89 kepada Cinta (sebagai al-muhal) sebanyak lima juta rupiah (almuhal bih). b. Dasar Hukum al-Hiwâlah Akad al-hiwâlah merupakan salah satu akad yang dibolehkan dalam Islam. Legalitasnya diakui hadis dan Ijmak. Dalam hadis sebagaimana sabda Rasulullah saw: مطل الغنى ظلم وإذا التبع أحدكم علةى ملةئ فاليتبع )رواه الجماعل( "Orang kaya yang mengulur-ulur pembayaran hutangnya dalah zalim, jika salah seorang di antara kamu dialihkan hutangnya kepada yang mudah membayar hutang maka hendahlah ia mengalihkannya ( H.R Jamaah) Dalam hadis riwayat Ahmad dan Abi Syaibah dikemukakan : و من أحيل علةى ملئ فاليحتل "Dan siapa dipindahkan piutangnya kepada orang yang kaya, maka hendaklah ia berpindah" Menurut pendapat Jumhur ulama perintah menerima pengalihan hutang oleh pemiutang asal adalah sunat, oleh karena itu pemiutang tidak wajib menerima pemindahan itu. Sedangkan menurut Abu Daud perintah menerima pengalihan hutang tersebut bermakna wajib, maka suka tidak suka pihak pemiutang wajib menerima pemindahan tersebut.181 Berdasarkan ayat dan hadis di atas para fukahak sepakat (ijmak) bahwa hukum akad al-hiwâlah adalah boleh. c. Rukun dan Syarat al-Hiwâlah Menurut ulama Hanafiyah rukun akad al-hiwâlah hanya satu yaitu shighat akad yang terdiri dari ijab dan qabul. 182 Ijab adalah pernyataan pengalihan hutang dari orang yang memindahkan hutangnya (al-muhil). Sedangkan qabul adalah pernyataan 181Al-San'ani, Subul al-Salam, (Kairo: Dar al-fikri,t.th ), jil. III, h.61 182 Al-Kasani, jil. VI, h. 307
90 menerima al-hiwâlah oleh al-muhal 'alaih dan al-muhil. Sedangkan menurut jumhur fukahak, seperti Malikiyah, Syafi'iyah, Hanabilah dan lain-lain, rukun akad al-hiwâlah ada enam, yaitu; 183 a) orang yang memindahkan hutang (al-muhil), b) pemiutang asal (al-muhal 'alaih), c) orang yang menerima tanggung jawab membayar hutang (almuhal), d) hutang pihak pertama (al-muhil) kepada pihak kedua (al-muhal 'alaih), e) hutang pihak ketiga (al-muhal) kepada pihak pertama (almuhil), f) shighat akad (ijab dan qabul). Adapun syarat akad al-hiwâlah diperinci oleh ulama dari rukun-rukun di atas sebagai berikut :184 1) Syarat orang yang memindahkan hutang (al-muhil), ada dua, yaitu : a) Cakap bertindak hukum, dengan arti kata harus baligh, berakal dan cerdas. Oleh sebab itu, akad al-hiwâlah yang dilakukan oleh anak kecil yang mumayiz (berakal) tidak sah kecuali dengan adanya keizinan walinya. b) Adanya persetujuan atau kerelaan. Jika dia dipaksa untuk memindahkan hutangnya, maka akad al-hiwâlah tidak sah. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa sebagian orang merasa harga diri atau martabatnya terhina bila hutangnya dialihkan pada pihak ketiga, meskipun pihak ketiga itu berhutang kepadanya. Dia merasa malu dengan anggapan orang seolah-olah dia tidak mampu membayar hutangnya. 2) Syarat yang berkaitan pemiutang asal (al-muhal 'alaih), ada dua, yaitu; a) Cakap bertindak hukum, sebagaimana syarat al-muhil. 183Al-Khatib Syarbaini, jil.II, h 193. Ibn Humâm, loccit. 184Al-kasani, jil. VI, h. 16 dst. Ibn Rusyd, jil. II, h.295 dst. Al-Dasuki, jil III, h. 335 dst. Al-Khatib Syarbaini, jil.II, h 194 dst. Al-Sarakhsi, jil. I, h.337 dst. Ibn Qudamah, jil. IV, h. 553 dst
91 b) Menurut ulama Hanafi, sebahagian besar ulama Maliki dan ulama Syafi'i pihak pemiutang asal mesti setuju atau redha terhadap pemindahan tuntutan hutang tersebut, sebab tabiat orang dalam melunasi/membayar hutang berbedabeda, ada yang mudah dan ada pula yang sulit membayarnya dengan bermacam-macam alasan. Padahal konsekwensi pemindahan hutang ini adalah berpindahnya hak menuntut hutang dari pihak pertama kepada pihak lain yang belum tentu dikenal oleh pemiutang asal. Oleh karena itu, bila pihak pemiutang merasa tidak kenal atau kurang percaya dengan pihak ketiga (al-muhal) kemudian ia merasa keberatan, maka akad al-hiwâlah tidak boleh dipaksakan. Jumhur ulama juga menguatkan bahwa pentingnya syarat ini karena kalimat perintah dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Abi Syaibah :( فاليحتل ...." )...... maka hendaklah ia berpindah", hanyalah memfaedahkan bahwa hukum akad al-hiwâlah adalah sunat, bukan wajib. Sedangkan Ulama Hanabilah tidak menjadikan persetujuan pemiutang sebagai syarat akad al-hiwalah. Sebab kalimat perintah dalam hadis di atas menunjukkan wajib. Oleh karena itu pihak pemiutang wajib menerima pemindahan piutangnya kepada pihak ketiga. 3) Syarat yang berkaitan dengan orang yang menerima tanggung jawab membayar hutang (al-muhal) sama dengan syarat yang dikenakan kepada pemiutang asal (al-muhal alaih). Sebahagian ulama menambahkan bahwa kesediaan menerima pengalihan hutang hendaklah dinyatakan dalam suatu majlis akad. 4) Syarat yang berkaitan dengan hutang (al-muhal bih ), yaitu ; a) Yang dialihkan itu mestilah hutang yang berlaku antara pemiutang asal dengan orang yang memindahkan hutang. Seandainya tidak ada hutang-piutang antara mereka, maka kedudukan akadnya bukan akad al-hiwalah, tetapi akad perwakilan.
92 b) Yang dipindahkan itu mestilah hutang-piutang yang sudah pasti. Jika yang dialihkan itu adalah hutang yang belum pasti, misalnya memindahkan hutang yang timbul akibat jual beli yang masih berada dalam masa khiyar (opsi)185 adalah tidak sah. c) Dalam akad al-hiwâlah bersyarat (al-hiwâlah almuqayyadah), kedua-dua hutang tersebut (hutang pihak I kepada pihak ke-2 dan hutang pihak ke-3 kepada pihak I) mestilah sama kualitas dan kuantitasnya. Jika terdapat perbedaan kualitas (misalnya beras bermutu tinggi dengan beras dolog) atau kuantitasnya (misalnya hutang pihak I kepada pihak ke-2 sebanyak Rp.10 juta, sedangkan hutang pihak ke-3 kepada pihak I hanya Rp.5 juta), maka akad alhiwâlah tidak sah. Akan tetapi dalam akad al-hiwâlah yang bersifat mutlak (al-hiwâlah al-muthlaqah) tidak disyaratkan kedua hutang itu mesti sama kualitas dan kuantitasnya. d) Menurut ulama Syafi'iyah, kedua hutang itu mesti sama jatuh tempo pembayarannya. Jika berbeda maka akad alhiwâlah tidak sah. d. Bentuk-bentuk akad al-hiwâlah Ulama Hanafiyah membagi akad al-hiwâlah kepada beberapa bagian dilihat dari beberapa sudut pandang. Dilihat dari segi penetapan syarat, akad al-hiwâlah terbagi dua, yaitu: 1) Al-hiwâlah al-mutlaqah, yaitu pemindahan hutang yang tidak mensyaratkan adanya hutang piutang antara orang yang memindahkan hutang (al-muhil) kepada orang yang menerima tanggung jawab membayar hutang (al-muhal). Atau bisa juga dalam bentuk, pihak al-muhal memang berhutang kepada almuhil, tetapi ketika akad al-hiwâlah dilakukan pihak al-muhil tidak menyebutkan bahwa pemindahan kewajiban membayar hutang itu sebagai ganti hutang al-muhal kepadanya. 185 Hak khiyar (hak opsi) adalah hak yang dimiliki penjual dan pembeli untuk meneruskan atau membatalkan transaksi jual beli dalam tenggang waktu tertentu.
93 2) Al-hiwâlah al-Muqayyadah (al-hiwâlah bersyarat), yaitu pemindahan hutang yang tidak mensyaratkan adanya hutang piutang antara orang yang memindahkan hutang (al-muhil) kepada orang yang menerima tanggung jawab membayar hutang (al-muhal). Dilihat dari segi objek yang beralih, maka al-hiwâlah terbagi dua, yaitu : 1) Pemindahan hak, yaitu perpindahan hak menuntut piutang dari orang yang berhutang kepada pemiutang asal. 2) Pemindahan hutang, yaitu perpindahan kewajiban membayar hutang dari orang yang berhutang kepada orang yang menerima tanggung jawab membayar hutang (al-muhal), Pada al-hiwâlah al-mutlaqah hanya berlaku pemindahan hak menuntut pembayaran hutang, pemindahan hutang secara faktual tidak berlaku. Sedangkan pada al-hiwâlah al-muqayyadah baik pemindahan hak ataupun pemindahan hutang berlaku sekaligus, karena dengan adanya pemindahan kewajiban membayar hutang dari pihak pertama kepada pihak ketiga, sekaligus juga terjadi perpindahan menuntut hak piutang dari pihak pertama kepada pihak kedua. Ulama Hanafiyah186 membolehkan kedua bentuk akad alhiwâlah di atas, berdasarkan pengertian umum hadis riwayat Ahmad dan Abi Syaibah dikemukakan : و من أحيل علةى ملئ فاليحتل "Dan siapa dipindahkan piutangnya kepada orang yang kaya, maka hendaklah ia berpindah" Sementara menurut pendapat Jumhur ulama (Malikiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah)187 hanya al-hiwâlah al-muqayyadah yang dibolehkan, sebab pada al-hiwâlah al-mutlhlaqah terdapat peluang penipuan (gharar) yang besar. Misalnya pihak al-muhil bisa saja meminta pelunasan piutangnya kepada al-muhal setelah al-muhal 186 Ibnu "Abidin, jil. IV, h. 404 187 Ibnu Qudamah, jil. IV, h.530.
94 melunasi tanggung jawab pengalihan hutang dari al-muhil tersebut, sebab dalam akad al-hiwâlah pihak al-muhil tidak menyebut pengalihan itu sebagai ganti hutang al-muhal kepadanya, yang disebut hanya pengalihan hutang saja, sehingga al-muhal terpaksa membayar dua kali untuk satu hutang. e. Akibat hukum akad al-hiwâlah Apabila akad al-hiwâlah telah terjadi, maka ada beberapa akibat hukum yang akan terjadi, yaitu :188 1) Lepasnya tanggung jawab orang yang memindahkan hutang dari hutangnya, demikian menurut pendapat Jumhur ulama. Sedangkan menurut pendapat sebagian ulama Hanafi, seperti Zufar, Ibnu Humam dan lain-lain, pemindahan hutang tidaklah mengakibatkan lepasnya tanggung jawab pihak pertama terhadap tuntutan hutang dari pemiutang asal. Pihak pertama dalam akad al-hiwâlah berkedudukan sebagai penjamin. Oleh karena itu, bila pihak ketiga tidak melaksanakan kewajibannya, bangkrut atau meninggal sebelum hutang dilunasi, maka pemiutang asal dapat menuntut piutangnya kembali kepada pihak pertama. 2) Adanya hak pemiutang asal untuk menuntut piutang kepada penerima tanggung jawab membayar hutang (pihak ketiga). 3) Menurut ulama Hanafiyah, jika al-hiwâlah al-muthlaqah terjadi atas kehendak pihak pertama, maka segala syarat yang ditetapkan oleh pihak pertama dengan pihak ketiga ketika mereka melakukan akad hutang-piutang dahulu tetap berlaku, khususnya apabila jumlah hutang piutang antara mereka tidak sama dengan kewajiban yang mesti dibayarkan pihak ketiga kepada pemiutang asal. 188Al-Kasani, jil. IV, h.17 dst. Al-Khatib Syarbaini, jil.II, h 195 dst. Al-Syairazi, jil. I, h.328 dst. Ibn Humâm, Syarh Fath al-Qâdir, ( Beirut : Dâr al-Shadir, 1316 H), Juz V, h.445. Ibn Qudamah, jil.IV, h.525.
95 f. Berakhirnya akad al-Hiwâlah Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan berakhirnya akad al-hiwâlah sebagai berikut :189 1) Apabila salah satu pihak memfasakh (membatalkan akad tersebut sebelum tujuannya tercapai), maka akad al-hiwâlah tersebut berakhir. Dengan demikian, hak dan kewajiaban para piahk kembali seperti semula, pihak pemiutang asal menunut piutangnya kepada pihak pertama dan pihak pertma menuntut hutangnya kepada pihak ketiga. 2) Adanya halangan syar'i yaitu pihak ketiga (penerima pindah hutang mengalami bangkrut, kematian atau mengingkari akad al-hiwâlah dengan bersumpah sedangkan pihak kedua (pemiutang asal) tidak mempunyai bukti. Menurut ulama Hanafiyah jika terdapat halangan syar'i di atas, maka akad alhiwâlah berakhir dan pemiutang asal berhak menuntut piutangnya kembali kepada pihak pertama, sebab akad alhiwâlah termasuk akad penjaminan. Sedangkan menurut pendapat jumhur apabila akad al-hiwâlah telah tetap (lazim), maka pihak kedua tidak berhak lagi menuntut piutangnya kepada pihak pertama, kecuali ketika akad ditetapkan persyaratan bahwa jika pihak ketiga mengalami bangkrut, kematian, mengulur-ulur pembayaran, maka tuntutan piutang kembali kepada pihak pertma. Sesuai dengan Hadis Nabi Saw : عن ابن عمرو بن عوف المزني أن رسول هللا صلى هللا عليه وسلم قال المسلمون على شروطهم إال شرطا حرم حالال أو أحل حراما )رواه الترمذى(190 "Dari Ibnu Umar bin ‘Auf al-Muzani, bersabda Rasulullah Saw.:“Orang muslim itu terikat oleh syarat yang mereka buat, 189Al-Kasani, jil. VI, h.18 dst. Ibn Humam, jil. V, h. 447. Al-sarakhsi, jil. 20, h.52. Ibn Rusyd, jil. IV, h. 526. Ibn Qudamah, jil. IV, h. 526. Al-Syirazi, jil. I, h. 338. AlSyarbaini al-Khatib, jil. I, h 195 dst 190CD ROM al-Syirkât Majmû’aĥ al-‘Alamiyyaĥ, 1996, Mausû’aĥ al-Hadits alSyarîf, Sunan al-Tirmizi, Kitab al-Ahkâm, hadis nomor 1272.
96 kecuali syarat itu mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram (H.R Tirmizi)" 3) Penerima pindah hutang melunasi hutang yang dialihkan kepadanya kepada pihak kedua. 4) Pemiutang asal meninggal dunia, sedangkan penerima pindah hutang adalah ahli warisnya. 5) Pemiutang asal menghibahkan atau menyedekahkan harta yang menjadi hutang tersebut kepada pihak ketiga (penerima pindah hutang). 6) Pemiutang asal membebaskan pihak ketiga dari segala hutanghutangnya. 6. Makelar (simsâr) a. Pengertian simsâr Makelar atau jasa perantara merupakan hal yang sudah lazim dilakukan dalam dunia perdagangan. Dalam terminologi fikih makelar/jasa perantara ini disebut simsâr atau dilâl. Syams al-Dîn al-Syarakhsî (ulama Hanafiyah) mendefinisikan simsâr sebagai berikut : اسم لمن يعمل لغيره باء رة بيعا و شراء 191 “Istilah yang diperuntukkan bagi orang yang bekerja untuk orang lain dengan suatu kompensasi (upah), baik untuk menjual atau membeli barang.” Definisi senada juga dikemukakan oleh Sayyid Sabiq (ulama fikih kontemporer Mesir), menurutnya simsâr adalah : الذى يتوسط بين البائع والمشترى لتسهيل عمليل البيع 192 “Orang yang menjadi perantara antara pihak penjual dan pembeli untuk memudahkan atau melancarkan transaksi jual beli. 191Syams Al-Dîn al-Syarakhsî, al-Mabsûth, (Beirut : Dâr al-Fikri, 1409/1989), jil. XIII, juz XV, h. 114 192Sayid Sabiq ,Fiqh al-Sunnah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1403 H/1983 M0, jil. III, h141
97 Dari beberapa definisi di atas terdapat tiga unsur pokok untuk terjadinya akad simsâr (makelar) ini, yaitu pihak penjual, pihak perantara dan konsumen. b. Hukum Akad Simsâr Ulama berbeda pendapat tentang hukum jual beli melalui simsâr (makelar) ini. Menurut ulama Syafi’iyah hukumnya haram, yaitu dalam bentuk orang kota menjadi makelar untuk orang desa, jika orang kota menjadi makelar untuk orang kota hukumnya boleh. Menurut ulama Malikiyah hukumnya fasakh. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, makelar boleh secara mutlak.193 Menurut Imam Bukhari, Ibnu Abbas dan Ibnu Sirin, bentuk transaksi dengan menggunakan tenaga penjual ini boleh.194 Hal ini didasarkan kepada hadis Rasulullah Saw. yang berbunyi : عن ابن عمرو بن عوف المزني أن رسول هللا صلى هللا عليه وسلم قال المسلمون على شروطهم إال شرطا حرم حالال أو أحل حراما )رواه الترمذى( 195 Dari Ibnu Umar bin ‘Auf al-Muzani, bersabda Rasulullah Saw.:“Orang muslim itu terikat oleh syarat yang mereka buat, kecuali syarat itu mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram (H.R Tirmizi) Perbedaan pendapat tentang legalitas akad simsâr ini agaknya disebabkan adanya kekhawatiran bahwa simsâr akan melakukan penipuan harga. Pada bisnis modern, kecil kemungkinan distributor melakukan penipuan harga, sebab kontrol dari perusahaan dan konsumen cukup ketat. 193Al-Nawawî, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawî, (Beirut: Dâr al-Fikri, t.th), juz X, h.164-165. 194 Lihat juga Sa’id ‘Abd al-‘Azhim, Akhtha' Syâ'i’ah fî al-Buyu’ wa Hukm ba’dh al-Mu’âmalât al-Hâmmah, (Iskandariyah : dâr al-îmân, t.th), h.51. 195CD ROM al-Syirkât Majmû’aĥ al-‘Alamiyyaĥ, 1996, Mausû’aĥ al-Hadits alSyarîf, Sunan al-Tirmizi, Kitab al-Ahkâm, hadis nomor 1272.
98 Dalam dunia perdagangan modern, sering ditemui adanya perusahaan atau produsen yang menggunakan atau memanfaatkan jasa penjualan (salesmen/salesgirls) untuk memasarkan produk mereka kepada konsumen (end users). Kepercayaan yang diberikan oleh pihak perusahaan kepada para distributor itu (para penjual) untuk menjual produk-produk perusahaan tersebut kepada konsumen identik dengan akad simsâr. Di mana distributor berkedudukan sebagai pihak perantara yang bertugas mendistribusikan produk perusahaan kepada konsumen. Distributor selaku makelar (simsâr) tidak boleh menyalahi ketentuan atau persyaratan yang telah ditetapkan oleh perusahaan dalam proses penjualan produk-produknya. Sebab distributor dalam hal ini mempunyai kedudukan sebagai orang yang diberi amanah oleh perusahaan. Orang yang diberi amanah harus memegang teguh amanah yang diberikan kepadanya dan tidak boleh mengkhianati amanah tersebut. Dalam kajian fikih kedudukan orang yang diberi amanah sama dengan kedudukan wakîl dalam akad wakâlah. Secara etimologi wakâlah berarti penyerahan atau pelimpahan. Sedangkan secara terminologi (syarak) berarti penyerahan tanggung jawab dari seseorang kepada orang lain untuk bertindak atas nama dirinya, baik secara mutlak maupun terbatas.196 Bila makelar melanggar ketentuan-ketentuan dalam menjual produk perusahaan kepada konsumen berarti dia telah melanggar amanah yang diberikan perusahaan kepadanya. Tindakan penyalahgunaan kepercayaan perusahaan ini disebut dengan akad fudhûlî, yaitu menjual produk/barang orang lain di luar kewenangan yang diberikan oleh pemiliknya atau tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.197 Hukum akad fudhûlî 196Al-Shan’ani, Subul al-Salâm, (Bandung : Maktabah Dahlan, t.th), jil. III, h. 64 197Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1409 H/1989 M),.jil. IV, h. 164
99 tergantung kepada keizinan pemilik, bila pemilik mengizinkan maka akad menjadi sah, bila tidak maka hukumnya menjadi batal. 7. Sayembara (al-Ji'alah) a. Pengertian al-Ji'alah Secara etimologi al-ji'âlah berarti hadiah yang diberikan kepada orang lain atas pekerjaan yang dilakukannya. Al-ji'alah dalam bahasa sehari-hari sering disebut dengan terma sayembayara atau janji memberi hadiah. Sedangkan secara terminologi terdapat beberapa definisi al-ji'âlah yang dikemukakan oleh para ulama fikih. 1) Menurut ulama Syafi'iyah dan Hanabilah : “Penegasan ganjaran terhadap sesuatu pekerjaan tertentu yang diketahui atau yang tidak diketahui ataupun yang sulkar dipastikan hasilnya." 198 2) Menurut ulama Malikiyah: "Upah terhadap suatu pekerjaan atau manfaat yang diduga akan berhasil". 199 Dua definisi yang dikemukakan di atas menggambarkan bahwa ganjaran atau upah yang diberikan dikaitkan dengan suatu pekerjaan yang mungkin berhasil dan mungkin pula tidak. Misalnya seseorang berkata; " Siapa yang dapat menggali sumur dan menemukan air untukku atau siapa yang dapat menemukan anak yang hilang atau siapa yang mempunyai catatan waktu yang paling cepat dalam perlombaan atau siapa yang memperoleh nilai ujian paling tinggi akan mendapat ganjaran sekian. Dalam kitabkitab fikih, biasanya fukahak sering memberikan contoh dengan mengembalikan binatang tunggangan yang hilang (sesat) atau budak (hamba sahaya) yang melarikan diri. Adanya ganjaran yang diberikan atas pekerjaan yang dilakukan seolah-olah memberi kesan bahwa akad al-ji'âlah sama dengan ijârah (upah-mengupah). Sekalipun kedua-dua akad ini sama-sama memberikan ganjaran atau upah terhadap suatu 198Al-Syarbaini al-Khatib, juz II, h. 429 199 Al-Dardir, al-syarh al-kabir, juz IV, h.60. Ibn Rusyd, jil. II, 232.
100 pekerjaan, tetapi keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan, sebagai berikut:200 1) Ganjaran pada al-ji'âlah hanya diberikan apabila pekerjaan telah sempurna dilakukan, misalnya mengembalikan barang yang hilang atau penggali sumur telah menemukan air. Sedangkan pada ijârah, upah tetap diberikan sesuai dengan kadar pekerjaan yang dilakukan, sekalipun pekerjaan itu belum selesai. Dengan kata lain, ganjaran pada akad al-ji'âlah terikat dengan hasil pekerjaan, sedangkan upah pada akad ijârah terikat pada proses pekerjaan itu. 2) Sebagian akad al-ji'âlah mengandung ketidakpastian, baik dari segi jenis pekerjaan, masa, ataupun hasil. Misalnya dalam kasus mengembalikan binatang yang hilang (sesat), tidak diketahui apa jenis pekerjaan yang mesti dilakukan, berapa lama masa untuk mengembalikannya dan kalau dilaksanakan tingkat keberhasilannyapun tidak pasti. Sedangkan pada akad ijârah jenis pekerjaan dan masanya mesti diketahui, seperti membangun rumah, menjahit pakaian dan sebagainya. 3) Pada akad al-ji'âlah tidak dibenarkan pemberian uang muka kepada pelaksana, sedangkan pada akad ijârah dibolehkan pemberian uang muka kepada pekerja. 4) Akad al-ji'âlah tidak mengikat, sedangkan akad ijârah mengikat kedua belah pihak, oleh karena itu tidak boleh dibatalkan secara sepihak. b. Dasar Hukum al-Ji'alah Ulama berbeda pendapat tentang status hukum akad alji'âlah. Menurut ulama Hanafiyah201 akad al-ji'âlah tidak boleh, sebab mengandung penipuan atau ketidakjelasan apabila diqiyaskan kepada ijârah, yaitu tidak diketahuinya jenis pekerjaan, orang yang melaksanakan pekerjaan dan masa. Hanya saja mereka membolehkan al-ji'âlah berdasarkan istihsan, yaitu memberikan ganjaran (ju'l) kepada seseorang yang berhasil 200 Al-Syarbaini al-Khatib, juz II, h. 430. Ibn Qudâmah,, juz V, h. 657. Ibnu Rusyd, ., h. 233 201 Al-kasani, jil. VI, h. 205
101 mengembalikan hamba yang lari dari tuannya dalam masa tiga hari atau lebih sebanyak 40 dirham. Jika kurang dari tiga hari maka ganjarannya dikurangi secara proporsional, misalnya dua hari dapat dua pertiga, sehari dapat sepertiga. Pemberian ganjaran ini dalam pandangan Hanafiyah adalah sebagai salah satu cara pemilik menjaga hartanya. Menurut jumhur ulama (selain Hanafiyah), status akad alji'âlah dibolehkan di sisi syara' berdasarkan kisah Yusuf a.s bersama saudara-saudaranya di dalam Al-quran surat Yusuf ayat 72 : قالوا ن قد صواع الملك ولمن اء به حمل بعير و أنا به زعيم "Mereka berkata :"Kami kehilangan piala raja dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan aku jamin itu" (Q.S Yusuf : 72) Demikian juga di dalam Hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh jamaah (kecuali al-Nasai) dari Abu sa'id al-Khudriy, yang maksudnya; Serombongan sahabat Rasulullah saw pergi ke subuah perkampungan Arab Badui yang enggan melayani mereka sebagai tamu. Dalam keadaan itu, tiba-tiba pemimpin mereka digigit ular berbisa, lalu di antara mereka berkata kepada para sahabat; "Adakah di antara kalian yang bisa mengobati pemimpin kami?" Sahabat menjawab; Kami hanya mau mengobati dengan syarat kalian harus memberi upah kepada kami. Kemudian mereka menjanjikan akan memberi sekumpulan kambing jika pemimpin mereka dapat disembuhkan. Kemudian salah seorang sahabat membacakan umm al-qur'an (al-Fatihah) dan menyapukannya pada bagian yang luka itu dan dengan izin Allah Swt. lelaki itupun sembuh. Mereka kemudian memberikan kambing-kambing yang dijanjikan itu. Para sahabat berkata; " Kami tidak akan menerimanya sebelum kami meminta izin kepada Rasulullah saw. Ketika para sahabat menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw, Baginda tertawa sambil berkata: " Apa salahnya, dia adalah do'a!
102 Ambillah upahnya dan berikan jangan lupa bagianku. (HR. Bukhari)"202 Kebolehan al-ji'âlah ini juga didukung oleh logika dan kebiasaan, bahwa sesuatu pekerjaan yang tidak mampu dilakukan, apabila meminta bantuan orang lain mesti diberikan ganjarannya atau upah untuk merangsang orang lain melakukannya. c. Syarat-Syarat al-Ji'âlah Untuk sahnya akad al-ji'âlah diperlukan beberapa syarat sebagai berikut :203 1) Pihak pemberi ganjaran/hadiah mestilah cakap bertindak hukum, yaitu baligh dan berakal. Sedangkan pihak yang membuat sayembara (al-ji'âlah) mestilah orang yang sanggup melakukan pekerjaan yang dikehendaki olrh pemberi hadiah. 2) Ganjaran atau hadiah mesti dari harta yang jelas dan bernilai di sisi syara'. Oleh karena itu, tidak sah al-ji'âlah bila ganjarannya ikan di kolam atau minuman keras dan sebagainya. 3) Mesti dibuat melalui pengumuman yang berisi pernyataan kehendak dari pemberi ganjaran (ijab). Mengenai terma, syarat, upah dan jenis pekerjaan adalah merupakan kehendak bebas pemberi ganjaran. Penerimaan orang yang membuat sayembara (qabul) tidak disyaratkan, karena ia merupakan kehendak sepihak dari pemberi hadiah. 4) Manfaatnya atau target dari pekerjaan itu mesti diketahui dengan pasti. Oleh karena itu, tidak dibolehkan al-ji'âlah dalam hal mengeluarkan jin dari tubuh seseorang atau menghilangkan pengaruh sihir dari seseorang, karena tidak dapat dipastikan apakah jin itu benar-benar sudah keluar atau pengaruh jin itu benar-benar sudah hilang. Dalam al-ji'âlah berlaku kaedah : " 202 CD Room al-Syirkât majmû’ah al-‘Alamiyyah, 1996, Mausû’aĥ al-Hadits al-Syarîf, Sahih Bukhari, Kitab al-Thibb, hadis no. 2596 203 Al-Syarbaini al-Khatib, juz II, h. 429 dst. Ibn Qudâmah,, juz V, h. 657 dst. Ibnu Rusyd, Jil. II, h. 233 dst al-Syairâzî, al-Muhazzab fî Fiqh Mazhab al-Imâm al-Syafi'î, (Beirut: Dâr al_fikr, 1414/1994), jil. I, h.411
103 Segala sesuatu yang boleh diupahkan (diijarahkan) boleh pula di ji'âlahkan". 5) Ulama Malikiyah mensyaratkan bahwa al-ji'âlah tidak boleh dibatasi waktunya. Tetapi sebagian ulama yang lain mengatakan boleh mengaitkan syarat selesainya pekerjaan dengan masa. Misalnya siapa yang mampu berlari 100 meter dalam waktu kurang dari 10 detik, maka akan mendapat hadiah lima juta rupiah, 10 sampai 11 detik tiga juta, jika lebih dari 11 detik tidak dapat apa-apa. d. Sifat akad al-ji'alah Ulama yang membolehkan akad al-ji'âlah sepakat bahwa sifat akad al-ji'âlah tidak mengikat (ghair al-lâzim). artinya ia boleh dibatalkan oleh salah satu pihak, baik orang yang membuat sayembara (al-ji'âlah) atau pihak pelaksana. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang kapan akad ini boleh dibatalkan? Menurut ulama Malikiyah, pembatalan hanya boleh dilakukan sebelum pelaksana memulai pekerjaannya, yaitu pada masa persiapan. Sedangkan menurut pendapat ulama Syafi'iyah dan Hanabilah pembatalan boleh dilakukan oleh kedua belah pihak kapan saja sebelum pekerjaan tersebut selesai. Jika pihak pelaksana membatalkan akad sebelum pekerjaannya selesai, maka ia tidak berhak mendapatkan imbalan apapun. Akan tetapi, apabila yang membatalkan akad pihak yang membuat sayembara setelah pekerjaan itu dimulai oleh pelaksana, maka ia harus membayar upah pelaksana menurut kadar usaha yang telah dilakukannya, tentunya dengan mempertimbangkan ongkos, makan, tenaga dan sebagainya. Demikianlah pendapat yang paling populer di kalangan ulama Syafi'iyah.204 Apabila pekerjaan itu diselesaikan oleh lebih dari satu orang, maka mereka berkongsi bersama terhadap ganjaran yang diterima. Karena pekerjaan itu dapat disempurnakan atas kerjasama mereka semua. 204 Al-Syirazi, jil. I, h. 338. Ibn Qudamah, jil. V, h. 658. Al-Syarbaini al-Khatib, jil. IV, h. 443
104 e. Berakhirnya akad al-ji'alah Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan berakhirnya akad al-ji'alah sebagai berikut : 1) Apabila pihak yang membuat sayembara membatalkan alji'âlah. Pembatalan ini harus dilakukan sebelum pekerja menyempurnakan pekerjaan yang disuruh oleh orang yang membuat sayembara (al-ji'âlah). 2) Pihak pekerja menyempurnakan pekerjaannya dan orang yang membuat sayembara (jialah) memberikan ganjaran atau hadiah yang dijanjikan. 3) Meninggalnya salah satu pihak, baik yang menjanjikan ganjaran atau pelaksana. Hal ini kalau akad al-ji'âlah ditujukan kepada orang tertentu saja. Ada tiga aktifitas ekonomi yang menjadi fokus pembicaraan dan diskusi di kalangan fukahak dan ekonom muslim, yaitu bagi hasil pertanian, kerjasama pengairan dan Mugharasah. 1. Bagi Hasil Pertanian (al-Muzâra'ah) a. Pengertian Secara literal al-muzâra'ah adalah kerjasama dalam sektor pertanian antara pemilik lahan dengan petani penggarap. Dalam terminologi fikih terdapat beberapa definisi al-muzara'ah yang dikemukakan ulama fikih. Ulama Malikiyah mendefinisikannya dengan:205 الشركل فى الزرع "Kerjasama dalam sektor pertanian." Menurut ulama Hanabilah al-muzara'ah adalah:206 دفع اءرض الى من يزرعها أو يعمل عليها و الزرع بينهما 205Al-Dardir, al-Syarh al-Kabir 'ala Hasyiah al-dasuqi, Jilid. III, him. 372. 206Ibnu Qudamah, Jilid. V, him. 382.
105 "Penyerahan lahan pertanian kepada petani penggarap atau pekerja dan hasilnya dibagi berdua." Dilihat dari segi penyediaan benih atau bibit, Imam Syafi'i membedakan kerjasama dalam sektor pertanian ini kepada dua terma, yaitu al-mukhâbarah dan al-bazr. Almukhâbarah kerjasama dalam sektor pertanian di mana bibit disediakan oleh petani penggarap, sedangkan pada al-bazr bibit disediakan oleh pemilik lahan.207 Kerjasama pertanian yang berlaku dalam masyarakat Indonesia lebih cenderung kepada bentuk al-mukhâbarah, di mana bibit disediakan oleh petani penggarap, sedangkan pembelian pupuk dan racun hama ditanggung bersama. Kerjasama pertanian semacam ini lazim disebut "paroan sawah" atau dalam masyarakat Minang disebut "pasaduoan". b. Hukum Akad al-Muzâra'ah Ulama berbeda pendapat tentang status hukum akad almuzâra'ah. Jumhur fuqahak yang terdiri dari ulama Malikiyah, Hanabilah, Abu Yusuf dan Muhammad ibn al-Hasan asy-Syaibani (keduanya sahabat Abu Hanifah) dan ulama Zahiri berpendapat bahwa akad al-muzâra'ah berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh jamaah (mayoritas perawi hadis) dari Abdullah bin 'Umar r.a: عن عبد هللا بن عمر رضى هللا عنهما قال عامل النىب ص.م خيرب بشطر ما خيرج منها من مثر أو زرع )رواه البخارى و مسلم و ابو داود و ابن ماجه و 208 أمحد( "Berkata Abdullah bin 'Umar r.a bahwa Nabi saw bekerja sama dalam bidang pertanian dengan penduduk Khaibar dengan ketentuan mereka mendapat sebahagian dari hasil buah207Al-Syarbaini al-Khathib, Jilid II, him. 323 208 CD Room al-Syirkât majmû’ah al-‘Alamiyyah, 1996, Mausû’aĥ al-Hadits al-Syarîf,Sahih Bukhari, Kitab al-muzâra'ah, hadis no. 2161. Sahih Muslim, Kitab Masâqah, Hadis nio. 2896. Sunan Abi Dawud, Kitab buyu' , hadis no. 2959. Sunan Ibnu Majah, Kitab Sunan al-Mukatsirîn min al-Shahabah, hadis no. 3343
106 buahan dan tanaman" ( H.R Bukhari. Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad) Kerjasama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. dengan penduduk Khaibar ini adalah dalam bentuk perserikatan antara modal dengan usaha. Pemilik tanah yang tidak mempunyai keahlian menyerahkan tanahnya (sebagai modal) kepada petani penggarap yang tidak mempunyai lahan dengan ketentuan bahwa hasilnya mereka bagi sesuai dengan kesepakatan bersama. Akad al-muzâra'ah jelas, yaitu menjadikan petani penggarap sebagai partner dalam mengelola lahan pertanian sama halnya dengan akad mudhârabah. Menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah, akad seperti ini termasuk ke dalam firman Allah dalam surat al- Ma'idah [5] ayat 2 yang artinya : "Bertolong-tolonganlah kamu dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan bertolong-tolongan atas dosa dan permusuhan". Imam Abu Hanifah dan Zufar ibn Huzail (pakar fiqh Hanafi) berpendapat bahwa akad al-muzara'ah tidak boleh. Dalam pandangan mereka, akad al-muzâra'ah dengan porsi bagi hasil, seperti 50:50, 20:80, 30:70 dan sebagainya hukumnya fasid. 209 Ada beberapa alasan yang mereka kemukakan dalam mendukung pendapat ini, sebagai berikut : 1) Nabi Muhammad saw. tidak pernah dan bahkan melarang melakukan akad al-muzâra'ah ini, sebagai mana hadis yang diriwayatkan Tsabit ibn al-Dhahhak: عن ثابت بن الضحاك أن رسول هللا ص.م نهى عن المزارعل و امر بالمؤا رة )رواه مسلم( 210 209 Ibn al-Hummam, Jil. VIII, h. 32. 210 CD Room al-Syirkât majmû’ah al-‘Alamiyyah, 1996, Mausû’aĥ al-Hadits al-Syarîf, Sahih Muslim, Kitab Buyu', hadis no. 2891
107 "Berkata Tsabit ibn al-Dhahhak bahwa Rasulullah saw. melarang al-muzara'ah dan memerintahkan untuk bermu'âjarah" (HR Muslim)". Al-Muzâra'ah dalam Hadis Nabi Saw di atas bermakna menyerahkan tanah kepada petani penggarap dengan upah diambilkan dari sebagian hasil panen, sedangkan pada almu'âjarah upah diberikan langsung oleh pemilik lahan kepada petani penggarap tanpa menunggu musim panen, hal ini identik dengan ijârah. Dalam Hadis lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah r.a dijelaskan: نهى النبي ص.م عن المخابرة )رواه البخارى و مسلم(211 "Nabi Saw. Melarang al-Mukhâbarah (H.R Bukhari dan Muslim)" Al-Mukhâbarah dalam sabda Rasulullah saw itu adalah al-Muzâra'ah, walaupun dalam al-mukhâbarah bibit yang akan ditanam berasal dari pemilik tanah. Berdasarkan kepada Hadis Nabi Saw di atas ulama syafi'i juga berpendapat bahwa akad al-muzâra'ah tidak sah. 212 2) Imbalan atau upah dalam akad al-Muzâra'ah belum ada (alma'dum) dan tidak jelas (al-jahalah) kadarnya, kerana yang dijadikan imbalan untuk petani penggarap adalah hasil pertanian yang belum ada dan belum jelas ukurannya. Boleh jadi usaha pertanian itu gagal karena berbagai sebab seperti banjir atau serangan hama, sehingga petani tidak mendapatkan apa-apa dari hasil kerjanya. Faktor inilah yang menyebabkan akad ini tidak sah. 3 ) Adapun mu'amalah Rasulullah saw. dengan penduduk Khaibar dalam hadis yang diriwayatkan al-Jama'ah (mayoritas pakar hadis), menurut mereka bukan rnerupakan akad al-muzâra'ah, tetapi berbentuk al-kharaj al-muqâsamah, 211 CD Room al-Syirkât majmû’ah al-‘Alamiyyah, 1996, Mausû’aĥ al-Hadits al-Syarîf, Shahih al-Bukhari, kitab al-masâqah, hadis no. 2208. Sahih Muslim, Kitab Buyu', hadis no. 2856 212 Al-Syarbaini al-Khathib, Jilid II, h. 324
108 yaitu ketentuan pajak yang harus dibayarkan petani kepada Rasulullah setiap kali panen dalam persentase tertentu.213 Menurut pendapat yang terkuat di kalangan ulama Hanafi –sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu Yusuf dan Muhammad (keduanya pakar fikih Hanafi), bahwa kerjasama sektor pertanian ini merupakan perkara yang penting dalam aktifitas ekonomi.214 Dari uraian di atas terlihat bahwa titik khilafiyah adalah dari segi perbedaan dalam memahami nash dan mengqiyaskan al-Muzâra'ah. Jika diqiyaskan kepada ijarah, maka akad al-Muzâra'ah tidak sah karena imbalannya adalah sesuatu yang tidak pasti. Akan tetapi bila al-muzâra'ah diqiyaskan kepada mudhârabah, ia menjadi salah satu akad yang sah dari segi hukum, di mana ia merupakan akad kerjasama antara pemilik lahan (pemodal) dengan petani penggarap (pekerja). c. Rukun dan Syarat Akad al-muzâra'ah Ulama Hanafiyah yang membolehkan akad al-muzâra'ah menjelaskan bahwa rukun akad al-muzâra'ah adalah ijab (pernyataan penyerahan tanah dari pemilik lahan) dan qabul (pernyataan menerima lahan untuk digarap dari petani penggarap). Contoh ijab adalah ; "Saya serahkan lahan pertanian saya kepada engkau untuk digarap dan hasilnya nanti kita bagi berdua". Kemudian petani penggarap menjawab (qabul): "Saya terima tawaran anda".215 213 Ibn al-Hummam, loccit 214 Wahbah al- Zuhaili, jil. 5, h. 615 215Al-Kâsânî, Badâ'i' al-Shanâ'i' fî Tartib al-Sharâ'i', (Beirut : Dar al-Kutub al- 'Ilmiyah, t.th), jil. VI, h.176
109 Sedangkan dalam pandangan Jumhur ulama yang membolehkan akad al-muzâra'ah mengemukakan rukunnya sebagai berikut : (1) pemilik lahan, (2) petani penggarap, (3) objek al-muzâra'ah, yaitu manfaat tanah dengan hasil kerja petani, dan (4) ijab dan qabul Ulama Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa akad al-muzâra'ah tidak bersifat mengikat, sebagaimana akad-akad kerjasama yang lain. Tetapi ulama Malikiyah berpendapat akad ini bersifat mengikat dari segi penyediaan benih dan hal-hal yang berhubungan dengan penanaman. Oleh karena itu tidak boleh dibatalkan secara sepihak. 216 Untuk sahnya akad al-muzâra'ah Jumhur fuqahak membuat perincian terhadap syarat-syarat al-muzâra'ah terkait dengan beberapa aspek yaitu ; menyangkut pihak yang berakad, jenis tanaman, lahan yang akan digarap, isi perjanjian/kontrak, alat-alat pertanian, hasil panen, dan jangka waktu berlakunya akad.217 a) Syarat âqidain (pemilik lahan dan petani penggarap) adalah cakap melakukan tindakan hukum. Indikasi cakap bertindak hukum menurut ulama Hanafiyah adalah berakal (mumayyiz), baligh bukan menjadi syarat sah bagi mereka. Sedangkan dalam pandangan Jumhur ulama kedua pihak yang berakad harus baligh dan berakal. Akad al-muzâra'ah yang dilakukan anak kecil meskipun sudah berakal tidak sah. Imam Abu Hanifah menambahkan bahwa salah seorang atau keduanya bukan orang yang murtad (keluar dari agama Islam), kerana tindakan hukum orang yang murtad dianggap mauquf sampai ia kembali memeluk agama Islam. Akan tetapi menurut Abu Yusuf dan Muhammad ibn al-Hasan al-Syaibani (keduanya 216 Al-Dardir, jil. III, h.392 217Wahbah al-Zuhaili, jil. V, h..616-620
110 tokoh mazhab Hanafiyah) tidak menyetujui syarat tambahan ini, kerana akad al-muzara'ah boleh dilakukan antara muslim dengan non-Islam; demikian pula dengan orang murtad. b) Syarat yang berkaitan dengan jenis tanaman adalah tanaman yang akan ditanam harus jelas dan dapat menghasilkan. Artinya tanaman itu harus sesuai dengan jenis dan struktur tanah itu. Tidak boleh menanam jagung di lahan gambut atau menanam kurma di tengah sawah. c) Syarat yang berhubungan dengan lahan pertanian adalah sebagai berikut : 1)menurut kebiasaan yang lazim di kalangan para petani, lahan itu dapat digarap dan menghasilkan. Jika tanah itu adalah tanah yang tandus dan kering, sehingga tidak memungkinkan dijadikan tanah pertanian, maka akad almuzara'ah tidak sah, 2)tanah tersebut diketahui secara pasti tempatnya, keluasannya dan keadaannya, 3)lahan itu diserahkan sepenuhnya kepada petani penggarap. Apabila disyaratkan bahwa pemilik lahan ikut dalam dalam penggarapan lahan pertanian itu, maka akad al-muzara'ah tidak sah. d) Syarat yang berkaitan dengan isi perjanjian/kontrak. Isi kontrak tidak boleh menyalahi prinsip dasar dari akad almuzâra'ah, misalnya tidak boleh ditetapkan persyaratan bahwa kedua belah pihak sama-sama menyediakan benih dan sama-sama bekerja. Perjanjian semcam itu menyebabkan akad al-muzâra'ah batal. e) Syarat yang menyangkut alat-alat pertanian. Alat yang digunakan hendaklah ditentukan sejak semula, apakah hanya akan menggunakan alat-alat konvensional seperti binatang atau tenaga manusia atau memerlukan alat berat seperti traktor dan sebagainya. Hal ini penting karena berkaitan dengan biaya penyelenggaraan yang mesti ditanggung bersama. f) Syarat-syarat yang menyangkut dengan hasil panen adalah sebagai berikut : 1) persentase pembahagian hasil panen bagi masing-masing pihak harus jelas, misalnya 70:30 atau 60:40
111 atau 50:50 dan sebaginya. Tidak dibenarkan membuat perjanjian pembagian dalam jumlah nominal, misalnya Rp. 2.000.000,- : Rp. 1.000.000,- atau 100 karung : 50 karung atau 3 ton : 2 ton. karena boleh jadi hasil yang didapat melebihi atau kurang dari perkiraan tersebut. 2)hasil panen menjadi milik bersama kedua belah pihak yang berakad, salah satu pihak tidak boleh menguasai sendiri hasil panen itu, 3)pembahagian hasil panen itu adalah dari hasil keseluruhan panen dengan tidak membeda-bedakan antara yang berkualitas baik dengan yang tidak baik. Oleh karena itu, tidak boleh salah satu pihak mengambil bagian dari hasil panen yang berkualitas saja sedangkan pihak lain mendapat sisa yang tidak berkualitas. Pembagian tersebut harus menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan. g) Syarat yang menyangkut tenggang waktu juga harus dijelaskan dalam akad. Kerana akad al-muzara'ah identik dengan akad alijarah (sewa menyewa atau upah mengupah) dengan imbalan sebahagian dari hasil panen. Oleh sebab itu, jangka waktunya harus jelas dan disepakati oleh kedua belah pihak. Yang penting adalah tenggang waktu yang diytetapkan itu mestilah memberikan mnasa yang cukup bagi petani penggarap untuk menyelesaikan pekerjaannya, yaitu sampai selesai panen. d. Bentuk-Bentuk kerjasama dalam Akad alMuzâra'ah Dilihat dari segi sah dan tidaknya akad al-muzâra'ah, Abu Yusuf dan Muhammad ibn al-Hasan asy-Syaibani membagi akad ini kepada empat bentuk yaitu:218 a) Jika lahan dan bibit disediakan oleh pemilik lahan, sedangkan usaha dan alat dari petani, maka kerjasama seperti ini hukumnya sah. Kedudukan pemilik lahan adalah sebagai majikan dan kedudukan petani penggarap dan alat-alat yang disediakannya sebagai pekerja atau buruh. 218Al-kâsânî, jil. VI, h. 179
112 b) Jika pemilik lahan hanya menyediakan tanah, sedangkan petani penggarap menyediakan bibit, alat-alat pertanian, dan usaha, maka kerjasama seperti ini hukumnya juga sah. c) Jika pemilik lahan menyediakan tanah, alat, dan bibit, sedangkan petani hanya menyediakan tenaga (usaha), maka akad al-muzâra'ah juga sah. d) Jika lahan pertanian dan alat disediakan pemilik tanah sedangkan bibit serta tenaga dari petani, maka akad ini tidak sah. Penetapan bahwa alat pertanian disediakan oleh pemilik tanah menjadikan akad ini tidak sah, kerana alat pertanian tidak boleh mengikut pada tanah. Sebab manfaat alat pertanian itu tidak sama dengan manfaat lahan, lahan berfungsi menghasilkan tanaman dan buah, sedangkan alat pertanian berfungsi untuk menggarap tanah. Oleh karena itu, alat pertanian secara logis harus disediakan petani penggarap, bukan pernilik lahan. e. Berakhirnya Akad al-Muzâra'ah Akad al-muzâra'ah bisa berakhir dengan tercapainya tujuan akad, yaitu pembagian hasil panen sesuai kesepakatan, bisa juga berakhir sebelum tujuan akad tercapai. Berikut dikemukakan beberapa faktor yang menyebabkan berakhirnya akad al-muzâra'ah : 219 a) Jangka waktu yang disepakati berakhir. Akan tetapi dengan berakhirnya jangka waktu ini, tidak menyebabkan berakhirnya akad al-muzâra'ah secara otomatis, ia tergantung kepada usia tanaman, apakah sudah layak panen atau belum. Jika tanaman itu belum layak panen, maka akad itu tidak boleh dibatalkan sampai masa panen tiba dan hasilnya dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama di waktu akad. Bagaimanapun juga, selama masa menunggu tersebut petani penggarap dikenakan bayaran sewa tanah terhitung sejak hari berakhirnya masa kontrak sampai waktu panen, sebagaimana yang berlaku dalam akad ijârah (sewa 219 Wahbah az-Zuhaili, h. 624-627
113 menyewa), karena petani penggarap memanfaatkan lahan tersebut untuk menyempurnakan pekerjaannya. Walaupun begitu segala biaya yang dibutuhkan untuk pemeliharaan dan pengelolaan tanaman seperti pembelian pupuk, biaya pemeliharaan dan irigasi tetap menjadi tanggungjawab bersama menurut kadar bagi hasil yang disepakati. b) Salah satu pihak meninggal dunia. Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah, apabila salah seorang yang berakad meninggal dunia, maka otomatis akad al-muzâra'ah berakhir, kerana mereka berpendapat bahwa akad al-ijarah tidak boleh diwariskan. Sedangkan Jumhur ulama berpendapat bahwa akad al-muzâra'ah itu tidak berakhir dengan wafatnya salah satu pihak yang berakad, ia dapat dilanjutkan oleh ahli waris yang emninggal dunia. c) Salah satu pihak membatalkan kontrak. Menurut ulama Malikiyah akad al-muzâra'ah hanya boleh dibatalkan secara sepihak selama akad belum ditindaklanjuti dalam bentuk kerja. Sedangkan menurut ulama Hanafiyah akad almuzâra'ah boleh dibatalkan oleh salah satu pihak kapan saja dengan alasan yang logis. Alasan-alasan yang membolehkan pembatalan akad al-muzâra'ah tersebut adalah sebagai berikut :220 1) Pemilik lahan dililit hutang, sedangkan satu-satunya jalan untuk melunasi hutang tersebut hanya dengan menjual tanah tersebut. Untuk menghindari perselisihan sebagai konsekwensi penjualan tanah tersebut, maka pembatalan ini harus melalui intervensi hakim. 2) Adanya uzur petani, seperti sakit yang menyebabkan tidak boleh melakukan kerja keras atau harus melakukan suatu perjalanan ke luar kota atau pergi berjihad di jalan Allah, sehingga ia tidak mampu melaksanakan pekerjaannya. 220Al-Kâsânî, jil. VI, h. 183. Ibnu 'Abidin, op. cit.,jil. V, h.196
114 2. Kerjasama Pemeliharaan/Perawatan Tanaman (alMusâqâh) a. Pengertian al- Musâqâh Secara literal al-musâqâh berarti saling menyiram atau mengairi. Penduduk Madinah menyebutnya dengan istilah almu'âmalah. Menurut istilah fikih, ulama mendefinisikan almusâqâh sebagai berikut :221 معاقدة دفع اءشجار الى من يعمل فيها على أن الثمرة بينهما "Kontrak penyerahan tanaman (kebun) kepada petani untuk dirawat dan dipelihara (sampai masa panen), di mana hasilnya dibagi sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak". Sedangkan ulama Syafi'iyah mendefinisikannya secara lebih khusus, yaitu :222 أن يعامل غيره على نخل او شجر عنب فقط ليتعهده بالسقى والتربيل على أن الثمرة لهما "Mempekerjakan orang lain (petani) untuk mengairi dan merawat pohon kurma atau pohon anggur saja dimana hasil kurma atau anggur itu dibagi sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak" Dari definisi di atas tergambar bahwa akad al-musâqâh merupakan kerjasama pemilik kebun dengan petani supaya pepohonan yang ada di dalam kebunnya dipelihara dan dirawat sebagaimana mestinya sampai musim panen, sedangkan hasil panen berupa buah-buahan menjadi milik bersama dan dibagi sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Jika dibandingkan dengan akad al-muzâra'ah, usaha yang mesti dilakukan oleh petani pada akad al-musâqâh ini relatif lebih ringan, karena akad baru terjadi ketika tanaman 221 Al-Kâsânî, jil VI, h. 185. Ibnu 'Abidin, Jil. V, h.200. Al-Syarbaini alKhathib, Jil.II, h.322 222 Al-Syarbaini al-Khathib, loccit
115 sudah tumbuh dalam bentuk memelihara dan merawat saja. Sedangkan pada al-muzâra'ah petani memulai usahanya dari nol, yaitu mulai dari menggarap dan membersihkan tanah, menanam, memelihara dan merawat sampai memanen. Dengan demikian objek akad al-musâqâh adalah sebagian saja dari objek akad al-muzâra'ah, yaitu pekerjaan memelihara atau mengurus tanaman sampai panen. b. Hukum Akad al-Musâqâh Ulama fikih berbeda pendapat tentang status hukum akad al-musâqâh. Menurut Imam Abu Hanifah dan Zufar ibn Huzail, akad al-musâqâh dengan ketentuan petani pengelola mendapatkan upah dari sebahagian hasil kerjasama ini adalah tidak sah, karena al-musâqâh seperti ini termasuk mengupah seseorang dengan imbalan yang belum ada dan tidak pasti.223 Hal ini dilarang Rasulullah saw. berdasarkan hadis yang diriwayatkan Rafi' ibn Khadîj yang berbunyi: من كانت له أرض فليزرعها او فليزرعها اخاه وال يكاريها بثلث وال بربع وال بالطعام مسمى )رواه البخارى و مسلم و النسائى( "Siapa yang memiliki lahan, hendaklah ia garap atau ia serahkan kepada saudaranya (petani penggarap) untuk dimuzâra'ah-kan, dan jangan diupahkan dengan imbalan sepertiga atau seperempat dari hasil yang akan dipanen dan jangan pula dengan irnbalan sejumlah makanan tertentu. (HR al-Bukhari, Muslim, al-Nasa-i) Sedangkan Abu Yusuf, Muhammad ibn al-Hasan asySyaibani dan Jumhur Ulama (termasuk Imam Malik, al-syafi'i dan Ahmad) berpendapat bahwa akad al-musâqâh dibolehkan berdasarkan kerjasama pertanian (mu'amalah) Nabi 223 Al-Kâsâni, Jil. VI, him. 185.
116 Muhammad saw. dengan penduduk Khaibar sebagaimana hadis dari 'Abdullah ibn 'Umar yang menyatakan bahwa: عن عبد هللا بن عمر رضى هللا عنهما قال عامل النىب ص.م خيرب بشطر ما خيرج منها من مثر أو زرع )رواه البخارى و مسلم و ابو داود و ابن ماجه 224 و أمحد( "Berkata Abdullah bin 'Umar r.a bahwa Nabi saw bekerja sama dalam bidang pertanian dengan penduduk Khaibar dengan ketentuan mereka mendapat sebahagian dari hasil buahbuahan dan tanaman" ( H.R Bukhari. Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad) Selain itu mereka berpendapat bahwa kerjasama almusâqâh ini sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat karena dapat memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak yang berakad. Pemilik lahan yang tidak mampu atau tidak mempunyai kesempatan untuk memeliihara sendiri kebunnya merasa beruntung dengan adanya petani yang bersedia memelihara dan merawat kebunnya. Di samping itu, petani yang tidak mempunyai lahan atau menganggur merasa beruntung dengan peluang pekerjaan yang diberikan kepadanya.225 Berdasarkan kepada praktek Nabi Muhammad saw. dan isteri-isterinya, Khulafa al-Rasyidin, penduduk Madinah dan Ijmak sahabat, maka Jumhur Ulama termasuk ulama Hanafiyah yang belakangan berpendapat bahwa akad almusâqâh merupakan kontrak yang sah di sisi syara'.226 224Sahih Bukhari, Kitab al-muzâra'ah, hadis no. 2161. Sahih Muslim, Kitab Masâqah, Hadis nio. 2896. Sunan Abi Dawud, Kitab buyu' , hadis no. 2959. Sunan Ibnu Majah, Kitab Sunan al-Mukatsirîn min al-Shahabah, hadis no. 3343 225Wahbah al-zuhaili, jil. V, h. 628 226 Wahbah al-zuhaili, jil. V, h. 628
117 c. Rukun dan Syarat-syarat al-Musâqâh Ulama Hanafiyah menjelaskan bahwa rukun akad almusâqâh adalah ijab (pernyataan penyerahan kebun dari pemilik kebun untuk dipelihara dan dirawat sampai panen) dan qabul (pernyataan kesediaan petani menerima tawaran itu).Objek akad adalah pekerjaan mengurus kebun tersebut. Menurut ulama Malikiyah dan Syafi'iyah, qabul cukup dengan ucapan yang menurut kebiasaan masyarakat mengandung arti menerima pekerjaan tersebut. Menurut ulama Hanabilah, qabul tidak perlu dalam bentuk ucapan, tetapi cukup dengan memulai pekerjaan.227 Sedangkan Jumhur ulama mengemukakan rukun akad al-musâqâh sebagai berikut :228 a) dua orang/pihak yang melakukan transaksi, b) tanaman yang dijadikan objek al-musâqâh, c) jenis pekerjaan yang akan dilakukan petani, d) ketentuan mengenai pembahagian hasil al-musâqâh dan e) shigat akad (ijab dan qabul) Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya akad al-musâqâh diperinci oleh jumhur dari rukun di atas sebagai berikut :229 a) Kedua belah pihak yang berakad harus cakap bertindak hukum, yaitu berakal, faktor kedewasan bukan merupakan syarat bagi ulama Hanafiyah, sedangkan menurut Jumhur mesti baligh (dewasa) dan berakal. b) Tanaman yang dijadikan objek al-musâqâh itu harus terdiri dari tanaman yang berbuah dan jika ada berbagai jenis tanaman di kebun itu harus dijelaskan pula apakah semua pepohonan di dalam kebun itu atau pohon tertentu saja. 227Al-Kâsânî, jil. VI, h.176. Ibn Rusyd, Jil. I, h.247. Al-Syarbaini al-Khatib, jil. II, h.328 228 Al-Syairâzî, al-Muhazzab fî Fiqh Mazhab al-Imâm al-Syafi'î, (Beirut: Dâr al_fikr, 1414/1994), jil. I, h. 390-392. Ibn Qudamah, jil. V, h. 368-372. Al-Syarbaini alKhatib, jil. II, h.323-324 229
118 Dalam menentukan jenis tanaman terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut ulama Hanafiyah yang boleh menjadi jenis tanaman yang menjadi objek al-musâqâh adalah pepohonan yang berbuah, seperti kurma, anggur, dan terung. Namun begitu, akad al-musâqâh juga berlaku pada tanaman yang tidak berbuah dengan syarat tanaman itu memerlukan pemeliharaan dan perawatan.230 Ulama Malikiyah menyatakan bahwa tanaman yang menjadi objek al-musâqâh itu adalah pepohonan yang berbuah dan sayur-sayuran, seperti kurma, terung, apel, jeruk, anggur, buncis dan sebagainya. Mereka menetapkan beberapa persyaratan bahwa: (a) akad al-musâqâh itu dilakukan sebelum buah itu layak panen; (b) tenggang waktu yang ditentukan jelas; (c) akadnya dilakukan setelah tanaman itu tumbuh; dan, (d) pemilik perkebunan tidak mampu untuk mengolah dan memelihara tanaman itu.231 Menurut ulama Hanabilah, yang boleh dijadikan objek almusâqâh adalah terhadap tanaman yang berbuah saja. Oleh sebab itu, al-musâqâh tidak berlaku terhadap tanaman yang tidak memiliki buah seperti bunga dan sayur-sayuran. Segolongan ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa yang boleh dijadikan objek akad al-musâqâh adalah kurma dan anggur saja, sebagaimana yang dipraktekkan oleh Rasulullah saw dengan penduduk Khaibar, sedangkan segolongan membolehkan kepada semua jenis buah-buahan.232 a) Persyaratan yang berkaitan dengan usaha (pekerjaan) adalah pekerjaan mengurus kebun tersebut diserahkan sepenuhnya kepada petani setelah akad berlangsung, tanpa intervensi pemilik kebun. Di samping itu, tidak dibenarkan menugaskan petani untuk suatu pekerjaan di luar pemeliharaan dan 230 Al-Kâsânî, jil. VI, h.186. 231Ibn Rusyd, jil. II, h.243-246 232Al-Syairazi, jil. I, h.390
119 perawatan, seperti menggali parit, menanam bibit baru, membangun pondok dan sebagainya. b) Hasil atau buah dari kebun itu merupakan milik bersama dengan persentase bagi hasil sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak ketika akad dibuat , seperti 60:40, 70:30, 80:20 dan sebagainya. d. Perbedaan Hukum al-Muzâra'ah dengan al-Musâqâh Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap akad almuzâra'ah dengan akad al-musâqâh perlu kiranya dijelaskan perbedaan format kedua akad tersebut. Dalam pandangan ulama Hanafiyah antara akad al-musâqâh dengan al-muzâra'ah tidak ada perbedaan kecuali dalam empat hal berikut :233 a) Akad al-musâqâh bersifat mengikat, oleh karena itu jika salah satu pihak enggan melaksanakan tugas-tugas yang telah disetujui dalam akad, maka ia boleh dipaksa untuk melaksanakan kesepakatan itu. Sedangkan akad almuzâra'ah tidak mengikat, maka jika pemilik lahan enggan melanjutkan kerjasama itu sebelum benih ditanam, maka ia tidak boleh dipaksa. Ulama Hanabilah menyatakan akad almusâqâh dan al-muzâra'ah termasuk kategori akad yang tidak mengikat kedua belah pihak, oleh karena itu salah satu pihak boleh membatalkannya, kapan saja.234 b) Dalam akad al-musâqâh tidak perlu disyaratkan tenggang waktu/tempo perjanjian, hal ini didasarkan atas kaidah istihsan (berpaling dari kehendak qiyas jali kepada qiyas khafi, karena ada dalil yang menghendaki pemalingan ini). Atas dasar itu, penentuan lamanya akad al-musâqâh itu disesuaikan dengan adat kebiasaan setempat. Sedangkan dalam akad al-muzâra'ah, dalam penentuan tenggang waktu, terdapat dua pendapat dalam mazhab Hanafi; pertama mengatakan disyaratkan tenggang waktu, dan kedua tidak disyaratkan tenggang waktu, tetapi diserahkan 233 Ibnu 'Abidin, Jil. V, h. 201 234Ibn Qudamah, Jil V, H. 372
120 kepada adat kebiasaan setempat. Pendapat kedua inilah yang merupakan fatwa yang terkuat dalam mazhab Hanafi. c) Seandainya di dalam akad al-musâqâh ditetapkan tempo perjanjian, ternyata sampai tamat tempo tersebut tanaman belum juga layak panen, maka petani mesti melanjutkan pekerjaannya sampai masa panen tiba tanpa diberi upah atau imbalan, karena tugas memelihara dan merawat tanaman sampai dipanen adalah kewajiban petani. Adapun dalam akad al-muzâra'ah, apabila tempo perjanjian telah berakhir dan tanaman belum juga layak panen, maka petani tetap melanjutkan pekerjaannya sampai masa panen dengan ketentuan ia berhak mendapatkan upah dari pekerjaannya itu. d) Jika tanaman yang sudah berbuah dituntut oleh pihak ketiga bahwa lahan itu kepunyaannya dan dia dapat membuktikan tuntutannya tersebut, maka petani berhak mendapatkan upah sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya tanpa ada hak terhadap hasil panen. Sedangkan dalam akad al-muzâra'ah, jika terjadi keadaan yang sama maka petani penggarap tetap berhak atas hasil panen. e. Hukum-Hukum Yang Terkait Dengan al-musâqâh 'Akad al-musâqâh, menurut pada ulama fiqh adakalanya sah, jika memenuhi rukun dan syaratnya, dan adakalanya juga fasid (akadnya rusak), jika salah satu syarat dari akad almusâqâh tidak terpenuhi. Adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan akad al-musâqâh yang sah adalah:235 a) Seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan pemeliharaan tanaman, pengairan kebun, dan segala yang diperlukan untuk kebaikan tanaman itu, merupakan tanggung jawab petani. 235 Imam al-Kasani, Jil.VI, h. 187 dst.
121 b) Seluruh hasil panen dari tanaman itu menjadi milik kedua belah pihak (pemilik dan petani). c) Apabila kebun itu tidak menghasilkan apapun (gagal panen), maka masing-masing pihak tidak berhak mendapatkan dan menunut apa-apa. d) Akad al-musâqâh yang telah disepakati mengikat kedua belah pihak, sehingga masing-masing pihak tidak dibenarkan membatalkan akad secara sepihak, kecuali ada uzur (kendala) yang tidak memungkin lagi untuk melanjutkan konrak itu e) Pemilik kebun berhak memaksa petani untuk bekerja, kecuali ada uzur pada diri petani itu. f) Jika pemilik kebun menyuruh petani mengerjakan sesuatu yang bukan tanggung jawabnya (pekerjaan yang tidak termaktub dalam isi perjanjian), seperti menggemburkan tanah, membuat parit, memetik buah dan sebagainya, maka petani berhak mendapat upah atau imbalan dari pekerjaan tersebut. g) Petani penggarap tidak boleh me-musâqâh-kan kebun tersebut kepada pihak ketiga, kecuali atas keizinan dari pemilik kebun (pihak pertama). Akad al-musâqâh bisa menjadi fasid atau rusak jika terdapat beberapa perkara berikut dalam akad: 236 a) Seluruh hasil panen disyaratkan menjadi milik salah satu pihak yang berakad, sehingga menafikan makna pengertian perserikatan yang ada dalam akad itu. b) Salah satu pihak mensyaratkan bahwa bahagiannya diberikan dalam bentuk lain yang bukan hasil panen, seperti dalam bentuk uang. c) Disyaratkan pemilik kebun juga ikut bekerja di kebun itu, bukan petani saja. d) Disyaratkan dalam akad bahwa petani wajib mencangkul tanah atau melakukan pekerjaan yang bukan kewajibannya, 236 Ibnu 'Abidin, h. 202
122 karena dalam akad al-musâqâh pekerjaan sejenis ini bukan menjadi pekerjaan petani, karena akad al-musâqâh hanyalah untuk memelihara dan mengairi tanaman. e) Membuat persetujuan tenggang waktu yang tidak memungkinkan tanaman tersebut panen dalam tenggang waktu tersebut. Akibat hukum yang timbul jika akad al-musâqâh dinyatakan fasid adalah:237 a) Petani tidak bisa dipaksa untuk bekerja di kebun itu; b) Hasil panen seluruhnya menjadi milik pemilik kebun, sedangkan petani tidak menerima apapun dari hasil kebun itu, tetapi la berhak mendapatkan upah yang wajar yang berlaku di daerah itu f. Berakhirnya Akad al-musâqâh Akad al-musâqâh berakhir, menurut para ulama fiqh berakhir apabila:238 a) Tenggang waktu yang disepakati dalam akad telah berakhir; jika buah belum layak panen akad dapat diteruskan sampai musim panen tiba. b) Salah satu pihak meninggal dunia; dalam keadaan ini ahli waris dapat melanjutkan pekerjaan yang masih terbengkalai sampai musim panen. c) Adanya uzur atau kendala yang membuat salah satu pihak tidak bisa melanjutkan akad, seperti petani itu terkenal sebagai seorang pencuri hasil tanaman atau petani sakit yang tidak memungkinkan dia untuk bekerja. 3. Paroan Lahan (al-Mughârasah) a. Pengertian Secara terminologi al-mughârasah berarti kontrak pepohonan. Sedangkan menurut terminologi fikih, al-mugarasah didefinisikan para ulama fikih dengan:239 237 Al-Kâsânî, jil. VI, h. 188. Ibnu Qudamah, Jil. V, h. 508. Al-Syarbaini alKhathib, Jil. II, h. 337. 238 Al-Kâsânî, , jil. VI, h. 188.
123 أن يدفع الر ل أرضه لمن يغرس فيها شجرا "Penyerahan tanah pertanian kepada petani untuk ditamami." Ulama Syafi'iyah mendefinisikannya al-mughârasah dengan:240 أن يسلم إليه أرضا ليغرسها من عنده والشجر بينهما "Penyerahan lahan pertanian kepada petani, sedangkan pohon yang ditanam menjadi milik berdua (pemilik tanah dan petani)." Penduduk Syam (Syiria) menyebutnya dengan almunâshabah (saling berbagi), karena tanah yang telah digarap tersebut menjadi milik mereka secara bersama-sama dan masing-masing pihak mendapatkan bahagian separuh. Disini terlihat perbedaan akad al-mughârasah dengan akad almuzâra'ah dan akad al-musâqâh. Pada akad al-muzâra'ah dan akad al-musâqâh yang dibagi adalah hasil panen sesuai dengan kesepakatan. Sedangkan pada akad al-mughârasah yang dibagi tidak hanya hasil panen yang dibagi dua, tetapi lahan pertanian itu juga menjadi milik bersama pemilik lahan dan petani. b. Hukum Akad al-Mughârasah Ulama fikih berbeda mendapat dalam menetapkan status hukum akad al-mughârasah. Menurut Ulama Hanafiyah penyerahan lahan kosong kepada petani dalam rentang waktu tertentu untuk ditanami pepohonan dengan ketentuan lahan dan tanaman yang tumbuh di atasnya menjadi milik bersama antara pemilik tanah dengan petani penggarap, hukumnya tidak sah. 241 239Wahbah al-Zuhaili, jil. V, h.646 240 Al-Syarbaini al-Khatib, Jil. II, h. 324. 241 Ibnu 'Abidin, Jil. V, h. 203.
124 Ada tiga alasan yang dikemukakan ulama Hanafiyah yang menyebabkan akad al-mughârasah tidak sah sebagi berikut : a) Dalam akad al-mughârasah disyaratkan sejak semula bahwa lahan yang akan dijadikan objek akad menjadi milik bersama, padahal lahan tersebut sudah merupakan hak milik salah satu pihak. Persyaratan ini menjadikan kerjasama tersebut tidak seimbang, karena pemilik tanah telah lebih dahulu memiliki tanah sementara petani penggarap tidak memiliki apa-apa. Padahal dalam satu bentuk kerja sama disyaratkan adanya keseimbangan, baik dari segi modal maupun dari segi keuntungan yang diperoleh. b) Dalam al-mughârasah pemilik tanah menjadikan separuh dari tanahnya sebagai pertukaran kepada pohon yang ditanam petani, sedangkan separuh dari hasil panen yang menjadi milik petani merupakan upah kepada pekerjaan yang dilakukan petani tersebut. Hal ini sama artilnya dengan petani membeli separuh dari lahan pertanian itu dengan tanaman yang belum ada (ma'dum) dan tidak pasti (jahalah). Adanya unsur ketidak pastian terhadap ganti rugi separuh tanah yang akan diterima petani menjadikan akad ini fasid (rusak). c) Pemilik tanah menyuruh petani untuk menggarap tanah kosong dengan alat kelengkapannya dan usaha yang dilakukannya dengan imbalan separuh dari hasil tanaman menyebabkan akad ini fasid, sebab mengupah dengan sesuatu yang tidak pasti dan ini termasuk gharar. Apabila akad al-mughârasah yang sedang berjalan dinyatakan fasid atau batal, maka konsekwensinya seluruh tanaman dan hasilnya menjadi milik pemilik lahan, sedangkan petani hanya berhak mendapatkan upah sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukannya. Namun begitu, ulama Hanafiyah tidak menutup mati terhadap keabsahan hukum akad al-mughârasah ini, mereka
125 memberikan solusi hukum (hilah syar'iyah) untuk menjadikan akad ini sah, yaitu dengan rnenempuh cara jual beli dan alijârah sekaligus. Maksudnya, pemilik tanah menjual sebahagian tanahnya kepada petani penggarap dengan bayaran sebahagian pohon yang ditanam oleh petani di atas lahan itu, kemudian pemilik tanah mengupah petani peneroka dalam masa tertentu –misalnya 3 tahun, untuk mengerjakan tanah yang menjadi bahagiannya. Atau cara lain yang dapat ditempuh menurut mereka adalah dengan melakukan akad al-muzâra'ah, yaitu perserikatan dalam tanaman dan hasilnya saja, bukan terhadap lahannya. Ulama Syafi'iyah juga berpendapat bahwa almughârasah tidak sah, karena dalam akad ini upah petani penggarap diambil dari hasil pertanian itu. Di samping itu, dalam akad ini terdapat dua pekerjaan yang berbeda, yaitu menanam dan memelihara tanaman sampai panen. Menyatukan dua pekerjaan yang berbeda hanya boleh dilakukan melalui akad ijârah (sewa menyewa atau upah mengupah). Keadaan seperti ini menyebabkan akad almughârasah batal. Apabila akad ini tetap dilangsungkan, menurut ulama Syafi'iyah, seluruh hasil panen yang diperoleh menjadi miiik petani, sedangkan pemilik tanah hanya berhak terhadap uang sewa tanah sesuai dengan kebiasaan setempat242 Ulama Hanabilah berpendapat bahwa jika pemilik lahan menyerahkan sebidang lahan kepada petani penggarap dengan ketentuan bahwa seluruh tanah dan pepohonan yang ada di atasnya menjadi milik berdua, maka mu'amalah seperti ini menjadi fasid (rusak). Sama halnya dengan penyerahan sebidang kebun kepada seorang penggarap dengan perjanjian bahwa pohon dan hasilnya mereka bagi 242 Al-Syarbaini al-Khatib, Jil. II, h. 324.
126 berdua. Jika hal itu terjadi, maka menurut mereka petani hanya berhak mendapatkan upah sewajarnya.243 Penolakan ketiga mazhab fikih di atas terhadap akad al-mughârasah semata-mata bertujuan memelihara hak-hak para pihak yang melakukan transaksi al-mughârasah, karena banyaknya ketidakpastian dan kemungkinan yang akan terjadi selama rnenunggu pepohonan yang ditanam berbuah. Ulama Malikiyah244 mempunyai pandangan yang berbeda dengan ketiga mazhab di atas, menurut mereka kerjasama terhadap lahan pertanian adalah sah melalui salah satu dari tiga cara berikut; a) dengan akad al-ijârah (upah mengupah), yaitu dengan pemilik tanah mengupah petani penggarap untuk mengolah dan memelihara pohon yang tumbuh di atas tanah miliknya, dan pemilik tanah memberi upah secara langsung kepada petani tersebut; b) dalam bentuk al-ji'âlah (janji memberi hadiah), yaitu petani peneroka disewa untuk menanam, mengolah dan memelihara pepohonan yang ada di atas sebidang tanah perkebunan, dengan ketentuan bahwa petani berhak atas separuh pepohonan yang akan tumbuh; c) dengan akad al-mughârasah, yaitu kerjasama antara pemilik tanah dengan petani untuk menanami tanah dengan tanaman produktif, dengan ketentuan bahwa petani penggarap berhak mendapatkan separuh dari lahan, pepohonan dan buah-nya. Hanya saja mereka menetapkan lima syarat untuk sahnya akad al-mughârasah ini, yaitu: (1)Pohon yang ditanam petani harus sejenis tanaman keras, bukan dari jenis tanaman muda (palawija). 243 Ibn Qudamah, V, h. 380 dst 244 Ibnu Qayyim al-Jauziyah, al-Qawânin al-Fiqhiyyah, (Fez: Mathba'ah anNahdhah, tth.), h. 281
127 (2)Pohon yang akan ditanam harus relatif sama masa panennya, misalnya pohon rambutan dengan pohon mangga atau pohon duku dengan langsat. Jika jenis pohon yang ditanam berbeda masa panennya dengan jangka waktu yang relatif lama, misalnya pohon jeruk dengan pohon kelapa, maka akad al-mughârasah tidak sah. (3)Penentuan waktu berlangsungnya akad al-mugarasah, tidak dalam waktu yang sangat lama. Jika waktu yang diberikan lebih lama dari kebiasaan panen pepohonan yang ditanam, maka akad al-mughârasah ini tidak sah. (4)Petani mendapat bahagian separuh dari tanah perkebunan dan pohon yang ditanam. Jika bahagian petani hanya ditentukan separuh dari lahan saja atau separuh dari pohon yang ditanam saja, maka akad al-mughârasah tidak sah. (5)Lahan yang menjadi objek al-mughârasah bukan tanah wakaf, karena dalam akad al-mughârasah terkandung makna jual beli, sedangkan harta wakaf tidak boleh diperjualbelikan. Ulama Malikiyah menyatakan bahwa akad al-mughârasah batal, jika: (1) Salah satu pihak dalam akad itu menentukan sendiri bahagiannya, tanpa menyebutkan bahagian yang akan diterima pihak lain. (2) Dalam akad al-mughârasah itu disyaratkan penangguhan pembahagian yang diterima oleh petani atau disyaratkan bahagian petani dibayarkan lebih dahulu, sebagaimana yang berlaku dalam akad bai' al-salam (jual beli pesanan).
128
129 Bab 3 Kotrak Yang Dilarang Islam melarang atau membatasi beberapa bentuk kontrak atau aktifitas ekonomi, karena mengandung unsur-unsur kemudharatan, baik terhadap individu ataupun masyarakat. Larangan tersebut adakalanya dalam bentuk khusus, yaitu dengan dalil yang khusus seperti larangan riba, mengkonsumsi harta orang lain secara batil, memperjual-belikan khamar, babi dan sebagainya. Bisa juga dalam bentuk umum, yaitu setiap aktifitas ekonomi yang mengandung unsur-unsur kezaliman dan penipuan yang mendatangkan kemudaratan terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat, maka segala bentuk aktifitas perekonomian semacam itu diharamkan oleh syara. Allah Swt. melarang memakan riba dan melarang segala bentuk perjudian, karena di dalamnya mengandung unsur kezaliman dan penipuan. Al-Qur'an telah mengharamkan kedua perbuatan tersebut, karena dianggap memakan harta dengan cara yang batil. Di antara hal-hal yang diharamkan oleh Rasulullah Saw. adalah jual beli yang mengandung unsur penipuan, seperti menjual buah-buahan yang masih belum masak, menjual lorong (tempat orang lewat), menjual
130 anak binatang yang masih dalam perut induknya, menjual dengan cara borongan, menjual buah-buahan yang berada di kebun sebelum masa panen dan lain-lain. Jual beli yang telah disebutkan dapat dikategorikan kepada jual beli yang mengandung unsur riba dan perjudian. Demikian juga halnya dengan sewa-menyewa dengan sewaan yang tidak jelas seperti menyewa rumah dengan hasil usaha yang dijalankan penyewa dari harta yang ada dalam tokonya, perbuatan itu termasuk perjudian. Sedangkan mudharabah, musâqah dan muzâra’ah dengan perjanjian bahwa upahnya diambil dari sebagian hasilnya tidak termasuk kepada perbuatan judi, karena yang diutamakan keadilan. Aktifitas ekonomi yang dilarang secara khusus maksudnya bentuk pelarangan terhadap suatu aktifitas ekonomi tertentu yang ditegaskan atau diungkapkan langsung oleh nash, baik al-Quran ataupun hadis Nabi Saw. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan beberapa aktifitas ekonomi yang diharamkan oleh syara' berdasarkan dalil-dalil yang khusus. 1. Riba Secara etimologi riba (Ar : ribâ) berarti tambahan (ziyâdah) atau tumbuh (namâ').245 Secara terminologi riba adalah setiap pinjaman yang disyaratkan sebelumnya keharusan memberikan tambahan.246 Kata “ribâ” terdapat dalam 8 ayat Al-Qur'an yang tersebar dalam 4 Surat, yaitu : 5 ayat dalam surat al-Baqarah (2:275,276, 277, 278, 279) dan selebihnya terdapat dalam surat Ali- ‘Imrân (3:132), al-Nisa’(4:161), dan al-Rûm (30: 39).247 245Ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayân, (Kairo : Dâr al-Ma’ârif, t.th), jil. VI, h. 7. Muhammad ibn Ahmad al-Sarakhsi, al-Mabsût, (Kairo : Mathba’ah al-Sa’âdah, 1324H), jil. XII, h.109. 246Yusuf Qardhawi, Fawâid al-Bunûk Hiya al-Ribâ al-Harâm, diterjemahkan oleh Setiawan Budi Utamo dengan judul : Bunga Bank Haram, (Jakarta : Akbar Media Eka Sarana, 2001), h. 58 247Al-Qusi, h.132
131 Riba sebagai suatu bentuk transaksi bisnis telah dikenal oleh bangsa Arab sejak masa jahiliyah, dan juga dikenal oleh non arab sepertii bangsa yahudi dan nasrani.248 Bangsa Yahudi telah mempraktekkan riba jauh sebelum itu, sehingga perbuatan mereka itu diinventarisasi oleh Al-Qur'an dalam surat al-Nisa' ayat 161: وأخذهم الربوا وقد نهوا عنه... “Mereka (Yahudi) mengambil riba, padahal mereka telah dilarang melakukannya..” Ulama fikih sepakat mengatakan bahwa riba adalah haram berdasarkan beberapa ayat Al-Qur'an dan Hadis Nabi, antara lain firman Allah Swt dalam surat al-Baqarah [2] ayat 275 : ...احل هللا البيع و حرم الربى... “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. Kaharaman riba juga terdapat dalam hadis Nabi Muhammad Saw. berikut: عن عبد هللا قال : لعن رسو ل هللا ص.م آكل الربا ومؤكله وكاتبه وشاهده وقال: هم سواء )رواه الدارمى(249 “Berkata ‘Abdullah : “Rasulullah Saw. melaknat pemakan (pengambil) riba, pemberi makan dengan riba, penulisnya, dan saksinya, seraya besabda : “mereka semuanya sama” (H.R Muslim) Ketika Islam datang riba merupakan praktek yang telah membudaya ditengah-tengah masyarakat, sehingga untuk merubahnya secara frontal merupakan hal yang sangat beresiko, mengingat aqidah umat Islam ketika itu masih sangat lemah. Untuk itu, pelarangan riba ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan pemahaman masyarakat Islam ketika itu. Bila diperhatikan ayat-ayat yang melarang praktek riba ini, setidaknya ada 4 tahapan yang 248Penjelasan lebih lanjut tentang sejarah praktek riba pada bangsa yahudi (Judaism), Nasrani (Christianity) dan bangsa arab sebelum Islam (Jahiliyah) lihat : Al-Qusi, h.110-118. Ahmad Muhammad al-Assal, h. 85-86 249al-Dâ rimî, juz II, h. 246
132 merupakan kebijakan Allah Swt. dalam pelarangan riba ketika riba itu telah membudaya ditengah-tengah masyarakat, yaitu : Tahap pertama : menolak asumsi bahwa pinjaman riba adalah zahirnya menolong mereka yang membutuhkan sebagai sebuah bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Al-Rum ayat 39 : “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” Tahap kedua : riba digambarkan sebagai sesuatu yang buruk dan Allah Swt. memberikan siksaan yang pedih kepada orang-orang Yahudi yang memakan riba. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat An-Nisa’ ayat 160-161 : “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah Swt. dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka telah memakan harta manusia dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” Tahap ketiga: riba itu diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Sebagaimana dapat dilihat dalam firman Allah Swt. dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 130 : “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” Tahap keempat (terakhir) : riba diharamkan secara mutlak dan bagi yang terlanjur meminjamkan uangnya hanya berhak atas kapitall
133 (pokok hartanya). Sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS : AlBaqarah 278-279 : “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlaha sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah Swt. dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat dari pengambilan riba, maka bagimu pokok hartamu. Kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” Berdasarkan tahapan-tahapan pelarangan riba diatas, dapat diketahui bahwa Islam tidak memberi peluang kepada seseorang untuk menarik keuntungan dari uangnya yang dipinjamkan kepada orang lain , kecuali dalam bentuk investasi. Segala bentuk peminjaman yang dipersyaratkan ketika pengembaliannya ada kelebihan dari pinjaman pokok termasuk kategori riba. Bila kelebihan tersebut tidak dipersyaratkan, misalnya peminjam mengungkapkan rasa terima kasihnya dalam bentuk kelebihan, maka tidak ada salahnya untuk diambil oleh pihak yang meminjamkan. Para fukahak membagi riba itu dalam dua kategori, yaitu riba dalam hutang piutang (ribâ al-duyun) disebut juga ribâ nasî'ah dan riba dalam jual beli (ribâ al-buyû’) disebut juga ribâ al-Fadhl. Riba dalam format yang pertama disebut juga riba Jahiliyah, karena riba inilah yang dikenal dan dipraktekkan oleh masyarakat Jahiliyah yang secara eksplisit dilarang dalam Al-Qur'an. Sedangkan riba dalam format kedua dilarang oleh Nabi Muhammad Saw. dalam rangka membendung semua perilaku yang mengarah kepada riba, sehingga disebut juga ribâ al-Sunnah. 250 Ribâ nasî'ah adalah tambahan jumlah uang yang didapat dari pemberian pinjaman , biasanya didasarkan pada batas waktu tertentu.251 Tambahan ini, apapun bentuknya dan seberapa persenpun jumlahnya dilarang oleh Al-Qur'an (Q.S. 2:279). Bentuk 250Abû al-A’lâ al-Maudûdî, al-Ribâ, (Damaskus: Dâr al-Fikr al-Islâmî, 1958), h. 122-124. Mustaq Ahmad, h.127 251 Mustaq Ahmad, h.127
134 pinjaman semacam ini dilarang, baik untuk kepentingan konsumsi ataupun investasi.252Sedangkan ribâ al-Fadhl adalah perdagangan dalam bentuk barter komoditas sejenis tanpa adanya kesamaan kuantitas.253 Sebagaimana hadis Rasulullah Saw. berikut : عن عبادة ابن الصامت قال :قال رسول هللا ص.م : الذهب بالةذهب وال ضل بال ضل والبر البر والشةعر بالشةعر والتمةر بةالتمر والملةح بةالملح مةثال بمثةل سةواء لسةواء يةدا بيةد. فمةن زاد أو اسةتزاد فقةد 254 أربى.فإذا اختل ت هذه اء ناس فبيعوا كيف شئتم )رواه مسلم( “ Dari Ubadah bin Shamit r.a, bersabda Rasulullah Saw. : “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, kurma dengan kurma, garam dengan garam, semuanya harus sama ukurannya, nilainya dan dengan kontan. Apabila berbeda jenis-jenis tersebut, maka juallah sesukamu. (H.R Muslim). Hadis di atas menjelaskan beberapa jenis barang yang menjadi objek riba, tetapi kebanyakan fukahak berpendapat bahwa enam jenis barang yang tercantum dalam hadis tersebut adalah sebagai sampel saja, artinya barang-barang atau komoditas lain pun bisa juga menjadi objek riba. Sedangkan pertukaran komoditas dengan jenis yang sama selama keduanya mempunyai kuantitas yang sama dan dilakukan secara kontan adalah dibenarkan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa , Islam mengharamkan riba nas'iah dan riba fadhl. Orang yang meminjamkan uangnya hendaklah mengambil kapital (pokok harta) yang ia berikan ( Q.S.2:279). Tak ada alasan apapun bagi orang yang meminjamkan untuk melakukan riba walaupun alasan dharurat. Ini mungkin saja bisa dilakukan oleh peminjam dalam beberapa kasus tertentu. Namun dalam riba fadhl tak ada satu alasanpun yang membolehkannya walaupun dalam kondisi terdesak yang membolehkan kedua belah pihak untuk melakukan hal tersebut. 252Mustaq Ahmad, h.127 253Qalyubi dan Amirah, juz II, h.I67. 254Abi Husein Muslim ibn Hajjaj, juz. XI, h.14
135 2. Perjudian (qimâr/maisir) Secara literal qimâr berarti pertaruhan atau perjudian (almurâhanah). Sedangkan secara terminologi fikih qimâr adalah setiap permainan yang megandung persyaratan bahwa orang yang kalah harus menyerahkan sesuatu kepada orang yang menang.255 Hakekat dari qimâr ini adalah penipuan (gharar) dan mengaitkan perpindahan milik dengan pertaruhan antara dua pihak atau lebih. Berdasarkan hal itu menurut Ibn Taimiyah qimâr adalah mengambil harta orang lain dengan cara taruhan baik dengan adanya ganti atau tidak.256 Istilah yang identik dengan qimâr ini adalah maisir. Mayoritas ulama menyamakan antara qimâr dengan maisir, padahal qimâr lebih umum dari masir. Di mana qimâr mencakup segala macam perjudian atau pertaruhan, sedangkan maisîr merupakan salah satu bentuk perjudian yang dipraktekkan pada masa jahiliyah.257 Apapun nama dan bentuk perjudian, semuanya dilarang oleh Allah Swt., sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Maidah ayat 20 yang berbunyi : يأيها الذين آمنوا إنما الخمر والمي سر واءنصاب واءزالم ر س لعلكم ت لحون )المائدة: 20 )من عمل السيطان فا تنبوه “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala , mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah pernuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” Seiring dengan kemajuan tekhnologi, praktek perjudianpun berkembang dengan berbagai variasi dan wadah. Seperti judi toto kuda, judi sepak bola, judi melalui sms, perjudian melalui permainan golf dan sebagainya. Apapun nama dan bentuk judi, semuanya perbuatan keji yang wajib dijauhi. 255Nazih Hammâd, h.289 256Ibnu Taimiyah, Majmû’ al-Fatâwâ Ibn Taimiyah, (t.tp: Dâ r al-Fikr, 1980), jil. XXVIII, h. 76 257Nazih Hammâd, h. 289
136 3. Beberapa praktek jual beli yang diharamkan Ada beberapa bentuk kesalahan dan kecurangan yang terdapat dalam praktek jual beli yang menyebabkan jual beli tersebut haram. Kesalahan dan kecurangan itu bisa saja berasal dari perilaku pedagang dan bisa pula dari kondisi komoditi/barang dagangan. Adapun bentuk-bentuk jual beli yang haram tersebut adalah sebagai berikut. a) Memperdagangkan komoditi yang haram Dalam ekonomi Islam tidak ada sama sekali pemisahan antara manfaat normatif suatu komoditi dengan nilai ekonomisnya, dengan perkataan lain semua komoditi yang haram dimakan atau dimanfaatkan, maka haram pula mengambil keuntungan ekonomi atau memperdagangkan benda tersebut. Dilihat dari segi objek yang diperdagangkan, Islam telah mengharamkan beberapa komoditi, seperti; khamar, babi, anjing, bangkai, darah dan sebagainya.. Komoditi-komoditi yang haram diperdagangkan tersebut dalam terminologi fikih disebut mâl ghair mutaqawwam (harta yang tidak bernilai).258 Dasar pengharaman beberapa komoditi tersebut dapat dilihat dalam Al-Qur'an dan Hadis Rasulullah Saw. antara lain : Dalam Al-Qur'an surat al-Maidah ayat 3 : حرمت عليكم الميتل و الدم ولحم الخنزير وما اهل لغير هللا... “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah Swt.” 258Ulama fikih membagi harta dari segi kebolehan memanfaatkannya kepada dua bagian, yaitu mutaqawwam dan ghair mutaqawwam. Harta mutaqawwam adalah sesutu yang boleh dimanfaatkan menurut syara’, komoditi ini bernilai harta, sedangkan harta ghair al-mutaqawwam adalah sesuatu yang tidak boleh dimanfaatkan menurut syara’, sehingga tidak bernilai harta. Musthafâ Ahmad al-Zarqâ', al-Madkhal al-Fiqh al-‘Âm, (Damaskus : Muthâbi’ Alif Bâ' al-Adîb, 1968), h. I24-I25
137 Dalam hadis dijelaskan : عن ابر بن عبد هللا رضى هللا عنهما أنه سمع رسول هللا ص.م يقول عام ال تح وهو بمكل : إن هللا حرم بيع الخمر والميتل والخنزير واءصنام )مت ق عليه(259 “Dari Jabir bin Abdillah r.a, beliau mendengar Rasulullah Saw. bersabda pada tahun penaklukan Mekah :”Sesungguhnya Allah mengharamkan menjual khamar, bangkai, daging babi, dan berhala.” (muttafaq ‘alaih) عن أبي زبير قال : سألت ابرا رضى هللا عنه عن ثمن السنور والكلب فقال : ز ر النبى ص.م عن ذلك )رواه مسلم و النسائ( 260 “Berkata Abi Zubair : “Saya bertanya kepada Jabir r.a tentang uang hasil penjualan kucing dan anjing dan dia berkata : “Nabi Saw. melarang dari yang demikian. (H.R Muslim dan Nasa'i). Termasuk komoditi yang haram diperdagangkan adalah media informasi yang mempromosikan ide-ide yang merusak, seperti hiburan yang berdampak negatif, buku-buku porno dan segala yang mengikis akidah dan etika umat Islam.261 Bila dicermati media informasi ini lebih berbahaya dari makanan dan minuman yang merusak, seperti khamar dan sejenisnya (narkoba dan obat-obat psycotropica). Sebab yang terakhir ini hanya merusak anggota tubuh, sedangkan media informasi dapat merusak akal dan pikiran manusia. Di samping itu media informasi ini juga berperan sebagai perantara (wasilah) yang memperkenalkan kepada genarasi muda khususnya berbagai perilaku menyimpang. b) Tathfif (curang dalam timbangan) Secara kebahasaaan tathfif berarti bersedikit-sedikit, berhemat-hemat, pelit. Al-Muthaffif adalah orang yang mengurangi 259 al-‘Asqalânî, h. 158-159 260al-‘Asqalânî, h.I60 261Yusuf al-Qardhawi, Daur al-Qiyam…, h. I74
138 bagian orang lain ketika dia melakukan timbangan / takaran.262 Dalam Al-Qur'an istilah ini merujuk secara khusus terhadap praktek kecurangan dalam timbangan dan takaran, di mana praktek ini merupakan tindakan merampas hak orang lain. Kecurangan yang dilakukan pedagang melalui ketidakakuratan timbangan dan takaran mendapat perhatian khusus , karena memiliki efek yang sangat vital dalam transaksi bisnis. Orangorang yang melakukan tindakan semacam ini diancam oleh Allah Swt. berupa siksaan di akhirat sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Muthaffifin ayat 1-3 : ويةةل للمط ةةين. الةةذين إذا اكتةةالوا علةةى النةةاس يسةةتوفون.وإذا كالوهم أو وزنوهم يخسرون. “Kecelakaanlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orangorang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” Beberapa ulama bahkan memberikan makna yang lebih luas terhadap kata tathfif, termasuk orang yang menerima gaji secara penuh namun dia tidak menunaikan tugas-tugasnya secara jujur dan efisien.263 c) Jual beli gharar dan hashâh Jual beli gharar adalah menjual sesuatu yang tidak mungkin diserahkan secara langsung, baik barang itu sudah ada atau belum ada sama sekali.264 Misalnya menjual burung di udara atau ikan dalam kolam, menjual pondasi rumah atau dinding rumah, menjual binatang dalam hutan dan sebagainya. Sedangkan jual beli hashâh Adalah jual beli yang terjadi dengan lemparan batu atau koral. Ini merujuk pada praktek saat seorang penjual mengatakan : “Saya akan menjual sepotong kain 262Muhammad Fu 'ad ‘Abd al-Bâqî, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur'an al-Karîm, (Kairo : Mathba’ah Dâr al-Kutub al-Mishriyah, I364 H), juz II, h.I39 263Mustaq Ahmad, h.I37 264Muhammad Abd al-Mun’im, h. 123. Wahbah al-Zuhailî, juz IV, h.437