LAPORAN TUGAS KULIAH
Disusun untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Matakuliah
Ilmu Pendidikan
yang Diampu oleh Dr. Setiawan Edi Wibowo S.Pd., M.Pd.
Oleh :
Esti Kusuma Astuti
22108244116
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
TAHUN 2022
Aziz Si Penggembala Ilmu
Disuatu desa, tinggal lah Aziz dan kedua orang tuanya. Mereka merupakan
keluarga yang kurang mampu. Orang tua Aziz bekerja sebagai petani di sawah.
Penghasilan kedua orang tua Aziz tidak mencukupi untuk menyekolahkan Aziz, maka
dari itu Aziz tidak disekolahkan. Dari kecil Aziz selalu mengembala domba setiap hari
di ladang rumput. Aziz sudah menganggap domba tersebut sebagai sahabatnya, setiap
hari Aziz selalu bercerita kepada domba tersebut tentang keinginannya dimasa depan.
Aziz sangat ingin sekolah seperti teman-teman nya, tetapi karena kendala ekonomi Aziz
tidak bisa sekolah.
Suatu hari Aziz sedang mengembala domba kesayangannya. Aziz melihat teman
nya memakai seragam yang akan berangkat sekolah. Karena Aziz ingin tahu apa saja
kegiatan saat sekolah, maka dia mengikuti temannya itu secara diam-diam. Sesudah
sampai di sekolah, dia berfikir tidak bisa masuk ke sekolah tersebut, maka dia berputar
ke belakang sekolah dan kebetulan dibelakang sekolah itu banyak rumput yang segar-
segar untuk dombanya. Kemudian dia mengikat tali domba di pohon yang ada di
dekatnya. Sambil menunggu jam masuk sekolah Aziz melihat lihat wilayah sekitar
sekolah. Setelah melihat lihat dia berhenti didekat sebuah jendela dan mengintip ke
dalam kelas yang sudah mulai pelajaran.
Aziz melihat kedalam kelas dan mendengarkan apa saja yang dijelaskan guru
kepada murid-muridnya. Dia mendengarkan sampai jam sekolah, setelah jam sekolah
sudah selesai Azis kembali kedombanya dan melepas talinya. Kemudian dia mengajak
domba kesayangannya kembali kerumah dan memasukannya kedalam kandang. Setelah
memasukkan dombanya Aziz masuk kedalam rumah dan langsung membersihkan
badannya yang terasa kotor. Aziz menuju kemeja makan dan memakan makanan yang
ada sambil berfikir “Aku sangat ingin sekolah seperti teman-temanku yang lain”.
Kemudian ibunya datang dan duduk disebelah Aziz yang sedang makan sambil berpikir.
Ibu menyadarkan Aziz yang sedang melamun dan bertanya “Ziz....Kok makan
sambil melamun”. Aziz tersadar dari lamunannya dan berkata dalam hatinya “Duh..
tidak mungkin aku ngomong sama ibuk”. Kemudian Aziz menjawab ibunya “Eh ibuk,
ngga papa kok buk hehe”. Ibu Aziz hanya tersenyum singkat melihat tingkah anak
semata wayangnya itu. Kemudian berkata “yasudah, makannya dihabiskan” , Aziz
menjawab “iya buk..”. Setelah mendengar jawaban dari Aziz ibu kembali kekamar
untuk istirahat dan Aziz menghabiskan makanannya dan langsung istirahat.
Paginya Aziz diajak ayahnya jalan jalan pagi di sekitar sekolah. Aziz sangat
ingin melihat dan mendengarkan lagi seperti kemarin, tapi tidak mungkin dia
meninggalkan ayahnya . Di sisi lain ayah Aziz melihat Aziz yang sepertinya sangat
ingin masuk sekolah. Kemudian ayah Aziz berkata “maaf ya nak”, Aziz yang sadar dan
tidak mengerti pun langsung bertanya kepada ayahya “kenapa yah?”.Ayah Aziz yang
tidak ingin melanjutkan percakapannya karena takut Aziz makin sedih pun hanya bisa
tersenyum dan berkata “nggapapa, yuk kita lanjut jalan jalan lagi”. Aziz pun langsung
ceria lagi saat mendengar ajakan ayahnya untuk melanjutkan jalan jalan paginya.
Disepanjang jalan Aziz bercerita banyak hal kepada ayahnya, ayahnya pun
mendengarkan ocehan Aziz dengan bahagia. Dia tidak habis pikir karena anaknya yang
sudah semakin besar .Ayah dan ibunya sangat ingin menyekolahkannya agar dia tidak
kesepian dirumah dan mempunyai banyak teman disekolahnya, Tapi apa boleh buat
karena kedua orang tuanya tidak mampu unuk menyekolahkannya maka kegiatan Aziz
setiap harinya hanya mengembala domba kesayangan yang dimiliki keluarganya.
Ayah Aziz sangat senang mendengar ocehan dari anaknya itu. Karena keasikan
jalan-jalan sambil bercerita, Aziz dan ayahnya sampai tidak sadar bahwa mereka sudah
sampai dirumah. Mereka langsung masuk kerumah dan langsung cuci tangan dan kaki.
Kemudian ibu Aziz menyuruh mereka untuk sarapan pagi “Yah,Ziz sarapan dulu”,
kemudian ayah dan Aziz menjawab “siap komandan”. Mendengar jawaban itu ibu
menggelengkan kepala melihat kelakuan ayah dan anaknya. Lalu ibu ikut sarapan
bersama suami dan anaknya, ibu Aziz tadi juga belum sarapan karena menunggu susami
dan anaknya pulang dari jalan-jalan paginya.
Seharian ayah dan ibunya Aziz dirumah menemani Aziz, karena pekerjaan
mereka sedang libur. Keesokan harinya karena Aziz ingin belajar lagi seperti
sebelumya, Aziz mengajak domba kesayangannya mencari makan disekitar sekolah.
Setelah sampai Aziz langsung menali talinya kepohon yang ada didekatnya. Sambil
menunggu pelajaran dimulai Aziz duduk sebentar di bawah pohon sambil beristirahat,
karena perjalanan dari rumah Aziz ke sekolah lumayan jauh.
Setelah mendengar bunyi bel masuk Aziz langsung bergegas berdiri dan berjalan
kearah jendela. Saat guru masuk Aziz sedikit bersembunyi karena takut ketahuan dan
dimarahi. Saat pelajaran sudah dimulai Aziz langsung mendengarkan dan memahami
materi apa saja yang dijelaskan oleh guru yang ada dikelas. Sebenarnya Aziz anak yang
cerdas hanya saja ekonomi keluarganya saja yang kurang mencukupi. Seperti biasa Aziz
mengikuti pelajaran tersebut sampai jam pulang sekolah, kemudian Aziz kembali ke
domba kesayangannya dan mengajaknya pulang, karena Aziz sudah merasakan cacing
diperutnya ulai kelaparaan.
Sesampainya dirumah, Aziz langsung bersih-bersih badan dan menuju ke meja
makan, kemudian Ibunya bertanya “Dari mana saja Ziz?” Aziz kemudian menjawab
“habis mengajak domba mencari makan sambil jalan-jalan bu” Aiz hanya menjawab
seperti itu karena kalo Aziz memberi tahu kalau dia habis mengembala didekat sekolah
sambil mendengarkan pelajaran takutnya akan menambah beban pikiran ibunya karena
tidak bisa menyekolahkan anaknya. Walaupun umur aziz masih kecil tetapi Aziz
memiliki pemikiran yang lebih dewasa dari umurnya.
Hari demi hari Aziz selalu mengembala didekat sekolah sambil mendengarkan
pelajaran yang dijelaskan oleh guru. Pada saat mendengarkan penjelasan yang sedang
disampaikan, guru yang sedang menjelaskan itu pun sadar akan keberadaan Aziz namun
guru tersebut hanya membiarkan saja. Setiap hari Aziz kesekolah sambil mengembala,
saat Aziz mendengarkan penjelasan yang sedang disampaikan guru , guru tersebut pun
melihat keberadaan Aziz lagi yang sedang ada didekat jendela, kemudian saat jam
istirahat guru tersebut berjalan kearah belakang sekolah tempat Aziz berada, ternyata
Aziz sedang duduk dibawah pohon sambil mengajak ngobrol domba kesayangannku itu.
Kemudian guru tersebut medekati Aziz
“Hey nak, siapa namamu?” tanya guru tersebut.
“Eh bu...nama saya Aziz buk, ada apa ya bu?” jawab Aziz sambil bertanya
“Oh Aziz...nama ibu, Kusuma panggil saja Ibu Suma,” jawab Ibu Suma
“Nggapapa, hanya saja ibu sering melihatmu mengintip dijendela, kalau boleh tau
kenapa?” lanjut Bu Suma
Aziz yang ditanya begitu pun bingung harus menjawab apa, apakah dia harus memberi
tahu keadaan dan keinginannya kepada Bu Suma. Karena melihat Aziz yang diam saja,
Bu Suma memegang pundak Aziz dan memanggilnya lagi.
“Aziz...kamu kenapa?” tanya Bu Suma
“Eh iya maaf buu hehe, tidak papa bu hanya saja saya sering mengembala di belakang
sekolah, jadi saya ingin tahu apa saja kegiatan disekolah.” Jawab Aziz
Bu Suma pun bingung kemudian bertanya “ Apa kamu tidak sekolah Ziz...?”
“Saya tidak sekolah bu...karena orang tua saya tidak sanggup membiayai sekolah saya”
jawab Aziz sambil tersenyum manis.
Bu Suma yang mendengar jawaban dari Aziz pun merasa kasian
“Aziz....dimana rumahmu” tanya Bu Suma. Bu Suma berencana ingin bertemu dengan
keluarga Aziz.
“Rumah saya didekat lapangan voli buu,” jawab Aziz
“Aziz apa besok orang tuamu ada dirumah?” Tanya lagi Bu Suma
“Ada bu, tapi mungkin hanya ibu, karena ayah saya bekerja”
“Oke kalau begitu, nanti tolong sampaikan kepada ibumu kalau besok ibu akan
berkunjung kerumah.” Beritahu Bu Suma
Aziz yang bingung pun hanya menjawab “baik bu Suma”. Setelah mendengar jawaban
dari Aziz, Bu Suma pun kembali ke kelas karena jam pelajaran sudah dimulai lagi. Aziz
pun juga mendekat ke lagi kejendela dan mulai mendengarkan pelajaran yang
disampaikan lagi oleh Bu Suma. Bu Suma yang melihat Aziz pun hanya bisa tersenyum,
dan berpikir, bagaimana bisa anak seusia Aziz bisa menerima keadaan keluarganya
dengan ikhlas. Bu Suma merasa kasihan terhadap Aziz, jadi Bu Suma itu ada niatan
untuk mendatangi rumahnya dan bertemu kedua orang tuanya untuk membicarakan
tentang sekolah Aziz.
Jam pulang tiba, Aziz pun mengajak domba kesayangannya pulang kerumah dan
memasukannya kekandang. Kemudian Aziz masuk kedalam rumah dan berbicara
kepada ibunya bahwa Bu Suma akan berkunjung besok.
“Ibu...besok ibu dirumah kan..?” tanya Aziz memastikan
“Iya besok ibu dirumah, ada apa Ziz..” tanya ibu Aziz karena tiba-tiba aziz bertanya
“Besok Bu Suma akan berkunjung kerumah untuk bertemu ibu” jawab Aziz
Ibu Aziz pun bingung, Bu Suma itu siapa?, karena ibu Aziz tidak mengenal Bu Suma
“Bu Suma? Bu Suma itu siapa Ziz? Tanya ibu Aziz
“Bu Suma itu guru disekolah desa ini bu?”
Ibunya pun bingung, bagaimana Aziz bisa mengenal guru sekolah di desanya padahal
Aziz tidak sekolah disana.
Ibu Aziz pun bertanya lagi “Bagaimana kamu bisa mengenal guru disekolah desa kita
Ziz?.”
Kemudian Aziz menjelaskan semuanya bahwa selama ini dia mengembala
didekat sekolah sambil mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh Bu Suma .
Ibunya pun terkejut karena dia tidak tahu bahwa selama ini anaknya mengembala
didekat sekolah sambil mendengarkan pelajaran yang dipelajari oleh murid-murid
disekolah.
Keesokan harinya, Bu Suma berkunjung kerumah dan bertemu dengan Ibu Aziz.
Ibu Aziz dan Aziz menemui Bu Suma dan mempersilahkan untuk duduk. Kemudian Bu
Suma menjelaskan tujuannya berkunjung kerumah Aziz dan menemui ibunya. Setelah
mendengarkan tujuan baik dari Bu Suma, ibu Aziz menangis bahagia karena ada orang
yang mau membantu biaya sekolah Aziz. Aziz yang mendengar pun juga ikut senang,
karena akhirnya keinginan untuk sekolah akan segera terwujud berkat kebaikan Bu
Suma. Setelah berbincang bincang bersama, Bu Suma pun pamit pulang, karena harus
segera mengurus berkas-berkas yang harus diajukan untuk mendaftarkan Aziz.
Beberapa hari kemudian Bu Suma berkunjung lagi kerumah Aziz
memberitahukan bahwa ternyata Aziz sudah bisa masuk sekolah dan duduk dikelas 4.
Aziz yang mendengarpun sangat bahagian dan sudah tidak sabar untuk berangkat
sekolah. Bu Suma juga memberikan seragam untuk sekolah, yang sebelumnya sudah
disiapkan untuk Aziz, dan ukurannya juga sangat pas.
Pada hari senin Aziz sudah mulai masuk sekolah, dan sudah mulai berbaur
dengan teman baru. Aziz sangat senang karena sekarang dia memiliki banyak teman,
dan teannya juga menerimanya dengan senang hati. Hari pertama sekolah Aziz mulai
beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya. Hari demi hari hingga kenaikan kelas
Aziz mengikuti ujian kenaikan kelas, yang artinya dia akan naik ke kelas 5. Hari
penerimaan rapot pun tiba , dan yang mengambil rapot Aziz adalah ibunya. Setelah
pengambilan rapot itu Ibu Aziz menghampiri Aziz yang kebetulan juga ikut ibunya
untuk mengambil rapotnya.
Ibu Aziz menghampiri Aziz dengan muka kusut dan seperti ingin memarahi
Aziz. Aziz yang bingung campur takut pun bertanya kepada ibunya.
“Bu...bagaimana hasilnya?” tanya Aziz ketakutan
Mendengar pertanyaan dari putra kesayangannya, Ibu Aziz pun tersenyum dan
menjawab Aziz.
“Allhadulillah kamu naik kelas Ziz, kamu juga dapat peringkat 1 dikelas, ibu bangga
sama kamu” jawab ibu Aziz sambil mencium kening anak kesayangannya
Aziz yang mendengar jawaban ibunya nya pun ikut bahagia, dia tidak
menyangka kalau dia akan mendapat peringkat 1 dikelasnya. Setelah itu Ibu Aziz
mengajak pulang kerumah dan memberi kabar kepada ayahnya, ayahnya pasti bangga
terhadap Aziz. Sesampainya dirumah Ibu dan Aziz memberitahu berita baik itu kepada
ayahnya, dan ayahnya yang mendengar itu pun sangat bahagia dan sangat bangga
terhadap anak semata wayangnya itu. Ayah dan Ibunya selalu memberi semangat dan
dukungan kepada anaknya.
Setelah 2 tahun kemudian akhirnya Aziz lulus SD dan mendapatkan nilai
tertinggi sekecamatan. Aziz juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang
sekolah menengah/SMP. Aziz yang mengetahui bahwa dia mendapatkan beasiswa pun
sangat senang begitu pun kedua orang tuanya. Aziz tidak akan menyia-nyiakan
kesempatan ini, beasiswa ini sangat berharga bagi Aziz karena bisa membantu sekolah
Aziz tanpa harus membebani ayah dan ibunya.
Tahun demi tahun Aziz akhirnya lulus SMP dan SMA.Berkat kecerdasannya
Aziz selalu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya. Bahkan setelah
lulus SMA Aziz mendapatkan beasiswa lagi untuk melanjutkan sekolah nya ke jenjang
perguruan tinggi. Setiap dia mendapatkan beasiswa, dia tidak pernah menyia-nyiakan
beasiswanya, Aziz selalu berusaha dan belajar dengan giat agar selalu membuat kedua
orang tuanya bangga. Aziz mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi terkenal di luar
negeri. Aziz yang tahu pun bingung, apabila Aziz mengambil beasiswa itu, dia akan
jauh dengan orang tuanya, karena sejak kecil Aziz belum pernah berpisah jauh dari
orangtuanya.
Kemudian Aziz dan kedua orangtuanya pun berbincang bagaimana baiknya.
Orang tua Aziz menyuruh agar Aziz mengambil beasiwa tersebut, karena kesempatan
ini tidak datang dua kali, jadi Aziz memutuskan untuk mengambil beasiswa itu dan
harus siap berpisah jauh dengan orang tuanya. Setelah memutuskan untuk emngambil
beasiwa itu, Aziz langsung mengurus berkas apa saja yang harus dibawa dan disiapkan
untuk keluar negeri. 2 minggu kemudian Aziz berangkat ke luar negeri diantar oleh guru
SMA nya.
4 tahun kemudian Aziz akhirnya lulus kuliah dan mendapatkan predikat
Cumlaude. Kemudian Aziz mendapatkan tawaran menjadi guru diluar negeri. Sambil
menjadi guru Aziz melanjutkan sekolahnya lagi ke S2 dan S3 menggunakan beaasiswa
sampai mendapatkan gelar doctor. Setelah lulus S3, Aziz mendapat tawaran untuk
menjadi dosen di luar negeri, tetapi Aziz tidak menerimanya, karena menurutnya sudah
terlalu lama diluar negeri, dia sangat merindukan ayah dan ibunya dan kampung
halamannya. Seminggu kemudian Aziz pulang ke Indonesia dan langsung pulang
kerumah menemui kedua orang tuanya. Sesampainya dirumah, ternyata Bu Suma
sedang berkunjung dirumah, setelah Bu Suma membantu sekolah Aziz, hubungan Bu
Suma dengan keluarga Aziz sampai sekarang berjalan dengan baik.
Setelah berbincang ria dengan keluarga dan Bu Suma, Bu Suma akhirnya pamit
pulang karena masih ada urusan yang belum selesai. Aziz pun melanjutkan melepas
rindunya kepada ayah dan ibunya,. Sebulan kemudian Aziz mendaftarkan dirinya
sebagai dosen di universitas ternama di Indonesia dan diterima, bulan demi bulan, tahun
demi tahun Aziz pun bekerja sebagai dosen dan Aziz sudah mengubah hidupnya dan
hidup keluarganya.