The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nurwidagdo1975, 2022-09-11 12:25:13

Koneksi Antar Materi Modul 1.1.

Koneksi Antar Materi Modul 1,
1

Koneksi Antar Materi
Modul 1.1.

Refleksi dan kesimpulan
Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Instruktur CGP Angkatan 6
Rina Ningsih BBGP Jawa Timur
Kota Blitar
Fasilitator
Imam Hanafi Nur Widagdo, S.Pd
Guru PJOK
SDN Rembang 1 Kota Blitar

PP

Titik Kristina

Koneksi Antar Materi Modul 1.1.
Refleksi dan Kesimpulan

Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Sejarah Pendidikan Indonesia
Pendidikan Zaman Kolonial menjadi langkah perjalanan pendidikan Indonesia
sebelum kemerdekaan. Pada masa kolonial , sangatlah sulit bagi rakyat
Indonesia untuk mendapatkan pendidikan. Hanya kaum-kaum tertentu saja
yang bisa mendapatkan hak untuk bisa mengikuti pendidikan. Merekapun
hanya boleh mengikuti pendidikan untuk keuntungan pihak-pihak tertentu
khususnya pihak kolonial. Contohnya hamya untuk memcetak calon pegawai
ataupun tenaga ahli dalam perusahaan.
Pada tahun 1922 dengan berdirinya sekolah Taman Siswa yang diprakarsai
oleh Raden Mas Soeryadi Soeningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantara
itulah awal kebangkitan Pendidikan Indonesia.
Menurut Ki Hajar Dewantara, “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha
persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik
dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang
seluas-luasnya”.
Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam
masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia
Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama
untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih, bertumbuhnya
nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

Potret Pendidikan Zaman Kolonial

Pokok Pemikiran dan Filosofi menurut KHD Tentang Pendidikan

Pertama, Pendidikan sebagai "tuntunan"

Dalam konteks sosial budaya, arti kata 'menuntun' diwujudkan
dalam keteladanan sebagai seorang guru dalam melaksanakan
proses pendidikan, baik keteladanan sikap, karakter, dan
perilaku, karena anak belajar dari apa yang mereka lihat dan
rasakan. Menuntun juga berarti mendidik dan mengajar anak
sesuai potensi, minat, dan bakatnya.
Menuntun dalam proses pengajaran ini adalah membimbing,
mengarahkan, sesuai dengan minat bakat anak sesuai dengan
karakter dan potensi dari masing-masing individu.
Guru adalah sebagai "among" anak-anak, sehingga guru juga
harus bisa mengayomi, memberikan rasa nyaman, aman
sehingga anak merasa tidak ada kekawatiran dalam dirinya. Atau
bisa diartikan guru sebagai orang tua kedua selama di sekolah.
Sifat Asah, Asih dan Asuhlah yang harus diberikan guru kepada
anak-anak didik kita di sekolah.

Kedua, Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

Pendidikan harus mempertimbangkan kodrat alam (sifat dan
lingkungan) dan kodrat zaman (isi dan irama) karena kedua hal ini tidak
dapat dipisahkan dalam diri anak. Seorang anak telah memiliki kodrat
alam ⟮potensi, bakat, kemampuan⟯ yang unik, berbeda-beda satu sama
lain sehingga guru diharapkan mampu memfasilitasi mereka agar bisa
tumbuh maksimal sesuai dengan karakter jenjang usia mereka.
Pembelajaran akan menjadi menyenangkan jika dilakukan sesuai
kodrat anak, yaitu bermain. Sementara kodrat zaman, bagaimana
seorang guru mampu membimbing anak agar siap hidup mandiri
dalam zaman yang terus berubah. Pendidikan bersifat dinamis.
Pendidikan harus selalu mengikuti perkembangan zaman, namun juga
tidak meninggalkan nilai-nilai budaya leluhur,.dan tidak menutup diri
terhadap budaya asing. Kita sebagai guru harus turut mendampingi
dan mbimbing akan budaya luar yang masuk, apakah sesuai dengan
budaya kita

Ketiga, filosofi sebagai "petani"

Guru diibaratkan sebagai petani, yang menyiapkan lahan,
memupuk, mengairi, dan membersihkan hama atau gulma agar
bibit tumbuh subur, berbunga, kemudian berbuah. Hasil kebun
yang berkwalitas tentunya banyak peran seorang petani dalam
mperlakukan dan merawat tumbuhan tersebut. Lahan yang subur,
benih yang unggul belum tentu menghasilkan buah yang unggul.
Kembali lagi bagaimana petani tersebut dalam merawatnya. Petani
dapat mengupayakan tumbuhnya bibit dengan sebaik-baiknya,
tetapi tidak dapat mengubah kodrat bibit menjadi tanaman lain.
Petani tidak dapat merubah benih jagung tumbuh menjadi padi.
Dia hanya bisa merawat benih tersebut dengan sebaik-baiknya
agar menjadi jagung yang berkwalitas. Demikian pula guru. Guru
dapat mengupayakan bertumbuhnya potensi anak dengan sebaik-
baiknya, tetapi tidak dapat mengubah kodrat anak.

Keempat, Prinsip Bukan Tabularasa

Anak lahir bukan kertas kosong yang bisa diisi oleh orang dewasa sesuai
kehendaknya. Anak sudah membawa garis-garis dan coretannya
masing-masing. Tugas guru adalah menebalkan garis yang baik-baik
dan membiarkan garis yang tidak baik agar tidak terlihat. Semakin kuat
kita menebalkan garis-garis baik tersebut maka akan semakin suram
garis yang tidak baik. Guru menuntun anak agar menampakkan
potensinya menjadi nyata, sekaligus meminimalisasi sifat atau tabiat
buruknya. Kita tidak bisa menghapus sifat jeleknya, kita sebagai guru
harus berusaha memunculkan sifat-sifat baik anak, agar sifat jeleknya
semakin tertutup.
Perkembangan manusia dapat dibentuk oleh lingkungan sosialnya.
Lingkungan memiliki kuasa terhadap pembentukan perilaku bahkan
kepribadian manusia.
Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan dasar pemikiran mengenai
pendidikan yakni segala upaya yang konkret untuk memerdekakan
manusia secara utuh dan penuh. Menurut Ki Hadjar Dewantara,
pendidikan merupakan salah satu pintu masuk untuk mewujudkan
manusia yang merdeka. Merdeka yang dimaksud adalah kemerdekaan
lahiriah maupun batiniah manusia, baik posisinya sebagai makhluk
individual maupun sebagai anggota masyarakat dan warga dunia.

Kelima, Budi Pekerti

Menurut Ki Hadjar Dewantara, budi pekerti, atau watak atau karakter
merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau
kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan
sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga
menciptakan Karya (psikomotor). Pendidikan itu adalah benih-benih
kebudayaan yang dapat mengantarkan murid pada budi pekerti ⟮olah
cipta, olah rasa, olah karsa dan olahraga⟯ yang luhur. Dalam budaya Bali,
dikenal adanya Tri Hita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara
manusia dengan Tuhan, hubungan yang harmonis antar sesama manusia,
dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam.
KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik
untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak.
Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna
bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak
individual). Keluarga juga menjadi ruang untuk mempersiapkan hidup
anak dalam bermasyarakat dibanding dengan pusat pendidikan lainnya.
Tumbuh kembangnya anak berawal dari lingkungan keluarga sejak anak
masih usia dini. Anak melihat, mendengar, meniru juga berawal dari
lingkungan terdekat yaitu keluarga.

Keenam, berhamba pada anak

Dari kalimat berhamba pada anak, Ini berarti pendidikan yang
berorientasi pada anak, yang mengutamakan anak, berpusat pada
anak, dan memuliakan anak. Pendidikan dilakukan untuk satu-satunya
tujuan, yaitu mengantarkan anak agar mencapai keselamatan dan
kebahagiaan setinggi-tingginya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, anak / murid

harus dipandang dengan rasa hormat dan menjadi pusat obyek dalam

pembelajaran. Guru dan murid memiliki keduidukan yang sejajar

dalam dunia pendidikan. Anak adalah hal yang paling bernilai. Guru

harus menerima macam-macam anak yang berbeda sesuai kodrat dan

fitrahnya. Guru diibaratkan sebagai petani harus mampu memfasilitasi

tumbuh kembang yakneganmekeanryaegnaamn
agnkanterdsaenbustelamlueladliubiingpkeani cidpatlaaamn
ekosistem belajar

nilai-nilai luhur pancasila.

Refleksi diri setelah mempelajari modul 1.1

Pada fase ini, ada beberapa pertanyaan pemantik untuk
refleksi saya terhadap pemikiran dan filosofi Ki Hajar
Dewantara tentang Pendidikan

1.Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran
di kelas sebelum Anda mempelajari modul 1.1?

2.Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda
setelah mempelajari modul ini?

3.Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar
kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?

Kesimpulan dan refleksi pengetahuan dan pengalaman

yang baru dipelajari dari pemikiran Ki Hajar

Dewantara.


Sebelum mempelajari modul 1.1 tentang Filosofi dan
pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya percaya bahwa
dengan tindakan-tindakan keras dan tegas untuk
membuat mereka disiplin dan bertanggung jawab atas
tugas dan kewajibannya sebagai siswa bisa mengubah
perilaku mereka. Dengan aturan-aturan yang tegas
dan hukuman sesuai konsekwensi atas kesalahan
mereka, bisa membuat mereka tertib dan patuh serta
disiplin dalam setiap tindakannya. Akan tetapi ternyata
mereka melakukan itu atas dasar rasa takut karena

aturan yang saya buat. Huuurr......ggg..!!!

Setelah saya mempelajari pemikiran-pemikiran Ki Hajar
Dewantara, pemikiran saya berubah menjadi harus
memberikan tuntunan kepada anak didik dengan lebih
sabar dan ikhlas karena mereka adalah pribadi yang
unik dan berbeda-beda. Harus kita sadari dan pahami
bahwa masing-masing individu mempunyai karakter
atau sifat dasar yang berbeda pula yang disebabkan
karena kodrat yang mereka miliki. Maka dari itu, setelah
memahami dan mempelajari modul ini, saya semakin
paham dan akan berusaha menjadi seorang "penuntun"
kodrat anak untuk membawa mereka menuju
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Atas kodrat yang mereka miliki, saya harus bisa menggali

potensi, bakat minat anak
-anak untuk bisa dibimbing

dan diarahkan semaksimal mungkin.

Sebuah trilogi "Ing ngarso sung tuladha, ing madya
mangun karsa dan tut wuri handayani" harus benar-
benar diterapkan sebagai sosok seorang guru yang akan
dijadikan sebuah panutan anak-anak, yang membimbing
dan yang memberi dorongan semangat dan motivasi.
Selain itu juga saya tidak perlu memberikan hukuman
yang bersifat tidak mendidik, namun yang harus saya
lakukan adalah memberikan teladan agar mereka bisa
melihat dan mencontohnya untuk bekal mereka kelak
Dunia anak adalah dunia bermain, jadi sebisa mungkin
dalam menerpkan pembelajaran dikelas, saya
mengupayakan anak-anak untuk belajar sambil bermain.
Dwngan harapan mereka merasa senang dan nyaman,

sehingga akan memunculka
n minat mereka untuk selalu

rindu dalam belajar.

Demikian refleksi, kesimpulan dan koneksi antar materi modul 1.1
Mohon maaf atas segala kekurangan.

Semoga dengan mengikuti Pendidikan Guru Penggerak ini, bisa
semakin menambah wawasan dan pengetahuan saya tentang
pendidikan, dan nantinya bisa bermanfaat bagi saya, orang lain dan

khusunya anak didik.
Terimakasih

Wassalamua'alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.


Click to View FlipBook Version