, Hongkong, Singapura, Malaysia terbatas yang dirangkum dengan tujuan untuk
hingga total 25 negara termasuk Prancis, memberi informasi dan sangat mungkin akan
Jerman, Uni Emirat Arab, Vietnam dan terdapat perubahan kebijakan dan hal terkait
Kamboja. Ancaman pandemik semakin besar lainnya sesuai perkembangan hasil penelitian,
ketika berbagai kasus menunjukkan penularan data epidemiologi dan kemajuan diagnosis dan
antar manusia (human to human transmission) terapi.2-6
pada dokter dan petugas medis yang merawat
Gambar 1. Alur waktu kejadian virus Corona3,5,7
Gambar 2. Evaluasi filogenetik COVID-19 dengan berbagai virus corona9
EPIDEMIOLOGI 66 tahun (57-78 tahun) dibandingkan rawat non-
Hingga 28 Maret 2020, jumlah kasus infeksi ICU (37-62 tahun) dan 54,3% laki-laki. Laporan
COVID-19 terkonfirmasi mencapai 571.678 13 pasien terkonfirmasi COVID-19 di luar Kota
kasus. Awalnya kasus terbanyak terdapat di Wuhan menunjukkan umur lebih muda dengan
Cina, namun saat ini kasus terbanyak terdapat median 34 tahun (34-48 tahun) dan 77% laki
di Italia dengan 86.498 kasus, diikut oleh laki.8,9
Amerika dengan 85.228 kasus dan Cina 82.230
kasus. Virus ini telah menyebar hingga ke 199 ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
negara. Kematian akibat virus ini telah mencapai Patogenesis infeksi COVID-19 belum diketahui
26.494 kasus. Tingkat kematian akibat penyakit seutuhnya. Pada awalnya diketahui virus ini
ini mencapai 4-5% dengan kematian terbanyak mungkin memiliki kesamaan dengan SARS dan
terjadi pada kelompok usia di atas 65 tahun. MERS CoV, tetapi dari hasil evaluasi genomik
Indonesia melaporkan kasus pertama pada 2 isolasi dari 10 pasien, didapatkan kesamaan
Maret 2020, yang diduga tertular dari orang mencapai 99% yang menunjukkan suatu virus
asing yang berkunjung ke Indonesia. Kasus di baru, dan menunjukkan kesamaan (identik 88%)
Indonesia pun terus bertambah, hingga tanggal dengan bat- derived severe acute respiratory
29 Maret 2020 telah terdapat 1.115 kasus syndrome (SARS)- like coronaviruses, bat-SL-
dengan kematian mencapai 102 jiwa. Tingkat CoVZC45 dan bat-SL- CoVZXC21, yang diambil
kematian Indonesia 9%, termasuk angka pada tahun 2018 di Zhoushan, Cina bagian
kematian tertinggi.8 Berdasarkan data yang ada Timur, kedekatan dengan SARS-CoV adalah
umur pasien yangterinfeksi COVID-19 mulai dari 79% dan lebih jauh lagi dengan MERS-CoV
usia 30 hari hingga 89 tahun. Menurut laporan (50%). Gambar 2 menunjukkan evaluasi
138 kasus di Kota Wuhan, didapatkan rentang filogenetik COVID-19 dengan berbagai virus
usia 37–78 tahun dengan rerata 56 tahun (42-68 corona.Analisis filogenetik menunjukkan COVID-
tahun) tetapi pasien rawat ICU lebih tua (median 19 merupakan bagian dari subgenus
Sarbecovirus dan genus Betacoronavirus.9 menunjukkan penularan antar manusia (human
Penelitian lain menunjukkan protein (S) to human), yaitu diprediksi melalui droplet dan
memfasilitasi masuknya virus corona ke dalam kontak dengan virus yang dikeluarkan dalam
sel target. Proses ini bergantung pada droplet. Hal ini sesuai dengan kejadian
pengikatan protein S ke reseptor selular dan penularan kepada petugas kesehatan yang
priming protein S ke protease selular. Penelitian merawat pasien COVID-19, disertai bukti lain
hingga saat ini menunjukkan kemungkinan penularan di luar Cina dari seorang yang datang
proses masuknya COVID-19 ke dalam sel mirip dari Kota Shanghai, Cina ke Jerman dandiiringi
dengan SARS.4 Hai ini didasarkan pada penemuan hasil positif pada orang yang ditemui
kesamaan struktur 76% antara SARS dan dalam kantor. Pada laporan kasus ini bahkan
COVID-19. Sehingga diperkirakan virus ini dikatakan penularan terjadi pada saat kasus
menarget Angiotensin Converting Enzyme 2 indeks belum mengalami gejala (asimtomatik)
(ACE2) sebagai reseptor masuk dan atau masih dalam masa inkubasi. Laporan lain
menggunakan serine protease TMPRSS2 untuk mendukung penularan antar manusia adalah
priming S protein, meskipun hal ini masih laporan 9 kasus penularan langsung antar
membutuhkan penelitian lebih lanjut4,10 manusia di luar Cina dari kasus index ke orang
kontak erat yang tidak memiliki riwayat
Proses imunologik dari host selanjutnya belum perjalanan manapun.2,11 Penularan ini terjadi
banyak diketahui. Dari data kasus yang ada, umumnya melalui droplet dan kontak dengan
pemeriksaan sitokin yang berperan pada ARDS virus kemudian virus dapat masuk ke dalam
menunjukkan hasil terjadinya badai sitokin mukosa yang terbuka. Suatu analisis mencoba
(cytokine storms) seperti pada kondisi ARDS mengukur laju penularan berdasarkan masa
lainnya. Dari penelitian sejauh ini, ditemukan inkubasi, gejala dan durasi antaragejala dengan
beberapa sitokin dalam jumlah tinggi, yaitu: pasien yang diisolasi. Analisis tersebut
interleukin-1 beta (IL-1β), interferon-gamma mendapatkan hasil penularan dari 1 pasien ke
(IFN-γ), inducible protein/CXCL10 (IP10) dan sekitar 3 orang di sekitarnya, tetapi
monocyte chemoattractant protein 1 (MCP1) kemungkinan penularan di masa inkubasi
serta kemungkinan mengaktifkan T-helper-1 menyebabkan masa kontak pasien ke orang
(Th1).1,4 Selain sitokin tersebut, COVID-19 juga sekitar lebih lama sehingga risiko jumlah kontak
meningkatkan sitokin T-helper-2 (Th2) (misalnya, tertular dari 1 pasien mungkin dapat lebih
IL4 and IL10) yang mensupresi inflamasi besar6,11-13
berbeda dari SARS-CoV. Data lain juga
menunjukkan, pada pasien COVID-19 di ICU DEFINISI
ditemukan kadar granulocyte-colony stimulating Berdasarkan Panduan Surveilans Global WHO
factor (GCSF), IP10, MCP1, macrophage untuk novel Corona-virus 2019 (COVID-19) per
inflammatory proteins 1A (MIP1A) dan TNFα 20 Maret 2020, definisi infeksi COVID-19 ini
yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak diklasifikasikan sebagai berikut:14
memerlukan perawatan ICU. Hal ini 1. Kasus Terduga (suspect case)
mengindikasikan badai sitokin akibat infeksi
COVID-19 berkaitan dengan derajat keparahan a. Pasien dengan gangguan napas akut
penyakit.1,4 (demamdan setidaknya satu tanda/gejala
penyakit pernapasan, seperti batuk, sesak
PENULARAN napas), DAN riwayat perjalanan atau
Virus corona merupakan zoonosis, sehingga tinggal di daerah yang melaporkan
terdapat kemungkinkan virus berasal dari hewan penularan di komunitas dari penyakit
dan ditularkan ke manusia. Pada COVID-19 COVID-19 selama 14 hari sebelum onset
belum diketahui dengan pasti proses penularan gejala; atau
dari hewan ke manusia, tetapi data filogenetik
memungkinkan COVID-19 juga merupakan b. Pasien dengan gangguan napas akut
zoonosis. Perkembangan data selanjutnya DAN mempunyai kontak dengan kasus
terkonfirmasi atau probable COVID-19
dalam 14 hari terakhir sebelum onset;
atau 1. Pasien dalam Pengawasan (PdP)15,16
c. Pasien dengan gejala pernapasan berat a. Orang dengan Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) yaitu demam
(demam dan setidaknya satu tanda/gejala (≥38ºC) atau riwayat demam; disertai
penyakit pernapasan, seperti batuk, salah satu gejala/tanda penyakit
sesak napas DAN memerlukan rawat pernapasan seperti: batuk/sesak
inap) DAN tidak adanya alternatif nafas/sakit tenggorokan/pilek/pneumonia
diagnosis lain yang secara lengkap dapat ringan hingga berat DAN tidak ada
menjelaskan presentasiklinis tersebut. penyebab lain berdasarkan gambaran
klinis yang meyakinkan DAN pada 14 hari
2. Kasus probable (probable case) terakhir sebelum timbul gejala memiliki
a. Kasus terduga yang hasil tes dari COVID- riwayat perjalanan atau tinggal di
19 inkonklusif; atau negara/wilayah yangmelaporkan transmisi
b. Kasus terduga yang hasil tesnya tidak lokal.
dapat dikerjakan karena alasan apapun. b. Orang dengan demam (≥38ºC) atau
riwayat demam atau ISPA DAN pada 14
3. Kasus terkonfirmasi yaitu pasien dengan hari terakhir sebelum timbul gejala
hasil pemeriksaan laboratorium infeksi memiliki riwayat kontak dengan kasus
COVID-19 positif, terlepas dari ada atau konfirmasi COVID-19.
tidaknya gejala dantanda klinis. c. Orang dengan ISPA berat/pneumonia
berat yang membutuhkan perawatan di
Kontak adalah orang yang mengalami satu dari rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain
kejadian di bawah ini selama 2 hari sebelum dan berdasarkan gambaran klinis yang
14 hari setelah onset gejala dari kasus probable meyakinkan.
atau kasus terkonfirmasi
1. Kontak tatap muka dengan kasus probable 2. Orang dalam Pemantauan (OdP)16
a. Orang yang mengalami demam (≥38ºC)
atau terkonfirmasi dalam radius 1 meter dan atau riwayat demam; atau gejala
lebih dari15 menit; gangguan sistem pernapasan seperti
2. Kontak fisik langsung dengan kasus pilek/sakit tenggorokan/batuk DAN tidak
probable atau terkonfirmasi; ada penyebab lain berdasarkan
3. Merawat langsung pasien probable atau gambaran klinis yang meyakinkan DAN
terkonfirmasi penyakit Covid-19 tanpa pada 14 hari terakhir sebelum timbul
menggunakan alat pelindung diri yang gejala memiliki riwayat perjalanan atau
sesuai;atau tinggal di negara/wilayah yangmelaporkan
4. Situasi lain sesuai indikasi penilaian lokasi transmisi lokal.
lokal. b. Orang yang mengalami gejala gangguan
sistem pernapasan seperti pilek/sakit
Klasifikasi infeksi COVID-19 di Indonesia saatini tenggorokan/batuk DAN pada 14 hari
didasarkan pada buku panduan tata laksana terakhir sebelum timbul gejala memiliki
pneumonia COVID-19 Kementerian Kesehatan riwayat kontak dengan kasus konfirmasi
Republik Indonesia (Kemenkes RI). Terdapat COVID-19.
sedikitperbedaan dengan klasifikasi WHO, yaitu
kasus suspek disebut dengan Pasien dalam 3. Orang Tanpa Gejala (OTG)16
Pengawasan (PdP) dan ada penambahan Seseorang yang tidak bergejala dan memiliki
Orang dalam Pemantauan (OdP). Istilah kasus risiko tertular dari orang konfirmasi COVID-
probable yang sebelumnya ada di panduan 19. Orang tanpa gejala merupakanseseorang
Kemenkes RI dan ada pada panduan WHO saat dengan riwayat kontak erat dengan kasus
ini sudah tidak ada. Berikut klasifikasi menurut konfirmasi COVID-19. Kontak Erat adalah
buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian seseorang yang melakukan kontak fisik atau
Coronavirus Disesase (COVID-19) per 27 Maret berada dalam ruangan atau berkunjung
202014-16 (dalam radius 1 meter dengan kasus pasien
dalam pengawasan atau konfirmasi) dalam 2 dan hingga 14 hari setelah kasus timbul
hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga gejala.
14 hari setelah kasus timbul gejala. c. Orang yang bepergian bersama (radius 1
Termasuk kontak erat adalah: meter) dengan segala jenis alat
a. Petugas kesehatan yang memeriksa, angkut/kendaraan dalam 2 hari sebelum
kasus timbul gejala dan hingga 14 hari
merawat, mengantar dan membersihkan setelah kasus timbul gejala.
ruangan di tempat perawatan kasus tanpa
menggunakan alat pelindung diri (APD) 4. Kasus Konfirmasi16
sesuai standar. Pasien yang terinfeksi COVID-19 dengan
b. Orang yang berada dalam suatu ruangan hasil pemeriksaan tes positif melalui
yang sama dengan kasus (termasuk pemeriksaan polymerase chain reaction
tempat kerja, kelas, rumah, acara besar) (PCR).
dalam 2 hari sebelum kasus timbul gejala
DIAGNOSIS dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 disertai
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, gejala klinis dan komorbid.15,17 Gejala klinis
pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang. bervariasi tergantung derajat penyakit tetapi
Anamnesis terutama gambaran riwayat gejala yang utama adalah demam, batuk,
perjalanan atau riwayat kontak erat dengan mialgia, sesak, sakit kepala, diare, mual dan
kasus terkonfirmasi atau bekerja di fasyankes nyeri abdomen. Gejala yang paling sering
yang merawat pasien infeksi COVID-19 atau ditemui hingga saat ini adalah demam (98%),
berada dalam satu rumah atau lingkungan batuk dan mialgia.15,18,19
Atas
Bawah
Gambar 3. Hasil CT scan toraks pasien di Kota Wuhan denganCOVID-1919
Ket:
atas = CT scan pada hari ke-5 perawatan
bawah = gambaran CT scan toraks pada hari ke-19 sejak onset dan diberikan terapi menggunakan
extra kondisi21corporeal membrane oxygenation (ECMO)
Gambar 4. Hasil radiologi pasien positif COVID-19 di luarkota Wuhan dengan berbagai kondisi21
Ket:
A= Foto toraks pada pasien 69 tahun, opasitas meningkatsedikit pada lobus bawah
B=Foto toraks normal pada pasien perempuan 32 tahun C=CT scan perempuan 49 tahun, dengan
gambaran groundglass opacity bilateral
D=Pasien laki-laki 34 tahun dengan hasil CT scan toraksnormal.
Pemeriksaan penunjang lain sesuai dengan derajat morbiditas. Pada pneumonia dilakukan foto toraks,
bisa dilanjutkan dengan computed tomography scan (CT scan) toraks dengan kontras. Gambaran foto
toraks pneumonia yang disebabkan oleh infeksi COVID-19 mulai dari normal hingga ground glass
opacity, konsolidasi. CT scan toraks dapat dilakukan untuk melihat lebih detail kelainan, seperti
gambaran ground glass opacity, konsolidasi, efusi pleura dan gambaran pneumonia lainnya.
Gambar 5. Alur tatalaksana dan rujukan pada pasien curiga infeksi COVID-19.15
Gambar 3 menunjukkan hasil CT scan toraks banding. Identifikasi COVID-19 yang dilakukan
pasien di Kota Wuhan dengan COVID-19 dan
Gambar 4 menunjukkan hasil radiologi pasien pertama adalah pemeriksaan pan corona, yaitu
positif COVID-19 di luar kota Wuhan dengan
berbagai kondisi. Pemeriksaan laboratorium termasuk HCoV-229E, HCoV-NL63, HCoV-
dapat dilakukan untuk membantu membedakan
infeksi virus. Evaluasi 99 kasus pertama HKU1 dan HCoV-OC43, kemudian dilakukan
menunjukkan gambaran limfopenia, peningkatan
c-reactive protein (CRP) meningkat, kadang pemeriksaan spesifik SARS-CoV-2.22
disertai anemia, leukopenia seperti pada infeksi
virus.15,18-20 Pemeriksaan ulang perlu dilakukan untuk
Pemeriksaan prokalsitonin(PCT)menunjukkan menentukan respons terapi seiring proses
hasil normal kecuali bila dicurigai terjadinya
infeksi bakteri maka PCT akan meningkat. perbaikanklinis. Bila didapatkan perbaikan klinis
Pemeriksaan lain dilakukan untuk melihat
komorbid dan evaluasi kemungkinan komplikasi dan hasil RT- PCR negatif 2 kali berturut turut
pneumonia yaitu fungsi ginjal, fungsi hati,
albumin serta analisis gas darah (AGD), dalam 2-4 hari negatif pasien dinyatakan
elektrolit, gula darah dan biakan kuman dan uji
kepekaan untuk melihat kemungkinanpenyebab sembuh.15
bakteri atau bila dicurigai terjadi infeksi ganda
dengan infeksi bakteri.15,17,18,20 TATA LAKSANA
Prinsip tatalaksana secara keseluruhan menurut
Diagnosis pasti atau kasus terkonfirmasi rekomendasi WHO yaitu: Triase : identifikasi
ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan pasien segera dan pisahkan pasien dengan
ekstraksi RNA virus severe acute respiratory severe acute respiratory infection (SARI) dan
syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID- dilakukan dengan memperhatikan prinsip
19 menggunakan reverse transcription pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI)
polymerase chain reaction (RT-PCR) untuk yang sesuai, terapi suportif dan monitor pasien,
mengekstraksi 2 gen SARS-CoV-2. Contoh uji pengambilan contoh uji untuk diagnosis
yang dapat digunakan adalah dari sampel laboratorium, tata laksana secepatnya pasien
berupa swab tenggorok. Swab nasofaring baik dengan hipoksemia atau gagal nafas dan acute
untuk evaluasi influenza tetapi untukvirus corona respiratory distress syndrome (ARDS), syok
lain swab nasofaring yang diambil sepsis dan kondisi kritis lainnya.20
menggunakan swab dari dacron atau rayon
bukan kapas.22 Hingga saat ini tidak ada terapi spesifik anti
Contoh uji dari saluran napas bawah lebih baik virus nCoV 2019 dan anti virus corona lainnya.
dari pada yang diambil dari saluran napas atas Beberapa peneliti membuat hipotesis
terutama pada pasien dengan pneumonia, penggunaan baricitinib, suatu inhibitor janus
berupa sputum, aspirat trakea dan kinase dan regulator endositosis sehingga
bronchoalveolar lavage (BAL) dengan masuknya virus ke dalam sel terutama sel epitel
memperhatikan pengendalian infeksi dan APD. alveolar. Pengembangan lain adalah
Bila pasien menggunakan ventilasi mekanis penggunaan rendesivir yang diketahui memiliki
dianjurkan untuk memprioritaskan contoh uji dari efek antivirus RNA dan kombinasi klorokuin,
saluran napas bawah. Kelebihan contoh uji dari tetapi keduanya belum mendapatkan hasil.
saluran napas bawah dapat digunakan juga Vaksinasijuga belum ada sehingga tata laksana
untuk memeriksa biakan mikroorganisme dan utama pada pasien adalah terapi suportif
jamur yang mungkin menyertai atau diagnosis disesuaikan kondisi pasien, terapi cairan
adekuat sesuai kebutuhan, terapi oksigen yang
sesuai derajat penyakit mulai dari penggunaan
kanul oksigen, masker oksigen. Bila dicurigai
terjadi infeksi ganda diberikan antibiotika
spektrum luas. Bila terdapat perburukkan klinis
atau penurunan kesadaran pasien akan dirawat
di ruang isolasi intensif (ICU) di rumah sakit
rujukan dengan alur seperti algoritma di bawah
ini.15,20,23-25 Berdasarkan derajat penyakit maka
COVID-19 dapat dilihat pada Tabel 1.
Salah satu yang harus diperhatikan pada tata pertumbuhan virus, sehingga pasien tidak lagi
laksana adalah pengendalian komorbid. Dari menjadi sumber infeksi. Upaya pencegahan
gambaran klinis pasien COVID-19 diketahui yang penting termasuk berhenti merokok untuk
komorbid berhubungan dengan morbiditas dan mencegah kelainan parenkim paru.
mortalitas. Komorbid yang diketahui 11,15,22Pencegahan pada petugas kesehatan
berhubungan dengan luaran pasien adalah usia juga harus dilakukan dengan cara
lanjut, hipertensi, diabetes, penyakit memperhatikan penempatan pasien di ruang
kardiovaskular dan penyakit serebrovaskular18,19 rawat atau ruang intensif isolasi. Pengendalian
infeksi di tempat layanan kesehatan pasien
PENCEGAHAN terduga di ruang instalasi gawat darurat (IGD)
Pencegahan utama adalah membatasi isolasi serta mengatur alur pasien masuk dan
mobilisasi orang yang berisiko hingga masa keluar. Pencegahan terhadap petugas
inkubasi.Pencegahan lain adalah meningkatkan kesehatan dimulai dari pintu pertama pasien
daya tahan tubuh melalui asupan makanan termasuk triase.
sehat, meperbanyak cuci tangan, menggunakan
masker bila berada di daerah berisiko atau Pada pasien yang mungkin mengalami infeksi
padat, melakukan olah raga, istirahat cukup COVID-19 petugas kesehatan perlu
serta makan makanan yang dimasak hingga menggunakan APD standar untuk penyakit
matang dan bila sakit segera berobat ke RS menular. Kewaspadaan standar dilakukan rutin,
rujukan untuk dievaluasi.11,15,22 menggunakan APD termasuk masker untuk
Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk tenaga medis (N95), proteksi mata, sarung
pencegahan primer. Pencegahan sekunder tangan dan gaung panjang (grown).11,15,20,22,26
adalah segera menghentikan proses
bergantung pada derajat penyakit, ada tidaknya
PROGNOSIS komorbid dan faktor usia.
Hingga saat ini mortalitas mencapai 2% tetapi
jumlah kasus berat mencapai 10%. Prognosis KESIMPULAN
Infeksi COVID-19 yang disebabkan viruscorona
baru merupakan suatu pandemik baru dengan
penyebaran antar manusia yang sangat cepat.
Derajat penyakit dapat bervariasi dari infeksi
saluran napas atas hingga ARDS. Diagnosis
ditegakkan dengan RT-PCR, hingga saat ini
belum ada terapi antivirus khusus dan belum
ditemukan vaksin untuk COVID-19. Diperlukan
pengembanganmengenai berbagai hal termasuk
pencegahan di seluruh dunia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ceraolo C, Giorgi FM. Genomic variance of
the 2019‐nCoV coronavirus. J Med Virol.
2020;92:522–8.
2. Zhou P, Yang X, Wang X, et al. A pneumonia
outbreak associated with a new coronavirus
of probable bat origin. Nature 579. 2020;270–
3.
3. Gralinski LE, Menachery VD. Return of the 9. Lu R, Zhao X, Li J, Niu P, Yang B, Wu H, et
Coronavirus: 2019-nCoV. Viruses. al. Genomic characterisation and
2020;12:135. epidemiology of 2019 novel coronavirus:
implications for virus origins and receptor
binding. Lancet. 2020; 395;565-74.
4. Hoffmann M, Kleine-Weber H, Krüger N, 10.Gao K, Nguyen DD, Wang R, Wei G.
Müller M, Drosten C, Pöhlmann S. The novel Machineintelligence design of 2019-
coronavirus 2019 (2019-nCoV) uses the nCoV drugs. bioRxiv. [PrePrint] 2020. [cited
SARS-coronavirus receptor ACE2 and the 14 February 2020]. Available from:
cellular protease TMPRSS2 for entry into https://www.biorxiv.org/content/10.1101/2020
target cells. bioRxiv. [PrePrint] 2020. [cited .0 1.30.927889v1.full.pdf+html
14 February 2020].
Available from: 11.Liu T, Hu J, Kang M, Lin L, Zhong H, Xiao J,
https://doi.org/10.1101/2020.01.31.929042 et al. Transmission dynamics of 2019 novel
coronavirus (2019-nCoV). bioRxiv. [Preprint]
5. World Health Organization. Novel 2020. [cited 14 February 2020] Available
from:
Coronavirus (COVID-19) Situation Report - https://doi.org/10.1101/2020.01.25.919787.
25. [Internet]. 2020 [cited 14 February
2020].
Available from:
https://www.who.int/docs/default- 12.Chan JF-W, Yuan S, Kok K-H, To KK-W, Chu
H, Yang J, et al. A familial cluster of
source/coronaviruse/situation- pneumonia associated with the 2019 novel
coronavirus indicating person-to-person
reports/20200214-sitrep-25-covid- transmission: a study of a family cluster.
Lancet. 2020;395(10223):P514-23.
19.pdf?sfvrsn=61dda7d_2
6. Zhu N, Zhang D, Wang W, Li X, Yang B, 13.De Salazar PM, Niehus R, Taylor A, Buckee
Song J, et al. A novel coronavirus from
patients with pneumonia in China, 2019. N CO, Lipsitch M. Using predicted imports of
Engl J Med. 2020;382:727-33.
2019-nCoV cases to determine locations that
7. World Health Organization. Getting your may not be identifying all imported cases.
workplace ready for COVID-19. [Internet].
2020 [cited 3 March 2020] Available from: [PrePrint] 2020. [cited 14 February 2020].
https://www.who.int/docs/default-
source/coronaviruse/getting-workplace- Available from:
ready-for-covid-19.pdf
https://doi.org/10.1101/2020.02.04.20020495
8. World Health Organization. Coronavirus 14.World Health Organization. Global
surveillance for human infection with novel
disease2019 (COVID-19) Situation Report – Coronavirus (2019-nCoV). [Internet]. 2020
[cited 20 March2020].
68. [Internet]. 2020 [cited 28 March 2020] Available from:
https://www.who.int/publications/i/item/global-
Available from: surveillance-for-human-infection-with-novel-
coronavirus-(COVID-19)
https://www.who.int/emergencies/diseases/n
ov el-coronavirus-2019/situation-reports
15.Direktorat Jenderal Pencegahan dan https://covid19.kemkes.go.id/downloads/#.Xt
Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian va kWgzbIU [Accessed 30 January 2020]
Kesehatan RI. Pedoman Kesiapsiagaan
Menghadapi Infeksi Novel Coronavirus 16.Direktorat Jenderal Pencegahan dan
(2019- nCoV). Available from: Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian
Kesehatan RI. Pedoman Pencegahan dan
Pengendalian Coronavirus Disease (COVID- 2020;395:P473-5.
19) Revisi ke 3. [Internet] 2020. [cited 14
February2020]. 24.Richardson P, Griffin I, Tucker C, Smith D,
Available from: Oechsle O, Phelan A, et al. Baricitinib as
https://covid19.kemkes.go.id/downloads/#.Xt potential treatment for 2019-nCoV acute
va kWgzbIU respiratory disease. Lancet. 2020;395;E30-1.
17.World Health Organization. Laboratory 25.Wang M, Cao R, Zhang L, Yang X, Liu J, Xu
testing for 2019 novel coronavirus (2019- M, et al. Remdesivir and chloroquine
nCoV) in suspected human cases. [Internet]. effectively inhibit the recently emerged novel
2020 [cited 19 March 2020]. coronavirus (2019-nCoV) in vitro. Cell Res.
Available from: 2020;30:269-71.
https://www.who.int/publications/i/item/labora
tory-testing-for-2019-novel-coronavirus-in- 26.Siegel JD, Rhinehart E, Jackson M, Chiarello
suspected human-cases-20200117 L. 2007 Guideline for isolation precautions:
preventing transmission of infectious agents
18.Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, in health care settings. Am J Infect Control.
etal. Clinical features of patients infected with 2007;35:S65-S164.
2019 novel coronavirus in Wuhan, Cina.
Lancet.2020;395:497-506.
19.Wang D, Hu B, Hu C, Zhu F, Liu X, Zhang J,
et al. Clinical characteristics of 138
hospitalized patients with 2019 novel
coronavirus–infected pneumonia in Wuhan,
China. Jama. 2020;323:1061-9.
20.World Health Organization. Clinical
management of severe acute respiratory
infection when novel coronavirus (2019-
nCoV) infection is suspected. Geneva: WHO,
2020.
21.Chang D, Lin M, Wei L, Xie L, Zhu G, Dela
Cruz CS, et al. Epidemiologic and clinical
characteristics of novel coronavirus infections
involving 13 patients outside Wuhan, China.
J Am Med Assoc. 2020;323:1092-3.
22.World Health Organization. Infection
prevention and control during health care
when novel coronavirus (Ncov) infection is
suspected. [Internet] 2020. [cited 19 March
2020]. Available
from:https://www.who.int/publications/i/item/1
0665-331495
23.Russell CD, Millar JE, Baillie JK. Clinical
evidence does not support corticosteroid
treatment for 2019-nCoV lung injury. Lancet