PERANGKAT PEMBELAJARAN UKIN
(RPP, Materi Ajar, Media Pembelajaran, LKPD,
dan Instrumen Penilaian)
MEMBUAT POLA RITMIS
K.D 3.2 Memahami teknik pengembangan ornamentasi ritmis dan melodis dalam bentuk
kelompok vokal
K.D 4.2 Mengembangkan ornamentasi ritmis dan melodis dalam bentuk kelompok vokal
SETYO BUDI HUTOMO, S.Pd
No. UKG. 201503082858
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG)
DALAM JABATAN KATEGORI 1
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2022
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMP N 10 Pontianak
Mata Pelajaran : Seni Budaya (Seni Musik)
Kelas / Semester : IX / Ganjil
Materi Pokok : Membuat Pola Ritmis Sederhana
Alokasi Waktu : 2 JP (2 x 40 Menit)
A. Kompetensi Inti
1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli
(toleransi, gotong- royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaanya
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena
dan kejadian tampak mata
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai,
merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca,
menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di
sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
B. Kompetensi Dasar
3.2 Memahami teknik pengembangkan ornamentasi ritmis dan melodis dalam
bentuk kelompok vocal.
4.2 Mengembangkan ornamentasi ritmis maupun melodis lagu dalam bentuk
kelompok vocal
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
3.2.1 Peserta didik dapat memahami nama, bentuk dan nilai notasi (C2)
4.2.1 Peserta didik dapat membedakan bentuk dan nilai notasi (P1)
4.2.2 Peserta didik dapat menyusun pola ritmis sederhana (P3)
4.2.3 Peserta didik dapat membuat pola ritmis sederhana (P5)
4.2.4 Peserta didik dapat memainkan pola ritmis sederhana yang telah dibuat (P5).
D. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran peserta didik dapat :
1. Memahami nama, bentuk dan nilai notasi (C2) dengan benar dan tepat melalui
pengamatan dan identifikasi.
2. Membedakan bentuk dan nilai notasi (P1) dengan benar dan tepat .
3. Menyusun pola ritmis sederhana (P3) dengan tepat sesuai kriteria.
4. Membuat pola ritmis sederhana (P5) dengan baik dan tepat sesuai kriteria
5. Memainkan pola ritmis sederhana yang telah dibuat (P5) dengan baik dan tepat.
E. Materi Pembelajaran
Materi Reguler
1. Pengertian Ritmis
2. Bentuk, nilai dan nama notasi
3. Tanda Birama
Materi Remidi
1. Pengertian Ritmis
2. Bentuk, nilai dan nama notasi
3. Tanda Birama
Materi Pengayaan
Pembelajaran Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang telah tuntas mencapai KKM
atau mencapai kompetensi dasar. Guru dalam kaitannya dengan pengayaan, yaitu
memberikan tugas kepada peserta didik untuk membaca materi yang diberikan dan mencari
artikel di internet berkaitan dengan melodi.
F. Metode Pembelajaran
1. Metode Ceramah
2. Metode demonstrasi
3. Metode drill
4. Metode Silabel Ritmis (Takadimi)
G. Pendekatan dan Model Pembelajaran
Menggunakan Pendekatan Sientifik dan TPACK dengan Model Project Based Learning (
PjBL)
H. Media Pembelajaran
1. Media : Video, Power Point, dan Aplikasi instrument musik virtual
2. Alat : Laptop, LCD dan Gadget/Android
I. Sumber Belajar
1. Buku sumber :
• Buku Guru. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2015). Seni
Budaya Kelas 9.Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
• Buku Siswa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2015). Seni
Budaya Kelas 9.Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
• Video mengenai permainan pola ritmis
https://www.youtube.com/watch?v=jA_3g8zgMf0&list=RDjA_3g8zg
Mf0&start_radio=1
• Video mengenai bermain instrumen virtual real drum
https://www.youtube.com/watch?v=ksawSWNwb2c
• Power Point tentang materi pembelajaran
J. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
No Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi (PPK)
Waktu
Pendahuluan a. Persiapan psikis dan fisik membuka (menit) Religius
pelajaran dengan mengucapkan salam dan Nasionalis
berdoa bersama, menanyakan kabar dan 10
mengecek kehadiran. Menit
b. Menyanyikan satu Lagu Nasional
c. Menyampaikan kompetensi dasar yang
akan dipelajari dan pentingnya
kompetensi tersebut dipelajari
d. Menginformasikan tujuan yang akan
dicapai selama pembelajaran.
e. Menyampaikan secara singkat garis besar
materi yang akan disajikan selama
pembelajaran
f. Memberi motivasi peserta didik untuk
aktif dalam proses pembelajaran
Inti 1. Penentuan Pertanyaan Mendasar
(Sintaks
PjBl) - Peserta didik diberikan gambaran
tentang salah satu unsur musik yaitu
ritmis melalui kegiatan apresiasi dengan
memutarkan video mengenai pola
ritmis, kemudian siswa diminta
menuliskan tanggapan menegenai video
tersebut. Contohnya, “kira kira apa yang
bisa kalian simpulkan dari video
tersebut ? apakah kita bisa membuat
pola ritmis seperti itu?”
- Guru Menjelaskan Bentuk, Nama dan
Nilai Notasi Ritmis menggunakan
beberapa metode yang ada, dalam hal
ini guru akan menggunakan metode Kreatif
pembelajaran ritme Takadimi (aktivitas Mandiri
peserta didik Mengamati penjelasan, 60 Bernalar
dan menanyakan hal-hal yang Menit Kritis
berkaitan dengan notasi,
mengidentifikasi nilai notasi,
mengidentifikasi birama).
2. Mendesain Perencanaan Project
- Guru menjelaskan langkah langkah atau
prosedur dari project yang akan
direncanakan peserta didik termasuk
menjelaskan bagaimana kriteria
penilaian dari produk yang akan dibuat.
- Peserta didik diberikan kesempatan
bersama peserta didik lain
mengkomunikasikan mengenai desain
perencanaan project yang akan
dilakukan (dalam pembelajaran hari ini
membuat pola ritmis) untuk kemudian
ditampilkan terlebih dahulu secara
kelompok sebelum diterapkan kedalam
virtual instrument musik (project
minggu depan).
- Menyiapkan pola ritmis sederhana.
- Menampilkan pola ritmis yang telah
dibuat secara berurutan setiap
kelompok.
3. Menyusun jadwal
- Peserta didik menyusun jadwal
penyelesaian project pembuatan pola
ritme yang dimainkan pada virtual
musik instrument
- Peserta didik diarahkan untuk membuat
sebuah inovasi pola ritme mengenai
project yang telah direncanakan
- Peserta didik bersama dengan guru
menentukan batas waktu penyelesaian
project
Penutup
- Guru memberikan petunjuk untuk 10 Religius
pelajaran berikutnya Menit
- Guru membimbing atau mengarahkan
siswa merumuskan sendiri kesimpulan.
- Guru meminta peserta didik
menyampaikan komentar terhadap
proses pembelajaran
- Peserta didik mencatat point penting
berkaitan dengan kegiatan yang akan
dilaksanakan pada pertemuan
berikutnya
- Guru bersama peserta didik berdoa
untuk menutup pembelajaran
K. Penilaian Pembelajaran
1. Teknik Penilaian
a. Penilaian Sikap : Observasi
b. Penilaian Pengetahuan : Tes Tertulis
c. Penilaian Ketrampilan : Tes Praktik
2. Instrumen Penilaian dan Pedoman Penskoran
a. Pertemuan Ketiga (terlampir)
b. Pertemuan Keempat (terlampir)
3. Pembelajaran Pengayaan dan Remidial
a. Pembelajaran Pengayaan
Berdasarkan analisis penilaian bagi peserta didik yang sudah mencapai
KKM, diberikan kegiatan pembelajaran dalam bentuk pengayaan yaitu
materi melodi untuk selanjutnya digunakan menggubah melodi lagu adapun
tugas yang diberikan adalah mencari artikel dan membaca materi yang
diberikan oleh guru.
b. Pembelajaran Remidial
Instrumen penilaian pembelajaran remedial pada dasarnya sama dengan
instrument penilaian pembelajaran regular. Berdasarkan hasil analisis
penilaian bagi peserta didik yang belum mencapai KKM diberikan kegiatan
pembelajaran dalam bentuk remedial,misalnya:
• Pembelajaran ulang
• Bimbingan secara individu
• Pemanfaatan tutor sebaya
Materi yang diberikan pada pembelajaran remidial adalah sama dengan materi
pembelajaran reguler yaitu pengertian ritme, nilai notasi, dan perbedaan tanda
birama. Dibedakan menjadi dua kegiatan remidial yaitu :
Remedial Pengetahuan
Mengulang kembali tugas tertulis yang diberikan pada pembelajaran regular.
Remedial Keterampilan
Mengulang kembali tugas praktik yang diberikan pada pembelajaran regular jika
tugas praktik yang diberikan tidak sesuai dengan kriteria dan dibawah KKM.
Mengetahui Pontianak, 10 Agustus 2022
Kepala Sekolah SMP N 10 Pontianak Guru Mata Pelajaran
Hj. Rozani Nofelinda, S. Pd., M. Pd. Setyo Budi Hutomo, S. Pd
NIP. 196811211995122006 NIP. 198905202020121009
Lampiran 1 : Materi Ajar
BAHAN BELAJAR
ORNAMENTASI MELODIS DAN RITMIS LAGU DALAM BENTUK VOKAL
KELAS IX SMP NEGERI 10 PONTIANAK
Bacalah dengan Teliti, Cermati, Pahami dan Catatlah Point – Point
dalam penjelasan berikut ini!
Notasi balok adalah cara penulisan lagu atau musik yang menggunakan lambang
atau gambar-gambar not yang dituliskan pada balok not. Pendapat lain mengemukakan
bahwa notasi balok adalah simbol atau tanda yang diletakkan pada spasi atau garis
dalam sebuah paranada yang menghasilkan rangkaian nada musik.
Penulisan, penamaan dan nilai dari notasi balok mengikuti kaidah tertentu. Sebuah
not penuh yang berbentuk lonjong, dapat diubah menjadi beberapa macam not. Not
penuh ini dalam birama perempatan bernilai 4 (empat) ketuk.
Penambahan sebuah tangkai pada not penuh maka akan menjadi not setengah. Not
setengah dalam birama perempatan bernilai 2 (dua) ketuk.
Penulisan tangkai pada not pun mengikuti aturan tertentu. Not yang terletak pada
baris ke-1 dan KE-2, atau pada spasi ke-1 dan ke-2, maka tangkai not dibuat arah
ke atas. Not yang terletak pada baris ke-4 dan ke-5 atau pada spasi ke-3 dan ke-4, maka
tangkai not dibuat arah ke bawah. Sedangkan not yang terletak pada baris ke-3,
tangkai not dapat dibuat arah ke atas atau arah ke bawah.
Penambahan isian not penuh dan sebuah tangkai, akan mengubah not penuh
menjadi not seperempat. Not seper-empat dalam birama perempatan bernilai 1 (satu)
ketuk.
Penulisan tangkai pada not seperempat juga mengikuti aturan tertentu. Not yang
terletak pada baris ke-1 dan ke-2, atau pada spasi ke-1 dan ke-2, maka tangkai not
dibuat arah ke atas. Not yang terletak pada baris ke-4 dan ke-5 atau pada spasi ke-3
dan ke-4, maka tangkai not dibuat arah ke bawah. Sedangkan not yang terletak pada
baris ke-3, tangkai not dapat dibuat arah ke atas atau arah ke bawah.
Penambahan sebuah bendera pada not seperempat, akan mengubah not tersebut
menjadi not seperdelapan. Not seper-delapan dalam birama perempatan
bernilai 1/2 (setengah) ketuk.
Penulisan tangkai dan bendera pada not seperdelapan juga mengikuti aturan
tertentu. Not yang terletak pada baris ke-1 dan KE-2, atau pada spasi KE-1 dan KE-2,
maka tangkai not dibuat arah ke atas dan bendera menghadap ke kanan. Not yang
terletak pada baris ke-4 dan ke-5 atau pada spasi ke-3 dan ke- 4, maka tangkai not
dibuat arah ke bawah dan bendera menghadap ke kanan. Sedangkan not yang terletak
pada baris ke-3, tangkai not dapat dibuat arah ke atas atau arah ke bawah dan bendera
menghadap ke kanan.
Demikian seterusnya sampai terbentuk not sepertiga puluh dua dengan
penambahan jumlah bendera menjadi 3 (tiga) bendera. Not ini dalam birama
perempatan bernilai 1/8 (seperdelapan) ketuk.
Menurut Harnum (2001: 114), dua atau lebih not yang memakai bendera (not
seperdelapan dan seterusnya) dapat dihubungkan penulisannya dalam balok not
dengan penghubung bendera not (flag connected) yang disebut beam. Perhatikan
beberapa contoh berikut.
Notasi balok memiliki bentuk, nilai dan nama sendiri-sendiri, seperti pada
tabel 2 lambang dan nama not tetap, sedangkan nilainya tergantung pada tanda
birama (time signature) yang digunakan.
Tabel 2
Bentuk (simbol), nama dan nilai not balok dalam
birama perempatan.
Bentuk Nama Not Nilai
Not
Not penuh (whole notes) 4 ketuk
Not setengah (half notes) 2 ketuk
Not seperempat (quarter notes) 1 ketuk
Not seperdelapan (eighth notes) ½ ketuk
Not seperenam belas (sixteenth ¼ ketuk
notes)
Not sepertiga puluh dua (thirty- 1/8
second notes) ketuk
Not balok ialah tanda yang dapat menyatakan tinggi rendahnya nada secara
mutlak karena frekuensinya sudah tertentu (tetap). Pada notasi balok juga dikenal
bentuk not bertitik. Fungsi titik pada not balok menyatakan nilai not yang ditambah
setengah dari nilai awalnya (Pilhofer dan Day, 2007: 25-26). Perhatikan contoh-contoh
berikut.
Nilai ketukan pada masing-masing contoh not bertitik di atas berlaku untuk not-not
tersebut dalam birama perempatan. Perhatikan penggalan melodi lagu berikut.
Not 5 atau sol (g) pada contoh di atas bernilai 1 ½ ketuk. Not ¼ bernilai 1 ketuk
ditambah ½ dari nilai not ¼ untuk nilai titik, sehingga not ¼ bertitik tersebut
bernilai 1 ½.
Tanda diam adalah tanda yang menyatakan berhenti sesaat sesuai dengan
nilainya (Pilhofer dan Day, 2007: 31). Tanda diam memiliki bentuk, nama dan nilai
tertentu seperti pada tabel 3.
Tabel 3
Bentuk (simbol), nama dan nilai tanda diam dalam birama perempatan.
Bentuk Nama Tanda Diam Nilai Tanda
Diam
Tanda diam penuh (whole 4 ketuk
rests)
Tanda diam setengah (half 2 ketuk
rests)
Tanda diam seperempat 1 ketuk
(quarter rests)
Tanda diam seperdelapan ½ ketuk
(eighth rests)
Tanda diam seperenam ¼ ketuk
belas (sixteenth rests)
Selain bentuk tersebut, juga dikenal bentuk tanda diam bertitik. Tanda titik
menyatakan nilai tanda diam yang ditambah setengah dari nilai awalnya. Perhatikan
contoh berikut.
Nilai ketukan pada masing-masing contoh tanda diam bertitik di atas berlaku
untuk tanda diam dalam birama perempatan. Perhatikan penggalan melodi lagu
berikut.
Tanda diam pada contoh di atas bernilai 1 ½ ketuk. Tanda diam ¼ bernilai
1 ketuk ditambah ½ dari nilai tanda diam ¼ untuk nilai titik, sehingga tanda
diam ¼ bertitik tersebut bernilai 1 ½. Penggunaan tanda diam pada not balok dapat
diperhatikan pada lagu Bunda Piara ciptaan A.T. Mahmud seperti berikut.
1. Paranada (Staff)
Harnum (2001:24) mengemukakan paranada (staff) adalah lima buah garis sejajar
horizontal sebagai tempat menuliskan bentuk not dan unsur musik lain. Nada-nada
ditempatkan pada garis paranada atau diantaranya (di dalam spasi). Pilhofer dan Day
(2007:41) menyebut daerah diantara dua garis paranada sebagai spasi (spaces).
Selain nada-nada, garis paranada juga digunakan untuk menempatkan tanda-tanda
musik lainnya. Paranada dapat digambarkan sebagai berikut.
Not balok merupakan tulisan musik yang diletakkan pada paranada atau garis
balok not. Not balok ditempatkan pada garis dan spasi. Untuk not yang memakai
tangkai, tinggi setiap tangkai adalah 2 ½ kali spasi dan tegak lurus.
Not dan tanda diam dapat terletak di dalam paranada (diantara garis pertama
sampai garis kelima atau spasi pertama sampai spasi keempat, dapat pula berada
diluar paranada. Untuk not-not yang terletak diluar paranada, maka digunakan garis
bantu atau spasi bantu (ledger lines or space) di bawah garis pertama atau di atas
garis kelima. Garis bantu adalah garis pendek di atas atau di bawah garis paranada.
Garis ini berfungsi untuk membantu garis paranada yang hanya lima garis dan
empat spasi utama ketika ada nada-nada lebih tinggi atau rendah. Dengan adanya
garis bantu itu, setiap nada yang lebih tinggi atau rendah dapat dituliskan pada garis
dan spasi bantu. Jarak antara satu garis bantu dengan lainnya di atas atau di bawah,
sama lebarnya dengan garis paranada.
Contoh :
atau,
2. Tanda Kunci (Clef)
Tanda kunci (clef) adalah tanda yang menentukan letak sebuah not
(Pilhofer dan Day, 2007: 79). Apabila letak sebuah not telah ditentukan, maka
not yang lain yang terdapat pada balok not dapat diketahui. Tanda kunci
diletakkan di awal paranada. Tanda kunci yang sering dipakai dalam teori
musik ada tiga macam, yaitu : kunci G, kunci C dan kunci F.
Pemakaian tanda kunci berbeda-beda. Kunci G, disebut juga kunci biola
atau kunci diskant (nada-nada yang tinggi). Dipakai untuk nada-nada tinggi
dalam vokal dan instrumen (Pilhofer dan Day, 2007:80). Kunci G menentukan
dimana letak nada g’ pada paranada. Pada kunci G, nada g’ terletak di garis
kedua.
Nada-nada lain dapat diketahui dengan cara menyusunnya sesuai dengan
susunan nada, dimana nada c’, d’, e’ dan f terletak dibawah garis kedua,
sedangkan nada-nada a’, dan b’ terletak di atas garis kedua untuk satu oktaf,
sehingga susunan nada-nada dalam tangga nada yang menggunakan kunci G,
seperti berikut :
Kunci C, dalam praktek jarang dipakai. Pemakaian biasanya hanya pada
instrumen tertentu yang bersuara sedang, seperti : trombon alto dan biola alto.
Kunci C menentukan dimana letak nada c.
Kunci F, disebut juga kunci bas. Kunci F dipakai untuk nada-nada
rendah baik dalam vokal maupun instrumen (Pilhofer dan Day, 2007:81).
Kunci F menentukan dimana letak nada f pada paranada. Pada kunci F, nada f’
terletak di garis keempat.
Nada-nada lain dapat diketahui dengan cara menyusunnya sesuai dengan
susunan nada, dimana nada c’, d’ dan e’ terletak dibawah garis keempat,
sedangkan nada-nada g’, a’ dan b’ terletak di atas garis keempat untuk satu
oktaf, sehingga susunan nada-nada dalam tangga nada yang menggunakan
kunci F, seperti berikut :
c' d' e' f' g' a' b' c''
3. Garis Birama, Ruas Birama dan Garis Penutup
Garis birama (barline) adalah garis yang membatasi ruas birama atau satu
birama dengan birama lainnya (Harnum, 2001:28). Perhatikan contoh berikut.
Contoh di atas menunjukkan paranada dengan birama 2/4 dan terdapat 3 (tiga)
garis birama.
Ruas birama (measure) adalah ruang atau daerah yang terletak di antara
dua garis birama, yang digunakan untuk tempat menuliskan kelompok irama
dan melodi (Harnum, 2001:28). Perhatikan contoh berikut.
Contoh di atas menunjukkan sebuah paranada yang terbagi menjadi 4 (empat)
ruas birama. Ruas birama ini digunakan sebagai tempat meletakkan notasi
musik.
Garis penutup (endline) adalah akhir dari lagu yang dinyatakan dengan 2
garis birama yang hampir berhimpit dengan garis yang berada di belakang
lebih tebal (garis birama ganda). Garis penutup juga sering disebut dengan
doubel bar lines (Harnum, 2001:28). Perhatikan contoh berikut.
Garis penutup juga digunakan untuk menunjukkan bahwa lagu atau
aransemen lagu yang dibuat telah selesai. Tidak ada lagi notasi musik setelah
garis penutup.
4. Tanda Birama (Time Signature)
Tanda birama adalah lambang yang menyatakan satuan hitungan pada
notasi dan jumlah hitungan dalam setiap ruas birama. Tanda ini dituliskan
diawal lagu. Tanda birama terdiri dari dua bilangan yang terletak di atas dan di
bawah garis ke 3 pada paranada. Tanda angka yang terletak di bagian atas
menunjukkan berapa banyak ketukan (beat) dalam satu birama, sedangkan
tanda angka yang terletak di bagian bawah menunjukkan jenis not yang
dipakai dalam satu ketukan.
Kehadiran tanda birama dalam satu lagu menandakan bahwa dalam setiap
ruas birama ada ketetapan jumlah pulsa yang mana setiap ketukan atau
hitungan pertama pada setiap ruas mendapat tekanan lebih, dan kemudian diikuti
oleh beberapa ketukan lain yang sifatnya lebih ringan dari ketukan pertama.
Beberapa tanda birama : 2/4, 3/4, 4/4 dan 6/8.
Contoh:
Tanda birama
= 1 ketuk
Artinya setiap birama terdiri dari dua ketuk dan jenis not yang digunakan atau
dipakai dalam satu ketukan adalah not seper-empat.
Tanda birama
= 1 ketuk
Artinya setiap birama terdiri dari tiga ketuk dan jenis not yang digunakan atau
dipakai dalam satu ketukan adalah not seper-empat.
Tanda birama
= 1 ketuk
Artinya setiap birama terdiri dari empat ketuk dan jenis not yang digunakan
atau dipakai dalam satu ketukan adalah not seperempat.
Tanda birama
= 1 ketuk
Artinya setiap birama terdiri dari enam ketuk dan jenis not yang digunakan
atau dipakai dalam satu ketukan adalah not seperdelapan.
5. Tanda Ligatura (Tie) dan Tanda Legato (Slur)
Tanda ligatura dan tanda legato mempunyai peranan masing-masing,
walaupun bentuknya sama. Tanda ligatura adalah tanda yang menghubungkan
dua not atau lebih yang nadanya sama sama (Harnum, 2001:83). Tanda ligatura
hanya dapat menghubungkan sebuah not dengan tetangganya sebelah kanan atau
kiri yang terdekat. Tanda ligatura adalah suatu tanda yang berbentuk garis
lengkung yang ditempatkan di bawah atau di atas dua not atau lebih yang
tinggi nadanya.
Contoh :
Pada contoh di atas, not 7 (si) pada birama ketiga dan not 7 (si) pada
birama keempat dihubungan dengan sebuah tanda ligatura. Tanda legato adalah
tanda yang menghubungkan dua not atau lebih yang nadanya berbeda (Harnum,
2001:84). Tanda legato menunjukkan bahwa sekelompok not diungkapkan sebagai
suatu kesatuan. Dalam notasi vokal, semua not yang ditulis di dalam satu tanda
legato dinyanyikan dengan teks satu suku kata saja.
6. Tanda Triol (Triplets)
Harnum (2001:128) mengemukakan tanda triol adalah tanda yang digunakan
untuk tiga buah nada yang dibunyikan secara berurutan dalam ketukan tertentu.
Bentuk-bentuk triol lain dan nilainya ditunjukan sebagai berikut :
3
Nilainya sama dengan not penuh 4 ketuk
3
3
Nilainya sama dengan not setengah 2 ketuk
Nilainya sama dengan not seperempat 1 ketuk
3
Nilainya sama dengan not seperdelapan ½ ketuk
Bentuk Nilai-nilai, dan Nama Notasi
NOT HARGA TANDA ISTIRAHAT
Penuh
Setengah
Seperempat
Seperdelapan
Seperenambelas
Pengetahuan tentang birama
Gambar diatas merupakan salah satu contoh tanda birama didalam musik. Angka 4 diatas
menunjukkan jumlah ketukan didalam satu birama. Angka 4 dibawah menunjukkan harga
nada disetiap satu ketukannya. Lagu modern umumnya memakai tanda birama 4/4.
Namun ada juga yang memakai tanda birama lain seperti 3/4, 2/4, 6/8, 12/8, dan lain-lain.
Menentukan tanda birama yang akan dipakai ketika ingin menulis lagu tergantung pada
keinginan penulis dan jenis lagu yang akan ditulis..
Membuat Ritmik Lagu
Setelah selesai menentukan birama yang akan digunakan, mulailah dengan merangkai
ritmik yang akan menjadi pondasi penempatan notasinya. Membuat ritmik lagu bisa
dilakukan dengan bertepuk tangan sesuai dengan irama yang diinginkan kemudian tuliskan
dalam garis paranada sesuai dengan nilai not.
Lampiran 2 : INSTRUMEN PENILAIAN
Penilaian Pengetahuan (Pertemuan ke-4)
Soal Ulangan Harian 1
A. Pilihan Ganda
1. Perhatikan tabel dibawah ini!
1 234
• Penggunaan • Musik yang • Musik yang • Memiliki banyak
identik dengan penggemar
ritmik yang kental dengan suara keras terutama
distorsi gitar masyarakat
sederhana improvisasi daerah-daerah
• Tema lagu • Progresi akor • Penggunaan alat
musik seperti
biasanya lebih rumit dari seruling dan
kendang
mengenai genre yang lain
kehidupan sehai-
hari
Berdasarkan tabel diatas tabel yang menunjukkan ciri-ciri genre musik jazz
adalah….
a. 2 c. 4
b. 1 d. 3
2. Berdasarkan tabel nomor 1, tabel yang menunjukkan ciri-ciri genre musik rock
adalah….
a. 2 c. 4
b. 1 d. 3
3. Contoh seorang tokoh penyanyi pop Indonesia yang terkenal sampai mancanegara
adalah….
a. Celine Dion c. Agnes Mo
b. Sundari Sukoco d. Ahmad Dhani
4. Perhatikan gambar notasi balok dibawah ini!
Notasi diatas jika didalam birama/sukat 4/4 bernilai….
a. 4 ketukan c. 2 ketukan
b. 3 ketukan d. 1 ketukan
5. Perhatikan gambar notasi balok dibawah ini!
Notasi diatas jika didalam birama/sukat 4/4 bernilai….
a. 4 ketukan c. 2 ketukan
b. 3 ketukan d. 1 ketukan
6. Perhatikan gambar dibawah ini!
Nilai ketukan dari notasi balok diatas yang tepat adalah….
a. 3+1 c. 2+2
b. 1+1+1+1 d. 2+1+1
7. Jika tanda birama 4/4, dalam birama pertama dituliskan 2 not 1/4, 2 not 1/8, dan 1
not 1/4. Maka penulisan yang benar berturut-turut adalah….
a.
b.
c.
d.
8. Notasi balok dibawah ini disebut dengan nama ….
a. Not Setengah
b. Not Seperempat
c. Not Seperdelapan
d. Not Seperenambelas
9. Dalam notasi balok, tanda atau lambang not penuh atau whole not adalah ….
a.
B.b
c
C.c
D.d
10. 1) Kepala Not
2) Badan Not
3) Tangkai Not
4) Bendera not
Berdasarkan urutan daftar diatas, yang tidak termasuk bagian not adalah nomor …
A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
B. Uraian
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Ritme!
2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis tanda birama didalam musik! (3)
3. Tuliskan bentuk-bentuk notasi balok beserta nilai nadanya!
4. Sebutkan 5 alat musik ritmis yang kalian ketahui?
5. Apakah yang dimaksud dengan ornamentasi didalam musik?
Kunci Jawaban No Jawaban
6D
A. Pilihan Ganda 7C
No Jawaban 8B
1A 9A
2D 10 B
3C
4B
5A
B. Uraian
1. Ritme dalam musik dapat diartikan sebagai panjang pendeknya suatu
ketukan (bunyi) dan/ atau diam yang tersusun dalam satu atau beberapa ruas
birama bertanda birama tertentu dengan pola dan kecepatan tertentu.
Istilah Ritme lebih menekankan pada unsur musik yang tidak berkaitan
langsung dengan pitch (tinggi rendah suara), tetapi lebih mengarah pada
panjang pendeknya durasi
2. 4/4 = terdapat 4 ketukan didalam satu birama. Setiap ketukan bernilai ¼
3/4 = terdapat 3 ketukan didalam satu birama. Setiap ketukan bernilai ¼
2/4 = terdapat 2 ketukan didalam satu birama. Setiap ketukan bernilai ¼
3.
.
4. Marakas, Triangel, Drum, Simbal, Tamborin, Guiro, Kastanyet, Gendering
5. Ornamen dari bahasa Inggris ornament yang artinya “hiasan” atau “variasi”. Disebut
hiasan karena dengan ornamentasi, sebuah lagu akan terdengar lebih indah.
Tabulasi Nilai
A. Pilihan Ganda
Teknik penskoran pilihan ganda
ℎ x 70% = skor pilhan ganda
15
Jumlah Skor Jumlah Skor
Benar Benar
70
10 63 5 35
9 56
8 49 4 28
7 42
6 3 21
2 14
17
B. Uraian
Teknik penskoran uraian :
ℎ x 30% = skor uraian
20
Jumlah Skor Jumlah Skor
Nilai Nilai
20 30 10 15
19 28.5 9 13.5
18 27 8 12
17 25.5 7 10.5
16 24 6 9
15 22.5 5 7.5
14 21 4 6
13 19.5 3 4.5
12 18 2 3
11 16.5 1 1.5
Nilai Akhir = skor pilihan ganda + skor uraian
Instrumen Penilaian Sikap
Sekolah : SMP Negeri 10 Kota Pontianak
Mata pelajaran : Seni Budaya
Kelas/Semester : IX/ Ganjil
Materi Pokok : Pola Ritmis Sederhana
Jenis / Bentuk Penilaian : Observasi
KD :
3.1 Memahami teknik pengembangan ornamentasi melodis dan ritmis lagu dalam bentuk vokal
solo/tunggal
4.1 Mengembangkan ornamentasi ritmis maupun melodis lagu dalam bentuk solo/tunggal
LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP
Mata Pelajaran : Seni Budaya
Kelas/Semester : IX / 1
Tahun Pelajaran : 2022/2023
Waktu Pengamatan : Pertemuan Pertama dan Kedua
Indikator sikap : Bersyukur, percaya diri, toleransi dan tanggung
jawab dalam pembelajaran.
Kriteria nilai:
4 = selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan
3 = sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadang-kadang tidak melakukan
2 = kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan
1 = tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan
Bubuhkan skor tersebut pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan di bawah ini.
Spiritual Sikap Nilai
Sosial Rera Sikap
Bersyukur
No Nama Percaya diri Toleransi Tanggung ta (Kual
Siswa Kode aspek jawab itatif)
123
1A 434 Kode Aspek Kode Aspek Kode Aspek 3,5
456 789 10 11 12
332 444 43 4
2
3
Keterangan kode aspek sikap :
1. Berdoa sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu.
2. Menunjukkan sikap rasa syukur ketika berhasil mengerjakan sesuatu.
3. Bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa;
4. Berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu-ragu.
5. Berani presentasi di depan kelas
6. Berani berpendapat, bertanya, atau menjawab pertanyaan
7. Dapat menerima kekurangan orang lain
8. Tidak memaksakan pendapat atau keyakinan diri pada orang lain
9. Menerima kesepakatan meskipun berbeda dengan pendapatnya
10. Melaksanakan tugas dengan baik
11. Menerima resiko dari tindakan yang dilakukan
12. Mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan
Cara pengisian nilai sikap yaitu isilah nilai antara 1 – 4 sesuai kriteria di atas. Untuk pengisian
Rerata pada sikap yaitu dengan menjumlahkan seluruh nilai aspek sikap dan dibagi jumlah
aspek sikap (misal 12).
Contoh: Jumlah nilai seluruh aspek = 42/12 = 3,5 maka nilai sikapnya SB
Jumlah aspek
Format Kisi-Kisi dan Instrumen Penilaian Keterampilan (Pertemuan ke-3)
Sekolah : SMP Negeri 10 Kota Pontianak
Mata pelajaran : Seni Budaya
Kelas/Semester : IX/ Ganjil
Materi Pokok
: Membuat Pola Ritmis Sederhana
KD
3.1 Memahami teknik pengembangan ornamentasi melodis dan ritmis lagu dalam bentuk vokal
solo/tunggal
4.1 Mengembangkan ornamentasi ritmis maupun melodis lagu dalam bentuk solo/tunggal
1. Keterampilan yang akan dinilai : Membuat dan Menampilkan Pola Ritmis
2. Jenis/Bentuk Penilaian : Penilaian Produk / Tes Kinerja
3. Instrumen yang digunakan
Nama Siswa : ………………………………………………………………
Kelas : ………………………………………………………………
Topik Praktik : Membuat dan menampilkan pola ritme
NO Aspek/Indikator Kriteria Catatan Temuan
<60 61-75 76- >90
90
1. Kreatif
• Siswa mampu
membuat pola ritme
sesuai tingkatan
kriteria
• Siswa dapat
memainkan pola
ritme yang dibuat dan
ditulis pada kertas
pada media
instrument musik
ritmis virtual.
Rubrik Peniaian Setiap Aspek
< 60 : Memenuhi 1 Kriteria
61-75 : Memenuhi 2 Kriteria
76-90 : Memenuhi 3 Kriteria
>90 : Memenuhi 4 Kriteria
Kriteria 1 : Terdapat 2 notasi bunyi dan diam, Pola ritme dibawah 10 birama.
Kriteria 2 : Terdapat 3 Notasi bunyi dan diam, Pola ritme diantara 10 – 15 birama.
Kriteria 3 : Terdapat 4 Notasi Bunyi dan diam, Pola Ritme diantara 15 – 30 birama.
Kriteria 4 : Terdapat 5 Notasi bunyi dan diam, Pola Ritme diatas 30 birama
Lampiran 3 : MEDIA PEMBELAJARAN
1. Aplikasi Virtual Real Drum
2. PPT Materi
Lampiran 4 : Lembar Kerja Peserta Didik
Kelas : IX/1
Mata Pelajaran : Seni Budaya
Topik : Membuat Pola Ritmis Sederhana
Tujuan :
1. Memahami notasi musik ritmis dan tanda birama
2. Menunjukkan sikap kreatif dalam membuat pola ritme
3. Memainkan hasil karya pola ritmis sesuai dengan kriteria yang ditentukan
A. Indentitas Siswa :
Nama :
Kelas :
Hari/Tanggal : Notasi Musik Ritmis
Judul Materi : Peserta didik mengidentifikasi Notasi dan menyusun Pola
Tujuan Ritmis
: Setyo Budi Hutomo
Pemberi Materi
B. Bahan, alat dan Materi
1. Bahan dan alat : Buku tulis, Alat tulis, Internet, Smartphone
2. Metode : Ceramah, tanya jawab, diskusi
C. Kegiatan/ latihan peserta didik
1. Bacalah Materi Notasi musik yang telah diberikan.
2. Pahami Bentuk, Nama dan Nilai Notasi Ritmis
3. Carilah pemahaman dari berbagai sumber mengenai materi ritmis ( youtube)
3. Buatlah Pola Ritmis 10 Birama dengan menggunakan notasi penuh, setengahan dan
seperempatan.
4. Kumpulkan sesuai waktu yang disediakan.
Materi Pembelajaran Pengayaan
TEKNIK PENGEMBANGAN ORNAMENTASI
MELODIS DAN RITME LAGUDALAM BENTUK
VOKAL SOLO TUNGGAL
1. Konsep Ornamentasi dalam Seni Musik
Ornamentasi berasal dari bahasa Inggris ornamentation adalah penambahan ornamen
atau hiasan. Dalam musik, ornamentasi berupa penambahan nada-nada tertentu dengan
tujuan untuk memberikan hiasan pada melodi dan harmoni utama sebuah lagu.
Ornamentasi tidak mengubah melodi dan harmoni utama sebuag lagu karena
memberikan hiasan dengan aksesori yang relatif kecil.
Ornamentasi termasuk pengembangan musik yang tidak mengubah keseluruhan tubuh
melodi atau harmoni, tetapi juga berfungsi untuk memberikan hiasan pada struktur melodi
itu. Ada banyak macam ornamentasi dalam musik yang dilakukan dengan menambahkan
not-not cepat di sekitar not utama. Jumlah ornamen bisa bervariasi dari yang cukup
banyak seperti yang sering dilakukan oleh musisi periode Barok. Ada pula yang relatif
sedikit seperti pada periode berikutnya. Bahkan, hingga tidak ada ornamen sama sekali.
Pada periode Barok, lazim bagi para musisi untuk berimprovisasi dengan ornamen
pada garis melodi tertentu. Seorang penyanyi yang tampil sebagai da capo aria (ulang
dari awal), misalnya, akan menyanyikan melodi yang relatif tanpa ornamen untuk
pertama kalinya, tetapi menghiasnya dengan ornamen yang makin berkembang untuk
pengulangannya. Improvisasi ornamen terus menjadi bagian dari musik yang
berkembang hingga saat ini.
Ornamentasi yang direncanakan biasanya sudah disiapkan oleh komposer. Sejumlah
ornamentasi lainnya ada yang ditambahkan ke partitur dalam catatan kecil, atau ditulis
secara normal. Sering kali, komposer menggunakan istilah ornamen sendiri.
Penambahan ornamen dalam struktur lagu dapat bersifat horizontal, yakni dalam struktur
melodi utama. Ornamentasi seperti ini disebut ornamentasi melodis. Dapat pula ornamen
ditambahkan secara vertikal dalam struktur harmoni.
a. Ornamentasi Melodis
Ornamen melodis cukup banyak macamnya. Pada zaman Barok, ornamen melodis
populer. Berikut beberapajenis ornamen melodis diantaranya sebagai berikut.
1) Trill (tr) atau (trS)
Trill adalah pergantian yang cepat antara not dasar dan satu not di atasnya.
Karena cepatnya, trill terdengar seperti getaran suara. Pada musik lama, trill
dimainkan dengan memulai not di atas not yang mendapat tanda trill. Namun pada
musik modern, trill biasanya dimainkan dengan memulai pada not yang mendapat
tanda trill.
Berikut ini contoh tanda trill dan cara memainkannya :
Tertulis :
Dimainkan :
2) Morden
Morden adalah getar nada yang terdiri atas not dasar dengan not di atas atau not di
bawah, dan not dasar lagi. Dua not permulaan dimainkan secepat mungkin (biasanya
dengan not sepertiga puluh dua). Kecepatan memainkan morden sama seperti dengan
trill. Kecepatan memainkan morden akan bervariasi sesuai dengan tempo lagu yang
dimainkan. Tanda morden ada 2 macam yaitu morden langsung dan morden inversi.
Berikutini contoh tanda morden dan cara memainkannya.
3) Turn/Grupeto
Turn juga disebut grupeto. Turn terdiri atas not dasar, not di atasnya. Dan not di
bawahnya. Ketiga not itu masih dalam rangkaian tangga nada. Tanda grupeto yang
berada tepat di atas not dimainkan secepat mungkin yang dimulai pada not dasar.
Sementara itu, turn yang ditulis sesudah not dimainkan secepat mungkin sesudah not
dasar.
Berikut ini contoh tanda turn/grupeto
4) Appoggiatura
Appoggiatura pada hakikatnya adalah not dasar. Appoggiatura muncul dalam bentuk not
yang bentuknya lebih kecil dari not dasar. Umumnya not tersebut mendapat sebuah
aksen. Not appoggiatura berharga separuh dari not dasar.
Berikut ini contoh tanda appoggiatura
5) Aciakatura
Penulisan aciakatura mirip seperti appoggiatura. Bedanya, aciakatura diberi tambahan
garis kecil menyilang pada tangkai notnya. Aciakatura biasanya akan dimainkan cepat
(not sepertigapuluh dua). Berikut ini contoh tanda aciakatura.
6) Kadenza
Sebenarnya kadenza merupakan bagian karya musik yang disusun secara ornamental
yang gemilang. Kadenza biasanya dimainkan pada akhir komposisi menjelang selesai.
Oleh karena itu, bagian ini biasanya berisi improvisasi bebas dan memberi kesempatan
kepada pemain untuk menunjukkan serta memperdengarkan teknik improvisasi yang
dimiliki.
b. Ornamen Harmonis (Ritmis)
Ornamentasi harmonis memiliki prinsip yang serupa dengan ornamentasi melodis. Bila
ornamen melodis ditambahkan secara horizontal mengikuti garis melodi, ornamen
harmonis ditambahkan secara vertikal mengikuti garis harmoni. Ada beberapa metode
ornamentasi harmonis, diantaranya ornamentasi akor dan ornamentasi irama.
Akan tetapi, karena ornamen harmonis (ritmis) lebih banyak dimanfaatkan dalam
kelompok vokal dan ansambel, ornamen harmonis (ritmis) akan dibahas secara
mendalam dalam KD 3.2.
A. MENGEMBANGKAN ORNAMENAMENTASI RITMIS MAUPUN MELODIS
DALAM BENTUK VOKAL SOLO/ TUNGGAL
1. Teknik Pengembangan Ornamentasi dalam Bentuk Vokal Solo
Ornamen dari bahasa Inggris ornament yang artinya “hiasan” atau “variasi”. Disebut
hiasan karena dengan ornamentasi, sebuah lagu akan terdengar lebih indah. Maksudnya,
jika sebuah komposisi lagu dengan susunan nada seperti berikut ini dinyanyikan secara
lugu sebagaimana nada yang ada, lagu tersebut akan terasa datar- datar saja. Coba kamu
nyanyikan sebuah lagu sesuai nada yang ada.
Tanpa ada sentuhan getar suara (vibrasi) atau hiasan nada yang lain. Tentu berbeda
jika sebuah lagu, misalnya, dinyanyikan dengan memberikan vibrasi di bagian akhir
kalimatnya.
Oleh karena itu, dalam seni vokal, seorang penyanyi disarankan memasukkan
ornamentasi untuk memperindah lagu yang dibawakan.
Dalam seni vokal, lazim dikenal ornamen yang disiapkan secara terencana dan ada
pula yang ditampilkan secara spontan. Ornamen yang direncakan berarti penambahan
ornamentasi yang sudah dituliskan dalam partitur lagu. Ornamentasinya tertulis dalam
paranada. Penyanyi mau tidak mau harus mengikuti secara disiplin. Ornamentasi seperti
ini sering ditemui dalam seni vokal jenis seriosa atau untuk sajian lagu dalam ajang
festivalyang ketat.
Sementara itu, ornamentasi yang dibawakan secara spontan dikenal sebagai
improvisasi atau hiasan yang dilakukan secara mendadak dan impromptu. Ornamentasi
jenis ini biasanya tidak disiapkan dalam partitur lagu, tetapi langsung dilakukan saat
tampil menyanyi. Penyanyi-penyanyi lagu pop sering melakukan hal ini.
Sebenarnya, ornamentasi berangkat dari keinginan untuk membuat lagu menjadi
lebih hangat dan lebih kaya nuansa, tetapi tetap penuh makna. Agar penuh makna,
ornamentasi hendaknya dilakukan sepenuh jiwa. Oleh karena itu, melakukan
ornamentasi vokal tetap harus sepenuh perasaan.
Berbeda dengan warna suara (timbre) yang memang menjadi ciri khas suara
seorang penyanyi, ornamentasi adalah sebuah upaya untuk memberikan hiasan dengan
memanfaatkan seni vokal yang dimungkinkan. Ada beberapa jenis ornamentasi dalam
seni vokal tunggal, diantaranya soft distorsi dan distorsi, vibrato, echo, tremolo,
falsetto/kopste.
a. Distorsi
Distorsi adalah memberikan orrnamentasi vokal dengan memanfaatkan vokal
yang dibuat dengan kesan kasar seperti penyanyi rock. Tentu hanya pada bagian
tertentu seorang penyanyi melakukan distorsi suaranya. Contoh penyanyi yang
sering menggunakan vokal distorsi adalah Kaka (Slank), Armand Maulana (Gigi),
Ahmad Dhani (Dewa 19), Krisyanto (Jamrud). Agnes Monica juga kadang
melakukan distorsi vokal untuk memberikan ornamen pada akhir lagu.
b. Soft distortion
Soft distortion juga sering dimanfaatkan oleh vokalis. Soft distortion adalah
vokal yang lembut dan serak. Penyanyi yang mampu melakukan soft distortion
dengan baik diantaranya Krisdayanti, Stevie Wonder, dan Celine Dion.
c. Vibrato
Teknik vibrato dilakukan dengan mengatur gelombang vokal lembut yang
mendalam. Untuk bagian not yang panjang, biasanya penyanyi memanfaatkan
vibrato. Hampir semua penyanyi pop melakukan teknik vibrato ini untuk
memberikan ornamentasi dalam membawakan lagu. Mohammad Istiqamah Djamad
(Is), vokalis Payung Teduh, banyak menambahkan ornamentasi jenis vibrato ini
untuk sebagian besar lagunya.
d. Echo
Penyanyi yang kurang mampu mengalunkan gelombang vibrato atau tremolo
biasanya memanfaatkan teknik echo untuk mengisi ornamentasi pada lagunya.
Teknik echo adalah cara bernyanyi mendesah. Pingkan Mambo adalah salah satu
contoh penyanyi yang biasa menggunakan teknik echo dalam bernyanyi.
e. Tremolo
Teknik Tremolo adalah getaran vokal yang lebih rapat seperti yang banyak
dilakukan para penyanyi seriosa. Dalam seni vokal, sejak zaman klasik telah
dimasukkan beragam ornamentasi. Pada era Giulio Caccini, tremolo sangat populer.
Penyanyi soprani dan tenor bersuara tinggi sering diharuskan untuk tidak hanya
menyanyi sesuai partitur, tetapi juga sebagian besar repertoar dibawakan dengan
tremolo. Soprano Dame Joan Sutherland sangat terkenal karena tingkat kemerataan
dan kecepatan tremolo-nya. Tremolo biasanya merupakan ciri dari penyanyi solo
yang penuh ornamen, tetapi paduan suara juga kadang memunculkan tremolo.
f. Falsetto/kopstem
Falsetto atau kopstem sering disebut suara palsu. Disebut palsu bermula dari
keinginan penyanyi pria bernyanyi dengan suara wanita karena dahulu ada larangan
bagi penyanyi wanita. Sebenarnya, falsetto suaranya berat, tidak nyaring, tidak
mampu mencapai nada tinggi.
Semakin tinggi, suaranya semakin terdengar tidak merdu. Jika didengarkan
dengan cermat, mirip mixed voice, bahkan terkadang mirip suara asli wanita. Banyak
waria yang berhasil menggunakan falsetto saat bicara. Hasilnya, suara mereka
benar-benar sama persis dengan suara asli wanita. Masih ingat penyanyi Hudson
Pranajaya (populer dalam ajang Indonesia Mencari Bakat) yang dapat bernyanyi
dengan suara priamaupun wanita. Dialah salah satu penyanyi yang bisa menerapkan
teknik falsetto.
g. Head voice (suara kepala)
Istilah head voice digunakan untuk menyebut suara kepala. Jika dibandingkan
falsetto, head voice lebih terdengar merdu. Sebenarnya head voice dimiliki pria
maupun wanita sejak lahir. Namun, pada usia dewasa, kebanyakan kaum pria
kehilangan head voice-nya dan digantikan dengan oleh falsetto. Head voice bisa
mencapai nada di atas C6. Suaranya ringan, nyaring, merdu, bisa leluasa ke nada-
nada tinggi di atas nada C6 bahkan ada yang mencapai nada B6. Jika didengarkan,
suaranya akan terdengar berada di dalam memenuhi kepala. Head voice kebanyakan
dimiliki oleh wanita, anak-anak, dan remaja.