The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Rujukan dan referensi dalam mata kuliah Muamalah, Hukum EKonomi Syariah, Perbankan Syariah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by aidil.alfin, 2023-12-15 23:38:28

TEORI KONTRAK PERSPEKTIF MUAMALAH MALIYAH

Rujukan dan referensi dalam mata kuliah Muamalah, Hukum EKonomi Syariah, Perbankan Syariah

Keywords: akad,muamalah,ekonomi syariah,fikih muamalah,hukum ekonomi syariah,kontrak

139 atau tanah tempat kerikil ini jatuh.” Setelah berkata demikian, dia melemparkan kerikil tersebut, di mana kerikil itu jatuh –di tanah ataupun kain- maka ia akan dinyatakan sebagai barang yang dijual. 265 Kedua bentuk aktifitas ekonomi tersebut dilarang oleh syara’ berdasarkan hadis Rasulullah Saw. berikut : عن أبى هريرة رضى هللا عنه قال : نهى رسول هللا ص.م عن بيع الحصاة وعن بيع الغرر )رواه مسلم( 266 “Dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata : “Rasulullah Saw. melarang jual beli hashâh dan jual beli gharar. (H.R Muslim). d) Jual beli dengan cara mulâmasah dan munâbazah Jual beli mulâmasah adalah sebuah transaksi yang dilakukan dengan cara memegang barang yang dijual. Ini merujuk pada praktek dagang di mana seseorang misalnya memegang kain dan dia mengatakan pada yang lain : “ Saya menjual kain ini pada anda dengan kain yang ada di tangan anda” . Jika setelah itu mereka saling memegang atau menyentuh kain itu maka transaksi dianggap final.267 . Sedangkan jual beli munâbazah adalah seorang pedagang menjajakan barang dagangannya kepada pembeli dan penjualan tersebut menjadi sah meskipun pembeli tersebut tidak memegang atau melihat barang tersebut.268 Jual beli semacam ini populer dalam peribahas Indonesia dengan istilah membeli kucing dalam karung. Kedua bentuk transaksi di atas kemungkinan mengandung penipuan atau kecurangan atau penggambaran yang keliru yang bisa menimbulkan perselisihan. 265 Wabah al-Zuhailî, h.438. Yusuf Kamâl Muhammad, h. 195-197 266al-‘Asqalânî, h. 162 267Yusuf Kamâl Muhammad, h. 197 268. Afzalur Rahman, Economic Doctrines of Islam, diterjemahkan oleh Soeroyo dengan judul : Doktrin Ekonomi Islam , (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf,1995), jilid IV, h. 76


140 Oleh karena itu, Rasulullah Saw. melarang kedua bentuk transaksi tersebut berdasarkan hadis : عن أنس رضى هللا عنه قال : نهى رسول هللا ص.م عن المالمسل والمنابذة في البيع )رواه البخارى( 269 “Dari Anas r.a, dia berkata : Rasulullah Saw. melarang praktek mulâmasah dan munâbazah dalam jual beli.” (H.R Bukhari) e) Jual beli dengan cara Najasy Najsy adalah suatu transaksi di mana seseorang pura-pura menawar barang untuk mengelabui calon pembeli supaya barang dagangan tersebut laris dan terjual mahal.270 Tindakan tersebut merupakan kerjasama pedagang dengan orang lain yang sudah dirancang sedemikian rupa, sehingga bagi pembeli yang tidak cermat akan tertipu dengan hal itu. Praktek seperti ini dilarang oleh Rasulullah Saw. berdasarkan hadis : عن أبى هريرة رضى هللا عنه قال : نهى رسول هللا ص.م عن النجس )رواه مسلم(271 “Dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata : “ Rasulullah Saw. melarang praktek najsy.” (H.R Muslim). f) Jual beli dengan cara talaqqî al-jalb (talaqqî al-rukbân) Gambaran dari jual beli ini adalah seseorang mencegat orang-orang yang membawa barang dagangan dari desa dan membelinya sebelum sampai di pasar.272 Rasulullah Saw. melarang praktek semacam ini karena sangat berpotensi menyebabkan terjadinya penipuan harga terhadap orang-orang desa yang tidak mengetahui harga pasaran. Larangan terhadap praktek ekonomi ini terdapat dalam hadis berikut : 269al-‘Asqalânî, h. 163 270Abu Mawâhib al-Wahâb bin Ahmad al-Ansharî (al-Sya’ranî), al-Mizân al-Kubrâ, (Beirut : Dâr al-Fikri, 1415/1995), Jil.I, h.366.Muhammad Abd al-Mun’im, h. 123 271Muslim bin Hajjaj, juz. I, h.608 272al-Sya’ranî, jil.I, h. 366.


141 عن أبى هريرة رضي هللا عنه قال رسول هللا ص.م : ال تلقوا الجلب فمن تلقى فاشترى منه، فإذا أتى سيده السوق فهو بالخيار )رواه مسلم( 273 “Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw. bersabda : “Janganlah kamu mencegat orang-orang desa yang membawa barang dagangan, siapa yang melakukannya dan membeli barangnya, maka apabila orang-orang desa itu mempunyai hak khiyar bila mereka telah tiba di pasar. (H.R Muslim). Praktek semacam ini identik dengan jual beli hâdhir libâd, yaitu para broker kota menjadi makelar atau perantara orangorang yang datang dari perkampungan dengan konsumen yang ada di kota. Makelar itu kemudian menjual barang-barang yang di bawa oleh orang-orang desa itu pada orang kota –di mana dia tinggal- dan keuntungan yang diperoleh dari perdagangan tersebut diambil untuk dirinya sendiri.274 Rasulullah Saw. melarang praktek ekonomi seperti ini berdasarkan hadis berikut : عن طاوس عن أبن عباس رضى هللا عنهما قال رسول هللا ص.م : ال تلقوا الركبان، وال يبع حاضر لباد، قلت البن عباس : ما قوله "وال يبع حاضر لباد ؟" قال: ال يكون له سمسارا )مت ق عليه( 275 “Dari Thawus dari Ibnu Abbas r.a, berkata Rasulullah Saw. : “Janganlah kamu mencegat orang-orang desa yang akan ke kota membawa barang dagangan dan jangan pula menjual dengan cara hâdhir libâd. Aku (Thawus) bertanya kepada Ibnu ‘Abbas :” Apa yang dimaksud Rasulullah Saw. dengan ungkapan “janganlah kamu menjual dengan cara hâdhir libâd ? 273al-‘Asqalânî, h. 165 274al-Sya’ranî, h. 366. .Nazîh Hammâd, h.97 275al-‘Asqalânî, h.164


142 Dia (Ibnu ‘Abbas) menjawab : “Janganlah kamu menjadi simsâr. 276 ” (Muttafaq ‘Alaih) g) Penjualan dengan cara habal al-habalah Gambaran jual beli habal al-habalah ini adalah seseorang membeli seekor unta betina yanng sedang hamil dengan perjanjian bahwa ia akan membayar harganya apabila unta tersebut melahirkan unta jantan atau betina.277 Artinya jika yang dikehendaki unta betina tetapi yang lahir unta jantan, maka jual beli tidak jadi dilaksanakan. Praktek semacam ini sangat umum di negara Arab waktu itu. Cara penjualan seperti ini juga dilarang oleh Rasulullah Saw. karena mengandung unsur spekulasi sesuai dengan hadis : عن ابن عمر رضى هللا عنهما أن رسول هللا ص.م ن هى عن بيع حبل الحبلل )رواه البخارى( 278 “Dari Ibnu Umar r.a bahwa Rasulullah Saw. melarang jual beli habal al-habalah. (H.R Bukhari) Demikianlah berbagai kesalahan dan kecurangan dalam aktifitas ekonomi yang menyebabkan praktek-praktek tersebut dilarang oleh syara’ dengan dalil-dalil yang khusus, baik dalam AlQur'an ataupun Hadis Rasulullah Saw. Selanjutkanya dijelaskan berbagai bentuk pelarangan kontrak atau akad berdasarkan kepada keumuman dalil yang ada dalam Al Quran dan Hadis Nabi SAW. Aktifitas ekonomi yang dilarang secara umum yaitu bentuk aktifitas ekonomi yang pelarangannya tidak ditetapkan langsung oleh nash/dalil yang khusus, tetapi diinduksi dari berbagai dalil khusus 276Simsâr adalah istilah yang diperuntukkan bagi seseorang yang bekerja untuk kepentingan orang lain dengan suatu imbalan/upah, baik untuk menjual atau membeli barang. alSyarakhsî, juz XV, h. 114 277Abdul Hamid Hakim, h.19 278al-‘Asqalânî, h. 161


143 tersebut sehingga didapatkan kesimpulan umum bahwa kegiatan seperti itu dilarang oleh syarak karena bertentangan dengan maqashid syari'ah. Dari induksi yang dilakukan oleh ulama terhadap nash Al-Qur'an dan Hadis dirumuskan bahwa dalil umum yang menyebabkan terlarangnya suatu transaksi ekonomi adalah zhulm (kezaliman) dan gharar (penipuan). Kedua hal ini dinduksi dari pelarangan praktek riba (Q.S. 2:275, 278,279) dan perjudian (maisir) (Q.S. 5:20). Riba secara filosofis merupakan perbuatan zalim, karena sama dengan memakan darah manusia. Sedangkan perjudian secara filosofis mengandung gharar (spekulasi), karena tidak jelas hasilnya.279 1. Penganiayaan (al-zulm) Kezaliman adalah bentuk kejahatan ekonomi yang merugikan dan pelakunya akan berada dalam kegelapan pada hari kiamat, sebagaimana Hadis Rasulullah Saw. : عن ابن عمر رضى هللا عنهماا عان الناىب ص.م قاال : الظلام تلماا ا ياوم ال ياماة 280( رواه البخاري ( “Dari Ibnu Umar r.a, bersabda Nabi Saw.: “Kezaliman itu (balasannya) adalah Kezaliman (pula) pada hari kiamat.(H.R Bukhari)” Menurut Abd al-’Ati (sebagaimana dikemukakan Mustaq Ahmad), tujuan utama dari ajaran Islam dalam masalah ekonomi dan perdagangan adalah : untuk menjamin hak-hak individu dan menjaga solidaritas sosial, menjunjung tinggi nilai moralitas (akhlakul karimah) dan untuk menerapkan hukum Allah dalam dunia bisnis.281 Manusia harus menghormati dan menghargai hak-hak orang lain, karena pelanggaran terhadap hak-hak manusia lebih berat dari pelanggaran terhadap hak-hak Allah Swt., di mana jika seseorang melanggar hak Allah Swt. maka mungkin saja Allah Swt. akan mengampuni tindakan orang tersebut. Akan tetapi bila seseorang merampas hak sesama 279Taqî al-Dîn Ibnu Taimiyah (selanjutnya disebut Ibnu Taimiyah), al-Qawâ’id alNurâniyyah al-Fiqhiyyah,( Beirut : Dâr al-Kutub al-ilmiyyah, 1414/1994), h. 81-82. 280Al-Bukharî, jil. V, juz 11, h.20 281Mustaq Ahmad, h. 126


144 manusia maka Allah Swt. tidak akan mangampuninya, kecuali orang yang dirugikan dan dilanggar hak-haknya memaafkan tindakannya itu, sebagaimana hadis Rasulullah Saw. : عن عب د هللا بن عمرو بن العاص رضى هللا عنه أن النبى ص.م قال : القتل في سبيل هللا يك ر كل شيء إال الدين )رواه مسلم وابن ما ه(282 “Dari Abdullah bin Umar bin al-’Ash, bahwa Rasulullah Saw. bersabda : Terbunuh di jalan Allah menghapuskan semua dosa, kecuali hutang terhadap manusia.”( H.R Muslim) Di sini terlihat bahwa keridhaan dan keadilan merupakan paramater dalam menentukan kehalalan sebuah transaksi, sebaliknya kezaliman dianggap sebagai unsur yang menyebabkan haramnya segala bentuk transaksi. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh oleh Ibnu Taimiyah dalam kaedah berikut: اءصل في العقود هو التراضى283 “Prinsip dasar dari suatu transaksi adalah kerelaan kedua belah pihak” Kaedah diatas juga sejalan dengan kaedah : اءصل في العقود وهو العدل284 “Prinsip dasar dari suatu transaksi adalah keadilan” Hal senada juga dikemukakan oleh muridnya (Ibnu Qayyim alJauziyah) bahwa: Keadilan merupakan asas dari segala bentuk transaksi.285 282Muslim bin Hajjâj al-Qusyairî al-Naisabûrî, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawî, (Indonesia : Maktabah Dahlân, t.th), juz. III, h. 1502. Ibn Mâjah, Sunan Ibn Mâjah, (Indonesia : Maktabah Dahlân, t.th), juz II, h.928 283Ibnu Taimiyah, al-Qawâ’id…, h.73 284Ibnu Taimiyhah, Majmû’…, jil. XX, h. 510 285Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, I’lâm al-Muwaqqi’în ‘An Rabb al-‘Âlamîn, (Beirut: Dâr aFikr, 1397/1977), jil. I, h. 387


145 2. Penipuan (gharar) Unsur penipuan (gharar) juga merupakan aspek yang menyebabkan haramnya sebuah aktifitas ekonomi bila terdapat unsur ini di dalamnya. Menurut Ibnu Taimiyah gharar adalah sesuatu yang tidak jelas atau tidak diketahui hasilnya.286 Dari definisi ini diketahui bahwa praktek gharar sama dengan spekulasi (ghubn). Hanya saja tingkat mafsadah yang ditimbulkan oleh gharar ini lebih ringan dibanding riba. Oleh karena itu, dalam beberapa hal gharar ini ditolerir oleh syara', karena kebutuhan manusia. Gharar jenis ini dalam istilah fikih disebut gharar yasîr, misalnya seorang pedagang membeli barang dengan harga 100. 000,-, akan tetapi dalam penjualan hanya laku 90.000,- atau 95.000,-. Maka kerugian dalam jumlah seperti itu masih dalam batas kewajaran. Praktek gharar atau disebut juga jahalah/ghubun dilarang oleh Rasulullah Saw. karena termasuk perjudian. Hal ini dikategorikan perjudian karena salah satu pihak mandapatkan keuntungan berupa harta, sedangkan yang lainnya terkadang mendapat dan terkadang tidak mendapat sama sekali.287 Hal ini sangat potensial dalam menimbulkan permusuhan dan perkelahian, maka segala bentuk aktifitas ekonomi yang mengandung unsur gharar (ketidakjelasan) ini yang sifatnya memudaratkan (fâhisah) harus dieliminir dari kehidupan. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa apapun bentuk aktifitas ekonomi yang merupakan hasil kreasi manusia, selama tidak mengandung unsur kezaliman dan penipuan dengan segala bentuknya, maka hal itu dibolehkan oleh syara'. Sebaliknya bila dalam aktifitas ekonomi hasil kreasi manusia tersebut terdapat salah satu dari dua unsur tersebut, maka perbuatan tersebut diharamkan oleh syara'. 286Ibn Taimiyah, al-Qawâ’id…, h. 81 287Nazîh Hammâd, h.259. Abd al-Mun’im al-Jamâl, h. 362


146


147 Indeks ‘ ‘aqidain · 5, 25, 58 A ahliyyah · 6 akad · v, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 43, 44, 47, 48, 49, 50, 51, 54, 55, 58, 60, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 80, 81, 82, 85, 86, 87,88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 98, 100, 101, 102, 103, 104, 106, 107, 108, 109, 110, 111, 112, 113, 114, 115, 116, 117, 118, 119, 120, 121, 122, 123, 124, 125, 126, 127, 128, 129, 143 akibat hukum · 3, 10, 11, 12, 13, 14, 64, 94 Al-Qur'an · 19, 20, 23, 32, 40, 53, 54, 56, 57, 59, 60, 64, 130, 131, 132, 134, 137, 139, 143, 144 D dhaman · 67, 72, 73 dhamanah · 73 F Fadhl · 24, 134, 151 fâhisah · 146 fardhu kifayah · 60 fasakh · 14, 97 fasid · 4, 13, 17, 25, 35, 37, 58, 107, 122, 123, 126, 127 fikih · 3, 4, 10, 39, 42, 44, 49, 51, 57, 62, 63, 66, 69, 76, 85, 87, 88, 96, 98, 99, 105, 109, 115, 116, 124, 125, 127, 132, 135, 137, 146 fuqahak · 7, 10, 11, 12, 13, 20, 21, 106, 110


148 G gadai · 9, 15, 79, 80, 83, 84, 85, 86, 87 Gharar · viii, 146 H habalah · 143 hajr · 68 Hanafiyah · 4, 11, 13, 18, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 34, 35, 36, 38, 39, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 52, 56, 57, 58, 59, 61, 63, 65, 66, 69, 70, 71, 74, 75, 76, 80, 82, 84, 86, 87, 89, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 101, 109, 110, 114, 118, 119, 121, 125, 126 hashâh · 139, 140 hilah · 126 Hiwalah · vii I Ijab · 4, 5, 23, 29, 65, 70, 80, 89 Ijarah · vii, 56 J jahalah · 108, 126, 146 Jual Beli · vii, 21, 23 jumhur ulama · 5, 11, 26, 34, 53, 58, 61, 71, 80, 87, 101 K Kafalah · 46 kekuatan Hukum · 15 Khiyâr · 30 Kontrak · vii, 5, 8, 10, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 19, 115 L lazim · 11, 14, 15, 22, 27, 56, 62, 68, 95, 96, 106, 111 M Makelar · vii, 96, 142 mâliyah · 19, 23 mauquf · 11, 14, 18, 26, 27, 28, 110 Menyewa · vii, 52, 57 Mudhârabah · vii, 31, 32, 36, 38, 45 mufâwadhah · 44, 46, 49, 50 muflis · 68, 75


149 mughârasah · 20, 124, 125, 126, 127, 128, 129 Mughârasah · vii, 124, 125 muhal · 87, 88, 89, 90, 91, 92, 93 mumayyiz · 11, 26, 58, 110 munâshabah · 125 muqayyad · 36, 67 muqayyadah · 91, 93 murâhanah · 135 murtahin · 77, 79, 80, 82, 83, 84, 85 musâqâh · vii, 2, 20, 115, 116, 117, 118, 119, 120, 121, 122, 123, 124, 125 mutaqawwam · 27, 137 mutlaqah · 92, 93 N nafaz · 14 P paroan sawah · 106 Partnership · vii, 39, 51 pasaduoan · 106 Perjudian · viii, 135 Q qabul · 3, 4, 5, 6, 7, 13, 15, 23, 25, 26, 28, 29, 34, 36, 47, 58, 61, 65, 70, 71, 77, 80, 81, 89, 90, 103, 109, 110, 118 qardh · 37, 78 qimâr · 135, 136 qiyas · 55, 121 R Rahn · vii, 76, 82, 86 Riba · viii, 131, 134, 144 rukun · v, 3, 4, 5, 12, 25, 26, 34, 47, 58, 65, 66, 70, 71, 80, 89, 90, 109, 118, 119, 122 S sâfih · 11, 26 sah · 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 23, 25, 26, 27, 28, 34, 36, 46, 48, 49, 50, 58, 65, 66, 71, 77, 80, 81, 82, 90, 91, 92, 98, 102,


150 108, 109, 110, 111, 112, 113, 116, 118, 122, 125, 126, 127, 128, 129, 140 salam · v, 15, 129 Sayembara · vii, 99 Sewa · vii, 52 Shighat Akad · 5 Shîghat akad · 5, 25 syarat · v, 3, 4, 5, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 25, 26, 27, 30, 34, 36, 37, 43, 47, 48, 50, 57, 58, 66, 67, 71, 74, 75, 77, 80, 81, 85, 90, 91, 92, 94, 95, 97, 101, 102, 103, 110, 111, 118, 119, 122, 128 Syirkah · vii, 39, 40, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 51 syirkah a’mal · 50 syirkah abdân · 45, 50 syirkah mudhârabah · 44, 50 syirkah wujûh · 44, 46, 50 T taflîs · 39, 51 U ulama · 3, 4, 9, 11, 12, 19, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 29, 31, 34, 35, 36, 38, 39, 40, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 50, 52, 53, 55, 56, 58, 59, 60, 61, 63, 65, 66, 69, 70, 71, 73, 74, 75, 76, 77, 78, 80, 82, 83, 84, 85, 86, 87, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 99, 101, 103, 105, 106, 107, 108, 109, 110, 114, 115, 118, 119, 120, 121, 122, 124, 125, 126, 127, 136, 139, 144 W wakalah · 2, 17, 20, 46, 50 Z Zahiriyah · 78 ziyâdah · 131


151 Daftar Pustaka ‘Abd al-Jalîl al-Râsyid ânî al-Marghinânî, al-Hidâyah Syarh Bidâyah alMubtadî, Mekah: Maktabahal-Tijâriyah, t.th ‘Abd al-Razâq al-Sanhûrî, ‘Aqd al-Îjârî: Îjâr al-Asyyâ', t.t: Dâral-Fikri, t.th -------, al-Wajiz fî Sharh al-Qanun al-Madani, t.th ‘Alî Ahmad al-Nadwî, al-Qâwa’id al- Fiqhiyyah: Mafhûmuha, Nasy'atuha, Tathawwuruha, Dirâsah Mu'allafâtiha, Adillatuha, Muhimmatuha, Tathbîqâtuha, Damaskus: Dâr al-Qalam, 144/1994 ‘Alî al-Khafîf, al-Syarikât fî al-Fiqh al-Islâmî: Buhuts Muqâranah, t.tp: Ma’had al-Dirâsât al-’Arabiyahal, t.th ‘Alî Fikrî, al-Mu’âmalât al-Mâdiyah wa al-Adabiyah, Kairo: Mathba’ah Musthafa al-Bâbî al-Halabî wa Aulâduh, 1357/1938 A. Rahman Ritonga, Fiqh Mumalah, Selangor: Edaran Kalam, 1999 Abd al-Rahman bin al-Fadhl bin Bahrâm al-Dârimî, Sunan al-Dârimî, Indonesia: Maktabah Dahlan, 1984 Abdul Hamid Hakim, Mu’în al-Mubîn, Jakarta: BulanBintang, 1976 Abdul Karim Zaidan, al-Madkhal li Dirâsah al-Islamîyah, Iskandariyah: Dâr Umar ibn Khathab, 1969 Abî Bakr bin Hasan al-Kasynâwî, Ashal al-Madârik Syarh Irsyâd alSâlik fî Fiqh Imâm al-A'immah Mâlik, t.tp: Dâr al-Fikr, t.th


152 Abû ‘Abdullah Muhammad ibn Yazid al-Qazwinî ibn Mâjah, Sunan Ibn Mâjah, Beirut: Dâr al-Fikri, t.th Abu Mawâhib al-Wahâb bin Ahmad al-Ansharî al-Sya’ranî, al-Mizân alKubrâ, Beirut: Dâr al-Fikri, 1451/1995 Abu Zakariâ bin Syarf al-Nawawî, Mughnî al-Muhtâj, Beirut: Dâr alFikri, t.th Afzalur Rahman, Economic Doctrines of Islam, diterjemahkan oleh Soeroyo dengan judul: Doktrin Ekonomi Islam, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf Ahmad, Mustaq, Etika Bisnis dalam Islam, diterjemahkan oleh Samson Rahman judul asli : Business Ethics in Islam, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2001 Al-‘Asqalânî Ibn Hajar, Bulûgh al-Marâm min Adillah al-Ahkâm, Bandung: Al-Ma’arif, t.th Al-Dardir, al-Syarh al-Shaghir, Mesir: Dar al-Ma'rifah, t.th -------, al-Syarh al-Kabir 'ala Hasyiah al-dasuqi, Mesir: Dar alMa'rifah, t.th Al-Fairuzzabadi, al-Qamus al-Muhith, Beirut: Mu'assasahal-Risalah, 1982 Al-Jassas, Ahkamal-Quran, Kairo: Mathba'ah al-Bahiyah, 1347 H Al-Kâsânî, ‘Alâ al-Dîn Abî Bakr Bin Mas’ud, Bada-i' al-Shana-i' fî Tartib al-Syara-i', Kairo: Mathba'ah al-Jamâliyah, 1328 H Al-Nawawî, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawî, Beirut: Dâral-Fikri, t.th Al-Shan’ani, Subul al-Salâm, Bandung: Maktabah Dahlan, t.th Al-Syairâzî, al-Muhazzab fî Fiq hMazhab al-Imâm al-Syafi'î, Beirut: Dâr al-fikr,1441/1994 Al-Zarqâ', Musthafâ Ahmad, al-Madkhal al-Fiqh al-'Am, Damaskus: Muthâbi' Alif Bâ' al-Adîb, 1968 ------, Nazhriyah al-Iltizâmal-‘Ammah fi al-Fiqh al-Islâmî, Damaskus: Muthâbi’ Alif Bâ' al-Adîb, 1968


153 Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999 CD ROM al-Syirkât Majmû’aĥ al-‘Alamiyyaĥ, 1996, Mausû’aĥ al-Hadits al-Syarîf Ibn ‘Âbidîn, Hâsyiah Radd al-Mukhtâr‘Âlâ al-Dar al-Mukhtâr, Mesir: Musthafa al-Bâbî al-Halabî wa Auladuh, 1386/1966 Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, I’lâm al-Muwaqqi’în ‘An Rabb al-‘Âlamîn, Beirut: Dâr al-Fikr, 1397/1977 --------, al-Qawânin al-Fiqhiyyah,Fez: Mathba'ah an-Nahdhah, tth --------, Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, Mesir: Musthafâ al-Babî al- Halabî wa Auladuh, 1390H/980M Ibn Humâm, Syarh Fath al-Qâdir, Beirut: Dâr al- Shadir, 1361 H Ibn Jarir al-Thabari, Jami’al-Bayân, Kairo: Dâr al-Ma’ârif, t.th Ibn Mâjah, Sunan Ibn Mâjah, Indonesia: Maktabah Dahlân, t.th Ibn Qudâmah, Al- Mughnî Li ibn Qudâmah, Mesir: Maktabah Jumhuriyah al-'Arabiyah, t.th Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujathid wa al-Nihayah al-Muqtashid, Kairo: Mathba'ah Jamaliyah, 1393 H Ibrahîm al-Bâjûrî, Hâsyiah al-Bâjûrî ‘Alâ ibn Qâsim al-Ghazî, Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th Muhammad al-Mubârak, Nizhâmal-Islâmal-Iqtishâd: Mabâdi' wa Qawâ’id ‘Âmmah, Beirut: Dâral-Fikr, t.th Muhammad al-Syahât al-Jundî, 'Aqd al-Murâbahah Bain al-Fiqh alIslâmî al-Ta'âmul al-Mashrafî, Kairo: Dâr al-Nahdhah al- 'Arabiyah, 1406/986 ‘Abd al-Bâqî, Muhammad Fu'ad, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh alQur'an al-Karîm, Kairo: Mathba’ah Dâr al-Kutub al-Mishriyah, t.th Muhammad ibn Ahmad al-Sarakhsi, al-Mabsût, Kairo: Mathba’ah alJamaliyah, t.th


154 Muhammad Khatîb Syarbainî, Mughnî al-Muhtaj, Beirut: Dâral-Fikri, t.th Muhammad Salâm Mazkûr , ‘Aqd al-Îjâr fî al-Fiqh al-Islâmî alMuqârran, Kairo: Dâr al-Nahdhah, t.th al-Naisabûrî, Muslim bin Hajjâj al-Qusyairî, Shahih Muslim bi Syarh alNawawî, Indonesia: Maktabah Dahlân, t.th Nasrun Haroen, Fiqh Mu'amalah, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000 Nazîh Hammâd, Mu’jam Mushthalahât al-Iqtishâdiyah fi Lughah alFuqaha’, Riyadh: al-Dâr al-‘Alamiyah al-Kitâb al- Islamî, 1451/1995 Sa’id ‘Abd al-‘Azhim, Akhtha' Syâ'i’ah fî al-Buyu’ wa Hukm ba’dh alMu’âmalât al-Hâmmah, Iskandariyah: Dâr al-îmân, t.th Sayid Sâbiq, Fiqh al- Sunnah, Beirut: Dâr al-Fikri, 1403/1983 Sihâb al-Din al-Ramlî, Nihâyah al-Muhtâj Syarh al-Minhâj, Beirut: Dâral-Fikri, 1404/1983 Syams Al-Dîn al-Syarakhsî, al-Mabsûth, Beirut: Dâr al-Fikri, 1409/1989 Syihâb al-Din al-Qulyûbî dan ‘Amîrah, Qulyûbî wa ‘Amîrah, Indonesia: Toha Putra, t.th Yusuf Qaradhawi, Fawâid al-Bunûk Hiya al-Ribâ al- Harâm, diterjemahkan oleh Setiawan Budi Utamo dengan judul: Bunga Bank Haram, Jakarta: Akbar Media EkaSarana, 2001


155 Tentang Penulis Aidil Alfin, adalah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dengan mata kuliah keahlian Fikih (Hukum Islam). Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 20 Mei 1972, menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota kelahirannya. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Syari'ah IAIN Imam Bonjol Padang di Bukittinggi, tahun 1993. Berselang 4 tahun berhasil menyelesaikan studinya sebagai wisudawan terbaik dengan yudisium cum laude, tahun 1997. Pada tahun 1999 diangkat menjadi dosen pada Fakultas Syari'ah IAIN Imam Bonjol Padang di Bukittinggi. Pada tahun yang sama mendapat beasiswa dari Departemen Agama RI untuk menempuh pendidikan S2, meraih Gelar Master pada Program Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang, 2002. Kemudian melanjutkan studi Program Doktor/S3 pada University Kebangsaan Malaysia (UKM) Fakultias Kajian Islam Jurusan Syariah dan berhasil merampungkan studinya pada tahun 2012. Di samping aktif menjadi pemakalah atau peserta pada forumforum ilmiyah, baik regional, nasional dan internasional, penulis juga aktif melakukan penelitian dan menulis. Karya tulis dan penelitian yang telah dilakukan antara lain, “Eksistensi Saksi Non-Muslim Dalam Penyelesaian Perkara Perceraian Di Pengadilan Agama” (skripsi, 1997), “Fanatisme Mazhab di Kalangan Mahasiswa Sekolah Tinggi


156 Agama Islam Negeri (STAIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi” (penelitian, 1999). Bisnis MLM dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam (buku, 2003), “Lembaga Perekonomian Umat: Implementasi Doktrin Ekonomi Islam, dan Buku “Merujuk Ke Ekonomi Islam” (buku, 2005)."Persepsi dan Preferensi Masyarakat Bukittinggi Terhadap Bank Syari'ah (penelitian, 2005). Di tengah masyarakat beliau juga aktif sebagai pengurus dan Pembina berbagai macam organisasi kemasyarakatan. Diamanahkan sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia kota Bukittinggi dua periode, yaitu 2015-2020 dan 2021-2025.


Click to View FlipBook Version