The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini merupakan tugas 1.1.a.8 Koneksi Antarmateri - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1 Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara, PGP Angkatan 7.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Maya Mei Rositasari, 2022-11-07 06:18:48

Maya Mei Rositasari, S.Pd. - 1.1.a.8 Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

Buku ini merupakan tugas 1.1.a.8 Koneksi Antarmateri - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1 Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara, PGP Angkatan 7.

1.1.a.8. Koneksi Antarmateri

KesimpulManoddula1n.1 Refleksi

Oleh:

Maya Mei Rositasari, S.Pd.

CGP Angkatan 7 Kab. Jember

Kelas 43
BBGP Provinsi Jawa Timur

Mukadimah

Ki Hajar Dewantara telah banyak
menuangkan pemikiran-pemikirannya untuk
pendidikan di Indonesia. Menurutnya, tingkah
laku guru harus dapat menjadi panutan murid
dan masyarakat, sehingga KHD pun
mencetuskan istilah yang menjadi
pegangannya dalam melaksanakan pendidikan
dan pengajaran.

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun
karsa, dan tut wuri handayani. Hendaknya
semua pendidik dapat memaknai dan
menjadikannya pedoman.

Dalam tulisan ini saya akan pemaparkan
hal-hal yang bisa saya simpulkan dari Modul 1.1
tentang Filosofi Pendidikan Ki Hajar
Dewantara. Serta mengaitkannya dengan
refleksi terhadap pengalaman pendidikan dan
pengajaran yang selama ini saya lakukan.

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

Apma umyraeikndmegdlpasaeasnlysaapejaebprmeeilrmbucemaolydasajuaaltyre1aan.n1tad?ni g

Hal-hal yang saya yakini tetang murid
dan pembelajaran yang selama ini
saya lakukan yaitu:

1. Model pembelajaran Teacher
Centered dan metode ceramah
lebih efisien

Saya menganggap bahwa guru harus
menjelaskan setiap materi pelajaran agar
peserta didik mengerti dan memahami, dari
pada hanya sekadar mempelajari sendiri materi
di buku. Dengan metode ceramah pula, semua
materi dari Kompetensi Dasar yang dirancang
dalam Prota dan Promes akan bisa selesai
tepat waktu.

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

2. Fokus utama pendidikan
adalah transfer ilmu dan nilai
akademik

Nilai akademik di rapor sudah dapat
mencerminkan hasil belajar peserta didik.
Sehingga masih muncul mindset “Anak rajin
pasti nilai rapornya bagus, sedangkan anak
yang malas pasti nilai rapornya pas-pasan.”

3. Penggunaan media pembelajaran tidak
begitu penting dan tidak efisien

Terlalu sering menggunakan media akan
membuat materi pembelajaran tidak kunjung
selesai. Selama ini bagi saya sudah cukup
dengan guru menggunakan papan tulis untuk
menerangkan suatu materi

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

4. Peserta didik yang mendapatkan nilai di
bawah KKM disebabkan kurangnya motivasi
dari dalam dirinya

Kecenderungan peserta didik
yang kurang memperhatikan
penjelasan guru dan sibuk
bermain sendiri saat pelajaran
membuat saya berpikir bahwa
anak tidak betul-betul ingin
belajar dan minim rasa ingin
tahunya.

5. Anak akan jera berperilaku
negatif dengan hukuman-
hukuman ringan

Walaupun memberikan nasihat kepada
anak yang berperilaku menyimpang, namun
masih sering saya mengambil jalan pintas
dengan teguran agak keras kepada mereka.
Saya berpikir dengan demikian anak akan jera
melakukan kesalahan karena tidak ingin
dimarahi kembali oleh guru.

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

6. Anak usia SD tidak boleh membawa HP ke
sekolah karena mengganggu kegiatan belajar
dan membatasi interaksi dengan sesama
teman.

Dari beberapa hal tersebut, saya meyakini

sudah berhasil menyelenggarakan

pembelajaran karena semua materi tuntas

terselesaikan, padahal belum tentu semua

peserta didik bisa mengikuti pelajaran yang

saya sampaikan. Anak juga terlihat diam

ketika saya memarahinya jika mereka usil dan

tidak memperhatikan penjelasan guru.

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

spAaepymaaiyskaeirntmaegnloabadheturamulubienpamihe?prdeilalaarkjiauri

1. Pendidikan dan pembelajaran harus
berhamba pada anak (Student Centered)

Pendidik seharusnya menuntun
anak agar dapat mengembangkan
potensi dalam dirinya. Jangan
mengekang kreativitas anak
melalui doktrin-doktrin pelajaran
saja. Setiap anak memiliki tipe
belajar yang berbeda.

Guru sebagai fasilitator harus bisa
menyelenggarakan pembelajaran yang
mengakomodir perbedaan karakter murid,
menuntun siswa dalam menemukenali dan
mengkonstruk pengetahuan berdasarkan
pemahaman mereka sehingga menjadi
pengetahuan bermakna. Guru juga harus
memotivasi semua peserta didik untuk
berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

2. Pendidikan harus
seimbang antara olah cipta
(menajamkan pikiran), olah
rasa (menghaluskan rasa),
olah karsa (memperkuat
kemauan), dan olah raga
(menyehatkan jasmani).

Dengan mengembangkan pengetahuan,
keterampilan, dan budi pekerti, anak-anak
dapat mencapai kesempurnaan hidupnya.

3. Pembelajaran lebih
efektif dengan penggunaan
media

Peserta didik akan lebih memahami materi
pelajaran jika guru menggunakan media
pendukung (gambar, video, dll) sehingga anak
memiliki visual yang jelas terhadap materi
pembelajaran.

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

4. Anak memiliki kemampuan yang berbeda
dalam penyerapan materi pelajaran

Guru harus telaten

membimbing peserta didik

dan menyelenggarakan

pembelajaran yang

bermakna sehingga siswa

memahami materi.

5. Pendidikan diperlukan
untuk memperbaiki budi
pekerti

Guru harus membimbing dan mengarahkan
peserta didik agar memiliki budi pekerti yang
baik, tidak sekadar memberikan hukuman saja.
Guru harus membantu siswa agar bisa
menguasai dirinya sehingga anak dapat
menghilangkan watak biologisnya yang kurang
baik.

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

6. Guru harus memperhatikan
kodrat alam dan kodrat
zaman dalam mendidik
muridnya

Setiap zaman memiliki tantangan berbeda.
pada zaman sekarang, tantangan pendidikan
adalah revolusi industri 4.0 dimana
perkembangan teknologi yang begitu cepat
dan sudah menjadi bagian dari kehidupan.
Itulah yang dimaksud dengan kodrat zaman.
Pendidikan harus bisa beradaptasi dengan
kemajuan teknologi. Guru harus melek
teknologi, memasuki dunia siswa dengan
memanfaatkan teknologi (terutama gadget)
dalam proses pembelajaran.

Terutama apabila lingkungan keluarga siswa
mendukung dalam pemenuhan gadget untuk
pendidikan, guru bisa menggunakan peluang
tersebut untuk menanamkan etika yang baik
dan bijak berteknologi.

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

Apa tyearnagpkdaanpalet bseihgebraaik
saya agar kelas saya

pmeemnickeirramninKkHaDn?

Setelah mempelajari Modul 1.1 tentang
Filosifis Pendidikan Ki Hajar Dewantara, ada
beberapa hal yang ingin saya lakukan untuk
pola pendidikan dan pembelajaran yang saya
lakukan.

Pertama, menyelenggarakan pembelajaran

yang berhamba pada anak (Student Centered)

dengan menggunakan beragam metode dan

media pembelajaran yang dapat

mengakomodir keberagaman karakteristik

peserta didik.

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

Kedua, memanfaatkan gadget yang dimiliki
peserta didik untuk melakukan evaluasi hasil
belajar di sekolah, dengan syarat HP
diamankan oleh guru sebelum dan setelah
pelaksanaan evaluasi. Selain itu, juga
mengunggah karya keterampilan melalui media
sosial yang dimiliki peserta didik untuk
kemudian murid saling memberi tanggapan
dengan memperhatikan etika berkomunikasi.

Ketiga, menerapkan konsep merdeka belajar
untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila yang
meliputi beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
berkebhinekaan global, bergotong royong,
mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Keempat, membuat kesepakatan bersama
demi menciptakan kondisi kelas yang kondusif
untuk belajar.

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -

Sekian pemaparan saya tentang
Kesimpulan dan Refleksi Filosofi Pendidikan

Ki Hajar Dewantara.



Semoga saya juga para guru hebat di
Indonesia senantiasa menjadikan pemikiran-
pemikiran beliau sebagai pedoman dalam

pendidikan dan pengajaran.

"Guru yang baik tahu bagaimana membawa
yang terbaik dalam diri siswa."
- Charles Kuralt -

- Maya Mei Rositasari, S.Pd. -


Click to View FlipBook Version