The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bintang diejek oleh teman-temannya karena ia belum mahir bermain basket. tentunya Bintang sangat merasa keasl pada teman-temannya. namun, sosok seorang ibu selalu menjadi solusi bagi masalah yang Bintang hadapi. masih banyak masalah lainnya yang bintang hadapi. namun, berkat hadirnya seorang ib di hidupnya, membuat masalah tersebut cepat menemukan solusinya. kira-kira, apa yang dilakukan oleh ibu Bintang? cari tahu jawabannya dengan membaca buku ini!

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Sulthan Fathir, 2021-01-11 02:06:06

Me and My Mom

Bintang diejek oleh teman-temannya karena ia belum mahir bermain basket. tentunya Bintang sangat merasa keasl pada teman-temannya. namun, sosok seorang ibu selalu menjadi solusi bagi masalah yang Bintang hadapi. masih banyak masalah lainnya yang bintang hadapi. namun, berkat hadirnya seorang ib di hidupnya, membuat masalah tersebut cepat menemukan solusinya. kira-kira, apa yang dilakukan oleh ibu Bintang? cari tahu jawabannya dengan membaca buku ini!

Keywords: SPH,Me and My Mom,Sulthan Fathir

Penulis & Editor :

Sulthan Fathir Al – Hafizh

Penerbit :

Sulthan Publishing House

©PERHATIAN!!!

DILARANG KERAS UNTUK MENJIPLAK,
MENGUTIP, MENIRU,DAN MENGADAPTASI
KONTEN DARI BUKU INI TANPA IZIN DAN
MENCANTUMKAN SUMBER PIHAK TERKAIT.
© Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang

Quotes

"Seorang ibu adalah teman paling
sejati yang kita miliki."

Me And My Mom

SULTHAN FATHIR

Daftar Isi

Daftar Isi ............................................................... i
Kata Pengantar ..................................................... ii
Bab 1 ...................................................................... 1
Bab 2 .................................................................... 10
Bab 3 : ................................................................. 16
Profil Penulis ........................................................18

i

Pengantar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh.
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wata’alaa yang
Maha Kuasa. Yang telah memberikan kita berbagai
macam nikmat yang tak pernah dapat kita ketahui
jumlahnya.
sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada
Nabiyyina Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam.
Semoga kita mendapatkan syafa’atnya di hari kiamat
nanti. Juga tak lupa saya haturkan banyak terimakasih
bagi pembaca sekalian yang telah berkenan membaca
buku saya ini.
Alhamdulillah wa syukurillah, Allah telah memeberikan
kesempatan kepada saya lagi untuk menulis buku saya
yang ketiga ini. Harapan saya semoga buku saya ini dapat
menjadi inspirasi, edukasi, dan hiburan tersendiri bagi
yang membacanya.

ii

BAB 1

1|Me and My Mom

“Huuu, gara – gara kamu sih! Tim kita jadi kalah lagi,”
sorak teman – temanku kepadaku. Ucapan teman -
temanku itu menusuk telingaku dan sangat memebekas di
hatiku. Ucapan itu seketika membuatku terkejut.

Aku kemudian menaruh bola basket yang berada di
tanganku dan bergegas menuju kelas. aku melewati
lorong – lorong sekolah yang sepi. Perasaan kesal masih
tertancap kuat di hatiku. Aku berjalan seraya menggerutu
di dalam hatiku, “Ya, memangnya kenapa sih kalau aku
belum mahir bermain basket. nanti juga bisa belajar lagi.
begitu saja kok dipermasalahkan.”

Sesampainya di kelas, aku pun beristirahat untuk melepas
lelahku dan meredakan emosiku. Kemudian aku segera
mengganti pakaianku dan bersiap untuk pulang.

Sesampainya aku dirumah, ibuku yang sedang membaca
majalah di teras rumahku itu cepat – cepat meletakan
majalah yang sedang dibacanya di atas meja di
sampingnya. di wajahnya terpancar senyuman lebar
ketika melihat anak semata wayangnya itu pulang.

2|Me and My Mom

Namun, saat itu aku hanya berjalan masuk kedalam
rumahku tanpa menyapa ibuku sedikitpun. dan segera
menuju kamarku.

Ibuku terheran – heran melihatku yang bertingkah tak
seperti biasanya. Ibuku kemudian bergegas ke kamarku.
Sesampainya di kamarku, ia kemudian langsung
memelukku. Pelukan lembut ibuku itu membuatku
merasa lebih tenang. Seakan aku sudah melupakan
kejadian yang tadi kualami ketika di sekolah.

Kemudian ibuku bertanya kepadaku, “Nak, ada apa
denganmu? Ayo ceritakan saja pada ibu.” aku awalnya
hanya ingin memendam masalah ini dalam hatiku. Tetapi,
hatiku seolah menolak untuk menyimpan masalah ini.
Akhirnya, aku memutuskan untuk menceritakan masalah
yang tadi kualami di sekolah. “Bu, tadi aku diejek teman
– temanku. Karena aku belum bisa bermain basket.”
ujarku dengan suara pelan. Ibuku kemudian memelukku
sekali lagi. Pelukan ibuku yang lembut dan hangat itu
membuatku merasa lebih lega.

3|Me and My Mom

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk tidak
berangkat ke sekolah karena rasa kesal yang mendalam
terhadap teman – teman yang mengejekku masih
membekas di hati.

Aku-pun akhirnya menenangkan diri di kamarku dengan
membaca buku komik kesukaanku. Aku pikir, hal ini tak
akan diketahui ibuku. Karena setiap hari, ibuku biasanya
disibukkan oleh pekerjaan rumah tangga. Namun, setelah
sekian lama aku menikmati bacaan komik kesukaanku,
tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin lama
semakin terdengar jelas. Aku langsung berpikir bahwa
langkah kaki itu adalah langkah kaki ibuku. Aku cepat-
cepat menyembunyikan komik yang sedang aku baca di
bawah bantal. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu
kamarku terbuka. Aku semakin takut mendengar suara
itu.

Dan ternyata, benar saja. Itu adalah ibuku. Ketika ia
membuka pintu kamarku, perasaanya terkejut melihat aku
yang sedang duduk santai diatas kasurku. Ibuku kemudian
menghampiriku. Sementara, aku hanya menatap wajah
ibuku dengan perasaan yang semakin takut. Ibuku
4|Me and My Mom

kemudian bertanya kepadaku, “Bintang, memangnya hari
ini kamu libur sekolah? ini kan hari Senin.” Wajahku
tertunduk ketika ditanya seperti itu oleh ibuku. Aku
kemudian menjawab dengan singkat, “Tidak bu.” “Lalu,
mengapa hari ini kamu tidak masuk sekolah?” tanya ibuku
lagi. wajahku kemudian tertunduk dan aku menjawab
dengan pelan dan singkat, “Aku masih merasa kesal pada
teman-temanku.”

Setelah mendengar perkataan itu dariku, ibuku hanya
dapat menarik napas panjang. Aku semakin tersadar
betapa salahnya diriku yang sengaja bolos sekolah.
“Maafkan Bintang ya bu,” ujarku meminta maaf pada ibu.
Ibuku mencoba menenangkan dirinya. Kemudian ia
berkata kepadaku, “Nak, maafkan saja teman-temanmu.
Bisa jadi mereka mengejekmu karena hanya ingin agar
kamu dapat bermain basket.” kemudian, ibuku mengecup
keningku. Dan kemudian pergi meninggalkan kamarku.

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk masuk
sekolah. entah mengapa hatiku merasa seperti ada sesuatu
yang penting hari ini. Pagi – pagi sekali, aku telah bersiap

5|Me and My Mom

– siap untuk berangkat sekolah. Aku sebenarnya masih
mengantuk karena aku belajar hingga larut malam.

Aku kemudian membawa tas ku, berpamitan dengan
ibuku, kemudian berjalan menuju keluar rumah. tiba-tiba,
ku dengar suara mobil jemputanku yang sudah bersiap di
depan pintu gerbang rumahku.

Aku kemudian bergegas masuk ke dalam mobil
jemputanku. Namun, baru saja aku membuka pintu mobil
jemputan, aku dikejutkan sapaan teman – teman ku.
Teman – temanku juga meminta maaf kepadaku dan
memelukku dengan erat.

Mobil jemputanku kemudian mulai berjalan menuju
sekolahku. Teman-temanku sangat menikmati
perjalanannya di mobil jemputan. Karena, setiap hari
mobil jemputanku itu selalu melewati persawahan dan
terlihat pemandangan gunung yang tertutup oleh kabut
tebal disana. Namun, aku malah menikmati tidur lelapku
sepanjang mobil jemputanku berjalan.

6|Me and My Mom

Namun, tiba – tiba mobil jemputanku berhenti. Sebagai
tanda, bahwa aku dan teman – temanku sudah sampai di
sekolah.

Teman – temanku-pun membangunkanku. Karena saat
itu, aku masih saja tertidur pulas. “Bintang.. Bintang.. kita
sudah sampai di sekolah..” ujar teman- temanku
membangunkanku. aku pun lekas terbangun dari tidurku.
Namun, rasa kantuk masih saja menghantui kedua
mataku.

Aku pun segera menuju kantin dan memesan segelas kopi.
ku harap, dengan kopi yang aku pesan itu, dapat
menghilangkan sebagian rasa kantuk yang masih tersisa
di kedua mataku.

Setelah aku menghabiskan kopi yang aku pesan, aku
kemudian bergegas menuju kelas ku. Karena, 15 menit
lagi pelajaran akan segera dimulai.

Disaat aku berada di kelas, bu guru datang dan
meletakkan seberkas kertas di meja guru. Aku terus saja
memerhatikan kertas yang bu guru letakkan di meja guru.
Ketika aku sedang fokus mengira-ngira isi kertas itu, aku

7|Me and My Mom

di kagetkan oleh suara ibu guru yang tegas itu, “Anak-
anak, di pelajaran pertama hari ini kalian akan
melaksanakn ulangan IPA ya!” aku merasa sangat
terkejut ketika mendengar kabar itu dari bu guru. Namun,
untunglah aku telah belajar semalam.

Di kelas, aku berusaha membuka lebar mataku dan
menahan sisa rasa kantuk yang masih saja menghantui
mataku. Namun, disaat aku mengerjakan ulangan,
kefokusan ku akhirnya terkalahkan dengan rasa kantuk
yang tiba – tiba datang lagi. dan akhirnya, aku hanya
mengerjakan beberapa soal dan tanpa sadar, aku tertidur
lelap hingga ulangan berakhir.

Aku tiba – tiba terbangun karena mendengar suara bel
yang amat nyaring. Aku-pun melihat kearah mejaku. Tak
ada benda apapun kecuali pensil dan penghapus yang
beranktakan. Aku baru tersadar bahwa aku tidak selesai
mengerjakan ulangan dan tertidur lelap. aku pun tak dapat
melakukan apa – apa lagi. kecuali hanya menunggu hasil
ulanganku.

8|Me and My Mom

Singkat cerita, ketika akhirnya aku menerima hasil
ulangan yang aku kerjakan seminggu yang lalu, aku
sangat terkejut ketika melihat angka yang sangat rendah
yang tercoret jelas pada kolom nilai/ di kertas ulanganku.
Mataku terbelalak seolah tak percaya dengan tulisan apa
yang tertera pada kolom nilai di kertas ulanganku. Aku
benar -benar tak menyangka akan mendapatkan nilai yang
begitu rendah.
Perasaan takut-pun perlahan – lahan mulai muncul.
Membayangkan amarah ayahku yang begitu dahsyat
seperti ulangan semester tahun lalu. Akhirnya, aku
memutuskan untuk menyembunyikan kertas ulanganku.

***

9|Me and My Mom

BAB 2

10 | M e a n d M y M o m

Beberapa bulan kemudian, saatnya orangtuaku menerima
laporan hasil belajarku selama di sekolah ( raport ). Aku
pun merasa sangat gugup ketika mengetahui kabar itu.
Hatiku sangat gelisah membayangkan hasil ulanganku
yang begitu rendah. Aku begitu gugup dan takut hingga
aku tak mau ikut ayahku yang akan menerima raport-ku.
Padahal, biasanya aku selalu ikut setiap ayahku akan ke
sekolah untuk menerima raport-ku.

yang dapat ku lakukan saat itu hanyalah menunggu
ayahku pulang untuk mengetahui nilai raport-ku.

Sembari menunggu ayahku pulang, aku hanya duduk di
sofa di ruang keluargaku sembari menonton tv untuk
menenangkan hatiku yang sangat khawatir dan gelisah.
Namun, tiba-tiba mataku tertuju kearah jam dinding yang
tepat berada di atas tv. Aku memperhatikan dengan fokus,
jarum jam yang perlahan - lahan bergerak. Kulihat jam
telah menunjukkan pukul 08.00. “Mengapa kali ini waktu
semakin lama ya?” gumamku. Aku jadi semakin tidak
sabar menunggu ayahku.

11 | M e a n d M y M o m

Tak berapa lama kemudian, ku dengar suara pintu
rumahku terbuka. “Apa mungkin itu ayah?” pikirku
dengan penuh rasa penasaran. Akhirnya, aku melongok
kearah pintu rumahku untuk meyakinkan hatiku. Betapa
terkejutnya aku ketika melihat lelaki dewasa yang
memakai kemeja panjang bermotif garis biru, berdasi
hitam, dengan membawa seberkas kertas di tangan
sebelah kirinya. Aku pun segera berlari kembali menuju
sofa dan duduk dia atas sofa. Seakan aku tak menyadari
kepulangan ayah dari sekolahku.

Disaat ayahku masuk ke ruang keluarga, aku melirik
kearah ayahku dengan perasaan khawatir. Kulihat juga
ayahku yang sekilas melihatku. Saat itu, belum ada
ekspresi apapun di wajah ayahku. Ayahku kemudian
masuk ke ruangan kerjanya yang berada tepat disamping
kamar kedua orangtuaku. Beberapa lama kemudian, aku
mendengar suara ayah yang memanggilku, “Bintang..
Bintang.. ayo ke ruang kerja ayah nak!” rasa takutku-pun
mulai meningkat. Aku akhirnya berjalan pelan menuju
ruang kerja ayahku. Seluruh tubuhku saat itu gemetaran.
Keringat dingin-pun mulai bercucuran.

12 | M e a n d M y M o m

Sesampainya di depan ruang kerja ayahku, aku melihat
ayahku yang sedang melihat sebuah kertas dengan fokus.
“Sepertinya itu raport-ku,” gumamku. Aku kemudian
berjalan perlahan menuju ke tempat dimana ayahku
duduk. Aku berdiri disamping ayahku, mataku langsung
tertuju pada kertas yang ayahku perhatikan semenjak tadi.
Betapa terkejutnya hatiku ketika melihat angka 50 yang
tertulis dengan tinta merah di raport-ku. Benar saja
perkiraanku. Ternyata, memang nilai raport-ku ada yang
rendah.

Rasa takutku saat itu berada di tingkat puncak. Ayahku
kemudian memalingkan wajahnya kearah-ku. Aku pun
menatap ayahku dengan takut. “Bintang, lihat nilaimu ini
nak! mengaapa nilai IPA kamu jadi rendah seperti ini?
Ayah sangat kecewa padamu Bintang!” bentak ayahku
seraya menjulurkan telunjuknya pada angka 50 di raport-
ku.

aku pun terdiam mendengar ayahku yang membentakku
dengan keras seperti itu. kepala ku tertunduk, dan butiran-
butiran air mata mulai menetes dari pelipis mataku.
“Dimana kertas ulangan IPA kamu yang membuat nilai
13 | M e a n d M y M o m

raport kamu rendah seperti ini?” bentak ayahku sekali
lagi. aku pun kemudian mengambil kertas ulangan IPA
yang aku sembunyikan di dalam tas ku. Dan kemudian,
aku berikan kepada ayahku. Saat melihat kertas ulangan
IPA yang aku berikan pada ayahku itu, wajah ayahku
semakin memerah. Raut amarah yang terpancar-pun tak
dapat terlukiskan lagi.

ayahku kemudian keluar dari ruangan kerjanya itu. aku
pun mengikutinya pelan – pelan dari belakang. Ternyata,
ayahku pergi menuju ruang belajarku. Aku semakin
penasaran dengan apa yang ayah lakukan di ruang
belajarku. Ternyata, ayahku mengambil buku pelajaran
IPA ku dan bergegas kembali ke ruangan kerjanya. Aku
terus mengikuti ayahku hingga kembali ke ruangan
kerjanya. sesampainya di ruangan kerja ayahku, ayahku
membanting buku pelajaran IPA-ku itu diatas meja
kerjanya seraya berkata, “Kerjakan semua soal dibuku itu!
satu bulan harus sudah selesai semua.” Setelah
mengatakan itu, ayahku pergi meninggalkan aku di
ruangan kerjanya. Aku-pun berjalan sambil membawa
buku pelajaran ku itu Kembali ke ruang belajarku. Air

14 | M e a n d M y M o m

mataku semakin mengalir deras dari pelipis mataku.
Sesampainya aku di ruangan belajarku, aku mulai
membuka buku-ku dan mulai mengerjakan soal. Lagi –
lagi, air mataku mengalir begitu deras hingga membasahi
buku pelajaranku itu.
Ibuku yang sepertinya telah mendengar bentakan ayahku
semenjak tadi, kemudian menghampiriku dan
membawakan-ku segelas susu cokelat hangat
kesukaanku. Kemudian, ibuku memelukku dengan
pelukan hangatnya. Dan ia juga membantuku
mengerjakan soal-soal di buku pelajaran IPA itu.
Sehari-hari, hidupku selalu ditemani oleh sosok seorang
ibu yang selalu berjuang demi keberlangsungan
kehidupan buah hati tercintanya, yang selalu memberikan
cinta sepenuh hati, dan ibu yang selalu menjadi solusi dari
masalah yang dihadapi buah hati tercinatanya.

***

15 | M e a n d M y M o m

BAB 3

16 | M e a n d M y M o m

Hingga pada suatu hari, ujian datang menimpa keluarga
kami. Yang memaksa ibuku untuk bekerja. Dan akhirnya,
ibuku bekerja di sebuah perusahaan. Kini, aku harus
belajar untuk hidup lebih mandiri tanpa bergantung
kepada ibuku. Suatu saat, ibuku memanggil aku dan
ayahku. ibuku berkata kepada kami bahwa ia ditugaskan
untuk bekerja di luar kota selama 5 tahun. Dan baru akan
pulang selama sekali dalam sebulan.

Aku terpukul mendengar kabar tersebut dari ibuku.
Tetapi, aku berusaha untuk bersabar akan cobaan dari
Tuhan Yang Maha Esa.

Air mataku berlinang ketika aku memeluk ibuku untuk
yang terakhir kalinya sebelum ibuku pergi ke luar kota.
Aku hanya dapat melambai-lambaikan tanganku ketika
menyaksikan ibuku yang hendak menaiki pesawat untuk
pergi keluar kota.

Sekarang, aku hanya dapat berdoa yang terbaik untuk
ibuku agar ibuku bahagia disana.

17 | M e a n d M y M o m

PROFIL PENULIS

Penulis buku novel berjudul “Me and My Mom” yang
bernama lengkap Sulthan Fathir Al – Hafizh ini sudah
pernah menulis dua buah buku yang berjudul “Bola
Keberuntungan”, “Friendship Come and Friendship Go”.
umurnya cukup dini yakni 13 tahun. Ia lulusan SDIT AL
– KHAIRAAT dan sekarang ini sedang menempuh
Pendidikan di SMPIT ASSYIFA BOARDING SCHOOL.
Penulis juga aktif dalam membuat blog dan berkonten di
channel youtube-nya yang bernama Sulthan Fathir
Official. Cita – citanya ialah ingin menjadi programmer
sekaligus penulis. Tujuannya menulis buku ialah agar
dapat menginspirasi, mengedukasi, dan menghibur
sekaligus berkreasi melalui tulisan.


Click to View FlipBook Version