Kata Pengantar
Puji syukur panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nya, dapat
menyelesaikan penulisan pengembangan bahan ajar
dengan judul “Cerpen Bermuatan Kearifan Lokal
dengan Metode Estafet Writing”. Penyusunan bahan
ajar penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai
dengan kemampuan penulis. Namun sebagai manusia
biasa, penulis tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan
baik dari segi teknik penulisan maupun tata bahasa.
Penulis menyadari tanpa arahan dari Dosen
pembimbing I Dr. Nazla Maharani Umaya, M.Hum.,
dan Dr. Harjito, M.Hum., selaku pembimbing II yang
telah membimbing dalam penyusunan bahan ajar ini,
serta masukan-masukan dari berbagai pihak tidak
mungkin penulis bisa menyelesaikan tugas sedemikian
rupa semata-mata untuk membangkitkan kembali
minat baca peserta didik dan sebagai motivasi dalam
berkarya khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Untuk itu penulis hanya bisa menyampaikan ucapan
terima kasih kepada semua pihak yang terlibat,
sehingga bisa menyelesaikan bahan ajar yang berjudul
“Cerpen Bermuatan Kearifan Lokal dengan Metode
Estafet Writing”.
Semarang, Agustus 2022
Peyusun,
i
Daftar Isi
KATA PENGANTAR.............................................. i
DAFTAR ISI ............................................................ ii
KOMPETENSI INTI DAN DASAR........................ iii
BAB I Cerpen ......................................................... 1
A. Pengertian Cerpen ................................. 1
B. Ciri-ciri Cerpen ..................................... 2
C. Struktur Cerpen ..................................... 4
D. Unsur Pembangun Cerpen .................... 7
Latihan 1 ..................................................... 11
BAB II Cerpen Kearifan Lokal................................ 27
Latihan 2 .................................................... 35
BAB III Menulis Cerpen dengan Metode Estafet ... 37
Latihan 3 ..................................................... 39
DAFTAR PUSTAKA .............................................. 43
ii
Kompetensi Inti dan Dasar
A. Komptensi Inti
K1 Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
K2 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun,
responsif, dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
K3 Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan
faktual, konseptual, cerita pendekal, dan metakognitif
berdasarkan rasaingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan cerita pendekal pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah
K4 Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan
ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara
efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan
iii
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian
Kompetensi
Kompetensi Dasar 4.6.1 Indikator
4.6.2
4.6 Mengungkapkan Merancang
pengalaman dan pengalaman dan
gagasan dalam gagasan dalam
bentuk cerita bentuk cerita
pendek dengan pendek dengan
memperhatikan memperhatikan
struktur dan struktur dan
kebahasaan. kebahasaan
Memproduksi
pengalaman dan
gagasan dalam
bentuk cerita
pendek dengan
memperhatikan
struktur dan
kebahasaan
iv
BAB CERPEN
I
Sejak kecil, kamu pernah membaca cerita-cerita
pendek mengenai putri dan pangeran, nggak? Semua
cerita itu sangat seru dan membekas di ingatan
sebagian besar orang hingga sekarang. Yap, cerita
pendek atau cerpen memang seperti memiliki magic
yang membuat kita sulit lupa. Tapi, tahukah kamu apa
itu cerpen? Lalu, cerita seperti apa yang dapat kita
katakan sebagai cerpen? Nah, supaya nggak bingung,
simak pengertian, struktur, beserta contoh cerpen
singkat dan menarik berikut ini!
A. Pengertian Cerpen
Sumber: orangpemalang.blogspot.com
Cerpen menurut H.B Jassin cerita yang pendek
(dalam Ratna, dkk., 2018:1). Lebih lanjut
mengungkapkan bahwa tentang cerita pendek ini orang
boleh bertengkar, tetapi cerita yang seratus halaman
1
panjangnya sudah tentu tidak disebut cerita pendek dan
memang tidak ada cerita pendek yang demikian
panjang. Cerita yang panjangnya sepuluh atau dua
puluh halaman masih bisa disebut cerita pendek tetapi
ada juga cerita pendek yang panjangnya hanya satu
halaman. Cerita pendek adalah salah satu bentuk karya
fiksi yang memperlihatkan sifat serba pendek, baik
peristiwa yang diungkapkan, isi cerita, jumlah pelaku,
dan jumlah kata yang digunakan (Priyatni, 2010:126).
Ukuran pendek dalam cerpen bersifat relatif yaitu
cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk atau
kurang lebih satu jam (Edgar Allan Poe dalam Suyanto,
2012:46). Ukuran pendek ini lebih didasarkan pada
keterbatasan pengembangan unsur-unsurnya karena
cerpen harus memiliki efek tunggal dan tidak kompleks
(Jacob Sumardjo dan Saini K.M dalam Suyanto, 2012:
46).
Hasil paparan definisi cerpen tersebut dapat
disimpulkan bahawa cerpen adalah bentuk karya fiksi
yang selesai dibaca dalam sekali duduk atau kurang
lebih satu jam dan sifat serba pendek, baik peristiwa
yang diungkapkan, isi cerita, jumlah pelaku, dan
jumlah kata yang digunakan.
B. Ciri-ciri Cerpen
Ciri-ciri cerita pendek menurut Nurgiyantoro
(2010:35), sebagai berikut:
2
1. Cerita pendek merupakan cerita pendek yang dapat
dibaca sekali duduk. Kira-kira bekisar antara
setengah hingga dua jam.
2. Cerita pendek menuntut penceritaan yang serba
ringkas tidak sampai pada detail-detail khusus yang
kurang penting yang lebih bersifat memperpanjang
cerita.
3. Plot cerita pendek pada umumnya tunggal, hanya
terdiri dari satu urutan cerita yang diikuti sampai
cerita berakhir (bukan selesai). Karena berplot
tunggal konflik yanga kan dibangun dan klimaks
biasanya bersifat tunggal pila.
4. Cerita pendek hanya berisi satu tema, hal ini
berkaitan dengan plot yang juga tunggal dan pelaku
yang terbatas.
5. Tokoh dalam cerita pendek sangat terbatas, baik
yang menyangkut jumlah ataupun dicita-cita jati diri
tokoh, khususnya yang berkaitan dengan
perwatakan.
6. Cerita pendek tidak memerlukan detail-detail
khusus tentang keadaan latar, misalnya yang
meyangkut keadaan tempat dan latar sosial. Cerita
pendek hanya memerlukan pelukisan secara garis
besar saja asal telah mampu memberikan suasana
tertentu.
7. Dunia imajiner yang ditampilkan cerita pendek
hanya menyangkut salah satu sisi kecil pengalaman
kehidupan saja.
3
Dengan demikian, ciri-ciri cerita pendek yaitu
cerita yang ringkas, pendek baik dari segi unsur
pembangunnya maupun dari segi penceritaanya
0
C. Struktur Teks Cerpen
Sebelum melangkah pada pembahasan tentang
cara cerpen, terlebih dahulu calon penulis cerpen harus
berbekalkan pengetahuan tentang struktur cerpen dan
ciri-ciri cerpen. Dua unsur penting yang akan menjadi
refrensi dalam penulisan cerpen yang memenuhi
standar kualitatif.
Sumber: infotegal.com
Pada umumnya struktur cerpen terbagi menjadi
enam bagian (Ahmad, 2016:87), antara lain:
1. Abstrak
Abstrak adalah ringkasan cerita yang dikembangkan
menjadi rangkaian-rangkaian perisitiwa atau
gambaran awal dalam cerita. Abstrak bersifat
4
opsional, yaitu teks cerpen tidak seharusnya
menggunakan abstrak.
2. Orientasi
Orientasi berkaitan dengan waktu, suasana atau
tempat.
3. Komplikasi
Komplikasi berisi urutan kejadian-kejadian yang
dihubungkan berdasarkan sebab-akibat.
4. Evaluasi
Evaluasi merupakan struktur konflik yang
mengarah pada klimaks dan mulai mendapatkan
penyelesaian.
5. Resolusi
Pada bagian ini, penulis mengungkapkan solusi
yang dialami oleh sang tokoh.
6. Koda
Koda merupakan nilai atau pun pelajaran yang dapat
diambil oleh pembaca melalui cerita dalam cerpen.
Struktur cerpen merupakan rangkaian atau jalinan
cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat.
Suherli, dkk (2017:125), membagi rangkaian cerita
menjadi 5 bagian yang terdiri atas (1) Pengenalan
situasi cerita (orientation); (2) Pengungkapan peristiwa
(complication); (3) Menuju adanya konflik (rising
action); (4) Puncak konflik (turning point); (5)
Penyelesaian (ending atau coda).
5
1. Pengenalan situasi cerita (orientation)
Tahap orientasi berisi pengenalan para tokoh,
penataan adegan, dan hubungan antartokoh yang
dilakukan oleh pengarang.
2. Pengungkapan peristiwa (complication)
Tahap komplikasi menyajikan suatu peristiwa di
awal yang menyebabkan timbulnya berbagai
masalah, pertentangan, atau hal-hal kesukaran bagi
para tokohnya.
3. Menuju adanya konflik (rising action)
Pada tahap ini terjadi peningkatan peristiwa yang
mengarah menuju puncak konflik sehingga suasana
atau situasi saat itu semakin gembira, heboh, atau
kesukaran yang dialami tokoh bertambah.
4. Puncak konflik (turning point)
Puncak konflik merupakan tahap cerita yang paling
besar dan mendebarkan / menegangkan. Bagian ini
disebut klimaks. Pada tahap ini akan terlihat
perubahan nasib dari tokoh utama, antara berhasil
atau gagal dalam menyelesaikan masalahnya.
5. Penyelesaian (ending atau coda)
Akhir cerita ini akan dijelaskan oleh pengarang
bagaimana sikap atau nasib yang dialami tokoh
setelah mengalami klimaks.
Dapat disimpulkan bahwa struktur yang ada dalam
teks cerita pendek terdiri atas 6 bagian, yaitu abstrak,
orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, dan koda.
6
D. Unsur Pembangun Cerpen
Sumber: infotegal.com
Sebuah karya sastra dibangun atas unsur-unsur
yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Unsur-
unsur tersebut sangat menentukan keindahan dan
keberhasilan sebuah karya. Tidak terkecuali sebuah
cerpen. Kemenarikan dari sebuah cerpen sangat
tergantung dari unsur-unsur yang terkandung dalam
cerpen tersebut.
Selain ciri-ciri cerita pendek, cerita pendek juga
tersusun atas unsur-unsur pembangun cerita pendek
yang saling berkaitan. Keterkaitan unsur-unsur
pembangun tersebut membentuk kesatuan yang utuh.
Berikut akan dipaparkan pengertian masing-masing
unsur pembangun cerita pendek.
Tomi (2012:16) mengutarakan bahwa unsur-unsur
intrinsik pembangun cerita pendek meliputi : 1) tema,
2) alur, 3) latar, 4) tokoh dan penokohan, 5) sudut
7
pandang, 6) gaya bahasa, dan 7) amanat. Berikut ini
adalah pemaparan mengenai unsur-unsur pembangun
cerpen.
1. Unsur Instrinsik Cerpen
a. Tema
Tema suatu karya sastra imajinatif merupakan
pikiran yang akan ditemui oleh setiap pembaca yang
cermat sebagai akibat membaca karya tersebut.
Tema biasanya suatu komentar mengenai kehidupan
atau orangorang. Tema haruslah dibedakan dari
tesis yang merupakan gagasan logis yang mendasari
setiap esai yang baik. Juga tema harus dibedakan
dari motif, subjek, atau topik. Tema dipergunakan
untuk memberi nama untuk suatu pernyataan atau
pikiran mengenai suatu subjek, motif, tema, atau
topik.
b. Alur
Unsur cerita yang tak kalah pentingnya adalah
alur atau jalan cerita. Menarik atau tidaknya cerita
ditentukan pula oleh penyajian peristiwa demi
peristiwa. Jalinan peristiwa tersebut memiliki
hubungan sebab akibat, sehingga jika salah satu
bagian dihilangkan akan merusak jalannya cerita
tersebut.
c. Latar
Latar atau setting adalah lingkungan fisik
tempat kegiatan berlangsung. Dalam pengertian
yang lebih luas, latar mencangkup tempat dan waktu
dan kondisi psikologis dari semua yang terlibat
8
dalam kegiatan itu. Latar acap kali sangat penting
dalam memberikan sugesti akan ciri-ciri tokoh, dan
menciptakan suasana suatu karya sastra. Semua ini
sering dikembangkan dalam pemberian dan
deskripsi
d. Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah seseorang yang melakukan peran
seperti yang dituliskan oleh pengarang. Tokoh
tersebut biasanya diambil dari kehidupan nyata
sementara penokohan adalah karakter tokoh yaitu
protagonis dan antagonis.
e. Sudut Pandang
Sudut pandang atau pusat pengisahan (point of
view) digunakan untuk menentukan arah pandang
pengarang terhadap peristiwa-peristiawa di dalam
cerita sehingga tercipta suatu kesatuan cerita yang
utuh. Oleh karena itu, sudut pandang pada dasarnya
adalah visi pengarang, dalam arti bahwa Ia
merupakan sudut pandang yang diambil oleh
pengarang untuk melihat peristiwa dan kejadian
dalam cerita.
Sumber: infotegal.com
9
f. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa
oleh pengarang dalam upaya menghasilkan karya
sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa
harus didukung oleh pemilihan kata (diksi) yang
tepat. Gaya merupakan cara mengungkapkan
seseorang yang khas bagi seorang pengarang.
g. Amanat
Amanat adalah merupakan pesan yang ingin
disampaikan pengarang. Amanat dapat disampaikan
secara tersirat (implisit). Melalui tingkah laku tokoh
menjelang cerita berikut. Selain itu, amanat dapat
pula disampaikan secara tersurat (eksplimsit)
melalui seruan, saran, peringatan, anjuran, atau
nasehat, yang disampaikan secara langsung
ditengah cerita.
Sumber: Sonora.id
10
1 Latihan Soal
I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat
pada pilihan A, B, C dan D di bawah ini!
1. Berikut ini yang bukan termasuk struktur teks
cerpen adalah…
A. resolusi C. orientasi
B. pernyataan umum D. komplikasi
2. Dibawah ini yang tidak termasuk ke dalam unsur
intrinsik cerpen adalah…
A. tokoh C. alur
B. latar belakang D. latar atau setting
pengarang
3. Berikut yang termasuk unsur ekstrinsik cerpen,
kecuali…
A. latar belakang pengaragn
B. latar pelakang masyarakat
C. amanant
D. aliran sastra
4. Cerpen adalah salah satu karya sastra yang
berbentuk …
A. bait C. prosa
B. baris D. nonfiksi
5. Salah satu hal yang membedakan cerpen dan puisi
adalah …
A. adanya alur C. adanya amanat
B. adanya tema D. adanya imajinasi
11
6. Baca kutipan singkat berikut dengan seksama!
Saya ingin Anda berbohong kepada saya seperti
yang Anda katakan kemarin dan kemarin. Ketika
matahari bersinar di dedaunan barat rumah dan
kerumunan tidak lagi bersama Anda, mulailah
berbohong pertama Anda.
Sumber: naskah soal kementerian agama (2013)
Bukti bahwa kutipan cerita pendek ditetapkan pada
malam hari adalah…
A. saat matahari gelap dan bersinar
B. matahari di sebelah barat rumah
C. Seperti yang kamu katakan kemarin
D. kisah bohong pertama
7. Baca kutipan singkat berikut dengan seksama!
(1) Kau begitu unik. Bersikeras mengajakku
bermain kejarkejaran seperti anak TK. (2)
Terpaksa aku menyanggupinya. Karena aku
sangat takut ketika kau merajiik. Aku tak sanggup
kehilangan tawamu. (3) Sesaat kemudian, kita
berkejaran. Kau pintar menyelinap di antara
bebatuan besar dan semak yang tinggi. (4) Kau
mahir melompat-lompat di sela-sela pepohonan.
Sumber: Cerpen Perempuan Penggemar Keringat karya M. Thowaf
Zuharon
Bukti suasana yang harap-harap cemas dan gelisah
pada kutiban cerpen tersebut adalah pada kalimat
nomor …
A. (4) B. (3) C. (2) D. (1)
8. Baca kutipan singkat berikut dengan seksama!
Satu setengah jam kemudian ada taksi datang, dan
turunlah Abidin dari taksi. Dengan sikap sangat
sopan dan hormat, dia memohon maaf karena
12
telah berkali-kali menghubungi saya dan
mengaku-aku sebagai bekas mahasiswa saya.
Setelah berbasa-basi sebentar dia mengaku bahwa
dia memang bukan mahasiswa saya.
Sumber: Cerpen Bukan Mahasiswa Saya, Budi Darma
Tema yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut
adalah…
A. pendidikan C. kehidupan jalanan
B. remaja D. transportasi
9. Bacalah kutipan cerpen berikut dengan saksama!
Pak Jusuf mengeruk saku celananya,
mengeluarkan dompet. Jemarinya merogoh,
menjepit sesuatu keluar dari dalam dompet lalu
mengacungkan ke muka: uang logam satu rupiah.
Kemudian katanya, ”Bila saya bagikan kepada
seluruh buruh dan karyawan yang bekerja waktu
itu, Dik Najir, maka masing-masingnya cuma
akan dapat segini. Tak lebih.”
Satu rupiah? Ia ternganga. Hanya satu rupiah?
Seperti tahu keheranannya, Pak Jusuf
mengangguk. Lalu, iseng, Pak Jusuf
melambungkan koin satu rupiah itu tinggi, nyaris
menyentuh loteng. Ketika koin itu bergerak turun,
ketika berada pada satu titik antara loteng dan
tangan Pak Jusuf yang siap menyambut, ketika
itulah… terjadi peristiwa itu! Peristiwa yang
takkan bisa ia lupakan: koin itu berhenti, tertahan
bagai mengambang. Semua tak bergerak, diam….
(Tujuh Puluh Lidah Emas, Cerpen Kompas 2015)
13
Sudut pandang yang terkandung dalam kutipan
cerpen tersebut, yaitu ….
A. orang ketiga sebagai pengamat
B. orang ketiga serba tahu
C. orang pertama pelaku sampingan
D. orang pertama pelaku utama
10. Bacalah penggalan teks cerpen berikut!
Dengan bekal uang seribu lima ratus pemberian
tiga sopir yang menyadari perut siapa pun harus
diisi nasi, Paman Klungsu masuk ke warung Yu
Binah. Di depan pintu warung itu berpapasan
dengan dua pedagang yang baru selesai makan
nasi rames. Paman Klungsu duduk sendiri dan
meletakkan peluitnya di atas meja. Yu Binah
menyambutnya dengan senyum.
"Yu, uangku cuma seribu lima ratus."
"Ya, tak apa. sejak pagi kamu keras tiup peluit
di simpang tiga. Jadi, perutmu tentu lapar.
Sekarang makanlah sampai kenyang."
"Dengan uang seribu lima ratus, Yu?"
"Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa.
Kamu sudah lama mengenal aku, kan?"
Sumber: Ahmad Tohari, "Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya" dalam
Kasur Tanah Cerpen Pilihan Kompas 2017,
Latar dalam kutipan cepen tersebut adalah...
A. dapur C. jalan raya
B. warung D. restoran
11. Bacalah penggalan teks cerpen berikut!
Sepasang mata milik seorang gadis cilik tampak
khusyuk mengamati sekeliling ruangan putih
14
bersih itu. Berpindah-pindah dari monitor dengan
angka-angka yang tidak dia mengerti, yang selalu
mengeluarkan bunyi teratur itu, ke selang-selang
panjang dengan cairan bening yang mengalir dan
bermuara ke pergelangan tangan satu sosok yang
terbaring di ranjang. Seseorang yang begitu
dicintainya. Kerabat satu-satunya...
Sumber: Cerpen Rumah Tanpa Jendela, Asma Nadia
Latar kutipan cerpen tersebut adalah ....
A. UKS C. rumah sakit
B. laboratorum D. ruang bedah
12. Bacalah penggalan teks cerpen berikut!
Bila lagi sedih orang miskin itu sering datang ke
pengajian. “Tuhan memang bisa menjadi hiburan
menyenangkan buat orang yang sedang
kesusahan,” katanya. “Ia akan terkantuk-kantuk
sepanjang ceramah, tapi langsung semangat
begitu makanan dibagikan.”
Sumber: Cerpen Perihal Orang Miskin yang Bahagia, Agus Noor dengan
pengubahan
Hal dalam kutipan yang terkait dengan kehidupan
bermasyarakat sekarang adalah….
A. Anak-anak senang mengaji kalau ada makanan
B. Pengajian diisi ceramah dari ulama
C. Pengajian diadakan dalam durasi tidak terlalu
lama
D. Makanan biasanya disediakan dalam acara
pengajian
15
13. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Ibu, barangkali Atik tidak akan terus berkerja di
Kementerian Luar Negeri. Dalam gelap suara
berisik itu terasa seperti angin malam, aku ingin
meneruskan pekerjaan ayah di Dinas Kehutanan.
Sumber: Buku Bahasa Indonesia Kelas XI, Kemdikbud.
Penggalan cerpen tersebut didominasi unsur
intrinsik adalah …
A. setting C. alur
B. watak D. tema
14. Cermati kutipan teks cerpen berikut!
Tetapi, dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak
saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu.
Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu
mungkin membuat banyak orang penasaran. Tapi
barang kali pula karena dari Lebaran ke Lebaran
memang semakin banyak orang yang kian
tenggelam dalam kekecewaan. Mereka ingin
menjahitkan kekecewaan mereka kepada tukang
jahit itu. Mereka antre agar bisa menikmati
kebahagiaan Lebaran.
Sumber: Agus Noor, “Tukang Jahit”dalam Cinta di Atas Perahu Cadik
Cerpen Kompas Pilihan 2007
Kutipan teks tersebut merupakan struktur teks
bagian …
A. resolusi C. komplikasi
B. orientasi D. konflik
15. Cermati kutipan teks cerpen berikut!
Sakit menyelusup hatiku namun ku coba untuk
tetap ramah dan bertanya; “ Bapak Andi
16
Hadiningrat ya?” tanyaku gugup. “Iya Anda
siapa, maaf saya sedang sibuk.” Sejatinya aku
ingin menangis dan memeluknya, pria itu ayahku,
ayah kandungku. Tetapi aku sadar ia tak mau
mengenalku, bahkan mungkin takkan mau
mengakuiku. Aku melempar surat titipan ibu dan
berlalu. “Aku berjanji tak akan menemui ayah
lagi.” jeritku dalam batin.
Sumber: Cerpen Surat Kecil untuk Ayah, Imam Apriansyah.
Tokoh aku merupakan sosok yang kuat dan tegar
dideskripsikan melalui…
A. pikiran tokoh C. bentuk fisik tokoh
B. tindakan tokoh D. lingkungan tokoh
16. Cermati kutipan teks cerpen berikut!
Aku pulang, perasaanku tak karuan. Dan aku tak
tertidur. Aku memejamkan mata. Herman ada
dalam kepala. Mengapa aku tak dapat
melenyapkan dia dan memandang dirinya tanpa
arti? Mengapa sedih hatiku memandang dia
bercanda dengan gadis lain? Aku merasa sendiri
dan terpecil. Sendiri dan terlupakan. Sendiri dan
tak punya arti.
Sumber: https://files1.simpkb.id/guruberbagi/
Struktur yang mengarah pada masalah merupakan
struktur cerpen disebut …
A. komplikasi C. evaluasi
B. orientasi D. koda
17
17. Cermati kutipan teks cerpen berikut!
“Saya ingin lagu gending Jawa.” “Tolong Pak
Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia,
padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar
saja dengan gending Jawa.” “Tetapi saya tidak
punya kaset gending Jawa,” kata sopir “Saya
punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset
gending Jawa, setiap saya bepergian. Ini kaset
lagu kesukaan saya. Gending Jawa.” Para
penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi
beberapa saat saja kemudian, terdengar orang
berteriak: “Bolehkah lagu itu ditukar?”
Sumber: Cerpen Lagu Di Atas Bus, Hamsad Rangkuti.
Latar peristiwa kutipan cerita di atas adalah…
A. kereta api C. bus
B. jalan raya D. kapal laut
18. Cermati kutipan teks cerpen berikut!
Kemudian, ia sampai pada pemikiran bahwa yang
jauh tetaplah di kejauhan. Yang dekat tetaplah
pada kedekatan, kecuali yang jauh itu mendekat
atau yang dekat itu menjauh. Miliknya akan tetap
miliknya, kecuali ia rebut atau ia lepaskan. Begitu
pun yang bukan miliknya akan menjadi miliknya
jika merebutnya atau menerimanya dari orang
lain. Kenangan dan imajinasi akan tetap seperti
apa adanya. Dan kenyataan adalah di mana
berada. Lalu, bocah itu tersenyum dengan penuh
kemenangan. Kemenangannya atas sang nasib
18
yang kini tidak akan bisa lagi merenggut
kebahagiannya.
Sumber: Cerpen Hujan, Yeni Puspita
Tema penggalan cerpen tersebut adalah …
A. menerima kenyataan hidup
B. nasib harus diperjuangkan
C. tidak menyerah pada nasib
D. sesuatu yang jauh tidak akan ada pernah dekat
19. Cermati kutipan teks cerpen berikut!
“Ya, “kata Grela, “Orang Gipsy bagian dari
sejarah.” Dalam pandangan ayahnya yang untuk
sesaat semakin kelam, Grela memalingkan
mukanya dan memandang keluar jendela. Gelap
semakin menjadi semakin pekat. Ada
kesepakatan untuk tidak boleh membicarakan hal-
hal yang hilang: sejarah yang mengalir dalam
darah, sungai, tanah subur di tepi sungai, rumput,
daun-daun birke yang gugur. Orang tidak juga
berbicara tentang pengetahuan ….
Sumber: Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik Kelas X/1
SMA/MA/SMK/MAK.
Perasaan Grela yang terkandung dalam cuplikan
cerpen di atas adalah ….
A. sedih dan tertekan
B. pasrah dan penuh harapan
C. putus asa dan dendam
D. cemas dan dendam
20. Struktur yang mengarah pada klimaks yang mulai
mendapatkan pemecahan sehingga mulai tampak
penyelesaian disebut ….
19
A. komplikasi C. evaluasi
B. orientasi D. koda
21. Struktur yang mengarah pada pengenalan cerita
disebut ….
A. komplikasi C. evaluasi
B. orientasi D. koda
22. Struktur yang mengarah pada simpulan cerita
disebut ….
A. komplikasi C. evaluasi
B. orientasi D. koda
23. Bacalah kutipan cerpen berikut!
“Apa-apaan sih, elo? Posternya kan jadi sobek!!!”
“Sorry, Rin! Gue bener-bener nggak sengaja!”
Rinta sama sekali nggak ngegubris pembelaan
Anya. Ia masih memandangi poster Blur
kesayangannya yang kini sudah terbagi dua
karena robek. “Rin, sorry,ya. Gue . . . .”
“Aah! Udah, deh! Pulang, sana!” potong Rinta
kesal, matanya sudah sembap, hampir nangis.
Anya nggak mau memperburuk keadaan. Ia pun
langsung keluar dari kamar Rinta dan bergegas
pulang.
Sumber: files1.simpkb.id/guruberbagi/rpp/157357-1601109615.pdf
Kutipan teks cerpen tersebut memuat bagian
struktur...
A. orientasi B. resolusi C. komplikasi D. koda
24. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Parjimin adalah tukang batu, tetangga Kurdi.
Lumayan bagi mereka, mendapat proyek baru.
Rupanya, proyek rumah gedong itulah yang selalu
diperbincangkan Kurdi disetiap kesempatan. Di
tempat perhelatan nikah, supitan, di tempat kerja
20
bakti, sarasehan kampung, sampai ronda malam.
Dia senantiasa tidak lupa menceritakan
rencananya membangun rumah gedungnya itu.
Sumber: Ceritaku Ceritamu (Karya Sastra Cerpen), Kemdikbud. 2018.
Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, Kurdi
bersifat....
A. pemberani B. baik C. sombong D. egois
25. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya,
"Apa Ibu kenal dengan seorang anak bernama
Eric yang dulu tinggal di sana itu?" Ia menjawab,
"Silakan masuk, Nyonya! Kalau Anda ibunya
Eric, sungguh Anda tak punya hati!”. Ia membuka
pintu tempat tinggalnya.
Sumber: Budiarto ,S. Pd Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 5 Kebumen
Bukti latar tempat pada kutipan cerita tersebut
ditandai nomor...
A. (1) B. (2) C. (3) D. (4)
21
II. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan
benar!
Bacalah kutipan cerpen berikut untuk menjawab soal!
Kebudayaan Desaku
Oleh: Ignatia Felicia Bertha Dayanti
Sumber: salasar.com
Cuaca di desa Candimulyo, Jawa Tengah hari ini
terlihat cerah dengan matahari tepat di atas kepala.
Tampak cahaya itu menyinari aspal jalan yang sedang
Dewa lalui dengan bayangan dirinya yang tampak
tegak di bawah dan bertumpuk dengan badannya.
Membawa 2 tumpuk buku berjudul “Teori Sastra” dan
“Sejarah Sastra Indonesia” yang dipinjam dari
perpustakaan sekolahnya dengan wajah berseri-seri
menuju rumah sederhana yang ditinggali lebih dari 10
tahun. Saat sampai di depan pintu rumah, Dewa
berhenti melangkah dan langsung memasukkan buku
itu ke dalam tas sekolah coklatnya. Setelah
mempersiapkan diri, dia langsung masuk dan menyapa
kedua orang tuanya. Lalu dia masuk ke kamarnya
untuk berganti baju dan bergabung untuk makan siang
bersama orang tuanya.
22
“Dewa ayo makan! Ada gudeg dan bacem favorit
kamu.” ajak Ibunya, Lasti saat melihat anak semata
wayangnya menghampiri meja makan. “Wah, matur
nuwun Bu.”
“Wa, setelah makan kamu langsung ke bengkel, ya.
Kemarin ada beberapa mobil yang harus didandani.”
kata Rudi, Bapaknya. Dewa hanya mengangguk.
Sebenarnya, Dewa tidak keberatan untuk membantu
Rudi mengurus bengkel pribadi. Dewa juga ingin
menceritakan segala hobi dan kemampuan yang dia
kembangkan selama ini. Tetapi selalu saja takut
dibicarakan karena Dewa tahu, bapaknya tidak akan
memperbolehkan.
“Dewa, sliramu mesthi murung. Ana masalah?”
(Dewa, kamu daritadi murung terus. Ada masalah?)
tanya Sandy, teman Rudi yang bekerja di bengkelnya
juga. “Ora apa-apa, Om. Aku mung mikir,” (Gak papa,
Om. Aku hanya pikir,) Sandy menatap Dewa serius,
tanda amat penasaran dengan perbincangan itu. Dewa
menarik napas dan membuangnya pelan saat melihat
wajah penasaran Sandy. “… aku seneng sastra
Indonesia, seneng nulis lan nggawe crita. Aku arep
crita marang ibu lan bapak babagan hobi aku. Nanging
aku wedi yen dheweke nesu lan ora setuju.” (…aku
suka sastra Indonesia, seperti menulis dan membuat
cerita. Aku ingin ceritakan pada ibu sama bapak
tentang hobi ku itu. Tapi aku takut mereka akan marah
dan tidak setuju.) kata Dewa yang menggunakan
bahasa Jawa. Memang, jika Dewa mengobrol dengan
Sandy lebih nyaman dengan bahasa Jawa.
“Kandhani wae. Mesthi dheweke bakal ndhukung
sampeyan supaya sukses. Sampeyan ngerti, dheweke
pancen tresna tenan karo sampeyan, Wa.” (Coba bilang
saja ke mereka. Pasti mereka akan dukung kamu
23
sampai sukses. Kamu tahu kan, mereka itu sangat
sayang sama kamu, Wa.) ujar Sandy sambil menepuk
pundak Dewa bermaksud untuk menghibur anak
temannya itu. “Apa kowe ora kelingan Om, Bapak
pengin aku nerusake bisnis lokakarya iki amarga aku
siji-sijine putra lan putra. Dadi, seneng utawa ora,
sampeyan kudu manut karo apa sing sampeyan
ucapake, bisa uga sing paling apik.” (Ingat tidak Om,
Bapak mau aku meneruskan usaha bengkel ini karena
aku laki-laki dan anak semata wayangnya. Jadi ya, mau
tidak mau harus menuruti omongan Bapak, mungkin
itu yang terbaik.) kata Dewa. “Ya ngono kuwi. Mikir
mengko, saiki pitulung Om kanggo njupuk oli ing
panyimpenan.” (Ya sudah. Itu pikirkan nanti saja,
sekarang bantu Om ambilkan oli di tempat
penyimpanan.) tutur Sandy yang membuat Dewa
berhenti memikirkan itu dan kembali fokus pada
pekerjaannya sampai malam tiba.
“Eh, ada lomba. Hadiahnya lumayan untuk
tabungan kuliah nanti.” monolog Dewa yang sedang
berkutat dengan koran terbitan terbaru hari itu. Saat
membaca berita kecelakaan lalu lintas, mata Dewa tak
sengaja berhenti di satu pengumuman yang tertera pada
lembar koran halaman 10. Lantas ia baca dan
mendapati itu adalah pemberitahuan lomba menulis.
Tanpa pikir panjang, Dewa langsung membaca
informasi yang ada di dalamnya lalu mencatat hal-hal
yang akan diperlukan saat lomba. Sungguh, Dewa tidak
sabar menyusun tulisannya.
“Kamu sedang apa? Belajar kan?” tanya Lasti
yang tiba-tiba masuk ke kamar Dewa. Saat itu juga
Dewa segera menaruh buku tulisnya ke dalam buku
paket matematika kelas XI lalu membalik beberapa
halaman buku paket yang berisi pengetahuan berhitung
24
itu sehingga terlihat sedang belajar. “Iyo, Bu.” jawab
Dewa pelan. Lasti langsung mengelus kepala anaknya
lalu memberikan segelas susu pada Dewa. “Udah
belajarnya, minum susu ini supaya tidurmu nyenyak.
Besok ada ulangan matematika kan?” Dewa memberi
jawaban dengan sekali anggukan dan langsung
meminum susu coklat buatan Lasti. Setelah itu, mereka
berpamitan untuk mengakhiri perbincangan dan tidur.
Tidak, Lasti yang tidur, Dewa masih menyusun
tulisannya.
Jawablah soal berikut berdasarkan bacaan cerpen
tersebut!
1. Siapa saja yang menjadi tokoh pada cerpen
“Kebudayaan Desaku”?
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
2. Siapakah yang menjadi tokoh antagonis dan
protagonis dalam cerpen “Kebudayaan Desaku”?
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
3. Dimana latar yang tergambar dalam cerpen
“Kebudayaan Desaku”?
………………………………………………………
………………………………………………………
25
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
4. Apa yang kamu dapatkan dalam cerpen
“Kebudayaan Desaku”?
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
5. Jelaskan amanat yang terdapat dalam cerpen
“Kebudayaan Desaku”?
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
26
BAB CERPEN KEARIFAN LOKAL
II
Sumber: visitjawatengah.jatengprov.go.id
Cerpen sebagai salah satu bentuk karya sastra
merupakan cerminan dari sosial budaya suatu
masyarakat. Budaya sebagai suatu produk masyarakat
wujudnya berupa nilai-nilai, kepercayaan, norma-
norma, simbol-simbol, dan ideologi. Salah satu wujud
nilai budaya adalah kearifan lokal. Kearifan lokal
bersumber dari tradisi budaya setempat selama
berabad-abad dan dijadikan tuntunan dalam kehidupan
masyarakat.
Cerpen adalah salah satu bentuk karya sastra yang
populer sekaligus merupakan cerminan dari sosial
budaya suatu masyarakat, memiliki kedudukan dan
fungsi yang sangat penting dalam masyarakat
27
pendukungnya karena banyak memuat nilai-nilai luhur.
Penanaman nilai-nilai luhur membentuk watak serta
peradaban masyarakat yang bermartabat sebagai bekal
dalam memahami diri, sosial, dan persoalan-persoalan
kehidupan lain. Cerpen yang diproduksi oleh siswa
memuat beragam kearifan lokal yang sarat nilai luhur.
Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan menjadi
acuan dalam bertingkah laku sehari-hari masyarakat
setempat mampu dihadirkan siswa dalam alur cerita
yang unik dan menarik. Kearifan lokal memiliki
peranan penting dalam upaya mewujudkan sebuah
masyarakat yang ditandai dengan adanya keluhuran
budi dalam individu (Sulistyowati, 2016:4).
Salah satu contoh kearifan lokal adalah kearifan
lokal etnis Jawa. Kearifan lokal Jawa pada umumnya
dapat dilihat melalui pemahaman dan perilaku
masyarakat Jawa. Pemahaman dan perilaku itu dapat
dilihat melalui (1) norma-norma local yang
dikembangkan, seperti laku Jawa, pantangan dan
kewajiban, (2) ritual dan tradisi masyarakat Jawa serta
makna dibaliknya, (3) lagu-lagu rakyat, legenda, mitos,
dan cerita rakyat Jawa yang biasanya mengandung
pelajaran atau pesan-pesan tertentu yang hanya
dikenali oleh masyarakat Jawa, (4) informasi data dan
pengetahuan yang terhimpun pada diri sesepuh
masyarakat atau pemimpin spiritual, (5) manuskrip
atau kitab-kitab kuno yang diyakini kebenarannya oleh
masyarakat Jawa, (6) cara-cara komunitas lokal
masyarakat Jawa dalam memenuhi kehidupannya
28
sehari-hari, (7) alat dan bahan yang digunakan untuk
kebutuhan tertentu, dan (8) kondisi sumber daya alam
atau lingkungan yang biasa dimanfaatkan dalam
kehidupan masyarakat sehari-hari (Sartini dalam
Sulistyowati, 2016:6). Berikut contoh cerpen kearifan
lokal di Kabupaten Pemalang Jawa Tengah.
“Sintren”
Oleh: Dewi Lestari
Pagi hari riuh
akan ramainya
pasar sayur
dan buah di
Pemalang.
Tampak Dewi
anak seorang Sumber: joglojateng.com
penjual buah yang senang sekali membantu ibunya
menjajakan dagangan buah di pasar itu.
“Mak buahnya dah laku berapa hati ini?” tanya dengan
lantang Dewi kepada Emak yang sedang asyik
mengupas buah untuk djual. “ya Alhamdulillah nduk
sudah laku 10 buah semangka syukur bisa buat makan
hari ini.” Jawab emak dengan wajah penuh syukur.
Dikejauhan pasar terlihat ada seorang Wanita yang
sedang menari dengan gerakan indahnya membuat
Dewi merasa tertarik untuk mendekat dan serasa kenal
akan sesosok perempuan yang menari itu.
“eh kamu bukannya keponakanya pak Rosyid yang
pelatih tari itu bukan? Tanya Dewi dengan penuh
29
perasaan penasaran. “ya aku keponakannya pak
Rosyid, kok kamu tahu emang kamu siapa? Tanya
balik penari itu. “aku Dewi murid sekolah beliau.
Kamu menarikan tariannya sangat indah dan keren
lho.” Jawab Dewi. Penari pun pergi meninggalkan
Dewi sembari melanjutkan tariannya.
Esok di sekolahan Dewi
bertemu dengan pak Rosyid
dan teringat akan penari yang
membuat Dewi penasaran.
“Assalamualaikum pak
Rosyid, bapak apa pelatih
Sumber: cirebonkota.go.id penari pak kok saya kemarin
melihat keponakan bapak
sangat indah dalam menarikan tarian.” Tanya Dewi
dengan penasaran. “oh ya kemarin namanya Ina
keponakan dan murid bapak di Sanggar Tari Pemalang.
Kemarin Ina memang saya suruh untuk berlatih tari
Sintren, pertunjukkan yang sangat kuno dan membawa
aroma mistis.” Jawab pak Rosyid. “Pak, kesenian
sintren itu adalah kesenian tradisional masyarakat
Pemalang termasuk kita ya pak makanya tampak keren
sekali! Bolehkan saya ikut berlatih di sanggar tari pak
rosyid?” Dewi dengan hati senang karena jadi tahu
nama tarian yang dia lihat dan merasa tertarik. “boleh,
besok minggu pak Rosyid tunggu ya di sanggar nanti
kita Latihan Bersama-sama”. Pak Rosyid merasa
senang karena ada anak muda yang masih mau belajar
akan tarian budaya Pemalang yaitu Sintren.
30
Minggu esok telah tiba, Dewi pun merasa tidak
sabar lagi untuk menuju ke tempat sanggar pak Rosyid.
“Emak, Dewi hari ini
ke pasarnya agak
siangan ya karena
Dewi mau minta izin
latihan tari di sanggar
guru Dewi.” Emak
merasa penasaran
dengan izin Dewi. Sumber: joglojateng.com
“nduk kamu latihan tari apa? Emak tidak suka kalau
kamu menari seperti orang barat yang membuka
aurot.” Tanya emak dengan khawatir.
“Tidak mak, Dewi Latihan tari tradisional daerah
kita Pemalang yaitu tarian Sintren. Syukur-syukur
Dewi bisa kepilih untuk mengikuti lomba di Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan di Semarang.” Jawab
Dewi dengan menjelaskan tarian sintren. “ya kalau
begitu emak dukung nduk karena budaya itu harus
dikembangkan, semangat ya nduk latihannya!” izin
emak sembari mendo’akan Dewi agar bisa ikut lomba.
Sesampainya di sanggar Dewi melihat Ina yang sedang
menari tarian Sintren. “Hai Dewi perkenalkan namaku
Ina yang kemarin ketemu di pasar itu lho?” sapa Ina
dengan penuh senyum. “Hai juga, kok kamu tahu
namaku? Tanya Dewi. “Ya tahu karena pak Rosyid
sudah bercerita kepadaku bahwa hari ini kamu ikut
untuk latihan tarian Sintren. Ya sudah yuk kita latihan
semoga nanti dalam perlombaan kita bisa
menampilkan kemapuan yang terbaik kita dalam
mengenalkan tradisi tarian Sintren di masyarakat Jawa
Tengah.” Ajak Ina kepada Dewi.
31
Mereka berduapun dengan kompak berlatih tarian
Sintren dengan penuh keceriaan dengan harapan dapat
bisa mengikuti perlombaan di Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan di Semarang.
“Tari Kuntulan”
Oleh: Dewi Lestari
Sumber: klareyan.desakupemalang.id
Lagi-lagi aku termenung di sore hari dengan suara
bising kendaraan bermotor di depan rumah hari itu.
Terbanyang selalu di kepalaku kata-kata mbah putri
belum lama ini. “Dewi, mbah harap kamu dapat
meneruskan tradisi budaya Kuntulan di Pemalang.
Mbah sebagai penari kuntulan sekarang tua sudah tak
lagi selincah dulu dalam menari.”
Entah kenapa, ucapan mbah seolah menjadi
pertanda mbah putri mewajibkanku untuk meneruskan
budaya Kuntulan. Aku merasa bimbang untuk
memilih, apakah harus meninggalkan kegemaranku
menari dance, lalu beralih menekuni tarian kuntulan
32
seperti yang mbah amanatkan kepadaku. Aku benar-
benar galau.
Sore saat di rumah.. “Tok, tok, tok…”, suara pintu
kamar diketuk. “Dewi, mamak mau bicara sama
kamu.” Mamak tiba-tiba datang. “Mak, aku belum mau
memikirkan ucapan Mbah Putri…”, spontan aku
berkata seperti itu. “Maaf, nduk. Bukannya mamak
ingin membebani pikiranmu, namun mamak benar-
benar ingin kamu mengikuti saran Mbah Putri. Itu
pesan amanat yang sebaiknya dilakukan”, kata mamak
dengan wajah penuh harapan kepadaku.
“Baiklah mak,
akan kupikirkan
baik-baik…
Tapi aku minta
maaf, mungkin
aku butuh waktu
Sumber: klareyan.desakupemalang.id yang agak lama
untuk berpikir”,
jawabku. Mamak hanya tersenyum dan keluar dari
kamarku. Di tengah sunyinya ruangan kamar ini hatiku
makin gundah. Seakan tak ada yang mengerti
perasaanku kali ini. Walaupun sebenarnya aku tahu
keluargaku akan selalu mendukung apapun yang aku
lakukan.
Kupikir-pikir, kata-kata Emak tidak salah.
“Baiklah Mak saya akan berusaha mencobanya.” Tak
ada lagi pilihan yang bisa aku lakukan selain
menyetujuinya. Dengan perasaan masih agak terpaksa,
aku akan mengikuti apa kata Emak. Semoga saja Emak
33
benar, mungkin ini
memang awalku
untuk melakukan hal
baru, untuk lebih
peduli dengan
budaya sendiri.
Sumber: klareyan.desakupemalang.id
Siang hari di rumah…
“Mamak telah mendaftarkanmu mengikuti
Sanggar Tari di pendopo Kabupaten Pemalang! Kamu
akan mulai mengikuti kegiatan di sana hari Minggu
besuk. Segala perlengkapannya sudah mamak siapkan.
Jadwal latihanmu di sana sudah mamak tempel di meja
belajarmu. Ah, mamak tak sabar melihatmu
mengikutinya!” Mamak menjelaskan panjang lebar
kepadaku.
Hari Minggu, aku benar-benar berangkat ke
sanggar itu dengan diantar Bapak. Aku dan mamak
langsung disambut oleh pemilik sanggar. Aku pun
mencermati dan
mulai mengenal
lebih jauh tari
Kuntulan dari saat
itu. Semua hal
dari tarian ini
membuatku
terpukau. Mulai
dari kerumitan
tariannya sampai
keanggunan
gerakan para Sumber: klareyan.desakupemalang.id
34
pemainnya. Entah kenapa jadi tidak sabar sekali untuk
ikut mencoba menarikannya.
Perlahan namun pasti, aku mulai bergerak sesuai
irama lagu yang diputarkan oleh operator. Seruan tepuk
tangan dari Emak dan Bapak terdengar begitu aku
selesai menari.
Emak dan Bapak
menatapku penuh
semangat. Melihat
semuanya, entah
kenapa aku
merasa senang
sekali dan begitu Sumber: klareyan.desakupemalang.id
lega.
Di akhir acara pentas, Palatih tari mendatangiku
dan memberiku satu selebaran yang bertuliskan,
‘Lomba Menari Budaya Jawa Tengah untuk Siswa SD-
SMP-SMA Tingkat Provinsi’. Hatiku merasa sangat
gembira ternyata aku lolos untuk mengikuti lomba
tersebut.
2 Latihan Soal
Jawablah soal berikut berdasarkan bacaan cerpen
tersebut!
1. Siapa saja yang menjadi tokoh pada cerpen Gadis
Sintren dan Tari Kuntulan?
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
35
………………………………………………………
………………………………………………………
2. Bagaimanakah watak tokoh pada cerpen Gadis
Sintren dan Tari Kuntulan?
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
3. Dimana latar yang tergambar dalam cerpen Gadis
Sintren dan Tari Kuntulan?
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
4. Apa yang kamu dapatkan dalam cerpen Gadis
Sintren dan Tari Kuntulan?
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
5. Jelaskan amanat yang terdapat dalam cerpen Gadis
Sintren dan Tari Kuntulan?
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
36
BAB MENULIS CERPEN DENGAN
III METODE ESTAFET WRITING
Sumber: dokumentasi, 2022
Pernahkah kalian menulis cerpen? Tahukah kamu
pentingnya menulis cerpen? menulis cerita pendek
(cerpen) penting bagi siswa sekolah menengah
pertama, karena cerpen dapat dijadikan sebagai sarana
untuk berimajinasi dan menuangkan pikiran. Menurut
Widyamartaya (2005:102) menulis cerpen ialah
menulis tentang sebuah peristiwa atau kejadian pokok.
Selain itu, menurut Widyamartaya (2005:96) menulis
cerpen merupakan dunia alternatif pengarang.
Sedangkan Sumardjo (2001:84) berpendapat bahwa
menulis cerita pendek adalah seni, keterampilan
menyajikan cerita. Berdasarkan tiga pendapat tersebut,
dapat disimpulkan bahwa menulis cerpen merupakan
seni/keterampilan menyajikan cerita tentang sebuah
37
peristiwa atau kejadian pokok yang dapat dijadikan
sebagai dunia alternatif pengarang.
Nah untuk mempermudah kalian dalam menulis
cerpen mari bersama-sama berlatih menulis cerpen
dengan metode estafet writing. Metode Estafet Writing
ini diterapkan sebagai salah satu trik yang bertujuan
untuk membangkitkan motivasi peserta didik dalam
menemukan ide atau tema cerita untuk dijadikan bahan
dalam cerpen dan sebagai pemicu awal untuk siswa
berani dalam memulai membuat sebuah tulisan
(Syattariyah, 2011:42). Metode pembelajaran estafet
writing menerapkan langkah-langkah (Widianti dan
Hidayat, 2020:86) sebagai berikut.
1. Secara berkelompok diminta menentukan sebuah
tema yang akan dikembangkan menjadi sebuah
karangan.
2. Setelah menyelesaikan penggalan karangan
tersebut, diminta untuk menyerahkan kertas yang
berisi penggalan karangan tersebut kepada guru
kemudian guru membagikannya kembali secara
acak.
3. Setelah menerima kertas yang berisi karangan
diminta membaca dan kemudian diminta
meneruskan (menyambung) karangan tersebut.
4. Setelah kegiatan tulis berantai selesai, silakan
mengumpulkan kertas tersebut kepada guru.
38
3 Latihan Soal
Kerjakanlah soal berikut ini dengan
berkelompok dengan menulis secara bergantian
dengan menerapkan metode estafet writing sebagai
berikut!
1. Bentuk kelompok 4-5 orang
2. Tentukanlah tema berkaitan budaya di Kabupaten
Pemalang.
3. Tulislah 1-3 paragraf cerpen sesuai tema yang sudah
kalian buat secara berantai (bergantian) dengan
teman satu kelompokmu!
4. Presentasikan cerpen hasil karangan kelompok
tersebut.
5. Selesai presentasi silakan mengumpulkan hasil
cerpen kepada guru.
1. Judul:
………………………………………………………
………………………………………………………
2. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
3. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
39
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
4. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
5. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
6. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
7. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
8. ………………………………………………………
………………………………………………………
40
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
9. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
10. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
11. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
12. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
41
13. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
14. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
15. ………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
………………………………………………………
42
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, S. W. 2016. Kreatif Itu Gampang: Panduan
Puisi, Cerpen, Novel, Esai Sastra, Skenario, dan
Naskah Lakon. Yogyakarta: Araska.
Ganesha, 2013. Cerpen “Gadis Sintren”.
https://madingganesha.wordpress.com
/2013/06/20/cerpen-gadis-sintren/.
Dipublikasikan pada 20 Juni 2013.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gadjah Mada.
Priyatni, Endah Tri. 2010. Membaca Sastra dengan
Ancangan Literasi Kritis. Jakarta: Bumi Aksara.
Ratna, dkk., 2018. Pembelajaran Cerpen di Era
Digital. Yogyakarta: Pendidikan Bahasan dan
Sastra Indonesia.
Suherli, dkk. 2017. Bahasa Indonesia
SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI. Jakarta:
Kemendikbud.
Sulistyowati, R. I., Priyatni, E. T., & Dawud, D. 2016.
Kearifan lokal dalam kumpulan cerpen siswa
kelas XI SMAN 1 Kepanjen. Jurnal Pendidikan:
Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 1(9),
1817-1829.
Sumardjo, J. 2004. Beberapa Petunjuk Menulis
Cerpen. Bandung: Mitra Kencana.
43
Suyanto. 2012. Perilaku Tokoh Dalam Cerpen
Indonesia. Bandar Lampung : Universitas
Lampung.
Syathariyah, Sitti. 2011. Estafet Writing (Berantai).
Yogyakarta: PT. Leutika Nouvalitera
Tomi, Arianto. 2012. Kematian Sebagai Instrumen
Kekuasaan dalam Novel My Sister‟s Keeper
Karya Jodi Picoult”. Vol 4 No 1(2017). Jurnal
Basis UPB/Universitas Putra Batam
Widianti, W., & Hidayat, T. 2021. Menerapkan Metode
Estafet Writing Dalam Pembelajaran Teks
Pantun Di SMP. Jurnal Diksatrasia, 4(2).
Widyamartaya, A. 2005. Kiat Menulis Deskripsi dan
Narasi, Lukisan dan Cerita. Yogyakarta:
Pusataka Widyatama.
44
45