REFLEKSI DENGAN MODEL 5R
JMUIRNNGALGDUWKIMEIN-G3GUAN
PERIODE NOVEMBER S.D. 30 NOVEMBER 2022
Yuyu Wahyudin, M.Pd
CGP Angkatan 7 Kab. Bandung
Model Refleksi 5R
1. Reporting
Pada dua minggu ketiga ini
dimulai dari tanggal 17 s.d. 30
November 2022. pada fase ini saya
mempelajari tentang modul 1.3
tentang Visi guru penggerak.
Pembelajaran diawali dengan
mulai dari diri (alur pertama dari
MERDEKA), saya belajar tentang visi
sekolah masa depan, sekolah impian,
sekolah yang diidam-idamkan. Saya
diarahkan untuk mampu membuat
dan merumuskan visi dengan
melengkapi kalimat yang rumpang
hingga akhirnya berlatih membuat
visi guru atau visi pribadi selaku calon
guru penggerak.
Model refleksi 5R
1. Reporting
Pada alur Eksplorasi konsep, saya
belajar tentang isi modul 1.3 yang berisi
tentang konsep visi sekolah, yang
dimulai dari berpikir strategis,
paradigma inkuiri apresiatif, mengelola
perubahan positif, yang terdiri atas
inkuiri apresiatif dengan pendekatan
BAGJA.
Pada alur ketiga yaitu ruang
kolaborasi, saya dan rekan-rekan satu
tim (enam orang) berdiskusi maya
sebanyak dua kali untuk merumuskan
Visi, prakarsa perubahan, dan
manajemen perubahan dengan
pendekatan BAGJA yang disusun pada
Kanvas BAGJA. Selanjutnya
dipertemuan kedua ruang kolaborasi
kami mempresentasikannya secara
klasikal dengan dipandu oleh fasilitator.
Model refleksi 5R
1. Reporting
Alur selanjutnya adalah Demonstrasi
Kontekstual, Kegiatannya adalah menyusun
prakarsa perubahan dengan pendekatan
Manajemen BAGJA secara sendiri-sendiri
dengan cara membuat video, file presentasi,
atau berupa pdf.
Alur kelima Elaborasi, saya menerima
penguatan dari Instruktur yang bernama ibu
Listiyawati. Melalui elaborasi ini saya baru
tersadarkan diri tentang konsep yang sedang
dibahas tentang visi guru dan manajemen
perubahan karena penyajiannya sangat
bagus. Pada saat itu diputar sebuah film
kartun singkat Bernad bear yang sangat
menggugah dan filosofis banget. Selain itu
diselingi dengan berdiskusi bersama audien,
sehingga tambah mantap.
Model refleksi 5R
1. Reporting
Pada alur ke enam yaitu Koneksi Antarmateri.
Pada alur ini saya berlatih untuk memahami
keterkaitan antara Modul 1.1 hingga modul 1.3
kemudian saya menyajikannya pada aplikasi
canva, saya buat file pdf dan saya buat juga
videonya untuk upload di youtube. Pada bagian
terakhir adalah aksi nyata di mana saya harus
menerapkan visi guru dan prakarsa perubahan
dengan pendekatan BAGJA yang sudah dibuat
dalam bentuk aksi nyata. Saya sosialisasikan dan
saya praktikan setiap tahap demi tahap hingga
semua tahapan BAGJA dapat dilakukan.
Model refleksi 5R
1. Reporting
Pada interval dua minggu ketiga ini terjadi
kegiatan tambahan, yaitu pendampingan
pengajar praktik (PP) dan lokakarya pertama.
Pada saat pendampingan, PP memberikan
angket isian yang harus diisi dan pedoman
wawancara. Pertemuan terjadi di sekolah saya
yaitu SMP Negeri 1 Cimaung, PP berkunjung
langsung ke sekolah untuk bersilaturahmi
dengan saya juga dengan pimpinan saya yaitu
Kepala Sekolah. PP bertanya seputar kegiatan
yang sudah dilaksanakan, terkait kendala dan
capaian-capaian yang sudah dilaksanakan.
Pelaksanaan pendampingan ini dilaksanakan
sebelum dilaksanakan lokakarya 1 yang
dilaksanakan di SMPN 1 Solokanjeruk. Pada saat
lokakarya saya menerima materi tentang nilai,
peran dan kompetensi guru penggerak, dan
manajemen menggerakan komunitas praktisi.
2. Responding
Kegiatan pembelajaran pada modul ini
sangat menarik, karena pada modul ini
berlatih dan mempertajam pengetahuan
saya tentang pembuatan visi. Dari rangkaian
peristiwa yang terjadi saya merespon bahwa
kegiatan ini sangat penting dan sangat
bermanfaat bagi calon guru penggerak,
sebagai calon pemimpin di masa depan,
sehingga ke depan dapat membuat visi
dengan visioner dan membumi, tidak akan
asal-asalan.
Kegiatan-kegiatan pada modul 1.3 ini
sangat sesuai dengan capaian yang
diharapkan di awal, yaitu agar calon guru
penggerak (CGP) mampu merumuskan visi
yang menggerakan hati dan berkolaborasi
dalam menumbuhkembangkan profil pelajar
Pancasila pada murid-murid, serta
mengupayakan pencapaian visi melalui
prakarsa perubahan yang positif dan
apresiatif.
3. Relating
Yang saya pelajari di modul 1.3
tentang Visi Guru Penggerak, sangat
berkaitan sekali dengan dua materi yang
sudah dipelajari sebelumnya, yaitu
tentang bagaimana sebuah visi dibuat,
dengan konten berpihak pada murid dan
sangat sesuai dengan nilai guru
penggerak berpihak pada murid, serta
sangat sesuai pula dengan peran guru
penggerak yaitu mewujudkan
kepemimpinan murid.
3. Relating
Dengan berlatih menggunakan
manajemen perubahan dan pendekatan
BAGJA, maka saya dibentuk agar menjadi
guru penggerak yang memiliki nilai dan
peran serta visi yang berpihak pada murid
dan menghamba serta menuntun
perkembangan kodrat alam dan kodrat
zaman agar mereka menjadi manusia
yang sebenar-benarnya dan mencapai
keselematan dan kebahagian yang hakiki.
4. Reasoning
Penyusunan visi guru masa depan,
sebagai calon guru penggerak memaknai
bahwa kegiatan-kegiatan yang diberikan ini
akan menjadi pengalaman dan pelajaran
yang berharga. Dalam teori manajemen,
perubahan itu terdapat beberapa teori yang
dapat digunakan tidak hanya dengan inkuiri
apresiatif, namun dapat menggunakan
model-model yang lainnya.
Menurut Cooperrider, Whitney, dan
Stavros (2008:49), inkuiri apresiatif adalah
sebuah filosofi yang mengintegrasikan suatu
pendekatan dan proses yang melibatkan
banyak orang di berbagi tingkatan untuk
menghasilkan perubahan yang positif dan
efektif.
4. Reasoning
Sebagai sebuah filosofi dan kerangka kerja,
inkuiri apresiatif dapat diadaptasi dan
dikombinasikan dengan berbagai proses
organisasional yang lain seperti kepemimpinan,
redesain struktur dan sistem, bahkan
transformasi kultural (nilai dan keyakinan)
organisasi. Inkuiri apresiatif dapat juga
didefinisikasn sebagai pencarian koevolusioner
terhadap apa yang terbaik dari yang dimiliki oleh
individu, organisasinya, dan realitas yang
relevan di sekitar mereka. Pada fokusnya yang
terluas, kerangka inkuiri apresiatif melibatkan
pencarian dan penemuan sistematis dari
apaapa yang dapat memberi kehidupan pada
sistem hayati berupa segala sesuatu yang paling
efektif dan konstruktif secara ekonomis,
ekologis, dan kemanusiaan (Cooperrider &
Suresh, 1987:132).
4. Reasoning
Pandangan lainnya, menurut Whitney
dan Trosten-Bloom (2010:1) inkuiri
apresiatif adalah sebuah kajian terhadap
segala sesuatu yang dapat memberi
kehidupan kepada sistem manusia ketika
berfungsi pada fungsinya yang terbaik.
Berdasarkan modul 1.3 guru penggerak,
proses transformasi sekolah yang
digerakkan oleh guru penggerak
dilakukan melalui pendekatan inkuiri
apresiatif.
Meskipun berbeda dalam terminologi,
pendekatan inkuiri apresiatif sebenarnya
telah menjadi bagian esensial dari
perubahan organisasi. Scharmer
(2018:177) menjelaskan pendekatan
inkuiri apresiatif ini adalah bagian dari
action research yang dapat digunakan
untuk mengkreasi budaya baru di dalam
organisasi.
4. Reasoning
Melalui pendekatan inkuiri apresiatif para
guru penggerak mengelola proses transformasi
pendidikan di tingkat sekolah dengan
mengeksplorasi keinginan bersama setiap warga
sekolah, menghimpun daya dan kekuatan
penggerak, mengapresiasi setiap upaya
perbaikan sekecil apapun serta menyelaraskan
kepentingan-kepentingan yang berbeda di dalam
sekolah guna menghindari resistensi yang
kontraproduktif bagi kemajuan sekolah.
Kerangka kerja inkuiri apresiatif di sisi lain juga
memiliki relevansi asumsi dan metodologi
dengan prinsip kodrat alam yang dimuat dalam
konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara.
Prinsip tersebut menjelaskan bahwa
pendidikan dilakukan untuk menuntun segala
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar
mereka sebagai manusia dan anggota
masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Dewantara,
1994:133).
4. Reasoning
Kesesuaian prinsip tersebut dengan
kerangka inkuiri apresiatif terletak pada
kesamaan asumsinya, bahwa setiap
individu dan organisasi memiliki aspek-
aspek yang baik dan positif, sesuatu
yang melekat sebagai bagian yang
sangat dihayati, bersifat efektif, dan
berhasil menciptakan hubungan yang
sehat pada berbagai dimensi komunitas
dan pemangku kepentingan. Inkuiri
apresiatif dimulai dengan
mengidentifikasi aspek-aspek positif
tersebut dan menghubungkannya
dengan potensi transformasi yang
tertinggi yakni energi, visi, dan tindakan
individu atau organisasi untuk berubah
(Cooperrider et al., 2008).
4. Reasoning
Menurut Whitney dan Trosten-Bloom (Whitney
& Trosten-Bloom, 2010), inkuiri apresiatif
mengasumsikan bahwa perubahan personal dan
organisasional akan efektif jika didasarkan pada
pertanyaan-pertanyaan dan dialog tentang
berbagai kekuatan, keberhasilan, nilai, harapan,
dan impian yang transformasional. Asumsi ini
setara dan relevan dengan visi dan konsepsi Ki
Hajar Dewantara tentang prinsip kodrat alam dan
sistem among dalam pendidikan. Kesamaan-
kesamaan asumsi inilah yang menjadi dasar
penggunaan inkuiri apresiatif dalam
menggerakkan proses transformasi di sekolah
(Dharma, 2020). Masih menurut Whitney dan
Trosten-Bloom (2010:6), proses inkuiri apresiatif
terdiri dari beberapa tahapan yang tergabung
dalam sebuah siklus atau biasa disebut siklus 4D
yakni Discovery (pencarian), Dream (impian),
Design (perancangan), dan Destiny (perwujudan
impian).
4. Reasoning
Siklus 4D dalam inkuiri apresiatif tersebut
dimodifikasi agar semakin relevan dengan
kebutuhan transformasi di sekolah menjadi
Siklus model 5D (Define, Discover, Dream,
Design, Deliver), suatu model anak tangga
perubahan bertahap yang menyerupai gerak
melingkar spiral, mulai dari tahap
penetapan, pencarian/penemuan,
membangun mimpi, rancangan dan
implementasi/eksekusi. Pada Modul 1.3
Guru Penggerak, model 5D tersebut diberi
istilah BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil
Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana,
Atur Eksekusi) yang dalam pengertian
Bahasa Sunda berarti bahagia.
5. Recontsruction
Di masa yang akan
datang, jika saya
menemukan materi atau
konsep ini, yaitu penyusunan
visi, saya sudah siap untuk
mengimplementasikan
bahkan saya harus bisa
berbagi dengan rekan-rekan
saya sesama guru ataupun
di luar itu.
5. Recontsruction
Manajemen perubahan dengan
paradigma Inkuiri ini yang sudah dipelajari
ini perlu dicoba dan diimplementasikan
dalam kehidupan di sekolah atau pun di
komunitas (organisasi). Meskipun ada
beberapa teori analisis manajemen
perubahan yang lebih dulu terkenal lebih
dulu selain pendekatan 4D, 5D (BAGJA) yaitu
dengan pendekatan SOAR (Strengths,
Opportunities, Aspirations, dan Results) dan
SWOT (Strength, Weakness, Opportunities,
Threats). Namun model AI dengan
menggunakan pendekatan BAGJA perlu
dicoba dan dikembangkan lebih baik lagi.
5. Recontsruction
Saya merasa ilmu manajemen ini sangat
penting, ilmu yang sangat berharga bagi
saya dan seluruh guru. semoga ke depan
semua guru dapat memahami pentingnya
ilmu ini.
Terima Kasih
Sulistiawati, S.Pd. Asep Saepulloh F., S.Ag.M.Pd
Pengajar Praktik. Fasilitator