Universitas Negeri Yogyakarta
Sembagi
Arutala
NABILA SAFIRA AL DAABA
(2208241064)
-Pendidikan Guru Sekolah Dasar-
KD Bahasa dan Sastra Indonesia SD
SEMBAGI ARUTALA
Naomi menatap foto masa kecilnya dengan saksama. Beberapa saat kemudian, ia
beralih memperhatikan foto masa kecil adiknya dengan lekat. Seikat kain yang serupa
nampak pada kedua foto yang diambil dengan selisih beberapa tahun itu.
‘Indah sekali...’ batin Naomi.
“Lagi lihat apa, Kak?” tanya Hasya seraya mengintip album foto yang dipangku
kakaknya.
“Lihat nih Sya, kain yang dipake buat menggendong kakak waktu bayi sama
kayak kain yang dipake buat menggendong kamu,” jelas Naomi sambil menunjuk foto
yang dimaksud.
Mama yang hendak ke dapur pun terhenti melihat kakak beradik yang asyik
dengan album foto keluarga.
“Mama, kain gendong ini masih ada tidak ya?” tanya Naomi sambil
memperlihatkan album foto saat menyadari kehadiran Mama.
“Hmm... sepertinya kain ini masih mama simpan di lemari. Memangnya ada apa,
Kak?” jawab Mama sambil mencari keberadaan kain yang dimaksud Naomi.
“Kainnya cantik banget Ma...” kagum Naomi.
“Ini kain batik tulis asli.”
“Kain batik tulis asli maksudnya gimana, Ma?” tanya Hasya penasaran.
“Kain ini dibatik Simbah Putri secara langsung, semua motifnya diukir pakai
tangan Simbah Putri,” terang Mama sembari mengusap kain pemberian Simbah Putri.
“Ini motif Wahyu Tumurun Cantel.” Mama tersenyum dan kemudian melanjutkan
penjelasannya, “Simbah Putri sangat bahagia menyambut kehadiran cucu-cucunya.
Simbah Putri membuatkan batik ini untuk kalian. Wahyu bisa diartikan anugerah,
tumurun artinya turun, dan cantel artinya melekat. Jadi, motif batik ini melambangkan
doa dan harapan Simbah Putri supaya anugerah akan selalu melekat dalam diri cucu-
cucunya dan seluruh keluarganya. Juga harapan supaya kita memiliki kehidupan yang
bahagia dan sejahtera.”
Naomi dan Hasya tertegun kagum mendengar penjelasan Mama. Tidak lama,
ekspresi sedih nampak tumbuh dalam wajah ketiganya. Mama pun segera mengajak
Naomi dan Hasya membaca Al Fatihah untuk Sang Nenek.
“Naomi pengen deh, Ma, bisa membatik seperti Simbah Putri,” kata Naomi
sembari memperhatikan kain batik di hadapannya.
“Hasya juga mau!” timpal Hasya.
“Besok kalau kita pulang kampung, Naomi sama Hasya bisa belajar dari Mbah
Ningrum. Mbah Ningrum itu sahabat Simbah Putri. Mbah Ningrum juga jago banget
loh soal batik.”
Naomi dan Hasya sangat antusias mendengar jawaban Mama. Keduanya pun
kembali asyik memperhatikan motif yang terukir indah pada kain pemberian Simbah
Putri.
“Tapi... sebelum Naomi sama Hasya belajar membatik besok, Naomi sama
Hasya harus belajar mengaji dulu ya sekarang. Ayo segera mandi dan siap-siap ke
masjid,” Mama dengan lembut mengajak kedua putrinya untuk segera bersiap dan
berangkat mengaji.
***
Cuit... cuit... cuit....
Kicau burung terdengar nyaring di pagi hari. Sinar matahari merambat masuk
dan membelai lembut wajah Hasya. Dinginnya suhu di desa menyambut kulitnya.
“Di sini dingin banget ya Kak kalau pagi, beda sama di rumah,” ujar Hasya
kepada kakaknya yang menyodorkan segelas coklat panas padanya.
“Iya, tapi kita harus tetep semangat, hari ini kan kita mau ke rumah Mbah
Ningrum,” timpal Naomi.
Setelah selesai bersiap-siap, keduanya segera berangkat ke rumah Mbah
Ningrum dengan ditemani Simbah Kakung.
“Assalamu’alaikum...”
“Waalaikumsalam... eh Mbah Parto, Naomi, Hasya... monggo masuk,” sambut
Mbah Ningrum hangat.
Simbah Kakung kemudian mengobrol dengan Mbah Ningrum sambil
mengutarakan keinginan kedua cucunya untuk belajar membatik dari Mbah Ningrum.
“Iya Mbah, tolong ajari kami cara membatik. Kami pengen bisa membatik
seperti Simbah Putri dulu.”
“Dengan senang hati Mbah akan mengajari kalian, Naomi,” balas Mbah
Ningrum dengan senyuman yang membuat Naomi dan Hasya gembira.
Mbah Ningrum kemudian mengajak Naomi dan Hasya ke tempat biasanya ia
membatik. Mbah Ningrum mulai mengajari Naomi dan Hasya mulai dari proses
pencucian kain.
“Pertama, kain mori ini kita cuci pakai zat yang namanya TRO dan juga kanji
selama 15 menit dalam air panas,” terang Mbah Ningrum. “Kemudian, kita angin-
anginkan sampai kering.”
Naomi dan Hasya memperhatikan setiap langkah yang diajarkan oleh Mbah
Ningrum dengan saksama. Mereka juga turut membantu dengan sebaik mungkin.
“Sekarang kita akan memberi motif pada kain ini, atau disebut mendesain,” jelas
Mbah Ningrum. Jari-jari Mbah Ningrum dengan terampil membuat pola batik yang
indah.
“Ini motif apa, Mbah?” tanya Naomi penasaran.
“Ini namanya motif batik Klitik, Nduk,” jawab Mbah Ningrum. “Motif ini
melambangkan sifat lemah lembut, halus, dan bijaksana. Zaman dulu, batik dengan
motif ini hanya boleh digunakan oleh putri raja. Tapi, seiring berjalannya waktu, semua
orang boleh menggunakannya.”
“Putri raja? Wah! Pantas motifnya cantik, Mbah,” timpal Hasya.
Selesai mendesain, mereka pun masuk ke proses mencanting. Mbah Ningrum
memanaskan malam dan menyiapkan canting untuk mereka semua. Sambil melekatkan
malam menggunakan canting sesuai dengan pola di atas kain, Mbah Ningrum bercerita
kepada Naomi dan Hasya, “Batik ini warisan budaya tradisional kita yang harus dijaga,
Nduk, apalagi batik tulis. Banyak filosofi mendalam yang ada pada seikat kain batik.
Pembuatan kain batik tulis juga perlu kesabaran dan keterampilan. Setiap helai batik
sarat akan rasa cinta yang diukir oleh pengrajinnya.”
Naomi dan Hasya mengangguk setuju.
***
Pembuatan batik tulis ternyata memakan waktu yang tidak sebentar. Naomi dan
Hasya kini bersiap untuk berangkat lagi ke rumah Mbah Ningrum.
“Kak, ternyata membatik tuh lama banget ya. Apalagi pas mencanting, uh panas
banget kalau kena. Apa kita udahan aja ya, Kak? Kan kita udah tau gimana cara
membatik,” kata Hasya yang nampaknya sudah ingin menyerah karena membatik tidak
secepat dan semudah yang ia kira.
“Hush, jangan gitu dong, Hasya... Masa baru segini kamu udah mau nyerah?”
ujar Naomi. Ia kemudian mengeluarkan seikat kain batik dengan motif Wahyu Tumurun
Cantel dari tasnya. Ia sengaja membawa kain batik itu untuk pulang kampung kali ini.
Naomi kemudian menyodorkan kain itu di depan adiknya. Hasya mengamati kain itu
dengan lekat. Perasaannya campur aduk. Ia membayangkan bagaimana simbah putrinya
dulu dengan bahagia membuatkan batik ini untuk menyambut kelahirannya.
“Yakin mau nyerah sekarang?”
“Enggak Kak, ayo kita selesaikan apa yang sudah kita mulai!”
“Nah gitu dong, baru adikku. Semangat! Kita pasti bisa!” ucap Naomi sambil
mengelus kepala adiknya.
***
Selesai dengan proses mencating, mereka pun sampai ke tahap pewarnaan kain.
Setelah selesai diangin-anginkan hingga kering, mereka masuk ke proses penglorodan,
yaitu proses meluruhkan malam pada kain dengan merendamnya dalam air mendidih.
“Akhirnya, selesai!” Naomi dan Hasya menatap hasil karya mereka dengan
ekspresi puas dan bangga.
Mbah Ningrum tersenyum melihat keduanya. “Mbah bangga banget sama kalian.
Sekarang sudah jarang sekali generasi muda yang punya kepedulian pada budaya
Indonesia. Tapi kalian berbeda, kalian punya semangat dan kepedulian untuk
melestarikan budaya Nusantara.” Naomi dan Hasya ikut tersenyum serta berterima
kasih kepada Mbah Ningrum yang bersedia mengajari mereka.
“Mbah, gimana kalau selanjutnya kita buat batik motif Wahyu Tumurun
Cantel?” usul Hasya.
“Boleh dong,” jawab Mbah Ningrum yang diikuti senyum sumringah dari
Naomi dan Hasya.
“Simbah putri kalian pasti sangat bangga memiliki cucu seperti kalian. Sekarang,
cita-cita Simbah Putri sudah bukan hal yang mustahil lagi dengan adanya kalian.”
***
Naomi meng-test mic yang akan dia gunakan untuk berbicara di atas panggung
hari ini. Kesuksesannya dalam usaha batik hingga kancah internasional membuatnya
banyak diundang sebagai narasumber. Hasya, adik yang selalu mendukung dan
menemaninya, kini tengah merapikan baju batik yang ia gunakan.
“Sudah siap, Kak?” tanya Hasya kepada kakaknya.
“Tentu,” jawab Naomi sesaat sebelum nama keduanya dipanggil untuk naik ke
atas panggung.
***
“Generasi muda Indonesia sudah sepatutnya turut serta dalam melestarikan
tradisi dan kebudayaan Nusantara. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan
sekarang, kapan lagi? Budaya kita harus dijaga kapanpun, dan sekarang adalah
waktunya!” Tepuk tangan ramai bersahutan seiring kalimat penutup dari Naomi.
***
Hasya memperhatikan setiap piagam dan sertifikat yang tersusun rapi di dalam
lemari kaca. Mengingat berbagai acara pameran dan penghargaan yang telah mereka
lalui. Banyak pujian yang dilontarkan untuk batik yang mereka sajikan, bahkan dari
masyarakat mancanegara. Hasya teringat bagaimana mereka dengan semangat
menjelaskan proses pembuatan batik yang memerlukan kesabaran dan keterampilan,
filosofi mendalam yang ada pada setiap ikat kain batik, serta nilai seni tinggi yang
terkandung di dalamnya. Berbagai inovasi dari batik yang mereka buat juga mendapat
respon yang memuaskan.
Tidak lupa, keduanya juga mengajarkan cara membuat batik, terutama batik tulis,
kepada generasi muda selanjutnya supaya warisan budaya Nusantara tetap lestari di
tanah kelahirannya sendiri.
“Hasya, ayo kita berangkat,” ajak Naomi kepada Hasya sambil meraih kunci
kendaraan yang tergeletak di meja.
***
Naomi dan Hasya bersimpuh di hadapan makam kedua simbahnya.
“Simbah, sekarang kami sudah bisa ikut mewujudkan cita-cita Simbah Putri
untuk memperkenalkan batik ke berbagai negara di dunia. Kami juga mengajak generasi
muda untuk ikut melestarikan budaya kita...”
“Simbah... sekarang kembali banyak orang yang mencintai batik.” Air mata
mengalir di pipi keduanya, “Simbah... Naomi dan Hasya kangen sama Simbah.”
“Al Fatihah.”
- Sembagi Arutala -
Orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia seperti rembulan. Rembulan yang
digambarkan sebagai pelita di tengah gelapnya malam menunjukkan wujud cita-cita
yang baik untuk sesama.
Tetap menghidupkan abhinaya budaya, tak lupa akan acarya mulia, berbagi gunadhya
untuk sesama.