4.2.1.c Ruang Rawat 4.2.2. Penggunaan Sitostatika berdasarkan
Penderita kanker yang menjalankan kemoterapi Golongan dan jenis
dapat berasal dari ruang rawat inap maupun dari 4.2.2.a Golongan Sitostatika
rawat jalan. 6 bulan pertama tahun 2020 dari Penggunaan obat yang tepat selalu disertai
hasil penelitian ini adalah terbanyak dari Rawat dengan ketepatan terhadap pasien dan juga
Inap dimana dari 1272 penderita, 798 penderita diagnosa penyakit atau indikasi. Pada penelitian
berasal dari rawat inap di RSUP Fatmawati, ini penggunaan sitostatika berdasarkan
yaitu sebesar 62,74 penderita. Selebihnya rawat karakteristik terbanyak adalah golongan
jalan. Dari semua ruangan rawat inap ruang Antimetabolit yaitu sebesar 1068 dari 3785
rawat di lantai 2 gedung Prof. Soelarto sitostatika yang digunakan, atau senilai 28,22%.
merupakan ruangan terbanyak pasien Golongan antimetabolit ini yang diberikan
kemoterapi. 181 penderita atau sebanyak selama 6 bulan terdiri dari analog asam folat
22,68%. dan analog pirimidin. Untuk analog
Pasien kanker yang masuk ruang perawatan antimetabolite pirimidin terdapat jenis sitostatika
terdapat dua alasan yaitu perbaikan kondisi yang terkumpul pada penelitian ini adalah
umum sehingga memungkinkan untuk Fluorouracil (5-FU) dan Gemcitabine. Jika dilihat
menerima kemoterapi sitostatika, dan alasan dari diagnosa terbanyak kanker payudara maka
kedua karena pemberian kemoterapi tidak peningkatan pasien kemoterapi dengan
cukup untuk dilakukan hanya satu hari, diagnosa kanker payudara akan mempengaruhi
sehingga pada hari berikutnya pasien masuk sitostatika bagi kanker payudara. Protokol
kembali ke dalam ruang kemoterapi. Perlakukan pemberian kemoterapi pada kanker payudara
ini tidak melihat jenis kelamin atau usia pasien. baik first line dengan CAF setiap 3 minggu,
Namun tergantung dari protokol pemberian ataupun CEF setiap 3 minggu dan CMF setiap 3
kemoterapi yang tergantung oleh atau 4 minggu selalu terdapat penggunaan 5-FU
penatalaksanaan terkait diagnosa penyakit. sebagai golongan antimetabolite. Oleh karena
Ruang rawat lantai 2 GPS diperuntukan pada itu golongan antimetabolite merupakan
pelayanan bedah dan kemoterapi. golongan sitostatika terbanyak.
4.2.1.d Diagnosa Penyakit Kanker 4.2.2.b Jenis Sitostatika
Hasil menunjukan bahwa diagnosa penyakit Sitostatika terbanyak adalah Fluorouracil (5-FU)
kanker terbanyak adalah kanker payudara sebesar 737 dari 3785 sediaan sitostatika yang
dengan besaran 644 dari 1272 sampel atau digunakan atau senilai 19,47%. Indikasi
senilai 50,63 %. Diagnosa ini sama dengan penggunaan Fluorouracil (5- FU) adalah sebagai
penderita kanker terbanyak di Indonesia yaitu antimetabolite analog pirimidin pada pengobatan
kanker payudara, disamping kanker serviks dan kanker Payudara, kolon, kepala dan leher,
paru. Di RSUP Fatmawati kanker serviks berada pancreas, rectum atau lambung. (Dominic A,
pada 9 diagnosa kanker terbanyak dengan DIH for Oncology, 2010) Jadi penggunaan
besaran 1,73%, sedangkan kanker paru pada Fluorouracil (5-FU) dapat diberikan pada
urutan ke 12 terbanyak yaitu 1,34% selama 6 indikasi selain kanker payudara juga. Pada
bulan pertama tahun 2020. Kanker payudara penelitian ini,penggunaan Fluorouracil (5- FU)
merupakan kondisi ketika sel kanker terbentuk sesuai dengan indikasi dan jenis kelamin.
di jaringan payudara baik di lubulus, atau di Mekanisme kerja dari Fluorouracil (5-FU)
saluran duktus, dapat pula pada jaringan lemak sebagai antimetabolit golongan pirimidin adalah
atau jaringan ikat dalam payudara. Pada kanker merubah bentuknya lebih dahulu secara
payudara sel-sel yang tumbuh tidak normal bertahap dari Fluorouracil (5-FU) menjadi
terasa seperti benjolan. Benjolan teraba jika metabolit aktif Fluorodeoxyuridine
ukurannya cukup besar, namun benjolan pada monophosphat (FdUMP), Fluorouridine
payudara belum berarti kanker oleh karena itu triophosphat (FUTP), serta Fluorodeoxyuridine
perlu disertakan pemeriksaan lebih lanjut.
triphosphat (FdUTP). Bentuk metabolit ini akan sitostatika terbanyak adalah Fluorouracil (5-FU)
merusak sintesis RNA dan menghambat kerja yaitu sebesar 19,47%
enzim timidilat sintase pada DNA, sehingga Hubungan karakteristik dan penggunaan
terjadi kegagalan sintesis DNA dari sel-sel sitostatika bahwa terdapat hubungan antara
kanker, dan kegagalan replikasi RNA sel-sel Jenis kelamin, usia dan indikasi penggunaan
kanker. (Zou B, et al, Clin Pharmacokinet, obat (diagnosa penyakit) dengan penggunaan
2016). sitostatika pada golongan maupun sitostatika.
4.2.3 Hubungan Karakteristik Penelitian 4.2 Saran
Penelitian terkait pelaksanaan kemoterapi
Dengan Penggunaan Sitostatika sangat bermanfaat mengingat masih jarangnya
literatur karena terbatasnya unit pelaksana yang
Berdasarkan Golongan Dan Jenis melaksanakan pemberian sitostatika. Oleh
karena itu, disarankan terdapat penelitian
Hubungan antar karakteristik dengan lanjutan dimana dapat dilakukan : Perlu analisa
lebih lanjut hubungan penggunaan obat dengan
penggunaan obat dilakukan menggunakan grafil diagnosa penyakit kanker terkait ketersediaan
obat dan analisa biaya Perlu dilakukan evaluasi
garis untuk melihat naik turunnya grafik terdapat terhadap efek samping yang terjadi saat
pemberian sitostatika memalului wawancara
3 garis yang tidak berpotongan antara jenis yang terdokumentasi terhadap pasien.
kelamin, usia dan diagnosa dengan golongan
maupun jenis sitostatika. Karakteristik ruangan
rawat inap dan rawat jalan yang menunjukan
sumber instruksi perintah pemberian sitostatika
atau masuknya pasien kanker dengan
kemoterapi ke RSUP Fatmawati tidak
menunjukan hubungan dengan grafik garis
golongan maupun jenis sitostatika. Hal ini
menunjukan bahwa penggunaan sitostatika DAFTAR PUSTAKA
tidak dipengaruhi oleh ruang rawat pasien.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Budi, S. C. 2011. Manajemen Unit Kerja Rekam
Medis. Yogyakarta: Quantum Sinergis
4.1Kesimpulan Media.
Berdasarkan hasil penelitian tentang
Penggunaan Sitostatika pada pasien Kanker di KEMENKES. Buletin Kanker. Pusat Data dan
ruang kemoterapi RSUP Fatmawati periode Informasi Kementrian Kesehatan RI 2015.
bulan Januari sampai Juni tahun 2020 dapat di 2015.
simpulkan sesuai tujuan khusus
penelitian,bahwa : Anand, P., Kunnumakara, A. B., Sundaram, C.,
Karakteristik pasien kanker yang menjalankan Harikumar, K. B., Tharakan, S. T., Lai, O.
kemoterapi di ruang kemoterapi berdasarkan S., Aggarwal, B. B. (2008). Cancer is a
jenis kelamin terbanyak adalah perempuan Preventable Disease that Requires Major
78,22%, kisaran usia terbanyak ada pada usia Lifestyle Changes. Pharmaceutical
≥40-60 tahun sebanyak 60,14% dan diagnosa Research, 25(9), h. 2097-2116.doi:
kanker terbanyak adalah Kanker payudara 10.1007/s11095-008-9661-9.
sebesar 50,63% dari total sampel 1272 sampel.
Penggunaan sitostatika terbanyak berdasarkan Rasjidi.2009. Deteksi Dini & Pencegahan
golongan adalah antimetabolit dengan analog Kanker Pada Wanita. Jakarata: Sagung
pirimidin yaitu Fluorouracil (5-FU) dan Seto.
Gemcitabine dan analog asam folat yaitu
Methotrexate. Penggunaan sitostatika golongan Arima,Aria,C, 2006. Paralisis Saraf Kranial
antimetabolite adalah sebesar 28.22% dari 3785
sediaan sitostatika yang dikerjakan. Untuk jenis Multipel pada Karsinoma
Nasofaring.Available from:
http://library.usu.ac.id/download/fk/D0400
193.pdf [Accessed 17 May 2010].
International Union Against Cancer (UICC). Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan
dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi
2009. Jika Tidak Dikendalikan 26 Juta Keenam, 262, 269-271, PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Orang Di Dunia Menderita Kanker.
Dipiro, J.T., et al. 2005. Pharmacotherapy
Diperoleh dari: Handbook. Sixth edition.The Mc. Graw
Hill Company. USA. Page : 1891-1939.
http://www.depkes.go.id/index.php/berita/
Guyton A. C., Hall J. E. 1997. Buku Ajar
press-release/1060-jika- Fisiologi Kedokteran.Edisi 9.Jakarta :
EGC. P. 208 – 212, 219 – 223, 277 – 282,
tidakdikendalikan-26-juta-orang-di-dunia- 285 – 287.
menderita-kanker-.html. Guyton A. C. And Hall J.E. 2008.Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran.Edisi 11.Jakarta :
Adiwijono.(2006). Teknik-teknik pemberian Penerbit Buku Kedokteran EGC. h. 693 –
kemoterapi, dalam Sudoyo, A.W., 700,912 – 917.
Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.K.,
& Setiati, S. (2006).Buku ajar ilmu Gilman, A.G., 2007, Goodman & Gilman Dasar
penyakit dalam.(3rd Ed.). (hlm 1900- Farmakologi Terapi, diterjemahkan oleh
1902). Jakarta: Pusat Penerbit Tim Alih Bahasa Sekolah Farmasi ITB,
Departemen Penyakit Dalam FKUI. Edisi X, 877, Penerbit Buku Kedokteran,
EGC, Jakarta.
Yusuf, dkk (2006) An In Vitro Inhibition of
Human Malignant Cell Growth of Crude Grunberg, SM., 2004, Chemotherapy-Induced
Water Extract of Cassava (Manihot Nausea and Vomitting : Prevention,
esculenta Crantz) and Comercial Detection and Treatment-How are We
Linamarin. Songklanakarin J. Sci. Tehnol Doing ?, The Journal of Supportive
28(1):145-155. Oncology, 2 : 1-12.
American Cancer Society. 2011. Global Cancer Jeffery, H., Richard, D., and James-Chatgilaou,
Statistics. CA: A Cancer Journal for G., 1998, Clinical Pharmacy : A pratical
Clinicians Volume 61 Number 2 Approach, The Society of Hospital of
March/April 2011. Australia, Pharmacists of Australia, page
360.
Departemen Kesehatan RI. 2009. Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 44 Husni, H.S. 2010. Evaluasi Pengendalian
Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Sistem Informasi Penjualan. Jakarta
Jakarta: Depkes RI. Wirawan. (2012 ). Evaluasi Teori, Model,
Standar, Aplikasi dan Profesi. Jakarta:
Siregar,C.J.P., 2004, Farmasi Rumah Sakit, Rajawali Pers.
Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta,
20, 37-42. Beni Ahmad Saebani, 2008, Metode Penelitian,
Bandung: Pustaka Setia
Junaidi, Iskandar. (2007). Kanker. Jakarta: PT.
Bhuana Ilmu Populer Keperawatan edisi Brown, T.R. 2006, Handbook of Institutional
2. Jakarta: Salemba Medika Pharmacy Practice, 4th edition, American
Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis Society of Health-System Pharmacy,
dan Instrumen Penelitian. Maryland, USA.
Mangan, Y., 2009, Cara Sehat Mencegah dan
Mengatasi Kanker, Agromedia Pustaka,
Jakarta.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja, 2007,
Dahlan, Ahmad. 2014. Populasi dan Sampel Proses-proses Penyakit, Edisi 6, (terjemahan),
Penelitian. Peter Anugrah, EGC, Jakarta.
http://www.eurekapendidikan.com/2014/1
0/Populasi-dan-sampelpenelitian/. Sugiyono. 2013. Statistik Untuk Penelitian.
Bandung : Alfabeta, cv.
Desen,W.(2008). Buku Ajar Onkologi Klinis,
edisi 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Martino E, Casamassima G, Castiglione S,
Cellupica E, Pantalone S, Papagni F, Rui
De Jong, W,. R. Sjamsuhidajat. 2005. Buku Ajar M, Siciliano AM, Collina S. Vinca alkaloids
Ilmu Bedah Edisi 2. EGC. Jakarta. and analogues as anti- cancer agents:
Departemen Kesehatan Republik Looking back, peering ahead. Bioorg.
Indonesia,2006. Profil Kesehatan 2008. Med. Chem. Lett. 2018 Sep
Jakarta. 15;28(17):2816-2826. [PubMed]
Kozier.(2010). Buku Ajar Praktik Keperawatan Nurgat ZA, Smythe M, Al-Jedai A, Ewing S,
Klinis.Edisi 5.Jakarta : EGC Rasheed W, Belgaumi A, Ahmed SO,
Ashour M, Al Agil A, Siddiqui K, Aljurf M.
Menkes RI. (2014). Peraturan Menteri Introduction of vincristine mini-bags and
Kesehatan Nomor 58 Tahun 2014 an assessment of the subsequent risk of
Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian extravasation. J Oncol Pharm Pract. 2015
di Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Oct;21(5):339-47.
Kesehatan RI.
Metrix,http://www.kalbemed.com/searchpage/Art
Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian MID/556/ArticleID/413/METRIX
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 2004.
Metodologi Penelitian Kesehatan. Metamizole,
Jakarta: Rineka Cipta. https://www.drugbank.ca/drugs/DB04817
Sugiyanto. 2013. Model-Model Pembelajaran Epirubicin,
Inovatif. Surakarta: Yuma Pustaka. https://www.drugbank.ca/drugs/DB00445
Nursalam. 2014. Metodologi penelitian
ilmu keperawatan. Jakarta: Salemba Bendamusti,
Medika Price, A. Sylvia, Lorraine Mc. https://www.drugbank.ca/drugs/DB06769
Carty Wilson, 2006, Patofisiologi : Konsep
Klinis
CLINICAL PRESENTATION AND OUTCOME OF COVID-19 INFECTION IN TYPE 2
DIABETES MELLITUS: A PRELIMINARY DATA FROM A TERTIARY HOSPITAL IN
JAKARTA DURING THE EARLY DAYS OF THE PANDEMIC
Ida Ayu Kshanti1,2*, Giri Aji3, Marina Eprilliawati1,2, Md Ikhsan Mokoagow1,2, Jerry Nasarudin1,2, Nadya Magfira2,
Anggraini Permata Sari3, Annela Manurung3, Aryan Yohanes Djojo3, Elizabeth Yasmine Wardoyo3, Martha Iskandar3,
Nikko Darnindro3, Radhiyatam Mardiyah3
ABSTRACT
Introduction:This study aimed to review the clinical characteristics and outcomes of COVID-19
patients presented with in-hospital hyperglycemia or pre-existing type 2 diabetes (T2DM).
Methods: This is a retrospective study conducted in Fatmawati General Hospital, Indonesia, from
March 18th-Apr 30th, 2020. We reviewed medical records of 27 COVID-19 patients presented with
either in-hospital hyperglycemia (11, 12.2%) or pre-existing T2DM (16, 17.8%) from a total of 90
confirmed COVID-19 cases admitted in our hospital.
Results: Critical conditions occurred in 50% of T2DM and 54.55% of the in-hospital hyperglycemia
group. Mortality was documented in 68.75% of T2DM and 81.82% of in-hospital hyperglycemia group.
Hypoglycemia, diabetic ketoacidosis, lactic acidosis and ketosis were found in 12.5%, 25%, 18.75%,
and 25% of individuals with T2DM, respectively, resulting in a high mortality rate. Meanwhile, diabetes-
related complications were rare among the in-hospital hyperglycemia group. However, respiratory
failure (45.45% vs. 6.25%) and septic shock (27.27% vs. 6.25%) were more frequent than in the T2DM
group.
Conclusion: In this preliminary study, a high mortality rate was documented among COVID-19 patients
with preexisting T2DM and in-hospital hyperglycemia. In T2DM subjects, diabetes related-
complications contributed to a higher mortality rate, while in- hospital hyperglycemia group, respiratory
failure and septic shock were more frequent.
Keywords: COVID-19, diabetes, hyperglycemia, outcome, Indonesia
INTRODUCTION METHODS
The global pandemic of Coronavirus disease This is a retrospective study conducted in
2019 (COVID-19) caused by Severe Acute Fatmawati General Hospital, Jakarta, Indonesia.
Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS Subjects were recruited from March 15th to April
CoV-2) may result in severe clinical conditions 30th. All subjects were retrospectively followed
that are potentially lethal.1–3 As of June 3rd, until the final follow- up on May 12th, 2020. Our
2020, more than 6.2 million cases of COVID-19 hospital is a tertiary hospital appointed by the
and about 380.000 deaths were mortality is pre- government as a referral records of all confirmed
existing diabetes condition.5–7 In an initial COVID-19 cases with pre-existing T2DM or had
report from Wuhan, China, diabetes is present in manifested in-hospital hyperglycemia. A
9.8% of COVID-19 cases.8 Indonesia had confirmed COVID-19 case was defined as a
around 10.7 million diabetes population, but no patient with positive results of real- time reverse-
report available regarding how COVID-19 transcriptase-polymerase-chain - reaction (RT-
affected Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) PCR) assay of nasal/oral-pharyngeal swab
population.9 In this study, we reported clinical specimen. Pre-existing T2DM was defined as
characteristics, treatments and outcomes of subjects previously diagnosed with T2DM by a
COVID-19 patients presented with hospital physician or on anti-diabetic medications upon
hyperglycemia or pre- existing type 2 diabetes admission. In-hospital hyperglycemia was
(T2DM) in our hospital. defined as subjects had random blood glucose
levels above 140 g/dL during hospitalization.10
Pregnant women with gestational diabetes were
excluded from this study. We reviewed all of plasma lactate concentration of >5 mmol/L.
clinical symptoms, signs, and laboratory findings Hypoglycemia was defined according to
of patients based on the patient’s medical chart. American Diabetes Association (ADA) criteria.14
Gastrointestinal problems were defined as Ketosis was defined as a record positive on
patients presented with nausea or vomiting, or blood beta-hydroxybutyrate analysis. Critical
diarrhea upon admission. Laboratory conditions are defined as patients present with
assessment consisted of complete blood count, respiratory failure, septic shock or admitted to
glucose profile, and electrolytes obtained at the the intensive care unit.
time of admission. Meanwhile, data on blood Continuous variables were expressed as mean
gas analysis, random blood glucose, creactive with standard deviation (SD) or median with
protein, procalcitonin, lactate, creatinine, urea, interquartile range (IQR). Categorical variables
creatinine kinase, uric acid, ferritin, aspartate were expressed as frequency (percent) and
transaminase, alanine aminotransferase, counts. No imputation was made for missing
bilirubin, and d-dimers were taken from the data. All data were analyzed using STATA 15.0
result during admission. All other necessary version. The study has been approved by
laboratory assessments were performed as Fatmawati General Hospital ethics committee
clinically indicated. The abnormality of the No. 12/KPP/VI/2020.
radiologic assessment was determined based
on the description of the patient’s medical chart. RESULTS
Respiratory failure was determined based on There are 90 confirmed COVID-19 cases
arterial blood gases results, in which PaO2 level admitted to our hospital during the study period,
less than 60 mmHg. Acute Kidney Injury was 11 (12.2%) cases presented with in-hospital
diagnosed according to the Kidney Disease hyperglycemia and 16 (17.8%) cases presented
Improving Global Outcomes (KDIGO) with T2DM. All cases’ median age was 59.31
definition.11 Shock was defined according to the (9.19) years old, with males and females
2016 third International Consensus Definition for represented approximately equal (Table 1).
Sepsis and Septic Shock.12 Diabetes Fever (74.07%), cough (51.85%) and dyspnea
Ketoacidosis criterion was adapted fromKitabchi (92.59%) were among the most common
et al.13 Lactic acidosis was defined as a record
symptoms. Furthermore, gastrointestinal glucose level during hospitalization (above 180
problems were found in more than a quarter of mg/dL) was found in 100% of non-survive cases.
the cases. More than half of the cases had Moreover, in patients who presented with in-
comorbidity (55.56%), with hypertension being hospital hyperglycemia, diabetes-related
the most common finding. Normal chest imaging complications were rare (0-9.0%) (Table 5).
on X-ray was uncommon findings. Chest CT However, compared to pre-existing T2DM, a
was not routinely performed (14.8%), in which complication related to COVID-19, including
ground-glass opacity was found in 75% of respiratory failure, septic shock, and AKI, tend to
subjects. Among laboratory findings, more than be higher (respiratory failure 45.45% vs. 6.25%;
half of all cases presented with normal leukocyte septic shock 27.27% vs. 6.25%; acute kidney
counts, most of them presented with injury 9.09% vs. 25.0%). During hospitalization,
Lymphopenia and had neutrophil to lymphocyte blood glucose level below 180 mg/dL was found
ratio (NLR) above than three. Compared to non- in 57.14% cases and 33.33% of non-survive
critical cases, subjects with critical conditions cases. When we put a lower cut-off on blood
tend to have higher lactate (90% vs. 50%) and glucose level during hospitalization (140 mg/dL),
higher C-reactive protein (CRP) levels (83.33% the mortality ratio was dropped to half (16.67%).
vs. 18.18%)(Table 2).
According to our findings, antibiotics were DISCUSSION
administered intravenously to 88.89% of cases In this study, we report the clinical
and all of the critical cases. Chloroquine was characteristics and the outcome of our first 27
given to 74.07% of all cases, and death COVID-19 patients presented with diabetes or
occurred in 65% of cases. Furthermore, none of in-hospital hyperglycemia. To our knowledge,
the patients in whom chloroquine was withhold this is the first study to analyze the clinical
survived during hospitalization (n=7). We also characteristic and the outcome of COVID-19
noted that among patients treated with cases with pre-existing T2DM or hospital
chloroquine 15% of patients developed hyperglycemia in Indonesia. Among patients
hypoglycemia. Meanwhile, no hypoglycemia with pre-existing T2DM, the critical conditions
episodes were found in those untreated. In all developed in 50% of cases, and the mortality
patients who got mechanical ventilation, rate was 68.75%. Moreover, patients presented
continues renal replacement therapy, with in-hospital hyperglycemia, critical conditions
hemodialysis, and transferred to the intensive developed in 54.55%, and the mortality rate was
care unit reached a 100% mortality rate (Table 81.82%. A previous study with a larger sample
3). size in Wuhan, China, fatal cases of COVID-19
In patients who had pre-existing T2DM, non- with pre-existing T2DM occurred in 20.3% of
critical condition and mortality tend to be lower in cases.8 In a meta-analysis from Chinese,
patients who already got insulin during including 1527 patients, 9.7% of all COVID-19
admission (non-critical condition 50% vs. cases had diabetes, and it increased the risk of
66.67%; mortality developing severe disease or requiring ICU by
40% vs. 60%) (Table 4). Complications related two-fold.6 Data from the United States, including
to diabetes occurred in 12.5%-25% of all cases. 184 patients with diabetes and/or uncontrolled
Thus, patients who developed diabetes-related hyperglycemia, the mortality rate of COVID-19
complications had high mortality (hypoglycemia was 14.8% (pre-existing diabetes) and 41.7%
50%; diabetic ketoacidosis 100%; lactic acidosis (uncontrolled hyperglycemia).7
100%; ketosis 75%). During hospitalization (180 The most common symptoms in our study were
mg/dL), optimal blood glucose level was only dyspnea, fever and cough. These findings
found in 7.14% of cases. When we put a lower support prior reports describing symptoms of
cut- off on blood glucose level during COVID-19 in individuals with diabetes.8,15 In
hospitalization (140 mg/dL), there were no our study, the majority of cases presented with
differences in the patient’s outcome. High blood dyspnea. This finding might be related to the
criteria for hospitalization developed in 15%, including nausea or vomiting, diarrhea,
Indonesia, in which only severe cases were and anorexia.16 The study also revealed that
treated in the referral hospitals. Our study also those with digestive involvement tend to
found that GI symptoms were common findings progress to severe or critical disease and a poor
(26%). About half of critical cases and one-third outcome.16
of non-survive cases in this study developed GI The most common comorbidity found in this
symptoms. Compared to the general population, study was hypertension. According to a study
the proportion of GI problems in this study was conducted in China, hypertension was the most
relatively high. In a recent meta- analysis prevalent comorbidity in the general population.
including 6686 patients with COVID-19, the It was also a significant risk factor of reaching
pooled prevalence of digestive symptoms was
composite end-point, including admission to finding, hypertension was one of the risk factors
intensive care unit, invasive ventilation, and for developing severe cases in COVID-19
death.17 Another study reported a similar patients.18 However, our study showed
inconsistent results, in which 50% and 60% of patients treated with chloroquine and none in
hypertensive patients developed critical those untreated. We noted that the mortality of
conditions and death. Meanwhile, 52.94% and hypoglycemia in this study reached 67%. Even
82.35% of normotensive patients also developed though the chloroquine hypoglycemic effect’s
critical cases and death. This may partly be due underlying mechanism remains unclear, it has
to the COVID-19 patients referred to our center, been postulated that chloroquine improved
a tertiary referral hospital, were more likely in pancreatic beta-cell function.23 Caution should
severe conditions. Also, the difference between be taken when the drug is administered to the
the study population and small sample size T2DM population, and a dose adjustment of oral
might explain these results, hence further study anti-diabetic drugs and insulin might be
is needed. Although Chest CT was more necessary to prevent the hypoglycemic event.23
sensitive than a chest x-ray,19 it was not Our study showed that acute complications of
routinely performed in this study. The diabetes were commonly observed in the T2DM
predominant pattern of abnormality observed in group compared to the in-hospital
chest X-ray was bilateral involvement or bilateral hyperglycemia group. The presence of any
lesion. This finding supports other previous acute complication was associated with a high
studies.8,20,21 Among laboratory findings, most mortality rate. In a study involving 658
of all cases presented with Lymphopenia, hospitalized COVID-19 patients, ketosis
elevated NLR, and elevated level of CRP. The occurred in 6.58% of all groups, and in 35.7%
prevalence was even higher in severe cases. T2DM group, it was also related to increased
We also noted that 22% of all cases in our study hospital stay and mortality.27 It was suggested
developed hypoxemic respiratory failure, 37% of that COVID-19 accelerate the fat breakdown
all cases were admitted to ICU, and all of them and induce ketosis with further development of
were not survive. In the general population, ketoacidosis.27 Moreover, we found that
acute respiratory distress syndrome developed COVID-19 related complications, including
in COVID-19 patients were likely to be admitted respiratory failure, septic shock, and also acute
to the ICU and might succumb to the disease. kidney injury incidence were found higher in the
The risk factor of mortality in this population was hyperglycemic group compared to the T2DM
elderly and those with comorbidities, including group.
diabetes.22 Immune response impairment and Evidence shows that hyperglycemia increased
chronic inflammation were the basis of mortality risk in COVID-19 patients, including
increased coronavirus severity in the T2DM those without previous T2DM diagnosis. In this
population and associated with a higher study, optimal blood glucose control was
propensity to SARS CoV-2 infection.23,24 achieved in only 7.41% of all T2DM patients.
Hyperglycemia alters innate immunity, induce The reason behind this finding was high levels of
endothelial dysfunction also promotes pro- stress, inflammation, lack of adequate protocol
coagulant state.24 for glucose management and change in diet in
Our study showed better outcomes in patients COVID-19 patients.28 Special attention was
treated with chloroquine compared to those also needed for patients who were given
untreated. The effect of chloroquine against corticosteroids as a management plan, as it can
SARS Co-V-2 infection by inhibiting the in vitro cause corticosteroid-induced-hyperglycemia.
replication of several coronaviruses is still We found that poor blood glucose control was
debatable regarding its side effect.25 However, found in 100% of death cases in the pre-existed
a preliminary report from Chinese authorities T2DM group and 66.667% hyperglycemic group.
suggesting a more rapid declined in fever, A recent study showed that hyperglycemia
improvement of lung CT, and a shorter time of increased the cytokine release and favored
recovery in chloroquine treated group and nonenzymatic glycosylation of the ACE2
suggested chloroquine inclusion in COVID-19 receptors.29 It is also suggested that
treatment guidelines.26 On the other hand, hyperglycemia is a very bad prognostic factor for
hypoglycemia episode was found in 15% of COVID-19, thus it needs an early blood glucose
normalization.30 In a study conducted in China, Chen T, Wu D, Chen H, et al. Clinical
including 952 COVID-19 patients with pre-
existing T2DM, well-controlled blood glucose is characteristics of 113 deceased patients with
correlated with reduced risk of adverse
outcomes and all-cause mortality in COVID-19 coronavirus disease 2019: Retrospective study.
and pre-existing T2DM.Glucose control is
essential in controlling COVID-19 infection and BMJ.2020;368(March):1-14.
its complications.
We also found that a lower blood glucose target doi:10.1136/bmj.m1091 WHO.Coronavirus
(140 mg/dL) during hospitalization might give
benefit in the hyperglycemic group. Formerly, a disease (COVID-19), “Situation Report-108.”
glucose target of 140-180 mg/dL is reasonable
in most critically ill patients. An attempt to World Heal Organ. 2020;2019(March):2633.
maintain tight blood glucose control (80-100
mg/dL) may harm the patient by causing doi:10.1001/jama.2020.2633
hypoglycemia and increasing the mortality
rate.28 However, hypoglycemia incidence was Wu Z, McGoogan JM. Characteristics of and
rare in hyperglycemic groups. Our current
findings prompt further investigations Important Lessons from the Coronavirus
considering the accumulating evidence
regarding this new emerging disease, notably Disease 2019 (COVID-19) Outbreak in China:
with improved study methods and larger sample
size. Summary of a Report of 72314 Cases from the
CONCLUSION Chinese Center for Disease Control and
In conclusion, COVID-19 cases presented with
T2DM or hospital hyperglycemia in Indonesia Prevention. JAMA - J Am Med Assoc.
had poor outcomes and high mortality rates.
Optimal blood glucose control is challenging yet 2020;323(13):1239- 1242.
important in reducing adverse outcomes and
mortality. doi:10.1001/jama.2020.2648
AUTHOR CONTRIBUTION Li B, Yang J, Zhao F, et al. prevalence and
All authors contribute equally in this study.
impact of cardiovascular metabolic diseases on
FUNDING
This study did not receive any third-party COVID-19 in China. Clin Res Cardiol. 2020:531-
support, funding or research grant.
538. doi:10.1007/s00392-020- 01626-9
CONFLICT OF INTEREST
The authors declare no conflict of interest Bruce Bode MD., Valerie Garrett, M.D. MPH.,,
REFERENCE Jordan Messler MD, et al. Glycemic
WHO. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19),
“Situation Report-51.” World Heal Organ. 2020. Characteristics and Clinical Outcomes of
doi:10.1001/ jama.2020.2633
Wu Y, Ho W, Huang Y, et al. SARS-CoV-2 is an COVID-19 Patients Hospitalized in the United
appropriate name for the new coronavirus.
Lancet.2020;395(10228):949-950. States. J Chem Inf Model. 2013;53(9):1689-
doi:10.1016/S0140-6736(20)30557-2
1699. doi:10.1017/CBO9781107415324.004
Shi Q, Zhang X, Jiang F, et al. Clinical
Characteristics and Risk Factors for Mortality of
COVID-19 Patients With Diabetes in Wuhan,
China: A Two-Center, Retrospective Study.
Diabetes Care. 2020:dc200598.
doi:10.2337/dc20- 0598
IDF. Eighth Edition 2017; 2017. doi:http://dx.doi.
org/10.1016/S0140-6736(16)31679-8.
Care D, Suppl SS. 15. Diabetes care in the
hospital: Standards of medical care in
diabetesd2019.DiabetesCare.2019;42(January):
S173-S181. doi:10.2337/dc19-S015
Kellum JA, Lameire N, Aspelin P, et al. Kidney
disease: Improving global outcomes (KDIGO)
acute kidney injury work group. KDIGO clinical
practice guideline for acute kidney injury. Kidney
IntSuppl.2012;2(1):1-138.
doi:10.1038/kisup.2012.1
Rhodes A, Evans LE, Alhazzani W, et al.
Surviving Sepsis Campaign: International
Guidelines for Management of Sepsis and
Septic Shock: 2016. Vol 45.; 2017. doi:10.1097/
CCM.0000000000002255
Kitabchi AE, Umpierrez GE, Miles JM, Fisher 2020;24(1):198. doi:10.1186/ s13054-020-
JN. Hyperglycemic crises in adult patients with 02911-9
diabetes. Diabetes Care. 2009;32(7):1335-1343. Hussain A, Bhowmik B, do Vale Moreira NC.
doi:10.2337/dc09- 9032 COVID-19 and diabetes: Knowledge in
Care D, Suppl SS. 6. Glycemic targets: progress. Diabetes Res Clin Pract.
Standards of medical care in diabetesd2019. 2020;162(January):108142.doi:10.1016/j.
Diabetes Care. 2019;42(January):S61-S70. diabres.2020.108142
doi:10.2337/dc19-S006 Orioli L, Hermans MP, Thissen JP, Maiter D,
Shabto JM, Loerinc L, O’Keefe GA, O’Keefe J. Vandeleene B, Yombi JC. COVID-19 in diabetic
Characteristics and Outcomes of COVID-19 patients: Related risks and specifics of
Positive Patients with Diabetes Managed as management. Ann Endocrinol (Paris).
Outpatients.Diabetes Res Clin Pract. 2020;81(2-3):101-109.
2020;164:108229. doi:https://doi.org/10.1016/j. doi:10.1016/j.ando.2020.05.001
diabres.2020.108229 Devaux CA, Rolain JM, Colson P, Raoult D.
Mao R, Qiu Y, He JS, et al. Manifestations and New insights on the antiviral effects of
prognosis of gastrointestinal and liver chloroquine against coronavirus: what to expect
involvement in patients with COVID-19: a for COVID-19? Int J Antimicrob Agents.
systematic review and meta-analysis. Lancet 2020;(December 2019):105938.doi:10.1016/j.
Gastroenterol Hepatol. 2020;1253(20). ijantimicag.2020.105938
doi:10.1016/S2468- 1253(20)30126-6 Gao J, Tian Z, Yang X. Breakthrough:
Guan WJ, Liang WH, Zhao Y, et al. Chloroquine phosphate has shown apparent
Comorbidity and its impact on 1590 patients efficacy in treatment of COVID-19 associated
with Covid-19 in China: A Nationwide Analysis. pneumonia in clinical studies. Biosci Trends.
Eur Respir J. 2020;(March 2020). 2020;14(1):1-2. doi:10.5582/BST.2020.01047
doi:10.1183/13993003.00547-2020 Li J, Wang X, Chen J, Zuo X, Zhang H, Deng A.
Yang J, Zheng Y, Gou X, et al. Prevalence of COVID-19 infection may cause ketosis and
comorbidities and its effects in coronavirus ketoacidosis. Diabetes, Obes Metab. 2020.
disease 2019 patients: A systematic review and doi:10.1111/dom.14057
meta-analysis. Int J Infect Dis. 2020;94:91-95. Iacobellis G, Penaherrera CA, Bermudez LE,
doi:10.1016/j.ijid.2020.03.017 Bernal Mizrachi E. Admission hyperglycemia
Fatima S, Ratnani I, Husain M, Surani S. and radiological findings of SARS-CoV2 in
Radiological Findings in Patients with COVID- patients with and without diabetes. Diabetes Res
19.Cureus.2020;12(4):10-14. Clin Pract.2020;164:108185.
doi:10.7759/cureus.7651 doi:10.1016/j.diabres.2020.108185
Zhang Y, Cui Y, Shen M, et al. Association of Ceriello A. Hyperglycemia and the worse
Diabetes Mellitus with Disease Severity and prognosis of COVID-19. Why a fast blood
Prognosis in COVID-19: A Retrospective Cohort glucose control should be mandatory. Diabetes
Study. Diabetes Res Clin Pract. Res Clin Pract. 2020;163(January):108186.
2020;165:108227. doi:https://doi.org/10.1016/j. doi:10.1016/j. diabres.2020.108186
diabres.2020.108227 Zhu L, She ZG, Cheng X, et al. Association of
Yuen Frank Wong H, Yin Sonia Lam H, Ho-Tung Blood Glucose Control and Outcomes in
Fong A, et al. Frequency and Distribution of Patients with COVID-19 and Pre-existing Type 2
Chest Radiographic Findings in COVID-19 Diabetes. Cell Metab. 2020:1-10.
Positive Patients Authors. Radiology. 2020. doi:10.1016/j.cmet.2020.04.021
Li X, Ma X. Acute respiratory failure in COVID-
19: is it “typical” ARDS? Crit Care.
PENGGUNAAN SITOSTATIKA PADA PASIEN KANKER DEWASA
DI RUANG KEMOTERAPI RSUP FATMAWATI
PERIODE BULAN JANUARI SAMPAI JUNI TAHUN 2020
Apt. Magdalena Niken Oktovina
Farmasi Klinik, Instalasi Farmasi, RSUP Fatmawati
ABSTRACT
Chemotherapy is one of the selected systemic treatment modalities especially to treat advanced cancer, local
and metastatic. Cytostatical administration is carried out on a special room to avoid exposure to cytostatics and for
the safety of patients and cytostatics officers. The provision of cytostatics is adjusted to the diagnosis of cancer.
Therefore, the researcher wants to see how the use of cytostatics in cancer patients in the Chemotherapy room of
Fatmawati Hospital, especially in patients adult.
This study aims to see adult cancer patients undergoing chemotherapy in the chemotherapy room, and the
use of cytostatics based on the class and type of drugs, as well as how the relationship adult patients on cytostatics.
The research method was carried out by taking data from adult patients diagnosed with cancer and running
chemotherapy from January to June 2020 in the chemotherapy room with meet the inclusion and exclusion criteria.
The results showed 1272 adult patients who administered chemotherapy and 3785 preparations sitostatics
from January to June 2020. From the convention evaluation of the most cancer patients based on gender is 78.22%
female with an age range of ≥40 - 60 years of 60.14% and Most disease diagnoses were breast cancer at 50.63%.
Use of cytostatics based on group are antimetabolites with pyrimidine analogues (Fluorouracil (5-FU) and
Gemcitabine) and acid analogues. folate (Methotrexate) with a value of 28.22%. The most widely used type of
cytostatic is Fluorouracil (5- FU) which is 19.47%. The relationship between patients and the use of cytostatics is in
type sex, indications for drug use (disease diagnosis)
Keywords: Chemotherapy, Cytostatics, Cancer, Fatmawati Hospital
ABSTRAK
Kemoterapi merupakan salah satu modalitas pengobatan pada kanker secara sistemik yang sering dipilih
terutama untuk mengatasi kanker stadium lanjut, lokal maupun metastatis. Pemberian sitostatika dilakukan pada
ruangan khusus untuk menghindari paparan sitostatika dan untuk keamanan pasien dan petugas pemberi sitostatika.
Pemberian sitostatika disesuaikan dengan diagnosa penyakit kanker. Oleh karena itu, Peneliti ingin mengetahui
bagaimana Penggunaan Sitostatika pada pasien Kanker di ruang Kemoterapi RSUP Fatmawati terutama pada pasien
dewasa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien kanker dewasa yang menjalankan kemoterapi
di ruang kemoterapi,dan penggunaan Sitostatika berdasarkan Golongan dan Jenis obat, serta bagaimana hubungan
karakteristik pasien dewasa dengan penggunaan sitostatika.
Metode penelitian dilakukan dengan mengambil data pasien dewasa yang terdiagnosa penyakit kanker dan
menjalankan pemberian kemoterapi bulan Januari sampai Juni tahun 2020 diruang kemoterapi dengan
memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil penelitian didapat 1272 pasien dewasa yang menjalankan pemberian kemoterapi dan 3785 sediaan
sitostatika pada bulan Januari sampai Juni tahun 2020. Dari evaluasi diperoleh karakteristik pasien kanker terbanyak
berdasarkan jenis kelamin adalah perempuan 78,22 % dengan kisaran usia ≥40 - 60 tahun sebesar 60,14%dan
diagnosa penyakit terbanyak adalah Kanker payudara sebesar 50,63%. Penggunaan sitostatika berdasarkan
golongan adalah antimetabolit dengan analog pyrimidin (Fluorouracil (5-FU) dan Gemcitabine)dan analog asam
folat (Methotrexate) dengan nilai sebesar 28.22%. Penggunaan jenis sitostatika terbanyak adalah Fluorouracil (5-
FU) yaitu sebesar 19,47%. Hubungan karakteristik pasien dengan penggunaan sitostatika terdapat pada jenis
kelamin, usia dan indikasi penggunaan obat (diagnosa penyakit)
Kata Kunci : Kemoterapi, Sitostatika, Kanker, RSUP Fatmawati
1
Koresponden : Magdalena Niken, Farmasi Klinik, Instalasi Farmasi RSUP Fatmawati, Jl. RS. Fatmawati Raya No.4, RT.4/RW.9,
Cilandak Bar., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12430, e-mail: [email protected]
PENDAHULUAN Kemoterapi pasien kanker dilakukan dengan pemberian
sitostatika yang umumnya berupa kombinasi dari beberapa
Penyakit kanker menjadi salah satu penyakit kronis yang obat yang diberikan secara bersamaan dengan jadwal yang
peningkatannya cukup tinggi saat ini. Menurut World Health telah ditentukan. Pemberian sitostatika dilakukan pada ruangan
Organization atau WHO (2014) kanker merupakan suatu khusus untuk menghindari paparan sitostatika dan untuk
istilah umum yang menggambarkan penyakit pada manusia keamanan pasien dan petugas pemberi sitostatika. Untuk
berupa munculnya sel-sel abnormal dalam tubuh yang mengetahui penggunaan sitostatika pada pasien kanker yang
melampaui batas. Sel-sel tersebut dapat menyerang bagian diberikan di ruang kemoterapi, maka dilakukan penelitian ini.
tubuh lai (WHO, 2014). Menurut statistik Amerika Serikat,
kanker menyumbang sekitar 23% dari total jumlah kematian di Tujuan penelitian
negara tersebut dan menjadi penyakit kedua paling mematikan 1. Mengetahui karakteristik pasien kanker yang
setelah penyakit jantung (Anand, Kunnumakara, Sundaram, menjalankan kemoterapi di ruang kemoterapi
Harikumar, Tharakan, Lai, dan Aggarwal, 2008). Fakta lain 2. Mengetahui penggunaan Sitostatika berdasarkan
menunjukkan bahwa lima besar kanker yang diderita adalah Golongan dan Jenis obat.
kanker leher rahim, kanker payudara, kanker ovarium, kanker 3. Hubungan Penyakit kanker dengan penggunaan
kulit, dan kanker rektum (Rasjidi, 2009). Badan Kesehatan sitostatika.
dunia (WHO) mengestimasikan bahwa 84 juta orang
meninggal akibat kanker dalam rentang waktu 2005 dan 2015, Metode Penelitian
dengan perkiraan setiap tahunnya 12 juta diseluruh dunia orang Sampel penelitian dilakukan dengan mengambil data
akan menderita kanker dan 7,6 juta diantaranya meninggal
dunia. Kejadian kanker terjadi lebih cepat di negara miskin dan pada ruang kemoterapi terhadap pasien dewasa dan
berkembang. penggunaan sitostatik selama bulan Januari sampai Juni tahun
2020. Variabel dependen adalah penggunaan sitostatik
Data International Agency for Research on Cancer berdasarkan golongan dan jenis obat. Variabel independen
(IARC), mendapatkan 85% dari kasus kanker di dunia yang adalah jenis kelamin, usia, dan ruang rawat
berjumlah 493.000 dengan jumlah 273.000 kasus kematian
terjadi di negara-negara berkembang (Savitri, dkk, 2015). Hasil Penelitian
Dinyatakan bahwa terdapat 15 persen dari 190-200 ribu Sampel penelitian adalah pasien dewasa yang
penderita kanker baru di Indonesia setiap tahunnya
(International Union Against Cancer/UICC, 2009). Sistem mendapatkan pemberian sitostatika di ruang kemoterapi baik
Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2007, menyatakan kejadian yang berasal dari ruang Rawat Jalan maupun Rawat Inap di
kanker di Indonesia sebanyak 8.227 kasus atau 16,85% dan RSUP Fatmawati pada bulan Januari sampai Juni Tahun 2020,
pada tahun 2008, 12 juta pasien yang baru terdiagnosis kanker yang kemudian dievaluasi pada penelitian ini. Terdapat 1272
dan lebih dari 7 juta pasien meninggal akibat kanker. Pada sampel penelitian dengan penggunaan 3785 sediaan sitostatika.
tahun 2030 diperkirakan terjadi kasus kanker sebanyak 20 Karakteristik pasien dewasa dengan kanker berdasarkan Jenis
hingga 26 juta pasien dan 13 hingga 17 juta pasien meninggal Kelamin, Usia, Ruang Rawat dan Penyakit Kanker
akibat kanker.
Grafik % Karakteristik berdasarkan Jenis Kelamin
Kemoterapi merupakan salah satu modalitas pengobatan
pada kanker secara sistemik yang sering dipilih terutama 100 80.08 79.29 77.24 75.25 76.54 80.51
untuk mengatasi kanker stadium lanjut, lokal maupun
metastatis. Kemoterapi sangat penting dan dirasakan besar 50 20.71 22.76 24.75 23.46
manfaatnya karena bersifat sistemik mematikan/membunuh
sel-sel kanker dengan cara pemberian melalui infuse, dan 19.92 April Mei 19.49
sering menjadi pilihan metode efektif dalam mengatasi kanker
terutama kanker stadium lanjut lokal (Desen, 2008). Teknik 0 Juni
pemberian kemoterapi ditentukan dari jenis keganasan dan Januari Februari Maret
jenis obat yang diperlukan (Adiwijono, 2006).
Perempuan Laki-laki
Jenis kelamin terbanyak yang menjalankan kemoterapi
pada bulan Januari sampai Juni Tahun 2020 adalah perempuan
sebesar 78,22 %.
2
Grafik % Karakteristik berdasarkan Usia Grafik % 10 Penyakit Kanker Terbanyak
80 60 53.03 53.07 53.85
70 64.14 61.45 67.69 49.22 46.75 49.49
58.59
59.09 Mei Juni 50
60
52.44 April ≥18 - 20 40
50 ≥20 - 40
≥40 - 60
40 ≥60 - 80 30
≥ 80
30 20
20 10
10 0
Januari Februari Maret April Mei Juni
0
Januari Februari Maret
Grafik % Karakteristik berdasarkan Ruang Rawat Kanker Payudara Kanker Ovarium
Inap Januari - Juni 2020 LMNH (Limfoma non-Hodgkin) PTG (penyakit trofoblastik gestasional )
Kanker Kolon KNF (Karsinoma nasofaring )
25 22.68 Kanker Prostat Kanker Rektum
Kanker Serviks LM (Lymfoma Maligna)
20
15 Grafik % 10 Penyakit Kanker Terbanyak pada Januari sampai Juni
10 Tahun 2020
5 60
0 50.63
Lt. 2 GPS Lt. 3 GPS Lt.4 Selatan Teratai Lt.3 Anggrek 40
Lt.5 Utara Teratai Lt. 5 GPS Lt.4 Utara Teratai Lt. 1 GPS
Lt.6 Selatan Teratai Lt.2 Utara Teratai Lt. 4 GPS Lt.2 Selatan Teratai 20 16.67
Lt.6 Utara Teratai Lt.2 Anggrek Lt. 6 GPS Lt.3 Utara Teratai
Lt.5 Anggrek 4.56 3.93 3.77 3.69 2.67 1.97 1.73 1.49
0
Grafik % Karakteristik berdasarkan 10 Ruang
Rawat Inap terbanyak Kanker Payudara Kanker Ovarium
LMNH (Limfoma non-Hodgkin) PTG (penyakit trofoblastik gestasional )
50 39.31 Kanker Kolon KNF (Karsinoma nasofaring )
40 22.65 Kanker Prostat Kanker Rektum
29.36 28.36 Kanker Serviks LM (Lymfoma Maligna)
30 20.44 12.84 19.40
20 13.10 16.07
8.28 10.71 Mei Juni
10
4.05
- Penggunaan Sitostatika berdasarkan Golongan dan Jenis
obat di gambarkan dengan grafik di bawah ini:
Januari Februari Maret April
Lt. 2 GPS Lt. 3 GPS Lt.4 Selatan Teratai Grafik % 10 Penggunaan Sitostatika Terbanyak berdasarkan
Lt.3 Anggrek Lt.5 Utara Teratai Lt. 5 GPS 30 jenis obat selama bulan Januari sampai Juni Tahun 2020
Lt.4 Utara Teratai Lt. 1 GPS Lt.6 Selatan Teratai
Lt.2 Utara Teratai 19.47
Grafik % Karakteristik berdasarkan Ruang 20
Rawat
11.36
10 8.22 7.79 7.13 6.92 6.55 6.37 4.36 3.51
0
Januari - Juni
37.26%
62.74% Fluorouracil (5-FU) Paclitaxel Carboplatin
Cyclophosphamide Methotrexate Cisplatin
Doxorubicin Docetaxel Zoledronic acid
Rawat Inap Rawat Jalan
3
Grafik % Penggunaan Sitostatika Terbanyak berdasarkan Golongan payudara pada usia diatas 50 tahun semakin besar dengan
Obat selama Januari samping Juni Tahun 2020 pengaruh adanya menopouse pada perempuan.
30 28.22 Pasien dewasa yang menjalankan kemoterapi di RSUP
Fatmawati dapat sebagai pasien rawat jalan maupun rawat
25 inap, dan kecenderungan sebagai pasien rawat inap sebesar
62,74% lebih besar dibandingkan rawat jalan. Penggunaan
20 16.94 rawat inap sebagai pintu masuk menjalankan kemoterapi dapat
dikarenakan untuk tujuan perbaikan atau pemantauan kondisi
15 13.37 9.67 pasien saat akan, selama atau setelah pemberian kemoterapi.
11.57 Tujuan lainnya dikarenakan bahwa pemberian kemoterapi
tidak dalam satu hari selesai namun dilanjutkan pada hari
10 6.53 4.89 4.46 4.02 berikutnya. Penggunaan ruangan lantai 2 Gedung Prof Soelarto
5 0.34 yang meningkat tajam pada bulan April dan Mei dikarenakan
peralihan fungsi ruang rawat selama masa pandemi Covid-19,
0 dimana RSUP Fatmawati sebagi salah satu rujukan perawatan.
Januari - Juni Penggunaan sitostatika disesuaikan dengan penyakit
kanker dan protokol kemoterapi. Pada kanker payudara
Antimetabolite Other Antineoplastic Plant Alkaloid penggunaan 5-FU (Fluorourasil) terdapat pada tatalaksana
Alkylating Agent Cytotoxic antibiotic Alkaloid dan natural penggunaan sitostatika, disamping itu 5-FU juga digunakan
Antidote Adjuvan Analgesic Hormon
Alkylating Agent Other
Hubungan Karakteristik pasien dengan penggunaan sitostatika
Grafik Hubungan antar Karakteristik Sampel dengan Penggunaan KARAKTERISTIK Januari Februari Maret April Mei Juni Total
Sitostatika
Perempuan 80,08 79,29 77,24 75,25 76,54 80,51 78,22
100 ≥40 - 60 58,59 64,14 52,44 59,09 61,45 67,69 60,14
80 Lt. 2 GPS 20,44 8,28 10,71 39,31 29,36 19,40 22,68
60 Rawat Inap 70,70 73,23 22,76 87,37 60,89 68,72 62,74
40 Rawat Jalan 29,30 26,77 77,24 12,63 39,11 31,28 37,26
20 Kanker Payudara 49,22 53,03 46,75 49,49 53,07 53,85 50,63
0 Fluorouracil (5-FU) 18,82 20,26 21,06 13,97 23,09 18,67 19,47
Januari Februari Maret April Mei Juni Antimetabolite 28,04 26,36 30,77 25,51 29,05 28,45 28,22
Perempuan ≥40 - 60 Lt. 2 GPS pada tatalaksana kanker lainnya, sehingga meningkatkan
Rawat Inap Rawat Jalan Kanker Payudara penggunaan obat. Selama 6 bulan dari 3785 sediaan sitostatika
yang diberikan, 5-FU merupakan jenis terbanyak sebesar
Grafik Terdapatnya Hubungan antar Karakteristik Sampel 19,47%. 5-FU sendiri meruipakan analog antimetabolite
dengan Penggunaan Sitostatika pirimidin dengan mekanisme kerja sebagai antagonis timin
terhadap aktivitas enzim timidilat sintetase (TS) sehingga
100 menghambat pembentukan DNA.
80
60 Pengaruh kuantitas terhadap penggunaan sitostatika
40 berdasarkan golongan adalah bersama dengan Gemcitabine
20 (1,61%) dan Metotrexate (7,13%), 5FU meningkatkan
0 penggunaan golongan antimetabolit menjadi 28,22%.
Golongan antimetabolit merupakan golongan sitostatik yang
Januari Februari Maret April Mei Juni memiliki mekanisme kerja menghambat metabolisme dari zat-
zat metabolit yang diperlukan tubuh seperti pyrimidin dan
Perempuan ≥40 - 60 asam folat.
Kanker Payudara Fluorouracil (5-FU)
Antimetabolite Hubungan karakteristik sampel dengan penggunaan
sitostatik menunjukan bahwa jenis kelamin, usia dan jenis
Pembahasan penyakit berhubungan dengan penggunaan sitostatika dari segi
Selama 6 bulan pertama tahun 2020, yang banyak jenis dan golongan obat, hal ini dapat dilihat dari tidak
terdapatnya perpotongan grafik garis linear dari ke 5 kategori.
menjalankan kemoterapi di RSUP Fatmawati dari 1272 pasien
adalah 995 perempuan (78,22%), periode usia terbanyak antara Kesimpulan
40 sampai 60 tahun 60,14%, berasal dari lantai 2 gedung 1. Karakteristik pasien dewasa yang menjalani kemoterapi di
Soelarto (22,68%), dengan pasien rawat inap sebesar 62,74%,
lebih banyak dari pada rawat jalan, dimana penyakit kanker RSUP Fatmawati selama bulan Januari sampai Juni tahun
terbanyak adalah terdiagnosa kanker payudara 50,63%. 2020 adalah Perempuan (78,22%), usia anatara 40 – 60
tahun ( 60,14%), banyak dari rawat inap (62,74%) dengan
Kanker payudara merupakan penyakit kanker tertinggi diagnosa kanker payudara (50,63%)
di Indonesia dan beresiko tertinggi dialami perempuan. Pada 2. Penggunaan sitostatika terbanyak adalah 5-FU
penelitian ini, periode usia 40 sampai 60 tahun beresiko (Fluorourasil) 19,47% dengan golongan antimetabolit
terkena kanker payudara. Kecenderungan timbulnya kanker 28,22%
4
3. Terdapat hubungan penggunaan sitostatik berdasarkan Husni, H.S. 2010. Evaluasi Pengendalian Sistem Informasi
jenis dan golongan obat terhadap jenis kelamin, usia dan
penyakit kanker melalui persamaan garis linear. Penjualan. Jakarta
International Union Against Cancer (UICC). 2009. Jika
Tidak Dikendalikan 26 Juta Orang Di Dunia
DAFTAR PUSTAKA Menderita Kanker. Diperoleh dari:
http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-
Adiwijono.(2006). Teknik-teknik pemberian kemoterapi, release/1060-jika-tidakdikendalikan-26-juta-orang-
dalam Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., di-dunia-menderita-kanker-.html.
Simadibrata, M.K., & Setiati, S. (2006).Buku ajar ilmu Jeffery, H., Richard, D., and James-Chatgilaou, G., 1998,
penyakit dalam.(3rd Ed.). (hlm 1900-1902). Jakarta: Clinical Pharmacy : A pratical Approach, The Society
Pusat Penerbit Departemen Penyakit Dalam of Hospital of Australia, Pharmacists of Australia,
FKUIRasjidi.2009. Deteksi Dini & Pencegahan Kanker page 360
Pada Wanita. Jakarata: Sagung Seto. Junaidi, Iskandar. (2007). Kanker. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu
American Cancer Society. 2011. Global Cancer Statistics. Populer Keperawatan edisi 2. Jakarta: Salemba
CA: A Cancer Journal for Clinicians Volume 61 Medika Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis dan
Number 2 March/April 2011 Instrumen Penelitian
Anand, P., Kunnumakara, A. B., Sundaram, C., Harikumar, KEMENKES. Buletin Kanker. Pusat Data dan Informasi
K. B., Tharakan, S. T., Lai, O. S., … Aggarwal, B. B.
Kementrian Kesehatan RI 2015. 2015.
(2008). Cancer is a Preventable Disease that Requires Kozier.(2010). Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis.Edisi
Major Lifestyle Changes. Pharmaceutical Research, 5.Jakarta : EGC
25(9), h. 2097-2116.doi: 10.1007/s11095-008-9661-9. Mangan, Y., 2009, Cara Sehat Mencegah dan Mengatasi
Arima,Aria,C, 2006. Paralisis Saraf Kranial Multipel pada Kanker, Agromedia Pustaka, Jakarta.
Karsinoma Nasofaring.Available from: Martino E, Casamassima G, Castiglione S, Cellupica E,
http://library.usu.ac.id/download/fk/D0400193.pdf Pantalone S, Papagni F, Rui M, Siciliano AM, Collina
[Accessed 17 May 2010]. S. Vinca alkaloids and analogues as anti-cancer
Bendamusti, https://www.drugbank.ca/drugs/DB06769 agents: Looking back, peering ahead. Bioorg. Med.
Beni Ahmad Saebani, 2008, Metode Penelitian, Bandung: Chem. Lett. 2018 Sep 15;28(17):2816-
Pustaka Setia 2826. [PubMed]
Brown, T.R. 2006, Handbook of Institutional Pharmacy Menkes RI. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58
Practice, 4th edition, American Society of Health- Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian
System Pharmacy, Maryland, USA. di Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Budi, S. C. 2011. Manajemen Unit Kerja Rekam Medis. Metrix,http://www.kalbemed.com/searchpage/ArtMID/556/
Yogyakarta: Quantum Sinergis Media. ArticleID/413/METRIX
Dahlan,Ahmad. 2014. Populasi dan Sampel Penelitian. Notoatmodjo,S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan.
http://www.eurekapendidikan.com/2014/10/Populasi- Jakarta: Rineka Cipta. . 2004. Metodologi Penelitian
dan-sampelpenelitian/. Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Kesehatan RI. 2009. Undang-Undang Republik Nurgat ZA, Smythe M, Al-Jedai A, Ewing S, Rasheed W,
Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Belgaumi A, Ahmed SO, Ashour M, Al Agil A,
Sakit. Jakarta: Depkes RI. Siddiqui K, Aljurf M. Introduction of vincristine
De Jong, W,. R. Sjamsuhidajat. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah mini-bags and an assessment of the subsequent risk of
Edisi 2. EGC. Jakarta. extravasation. J Oncol Pharm Pract. 2015
Desen,W.(2008). Buku Ajar Onkologi Klinis, edisi 2. Jakarta Oct;21(5):339-47.
: Balai Penerbit FKUI. Nursalam. 2014. Metodologi penelitian ilmu keperawatan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia,2006. Profil Jakarta: Salemba Medika
Kesehatan 2008. Jakarta. Price, A. Sylvia, Lorraine Mc. Carty Wilson, 2006,
Dipiro, J.T., et al. 2005. Pharmacotherapy Handbook.Sixth Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit,
edition.The Mc. Graw Hill Company. USA. Page : Edisi 6, (terjemahan), Peter Anugrah, EGC, Jakarta.
1891-1939. Siregar,C.J.P., 2004, Farmasi Rumah Sakit, Penerbit Buku
Epirubicin, https://www.drugbank.ca/drugs/DB00445 Kedokteran ECG, Jakarta, 20, 37-42.
Gilman, A.G., 2007, Goodman & Gilman Dasar Songklanakarin J. Sci. Tehnol 28(1):145-155
Farmakologi Terapi, diterjemahkan oleh Tim Alih Sugiyanto. 2013. Model-Model Pembelajaran Inovatif.
Bahasa Sekolah Farmasi ITB, Edisi X, 877, Penerbit Surakarta: Yuma Pustaka.
Buku Kedokteran, EGC, Jakarta. Sugiyono. 2013. Statistik Untuk Penelitian. Bandung :
Grunberg, SM., 2004, Chemotherapy-Induced Nausea and Alfabeta, cv.
Vomitting : Prevention, Detection and Treatment- Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja, 2007, Obat-Obat
How are We Doing ?, The Journal of Supportive Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek
Oncology, 2 : 1-12. Sampingnya, Edisi Keenam, 262, 269-271, PT. Elex
Guyton A. C. And Hall J.E. 2008.Buku Ajar Fisiologi Media Komputindo, Jakarta.
Kedokteran.Edisi 11.Jakarta : Penerbit Buku Yusuf, dkk (2006) An In Vitro Inhibition of Human
Kedokteran EGC. h. 693 – 700,912 – 917.
Malignant Cell Growth of Crude
5
Water Extract of Cassava (Manihot esculenta Crantz) and
Comercial Linamarin.
Wirawan. (2012 ). Evaluasi Teori, Model, Standar, Aplikasi
dan Profesi. Jakarta: Rajawali Pers.
6
SURVEY DATA OF COVID-19 VACCINE SIDE EFFECTS AMONG HOSPITAL STAFF IN
A NATIONAL REFERRAL HOSPITAL INDONESIA
Authors
Dovy Djanas1, Yusirwan2, Rose Dinda Martini3, Rahmadian4, Hendria Putra5, Adriani Zanir5, Syahrial6,
Ricvan Dana Nindrea7
Affiliations
1. Department of Obstetrics and Gynecology, Dr. M Djamil General Hospital, Padang, Indonesia
2. Department of Child Surgery, Dr. M Djamil General Hospital, Padang, Indonesia
3. Department of Internal Medicine, Dr. M Djamil General Hospital, Padang, Indonesia
4. Department of Finance, Dr. M Djamil General Hospital, Padang, Indonesia
5. Department of Education and Research, Dr. M Djamil General Hospital, Padang, Indonesia
6. Department of Nutrition, Faculty of Public Health, Universitas Andalas, Padang, Indonesia
7. Department of Public Health and Community Medicine, Faculty of Medicine, Universitas Andalas,
Padang, Indonesia
Corresponding author
Dovy Djanas ([email protected])
ABSTRACT
In response to the current global challenges due to COVID-19, the dataset presented COVID-19 vaccine
side effects among hospital staff in a national referral hospital in Indonesia. The survey were gathered from
the hospital staff of Dr. M. Djamil General Hospital Padang, a national referral hospital in Indonesia,
through a survey disseminated via an online questionnaire, determining COVID-19 vaccine side effects
from 9th February to 13th February 2021. The items of the side effects included swelling, redness, itching,
fever, headache, muscle pain, tiredness, coughing, diarrhea, nausea and vomiting, breathlessness, joint
pain, fainted, anaphylactic reaction, tingling and swollen lymph nodes. In this survey, we gathered a total of
840 responses. The data were analyzed using univariate and bivariate analysis. The data analysis was
performed using IBM version 25.0. This survey implied that COVID-19 vaccination should be considered a
safe and essential procedure for the control of this pandemic event, particularly in Indonesia.
Keywords: COVID-19; Hospital; Side Effects; Staff; Vaccine; Indonesia
Specifications Table Public health
Subject Health education, health promotion
Specific subject area
Type of data Primary data Tables Figure
How data were acquired Data was collected using an online survey platform (google forms). The
questionnaire is provided as a supplementary file
Data format Raw Analyzed
Parameters for data The hospital staff who have received COVID-19 vaccine were identified
collection through medical documents review at Dr. M. Djamil General Hospital Padang,
national referral hospital in Indonesia. A total of 840 hospital staff were
Description of data included to have survey assessing COVID-19 vaccine side effects, i.e.,
collection swelling, redness, itching, fever, headache, muscle pain, tiredness, coughing,
diarrhea, nausea and vomiting, breathlessness, joint pain, fainted,
anaphylactic reaction, tingling and swollen lymph nodes.
The data was collected through an online questionnaire, which was sent to
the hospital staff in a national referral hospital Indonesia through convenience
sampling.
Data source location Region: Southeast Asia Country: Indonesia
Data accessibility The dataset is provided as a supplementary file.
Value of the Data awareness about COVID-19 vaccine, thus
• The data is essential because this is the first expected to increase the willingness to
participate as well. Therefore, the data is
survey involving large number of hospital necessary for health knowledge, promotion
staff in a national referral hospital in and education to control COVID-19
Indonesia to assess COVID-19 vaccine side transmission and end the pandemic.
effects, including swelling, redness, itching, • The data may be valuable to researchers
fever, headache, muscle pain, tiredness, who would like to compare our finding with
coughing, diarrhea, nausea and vomiting, similar studies on COVID-19 vaccine side
breathlessness, joint pain, fainted, effects from various countries, or to perform
anaphylactic reaction, tingling and swollen systematic literature review and meta-
lymph nodes. analysis study.
• All researchers in communicable disease, • These survey may assist the government or
epidemiology, and health promotion could health policy maker by offering evidence for
benefit from these data since our finding may developing COVID-19 related guidelines, as
improve community knowledge and
well as health policy recommendations and this national referral hospital in Indonesia to
application on COVID-19 vaccination. determine COVID-19 vaccine side effects, i.e.,
swelling, redness, itching, fever, headache,
Data Description muscle pain, tiredness, coughing, diarrhea,
The dataset presented COVID-19 vaccine side nausea and vomiting, breathlessness, joint pain,
effects among hospital staff in a national referral fainted, anaphylactic reaction, tingling and
hospital in Indonesia. The hospital staff who swollen lymph nodes [1], [2]. The questionnaire
received COVID-19 vaccination were identified is provided as a supplementary file. The
through medical documents review in Dr. M. participant characteristics is described in Table
Djamil General Hospital Padang. The survey 1.
data were collected from 840 hospital staff in
The side effects of COVID-19 vaccine among Indonesia is presented in Figure 1. The side
hospital staff in a national referral hospital effects of COVID-19 vaccine based on
Indonesia is presented in Table 2. The side symptoms time among hospital staff in a
effects of COVID-19 vaccine based on national referral hospital Indonesia is described
stratification according to medical staff and non- in Table 4. The association of side effects of
medical staff in a national referral hospital COVID-19 vaccine with age among hospital staff
Indonesia is presented in Table 3. The in a national referral hospital Indonesia is
symptoms time of COVID-19 side effects among presented in Table 5.
hospital staff in a national referral hospital
Table 2. The side effects of COVID-19 vaccine hospital Indonesia is presented
among hospital staff in a national referral
Table 3. The side effects of COVID-19 vaccine based on stratification according to medical staff and non-
medical staff in a national referral hospital Indonesia
Figure 1. The symptoms time of COVID-19 side effects among hospital staff in a national referral hospital
Indonesia
Table 4. The side effects of COVID-19 vaccine based on symptoms time among hospital staff in a national
referral hospital Indonesia
Table 5. The association of side effects of COVID-19 vaccine with age among hospital staff in a national
referral hospital Indonesia is presented
N/A, not account; OR, odd ratio; *, significant at p<0.05
Experimental Design, Materials and Methods groups of hospital staff. Collection of datasets in
This survey was performed using a cross Dr. M Djamil General Hospital Padang was
sectional method to determine COVID-19 side performed after the COVID-19 Sinovac
effects among hospital staff in a national referral vaccination of medical and non-medical staff,
hospital Indonesia. This dataset was collected gradually from January 18, 2021 to January 31,
as a form of the commencement of the COVID- 2021. The questionnaire to assess the side
19 Sinovac vaccine vaccination in Indonesia effects of the COVID-19 vaccine was
which began on January 13, 2021. The established based on infection prevention and
vaccination was conducted in stages, in which control principles and procedures for COVID-19
the initial stage of vaccination was targeted at vaccination activities in Indonesia [1].
Furthermore, the survey validation was according to the Declaration of Helsinki.
performed by testing the survey before use. The
validation showed good internal consistency for Credit Author Statement
all items in the questionnaire with Cronbach Dovy Djanas: conceptualization, investigation,
alpha value of 0.815. This dataset demonstrated data curation, writing original draft. Yusirwan:
the side effects of COVID-19 vaccination among conceptualization, methodology. Rose Dinda
medical and non-medical staff in one of the Martini: conceptualization, investigation.
national referral hospitals in Indonesia, in which Rahmadian: conceptualization, investigation.
the majority of staff were at the group of age ≤ Hendria Putra: data curation, investigation.
50 years and the rest were at group of age > 50 Adriani Zanir: data curation, investigation,
years. According to the International Council on methodolology. Syahrial: investigation, writing
Adult Immunization (ICAI), the latter mentioned original draft. Ricvan Dana Nindrea:
group are more likely to have underlying conceptualization, formal analysis, methodology,
comorbidities, and thus there is greater need to visualisation, writing original draft, writing-
prioritize this group in the vaccine distribution review and editing.
[2].
The dataset was included 840 hospital staff in a Declaration of Competing Interest
national referral hospital in Indonesia identified The authors declare that they have no known
through medical documents review at Dr. M. competing financial interests or personal
Djamil General Hospital Padang, Indonesia. relationships which have, or could be perceived
Written online informed consent was provided. to have, influenced the work reported in this
The collection response data was conducted article.
between 9th February and 13th February 2021.
We preferred to use WhatsApp Messenger for Acknowledgments
enrolling potential participants. A questionnaire The author would like to thanks to participants
was presented in Google Forms and the link who were willing to give a response to this
generated was then shared via Whatsapp survey data.
Messenger after the phone number of
participants were collected by medical Supplementary Materials
documents review with legal permission. The Supplementary material related with this survey
sampling technique in this dataset is data can be found, in the online version.
convenience sampling [3]. The inclusion criteria
included hospital staff who received COVID-19 References
vaccination with no comorbidity [4], [5]. The 1. Ministry of Health Republic of Indonesia,
univariate analysis was perfored using
frequency and percentage, while the bivariate Decision of the Directorate General Of
analysis was conducted using chi-square test. P Disease Prevention and Control number
value of <0.05 shows a statistically significant HK.02.02/4/1/2021 regarding technical
difference between groups. OR with 95% CI was instructions for the implementation of
presented. Data analysis used the IBM version vaccinations in the context of preventing the
25.0. COVID-19 pandemic. Ministry of Health
Republic of Indonesia, 2021.
Ethics Statement 2. L.A. Privor-Dumm, G.A. Poland, J. Barratt J,
This survey data passed the ethical review by D.N. Durrheim, M.D. Knoll, P. Vasudevan, et
the ethics commiittee of the Faculty of Medicine, al, A global agenda for older adult
Andalas University, Indonesia (No. 361/ KEP/ immunization in the COVID-19 era: A
FK/ 2021). The survey data was conducted roadmap for action, Vaccine, 2020, S0264-
410X(20)30885-9.
doi:10.1016/j.vaccine.2020.06.082. Indonesia, Data Brief, 32(2020), 106145.
http://doi.org/ 10.1016/j.dib.2020.106145.
3. M.F. Haidere, Z.A. Ratan, S. Nowroz, S.B. 5. R.D. Nindrea, N.P. Sari, W.A. Harahap, S.J.
Haryono, H. Kusnanto, I. Dwiprahasto, T, et
Zaman, Y.J. Jung, H. Hosseinzadeh, J. Y. al, Survey data of multidrug-resistant
tuberculosis, Tuberculosis patients
Cho, COVID-19 vaccine: critical questions characteristics and stress resilience during
COVID-19 pandemic in West Sumatera
with complicated answers, Biomol The Province, Indonesia, Data Brief, 32(2020),
106293.
(Seoul), 29(1), 1-10. http://doi.org/10.1016/j.dib.2020.106293.
doi:10.4062/biomolther.2020.178.
4. R.D. Nindrea, N.P. Sari, W.A. Harahap, S.J.
Haryono, H. Kusnanto, I. Dwiprahasto, T, et
al, Survey data of COVID-19 awareness,
knowledge, preparedness and related
behaviors among breast cancer patients in
Judul Protokol Resmi RINGKASAN EKSEKUTIF
Sponsor
Tujuan Fase III, Acak-terbuka, Uji Klinik Efikasi dan Keamanan
Favipiravir pada Pasien Covid-19 di Indonesia
Desain Uji Klinik Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan
Populasi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,Kementerian
Besar Sampel Kesehatan RI
Tujuan Primer : Menentukan efikasi dan keamanan Favipiravir terhadap obat
Kriteria Penelitian standar untuk pengobatan pasien terkonfirmasi Covid-19 di Rumah Sakit
Tujuan Sekunder:
Perlakuan 1. Menentukan viral clearance SARS-Cov2 pasca pemberian obat
Obat
Favipiravir terhadap obat standar RS
2. Membandingkan manfestasi klinik dan laboratorium pasca pemberian
obat Favipiravir terhadap obat standar RS
3. Memformulasi rekomendasi kebijakan untuk penggunaan obat Favipiravir
pada penderita COVID-19
Randomized, open-label, paralel
Seluruh pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 di Rumah Sakit terpilih.
Berdasarkan rumus, didapat jumlah n untuk 1 kelompok = 82, Perkiraan
untuk drop out=25%, Jumlah sampel untuk 1 kelompok = 105. Terdapat 2
kelompok pengobatan yaitu 1 standar (kontrol) yang akan dibandingkan
dengan 1 pengobatan yang akan diuji. Jumlah total sampel yang diperlukan =
2 x 105 = 210 subyek penelitian. Adapun pembagian pelaksanaan obat di
Rumah Sakit dibagi secara proporsional dimana setiap obat relatif terbagi
rata di tiap Rumah Sakit.
Kriteria Inklusi
1. Pasien dewasa 18 tahun – 59 tahun
2. Konfirmasi Covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan Real Time PCR
(RTPCR) untuk SARS-COV-2 kurang dari 7 hari sebelum hari pertama
minum obat
3. Pasien dengan manifestasi klinik derajat Ringan-Sedang dirawat di rumah
sakit yang ditetapkan oleh DPJP sesuai defenisi operasional protokol
penelitian
4. Belum mendapatkan terapi antivirus COVID-19
5. Secara sadar dan sukarela mengikuti penelitian
Kriteria Ekslusi
1. Wanita hamil dan menyusui
2. Riwayat Alergi terhadap obat Favipiravir dan obat standar Rumah Sakit
3. Pasien dengan nilai pemeriksaan asam urat diatas normal pria >7 mg/dL ;
wanita >5,7 mg/dL
4. Pasien dengan riwayat gangguan EKG/Aritmia/QT memanjang
5. Tidak bisa menelan obat
Pemberian obat ekeperimen dan standard of care (SoC) Rumah Sakit
Eksperimental: Favipiravir
Dosis:
Obat Uji
Hari 1: Favipiravir 2 x 1600 mg (8 tablet),
Durasi Partisipasi Hari 2 sampai hari ke 7 hingga maksimal 14 hari :
Subyek Favipiravir 2 x 600 mg (3 tablet) sehari,
Periode Penelitian + Azithromycin 1 x 500/hari selama 5 hari
Evaluasi Efikasi Komparator :
+ Azithromycin 1 x 500/hari selama 5 hari
Evaluasi Keamanan Obat Uji : Follow up minimal 7 hari sampai dengan maksimal 19 hari
Prosedur Penelitian Obat SoC: Obat Uji di Follow up minimal 7 hari sampai dengan maksimal
11hari
Hasil Penelitian Mei – Desember 2020
Kriteria efikasi didasari pada hasil akhir (outcome) subyek penelitian yaitu
Ringkasan sembuh atau tidak sembuh. Kriteria Sembuh didefinisikan dengan minimal 3
hari tanpa gejala klinik dan hasil tes RTPCR sudah negatif (Endpoint
primer).1 Sementara Kriteria tidak sembuh adalah jika masih ditemukan
gejala klinis dalam 3 hari atau RTPCR masih positif. Lama perawatan subyek
menjadi Endpoint Sekunder.
Keamanan akan dievaluasi dengan pemeriksaan klinik dan laboratorium
yang dilakukan selama subyek masih berada di Rumah Sakit.
Pra-penapisan yaitu menilai pasien yang bisa memenuhi kriteria inklusi dan
ekslusi. Penapisan dengan terlebih dahulu dilakukan persetujuan setelah
penjelasan (PSP)/ Inform Consent. Penapisan dilakukan untuk menilai
apakah subyek memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Randomisasi dilakukan
untuk menentukan alokasi obat penelitian. Subyek penelitian adalah pasien
rawat inap di RS terpilih dan pada saat perekrutan dilakukan maka
waktunya disebut D1. Hari berikutnya disebut D2 dan seterusnya Follow up
akan dilakukan mulai hari pertama perekrutan, minum obat hingga maksimal
hari ke 19 untuk obat uji dan 11 hari untuk Obat SoC. Pencatatan manifestasi
klinik dan laboratorium akan dilakukan mulai perekrutan hingga pasien
pulang dari RS. Semua hasil akan dicatat ke dalam case report form, dan jika
ditemukan kasus manifestasi klinik dan laboratorium berkembang menjadi
berat maka akan dituliskan pada adverse case report form dan segera
dilaporkan sesuai prosedur standar GCP. Subyek juga dapat di drop – out
dari penelitian dengan alasan dihentikan follow-up-nya atau terjadi protocol
violation
Penelitian masih belum selesai, berdasarkan masukan saat melakukan
supervisi dan monitoring, inspeksi BPOM
Dari 185 pasien yang dilakukan prepenapisan, didapatkan 89 orang di
penapisan dan total ada 51 subyek penelitian yang direkrut, namun hanya 30
subyek yang di analisis. Rerata subyek berumur 43,2 (kisaran: 21-58) tahun,
dengan jumlah laki – laki 16 subyek dan perempuan 14 subyek. Gejala paling
sering ditemukan pada subyek yang sebelum masuk ke RS adalah demam
(36,7%), Batuk (40%), Sesak (30%) diikuti manifestasi klinis lainnya.
Komorbid yang ditemukan pada subyek penelitian adalah hipertensi,
diabetes mellitus, penyakit jantung dan kebiasan merokok. Berdassarkan
manifestasi klinis ditemukan hanya 43,3% yang bebas gejala klinis 3 hari
berturut-turut.
1. Penelitian masih belum selesai dilaksanakan karena berkaitan dengan
tahun anggaran dan tantangan dalam mendapatkan subyek penelitian yang
ideal sesuai dengan protokol penelitian. Dibutuhkan perbaikan/revisi protokol
untuk dapat merekrut subyek penelitian sesuai dengan hasil supervisi,
Saran monitoring dan inspeksi BPOM.
2. Jumlah kasus yang direkrut pada penelitian ini hingga 14 Desember 2020
adalah 59 subyek penelitian dengan 259 kasus dengan obat uji dan 30 kasus
dengan obat standar of care (SoC) dari 5 Rumah Sakit Lokasi Penelitian.
3. Subyek dengan kasus Covid-19 gejala ringan berjumlah 15 orang,
sementara gejala sedang 44 subyek.
4. Rerata umur yang terinfeksi Covid-19 adalah 42,3 tahun
5. Manifestasi klinis Demam, batuk, sesak nafas yang ditemukan merupakan
gejala khas subyek Covid-19 ditambah dengan manifestasi klinis lainnya
6. Komorbid terbanyak yang ditemukan pada laporan sementara ini adalah
hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung coroner, dan kebiasan
merokok
7. Bebas gejala klinis hanya mencapai 43%
8. Hasil pemeriksaan RT-PCR menunjukkan hasil positif RT- PCR masih
ditemukan setelah hari ke 7.
9. Limfositopenia terbanyak ditemukan pada hasil pemeriksaan laboratorium
1. Untuk menjawab pertanyaan penelitian maka uji klinis ini akan dilanjutkan
agar jumlah subyek yang ideal terpenuhi sesuai dengan kaidah ilmiah
2. Perubahan protokol diperlukan terutama berhubungan dengan lama
penggunaan obat Azithromycin yang dapat diterima.
3. Perubahan protokol juga perlu dipertimbangkan untuk merekrut subyek
dengan Covid-19 gejala ringan
4. Komorbid dipertimbangkan menjadi bagian tak terpisahkan dari analisis
yang berhubungan dengan gejala dan RT-PCR jika dilakukan pengajuan
revisi protokol penelitian.
5. Perbaikan protokol penelitian merujuk hasil inspeksi BPOM dan hasil
supervisi dan monitoring sangat diperlukan untuk menjamin kualitas dan
meningkatkan perekrutan subyek penelitian.
6. Peningkatan kemampuan peneliti harus ditingkatkan kembali agar kualitas
data dan proses pengumpulan data dapat berjalan maksimal sesuai prinsip
Good Clinical Practice (GCP).
ABSTRAK
Peningkatan Kasus COVID-19 terus terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Namun
saat ini SoC yang digunakan belum diketahui secara pasti bagaimana efikasi dan keamanannya.
Favipiravir disebutkan sebagai salah satu obat menjanjikan yang dapat membantu mengeliminasi
SARS-Cov2 ditubuh penderita. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan efikasi dan keamanan
obat Favipiravir terhadap obat standar untuk pengobatan pasien terkonfirmasi Covid-19 di Rumah
Sakit. Desain penelitian adalah ekperimental dengan melakukan uji klinik intervensi berupa obat uji dan
Standar, randomisasi, open labeled pada pasien terkonfirmasi positif COVID-19 dengan gejala ringan
dan sedang menurut standar pedoman tatalaksana Covid-19 di Indonesia. Penilaian dilakukan
terhadap manifestasi klinis, hasil RTPCR, dan pemeriksaan laboratorium. Subyek penelitian diikuti
paling cepat 1 minggu dan paling lama 19 hari. Total sampel yang dibutuhkan adalah 210 subyek
penelitian. Oleh karena penelitian belum selesai oleh karena target sampel yang belum tercapai, maka
hasil sementara yang dapat dipresentasikan adalah telah direkrut 59 subyek penelitian dengan rincian
29 kasus dengan obat uji dan 30 kasus dengan obat standar of care (SoC) dari 5 Rumah Sakit Lokasi
Penelitian. Diketahui Subyek bergejala ringan ringan berjumlah 15 subyek sementara gejala sedang 44
subyek. Bebas klinis belum tercapai pada banyak subyek penelitian. Pemeriksaan RTPCR masih
ditemukan hingga hari ke 19 pada beberapa subyek penelitian, sementara untuk pemeriksaan
laboratorium menunjukan tingginya kasus dengan limfositopenia. Berdasarkan data yang ada,
peneliltian sebaiknya dilanjutkan pada tahun 2021 untuk bisa mencapai target dan sahih secara ilmiah
sehingga bisa menjadi dasar rekomendasi yang kuat bagi tatalaksana Covid-19.
DAFTAR ISI
SUSUNAN TIM PENELITI 1
SURAT PERSETUJUAN ETIK 10
PERSETUJUAN ATASAN 15
KATA PENGANTAR 16
RINGKASAN EKSEKUTIF 17
ABSTRAK 22
DAFTAR ISI 23
DAFTAR TABEL 25
DAFTAR GAMBAR 26
DAFTAR BAGAN 27
BAB 1. PENDAHULUAN 28
1.1 Latar Belakang 28
1.2 Pertanyaan Penelitian 30
1.3 Hipotesis 30
1.4 Tujuan Penelitian 31
31
1.4.1Tujuan Primer 31
1.4.2Tujuan Sekunder 31
Manfaat Penelitian 32
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 32
2.1 COVID -19 39
2.2 FAVIPIRAVIR 44
2.3 AZITHROMYCIN 46
BAB 3. METODE PENELITIAN 46
3.1 Kerangka Konsep 46
3.2 Disain penelitian 47
3.3 Lokasi Penelitian 47
3.4 Waktu Penelitian 47
3.5 Populasi Penelitian
3.6 Sampel Penelitian 47
3.7 Kriteria Penelitian 47
3.7.1 Kriteria Inklusi 47
3.7.2 Kriteria Ekslusi 48
3.8 Besar sampel 48
3.9 Randomisasi 49
3.10 Pengobatan 49
49
3.10.1 Favipirapir 50
3.10.2 Obat Standard Of Care (SoC) 51
3.10.3 Pengobatan darurat 51
3.10.4 Pengobatan yang dilarang diberikan bersamaan 52
3.11 Evaluasi Kriteria 52
3.11.1 Evaluasi Efikasi 56
3.11.2 Evaluasi Klinik 57
3.11.3 Evaluasi Pemeriksaan Fisik 57
3.11.4 Tanda vital 57
3.11.5 Evaluasi Laboratorium, Radiologi 60
3.11.6 Evaluasi Keamanan 60
3.11.7 Kejadian Tidak Diinginkan yang Serius (KTDS) 60
3.11.8 Pelaporan Kejadian Tidak Diinginkan Serius (KTDS) 61
3.11.9 Manfaat/Risiko 61
3.11.10 Monitoring kepatuhan pengobatan 62
3.12 Pengumpulan Data 62
3.12.1 Diagram perekrutan subyek penelitian 62
3.12.2 Follow Up 64
3.12.3 Protocol Violation 65
3.12.4 Instrumen Penelitian 65
3.12.5 Strategi perekrutan subyek 66
3.12.6 Jadwal Kegiatan 66
3.13 Data Mangement 67
3.14 Pengawasan dan Monitoring Penelitian 68
3.15 Analisis 68
3.16 Etik Penelitian 70
3.17 Jadwal Penelitian 71
BAB 4. HASIL PENELITIAN 71
4.1 Laporan Kegiatan 84
4.2 Laporan Hasil Penelitian Sementara 96
BAB 5. PEMBAHASAN 105
BAB 6. RINGKASAN DAN SARAN 105
6.1 Ringkasan 105
6.2 Saran 107
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL 58
Tabel 1 Rencana Pemeriksaan Laboratorium 66
Tabel 2 Jadwal kegiatan 70
Tabel 3 Jadwal Penelitian 87
Tabel 4 Karakteristik gejala klinis yang muncul sebelum dirawat di Rumah Sakit 88
Tabel 5 Karakteristik status komorbid subyek Penelitian 89
Tabel 6 Karakteristik subyek penelitian hari pertama pererkutan subyek 89
Tabel 7 Karakteristik subyek penelitian hari kedua perekrutan subyek 90
Tabel 8 Karakteristik subyek penelitian hari ketiga perekrutan subyek 91
Tabel 9 Karakteristik subyek penelitian hari keempat perekrutan subyek 91
Tabel 10 Karakteristik subyek penelitian hari kelima perekrutan subyek 92
Tabel 11 Karakteristik subyek penelitian hari keenam perekrutan subyek 92
Tabel 12 Karakteristik subyek penelitian hari ketujuh perekrutan subyek 94
Tabel 13 Hari pemeriksaan PCR subyek penelitian 94
Tabel 14 Hasil Pemeriksaan laboratorium saat perekrutan subyek penelitian
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Bebas Gejala Klinis 93
DAFTAR BAGAN 46
Bagan 1 Kerangka Konsep 54
Bagan 2 Evaluasi Efikasi Favipiravir 55
Bagan 3 Evaluasi Efikasi Azythromysin 62
Bagan 4 Alur Perekrutan dan Follow up Subyek Penelitian 86
Bagan 5 Profil Subyek Penelitian
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang harapan. Jika merujuk pada Pedoman
Peningkatan Kasus COVID-19 terus terjadi di Pencegahan dan Pengendalian Corona virus
berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Disease (COVID-19) dari Kementerian
Bila angka Basic Reproduction Number (R0) Kesehatan Republik Indonesia maka
diatas satu menunjukkan penyebarannya sangat pengobatan harus segera diberikan khususnya
cepat, terbukti hanya dalam beberapa bulan untuk mencegah terjadinya kasus berat.7 Obat –
saja kasusnya di dunia sudah lebih dari 3 juta obat Standard of Care (SoC) yang harus
kasus sejak pertama kali diumumkan di bulan diberikan pada penderita COVID-19 adalah obat
Desember 2019. Jika kondisi ini tetap berlanjut yang mengandung antiviral yang berfungsi
akan terjadi lonjakan kasus yang besar mengeliminasi SARS CoV2.8 Namun saat ini
sehingga gangguan pada sistem pelayanan SoC yang digunakan belum diketahui secara
kesehatan akan semakin berat. Kondisi ini pasti bagaimana efikasi dan keamanannya,
diperparah dengan tingginya kasus kematian sementara obat yang dianggap sebagai calon
yang sudah mencapai ratusan ribu jiwa. obat terbaik seperti Remdesivir,
Pencegahan yang efektif seperti physical Lopinavir/Ritonavir, Ribavirin masih dalam tahap
distancing dan mencuci tangan merupakan jalan uji klinik termasuk obat Favipiravir.
untuk mencegah penyebaran infeksi COVID-19, Favipiravir disebutkan sebagai salah satu obat
namun demikian bagi yang sudah terinfeksi menjanjikan yang dapat membantu
dapat mengalami manifestasi klinik yang ringan, mengeliminasi SARS-Cov2 ditubuh penderita.
sedang hingga berat bahkan tanpa gejala. Dari Hasil penelitian Cai et al di RS Shenzen, Cina
berbagai kasus tersbut disebutkan sekitar 32%- mendapatkan bahwa kemampuannya lebih baik
nya masuk ICU dengan 15% mortalitas2 di dari obat antivirus lainnya, dimana terjadi
berbagai negara besar seperti Amerika Serikat, penurunan virus hanya dalam 4 hari.9
Italia, China termasuk Indonesia. Kecepatan ini tentunya akan membantu
COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan menurunkan jumlah virus dan mencegah
oleh SARS-CoV2, virus RNA, dengan terjadinya berbagai manifestasi klinik yang dapat
penyebaran secara droplet. Virus akan masuk membahayakan bagi penderita. Hasil penelitian
ke sel melalui interaksi dengan reseptor ACE di Cina tersebut masih sangat terbatas dengan
yang dominan ada di Paru – Paru sehingga jumlah pasien minimal dengan efikasi yang
manifestasi klinik lebih banyak mengarah ke masih belum diketahui secara pasti termasuk
fungsi paru.3 Komorbiditas seperti Diabetes masalah keamanan obat Favipiravir.8
Melitus dan Hipertensi serta faktor lainnya Pada uji invivo Favipiravir dikonversikan menjadi
disebutkan dapat meningkatkan kasus T-705-ribosyl triphosphate (T-705RTP) dan
mortalitas. 3–5 Kecepatan virus berkembang di secara selektif menghambat polymerase viral
tubuh inang sangat tinggi yang umumnya terjadi RNA, sehingga menjadi efektif terhadap virus
pada awal infeksi, dan cepat memicu kerusakan RNA. 10,11 Metabolit T-705RTP merupakan
atau gangguan patofosiologis berbagai organ metabolit aktif yang mempunyai aktivitas
tubuh penderita.6 Oleh karenanya pengobatan antiviral yang potent. Secara invitro, T-705RTP
yang cepat dan akurat penting dilakukan untuk menghambat inkorporasi ATP dan Guanosine
menghentikan perkembangan. triphosphate(GTP), yang merupakan bagian
Pengobatan Covid-19 masih menjadi tantangan penting pada sintesis RNA.12,13 Potensi inilah
karena respon setiap individu terinfeksi sangat yang menjadi bagian penting dalam upaya untuk
bervariasi, dimana ada yang tidak mendapatkan mengeliminasi SARS-Cov2 dalam tubuh
obat spesifik jadi sembuh, namun ada juga yang manusia.
sudah mendapatkan pengobatan standar Obat standar yang digunakan di Indonesia
antiviral dan obat suportif hasilnya tidak sesuai sebagai antiviral atau yang mempunyai efek
antiviral diantaranya adalah Azythromycin, dan untuk pengobatan COVID-19 di Rumah Sakit
jika dibandingkan dengan obat Standard of
Hidroxychloroquine/Chloroquine dan lainnya Care (SoC) untuk pengobatan COVID-19 di
Rumah Sakit?
yang pemberiannya dilakukan sesuai dengan 2. Berapa lama obat Favipiravir dan obat
standar mengeliminasi virus SARS- CoV2
rumah sakit. Obat – obat tersebut saat ini ada dalam tubuh?
3. Bagaimana perubahan manifestasi klinik dan
yang menunjukkan efek yang yang diharapkan laboratorium setelah pemberian Favipiravir
plus Standard of Care (SoC) dan Standard of
untuk pengobatan Covid-19, namun demikian Care (SoC) ?
masih perlu dilakukan pengujian lebih lanjut 1.3 Hipotesis
Berdasarkan pertanyaan penelitian diajukan
terhadap efikasi dan keamanannya seperti hipotesis yaitu:
1. Efikasi obat Favipiravir plus Standard of Care
Hidroxychloroquine/Chloroquine yang punya
(SoC) lebih baik/superior terhadap Covid-19
efek samping memberatkan sehingga telah dibandingkan dengan Standard of Care
(SoC) Rumah Sakit
direkomendasikan untuk dicabut 2. Keamanan obat Favipiravir plus Standard of
Care (SoC) lebih baik/superior terhadap
penggunaannya di beberapa Negara. Covid-19 dibandingkan dengan Standard of
Care (SoC) Rumah Sakit
Oleh karena obat standar yang digunakan masih 3. Ada perubahan manifestasi klinik dan
laboratorium setelah pemberian obat
belum diketahui secara pasti efikasi dan Favipiravir plus Standard of Care (SoC) dan
Standard of Care (SoC) Rumah Sakit.
keamanannya. Sementara kasus positif terus
1.4 Tujuan Penelitian
meningkat dan menimbulkan banyak kasus 1.4.1 Tujuan Primer
Menentukan efikasi dan keamanan obat
meninggal, maka diperlukan segera Favipiravir terhadap obat standar untuk
pengobatan pasien terkonfirmasi Covid-19 di
ketersediaan obat antiviral alternatif yang yang Rumah Sakit.
lebih dan efektif serta aman untuk 1.4.2 Tujuan Sekunder
1. Menentukan lama/waktu viral clearance
mengeliminasi SARS-CoV2. Hal ini sangat
SARS-Cov2 pasca pemberian obat
penting untuk dinilai dan dilakukan karena Favipiravir terhadap obat standar RS.
2. Membandingkan manfestasi klinik dan
peningkatan kasus COVID-19 yang masih terus laboratorium pasca pemberian obat
Favipiravir terhadap obat standar RS.
terjadi dan dengan kasus mortalitas yang masih 3. Memformulasi rekomendasi kebijakan untuk
penggunaan obat Favipiravir pada penderita
terus meningkat. Selain itu vaksin yang masih COVID-19.
dalam tahap perkembangan, dan terapi plasma
convalescent yang masih diuji efektifitas dan
keamanannya. Obat alternatif yang mempunyai
efikasi dan dapat mengeliminasi secepat
mungkin virus yang ada didalam tubuh dan
aman diperlukan. Efikasi dan keamanan obat
sangat penting diketahui untuk menjamin
kegunaan obat ini khususnya di Indonesia.
Menurut catatan register tentang uji klinik
Favipiravir di seluruh dunia, saat ini statusnya
masih dalam penelitian. Oleh sebab itu uji klinik
obat ini terhadap pasien di Indonesia perlu
dilakukan sehingga harapan terhadap obat
alternatif pilihan pengobatan antiviral SARS-
CoV2 yang aman dan efektif dapat diwujudkan
sesuai kaidah ilmiah.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pernyataan diatas maka
pertanyaan penelitian yang diajukan adalah
1. Bagaimana efikasi dan keamanan obat
Favipiravir plus Standard of Care (SoC)
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian adalah memberikan informasi terkait efikasi dan keamanan Favipiravir plus
Standard of Care (SoC) terhadap pasien ringan-sedang COVID-19 untuk dapat menjadi acuan untuk
rekomendasi kebijakan terkait pemakaian obat Favipiravir sebagai obat antivirus untuk pengobatan
Covid-19.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 COVID -19 komorbid, penambahan umur, dan jenis kelamin
A. Defenisi, Etiologi Dan Penularan laki – laki.16
Covid-19 adalah penyakit yang ditularkan oleh
Severe Acute Respiratory Syndrome B. Patofisiologis/Patogenesis Covid-19
Coronavirus 2 (SARS-COV2)14 yang pertama Awal infeksi covid-19 pada seseorang diawali
sekali dilaporkan di Wuhan, China pada dari terjadinya penetrasi virus ke sel host.
Desember 2019. Penyakit ini merupakan Penetrasi terjadi setelah spike protein dari virus
penyebab Pandemi di era modern ini yang telah menempel di reseptor ACE2 di sel dan masuk
menginfeksi puluhan juta penduduk dunia dan melalui proses sitoplasmik atau difusi
menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa sejak membran.16,17 Lanjutan dari proses ini terjadi
diumumkan pertama sekali. proses biosintesis dimana terjadi replikasi RNA
SARS-COV 2 merupakan virus yang masuk hingga mature dan dilepaskan di sel host/inang.
dalam family coronavirus ordo Nidovirales, Adanya reseptor ACE2 menjadi kunci untuk
keluarga Coronaviridae, genus betacoronavirus, penyebaran virus dalam host, yang banyak
umumnya berbentuk bundar pleomorfik, dan ditemukan di paru – paru, jantung, usus, ginjal
berdiameter 60-140 nm, virus RNA strain dan kandung kemih, dimana ikatan yang terjadi
tunggal positif, berkapsul dan tidak bisa 10 – 20 kali lebih kuat dibandingkan
bersegmen.14 dengan SARS-COV1.16 Meningkatnya infeksi
Virus coronavirus merupakan zoonosis, namun dan transmisi dari virus dispekulasikan oleh
berdasarkan studi epidemiologi dan virologi saat karena keterlibatan furin atau RRAR, a unique
ini COVID-19 ditularkan antar manusia yang furin-like cleavage site (FCS) di bagian protein
berada jarak dekat melalui droplet (>5-10 µm), spike yang tidak ditemukan pada kelompok
tangan atau permukan yang ada terpapar virus SARS- COV lainnya.17,18 Adanya FCS
Covid-19.14,15 Penularan ini dapat terjadi saat disebutkan mempermudah masuknya dan
batuk atau bersin dari penderita ke orang yang penyebaran virus SARS-COV2 melalui proses
sehat. Selain itu infeksi Covid-19 bisa terjadi insersi pada site atau reseptor melekatnya virus
melalui aerosol, yang jika pada bidang di sel host.18
kesehatan dapat terjadi melalui proses seperti Tubuh host sendiri memberi respon terhadap
intubasi endotrakeal, bronkoskopi, suction hadirnya virus melalui sistem imun alami yaitu
terbuka, pemberian pengobatan nebulisasi, sel epitel, sel dendritik, makrofag yang ada di
ventilasi manual sebelum intubasi, mengubah paru – paru. 17 Sel T naïf juga akan terstimulasi
pasien ke posisi tengkurap, memutus koneksi menjadi sel T efektor setelah berinteraksi
ventilator, ventilasi tekanan positif non-invasif, dengan Antigen Presenting Cell (APC) seperti
trakeostomi, dan resusitasi kardiopulmoner.14 sel dendritik dan makrofag. Munculnya reaksi
Penularan juga dapat terjadi melalui benda dan imun akibat interaksi tersebut menstimulasi
permukaan yang terkontaminasi droplet di banyak sistem imun lainnya seperti
sekitar orang yang terinfeksi.14 Adapun masa dilepaskannya berbagai sitokin proinflamasi IL-
inkubasi yang pernah dilaporkan adalah 2 – 14 6, IL-10, granulocyte-colony stimulating factor
hari dengan median 5,1 hari.15 Sementara yang (G-CSF), monocyte chemo-attractant protein 1
berisiko terinfeksi Covid-19 adalah yang punya (MCP1), macrophage inflammatory protein
(MIP)1α, and tumor necrosis factor (TNF)-α dan
lainnya.17,19 Disebutkan pada infeksi SARS- c. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis Covid-19 sangat bervariatif,
COV2 terjadi peningkatan ekspresi CD69, dengan gejala yang mirip dengan penyakit
influenza atau bahkan tidak bergejala.15 Gejala
CD38 dan CD44 yang menunjukkan klinis deman, batuk, sesak merupakan gejala
yang paling sering dilaporkan dimana demam
peningkatan sel T CD4 dan CD8, yang bisa terjadi di 88,7% kasus dan lebih sering
terjadi pada dewasa dibandingkan pada anak.22
tujuannya untuk mengeliminasi virus. Gejala klinis lainnya yang juga sering muncul
adalah batuk dengan sputum, rhinorea, nyeri
Berdasarkan mekanisme ini muncullah tenggorokan, sakit kepala, diare, mual/muntah,
myalgia, hyposmia, dysgeusia.15 Gejala klinis
berbagai manifestasi klinis dan jika masuk sendiri disebutkan muncul pertama sekali sekitar
11,5 hari dan kebanyakan kasus gejala
dalam kondisi berat sampai menimbulkan dirasakan 5 hari.15
Kriteria manifestasi klinis pada penyakit Covid-
hiperkoagulasi yang ditandai peningkatan D- 19 dibagi atas 4 bagian merujuk pada Pedoman
tatalaksana Covid-19.14,17 Adapun manifestasi
Dimer dan Fibrinogen.17 Munculnya reaksi imun yang dimaksud adalah:
salah satunya akan memicu meningkatnya A. Ringan
Yaitu pasien yang datang dengan keluhan
kadar sitokin dalam tubuh host. Peningkatan ini sakit ringan tanpa komplikasi yaitu Pasien
dengan gejala non-spesifik seperti demam,
disebabkan menumpuknya sitokin akibat telah batuk, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat,
malaise, sakit kepala,nyeri otot. Perlu
terjadinya interaksi antara sistem imun dengan waspada pada usia lanjut dan
imunocompromised karena gejala dan tanda
antigen virus. Akumulasi yang berlebihan ini tidak khas.
memicu terjadinya badai sitokin yang bukan saja B. Sedang
Yaitu pasien dengan Pneumonia ringan.
menghilangkan virus tetapi sekaligus merusak Pasien Remaja atau Dewasa dengan tanda
klinis pneumonia (demam, batuk, dyspnea,
lingkungan sel host lainnya.19,20 Selain itu napas cepat) dan tidak ada tanda pneumonia
berat. Anak dengan pneumonia ringan
produksi sel B juga meningkat melalui mengalami batuk atau kesulitan bernapas +
napas cepat: frekuensi napas: pada usia <2
mekanisme antibody dependent enhancement bulan, ≥60x/menit; pada usia 2–11 bulan,
≥50x/menit; pada usia 1–5 tahun,
yang mana sekaligus merusak jaringan sekitar ≥40x/menit dan tidak ada tanda pneumonia
berat.
infeksi.20
C. Berat
Seperti yang diketahui kematian karena Covid- Yaitu pasien dengan Pneumonia Berat atau
ISPA berat. Pasien remaja atau dewasa
19 berkisar 2% – 10% pada kasus saat ini, dengan demam atau dalam pengawasan
walaupun lebih rendah dari SARS-COV dan
MERS-COV namun kenyataannya hingga saat
ini penyakit ini masih meningkat jumlah
kasusnya. Hasil penelitian mendapatkan bahwa
kematian pasien Covid-19 lebih umum
disebabkan adanya komorbid yang kronis dan
kondisi kesehatan yang tidak dapat dijelaskan.
Penyakit komorbid yang paling sering dilaporkan
bersamaan dengan kasus kematian adalah
hipertensi arterial mencapai 65,4%, diikuti
obesitas, penyakit jantung iskemik kronik, atrial
fibrilasi, chronic obstructive pulmonary disease
(COPD), atherosclerosis penyakit
serebrovaskular, diabetes type II, gagal ginjal
kronik. 21
Berdasarkan hasil autopsi yang pernah
dilakukan penyebab umum kematian segera dari
Covid-19 adalah syok septik dan atau gagal
multi organ 30.8 %, superinfection, kegagalan
jantung kanan (15.4 %), gagal nafas, kerusakan
berat alveolar paru, thromboembolism pulmonal,
perdarahan berat bronchus gastrointestinal, dan
kegagalan jantung kiri.21
infeksi saluran napas, ditambah satu dari: • ARDS berat: PaO2 / FiO2 ≤ 100 mmHg
frekuensi napas >30 x/menit, distress dengan PEEP ≥5 cmH2O, atau yang
pernapasan berat, atau saturasi oksigen tidak diventilasi)
(SpO2) <90% pada udara kamar
• Ketika PaO2 tidak tersedia, SpO2/FiO2
Pasien anak dengan batuk atau kesulitan ≤315 mengindikasikan ARDS (termasuk
bernapas, ditambah setidaknya satu dari pasien yang tidak diventilasi)
berikut ini:
• sianosis sentral atau SpO2 <90%; Merujuk pedoman diatas, kasus ARDS
• distres pernapasan berat (seperti adalah kasus yang paling sering ditemukan
pada pasien Covid-19 dengan kriteria
mendengkur, tarikan dinding dada yang berat/kritis. Hasil kajian sistematik
berat); mendapatkan 20.3% penderita yang
• tanda pneumonia berat: ketidakmampuan membutuhkan ICU maka 32.8% nya
menyusui atau minum, letargi atau mempunyai diagnosis ARDS, 13.0% dengan
penurunan kesadaran, atau kejang. acute cardiac injury dan 7.9% dengan acute
Tanda lain dari pneumonia yaitu: tarikan kidney injury 6.2% shock dan 13.9% kasus
dinding dada, takipnea <2 bulan, fatal. 22
≥60x/menit;2–11 bulan, ≥50x/menit; 1–5
tahun, ≥40x/menit; >5 tahun, ≥30x/menit. d. Diagnosis
Diagnosis ini berdasarkan klinis; pencitraan Untuk penegakan diagnosis Covid-19 maka
dada dapat membantu penegakan diagnosis pemeriksaan RTPCR adalah pemeriksaan
dan dapat menyingkirkan komplikasi. standar yang harus dilakukan. Namun demikian
jika hasil tes pemeriksaan negatif pada
D. Kritis spesimen tunggal, yang berasal dari saluran
Didefinisikan sebagai Acute Respiratory pernapasan atas, tidak serta merta akan
Distress Syndrome (ARDS). Onset: baru menyingkirkan tidak adanya infeksi.14
terjadi atau perburukan dalam waktu satu Berdasarkan pedoman hal ini data terjadi karena
minggu. Pencitraan dada (CT scan toraks, kualitas spesimen yang tidak baik, mengandung
atau ultrasonografi paru): opasitas bilateral, sedikit material virus, spesimen yang diambil
efusi pluera yang tidak dapat dijelaskan pada masa akhir infeksi atau masih sangat awal
penyebabnya, kolaps paru, kolaps lobus atau specimen, tidak dikelola dan tidak dikirim
nodul. Penyebab edema: gagal napas yang dengan transportasi yang tepat dan kendala
bukan akibat gagal jantung atau kelebihan teknis yang dapat menghambat pemeriksaan
cairan. Perlu pemeriksaan objektif (seperti RT-PCR (seperti mutasi pada virus).14 Hasil
ekokardiografi) untuk menyingkirkan bahwa akhir untuk diagnosis secara umum dibedakan
penyebab edema bukan akibat hidrostatik pada tanpa gejala, suspek, terkonfirmasi dan
jika tidak ditemukan faktor risiko. negatif.
Secara umum untuk pemeriksaan PCR
KRITERIA ARDS PADA DEWASA: dilakukan pada hari 1, kemudian hari ke 2 jika
• ARDS ringan: 200 mmHg <PaO2/FiO2 ≤ hasil pemeriksaan pertama negative tetapi
gejala menunjukkan klinis Covid-19. Kemudian
300 mmHg (dengan PEEP atau diikuti pemeriksaan secara lanjut di hari ke 10
continuous positive airway pressure tetapi untuk pasien berat/kritis, sementara untuk
(CPAP) ≥5 cmH2O, atau yang tidak pasien ringan/sedang tidak terlalu dianjurkan.23
diventilasi) Namun demikian, pada indikasi tertentu dokter
• ARDS sedang: 100 mmHg <PaO2 / FiO2 penanggung jawab dapat melakukan
≤200 mmHg dengan PEEP ≥5 cmH2O, pemeriksaan PCR. Hasil penelitian PCR sendiri
atau yang tidak diventilasi) masih menjadi pertanyaan terutama jika hasil
PCR positif masih ditemukan setelah beberapa perdarahan, Bilirubin Direct, Bilirubin Indirect,
minggu sakit padahal disebutkan setelah 8 hari Bilirubin Total, pemeriksaan laboratorium RT-
virus sudah tidak infeksius.15 PCR, dan/atau semua jenis kultur MO
Untuk pemeriksaan PCR dilakukan terlebih (aerob) dengan resistensi Anti HIV.
dahulu swab nasopharyngeal dan oropharingeal b. Radiologi: Thorax AP/PA
untuk mendapatkan spesimen yang layak
diperiksa.15 Kapan waktu pengambilan swab e. Tatalaksana
menjadi penting untuk menentukan hasil yang Untuk tatalaksana Covid-19, hingga saat ini
optimal, dan disebutkan sebaiknya swab diambil masih mencari metode yang terbaik.
setelah 3 hari onset pada pasien dengan gejala Pengobatan via vaksin atau plasma konvalesen
klinis. Pengambilan pada 2 lokasi tersebut masih terus dilanjutkan sebagai terapi tambahan
menunjukkan virus banyak terdapat di posisi untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik.
paru bagian atas. Vaksin saat ini masih dalam proses penelitian
Selain RTPCR pemeriksaan laboratorium dan pengembangan untuk segera diberikan
lainnya juga diperlukan untuk menilai tingkat kepada manusia. Plasma konvalesen yang
keparahan dari penderita Covid-19. Hasil merupakan plasma yang diambil dari mantan
penelitian mendapatkan penurunan albumin, penderita Covid-19 melalui metode
peningkatan kadar C-reactive protein, plasmaferesis juga saat ini sedang diujicoba
peningkatan lactate dehydrogenase (LDH), efikasi dan keamanannya. Sementara obat yang
lymphopenia dan tingginya erythrocyte diberikan juga masih belum menunjukkan
sedimentation rate (ESR) sering dilaporkan informasi yang sangat memuaskan karena
pada kasus Covid-19 khususnya pada kasus – sangat bervariasinya efikasi dan keamanan obat
kasus berat.22,24 Selain itu kasus leucopenia di berbagai belahan dunia termasuk Favipiravir
atau leucocytosis, peningkatan alanine dan Azithromycin.
aminotransferase dan aspartate Untuk tatalaksana kasus tanpa gejala subyek
aminotransferase termasuk peningkatan diminta untuk melakukan isolasi mandiri dan
troponin, D-Dimer dan feritin juga sering melakukan tindakan secara non farmakologis
ditemukan.15 seperti mengukur suhu, pakai masker, cuci
Sementara pada pemeriksaan rontgen ataupun tangan, jaga jarak dengan keluarga, berjemur
CT Scan didapatkan gambaran pneumonia sinar matahari, dan secara farmakologis minum
dengan predominantly bilateral dan ditemukan vitamin C sesuai dengan indikasi dokter dan
ground- glass opacity di perifer dan lobus bagian sebagainya.23 Selanjutnya untuk yang
bawah.15,22 Selain kondisi tersebut diatas, terkonfirmasi positif dengan gejala ringan maka
ditemukan juga efusi pleura, massa, cavitasi, sesuai pedoman akan mendapatkan
lymphadenopathies walaupun dengan penambahan obat farmakologis berupa antivirus
persentase yang kecil (<5%).15 Hasil kajian dan multivitamin, pasien dapat dirawat inap atau
mendapatkan bahwa pada pasien yang tidak isolasi mandiri di rumah. Sementara untuk
ada gejala klinis tidak ditemukan perubahan tatalaksana pasien “sedang” harus dilakukan di
gambar paru termasuk 2 hari sebelum muncul rumah sakit sesuai dengan indikasi dan untuk
onset pada pasien bergejala. 15 kasus berat/kritis harus rawat inap dan
Jika merujuk pada pedoman pemeriksaan mendapat perawatan darurat di ICU.
laboratorium Covid-19 di Indonesia,
pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan 2.2 FAVIPIRAVIR
dan sesuai dengan manifestasi klinis:14 Favipiravir adalah obat berlisensi yang
a. Laboratorium: Darah lengkap/Darah rutin, dikembangkan untuk melawan influenza di
Jepang. Salah satu fitur eksklusifnya adalah
LED, Gula Darah, Ureum, Creatinin, SGOT, adanya aktivitas broad spektrum dalam
SGPT, Natrium, Kalium, Chlorida, Analisa melawan virus RNA. Favipiravir memblokir
Gas Darah, Procalcitonin, PT, APTT, Waktu
sintesis RNA virus dengan memutus rantai di dan radiologis yang signifikan, sementara hanya
tempat dimana RNA digabungkan ke dalam sel sedikit perbedaan yang signifikan dalam hal
inang. Sebagai perbandingan, Tamiflu virus clearance, kebutuhan dukungan oksigen,
penghambat neuraminidase menghambat dan efek samping.27 T-705-RTP menghambat
pembelahan asam sialat dan masuknya virus ke RdRp virus influenza dengan setengah
dalam sel. Properti Favipiravir ini menyiratkan konsentrasi penghambatan maksimal (IC 50 )
potensi untuk mengobati penyakit menular kritis sebesar 0,022 µg / mL, tetapi tidak
seperti COVID-19. Strides Pharma Science Ltd. mempengaruhi DNA polimerase manusia
Delhi telah mengembangkan produk generik subunit α, β, dan γ hingga 100 µg / mL. Selain
Favipiravir yang awalnya dikembangkan oleh penghambatan virus influenza, favipiravir
Avigan dari Toyama Chemical, Jepang, dan menunjukkan efek penghambatan pada
menjadi perusahaan India pertama yang berbagai virus RNA, seperti arena-virus,
memulai ekspor tablet Favipiravir. Favipiravir bunyavirus, flavivirus, dan filovirus penyebab
telah menunjukkan hasil positif pada hemoragik demam.28
pengobatan COVID-19 secara global. Baru- Pengurutan genom 2019-nCoV mengidentifikasi
baru ini, Glenmark Pharmaceuticals Pvt. Ltd, virus sebagai RNA beta- coronavirus untai
telah meluncurkan tablet Favipiravir generik tunggal dengan gen RdRp yang mirip dengan
dengan merek dagang Fabiflu.25 severe acute respiratory syndrome coronavirus
Favipiravir (Nama dagang: Avigan) 2 (SARS-CoV-2) dan Middle East respiratory
dikembangkan oleh Perusahaan Kimia Fujifilm syndrome coronavirus 2 (MERS-CoV-2). Oleh
Toyama dan memiliki lisensi di Jepang dan karena itu, favipiravir dianggap sebagai salah
China. Favipiravir secara selektif menghambat satu kandidat potensial untuk COVID-19,
RNA dependent RNA polimerase (RdRP), suatu meskipun penelitian invitro dan studi hewan
enzim yang dibutuhkan untuk replikasi RNA preklinis yang terkonfirmasi belum tersedia. Uji
virus di dalam sel manusia. Obat ini berfungsi klinis untuk mengevaluasi safety dan efficacy
sebagai analog purin dan digabungkan sebagai favipiravir dalam pengobatan COVID-19
pengganti guanine dan adenin. Penggabungan (ChiCTR2000029600) telah dilakukan di
satu molekul tunggal Favipiravir menghentikan Shenzhen, dengan 80 pasien yang direkrut.
perpanjangan RNA virus. Obat diubah secara Hasil dari uji klinis tersebut menunjukkan bahwa
intraseluler menjadi bentuk aktif terfosforilasi 35 pasien dalam kelompok favipiravir
dan kemudian dikenali sebagai substrat oleh menunjukkan waktu virus clearance yang secara
RdRP virus. Obat ini memiliki spektrum aktivitas signifikan lebih pendek dibandingkan dengan 45
yang luas terhadap Virus-virus RNA (Influenza, pasien dalam kelompok kontrol (median 4 hari
Rhino, dan Respiratory Syncytial Virus, dll) vs. 11 hari). Pemeriksaan sinar-X
tetapi tidak dapat melawan virus- virus DNA mengkonfirmasi tingkat perbaikan yang lebih
(seperti Herpes).26 Struktur kimia favipiravir tinggi pada pencitraan dada di kelompok
adalah derivat pirazin karboksamida (6-fluoro-3- favipiravir (91,43% vs 62%). Sebuah studi klinis
hidroksi-2-pirazin karboksamida), dan selalu acak multicenter (ChiCTR200030254) juga
terribosilasi dan terfosforilasi menjadi metabolit menunjukkan pengendalian yang efektif dari
aktif favipiravir ibofuranosyl-5′-triphosphate (T- favipiravir terhadap COVID-19. Untuk pasien
705RTP). T-705-RTP dapat bersaing dengan biasa dengan COVID-19, tingkat pemulihan
nukleosida purin dan kemudian mengganggu klinis 7 hari meningkat dari 55,86% menjadi
replikasi virus dengan penggabungan ke dalam 71,43% dengan pengobatan favipiravir. Untuk
RNA virus, sehingga favipiravir dapat menjadi pasien biasa dengan COVID- 19 dan pasien
agen potensial melawan SARS-CoV-2. Baru- hipertensi dan / atau diabetes, waktu penurunan
baru ini, sebuah meta-analisis menemukan demam dan pereda batuk di kelompok
bahwa jika dibandingkan dengan perawatan pengobatan favipiravir juga menurun secara
standar, favipiravir memberikan perbaikan klinis bermakna.28
Studi dari sukarelawan Jepang yang sehat pada tikus dengan predosis, konsentrasi plasma
menunjukkan bahwa konsentrasi maksimum menurun 25–50% dan distribusi jaringan di hati,
favipiravir dalam plasma terjadi pada 2 jam lambung, otak, dan jaringan otot meningkat 2-5
setelah pemberian oral, dan kemudian menurun kali. Dengan asumsi bahwa retensi jaringan dari
dengan cepat dengan setengah waktu hidup favipiravir tergantung pada bentuk terribosilasi
yang pendek yaitu 2–5,5 jam. Pengikatan dan terfosforilasinya, maka distribusi yang
protein plasma dari favipiravir adalah 54% pada meningkat karena pemberian predosis atau
manusia. Persentase terikat dari favipiravir ke penggunaan kronis seharusnya dapat
albumin serum manusia dan α1-acid glikoprotein meningkatkan uptake seluler dan efficacy obat
adalah masing-masing 65,0% dan 6,5%. Obat antivirus. Studi in vitro menunjukkan bahwa
induk mengalami metabolisme di hati terutama favipiravir dapat menghambat aktivitas AO
oleh aldehyde oxidase (AO), dan sebagian oleh dengan cara yang tergantung konsentrasi dan
xanthine oxidase, menghasilkan metabolit tergantung waktu, yang menjelaskan
oksidatif tidak aktif T- 705M1 yang diekskresi penghambatan diri dari metabolisme inaktivasi
oleh ginjal. Kemunculan cepat favipiravir di hati, obat induk dan rasio metabolit induk/inactive
diikuti di kantung empedu dan di segmen plasma (T705 / T705M1) yang meningkat
saluran usus setelah injeksi vena pada tikus, setelah dosis kronis. Peningkatan rasio sirkulasi
menunjukkan ekskresi cepat favipiravir oleh hati T-705 / T-705M1 pada tikus seharusnya
pada tikus. Analisis farmakokinetik favipiravir memfasilitasi uptake seluler dan menjebak
intravena pada cynomolgus macaques setelah favipiravir di dalam jaringan dengan
dosis berulang menunjukkan farmakokinetik meningkatkan gradien konsentrasi ekstraseluler
nonlinier yang jelas dari waktu ke waktu dan ke intraseluler. Ini membantu menjelaskan
dalam rentang waktu dan rentang dosis tertentu, clearance sirkulasi yang dipercepat dari
dan juga terjadi penurunan terus menerus favipiravir setelah pemberian yang diulang.
konsentrasi plasma setelah 7 hari pemberian Namun, bukti kuat dari pemantauan tingkat
terus menerus pada primata non manusia. Data jaringan dari T-705-RTP selama penggunaan
diperoleh dari 66 pasien untuk eksperimen favipiravir terus menerus telah dijamin. T-705-
pengobatan dengan favipiravir untuk EVD RTP juga dibentuk di sel-sel mononuklear darah
(dinamakan sebagai percobaan JIKI) perifer manusia (PBMC), dan waktu paruh
menunjukkan bahwa konsentrasi menurun terminal ( t 1/2 ) dari T-705- RTP sekitar 2 jam di
secara signifikan pada hari ke-4 (25,9 µg / mL) PBMC. Meskipun t 1/2 dari T-705-RTP di PBMC
dibandingkan dengan hari ke-2 (46,1 µg / mL), lebih pendek daripada di paru ( t 1/2 sekitar 4.2
yang menyebabkan penurunan konsentrasi obat jam), kami menyarankan agar deteksi T-705-
setelah penggunaan terus menerus. Untuk lebih RTP di dalam PBMC dapat berfungsi sebagai
memahami biodistribusi dan kinetika in vivo pengganti mengingat ketersediaan darah tepi.28
penggunaan dan pembersihan favipiravir Regimen dosis sangat penting dalam uji klinis
setelah pemberian tunggal dan berulang, untuk tujuan antivirus. IC 50 favipiravir bervariasi
favipiravir dengan radiolabel 18F (favipiravir [18 dari konsentrasi nanomolar ke micromolar
F]) dikembangkan. Distribusi dinamis favipiravir tergantung pada studi virus. Oleh karena itu,
[18F] dinilai dengan scan dinamis tomografi dosis yang diperlukan dan regimen mungkin
emisi positron dan penghitungan gamma pada berbeda dalam pengobatan. Rejimen favipiravir
tikus tanpa predosis dan tikus dengan predosis yang disetujui untuk influenza di Jepang
favipiravir (pemberian oral, loading dose: 250 termasuk loading dosis oral 3.200 mg (1.600 mg
mg / kg b.i.d, hari 1; dosis maintaining : 150 mg / setiap 12 jam) pada hari ke-1, diikuti 600 mg
kg, dua kali sehari selama 3 hari). Pada tikus dua kali sehari pada hari ke 2-5. Regimen yang
tanpa predosis, injeksi vena ekor favipiravir [ 18 lebih tinggi (1.800 mg dua kali sehari pada hari
F] menyebabkan uptake dan clearance yang pertama diikuti dengan 800 mg dua kali sehari
cepat melalui hati, ginjal, dan usus. Berlawanan setelahnya) juga diadopsi pada fase III. Safety
dan efficacy regimen influenza ini telah yang berbeda atau inaktivasi metabolik di hati,
dikonfirmasi. Reaksi efek samping utama atau bahkan absorpsi yang berbeda setelah
meliputi diare ringan sampai sedang, pemberian oral. 28
peningkatan asam urat dan transaminase darah Metaanalisis Shrestha DB, et all (2020)
asimtomatis, dan penurunan jumlah neutrophil. menyimpulkan bahwa pasien mengalami
Regimen dosis Favipiravir untuk pengobatan perbaikan klinis dan radiologis setelah
infeksi EBOV dalam JIKI trial dan konsentrasi pengobatan dengan FVP dibandingkan dengan
yang ditargetkan diperkirakan berdasarkan standar perawatan meskipun tidak ada
eksperimen in vitro (konsentrasi penghambatan perbedaan signifikan pada clearance virus,
99% : 29 µg / mL), data praklinis pada model kebutuhan dukungan oksigen dan profil efek
tikus (150 mg/kg setiap 12 jam menyebabkan samping. Hasil uji klinis yang sedang
konsentrasi rata-rata adalah 59 µg / mL), 54% berlangsung harus didapatkan untuk
ikatan protein plasma pada manusia, dan model memberikan penilaian yang pasti apakah
farmakokinetik dinilai dengan parameter PK pengobatan dengan FVP adalah pilihan terbaik
yang diperkirakan pada sukarelawan yang di antara perawatan antivirus untuk COVID-19
sehat. A 6.000 mg (2.400 mg, 2.400 mg, dan atau tidak. Hingga saat ini, meta-analisis kami
1.200 mg q8h) loading dosis pada hari ke-1 mendukung penggunaan FVP di klinik. 29
diikuti oleh dosis maintenance 2.400 mg (1.200
mg q12h) pada hari ke 2 sampai hari ke 9 2.3 AZITHROMYCIN
ditoleransi dengan baik. Rata-rata konsentrasi
steady state adalah 46,1 µg / mL pada hari ke-2 Azitromisin adalah antibiotic golongan makrolida
(48 jam setelah dosis awal) dan turun menjadi
25,9 µg / mL pada hari ke 4 (96 jam setelah dan digunakan pada berbagai infeksi bakteri.
dosis awal). Kedua konsentrasi ini secara
signifikan lebih rendah dari yang diperkirakan Selain itu azitromisin juga menunjukkan efek
sebagai konsentrasi yang ditargetkan masing-
masing 54,3 dan 64,4 µg / mL. Terlepas dari itu, antiviral dan imunomodulator yang mungkin
trial memberikan referensi untuk mengevaluasi
efficacy favipiravir pada pasien dengan COVID- bermanfaat pada penyakit yang disebabkan
19 dalam keadaan tanpa data in vitro dan
praklinis awal. Studi klinis yang terbaru dari infeksi virus termasuk Covid19.29 Azitromisin
China menunjukkan bahwa rejimen 3.200 mg
(1.600 mg dua kali sehari) loading dosis pada memberikan efek imunomodulator pada titik
hari ke-1 diikuti dengan 1.200 mg dosis
maintenance (600 mg dua kali sehari) pada hari kaskade inflamasi yang berbeda. Pada sel epitel
ke 2 sampai hari ke 14 efektif. Dari catatan, uji
klinis sebelumnya menunjukkan bahwa saluran pernapasan azitromisin dapat
konsentrasi plasma favipiravir pada pasien di
Amerika Serikat adalah 50% dari pasien menstabilkan membrane sel, meningkatkan
Jepang, menunjukkan kemungkinan perbedaan
etnis atau regional dalam farmakokinetiknya, berier elektrik transepitelial, mengurangi
yang seharusnya tidak diabaikan. Karena data
mengenai konsentrasi metabolit T-705RTP yang hipersekresi mukus in vitro dan in vivo yang
diaktivasi di jaringan dan metabolite T705M1
yang diinaktivasi dalam plasma untuk populasi dapat meningkatkan klirens mukosiliar.29 Efek
ini tidak tersedia maka sulit untuk menyimpulkan
apakah ada perbedaan konsentrasi plasma imunomodulasi adalah rasionalisasi
favipiravir yang dihasilkan dari distribusi jaringan
penggunaannya melawan manifestasi inflamasi
yang mengarah kepada penyakit paru
insterstisial.30
Antibiotik golongan makrolida telah menujukkan
efikasi klinis pada berbagai jenis infeksi saluran
pernafasan yang disebabkan oleh virus.
Azitromisin telah dipelajari pada infeksi virus
influenza dan infeksi MERS-CoV juga secara in
vitro dan atau in vivo pada beberapa jenis virus
sperti Ebola, Zika respiratory synctytial virus,
influenza, virus H1N1, enterovirus.30,31
Bukti klinis manfaat dari azitromisin dengan atau
tanpa hidroksikloroquin atau klorokuin
didapatkan dari uji klinik open-label non-
randomised yang dilakukan di Prancis
melibatkan 42 pasien Covid19 yang dirawat di Guerin dkk menilai waktu yang dibutuhkan untuk
RS lebih dari 14 hari. Pasien diterapi dengan perbaikan klinis terapi tunggal azitromisin dan
hidroksiklorokuin 600mg/hr dengan tambahan kombinasinya dengan hidroksiklorokuin
azitromisin (500 mg pada hari pertama dibandingkan dengan terapi standar pada
dilanjutkan dengan dosis 250 mg/hari utuk 4 hari pasien rawat jalan.33 Kedua terapi tersebut
berikutnya) untuk 6 pasien untuk mencegah mempercepat waktu penyembuhan baik pada
infeksi bakteri. Peneliti menemukan bahwa pada kohort global dan setelah dilakukan
hari ke-6 tidak ada virus yang terdeteksi pada penyesuaian pada analisis case-control
semua pasien yang diterapi dengan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Tidak
hidroksiklorokuin dan azitromisin (n=16) ada perbedaan yang signifikan apabila terapi
dibandingkan 57,1% dengan terapi tunggal tunggal azitromisin dibandingkan dengan terapi
hidroksiklorokuin. Ada beberapa masalah kombinasi (P=0.26). hal-hal yang menjadi
dengan metodologi pada penelitian ini yang perhatian adalah kecilnya jumlah sampel dan
dikemukakan ditempat lain seperti tidak adanya outcome yang dihasilkan adalah pengukuran
data PCR dan ketidak jelasan alasan secara subjektif. Keterbatasan lain pada
dikeluarkannya pasien dengan luaran klinis penelitian ini adalah waktu mulainya terapi dari
tertentu. Batasan-batasan penelitian ini onset penyakit. Pada 41% pasien terapi awal
mengakibatkan reliabilitas hasil yang diperoleh dimulai pada hari 1, sementara sisanya dalam
pada penelitian ini menjadi dipertanyakan.30,32 rentang 15 hari setelah onset kecuali 1 pasien
Hasil yang berbeda dilaporkan pada penelitian pada kelompok terapi tunggal azitromisin terapi
kecil dengan 11 pasien Covid- 19 yang diterapi dimulai pada hari ke 40.31,33
dengan hidroksiklorokuin dan azitromisin 1 Tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa
orang meninggal, 2 dipindahkan ke ICU dan 1 azitromisin memberikan manfaat tambahan
pasien mengalami QT Ineterval memanjang. pada terapi Covid-19 selain dari aktivitas
Pada akhir penelitian tersebut 8 pasien (73%) antibakteri pada kondisi superinfeksi bakteri.
masih terdiagnosa positif SARS-CoV-2 setelah Pada Infeksi Covid-19 antibiotik spectrum luas
5-6 hari terapi.(24) kelemahan dari penelitian ini sebaiknya digunakan hanya untuk terapi
adalah sedikitnya jumlah sampel dan kurangnya superinfeksi bakteri.31,32
randomisasi.32
BAB 3. METODE PENELITIAN
Keterangan: 3.4 Waktu Penelitian
SARS-CoV2 merupakan penyebab penyakit Waktu pelaksanaan studi dimulai dari
COVID-19, penyebarannya cepat dan dapat perencanaan hingga penyelesaian laporan yaitu
fatal. Pemberian antivirus merupakan salah satu akhir Mei 2020 hingga Desember 2020.
pengobatan yang diharapkan dapat dilakukan
untuk mengeliminasi virus dalam tubuh 3.5 Populasi Penelitian
sehingga penderita bisa sembuh dan Populasi pasien meliputi seluruh pasien yang
sebaliknya, jika tidak punya efikasi baik bisa terkonfirmasi positif COVID-19 di Rumah Sakit
menyebabkan ketidaksembuhan pasien. Untuk terpilih.
menilai efikasi dan keamanannya dilakukan uji
klinik dengan tetap mempertimbangkan faktor – 3.6 Sampel Penelitian pasien yang
faktor lainnya/perancu yang mungkin Sampel penelitian adalah dan eksklusi
berpengaruh seperti umur, jenis kelamin, onset memenuhi kriteria inklusi
penyakit, waktu minum obat, dan kombinasi penelitian.
obat.
3.7 Kriteria Penelitian
3.2 Disain penelitian 3.7.1 Kriteria Inklusi
Desain penelitian adalah ekperimental, uji klinik
intervensi dengan randomisasi, open labeled 1. Pasien dewasa 18 tahun – 59 tahun
pada pasien terkonfirmasi positif COVID-19. 2. Konfirmasi Covid-19 berdasarkan hasil
Sampel yang memenuhi kriteria penelitan akan
direkrut untuk mendapatkan obat Favipirapir pemeriksaan Real Time PCR (RTPCR)
plus Standard of Care (SoC) yaitu Azithromycin untuk SARS-COV-2 kurang dari 7 hari
atau mendapatkan hanya Standard of Care sebelum hari pertama minum obat
(SoC) yaitu Azitrhromycin sesuai dengan 3. Pasien dengan manifestasi klinik derajat
pedoman Kementerian Kesehatan. Follow up Ringan-Sedang dirawat di rumah sakit
akan dilakukan selama pasien di rumah sakit yang ditetapkan oleh DPJP sesuai
dengan menilai perubahan dari manifestasi defenisi operasional protokol penelitian
klinik dan laboratorium dengan penilaian hasil 4. Belum mendapatkan terapi antivirus
akhir proporsi efikasi dan keamanan dari subyek COVID-19
penelitian. 5. Secara sadar dan sukarela mengikuti
penelitian
3.3 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah Rumah Sakit rujukan
Nasional yang merawat pasien terkonfirmasi
COVID-19 dan belum pernah menggunakan
obat Favipiravir. Adapun lokasi penelitian adalah
RS yang mempunyai pemeriksaan laboratorium
PCR untuk pemeriksaan COVID-19 yaitu :
a. Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti
Saroso, Jakarta Utara
b. Rumah Sakit Dr. Karyadi, Semarang,
Jawa Tengah
c. Rumah Sakit Jiwa Prof Dr Soerojo,
Magelang Jawa Tengah bersama dengan
Rumah sakit yang berafiliasi yaitu RST
Soedjono, Magelang dan RS Merah
Putih, Magelang.
Adapun Defenisi Operasional Kritera derajat obat standar sebesar 60% (P1), didasari pada
Ringan – Sedang (poin 3 kriteria inklusi) merujuk tidak diketahuinya nilai efikasi secara tunggal,
pada Protokol Tatalaksana COVID-19 dan namun bersama Hydroxychloroquine mencapai
Pedoman Pencegahan dan Pengendalian 100%, dimana secara tunggal hanya mencapai
Coronavirus Disease (Covid-19) Revisi 5 Juli 57,1%,35 sehingga diputuskan oleh peneliti
2020 adalah sebagai berikut1,34: untuk mengasumsikan kemanjurannya sebesar
60% dengan pertimbangan kemampuan
• Pasien dengan derajat Ringan/tidak antivirusnya dan mampu meningkatkan
berkomplikasi didefinisikan sebagai kemanjuran obat lain. Sedangkan kemanjuran
pasien dengan gejala demam dan atau klinik untuk Favipiravir diharapkan 80% (P2).36
lemah dan atau batuk (dengan atau tanpa Dengan nilai α = 0,05, β = 0,20, Power = 80%
produksi sputum) dan atau anoreksia dan Berdasarkan rumus, didapat jumlah n untuk 1
atau nyeri otot dan atau malaise dan atau kelompok = 82, Perkiraan untuk drop out=25%,
sakit tenggorokan dan atau sesak ringan Jumlah sampel untuk 1 kelompok = 105.
dan atau kongesti hidung dan atau sakit Terdapat 2 kelompok pengobatan yaitu 1
kepala dan atau keluhan diare dan atau standar (kontrol) yang akan dibandingkan
mual dan atau muntah tanpa adanya dengan 1 pengobatan yang akan diuji. Jumlah
komplikasi apapun. Tidak ada total sampel yang diperlukan = 2 x 105 = 210
pemeriksaan fisik spesifik pada kelompok subyek penelitian. Adapun pembagian
ini. pelaksanaan obat di Rumah Sakit dibagi secara
proporsional dimana setiap obat relatif terbagi
• Pasien dengan derajat Sedang / Moderat rata di tiap Rumah Sakit.
didefinisikan sebagai pasien yang datang
dengan gejala pneumonia (demam dan 3.9 Randomisasi
batuk dan dyspnea dan napas cepat) Randomisasi dilakukan untuk mendapatkan obat
tetapi tidak ada tanda pneumonia berat dengan peluang yang sama bagi semua subyek
termasuk SpO2 > 93% dengan udara penelitian. Randomisasi dilakukan agar
ruangan. karakteristik antar kelompok hampir sama dan
jumlah sampel tiap kelompok seimbang dalam
3.7.2 Kriteria Ekslusi penelitian. Jenis randomisasi yang digunakan
1. Wanita hamil dan menyusui adalah randomisasi blok dan strata.
2. Riwayat Alergi terhadap obat Favipiravir Randomisasi blok 4 dilakukan dalam tiap
dan obat standar Rumah Sakit kelompok strata derajat ringan dan sedang.
3. Pasien dengan nilai pemeriksaan asam Kelompok intervensi diberi simbol A, dan
urat diatas normal pria >7 mg/dL ; wanita kelompok kontrol B. Jumlah tiap kelompok obat
>5,7 mg/dL yaitu 105 subjek. Tiap kelompok obat
4. Pasien dengan riwayat gangguan dialokasikan pada 3 RS. Untuk 3 RS akan
EKG/Aritmia/QT memanjang mendapatkan alokasi 70 subjek (35 subjek
5. Tidak bisa menelan obat menerima obat A, 35 subjek menerima obat B).
Untuk RST Soedjono, Magelang dan RS Merah
3.8 Besar Sampel Putih, Magelang, akan mengikuti prosedur
Berdasarkan hasil formula perbandingan 2 randomisasi yang dilakukan oleh Rumah Sakit
proporsi maka didapatkan besar sampel Jiwa Prof Dr Soerojo, Magelang Jawa Tengah.
penelitian adalah dengan rumus besar sampel
yang digunakan: Uji hipotesis beda proporsi 3.10 Pengobatan
(one-side test) 3.10.1Favipirapir
Obat Favipiravir diberikan dengan dosis37:
Dengan pengetahuan terbatas, kami
mengasumsikan tingkat kemanjuran klinik untuk i. 2 x 1600 mg (2 x 8 tablet) hanya 1 hari
(D1)
ii. 2 x 600 mg (2 x 3 tablet), diberikan mulai masuk virus melalui interaksi yang mengikat
D2 hingga minimal D7 hingga maksimal antara protein spike SARS-CoV-2 dan reseptor
D14 (7-14 hari) inang ACE2 (angiotensin converting enzyme-2)
protein38 Selain itu, Azithromycin telah
iii. Plus Azithromycin 1 x 500 mg selama 5 dilaporkan menunjukkan aktivitas antiinflamasi.
hari (D1 – D5) Efek ini digambarkan sebagai penghambatan
inflamasi fase akut dan fase akhir dari resolusi
Obat diberikan kepada subyek 1 jam setelah inflamasi kronik. Efek-efek ini, walaupun tidak
makan dengan pertimbangan waktu pemberian berkontribusi pada aktivitas antivirus, dapat
mengingat makanan menunda pencapaian memperbaiki proses inflamasi yang disebabkan
kadar puncak Favipiravir dalam plasma selama oleh infeksi SARS-CoV-2. 38Aktifitas lainnya
1,5 jam, menurunkan Cmax sekitar 50%, dan adalah mempertahankan fungsi paru-paru
menurunkan AUC sebanyak 13%.11 Inactive dimana Azithromycin bekerja pada sel epitel
ingredient obat ini adalah Povidone, colloidal bronkial agar dapat mempertahankan fungsinya
silicon dioxide, low-substituted propyl cellulose, dan mengurangi sekresi lendir untuk
crospovidone, sodium stearyl fumarate, memfasilitasi fungsi paru-paru. 38 Pertimbangan
hypromellose, titanium dioxide, talc, yellow ferric keamanan perlu diperhatikan untuk pasien usia
oxide. Berdasarkan dokumen terkait Favipiravir lanjut mungkin berlaku untuk infeksi COVID-19.
maka didapatkan bahwa obat ini punya Pemberian Azithromycin pada pasien geriatri
kontraindikasi pada wanita hamil dan pasien terbukti serupa dengan orang dewasa muda.
dengan hipersensitifitas terhadap Favipiravir.9 Pada subjek dengan gangguan ginjal ringan
sampai sedang, ada sedikit peningkatan rata-
3.10.2 Obat Standard Of Care (Soc) rata C maks ( 5,1%) dan AUC (4,2%) mengikuti
Obat Standard Of Care yang yang dipilih adalah dosis Azithromycin tunggal 1 g. Penyesuaian
Azithromycin 1 x 500 mg selama 5 hari. dosis tidak dianggap diperlukan untuk pasien
Azithromycin adalah antibiotik makrolida geriatri dengan fungsi ginjal dan hati yang
spektrum luas berperan dalam pengobatan normal. Namun, perlu dicatat bahwa pada
infeksi bakteri pernapasan, enterik, dan pasien usia lanjut mungkin lebih rentan terhadap
genitourinari dan memiliki sifat anti-virus. perkembangan torsades depointes. Pada subjek
Mekanisme antivirus dari Azithromycin adalah dengan gangguan ginjal berat, rerata AUC dan
sekuestrasi Azithromycin intraseluler yang C maks meningkat 35% dan 61%, masing-
menghasilkan peningkatan pH endosomal dan / masing, dibandingkan dengan subyek dengan
atau lisosom. Kekurangan dari lingkungan asam fungsi ginjal normal. Dengan demikian harus
yang optimal di lingkungan intraseluler hati-hati dalam pemberian Azithromycin pada
berpotensi melemahkan replikasi virus. populasi ini. 38
Tanggapan antivirus yang dimediasi jalur IFN Selain itu diberikan obat – obat yang berkaitan
oleh inang serta potensi Azithromycin untuk dengan simptomatik dari pasien seperti
mengganggu masuknya virus memerlukan parasetamol. Obat lainnya adalah suplemen dan
penelitian lebih lanjut.38 Data klinik efek vitamin seperti Vitamin C yang tidak
Azithromycin pada pasien COVID-19 masih bertentangan dengan pemberian obat penelitian
sangat terbatas. Data awal dilaporkan pada dan pemberiannya hanya atas indikasi dan
penelitian non-acak label terbuka oleh Gautret et perintah dokter penanggung jawab pasien.
al di Perancis Mereka melaporkan bahwa 6
pasien yang mendapat kombinasi Azithromycin 3.10.3 Pengobatan Darurat
dan hidroksiklorokuin menunjukkan perbaikan Pengobatan emergency yang diberikan sesuai
(virologically cured), lebih tinggi jika dengan standar kedaruratan pasien di rumah
dibandingkan dengan pasien yang hanya sakit terpilih dapat diberikan dengan alasan
mendapat hidroksiklorokuin saja (57,1%).39,40 untuk keselamatan jiwa pasien.
Hasil penelitian juga menunjukkan peran
potensial Azithromycin dalam merusak cara
3.10.4 Pengobatan Yang Dilarang Diberikan iii. Jika ada ditemukan gejala klinis pada hari
Bersamaan ke empat (4) hingga hari ke enam(6) dan
Pengobatan yang dilarang yang tidak bisa hasil pemeriksaan RTPCR hari ke 7
diberikan selama pengobatan Favipiravir adalah masih positif, atau RTPCR hari ke tujuh
pyrazinamide, repaglinide, theophylline, (7) negatif tetapi ada gejala klinis
famciclovir, dan sulindac. Selain itu obat ditemukan mulai hari ke delapan (8)
tradisional tidak boleh diberikan. Obat antivirus hingga hari ke sepuluh (10), maka
lainnya yang tidak bisa diberikan seperti dilanjutkan ke pemeriksaan RTPC hari ke
Remdesivir, Ribavirin, Lopinavir, Ritonavir, sebelas ( 11)
Darunavir, Umifenovir, Novaferon.
iv. Jika hasil pemeriksaan RTPCR pada hari
3.11 Evaluasi Kriteria ke sebelas (11) dinyatakan negatif dan
Kriteria efikasi dan kriteria keamanan adalah tidak ditemukan gejala klinis mulai hari ke
dua kriteria yang akan dinilai pada penelitian ini. duabelas (12) hingga hari ke empatbelas
Kedua kriteria ini menjadi dasar untuk (14), maka subyek dinyatakan sembuh
melakukan analisis penelitian. dan dapat pulang pada hari ke limabelas
(15)
3.11.1Evaluasi Efikasi
Kriteria efikasi didasari pada hasil akhir v. Jika hasil pemeriksaan RTPCR hari ke
(outcome) subyek penelitian yaitu sembuh atau sebelas (11) masih positif, atau RTPCR
tidak sembuh. Subyek dinyatakan sembuh jika hari ke sebelas (11) negatif tetapi gejala
minimal 3 hari tanpa gejala klinik dan hasil tes klinis masih ditemukan mulai hari ke
RTPCR terakhir sudah negatif (Endpoint duabelas (12) hingga hari ke sepuluh
primer). Sebaliknya pasien dinyatakan tidak (14), maka dilanjutkan ke pemeriksaan
sembuh jika masih ditemukan gejala klinis RTPC hari ke limabelas ( 15).
minimal 3 hari atau hasil tes RTPCR positif.
Untuk menilai kapan mulai dilakukan vi. Jika hasil pemeriksaan RTPCR pada hari
pemeriksaan PCR, maka diputuskan ke limabelas (15) dinyatakan negatif, dan
menggunakan cut off 7 hari yang sesuai dengan tidak ditemukan gejala klinis mulai hari ke
rekomendasi pedoman tatalaksana covid-19 enambelas (16) hingga hari ke
dengan obat favipiravir dan dosis minimal dari delapanbelas (18), maka subyek
favipiravir maka rincian evaluasi efikasinya dinyatakan sembuh dan dapat pulang
disusun sebagai berikut: dihari ke Sembilan belas (19).
A. Pada Obat uji 1 (bagan 1):
vii.Jika hasil pemeriksaan RTPCR pada hari
i. Jika tidak ditemukan gejala klinis pada ke limabelas (15) dinyatakan positif, atau
hari ke empat (4) hingga hari ke enam(6) RTPCR negatif tetapi ditemukan gejala
dan hasil pemeriksaan RTPCR pada hari klinis mulai hari ke enambelas (16) hingga
ke tujuh (7) negatif, maka subyek hari ke delapanbelas (18) maka subyek
dinyatakan sembuh dan dapat pulang dari dinyatakan tidak sembuh dan dilakukan
Rumah Sakit pada hari ke tujuh (7) pengobatan lanjutan berdasarkan
protokol rumah sakit untuk Covid-19.
ii. Jika ada ditemukan gejala klinis pada hari
ke empat (4) hingga hari ke enam(6) viii. Jika hasil pemeriksaan RTPCR pada
namun pemeriksan RTPCR pada hari ke hari ke limabelas (15) belum diterima
tujuh (7) dinyatakan negatif dan tidak sementara pengobatan sudah selesai
ditemukan gejala klinis mulai hari ke hingga hari ke empatbelas (14) dan
delapan (8) hingga hari ke sepuluh (10), ditemukan gejala klinis mulai hari ke
maka subyek dinyatakan sembuh dan limabelas (15) hingga delapanbelas (18)
dapat pulang dari Rumah Sakit pada hari maka subyek dinyatakan tidak sembuh
ke sebelas (11) dan dilakukan pengobatan lanjutan
berdasarkan protokol rumah sakit untuk
Covid-19.