PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN
PEMBEKALAN CPP ANGKATAN KE 7 GELOMBANG KE 2
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
TAHUN 2022
DATA DIRI
Duae Lay Yeverson
08113823855
[email protected]
LAY A. YEVERSON
SMKN 1 kABUPATEN KUPANG
Pendahuluan
Sebagai guru tentu memiliki kesempatan luas untuk mewujudkan cita-cita
pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) yaitu pendidikan yang holistik/seimbang
dan tidak timpang untuk menumbuhkan manusia yang bijaksana. Sehingga
mampu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar
mereka sebagai menjadi manusia dan sebagai anggota masyarakat yan dapat
dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Peran yang dapat dikembangkan untuk bisa menumbuhkan-kembangkan
pendidikan yang memerdekakan di dalam kelas tentunya mampu
mengidentifikasi karakter peserta didik kemudian memetakan segala daya upaya
untuk menciptakan kelas yang aman dan nyaman. Sehingga anak mampu
mengembangkan segala kreatifitasnya. Selain itu mampu mendorong dalam
peningkatan prestasi akademik murid, mengajar dengan kreatif, mengembangkan
diri secara aktif, dan mendorong tumbuh kembang murid secara holistik.
Konsep Pendidikan Menurut
Ki Hadjar Dewantara
Menurut Ki hajar Dewantara bahwa hakekat
pendidikan merupakan seluruh daya upaya yang
dikerahkan secara terpadu untuk tujuan
memerdekakan aspek lahir dan batin setiap
insan. Pengajaran dalam pendidikan dimaknai
sebagai upaya membebaskan peserta didik dari
ketidaktahuan serta sikap iri, dengki dan egois.
Peserta didik diharapkan berkembang menjadi
insan dewasa dan bijaksana
Konsep Pendidikan Yang
Memerdekakan
Pendidikan yang memerdekakan adalah suatu proses pendidikan yang
meletakan unsur kebebasan peserta didik untuk mengatur dirinya sendiri,
bertumbuh serta berkembang menurut kodratnya secara lahiriah
dan batianiah. Secara lahiriah peserta didik memperoleh kemerdekaan
dalam pendidikan
Guru/orang tua berupaya dengan sekuat daya menuntun rohani, membangun
mental, menjelaskan arah yang terbaik dalam berpikir,
menyediakan/memfasilitasi tumbuhkembangnya raga murid. Murid harus bebas
dari segala bentuk tuntutan. Murid diajaran sesuai dengan kodrat bawaannya
sejak berada di dalam kandungan dan kodrat zaman di mana mereka akan
berperan. Untuk mewujudkannya, murid berada dalam suasana nyaman. Nyaman
dalam belajar atau sejalan dengan transformasi pembelajaran sekarang, yaitu
Merdeka Belajar.
Merdeka belajar bukan hasil dari pembelajaran, melainkan sebuah proses dengan
menerapkan prinsip-prinsip pembelajajran yang memerdekakan. Kebutuhan murid benar-
benar diperhatikan baik di dalam kehidupan keluarga maupun dalam konteks pendidikan
di sekolah. Peran orang tua dan keluarga di rumah merupakan peran primer dalam
mendidik anak-anaknya. Peran guru di sekolah sangat penting dalam memfasilitasi
terjadinya proses pendidikan dan pembelajaran yang memerdekakan siswa.
Penerapan Prinsip pembelejaran yang memerdekakan
Penerapan prinsip pembelajaran memerdekakan dapat menghantarkan peserta didik
menjadi generasi yang bebas dari tekanan dan tuntutan. Prinsip pendidikan yang
memerdekakan yaitu:
• Memperhatikan kondisi murid.
Murid adalah individu yang memiliki potensi bawaan. Potensi tersebut berbeda antara
satu dengan yang lainnya. Guru harus memperhatikan hal tersebut, kemudian
menuntunnya dengan cara-cara yang baik.
• Menuntun terciptanya kondisi pembelajaran sepanjang hayat.
Kesadaran bahwa belajar merupakan kebutuhan harus dibangun dari dalam diri
murid.
• Pembelajaran yang Holistik.
Pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan perkembangan ilmu dan karakter
siswa secara holistik.
• Relevan.
Pendidikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan peserta didik sesuai dengan
konteks daerah, budaya, dengan melibatkan orang tua dan masyarakat sebagai mitra.
• Berkelanjutan.
Pembelajaran dirancang dan diterapkan dengan berorientasi masa depan, masa
dimana murid menghadapi suasana kehidupannya.
Untuk mewujudkan pendidikan yang memerdekakan, guru harus meninggalkan pemikiran-pemikiran
sebagai berikut:.
• Menganggap bahwa dirinya tidak mampu bekerja dan berkarya.
• Tidak mau menghadapi tantangan baru sehingga tidak melahirkan karya.
• Berpikir bahwa siswa nakal, tidak disiplin, tidak memilki kecakapan dll, pikiran seperti ini tersebut
harus dihapus dari mindset kita guru.
• Murid harus mengikuti kemauan guru. Gaya ini adalah gaya pembelajaran zaman kolonial. Harus
ditinggalkan.
• Orang tua tidak memiliki perhatian terhadap pendidikan anaknya. Saya sering menemukan
percakapan lisan yang sering muncul dari rekan-rekan guru maka perlu hindari berpikir demikian
• Tidak menguasai cara mengoperasikan teknologi. Sebagaian guru sering mengeluh tentang hal seperti
ini, oleh kaena itu perlu cari solusi, pasti bisa melakukannya. Zaman digital mengharuskan kita banyak
belajar.
Proses pendidikan, apa pun bentuknya, , harus didasari dengan cinta kasih. Cinta kasih
menjadi landasan utama dalam mendidik dan barangkali kata-kata Dorothy menjadi
kata kunci proses pendampingan anak-anak didik.
Ijinkan saya menyampaikan kutipan Kata-kata bijak Dorothy Law sebagai refleksi bagi
kita ketedepan
Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, Ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, Ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, Ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,Ia belajar menemukan
cinta dalam kehidupan
Kata-kata bijak Dorothy ini mengingatkan kita bahwa belajar bukan semata-mata
menyerap ilmu pengetahuan tetapi dalam konteks yang lebih luas, pendidikan
berupaya untuk memanusiakan manusia.