The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by feb2002intan, 2022-05-25 06:25:59

BDAERAH UTS

BDAERAH UTS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO PROGRAM S1 PGSD

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

Ujian Tengah Semester 6 Kelas : 6C
MK. Pengembangan Bahasa Daerah Hari, Tgl :
Nama : Verenica Lakoro

1. Kerjakan soal pada halaman 50,51 bagian I dan II
2. Buat percapakan:

(bahasa Gorontalo/bahasa daerah lain) memilih judul “Po’o toli anga
Mongodula’a, “Bertani Sukses”, “Meraih Gelar Sarjana Pendidikan”.
3. Kerjakan soal pada halaman 101 poin 12.6.2, 12.6.3, 12.6.4
4. Kemukakan:
a. Jenis kesenian Gorontalo/daerah lainnya
b. Benda-benda peninggalan
c. Tempat-tempat atau bangunan bersejarah
d. Tokoh-tokoh pejuang daerah
5. Tulislah beberapa kalimat:
a. Tuja’i aspek adat penyambutan tamu terhadap tokoh masyarakat yang

bereputasi nasional bahkan internasional
b. Tuja’i aspek adat pemberian gelar atau pulanga terhadap pejabat daerah

yang baru terpilih/diangkat menjadi walikota atau bupati dan gubernur
c. Tuja’i aspek adat perkawinan
d. Tuja’i aspek adat kematian pejabat/mantan atau tokoh agama, pemangku

adat
6. Kemukakan acara persiapan dan pelaksanaan adat tradisional:

a. Isra’ Miraj Nabi Muhammad S.A.W
b. Mandi lemon wanita usai 3 tahun
c. Pembeatan wanita usia remaja
d. Kehamilan pertama bayi dalam kandungan 8 bulan dari istri melalui

perkawinan sah seorang suami
JAWABAN

1. Soal hal 50-51

B S 1. Binde tala tuau lo pilomulo ‘jagung salah satu tanaman’

B SS 2. Udu tala tuau lo bibiahu ‘tikus salah satu peliharaan’

BB S 3. Patodu moolingo lamatio ‘tebu manis rasanya’

BB S 4. Ti maama musi otoliango ‘ibu harus disayangi’

B SS 5. Tala tua’u lo’u deloola ode sikola dee’uyiyo-yito lamari
‘salah satu yang dibawah kesekolah yakni lemari’

Bagian II : Pilihlah jawaban yang paling tepat !
1. Wanu molihu, u deloolo dee uyito-yito : Sabongi ‘sabun’
2. Pakaakasi to depula dee uyito-yito : Pingge ‘piring’
3. Bahagiangi lo wawa’o dee uyito-yito : bahagian badan yakni :
Putongi ‘pipi’
4. Lambi ‘pisang’, Pilomulo ‘tanaman’, Binaatangi ‘binatang’,
Pakaakasi ‘perkakas’
5. Tala tuau lo yilohu ‘salah satu permainan’ : Bali ‘sepak bola’

2. Membuat percakapan
Mo’otapu gara’I sarjana pondidikan
‘Mearih gelar sarjana Pendidikan’
Asar : Halo nada!, woloolo habarimu? Pulitolio ito moduunggaya
teeamai
Nada : Halo asar!, alhamdulillah mopiohu. Wonu yi’o woloolo habari?
Asar : alhamdulillah mopiohu olo, bileheu molati masa tiya ti yi’o sibuki
da’a
Nada : donggo sibuki lo kulia, masa tiya watiya ti mao donggo hemo
susungi skripsi
Asar : Oh, tingoli kuliah lo hama jurusan wolo?
Nada : Jurusan pgsd

Asar : Masya allah, debo sumangati to’u mo’otapu gara’i sarjana
pondidikan aa
Nada : Tandu, odu olo
Asar : Oo’o sama-sama
3. Soal 101
✓ Walao maluo watia sambe dadata lio = anak ayam saya banyak sekali
✓ To lorong watia dalalo lio sambe gaga = di lorong saya jalannya sangat

bagus
✓ Walalatia o oto warna lio melamo = mobil anak saya warna merah
✓ Wau molihu wolo mohihita dei = saya mandi dan menggosok daki
✓ Lambi boitu malolutu wau mamolalahu = pisang itu sudah masak dan

berwarna kuning
- Wau mongilu taluhu to moki
- Amilatia loondo tamotaoa to pasari
- Popiyohe mola boti huali buayi ei
- Limutu hulondalo sambe gaga lio
- Moluladu ito musi pogagaolo, alihu mongarati
• Motao
• Beresi
• Himbulo
• Landhingo
• Molialo
4. Kemukakan:
a. Jenis kesenian daerah gorontalo
- Salah satu kesenian sebagai bagian dari kebudayaan daerah Gorontalo

yang cukup terkenal yaitu musik tradisional Polopalo. Menurut
masyarakat Gorontalo, musik tradisional Polopalo merupakan musik
asli rakyat Gorontalo
b. Benda peninggalan gorontalo
- Koleksi museum popayato koleksi naskah yang ditulis dengan tangan
yang menguraikan suatu peristiwa atau kejadian. Misalkan adalah
sebuah naskah klasik Me’eraji. Sebuah naskah hasil pemikiran orang-

orang Gorontalo terdahulu yang tertulis dengan huruf arab pegon tetapi

dalam bahasa Gorontalo.

c. Tempat atau bangunan bersejarah

Kompleks Benteng Otanaha yang terletak di atas bukit desa Dempe,

Gorontalo merupakan peninggalan bersejarah yang dibangun oleh

Portugis pada abad ke 15. Bangunan yang seluruhnya terdiri dari tiga

buah benteng (Benteng Otanaha, Benteng Otahiya, dan Benteng Ulupahu)

ini dibangun sebagai wujud kerjasama antara Portugis dengan Raja Ilato
yang tengah berkuasa pada tahun 1505 – 1585.

d. Tokoh pejuang daerah
- H. Nani Wartabone, (30 April 1907 – 3 Januari 1986) adalah putra

Gorontalo dan tokoh perjuangan dari provinsi Gorontalo. Ia

dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan

Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2003 tertanggal 6

November 2003. Semasa hidup, ia berorganisasi dan berjuang

melawan kolonialisme di daerahnya pada masa perjuangan

kemerdekaan. Ia mulai berjuang dengan mendirikan dan menjadi

sekretaris Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923. Lima tahun

kemudian, ia menjadi Ketua PNI Cabang Gorontalo

- Han Bague Jassin

- Djalaludin Tantu

- Jusuf Sjarif Badudu
5. Tuja’i aspek adat penyambutan tamu terhadap tokoh masyarakat yang

bereputasi nasional bahkan internasional:

Banta tupalayi Tuanku masuklah

Taluhu huwa buluwa Seperti air dalam tabung

Malo liyatuwa Telah bersatu padu

Lo tulayi lo popalo Silakan masuk

To delomo lintalo Di dalam negeri
Bo’odelo tima ipitalo Laksana timah dibersihkan
Bo’odelo pini bubo’alo Laksana kapas dicuci
Bo’odelo tomula popalo Laksana bambu menguning

Bo’odelo hulawa putalo Laksana emas murni

Tuja’i aspek adat pemberian gelar atau pulanga terhadap pejabat

daerah yang baru terpilih/diangkat menjadi walikota atau bupati dan

gubernur :

Huta, huta lo ito Eeya
Tulu, tulu lo ito Eeya
Dupoto, dupoto lo itu Eeya
Taluhu, taluhu lo ito Eeya
Tawu, tawu lo itu Eeya
Boo itu Eeya dilo poluli hilawo

Tanah , tanah milik tuanku
Api, api milik tuanku
Angin, angin milik tuanku
Air, air milik tuanku
Rakyat, rakyat milik tuanku
Tapi tuanku jangan sewenang-wenang

Tuja’i aspek adat perkawinan
Wombu pulu lo hunggiya (Kalian anak para pembesar daerah ini)
Malo to dulahe botiya (Pada hari ini)
Malo popohuliya (Akan dikenakan)
Aadati lo lipu botiya (Adat yang berlaku disini)
Tombuluwo ti didiya (Diagungkan dan dihormati)
Lo uyito lo utiya (Dengan adat yang berlaku sana sini)
Pu’ade ma losadiya (Pelaminan telah disiapkan)
Wolo wombu muliya (Bagi kalian yang dimuliakan)

Tuja’i aspek adat kematian
Utiya taluhu ngotululu (ini air yang dikhususkan)
Tilime mayi to hulu (diambil dari sumbernya)
Duawu umokabulu (didoakan terkabul)
Mo’ otinelo kubulu (menjadi cahaya dalam kubur)

Siraman oleh pelaksana (tonggota) dengan membaca tuja’i:
Bolo duawo to Allah (didoakan kepada Allah)
Wolo nabi mursalah (dengan nabi yang utama)

Ambungu liyo totala (diampuni kesalahan)
Banga liyo to dada (diterangi jalan)
Ode otutuwawu lo Allah (ke hadirat Allah yang tunggal)
Siraman air oleh yang berduka dengan membaca tuja’i:
Bolo duawo to rasulu (didoakan dengan syahadat rasul)
Wolo rabbun gafur (dengan maha pengampun)
Oponuliyo to nuru (dikaruniai cahaya)
Oitinelo kuburu (untuk menerangi kubur)
6. Persiapan adat tradisional
a. Isra miraj Nabi Muhammad SAW
Tradisi perayaan Isra Mi’Raj masyarakat Gorontalo dilaksanakan dalam
2 (dua bentuk, yakni secara nasional dan tradisional, masing-masing
dapat diuraikan berikut ini:
➢ Isra mi’raj secara nasional
Tradisi perayaan Mo Me’ raji di Gorontalo yang dilaksanakan secara
nasional kebanyakan dilakukan oleh Institusi pemerintahan dan
kemasyarakatan sedangkan di masjid dan di rumah-rumah hanya
sebagian golongan jamaah atau keluarga yang melaksanakan acara tradisi
ini. Bentuk susunan acaranya tradisi perayaan Isra mi’raj secara nasional
seperti yang di jelaskan oleh Abdul Wahab Lihu meliputi: Pembukaan,
Pembacaa Kalam Allah, Hikmah’ Me’raj, Sambutan-sambutan, Doa, dan
Penutup
Inti dari tradisi perayaan Isra mi’raj secara nasional ini menurut
Suwandi Kaiha bahwa: Dalam ceramah hikmah Isra dan mi’raj secara
nasional intinya adalah menjelaskan perjalanan Rasulullah s.a.w. sewaktu
melaksanakan Isra diperjalankan Allah SWT dari Mekkah ke Yastrib
(Madina) sampai ke Palestina melaksanakan shalat di rakaat di Masjidil
Aqsa dan di Mi’rajkan Allah sampai ke sidratul muntaha untuk menerima
perintah shalat dari Allah SWT, Ceramah ini lebih menguatkan ajakan
para jaamaah yang mendengar hikmah untuk selalu memelihara shalat
dan ibadah-ibadah lainnya.
➢ Isra mi’raj secara tradisional

Perayaan Isra mi’raj yang dilaksanakan secara tradisional oleh
masyarakat Gorontalo mempunyai siar tersendiri untuk mengingat
kembali perjalan Rasulullah s.a.w., yang oleh Atho Mudzhar dipandang
bahwa kegiatan semacam ini dikategorikan sebuah budaya Islam lokal
yang syarat dengan simbol-simbol dan penjabaran naskah-naskah tua
budaya keagamaan.

Acara tradisional dengan membaca kitab klasik yang lahir dari
pemikiran dan kreativitas orang orang Gorontalo terdahulu sebagai hasil
budaya cipta yang secara substantif memuat tulisan tentang ajaran Islam
yang kandungan (Sifattun Nabiyyun Muhammad saw (sifat sifat nabi
Muhammad saw), Memuat konsep Isi me’raji (Perjalanan Rasulullah
s.a.w., melaksanakan Isra mi’raj) dan konsep wafati (cerita wafatnya
Nabi Muhammad saw) sekaligus doa keselamatan manusia di dunia dan
akhirat. Hal ini menujukkan syiar Islam yang di jabarkan dalam seremoni
(acara) dengan dimensi waktu di setiap bulan rajab dilaksanakan secara
meriah perayaan Isra mi’raj bagi masyarakat Gorontalo. Setelah acara
ceramah (hikmah Isra mi’raj) dilanjutkan secara tradisional dengan
membaca naskah yang diselesaikan sepertiga malam sama dengan
perjalan Nabi Muhammad s.a.w., sewaktu melaksanakan Isra mi’raj. Hal
ini disamping menceritakan (wungguli) sejarah perjalanan Rasulullah
s.a.w., melaksanakan Isra mi’raj juga sebagai pengingat atau tanda agar
masyarakat Gorontalo segera membenahi diri untuk persiapan menjalani
ibadah puasa ramadhan.

Menurut H. Djafar Lanur, bahwa pelaksanaan secara tradisional
dimulai setelah pelaksanaan shalat Isya bisanya dimulai pada jam 21.00
waktu setempat, biasanya para Syrada’a atau lebi berjumlah antara 3
sampai 5 orang secara bergantian membaca naskah Isra mi’raj yang
tertulis dengan aksara arab (pegon/kawi) tetapi terbacakan dengan bahasa
Gorontalo. Tradisi Perayaan secara tradisional ini dilengkapi dengan
perangkat :
1) Polutube (tempat pembakaran kemenyan)
2) Alama (kemenyan),

3) Selembar Kain Putih yang diletakkan di kepala,
4) Meja kecil untuk dan kursi untuk para Syarada’a atau Lebi membaca

naskah,
5) Membaca naskah Isra mi’raj secara adat harus menghadap ketimur,
6) Dilengkapi dengan bubur ayam
b. Mandi lemon wanita usia 3 tahun

Khitan anak perempuan bagi masyarakat Gorontalo merupakan
pembersihan diri sang anak yang dilaksanakan secara utuh oleh adat.
Pensucian diri sang anak yang dilaksanakan secara utuh oleh Syariat Islam,
lahir dan batin yang dilaksanakan oleh bidan kampung(hulango).
Untuk atribut adat/benda budaya yang disiapkan pada pelaksanaan mandi
ramuan air limau terdiri dari:

• Taluhuyilonuwa (air ramuan limau purut) dengan ramuan antara
lain:kulit limau purut diiris halus, tujuh buah limau purut yang dipotong
dua tapi tidak diremas, irisan dari tujuh macam daun puring, ramuan
wangi yang ditumbuk halus yang dalam bahasa Gorontalo disebut
yilonta, daun onumo, sejenis mayana tetapi hijau dan harum, bunga
melati yang disebut bunga moputi.

• Tujuh buah perian bambookuning, yang ditutup dengandaun puring dan
berisi air serta kepingan logam bernilai Rp.100, dahulu 10 sen.

• Bulowe,(upik pinang, setangkai yang masih tertutup dan yang setangkai
sudah mekar) Bulowe, yang sudah mekar digantungkan ditempat duduk
sang ibu bersama anaknya saat dimandikan.

• Telur ayam kampung yang masih baru satu butir.
• Dudangata, (cukuran kelapa yang dijadikan tempat duduk dari ibu dan

bayinya).
• Hulante,(seperangkat baki yang berisi beras tujuh mangkok telur tujuh

butir, tujuh buah pala dan cengkih serta tujuh keepinguang logam
senilaiRp.100,-
• Satu piring alawahutilihi (kunyit diparut halus yang dicampur kapur
sirih) dan dioleskan pada dahi, leher, tenggorokan, bahu dan lekukan
tangan dan kaki.

• Seperangkat baki berisi gelas yang didalamnya terdapat sumbu kecil
untuk dinyalakan yang disebut tohetutu,dan lima mangkuk beras
berwarna yang disebut paleyilulo.

Dalam proses pelaksanaan Mongubingo (khitan) atribut adat/benda budaya
yang disiapkan adalah:

• Alumbumoputi’o (kain dua meter,untuk menutupi kepala anak saat
dikhitan)

• Seperangkat alat khitan diletakkan diatas baki, yang beralaskan kain
putih, yaitu pisau kecil, yinulamonu (ramun minyak wangi)
Dalam proses pelaksanaan mongubingo (khitan perempuan) yang

diawali dengan mopolihulolimu (mandi air limau purut), sehari sebelumnya
telah dipersiapkan perlengkapan (benda-benda budaya) yang diperlukan
sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Sebelum prosesi acara mopolihulolimu
dan mongubingo diawali dengan pengajian dan selawat yang dilaksanakan
oleh seorang imam, dalam bahasa daerah disebut hatibi. Setelah acara
pengajian dan selawat dilanjutkan dengan acara adat momonto (menitikkan
kunyit dicampur kapur sirih) kepadasang anak dan kedua orang tuanya.
Setelah acara moment, ibu dan sang anak dibawa ke tempat acara mopolihu
lo limu.

Ibu dan sang anak didudukkan dicukuran kelapa menghadap kearah
timur. Siraman pertama oleh ibunya yang diwakilkan pada neneknya,
apabila yang memangku anak itu adalah ibunya. Siraman berikutnya oleh
ayahnya, keduannya mengambil air dari loyang ramuan. Siraman
selanjutnya dilakukan oleh pemangku adat atau imam, dari perian
bambookuning, yakni dari perian pertama. Siraman perian kedua sampai
perian ketujuh dilakukan oleh hulango (bidan kampung), jika masih
lengkap kakek dan neneknya, baik pihak ibu maupun ayahnya, maka
berhak menyiramkan air perian-perian tersebut. Selesai mandi sang anak
dipakaikan busana adat, baju panjang berhiaskan kembang-kembang emas,
dan kepalanya memakai ikat kepala, siap untuk dikhitan. Saat pelaksanaan
mongubingo (khitan perempuan) bidan kampongmenutup dirinya dengan

dengan alumbumoputi’o (kainputih), selanjutnya sang anak dilumuri dengan
yinulamonu (ramuan minyak wangi) sebagai tanda selesai dikhitan. Acara
dilanjutkan dengan doa syukuranyang dibawakan oleh imam. Setelah acara
doa dilanjutkan dengan santap siang bersama dan minum kopi/teh, maka
seluruh rangkaian acara khitan perempuan selesai dilaksanakan.

c. Pembeatan wanita usia remaja
Mome’ati (membe’at) dalah suatu keharusan syareat Islam, yang

merupakan perjanjian/ Ikrar, dengan inti pengucapan Kalimat Syahadat,
melaksanakan rukun Islam dan rukun Iman secara utuh, sebagai seorang
muslim, mulai dari timbul kedewasaan.Sebagai kewajiban kaum muslim,
mulai dari timbul tanda kedewasaannya (haid), untuk menata diri lahir dan
batin, dengan pengetahuan pembersihan diri, dan penjagaan kesucian
dirinya dalam kehidupannya.

➢ Pelaksanaan
1) Hulango (bidan kampung) yang telah ditunjuk sebagai pelaksana acara,

dan dibantu oleh pembimbing (seorang ibu yang berpengalaman dalam
tata acara adat momeati), dan telah memenuhi persyaratan:beragama
islam, mengatahui urutan tata cara tahapan kegiatan, mengetahui
ramuan-ramuan tradisionaldan mengetahui lafal-lafal yang telah
diturunkan oleh para leluhur dalam pelaksanaannya dari awal kegiatan,
sampai pada acara mome’ati dan mohatamu serta diiakui masyarakat
sebagai bidan kampong
2) Pemangku adat, yang diberikan tanggung jawab atas kelangsungan acara.
3) Pegawai syara’ (imam dan hatibi)
4) Pekerja-pekerja yang mempersiapkan perlengkapan benda-benda budaya
yang diperlukan.
5) Penata busana adat.
➢ Pesiapan dan Pelaksanaan
1) Seminggu sebelum acara mome’ati dan mohatamu, diadakan kegiatan
molungudu. Molungudu dapat diartikan mandi uap dengan ramuan

tradisional. Setiap pagi dan sore, anak gadis yang dibe’at, dibimbing
melaksanakan mandi uap setelah itu Jamu Mato lo umonu, kemudian
dibedaki. Sesudah dibedaki kemudian mengasapi badannya dengan asap
totabu (dupa), di kamarnya, atau Huwali lo wadaka.
2) Sebelum acara momonto, anak gadis itu selesai molungudu, ia mandi
biasa, dengan memakai kebaya/blus panjang, diadakan acara momonto,
pelaksanaannyadi Huwali lo wdaka, dan dilaksanakan oleh hulango.
Acara momonto itu dilaksanakan pada hari H, yaitu pada hari
pembe’atan.
3) Selesai acara momonto, anak gadis itu mengganti pakaiannya dengan
batik Tunggohu yang diikatkan sebatas dada, atau di atas payudaranya,
lalu dibimbing oleh hulango dan pembantunya ketempat yang disiapkan
untuk acara momuhuto.
4) Sebagai tempat duduk dari anak gadis yang disiram dengan air kembang,
adalah dudangata (kukuran kelapa), menghadap ke timur, di bawah
gantungan bulewe yang sudah mekar, dan dibajagian belakang ada
tumula dan tumbuhan tebu (patodu), serta pisan masak yang dipegang
orang. Siraman iar melalui celah-celah mekaran bulewe yang
tergantung di atas kepala dari anak gadis tersebut
5) Siraman pertama, yang diambil dari Loyang taluhu yilonuwa, yaitu
ibunya baru ayahnya, tanpa tuja’i cukup denga
Bismillahirrahmanirrahim, lalu dilanjutkan dengan pemangku adat,
dengan menggunakan ke tujuh perin bamboo kuning, dengan tuja’i.
6) Selesai penyiraman air dari ketujuh perian bambu kuning, dilanjutkan
dengan pembelahan bulewe hu’u-hu’umo (upik pinang), yang dilakukan
oleh hulango atau ibu pembimbing , dengan telapak tangan kanan
terbuka, kemudian mengeluarkan bahagian isinya, lalu diremas dan
digosokkan pada kedua telapak tangan si anak gadis, dan bagian-bagian
tertentu pada badannya.
7) Dilanjutkan dengan memecahkan telur ayam kampung, ketelapak tangan
sang gadis. Pada kuning telur itu, Nampak ada pada bintik putih yang
disebut mata telur, yang diteliti oleh hulango, yakni bintik putih itu, agak

ketengah, maka jodoh sang gadis itu masih dalam lingkungan keluarga
tetapi jika, kepinggirannya, maka jodohnya akan mendapat orang yang
jauh atau “Tawu ngopohiya” artinya bukan dari lingkungan keluarga.
8) Kuning telur itu, disalin dari telapak tangan kanan ketelapak kiri,
demikian seterusnya sampai kuning telur itu cair. Setelah cair, kuning
telur itu diminum oleh anak gadis, sampai habis.
9) Acara mandi dilanjutkan dengan mandi air kembang di Loyang,
menggosok badan dengan ramuan lulur tradisional, kemudian
membilasnya dengan air biasa. Selesailah acara momuhuto.
10) Selesai mandi , anak gadis tersebut masuk ke Huwali lo wadaka, untuk

bersalin baju dengan busana adat Wolimomo, menantikan acara
Mopohuta’a to pingge. Tempat duduknya, di pinggiran ranjang kula-
kulambu lo adati
11) Anak gadis dijemput oleh pemangku adat (sementara duduku) dengan
tuja’i Momudu’o.
12) Dilanjutkan dengan anak gadis berdiri dan hendak keluar kamar dengan
tujai Mopodiyambango.
Di depan pintu keluar, anak gadis berhenti, dilanjutkan dengan tuja’I
Mopoluwalo.Selesai tuja’i maka sang anak gadis melangkah keluar dari
kamar, sebelum melangkah selanjutnya, didahului dengan tuja’i
Mopontalengo. Di depan piring-piring yang berjejer sampai ke pu’ade
lo be’ati sang anak gadis itu berhenti, dan dengan dibimbing oleh
Hulango atau ibu pembimbingnya, menginjakkan kakinya di atas
piring, didahului dengan kaki kanan, kemudian kaki kiri, dihantar
dengan tuja’i Mopontalengo. Acara dilanjutkan dengan Mopohuta’o di
mana anak gadis mulai menginjakkan kakinya di atas piring, lalu setiap
piring ia berputar tiga kali, diiringi tuja’i Mopohuta’o.Selesai acara
mopohuta’o to pingge, maka dipersilahkan sang anak gadis menuju
Pu’ade lo be’ati, sebelum melangkah dihantar dengan tujai
Mopontalengo.Di depan pu’ade lo be’ati, anak gadis itu berhenti untuk
duduk dihantar dengan tuja’i mopohulo’o.

13) Pemangku adat mopoma’lumu, bahwa acar pembeataan akan dimulai .
seperangkat polutube disiapkan di depan Bapak imam atau kadhi.
Setelah itu bapak imam atau kadhi mengambil temapt di depan sang
anak gadis yang akan dibe’at. Melalui selendang yang menghubungkan
antara tangan Imam/kadhi dengan tangan anak gadis yang akan dibe’at.

14) Dengan mengepulnya asap totabu (dupa), maka dimulailah
Mukaddimah Bayiar (be’at), dengan sanjungan kepada Allah SWT
kemudian dasar firman dan hadist serta inti adalah pengucapan kallimat
syahadat.Hal-hal yang ditanamlan pada acara be’at tersebut untuk
kehidupan anak sang gadis adalah:
• Bagaimana sikapnya sebagai umat muslim terhadap Islam
agamanya, atau mengimaninya.
• Bagaimana sikapnya sebagai umat muslim dalam mengamalkan
islam.
• Bagaimanan sikapnya mendakwakan islam itu, dalam lingkungan
pergaulan.
• Bagaimana menata dirinya sebagai muslim yang taat akan adat dan
syare’at islam.

15) Selesai acara pembe’atan, maka dilanjutkan dengan mohatamu. Bagi
sang gadis yang akan mengganti pakaiannya dengan busana adat
pasanga maka diperkenankan untuk kembali ke huwali lo wadaka
(kamar rias). Dan bagi yang tetap memakai walimomo, maka ia masih
tetap duduk pada pu’ade menunggu acara mohatamu (Khatam Qur’an).

16) Acara mohatamu diawali dengan pemangku adat mopoma’lumu, atau
memberitahukan secara adat kepada Bubato yang hadir, bahwa
Mohatamu akan dimulai. Acara Mohatamu dimulai.

17) Pemangku adat Mopoma’lumu, bahwa seluruh rangkaiakn acara
selesai.

18) Mongadi (membubarkan) persidangan adat oleh pemangku adat.
d. Upacara adat molonthalo

Penyelenggaraan upacara molonthalo atau tondhalo (bahasa Gorontalo)
atau raba puru (bahasa Manado) diadakan ketika usia kandungan seseorang

telah mencapai tujuh bulan. Tujuan dari diadakannya upacara ini adalah
sebagai pernyataan dari pihak keluarga suami bahwa kehamilan pertama
adalah harapan yang terpenuhi akan kelanjutan keturunan dari perkawinan
yang sah. Selain itu juga sebagai pernyataan atau maklumat kepada pihak
keluarga suami bahwa sang isteri benar-benar suci ketika belum menikah.

Sebagai catatan, upacara masa kehamilan yang disebut
sebagai molonthalo ini diadakan hanya pada saat seorang perempuan
mengalami masa kehamilan untuk yang pertama kalinya.

Pemimpin dalam upacara molonthalo adalah seorang dukun bayi atau
bidan kampung yang biasa disebut Hulango yang beragama Islam,
mengetahui seluk beluk umur kandungan, mengetahui urut-urutan
upacara molonthalo, hafal bacaan-bacaan dalam upacara, dan telah diakui
oleh masyarakat setempat.

Adapun pihak-pihak lain yang terlibat dalam penyelenggaraan upacara
adalah: (1) para kerabat dari pihak suami; (2) imam kampung atau Hatibi;
(3) dua orang anak (laki dan perempuan) berusia 7-9 tahun yang masih
memiliki orang tua (payu lo hulonthalo); (4) tiga orang ibu yang dianggap
dari keluarga sakinah; dan (5) warga masyarakat lainnya yang membantu
menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.

➢ Peralatan upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam
upacara molonthalo adalah: (1) hulante yang berbentuk seperangkat
bahan diatas baki, terdiri dari beras secupak (3 liter), 7 buah pala, 7 buah
cengkeh, 7 buah limututu (lemon sowanggi), 7 buah mata uang yang
bernilai Rp.100,00; (2) peralatan pembakaran dupa, terdiri
dari: tetabu (dupa), 1 buah polutube (pedupaan), baskom tempat tetabu,
dan segelas air masak; (3) botu pongi’ila atau batu gosok. Botu
pongi’ila nantinya akan digunakan untuk mengikis kunyit. yang
dicampur sedikit kapur dan air dingin; (4) toyopo (wadah dari daun
kelapa muda) yang di dalamnya berisi nasi kuning, telur rebus, ayam

goreng, lutu tahulumito (pisang raja) atau lutu lo hulonti’o (pisang gapi)
dan kuih-muih (wapili, kolombengi, apangi); (5) pomama (tempat sirih
pinang), tambaluda atau hukede; (6) sebuah baki yang di dalamnya
terdiri dari sepiring bilinti (sejenis nasi goreng yang dicampur dengan
hati ayam), dua buah baskom tempat cuci tangan, dua buah sendok
makan, dan ayam goreng yang di dalam perutnya dimasukkan sebutir
telur rebus; (7) tiladu tula-tula pidu (daun silar berkeping tiga) yang
lebarnya seukuran perut sang ibu yang hamil; (8) bulewe atau upik
pinang (malo ngo’alo); (9) buawu huli (tempurung kelapa yang tidak
bermata); (10) pale yilulo yaitu beras yang diberi warna merah, kuning,
hijau, hitam, dan putih; (11) sebuah tikar putih (amongo peya-peya atau
ti’oho) yang terbungkus (bolu-bolu). Tikar ini nantinya akan difungsikan
sebagai tirai untuk menutupi pintu (pode-podehu). Di balik tirai akan
duduk seorang ibu yang meneruskan pertanyaan dari syara’
(hatibi atau syarada’a atau imam yang bertugas membacakan doa) pada
Hulango (bidan kampung atau dukun bayi); dan (12) sebilah keris beserta
warangkanya

➢ Pelaksanaan upacara
Ketika masa kehamilannya telah mencapai tujuh bulan, maka

keluarganya akan menghubungi Hulango untuk memberitahukan dan
sekaligus memintanya menjadi pemimpin upacara molonthalo. Selain itu,
pihak keluarga juga menyampaikan undangan kepada para kerabat dan
tetangga terdekat untuk ikut menghadiri upacara.

Pada hari yang telah ditentukan dan semua peserta upacara telah
berkumpul di rumah perempuan yang diupacarakan, maka upacara pun
dilaksanakan. Upacara diawali dengan pemberian tanda dengan alawahu
tilihi oleh hulango pada dahi, leher, bahu, lekukan tangan, bagian atas
telapak kaki, dan bawah lutut perempuan yang diupacarakan. Tujuannya
adalah sebagai ungkapan bahwa sang calon ibu tersebut akan
meninggalkan sifat-sifat mazmunah-nya (tercela) ketika membesarkan
dan mendidik anaknya nanti.

Selanjutnya, ia dibaringkan di atas sebuah tikar putih dengan kepala
menghadap ke arah timur dan kaki ke barat. Pada bagian kepala
diletakkan sebuah bantal yang selalu dipegangi oleh seorang ibu.
Sedangkan bagian kaki juga dijaga oleh seorang ibu lainnya sambil
memegang lututnya agar posisinya terlipat ke atas.

Selain dua orang ibu yang menjaga bagian kepala dan kaki, terdapat
juga dua orang anak (laki dan perempuan) berusia 7-9 tahun yang masih
memiliki orang tua (payu lo hulontalo). Mereka duduk di sebelah kiri
dan kanan sambil meletakkan tangan tepat di atas ikat pinggang janur
berkepala tiga yang dikenakan si perempuan hamil. Sebagai catatan,
selain ikat pinggang janur berkepala tiga, si perempuan hamil juga
memakai busana khusus, yaitu waliomomo dengan konde memakai sunti
yang terdiri dari 1 hingga 7 buah tangkai, bergantung dari status
sosialnya dalam masyarakat. 1 tangkai untuk golongan orang
kebanyakan, 3 tangkai untuk golongan isteri wuleya lo lipu (camat), 5
tangkai untuk isteri jogugu/wakil bupati/wakil walikota, dan 7 tangkai
untuk Mbui, isteri raja/bupati/walikota.

Usai dibaringkan, syara’ atau imam kampung atau hatibi
menanyakan pada ibu yang memegang talante bula (tikar terbungkus
kain yang digunakan sebagai tirai penutup pintu kamar), dengan
perkataan “Ma mongola hula?” yang artinya “Sudah berapa bulan?”.
Pertanyaan ini segera diteruskan pada hulango yang segera menjawabnya
dengan kalimat “Oyinta oluwo”. Jawaban hulango diteruskan lagi oleh
ibu penjaga tirai pada syara’ dengan suara yang agak keras. Hal ini
berlangsung sebanyak tiga kali.

Setelah acara tanya-jawab selesai, sang suami segera masuk ke
dalam kamar isterinya lalu melangkahi perutnya sebanyak tiga kali.
Selesai melangkahi perut isterinya, sang suami lalu menghunus keris
untuk memotong anyaman silar yang telah disediakan. Potongan
anyaman silar tersebut lalu dibawanya keluar mengelilingi rumah
sebanyak satu kali, kemudian dibuang agak jauh dari rumah. Tujuan dari

kegiatan ini adalah agar sang bayi lahir dengan selamat dan setelah
dewasa akan memegang teguh adat, syara’, dan baala sebagai pedoman
hidupnya dalam bermasyarakat.

Setelah itu sang suami kembali masuk ke rumah dan duduk
berhadapan dengan isterinya untuk acara saling menyuapi dengan
seperangkat makanan dalam baki yang terdiri dari nasi bilinthi dan ayam
goreng. Sebelum acara saling menyuapi berlangsung yang juga sebagai
lambang kasih sayang serta adanya hak dan kewajiban dari siami-isteri,
terlebih dahulu sang suami akan mengeluarkan telur yang telah
dimasukkan dalam perut ayam goreng. Telur yang keluar dari tubuh
ayam goreng tersebut bermakna agar sang isteri diberi kemudahan ketika
melahirkan bayinya.

Selesai prosesi saling menyuapi, acara dilanjutkan dengan
pembacaan doa dan shalawat yang dipimpin oleh hatibi. Kemudian, sang
suami dan isterinya akan dimandikan oleh hulango dengan air yang telah
dicampur dengan berbagai macam bunga dan ramuan.

Acara lalu diakhiri dengan makan bersama diantara peserta upacara
dengan hidangan berupa kue tradisional khas Gorontalo. Dan sebelum
para peserta upacara pulang, sang suami memberikan pala’u (sedekah
sesuai keikhlasan hati) kepada hulango, hatibi, tiga orang ibu (penjaga
kepala, kaki dan tirai), serta dua orang anak yang ikut menjaga
perempuan yang sedang diupacarakan. Dengan berakhirnya tahap
pemberian pala’u ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara molonthalo.


Click to View FlipBook Version