The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Jhoel Ben Oni Jahapay, 2020-11-15 22:38:18

BUKU AJAR HUKUM PERDATA

BUKU AJAR HUKUM PERDATA

BUKU AJAR

HUKUM
PERDATA

DR. YULIA, S.H., M.H.

Penerbit
CV. BieNa Edukasi – Lhokseumawe 2015

© 2015 BieNa Edukasi
All rights reserved. No part of this publication may be reproduced
or transmitted in any form or by any means, electronic or
mechanical, including photocopy, recording, or any information
storage and retrieval system, without permission in writing from
the publisher. Requests for permission to make copies of any part
of this publication should be mailed to:
Permission
BieNa Edukasi
Jl. Madan No. 10C Geudong
Lhokseumawe – Aceh – Indonesia 24374
Email: [email protected]
Printed in Lhokseumawe, 2015

Perpustakaan Nasional RI. Data Katalog dalam Terbitan (KDT)
YULIA
Hukum Perdata / Penulis, Yulia, -- Lhokseumawe:
CV. BieNa Edukasi, 2015. xii, 117 hlm. Bibliografi:
hlm. 114

ISBN 978-602-1068-16-8

Penerbit:
CV. BieNa Edukasi

Layout:
BieNa Edukasi

Cover Design:
Yulia

Penerbit
CV. BieNa Edukasi – Lhokseumawe 2015

BUKU AJAR

HUKUM
PERDATA

DR. YULIA, S.H., M.H.

Penerbit
CV. BieNa Edukasi – Lhokseumawe 2015



KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan dan kesehatan
serta ilmu pengetahuan sehingga dapat menyelesaikan penyusunan Buku Ajar Hukum
Perdata.

Sholawat dan Salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah
membawa ummat manusia dari alam kegelapan kepada alam yang terang benderang
dan dari alam kebodohan kepada alam yang berilmu pengetahuan.

Buku Ajar Hukum Perdata ini disusun berdasarkan Garis-garis Besar Pedoman
Perkuliahan (GBPP) dan Satuan Acara Perkuliahan (SAP) Hukum Perdata.

Manfaat penyusunan buku ajar ini, diharapkan dapat membantu mahasiswa
dalam memahami Hukum Perdata sebagai salah satu mata kuliah wajib dalam
kurikulum Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh. Secara umum, juga Buku Ajar
Hukum Perdata ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca secara luas.

Kritik dan saran yang membangun bagi kelengkapan Buku Ajar Hukum Perdata
diharapkan dari semua pembaca yang budiman. Akhirnya, penyusun mengucapkan
terima kasih yang tak terhingga kepada para pihak yang telah membantu dalam
peyelesaian penyusunan Buku Ajar Hukum Perdata.

Penyusun,

Dr. Yulia, S.H., M.H.

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………….. i
ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………….. iii

PENGANTAR MATA KULIAH ……………………………………………. 1

BAB I 13

RUANG LINGKUP HUKUM PERDATA ………………………..………………………. 24

BAB II 32

SEJARAH HUKUM PERDATA ……………………………………..…………………... 46

BAB III 60

PERIHAL MENGENAI ORANG DALAM HUKUM PERDATA …………………… 71

BAB IV 88

HUKUM PERKAWINAN ……………………………………………………………………… 104
114
BAB V 117

HUKUM KELUARGA …………………………………………………………………………..

BAB VI

HUKUM BENDA ……………………………………………………………………………...

BAB VII

HUKUM WARIS ……………………………………………………………………………….

BAB VIII

HUKUM PERIKATAN ……………………………………………………………………….

BAB IX

PEMBUKTIAN DAN DALUARSA ……………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………..

INDEKS …………………………………………………………………….

ii

PENGANTAR MATA KULIAH

Nama Mata Kuliah: Hukum Perdata
Bobot SKS: 3 (Tiga)
A. Manfaat Mata Kuliah

Mata Kuliah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dalam
mencari pengetahuan tentang Hukum Perdata yang mengatur perihal pribadi
seseorang dalam mendapatkan hak dan menjalankan kewajibannya.
B. Deskripsi Perkuliahan
Mata Kuliah Hukum Perdata membahas tentang berbagai perihal tentang
pribadi seseorang yang meliputi: Ruang Lingkup Hukum Perdata, Sejarah
Hukum Perdata, Perihal Mengenai Orang, Hukum Keluarga, Hukum
Perkawinan, Hukum Waris, Hukum Benda, Hukum Perikatan serta Pembuktian
dan Daluarsa.
C. Tujuan Instruksional
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan:
1. Mengetahui dan menjelaskan tentang Ruang Lingkup Hukum Perdata
2. Mengetahui dan menjelaskan tentang Sejarah Hukum Perdata
3. Mengetahui dan menjelaskan tentang Perihal Mengenai Orang dalam

Hukum Perdata
4. Mengetahui dan menjelaskan tentang Hukum Perkawinan
5. Mengetahui dan menjelaskan tentang Hukum Keluarga
6. Mengetahui dan menjelaskan tentang Hukum Benda
7. Mengetahui dan menjelaskan tentang Hukum Waris
8. Mengetahui dan menjelaskan tentang Hukum Perikatan
9. Mengetahui dan menjelaskan tentang Pembuktian dan Daluarsa
D. Kriteria Penilaian
Penilaian akan dilakukan dengan menggunakan Kriteria Penilaian yang sesuai
dengan Peraturan Akademik, yang bobot nilai dari masing-masing unsur, yaitu:
Quis 10%, Tugas Rumah 25%, Ujian Tengah Semester 25% dan Ujian Akhir
Semester 40%.

iii

E. Satuan Acara Perkuliahan (SAP)

PERTEMUAN I dan II : Hukum Perdata
1. Nama Mata Kuliah : MKK 233
2. Kode Mata Kuliah : 3 SKS
3. Bobot SKS : PHI dan PIH
4. Mata Kuliah Prasyarat : 6 x 50 Menit/Pertemuan
5. Waktu Pertemuan

Tujuan Instruksional Umum
Setelah Mata Kuliah Hukum Perdata ini, mahasiswa semester II (dua) Fakultas Hukum Unimal
akan dapat mengetahui dan menjelaskan materi Hukum Perdata

Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa akan dapat mengetahui dan menjelaskan tentang Ruang Lingkup Hukum Perdata

Pokok Bahasan:
Ruang Lingkup Hukum Perdata

Sub Pokok Bahasan:
1. Istilah dan Pengertian Hukum Perdata
2. Sumber-sumber Hukum Perdata
3. Subjek dan Objek Hukum Perdata
4. Sistematika Hukum Perdata

Kegiatan Belajar Mengajar

Tahap Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa Media dan Alat
3 Pengajaran
1 2 4
Pendahuluan  Mencatat dan
Penyajian 1. Perkenalan, kontrak pembelajaran, mendengarkan.  Papan Tulis
sistim penilaian, Pokok Bahasan  Hand out
Penutup 2. Menjelaskan TIU dan TIK yg akan  Memberi
komentar  Papan Tulis
dicapai.  Hand out
 Bertanya bila
1. Menanyakan kepada mahasiswa ada penjelasan
yang kurang
tentang Hukum Perdata jelas
2. Menjelaskan dan Menguraikan
tentang:  Memberi
komentar
a. Istilah dan Pengertian Hukum
Perdata  Memperhatikan
b. Sumber-sumber Hukum Perdata

c. Subjek dan objek Hukum Perdata
d. Sistematika Hukum Perdata

1. Memberikan kesempatan bertanya
dan menanggapi
2. Menunjukkan beberapa mahasiswa

untuk menjawab pertanyaan
3. Memberi rangkuman dan penguatan.
4. Menyampaikan materi kuliah

berikutnya.

Evaluasi Dan Tugas
Buat beberapa pertanyaan berkaitan dengan topik yang telah disajikan dalam bentuk essei dan
dibahas bersama

Referensi
3. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 2003
4. Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004
5. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

iv

PERTEMUAN III

1. Nama Mata Kuliah : Hukum Perdata
2. Kode Mata Kuliah : MKK 233
3. Bobot SKS : 3 SKS
4. Mata Kuliah Prasyarat : PHI dan PIH
5. Waktu Pertemuan : 3 x 50 Menit/Pertemuan

Tujuan Instruksional Umum
Setelah Mata Kuliah Hukum Perdata ini, mahasiswa semester II (dua) Fakultas Hukum Unimal
akan dapat mengetahui dan menjelaskan materi Hukum Perdata

Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa akan dapat mengetahui dan menjelaskan tentang Sejarah Hukum Perdata

Pokok Bahasan:
Sejarah Hukum Perdata

Sub Pokok Bahasan
1. Sejarah Hukum Perdata di Belanda
2. Sejarah Hukum Perdata di Indonesia

Kegiatan Belajar Mengajar

Tahap Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa Media dan Alat
1 Pengajaran
2 3
Pendahuluan 4
Penyajian 1. Menyampaikan Pokok Bahasan  Mencatat dan  Papan Tulis
 Hand out
Penutup 2. Menjelaskan TIK yg akan dicapai mendengarkan.  Papan Tulis
 Hand out
1. Menanyakan kepada mahasiswa  Memberi komentar

tentang Sejarah Hukum Perdata  Bertanya bila ada
2. Menjelaskan dan Menguraikan penjelasan yang
tentang: kurang jelas

a. Sejarah Hukum Perdata di
Belanda
b. Sejarah Hukum Perdata di

Indonesia

1. Memberikan kesempatan  Memberi komentar
bertanya dan menanggapi  Memperhatikan
2. Menunjuk beberapa mahasiswa
untuk menjawab pertanyaan

3. Memberi rangkuman dan
penguatan
4. Menyampaikan materi kuliah

berikutnya.

Evaluasi Dan Tugas
Buat beberapa pertanyaan dengan topik yang telah disajikan dalam bentuk essei dan dibahas
bersama.

Referensi
1. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 2003
2. Ridwan Syahrani, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004
3. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

v

PERTEMUAN IV

1. Nama Mata Kuliah : Hukum Perdata
2. Kode Mata Kuliah : MKK 233
3. Bobot SKS : 3 SKS
4. Mata Kuliah Prasyarat : PHI dan PIH
5. Waktu Pertemuan : 3 x 50 Menit/Pertemuan

Tujuan Instruksional Umum
Setelah Mata Kuliah Hukum Perdata ini, mahasiswa semester II (dua) Fakultas Hukum Unimal
akan dapat mengetahui dan menjelaskan materi Hukum Perdata

Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa akan dapat mengetahui dan menjelaskan tentang Perihal Orang dalam Hukum
Perdata

Pokok Bahasan:
Perihal Mengenai Orang dalam Hukum Perdata

Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian Subjek Hukum
2. Kewenangan Berhak
3. Kewenangan Bertindak

Kegiatan Belajar Mengajar

Tahap Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa Media dan Alat
Pengajaran
12 3
4
Pendahuluan 1. Menyampaikan Pokok Bahasan  Mencatat dan  Papan Tulis
2. Menyampaikan TIK yg akan mendengarkan.  Hand out
dicapai.

Penyajian 1. Menanyakan kepada mahasiswa  Memberi komentar Papan Tulis
tentang Perihal mengenai orang dalam  Bertanya bila ada  Hand out
Hukum Perdata penjelasan yang

2. Menjelaskan dan Menguraikan kurang jelas
tentang:
a. Pengertian Subjek Hukum

b. Kewenangan Berhak dan
kewenangan Bertindak

Penutup 1. Memberikan kesempatan bertanya  Memberi komentar
dan menanggapi  Memperhatikan

2. Menunjukan beberapa mahasiswa
untuk menjawab pertanyaan
3. Memberi rangkuman dan

penguatan.
4. Materi kuliah berikutnya.

Evaluasi Dan Tugas
Buat beberapa pertanyaan dengan topic yang telah disajikan dalam bentuk essei dan dibahas
bersama.

Referensi

1. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 2003
2. Ridwan Syahrani, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004
3. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

vi

PERTEMUAN V

1. Nama Mata Kuliah : Hukum Perdata
2. Kode Mata Kuliah : MKK 233
3. Bobot SKS : 3 SKS
4. Mata Kuliah Prasyarat : PHI dan PIH
5. Waktu Pertemuan : 3 x 50 Menit/Pertemuan

Tujuan Instruksional Umum
Setelah Mata Kuliah Hukum Perdata ini, mahasiswa semester II (dua) Fakultas Hukum Unimal
akan dapat mengetahui dan menjelaskan materi Hukum Perdata

Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa akan dapat mengetahui dan menjelaskan tentang Hukum Perkawinan

Pokok Bahasan:
Hukum Perkawinan

Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian Hukum Perkawinan
3. Syarat-syarat Sah Perkawinan
4. Hak dan Kewajiban Suami Istri
5. Perceraian
6. Pemisahan Harta Kekayaan

Kegiatan Belajar Mengajar

Tahap Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa Media dan Alat
3 Pengajaran
1 2
Pendahuluan 1.Menyampaikan Pokok Bahasan  Mencatat dan 4
Penyajian 2. Menjelaskan TIK yg akan dicapai. mendengarkan.  Papan Tulis
1. Menanyakan kepada mahasiswa  Hand out
Penutup tentang Hukum Perkawinan  Memberi  Papan Tulis
2. Menjelaskan dan menguraikan komentar  Han dout
tentang:
 Bertanya bila ada
a. Pengertian Hukum Perkawinan penjelasan yang
b. Syarat-syarat sah Perkawinan kurang jelas
c. Hak dan Kewajiban suami istri
d. Perceraian  Memberi
e. Pemisahan Harta kekayaan komentar

1. Memberikan kesempatan bertanya  Memperhatikan
dan menanggapi

2. Menunjukan beberapa mahasiswa
untuk menjawab pertanyaan

3. Memberi rangkuman dan penguatan.
4. Materi kuliah berikutnya.

Evaluasi Dan Tugas
Buat beberapa pertanyaan dengan topik yang telah disajikan dalam bentuk essei dan dibahas
bersama.

Referensi
1. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 2003
2. Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004
3. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

vii

PERTEMUAN VI dan VII

1. Nama Mata Kuliah : Hukum Perdata
2. Kode Mata Kuliah : MKK 233
3. Bobot SKS : 3 SKS
4. Mata Kuliah Prasyarat : PHI dan PIH
5. Waktu Pertemuan : 6 x 50 Menit/Pertemuan

Tujuan Instruksional Umum
Setelah Mata Kuliah Hukum Perdata ini, mahasiswa semester II (dua) Fakultas Hukum Unimal
akan dapat mengetahui dan menjelaskan materi Hukum Perdata

Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa akan dapat mengetahui dan menjelaskan tentang Hukum Keluarga

Pokok Bahasan:
Hukum Keluarga

Sub Pokok Bahasan
1. Keluarga Sedarah dan Semenda
2. Kekuasaan orang tua
3. Perwalian
4. Pendewasaan
5. Pengampuan
6. Ketidakhadiran/ orang yang hilang

Kegiatan Belajar Mengajar

Tahap Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa Media dan Alat
Pengajaran
1 2 3
Pendahuluan 4
Penyajian 1. Menyampaikan Pokok Bahasan  Mencatat dan Papan Tulis
Hand out
Penutup 2. Penjelasan TIK yg akan mendengarkan.
dicapai. Papan Tulis
Hand out
1. Menanyakan kepada mahasiswa  Memberi komentar
tentang Hukum Keluarga  Bertanya bila ada
2. Menjelaskan dan menguraikan
penjelasan yang
tentang: kurang jelas
a. Keluarga Sedarah dan
Semenda

b. Kekuasaan orang tua
c. Perwalian
d. Pendewasaan

e. Pengampuan
f. Ketidakhadiran/orang
yang hilang

1. Memberikan kesempatan  Memberi komentar
bertanya dan menanggapi  Memperhatikan

2. Menunjukan beberapa
mahasiswa untuk menjawab
pertanyaan

3. Memberi rangkuman dan
penguatan.
4. Materi kuliah berikutnya.

Evaluasi Dan Tugas
Buat beberapa pertanyaan dengan topic yang telah disajikan dalam bentuk essei dan dibahas
bersama.

Referensi
1. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 2003
2. Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004
3. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

viii

PERTEMUAN XI dan X

1. Nama Mata Kuliah : Hukum Perdata
2. Kode Mata Kuliah : MKK 233
3. Bobot SKS : 3 SKS
4. Mata Kuliah Prasyarat : PHI dan PIH
5. Waktu Pertemuan : 6 x 50 Menit/Pertemuan

Tujuan Instruksional Umum
Setelah Mata Kuliah Hukum Perdata ini, mahasiswa semester II (dua) Fakultas Hukum Unimal
akan dapat mengetahui dan menjelaskan materi Hukum Perdata

Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa akan dapat mengetahui dan menjelaskan tentang Hukum Benda

Pokok Bahasan:
Hukum Benda

Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian Benda
2.Macam-macam Benda
3. Hak-hak Kebendaan
4. Priviliegie dan Retensie

Kegiatan Belajar Mengajar

Tahap Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa Media dan Alat
Pengajaran
1 2 3
Pendahuluan  Mencatat dan 4
Penyajian 1. Menyampaikan Pokok Bahasan  Papan Tulis
2. Menjelaskan TIK yg akan dicapai. mendengarkan.  Hand out
Penutup  Memberi  Papan Tulis
1. Menanyakan kepada mahasiswa  Hand out
tentang Hukum Benda komentar
 Bertanya bila ada
2. Menjelaskan dan Menguraikan
tentang: penjelasan yang
a. Pengertian Benda kurang jelas

 Macam-macam Benda  Memberi
 Hak-hak kebendaan komentar

 Priviliegie dan Retensie  Memperhatikan

1. Memberikan kesempatan
bertanya dan menanggapi
2. Menunjukan beberapa mahasiswa

untuk menjawab pertanyaan
3. Memberi rangkuman dan
penguatan.

4. Materi kuliah berikutnya.

Evaluasi Dan Tugas
Buat beberapa pertanyaan dengan topic yang telah disajikan dalam bentuk essei dan dibahas
bersama.

Referensi
1. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 2003
2. Ridwan Syahrani, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004
3. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

ix

PERTEMUAN XI DAN XII : Hukum Perdata
1. Nama Mata Kuliah : MKK 233
2. Kode Mata Kuliah : 3 SKS
3. Bobot SKS : PHI dan PIH
4. Mata Kuliah Prasyarat : 6 x 50 Menit/Pertemuan
5. Waktu Pertemuan

Tujuan Instruksional Umum
Setelah Mata Kuliah Hukum Perdata ini, mahasiswa semester II (dua) Fakultas Hukum Unimal
akan dapat mengetahui dan menjelaskan materi Hukum Perdata

Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa akan dapat mengetahui san menjelaskan tentang Hukum Waris

Pokok Bahasan:
Hukum Waris

Sub Pokok Bahasan
A. Istilah dan pengertian waris
B. Hak mewaris
C. Menerima dan menolak waris
D. Wasiat dan executeur testamentair
E. Fidei commis dan legietieme portie
F. Pembagian warisan
G. Warisan yang tidak terurus

Kegiatan Belajar Mengajar

Tahap Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa Media dan Alat
Pengajaran
1 2 3
Pendahuluan 4
Penyajian 1. Menyampaikan Pokok Bahasan i. Mencatat dan  Papan Tulis
 Hand out
Penutup 2. Penjelasan TIK yg akan dicapai. mendengarkan.  Papan Tulis
 Hand out
1. Menanyakan kepada mahasiswa  Memberi komentar

tentang Hukum Waris  Bertanya bila ada
2. Menjelaskan dan Menguraikan penjelasan yang
tentang: kurang jelas

a.Istilah dan pengertian waris
b. Hak mewaris
c. Menerima dan menolak waris

d. Wasiat dan executeur
testamentair
e. Fidei commis dan legietieme

portie
f. Pembagian warisan
g. Warisan yang tidak terurus

1. Memberikan kesempatan  Memberi komentar
bertanya dan menanggapi Memperhatikan


2. Menunjukan beberapa
mahasiswa unutk menjawab
pertanyaan

3. Memberi rangkuman dan
penguatan.
4. Materi kuliah berikutnya.

Evaluasi Dan Tugas
Buat beberapa pertanyaan dengan topic yang telah disajikan dalam bentuk essei dan dibahas
bersama.

Referensi
1. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 2003
2. Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004
3. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

x

PERTEMUAN XIII & XIV

1. Nama Mata Kuliah : Hukum Perdata
2. Kode Mata Kuliah : MKK 233
3. Bobot SKS : 3 SKS
4. Mata Kuliah Prasyarat : PHI dan PIH
5. Waktu Pertemuan : 6 x 50 Menit/Pertemuan

Tujuan Instruksional Umum
Setelah Mata Kuliah Hukum Perdata ini, mahasiswa semester II (dua) Fakultas Hukum Unimal
akan dapat mengetahui dna menjelaskan materi Hukum Perdata

Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa akan dapat mengetahui dan menjelaskan tentang Hukum Perikatan

Pokok Bahasan:
Hukum Perikatan

Sub Pokok Bahasan
A. Istilah dan pengertian Hukum Perikatan
B. Pengaturan Hukum Perikatan
C. Macam-macam Perikatan
D. Perihal Resiko, Wanprestasi dan Keadaan Memaksa
E. Hapusnya Perikatan

Kegiatan Belajar Mengajar

Tahap Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa Media dan Alat
Pengajaran
1 2 3
Pendahuluan 4
Penyajian 1. Menyampaikan Pokok Bahasan i. Mencatat dan  Papan Tulis
2. Penjelasan TIK yg akan dicapai. mendengarkan  Hand out
Penutup  Papan Tulis
1. Menanyakan kepada mahasiswa  Memberi komentar  Hand out
tentang Hukum Perikatan Bertanya bila ada


2. Menjelaskan dan Menguraikan penjelasan yang
tentang: kurang jelas
a.Istilah dan pengertian Hukum

Perikatan
b. Pengaturan Hukum Perikatan
c. Macam-macam Perikatan

d. Perihal Resiko, Wanprestasi dan
Keadaan Memaksa
e. Hapusnya Perikatan

1. Memberikan kesempatan  Memberi komentar
bertanya dan menanggapi Memperhatikan


2. Menunjukan beberapa
mahasiswa untuk menjawap
pertanyaan

3. Memberi rangkuman dan
penguatan.
4. Materi kuliah berikutnya.

Evaluasi Dan Tugas
Buat beberapa pertanyaan dengan topic yang telah disajikan dalam bentuk essei dan dibahas
bersama.

Referensi
1. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 2003
2. Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004
3. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

xi

PERTEMUAN XV

1.Nama Mata Kuliah : Hukum Perdata
2.Kode Mata Kuliah : MKK 233
3. Bobot SKS : 3 SKS
4. Mata Kuliah Prasyarat : PHI dan PIH
5. Waktu Pertemuan : 3 x 50 Menit/Pertemuan

Tujuan Instruksional Umum
Setelah Mata Kuliah Hukum Perdata ini, mahasiswa semester II (dua) Fakultas Hukum Unimal
akan dapat mengetahui dan menjelaskan materi Hukum Perdata

Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa akan dapat mengetahui dan menjelaskan tentang Pembuktian dan Daluarsa

Pokok Bahasan:
Pembuktian dan Daluarsa

Sub Pokok Bahasan
1. Pembuktian pada umumnya
2. Alat-alat Bukti
3. Daluarsa atau Lewat Waktu

Kegiatan Belajar Mengajar

Tahap Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa Media dan Alat
Pengajaran
1 2 3
Pendahuluan i. Mencatat dan 4
Penyajian 1. Menyampaikan Pokok Bahasan  Papan Tulis
mendengarkan.  Hand out
Penutup 2. MenjelaskanTIK yg akan dicapai.  Memberi  Papan Tulis
 Hand out
1. Menanyakan kepada mahasiswa komentar
 Bertanya bila
tentang Pembuktian dan Daluarsa
2. Menjelaskan dan Menguraikan ada penjelasan
tentang: yang kurang
jelas
a. Pembuktian pada umumnya
b. Alat-alat bukti  Memberi
c. Daluarsa atau lewat waktu komentar

1. Memberikan kesempatan  Memperhatikan

bertanya dan menanggapi
2. Menunjukan beberapa mahasiswa
untuk menjawab pertanyaan
3. Memberi rangkuman dan

penguatan.
4. Materi kuliah berikutnya.

Evaluasi Dan Tugas
Buat beberapa pertanyaan dengan topik yang telah disajikan dalam bentuk essei dan dibahas bersama.

Referensi
1. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 2003
2. Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004
3. Kitab Undang-undang Hukum Perdata

xii

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

BAB 1

RUANG LINGKUP HUKUM PERDATA

Tujuan Instruksional Khusus kepentingan-kepentingan
perseorangan. Istilah perdata juga
Mahasiswa akan dapat mengetahui dan lazim dipakai sebagai lawan dari
menjelaskan tentang Ruang Lingkup pidana. Ada juga yang memakai istilah
Hukum Perdata: Istilah dan Pengertian Hukum Sipil untuk Hukum Privat
Hukum Perdata, Sumber-sumber Materiil, tetapi karena istilah sipil juga
Hukum, Subjek dan Objek Hukum lazim dipakai sebagai lawan dari militer.
Perdata serta Sistematika Hukum
Perdata Istilah Hukum Perdata, dalam
arti yang sempit, sebagai lawan Hukum
Sub Pokok Bahasan Dagang, seperti dalam Pasal 102
Undang-undang Dasar Sementara,
1. Istilah dan Pengertian Hukum yang menitahkan pembukuan
Perdata (kodifikasi) hukum di negara Indonesia
terhadap Hukum Perdata dan Hukum
2. Sumber-sumber Hukum Dagang, Hukum Pidana Sipil maupun
3. Subjek dan Objek Hukum Perdata Hukum Pidana Militer, Hukum Acara
4. Sistematika Hukum Perdata Perdata dan Hukum Acara Pidana, serta
Susunan dan Kekuasaan Pengadilan.
Uraian:
Istilah Perdata telah diterima
A. Istilah dan Pengertian Hukum secara resmi untuk pertama kali dan
Perdata dicantumkan dalam perundang-
undangan Indonesia, yaitu:
Istilah Hukum Perdata pertama
kali diperkenalkan oleh Profesor 1. Konstitusi RIS yang dicantumkan
Djoyodiguno sebagai terjemahan dari dalam Pasal 15 ayat 2, Pasal 144
burgerlijkrecht. Di samping istilah itu, ayat (1), Pasal 156 ayat (1) dan
sinonim Hukum Perdata adalah Pasal 158 ayat (1).
civielrecht dan privatrecht. Di lihat dari
ruang lingkupnya, istilah Hukum 2. UUDS yang dicantumkan dalam
Perdata dalam arti luas, meliputi Pasal 15 ayat (2), Pasal 101 ayat (1)
Hukum Privat Materiil, yaitu segala dan Pasal 106 ayat (3).
hukum pokok yang mengatur
1

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

Hukum Perdata dapat dibagi 3. Wirjono Prodjodikoro, Hukum

dalam dua macam, yaitu Hukum Perdata adalah suatu rangkaian

Perdata Materil dan Hukum Perdata hukum antara orang-orang atau

Formil. Hukum Perdata Materil lazim badan satu sama lain tentang hak

disebut Hukum Perdata, sedangkan dan kewajiban.

Hukum Perdata Formil disebut Hukum 4. Sudikno Merto Kusumo, Hukum

Acara Perdata, yaitu yang mengatur Perdata adalah hukum antar

bagaimana cara seseorang perorangan yang mengatur hak dan

mempertahankan haknya apabila kewajiban perorangan yang satu

dilanggar oleh orang lain. Jika dilihat terhadap yang lain di dalam

dalam bahasa Inggrisnya, Hukum hubungan keluarga dan didalam

Perdata dikenal dengan istilah Civil masyarakat. Pelaksanaannya

Law. Kata Civil berasal dari bahasa diserahkan kepada masing-masing

Latin yakni, Civis yang berarti warga pihak.

negara. Hal tersebut berarti, bahwa 5. Safioedin, Hukum Perdata adalah

Civil Law atau Hukum Sipil merupakan hukum yang memuat peraturan dan

hukum yang mengatur tentang ketentuan hukum yang meliputi

masalah-masalah yang berkaitan hubungan hukum antara orang yang

dengan hak-hak warga negara dan satu dengan yang lain didalam

atau perseorangan. Jika dilihat dari masyarakat dengan menitik

berbagai literatur yang ditulis para beratkan kepada kepentingan

sarjana, juga dijumpai berbagai perorangan.

macam definisi Hukum Perdata, 6. Vollmar, Hukum Perdata adalah

terkadang satu sama lainnya berbeda- aturan-aturan atau norma-norma

beda, namun tidak menunjukkan yang memberikan perlindungan

perbedaan yang prinsipil. Kebanyakan pada kepentingan perseorangan

para sarjana menganggap dalam perandingan yang tepat

Hukum Perdata sebagai hukum yang antara kepentingan yang satu

mengatur kepentingan perseorangan dengan yang lain dari orang-orang

(pribadi) yang berbeda dengan Hukum didalam suatu masyarakat tertentu

Publik sebagai hukum yang mengatur terutama yang mengenai hubungan

kepentingan umum (masyarakat). keluarga dan hubungan lalu lintas.

Berikut pengertian Hukum Perdata oleh 7. Van Dunne, Hukum Perdata adalah

beberapa pakar hukum, yaitu: suatu peraturan yang mengatur

tentang hal-hal yang sangat esensial

1. Soebekti, Hukum Perdata adalah bagi kebebasan individu, seperti
segala hukum pokok yang mengatur
kepentingan-kepentingan orang dan keluarganya,hak milik
perseorangan.
dan perikatan.
2. Sri Soedewi, Hukum Perdata adalah
hukum yang mengatur kepentingan Oleh karena itu dapat kita
antara warga negara perseorangan simpulkan, bahwa Hukum Perdata
dengan satu warga negara adalah hukum yang mengatur
perseorangan yang lain. hubungan hukum antara orang yang
satu dengan orang yang lain dalam
masyarakat yang menitik beratkan

2

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

kepada kepentingan perseorangan. tetap berlaku sepanjang belum
Dari berbagai paparan tentang Hukum diganti dengan undang-undang yang
Perdata di atas, dapat ditemukan baru berdasarkan UUD 1945. Sumber
unsur-unsurnya, yaitu: dalam arti “Pembentuknya” adalah
pembentuk undang-undang berdasar-
1. Adanya kaidah hukum; kan UUD 1945. Oleh karena itu, atas
2. Mengatur hubungan antara subjek dasar aturan peralihan, B.W dinyatakan
tetap berlaku, hal ini berarti pembentuk
hukum satu dengan yang lain; UUD 1945 ikut menyatakan
3. Bidang hukum yang diatur dalam berlakunya B.W. yang disebut dengan
Kitab Undang-undang Hukum Perdata
hukum perdata meliputi hukum (KUH Perdata).
orang, hukum keluarga, hukum
benda, hukum waris, hukum Sumber hukum adalah segala
perikatan, serta hukum pembuktian apa saja yang menimbulkan aturan-
dan kadaluarsa. aturan yang bersifat memaksa, yaitu
aturan-aturan yang apabila dilanggar
Jadi, subtansi yang diatur dalam mengakibatkan sanksi tegas dan nyata.
Hukum Perdata antara lain, yaitu: Pada dasarnya sumber hukum dapat
dibedakan menjadi 2 (dua) macam,
1. Hubungan keluarga. Dalam yaitu:

hubungan keluarga akan

menimbulkan hukum tentang orang

dan hukum keluarga.

2. Pergaulan masyarakat. Dalam 1. Sumber Hukum Materiil

hubungan pergaulan masyarakat

akan menimbulkan hukum harta Sumber Hukum Materiil adalah

kekayaan, hukum perikatan, dan tempat dari mana materi hukum itu

hukum waris. diambil. Sumber dalam arti materiil

adalah sumber dalam arti

B. Sumber-Sumber Hukum “tempat“ adalah Staatsblad (Stbl)
Perdata
atau Lembaran Negara di mana

Sumber hukum adalah asal dirumusan ketentuan undang-

mula Hukum Perdata, atau tempat di undang Hukum Perdata dapat

mana Hukum Perdata ditemukan. Asal dibaca oleh umum. Contoh, Stbl.

mula menunjuk kepada sejarah asal 1847-23 memuat B.W, L.N. 1974-1

dan pembentuknya, sedangkan memuat Undang-Undang

“tempat” menunjukkan kepada Perkawinan. Keputusan Hakim

rumusan-rumusan tersebut dimuat, (yurisprudensi) juga termasuk

ditemukan dan dapat dibaca. sumber dalam arti tempat di

Sumber dalam arti “sejarah asalnya”, mana Hukum Perdata yang

di mana Hukum Perdata adalah dibentuk hakim dapat dibaca,

buatan Pemerintah Kolonial Belanda sehingga sumber dalam arti

yang terhimpun dalam Burgelijk tempat disebut sumber dalam

Wetbook (B.W). Berdasarkan aturan arti materiil.

peralihan Undang-Undang Dasar 1945

(UUD 1945), B.W itu dinyatakan

3

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

2. Sumber Hukum Formal Hukum Perdata yang berasal dari
sumber tidak tertulis, seperti dalam
Sumber Hukum Formal merupakan hukum kebiasaan.
tempat memperoleh kekuatan
hukum. Ini berkaitan dengan bentuk Secara khusus, sumber Hukum
atau cara yang menyebabkan Perdata Indonesia terulis, yaitu:
peraturan hukum formal itu berlaku.

1. Algemene Bepalingen van

Volmar membagi sumber Wetgeving (AB), merupakan

Hukum Perdata menjadi 4 (empat) ketentuan-ketentuan umum

macam, yaitu: KUH Perdata, Traktat, Pemerintah Hindia Belanda yang

Yurisprudensi dan Kebiasaan. Traktat diberlakukan di Indonesia (Stbl.

adalah suatu perjanjian yang dibuat 1847 No. 23, tanggal 30 April 1847,

antara dua Negara atau lebih dalam terdiri atas 36 pasal)

bidang keperdataan. Terutama erat

kaitannya dengan perjanjian 2. KUH Perdata atau Burgelijk

internasional. Contohnya, perjanjian Wetboek (BW), merupakan

bagi hasil yang dibuat antara ketentuan hukum produk Hindia

pemerintah Indonesia dengan PT Belanda yang diundangkan tahun

Freeport Indonesia. Yurisprudensi atau 1848, diberlakukan di Indonesia

putusan pengadilan merupakan produk berdasarkan asas konkordansi

yudikatif, yang berisi kaidah atau 3. KUHD atau Wetboek van
Koopandhel (WvK), yang terdiri atas
peraturan hukum yang mengikat pihak- 754 pasal, meliputi Buku I (tentang
dagang secara umum) dan Buku II
pihak yang berperkara terutama dalam (tentang hak-hak dan kewajiban
yang timbul dalam pelayaran.
perkara perdata. Contohnya, tentang

pengertian perbuatan melawan hukum,

dengan adanya putusan tersebut maka

pengertian melawan hukum tidak

menganut arti luas. Putusan tersebut 4. Undang-undang Nomor 5 Tahun
1960 tentang Pokok-Pokok Agraria,
dijadikan pedoman oleh para hakim di undang-undnag ini mencabut
berlakunya Buku II KUH Perdata
Indonesia dalam memutuskan sepanjang mengenai hak atas
tanah, kecuali hipotek.
sengketa perbuatan melawan hukum.

Dari keempat sumber tersebut 5. Undang-undang Nomor 1 Tahun
dibagi lagi menjadi 2 (dua) macam, 1974 tentang Ketentuan-ketentuan
yaitu sumber Hukum Perdata tertulis Pokok Perkawinan, dan ketentuan-
dan sumber Hukum Perdata tidak ketentuan yang tercantum dalam
tertulis. Sumber Hukum Perdata Buku I KUH Perdata, khususnya
tertulis, yaitu tempat ditemukannya mengenai perkawinan tidak berlaku
kaidah-kaidah Hukum Perdata yang secara penuh.
berasal dari sumber tertulis. Umumnya
kaidah Hukum Perdata tertulis terdapat 6. Undang-undang Nomor 4 Tahun
di dalam peraturan perundang- 1996 tentang Hak Tanggungan atas
undangan, traktat dan yurisprudensi.
Sumber Hukum Perdata tidak tertulis
adalah tempat ditemukannya kaidah

4

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

Tanah beserta Benda-benda yang hubungan hukum publik dan
Berkaitan dengan Tanah. Undang- mengatur hubungan Hukum
undang ini mencabut berlakunya Perdata.
hipotek sebagaimana diatur dalam
Buku II KUH Perdata, sepanjang 9. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun
mengenai tanah dan ketentuan 1991 tentang Kompilasi Hukum
mengenai Credieverband dalam Islam (KHI), yang mengatur 3 (tiga)
Stbl. 1908-542 sebagaimana telah hal, yaitu Hukum Perkawinan,
diubah dalam Stbl. 1937-190. Hukum Kewarisan dan Hukum
Tujuan pencabutan ketentuan yang Perwakafan. Ketentuan dalam KHI
tercantum dalam Buku II KUH hanya berlaku bagi orang-orang
Perdata dan Stbl. 1937-190 adalah yang beragama Islam.
karena tidak sesuai lagi dengan
kegiatan kebutuhan perkreditan, Oleh karena itu dapat
sehubungan dengan perkembangan disimpulkan, bahwa di dalam Hukum
tata perekonomian Indonesia. Perdata terdapat juga 2 (dua) kaidah,
yaitu:
7. Undang-undang Nomor 42 Tahun
1999 tentang Jaminan Fidusia. Ada 1. Kaidah tertulis. Kaidah hukum
3 (tiga) pertimbangan lahirnya,
yaitu: a) adanya kebutuhan yang perdata tertulis adalah kaidah-
sangat besar dan terus meningkat
bagi dunia usaha atas tersedianya kaidah hukum perdata yang
dana, perlu diimbangi dengan
adanya ketentuan hukum yang jelas terdapat di dalam peraturan
dan lengkap yang mengatur
mengenai lembaga jaminan. b) perundang-undangan, traktat, dan
jaminan fidusia sebagai salah satu
bentuk lembaga jaminan sampai yurisprudensi.
saat ini masih didasarkan pada
yurisprudensi dan belum diatur 2. Kaidah tidak tertulis. Kaidah Hukum
dalam peraturan perundang-
undangan secara lengkap dan Perdata tidak tertulis adalah
komprehensif. c) untuk memenuhi
kebutuhan hukum yang lebih dapat kaidah-kaidah Hukum Perdata yang
memacu serta mampu memberikan
perlindungan hukum bagi pihak timbul, tumbuh, dan berkembang
yang berkepentingan, maka perlu
dibuat ketentuan yang lengkap dalam praktek kehidupan
mengenai jaminan fidusia; dan
jaminan tersebut perlu didaftarkan masyarakat (kebiasaan).
pada Kantor Pendaftaran Fiduasia.
C. Objek dan Subjek Hukum
8. Undang-undang Nomor 24 Tahun Perdata
2004 tentang Lembaga Jaminan
Simpanan (LPS) untuk mengatur Obyek Hukum Perdata

Objek hukum adalah segala

sesuatu yang berada di dalam

pengaturan hukum dan dapat

dimanfaatkan oleh subyek hukum

berdasarkan hak/kewajiban yang

dimilikinya atas obyek hukum yang

bersangkutan. Jadi, obyek hukum itu

haruslah sesuatu yang

pemanfaatannya diatur berdasarkan

hukum. Benda dalam hukum perdata

5

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

diatur dalam Buku II KUH Perdata, alasan manusia sebagai subyek
tidak sama dengan bidang disiplin ilmu hukum, yaitu:
fisika, di mana dikatakan bahwa bulan
itu adalah benda (angkasa), sedangkan a. manusia mempunyai hak-hak
dalam pengertian Hukum Perdata subyektif.
bulan itu bukan (belum) dapat
dikatakan sebagai benda, karena b. kewenangan hukum, dalam hal
tidak/belum ada yang (dapat) ini kewenangan hukum berarti,
memilikinya. Pengaturan tentang kecakapan untuk menjadi
hukum benda dalam Buku II KUH subyek hukum, yaitu sebagai
Perdata mempergunakan sistem pendukung hak dan kewajiban.
tertutup, artinya orang tidak
diperbolehkan mengadakan hak-hak Pada dasarnya manusia
kebendaan selain dari yang telah diatur
dalam undang-undang ini. Selain itu, mempunyai hak sejak dalam
hukum benda bersifat memaksa
(dwingend recht), artinya harus kandungan (Pasal 2 KUH Perdata),
dipatuhi, tidak boleh disimpangi,
termasuk membuat peraturan baru namun tidak semua manusia
yang menyimpang dari yang telah
ditetapkan. mempunyai kewenangan dan

kecakapan untuk melakukan perbuatan

hukum, orang yang dapat melakukan

perbuatan hukum adalah orang yang

sudah dewasa (berumur 21 tahun atau

sudah kawin), sedangkan orang-orang

yang tidak cakap melakukan perbuatan

hukum adalah orang yang belum

Subjek Hukum Perdata dewasa, orang yang ditaruh di bawah

Subyek hukum (rechts subject) pengampuan, seorang wanita yang

menurut Algra adalah setiap orang bersuami (Pasal 1330 KUH Perdata).

mempunyai hak dan kewajiban, yang Setiap manusia adalah sebagai
subjek hukum dan pendukung hak
menimbulkan wewenang hukum serta kewajiban. Tidak setiap manusia
(orang) wenang berbuat atau bertindak
(rechtsbevoegheid), sedangkan untuk melaksanakan hak dan
kewajiban yang dimilikinya. Untuk
pengertian wewenang hukum itu wenang berbuat atau bertindak
melaksanakan hak dan kewajiban yang
sendiri adalah kewenangan untuk dimilikinya dibutuhkan adanya syarat
kecakapan. Syarat-syarat seseorang
menjadi subyek dari hak-hak. Subyek yang cakap hukum, yaitu:

hukum adalah segala sesuatu yang

pada dasarnya memiliki hak dan

kewajiban dalam lalu lintas hukum.

Subjek hukum dibedakan
menjadi 2 macam, yaitu:

1. Manusia (Naturlijke Person), yaitu a. Seseorang yang sudah dewasa
manusia sama dengan orang karena (berumur 21 tahun).
manusia mempunyai hak-hak
subjektif dan kewenangan hukum. b. Seseorang yang berusia dibawah
Pengertian secara yuridisnya, ada 21 tahun tetapi pernah menikah.
dua alasan yang menyebutkan
c. Seseorang yang sedang tidak
menjalani hukum.

d. Berjiwa sehat dan berakal sehat.

6

2. Badan hukum (Vicht Person), yaitu Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia
badan hukum adalah kumpulan
orang-orang yang mempunyai 1. Badan hukum itu mempunyai
tujuan tertentu, harta kekayaan, kekayaan sendiri
serta hak dan kewajiban. Badan
hukum merupakan badan-badan 2. Sebagai pendukung hak dan
atau perkumpulan. Badan hukum kewajiban
yakni orang yang diciptakan oleh
hukum. Oleh karena itu, badan 3. Dapat menggugat dan digugat di
hukum sebagai subjek hukum dapat muka pengadilan
bertindak hukum (melakukan
perbuatan hukum) seperti manusia. 4. Ikut serta dalam lalu lintas
Dengan demikian, badan hukum hukumà bias melakukan jual beli
dapat melakukan persetujuan-
persetujuan, memiliki kekayaan 5. Mempunyai tujuan dan
yang sama sekali terlepas dari kepentingan.
kekayaan anggota-anggotanya.
Oleh karena itu, badan hukum dapat Badan hukum dibedakan dalam
bertindak dengan perantaraan dua bentuk, yaitu:
pengurus-pengurusnya. 1. Badan hukum publik, adalah badan

Badan hukum menurut hukum yang didirikan berdasarkan
pendapat Wirjono Prodjodikoro adalah hukum publik atau yang
suatu badan yang di samping menusia menyangkut kepentingan publik
perorangan juga dapat bertindak dalam atau orang banyak atau negara
hukum dan yang mempunyai hak-hak, umumnya.
kewajiban-kewajiban dan kepentingan- 2. Badan hukum privat, adalah badan
kepentingan hukum terhadap orang hukum yang didirkan berdasarkan
lain atau badan lain. Sarjana lain hukum sipil atau perdata yang
mengatakan bahwa badan hukum menyangkut kepentingan pribadi
adalah kumpulan dari orang-orang orang di dalam badan hukum itu.
yang bersama-sama mendirikan suatu
badan (perhimpunan) dan kumpulan Teori-Teori yang berkenaan
harta kekayaan, yang dipisahkan untuk dengan badan hukum itu antara lain,
tujuan tertentu (yayasan). Sri Soedewi yaitu:
Masjchoen Sofwan mengatakan bahwa
baik perhimpunan maupun yayasan 1. Teori Fiksi
kedua-duanya berstatus sebagai badan
hukum, jadi merupakan orang sebagai Teori ini dipelopori oleh Von Savigny
pendukung hak dan kewajiban. yang mengatakan bahwa manusia
saja yang dapat bertindak hukum,
Kalau dilihat dari berbagai badan hukum itu terjadinya karena
pendapat di atas, badan hukum dapat angan-angan saja, segala gerak-
dikategorikan sebagai subjek hukum gerik dari badan hukum itu adalah
sama dengan manusia disebabkan kehendak dari orang-orang yang
karena: mengurusi, bukan dari badan hukum
itu sendiri, karena itu suatu badan
hukum tidak dapat melakukan
perbuatan melanggar hukum
dengan demikian badan hukum
tidak dapat dituntut, yang dapat
dituntut adalah orang-orang yang
mengelolanya (pengurus).

7

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

2. Teori Organ yang ada dan berlaku di negara lain,
tidaklah terlalu jauh berbeda. Hal ini
Teori ini dikemukakan oleh Von dimungkinkan karena mengacu atau
dipengaruhi dari Hukum Romawi (Code
Gierke, yang menyatakan bahwa Civil). Adapun hal-hal yang diatur
dalam KUH Perdata sebagaimana
badan hukum bukanlah suatu fiksi berlaku di Indonesia saat ini ada 4
(empat) buku, (kecuali beberapa
tetapi kenyataan, bukan kenyataan bagian yang sudah dinyatakan tidak
berlaku), yaitu:
seperti manusia tapi kenyataan pada

jiwanya. Badan hukum melakukan

hubungan hukum adalah melalui

alat (organ) yang ada padanya,

inilah yang melaksanakan

keamanan dari badan hukum itu. 1. Buku Kesatu tentang Orang (van
persoon), yang memuat hukum
Jadi yang bisa dituntut adalah badan mengenai Diri Seseorang dan
Hukum Keluarga, terdiri dari 18 bab,
hukumnya bukan orangnya. yaitu:

3. Teori Milik Bersama (Kolektif)

Teori ini dipelopori oleh Moleengraf, Bab I tentang menikmati dan
yang mengatakan bahwa para
anggota dari organisasi itulah yang kehilangan hak-hak
dapat dipandang sebagai yang
mempunyai hak, itu terjadi apabila kewenangan
orang-orang yang telah bersatu itu
bersama-sama bertindak dalam satu Bab II tentang akta-akta catatan
ikatan atas nama badan hukum itu
sehingga mereka mempunyai hak sipil
dan kewajiban bersama yang bukan
hak dan kewajiban dari tiap-tiap Bab III tentang tempat tinggal atau
anggota itu sebagai perseorangan.
domisili

Bab IV tentang perkawinan

Bab V tentang hak-hak dan

kewajiban-kewajiban suami

dan isteri

Bab VI tentang persatuan harta

4. Teori Kenyataan Yuridis kekayaan menurut undang-

undang dan pengurusannya

Lembaga yang berwenang membuat Bab VII tentang perjanjian kawin
undang-undang mencantumkan
dalam undang-undnag bahwa yang Bab VIII tentang persatuan atau
melaksanakan apa yang ditetapkan
oleh undang-undang tentang perjanjian kawin dalam
perkumpulan orang-orang maka
perkumpulan itu disebut badan perkawinan untuk kedua kali
hukum.
atau selanjutnya

Bab IX tentang perpisahan harta

kekayaan

Bab X tentang pembubaran

perkawinan

D. Sistematika Hukum Perdata Bab XI tentang perpisahan meja dan

ranjang

Sistematika KUH Perdata yang Bab XII tentang kebapaan dan
ada dan berlaku di Indonesia, ternyata
bila dibandingkan dengan KUH Perdata keturunan anak-anak

Bab XIII tentang kekeluargaan

sedarah dan semenda

8

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

Bab XIV tentang kekuasaan orang tua pendaftaran harta

Bab XVa tentang menentukan, peninggalan

mengubah dan mencabut Bab XVI tentang menerima dan

tunjangan-tunjangan nafkah menolak suatu warisan

Bab XV tentang kebelum-dewasaan Bab XVII tentang pemisahan harta

dan perwalian peninggalan

Bab XVI tentang beberapa perlunakan Bab XVIII tentang harta peninggalan

Bab XVII tentang pengampuan yang tak terurus

Bab XVIII tentang keadaan tak hadir Bab XIX tentang piutang-piutang yang

diistimewakan

Bab XX tentang gadai

2. Buku Kedua tentang Kebendaan Bab XXI tentang hipotik
(van zaken), yang memuat Hukum
Benda dan Hukum Waris, terdiri 3. Buku Ketiga tentang perihal
dari 21 bab, yaitu: Perikatan (van verbentennissen),
yang teridiri dari 18 Bab, memuat
Bab I tentang kebendaan dan cara tentang:

membeda-bedakannya

Bab II tentang kedudukan berkuasa Bab I tentang perikatan pada
umumnya
(bezit) dan hak-hak yang
Bab II tentang perikatan yang lahir
timbul karenanya dari kontrak atau persetujuan

Bab III tentang hak milik ( Bab III tentang perikatan yang lahir
karena undang-undang
eigendoom )
Bab IV tentang hapusnya perikatan
Bab IV tentang hak dan kewajiban Bab V tentang jual-beli
Bab VI tentang tukar-menukar
antara pemilik-pemilik Bab VII tentang sewa-menyewa
Bab VIIA tentang perjanjian kerja
pekarangan yang satu sama Bab VIII tentang perseroan perdata

lain bertetanggaan (persekutuan perdata)
Bab IX tentang badan hukum
Bab V tentang kerja rodi Bab X tentang penghibahan
Bab XI tentang penitipan barang
Bab VI tentang pengabdian Bab XII tentang pinjam-pakai
Bab XIII tentang pinjam pakai habis
pekarangan
(verbruiklening)
Bab VII tentang hak numpang karang Bab XIV tentang bunga tetap atau

Bab VIII tentang hak usaha ( erfpacht) bunga abadi
Bab XV tentang persetujuan untung-
Bab IX tentang bunga tanah dan
untungan
hasil se persepuluh Bab XVI tentang pemberian kuasa
Bab XVII tentang penanggung
Bab X tentang hak pakai hasil Bab XVIII tentang perdamaian

Bab XI tentang hak pakai dan hak

mendiami

Bab XII tentang perwarisan karena

kematian

Bab XIII tentang surat wasiat

Bab XIV tentang pelaksanaan wasiat

dan pengurus harta

peninggalan

Bab XV tentang hak memikir dan hak

istimewa untuk mengadakan

9

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

4. Buku Keempat tentang perihal 1. Hukum Perorangan atau Badan
Pembuktian dan Kadaluarsa (van Pribadi (personenrecht), memuat
bewijs en varjaring), yang terdiri peraturan-peraturan hukum yang
dari 7 Bab, memuat tentang: mengatur tentang seseorang
manusia sebagai pendukung hak
Bab I tentang pembuktian pada dan kewajiban (subyek hukum),
umumnya tentang umur, kecakapan untuk
melakukan perbuatan hukum dan
Bab II tentang pembuktian dengan hal-hal yang mempengaruhi
tulisan kecakapan-kecakapan itu, tempat
tinggal (domisili) dan sebagainya.
Bab III tentang pembuktian dengan
saksi-saksi 2. Hukum Keluarga (familierecht),

Bab IV tentang persangkaan memuat peraturan-peraturan
Bab V tentang pengakuan
Bab VI tentang sumpah di hadapan hukum yang mengatur hubungan

hakim hukum yang timbul karena
Bab VII tentang kedaluwarsa pada
hubungan keluarga/kekeluargaan
umumnya
seperti perkawinan, perceraian,

Hukum Keluarga di dalam KUH hubungan orang tua dan anak,

Perdata dimasukkan dalam bagian perwalian, pengampuan dan

hukum tentang Diri Seseorang, karena hubungan dalam lapangan hukum

hubungan-hubungan keluarga kekayaan antara suami dan isteri.

memang berpengaruh besar terhadap 3. Hukum Harta Kekayaan

kecakapan seseorang untuk memiliki (vermogenrecht), memuat

hak-hak serta kecakapannya untuk peraturan-peraturan hukum yang

mempergunakan hak-haknya itu. mengatur hubungan hukum

Hukum Waris dimasukkan dalam seseorang dalam lapangan harta

bagian tentang Hukum Benda, karena kekayaan seperti perjanjian, milik,

dianggap Hukum Waris itu mengatur gadai dan sebagainya. Jika kita

cara-cara untuk memperoleh hak atas mengatakan tentang kekayaan

benda-benda, yaitu benda-benda yang seorang, yang dimaksudkan, ialah

ditinggalkan seseorang. Perihal jumlah segala hak dan kewajiban

Pembuktian dan Lewat Waktu orang itu, dinilai dengan uang. Hak-

sebenarnya adalah soal hukum acara, hak dan kewajiban-kewajiban yang

sehingga kurang tepat apabila demikian itu, biasanya dapat

dimasukkan dalam Hukum Perdata dipindahkan kepada orang lain.

Materil. Oleh karena itu, substansi KUH Hak-hak kekayaan, terbagi lagi atas

Perdata terdapat dalam 2 (dua) bagian, hak-hak yang berlaku terhadap tiap

yaitu: Buku I, II dan III berisi orang dan karenanya dinamakan

ketentuan Hukum Perdata Materiil, hak mullah dan hak-hak yang

sedangkan dalam Buku IV berisi hanya berlaku terhadap seorang

ketentuan Hukum Perdata Formil. atau suatu pihak yang tertentu dan

Sistematika Hukum Perdata karenanya dinamakan hak
menurut ilmu pengetahuan, ada 4
(empat) bagian, yaitu: perseorangan. Hak mutlak yang

memberikan kekuasaan atas suatu

10

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

benda yang dapat terlihat Hukum Benda, Bidang Hukum Jaminan,
dinamakan hak kebendaan. Bidang Hukum Badan Hukum, Bidang
Hukum Perikatan Umum, bidang
4. Hukum Waris (erfrecht), memuat Hukum Perjanjian Khusus.

peraturan-peraturan hukum yang

mengatur tentang benda atau harta Literatur:

kekayaan seseorang yang telah

meninggal dunia, dengan Abdulkadir Muhammad, 2010, Hukum
Perdata Indonsesia, Citra
perkataan lain hukum yang Aditya, Bandung.

mengatur peralihan benda dari

orang yang meninggal dunia

kepada orang yang masih hidup. Ahmad Supriyadi, 2010, Hukum
Perdata, Nora Media
Jadi, Hukum Waris mengatur Enterprise, Kudus.

akibat-akibat hubungan keluarga

terhadap harta peninggalan C.S.T. Kansil, SH., 1989, Pengantar
Ilmu Hukum dan Tata Hukum
seseorang. Indonesia, Balai Pustaka,
Jakarta.
Ditinjau dari segi
perkembangannya, Hukum Perdata Riduan Syahrani, 2004, Seluk Beluk dan
Indonesia sekarang menunjukkan Azas-azas Hukum Perdata,
tendensi perubahan. Sebagaimana Alumni, Bandung.
sistematika Hukum Perdata Belanda
yang diundangkan pada tanggal 3 Salim H.S, 2006, Pengantar Hukum
Desember 1987, Stbl. 590 dan mulai Perdata Tertulis (BW),
berlaku 1 April 1988 terdiri dari 5 (lima) Cetakan Ke-4, Penerbit Sinar
buku, yaitu : Grafika, Jakarta.

1. Buku I tentang hukum orang dan Subekti, 2003, Pokok-pokok Hukum
keluarga (personen-familie-recht) Perdata, Intermasa, Jakarta.

3. Buku II tentang hukum badan Subekti dan R. Tjitrosudibio, 2001,
hukum (rechtspersoon) Kitab Undang-undang Hukum
Perdata, Pradnya Paramita,
4. Buku III tentang hukum hak Jakarta.
kebendaan (van zaken)
Titik Triwulan Tutik, 2006, Pengantar
5. Buku IV tentang hukum perikatan Hukum Perdata di Indonesia,
(van verbentennissen) Prestasi Pustaka Publisher,
Jakarta.
6. Buku V tentang daluarsa (van
verjaring) Vollmar, 1996, Pengantar Hukum
Perdata I, Rajawali Press,
Ditinjau dari segi pembidangan Jakarta.
isinya, Hukum Perdata Indonesia dalam
perkembangannya terbagi menjadi Soal Latihan:
bagian-bagian antara lain: Bidang
Hukum Keluarga (perkawinan, 1. Jelaskan istilah dan pengertian
perceraian, harta bersama, kekuasaan hukum perdata?
orang tua, kedudukan, pengampuan
dan perwalian), Bidang Hukum Waris,

11

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

2. Jelaskan subjek dan objek hukum
perdata?

3. Jelaskan sumber-sumber hukum
perdata?

4. Jelaskan sistimatika hukum perdata?

5. Jelaskan hukum perdata menurut
ilmu pengetahuan?

6. Jelaskan sistematika menurut
KUHPerdata?

12

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

BAB II

SEJARAH HUKUM PERDATA

Tujuan Instruksional Khusus (pays de droit ecrit). Di Bagian Utara
berlaku hukum kebiasaan Perancis
Mahasiswa akan dapat menjelaskan Kuno yang berasal dari Hukum
tentang Sejarah Hukum Perdata di Germania sebelum resepsi Hukum
Belanda dan di Indonesia Romawi, sedangkan di Bagian Selatan
berlaku Hukum Romawi yang tertuang
Sub Pokok Bahasan dalam Corpus Iuris Civilis pada
pertengahan abad ke VI Masehi dari
1. Sejarah Hukum Perdata di Belanda Justianus. Corpus Iuris Civilis pada
2. Sejarah Hukum Perdata di zaman itu dianggap sebagai hukum
yang paling sempurna, terdiri dari 4
Indonesia (empat) bagian, yaitu: (1) Codex
Justiniani, (2) Pandecta, (3)
Uraian: Institutiones dan (4) Novelles Codex.

A. Sejarah Hukum Perdata di Justianni adalah kumpulan
Belanda
undang-undang (leges lex) yang telah
Sejarah Hukum Perdata di
Belanda tidak bisa dipisahkan dari dibukukan oleh para ahli hukum atas
Hukum Perdata Prancis, yaitu Code
Civil Prancis. Perjalanan sejarah dari perintah Kaisar Romawi yang dianggap
terbentuknya Code Civil Prancis,
berawal dari 50 tahun sebelum Masehi, sebagai himpunan segala macam
yakni saat Julius Caesar berkuasa di
Eropa Barat, Hukum Romawi telah undang-undang. Pandecta adalah
berlaku di Perancis yang berdampingan
dengan Hukum Perancis Kuno yang memuat kumpulan pendapat para ahli
berasal dari Hukum Germania yang
saling mempengaruhi. Kemudian Hukum Romawi yang termashur
wilayah negeri Perancis terbelah
menjadi 2 (dua) daerah hukum yang misalnya Gaius, Papinianus, Palus,
berbeda. Bagian Utara adalah daerah
hukum yang tidak tertulis (pays de droit Ulpianus, Modestinus dan
coutumier), sedangkan Bagian Selatan
merupakan daerah hukum yang tertulis sebagainya. Institutiones adalah

memuat tentang pengertian lembaga-

lembaga hukum Romawi dan Novelles

adalah kumpulan undang-undang yang

dikeluarkan sesudah Codex selesai.

Hanya mengenai perkawinan di seluruh

Negeri Perancis berlaku Codex Iuris

Canonici (hukum yang ditetapkan oleh

Gereja Katolik Roma). Berabad-abad

13

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia perubahan sedikit, pada tahun 1807
diundangkan dengan nama Code
lamanya keadaan ini berlangsung terus Napoleon, tapi kemudian disebut
dengan tidak ada kesatuan hukum. dengan Code Civil Perancis. Sejak
tahun 1811 sampai tahun 1838 Code
Pada bagian kedua abad XVII Civil Perancis ini setelah disesuaikan
di Negeri Perancis telah timbul aliran- dengan keadaan di negeri Belanda
aliran yang ingin menciptakan berlaku sebagai kitab undang-undang
kodifikasi hukum yang akan berlaku di
negeri itu agar diperoleh kesatuan yang resmi di Negeri Belanda, karena
Hukum Perancis. Pada akhir abad Negeri Belanda berada di bawah
XVII, oleh Raja Perancis dibuat jajahan Perancis. Di negeri Belanda
beberapa peraturan perundang-
undangan (seperti, ordonnance Sur les setelah berakhir pendudukan Perancis
Donations yang mengatur mengenai tahun 1813, maka berdasarkan
soal-soal pemberian, ordonnance Sur Undang-Undang Dasar (Grond Wet)
les Tertament yang mengatur Negeri Belanda tahun 1814 (Pasal 100)
mengenai soal-soal testamen, dibentuk suatu panitia yang bertugas
ordonannce Sur les Substitutions
fideicommissaires yang mengatur membuat rencana kodifikasi Hukum
mengenai soal-soal substitusi. Perdata, diketuai Mr. J.M. Kemper.
Kodifikasi Hukum Perdata di Perancis
baru berhasil diciptakan sesudah Pada tahun 1816 oleh Kemper
Revolusi Perancis (1789-1795), di
mana pada tanggal 12 Agustus 1800 menyampaikan kepada Raja suatu
oleh Napoleon dibentuk suatu panitia
yang diserahi tugas membuat rancangan kodifikasi Hukum Perdata,
kodifikasi, yang menjadi sumbernya
adalah: tapi rancangan ini tidak diterima oleh

1. Hukum Romawi yang digali dari para ahli hukum bangsa Belgia (pada
hasil karya-karya para sarjana
bangsa Perancis yang kenamaan waktu itu negeri Belanda dan negeri
(Dumolin, Domat dan Pothier);
Belgia merupakan suatu negera)
3. Hukum Kebiasaan Perancis, lebih-
lebih hukum kebiasaan dari Paris; karena rencana tersebut disusun

4. Ordonansi-Ordonansi; Kemper berdasarkan Hukum Belanda
5. Hukum Intermediare, yakni hukum
Kuno. Para ahli Hukum Bangsa Belgia
yang ditetapkan di Perancis sejak
permulaan Revolusi Perancis menghendaki agar rancangan itu
hingga Code Civil terbentuk.
disusun menurut Code Civil
Kodifikasi Hukum Perdata
Perancis, sebagaimana dimaksudkan Perancis. Setelah mendapat sedikit
selesai dibentuk tahun 1804 dengan
nama Code Civil des Francais. Code perubahan, maka rancangan itu
Civil ini mulai berlaku sejak tanggal 21
Maret 1804. Setelah diadakan disampaikan kepada Perwakilan Rakyat

14 Belanda (Tweede Kamer)

pada tanggal 22 November

1820. Rencana ini terkenal dengan

nama Ontwerp Kemper (Rencana

Kemper). Dalam perdebatan di

Perwakilan Rakyat Belanda, rencana

Kemper ini mendapat tantangan yang

hebat dari anggota-anggota bangsa

Belgia (wakil-wakil Nederland Selatan)

yang dipimpin oleh Ketua Pengadilan

Tinggi di Kota Luik (Belgia) yang Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia
bernama Nicolai.
memberlakukan peraturan itu
Dalam tahun 1822 rencana sekiranya dipandang perlu. Komisi itu
terdiri dari Mr.C.J Scholten, Mr. I
Kemper itu ditolak oleh Perwakilan Scheiner dan Mr. I.F.H van Nos. Setelah
6 (enam) tahun bekerja komisi tersebut
Rakyat Belanda. Setelah Kemper dibubarkan (dengan titah Raja tanggal
15 Desember 1845 No. 68) berhubung
meninggal dunia tahun 1824, dengan permintaan berhentinya Mr.
Scholten van Out Haaslem oleh karena
pembuatan kodifikasi dipimpin oleh selalu terganggu kesehatannya.
Kemudian dengan titah Raja tanggal 15
Nicolai dengan suatu metode kerja Desember 1845, Jhr. Mr. H.I Wichers
diutus ke Hindia Belanda untuk
yang baru, yaitu dengan menyusun memangku jabatan Ketua Mahkamah
Agung dan Mahkamah Agung Tentara,
daftar pertanyaan tentang hukum yang sebelum berangkat dia diwajibkan
bersama-sama Mr. Scholten van Out
berlaku yang akan dinilai Haarlem untuk menyiapkan rencana
peralatan hukum buat Hindia Belanda
parlemen. Setelah diketahui kehendak yang masih belum selesai dikerjakan.
Rencana peraturan yang telah
mayoritas, panitia lalu menyusun dihasilkan adalah:

rencana-rencana dan mengajukannya 1. Algemene Bepalingen van
Wetgeving voor Nederlandsch Indie
ke parlemen (Perwakilan Rakyat) untuk (Ketentuan umum perundang-
undangan di Indonesia);
diputuskan. Demikianlah cara kerja
2. Burgelijk Wetboek (KUH Perdata);
yang dilakukaan semenjak tahun 1822 3. Wetboek van Koophandel ( KUH

sampai 1826 bagian demi bagian KUH Dagang);
4. Reglement op de Rechterlijke
Perdata Belanda diselesaikan dan
Organisatie en het Beleid der
setiap bagian dimuat tersendiri dalam Justitie (Peraturan susunan
pengadilan dan pengurusan justisi);
Staatsblad, tetapi tanggal mulai 5. Enige Bepalingen betreffende
Misdrijven begaan tergelegenheid
berlakunya tentu saja ditangguhkan van Faillissement en bij Kennelijk
Overmogen, mitsgader bij
sampai seluruhnya selesai. Pada tahun Surseance van Betaling (Beberapa
ketentuan mengenai kejahatan
1829 pekerjaan itu selesai dan diakhiri yang dilakukan dalam keadaan
pailit dan dalam keadaan nyata
dengan baik. Undang-undang yang tidak mampu membayar).

tadinya terpisah dihimpun dalam satu Sebagai hasil kerja Mr. Wicher
dan Mr. Scholten van Out Haarlem
kitab undang-undang yang diberi
15
nomor urut dan diterbitkan serta

ditetapkan berlakunya tanggal 1

Februari 1931. Pada waktu yang sama

dinyatakan pula berlaku Wetboek van

Koophandel (WvK) dan Burgelijke

Rechtsvordering (BRv), sedangkan

Wetboek van Strafrecht (WvS)

menyusul kemudian.

Berdasarkan azas konkordansi
maka peraturan perundang-undangan
yang berlaku di Negeri Belanda
diberlakukan juga buat orang-orang
golongan Eropah di Hindia Belanda.
Dalam hal ini titah Raja Belanda tanggal
15 Agustus 1839 No. 102 dibentuk
suatu komisi dengan tugas membuat
rencana peraturan-peraturan untuk

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

maka dikeluarkan titah Raja tanggal 16 1847 Nomor 60 diberikan kuasa kepada

Mei 1846 No. 1 dan beberapa hari Gubernur Hindia Belanda untuk

kemudian berangkat Mr. Wicher ke mengundurkan penetapan saat

Hindia Belanda membawa kitab-kitab berlakunya peraturan-peraturan

hukum yang telah selesai hukum tersebut. Persiapan

dikerjakannya serta telah ditandat memberlakukan peraturan-peraturan

angani oleh Raja untuk diberlakukan di hukum tersebut dikerjakan oleh Mr.

Hindia Belanda. Titah Raja Belanda Wichers yang di Hindia Belanda

tanggal 16 Mei 1846 No. 1 itu menjabat sebagai anggota Raad van

semuanya terdiri dari 9 pasal dan isinya State Belanda yang diperbantukan

diumumkan seluruhnya di Hindia pada Gubernur Jenderal. Tugas

Belanda dengan Stbl. 1847 No. 23. Gubernur Jenderal adalah

Dalam Pasal 1 antara lain dinyatakan memberlakukan peraturan-peraturan

bahwa peraturan-peraturan hukum hukum tersebut (Pasal 2 Titah Raja

yang dibuat untuk Hindia Belanda, tanggal 16 Mei 1846 No. 1). Dalam

adalah: (1) Ketentuan umum hubungan ini Mr. Wichers telah

perundang-undangan di Indonesia, (2) membuat beberapa rancangan

Kitab undang-undang hukum perdata, peraturan antara lain “Reglement op de

(3) Kitab undang-undang hukum Uitoefening van de Politie, de

dagang. (4) Peraturan susunan Burgerlijke Rechtspleging en de

pengadilan dan pengurusan justisi, dan Strafvordering onder de Indonesiers

(5) Beberapa ketentuan mengenai (golongan hukum Indonesia asli) en de

kejahatan yang dilakukan dalam Vreemde Oosterlingen (golongan

keadaan pailit dan dalam keadaan hukum Timur Asing) op Java en

nyata tidak mampu Madoera” (Stbl. 1848 No. 16 jo 57)

membayar. Kemudian dalam Pasal 2 yang sekarang sebagai Reglemen

titah Raja ditentukan, bahwa Gubernur Indonesia Baru (RIB). Akhirnya dengan

Jenderal Hindia Belanda akan suatu peraturan penjalan

mengatur tindakan-tindakan yang (invoeringsverordening) yang bernama

diperlukan untuk mengumumkan “Bepalingen omtrent de Invoering van

peraturan-peraturan tersebut dalam en de Overgang tot de Niewe

bentuk yang lazim digunakan di Hindia Wetgeving (Stbl. 1848 No. 10) yang

Belanda, sebelum atau pada tanggal 18 disingkat dengan “Overgangs-

Mei 1847 serta untuk bepalingen” (peraturan peralihan) yang

memberlakukannya sebelum atau pada juga disusun oleh Mr. Wichers, maka

tanggal 1 Januari 1848. kodifikasi Hukum Perdata (Burgerlijk

Wetboek) menjadi berlaku di Hindia

Dalam sejarah tercatat, Belanda tanggal 1 Mei Tahun 1848.
perjalanan kapal yang membawa kitab-
kitab hukum itu ternyata terlambat tiba Pasal 1 Peraturan Peralihan
di Indonesia, sehingga menimbulkan
terhambatnya segala persiapan untuk menyatakan bahwa, “pada waktu
memberlakukan perundang-undangan
yang baru itu. Maka oleh karena itu kodifikasi hukum tersebut mulai
dengan Titah Raja tanggal 10 Pebruari
berlaku, maka hukum Belanda Kuno,

Hukum Romawi dan semua statuta

aturan yang baru itu” dan dalam Pasal

16

2 nya, hal tersebut tidak mengenai Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia
Hukum Pidana.
Perdata Indonesia ini, Scholten dan
Berdasarkan fakta-fakta sejarah kawan-kawannya berkonsultasi dengan
tentang terbentuknya Code Civil J. Van de Vinne, Directueur Lands
Perancis, KUH Perdata Belanda dan Middelen en Nomein. Oleh karenanya,
yang sekarang masih berlaku di ia juga turut berjasa dalam kodifikasi
Indonesia adalah KUH Perdata yang tersebut.
telah menyerap atau mengambil alih
secara tidak langsung asas-asas dan Di samping itu, sejarah
kaidah-kaidah hukum yang berasal dari mengenai perkembangan Hukum
Hukum Romawi, Hukum Perancis Kuno, Perdata yang berkembang di Indonesia
Hukum Belanda Kuno dan sudah tentu bahwa Hukum Perdata tertulis yang
pula hukum yang tumbuh dan berlaku di Indonesia merupakan
berkembang dalam masyarakat di produk Hukum Perdata Belanda yang
mana dan pada masa kodifikasi diberlakukan asas korkondansi, yaitu
tersebut diciptakan pada waktu ratusan hukum yang berlaku di negeri jajahan
tahun yang silam. (Belanda) yang sama dengan
ketentuan yang berlaku di negeri
B. Sejarah Hukum Perdata di penjajah.
Indonesia
Secara makro subtansial,
Pada tanggal 31 Oktober 1837, perubahan-perubahan yang terjadi
Scholten van Oud Haarlem diangkat pada Hukum Perdata Indonesia, yaitu:
menjadi ketua panitia kodifikasi dengan
Mr. A.A. Van Vloten dan Mr. Meyer 1. Pada mulanya Hukum Perdata
masing-masing sebagai anggota, tapi Indonesia merupakan ketentuan-
panitia ini belum berhasil membuat ketentuan pemerintahan Hindia
kodifikasi. Akhirnya dibentuk panitia Belanda yang di berlakukan di
baru yang diketuai Mr. C.J. Scholten Indonesia (Algemene Bepalingen
van Oud Haarlem lagi, tetapi van Wetgeving/AB), sesuai dengan
anggotanya diganti, yaitu Mr. J. Stbl. No.23 tanggal 30 April 1847
Schneither dan Mr. J. Van Nes.Ppanitia yang terdiri dari 36 pasal.
inilah yang berhasil mengkodifikasi
KUH Perdata Indonesia berdasarkan 2. Dengan konkordansi pada tahun
asas konkordasi yang sempit. Artinya 1848 diundangkan KUH Perdata oleh
KUH Perdata Belanda banyak menjiwai pemerintah Belanda. Di samping
KUH Perdata Indonesia karena KUH KUH Perdata berlaku juga KUH
Perdata Belanda dicontoh dalam Dagang yang diatur dalam Stbl.1847
kodifikasi KUH Perdata Indonesia. No.23.

Kodifikasi KUH Perdata Dalam Perspektif sejarah,
Indonesia diumumkan pada 30 April Hukum Perdata yang berlaku di
1847 melalui Statsblad No. 23 dan Indonesia terbagi dalam 2 (dua)
mulai berlaku pada 1 Januari 1848. periode, yaitu periode sebelum
Dalam menghasilkan kodifikasi KUH Indonesia merdeka dan periode setelah
Indonesia Merdeka.

1. Sebelum Indonesia merdeka

17

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

Sebagaimana negara jajahan, mengenai B.W. tersebut ada sedikit
maka hukum yang berlaku di Indonesia
adalah hukum bangsa penjajah, penyimpangan, yaitu Bagian 2 dan
termasuk Hukum Perdata Indonesia.
Hukum Perdata yang diberlakukan 3 dari Titel IV Buku I (mengenai
bangsa Belanda untuk Indonesia
mengalami adopsi dan penjalanan upacara yang mendahului
sejarah yang sangat panjang. Pada
masyarakat Indonesia mengenal pernikahan dan mengenai pena-
Hukum Adat atau Hukum Agama,
kemudian di Indonesia berdasarkan hanan pernikahan) tidak berlaku
azas korkondansi maka dikehendaki
perundang-undangan di Negara bagi mereka, sedangkan untuk
Belanda berlaku untuk orang-orang
Eropa di Hindia Belanda (Indonesia). mereka ada pula Burgerlijke Stand

tersendiri. Selanjutnya ada pula

suatu peraturan perihal

pengangkatan anak (adopsi),

karena hal ini tidak terkenal di

dalam B.W.

Golongan warga negara bukan

asli berasal Tionghoa atau Eropah

Keanekaragaman hukum yang (yaitu Arab, India dan lain-lain)

berlaku di Indonesia bersumber pada berlaku sebagian dari KUH Perdata,
ketentuan dalam Pasal 165 Indeche
Staatregeling (IS), yang membagi yaitu pada pokoknya hanya bagian-
penduduk Hindia Belanda atas 3 (tiga)
golongan, yaitu: bagian yang mengenai hukum

kekayaan/harta benda

(vermogensrecht), jadi tidak yang

mengenai hukum kepribadian dan

1. Golongan Eropa, semua orang kekeluargaan (personen en

Belanda, semua orang Jepang, familierecht) maupun mengenai

semua orang lain yang di Hukum Warisan. Mengenai bagian-

negaranya tunduk pada hukum bagian hukum tersebut, berlaku

yang sama dengan hukum Belanda, hukum mereka sendiri dari negeri asal.

anak sah dan diakui menurut

undang-undang yang lahir dari Berdasarkan pedoman-

Hindia Belanda, yaitu berlaku KUH pedoman yang disebutkan di atas, di

Perdata. zaman Hindia Belanda telah ada

2. Golongan Bumiputra berlaku beberapa Peraturan Eropah yang telah

Hukum Adat, yaitu hukum yang dinyatakan berlaku untuk Bangsa

sejak dahulu sudah berlaku di Indonesia asli, seperti Pasal 1601-

kalangan rakyat yang sebagian 1603 lama dari KUH Perdata, yaitu

besar belum tertulis. perihal perjanjian (Stbl. 1879 No.

3. Golongan Timur Asing yang berasal 256), Pasal 1788-1791 KUH Perdata

Tionghoa, Arab, India dan lainnya perihal hutang-hutang dari perjudian

yang tidak termasuk golongan (Stbl. 1907 No. 306) dan beberapa

Eropa dan Bumiputra berlaku KUH pasal dari KUH Dagang, yaitu sebagian

Perdata dan Kitab Undang-Undang besar dari Hukum Laut (Stbl. 1933 No.

Hukum Dagang (KUH 49).

Dagang)/Wetboek van

Koophandel), dengan pengertian, Selanjutnya, ada beberapa
peraturan yang secara khusus dibuat
bahwa bagi Golongan Tionghoa

18

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

untuk Bangsa Indonesia, seperti baru berdasarkan UUD 1945. KUH
Ordonansi Perkawinan Bangsa Perdata Indonesia sebagai induk
Indonesia Kristen (Stbl. 1933 No. 74), Hukum Perdata Indonesia. Belum
Ordonansi tentang Maskapai Andil adanya aturan hukum yang baru maka
Indonesia atau I.M.A. (Stbl. 1939 No. untuk menghindari kekosongan hukum
569 berhubung dengan No. 717) dan berdasarkan Aturan Peralihan maka
Ordonansi tentang Perkumpulan masih diberlakukan Hukum Perdata
Bangsa Indonesia (Staatsblad 1939 tersebut di Indonesia. Secara yuridis
No. 570 berhubung dengan No. 717). formil, kedudukan KUH Perdata masih
tetap sebagai undang-undang sebab
Ada pula peraturan-peraturan tidak pernah dicabut dari
yang berlaku bagi semua golongan kedudukannya sebagai undang-
warga negara, misalnya, Undang- undang. Namun sekarang KUH Perdata
Undang Hak Pengarang (Autheurswet bukan lagi sebagai KUH Perdata yang
tahun 1912), Peraturan Umum tentang bulat dan utuh, karena beberapa
Koperasi (Stbl. 1933 No. 108), bagian dari KUH Perdata sudah tidak
Ordonansi Woeker (Stbl. 1938 No. 523) berlaku lagi karena sudah ada unifikasi
dan Ordonansi tentang Pengangkutan hukum, seperti berkaitan dengan
di Udara (Stbl. 1938 No. 98). Hukum Agraria yang sudah mempunyai
Undang-undang Pokok Agraria.
Pembedaan sebagaimana

dimaksudkan, dapat diartikan erat Soepomo pernah mengemuka-

hubungannya dengan sejarah dan sisa- kan dan mengingatkan dalam pidato

sisa politik masa lampau dari Dies Natalis Universitas Gajah Mada

Penjajahan Kolonial Belanda, yang Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus

sampai saat ini masih tetap berlaku 1947, “bahwa hukum dalam

sebagai hukum positif berdasarkan masyarakat itu dipengaruhi oleh

Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945. perkembangan masyarakat itu sendiri,

Sementara itu dalam penamaan maka Hukum Perdata Nasional

istilahnya, konsorsium ilmu hukum, nantinya harus pula dapat

mempergunakan istilah Hukum Perdata menyesuaikan dirinya dengan cita-cita

ditujukan untuk KUH Perdata dan nasional menurut aspirasi Bangsa

Hukum Adat untuk Hukum Perdata Indonesia”. Dalam menanggapi

Adat. Kenyataan ini dapat diartikan, perkembangan Hukum Perdata dewasa

bahwa dibidang Hukum Perdata terjadi ini perlu diarahkan kepada arus

dualisme, di mana untuk golongan pembawaan jiwa dan kebudayaan

Erofah diberlakukan KUH Perdata, nasional menuju kepada penemuan

sebaliknya untuk golongan Bumi Putera Hukum Perdata Nasional yang dapat

diberlakukan Hukum Adat mereka. memenuhi kebutuhan-kebutuhan

2. Setelah Indonesia merdeka, tindak-tindak perdata, baik yang

bersifat dan beraliran barat maupun

Berdasarkan Pasal 2 Aturan Peralihan yang bersendi kepada norma-norma
UUD 1945, KUH Perdata Hindia Belanda
tetap dinyatakan berlaku sebelum kebudayaan timur”
digantikan dengan undang-undang
Beranjak dari pendapat ahli
hukum tersebut, hal ini dapat diartikan

19

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

bahwa “adanya harapan agar para undang, melainkan sebagai dokumen
saja yang hanya menggambarkan
penerus bangsa ini untuk lebih suatu kelompok hukum yang tidak
tertulis”. Selanjutnya gagasan
memperhatikan kehidupan bangsanya Sahardjo, dikemukakan lagi dalam
Kongres Majelis Ilmu Pengetahuan
disamping tetap memperhatikan Indonesia (MIPI) di Yogyakarta Tahun
1962 melalui prasaran Mr. Wirjono
pergaulan dengan bangsa lainnya. Prodjodikoro dengan judul “Keadaan
Transisi dari Hukum Perdata Barat”, di
Dikatakan demikian, karena berbagai mana isi prasaran tersebut
mengemukakan hal-hal sebagai
produk peraturan-peraturan berikut:

peninggalan penjajahan Belanda,

seperti KUH Perdata, KUH

Dagang, dapat dikatakan

telah tidak sesuai lagi dengan

perkembangan keadaan, walaupun

sebenarnya telah ada berbagai produk

peraturan perundang-undangan yang

dikeluarkan oleh negara, seperti 1. Peraturan dari zaman Belanda yang

Undang-undang Pokok Agraria No. 5 sekarang masih berlaku dan belum

Tahun 1960, Undang-undang Pokok dicabut, sudah tidak sesuai lagi

Perkawinan No. 1 Tahun 1974, dengan kepentingan masyarakat

Undang-undang Perseroan Terbatas Indonesia saat ini;

No. 1 Tahun 1995, Undang-udang Hak 2. Mempertanyakan; “apakah KUH

Tanggungan Atas Tanah dan benda- Perdata harus menunggu dicabut

benda yang ada di atas Tanah No. 4 dulu, untuk memberhentikan

Tahun 1996, Undang-undang Jaminan berlakunya sebagai Undang-

Fiducia No. 42 Tahun 1999, Undang- undang di Indonesia”;

undang Yayasan No. 16 Tahun 2001, 3. Gagasan Sahardjo, untuk

Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) menganggap KUH Perdata tidak

No. 3 Tahun 1963 dan lain-lain. lagi sebagai undang-undang tetapi

hanya sebagai dokumen yang berisi

Adanya ketentuan-ketentuan di hukum tidak tertulis saja, adalah

atas dan peraturan lainnya sangat sangat menarik. Artinya dengan

berpengaruh terhadap keutuhan menganggapnya sebagai dokumen,

ketentuan peninggalan penjajahan dan para hakim akan lebih leluasa untuk

oleh karenanya keadaan itu janganlah mengenyampingkan pasal-pasal

membuat bangsa ini terbuai dengan KUH Perdata yang tidak sesuai lagi

adanya Aturan Peralihan Pasal II UUD dengan kepentingan nasional;

1945 yang dibuat tanpa batas yang 4. Karena KUH Perdata hanya tinggal

jelas dan tegas tentang saat kapan sebagai pedoman saja, maka demi

berakhirnya. Mencermati keadaan kepentingan hukum dia perlu

tersebut, Sahardjo sewaktu menjadi secara tegas dicabut.

Menteri Kehakiman RI pada Tahun Pencabutannya tidak perlu dengan

1962 memunculkan suatu gagasan suatu undang-undang, tetapi cukup

yang diajukan dalam rapat Badan dengan suatu pernyataan saja dari

Perancang Hukum Nasional pemerintah atau Mahkamah Agung.

(BPHN) menyarankan bahwa “khusus

KUH Perdata tidak lagi sebagai undang- Kelanjutan gagasan Sahardjo,
dibawa pada Kongres MIPI mendapat

20

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

tanggapan positif dari Mr. Wirjono tertulis. Tegasnya, tidak setuju,

Prodjodikoro yang waktu itu sebagai untuk menjadikan aturan-aturan

Ketua Mahkamah Agung RI yang KUH Perdata yang masih bisa

mengeluarkan Surat Edaran No. 3 berlaku menjadi hukum kebiasaan

Tahun 1963 yang berisi gagasan; (Hukum Adat), sebab:

“untuk menganggap KUH Perdata tidak a. Kelompok-kelompok hukum,

lagi sebagai undang-undang, yang sekarang di atur dalam

konsekuensi gagasan ini adalah KUH Perdata, akan menjelma

dengan mencabut berlakunya nanti di dalam hukum nasional

sebanyak 8 (delapan) pasal dari KUH kita juga dalam bentuk tertulis.

Perdata tersebut”. Dasar Setapak kearah itu telah kita

pertimbangan keluarnya SEMA berawal lakukan yaitu sebahagian dari

dari prasaran dalam Kongres MIPI Buku II telah diatur secara lain

tahun 1962, hadirin yang umumnya di dalam Undang-undang Pokok

menyetujuinya dan demikian juga Agraria. Hukum Perjanjian

halnya yang tidak ikut kongres juga (Buku III) sedang dalam

menerimanya. Tetapi kemudian dalam perencanaan Hukum Acara

kenyataannya harus diakui banyak juga Perdata, yang melingkupi

dari mereka yang tidak hadir yang sebahagian dari Buku IV sedang

menentang gagasan Sahardjo dan dirancangkan. Jadi, tidak logis

keluarnya SEMA No. 3 Tahun 1963 kalau yang tertulis sekarang itu

tersebut, diantaranya adalah Mahadi dijadikan tidak tertulis, untuk

dan Subekti sebagai pengganti Mr. kemudian dijadikan tertulis

Wirjono Prodjodikoro sebagai Ketua kembali (meskipun dengan

Mahkamah Agung pada waktu itu. perubahan-perubahan).

b. Dengan berlakunya aturan-

Menanggapi persoalan yang aturan KUH Perdata sebagai

dikemukakan Menteri Kehakiman hukum adat, tidak hilang segi

Sahardjo tersebut, Mahadi diskriminatifnya. Mungkin

berpendapat sebagai berikut: hilang segi intergentilnya, tapi

1. KUH Perdata sebagai kodifikasi masih tetap ada segi

sudah tidak berlaku lagi. “interlokalnya”.

2. Yang masih berlaku ialah aturan- c. Dengan memperlakukan KUH

aturannya, yang tidak Perdata sebagai hukum adat,

bertentangan dengan semangat tidak ada lagi alasan untuk

serta suasana kemerdekaan. mempertahankan peraturan-

3. Diserahkan kepada yurisprudensi peraturan tentang Burgerlijke

dan doktrina untuk menetapkan Stand sebagai aturan-aturan

aturan mana yang masih berlaku tertulis.

dan aturan mana yang tidak bisa d. Kedudukan KUH Perdata

dipakai lagi. rasanya harus kita tilik

4. Tidak setuju diambil suatu tindakan bergandengan dengan

legislatif untuk menyatakan bahwa kedudukan KUH Dagang.

aturan-aturan KUH Perdata dicabut e. Menjadikan aturan-aturan KUH

sebagai aturan-aturan Perdata sebagai hukum adat

21

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

mempunyai akibat psikologis kalangan ahli hukum, praktisi hukum
terhadap alam pemikiran hakim dan para pihak yang mempunyai
madya. kewenangan dalam pengambilan
keputusan, untuk terus menggali dan
Ketidaksetujuan Subekti mencermati berlakunya ketentuan
peraturan Perundang-undangan yang
dikemukakannya di depan Seminar sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa,
dan tidak terpaku dengan Aturan
Hukum Nasional II di Semarang pada Peralihan Pasal II UUD 1945 yang tidak
membuat batasan yang jelas dan tegas
Tahun 1968 dan pada saat ceramah tentang limit waktu berakhirnya
ketentuan peninggalan penjajahan
dihadapan dosen Hukum Dagang saat tersebut.

mengikuti “Post Graduate Course” di

Fakultas Hukum Universitas Gajah

Mada Yogyakarta Tahun 1975.

Menurut Subekti, bahwa “baik

gagasan seorang Menteri Kehakiman Ketentuan-ketentuan pening-

maupun SEMA, bukanlah merupakan galan penjajahan sudah berusia cukup

sesuatu sumber hukum formal, itu lama, di mana di negeri Belanda sendiri

hanya dapat dianggap sebagai suatu sebenarnya sudah sejak lama tidak

anjuran pada para hakim untuk jangan diberlakukan lagi. Sewajarnya bangsa

takut-takut menyingkirkan pasal-pasal Indonesia memikirkan tentang

dari KUH Perdata yang dirasakan sudah bagaimana ketentuan-ketentuan yang

tidak sesuai lagi dan membuat berkaitan peraturan-peraturan

yurisprudensi, sebab hanya peninggalan penjajahan tersebut

yurisprudensilah yang dapat diganti dan atau dinyatakan tidak

menyingkirkan pasal-pasal dari KUH berlaku lagi dengan jalan terus

Perdata itu, seperti Pasal 108 KUH berupaya membuat dan

Perdata, Arrest 31 Januari 1919 yang memberlakukan ketentuan baru yang

memperluas pengertian Pasal 1365 sesuai dengan keadaan bangsa dan

KUH Perdata, Arrest Bierbrouwerij kemajuan zaman, karena ketentuan-

Oktober 1925 yang menyingkirkan ketentuan yang bersifat keperdataan

Pasal 1152 KUH Perdata yang dalam perkembangannya dan

mengharuskan penyerahan barang penerapannya dapat saja dipengaruhi

yang digadaikan, tetap dalam oleh berbagai aspek hukum lainnya,

kekuasaan orang yang menggadaikan”. seperti aspek hukum pidana,

Melihat uraian di atas, dapat administrasi maupun ketentuan hukum
dikatakan bahwa keberadaan KUH
Perdata sebagai ketentuan undang- internasional sebagai akibat pengaruh
undang hingga saat ini masih terus
diperdebatkan, artinya usulan-usulan global dan hubungan antar warga yang
yang menganggap dia hanya sebagai
dokumen hukum saja tetap menjadi berlainan kewarganegaraannya.
perdebatan di antara kalangan ahli
hukum, tetapi setidak-tidaknya ide itu
perlu terus dipikirkan dan
dipertimbangkan, terutama baik

22

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

Literatur:

Abdulkadir Muhammad, 2000, Hukum
Perdata Indonsesia, Citra
Aditya Bakti, Bandung.

Ahmad Supriyadi, 2010, Hukum
Perdata, Nora Media Enterprise,
Kudus.

Riduan Syahrani, 2004, Seluk Beluk dan
Azas-azas Hukum Perdata,
Alumni, Bandung.

Subekti, 2003, Pokok-pokok Hukum
Perdata, Intermasa, Jakarta.

Vollmar, 1996, Pengantar Hukum
Perdata 1, Rajawali Press,
Jakarta.

Soal Latihan:

1. Jelaskan tentang proses kodifikasi
Hukum Perdata Belanda?

2. Apa yang dimaksud dengan azas
korkondansi?

3. Jelaskan tentang proses kodifikasi
Hukum Perdata Indonesia?

4. Apa yang dimaksud dengan
pluralisme hukum dan unifikasi
hukum?

5. Jelaskan penyebab terjadi
pluralisme dalam Hukum Perdata di
Indonesia?

6. Bagaimanakah kedudukan KUH
Perdata setelah Indonesia
merdeka.

23

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

BAB III

PERIHAL MENGENAI ORANG DALAM
HUKUM PERDATA

Tujuan Instruksional Khusus Dalam pengertian ini subyek
hukum memiliki wewenang yang dibagi
Mahasiswa diharapkan dapat menjadi 2 (dua), yaitu:

menjelaskan perihal mengenai orang 1. Wewenang untuk mempunyai hak

dalam Hukum Perdata: Pengertian (rechts bevoegdheid)

Subjek Hukum, Kewenangan Berhak 2. Wewenang untuk

serta Kewenangan Bertindak melakukan/menjalankan perbuatan

Sub Pokok Bahasan hukum dan faktor-faktor yang

mempengaruhinya.

A. Pengertian Subjek Hukum Subjek hukum terdiri dari orang
B. Kewenangan Berhak
C. Kewenangan Bertindak (natuurlijk persoon) dan badan hukum

(rehts persoon). Orang dalam arti

hukum terdiri dari manusia pribadi

Uraian: dan badan hukum. Manusia pribadi

A. Pengertian Subjek Hukum adalah subjek hukum dalam arti

Istilah subyek hukum berasal biologis, sebagai gejala alam, sebagai
dari terjemahan recht subject
(Belanda) atau law of subject (Inggris). mahluk budaya yang berakal dan
Pada umumnya subjek hukum diartikan
sebagai pendukung hak dan kewajiban. lainnya termasuk mempunyai
Pengertian subyek hukum, menurut
Algra adalah setiap orang yang keinginan (kawin) sebagai manusia
mempunyai hak dan kewajiban, jadi
mempunyai wewenang hukum (recht pribadi mahluk ciptaan Tuhan.
bevoegheid) dan kewajiban hukum.
Pengertian wewenang hukum (recht Ada dua pengertian manusia,
bevoegheid) adalah kewenangan untuk yaitu biologis dan yuridis. Di dalam
mempunyai hak dan kewajiban untuk Kamus Besar Bahasa Indonesia
menjadi subjek dari hak-hak. disebutkan bahwa manusia adalah
makhluk yg berakal budi (mampu
menguasai makhluk lain), sedangkan
Chidir Ali mengartikan manusia adalah
makhluk yang berwujud dan berohani,
yang berasa, yang berbuat dan menilai,
berpengatahuan dan berwatak.
Pengertian ini difokuskan pada
pengertian manusia secara biologis di
mana manusia mempunyai akal yang

24

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

membuatnya berbeda dengan makhluk negara adalah sama kedudukannya
lain. Namun secara yuridis, para ahli di dalam hukum.
berpendapat bahwa manusia sama
dengan orang (persoon) dalam hukum. Badan hukum (recht persoon)
Ada 2 (dua) alasan manusia disebut
dengan orang (persoon), yaitu: adalah subjek hukum ciptaan
manusia mempunyai hak-hak subyektif
dan kewenangan hukum. Dalam hal ini manusia pribadi berdasarkan
kewenangan hukum berarti kecakapan
untuk menjadi subyek hukum, yaitu hukum, yang diberi hak dan
sebagai pendukung hak dan kewajiban.
kewajiban seperti manusia pribadi.

Badan hukum adalah subjek hukum

dalam arti yuridis, sebagai badan

ciptaan manusia berdasarkan hukum,

yang mempunyai hak dan kewajiban

Pengakuan sebagai subjek sebagai manusia pribadi, namun

hukum, misalnya dapat dilihat dalam tidak memiliki akal, perasaan dan

Pasal 2 ayat (1) KUH Perdata, jika lainnya termasuk tidak dapat

seorang anak yang ada dalam menerima warisan sebagaimana

kandungan dianggap telah lahir (ada) manusia pribadi karena badan

apabila kepentingannya hukum adalah badan ciptaan

menghendaki, sedangkan bila anak manusia pribadi berdasarkan hukum.

terlahir meninggal pada saat Menurut Soemitro, suatu badan
yang dapat mempunyai harta
dilahirkan maka dianggap tidak kekayaan, hak serta kewajiban seperti
orang-orang pribadi. Pendapat lain
pernah ada. Dalam hal ini punya arti berpendapat bahwa badan hukum
adalah kumpulan orang-orang yang
penting pengakuan manusia pribadi bersama-sama bertujuan untuk
mendirikan suatu badan, yaitu (1)
sebagai subjek hukum telah berwujud himpunan, dan (2) harta
kekayaan yang disendirikan untuk
mendapat pengakuan sejak anak tujuan tertentu, dan ini dikenal dengan
yayasan (Sri Soedewi Masjchoen)
masih dalam kandungan jika

kepentingan anak menghendaki.

Contoh, menerima warisan, menerima

hibah.

Oleh karena itu, tidak ada satu Kalau dilihat dari pendapat
hukuman yang dapat mengakibatkan tersebut badan hukum dapat
kematian perdata (burgerlijke dood) dikategorikan sebagai subjek hukum
atau kehilangan segala hak perdata. sama dengan manusia disebabkan
Berarti betapapun kesalahan yang karena:
dilakukan oleh seseorang (warga
negara) sampai jatuhnya putusan 1. Badan hukum itu mempunyai
pengadilan, maka putusan pengadilan kekayaan sendiri
tersebut tidak dapat menghilangkan
kedudukannya sebagai pendukung 2. Sebagai pendukung hak dan
hak dan kewajiban perdata (Pasal kewajiban
3 KUH Perdata). Indonesia sebagai
negara hukum mengakui manusia 3. Dapat menggugat dan digugat di
pribadi sebagai subjek hukum muka pengadilan
sebagaimana ditegaskan di dalam
UUD 1945, bahwa semua warga 4. Ikut serta dalam lalu lintas
melakukan jual beli

25

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

5. Mempunyai tujuan dan kepentingan menurut UU. Pengakuan itu

Terdapat 3 (tiga) macam diberikan oleh pemerintah karena isi
klasifikasi badan hukum berdasarkan
eksistensinya, yaitu: anggaran dasarnya tidak dilarang

oleh UU, tidak bertentangan dengan

ketertiban umum, tidak bertentangan

1. Badan hukum yang berbentuk oleh dengan kesusilaan dan badan

pemerintah (penguasa), contoh, hukum itu tidak akan melanggar

badan-badan pemeritah, undang-undang. Pengakuan

Perusahaan Negara (Perum). diberikan melalui pengesahan

2. Badan hukum yang diakui oleh anggaran dasar.
pemerintah (penguasa), contoh:
Perseroan Terbatas (PT), Koperasi. Badan hukum yang

diperbolehkan adalah yang tidak

3. Badan hukum yang diperbolehkan dibentuk oleh pemerintah dan tidak
atau untuk suatu tujuan tertentu
bersifat ideal, contoh, yayasan memerlukan pengakuan dari
(pendidikan, sosial, keagamaan)
pemerintah menurut undang-

undang, tapi diperbolehkan karena

tujuannya yang bersifat ideal di

bidang sosial. Contoh, Yayasan

Pendidikan, Yayasan Ilmu

Badan hukum yang dibentuk Pengetahuan, Yayasan Keagamaan,
oleh pemerintah adalah badan
hukum yang sengaja diadakan oleh Yayasan Kebudayaan. Untuk
pemerintah untuk kepentingan
negara, baik lembaga-lembaga memastikan Anggaran Dasar Badan
negara maupun perusahaan milik
negara. Badan hukum ini dibentuk hukum ini tidak bertentangan
oleh pemerintah untuk kepentingan
negara, badan hukum ini dibentuk dengan ketertiban umum, tidak
dengan Undang-Undang (UU) atau
dengan Peraturan Pemerintah (PP). bertentangan dengan kesusilaan,
Pembentukan dengan UU maka
pembentukan hukum itu adalah maka akta pendirian yang memuat
Presiden bersama perwakilan rakyat,
sedangkan yang dibentuk dengan PP anggaran dasar harus dibuat
maka pembentukan badan hukum itu
adalah Presiden sebagai kepala dihadapan Notaris.
pemerintahan.
Berdasarkan segi kewenangan
Badan hukum yang diakui hukum yang diberikan kepada badan
oleh pemerintah adalah badan hukum, maka badan hukum dapat
hukum yang dibentuk oleh pihak diklasifiksikan menjadi 2 (dua)
swasta/pribadi warga negara untuk macam, yaitu:
kepentingan pribadi pembentukannya
sendiri. Badan hukum tersebut 1. Badan Hukum Publik
mendapat pengakuan dari pemerintah
(kenegaraan), yaitu badan

hukum yang dibentuk oleh

pemerintah, diberi wewenang

menurut Hukum Publik, misalnya

departemen pemerintah, lembaga

negara seperti MPR, DPR.

2. Badan Hukum Privat

(keperdataan), yaitu badan

hukum yang dibentuk oleh

pemerintah atau swasta, diberi

26

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

kewenangan menurut Hukum paling mutlak adalah Hak Milik
Perdata. (Eigendom). Benda yang dilekati oleh
Hak Eigendom dapat dipergunakan
Berdasarkan segi tujuan untuk apa saja oleh Eigener-nya
(dalam batas-batas tertentu) dan Hak
keperdataan yang hendak dicapai Eigendom ini dapat dipertahankan

oleh badan hukum itu, maka badan terhadap siapa saja.

hukum perdata dapat diklasifikasikan

menjadi 3 (tiga) macam, yaitu: Hak Mutlak dapat dibagi 3
(tiga), yaitu:
1. Badan Hukum yang bertujuan

memperoleh laba, terdiri dari 1. Hak-hak kepribadian, yaitu hak

Perusahaan Negara, yaitu individu atas kehidupannya,

Perusahaan Umum (Perum),

Perseroan Terbatas (PT), badannya, kehormatan dan nama

Perusahaan Jawatan (Perjan). baiknya.

2. Badan Hukum yang bertujuan 2. Hak- hak keluarga, hak-hak yang

memenuhi kesejahteraan para timbul dari hubungan

anggotanya, yaitu Koperasi. kekeluargaan seperti kekuasaan

3. Badan Hukum yang bertujuan orang tua, perwalian, kekuasaan

bersifat ideal di bidang sosial, suami terhadap istri dan harta

pendidikan, ilmu pengetahuan bendanya. Hak ini dijalankan

(seperti yayasan, organisasi seiring dengan adanya kewajiban

keagamaan, lembaga wakaf). dari pihak lain.

B. Kewenangan Berhak 3. Hak-hak kebendaan, seperti Hak

Eigendom yang selanjutnya dibagi

Kewenangan berhak adalah dalam hak atas benda yang
kewenangan untuk mendapatkan
segala sesuatu yang dapat memenuhi berwujud dan yang tidak
kebutuhan asasinya yang diberikan
orang lain dari dia lahir sampai dia berwujud. Hak milik intelektual
mati. Kewenangan berhak tidak
sekaligus ada dengan kewenangan juga termasuk dalam kategori ini.
berbuat.
Hak Nisbi (relatif) adalah hak
Hak adalah segala sesuatu yang yang hanya memberikan kewenangan
dapat memenuhi kebutuhan asasinya terhadap seseorang atau lebih dari
yang diberikan orang lain. Terdapat 2 seseorang tertentu yang ber-
(dua) macam hak, yaitu Hak Mutlak kewajiban mewujudkan kewenangan
dan Hak Nisbi. Hak Mutlak adalah hak berhaknya (contoh, hak menagih).
yang dapat diberlakukan pada setiap Jadi, yang penting orang dapat
orang, di samping wewenang dari mengharapkan suatu prestasi dari
orang yang berhak, ada kewajiban orang lain. Hak Nisbi termasuk di
dari setiap orang untuk menghormati dalamnya beberapa hak kekeluargaan
hak tersebut. Pada hak mutlak dan semua hak harta kekayaan yang
terdapat kewenangan orang yang tidak termasuk ke dalam hak mutlak.
berhak untuk berbuat. Hak yang Hubungan hukum yang nisbi ini dikenal
dengan istilah Verbintenis atau
Perutangan /Perikatan.

27

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

Pada dasarnya manusia seseorang yang sifatya membatasi,
diantaranya:
mempunyai hak sejak dalam
1. Tempat tinggal, misalnya dalam
kandungan (Pasal 2 KUH Perdata), Pasal 3 PP No.24 Th.1960 dalam
Pasal 1 PP No. 41 Tahun 1964
namun tidak semua manusia (tambahan Pasal 3a s/d 3c) jo Pasal
1 ayat 2 UUPA disebutkan larangan
mempunyai kewenangan dan pemilikan tanah pertanian oleh
orang yang bertempat tinggal diluar
kecakapan untuk melakukan perbuatan kecamtan tempat letak tanahnya
(tanah absensi).
hukum. Orang yang dapat melakukan
2. Kewarganegaraan, misalnya dalam
perbuatan adalah orang yang telah Pasal 21 UUPA disebutkan bahwa
hanya WNI yang berhak memiliki
dewasa dan atau sudah kawin. Ukuran hak milik (berupa tanah).

kedewasaan adalah sudah berumur 21 C. Kewenangan Berbuat

tahun dan atau sudah kawin. Pada dasarnya, setiap manusia
memiliki kewenangan berhak, yakni
Sedangkan orang yang tidak cakap kewenangan berhak untuk dilakukan
atau melakukan apa saja sesuai
melakukan perbuatan hukum, adalah dengan ketentuan aturan. Hanya saja
tidak semua manusia mempunyai
(1) orang yang sudah dewasa; (2) kewenangan berbuat atau kewenangan
bertindak. Kewenangan berbuat adalah
orang yang berada dibawah kewenangan seseorang untuk berbuat
hukum pada umumnya. Berbuat hukum
pengampunan atau pengawasan; (3) adalah melakukan perbuatan-
perbuatan yang diatur oleh hukum
Kurang cerdas; (4) sakit ingatan (Pasal (menimbulkan akibat hukum) dan
kalau dilanggar akan ada sanksinya.
1331 KUH Perdata) Kewenangan berbuat ada ketika
seseorang sudah dewasa (Pasal 330
Hukum Perdata juga KUH Perdata) atau sudah kawin.

memandang bahwa setiap manusia Oleh karena itu, setiap manusia
yang mempunyai kewenangan berhak
mempunyai hak yang sama, baik itu belum tentu mempunyai kewenangan
berbuat atau bertindak. Contoh,
manusia yang sudah dewasa ataupun seseorang yang sudah mandiri
dikatakan cakap untuk melakukan
manusia yang masih belum dewasa, perbuatan hukum. Sebaiknya dikatakan
belum dewasa apabila orang tersebut
maka hak-haknya tetaplah sama. belum mandiri dan belum berkeluarga.

Berakhirnya seseorang sebagai

pendukung hak dan kewajiban dalam

Hukum Perdata adalah apabila ia

meninggal dunia. Pertanyaan, apakah

manusia yang tidak normal memiliki

kewenangan berhak? Dalam kenyataan

setiap manusia atau setiap individu itu

mempunyai atau mampu

bertanggungjawab atas segala

perbuatan yang dilakukan.

Kewenangan berhak adalah

mengandung pengertian kewenangan

setiap manusia pribadi yang

berlangsung terus menerus hingga

akhir hayatnya. Kewenangan berhak

setiap manusia tidak dapat ditiadakan

oleh suatu ketentuan hukum apapun.

Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kewenangan berhak

28

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

Undang-Undang Dasar 1945 1. Orang yang masih di bawah umur

melalui Pasal 2 Aturan Peralihan (belum mencapai umur 21 tahun

menyatakan bahwa, ketentuan produk atau belum dewasa);

kolonial masih dapat diberlakukan 2. Orang yang tidak sehat pikirannya

sebelum dibentuk undang-undang (gila), pemabuk dan pemboros,

yang baru. Sampai sekarang belum ada yakni mereka yang ditaruh di bawah

undang-undang baru yang meneruskan curatele (pengampuan).

pengertian dewasa dan belum dewasa. Apabila perbuatan hukum

Oleh karena itu, ketentuan dewasa dan dilakukan oleh orang yang tidak

belum dewasa produk kolonial masih wenang berbuat atau tidak cakap,

berlaku. Misalnya, Pasal 330 KUH maka perbuatan hukumnya dapat

Perdata, untuk golongan Eropa, Stbl. dimintakan pembatalannya

1924 No. 556, untuk golongan Orang (vermetigbaarheid). Tetapi perbuatan

Timur Asing. Contoh lainnya, adalah hukum tersebut, sejak saat dibuat

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sampai dinyatakan batal, tetap sah.

tentang Perkawinan, maka konsep Apabila sudah dibatalkan maka kembali

dewasa dan tidak dewasa menjadi seperti semula, dianggap perjanjian

berubah. Di dalam UUP tersebut bahwa tidak pernah ada.

izin orang tua bagi orang yang akan Kewenangan dan kecakapan,
keduanya merupakan hal yang serupa.
melangsungkan perkawinan jika belum Kewenangan dan kecakapan menjadi
penting ketika dihadapkan pada sahnya
mencapai umur 20 tahun bagi wanita subyek hukum dalam melakukan
perbuatan hukum tertentu. Orang yang
yang akan melangsungkan cakap (wenang melakukan perbuatan
hukum) menurut UU adalah:
perkawinan. Anak yang belum berusia

18 tahun, belum pernah kawin dan

berada di bawah kekuasaan orang tua.

Anak yang belum mencapai usia 18

tahun, belum pernah kawin dan tidak

berada di bawah kekuasaan orang tua, 1. Orang yang dewasa (di atas 18
tahun) atau pernah melangsungkan
tetapi berada di bawah kekuasaan wali. perkawinan

Menurut hukum, setiap orang 2. Tidak dibawah pengampuan, yaitu
tiada terkecuali dapat memiliki hak- orang dewasa tapi dalam keadaan
hak, akan tetapi di dalam hukum dungu, gila, pemboros, dll.
tidaklah semua orang diperbolehkan
bertindak sendiri di dalam 3. Tidak dilarang oleh UU, misal orang
melaksanakan hak-haknya itu. Ada yang dinyatakan pailit oleh UU
beberapa golongan orang yang oleh dilarang untuk melakukan
hukum telah dinyatakan “tidak cakap” perbuatan hukum.
atau “kurang cakap” untuk bertindak
sendiri dalam melakukan perbuatan- Menurut hukum manusia
perbuatan hukum, tetapi mereka itu pribadi (natuurlijk person) mempunyai
harus diwakili atau dibantu oleh orang hak dan kewajiban, akan tetapi tidak
lain. Mereka yang oleh hukum telah selalu cakap hukum (rechts bekwaam)
dinyatakan tidak cakap untuk untuk melakukan perbuatan hukum.
melakukan sendiri perbuatan hukum orang-orang yang menurut undang-
adalah: undang tidak cakap untuk melakukan
perbuatan hukum adalah:

29

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

1. Orang yang belum dewasa, yaitu melakukan perbuatan hukum. Dan
orang yang cakap untuk melakukan
anak yang belum mencapai umur 18 perbuatan hukum (rechts bekwaam)
tidak selalu berwenang untuk
tahun atau belum pernah melakukan perbuatan hukum (rechts
bevoegd).
melangsungkan perkawinan (Pasal Dengan demikian kecakapan hukum
(rechts bekwaamheid) adalah syarat
1330 KUH Perdata jo. Pasal 47 UU
umum, sedangkan kewenangan hukum
Nomor 1 Tahun 1974) (rechts bevoegdheid) adalah syarat
untuk melakukan perbuatan hukum.
2. Orang-orang yang ditaruh di bawah

pengampuan, yaitu orang-orang

dewasa tapi dalam keadaan dungu,

gila, mata gelap, dan pemboros

(Pasal 1330 KUH Perdata jo. Pasal

433 KUH Perdata);

3. Orang-orang yang dilarang undang- Literatur :

undang untuk melakukan

perbuatan-perbuatan hukum Kansil, SH., 1989, Pengantar Ilmu
Hukum dan Tata Hukum
tertentu, misalnya orang dinyatakan Indonesia, Balai Pustaka,

pailit (Pasal 1330 KUH Perdata jo. Jakarta.

Undang-undang Kepailitan).

Jadi orang yang mempunyai Riduan Syahrani, 2004, Seluk Beluk dan
Azas-azas Hukum Perdata,
kecakapan untuk melakukan perbuatan
Alumni, Bandung.
hukum (recht bekwamheid) adalah

orang yang dewasa dan sehat akal Salim HS, 2004, Pengantar Hukum
Perdata Tertulis (BW),
pikirannya serta tidak dilarang oleh
Cetakan Ke-4, Yogyakarta.
suatu undang-undang untuk

melakukan perbuatan hukum tertentu. Soeroso. R, 2007, Perbandingan
Hukum Perdata, Sinar Grafika,
Orang-orang yang belum dewasa dan
Jakarta.
orang-orang yang ditaruh di bawah

pengampuan (curatele) dalam

melakukan perbuatan hukum diwakili Subekti dan R. Tjitrosudibio, 2001,
Kitab Undang-undang Hukum
oleh orang tuanya, walinya atau Perdata, Pradnya Paramita,

pengampunya (curator), sedangkan Jakarta.
Subekti, 2003, Pokok-pokok Hukum
penyelesaian utang piutang orang-
Perdata, Intermasa, Jakarta.
orang yang dinyatakan pailit Titik Triwulan Tutik, 2008, Hukum

dilaksanakan oleh Balai Harta Perdata dalam Sistem Hukum
Nasional, Intermasa, Jakarta.
Peninggalan (weeskamer).

Selanjutnya apabila

dihubungkan dengan kecakapan

hukum (rechts bekwaamheid) dan

kewenangan hukum (rechts

bevoegdheid), maka uraian di atas Catatan:

menunjukkan bahwa setiap orang Setelah selesai Pokok Bahasan ini akan
dilaksanakan Quis.
adalah subyek hukum, yakni

pendukung hak dan kewajiban, namun

tidak setiap orang cakap untuk untuk

30

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

Soal Latihan:

1. Jelaskan tentang subjek hukum dan
siapa saja sebagai subjek hukum?

2. Jelaskan tentang kewenangan
berhak dan siapa saja yang
mempunyai wenang berhak?

3. Jelaskan tentang kewenangan
berbuat dan siapa saja yang
mempunyai wenang berbuat?

4. Sebutkan dan jelaskan siapa saja
yang tidak wenang berbuat?

5. Jelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi kewenangan berhak
seseorang?

31

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

BAB IV

HUKUM PERKAWINAN

Tujuan Instruksional Khusus Berbeda dengan Undang-
undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Mahasiswa akan dapat mengetahui dan Perkawinan, Pasal 1 menyatakan
bahwa perkawinan adalah ikatan lahir
menjelaskan tentang Hukum batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami istri
Perkawinan: Pengertian Hukum dengan tujuan membentuk keluarga
yang bahagia dan kekal berdasarkan
Perkawinan, Syarat-syarat Sah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Perkawinan, Perjanjian Perkawinan, Berdasarkan rumusan tersebut,
bahwa perkawinan bukan saja ikatan
Hak dan Kewajiban Suami Istri, lahir batin tetapi mengikat kedua belah
pihak. Sebagai ikatan lahir batin
Perceraian serta Pemisahan Harta perkawinan, perkawinan adalah ikatan
jiwa karena adanya kemauan yang
Kekayaan sama, yang ikhlas sebagai suami isteri.
Perkawinan sah apabila dilakukan
Sub Pokok Bahasan menurut hukum masing-masing agama
dan kepercayaannya.
A. Pengertian Hukum Perkawinan
B. Syarat-syarat Sah Perkawinan B. Syarat-syarat Sah Perkawinan
C. Perjanjian Perkawinan
D. Hak dan Kewajiban Suami Istri Dalam KUH Perdata, untuk
E. Perceraian melaksanakan perkawinan yang sah,
F. Pemisahan Harta Kekayaan maka harus memenuhi syarat-syarat
sahnya perkawinan, yaitu:
Uraian:
1. Kedua pihak telah berumur sesuai
A. Pengertian Hukum dengan yang ditetapkan undang-
Perkawinan undang, yaitu seorang laki-laki 18
tahun dan untuk perempuan 15
Perkawinan adalah pertalian tahun;

yang sah antara seorang laki-laki dan 2. Harus ada persetujuan dari ke dua
pihak;
seorang perempuan untuk waktu yang
3. Untuk seorang perempuan yang
lama. Dalam Pasal 26 KUH Perdata, sudah pernah kawin harus lewat

perkawinan hanya dilihat sebagai

hubungan keperdataan saja.

Perkawinan hanya sah jika memnuhi

syarat-syarat yang ditetapkan di dalam

KUH Perdata, termasuk di dalam

berpoligami adalah suatu pelanggaran

terhadap ketertiban umum, artinya

perkawinan tersebut dapat dibatalkan.

32

300 hari sesudah putusnya Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia
perkawinan;
4. Tidak ada larangan dahm undang- mengetahui yang calon mempelai
undang bagi kedua pihak; berada di bawah curatele.
5. Untuk pihak yang masih di bawah
umur, harus ada izin dari orang tua Surat-surat yang harus
atau walinya. diserahkan kepada Pegawai Pencatatan
Sipil agar ia dapat melangsungkan
Sebelum perkawinan pernikahan, ialah :

dilangsungkan, harus dilakukan lebih 1. surat kelahiran masing-masing
pihak;
dahulu, yaitu:
2. surat pernyataan dari Pegawai
1. pemberitahuan (aangifte) tentang Pencatatan Sipil tentang adanya
izin orang tua, izin mana juga dapat
kehendak akan kawin kepada diberikan dalam surat perkawinan
sendiri yang akan dibuat itu;
Pegawai Pencatatan Sipil
3. proses verbal dari mana ternyata
(Ambtenaar Burgerlijke Stand), perantaraan Hakim dalam hal
perantaraan ini dibutuhkan;
yaitu pegawai yang nantinya akan
4. surat kematian suami atau isteri
melangsungkan pernikahan; atau putusan percerai-an
perkawinan lama;
2. pengumuman (afkondiging) oleh
5. surat keterangan dari Pegawai
pegawai tersebut, tentang akan Pencatatan Sipil yang menyatakan
telah dilangsungkan pengumuman
dilangsungkan pernikahan itu. dengan tiada perlawanan dari
sesuatu pihak;
Terhadap beberapa orang oleh
undang-undang diberikan hak untuk 6. dispensasi dari Presiden (Menteri
mencegah atau menahan (stuiten) Kehakiman), dalam hal ada suatu
dilangsungkannya pernikahan, yaitu: larangan untuk kawin.

1. kepada suami atau isteri serta Pegawai Pencatatan Sipil
anak-anak dari sesuatu pihak yang berhak menolak untuk melangsungkan
hendak kawin; pernikahan, apabila ia menganggap
surat-surat kurang cukup. Dalam hal
2. kepada orang tua kedua belah yang demikian, pihak-pihak yang
pihak; berkepentingan dapat memajukan
permohonan kepada Hakim untuk
3. kepada jaksa (officier van justitie). menyatakan bahwa surat-surat itu
sudah mencukupi.
Seorang suami dapat
Pada asasnya seorang yang
menghalang-halangi perkawinan yang hendak kawin diharuskan menghadap
sendiri di muka Pegawai Burgerilijkle
kedua dari isterinya dan sebaliknya si Stand itu dengan membawa dua orang
saksi. Hanya dalam keadaan yang luar
isteri dapat menghalang-halangi
33
perkawinan yang kedua dari suaminya,

sedangkan anak-anak pun dapat

mencegah perkawinan yang kedua dari

si ayah atau ibunya. Orang tua dapat

mencegah pernikahan, jikalau anaknya

belum mendapat izin dari mereka.

Sebagai alasan bahwa setelah mereka

memberikan izin kemudian mereka

Buku Ajar Hukum Perdata - Yulia

biasa dapat diberikan izin oleh Menteri dalam hal suatu perkawinan
Kehakiman untuk mewakilkan orang dibatalkan, undang-undang telah
lain menghadap yang harus dikuasakan menetapkan sebagai berikut:
secara otentik.
1. jika sudah dilahirkan anak-anak
Suatu perkawinan yang dari perkawinan tersebut, anak-
dilangsungkan di luar negeri sah, anak ini tetap mempunyai
apabila dilangsungkan menurut cara kedudukan sebagai anak yang sah;
yang berlaku di negeri asing yang
bersangkutan, asal tidak bertentangan 2. pihak yang berlaku jujur tetap
dengan negeri asal. memperoleh perkawinan tersebut
hak-hak yang semestinya didapat
Menurut Undang-undang sebagai suami istri.

Perkawinan, syarat-syarat sah 3. orang-orang pihak ketiga yang
berlaku jujur tidak boleh dirugikan
perkawinan adalah : karena pembatalan perkawinan.

1. Adanya persetujuan kedua Larangan untuk kawin bahwa
mempelai; seorang tidak diperbolehkan kawin
dengan saudaranya, meskipun saudara
2. adanya izin dari kedua orang tua tiri, seorang tidak diperbolehkan kawin
atau wali; dengan iparnya, seorang paman
dilarang kawin dengan keponakannya
3. usia calon pria 19 tahun dan dan sebagainya.
wanita 16 tahun;
Izin kedua orang tua harus
4. antara calon pria dan wanita tidak memberikan izin atau ada kata sepakat
ada hubungan keluarga yang tidak antara ayah dan ibu masing-masing
boleh kawin; pihak. Jikalau ada wali pun harus mem-
berikan izin dan kalau wali hendak
5. tidak berada dalam ikatan kawin dengan anak yang di bawah
perkawinan dengan pihak yang pengawasannya, harus ada izin dari
lain; wali pengawas (toeziende voogd).
Kalau kedua orang tua sudah
6. bagi suami isteri yang telah meninggal, yang memberikan izin ialah
bercerai lalu kawin lagi dan kakek nenek, baik pihak ayah maupun
bercerai, agama dan kepercayaan pihak ibu, sedangkan izin wali masih
mereka tidak melarang kawin pula tetap diperlukan.
ketiga kalinya;
Anak-anak yang lahir di luar
7. tidak berada dalam masa tunggu perkawinan, tetapi diakui oleh orang
bagi mempelai wanita. tuanya, maka berlaku pokok aturan
yang sama dengan pemberian izin,
Pembatalan perkawinan pada kecuali jikalau tidak terdapat kata
asasnya bertujuan mengembalikan sepakat antara kedua orang tua, maka
keadaan seperti pada waktu perbuatan dapat diminta campur tangan hakim
yang dibatalkan itu belum terjadi, dan kakek nenek tidak menggantikan
tetapi dalam hal suatu perkawinan
dibatalkan, tidak boleh kita
beranggapan seolah-olah tidak pernah
terjadi suatu perkawinan, karna terlalu
banyak kepentingan dari berbagai
pihak harus dilindungi. Oleh karenanya,

34


Click to View FlipBook Version