The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by vnllcoco, 2022-02-20 18:56:51

MAKALAH PPKN KELOMPOK 1 (XII MIPA 4)

MAKALAH PPKN KELOMPOK 1 (XII MIPA 4)

i

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah – Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Persatuan dan Kesatuan
Pada Masa Reformasi” ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari ibu Rini
Astuti,S.Pd pada mata pembelajaran PPKN. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang persatuan dan kesatuan pada masa reformasi bagi para pembaca dan
penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Rini Astuti,S.Pd , selaku guru mata
pembelajaran PPKN yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan
dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.
Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami
menyelesaikan tugas makalah ini. Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari
kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi
kesempurnaan makalah ini.

Banyuwangi, 13 Februari 2022

Penulis

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………… ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………... iii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………... 1

1. 1 Latar Belakang ………………………………………………………………….... 1
1. 2 Rumusan Masalah ………………………………………………………………... 1
1. 3 Tujuan ……………………………………………………………………………. 1
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………….... 2
2.1 Masa Pemerintahan B. J. Habibie ( 1998 – 1999 ) ……………………………………. 2
2.2 Masa Pemerintahan Abdurrahwan Wahid ( 1999 – 2001 ) …………………………… 5
2.3 Masa Pemerintahan Megawati Soekarno Putri ( 2001 – 2004 ) ………………………. 5
2.4 Masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono I ( 2004 – 2009 ) …………………. 6
2.5 Masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono II ( 2009 – 2014 ) ………………… 7
2.6 Masa Pemerintahan Joko Widodo ( 2014 – sekarang ) ……………………………….. 9
BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………… 13
3.1 Kesimpulan ……………………………………………………………………….. 13
3.2 Saran ……………………………………………………………………………… 13
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………. iv

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Era reformasi atau era pasca-Suharto di Indonesia dimulai pada tahun 1998, tepatnya

saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 dan digantikan oleh wakil
presiden saat itu, B.J. Habibie. Periode ini didirikan oleh lingkungan sosial politik yang
lebih terbuka.

Krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan semakin
besarnya ketidakpuasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto
saat itu menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai organ
aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.

Pemerintahan Soeharto semakin disorot setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang
menyebabkan empat mahasiswa tertembak mati dan kemudian memicu Kerusuhan Mei
1998 sehari setelahnya. Gerakan mahasiswa pun meluas hampir di seluruh Indonesia. Di
bawah tekanan yang besar dari dalam maupun luar negeri, Soeharto akhirnya memilih
untuk mengundurkan diri dari jabatannya pada 21 Mei 1998.

Isu-isu selama periode reformasi ini di antaranya dorongan untuk menerapkan
demokrasi dan pemerintahan sipil yang lebih kuat, elemen militer yang mencoba untuk
mempertahankan pengaruhnya, Islamisme yang tumbuh dalam politik dan masyarakat
umum, serta tuntutan otonomi daerah yang lebih besar. Proses reformasi menghasilkan
tingkat kebebasan berbicara yang lebih tinggi, berbeda dengan penyensoran yang meluas
saat Orde Baru. Akibatnya, debat politik menjadi lebih terbuka di mediamassa dan ekspresi
seni makin meningkat. Peristiwa-peristiwa yang telah membentuk Indonesia dalam periode
ini di antaranya serangkaian peristiwa terorisme (termasuk bom Bali 2002) serta gempa
bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004.

1. 2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses berakhirnya orde baru?
2. Bagaimana perkembangan politik dan ekonomi pada masa reformasi?
3. Bagaimana perkembangan politik setelah 21 Mei 1998?
4. Bagaimana kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sejak reformasi?

1. 3 Tujuan
1. Untuk memenuhi nilai tugas mata pembelajaran ppkn;
2. Untuk menambah wawasan mengenai peristiwa yang terjadi selama masa reformasi.

1

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Masa Pemerintahan B. J. Habibie ( 1998 – 1999 )
Bacharuddin Jusuf Habibie, adalah wakil presiden selama masa jabatan presiden

sebelumnya, Suharto. Dia menggantikan Suharto pada tahun 1998 ketika Suharto turun dari
kursi kepresidenan. Namun, hal ini tidak mengakhiri sistem politik yang telah diterapkan
selama Orde Baru. Banyak orang Indonesia sangat mencurigai Habibie karena kedekatannya
dengan Suharto (yang telah menjadi sosok ayah bagi Habibie) dan fakta bahwa dia adalah
pemain penting dalam sistem patronase politik Suharto. Penolakan Habibie untuk
memerintahkan penyelidikan menyeluruh terhadap harta kekayaan Suharto hanya
memperkuat rasa ketidakpercayaan ini.

Habibie tidak memiliki pilihan lain selain meluncurkan program-program reformasi. Dia
akan melakukan "bunuh diri politik" jika tidak mematuhi tuntutan masyarakat Indonesia itu.
Selama masa kepresidenan Habibie, 30 undang-undang (UU) baru disetujui oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR), beberapa di antaranya ditandai dengan perbedaan -
perbedaan fundamental dengan perpolitikan di masa lampau. Sejumlah tindakan reformasi
penting adalah :

• Dimulainya kebebasan pers
• Pemberian izin pendirian partai-partai politik dan serikat-serikat buruh baru
• Pembebasan tahanan-tahanan politik
• Pembatasan masa jabatan presiden menjadi dua periode lima tahun
• Desentralisasi kekuasaan ke daerah
Keputusan penting lainnya adalah penjadwalan pemilihan umum baru, yang
diselenggarakan pada bulan Juni 1999. Kendati begitu, parlemen belum mempunyai niat
untuk mengurangi pengaruh politik militer dan memerintahkan penyelidikan terhadap
kekayaan Suharto.
Indonesia memasuki masa peningkatan kekerasan di daerah. Jawa Timur dilanda
pembunuhan misterius (yang mungkin dilakukan oleh unit-unit tentara) sementara kekerasan
agama berkobar di Jakarta, Ambon (Maluku), Kupang (Nusa Tenggara Timur) beserta
Kalimantan Barat. Selain itu, ada tiga daerah yang memberontak terhadap Pemerintah Pusat:
Aceh (Sumatera), Irian Jaya (Papua) dan Timor Timur.
Ini semua menghasilkan kondisi yang membuat para investor asing sangat ragu-ragu
untuk berinvestasi, sehingga menghambat pemulihan ekonomi Indonesia. Tidak kalah
penting adalah pembersihan sektor keuangan Indonesia, yang telah menjadi jantung dari
Krisis Keuangan Asia di akhir tahun 1990-an. Badan Penyehatan Perbankan Nasional
(BPPN), didirikan pada Januari 1998, menjadi sebuah lembaga yang kuat yang melakukan
serangkaian kegiatan terpadu dan komprehensif mencakup masalah seperti program
liabilitas bank, pemulihan dana negara, restrukturisasi perbankan, restrukturisasi pinjaman
bank, dan penyelesaian sengketa kepemilikan saham.

2

Kasus Timor Timur adalah salah satu hal yang menyebabkan banyak konflik, baik di
tingkat nasional maupun internasional. Timor Timur telah mendeklarasikan
kemerdekaannya pada tahun 1975 tetapi diinvasi oleh Indonesia pada tahun berikutnya. Hal
ini tidak mengakhiri keinginan Timor Timur untuk merdeka. Habibie memiliki sikap terbuka
terhadap kemerdekaan Timor Timur. Dia menyatakan bahwa jika Timor Timur menolak
status provinsi otonomi khusus di Indonesia, maka Timor Timur dapat merdeka.

Pernyataan Habibie ini tidak disetujui oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sangat
ingin mencegah pemisahan Timor Timur dari Indonesia. Menurut pihak TNI, pemisahan
Timor Timur itu berbahaya bagi persatuan Indonesia karena dapat menyebabkan efek
domino di provinsi-provinsi lain. Diputuskan bahwa rakyat Timor Timur boleh membuat
keputusan ini melalui referendum. Hasil referendum ini adalah bahwa 78% pemilih memilih
untuk merdeka. Tentara Indonesia kemudian bereaksi dengan menyerang banyak wilayah di
Timor Timur, menewaskan lebih dari seribu orang.

Reputasi Habibie rusak parah akibat hilangnya kendali atas situasi politik di Timor
Timur. Meskipun unit tentara dan milisi sipil yang melakukan tindak kekerasan ekstrim,
Habibie secara pribadi dianggap bertanggung jawab sebagai presiden yang menjabat. Selain
itu, Habibie sendiri dikaitkan dengan skandal korupsi besar yang melibatkan Bank Bali.
Bank ini menerima dana dari BPPN untuk rekapitalisasi tetapi - diduga - hampir setengah
dari dana tersebut digunakan oleh tim kampanye Habibie.

Pemilihan Tahun 1999
Setelah tahun 1955, masyarakat Indonesia harus menunggu selama 44 tahun untuk

menyaksikan contoh lain dari pemilihan parlemen yang bebas dan adil. Dalam Pemilihan
Umum (Pemilu) 1999 masyarakat memilih partai politik, bukan individu. Karena tidak ada
batasan untuk pembentukan partai-partai politik (sebagai bagian dari program reformasi),
Indonesia menyaksikan menjamurnya partai-partai baru. Tidak kurang dari 48 partai
diizinkan untuk berpartisipasi dalam Pemilu tahun 1999, meskipun sebagian besar partai-
partai ini memainkan peran yang tidak signifikan.

Kebanyakan partai politik itu hanya bisa mengandalkan sedikit dukungan saja dari
masyarakat. Dalam perpolitikan modern Indonesia, sebuah partai politik pada dasarnya
adalah kendaraan politik untuk individu tertentu dan bukan lembaga yang mengekspresikan
ideologi atau visi bersama. Karena hanya beberapa orang bisa mengandalkan dukungan
publik selama Pemilu 1999, kebanyakan partai politik ditakdirkan untuk menerima sedikit
suara.

Salah satu dari tokoh-tokoh tersebut adalah Megawati Soekarnoputri, puteri Presiden
pertama Indonesia Soekarno. Dia telah mendirikan sebuah partai baru PDI-P (Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan) pada tahun 1998 setelah dikeluarkan dari PDI (Partai
Demokrasi Indonesia) pada tahun 1996. Karena warisan ayahnya dan perlawanannya
terhadap Orde Baru menjelang akhir pemerintahan Suharto, ia menikmati popularitas yang

3

tinggi (terutama di Jawa dan Bali). Mirip dengan ayahnya, dia menekankan persatuan
nasional dan mengkampanyekan nasionalisme sekuler.

Tokoh nasional populer lainnya yaitu Abdurrahman Wahid yang telah mendirikan PKB
(Partai Kebangkitan Bangsa) pada tahun 1998. Sebelumnya, dia menjabat sebagai ketua
organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), tapi kemudian
mengarahkan tujuannya untuk menjadi presiden. Wahid mengkampanyekan sejenis
nasionalisme toleran dan mengandalkan dukungan populer dari masyarakat Muslim
tradisional (sebagian besar di Jawa).

Habibie, presiden Indonesia yang menjabat, memiliki ambisi untuk mempertahankan
posisinya. Meskipun tidak begitu populer, dia bisa mengklaim bahwa dia yang telah
meluncurkan program reformasi dan bisa mendapatkan keuntungan dari mesin politik
Golkar (Golongan Karya) yang kuat dan yang membentang sampai ke tingkat desa.

Terakhir, Amien Rais, tokoh oposisi terhadap Orde Baru Suharto, bergabung dalam
perlombaan dengan Partai Amanat Nasional-nya (PAN) dan seorang outsider yang patut
diperhitungkan.

Satu hal yang penting selama Pemilu ini adalah bahwa kursi di parlemen akan dibagi dua.
Pulau Jawa menerima setengah dari kursi sementara separuh lainnya dibagi ke pulau-pulau
lain. Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk mengurangi posisi dominan Jawa dalam
perpolitikan nasional. Namun, karena Jawa memiliki kepadatan penduduk yang jauh lebih
tinggi dari luar Jawa, pada dasarnya tersirat bahwa suara non-Jawa lebih kuat dibanding
suara Jawa. Situasi ini akan menyebabkan konsekuensi yang luar biasa untuk pemilu ini.

1999

PDI-P 34%
Golkar 22%
PKB 13%
PPP 11%
PAN 7%

Sekitar 90 persen dari pemilih Indonesia datang untuk memberikan suara mereka pada
tanggal 7 Juni 1999. Seperti dugaan sebelumnya, PDI-P menerima sebagian besar suara (34
persen) dengan Golkar pada posisi kedua (22 persen). Namun, kedua partai tersebut
mendapat alokasi jumlah kursi yang hampir sama dalam parlemen karena PDI-P menerima
sebagian besar suara dari pulau Jawa, sementara Golkar menikmati suara terbanyak dari luar
Jawa.

Pada bulan Oktober, Habibie harus menyampaikan pidato pertanggungjawaban di depan
MPR. Pidato ini adalah laporan tentang kinerjanya sebagai presiden dan kinerja kebijakan
selama masa kepresidenannya. Pidatonya ditolak oleh mayoritas anggota MPR. Setelah
penolakan ini, Habibie memutuskan untuk menghentikan ambisinya menjadi presiden pada
tahun 1999. Ini berarti bahwa sekarang hanya ada dua orang yang menikmati dukungan

4

politik yang signifikan untuk menjadi presiden berikutnya dari Indonesia yaitu Megawati
dan Wahid. Di sesi lain, MPR Indonesia akhirnya memilih Wahid sebagai presiden baru.
Megawati menjadi wakil presiden baru dan Rais terpilih sebagai ketua MPR.

2.2 Masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid ( 1999 – 2001 )
Dalam rangka mendirikan koalisi yang luas, Wahid menunjuk anggota dari berbagai

partai politik serta perwira TNI sebagai menteri untuk kabinetnya. Tapi komposisi yang
beragam ini juga mengimplikasikan kurangnya kohesi dalam kabinet dan, terlebih lagi,
hanya berisi beberapa tokoh reformis saja. Wahid melakukan upaya untuk mengurangi peran
politik TNI namun hal ini menyebabkan konflik dan kemudian hilangnya dukungan dari
TNI.

Tanpa dukungan dari TNI, hanya ada sedikit cara untuk bertahan sebagai presiden
Indonesia yang saat itu dilanda konflik dan kekerasan di banyak daerah. Kerusuhan-
kerusuhan di daerah ini membutuhkan intervensi TNI namun karena konflik dengan Wahid,
TNI tampaknya tidak tertarik menyelesaikan atau mengintervensinya yang mengakibatkan
merosotnya kekuasaan Presiden Wahid.

Kasus-kasus korupsi tampaknya masih sangat sering terjadi. Pada tahun pertamanya
sebagai presiden, Wahid memecat tujuh menteri yang semua - diduga - terlibat dalam kasus
korupsi. Empat dari menteri-menteri tersebut berasal dari empat mitra koalisi yang paling
penting : PDI-P, Golkar, PPP dan PAN. Ini membuat Wahid menjadi semakin terisolasi.
Dan lebih parah lagi Wahid sendiri juga dikaitkan dengan dua skandal korupsi yang
akhirnya menyebabkan pemakzulannya. Kedua skandal itu dikenal sebagai 'Buloggate' dan
'Bruneigate', masing-masing melibatkan ketidakjelasan penggunaan dana publik. MPR
Indonesia melihat ini sebagai kesempatan besar untuk memakzulkan Wahid dan Megawati
kemudian ditunjuk menjadi presiden, sementara Hamzah Haz (pemimpin PPP) menjadi
wakil presiden yang baru.

2.3 Masa Pemerintahan Megawati Soekarno Putri ( 2001 – 2004 )
Menjelang akhir pemerintahan Orde Baru Suharto, almarhum Ir. Soekarno (Presiden

Indonesia yang pertama) menjadi simbol oposisi terhadap pemerintah. Soekarno adalah
pahlawan nasional yang telah mengabdikan hidupnya untuk Indonesia dan berhasil
mencapai kemerdekaan. Sebagian besar pengunjuk rasa anti-Suharto lahir selama rezim
Orde Baru yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade dan karena itu mereka mungkin
hanya memiliki sedikit pengetahuan mengenai era pra-Suharto. Tetapi bagi mereka
Soekarno mewakili kebebasan, kemerdekaan dari Suharto. Oleh karena itu menjadi logis
bahwa puterinya, Megawati, bisa mengandalkan dukungan besar dari masyarakat.

Namun, dukungan ini hanya didasarkan pada statusnya sebagai puteri Soekarno dan tidak
didasarkan pada visi politiknya maupun keterampilannya. Kabinetnya tidak banyak berbeda
dari kabinet awal Wahid: berisi basis partai-partai yang beragam dan perwira TNI juga
terwakili dengan baik. Megawati sendiri tidak melakukan banyak pengambilan keputusan,

5

dia menyerahkannya pada para menterinya. Tidak ada tanda-tanda bahwa masalah korupsi
ditangani sementara status quo dalam pemerintahan berlanjut.

Namun, meskipun Megawati sendiri tidak tampak sangat mendukung reformasi politik,
proses reformasi sebenarnya telah dirintis pada tahun 1999 ketika parlemen mulai
merancang banyak UU baru (termasuk amandemen - amandemen konstitusi) yang akan
berlaku efektif selama kepresidenan Megawati. Langkah-langkah reformasi ini menyiratkan
peningkatan signifikan dalam checks and balances demokratis yang mengakhiri
kemungkinan kembalinya rezim otoriter. Kebijakan-kebijakan reformasi ini menempatkan
kekuasaan di tangan rakyat, bukan Pemerintah Pusat. Selain itu, cabang-cabang eksekutif
dan legislatif dipisahkan dengan lebih ketat.

Pendahulu Megawati (Wahid) melakukan upaya kuat untuk mengurangi pengaruh TNI
yang benar-benar melemahkan posisinya, tetapi Megawati tidak berniat untuk ikut campur
dengan urusan TNI. Akibatnya, TNI kembali mendapatkan sejumlah pengaruh dalam
politik. Apalagi, perkembangan internasional juga meningkatkan peran TNI. Setelah
serangan 11 September 2001 terhadap Menara Kembar di New York, pemerintah Amerika
Serikat melanjutkan kerjasama dengan militer Indonesia (yang sempat terhenti sejak
partisipasi TNI dalam kekerasan di Timor Timur di tahun 1999) untuk memerangi terorisme
internasional.

Meskipun MPR telah berhati-hati dalam mengurangi peran politik tentara, Panglima
Besar TNI lah yang menyatakan pada tahun 2004 bahwa fraksi TNI harus dihapuskan dari
MPR. Seorang perwira TNI yang ingin aktif dalam dunia politik harus mengundurkan diri
terlebih dulu dari posisinya di TNI. Reformasi ini direalisasikan tetapi tidak berarti
mengakhiri pengaruh politik TNI dalam masyarakat Indonesia. Hingga saat ini, TNI adalah
kekuatan yang besar karena para mantan jenderal yang ingin aktif dalam politik masih bisa
mengandalkan jaringan di dalam TNI, apalagi, tentara masih terlibat dalam kegiatan-
kegiatan usaha di daerah.

2.4 Masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono I ( 2004 – 2009 )
Partai Demokrat (PD) terutama didirikan sebagai kendaraan politik SBY untuk menjadi

presiden Indonesia. Partai ini mengkampanyekan demokrasi, pluralisme dan profesionalisasi
tentara, SBY sendiri merupakan seorang pensiunan jenderal TNI. Tetapi politik bukan
sesuatu yang baru untuk Yudhoyono yang menjadi kepala staf untuk urusan sosial - politik
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada tahun 1997. Di posisi ini SBY
menunjukkan sikap reformis ketika ia mempresentasikan 'Paradigma Baru' yang
menyerukan diakhirinya keterlibatan langsung TNI dalam bidang politik melalui penarikan
bertahap dari parlemen nasional dan regional dan menyerukan pemisahan antara tentara dan
polisi. Pemisahan ini akhirnya diputuskan pada masa kepresidenan Habibie dan berlaku
efektif selama pemerintahan Wahid.

Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menjadi Menteri Pertambangan dan Energi
selama masa Presiden Wahid dan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan

6

selama masa Presiden Megawati. Dalam kedua kasus, keretakan hubungan dengan presiden
menyebabkan ia diberhentikan dengan segera. Namun, dia tetap menikmati popularitas di
kalangan masyarakat Indonesia karena ide-ide reformisnya, mediasi suksesnya di sejumlah
konflik kekerasan daerah, dan catatan hidupnya yang bersih korupsi.

Sejak awal harapan untuk masa kepresidenannya yang sangat tinggi. SBY, yang dianggap
sebagai karakter yang kuat dan seimbang, memasuki Istana Presiden dengan cita - cita
reformis ambisius seperti menghancurkan korupsi dan terorisme, penguatan demokrasi dan
hak asasi manusia, dan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi. Tentunya ambisinya
terlalu tinggi sebab Indonesia adalah negara yang sulit untuk direformasi dalam jangka
waktu beberapa tahun. Birokrasi yang lambat dan tidak efisien, kekuatan-kekuatan yang
saling berlawanan dalam masyarakat dan korupsi yang terus menyebar luas terutama di
daerah membuatnya sulit untuk menerapkan kebijakan secara efektif. Seperti yang
dijanjikan selama periode kampanye, sekitar separoh dari menteri kabinet SBY terdiri dari
profesional non -partisan (teknokrat), terutama pada posisi yang menyangkut ekonomi,
dalam rangka mendorong profesionalisasi.

Masa kepresidenan SBY juga ditandai dengan bencana menyebabkan beberapa orang
menyebut SBY sebagai 'Presiden bencana'. Bencana alam yang paling terkenal adalah
tsunami mengerikan di Aceh yang menewaskan lebih dari 200.000 orang di Aceh pada
tahun 2004. Bencana-bencana lainnya adalah gempa bumi di Bantul (Daerah Istimewa
Jogjakarta) pada tahun 2006 yang menewaskan 6.000 orang, semburan lumpur di Sidoarjo
(yang merusak ratusan hektar di Jawa Timur dan menyebabkan evakuasi ribuan orang),
sejumlah banjir di Jakarta yang memicu evakuasi sekitar setengah juta orang pada tahun
2007 dan, terakhir, letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 yang menewaskan 353 orang
dan menyebabkan evakuasi 350.000 orang.

Prestasi baik dari pemerintahan Yudhoyono berhubungan dengan fundamental
makroekonomi : utang luar negeri Indonesia menurun secara mengesankan, cadangan devisa
meningkat dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto tahunan solid. Fundamental -
fundamental ini kuat dan didukung oleh boom komoditas pada sekitar tahun 2000 dan
meningkatnya daya beli secara cepat membuat Indonesia berhasil melalui krisis global 2008
- 2009 tanpa masalah yang berarti.

2.5 Masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono II ( 2009 – 2014 )
Pada tanggal 22 Oktober 2009, berlangsung pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu II.

Kabinet ini adalah koalisi antara PD, Golkar dan empat partai Islam PKS, PAN, PKB dan
PPP. Selain menunjuk menteri dari enam mitra koalisi tersebut, Presiden SBY juga
menempatkan beberapa profesional (tokoh-tokoh non-partisan atau teknokrat) pada posisi -
posisi kementerian kunci seperti kementerian dalam negeri, luar negeri, keuangan,
perdagangan, pendidikan nasional, dan kesehatan. Hanya dua mantan jenderal TNI saja yang
ditunjuk sebagai menteri dalam kabinet ini.

7

Kendati kinerja makroekonomi kuat, dukungan rakyat untuk SBY mulai terkikis. SBY
tidak memenuhi harapan mengenai pemberantasan korupsi, yang pernah menjadi slogan
kampanye penting dari partainya. kasus korupsi tingkat tinggi yang melibatkan pejabat -
pejabat pemerintahan menjadi berita utama secara rutin. Lebih parah lagi, PD sendiri jadi
sangat terlibat dalam skandal korupsi ketika beberapa anggotanya, termasuk Bendahara
Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, dituduh dan diadili untuk kasus korupsi Southeast
Asian Games 2011. Diduga dalam even olahraga ini, uang suap telah dibayar sehubungan
dengan pembangunan perkampungan atlet.

Kemudian, Ketua PD Anas Urbaningrum ditangkap dan dijatuhi hukuman delapan tahun
penjara karena menerima suap terkait dengan pembangunan kompleks olahraga Hambalang
di Jawa Barat. Skandal ini semakin mendekat pada SBY sangat merusakkan popularitas
SBY maupun partainya.

Tiga menteri pemerintahan SBY juga ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara. Mereka
adalah Andi Mallarangeng (Menteri Olahraga dan Pemuda), Jero Wacik (Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral) dan Suryadharma Ali (Menteri Agama). Selain itu, diperkirakan
bahwa sekitar 300 pejabat pemerintah daerah diselidiki karena kasus korupsi selama periode
kedua SBY, yang mengindikasikan luasnya korupsi di kalangan pemerintahan dan
kegagalan SBY untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme.

Menurut opini publik pada umumnya munculnya kasus-kasus korupsi dalam PD adalah
tanda lemahnya kepemimpinan SBY. Apalagi, SBY juga dianggap bertindak lemah
berhubungan dengan hal lain. Banyak orang Indonesia yang pro-reformasi kecewa ketika
SBY tidak mendukung Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang reformis dan sangat
dihormati ketika dia bersama dengan Wakil Presiden Boediono dikritik karena kesalahan
penanganan kasus bailout Bank Century pada tahun 2008. Sri Mulyani kemudian mundur
dari jabatannya dan pindah ke Bank Dunia untuk mulai bekerja sebagai managing director.
Kendati begitu, kebanyakan orang menganggap bahwa kepergiannya terhubung dengan
tekanan dari kekuatan-kekuatan politik tertentu yang memiliki kepentingan-kepentingan
bisnis besar karena kebijakan reformisnya telah menyebabkan konflik dengan kepentingan-
kepentingan ini.

Kelemahan lain dalam kepemimpinan SBY berkaitan dengan kecamannya yang lambat
dan tidak meyakinkan terhadap serangan kekerasan pada penganut agama-agama minoritas,
seperti pembunuhan Ahmadiyah pada Februari 2011 ketika gerombolan orang yang
mengatasnamakan Islam membunuh beberapa anggota sekte Ahmadiyah lokal yang kecil di
Provinsi Banten.

Kendati diawali dengan menjanjikan, pemerintahan satu dekade SBY sekarang dianggap
sebagai periode kesempatan - kesempatan yang hilang (missed opportunities). SBY
menikmati dukungan besar di parlemen (di periode kedua) tetapi dia gagal untuk mendorong
reformasi struktural yang sangat dibutuhkan (misalnya penghapusan subsidi bahan bakar
minyak). Di satu sisi, SBY dikritik karena tidak tegas dan terlalu berusaha untuk berteman
dengan semua pihak dan aliran masyarakat tetapi di sisi lain gaya kepemimpinannya

8

berhasil meningkatkan stabilitas politik dan ekonomi Indonesia dan karenanya meletakkan
dasar yang kuat bagi orang lain untuk membangun negaranya.

2.6 Masa Pemerintahan Joko Widodo ( 2014 – sekarang )
Pelantikan Jokowi sebagai Presiden dilakukan pada tanggal tanggal 20 Oktober 2014 di

Gedung DPR/MPR RI. Upacara ini menandai secara resmi dimulainya jabatan Joko Widodo
sebagai Presiden didampingi oleh Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden Indonesia. Jokowi
memulai jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia dengan mengeluarkan kartu
Indonesia sehat, kartu Indonesia pintar. Dibidang maritim ia memberi instruksi keras
terhadap pencurian ikan di wilayah Perairan Indonesia yaitu penenggelaman kapal yang
banyak diapresiasi oleh banyak kalangan, membereskan banyak proyek pembangunan yang
terbengkalai, membagikan seribu lebih traktor guna menggengjot produksi pertanian,
mengundang investor asing dengan nilai investasi 300 Triliun rupiah ketika ia berpidato di
APEC.

Pada masa pemerintahannya, sebagai Presiden beliau memiliki konsep kerja nyata dengan
melakukan Nawacita ( 9 harapan) untuk Negara. Nawacita tersebut antara lain :

• Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan
rasa aman pada seluruh warga Negara.

• Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang
bersih, efektif, dan demokratis.

• Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa
dalam kerangka negara kesatuan.

• Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum
yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.

• Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas
pendidikan dan pelatihan dengan program Indonesia Pintar, Indonesia Kerja dan
Indonesia Sejahtera.

• Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis
ekonomi domestik.

• Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.
• Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum

pendidikan nasional.
• Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui

kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan.
Dari Nawacita tersebut dapat diwakilkan beberapa kebijakan-kebijakan yang mungkin
mewakili dari sebilan cita-cita tersebut yakni kebijakan-kebijakan dalam bidang politik,
ekonomi dan kesehatan atau pendidikan. Diantaranya :

9

A. Bidang politik
a) Poros dan isu kemaritiman
1) Kebijakan Poros Maritim diharapkan dapat memperkuat kapasitas
keamanan maritim Indonesia melalui peningkatan kualitas dan kuantitas
alutista yang diikuti dengan regulasi maritime yang lebih jelas, sehingga
kepentingan ekonomi Indonesia dapat diperjuangkan lebih lagi dengan
prosedur yang lebih jelas dan kualitas serta kualitas yang lebih baik.
2) Pembangunan infrastruktur kemaritiman perlu untuk ditingkatkan, seperti
dan tidak dibatasi dengan pembangunan pelabuhan dan demi melindungi
kedaulatan bangsa dan kepentingan nasional Indonesia.
3) Kami menyadari bahwa pengeboman kapal adalah salah satu upaya
pemerintah untuk menjaga kedaulatan Indonesia, sekaligus melindungi hak-
hak para nelayan Indonesia dalam mengembangkan usahanya. Kami ingin
memberi saran agar pengeboman kapal yang dilakukan tetap memperhatikan
kelestarian lingkungan, karena pengeboman kapal akan meninggalkan
sampah-sampah yang dapat merusak ekosistem kelautan.

b) Hukuman mati kepada para penyebar narkoba
Prosedur hukuman mati kepada para penyebar narkoba perlu penjelasan dan
sosialisasi yang lebih lanjut kepada masyarakat luas dan pendatang, demi
mencegah kesalahpahaman dan konflik yang tidak perlu tersangka, masyarakat
dan pemerintah negara lain.

c) Komunikasi public
1) Komunikasi politik yang lebih baik adalah vital bagi pihak eksekutif, demi
mengurangi kesalahpahaman dan keraguan masyarakat terhadap masalah
yang dihadapi pemerintah. Apabila pemerintah jelas dalam menyampaikan
maksud dengan prinsip yang jelas, hal tersebut dapat membantu masyarakat
untuk memahami maksud pemerintah, sehingga dukungan kepada pemeritah
dapat semakin meningkat.
2) Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah perlu ditingkatkan. Kami
memuji upaya presiden Jokowi terkait kebijakannya untuk berkoordinasi
dengan pemerintah daerah. Komunikasi tersebut dapat meningkatkan sinergi
antara pemerintah pusat dan daerah, demi pengambilan keputusan yang
lebih baik terhadap daerah.
3) Kami menyadari bahwa tidak ada kebijakan yang sempurna, karena setiap
kebijakan memiliki posisi plus dan minus. Kejelasan prinsip dan hukum dari
pihak eksekutif dapat mengurangi keraguan masyarakat terhadap
pemerintah yang terkait.

10

4) Sosialisasi kepada masyarakat secara konstan dan melalui prinsip-prinsip
yang jelas akan membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada
pemerintah

B. Ekonomi
a) Subsidi bahan bakar minyak
Sebagai mahasiswa, kami menyadari bahwa penetapan batas atas bagi barang-
barang pokok adalah penting demi melindungi masyarakat kecil. Selain itu,
standardisasi harga merupakan isu yang perlu diperhatikan pemerintah, ketika
fluktuasi harga BBM tidak didampingi dengan fluktuasi harga bahan pokok yang
merugikan masyarakat.

b) Investasi satu pintu
1) Kami melihat bahwa transparansi dan koordinasi dari sistem Satu Pintu
perlu untuk diperhatikan lebih lanjut. Transparansi dalam hal ini adalah
transparansi informasi kepada masyarakat dan pelaku bisnis terhadap
investasi yang tersedia. Koordinasi yang ditujukan adanlah koordinasi
antara kementerian penting demi memuluskan kebijakan tersebut, demi
mengurangi masalah konflik dan perebutan proyek terhadap proses invetasi
yang terjadi. Hal ini juga perlu diikuti dengan pembagian tugas dan
wewenang lebih jelas kepada BKPM demi mencapai tujuan dari kebijakan
satu pintu.
2) Sosialisasi kebijakan Satu Pintu terhadap masyarakat luas penting, agar
pelaku pasar, khususnya masyarakat Indonesia dapat menangkap peluang
dan mengantisipasi dampak dari kebijakan Satu Pintu.
3) Kebijakan Satu Pintu perlu untuk terus dilanjutkan oleh pemerintah, karena
hal tersebut dapat memudahkan masyarakat dan investor. Kami menyadari
bahwa kebijakan Satu Pintu sangat memudahkan investor dan masyarakat
luas untuk berinvestasi, ketika usaha-usaha investasi sebelum hadirnya
kebijakan tersebut sangat sulit.

C. Kesehatan dan Pendidikan
a) Kesehatan
1) Kami mengapresiasi langkah pemerintah dalam penyediaan BPJS bagi
masyarakat. Namun, penyelarasan dan pembenahan BPJS kesehatan perlu
dilakukan melalui kejelasan dalam proses pembuatan kartu dan mekanisme
berobat. Hal ini penting agar setiap bagian masyarakat mendapatkan
pelayanan yang adil, maksimal dan terbaik.
2) Proses pembayaran BPJS dari pemerintah kepada rumah sakit yang
bekerjasama dengan pemerintah perlu dilakukan tepat waktu, agar tidak

11

menimbulkan hutang terhadap pihak swasta dan rumah sakit dapat
menjalankan operasionalnya dengan lancer.
3) Peningkatan jumlah dokter yang ditempatkan di daerah terluar, tertinggal dan
terdalam perlu dilakukan, agar masyarakat yang ada di daerah juga
mendapatkan pelayanan yang sama dengan perkotaan. Meskipun sulit,
pemerintah dapat mencoba untuk memberikan beasiswa bagi para siswa dan
mahasiswa Indonesia yang memiliki keterkaitan terhadap dunia kesehatan,
khususnya di wilayah pinggaran.
4) Peningkatan infrastruktur kesehatan, seperti: rumah sakit dan tenaga
kesehatan perlu dilakukan dengan peningkatan alokasi APBN terhadap isu
tersebut.
Dalam bidang kesehatan Presiden Joko Widodo Mengeluarkan Kartu Indonesia Sehat (KIS)
yang dimana kartu ini diperuntukan untuk warga yang kurang mampu dalam membiayai
perobatan kesehatannya.

D. Pendidikan dan revolusi mental
1) Terkait dengan kebijakan pendidikan, kami menyarankan pemerintah untuk
meningkatkan kesejahteraan guru, agar proses transfer ilmu dapat berjalan
dengan baik tanpa beban ekonomi yang berlebih kepada guru.
2) Penyeragaman sistem ujian dari Sabang sampai Merauke perlu dilakukan dengan
hati-hati, agar kesenjangan tiap daerah dapat diatasi sehingga tiap daerah dapat
meningkatkan mutu pendidikan dengna lebih baik. Hal ini dapat dilakukan
dengan pengiriman tenaga ahli dari pusat ke daerah, demi menciptakan standar
yang sama bagi setiap masyarakat Indonesia terhadap pendidikan.
3) Kami percaya bahwa pendidikan merupakan jawaban atas setiap permasalahan
manusia. Pemberian akses pendidikan kepada setiap masyarakat secara adil dan
merata perlu untuk dilakukan pemerintah.

Dalam bidang pendidikan Presiden Joko Widodo mengeluarkan kartu Indonesia Pintar (KIP)
untuk anak Indonesia yang putus sekolah dan kurang mampu dalam masalah keuangan.

Dalam hal lain seperti kelemahan dan kelebihan pemerintahan jokowi tidak bisa dirangkum
karena kebijakan - kebijakan dari Presiden ke-tujuh ini masih berlangsung atau belum selesai
dalam menjalankan kebijakannya untuk menjalankan Negara sesuai dengan visi dan misi. Hal
yang mustahil jika kita memperdebatkan kelebihan dan kekurangan dari pemerintahan beliau,
kebijakannya masih dalam masa proses menjalankannya. Butuh waktu samapai selesai masa
jabatan agar mudah untuk menyimpulkan kelemahan dan kekurangan kebijakannya tersebut.

12

BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Era reformasi di Indonesia dimulai pada tahun 1998, tepatnya saat Presiden

Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 dan digantikan oleh wakil presiden saat
itu, B.J. Habibie. Setelah naiknya Habibie sebagai presiden, kondisi politik dan ekonomi
pun kian berubah. Proses dan penerapan demokrasi di Indonesia mulai membaik.
Presiden dipilih berdasarkan pemilu dalam skala 5 tahun sekali, dan semua masyarakat
memiliki hak memilihnya. Pada masa reformasi, kehidupan sosial masyarakat Indonesia
sempat diwarnai dengan terjadinya berbagai konflik sosial yang bersifat etnis di tengah-
tengah masyarakat. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi sosial masyarakat yang kacau
akibat lemahnya hukum dan kondisi ekonomi negara yang tidak kunjung membaik
sehingga mengakibatkan sering terjadinya gesekan-gesekan dalam masyarakat. Namun,
seiring dengan keberhasilan pemerintah era reformasi dalam mengatasi masalah-masalah
yang tengah dihadapi, kehidupan sosial masyarakat Indonesia berangsur-angsur kembali
kondusif. Pada masa reformasi masyarakat lebih bebas menyuarakan berbagai
aspirasinya. Hal ini didukung dengan adanya reformasi di bidang komunikasi.

1.2 Saran
Demikianlah yang dapat kami sampaikan mengenai materi yang menjadi pembahasan

dalam makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan kerena terbatasnya
pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang kami peroleh sehubungan
dengan makalah ini. Kami banyak berharap kepada para pembaca memberikan kritik dan
saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.

13

DAFTAR PUSTAKA

Julianti, Dwi. 2022. “Latar Belakang Pemerintahan Masa Reformasi – Materi Sejarah Kelas 12”,
https://www.zenius.net/blog/latar-belakang-pemerintahan-masa-reformasi, diakses pada 13
Februari 2022 pukul 14.05

Investments, Indonesia. 2020. “Reformasi: Tantangan & Perubahan Baru untuk Indonesia”,
https://www.indonesia-investments.com/id/budaya/politik/reformasi/item181, diakses pada 13
Februari 2022 pukul 14.13

Thabroni, Gamal. 2021. “Masa Reformasi: Perkembangan Politik, Ekonomi & Sosial”,
https://serupa.id/masa-reformasi/, diakses pada 14 Februari 2022 pukul 04.10

Abdillah, Fahri. 2018. “Kehidupan Ekonomi dan Politik Masa Reformasi”,
https://www.ruangguru.com/blog/sejarah-kelas-12-kehidupan-ekonomi-dan-politik-masa-
reformasi, diakses pada 14 Februari 2022 pukul 04.30

iv


Click to View FlipBook Version