DAFTAR ISI
Halaman Judul...............................................................................................................
Kata Pengantar.................................................................................................................
Daftar Isi.............................................................................................................................
Kegiatan Belajar
Judul Kegiatan Belajar
PENDAHULUAN
Deskripsi Singkat..........................................................................................................
Relevansi......................................................................................................................
Petunjuk Belajar.............................................................
INTI
Capaian Pembelajran
Subcapaian Pembelajaran
Uraian Materi
A. Hakikat Puisi
B. Jenis Puisi
1. Puisi Lama
2. Puisi Baru
3. Puisi Modern
C. Unsur Pembangun Puisi
1. Unsur Fisik
2. Unsur Batin
D. Menulis Puisi dengan Memperhatikan Unsur Pembangun Puisi
E. Mendemonstrasikan Puisi
PENUTUP
Rangkuman
Tes Formatif
Daftar Pustaka
GENRE PUISI DALAM
PEMBELAJARAN SASTRA
KURIKULUM 2013
GENRE PUISI DALAM KURIKULUM 2013
PENDAHULUAN
Deskripsi Singkat
Puisi merupakan bentuk kesasteraan paling tua. Puisi merupakan hasil refleksi
kehidupan manusia sejak jaman dahulu. Pada zaman dahulu orang mengenal puisi
melalui mantra ataupun pantun. Puisi tidak asing dalam kebudayaan masyarakat
indonesia, misalnya tradisi berbalas pantun saat menikah pada masyarakat Betawi. Pada
masa kini, puisi mneyebar di semua media sosial.
Dalam puisi terekam peristiwa-peristawa yang dialami penyair sehingga bisa
menyelami pikiran penyair, merasakan apa yang ia alami. Dalam sebuah puisi juga
terekam peristiwa sejarah yang direkam kata-kata yang indah.
Pada kondisi sekarang atau generasi milenial sering meluapkan perasaanya
melalui media sosial yakni Instagram, Facebook, Story WA. Semua bentuk isi hati
mereka dituangkan dalam sebentuk kalimat ataupun paragraf. Namun kondisi ini tak
diimbangi dengan etika bermedia massa. Banyak dari mereka meluapkan perasaannya
dengan menggebu-gebu, kasar hingga penggunaan bahasa frontal. Kemudahan akses
informasi pada abad 21 ini seolah-oleh memberi kebebasan mereka untuk berekspresi
tanpa menyadari bahwa rekam jejak digital mereka sulit hilang. Banyak kasus yang
mengakibatkan orang tesandung masalah hukum karena luapan perasaan mereka di
media massa. Jika menilik kasus tersebut, etika berbahasa sangat diperlukan agar pesan,
emosi ataupun kritik yang disampaikan di media sosial tidak menambah masalah baru
bagi mereka. Pemilihan diksi yang tepat ataupun pemilihan kata-kata bermajas akan
memperhalus curhatan mereka sehingga tetap berpegang teguh pada tata bahasa, tidak
menyalahi etika bermedsos hingga berbuntut kasus hukum.
Relevansi
Modul ini memiliki relevansi dengan kurikulum 2013 di tingkat SMP/MTs
ataupun di tingkat SMA/MA/SMK. Di jenjang SMP/MTs materi puisi dapat ditemukan
pada kelas VII yang memfokuskan pada unsur pembangun puisi berupa rima, pesan,
diksi pada puisi rakyat (pantun/syair/puisi rakyat setempat). KD pada jenjang ini
membahas menyajikan suatu gagasan, ide ataupun perasaan ke dalam sebuah puisi. Pada
tingkat SMA/MA/SMK pembelajaran puisi difokuskan pada mengidentifikasi tema,
suasana dan makna dalam antologi puisi, mendemonstrasikan pembacaan puisi melalui
musikalisasi, ataupun memproduksi sebuah puisi dengan memperhatikan usur
pembangunnya.
Kegiatan belajar dari jenjang menengah hingga atas ini diharapkan peserta dapat
meningkatkan ketrampilan genre sastra yakni genre puisi. Namun pada kenyataan di
lapangan khususnya media massa, saat peserta didik meluapkan emosi sering tidak
terstruktur. Bentuk amarah, kritik hingga protes terhadap suatu hal diungkapkan secara
frontal tanpa memikirkan etika bermedsos. Rekaman jejak digital mereka akan sulit
hilang, bahkan kasus terparah curhatan mereka berbuntut kasus hukum karena ada pihak
yang merasa dirugikan. Kurangnya tingkat pemahaman mereka, latar belakang ekonomi
hingga lingkungan pergaulan menjadikan kontrol emosi mereka sangat rendah.
Banyaknya kasus ini sebenarnya bisa diakali, jika mereka menyampaikan curhatan
mereka dengan diksi yang lebih halus ataupun kata bermajas untuk memperhalus ujaran
namun tak mengubah makna esensinya. Pemilihan diksi dan bahasa figuratif bisa
memberikan efek yang luar biasa. Penggunaan gaya bahasa atau majas ini diharapkan
dapat mengoptimalkan pembaca untuk menangkap amanat, perasaan nada dan suasana
yang ingin disampaikan oleh anak (penyair).
Petunjuk Belajar
Ada bebarapa hal yang harus diperhatikan terkait pembelajaran sastra genre puisi ini.
❖ Bacalah modul ini dengan cermat agar memahami konsep yang terdapat dalam
modul.
❖ Berilah catatan penting pada bagian-bagian tertentu yang menurut kalian perlu.
❖ Kaitkan konsep-konsep baru pada modul ini agar mudah memahami relevansi
konsep ini dengan kehidupan sehari-hari.
❖ Buatlah rangkuman modul ini sesuai pemahaman kalian.
❖ Penguasaan materi pada odul ini dapat terlihat saat kalian mengerjakan tugas diskusi
maupun tes formatif.
Inti
Capaian Belajar
Mampu mekonstruksi materi genre puisi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Subcapaian Pembelajaran
1. Peserta mampu mengaitkan hakikat puisi dalam kehidupan sehari-hari
2. Peserta mampu mendeskripsikan ciri, isi, struktur puisi.
3. Peserta mampu mendeskripsikan unsur pembangun puisi.
4. Peserta mampu memerinci unsur fisik dan unsur batin puisi.
5. Peserta mampu menjelaskan menulis puisi dengan memperhatikan unsur
pembangun.
6. Peserta mampu mendemonstrasikan puisi.
URAIAN MATERI
A. Hakikat Puisi
Sumber: https://id.scribd.com/
Sumber: Facebook puisi
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa sastra bisa masuk ke dalam semua lini,
khususnya materi puisi. Puisi menjadi media untuk melakukan kritik sosial yang
dinilai efektif. Kekuatan media sosial juga menjadi sebuah wadah untuk menampung
semua bentuk ide berupa kritik maupun luapan curahan hati di media sosial.
Pada kondisi peserta didik ini terjadi saat mereka mencoba meluapkan semua
amarah, kegalauan, emosi negatif maupun emosi positif secara frontal terbuka di
media massa yang dimilikinya. Manifestasi emosi peserta didik ini bisa dikemas
menjadi sebuah puisi.
Pradopo (dalam Sartini et al (2019:15) menyatakan bahwa puisi
mengekspresikan yang membangkitkan perasaan merangsang imajinasi panca indera
dalam susuanan berirama, direkam, diekspresikan dinyatakan dengan menarik dan
memberi kesan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) puisi merupakan sebuah
ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, irama dalam penyusunan lirik-
liriknya.
Secara sederhana menurut Muntazir (2016:211) membaca puisi merupakan
sebuah usaha kontak fisik dengan puisi tersebut, hal ini dikarenakan pembaca harus
mengerahkan segala kemampuan, pikiran, kemampuan, pengalaman dan perasaan
agar sebuah puisi yang dibaca dapat ditangkap maknanya secara tersirat.
B. Jenis-jenis Puisi
Dalam periodisasi sastra, kesusastraan Indonesia dibagi ke dalam sastra
Indonesia lama dan sastra Indonesia modern. Puisi terbagi dalam puisi lama dan puisi
baru, serta puisi modern.
Sumber: Okenews
Mantra Anak-anak
Gazal Muda-mudi
Pantun
Bidal Agama
Teka-teki
Karmina
Jenaka
Puisi Gurindam
Lama
Syair
PUISI Talibun Balada
Seloka Himne
Puisi Ode
Baru Berdasarkan Isinya Epigram
Romansa
Puisi Modern Berdasarkan Elegi
Bentuknya Satire
Distikon
Puisi Terzina
Mbeling Kuatrin
Kuint
Puisi Sektet
Mantra Septima
Oktaf/Stanza
Puisi Soneta
Konkret
1. Puisi lama
` Puisi lama merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat lama.
Kebudayaan ini dipengaruhi oleh adat istiadat, serta kepercayaan yang dianut oleh
masyarakat lama misal animisme, dinamisme maupu Hinduisme. Puisi lama
merupakan kesasteraan yang masih orisinal karena pada masyarakat lama masih
sedikit dipengaruhi oleh kubadayaan dari luar.
Menurut KBBI puisi lama merupakan puisi yang belum dipengaruhi oleh
puisi Barat. Puisi lama didominasi oleh bahasa melayu, seperti terlihat bentuk puisi
lama yakni syair.
Ciri-ciri:
• Terikat oleh banyak baris dalam tiap-tiap bait.
• Terikat oleh banyak kata ataupun suku kata dalam tiap barisnya.
• Ada rima atau persajakan.
• Ada irama, ritme atau alunan bunyi.
Jenis-jenis puisi lama antara lain:
a) Mantra
Mantra merupakan ucapan yang diyakini memiliki kekuatan gaib.
Contoh:
Assalamulaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Aku membasuh mukamu
(Gunawan,2019:15)
b) Pantun
Pantun berdasarkan isinya dapat dibagi menjadi pantun anak-anak, muda-mudi,
agama/nasihat, teka-teki dan jenaka. Pantun mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pada tiap bait pantun terdiri dari empat baris
2. Setiap baris pantun terdiri 8-12 kata
3. Mempunyai rima akhir ab-ab
4. Baris pertama dan kedua pantun merupakan sampiran
5. Baris ketiga dan keempat merupakan isi
Contoh
• Pantun anak-anak
Manis sungguh tebu seberang
Dari akar sampai kepucuk
Manis sungguh mulut orang
Kita nangis jadi terbujuk
• Pantun muda-mudi
Anak lebah main di rawa
Ikan sepat di dalam karang
Rasa badan tiada bernyawa
Sebelum dapat dinda seorang
• Pantun Agama
Petang redup beralih awan
Berarak awan hujan lebat
Jangan buang masa
Isilah masa dengan amalan
• Pantun Teka-teki
Ada tubuh ada tangan
Tiada kepala tiada kaki
Sangat berguna sewaktu hujan
Apakah dia maksudnya (jas hujan)
• Pantun Jenaka
Lemparkan barang sampai kemari
Kami sambut bersukacita
Gemparlah orang senegeri
Melihat beruk pegang senjata
c) Karmina
Karmina adalah pantun kilat yang pendek berbentuk seperti pantun dan bersajak
aa.
Contoh :
Dulu perang sekarang besi
Dulu sayang sekarang benci
d) Seloka
Menurut KBBI seloka adalah jenis puisi yang mengandung ajaran bisa berupa
sindiran atau semacamnya, biasanya terdiri 4 larik berirama a-a-a-a yang berupa
isi dan sampiran.
Contoh:
Lurus jalan ke Payakumbuh
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh
Ibu mati bapak berjalan
e) Gurindam
Dalam KBBI gurindam adalah sebuah sajak terdiri dari dua baris yang berisi
petuah atau nasihat. Sajak dalam gurindam adalah a-a.
Contoh:
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu akan tersesat
f) Syair
syair adalah sebuah puisi yang berasal dari Arab dan mempunyai ciri tiap bait 4
baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Contoh:
Pada zaman dahulu kala
Tersebutlah sebuah cerita
Sebuah negeri yang aman sentosa
Dipimpin raja nan bijaksana
g) Talibun
Menurut KBBI talibun adalah sebuah bentuk kesasteraan melayu yang jumlah
barisnya lebih dari 4, biasanya terdiri antara 16-20. Talibun mempunyai
persamaan bunyi pada tiap akhir baris.
Contoh:
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun sampai sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang carilah dahulu.
2. Puisi Baru
Puisi baru adalah puisi yang lebih menonjolkan isi.
Ciri-ciri:
• Tidak terikat aturan tertentutetapi memiliki ciri khas
• Lebih mengutamakan isi/makna daripada struktur/bentuk.
Jenis-jenis puisi baru menurut isinya, puisi dibedakan atas:
a. Balada
Balada adalah sajak sederhana berkisah tentang cerita rakyat yang
mengharukan, bisa berupa nyanyian (dinyanyikan), ataupun berupa dialog.
Contoh puisi karya Sapardi Djoko Damonoyang berjudul “Balada Matinya
Seorang Pemberontak”.
Ciri-ciri balada:
• Terdiri dari tiga bait
• Masing-masing bait terdiri dari 8 larik
• Masing-masing larik bersajak-sajak a-b-a-b-b-c-c-b, sajak kemudian
berubah a-b-a-b-b-c-b-c
• Larik pertama digunakan sebegai refren dalam bait-bait berikutnya.
b. Himne
Himne adalah nyanyian pujaan kepada Tuhan. Pada masa sekarang
himne berkembang meluas. Himne dapat diartikan sebagai puisi yang berisi
pujian yang dinyanyikan terhadap sesuatu yang dihormati.
Contoh:
Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
Mengagungkan namaMUdengan cara sendiri
Menggeliat derita pada lekuk dan liku
Bawah sayatan khianat dan dusta
Dengan hikmat selalu kupandang patungMu
Menitikkan darah dari tangan dan kaki
Dari mahkota duri membulan paku
Yang dikarati oleh dosa manusia
Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
Dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
MengenalMu tersalib di dalam hati.
(Saini S.K)
c. Ode
Ode adalah puisi yang menitikberatkan pada pemberian sanjungan untuk
orang yang berjasa.
Contoh:
Generasi sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantun keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)
d. Epigram
Epigram berisi tuntunan atau ajaran hidup yang bisa dijadikan tuntunan hidup.
Hari ini tidak ada tempat untuk berdiri
Sikap lamban yang artinya mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang ada di hadapan depan
Yang menunggu sejenak sekalipun pasti akan tergilas
e. Romansa
Romansa merupakan puisi yang bercerita tentang cinta kasih sesama manusia.
Contoh:
Menabung Kangen
Aku suka menabung rasa kangen
Dan tiap keping kenangan
Aku mau repot
Menjinjing atau memanggulnya
Kemana pergi
Sampai kita bertemu lagi
(Helvy Tiana Rosa)
f. Elegi
Elegi berisi ratap tangis kesedihan.
Contoh:
Senja di Pelabuhan Kecil
Karya: Chairil Anwar
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
g. Satire
Satire berisi sindiran atau kritik.
Negeriku
mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi
(Mustofa Bisri 1414)
Puisi berdasarkan bentuknya dibedakan menjadi:
1. Distikon merupakan puisi yang terdiri dari dua baris tiap baitnya.
Oleh: Or. Mandank
Berkali kita gagal
Ulangi lagi serta cari akal
Berkali – kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
2. Terzina merupakan puisi yang terdiri tiga baris tiap baitnya.
Aku Ingin*
Karya: Sapardi Djoko Damono
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(1989)
3. Kuatren, puisi yang tiap baitnya terdiri 4 baris.
Hujan Bulan Juni
Karya: Sapardi Djoko Damono
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arifdari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(1989)
4. Kuint, puisi yang tiap baitnya terdiri 5 baris.
Ranjang Bulan, Ranjang Pengantin
Karya: WS. Rendra
Ranjang bulan, ranjang pengantin
langit biru lazuardi
ditumpu tangan-tangan leluhur.
Anjing tanah menggelepar
memekikkan birahi kepayang.
Ranjang bulan, ranjang pengantin
perahu jung seratus layar
dipangku lautan tertidur.
Gugur bintang satu-satu
mengantuk kena bekhayal.
Ranjang bulan, ranjang pengantin
kerajaan mambang dan siluman
diasapi dupa memabukkan.
Terkapar mimpi satu-satu
terbanting di atas batu hujan.
Rajang bulan, ranjang pengantin
bumi keras kehidupan
diwarnai semangat dan harapan.
Ladang digarap dikerjakan
bibit ditanam disuburkan.
5. Sektet merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri 6 baris.
Ranjang Ibu
Karya: Joko Pinurbo
Ia gemetar naik ke ranjang
sebab menginjak ranjang serasa menginjak
rangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang.
Dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit,
serasa terdengar gemeretak tulang
ibunya yang sedang terbaring sakit.
(2004)
6. Septima, puisi yang tiap baitnya terdiri 7 baris.
Indonesia Tumpah Darahku
Oleh: Muhammad Yamin
Duduk di tepi pantai dengan tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih warna putih di pasir terderai
Nampaklah sebuah pulau di lautan hijau
Gunung – gemunung yang bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
7. Oktaf/ stanza merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris.
Mata Hitam*
Karya: WS Rendra
Dua mata hitam adalah matahari yang biru
dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu.
Rindu bukanlah milik perempuan melulu
dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu.
Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi
kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi.
Dua mata hitam adalah rumah yang temaram
secangkir kopi seore hari dan kenangan yang terpendam
8. Soneta merupakan sajak yang terdiri atas empat bait (2 bait pertama masing-
masing terdiri 4 baris, 2 bait terakhir masing-masing terdiri 3 baris)
Pagi-Pagi
Karya: M. Yamin
Teja dan cerawat masih gemilang,
Memuramkan bintang mulia raya;
Menjadi pudar padam cahaya,
Timbul tenggelam berulang-ulang.
Fajar di timur datang menjelang,
Membawa permata ke atas dunia;
Seri-berseri sepantun mulia,
Berbagai warna, bersilang-silang.
Lambatlaun serta berdandan,
Timbul matahari dengan pelahaan;
Menyinari bumi dengan keindahan.
Segala bunga harumkan pandan,
Kembang terbuka, bagus gubahan;
Dibasahi embun, titik di dahan.Unsur-unsur Puisi
3. Puisi modern
Puisi modern lebih dikenal dengan nama puisi kontemporer. Puisi ini berkembang
mengikuti pekerbangan zaman. Puisi kontemporer identik dengan puisi yang lari dari
aturan puisi konvensional. Sutarzi Colzum Bachri menjadi salah satu penyair puisi moren
ini. Ada tiga jenis puisi kontemporer yaitu:
a. Puisi mantra adalah puisi yang mengambil sifat-sifat yang ada pada mantra. Puisi ini
dipercaya memberikan efek kemanjuran.
b. Puisi mbeling merupakan puisi yang tujuannya untuk membebaskan rasa gelisah,
tertekan serta lebih banyak menyoroti kritik sosial. Puisi ini mengedepankan unsur
humor.
c. Puisi konkret adalah puisi kontenporer yang lebih menonjolkan bentuk grafis pada
susunan kata sehingga membentuk gambar tertentu.
C. Unsur-unsur Puisi
Unsur Fisik Tipografi
Unsur-unsur Diksi
Puisi
Imaji
Unsur Batin Kata
Konkret
Bahasa
Figuratif
Rima
Tema
Amanat
Perasaan
Nada dan
Suasana
1. Unsur Fisik
a. Diksi atau pilihan kata
Menurut Fathoni (dalam Hasanah et al, 2019:15) menyatakan bahwa
keberhasilan sastrawan atau penyair dalam membuat puisi tidak terlepas dari
pemilihan diksi atau pilihan kata, yang menjadikan puisi lebih hidup dan
berkesan.
Pemilihan kata dalam puisi mempertimbangkan:
maknanya
kata-kata konotatif komposisi bunyi dalam
rima dan irama
estetis urutan kata
b. Pengimajian
Imaji merupakan kata-kata yang digunakan pengarang agar menimbulkan
khayalan atau imajinasi pembaca. Dengan daya imajinasi tersebut, pembaca
seolah-olah merasakan, mendengar atau melihat sesuatu yang diungkapkan
penyair.
c. Tipografi
Tipografi berkaitan dengan perwajahan puisi dan merupakan pembatas paling
penting antara puisi, prosa serta drama. Tipografi dalam puisi terkait larik-larik
dalam puisi bukan berbentuk paragraf namun bait. Contohnya adalah puisi
Sutarzi Calzoum Bachri.
Laksana bintang berkilat cahaya,
Di atas langit hitam kelam,
Sinar berkilau cahya matamu,
Menembus aku kejiwa dalam.
Ah, tersadar aku,
Dahulu ....................................
Telah terpasang lentera harapan
Tertiup angin gelap keliling.
Laksana bintang di langit atas,
Bintangku Kejora
Segera lenyap peredar pula,
Bersama zaman terus berputar
(Sebagai Dahulu, Aoh Kartahadimaja, Gema tanah Air)
d. Kata Konkret
Kata konkret digunakan untuk membangkitkan imajinasi pembaca. Jika penyair
mahir mengkonkretkan kata-kata, pembaca seolah-oleh melihat, mendengar
atau merasakan apa yang dituliskan penyair dan dapat membayangkan secara
jelas peristiwa atau keadaan yang dituliskan penyair.
e. Rima, persamaan bunyi atau persajakan.rima dapat dibedakan dari beberapa
segi.
1. Rima berdasarkan bunyinya
a. Asonansi, persamaan bunyi vokal dalam puisi.
Contoh: k-e-l-a-m l-e-n-y-a-p s-e-n-y-a-p
b. Disonansi pemakain bunyi vokal yang berlawanan.
Contoh: Tindak- Tanduk
c. Perulangan huruf konsonan pada beberapa suku kata secara berturut-turut.
Contoh: Remuk redam rindu.
2. Rima menurut letaknya dalam kata.
a. Rima mutlak, persamaan bunyi pada seluruh kata
Cinta
Cinta
Cinta
b. Rima sempurna, perulangan bunyi pada setiap suku akhir.
Aku mencintai Dia
Kau mencintai Dia
c. Rima tak sempurna, persamaan bunyi pada sebagian suku kata akhir.
Aku menulis puisi
Sebab puisi paling fasih mengucap sepi;
(Dikutip dari puisi Helvy Tiana Rosa)
3. Rima menurut letaknya dalam baris.
a. Rima awal, persamaan bunyi pada awal baris.
Rindu tetap membelenggu
Rindu mencecap semua rasa
b. Rima tengah, persamaan bunyi di tengah baris.
Semua tak lagi sama
rindu tak kuasa bersua
c. Rima akhir, persamaan bunyi di akhir baris.
Aku dan kamu ada
Namun kini aku tak kuasa
Kau anak orang berada
Sedangkan aku aku tak punya kuasa
d. Rima horizontal/ datar, persamaan bunyi yang terdapat dalam satu larik.
e. Rima vertikal/ tegak, persamaan bunyi pada baris berlainan.
Aku ingin berdiam dalam malam
Seperti bulan dalam kelam
Kuingin menggapai mimpi
Seperti bumi yang tak bertepi
4. Rina menurut letaknya dalam baris
a. Rima terus, persamaan bunyi yang terletak secara berurutan, bersajak a-a-
a-a.
Sesaat sebelum menutup mata
Aku ingin sekali berkata
Ibu kau adalah bentuk nyata
Keindahan dunia yang ada
b. Rima silang, persamaan bunyi berpola a-b-a-b.
Leburlah hingga tak bersisa
Semua rasa berubah lara
Bergerak terarak menepis rasa
Sepi, semu, rindu tak suara
c. Rima peluk, rima yang berpola a-b-b-a
d. Rima pasangan, persamaan bunyi pada setiap akhir secara berturut-turut
aa-bb-cc-dd
e. Rima putus, persamaan bunyiyang tidak teratur.
f. Bahasa Figuratif
Bahasa figuratif (majas) adalah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk
menyatakan sesuatu dengan cara membandingkannya dengan benda atau kata
lain. Penggunaan majas mendukung estetika sebuah puisi serta memperhalus
pilihan kata. Majas dimaksudkan agar gambaran benda yang dibandingkan itu
lebih jelas.
Menurut Wirawan (2016:40) majasa (figurative language) adalah bahasa
yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara membandingkan
dengan benda atau kata lain. Majas mengiaskan atau mempersamakan sesuatu
dengan hal lain [2]. Bahasa figuratif (majas) merupakancara penyair
mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginannya melalui kata-kata yang
dipilihnya.
Majas dikelompokkan menjadi lima, yaitu;
1. Majas Sindiran
a. Ironi, menyindir untuk menyatakan sebaliknya.
Contoh: rajin sekali kamu, pukul 09.00 baru datang
b. Sinisme, menyindir lebih kasar dariada ironi.
Contoh: mulutmu harimaumu
c. Sarkasme, sindiran yang paling kasar.
Contoh: Tulikah kamu. Tak segara datang ketika dipangil.
2. Majas Penegasan
a. Majas pleonasme, menambahkan keterangan yang sudah jelas,s ehingga
terkesan berlebihan.
Contoh: Naiklah ke atas raihlah mimpimu tanpa batas.
b. Repetisi, mengulang kata dalam satu kalimat untuk menegaskan maksud.
Contoh: Merdeka, sekali merdeka tetap merdeka.
c. Paralelisme, majas paralelisme dibagi menjadi dua, yakni anafora dan
epifora.
Anafora adalah pengulangan di awal kalimat
Sajak Kecil Tentang Cinta
Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menjadi aku
(Sapardi Djoko Damono)
Epifora adalah pengulangan di akhir baris.
Helvy
Kau siapa?
Aku perempuan yang berdansa dengan puisi.
Maaf, siapa?
Aku perempuan yang bertahan dengan puisi.
.......................................
(Helvy Tiana Rosa)
d. Tautologi, pengulangan kata menggunakan sinonimnya.
Contoh: tak usahlahlah kau risau atau gelisah memikirkan semua ini.
e. Klimaks. Menyatakan suatu hal secara meningkat yakni dari hal yang
lebih kecil ke hal yan lebih besar.
Contoh: Perjalanan hidup dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga
tua tentu membuat orang kaya akan pengalaman hidup.
f. Antiklimaks, menyatakan suatu hal yang menurun, dari hal besar ke hal
yang lebih kecil.
Contoh: Istana ataupun apartemen tak mampu menyangingi
kenyamanan gubukku ini.
3. MajasPertautan
a. Alusio, berkaitan dengan peristiwa sejarah atau umum dan diperkirakan
orang telah memaham maknanya sendiri tanpa perlu dijelaskan.
Contoh: Tak usahlah kau menjadi Malin Kundang
b. Metonimia, berkaitan dengan merk dagang.
Contoh: Iklan Marjan seolah menjadi pertanda hari Ramadhan semakin
dekat.
c. Sinekdoke Pars Prototo, menyebutkan secara sebagian untuk menyatakan
keseluruhan.
Contoh: Batang hidungnya tak nampak seharian ini.
d. Sinekdoke Totem Pro Parte, menyebutkan secara keseluruhan untuk
sebagian.
Contoh: Indonesia gagal melaju di All England.
e. Eufemisme, menggunakan kata yang lebih halus untuk menyatakan
makna yang sebenarnya.
Contoh: Setahun ini peforma kinerjanya sangat kurang dalam hal waktu.
(tidak disiplin)
4. Majas Perbandingan
a. Asosiasi, membandingkan suatu hal dengan menggunakan kata
pembanding bagaiakan, laksana, bak, seperti, baik.
Contoh: Kecantikannya bagaikan seorang bidadari.
b. Simile, membandingkan dua hal yang hakikatnya berbeda namun
dianggap sama dengan menggunakan kata pembanding secara eksplisit.
Contoh: Ibarat punguk merindukan bulan.
c. Metafota, membandingkan dua hal karena kesamaan sifat.
Contoh: Padi menguning keemasan.
d. Alegori, membandingkan dua hal secara utuh, keduanya bertautan
langsung.
Contoh: Selalu bergandeng tanganlah kalian berdua, hidup ini layaknya
mengarungi sebuah lautan pasti ada gelombang, topan dan badai yang
menerpa.
e. Personifikasi, membandingkan benda mati seperti manusia.
Contoh: rumput ikut bergoyang menyanyikan lagu ini.
5. Majas Pertentangan
a. Hiperbola, menyatakan suatu hal dengan maksud secara berlebih-lebihan.
Contoh: Suara Tangismu menggemparkan bumi ini.
b. Litotes, menyatakan suatu hal secara berlawanan dengan maksud
merendahkan diri agar terasa lebih sopan.
Contoh: Silakan mampir ke gubuk saya.
c. Antitesis, menggunakan paduan kata yang berlawanan (antonim) agar
lawan bicara memperhatikan kudua bagian tersebut.
Contoh: Hidup dan mati adalah rahasia Sang Khalik.
d. Paradoks, seolah-olah mengandung pertentangan namun tidak, karena
objek yang dipertentangkan berbeda.
Contoh: Aku merasa sepi saat berada di pesta ini.
2. Unsur batin
Kasnadi (dalam Setiana dan Aida Azizah, 2019:42) menyatakan bahwa
sebuah puisi mengandung beberapa unsur ekstrinsik mulai dari politik, pendidikan,
sosial budaya, sosial masyarakat, ekonomi serta adat.
a. Tema, pokok persoalan mendesak yang diungkapakan oleh penyair. Sebuah tema
dapat dikembangkan dalam sebuah puisi.
b. Amanat merupakan sebuah pesan yang ingin disampaikan penyair kepada
pembaca. Menurut Setiana dan Aida Azizah (2019: 42) dalam memahami sebuah
amanat perlu memahami tema, nada dan nada sebuah puisi terlebih dahulu.
Sebuah puisi merupakan kesatuan kedua unsur fisik dan batin sehingga
diperlukan pemahaman scara menyeluruh unsur-unsur tersebut.
c. Perasaan merupakan ekspresi perasaan penyair. Perasaan penyair dalam
menghadapi persoalan, sangat ditentukan oleh sikapnya. Sebuah tema yang
berbeda tentu cara penyair mengungkapkan perasaannya dengan berbeda pula.
Perasaan ini bisa berupa rasa senang, benci, rindu dan sebagainya.
d. Nada dan suasana
Sikap penyair terhadap pembaca disebut nada puisi. Penyair terkadang ingin
mengejek, menggurui, menasehati ataupun bersikap biasa saja. Suasana adalah
keadaan jiwa seorang pembaca setelah mengapresiasi puisi atau akibat psikologis
yang ditimbulkan setelah membaca puisi. Nada dan suasana sangat berkaitan erat.
Misalnya nada kritik akan menimbulkan suasana pemberontakan.
D. Menulis Puisi dengan Memperhatikan Unsur Pembangun Puisi
Menulis puisi merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan jika berkaitan
langsung dengan perasaan saat menulis puisi tersebut. Menulis puisi bisa dijadikan
sebagai terapi mental untuk meluapkan emosi pada diri seorang penyair. Gagasan
saat menulis puisi bisa diperoleh dari video, lagu, kisah inspiratif, maupun media
gambar untuk memancing imajinasi anak.
E. Mendemonstrasikan Puisi
Ada banyak cara dalam memngapresiasi puisi dengan mendemonstrasikan
dengan menarik. Musikalisasi adalah satu contoh upaya dalam mengapresiasi puisi.
Tujuan musikalisasi puisi adalah memudahkan pendengar memahami makna puisi
yang ingin disampaikan penyairnya. Ada pendapat berbeda mengenai musikalisasi
puisi ini. Musikalisasi puisi ada yang mengapresiasi dengan puisi utuh kemudian
dilagukan, namun ada yang berpendapat bahwa musikalisasi puisi ini adalah
pembacaan puisi yang diiringi musik.
Dalam mendomenstrasikan puisi juga dikenal dengan pembacaan puisi.
Apresiasi puisi cara ini dengan membacakan puisi dengan memperhatikan lafal,
intonasi serta mimik yang tepat.
Forum Diskusi
Bagaimana pendapat kalian makna yang terkandung dalam puisi ini!
Nyanyian Akar Rumput
Karya Wiji Thukul
Jalan raya dilebarkan
Kami terusir
Mendirikan kampung
Digusur
Kami pindah-pindah
Mnempel di tembok-tembok
Dicabut
Terbuang
Kami rumput
Butuh tanah
Dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi buruk presiden!
PENUTUP
Pradopo (dalam Sartini et al (2019:15) menyatakan bahwa puisi
mengekspresikan yang membangkitkan perasaan merangsang imajinasi panca indera
dalam susuanan berirama, direkam, diekspresikan dinyatakan dengan menarik dan
memberi kesan.
Dalam periodisasi sastra, kesusastraan Indonesia dibagi ke dalam sastra
Indonesia lama dan sastra Indonesia modern. Puisi terbagi dalam puisi lama dan puisi
baru, serta puisi modern. Puisi lama merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat
lama. Kebudayaan ini dipengaruhi oleh adat istiadat, serta kepercayaan yang dianut
oleh masyarakat lama misal animisme, dinamisme maupu Hinduisme. Puisi lama
merupakan kesasteraan yang masih orisinal karena pada masyarakat lama masih
sedikit dipengaruhi oleh kubadayaan dari luar. Puisi baru merupakan puisi yang lebih
menonjolkan isi, sedangkan puisi modern atau puisi kontenporer adalah puisi yang
lari dari aturan puisi konvensional.
Unsur pembangun puisi meliputi unsur fisik dan unsur batin. Unsur fisik
meliputi diksi, rima, bahasa figurati, kata kongkret, tipografi serta imaji. Unsur batin
puisi meiputi, tema, amanat serta nada dan suasana. Kedua unsur puisi ini merupakan
satu kesatuan yang harus dipahami ini untuk mengapresiasi puisi.
Pemahaman unsur fisik dan batin puisi dapat digunakan untuk
mendemonstrasikan dan menulis puisi. Ada dua cara dalam memahami puisi yakni
dengan musikalisasi puisi ataupun dengan pembacaan puisi dengan memperhatikan
lafal, intonasi dan mimik.
Tes formatif
1. Berikut yang tidak termasuk unsur batin puisi adalah
A. Diksi
B. Amanat
C. Tema
D. Pesaan penyair
E. Nada dan suasana
2. Pengulangan kata-kata yang digunakan penyair dalam sebuah puisi disebut...
A. Tipografi
B. Diksi
C. Imaji
D. Bahasa figuratif
E. Rima
3.
Lumut
Dalam gang pikiranku menggumam
Seperti kemarin saja
Sumber: Wiji Thukul
Larik pikiranku menggumam pada puisi di atas merupakan...
A. Bahasa figuratif
B. Tema
C. Sikap penyair
D. Amanat
E. Makna
4. Akibat yang ditimbulkan jiwa pembaca setelah membaca puisi disebut...
A. Tema
B. Suasana
C. Sikap penyair
D. Bahasa figuratif
E. Diksi
5. Karya sastra yang singkat, imajinatif dan disusun berdasarkan struktur batin dan
struktur fisik disebut...
A. Puisi
B. Cerpen
C. Prosa
D. Aneksot
E. Novel
Cermati puisi berikut!
Apa yang berharga dari puisiku
Apa yang berharga dari puisiku
Kalau adikku tak berangkat sekolah
Karena belum membayar SPP
Apa yang berharga dari puisiku
Kalau becak bapakku tiba-tiba rusak
Jika nasi harus dibeli dengan uang
Jika kami harus makan
Dan jika yang dimakan tidak ada?
Sumber: Wiji Thukul
6. Perasaan penyair yang tertuang pada puisi tersebut adalah....
A. Kebahagiaan
B. Kesendirian
C. Kerisauan
D. Kepasrahan
E. Keramaian
7. Tema dari puisi di atas adalah
A. Kemiskinan
B. Ketuhanan
C. Kebahagian
D. Kerinduan
E. Keputusasaan
8. Suasana yang ditimbulkan dari puisi di atas adalah...
A. Sedih
B. Senang
C. Rindu
D. Risau
E. Takjub
9. Berikut yang bukan merupakan unsur fisik puisi adalah...
A. Diksi
B. Tema
C. Tipografi
D. Imaji
E. Nada dan sikap penyair
10. Pergilah semaumu
Pergilah ke ujung harapmu
Majas yang dominan pada puisi tersebut adalah...
A. Anafora
B. Epifora
C. Personifikasi
D. Ironi
E. Repetisi
DAFTAR PUSTAKA
Damono, Sapardi Djoko Damono. Ayat-Ayat Api. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Gunawan, Hadi. 2019. Puisi dan Pantun. Yogyakarta: Cosmic Media Nusantara.
Hidayat, Mahmud. 2018. Tafsir Harfiah Puisi Kontenporer. Semarang: PT Cipta Aji
Parama.
Mumtazir. (2017). Struktur Fisik dan Struktur Batin Pada Puisi Tuhan, Aku Cinta
Padamu Karya WS Rendra. Jurnal Pesona, Volume 3 No. 2, 211.
Indriawan, Teguh. 2013. Peribahasa Puisi Pantun Sajak. Jakarta: Infra Pustaka.
Oktavianawati, P. 2018. Khasanah Pantun Bahasa Indonesia. Jakarta: Bee Media
Pustaka.
Pinurbo, Joko. 2017. Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Putri, Ika Yuliyani. 2019. Apresiasi Puisi. Yogyakarta : Intan Pariwara.
________________. 2019. Puisi Lama dan Puisi Baru. Yogyakarta : Intan Pariwara.
Rosa, Helvy Tiana. 2018. Puisi-puisi yang Melepuh di Mataku. Jakarta: Bitread
Publishing.
Sartini, dkk. 2019. Fitur Puisi Remaja dalam Media Sosial Line. Jurnal Pendidikan
Bahasa UNDIKSHA. Voluume 9 No 1, 1-9.
Setiana, Leli Nifsi dan Aida Azizizah. 2019. Penerapan Model Based Learning
Menulis Puisi Mahasiswa Managemen. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia
Vol 7 No 1, 38-68.
Wirawan, Gunta. 2016. Analisis Struktural Antologi PuisiHujan Lolos di Sela Jari
Karya Yudhiswara. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume
1 Nomor 2, 39-44.
Kunci jawaban
1. C
2. E
3. A
4. B
5. A
6. C
7. A
8. A
9. E
10. A