CODING MENINGKATKAN HOTS ANAK
Oleh: Deni Supriadi
Copyright © 2020 by Deni Supriadi
Penerbit
Deni Supriadi
IG: @saungcoding
[email protected]
Desain Sampul:
Deni Supriadi
Diterbitkan melalui:
Saung Coding
Yayasan Sakata Innovation Center
2
Ucapan Terimakasih:
Terimakasih saya ucapkan kepada Allah sang pencipta
alam semesta yang telah memberikan berabagai
kenikmatan rejeki yang tak ternilai harganya.
Terimakasih kepada istri saya yang mendukung saya
dan selalu percaya kepada saya.
Terimaksih kepada keluarga dan teman-teman saya
yang mendukung dan mendoakan saya.
Terimakasih kepada semuanya sehingga saya bisa
menulis buku ini.
Semoga buku ini bisa bermanfaat banyak, semoga
dengan buku ini bisa menambah dan membuka
wawasan bagi anda.
Dengan adanya buku ini harapan saya, bisa menjadikan
anak-anak kita menjadi anak-anak yang cerdas, kreatif
dan inovatif serta produktif dan siap menjadi sukses
dikehidupan kelak.
3
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................... 4
BAB I. PENDAHULUAN..................................... 5
BAB II. PENDIDIKAN DAN BUAH FIKIRAN
ORANG TUA MEMPENGARUHI MASA
DEPAN ANAK KITA ............................................ 9
BAB III. HOTS (HIGHER ORDER THINKING
SKILLS) ................................................................ 15
BAB IV. MULTIPLE INTELLIGENCES ......... 20
BAB V. 21st CENTURY SKILLS .......................... 35
BAB VI. OTAK KANAN & OTAK KIRI ........... 39
BAB VII. PROGRAM SAUNG CODING........... 46
7.1 Keunggulan Coding Dibanding Les Lain ...... 52
7.2 Bagaimana Cara Memulai Belajar Coding..... 54
PROFIL PENULIS.............................................. 58
4
BAB I. PENDAHULUAN
Persiapan untuk era globalisasi dan Revolusi
Industri 4.0 membutuhkan lebih dari sekedar
keterampilan dasar akademis. Sebuah studi yang
dilakukan US National Science Foundation
mengungkapkan, pada masa depan 80% pekerjaan di
seluruh dunia akan membutuhkan keterampilan
berpikir kritis dan keterampilan menyelesaikan masalah.
Memperkenalkan coding kepada siswa mendukung
pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology,
Engineering, Art and Math) dan memberikan beragam
praktik dan proyek kepada anak didik serta mengasah
keterampilan berpikir dan jika difasilitasi pengajar yang
terampil akan mendorong anak Indonesia untuk siap
bersaing menghadapi masa depan.
Pengajaran coding akan membantu siswa
mengembangkan keterampilan abad ke-21 yaitu
kreativitas dan memecahkan masalah yang akan
5
menggerakan mereka untuk berprestasi ketika mereka
belajar di sekolah.
Benefit Coding
Studi menunjukkan bahwa melibatkan siswa dalam
STEM dan pembelajaran berbasis komputer pada usia
dini akan membantu siswa mempertahankan minat
mereka ketika mata pelajaran tersebut menjadi lebih
menantang di sekolah menengah dan perguruan tinggi,
dan garis pemikiran inilah yang telah mendorong
pengenalan awal tersebut pada konsep coding.
Coding telah muncul sebagai salah satu tren
pembelajaran paling populer dalam beberapa tahun
6
terakhir. Banyak negara maju dan berkembang seperti
Inggris dan Singapura menerapkan pembelajaran
coding dalam kurikulum sekolah dasar, bahkan coding
disana sudah diajarkan sejak taman kanak-kanak.
Sedangkan di Indonesia coding hanya dijadikan
beberapa pelajaran tambahan seperti ekstrakurikuler
dan itupun hanya ada di beberapa sekolah dasar
bonafid di kota-kota besar.
Data World Economic Forum (WEF) 2017
mengungkapkan bahwa keterampilan dasar seperti
membaca dan berhitung saja tidak cukup pada masa
depan.
WEF memformulasikan enam keterampilan dasar
yang perlu dikuasai, di antaranya membaca, berhitung,
serta keterampilan informasi, komunikasi, dan
teknologi. Selain itu, WEF melaporkan sebuah studi
bahwa satu dari tiga keahlian yang dibutuhkan saat ini
berubah pada 2020.
Diperkirakan 65% anak-anak usia sekolah saat ini
ketika memasuki dunia kerja nantinya harus
7
menghadapi pekerjaan yang bahkan saat ini belum ada.
Diprediksikan sistem pendidikan dasar saja belum
cukup untuk mempersiapkan anak-anak di masa depan.
Jika dibiarkan, anak-anak yang akan menjadi pekerja
pada masa depan akan menghadapi kesenjangan
keterampilan dan menghadapi kesulitan dalam
mendapatkan pekerjaan.
Manfaat coding bagi anak sangat penting bagi
semua bidang pekerjaan terutama untuk masa depan
dimana semua sumberdaya manusia wajib memiliki
keterampilan abad 21 (21st Century Skill) dan
pengetahuan Teknologi Informasi yang mencukupi.
Selain keterampilan abad 21, belajar coding juga bisa
meningkatkan HOTS (Higher Order Thingking Skills)
dan peningkatan beragam kecerdasan (Multiple
Intelligences)
8
BAB II. PENDIDIKAN DAN BUAH
FIKIRAN ORANG TUA
MEMPENGARUHI MASA DEPAN
ANAK KITA
Ini adalah pengalaman saya dalam mengenyam
pendidikan dari SD hingga lulus Kuliah. Saya
mengenyam pendidikan pada masa Orde Baru dan
Reformasi, mungkin anda juga mengenyam pendidikan
di masa itu. Ada persamaan dan perbedaan situasi
antara anda dan saya, dimana saat mengenyam
pendidikan dari SD sampai SMA saya hidup di kota
kecil yaitu Majalengka yang situasi dan kondisinya
berbeda dengan kondisi sekarang yang sudah berubah
total karena adanya pembangunan BIJB (Bandara
Internasional Jawa Barat) dan tentunya jalan tol Cipali,
bisa dikatan dulu adalah kampung kecil dengan fasilitas
terbatas. Perbedaanya bisa saja anda mengeyam
pendidikan di kota besar. Sedangkan ada persamaan
antara anda dan saya dalam pendidikan yaitu apa yang
9
diajarkan kepada kita yang saya rasa dari jaman dulu
sampai saat ini tetap saja sama, apa itu? Apakah anda
sudah tau jawabannya!
YA,,, kita seringkali diajarkan hanya untuk bisa
membaca, menghapal, berhitung, memahami dan
menerapkanya. Disadari atau tidak dulu kita hanya
diajarkan untuk mengejar nilai. Sedikit mungkin sesuatu
yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan
contohnya bisa membaca, memahami siklus hidup
mahluk hidup, siklus air, system pencernaan, hukum
gravitasi dan lainnya semua itu tidak lain hanya
membaca, memahami dan menerapkan. Situasi ini
bukan hanya saya rasakan di sekolah tapi di lingkungan
pun kita selalu diajarkan demikian terlebih lagi ayah
saya adalah seorang Guru SD, jadi saya tau betul dan
hapal alur dan jalannya pendidikan.
Dari sejak TK sampai kuliah kita semua hanya
mengejar nilai mancari IPK. Prestasi belajar dengan
IPK tinggi sering kali dijadikan patokan untuk bisa
sukses di kehidupan. Itu yang diajarkan orang tua
kepada saya sehingga dari SD saya harus ada rangking
10
sampai kuliah saya harus mempunyai nilai bagus, kabar
baiknya dari SD saya berangking terus dan kuliah IPK
saya lumayan tinggi walau tidak cumlaude tapi saya
selalu dapat Beasiswa Prestasi karena nilai IPK saya,
kabar kurang baiknya dengan IPK itu saya lamar sana
lamar sini dan satu tahun saya tidak mendapatkan
pekerjaan, ternyata IPK tinggi tidak selamaya
menjamin. Yang laku adalah pengalaman, ide dan
kreativitas serta inovasi dari diri kita.
Hal-hal yang penting tersebut ternyata tidak saya
dapatkan di pendidikan dari sejak SD sampai kuliah.
Hal-hal tersebut saya dapatkan pada saat saya sudah
bekerja dengan belajar, mengamati dan
mengimplementasikan dalam pekerjaan.
Bertolak belakang dengan teman saya yang hanya
lulusan SD atau SMP, setelah lulus mereka ditempa
dengan bekerja, ditempa dengan harus memecahkan
masalah, berfikir secara kritis untuk memenuhi
penghidupan mereka dan akhirnya mereka harus kreatif
dan berinovasi sehingga kehidupan mereka bisa dikatan
sukses dalam bidangnya.
11
Ada hal yang mengusik fikiran saya, kenapa ini
terjadi? Ternyata jawabanya yaitu hal-hal yang
seharusnya diajarkan di dalam pendidikan ternyata
jarang sekali diajarkan atau jika adapun porsinya sangat
sedikit sekali. Seperti halnya belajar berkreativitas dalam
menggambar, bermain musik, itu jarang diajarkan.
Untuk anda generasi X dan Baby Boomer Saat kita
berada dalam pelajaran menggambar yang kita gambar
pasti dua buah gunung bersama pemandanganya dan
hampir semua murid gambarnya sama, kita tidak
diajarkan untuk harus membuat gambar yang berbeda-
beda, kita tidak distimulasi untuk membuat gambar
yang bervariasi.
Gambar Generasi Baby Boomer
12
Begitu pula dalam pelajaran musik atau seni rupa
dan sebagainya. Apakah hal ini sama dimasa sekarang?
Mungkin untuk generasi sekarang hal ini ada sedikit
perbedaan, namun fikiran-fikiran, ide-ide, mindset kita
sebagai generasi X, generasi Baby Boomer sampai
millenial setidaknya memepengaruhi otak anak kita saat
ini. Dan dalam dunia pendidikan di sekolahpun
demikian, hanya sedikit sekali yang berubah dan banyak
sekali yang tertinggal.
Ini adalah fakta dan tidak bisa dipungkiri peringkat
pendidikan kita menurut Survey kualitas pendidikan di
dunia, Indonesia peringkat 72 dari 77 negara dirilis
Programme for International Student Assessment
(PISA) 2019.
Bagaimanai dengan pendidikan di luar negeri di
negara-negera maju? Berdasakan penelitian para ahli
dan pendidik ternyata ada perbedaan yang paling
mencolok antara pendidikan di kita dengan di negara
maju. Di negara maju jauh puluhan tahun sebelumnya
mereka lebih menekankan kemampuan berfikir,
13
berkreativitas, berinovasi, menganalisis, mengevaluasi
dan menciptakan sesuatu ketimbang hanya belajar
membaca, memahami dan mengimplementasikan.
Maka tidak mengherankan inovasi-inovasi, alat-alat
canggih sampai teknologi itu banyaknya berasal dari
negera-negara maju, sedangkan kita hanya sebagai
pengguna dari alat-alat tersebut, kita hanya belajar
bagaimana caranya menggunakan alat-alat dan
teknologi yang diciptakan oleh bangsa lain yang lebih
maju.
Maka dari itu sudah seharunya mulai dari
sekarang kita wajib mengajarkan keterampilan, skill,
pengetahuan yang biasa diajarkan oleh negera-negara
maju kepada anak kita dari sejak dini seperti
kemampuan berfikir kritis, kemampuan memcahkan
masalah, berkreativitas, berinovasi, menganalisis,
mengevaluasi dan menciptakan sesuatu.
14
BAB III. HOTS (HIGHER ORDER
THINKING SKILLS)
HOTS awalnya dikenal dari konsep Benjamin S. Bloom
dkk. dalam buku berjudul Taxonomy of Educational
Objectives: The Classification of Educational Goals
(1956) yang mengategorikan berbagai tingkat pemikiran
bernama Taksonomi Bloom, mulai dari yang terendah
hingga yang tertinggi. Konsep ini merupakan tujuan-
tujuan pembelajaran yang terbagi ke dalam tiga ranah,
yaitu Kognitif (keterampilan mental seputar
pengetahuan), Afektif (sisi emosi seputar sikap dan
perasaan), dan Psikomotorik (kemampuan fisik seperti
keterampilan).
15
Taksonomi Bloom (Sumber: globaldigitalcitizen.org)
16
Konsep Taksonomi untuk menentukan tujuan belajar
ini dapat kita sebut sebagai tujuan akhir dari sebuah
proses pembelajaran. Jadi, setelah proses pembelajaran
tertentu, siswa diharapkan dapat mengadopsi
keterampilan, pengetahuan, serta sikap yang baru.
Nah, HOTS sendiri merupakan bagian dari ranah
kognitif yang ada dalam Taksonomi Bloom dan
bertujuan untuk mengasah keterampilan mental seputar
pengetahuan. Ranah kognitif versi Bloom ini kemudian
direvisi oleh Lorin Anderson, David Karthwohl, dkk.
pada 2001. Urutannya diubah menjadi enam, yaitu:
1. Mengingat (remembering)
2. Memahami (understanding)
3. Mengaplikasikan (applying)
4. Menganalisis (analyzing)
5. Mengevaluasi (evaluating)
6. Mencipta (creating)
17
Tingkatan 1 hingga 3 dikategorikan sebagai
kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS),
sedangkan tingkat 4 sampai 6 dikategorikan sebagai
kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).
HOTS (Higher Order Thinking Skill)
Berbekal pengetahuan Teknologi Informasi yang
mencukupi, proses pembiasaan berfikir logis, sistematis
dan kritis melalui implementasi pelajaran matematika
yang menyenangkan, kemampuan berkomunikasi yang
baik dan menumbuhkan seni sebagai bagian
penyeimbang dari sisi logis untuk memunculkan
kreativitas dan inovasi bisa dilakukan dengan
pendekatan pembelajaran pemrograman komputer
18
melalui metode JOYFUL LEARNING yaitu belajar
pemrograman komputer (Coding) membuat animasi
dan game serta aplikasi, proses HOTS ini dapat
diimplementasikan dengan cepat, efektif dan efisien.
Hal ini tentu saja telah teruji di beberapa negara maju,
yang berpengalaman dalam mengimplementasikan
pelajaran pemograman pada anak sejak dini, dan sudah
menjadi kurikulum pada sekolah dasar di negara-
negera maju sepeti Amerika, Inggris, China bahkan
Singapura.
19
BAB IV. MULTIPLE
INTELLIGENCES
Pada dasarnya setiap anak itu cerdas. Paradigma
lama mengajarkan kita bahwa anak yang cerdas adalah
anak yang memiliki ranking 10 besar di sekolah, anak
yang nilai matematikanya tinggi adalah anak yang pintar
padahal ada hal lain yang mempengaruhi kesuksesan.
Orang yang nilainya tinggi-tinggi ketika sekolah belum
tentu sukses dalam kehidupan.
Howard Gardner, seorang profesor
pendidikan yang mengabdikan dirinya di Universitas
Harvard, Amerika Serikat. Menurutnya, selama ini para
pendidik telah melakukan kekeliruan karena
menganggap tes kecerdasan atau tes IQ adalah satu-
satunya ukuran yang paling dapat dijadikan patokan
untuk mengukur kecerdasan seseorang.
Menurut Gadner, kecerdasan manusia juga harus dinilai
berdasarkan:
20
- Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang
terjadi hidup
- Kemampuan menemukan persoalan-persoalan baru
untuk diselesaikan atau dicari solusinya
- Kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan
memberikan penghargaan dalam budaya seseorang.
Gardner mendefinisikan kecerdasan manusia
yang tak berbatas, yang diantaranya dapat
dikelompokkan menjadi delapan kecerdasan, yaitu
kecerdasan linguistik (bahasa), kecerdasan logika-
matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan gerak
tubuh, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal,
kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.
Kecerdasan Bahasa:
KARAKTERISTIK PENGEMBANGAN
Senang dengan Menulis ekspresif
permainan kata (cerita, pengalaman,
imajinasi)
Cepat hafal pantun,
sajak, lirik lagu Membuat rekaman
21
Sangat hafal nama, karya bahasa (puisi,
tanggal cerita, sajak, lirik lagu)
Perluas cakrawala (buku,
Menikmati mendengar pengalaman, diskusi)
cerita Sediakan permainan
dramatisasi
Kosa kata luas, cepat
menyerap kosa kata Belajar bahasa lain
baru Senang sekali
mengarang atau cerita
Profesi : negosiator, penterjemah, ahli bahasa, penulis
Coding mengajarkan anak untuk bisa menceritakan ide-idenya,
imajinasinya kedalam sebuah karya animasi atau film pendek
yang dia buat sendiri dengan fasilitas yang disediakan dalam
pelajaran coding.
Kecerdasan Logika-Matematika
KARAKTERISTIK PENGEMBANGAN
Berpikir secara Menyelesaikan
22
numerik persoalan matematika
(angka), pola (sehari-hari)
dan urutan logis
Sediakan berbagai jenis
Mengajukan permainan seperti :
pertanyaan kritis catur, othello, PAS,
logiko
Senang permainan
strategi, c/ catur memperluas cakrawala
sains, sosial & teknologi
Menjelaskan masalah (eksperimen, buku,
secara logis pengalaman)
Senang eksperimen Koleksi perangko
Mudah paham sebab Diskusi mencari
akibat alternative pemecahan
masalah
Suka menyusun
katagori dan hirarki
Profesi : ilmuwan, penemu, ahli komputer, akunting
Coding membiasakan anak untuk bisa memecahkan masalah,
berfikir secara kritis dan sistematis dan logis dengan logika
23
matematika yang diterapkan kedalam pemrograman komputer
yang ada dalam pelajaran coding.
Kecerdasan Visual Spasial PENGEMBANGAN
KARAKTERISTIK
Berpikir Perluas
dlm cakrawala
bentuk (film,
gambar kunjungan
planetarium,
Peka dengan perubahan museum,
ruang gedung
arsitektural,
Senang maze, rancang galeri seni
bangun dan puzzle
Sediakan banyak
Senang membaca gambar, peta,
peta, diagram, grafik, diagram,
grafik puzzle,maze, pas,
logiko permainan
Senang film, slide, foto
Membangun konstruksi 3
24
D yang menarik konstruktif (lego,
Senang imajinasi visual motik, balok,
lassy)
Sediakan
peralatan
melukis,
menggambar,
tanah liat,
barang-barang
bekas untuk
dirakit jadi
benda-benda 3D
Profesi : arsitek, interior designer, pelukis, navigator
Coding mendidik anak untuk senantiasa menggambar sendiri
karya-karyanya, lalu dengan pemrograman komputer yang
sudah dikuasai anak, gambar-gambar yang dia ciptakan akan
bisa hidup menjadi sebuah film animasi atau game yang
25
menyenangkan dengan cerita-cerita yang dia kembangkan
sendiri.
Kecerdasan Musik PENGEMBANGAN
KARAKTERISTIK
Senang main musik Latih cara
berkonsentrasi
Lebih mudah belajar dengan dengar
dengan iringan musik musik,
mengetuk jari
Cepat ingat lagu dan berirama atau
melodi bersenandung
Peka auditori Kenal alat-alat musik,
(membedakan suara, ajak membuat alat
alat musik, ketukan) musik dari berbagai
benda, jenis-jenis
Memberi reaksi kuat musik (klasik, jazz,
thd berbagai jenis pop)
musik
Ajak
26
meng’compose’
irama lagu,
menggubah dari
lagu yang disukainya
Ajak mengikuti
berbagai jenis
pentas musik
Profesi : pemain musik, arranger, pengarang lagu,
penyanyi, composer
Dalam coding juga diajarkan bagaimana untuk memberikan
musik latar, suara efek dan lagu agar karyanya bisa lebih
hidup. Komponen yang ada dalam pelajaran coding juga
mengandung musik-musik dari berbagai alat musik yang bisa
anak ubah menjadi sebuah alat musik digital.
Kecerdasan Interpersonal
KARAKTERISTIK PENGEMBANGAN
27
Punya banyak Fasilitasi
teman kesempatan anak
bermain dengan
Senang kelompok
bersosialisasi (dramatisasi,
proyek,permainan)
Berperan sebagai
penengah Sediakan berbagai
jenis permainan
Menikmati dramatisasi,
permainan monopoli,
kelompok congklak, dlsb
Mudah berempati Ajak anak
Senang mengorganisasi suatu
memecahkan kegiatan
masalah
kelompok/orang Perluas cakrawala
lain (diskusi bahas tema
sosial, kunjungan
Senang sosial ke panti
mengorganisir asuhan/jompo, slum
area)
28
Profesi : konselor, pekerja sosial, pemimpin/pengelola
usaha, humas, guru, psikolog, dokter, perawat, politikus,
resepsionis.
Bekerjasama secara kelompok berkolaborasi memecahkan suatu
masalah dalam membuat sebuah karya dalam pelajaran coding
merupakan suatu agenda yang ada. Anak akan berperan
terhadap keahlianya masing-masing misalkan yang pintar dalam
menggambar maka yang akan bertugas dalam menggambar
konten-konten yang dibutuhkan dalam karya, sedangkan yang
pandai dalam logika maka dia akan bertugas untuk
memprogram konten-konten tersebut agar menjadi sebuah
animasi atau game, dan yang pandai bercerita akan
menuangkan ide ceritanya kedalam karya tersebut.
Kecerdasan Intrapersonal
KARAKTERISTIK PENGEMBANGAN
29
Menunjukkan Menulis diary (sarana
kemauan yang kuat refleksi)
(prinsip)
Perluas cakrawala
Reflektif (nilai- nilai,
pengalaman hidup
Terarah pada melalui diskusi dan
pencapaian tujuan buku)
Terlibat dalam hobi ajak diskusi berbagai
sendiri (cenderung kasus konflik moral
soliter) (kelaparan hingga
harus mencuri)
Sering punya cara
yang berbeda dari ajak ke tempat ibadah,
orang lain bertemu dengan ulama
Sangat mudah
mengerti dan
menerapkan
aturan/nilai
Profesi : seniman, guru, ulama, biarawan, ahli falsafah
30
Coding mengarahkan anak pada pencapaian tujuan yang harus
diselesaikan, menuangkan cara-cara sendiri dalam memecahkan
masalah, mengajarkan untuk belajar aturan pemrograman
komputer agar bisa menghasilkan karya animasi atau game
yang diinginkan.
Kecerdasan Bodily Kinaesthetic
KARAKTERISTIK PENGEMBANGAN
Perlu menyentuh Ajak melakukan
sesuatu yang olahraga, berkemah,
dipelajari jalan lintas alam
Banyak bergerak, Perluas cakrawala
tidak tahan duduk (outing, eksperimen)
tenang
Salurkan melalui
Menikmati kegiatan kegiatan olahraga, seni
fisik, melompat dan (tari,
berlari drama,pantomim),
kerajinan, memasak
Terampil motorik (tataboga), rancang
halus/kasar
31
Pandai meniru pakaian/perhiasan,
gerakan, kebiasaan bengkel
atau perilaku orang otomotif/elektronika,
lain sediakan peralatannya
Menikmati belajar
dg tanah liat,
melukis jari (craft)
Senang bongkar
pasang
Profesi : atlet, pelatih olah raga, penata rambut,
koreografer, ahli pijat, koki, penari
Coding dengan merangkai robot atau alat bantu lainnya seperti
permainan puzzle teka-teki yang bisa menggerakan anak lebih
aktif sekaligus mengasah kemampuan daya fikir anak, akan
sangat membantu mengasah kecerdasan Bodily Kinaesthetic
anak.
32
Kecerdasan Natural
KARAKTERISTIK PENGEMBANGAN
Senang dengan Lakukan kegiatan
menjelajahi alam jalan lintas alam,
cari jejak
Peka dengan
bentuk alam Pelihara tumbuhan
& hewan yang
Senang hewan disukai
dan tumbuhan
untuk diamati Cakrawala dengan
dan dipelihara gambar
gambar/film/minia
tur alam, binatang,
tumbuhan beraneka
ragam
Profesi : petualang, pendaki gunung, peneliti botani,
berkebun, petani
Pembuatan animasi bertema alam, memahami kejadian alam,
tingkah laku binatang lalu menceritakannya kedalam karya
33
coding animasi dan game ini adalah bagian dari pelajaran
coding.
Ada hal menarik disini yang ingin saya
sampaikan dari beragam kecerdasan dan profesinya
tersebut ada satu profesi penting yang seharunya mulai
diperkenalkan dan ditekankan kepada anak kita, apakah
itu? Jawabanya yaitu PENGUSAHA/PEBISNIS!
Adalah suatu hal yang lumrah jika anak
mempunyai cita-cita menjadi Dokter, Insinyur, atau
Ulama di pondok pesantren namun alangkah lebih baik
lagi jika anak mempunya cita-cita mempunyai Rumah
Sakit dimana para Dokter bekerja pada pemilik rumah
sakit, alangkah lebih baik jika anak bercita-cita jadi
pengusaha yang mendirikan perumahan dan
apartemen dimana para Insinyur bekerja pada pemilik
perumahan, lebih baik lagi jika anak bercita-cita jadi
pendiri pondok pesantren dimana para Ulama bekerja
pada pemilik pondok pesantren dan pahalanyapun
mengalir pada pemilik pondok pesantren. Namun
semuanya itu tergantung pilihan masing-masing.
34
BAB V. 21st CENTURY SKILLS
Pada dasarnya, kemampuan setiap orang
berbeda-beda. Akan tetapi, untuk meraih sebuah
kesuksesan, ada beberapa kemampuan yang wajib
dimiliki dan diasah terus oleh semua orang. Salah satu
kemampuan tersebut adalah 21st century skills.
Lalu, apa itu 21st century skills? Yuk, kita mengenal 21st
century skills yang bisa memandumu untuk meraih
kesuksesan!
Dilansir dari aeseducation.com, 21st century skills
dapat dibagi menjadi tiga kategori, yakni learning skills,
literacy skills, dan life skills. Selain itu, masing-masing
kategori tersebut terdiri dari beberapa kemampuan, di
antaranya:
1. Learning skills, terdiri dari critical thinking,
creativity, collaboration, dan communication atau
biasa disingkat The Four C's.
35
2. Kemampuan dalam literacy skills biasa disingkat
dengan IMT, yakni information literacy, media
literacy, dan technology literacy.
3. Kategori life skills memiliki lima kemampuan yang
terdiri dari flexibility, leadership, initiative,
productivity, dan social skills, atau yang disingkat
FLIPS.
Tiga Kategori 21st century skills
36
Kemampuan-kemampuan tersebut harusnya
diajarkan pada anak kita di dalam dunia pendidikan,
akan tetapi banyak sekolah dan instansi pendidikan
yang tidak menyediakan pelatihan terhadap
kemampuan tersebut.
Prediksi akan kebutuhan kompetensi generasi
bangsa satu dasawarsa ke depan sudah banyak yang
memprediksi, dimana semua berpusat pada
pengetahuan serta keterampilan di berbagai bidang
yang berkaitan dengan teknologi yang sangat
mendominasi, selain tentu saja bagaimana terus
berupaya mengedepankan sikap dan akhlak terbaik
generasi untuk akan datang menjadi fokus utama orang
tua dalam mendidik anak. Mempersiapkan dan melatih
siswa untuk mendapatkan Skill Abad 21 (berfikir kritis,
problem solving, kreatifitas, inovasi, komunikasi,
kolaborasi) merupakan tugas utama pengajar dan
orang tua.
Dengan coding kemampuan Learning Skill,
Literacy Skills dan Life Skill yang ada pada 21st century
37
skills bisa diasah dan diajarkan pada anak usia dini yaitu
anak sekolah dasar bahkan taman kanak-kanak dengan
metode JOYFUL LEARNING.
38
BAB VI. OTAK KANAN & OTAK
KIRI
Tahukah Anda, bahwa kemampuan otak kanan
itu memiliki kapasitas 90% dan otak kiri hanya 10-12%.
Hasil penelitian mutakhir di AS menyebutkan, peran
39
logika dalam membuat orang menjadi sukses hanya 4-
6%, sedangkan 94-96% adalah tanggungjawab otak
kanan yang banyak berhubungan dengan inovasi,
kreativitas, naluri, intuisi, daya cipta, kejujuran,
keuletan, tanggungjawab, kesungguhan, spirit,
kedisiplinan, etika, empati dan lain-lain.
Sedangkan tugas otak kiri adalah yang selalu
berhubungan dengan angka-angka, bahasa analisa,
logika, intelektual, ilmu pengetahuan. Adapun otak
kanan bertanggungjawab dalam hal imajinasi,
kreativitas, seni, music, inovasi, daya cipta, intuisi, otak
bawah sadar, keikhlasan, kebahagiaan, spirit, keuletan,
kejujuran, keindahan dan lain-lain. Selain diurusi oleh
otak kiri, juga menjadi urusan otak kanan.
Otak kanan, sesungguhnya dapat merekam
dengan cepat dan tersimpan selamanya dalam memori
otak. Sel-sel darah manusia dapat menjadi cadangan
tempat penyimpanan memori manakala memori otak
kita penuh. Perlu diketahui, kapasitas kemampuan otak
kanan dalam menyimpan memori mencapai 10 pangkat
40
5 juta kilometer, yang kalau dihitung deretan angka nol
di belakangnya adalah sebanding dengan jarak antara
bumi dan bulan 14 kali pulang pergi.
Lalu apa pentingnya imajinasi? Albert Einstein
menemukan teori relativitas karena kekuatan
imajinasinya. Kemudian sewaktu duduk di bangku
sekolah, gurunya mengajari Einstein tentang kekuatan
daya imajinasi. Salah satu rahasia kecerdsasan orang
Yahudi adakah kekuatan imajinasi.
Salah satu orang yang bisa membiayai untuk
berwisata ke luar angkasa adalah pembuat game
komputer dari Amerika Serikat (AS), keahlian untuk
merancang game komputer, tentunya membutuhkan
kemampuan imajinasi yang tinggi.
Bahkan orang terkaya di dunia, Billy Gates,
pemilik Microsoft adalah seorang yang drop out dari
perguruan tinggi. Tapi jangan ditanya soal tekad dan
daya imajinasi yang tinggi, sehingga mampu mendirikan
41
perusahaan Microsoft yang dibangun dengan modal
tekad yang kuat.
Bahkan, Matshushitya Konoshuke, pemilik
perusahaan elektronik Jepang “Panasonic” adalah
mantan penjaga toko sepeda. Termasuk motivator
sekaligus penulis buku terkenal Andri Wongso adalah
anak dari keluarga miskin di Malang yang tidak tamat
sekolah dasar, tapi karena keberaniannya bermimpi
(daya imajinasi) akhirnya menjadi bintang film di
Hongkong serta membuat kata-kata mutiara yang
ditulis di kertas pembatas buku bernama Harvest. Itu
artinya, cerdas saja tidak cukup, tapi diperlukan
kreativitas dengan selalu mengasah imajinasi, dalam hal
ini merangsang otak kanannya.
God Spot
Peneliti “Neuorolog” Michael Persinger di awal
tahun 1990-an dan VS. Ramachandran bersama timnya
di Universitas California. Barat pernah meneliti, adanya
titik Tuhan (God Spot) dalam otak manusia. Ternyata,
42
pusat spiritual yang terpasang ini terletak di antara
hubungan-hubungan syaraf dalam cuping-cuping
temporal otak. Melalui pengamatan terhadap otak
dengan topografi emisi, positron, dan area-area syaraf
tersebut akan bersinar manakala subjek penelitian
diarahkan untuk mendiskusikan topic spiritual atau
agama.
Menurut ahli syaraf, syaraf ini memiliki gejala
yang unik, karena tidak teraliri oleh darah sepanjang
hari, namun tidak mati. Syaraf ini butuh darah hanya 2-
4 detik saja sebanyak 5 kali sehari. Syaraf ini diyakini
sebagai chip atau modem yang ditanam oleh Allah ke
dalam otak manusia agar mampu menerima hal-hal
yang berhubungan dengan spiritual dan ilmu yang
datangnya langsung dari Sang Pencipta melalui ilham.
Sebaliknya, apabila syaraf ini tidak aktif, maka
orang tersebut sulit untuk menerima hal-hal yang
berbau moral/etika, apalagi spiritual. Mungkin pula
syaraf ini yang tidak aktif pada anak kita, sehingga sulit
43
untuk membentuk karakter anak yang pada akhirnya
nyaris gagal membangun karakter bangsa ini.
Mengasah Imajinasi, Kreativitas, Daya Cipta
dengan JOYFUL LEARNING (gembira saat
belajar)
Imajinasi, kreativitas, daya cipta, dan inovasi
berhubungan dengan otak kanan. Lalu bagaimana
caranya agar anak terbiasa dengan hal tersebut? Sebuah
cara yang menyenangkan bagi anak bisa dilakukan, cara
ini bukan hanya mengasah bagian otak kiri seperti
logika dan matematika tapi juga mengasah bagian otak
kanan. Disini anak akan belajar berkreativitas dengan
menuangkan idenya kedalam sebuah gambar, disini
anak belajar mengimajinasikan fikiranya sehingga bisa
menjadi sebuah karya yang bisa membanggakan dirinya,
disini anak mengasah daya cipta mereka dalam
membuat sebuah karya animasi, membuat aplikasi atau
alat digital bahkan membuat game dengan gambar-
gambar buatan meeka sendiri serta imajinasi dan ide
44
mereka sendiri. Dengan bisa membuat animasi,
membuat game mereka akan bergembira saat belajar.
Cara tersebut adalah belajar Coding, maka pantas
pelajaran ini adalah pelajaran pavorit di dunia dan
menjadi bagian dari kurikullum sekolah dasar di negara-
negara maju.
Saya sudah menerapkanya selama bertahun-
tahun kepada anak didik, dan hasilnya memang benar
terbukti, keativitas anak meningkat bahkan prestasi
disekolah juga meningkat. Anak-anak didik saya selalu
berhasil mendominasi juara lomba-lomba coding baik
tingkat nasional mupun internasional.
Di tahun 2021 dengan program POP dari
Kemendikbud saya akan mencoba menyebarkan
pelajaran ini ke berbagai puluhan sekolah, tujuanya
yaitu agar bisa menerapkan dan meningkatkan HOTS
(Higher Order Thinking Skills), menerapkan dan
meningkatkan Multiple Intelligences, menerapkan dan
meningkatkan 21st Century Skills, menyeimbangkan
daya otak kiri dan otak kanan kepada siswa.
45
BAB VII. PROGRAM SAUNG
CODING
Coding adalah pemogramman komputer, suatu
cara untuk bisa berkomunikasi dan memberikan
perintah terhadap komputer termasuk robot,
kendaraan, gadget dan sebagainya yang didalamnya
terdapat komputer untuk menjalankannya dengan
menggunakan bahasa pemogramman.
Bukan berarti coding hanya bermanfaat untuk
para programmer komputer dalam membuat software,
tapi coding juga bermanfaat untuk anak-anak dalam
mendapatkan keterampilan yang wajib dimiliki setiap
orang di abad ke-21 dimana sumberdaya manusia yang
dibutuhkan saat itu tidak hanya memiliki keterampilan
bidang profesinya saja akan tetapi wajib memiliki
ketrampilan penunjang lainnya.
Di negara maju Coding sudah menjadi kurikulum
wajib di SD bahkan sudah diajarkan di TK.
46
Program Saung Coding menggunakan metode
pembelajaran JOYFUL LEARNING (gembira saat
belajar), yaitu dengan membuat anak-anak merasa
senang, semangat, tertantang, dan bebas untuk dapat
mempelajari dan membuat karya buatan mereka
sendiri. Kurikulum dibuat oleh dosen dan alumni
perguruan tinggi serta praktisi IT dengan standar
internasional.
Program Saung Coding yang merupkan bagian
dari pogram Yayasan Sakata Innovation Center,
sebuah yayasan yang saya dirikan yang bergerak dalam
bidang pendidikan. Program ini tepilih menjadi bagian
Program Organisasi Penggerak dari Kemendikbud
yang akan dimulai tahun 2021 dengan membina
puluhan Guru dari puluhan Sekolah Dasar untuk bisa
meningkatkan HOTS siswa dengan
mengimplementasikan pelajaran Coding kepada siswa.
Dari 4.464 organisasi di seluruh wilayah
Indonesia yang mengajukan proposal keiikutsertaan
POP Kemendibkud, tersaring 158 organisasi yang
lolos dan terpilih, salah satunya Yayasan Sakata
47
Innovation Center dengan Program Saung Coding
untuk meningkatkan HOTS siswa Sekolah Dasar.
Proposal Peningkatan HOTS (Higher Order Thinking
Skills) melalui program Saung Coding Lolos Evaluasi.
Untuk tingkat SD-SMP, aplikasi utama yang
digunakan adalah program gratis Scratch yang
dikembangkan oleh MIT (universitas teknologi terbaik
dunia). Di akhir pelatihan, peserta diwajibkan
membuat suatu karya buatan mereka sendiri. Inilah
esensi penerapan prinsip MEANINGFUL
LEARNING Level 6 dari Revised BLOOM
taxonomy. Untuk tingkat TK menggunakan program
48
Scratch Junior dari MIT yang dikembangkan khusus
untuk mengajar coding bagi anak usia 4-6 Tahun.
Aplikasi Scratch
Aplikasi Scratch Junior
49
Kegiatan Pogram Saung Coding
Melalui coding anak akan diajak untuk
membuat animasi, membuat game, membuat aplikasi
50