The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tiyapratiwi182, 2022-12-17 22:34:58

Asal Usul Nenek Moyang

Asal Usul_merged

KELAS X

By Sabtiya Pratiwi

ASAL-USUL NENEK


MOYANG lndonesia

Penulis



Sabtiya Pratiwi 190210302019





Editing dan Tata Letak
Canva & Mr.Word





ISBN: 000-000-0000-00-00





Cetakan 2, 2022

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyusun E-Modul sejarah
kelas X tentang "Asal-Usul Nenek Moyang Di
Indonesia"dapat berjalan dengan lancar dan baik.
Penulis berharap semoga E-modul ini dapat
digunakan sebagai panduan pembelajaran
sejarah dan menambah pengetahuan juga bagi
pembaca mengenai Asal-usul Nenek Moyang Kita.
Akhir kata, Semoga segala upaya yang dilakukan
bisa bermanfaat untuk memajukan pendidikan di
Indonesia khususnya dalam bidang kesejarahan.

Jember, 6 Oktober 2022



Penulis,

PETA KONSEP

PENDAHULUAN

A.Identitas Modul

Nama Pelajaran : Sejarah
Kelas :X
Alokasi Waktu : 3 x 45 Menit
Judul Modul : Asal Usul Nenek Moyang
Indonesia

B.Capaian Pembelajaran

Peserta didik juga dapat memahami konsep dasar
asal usul nenek moyang dan jalur rempah;
menganalisis serta mengevaluasi manusia dalam asal
usul nenek moyang dan jalur rempah; menganalisis
serta mengevaluasi asal usul nenek moyang dan jalur
rempah dalam ruang lingkup lokal, nasional, serta
global; menganalisis serta mengevaluasi asal usul
nenek moyang dan jalur rempah dalam dimensi masa
lalu, masa kini, serta masa depan; menganalisis serta
mengevaluasi asal usul nenek moyang dan jalur
rempah dari pola perkembangan, perubahan,
keberlanjutan, dan keberulangan; menganalisis serta
mengevaluasi asal usul nenek moyang dan jalur
rempah secara diakronis (kronologi) dan/atau
sinkronis.

C. Petunjuk Penggunaan Modul
1. Bagi Peserta Didik

Untuk memperoleh prestasi belajar secara
maksimal, maka langkahlangkah yang perlu
dilaksanakan dalam modul ini antara lain:
Bacalah dan pahami materi yang ada pada
setiap kegiatan belajar. Bila ada materi yang
belum jelas, peserta didik dapat bertanya pada
pendidik.
Kerjakan setiap tugas diskusi terhadap materi-
materi yang dibahas dalam setiap kegiatan
belajar.
jika belum menguasai level materi yang
diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar
sebelumnya atau bertanyalah kepada pendidik
2. Bagi Pendidik
Membantu peserta didik dalam merencanakan
proses belajar.
Membimbing peserta didik dalam memahami
konsep, analisa, dan menjawab pertanyaan
peserta didik mengenai proses belajar.
Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok

MATERI

ASAL-USUL NENEK

MOYANG lndonesia

A. Masa Sebelum Mengenal Tulisan

Praaksara berasal dari dua kata, yaitu "pra" yang artinya sebelum dan "aksara"
yang berarti tulisan. Zaman praaksara adalah masa kehidupan manusia sebelum
mengenal tulisan. Praaksara disebut juga nirleka, "nir" berarti tanpa dan "leka"
berarti tulisan. Praaksara yaitu istilah baru untuk menggantikan istilah prasejarah.
Penggunaan istilah prasejarah untuk menggambarkan perkembangan kehidupan
dan budaya manusia pada waktu belum mengenai tulisan adalah kurangtepat. "Pra”
artinya sebelum dan ”sejarah” adalah sejarah, sehingga prasejarah berarti sebelum
ada sejarah.

Gambar 1. Zaman Praaksara

Sebelum ada sejarah berarti sebelum ada aktivitas kehidupan manusia. Namun,
dalam kenyataannya sekalipun belum mengenal tulisan makhluk yang dinamakan
manusia sudah memiliki sejarah dan sudah menghasilkan kebudayaan. Oleh karena
itu, para ahli memopulerkan istilah praaksara untuk menggantikan istilah prasejarah.
Untuk menyelidiki kehidupan zaman praaksara, para sejarawan menggunakan
metode penelitian ilmu arkeologi dan ilmu alam, seperti geologi dan biologi. Ilmu
arkeologi adalah bidang ilmu yang mengkaji bukti-bukti atau jejak tinggalan fisik,
seperti lempeng artefak, monumen, dan candi. Para sejarawan juga menggunakan
ilmu geologi dan percabangannya, terutama yang berkenaan dengan pengkajian
usia lapisan bumi serta biologi yang berkenaan dengan kajian mengenai ragam
hayati makhluk hidup.

B. Terbentuknya Kepulauan Indonesia

Adanya fenomena alam merupakan bagian yang tidak terpisah dari aktivitas panjang
bumi sejak proses terjadinya alam semesta ratusan, bahkan ribuan juta tahun yang lalu.
Proses tersebut secara geologis mengalami beberapa tahapan atau pembabakan
waktu. Ada banyak teori mengenai penciptaan bumi, mulai dari mitos sampai penjelasan
agama dan ilmu pengetahuan. Salah satu teori iimiah mengenai terbentuknya bumi
adalah teori dentuman besar (big bang). Salah satu ilmuwan pendukung teori dentuman
besar adalah Stephen Hawking, ilmuwan dari Inggris.

Gambar 2 Teori Pembentukan Bumi

Teori dentuman besar menyatakan bahwa alam semesta mulanya berbentuk gumpalan
gas yang mengisi seluruh ruang jagat raya. Bila digunakan teleskop besar Mount Wilson
untuk mengamatinya akan terlihat ruang jagat raya tersbut yang luasnya mencapai
radius 500.000.000 tahun cahaya. Gumpalan gas tersebut suatu saat meledak dengan
satu dentuman yang amat dahsyat. Setelah itu, materi yang terdapat di alam semesta
mulai berdesakan satu sama lain dalam kondisi suhu dan kepadatan yang sangat tinggi
sehingga hanya tersisa energi berupa proton, neutron, dan elektron yang bertebaran ke
seluruh arah.
Ledakan dahsyat tersebut menimbulkan gelembung-gelembung alam semesta yang
menyebar dan menggembung ke seluruh penjuru sehingga membentuk galaksi
bintangbintang, matahari, planet-planet, bumi, bulan, dan meteoroid. Bumi yang kita pijak
ini hanyalah salah satu titik kecil di antara tata surya yang mengisi alam semesta. Sistem
alam semesta dengan semua benda langit sudah tersusun secara menakjubkan dan
masing-masing beredar secara teratur serta rapi pada sumbunya masing-masing.
Perkembangan selanjutnya, proses evolusi alam semesta ini memerlukan waktu
kosmlogis yang sangat lama sampai beribu-ribu juta tahun. Terjadinya evolusi bumi
sampai denga adanya kehidupan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Ilmu
paleontologi membag dalam tahap-tahap waktu geologis. Masing-masing tahap ditandai
oleh peristiwa alam yang menonjol, seperti munculnya gunung-gunung, benua, dan
makhluk hidup yang paling sederhana.
Proses evolusi bumi dibagi menjadi beberapa periode yaitu:
a)Azoikum/Arkeozoikum
Azoikum berasal dari bahasa Yunani yaitu a yang artinya tidak dan zoon yang artinya
hewan. Zaman azoikum merupakan zaman sebelum adanya kehidupan. Pada zaman ini,
bumi baru terbentuk dengan suhu yang relatif tinggi.

Waktunya lebih dari satu miliar tahun lalu. Lingkungan hidup pada masa ini dapat
digambarkan mirip dengan lingkungan mata air panas. Pada masa ini merupakan awal
terbentuknya hidrosfer dan atmosfer serta awal munculnya kehidupan primitif di
dalam samudra berupa mikroorganisme (bakteri dan ganggang).

b) Paleozoikum
Zaman paleozoikum merupakan zaman purba tertua. Zaman ini berlangsung kira-kira
350.000.000 tahun. Pada zaman ini mulai terjadi perkembangan atmosfer dan hidrosfer,
serta kehidupan mikroorganisme bersel tunggal menjadi bersel banyak seperti
enkaryotes (bakal tumbuhan) dan prokaryotes (bakal binatang). Zaman ini terbagi
menjadi beberapa periode yaitu periode kambrium, ordovisium, silur, devon, karbon,
dan perm. Pada periode kambrium muncul benua besar yang disebut Gondwana.
Benua tersebut merupakan cikal bakal Benua Antartika, Afrika, India, dan Amerika
Selatan. Sementara itu, Benua Eropa, Amerika Utara, dan Tanah Hijau (Greeniand)
masih berupa benua-benua kecil yang terpisah. Samudra pada periode devon mulai
menyempit, sedangkan Benua Gondwana terus berkembang menutupi Eropa dan
Tanah Hijau. Pada periode karbon, benua-benua di bumi mulai menyatu membentuk
satu benua raksasa yang disebut Pangaea.

c) Mesozoikum
Mesozoikum merupakan zaman purba tengah. Pada zaman mesozoikum mulai ada
hewan mamalia (menyusui), hewan amfibi, burung, dan tumbuhan berbunga. Lamanya
zaman ini kira-kira 140.000.000 tahun. Pada periode ini kondisi bumi mulai stabil, iklim
sudah bersahabat, dan curah hujan mulai turun. Masa ini merupakan awal kemunculan
binatang reptil berukuran besar seperti tyrannosaurus, spinosaurus, stegosaurus,
dan brontosaurus. Masa ini dibagi menjadi beberapa periode berikut.

1) Periode trias. Kondisi bumi pada periode ini menjadi kering dan tidak subur. Benua
Pangaea bergerak ke utara dan gurun terbentuk. Untuk pertama kalinya, dinosaurus
dan reptilian laut berukuran besar muncul.
2) Periode jura. Pada periode ini dinosaurus dan tyrannosaurus berkembang menjadi
penguasa daratan, sedangkan ichtiyosaurus menjadi pemburu di dalam lautan dan
pterosaurus merajai angkasa.
3) Periode kapur. Pada periode ini, dinosaurus mengalami kepunahan karena terjadi
perubahan drastis iklim dari iklim hangat menjadi iklim dingin. Adanya perubahan
tersebut membuat dinosaurus tidak dapat menyesuaikan diri.

d) Neozoikum
Neozoikum merupakan zaman purba baru. Zaman ini dimulai sejak 80.000.000 tahun
yang lalu. Pada zaman neozoikum dibagi menjadi dua tahap, yaitu tersier dan kuarter

Zaman Tersier: Pada zaman tersier dibagi menjadi beberapa masa, yaitu
paleosen, eosen, oligosen, miosen, dan pliosen. Hal yang terpenting pada zaman
tersier adalah munculnya jenis primata seperti kera.
Zaman Kuarter: Zaman kuarter dibagi menjadi dua kala, yaitu kala pleistosen
(zaman diluvium) dan kala holosen (zaman aluvium).

.

1.Kala Pleistosen: Pada kala ini, bumi mengalami pergantian kondisi muka bumi
yang luar biasa. Masa ini ditandai dengan adanya dua masa yaitu masa glasial
dan masa interglasial.
2.Kala Holosen: Kala ini ditandai dengan es di kutub yang sudah mencair dan
meningkatnya permukaan laut dengan cepat. Makhluk-makhluk raksasa
mengalami kepunahan. Di sisi lain, perubahan kondisi bumi tersebut memunculkan
pulau-pulau baru, termasuk kepulauan Indonesia.

Merujuk pada tarikh bumi tersebut, sejarah di kepulauan Indonesia terbentuk melalui
proses yang panjang. Sebelum manusia mendiami bumi, kepulauan ini hanya diisi oleh
flora serta fauna yang masih sangat kecil dan sederhana. Gugusan kepulauan yang
kita temukan ini terletak di antara dua benua dan dua samudra, antara Benua Asia di
utara dan Benua Australia di selatan, antara Samudra Hindia di barat dan Samudra
Pasifik di belahan timur. Faktor letak tersebut memiliki peran strategis sejak zaman
kuno sampai sekarang. Posisi pulau-pulau di kepulauan Indonesia menurut para ahli
bumi terletak di atas tungku api yang bersumber dari magma dalam perut bumi. Inti
perut bumi berupa lava cair bersuhu sangat tinggi. Makin ke dalam tekanan suhunya
semakin tinggi. Pada suhu yang tinggi tersebut material-material akan meleleh
sehingga material di bagian dalam bumi selalu berbentuk cairan panas. Suhu tinggi
tersebut terus-menerus bergejolak mempertahankan cairan sejak jutaan tahun lalu.
Pada waktu ada celah lubang keluar, cairan tersebut keluar berbentuk lava cair. Pada
waktu lava mencapai permukaan bumi, suhu menjadi lebih dingin dari ribuan derajat
menjadi hanya bersuhu normal sekitar 30”. Pada suhu ini, cairan lava akan membeku
membentuk batuan beku atau kerak. Keberadaan kerak benua dan kerak samudra
selalu bergerak secara dinamis akibat tekanan magma dari perut bumi.

Sebagian wilayah yang ada di kepulauan Indonesia ini merupakan titik temu di antara
tiga lempeng. Tiga lempeng tersebut adalah lempeng Indo-Australia di selatan,
lempeng Eurasia di utara, dan lempeng Pasifik di timur. Pergerakan lempeng-
lempeng tersebut dapat berupa subduksi (pergerakan lempeng atas), obduksi
(pergerakan lempeng ke bawah), dan kolisi (tumbukan lempeng). Pergerakan lain
dapat berupa pemisahan atau divergensi (tabrakan) lempenglempeng. Untuk
pergerakan mendatar berupa pergeseran lempeng-lempeng tersebut masih terus
berlangsung sampai sekarang. Adanya benturan lempeng-lempeng tersebut
menimbulkan dampak yang berbeda-beda. Namun, semuanya telah menyebabkan
wilayah kepulauan Indonesia Secara tektonis merupakan wilayah yang sangat aktif
dan labil hingga rawan terjadinya gempa.

Pada masa paleozoikum keadaan geografis kepulauan Indonesia belum terbentuk
seperti sekarang. Pada akhir masa mesozoikum kegiatan tektonis ini menjadi sangat
aktif Menggerakkan lempeng-lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Kegiatan
ini dikenal sebagai fase tektonis (orogenesa laramy) yang menyebabkan daratan
terpecah-pecah.

Benua Eurasia menjadi pulau-pulau yang terpisah, sebagian di antaranya bergerak
ke selatan membentuk Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, serta pulau-pulau
di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Banda. Pada Benua Australia juga terjadi hal
yang sama. Sebagian pecahannya bergerak ke utara membentuk pulau-pulau Timor,
Kepulauan Nusa Tenggara Timur, dan sebagian Maluku Tenggara. Pergerakan
pulau-pulau hasil pemisahan dari kedua benua itu mengakibatkan wilayah pertemuan
keduanya sangat labil. Kegiatan tektonis yang sangat aktif dan kuat telah membentuk
rangkaian kepulauan Indonesia pada masa tersier. Sebagai akibat terjadinya proses
kenaikan permukaan laut atau transgresi, sebagian besar daratan Sumatra,
Kalimantan, dan Jawa telah tenggelam menjadi laut dangkal. Pada masa itu, Sulawesi
sudah mulai terbentuk, sedangkan Papua sudah mulai bergeser ke utara, meski masih
didominasi oleh cekungan sedimentasi laut dangkal berupa paparan dengan
terbentuknya endapan batu gamping.

Pada kala pliosen terjadi pergerakan tektonis yang kuat sehingga mengakibatkan
terjadinya proses pengangkatan permukaan bumi dan kegiatan vulkanis.
Selanjutnya, menimbulkan tumbuhnya rangkaian perbukitan struktural seperti
perbukitan besar (gunung) dan perbukitan Ipatan, serta rangkaian gunung api aktif
sepanjang gugusan perbukitan. Kegiatan tektonis dan Vulkanis terus aktif hingga
pada awal masa pleistosen yang dikenal sebagai kegiatan tektonis Plio-pleistosen
yang berlangsung di seluruh kepulauan Indonesia. Rangkaian perbukitan struktural
dan gunung api aktif tersebar di sepanjang bagian barat Pulau Sumatra, berlanjut ke
sepanjang Pulau Jawa ke arah timur sampai Kepulauan Nusa Tenggara serta
Kepulauan Banda, terus membentang sepanjang Sulawesi Selatan dan Utara.
Pembentukan daratan yang luas tersebut telah membentuk kepulauan Indonesia
pada kedudukan pulau-pulau seperti sekarang. Jadi, pulau-pulau di kawasan
kepulauan Indonesia masih terus bergerak secara dinamis sehingga tidak heran jika
masih sering terjadi gempa (baik vulkanis maupun tektonis).

Letak kepulauan Indonesia yang ada di deretan gunung api membuat kepulauan
Indonesia menjadi daerah dengan tingkat keanekaragaman flora dan fauna yang
tinggi. Dengan kekayaan alam dan kondisi geografis tersebut mendorong para
peneliti datang ke Indonesia. Salah satu peneliti yang terkenal adalah Alfred Russel
Wailace yang membagi Indonesia dalam dua wilayah yang berbeda berdasarkan ciri
khusus, baik fauna maupun floranya. Pembagian tersebut adalah paparan Sahul di
sebelah timur dan paparan Sunda di sebelah barat. Zona di antara paparan tersebut
dikenal sebagai wilayah Wallace, pembatas fauna yang membentang dari Selat
Lombok hingga Selat Makassar ke arah utara. Fauna-fauna yang ada di sebelah barat
garis pembatas disebut dengan Indo-Malayan region, sedangkan fauna-tauna yang
ada di sebelah timur disebut dengan Australia Malayan region, garis itulah yang
dikenal dengan garis Wallace. Dengan merujuk pada tarikh bumi tersebut,
keberadaan manusia di muka bumi dimulai pada zaman kuarter.

Zaman kuarter disebut juga dengan zaman es. Mengapa dinamakan zaman es?
Dinamakan zaman es karena selama itu es dari kutub berkali-kali meluas sampai
menutupi sebagian besar permukaan bumi dari Eropa Utara, Asia Utara, dan Amerika
Utara. Terjadinya peristiwa tersebut karena panas bumi tidak tetap, adakalanya naik
dan adakalanya turun. Jika suhu panas bumi turun drastis, es akan mencapai luas
yang sebesar-besarnya dan air laut akan turun atau disebut dengan zaman glasial.
Namun sebaliknya, jika suhu panas naik, es akan mencair dan permukaan air laut akan
naik yang disebut dengan zaman intergjasial.

Selama Zaman diluvium (pleistosen), zaman giasial dan zaman interglasial
berlangsung silih berganti. Hal tersebut menimbulkan berbagai perubahan iklim di
seturuh dunia dan kemudian memengaruhi keadaan bumi serta kehidupan termasuk
manusia. Hewan-hewan berbulu tebal yang mampu bertahan hidup mulai ada pada
kala pleistosen ini. Salah satunya adalah gajah berbulu tebai (Mammuthus).

C. Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Gambar 3 Persebaran Nenek Moyang Indonesia
Pada masa pleistosen yang berlangsung sekitar 600 ribu tahun yang lalu
sebagain besar daratan dunia tertutup oleh lapisan es. Pada masa itu, terjadi
perubahan iklim dan penurunan air laut 100-150 m dari titik semula sehingga laut
menjadi dangkal dan berubah menjadi daratan. Peristiwa tersebut membuat
bagian barat kepulauan Indonesia bergabung dengan daratan Asia, sedangkan
bagian timur kepulauan Indonesia bergabung dengan daratan Australia.
Daratan yang menghubungkan kepulauan Indonesia bagian timur dengan
Australia disebut dengan Sahul. Antara paparan Sunda dan paparan Sahul
dipisahkan oleh zona Wallace yang kini menjadi wilayah Sulawesi, Nusa
Tenggara, dan Maluku. Kondisi geografis tersebut berpengaruh terhadap
persebaran manusia yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia.

D, Teori-teori Asal-usul Nenek Moyang lndonesia

Pendapat Para Ahli Mengenai Asal-usul Manusia Indonesia

Kepulauan Nusantara bersatu dengan daratan Asia pada masa pleistosen. Laut
dangkal yang ada di antara pulau-pulau di Nusantara bagian barat surut.
Akibatnya terbentuklah paparan Sunda yang menyatukan Indonesia dengan
daratan Asia. Begitu juga di Indonesia bagian timur juga terjadi hal yang sama. Di
situ terbentuk paparan Sahul yang menyatukan Indonesia bagian timur dengan
daratan Australia. Adanya paparan Sunda dan paparan Sahui menyebabkan
terjadinya perpindahan manusia dan hewan dari daratan Asia serta Australia ke
Indonesia, dan sebaliknya. Mengenai asal-usul manusia di kepulauan Indonesia
banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya, antara lain sebagai berikut.
a. Robert Barron van Heine Geldern berpendapat bahwa bangsa Indonesia
berasal dari daerah Asia. Pendapatnya ini dibuktikan oleh kesamaan artefak
purba yang ditemukan di Indonesia dengan artefak purba di daratan Asia.
b. Hogen berpendapat bahwa bangsa yang mendiami pesisir Melayu berasal dari
Sumatra. Bangsa ini bercampur dengan bangsa Mongol yang kemudian disebut
bangsa Proto Melayu dan Deutro Melayu. Bangsa Proto-Melayu menyebar di
wilayah Indonesia sekitar 3000-1500 SM, sedangkan bangsa Deutro Melayu
menyebar di wilayah Indonesia sekitar 1500—500 SM.
c. Moh. Ali berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan.
Pendapat Moh. Ali ini diperkuat dengan adanya kesamaan ras penduduk antara
penduduk Indonesia dan Asia. Selain itu, juga banyak artefak yang mempunyai
kesamaan, baik kebudayaan zaman batu maupun zaman logam. Pendapat Moh.
Ali ini dipengaruhi oleh pendapat Moens.
d. Prof. Dr. N.J. Krom berpendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia
berasal dari daerah Cina Tengah. Mereka menyebar ke wilayah Indonesia
sekitar 2000-1500 SM.
e. J.L.A. Brandes berpendapat bahwa bangsa yang mendiami kepulauan
Indonesia memiliki banyak persamaan dengan bangsa-bangsa yang datang
dari daerah sebelah utara Pulau Formosa, sebelah barat daerah Madagaskar,
sebelah selatan yaitu Jawa dan Bali, serta sebelah timur sampai ke tepi pantai
barat Amerika. Brandes melakukan penelitian berdasarkan perbandingan
bahasa.

f. Majumdar berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa
Austronesia berasal dari India, kemudian menyebar ke Indocina terus ke
daerah Indonesia dan Pasifik. Pendapat Majumdar ini didukung oleh
penelitiannya berdasarkan bahasa Austria yang merupakan bahasa muda
di India Timur.
g. Prof. Dr. Muh. Yamin berpendapat bahwa asal bangsa Indonesia dari
daerah Indonesia sendiri. Bahkan, dimungkinkan bangsa-bangsa lain yang
berada di Asia berasal dari Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan penemuan
fosil-fosil dan artefak tertua yang lebih lengkap ditemukan di wilayah
Indonesia. Muh. Yamin menentang semua pendapat yang dikemukakan oleh
para ahli. Pendapat Muh. Yamin ini didukung oleh suatu pernyataan tentang
Blood und breden unchro yang berarti "Darah dan tanah bangsa Indonesia
berasal dari Indonesia sendiri”.
h. Dr. J.H.C. Kern berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia.
Teorinya ini berdasarkan perbandingan bahasa karena bahasa-bahasa
yang dipakai di kepulauan Indonesia adalah Polinesia, Melanesia, dan
Mikronesia yang berasal dari satu akar yang sama yaitu bahasa
Austronesia. Menurut Kern, berdasarkan penelitian terhadap penggunaan
bahasa yang dipakai di berbagai kepulauan, bangsa Indonesia berasal dari
satu daerah dan menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa Champa
dan agak ke utara yaitu Tonkin. Namun, sebelum sampai di Nusantara
daerah Indonesia lebih dahulu ditempati oleh bangsa yang berkulit hitam dan
keriting. Bangsa-bangsa tersebut sampai sekarang masih mendiami
daerah Indonesia bagian timur dan daerah-daerah di Benua Australia.

Teori-teori Kedatangan dan Hasil Budaya
1) Teori Yunan

Teori Yunan menyatakan asal usul nenek moyang bangsa Indoensia
berasal dari Yunan, Tiongkok. Ada sejumlah ahli yang mendukung teori ini.
Para ahli tersebut R.H Geldern, J.H.C. Kern, J.R . Foster, dan J.R. Logon.
Secara garis besar, teori ini memiliki beberapa dasar utama. Pertama, teori
tersebut didukung oleh penemuan kapak tua di wilayah Nusantara yang
memiliki kesamaan dengan kapak tua yang terdapat di wilayah Asia
Tengah.
Hal tersebut menunjukkan ada proses migrasi manusia dari wilayah Asia
Tengah menuju Kepulauan Nusantara. Selain itu, dasar kedua yang
mendasari pendapat bahwa manusia Indonesia berasal dari Yunan ialah
ditemukan adanya kesamaan bahasa yang berkembang di Kepulauan
Nusantara dengan bahasa yang ada di Kamboja, yaitu bahasa Melayu
Polinesia.

Hal tersebut menandakan bahwa penduduk yang berada di Kamboja berasal dari
Yunan dengan cara menyusuir Sungai Mekong. Arus perpindahan tersbeut
selanjutnya diteruskan ketika sebagain dari mereka melanjutkan perpindahan dan
sampai ke eilayah Nusantara. Adanya kesamaan bahasa Melayu dengan bahasa
Cham di Kamboja menunjukkan adanya hubungan dengan dataran Yunan.

Teori Yunan tak hanya didukung oleh para ahli dari luar negeri, termasuk juga ahli
dalam negeri, yakni Moh. Ali yang menyatakan asal usul nenek moyang bangsa
Indonesia merupakan manusia yang berasal dari Yunan yang didasari oleh ada
dugaan migrasi atau perpindahan dari daerah Mongol ke selatan lantaran terdesak
dengan bangsa-bangsa lain, khususnya bangsa yang lebih kuat. Berdasarkan teori
Yunan, proses migrasi tersebut melalui tiga gelombang, ketiga gelombang tersebut
terdiri dari orang Negrito, Proto Melayu, dan Deoutro Melayu.

2)Teori Nusantara

Dalam teori Nusantara dinyatakan bahwa asal mula manusia yang menghuni wilayah
Nusantara tidak berasal dari luar, tetapi dari wilayah Nusantara sendiri. Mengikuti
sudut pandang Mutltiregional Evolution Model, teori Nusantara menyatakan bahwa
manusia purba yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia
sendiri. Pendukung teori Nusantara adalah Muhammad Yamin, J. Crawford, K. Himly,
Sutan Takdir Alisjahbana, dan Gorys Keraf. Berikut adalah argumen yang melandasi
teori Nusantara.

a.Bangsa Melayu merupakan bangsa yang berperadaban tinggi. Peradaban tidak
mungkin dapat dicapai apabila tidak melalui proses perkembangan dari kebudayaan
sebelumnya.
b. Bahasa Melayu memang memiliki kesamaan dengan bahasa Champa (Kamboja),
tetapi persamaan tersebut hanyalah suatu kebetulan saja.
c. Adanya kemungkinan bahwa orang Melayu adalah keturunan dari Homo soloensis
dan Homo wajakensis.
d. Adanya perbedaan bahasa antara bahasa Austronesia yang berkembang di
Nusantara dan bahasa Indo-Eropa yang berkembang di Asia Tengah.

Berdasarkan hasil penelitian Gregorius Keraf (Gorys Keraf) mengenai bahasa-
bahasa Nusantara sebagaimana dipaparkan dalam bukunya yang berjudul Linguistik
Bandingan Historia membuahkan teori baru mengenai asal-usul bahasa dan bangsa
Indonesia.
enurut teori Keraf, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari wilayah Indonesia
sendiri, bukan dari mana-mana, bukan pula dari Asia Tenggara Daratan atau dari
Semenanjung Malaka, Teori Keraf ini didasarkan pada tiga landasan tinjauan sebagai
berikut:

Situasi geografis masa lampau.
Pertumbuhan dan penyebaran umat manusia
Teori migrasi bahasa dan leksikostatistik.

3) Teori Out Of Africa

Teori ini lebih berbeda lagi dari dua teori sebelumnya, Teori ini menyatakan
bahwa manusia Indonesia berasal dari Afrika. Pendapat ini berdasarkan kajian
ilmu genetika melalui DNA mitokondria gen perempuan dan gen laki-laki.
Mereka bermigrasi dari Afrika hingga ke wilayah Australia. Teori ini juga
menyebutkan bahwa manusia Afrika melakukan perpindahan dari Afrika
menuju Asia Barat sekitar 50.000-70.000 tahun yang lalu.

Dalam teori ini, disebutkan bahwa sekitar 70.000 tahun yang lalu, bumi
memasuki akhir dari zaman glasial ketika permukaan air laut menjadi lebih
dangkal disebabkan oleh air yang masih berbentuk gletser. Pada masa itu,
memungkinkan manusia menyeberangi lautan hanya dengan menggunakan
perahu yang masih sederhana. Manusia Afrika yang melakukan perpindahan
menuju Asia terpecah menjadi beberapa kelompok. Terdapat kelompok yang
tinggal sementara wilayah Timur Tengah (Asia Barat Daya). Kelompok lainnya
melakukan migrasi dengan menyusuri Pantai Semenanjung Arab menuju India,
Asia Timur, Indonesia sampai ke Asutralia.
Hal tersebut diperkuat dengan penemuan fosil laki-laki di wilayah Lake Mungo.
Ada dua jalur migrasi yang diperkirakan ditempuh manusia pada masa itu, yakni
jalur menuju Lembah Sungai Nil yang melintasi Semenajung Sinai kemudian ke
utara melewati Arab Levant dan jalur yang melewati Laut Merah.

4) Teori Out Of Taiwan

Teori Out of Taiwan ini memiliki pandangan mirip dengan teori Out of Africa.
Teori Out of Taiwan menyatakan bahwa asal usul manusia Indonesia berasal
dari kepulauan Famosa atau Taiwan. Teori yang didukung oleh pakat Harry
Truman Simanjuntak didasari sejumlah argumentasi. Pertama, menurut teori
ini, tidak adanya pola genetika yang sama antara kromosom manusia Indonesia
dengan manusia yang berbeda di Tiongkok. Lalu, masih menurut teori ini,
bahasa yang digunakan dan berkembang di wilayah Nusantara adalah bahasa
yang merupakan rumpun Austronesia. Rumpun Austronesia ini digunakan oleh
leluhur bangsa Indonesia yang menetap di Pulau Formosa.

E. Proto-Melayu, Deutro Melayu, Melanesoid, Negrito, dan Weddid

Penduduk asli kepulauan Indonesia menurut Sarasin bersaudara adalah
ras berku gelap dan bertubuh kecil. Mulanya mereka tinggal di Asia bagian
tenggara. Namun, ketika zaman es mencair dan air laut naik hingga
terbentuk Laut Cina Selatan dan Laut Jawa sehingga memisahkan
pegunungan vulkanik kepulauan Indonesia dari daratan utama. Setelah itu,
beberapa penduduk asli kepulauan Indonesia tersisa dan menetap di
daerahdaerah pedalaman, sedangkan daerah pantai dihuni oleh penduduk
pendatang. Oleh Sarasin, penduduk asli tersebut disebut sebagai suku
bangsa Vedda. Ras yang masuk dalam kelompok tersebut, seperti suku
bangsa Hieng di Kamboja, suku bangsa Miaotse Yao-Jen di Cina, dan suku
bangsa Senoi di Semenanjung Malaya.
Ada beberapa suku bangsa yang tinggal di Sumatra, seperti suku bangsa
Kubu, Lubu, Talang Mamak, dan suku bangsa Toala yang tinggal di
Sulawesi. Suku bangsa tersebut merupakan penduduk tertua di kepulauan
Indonesia. Suku bangsa tersebut mempunyai hubungan erat dengan
nenek moyang Melanesia masa kini dan orang Vedda yang saat ini masih
terdapat di Afrika, Asia Selatan, dan Oseania. Vedda tersebut merupakan
manusia pertama yang datang ke pulau-pulau yang sudah berpenghuni.
Mereka membawa budaya perkakas batu. Ras Melanesia dan Vedda hidup
dalam budaya mesolitik. Para pendatang berikutnya membawa budaya
baru yaitu budaya neolitik. Jumlah mereka jauh lebih banyak daripada
penduduk asli. Para pendatang tersebut datang dalam dua tahap. Oleh
Sarasin para pendatang tersebut disebut sebagai Proto-Melayu dan
Deutro Melayu. Kedatangan Proto-Melayu dan Deutro Melayu terpisah
serta diperkirakan lebih dari 2.000 tahun yang lalu.

Proto-Melayu
Diperkirakan Proto-Melayu datang dari Cina bagian selatan. Proto-Melayu
tersebut diyakini sebagai nenek moyang orang Melayu-Polinesia yang
tersebar dari Madagaskar sampai ke pulau-pulau paling timur di Pasifik. Ras
Melayu tersebut mempunyai ciri-ciri rambut lurus, kulit kuning kecokelat-
cokelatan, dan bermata sipit. Dari Cina bagian selatan (Yunan), Proto-Melayu
bermigrasi ke Indocina dan ke Siam, kemudian ke kepulauan Indonesia.
Mulamula Proto-Melayu tersebut menempati pantai-pantai Sumatra Utara,
Kalimantan Barat, dan Sulawesi Barat. Di kepulauan Indonesia, Proto-Melayu
membawa peradaban batu. Pada waktu datang para imigran baru (Deutro
Melayu atau ras Melayu Muda), Proto-Melayu berpindah masuk ke pedalaman
dan mencari tempat baru ke hutan-hutan untuk tempat hunian.

Gambar 4 . Proto-Melayu



Kedatangan Proto-Melayu ke pedalaman mendesak keberadaan penduduk asli.
Kehidupan di hutan menjadikan Proto-Melayu terisolasi dari dunia luar dan
peradaban mereka memudar, Setelah itu, antara penduduk asli dan Proto-Melayu
melebur dan mereka kemudian menjadi suku bangsa Batak, suku bangsa Dayak,
suku bangsa Toraja, suku bangsa Alas, dan suku bangsa Gayo.
Adanya persebaran suku bangsa Dayak hingga ke Filipina Selatan, Serawak, dan
Malaka menunjukkan rute perpindahan mereka dari kepulauan Indonesia.
Sementara itu, suku bangsa Batak yang mengambil rute ke barat menyusuri
pantai-pantai Burma dan Malaka Barat. Ada beberapa kesamaan bahasa yang
digunakan oleh suku bangsa Karen di Burma yang banyak mengandung
kemiripan dengan bahasa Batak. Menurut Koentjaraningrat, kedatangan bangsa
Proto-Melayu ke Indonesia melalui dua jalur berikut.
a. Jalur pertama menyebar dari Yunan menuju kawasan Indocina, Siam, dan
kepulauan Indonesia. Setelah mencapai Indonesia, mereka menyebar ke Sulawesi
dan Papua dengan membawa kebudayaan neolitikum berupa kapak lonjong. Oleh
karena itulah, di bagian timur Indonesia ditemukan banyak alat kebudayaan
neolitikum berupa kapak lonjong. Keturunan Proto-Melayu yang menempuh jalur
ini antara lain suku Toraja.
b. Jalur kedua menyebar ke Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara
dengan membawa kebudayaan neolitikum berupa beliung persegi. Keturunan
Proto-Melayu yang menempuh jalur ini antara lain suku Nias, Batak, Dayak, dan
Sasak.

Deutro Melayu

Deutro Melayu merupakan ras yang datang dari Indocina bagian selatan. Di
kepulauan Indonesia, Deutro Melayu membawa budaya baru berupa perkakas
dan senjata besi (kebudayaan Dongson). Deutro Melayu sering disebut dengan
orang-orang Dongson. Bila dibandingkan dengan ras Proto-Melayu, peradaban
Deutro Melayu lebih tinggi. Deutro Melayu membuat perkakas dari perunggu.
Peradaban Deutro Melayu ditandai dengan keahlian mereka mengerjakan logam
dengan sempuma.

Gambar 5 . Deutro Melayu

Perpindahan Deutro Melayu ke kepulauan Indonesia dapat dilihat dari rute
persebaran alat-alat yang ditinggalkan di beberapa kepulauan di Indonesia. Alat
yang mereka tinggalkan berupa kapak persegi panjang. Peradaban tersebut
dapat dijumpai di Malaka, Sumatra, Kalimantan, Filipina, Sulawesi, Jawa, dan Nusa
Tenggara Timur. Dalam bidang pengolahan tanah, Deutro Melayu mempunyai
kemampuan membuat irigasi di tanah-tanah pertanian. Sebelum mereka membuat
irigasi, mereka terlebih dahulu membabat hutan. Selain itu, ras Deutro Melayu juga
mempunyai peradaban pelayaran yang lebih maju bila dibandingkan dengan
pendahulunya. Hal tersebut karena petualangan yang dilakukan Deutro Melayu
sebagai pelaut dan dibantu dengan penguasaan mereka terhadap ilmu
perbintangan. Perpindahan yang dilakukan Deutro Melayu ada juga yang
menggunakan jalur pelayaran laut. Sebagian dari ras Deutro Melayu ada yang
mencapai kepulauan Jepang, bahkan ada yang hingga ke Madagaskar.
Kedatangan ras Deutro Melayu semakin lama semakin banyak di kepulauan
Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, Proto-Melayu dan Deutro Melayu
membaur dan kemudian menjadi penduduk di kepulauan Indonesia. Semua
penduduk di kepulauan Indonesia, kecuali penduduk Papua dan yang tinggal di
sekitar pulau-pulau Papua adalah ras Deutro Melayu.

Melanesoid

Selain Proto-Melayu dan Deutro Melayu, di Indonesia juga ada ras lain yaitu ras
Melanesoid. Ras Melanesoid tersebar di Lautan Pasifik di pulau-pulau yang
letaknya sebelah timur Irian dan Benua Australia.

. Ras Melanesoid di kepulauan Indonesia tinggal di Papua Barat, Ambon, Maluku
Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Pada awalnya, kedatangan bangsa
Melanesoid di Papua berawal ketika zaman es berakhir (tahun 70000 SM).
Ketika itu kepulauan Indonesia belum berpenghuni. Ketika suhu turun hingga
mencapai kedinginan maksimal dan air laut menjadi beku, permukaan laut
menjadi lebih rendah 100 m dibandingkan dengan permukaan saat ini. Maka,
muncul pulau-pulau baru. Adanya pulau-pulau baru tersebut, memudahkan
makhluk hidup berpindah dari Asia menuju ke kawasan Oseania.

Gambar 6. Bangsa Melanesia

Bangsa Melanesoid melakukan perpindahan ke timur sampai ke Papua
kemudian ke Benua Australia yang sebelumnya merupakan satu kepulauan ya
terhubungkan dengan Papua. Pada waktu itu, bangsa Melanesoid mencapai 100
jiwa yang meliputi wilayah Papua dan Australia. Pada waktu masa es berakhir
dan air law mulai naik lagi pada tahun 5000 SM, Pulau Papua dan Benua
Australia terpisah seperti yang kita lihat saat ini. Adapun asal mula bangsa
Melanesoid adalah Proto-Melaneso'g Proto-Melanesoid tersebut adalah
manusia Wajak yang tersebar ke timur dan mendudu Papua, sebelum zaman
es berakhir dan sebelum kenaikan permukaan laut yang terja pada waktu itu.
Manusia Wajak di Papua hidup berkelompok-kelompok kecil di sepanjang mua
muara sungai. Manusia Wajak tersebut hidup dengan menangkap ikan di
sungai, mera tumbuh-tumbuhan dan akar-akaran, serta berburu di hutan
belukar. Tempat tingga ny berupa perkampungan-perkampungan yang
terbuat dari bahan-bahan yang ring Sebenarnya rumah tersebut hanya kemah
atau tadah angin yang sering menempel pad dinding gua yang besar. Kemah
atau tadah angin tersebut hanya digunakan sebagai temp untuk tidur dan
berlindung, sedangkan untuk aktivitas yang lain dilakukan di luar rumah.

Setelah itu, bangsa Proto-Melanesoid terdesak oleh bangsa Melayu. Bang Proto-
Melanesoid yang belum sempat mencapai Pulau Papua melakukan percampur
dengan bangsa Melayu. Percampuran kedua bangsa tersebut menghasilkan
keturun Melanesoid-Melayu yang saat ini merupakan penduduk Nusa Tenggara
Timur dan Maluku.

Negrito dan Weddid

Gambar 7. Negrito dan Weddid



Sebelum kelompok-kelompok Proto-Melayu dan Deutro Melayu datang ke
kepulauan Indonesia, di kepulauan Indonesia sudah ada Negrito dan Weddid.
Sebutan Negrito diberikan oleh orang-orang Spanyol. Disebut Negrito karena
orang-orang yang dijumpai tersebut berkulit hitam mirip dengan jenis-jenis
Negro.
Adapun kelompok Weddid terdiri dari orang-orang dengan kepala mesocephal
dan letak mata yang dalam sehingga terlihat seperti berang, serta berkulit
cokelat tua dengan tinggi rata-rata untuk laki-laki 155 cm. Weddid berarti jenis
Wedda yaitu bangsa-bangsa yang terdapat di Pulau Ceylon (Sri Lanka). Di
Nusantara persebaran orang-orang Weddid cukup luas, seperti di Palembang
dan di Jambi (Kubu), di Siak (Sakai), serta di Sulawesi pojok tenggara (Toala,
Tokea, dan Tomuna).
Sekitar 170 bahasa yang digunakan di Indonesia adalah bahasa Austronesia
(Melayu-Polinesia). Menurut Sarasin, bahasa tersebut dikelompokkan menjadi
dua, yaitu kelompok pertama adalah bahasa Aceh serta bahasa-bahasa di
pedalaman Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, sedangkan kelompok kedua
adalah bahasa Batak, Melayu standar, Jawa, dan Bali. Untuk kelompok bahasa
yang kedua mempunyai hubungan dengan bahasa Malagi di Madagaskar dan
Tagalog di Luzon. Adanya persebaran geografis kedua bahasa tersebut
menunjukkan bahwa penggunanya adalah para pelaut pada masa dahulu yang
sudah mempunyai peradaban yang lebih maju. Selain bahasa-bahasa tersebut,
juga ada bahasa Halmahera Utara dan Papua yang digunakan di pedalaman
Papua serta di bagian utara Pulau Halmahera.

F. Corak Kehidupan Masyarakat Masa Praakrasa
a. Pola Hunian Manusia Purba
Ada dua karakter khas hunian manusia purba, yaitu kedekatan dengan sumber

air dan adanya kehidupan di alam terbuka. Pola hunian manusia purba dapat dilihat
dari letak geografis situs-situs serta kondisi lingkungannya. Situs-situs purba yang ada
di sepanjang Bengawan Solo (Sangiran, Sambungmacan, Tnnil, Ngawi, dan
Ngandong) adalah contoh dari adanya kecenderungan manusia purba menghuni
lingkungan di pinggir sungai. Air diperlukan tumbuhan dan binatang. Keadaan air di
suatu lingkungan mengundang hadirnya binatang Untuk hidup di sekitamya.
Keberadaan air dimanfaatkan manusia sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan
hidup. Melalui sungai manusia dapat melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat
lainnya.

Petunjuk yang dapat memberikan gambaran mengenai kehidupan manusia
purba adalah adanya sebaran sisa-sisa peralatan yang digunakan manusia purba pada
waktu itu yang umumnya berada di dasar atau di sekitar sungai. Kehidupan di sekitar
sungai menunjukkan pola hidup manusia purba di alam terbuka. Manusia purba
mempunyai kecenderungan untuk menghuni lingkungan terbuka di sekitar aliran
sungai. Manusia purba tersebut juga memanfaatkan berbagai sumber daya lingkungan
yang tersedia, salah satunya tinggal di gua-gua.

Lama hunian manusia purba di suatu Ingkungan eksploitasi dipengaruhi oleh
ketersediaan bahan makanan. Pada waktu lingkungan sudah tidak ada bahan makanan,
manusia berpindah ke lingkungan baru di tepi sungai untuk membuat persinggahan
yang baru. Di tempat tinggal sementara tersebut mulai berkembang pola hunian.

b. Dari Berburu, Meramu, sampai Bercocok Tanam
Berdasarkan hasil penelitian berupa fosil dan artefak diperkirakan manusia

praaksara awalnya hidup dengan cara berburu dan meramu, kemudian bercocok tanam.
Hidup mereka bergantung pada alam. Untuk mempertahankan hidup, mereka
menerapkan pola hidup nomaden atau berpindah-pindah bergantung dari bahan
makanan yang ada.

1. Kehidupan Masyarakat Berburu dan Mengumpulkan Makanan (Meramu)
Dalam kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan

(meramu) dibagi menjadi sebagai berikut.
 Masyarakat Berburu dan Meramu Tingkat Awal Pada masa berburu dan
meramu, lingkungan hidup manusia masih liar dan keadaan bumi masih
labil. Pada saat itu banyak terjadi letusan gunung berapi dan daratan
tertutup hutan yang lebat, serta berbagai binatang purba masih hidup di
dalamnya. Manusia pendukung pada masa itu adalah Pithecanthropus
erectus dan Homo wajakensis. Kegiatan berburu dan mengumpulkan
makanan (meramu) telah ada semenjak manusia muncul di permukaan
bumi, begitu pula halnya dengan manusia Indonesia. Kegiatan berburu
dan meramu Ini merupakan yang paling sederhana yang bisa dilakukan
manusia karena manusia dapat mengambli makanan secara langsung
dari alam dengan cara mengumpulkan makanan (food gathering).
Kehidupan masyarakat berburu dan berpindah-pindah mempunyal ciri-
ciri sebagai berikut.
- Belum mengenal bercocok tanam.
- Kebutuhan makan mereka bergantung pada alam sehingga cara
mereka mencari makan disebut dengan nama food gathering
(mengumpulkan makanan) dan berburu.
- Alat-alat kebutuhan mereka dibuat dari batu yang belum dihaluskan
(masih sangat kasar).

- Manusia hidup berkelompok dan tempat tinggal mereka berpindah-
pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain (nomaden) seiring
dengan usaha memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Ada dua hal yang menyebabkan masyarakat berburu berpindah tempat,
yaitu pertama karena binatang buruan serta umbi-umbian semakin berkurang di
tempat yang mereka diami, dan yang kedua karena musim kemarau
menyebabkan binatang buruan berpindah tempat untuk mencari sumber air
yang lebih baik.
 Masyarakat Berburu dan Meramu Tingkat Lanjut

Masa berburu dan meramu tingkat lanjut berlangsung setelah zaman
pleistosen. Corak kehidupan masyarakat berburu dan meramu tingkat lanjut
masih terpengaruh pada masa sebelumnya. Kehidupan mereka masih
bergantung pada alam.

Mereka hidup dengan cara berburu binatang di dalam hutan, menangkap
Ikan, dan dengan mengumpulkan makanan, seperti umbi-umbian, buah-
buahan, biji-bijian, dan daundaunan. Alat-alat kehidupan yang digunakan pada
berburu dan meramu tingkat lanjut, misalnya kapak genggam, flake, dan alat-
alat dari tulang. Pada masa Itu, juga telah dikenal gerabah yang berfungsi
sebagai wadah. Pola bermukim mereka mulai berubah dari nomaden menjadi
semisedenter. Ketika masyarakat berburu dan meramu tingkat lanjut telah
mampu mengumpulkan makanan dalam jumlah yang cukup banyak, mereka
mulai lebih lama mendiami Suatu tempat. Setelah itu, pengetahuan mereka
berkembang untuk menyimpan dan mengawetkan makanan. Daging binatang
buruan diawetkan dengan cara dijemur setelah terlebih dahulu diberi ramuan.
Mereka bertempat tinggal di gua-gua (abris Sous roche). Mereka memilih gua
yang letaknya cukup tinggi di lereng-lereng bukit Untuk melindungi diri dari
Iklim dan dari binatang buas.

Masyakat berburu dan meramu tingkat lanjut juga telah mengenal
pembagian erja. Kegiatan berburu banyak dilakukan oleh kaum laki-laki. Kaum
wanita yang tidak banyak terlibat dalam kegiatan perburuan, lebih banyak
berada di sekitar gua-gua tempat tinggal mereka. Oleh karena perhatian wanita
ditujukan kepada lingkungan yang terbatas, ia mampu memperluas
pengetahuannya tentang seluk-beluk tumbuhtumbuhan yang dapat
dibudidayakan. Masyarakat berburu dan meramu tingkat lanjut telah mengenal
bercocok tanam, meskipun dalam taraf yang sangat sederhana dan dilakukan
secara berpindah-pindah. Mereka membuka lahan dengan cara menebang
hutan, membakar, dan membersihkannya. Setelah tidak subur lagi, tanah
tersebut mereka tinggalkan untuk mencari lahan yang baru.

Pada masyarakat masa berburu dan mengumpulkan makanan diduga
telah muncul kepercayaan. Buktinya adalah dengan ditemukannya bukti-bukti
tentang penguburan di Gua Lawa, Sampung, Ponorogo, Jawa Timur, Gua
Sodong, Besuki, Jawa Timur, dan Bukit Kerang, Aceh Tamiang, Nanggroe
Aceh Darussalam. Dari mayat-mayat yang dikubur tersebut ada yang ditaburi
dengan cat merah. Diperkirakan cat merah tersebut berhubungan dengan
upacara penguburan yang maksudnya adalah membuktikan kehidupan baru di
alam baka. Di dinding-dinding Gua Leang Pattae, Sulawesi Selatan ditemukan
lukisan capcap tangan dengan latar belakang cat merah. Menurut para ahli, hal
tersebut mungkin mengandung arti kekuatan atau simbol kekuatan pelindung
untuk mencegah roh-roh jahat. Ada beberapa gambar jari yang tidak lengkap.
Gambar tersebut dianggap sebagai tanda adat berkabung. Di Pulau Seram dan
Papua juga ditemukan lukisan gua. Di dua tempat tersebut ditemukan lukisan
kadal. Diperkirakan lukisan tersebut mengandung arti lambang kekuatan magis,
yaitu sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku yang sangat
dihormati.
2. Kehidupan Masyarakat Bercocok Tanam dan Hidup Menetap
a. Kehidupan Sosial Ekonomi

Masa bercocok tanam merupakan masa yang penting bagi perkembangan
masyarakat dan peradaban. Adanya penemuan baru dalam rangka penguasaan Sumber
alam bertambah cepat. Berbagai macam tumbuhan dan hewan mulai dipelihara dan
dijinakkan. Cara bercocok tanam dengan berhuma mulai dikembangkan sehingga
muncullah ladang-ladang pertanian yang sederhana. Berhuma adalah bercocok tanam
secara berpindah-pindah dengan cara menebang, membakar, serta membersihkan
hutan, kemudian menanaminya dan meninggalkannya setelah tanah tersebut tidak
subur lagi.

Kehidupan masyarakat pada masa bercocok tanam mengalami peningkatan
cukup pesat. Masyarakat praaksara pada saat itu telah memiliki tempat tinggal yang
tetap. Mereka memilih tempat tinggal pada suatu tempat tertentu. Hal ini dimaksudkan
agar hubungan antarmanusia di dalam kelompok masyarakatnya semakin erat. Eratnya
hubungan antarmanusia di dalam kelompok masyarakatnya merupakan suatu cermin
bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa anggota masyarakat yang lain.
Kehidupan sosial yang dilakukan oleh masyarakat pada masa bercocok tanam Ini
terlihat dengan jelas melalui cara bekerja dengan bergotong royong. Setiap pekerjaan
yang dilakukan oleh masyarakat selalu dilakukan dengan cara bergotong royong, antara
lain pekerjaan bertani, merambah hutan, berburu, dan membangun rumah. Cara hidup
bergotong royong itu merupakan salah satu ciri kehidupan masyarakat yang bersifat
agraris. Kegiatan gotong royong hingga saat ini masih tetap dipertahankan terutama di
daerah perdesaan.

Dalam kehidupan masyarakat bercocok tanam sudah terlihat peran pemimpin
(primus inter pares). Geras primus inter pares di Indonesia adalah ratu atau datu (k)
artinya orang terhormat dan yang patut dihormati karena kepemimpinannya,
kecakapan, kesediaannya, pengalamann dan lain-lain. Kehidupan masyarakat pada
masa bercocok tanam dan menetap memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

- Sudah mengenal bercocok tanam secara baik.
- Sudah mampu mengolah bahan makanan sendiri sesuai dengan kebutuhan

mereka (menghasilkan makanan/food producing). Di samping berburu dan

menangkap ikan, mereka juga telah memelihara binatang jinak seperti
kerbau. Binatang tersebut selain untuk keperluan konsumsi juga dapat
dipakai sebagai binatang korban.
- Sudah mempunyai tempat tinggal yang menetap secara mantap.
- Peralatan yang dibuat dari batu lebih halus dan bermacam-macam, seperti
kapak, tombak, dan panah. Selain peralatan, mereka juga berhasil membuat
perhiasan, seperti gelang-gelang dan biji-biji kalung dari batu.
- Peradaban mereka sudah lebih maju, alat-alat rumah tangga dibuat lebih
baik, dan mereka telah mengerti seni.
b. Kehidupan Budaya
Kebudayaan manusia praaksara pada masa bercocok tanam mengalami
perkembangan dengan hasil kebudayaan yang bervariasi (ada yang terbuat dari batu
dan tulang hingga yang terbuat dari tanah liat). Hasil-hasil kebudayaan pada masa
bercocok tanam, seperti kapak persegi, kapak lonjong, mata panah, gerabah, dan
perhiasan.
c. Sistem Kepercayaan
Tahukah Anda, bagaimana kepercayaan nenek moyang kta? Bagaimana mereka
melakukan atau menjalankan kepercayaannya? Nenek moyang kita percaya bahwa ada
kekuatan lan yang mahakuat yang ada di luar dinnya. Mereka mengenal kepercayaan
kehidupan setelah kematian. Perwujudan kepercayaan nenek moyang dituangkan
dalam berbagai bentuk, seperti dengan karya seni. Saah satunya berfungsi sebagai
bekali kubur untuk orang yang telah meninggal. Seinng dengan adanya bekal kubur
tersebut, manusia purba telah mengenal penguburan mayat. Pada saat itulah, mereka
mengenali sistem kepercayaan. Sebelum meninggal, manusia menyiapkan dinnya
dengan membuat berbagai bekai kubur dan membuat tempat penguburan yang
menghasilkan karya seni yang cukup bagus. Masyarakat pada zaman praaksara
(terutama pada penode zaman neolitikum) telah mengenal adanya sistem kepercayaan.
Mereka sudah memahami/mengetahui adanya kehidupan setelah meninggal. Mereka
meyakini bahwa roh seseorang yang teah meninggal akan ada kehidupan di alam yang

lain. Oleh karena itu, mereka meyakini bahwa roh orang yang sudah meninggal akan
senantiasa dihormati oleh sanak kerabatnya. Sehubungan dengan hal tersebut, kegiatan
ritual yang paling menonjol adalah upacara penguburan.

Dalam tradisi penguburan, jenazah orang yang telah meninggal dibekali dengan
berbagai benda dan peralatan kebutuhan sehan-han, seperti barang-barang perhiasan,
penuk, dan benda lainnya yang dikubur bersama mayatnya. Adanya bekal tersebut
dimaksudkan agar perjalanan arwah orang yang meninggal selamat dan dapat terjamin
dengan baik. Dalam upacara penguburan semakin kaya orang yang meninggal, upacara
penguburannya juga semakin mewah. Begitu juga dengan barang-barang berharga
yang ikut dikubur.

Selain adanya upacara penguburan, juga ada upacara-upacara pesta untuk
mendinkan bangunan suci. Mereka memercayai bahwa manusia yang sudah meninggal
akan mendapatkan kebahagiaan jika jenazahnya ditempatkan pada susunan batu-batu
besar, seperti pada sarkofagus atau peti batu. Batu-batu besar tersebut menjadi lambang
perlindungan bagi manusia yang berbudi luhur dan juga memben penngatan bahwa
kebaikan kehidupan di akhirat hanya akan Gapat dicapai sesua: dengan perbuatan baik
selama hidup di dunia. Hal tersebut sangat bergantung pada kegiatan upacara kematian
yang pernah dilakukan untuk menghormati leluhurnya. Oleh karena itu, upacara
kematian merupakan manifestasi dari rasa bakti dan hormat Seseorang terhadap
leluhurnya yang telah meninggal. Adanya sistem kepercayaan masyarakat praaksara
tersebut telah melahirkan tradisi megalitik (zaman megalitikum « zaman batu besar).
Masyarakat pada zaman megalitikum mendinkan bangunan batu-batu besar. Bangunan
batubatu besar tersebut, seperti menhir, sarkofagus, dolmen, dan punden berundak.


Click to View FlipBook Version