The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

cerpen reyna indah cahyani

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rifaaulia2304, 2022-10-14 08:10:33

persahabatan

cerpen reyna indah cahyani

Kata Pengantar
Pertama-tama kami panjatkan puja dan puji syukur atas rahmat dan ridho Allah
SWT, karena tanpa rahmat dan ridhoNya, kita tidak dapat menyelesaikan cerpen ini

dengan baik dan selesai tepat waktu.
Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada guru yang sudah membimbing kami

atas penyelesaian cerpen ini.
Mungkin dalam pembuatan cerpen ini terdapat kesalahan yang belum kami ketahui.

Maka dari itu kami mohon saran & kritik dari teman teman maupun guru. Demi
tercapainya cerpen yang sempurna.

Jakarta, 10 Oktober 2022

[Date] ii

DAFTAR ISI

Kata pengantar…………………………………………………………………………….
Daftar isi…………………………………………………………………………………….
Motto………………………………………………………………………………………..

BAB 1
A. PERSAHABATAN………………………………………………………………….

BAB 2
A. TEMAN SEPERJALANAN…………………………………………………………..

BAB 3
A. SEORANG TEMAN YANG MENINGGAL………………………………………….

BAB 4
A. PERSAHABATAN YANG HANCUR KARENA CINTA……………………………

BAB 5
A. SELAMAT TINGGAL, ENGKAU SAHABATKU……………………………………

BAB 6
A. YANG TIDAK SEHAT………………………………………………………………...

BAB 7
A. SENJA PERSAHABATAN…………………………………………………………...

[Date] iii

BAB 1

PERSAHABATAN

Berteman dengan siapa saja boleh, mau dia kaya, miskin, jelek tampan, lelaki,
wanita, tua, atau muda. Semua boleh saja karena tidak ada aturan yang menghalangi
seseorang untuk berteman dengan siapapun, baik Presiden sekali pun. Dalam
berteman, kita harus mempunyai tata krama, sopan santun, dan etika. Jika tidak,
mungkin berawal dari teman kita bisa menjadi musuh atau bahkan menjadi seorang
penjahat.

Itu lah gunanya tata krama, sopan santun, dan etika dalam berteman agar pertemanan
berjalan dengan baik dan dapat saling membantu. Hal-hal itu harus diperhatikan
dalam memilih teman baik atau sahabat karena teman baik dapat menentukan arah
tujuan hidup kita juga. Misalnya, jika kita berteman baik dengan para pengedar
narkoba, secara tidak langsung kita dapat menjadi pecandu narkoba ataupun
pengedar narkoba.

Berteman baik dengan orang yang lebih pintar, secara tidak langsung kita akan
mendapat ilmu yang bermanfaat darinya. Hati-hati lah memilih teman baik dalam
hidupmu. Harus bisa memilih dan menyaring, mana yang baik dan mana yang buruk.

Seperti Romi yang terlena dengan kata-kata Doni dan Lio. Romi menjadikan mereka
teman baik. Doni dan Lio adalah anak yang nakal, suka merokok, dan tawuran.
Mereka menghasut Romi untuk ikut merokok dan hasilnya Romi berada di rumah sakit
dengan perban di kepala dan memar di tubuhnya.

Teman baik bukan teman biasa, melainkan teman yang selalu berada di samping kita
ketika

"Temanmu adalah yang berkata benar bukan yang membenarkan kamu!"

Kata-kata itu terus membayangi pikiranku, menyesali atas apa yang telah terjadi
kepadaku.

Kalimat itu adalah ucapan ayahku. Ayah selalu mengingatkannya kepadaku agar
selalu memilih teman baik yang jujur. Hal ini karena teman yang menentukan arah
hidup kita. Misalnya, temanmu adalah pemain gitar, dia akan mengajak kamu untuk
bermain musik dan membentuk sebuah band.

ya, aku harus membayangi kata-kata itu agar selalu mengingatnya. Saat aku makan,
berangkat ke sekolah, bermain, dan ketika akan tidur aku selalu mengingatnya,
mengingatnya, dan mengingatnya.

tapi aku bodoh, aku tidak memegang teguh amanat ayahku itu. Hasilnya, aku
mengalami suatu musibah karena salah dalam bergaul.

[Date] iv

Kejadian itu berawal ketika aku tidak sengaja membuang sampah sembarangan di
dalam kelas.

"Siapa yang membuang sampah di sini?" tanya Pak Kusni, guru pelajaran Pendidikan
dan Kewarganegaraan. Sebelum memulai pelajaran, Pak Kusni selalu memeriksa
kebersihan kelas.

Aku menyadari bahwa itu adalah bekas bungkusan makananku. Aku tidak mau
mengaku, aku takut dimarahi, walaupun jika jujur tidak akan dihukum, tapi aku tetap
tidak mau mengaku.

Teman sebangkuku, Wahyu, menyenggol tubuhku.

"Tidak ada yang mengaku?" tanya Pak Kusni dengan nada lantang. "Lebih baik jujur
dan mengaku saja, daripada nanti ketahuan, akan Bapak hukum," lanjut Pak Kusni
sambil memegang kumisnya yang lebat.

Wahyu terus menyenggol tubuhku, mengisyaratkan agar aku mengaku.

"Siapa?" suaranya kencang menggelegar.

Wahyu menyenggolku lagi dan berbisik, "Sudah Rom, mengaku saja, kalau jujur tidak
akan dihukum," Wahyu memperingatkanku.

Brakk!

Pak Kusni, memukul meja.

"Kalau tidak ada yang berbicara, semua akan Bapak jemur di lapangan!"

"Rom, ngaku saja, masa kamu tega teman-teman kamu dihukum gara-gara ulah
kamu," Wahyu berbisik kepadaku.

"Sudah diam saja, Way" aku menggubris usulannya.

"Tapi Rom."

Belum sempat Wahyu Berbicara, aku memotongnya, "Berisik kamu!" aku mulai geram
dengannya.

"Wahyu, siapa yang buang sampah di depan kelas?" tanya Pak Kusni kepada Wahyu
dengan suara lantang.

"R, r, r," Wahyu gagap dan tubuhnya menyenggolku.

Aku langsung menginjak sepatunya.

"Romi, Pak" Wahyu membeberkan semuanya.

Aku lebih keras lagi menginjakkan kakiku.
"Romi, benar kamu pelakunya?" tanya Pak Kusni kepadaku.

[Date] v

"Bu... bukan Pak," jawabku dengan gemetar.

Keringat dingin mulai mengucur dari setiap pori-pori kulitku, wajahku pucat pasi dan
ketakutan.

"Jangan bohong kamu," ucap Pak Kusni lebih keras.

"I.... iya Pak, bukan aku," aku berbohong.

"Bukan Romi Pak pelakunya, tadi ada anak kelas sebelah yang bermain di dalam
kelas dan dia buang sampah sembarangan," ucap Doni.

"benar Pak, bukan Romi pelakunya. Tadi ada anak kelas lain yang bermain di dalam
kelas kamu Pak," Lio menambahkan.

Doni adalah teman sekelasku, tubuhnya tinggi sedang, kulitnya hitam, dan sedikit
gemuk. Sebelumnya aku tidak begitu dekat dengan Dni karena perilakunya yang
nakal. Doni tidak naik kelas sewaktu dia kelas dua.

Lio juga temen sekelasku, dia teman akrabnya Doni. Lio sangat jahil, sering berbuat
ulah di kelas dan terkadang suka tidur di kelas. Aku berteman dengannya tapi tidak
begitu akrab.

Tapi mengapa mereka tiba-tiba membelaku?

Ah biarkan saja kecurigaanku ini yang penting aku selamat dari hukuman Pak Kusni.

Sebenarnya aku juga tahu alasan Wahyu berbicara jujur kepada Pak Kusni. Ayahku
selalu meminta Wahyu untuk berkata jujur atas semua hal yang berkaitan denganku
dan aku pun dituntut agar selalu berkata jujur.

Ketika dia berkata jujur kepada Pak Kusni, dia sebenarnya ingin membelaku, ingin
mengawasiku, dan ingin menjalankan amanat dari ayahku.

"Tapi biar lah, aku sudah kesal dengan Wahyu. Ternyata Wahyu yang kukenal sejak
SD dengan mudah mencelakakan aku," ucapku dalam hati.

"Oke kalau begitu, pelajaran dilanjutkan, asalkan tidak ada lagi sampah yang
berserakan di bawah meja kalian," ucap Pak Kusni sebelum memulai pelajaran PKn.

Kami sekelas melihat sekeliling. Jika ada sampah, kami langsung membuangnya ke
tempat sampah. Setelah pelajaran Pak Kusni selesai, aku menghampiri Doni dan Lio.
Aku ingin mengucapkan terima kasih pada mereka.

"Lio, Doni, terima kasih ya, kalian sudah menyelamatkan aku," ucapku kepada Lio dan
DOni yang duduk di bangku paling belakang.

"Santai aje Rom," ucap Lio dengan nada santai.
"Bilangin tuh, si Wahyu, jangan bawel" ucap Doni.
"Tau tuh anak, songong banget, mau nyelakain temen sendiri. Padahal aku sama
Wahyu sudah berteman lama dan duduk satu bangku, masih saja mau nyelakain
temen sendiri," aku merasa kesal dengan Wahyu.

[Date] vi

"Mangkanya jangan berteman sama dia, berteman saja sama kita. Kita orangnya asik,
santai, dan solidaritasnya kuat," Doni membusungkan dada.

"Iya-iya," aku mengangguk. "Biarin saja, aku nggak akan negor Wahyu lagi," lanjutku.

Semenjak kejadian itu, aku mulai berteman dengan Lio dan Doni yang terkenal
sebagai preman di sekolah. Aku sudah jarang dan bahkan tidak pernah pulang
bersama Wahyu karena kecewa padanya.

Kali ini aku pulang sekolah bareng Doni dan Lio. Kami tidak langsung pulang ke
rumah. Kami memilih untuk duduk-duduk atau nongkrong terlebih dahulu di pinggir
jalan.

Berbeda seperti biasanya, sepulang sekolah aku pulang bersama Wahyu dan
langsung pulang ke rumah. Sudah beberapa hari aku seperti itu, nongkrong di pinggir
jalan. Suatu saat Doni membeli sebuah rokok di warung dan dia menghisap rokok itu
bersama Lio dan teman-teman lainnya.

Aku ditawari juga, "Rom, mau nggak kamu?" Doni menyodorkan rokoknya.

"Nggak Don, makasih," tolakku dengan halus

"Yaelah Rom, santai saja! Kita ini bukan di sekolah lagi, tapi di luar sekolah, nggak

akan ada yang ngomelin kita," ucap Lio sambil memegang pundakku.

"Udah nih," Doni memaksaku. "Rasanya enak Rom," Doni merayuku.

"Nggak Don," aku menggelengkan kepala.

"Ah, nggak metal lu, nggak gaul," nampaknya Lio mulai marah kepadaku.

"Au lu! Mana solidaritas lu?" ucap Doni dengan nada tinggi.

"Emang harus ngerokok dulu ya, baru namanya solidaritas?" tanyaku.

"Iya, kalau nggak mau lu nggak usah main sama kita-kita lagi. Gue nggak nyangka
ternyata lu itu orangnya nggak asik, nggak gaul, dan cemen!" ucap Doni dengan nada
tinggi tepat di depan wajahku.

"Boleh deh, kayaknya sih emang enak," aku mulai tergiur.
"Nah, itu baru anak Lio.
"Nih!" Doni memberikan rokok kepadaku. gaul," ucap

Aku menghisap racun itu, tapi sekali hisap aku langsung batuk-batuk.

"Pertamanya emang begitu. Coba lagi, nanti juga enak," ucap Lio.

Aku menghisap dan batuk-batuk lagi, dadaku sesak. "Sekali lagi," Doni meminta.

Aku hisap dengan napas panjang dan batuk-batuk lagi. Saat aku batuk-batuk, Lio
dan Doni berlari, "Rom, lari ada Pak Kusni," ucap Doni.

[Date] vii

Aku masih batuk-batuk. Kami pun berlari entah ke mana menghindari dari kejaran
Pak Kusni. Semua yang nongkrong di pinggir jalan lari semua/ Kira-kira ada empat
orang yang bersama kami.

Kami berlari masuk dan keluar gang mencari tempat persembunyian. Setelah aman,
kami keluar. Sial, aku masih terbatuk-batuk, dadaku nyesak sekali, ditambah dengan
lari, lengkap sudah penderitaanku.

Aku mempunyai riwayat penyakit asma dan sebenarnya tidak boleh merokok apalagi
berlari secara tiba-tiba, takut asmaku kambuh. Aku ngos-ngosan dan terbatuk-
batuk, mencoba bernafas panjang, tapi dadaku terasa nyesak. Aku merasa tersiksa.

Kami pun meneruskan perjalanan untuk kembali ke rumah masing-masing. Malang
bagi kami. Saat kami keluar dari persembunyian dan berjalan pulang ternayat kami
salah jalan. Tepat di depan kami ada anak SMP lain yang sedang nongkrong.

Kami terkejut ketika mereka tiba-tiba berlari mengejar kami. Niat kami ingin berjalan
pulang, malah diserbu oleh SMP lain. Kami berlari menghindari karena jumlah
mereka puluhan orang. AKu sudah tidak bisa berkata apa-apa, napasku sesak, dan
aku masih harus berlari, aku tidak sanggup!

Aku pun berusaha berlari, aku berlari sambil batuk dan terjatuh. Saat aku terjatuh,
temanku Agung membangunkan tubuhku.

"Bangun, Rom," kata Agung.

Aku berlari dan terjatuh lagi. Kulihat Doni dan Lio sudah kabur menjauh berada di
garis paling depan. Aku tersungkur, tidak ada yang menolongku lagi. Tubuhku tidak
sanggup untuk berdiri, bernapas saja sulit apalagi berlari. Aku pasrah.

Kulihat mereka semakin mendekat. Aku hanya berdoa saja, berharap aku tidak mati
di tempat. "Tolong!" aku menjerit.

Mereka semakin dekat, tidak ada orang di sekelilingku yang dapat menolongku.
Tiba-tiba ada sesuatu menimpa kepalaku, rasanya sakit sekali. Setelah kulihat itu
adalah batu yang mengenai kepalaku. Sekit sekali, beberapa detik kemudian, ada
lagi batu yang mengenaiku, dan terus mengenaiku.

Mereka sudah ada di depanku dan langsung mengeroyokku. AKu tidak bisa berbuat
apa-apa karena pingsan. Aku tidak sadarkan diri selama dua jam. Kubuka mataku
dan samar-samar aku melihat bayangan tubuh besar.

Kukedipkan mataku lagi untuk melihat lebih jelas, setelah kutegaskan itu ternyata
Pak Kusni. "Jangan banyak bergerak," Pak Kusni memegang kepalaku.

Aku menyadari ada perban di kepalaku dan luka memar di seluruh tubuhku.
Rasanya sakit dan ngilu. Pakaian putih biruku sudah tidak berbentuk, robek-robek,
dan ada bercak darah.

ternyata kepalaku bocor dan luka memar akibat pukulan dari anak-anak itu.
Beruntung Pak Kusni datang tepat waktu, kalau tidak aku sudah berada di tempat
pemakaman umum.

[Date] viii

Tak lama, kedua orang tuaku datang dan langsung memelukku. Mereka memelukku
erat, ibuku memelukku sambil menangis. Aku tidak bisa bergerak dan hanya
tersenyum simpul.

[Date] ix

BAB 2
Teman Seperjalanan

Pada saat baru-baru masuk ke jenjang Smp, saya sedang mencari jati diri yang
sebenarnya. Saya mempunyai banyak sekali teman teman pada saat Smp kelas 1.
Saya mempunyai lebih dari 10 orang teman yang sangat baik, dan selalu menemani
saya ketika saya susah maupun senang.

Mereka selalu dapat menghibur saya disaat sekolah, dan mereka mampu menolong
saya dalam keadaan apapun. Pada masa masa sekolah, rasanya asik sekali istirahat
bareng, pulang bareng, ketika pulang pasti kita sempatkan untuk main bersama.

Kita pernah dihukum bareng, dipanggil guru, dan sering sekali berjalan jalan keliling
sekolah pada saat pelajaran kosong. Seiring berjalannya waktu, satu persatu
semuanya sudah mempunya temannya masing masing. Satu persatu sudah tidak lagi
berkumpul bersama sama/ bermain saat hari libur atau waktu kosong.

Pada saat kelas 2 Smp, zaman kami dirusak dengan adanya covid-19. Yang harus
nya kami menikmati masa masa sekolah saat Smp, tetapi kami hanya menghabiskan
waktu dirumah dan hanya belajar dirumah.

2 tahun sudah kami mengalami daring/ belajar dirumah, mungkin karena keadaan
pada saat itu aku dan teman temanku sudah lama tidak berkumpul. Kami hanya
beberapa kali berkumpul untuk melepas rindu dan berbincang bincang tentang apa
saja yang kita lakukan selama dirumah. Aku senang sekali jika sudah berkumpul sama
mereka semua, kami penuh canda tawa jika sudah berkumpul bersama.

Pada saat kami kelas 3 Smp, kami masih tetap berteman tetapi teman teman ku sudah
tidak sebanyak sewaktu aku kelas 1 Smp dulu. Teman teman ku hanya tersisa 6
orang, dan kami sempatkan berkumpul walaupun pada saat itu, kami belum
diperbolehkan bertemu orang banyak oleh pemerintah.

Pada awal tahun 2022 sekolah sudah mulai dibuka kembali kami sangat senang, bisa
berkumpul bareng, istirahat bareng, pulang bareng. Kami menghabiskan sisa waktu
kami pada saat disekolah. Kalau kami ada kerja kelompok, kami sempatkan untuk
main disalah satu teman kami yaitu felia. Dan kami sering sekali kalau sudah
waktunya pulang sekolah, kami bermain dulu.

Saat waktu aku dan teman temanku sudah mau lulus, kami menjalankan ujian
sekolah. Kami sangat akui kalau ujian itu cukup susah, kami bertukar cerita
bagaimana sulitnya aku dan teman temanku menghadapi ujian itu. Singkat cerita,
kami sudah melewati hari’ menghadapi ujian sekolah. Kami sangat senang, karena
kami akan segera lulus dari sekolah Smp dan melanjutkan ke jenjang yang lebih
serius, yaitu SMA/SMK.

Beberapa hari sebelum hari kelulusan, sekolahku mengadakan pentas/ pertunjukan
untuk kelas 3, aku dan teman teman lu memberanikan diri untuk tampil didepan teman

[Date] x

teman yang lainnya. Kami berencana akan menampilkan nyanyian yang sudah
disepakati bersama.

Hampir 1 bulan kita latihan, dan sering bertemu untuk mencoba terus agar pas tampil
nanti akan bagus dilihat. Kami sering sekali datang ke sekolah untuk latihan, ya
walaupun pada saat itu kami sudah tidak sekolah lagi. Sebelum kami benar benar
akan pentas, kami berkumpul seperti biasa, kami sudah menyusun dimana kah kami
akan bersekolah selanjutnya.

Kami bertukar cerita, saling menguatkan, karena jika sudah masuk ke jenjang SMA,
kemungkinan kita akan jarang berkumpul. Dan pada saat sudah waktunya kami akan
tampil, kami cukup ragu. Karena dilihat banyak teman teman dan guru guru. Akhirnya
kami tampil dengan modal ragu. Saat kami sudah selesai tampil, kami menunggu
pembagian medali. 1 per 1 aku dan teman temanku maju kedepan untuk mengambil
medali.

Saat acara sudah selesai, aku dan teman teman ku berfoto bersama, dan aku pun
berfoto bersama teman teman yang lainnya. Kami makan bersama di kelas, dan saling
berbincang. Saat aku mau pulang kerumah, kerasa sekali kesedihan yang ada dalam
diriku. Karena aku berfikir kenangan aku dan teman temanku ada disekolah SMP ku
dulu.

Sesudah lulus dari SMP, kami melanjutkan kehidupan kami masing masing. Seperti
kami akan memilih sekolah mana yang akan kami tempati selanjutnya. Kami
menikmati liburnya sekolah saat sudah lulus. Kami masih sering berkumpul, tetapi
rasanya sudah tak sama lagi, karena kami pasti akan mempunyai teman baru, dan
lingkungan baru.

Masuklah waktunya pendaftaran, saat pendaftaran pertama, teman teman ku sudah
masuk ke dalam SMK Negeri yang mereka inginkan. Sedangkan ku, aku sudah
kelempar dari 3 sekolahan yang aku inginkan. Aku sangat malu dan bersedih. Karena
di antara aku dan teman temanku, hanya aku yang belum dapat sekolah Negeri yang
aku inginkan.

Mereka menyemangatiku, dengan bilang “Masih ada pendaftaran kedua ren, lu masih
ada waktu buat masuk ke SMK negeri ko.” Aku pun bisa jadi ada harapan untuk masuk
ke SMK Negeri yang aku inginkan. Saat pendaftaran kedua, aku mulai coba kembali
untuk mendaftar. Dan akhirnya aku pun diterima disekolah SMK Negeri.

Hari demi hari aku lewati, dan akhirnya hari pun tiba dimana aku pertama kali sekolah
lagi disekolahan yang baru. Aku mendapat teman yang baru, tetapi aku sama sekali
tidak senang akan hal itu. Karena, sudah tidak bersama lagi dengan teman teman
lamaku. Aku sangat merasakan kesedihan itu, terkadang aku pun merasakan rindu
yang mendalam kepada sekolahan lama ku, entah mengapa aku sangat sedih sudah
lulus dari sekolahan lama ku

Teman teman lamaku suka menyemangati ku, dan kami masih sering berkumpul. Ya,
walaupun itu tidak semuanya yang hadir. Tapi tak apa, dengan itu sudah mengobati
rasa rinduku kepada teman temanku.tak percaya akan hal ini. Sahabatku pergi karena
aku! Aku menyesali perbuatanku untuk tidak

[Date] xi

BAB 3

Seorang Teman yang Meninggal

Sore Hari di Pantai Kuta
Namaku Malika Nattaya. Orang asli Bali. Sekarang aku sedang di Pantai Kuta.
Menikmati angin sore. Sore ini sangat cerah. Aku menulis sesuatu di pasir
menggunakan kayu. ‘Malika dan Erin’ itu yang kutulis.

Erin adalah sahabatku. Nama lengkapnya adalah Erina Matthew. Sekarang dia
sudah menemui sang kuasa. Aku teringat kejadian itu. Mataku mengalir.

“Malika!!!” Erin berteriak saat aku sedang menangis di pantai ini. Aku tidak
menghiraukannya.

“Hey! Kenapa kau menangis?” Tanyanya.

“Baju ibu hanyut di laut” kataku. Aku takut dimarahi ibu.

“Akan aku ambilkan!” Erin melepas bajunya.

Dengan leging dan kaus ia berenang ke laut, padahal waktu itu sudah hampir
malam. Aku terus menunggu dengan cemas. Sampai seorang nelayan datang
menghampiriku.
“Adek ngapain malam-malam di sini?” Tanyanya.
“Bapak akan melaut? Tolong carikan teman saya, dia dari sore belum kembali” aku
dengan gelisah menjelaskan.

Bapak itu mengangguk. Aku disuruh menunggu di rumahnya.

Esok pagi bapak itu kembali dengan Erin.

Aku sangat senang. Tapi raut wajah bapak itu tidak senang.

“Maaf dek, teman adek sudah ditemukan mengambang di air. Dan dia sudah pergi”
bapak itu berkata dengan wajah tertunduk.

Aku melarangnya. Aku menangis sejadi-jadinya saat itu.

[Date] xii

Kini pantai ini adalah saksi bisu persahabatan kami, dan untuk pengorbanan Erin.
Semoga kau tenang di sana Erin!

Selamat Jalan, Eribar

[Date] xiii

BAB 4

Persahabatan yang Hancur karena Cinta

biasanya Salah satu hal yang bisa membuat seseorang lupa akan segalanya yaitu
Cinta. Cinta membuat kita rela berkorban apa pun yang kita miliki. Untuk wanita,
menurutku lebih baik mencintai daripada dicintai. Jangan berharap seseorang yang
belum tentu mencintai kita, tetapi terima orang yang mencintai kita apa adanya. dia
temanku sejak SMP. Sementara Aku, Afni, dan Ferdin sudah berteman dekat sejak
masuk SMA.

Suatu waktu aku melihat Afni dan Ferdin bercanda bersama dan mereka terlihat
akrab seperti orang pacaran. Jujur, aku pun cemburu melihatnya tetapi aku masih
menyembunyikan kecemburuan itu di depan Afni.

Namun lama-lama rasa yang terpendam ini ingin dikeluarkan, akhirnya aku
memutuskan untuk cerita ke Afni tentang perasaanku ke Ferdin.

“Af, aku mau ngomong sesuatu, nih, tapi jangan ngomong ke siapa-siapa ya”
“Kamu mau ngomong apa mel?” tanya Afni.
“Jujur aku suka dengan Ferdin sejak lama, dan aku cemburu saat kamu dekat sama
Ferdin!” Jawabku.

“Kamu suka sama Ferdin? Serius mel?” Tanya Afni.

“Iya, tapi kamu jangan bilang ke Ferdin ya” Ucapku.

“Iya, maaf sebelumnya kalau aku udah bikin kamu cemburu” Jawab Afni.
“Oke” Jawabku.

Semakin lama aku semakin dekat dengan Ferdin, tetapi aku perhatikan bahwa Ferdin
tidak akan pernah jatuh cinta denganku. Walau seperti itu, aku tetap berjuang
sepenuh hati. Dan ternyata Afni juga suka dengan Ferdin.

Aku mengetahui kalau Afni suka dengan Ferdin ketika aku membaca buku diary Afni.
Di sana tertulis curhatan Afni tentang perasaannya ke Ferdin.

[Date] xiv

Aku pun merasa kecewa setelah membaca buku diari tersebut, karena sahabat
baikku ternyata suka dengan cowok yang sama denganku. Namun aku berpikir, rasa
suka itu berhak untuk siapa pun.

Saat di taman sekolah, aku melihat Afni dan Ferdin sedang mengobrol. Mereka
terlihat lebih serius daripada, aku pun penasaran dan menguping percakapan
mereka dibalik pohon.

“Afni, aku suka sama kamu, kamu mau enggak jadi pacarku?” Tanya Ferdin.
Afni kaget sekaligus bingung mendengar pertanyaan itu. Namun pada akhirnya Afni
menerima tawaran itu dan mulai menjadi pacar Ferdin tanpa memikirkan
perasaanku, sahabatnya sendiri.

“Iya aku mau” Jawab Afni.

Aku yang mendengarkan jawaban Afni langsung kaget dan keluar dari balik pohon,
karena aku tak menyangka sahabatku akan tega melakukan hal itu.

“Af, kamu pacaran sama Ferdin? Selamat ya kamu udah bikin aku sakit hati”
Afni dan Ferdin kaget karena aku keluar dari balik pohon secara tiba-tiba dan
langsung berkata seperti itu.

“Maafin aku mel, tapi aku jujur cinta banget sama Ferdin” Jawab Afni.
“Yaudahlah”, aku pergi meninggalkan Afni dan Ferdin.

Aku pergi dengan perasaan campur aduk tidak karuan dan masih berpikir mengapa
sahabatnya sendiri tega melakukan hal itu. Padahal Afni tahu kalau diriku sudah lama
mengejar Ferdin.

Maka persahabatanku dengan mereka berdua hancur karena cinta. Di sini aku
memberi amanat bahwa utamakanlah sahabatmu daripada pacarmu, karena orang
yang selalu hadir di saat kamu senang dan susah itu sahabat.

Sahabat Yang Hilang

Aku ingat saat dulu keakraban selalu terjalin diantara aku. Aku orang yang paling
susah dekat dengan siapapun sedangkan sahabatku membutuhkan aku karena
dia tidak percaya diri di sekolah. Kami saling membutuhkan dan menjadi sahabat.
Sekolah bersama bermain dan segalanya bersama.

Tapi itulah meski ia sahabat kami adalah anak-anak yang mengikuti takdir yang
dibawa dari keluarga kemana keluarga di situlah kami. Kami terpisah kelas 3 SMP

[Date] xv

aku harus melanjutkan sekolah di luar kota sedangkan ia merasa putus asa hingga
akhirnya memutuskan sekolah di dekat rumah saja.
Tiba akhirnya ia datang ke rumahku setelah beberapa tahun lamanya tidak
bertemu. Aku heran mengapa dia sangat merindukan aku. Laila namanya anak
yang polos sama cupu nya dengan aku.. namun kegiatan aku saat SMA sangatlah
banyak berbeda dengannya yang hanya sekolah dan dirumah.
Malam itu ia tidur di rumahku ia meminta fotoku dan membawanya pulang. Tidak
ada yang diceritakan selain kehidupan sekolah masing-masing hingga tiba
keesokan harinya aku mendengar dari ibuku kalau Laila nyaris bunuh diri karena
hamil diluar nikah.
Aku bingung mau percaya atau tidak. Tapi itulah adanya. Mungkin itu yang ingin
Laila sampaikan padaku malam itu namun mungkin Dia tak tau harus bagaimana.
Kasihan dia aku sangat menyesal Mengapa aku tidak bertanya saat itu. Namun
sudahlah itu takdirnya padahal 1 tahun lagi kami akan lulus sma namun ia harus
terputus karena cintanya.

[Date] xvi

BAB 5
Selamat Tinggal, Engkau Sahabatku

Mentari telah menampakkan sinarnya yang hangat, menerangi tiga sahabat dekat yang
tengah berkumpul disebuah rumah terbuat dari kayu. Angin berhembus semilir lembut
menerpa daun daunan pohon dengan ukuran besar yang menari mengikuti arah
berhembusnya angin. Ketiga sahabat tersebut adalah karina, helena, delia.

Sebagai sahabat mereka selalu berkumpul bermain bersama sama dalam rumah kayu
tersebut. Bersedagurau, tertawa dan bembira bersama, menikmati indahnya bunga
bunga yang tengah berbaris nan rapi dilihat dari atas pohon. Rumah yang saati ini
berdiri kokoh diatas pohon tersebut dinamakan rumah pohon persahabatan yang
melambangkan persahabatan ketiga orang tersebut.

Karina merupakan sosok perempuan yang sangat energic dan semangat dalam
pembelajaran fisika, kimia maupun sesuatu yang berhubungan dengan sains. selain itu
dia sangat suka bersedagurau dan bercanda layaknya perempuan pada umumnya.
Namun sifat manja yang ia miliki menjadi sebuah kelemahan yang belum mampu ia
kuasai.

Helena sendiri adalah perempuan yang cerewet, suka berdiam diri dan memiliki hobi
mendengarkan musik jass menggunakan telepon genggam yang selalu dia bawa
kemapun dia pergi. Meskipun terlihat sebagai perempuan yang suka menyepelekan
sesuatu, namun ia sangat alhi dalam bidang sejarah dan handal dalam bernyanyi
maupun memainkan musik.

[Date] xvii

Dan yang terakhir ialah Delia, ia adalah perempuan yang gemar memiliki rambut
panjang yang teramat sangat baik. Ia suka menolong sahabat sahabatnya. Dia sangat
pintar dalam pelajaran biologi maupun matematika. Tidak heran jika dia selalu
mendapatkan predikat terbaik di kelasnya. Karena tidak pernah mendapatkan nilai
rendah, ia selalu menjadi idola di sekolahannya.

Di suatu pagi, karina terbangun dengan wajah yang lemas lesu. Matanya masih buram
dengan wajah berkunang kunang yang membuatnya enggan berdiri. Namun ia harus
tetap bangun karena jam dinding telah menunjukkan pukul 07.00. Selain itu hari ini
merupakan hari pertama karina memasuki ruang kelas delapan. Maka diapun berusaha
bangun untuk bersiap siap menuju ke sekolah.

“Teng Tong”. Lonceng sekolahan berbunyi menandakan sekolah telah memasuki jam
petama membuat helena yang sedang mendengarkan musik terganggu. Suara lonceng
itu menggema masuk dalam telinga helena. Sedangkan Delia dengan senyumnya yang
khas nan manis mengambil buku buku dari tas coklat yang ia bawa. Namun perasaan
tidak enak sedang dia rasakan, entah kenapa kepalanya mendadak sakit namun ia
berusaha untuk tetap menahannya. Dan anehnya Delia selalu menoleh kanan kiri bak
mencari sesuatu yang hilang.

Helena yang penasaran akhirnya bertanya sambil berbisik, “Del, kamu kenapa?” Delia
yang berbalik menjawab “Apa kamu melihat karina? Rasanya dari tadi aku tidak
melihatnya” Helena menggeleng menandakan dia tidak tau keberadaan karina. Tiba tiba
saja, seorang guru wanita berambut panjang berkilau datang seperti model iklan
shampoo dan menyapa kelas “Selamat pagi anak anak” sapa bu mala dengan suara
lantang.

Ibu mala lalu berbalik ke meja dan nampak tengah mencari sesuatu diantara tumpukan
kertas yang tampaknya sengaja dibiarkan terbengkalai dan berantakan. Tiba tiba pintu
mulai terbuka secara misteris, dari pintu itu munculah bayang bayang. Dan saat dilihat
ternyata itu adalah karina. Karina yang nampak kaget melihat bu mala sudah hadir
secara perlahan masuk kedalam kelas tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Delia yang tak kuat menahan tertawa melihat ekspresi karina yang nampak lucu
didepan kelas. Delia dan Helena melihat karina berlari diantara dua barisan bangku
coklat yang ditata dengan teramat sangat rapi hingga kahirnya karina lega telah duduk
disamping Delia.

Setelah jam pelajaran selesai, akhirnya ketiga sahabat itu pergi ke rumah pohon tempat
mereka berkumpul setiap harinya. Pada saat itu sakit kepala delia kembali kambuh,
namun seperti biasanya Delia tetap merahasiakan rasa sakitnya.

Hingga pada suatu hari saat kedua sahabatnya Karina dan Helena dirumah pohon
menunggu kedatangan Delia untuk mengerjakan pekerjaan rumah, Namun Delia yang
ditunggu tidak kunjung hadir. Sudah lima hari Delia tidak terlihat di kelas maupun di
rumah pohon persahabatan. Hingga di hari keenam karena merasa penasaran Helena
dan Karena datang kerumah Delia untuk menanyakan kabarnya.

“Tok Tok” Suara karina mengetok pintu rumah Delia. Dalam hati karina bertanya
“Kenapa ya banyak sekali kursi kursi berjajar dirumah Delia, apakah dirumahnya sedang
ada acara selametan. Tapi kenapa dia tidak mengundang aku dan Helena?”

[Date] xviii

Ibu Delia akhirnya membuka pintu dan menjawab pertanyaan Karina. Alangkah
terkejutnya karina mendengar delia masuk rumah sakit karena terkena tumor otak.
Ternyata selama ini delia telah menyembunyikan penyakitnya dari teman temannya.

Delia yang telah terkena penyakit mematikan tersebut berada dirumah sakit dan tengah
menunggu operasi. Sontak berita ini membuat sahabat sahabatnya menjadi tidak
percaya. delia yang terlihat selalu riang itu tidak pernah berbicara dan menyinggung
penyakitnya. Akhirnya karina, dan helena memberanikan diri untuk menanyakan nasib
sahatanya. Ibu delia mejawab dengan penuh rasa sedih bahwa delia telah meninggal. Ia
mengambil sepucuk surat “Ini nak, delia titip ini buat temen temennya”. Ibu bergegas
masuk untuk menyembunyikan kesedihannya.

Dalam surat tersebut bertuliskan “Untuk sahabat sahabatku, maaf selama ini aku
menyembunyikan kebenaran akan diriku. Aku sudah berjuang semampuku. Tapi ini
adalah batasnya, ini adalah kehendak yang maha kuasa. Sebagai manusia kita hanya
bisa pasrah dan tawakan setelah berjuang. Meskipun ini akhir dari perjuanganku, aku
berharap akan menjadi awal perjuangan kalian yang baru. Jaga terus tali persahabatan
kita, jangan pernah lupakan aku untuk selamanya” Tulisan tangan delia tersebut sontak
membuat karina dan helena menangis histeris. Mata karina terasa buram dan
berkunang kunang. Dan seketika bruk, karina jatuh pingsan dan helena tidak kuat
menahan rasa kaget akhirnya juga ikut tersungkur ke tanah sambil menangis.

BAB 6
yang Tidak Sehat

"Tidak, Min, sungguh aku sekarang tidak berminat belajar tari Bali. Dulu memang aku
berminat, tetapi sekarang aku tidak sempat!" demikian penjelasan Weni pada
Hermin di telepon.
Ibu mendengar percakapan itu. Setelah Weni menutup gagang telepon, Ibu
bertanya, "Telepon dari Hermin, Wen?"
"lya, Bu!" jawab Weni, lalu kembali menekuni PR-nya. Petang hari itu cuaca cerah,
tetapi Ibu merasa ada sesuatu yang kurang beres pada anaknya.
"Sudah lama Hermin tidak main ke sini, ya?" tanya Ibu lagi.
"lya, banyak PR, Bu. Kami sama-sama sibuk belajar!" jawab Weni.
Agar Ibu tidak bertanya lagi, Weni menjelaskan, "Tadi Hermin memberitahu. Kursus
tari Bali di gelanggang remaja akan membuka kelas baru minggu depan. Hermin
mau ikut!"
"Bagaimana dengan kamu sendiri?" tanya Ibu lagi.
"Ah, aku tidak sempat sekarang!" jawab Weni. Ibu diam. la maklum apa yang
dimaksud dengan "tidak sempat".
Akhir-akhir ini Weni akrab dengan Vina, anak tetangga baru yang duduk di TK B.
Umurnya baru lima tahun. Weni tak punya adik, dan tampaknya kedua anak itu
saling menyukai.

[Date] xix

Sebetulnya tidak ada masalah. Tapi, makin lama waktu Weni habis tersita oleh Vina.
Akhirnya Weni malas bergaul dengan kawan-kawan sebayanya. Bahkan, kawan
dekat Weni, Hermin, juga menjauh, karena sudah beberapa kali Weni menolak
ketika ia diajak Hermin ke toko buku, ke perpustakaan atau ke rumah teman lain.
Weni sungguh sibuk dengan "adik baru"-nya.
Baru saja Weni selesai belajar, terdengar suara manja memanggil, "Kak Weniiii, Kak
Weniii!" Weni segera keluar dan membukakan pintu. Siapa lagi kalau bukan Vina
dan susternya yang selalu berseragam putih itu.
"Kak Weniii, yuk ke rumah Vinaaa. Yuk kita nonton video Donal Bebek!" ajak Vina
manja.
"Kak Weni belum mandi. Vina sudah mandi?" tanya Weni.
"Sudah. Tapi Vina belum makan. Vina maunya makan disuapi Kak Weni sambil
nonton video!" kata Vina. "Kak Weni sekarang mandi, tapi yang cepat yaaa!"
"lya, Kak Weni mau mandi. PR-nya sudah dibuat belum, ayooo?" tanya Weni.
Vina tertawa. Giginya yang putih kecil-kecil dan lesung pipitnya tampak. Dun,
manisnya. Weni tidak tahan dan dengan gemas mencubit pipi Vina.
"Nah, ketahuan. Vina belum buat PR, ya?" Weni menegaskan.
"lya, buat PR nya nanti saja, tunggu Kak Weni datang!" Vina mengaku.
Weni merasa senang. Ia merasa sangat dibutuhkan oleh Vina.
"Oh, jangan begitu. Sekarang Vina pulang dulu dan buat PR-nya. Nanti kalau sudah
selesai Kak Weni periksa!" kata Weni.
Vina dan susternya pergi. Ibu segera berkata, "Wen, kamu lupa. Nanti sore Frida
ulang tahun, kan! Bukankah kita semua mau pergi ke sana?"
"Tidak, Bu. Kali ini aku tidak ikut. Tolong sampaikan saja salamku pada Frida!" Weni
menolak. "Aku mau menemani Vina!"
Ibu menggeleng-gelengkan kepala.
"Frida, kan, saudara sepupumu. Masak kamu tidak mau datang ke pesta ulang
tahunnya? Terus terang persahabatan kamu dan Vina sudah tidak sehat. Vina
makin manja dan tergantung padamu. Kamu sendiri mengorbankan keinginan
belajar tari Bali demi Vina!" tegur Ibu.
"Tapi aku, kan, bermaksud baik, Bu. Vina kurang kasih sayang. Ibu dan ayahnya
sering pulang malam, terlalu sibuk bekerja. Susternya tak pandai mendidiknya.
Buktinya Vina belum buat PR didiamkan saja!" Weni berusaha membela diri.
"Benar, tapi bukan tugas kamu untuk mendidik Vina. Kamu bisa meluangkan waktu
ala kadarnya. Tapi kamu juga harus berkawan dengan anak-anak sebayamu. Dan
hubungan dengan saudara harus dijaga. Bisa-bisa kamu tidak punya kawan nanti!"
nasihat Ibu.
"Cobalah kamu pikirkan baik-baik!" akhirnya Ibu berkata.

[Date] xx

Weni masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, ia pergi ke rumah Vina, la
memeriksa PR Vina, menyuapinya makan sambil nonton video Donal Bebek, dan
mendengarkan celoteh Vina.
Baru saja Vina selesai makan, ibu dan ayah Vina pulang. Mereka mau mengajak Vina
ke dokter gigi, jadi Weni pulang ke rumah.
Suasana di rumah sepi, karena Ayah, Ibu dan kedua kakak Weni sudah berangkat
ke rumah Frida. Weni membayangkan senangnya makan enak di pesta sambil
bersenda gurau dengan sanak keluarga. Namun, tak mungkin ia menyusul naik bis,
karena rumah Frida cukup jauh. Dicobanya menelepon Hermin, tetapi Hermin
sedang pergi ke Gelanggang Remaja dengan Ita dan Novi.
Weni duduk di sofa sendiri. Ia mulai memikirkan nasihat Ibu. Benar juga, seharusnya
ia membatasi pergaulannya dengan Vina. Tapi, bagaimana? Vina sudah begitu lekat
padanya. Juga ia akan ketinggalan dengan kawan-kawan bila tidak ikut kursus tari
Bali. Bukankah sebenarnya ia masih menginginkannya? Weni terus berpikir-pikir.
Akhirnya ia menarik napas lega. la teringat akan Lulu yang tinggal di ujung jalan. Dan
Titi, anak tetangga seberang rumah. Kedua anak itu sebaya dengan Vina. Besok ia
akan memperkenalkan Vina pada kedua anak itu, lalu mengajaknya main bersama.
Lama-lama Vina tentu bisa berkawan dan tidak tergantung pada Weni lagi. Dan
Weni bisa main sekali-sekali dengan Vina. Hubungannya dengan Hermin akan
dekat kembali seperti dulu.
Sayangnya, sekarang mau tak mau ia harus sendirian di rumah. Apa boleh buat.
Weni mondar-mandir, tak tahu apa yang harus dikerjakan. Namun tak lama
kemudian ia sudah asyik membaca buku cerita. Satu hal yang sudah lama tidak
dilakukannya. Ah, asyiknya!

Berteman dengan siapa saja boleh, mau dia kaya, miskin, jelek tampan, lelaki, wanita, tua,
atau muda. Semua boleh saja karena tidak ada aturan yang menghalangi seseorang untuk
berteman dengan siapapun, baik Presiden sekali pun.

Berteman dengan siapa saja boleh, mau dia kaya, miskin, jelek tampan, lelaki, wanita,
tua, atau muda. Semua boleh saja karena tidak ada aturan yang menghalangi
seseorang untuk berteman dengan siapapun, baik Presiden sekali pun.

Dalam berteman, kita harus mempunyai tata krama, sopan santun, dan etika. Jika
tidak, mungkin berawal dari teman kita bisa menjadi musuh atau bahkan menjadi
seorang penjahat.

Itu lah gunanya tata krama, sopan santun, dan etika dalam berteman agar pertemanan
berjalan dengan baik dan dapat saling membantu. Hal-hal itu harus diperhatikan
dalam memilih teman baik atau sahabat karena teman baik dapat menentukan arah
tujuan hidup kita juga. Misalnya, jika kita berteman baik dengan para pengedar
narkoba, secara tidak langsung kita dapat menjadi pecandu narkoba ataupun
pengedar narkoba.

Berteman baik dengan orang yang lebih pintar, secara tidak langsung kita akan
mendapat ilmu yang bermanfaat darinya. Hati-hati lah memilih teman baik dalam
hidupmu. Harus bisa memilih dan menyaring, mana yang baik dan mana yang buruk.

[Date] xxi

Seperti Romi yang terlena dengan kata-kata Doni dan Lio. Romi menjadikan mereka
teman baik. Doni dan Lio adalah anak yang nakal, suka merokok, dan tawuran.
Mereka menghasut Romi untuk ikut merokok dan hasilnya Romi berada di rumah sakit
dengan perban di kepala dan memar di tubuhnya.

Teman baik bukan teman biasa, melainkan teman yang selalu berada di samping kita
ketika

"Temanmu adalah yang berkata benar bukan yang membenarkan kamu!"

Kata-kata itu terus membayangi pikiranku, menyesali atas apa yang telah terjadi
kepadaku.

Kalimat itu adalah ucapan ayahku. Ayah selalu mengingatkannya kepadaku agar
selalu memilih teman baik yang jujur. Hal ini karena teman yang menentukan arah
hidup kita. Misalnya, temanmu adalah pemain gitar, dia akan mengajak kamu untuk
bermain musik dan membentuk sebuah band.

ya, aku harus membayangi kata-kata itu agar selalu mengingatnya. Saat aku makan,
berangkat ke sekolah, bermain, dan ketika akan tidur aku selalu mengingatnya,
mengingatnya, dan mengingatnya.

tapi aku bodoh, aku tidak memegang teguh amanat ayahku itu. Hasilnya, aku
mengalami suatu musibah karena salah dalam bergaul.

Kejadian itu berawal ketika aku tidak sengaja membuang sampah sembarangan di
dalam kelas.

"Siapa yang membuang sampah di sini?" tanya Pak Kusni, guru pelajaran Pendidikan
dan Kewarganegaraan. Sebelum memulai pelajaran, Pak Kusni selalu memeriksa
kebersihan kelas.

Aku menyadari bahwa itu adalah bekas bungkusan makananku. Aku tidak mau
mengaku, aku takut dimarahi, walaupun jika jujur tidak akan dihukum, tapi aku tetap
tidak mau mengaku.

Teman sebangkuku, Wahyu, menyenggol tubuhku.

"Tidak ada yang mengaku?" tanya Pak Kusni dengan nada lantang. "Lebih baik jujur
dan mengaku saja, daripada nanti ketahuan, akan Bapak hukum," lanjut Pak Kusni
sambil memegang kumisnya yang lebat.

Wahyu terus menyenggol tubuhku, mengisyaratkan agar aku mengaku.

"Siapa?" suaranya kencang menggelegar.

Wahyu menyenggolku lagi dan berbisik, "Sudah Rom, mengaku saja, kalau jujur tidak
akan dihukum," Wahyu memperingatkanku.

Brakk!

Pak Kusni, memukul meja.

[Date] xxii

"Kalau tidak ada yang berbicara, semua akan Bapak jemur di lapangan!"

"Rom, ngaku saja, masa kamu tega teman-teman kamu dihukum gara-gara ulah
kamu," Wahyu berbisik kepadaku.

"Sudah diam saja, Way" aku menggubris usulannya.

"Tapi Rom."

Belum sempat Wahyu Berbicara, aku memotongnya, "Berisik kamu!" aku mulai geram
dengannya.

"Wahyu, siapa yang buang sampah di depan kelas?" tanya Pak Kusni kepada Wahyu
dengan suara lantang.

"R, r, r," Wahyu gagap dan tubuhnya menyenggolku.

Aku langsung menginjak sepatunya.

"Romi, Pak" Wahyu membeberkan semuanya.

Aku lebih keras lagi menginjakkan kakiku.

"Romi, benar kamu pelakunya?" tanya Pak Kusni kepadaku.

"Bu... bukan Pak," jawabku dengan gemetar.

Keringat dingin mulai mengucur dari setiap pori-pori kulitku, wajahku pucat pasi dan
ketakutan.

"Jangan bohong kamu," ucap Pak Kusni lebih keras.

"I.... iya Pak, bukan aku," aku berbohong.

"Bukan Romi Pak pelakunya, tadi ada anak kelas sebelah yang bermain di dalam
kelas dan dia buang sampah sembarangan," ucap Doni.

"benar Pak, bukan Romi pelakunya. Tadi ada anak kelas lain yang bermain di dalam
kelas kamu Pak," Lio menambahkan.

Doni adalah teman sekelasku, tubuhnya tinggi sedang, kulitnya hitam, dan sedikit
gemuk. Sebelumnya aku tidak begitu dekat dengan Dni karena perilakunya yang
nakal. Doni tidak naik kelas sewaktu dia kelas dua.

Lio juga temen sekelasku, dia teman akrabnya Doni. Lio sangat jahil, sering berbuat
ulah di kelas dan terkadang suka tidur di kelas. Aku berteman dengannya tapi tidak
begitu akrab.

Tapi mengapa mereka tiba-tiba membelaku?

Ah biarkan saja kecurigaanku ini yang penting aku selamat dari hukuman Pak Kusni.

[Date] xxiii

Sebenarnya aku juga tahu alasan Wahyu berbicara jujur kepada Pak Kusni. Ayahku
selalu meminta Wahyu untuk berkata jujur atas semua hal yang berkaitan denganku
dan aku pun dituntut agar selalu berkata jujur.

Ketika dia berkata jujur kepada Pak Kusni, dia sebenarnya ingin membelaku, ingin
mengawasiku, dan ingin menjalankan amanat dari ayahku.

"Tapi biar lah, aku sudah kesal dengan Wahyu. Ternyata Wahyu yang kukenal sejak
SD dengan mudah mencelakakan aku," ucapku dalam hati.

"Oke kalau begitu, pelajaran dilanjutkan, asalkan tidak ada lagi sampah yang
berserakan di bawah meja kalian," ucap Pak Kusni sebelum memulai pelajaran PKn.

Kami sekelas melihat sekeliling. Jika ada sampah, kami langsung membuangnya ke
tempat sampah. Setelah pelajaran Pak Kusni selesai, aku menghampiri Doni dan Lio.
Aku ingin mengucapkan terima kasih pada mereka.

"Lio, Doni, terima kasih ya, kalian sudah menyelamatkan aku," ucapku kepada Lio dan
DOni yang duduk di bangku paling belakang.

"Santai aje Rom," ucap Lio dengan nada santai.
"Bilangin tuh, si Wahyu, jangan bawel" ucap Doni.
"Tau tuh anak, songong banget, mau nyelakain temen sendiri. Padahal aku sama
Wahyu sudah berteman lama dan duduk satu bangku, masih saja mau nyelakain
temen sendiri," aku merasa kesal dengan Wahyu.

"Mangkanya jangan berteman sama dia, berteman saja sama kita. Kita orangnya asik,
santai, dan solidaritasnya kuat," Doni membusungkan dada.

"Iya-iya," aku mengangguk. "Biarin saja, aku nggak akan negor Wahyu lagi," lanjutku.

Semenjak kejadian itu, aku mulai berteman dengan Lio dan Doni yang terkenal
sebagai preman di sekolah. Aku sudah jarang dan bahkan tidak pernah pulang
bersama Wahyu karena kecewa padanya.

Kali ini aku pulang sekolah bareng Doni dan Lio. Kami tidak langsung pulang ke
rumah. Kami memilih untuk duduk-duduk atau nongkrong terlebih dahulu di pinggir
jalan.

BAB 7

Senja Persahabatan

Kring... kring... kring... jam alarm di kamarku berbunyi. Aku bergegas ke kamar mandi
untuk bersiap-siap Berangkat ke sekolah. "Wildan, ayo cepat sarapan". Ibu
memanggilku dari meja makan. "Iya sebentar bu..". Aku menjawab sambil merapihkan

[Date] xxiv

buku pelajaran. Aku duduk di kelas 6 SD, dan sekitar 3 bulan lagi aku akan
menghadapi UN. Hari ini hari sabtu, jadi aku pulang lebih cepat sekitar jam 11.

Bel sekolah berbunyi. Aku masuk ke kelas dan seperti biasa aku duduk di sebelah
sahabatku. Dia sahabatku dari TK, kadang jika ada pr ataupun tugas aku dengan dia
suka mengerjakan bersama. Tak heran jika aku dengan dia suka berganti-gantian
menjadi juara kelas. Bel pulang sekolah tiba. Aku dengan dia, pulang bersama dan
dilanjutkan bermain ke suatu tempat yang selalu kita kunjungi hampir setiap hari.
sebelum kita ke tempat tersebut kita mengajak dua sahabat kami yg berbeda sekolah.
Setelah semua berkumpul kami berangkat ke tempat yg indah yaitu saung di tepi
sawah.

Canda, tangis, senang, dan sedih kita lalui bersama. Tepat jam satu siang setelah
sholat dhuhur, kami membawa makan siang masing-masing dari rumah untuk
bacakan bersama di saung tepi sawah sambil menikmati angin sawah di siang hari.
Disana kita mencurhatkan segala sesuatu yg kita miliki, kadang kita berempat bermain
lumpur di sawah pada sore hari. Dan seperti biasa, setelah bermain lumpur kami
duduk di saung sambil melihat indahnya senja di sore hari.

Disaat itu aku dan sahabatku mengabadikan. moment terpenting dalam hidupku yaitu
moment kebersamaan.

Esok, hari pertama UN di seluruh

indonesia. Selama tiga hari aku selalu belajar full bersama dengan keempat
sahabatku. Alhamdullillah berkat rahmat Allah S.W.T aku bisa mendapatkan nilai UN
tertinggi di sekolahku. Setelah UN berlangsung kami berempat memilih sekolah
lanjutan. Akan tetapi, ketiga sahabatku memilih sekolah lanjutan ke pesantren. Disitu
aku mulai sedih karna harus berpisah untuk sementara waktu. Dan disaat itu aku telah
diterima di sekolah favorit yg aku inginkan. Perasaanku tercampur aduk bagaikan
adonan kueh.

"Bani, apakah kamu yakin akan melanjutkan sekolah ke pondok ?". Aku
menanyakan kepastian ke pada Bani. Kita berempat duduk di saung sambil
menyakan sekolah lanjutan masing-masing dari kita. "Ya, aku akan melanjutkan ke
pondok meskipun ini adalah pilihan terberatku, tapi, harus bagaimana aku ingin
sekali sekolah di pondok". Dia menjawabnya sambil terharu. Hari demi hari berlalu,
waktu terus mengikutiku tanpa pernah menatap senja yg dahulu selalu bersama.

[Date] xxv

Tiga hari lagi, aku akan duduk di bangku SMP/MTs. Aku mulai mempersiakan
keperluanku untuk masuk sekolah. Setelah semua beres,

aku menatap langit dari dinding kamarku. Sambil berfikir, Mungkin mereka sudah
menemukan teman baru yg lebih baik dari diriku. Setiap aku ke saung tepi sawah,
aku melihat bayangan yg dahulu selalu kita lewati bersama-sama. Aku hampir
menangis melihat kenangan dahulu yg telah tersimpan paling dalam di hatiku.

Ku injakkan kakiku di sekolah ku tercinta. Lalu aku langsung mencari mading untuk
melihat namaku dan kelasku. Setelah aku melihatnya aku langsung bergegas dan
mencari kelas tersebut. Ku buka pintu kelasku,ternyata masih sepi. Lantas aku
langsung menaruh tasku di bangku paling depan. Bel masuk berbunyi, semua
berhamburan masuk dan mencari kelas masing-masing. Kemuadian, aku
berkenalan dengan teman sebangku ku. Namanya Zifan, dia mempunyai tahi lalat di
atas alis sebelah kiri. Kelihatannya sih dia baik, dan juga pintar.

Selama tiga bulan aku bersekolah di sekolah favoritku. Aku masih bimbang untuk
mengikuti ekskul di sekolah ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti ekskul
beladiri dan volly. Dan juga mengikuti tiga organisasi disekolah. Aku mengikuti
banyak kegiatan di sekolah dikarenakan untuk melupakan kenangan masa lalu dan
mendapatkan masa depan yg gemilang. Pada suatu hari, aku ditunjuk oleh guruku
untuk mengikuti lomba Debat di gedung Pgri. Setiap sekolah mengirimkan satu regu
yang terdiri dari tiga orang. Dan aku sebagai juru bicara. Lomba debat tersebut
mengenai perdebatan krisis pendidikan di indonesia.

Kompetisi tiba, aku masuk ke gedung tersebut bersama kedua patner debatku.
Banyak sekali suporter dari masing-masing sekolah. Dan yang paling mengejutkan
adalah sahabatku bernama Bani, dia mengikuti kompetisi tersebut. Ketika aku
melihat dia, aku menghayal jauh semasa dia dan aku dulu selalu bersama. Semua
materi debat yg diberikan oleh guruku kubuyarkan begitu saja. Aku menangis dalam
hati. "Assalamualaikum Wildan. Bagaimana kabarmu ?". Bani menghampiriku sambil
menanyakan tentang kabarku. "Waalaikum salam, Alhamdulillah baik". Aku
menjawabnya dengan penuh suka cita.

Kompetisi debat dimulai, dari babak penyisihan 1, penyisihan 2, 16 besar dan 8
besar kami lewati. Alhamdulillah kita bisa lolos hingga Final. Tetapi, aku tidak yakin
menang di final. Karena, di final aku harus berdebat dengan sahabatku yg bernama
Bani. Memang aku suka berdebat tapi. aku.. tidak berani untuk berdebat dengan
sahabatku.

[Date] xxvi

Aku hanya bisa berdoa dan berharap agar, pada saat kompetisi saya bisa mengusai
materi. Disaat itu aku dan dia bersaing dengan sehat tanpa memutuskan senja
persahabatan. Dengan berdoa dan berikhtiar aku dengan kedua patnerku bisa
mengharumkan nama baik sekolah. Akhirnya kami bisa mendapat juara pertama
setelah melawan regu sahabatku sendiri. "Wildan selamat yah kamu memang
pantas menjadi juara". Bani menghampiriku sambil memujiku.

Kompetisi telah usai dilaksanakan. Kemudian aku berpisah dengan sahabatku
kembali. Aku harus kembali ke sekolah untuk menaruh piala yg ku peroleh dari
kompetisi tersebut. Aku dan kedua temanku naik ke mobil pribadi punya sekolah.
Pada saat kompetisi tersebut aku dan temanku didampingi guru bahasa indonesia.
Pada saat diperjalanan, mobil yg ku naiki ingin menyalip sebuah truk besar. Akan
tetapi, usahanya gagal. Hingga mobil yg ku naiki ini tertabrak truk besar dan
terlempar ke sebuah ladang. "Akhhaaaa....". Aku menjerit dan aku terlempar hingga
kepalaku terbentur oleh pohon mangga.

Mungkin ini adalah akhir dari segalanya. Aku terbangun dan memegang kepalaku yg
penuh dengan darah. "Dimana aku?, kenapa aku bisa disini? dan siapa nama diriku
ini?". Aku bertanya dengan diriku dan juga berteriak. Aku melihat dua orang laki-laki
semuranku yang sedang tergeletak diantara diriku. Aku tidak mengetahui nama
mereka. Lantas aku langsung bengecek nyawa mereka ternyata satu orang dari
mereka sudah tidak benyawa, dan yg satunya lagi masih bernyawa. "Tolong....
tolong.... ada mayat disini". Aku teriak ketakutan.

Dua jam kemudian, diriku berada di rumah sakit. Aku dirawat di rumah sakit
tersebut. Dan pada saat aku sedang istirahat. Ada sepasang suami istri
menghampiri diriku "Alhamdulillah kamu selamat Nak. Seorang perempuan berumur
30-an berbicara dengan diriku sambil menangis. "ibu siapa?..kenapa ibu menangisi
diriku ini. Emang ibu ini siapa diriku?". Aku bertanya ke pada wanita itu. Tetapi, ibu
itu langsung kaget!! mendengar kejadian tersebut. Ibu itu langsung ke ruang dokter
dan menanyakan tentang diriku. "Anak ibu mengalami amesia dikarenakan pada
saat kecelakaan kepalanya terbentur pohon Untuk mengingat semuanya, di mohon
untuk perlahan mengingat masa lalu yang selalu dia kerjakan bersama. Insha Allah
dia bisa mengingat kembali semuanya". Dokter itu menjelaskan semuanya yg terjadi
dari diriku kepada ibu tersebut. Ibu itu semakin menangis terharu.

Tiga bulan berlalu. Aku hanya bisa mengingat keluargaku saja. Aku harus memulai
mengingat nama-nama temanku disekolah dari awal. Nama temanku disekolah yang
kuingat hanyalah Zifan. Dia sudah seperti sahabatku. Aku belum bisa mengingat
masa lalu yg kuingar. Aku pernah diajak oleh Zifan ke tempat saung di tepi sawah.

[Date] xxvii

Pada saat aku melihat saung tersebut, aku seperti melihat dalam bayanganku
terdapat tiga orang lelaki yg sedang bermain denganku. Zifan menceritakan
tentangku bahwa aku mempunyai tiga sahabat. Aku tidak ingat apa-apa yang
kuingat hanya tiga laki-laki yg tak jelas wajahnya di dalam bayanganku. Kepalaku
sangat pusing dan aku meminta Zifan mengantarkanku untuk pulang ke rumah.

Pada saat liburan tengah semester, aku melihat tiga laki-laki sedang duduk di saung.
Aku menghampiri dengan perlahan "Wildan, ayo kesini, bagaimana kabarmu?"
Salah satu diatara mereka memanggilku. "Engkau siapa? kenapa engkau tau
namaku? Aku bertanya kepadanya dan aku semakin penasaran. "Ah kamu gk usah
bercanda deh...". Salah satu diantara mereka bergurau kepadaku. Lalu pikiranku
kembali mengingat tiga lelaki tersebut, kepalaku semakin pusing sekali dan akhirnya
aku pingsan dan tergeletak di tanah. Aku di diangkat oleh ketiga lelaki tersebut ke
rumahku dan mereka menanyakan tentang apa yg terjadi dari diriku kepada ibuku
Ibuku menjelaskan secara jelas dan ketiga lelaki tersebut kaget melihat hal itu.

Ketika aku terbangun, aku bisa mengingat semua yg terjadi dahulu. Dan akhirnya
aku bisa menjadi diriku kembali, tanpa melupakan ingatan yg ku lupakan. Aku bisa
kembali bermain dengan sahabatku

di saung hingga terbenamnya matahari dan melihat senja bersama-sama.

[Date] xxviii


Click to View FlipBook Version